Tugas Akuntansi Perpajakan 1 - Akuntansi Pajak Penghasilan (kelompok 2)

Oleh Nicola Putra Pratama

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Akuntansi Perpajakan 1 - Akuntansi Pajak Penghasilan (kelompok 2)

STUDI KASUS PPh Pasal 4 ayat 2
Eti adalah mahasiswi hemat di Universitas Brawijaya. Setiap ada sisa dari uang bulanannya
selalu dia tabung di Bank pilihannya. Jumlah tabungan pada akhir tahunnya adalah sebesar
Rp 9.000.000 dan setiap bulannya dia selalu mendapatkan bunga dari bank. Bagaimanakah
perhitungan PPh Final Pasal 4 ayat 2 atas bunga bank tersebut dan jurnalnya?
Jawab:
PPh Final Pasal 4 ayat 2 = 20% x Rp 9.000.000 = Rp 1.800.000
Dalam pencatatan PPh Final terdapat dua metode yaitu:
1. Gross Method yaitu dicatat seperti pajak tidak final
Jurnal:
Kas dan Bank

Rp 7.200.000

PPh Final Pasal 4 ayat 2

Rp 1.800.000

Penghasilan Bunga

Rp 9.000.000

2. Net Method yaitu dicatat hanya sebesar nilai setelah pajak
Jurnal:
Kas dan Bank

Rp 7.200.000

Penghasilan Bunga

Rp 7.200.000

STUDI KASUS PPh Pasal 21
Pak Amir adalah Karyawan di PT. Karya Kencana yang memiliki Penghasilan sebesar
Rp.5.000.000/bulan. Pak Amir sudah menikah dan memiliki 3 orang anak, dan setiap
bulannya Pak Amir membayar Iuran Hari Tua sebesar Rp.100.000. Hitunglah pajak terutang
Pak Amir per tahun dan per bulan serta jurnal akuntansinya!
Jawab :
PenghasilanPak Amir

Rp. 5.000.000

Biaya Jabatan 5 % X Rp. 5.000.000

(Rp. 250.000)

Iuran Hari Tua

(Rp. 100.000) +

Penghasilan Net / bulan

Rp. 4.650.000

Penghasilan Setahun 12 x 4.650.000

Rp.55.800.000

PTKP / Penghasilan tidak kena pajak :

WP Pribadi

(Rp. 24.300.000)

K/3 (3 x Rp.2.025.000)

(Rp. 6.075.000) +

PKP ( PenghasilanKenaPajak )

Rp. 25.425.000

Pajak Terutang SatuTahun = 5 % X Rp. 25.425.000

= Rp 1.271.250

PajakTerutang / bulan =Rp. 1.271.250 / 12 = Rp. 105.937
 Jurnal yang dicatat saat pekerja menerima penghasilan:
Kas

Rp. 4.794.063

Uang muka PPh 21

Rp.

105.937

Iuran Hari Tua

Rp.

100.000

Penghasilan

Rp. 5.000.000

 Dan Jurnal yang dicatat perusahaan jika pekerja langsung menerima gaji bersih :
Biaya Gaji

Rp. 5.000.000

Utang Pajak – PPh 21

Rp. 105.937

Iuran Hari Tua

Rp. 100.000

Kas

Rp. 4.794.063

Dan Jurnal yang dibuat Perusahaan saat membayar utang pajak dan iuran hari tua :
Utang Pajak – PPh 21

Rp 105.937

Iuran Hari Tua

Rp. 100.000

Kas

Rp. 205.937

STUDI KASUS PPh Pasal 22
PT Kamono Harjo adalah perusahaan dagang yang memperjual belikan peralatan elektronik
selama bulan Agustus 2009 melakukan transaksi transaksi berikut ini :
a. Mengimpor BKP dari Eto’o Electronic Corp di Kamerun secara kredit . Harga barang
U$ 101.000. Biaya asuransi yang dibayar sebesar U$ 5000 . Biaya pengapalan U$
65.000 . Bea masuk 10% CIF. Kurs tengah BI Rp 9000/U$ . PT Karmono Harjo
menggunakan Angka Pengenal Impor (API)
Jawaban :
CIF = (101.000+65.000+5000 X Rp 9000

