Teori Akuntansi

Oleh Dewi Setyowati

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Teori Akuntansi

PEMBAHASAN
2.1. TEORI AKUNTANSI
Pada awal dipraktekkannya akuntansi bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada
teori akuntansi. Selama tidak adanya struktur teori akuntansi formal, maka yang terjadi
adalah banyaknya alternative metode pencatatan yang berlaku dalam praktek sehingga
menimbulkan kebingungan masyarakat. Vernon Kam (1986) mengemukakan fungsi dari
adanya teori akuntansi sebagai berikut :
1. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi menyusun standarnya.
2. Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal
tidak adanya standar resmi.
3. Menentukan batas dalam hal melakukan “judgement” dalam penyusunan laporan
keuangan.
4. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan terhadap informasi yang
disajikan laporan keuangan.
5. Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan.
Sedangkan hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori akuntansi sebagai berikut :
1. Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur dan praktek
akuntansi
2. Memberikan pedoman terhadap praktek dan prosedur akuntansi yang baru.
Teori adalah susunan konsep, definisi, dan dalam menyajikan pandangan yang sistematis,
fenomena dengan menunjukkan hubungan antara variable yang satu dengan yang lain dengan
maksud untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan teori sebagai suatu susunan
yang saling berkaitan tentang hipotesa, konsep, dan prinsip pragmatis yang membentuk
kerangka acuan untuk bidang yang dipertanyakan.
McDonald memberikan tiga elemen teori :
1. Membuat kode sebagai symbol fenomena.
2. Mengkombinasikannya sesuai dengan peraturan.
3. Menerjemahkannya ke dalam fenomena yang sebenarnya terjadi.
Vernon Kam (1986) menganggap bahwa teori akuntansi adealah suatu system yang
komprehensif, dimana termasuk postulat dan teori yang berkaitan dengannya. Dia membagi
unsur teori dalam beberapa elemen, yaitu postulat atau asumsi dasar, definisi, tujuan
akuntansi, prinsip atau standar, dan prosedur atau metode-metode.
Keneth S. Most (1982) mendefinisikan teori sebagai suatu pernyataan sistematik mengenai
peraturan atau prinsip yang mendasari atau memandu suatu set fenomena. Teori bisa juga
dianggap sebagai kerangka atau susunan ide, penjelasan fenomena dan prediksi prilaku yang
akan datang. Teori akuntansi adalah cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan yang

sistematik tentang prinsip dan metodologi yang membedakannya dengan praktek. Karena
teori adalah penjelasan, tetapi tidak semua penjelasan itu teori. Teori adalah penjelasan yang
sistematik dan scientific. Dia menambahkan bahwa teori memiliki tiga dimensi, yaitu :
1.

Reductnionism yang berarti bahwa teori itu di mulai dari asumsi-asumsi dimana teori itu
tidak langsung merujuk ke obyek yang diobservasi (yang dipersepsikan) dan bukan pula
pernyataan yang dapat diuji kebenarannya. Tetapi dia merupakan bahan rujukan untuk
mengamati fenomena dan sejenis alat yang lebih cepat dapat dirujuk ke fenomena yang
diamati.

2.

Instrumentalism yang berarti bahwa teori adalah sebuah instrument atau alat menghitung
yang akan digunakan untuk menilai pernyataan tentang suatu observasi. Disini peranan
teori adalah menjelaskan dan meramalkan.

3.

Realism yang berarti bahwa teori adalah sekumpulan proposisi atau dalil yang
merupakan pernyataan atau kebenaran atau ketidakbenaran tentang dunia nyata,
fenomena, atau obyek.

Eldon S. Hendriksen (1970) mengutip definisi Eric I. Kohler, sepakat menerima definisi teori
sebagai:
“suatu set proporsi termasuk aksioma, teorema bersama definisi dan peraturan,
kesimpulan formaldan informal yang diarahkan untuk menjelaskan suatu gabungan fakta
atau kelompok kegiatan yang kongkret atau yang abstrak.”
Sedangkan menurut hendriksen sendiri teori adalah satu set susunan hipotesa, konsep
dan prinsip pragmatis yang membentuk kerangka umum referensi untuk suatu bidang
yang dipertanyakan. Sedangkan teori akuntansi didefinisikan sebagai alasan yang logis
dalam bentuk suatu set prinsip yang luas yang (1) memberikan kerangka umum dari
rujukan di mana prinsip akuntansi dapat di nilai, (2) pedoman pengembangan praktek
dan prosedur yang baru. Teori akuntansi bisa juga menjelaskan pratek yang berlaku saat
ini dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang praktek tersebut. Tujuan utama
dari teori akuntansi adalah memberikan suatu set prinsip yang logis yang saling terkait
yang membentuk kerangka umum sebagai rujukan untuk menilai dan mengembangkan
praktek akuntansi yang baik.
Godfrey dkk (1992) menyatakan bahwa teori dapat didefinisikan dalam berbagai cara
misalnya, teori adalah system deduktif yaitu berupa pernyataan yang mengurangi
generalisasi, yang lain menganggap bahwa teori adalah suatu susunan ide yang digunakan
untuk menjelaskan sesuatu. Teori bisa juaga secara sederhana dijelaskan sebagai alasan logis
yang mendasari suatu pernyataan keyakinan. Apakah teori diterima atau di tolak tergantung
pada kemampuannya meramalkan realitas, kemampuannya menjelaskan pratek akuntansi,
dan kemampuannya menjadi dasar pengembangan paraktek akuntansi tersebut. Dari beberapa
definisi ini dapat di simpulkan bahwa akuntansi memiliki teori akuntansi.

Beberapa pandangan tentang teori :
Teori ini merupakan kristalisasi dari fenomena empiris yang terjadi yang digambarkan dalam
bentuk dali-dalil yang disimpilkan dari fenomena dan disajikan dalam bentuk kalimat-kalimat
pendek yang berlaku secara umum. Teori biasanya diambil dari berbagai riset demi riset
sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang dapat berlaku unruk semua, universal, logis,
konsisten, dapat diramalkan, obyektif. Obyek penelitianadalah fenomena social dan ekonomi.
Fenomena ini dikaji, diteliti dan lahirlah suatu kesimpilanatau tesa, dari riset dan kesimpulan
lain ditemukan anti tesa dan lahirlah sintesa sehingga mengkristal menjadi teori yang
selanjutnya akan dikaji berulang kali. Sepanjang suatu teori dapat mempertahankan diri
darikritikan dan verifikasi, maka dia tetap menjadi teori yang confirm dan masih berlaku.
Memang poper memperkenalkan pandangan “Falsification View” menurut pandangan ini
apapun yang dilakukan dalam dunia ilmiah tidak akan mampu memberikan pernyataan
absolute karenaapa yang bisa dilakukan peneliti atau ilmuwan hanya percobaan demi
prcobaan, trial and error, pengujian hipotesa. Suatu teori bisa benar pada waktu kurun tertentu
dan belum tentu benar pada kurun waktu yang lain. Menurut Lee D. Parker hanya “allah
knows the true”. Hanya tuhan yang mengetahui yang benar, peneliti hanya mampu mendekati
kebenaran hakiki itu. Menurut Poper apa yang bisa dilakukan teori adalah menolak atau
menunjukkan hipotesa atau teori yang salah. Kita hanya mampu membuktikan bahwa
hipotesa, pernyataan atau teori ini salah. Ini berarti bahwa pencarian teori itu melalui proses
demi proses (refinement). Suatu teori mungkinbenar untuk keadaan tertentu bukan pada
keadaan lain. Sejalan dengan pendapat ini maka Imre Lakatos membagi dua unsur ilmu yaitu:
1)Negative heuristic yang merupakan Inti utama penelitian yang menjelaskan asumsi
dasar dari suatu Ilmu. Unsure ini tidak bisa difalsifikasi, ia adalah bersifat dogmatic
yang harus diterima kebenarannya.
2)Positive heuristic merupakan “bumper” atau “belt” yang melingkungi “hard core” tadi.
Ini yang terkena falsifikasi dan ini yang menjadi obyek riset para ilmuwan.
Kemudian muncul Kuhnian paradigm atau disebut juga ”disciplinary matrics”. Menurut
Kuhn (1970) teori ilmiah dan perkembangan ilmu memiliki sifat revolusi artinya terjadi
proses yang terus menerus untuk mengubah suatu teori yang tidak sesuai lagi (incompatible)
dan menggantinyadengan teori yang lain. Menurut Kuhn siklus ilmu itu dapat digambarkan
sebagai berikut :
1. Pre-science, di sini tidak ada ide atau ilmu yang umum.
2. Perkembangan berbagai pemikiran (school of thoght)
3. Munculnya paradigm yang dominan.
4. Muncul anomaly
5. Timbul krisis ilmu

Setelah krisis ilmu terjadi maka proses kembali ke awal, munculnya berbagai perkembangan
pemikiran (nomor 2).
Kalau berbicara mengenai teori akuntansi maka yang dimaksudkan adalah kristalisasi
fenomena yang dituangkan dalam bentuk kalimat-kalimat (preposition) yang disimpulkan
dari fenomena interaksi bisnis etities dan pemakai laporan keuangan.