= Rp

1.539.000.000

Bea Masuk = 10% X Rp 1.539.000.000

= Rp

153.900.000 +

NI

= Rp

1.692.900.000

PPN Impor = 10% X 1.692.000.000

= Rp

169.290.000

PPh Pasal 22 Impor = 2.5% X 1.692.900.000

= Rp

42.322.500

JURNAL :
Pembelian

Rp 1.692.900.000

Uang Muka PPh pasal 22

Rp

42.322.500

PPN-Impor-Masukan

Rp

169.290.000

Utang Dagang

Rp 1.539.000.000

Kas

Rp

365.512.500

b. Menyerakan 3 buah laptop kepada Pemkab Wonogiri dengan total harga Rp
30.800.000 termasuk PPN dan pembayaran diambil dari dana APBD secara tunai.
Penjuala n

= Rp 30.800.000

PPN = 10/110 x Rp 30.800.000

= Rp 2.800.000

DPP PPN = Rp 30.800.000 – Rp 2.800.000 = Rp 28.000.000
PPh pasal 22 = 1,5% x Rp 28.000.000

= Rp

420.000

JURNAL :
a) PT. Kamono Harjo
Kas

Rp 30.800.000
Penjualan

Rp 28.000.000

PPN-kepada Pemungut

Rp 2.800.000

(mencatat penjualan laptop)
Kas

Rp 27.580.000

Uang Muka PPh Ps. 22

Rp

420.000

Penjualan

Rp 28.000.000

(mencatat penerimaan kas)
b) Pemkab Wonogiri
Pembelian

Rp 31.220.000
Utang PPN

Rp 2.800.000

Utang PPh Ps. 22

Rp

Kas

Rp 28.000.000

(mencatat pembelian laptop)

420.000

Utang PPN

Rp 2.800.000

Kas

Rp 2.800.000

(mencatat penyetoran PPN ke kas negara)
Utang PPh Ps 22

Rp 420.000

Kas

Rp 420.000

(mencatat penyetoran utang PPh Ps. 22 ke kas negara)
STUDI KASUS PPh Pasal 23
PT. Bangunan Indah adalah sebuah perusahaan di bidang material yang sudah cukup terkenal.
Setiap tahunnya, PT. Bangunan Indah menyewa jasa konsultan yaitu Pandai Pajak
Consultindo untuk menghitung dan memperhitungkan pajak terutangnya. Sebagai imbalan
sehubungan dengan jasa yang sudah dikerjakan oleh konsultan tersebut PT. Bangunan Indah
memberikan fee kepada Pandai Pajak Consultindo atas jasanya di bidang konsultan pajak
sebesar Rp 18.000.000 (tidak termasuk PPN 10%) pada tanggal 1 Januari 2014. Berapakah
besarnya PPh 23 atas jasa konsultan yang harus dipotong oleh PT. Bangunan Indah?
Bagaimanakah jurnal atas pemotongan PPh 23 baik dari pencatatan perusahaan maupun
Pandai Pajak Consultindo?
Jawab:
Ada beberapa hal yang harus kita ketahui terlebih dahulu sebelum menghitung PPh Ps. 23,
yaitu:
1. Norma perkiraan penghasilan neto untuk masing-masing jasa, dalam hal ini adalah jasa
konsultan yaitu sebesar 30% dari jumlah brutonya. Jadi, perkiraan penghasilan neto untuk
Pandai Pajak Consultindo sebagai berikut:
Perkiraan Penghasilan Neto = 30%x Rp 18.000.000
2. Tarif Pajak PPh Ps. 23 yaitu sebesar 15% x DPP atau 2% x jumlah penghasilan bruto
2% didapat dari 15% x 30%. Sehingga, besarnya PPh 23 yang harus dipotong oleh PT.
Bangunan Indah adalah sebesar 2% x Rp 18.000.000 = Rp 360.000

JURNAL UNTUK PEMOTONGAN PPh PASAL 23
Tgl

PT. Bangunan Indah

Pandai Pajak Consultindo

1-1-2014

Beban jasa konsultan Rp 18.000.000

Kas

PPN Masukan

Uang Muka PPh 23

Rp

360.000

Kas

Rp 20.160.000

Penghasilan

Rp 18.000.000

Utang PPh 23

Rp

360.000

PPN Keluaran

Rp 1.800.000

dan

membayar (jurnal ketika memberikan tagihan jasa

(jurnal

10-4-

Rp 1.800.000

Rp 20.160.000

ketika

menerima

tagihan jasa konsultan)

konsultan dan menerima fee)