Pre-Science
Krisis
Pengembangan Berbagai
Pemikiran (School of
Thought)

Anomali

Paradigma yang dominan

Gambar 1.1 Revolusi Kuhnian

Berdasarkan pernyataan ini maka semestinya teori itu harus melihat dan menyesuaikan diri
dengan perkembangan dan evolusi dari interaksi pemakai laporan keuangan dan situasi
bisnis. Pemakai laporan keuangan menentukan tujuan laporan keuangan. Mereka inilah yang
diminta pendapatnya untuk apa mereka mengganakan laporan keuangan. Dari pendapat ini
para ahli merumuskan postulat, konsep, prinsip dasar, dan akhirnya dapat dijabarkan tehknik
pencatatan akuntansi.
Hubungan antara pemakai laporan keuangan, fenomena social, prinsip akuntansi serta teori
akuntansi dapat di lihat dari gambar sebagai berikut :

Pemakai Laporan Keuangan
Laporan Keuangan

Prinsip Akuntansi
Teori Akuntansi
Fenomena Sosial Ekonomi

Gambar 1.2 Hubungan Pemakaian Laporan Keuangan
Teori Akuntansi dan Fenomena Sosial

2.2. TEORI DAN PEMBUAT KEBIJAKAN AKUNTANSI
Teori akuntansi berkaitan erat dengan penyusunan kebijaksanaan akuntansi. Teori bersama
faktor politik dan kondisi dan sistem ekonomi akan menentukan pembuatan kebijakan
akuntansi.Hubungan itu dapat dilihat dari gambar sebagai berikut :

Teori

Faktor Politik

Kondisi Ekonomi

Pembuatan
Kebijaksanaan Akuntansi

Praktik Akuntansi

Arus Utama
Arus Sekunder

Pemakaian Data
Akuntansi dan Laporan

Gambar 1.3 Lingkungan Akuntansi Keuangan

Fungsi Audit Kesesuaian
praktik dengan Prinsip
Akuntansi (Fungsi Kontrol)

Dari gambar di atas jelas kita lihat bahwa dalam penyusunan kebijaksanaan akuntansi yang
akan dijadikan sebagai dasar dalam praktek atau tehnik akuntansi di pengaruhi oleh berbagai
faktor antara lain :
1. Teori Akuntansi
2. Faktor politik
3. Kondisi ekonomi
Hal ini membuktikan bahwa kita harus mempelajari teori akuntansi untuk dapat merumuskan
kebijaksanaan yang tepat.
Lambat atau cepat,struktur akuntansi mestinya mengikuti evolusi perkembangan masyarakat.
Perkembangan itu tentu akan mempengaruhi konsep,postulat akuntansi,prinsip dasar
akuntansi,dan akhirnya tehnik ( metode pencatatan) akuntansi. Biasanya postulat, konsep, dan
prinsip dasar akuntansi lebih bersifat jangka panjang dibandingkan dengan penggunaan
teknik atau prosedur pencatatannya. J
ika kita lihat struktur ini maka wilayah teori akuntansi itu mencakup perumusan postulat,
konsep, prinsip dasar, dan tehnik dasar akuntansi.
Kenyataan ini telah digambarkan dalam APB statement Nomor 4 sebagai berikut :
Prinsip akuntansi yang berlaku sekarang adalah merupakan hasil evolusi yang
diperkirakan akan terus berlaku seterusnya.Perubahan bisa saja terjadi pada tingkat
metode pancatatan (GAAP).GAAP ini berubah sebagai respon terhadap perubahan
ekonomi dan kondisi sosial,teknologi dan ilmu pengetahuan baru,permintaan para
pemakai laporan keuangan yang mengharapkan informasi yang lebih bermanfaat.Sifat
dinamis akuntansi kauangan itu dalam merespon perubahan keadaan menambah
kegunaan informasi yang di sajikan.
Perubahan ini tentu tidak bisa dilaksanakan begitu saja.Perubahan harus dilakukan
berdasarkan prinsip dalam kerangka teori akuntansi dan disiplinnya sendiri.disinilah
hubungan antara teori akuntansi dengan prinsip akuntansi (GAAP) itu Teori ini harus
debatable, refutable, arguable, justifiable, terhadap kritik dan argumen baru yang di
ungkapkan masyarakat. Proses ini di sebut dengan proses verivication theory,Teori yang
tidak memiliki sifat itu maka rumusan prinsip yang dilahirkan akan rapuh.
Teori akuntansi oleh karenanya harus lahir dari proses kontruksi teori dan sekaligus verifikasi
teori .Jika suatu teori tidak dapat bertahan pada proses verifikasi maka teori harus diganti
dengan teori yang lebih baik ukurannya pada akhirnya kembali pada respon yang diberikan
masyarakat pada output akuntansi itu. Committe on Accounting theory and verifikation
mengungkapkan pendapatnya dalam konteks ini sebagai berikut :
”Teori ilmiah memberikan kepastian pengharapan atau ramalan tertentu tentang
fenomena, jika fenomena yang diperkirakan ini terjadi maka teori disebut
”confirm”sebaliknya jika fenomena tidak terjadi maka di sebut ”anomalies”yang berarti

harus dicari teori batu atau modifikasi terhadap teori lama.Tujuan penyusunan teori baru
dan modifikasi teori lama adalah upaya mengubah anomalies menjadi confirm atau
anggapan fenomena yang terjadi sesuai dengan kejadiannya.”
Teori akuntansi akan dapat bermanfaat apabila rumusan teori itu dapat dijadikan sebagai alat
untuk meramalkan apa yang akan diharapkan mungkin terjadi dimasa yang kan datang. Kalau
demikian halnya maka mestinya setiap negara harus memiliki dan merumuskan teori
akuntansinya sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi sosial yang
dimilikinya.Bukan mengambil alih sepenuhnya dari susunan teori akuntansi negara lain.
Hadibroto (Media Akuntansi 1988) menekankanpentingnya teori akuntansi. Menurut beliau
ada sinyalemen yang berkembang yang menggangap bahwa seolah teori akuntansi tidak di
butuhkan.Alasan yang mendasarri pemikiran ini adalah bahwa akuntansi bukanlah
merupakan suatu disiplin ilmu yang dapat menjelaskan semua gejala-gejala akuntansi dalam
prakteknya. Akuntansi bersifat teknis prosedural dia sama seperti mesin saja tidak
memerlukan kreasi-kreasi atau inisiatif baru.
Pandangan ini adalah keliru,apa yang terdapat dalam aliran Positive Accounting Theory yang
di pakai oleh watts dan zimmerman misalnya menjelaskan bahwa teori bukan aturan untuk
memilih antara prosedur akuntansi yang satu dengan yang lainnya. Misalnya memilih
prosedur yang lebih mencerminkan proses ”matching”pendapatan dan beban. Akan tetapi
lebih luas.Teori akuntansi dapat memberikan penjelasan mengenai praktek akuntansi,
menjawab dan menjelaskan semua fenomena yang melatar belakangi penerapan suatu metode
dalam praktek akuntansi. Misalnya, mengapa perusahan yang satu menggunakan metode
depresiasi di percepat (Accelerated Depreciation)sedangkan perusahan lain menggunakan
metode garis lurus.
Teori dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang berdasarkan metode ilmiah atau
logika. Teori terdiri dari dua bagian yaitu:
1. Asumsi-asumsi termasuk definisi variabel-variablenya dan logika yang menghubungkan
antar variabel tersebut.Asumsi-asumsi, definisi logika dipergunakan untuk mengatur,
menganalisa, memahami, gejala empiris yang menjadi perhatian.
2. Himpunan hipotesa-hipotesa yang penting. Sedangkan hipotesa merupakan anggapan awal
dari sebuah fenomena atau masalah yang akan dianalisa.Tujuan teori akuntansi adalah
menjelaskan dan meramalkan praktek akuntansi.
Teori akuntansi dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung menggunakan
metode LIFO daripada FIFO. Teori akuntansi akan dapat memprediksi atau menemukan
gejala akuntansiyang belum diketahui. Misalnya teori akuntansi dapat memberikan hipotesa
mengenai sifat – sifat perusahaan yang menggunakan metode LIFO dibandingkan dengan
menggunakan FIFO.
Untuk memperkuat argumen bahwa akuntansi merupakan disiplin ilmu yang didasari oleh
metode ilmiah,maka akuntansipun mengalami perkembangan disiplin ilmunya. Watts dan
Zimmernan menjelaskan perkembangan dari tiori akuntansi dari normatif ke teori akuntansi