Utang PPh 23

Tidak ada Jurnal

Rp 3.600.000

2014
Kas

Rp 3.600.000

(menyetorkan PPh 23 ke kas negara)
15-4-

Tidak ada Jurnal

2014

PPN Keluaran

Rp 1.800.000

Kas
Karena

Rp 1.800.000
Pandai

Pajak

Consultindo

sebagai pemungut PPN, sehingga harus
menyetor PPN paling lambat tgl 15
bulan berikutnya

STUDI KASUS PPh Pasal 24
1. PT. Starlight adalah WP Badan dalam negeri yang memiliki kepemilikan saham di
beberapa Negara diantaranya Singapura, Jepang, dan Malaysia. Pada tahun 2011 PT.
Starlight memperoleh penghasilan neto sebagai berikut :
a. Di Singapura, memperoleh penghasilan/laba Rp. 2.500.000.000, tarif pajak 30%
b. Di Jepang, memperoleh penghasilan/laba Rp. 2.000.000.000, tarif pajak 25%
c. Di Malaysia, mengalami kerugian Rp. 1.500.000.000
d. Penghasilan usaha di dalam negeri Rp. 2.000.000.000
Hitunglah besarnya kredit pajak PPh Pasal 24 dan jurnal saat PT. Starlight menerima
penghasilan dari Singapura dan Jepang!
Jawab:

 Jumlah penghasilan neto dalam negeri
Laba dari Singapura

Rp. 2.500.000.000

Laba dari Jepang

Rp. 2.000.000.000

Rugi di Malaysia

Rp.

Penghasilan dalam negeri

Rp. 2.000.000.000 +

Total penghasilan neto dalam negeri

Rp. 6.500.000.000

-

PPh terutang berdasarkan tarif pasal 17 UU PPh Badan adalah:
25% x Rp. 6.500.000.000 = Rp. 1.625.000.000
 Besarnya kredit pajak PPh pasal 24 adalah:
1. Total PPh terutang di luar negeri
Penghasilan
Laba

Tarif Pajak
dari Rp. 2.500.000.000

PPH

terutang

di

Luar Negeri

30%

Rp.

750.000.000

25%

Rp.

500.000.000

Singapura
Laba dari Jepang

Rp. 2.000.000.000

PPh terutang di Luar Negeri

Rp. 1.250.000.000

2. PPh yang dihitung berdasarkan
Peng h asilan ln
x PP h seluru h peng h asilan
( Peng h asilan
ln + Peng h asilan DN )

-

2.500 .000.000
x Rp. 1.625 .000 .000 = Rp. 625.000.000
( Rp.
Rp. 6.500 .000.000 )
Rp. 2.000 .000.000
x Rp. 1.625 .000 .000 = Rp. 500.000.000
Laba dari Jepang (
Rp. 6.500 .000.000 )

Laba dari Singapura

3. PPh 24 yang dapat dikreditkan adalah :
Negara

PPh

terutang

di PPh menurut rumus PPH

yang

boleh

Luar Negeri

perbandingan

dikreditkan

Singapura

Rp. 750.000.000

Rp. 625.000.000

Rp.

625.000.000

Jepang

Rp. 500.000.000

Rp. 500.000.000

Rp.

500.000.000

Total PPh 24

Rp. 1.125.000.000

Adapun jurnal PT. Starlight saat mencatat penerimaan dari Singapura:
Kas

Rp. 1.750.000.000

Uang Muka PPh Pasal 24

Rp.

750.000.000

Penghasilan

Rp. 2.500.000.000

Adapun jurnal PT. Starlight saat mencatat penerimaan dari Jepang:
Kas

Rp. 1.500.000.000

Uang Muka PPh Pasal 24

Rp.

Penghasilan

500.000.000
Rp. 2.000.000.000

Judul: Tugas Akuntansi Perpajakan 1 - Akuntansi Pajak Penghasilan (kelompok 2)

Oleh: Nicola Putra Pratama


Ikuti kami