positif dan dewasa ini berkembang ke arah Teori Akuntansi interpretatif. Dimana masingmasing dalam menyusun teori tersebut terdapat berbagai pendekatan. Misalnya dalam teori
akuntansi positif dilakukan pendekatan ekonomi dan perilaku (behavior)
2.3. SIFAT TEORI AKUNTANSI
Dari penjelasan maka teori akuntansi dapat kita rumuskan sebagai berikut :
Teori akuntansi adalah suatu konsep definisi dalil yang menyajikan secara sistematis
gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel dengan variabel
lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan
fenomena yang mungkin muncul
Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip umum akan dapat :
1. Memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktek akuntansi dinilai.
2. Teori akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan ekonomi,
sosial, teknologi dan ilmu pengetahuan yang demikian cepat.
Oleh karena itu tepatlah kesimpulan ahmed belkaoui yang menyatakan bahwa tidak ada teori
akuntansi yang lengkap apada setiap kurun waktu. Oleh karena itu teori akuntansi harus juga
mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda-beda satu
sama lain. Senada dengan kesimpulan ini American Accounting Association’s Committe On
Concepts and Standard For External Reports yang menyebutkan bahwa :
1. Tidak ada teori akuntansi keuangan yang lengkap yang mencakup dan memenuhi
keinginan semua keadaan dan waktu dengan efektif oleh karenanya.
2. Di dalam literatur akuntansi keuangan yang ada bukan teori akuntansi tetapi kumpulan
teori yang dapat dirumuskan mengatasi perbedaan-perbedaan persyaratan yang diinginkan
para pemakai laporan keuangan.
Untuk perumuan teori akuntansi memang tidak dapat hanya mengandalkan teori akuntansi
ansich,harus menggunakan literatur akuntansi dan disiplin ilmu lain yang relevan. Namun
teori akuntansi merupaka instrumen yang sangat penting dalam menyusun dan memverifikasi
prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk disajikan pada
para pemakainya.

2.4. PERIODISASI TEORI AKUNTANSI
Godfrey dkk (1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai berikut:
1. Pre-theory period (1492-1800)
Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak Pacioli
sampai pada awal abad ke-19. kalaupun ada saran-saran atau pertanyaan-pertanyaan belum
dapat digolongkan sebagai teori atau pernyataan yang sistematis.
2. General scientific period (1800-1955)
Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanannya baru berupa penjelasan
terhadap praktek akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan
mengembangkan praktek akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasarkan metode empiris
yang mengutamakan pengamatan atas kenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan
pada logika. Laporan AAA ”A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting
Corporate Reports pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of Accounting
Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh perumusan teori akuntansi
berdasarkan metode empiris atau disebut era general scientific ini.
3. Normative period (1956-1970)
Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan “norma-norma” atau
“praktek akuntansi yang baik”. Kalau dalam periode sebelumnya menekankan kepada ”APA”
yang terjadi dalamperiode ini ”Bagaimana seharusnya” dilakukan, ”What should be”. Pada
periode ini muncul kritik terhadap konsep ”historical cost” dan pendukung adanya
”conceptual framework”. Beberapa terbitan laporan pada era ini adalah: An Inquiry into the
Nature of Accounting oleh Goldberg yang diterbitkan pada tahun 1965, AAA menerbitkan A
Statement of Basic Accounting Theory.
4. Specific Scientific Period (1970-sekarang)
Periode ini disebut juga “positive era”. Di sini teori akuntansi tidak cukup hanya dengan sifat
normatif tetapi harus bisa diuji kebenarannya. Norma dinilai subyektif jadi harus diuji secara
positif. Pendekatan normatif dikritik karena:
(1) teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa.
(2) teori normatif didasarkan pada pertimbangan subyektif.
Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyektif maka tidak bisa
diterima begitu saja harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat.
Pada periode ini data empiris sudah banyak tersedia kemudian teknik-teknik statistik dan
teknik yang menggunakan disiplin lain untuk melakukan pengujian sudah demikian banyak
sehingga memudahkan melakukan pengujian. Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif

adalah untuk menerangkan dan meramalkan praktek akuntansi. Salah satu contoh dalam
penggunaan teori positif ini adalah hipotesa ”bonus plan”. Hipotesa ini menunjukkan bahwa
manajemen yang remunerasinya didasarkan pada bonus maka mereka akan berusaha
memaksimasi pendapatannya melalui pendekatan akuntansi yang dapat menaikkan laba
sehingga bonusnya tinggi. Dalam penyusunan laporan keuangan manajemen tentu akan
memilih standar akuntansi yang dapat menaikkan laba atau bonus mereka. Teori ini akan
dapat menjelaskan atau memprediksi prilaku manajemen dalam mana bonus plan
diberlakukan. Watts dan Zimmerman pendukung konsep ini dalam bukunya Positive
Accounting Theory menyatakan bahwa keuntungan pendekatan ini adalah bahwa regulator
bisa meramalkan konsekuensi ekonomis dari berbagai kebijakan atau praktek akuntansi.
Menurut Godfrey dkk pada akhir-akhir ini ada kecenderungan munculnya perbedaan antara
Riset Academics dan Riset Profesional yang sebelumnya dinilai seragam. Riset Academics
tetap dalam pendekatan positif yang umumnya menekankan pada peran dan pengaruh
informasi akuntansi sedangkan Profesional agak condong pada pendekatan normatif yang
umumnya menekankan upaya untuk menyeragamkan praktek akuntansi agar lebih
bermanfaat bagi praktisi.
2.5. METODE PERUMUSAN (KONSTUKSI)
Dalam literatur kita akan bingung menemukan berbagai penggolongan dan istilah yang
beragam untuk menjelaskan metode perumusan ini serta serta sifat dan tata caranya. Kita
akan mencoba merangkum berbagai pendapatan ini sehingga dapat menggambarkan metode
yang terdapat dalam literatur.
Merumuskan teori akuntansi mesti memiliki metode. Dari berbagai pendapat dan praktek,
Belkaoui dan Godfrey mengemukakan dalam literatur dikenal beberapa metode:
1. Metode Deskriftif (pragmatic) yaitu teori akuntansi mencoba menjawab pertanyaan
”APA”. Dalam metode ini akuntansi dianggap sebagai seni yang tidak dapat dirumuskan dan
karenanya metode perumusan teori akuntansi harus bersifat menjelaskan atau descriptive. Dia
menjelaskan dan menganalisa praktek yang ada dan diterima sekarang. Di sini diamati
perilaku akuntan dalam berhubungan dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Metode ini
disebut juga deskriptive accounting atau deskriptive theory of accounting. Beberapa contoh
prinsip akuntansi yang menggunakan metode ini adalah buku Paul Grady: Inventory of
General Accepted Accounting Principle for Business En terprises, APB Statement No. 4,
Skinners and Ijiri.
2. Psychological pragmatic, di sini diamati reaksi dari pemakai laporan keuangan terhadap
output akuntansi itu (laporan keuangan) yangdisusun dari berbagi aturan, standar , prinsip
atau pedoman. Jika ada reaksi maka dianggap bahwa ternyata akuntansi itu bermanfaat dan
relevan. Namun diakui juga bisa saja terjadi reaksi yang tidak logis dari pengguna laporan
keuangan sehingga bukan saja reaksi itu disebabkan laporan keuangan.

3. Metode Normatif (1950-1960) yaitu teori akuntansi mencoba menjawab pertanyaan ”APA
YANG SEMESTINYA”. Di sini akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus
diikuti tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang atau tidak. Metode ini disebut
juga normative accounting research atau normative theory of accounting. Metode ini berguna
dalam hal membahas isu “true income” dan “decision usefulness”. Metode ini diatur antara
lain oleh: Moonitz, Sprouse and Moonitz, A Statement of Basic Accounting Theory
(ASOBAT) dari AAA, Edward and Bell, Chambers.
4. Metode Positive (1970an) yaitu suatu metode yang diawali dari suatu teori atau model
ilmiah yang sedang berlaku atau diterima umum. Berdasarkan teori ini maka dirumuskan
problem penelitian untuk mengamati perilaku atau fenomena nyata yang tidak ada dalam
teori. Kemudian dikembangkan teori untuk menjelaskan fenomena tadi dan dilakukan
penelitian secara terstuktur dan peraturan yang standar dengan melakuklan perumusan
masalah, penyusunan hipotesa, pengumpulan data dan pengujian statistik ilmiah. Sehingga
diketahui apakah hipotesa yang dirumuskan diterima atau tidak.
Para pendukung ini menyebut metode inilah yang digolongkan sebagai ”ilmiah” karena
menggunakan peraturean yang terstruktur dan data empiris yang objektif dan model statistik
matematik yang bersifat logik. Dalam penggolongan lain disebut metode kuantitatif
(Quantitatif Research). Namun bukan berarti metode ini tidak mendapatkan kritik. Disamping
metode kuantitatif ini dibuat juga penggolongan lain yaitu metode kualitatif (Qualitatif
Research). Metode kualitatif tidak harus didasarkan pada model yang terstruktur dan analisa
yang menggunakan matematik atau statistik. Disamping penggolongan berdasarkan
kuantitatif dan kualitatif ada juga penggolongan Scientific Research dan Naturalistic
Research. Scientific disamakan dengan positive atau quantitative sedangkan Naturalistic
disamakan dengan metode kualitatif.
2.6. PENDEKATAN DALAM PERUMUSAN TEORI
Teori adalah rumusan yang direduksi dari kenyataan atau praktek. Menurut Godfrey dkk
(1992) dalam mengaitkan antara teori (dunia abstrak) dan kenyataan (dunia pengalaman)
dikenal 3 hubungan dalam struktur teoritis:
1. Syntactis
Di sini teori itu dirumuskan dalam bentuk hubungan logis. Hubungan itu dirumuskan dalam
bentuk aturan seperti aturan bahasa (grammar), aturan matematik dan sebagainya. Biasanya
rumusan teori menggunakan sylogism yang memberikan hubungan logis. Sylogism tidak
dimaksudkan menyatakan kebenaran tetapi hanya hubungan logis, seperti:
Premis 1: seluruh perkiraan aktiva bersaldo debet
Premis 2: Biaya Sewa bersaldo debet
Kesimpulan: Biaya sewa adalah aktiva

Rangkaian premis dan kesimpulan di atas itu merupakan bahasa teori dalam permainan
logika. Tidak seluruhnya stuktur silogisme itu bisa menjamin kebenaran. Syntactis hanya
menggambarkan dunia kenyataan dalam bentuk bahasa ilmiah atau teori.
2. Semantic
Di sini teori menghubungkan konsep dasar dari suatu teori ke obyek nyata. Hubungan ini
dituangkan dalam bentuk aturan yang sesuai atau definisi operasional. Semantic menyangkut
hubungan kata, tanda atau simbol dari kenyataan. Sehingga teori ini lebih mudah dipahami,
realistik dan berarti. Misalnya Kesamaan akuntansi Aktiva = Utang + Modal.
3. Pragmatic
Tidak semua teori memiliki aspek pragmatis. Di sini hubungan pragmatis itu berkaitan
dengan pengaruh kata-kata, simbol terhadap manusia. Akuntansi dianggap memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang. Teori akuntansi dianggap harus bermanfaat
bagi pengambil keputusan sehingga informasi akuntansi juga harus sesuai dengan kebutuhan
para pengambil keputusan ini.
Teori harus mampu merumuskan kebenaran sehingga teori ini harus terus-menerus diuji dan
diverifikasi. Ada 3 kriteria atau pihak atau sumber yang memiliki wewenang menentukan
kebenaran:
1. Dogmatic, suatu pernyataan atau teori dapat kita sebut benar jika pihak yang
menyampaikannya memiliki wewenang untuk menyampaikan kebenaran itu dan ini tidak
perlu diuji lagi. keyakinan kepada kebenaran ini hanya berdasarkan pada kepercayaan,
keyakinan atau iman seseorang. Sumber dogma ini misalnya berasal dari keyakinan agama,
kharisma seseorang, jabatan, indoktrinasi, dan lain sebagainya. Dalam akuntansi ada
beberapa lembaga yang dikenal otoritasnya dalam menelorkan teori akuntansi misalnya
AAA, FASB, IAI dan sebagainya.
2. Self evident, di sini kebenaran dibuktikan oleh pengetahuan umum, pengamatan,
pengalaman. Misalnya disebutkan bahwa akuntansi menggunakan harga pasar. Pernyataan ini
rasanya tidak perlu lagi diuji kebenarannya karena sudah terbukti sendiri berdasarkan
pengetahuan, pengalaman dan pengamatan kita.
3. Scientific, di sini kebenaran itu dibuktikan oleh suatu metode ilmiah. Teori dirumuskan,
diuji dan seterusnya berulang secara terus-menerus. Metode ilmiah ini sangat beragam dan
akan kita bahas berikut ini.
Perumusan Teori Akuntansi
Dalam literatur dikenal beberapa pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi. Masingmasing penulis memberikan metode yang diikutinya. Dalam bab ini kita pakai saja penjelasan
dari Belkaoui tentang pendekatan dalam perumusan teori akuntansi sebagai berikut:

I. Pendekatan informal yang dibagi dalam:
1. Pragmatis, Praktis, Non teoritis
2. Otoriter
II. Pendekatan Teoritis yang dibaginya dalam:
1. Deduktif
2. Induktif
3. Etik
4. Sosiologis
5. Ekonomi
6. Eklektif

I. 1. Pendekatan non teoritis:
Dalam metode ini perumusan teori akuntansi. Didasarkan pada keadaanpraktek di lapangan.
Di sini yang menjadi pertimbangan adalah hal-hal yang berguna untuk menyelesaikan
persoalan secara praktis. Menurut pendekatan ini prinsip akuntansi yang dipakai adalah
didasarkan pada kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan
proses pengambilan keputusan.
2. Pendekatan otoriter
Dalam metode ini yang merumuskan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktek akuntansi. Biasanya organisasi
profesipun tetap memperhatikan aspek praktis dan pragmatis. Oleh karena itu maka
pendekatan otoriter ini digolongkan juga sebagai pragmatis.
II. 1. Deduktif
Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan
prinsif akuntansi) dan selanjutnya dari rumusan dasar ini diambil kesimpulan logistentang
teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi perumusan dimulai dari dalil umum
kepada dalil khusus. Pendekatan ini dilakukan dalam penyusunan struktur akuntansi di mana
dirumuskan dahulu tujuan laporan keuangan, rumusan postulat, kemudian prinsip, dan
akhirnya lebih khusus menyusun teknik akuntansi. Dalam hal ini teori diuji dari posisinya
dalam menampung keinginan praktek. Jika pemakai dalam praktek diterima maka dianggap
teori itu diterima atau verified, sebaliknya jika tidak diterima disebut falsified.

Beberapa pendukung metode ini adalah: Paton, Canning, Sweeney, MacNeal, Alexander,
Edward and Bell, Moonitz, dan Sprouse and Moonitz.
2. Induktif
Dalam metode ini penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan
pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagi sample dirumuskan fenomena yang seragam
atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip
akuntansi). Tahap yang dilalui adalah:
1. Mengumpulkan semua observasi.
2. Analisis dan golongan observasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis,
seragam, mirip.
3. Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang
berulang-ulang tadi.
4. Kesimpulan umum diuji kebenarannya.
Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam pendekatan induktif ini kebenaran dan kepalsuan
dalil tidak tergantung pada dalil lainnya, tetapi harus melalui pengujian empiris. Dalam
pendekatan induktif kebenaran suatu dalil tergantung pada pengamatan terhadap contoh yang
cukup dari hubungan kasus yang berulang-ulang dan seragam. Para teoritisi yang
menggunakan pendekatan ini adalah: Hatfield, Gilman, Littlelton, Paton and Littlelton, dan
Ijiri.
3. Etik
Dalam pendekatan ini digunakan konsep kewajaran , keadilan, pemilikan, dan kebenaran.
Patillo menyebutkan dalam metode ini standar dasarnya adalah etika, metodenya logis dan
”coherent” dan penerapannya di lapangan. Jadi sebenarnya dimensi yang diutamakan dalam
perumusan teori itu diutamakan dari sudut etikanya, tanpa menyebut bahwa pendekatan lain
tidak beretika. Pendekatan ini diperkenalkan oleh D.R. Scott. Menurut beliau kriteria yang
harus digunakan dalam perumusan teori akuntansi adalah keadilan dengan memperlakukan
pihak yang berkaitan secara adil. Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang benar dan
akurat tanpa mengundang salah tafsir, dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar, tidak
bias, dan tidak sebagian-sebagian.
Dalam buku lain dikenal dengan ”Pendekatan Peristiwa” (Event Approach) artinya dalam
perumusan teori kita harus memperhatikan semua pihak jangan hanya memperhatikan pihakpihak tertentu saja. Pendekatan ini mirip pendekatan etik ini.
4. Sosiologis
Dalam pendekatan ini yang menjadi perhatian utama dalam perumusan teori akuntansi adalah
dampak sosial dari teknik akuntansi. Jadi yang menjadi perhatian bukan pemakai langsung
akuntansi tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Pendekatan inilah sebagai embrio Socio

Economic Accounting atau Social Responsibility Accounting. Pendekatan ini seolah
merupakan perluasan dari konsep etik dimana yang menjadi focus perhatian adalah
kesejahteraan seluruh masyarakat bukan saja pemilik. Menurut konsep ini prinsip akuntansi
dinilai dari penerimaan dari seluruh pihak terhadap laporan keuangan, khususnya yang
melaporkan tentang dampak perusahaan terhadap masyarakat. Akuntansi dalam model ini
harus dapat memberikan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan terhadap kesejahteraan
masyarakat. Para penulis yang mengkaji isu ini adalah Belkaoui dan Beams dan Fertig, Ladd,
Littlelton, dan Zimmerman.
5. Makro Ekonomi
Pendekatan ekonomi dalam perumusan teori akuntansi menekankan pada kontrol pada
perilaku indikator makro ekonomi atau generar economic welfare yang menghasilkan
perumusan teknik akuntansi. Sehingga dalam pemilihan teknik akuntansi didasarkan pada
dampaknya pada ekomomi nasional. Misalnya teknik LIFO lebih menarik daripada FIFO
pada masa inflasi. Dari pendekatan ini maka dapat disimpulkan bahwa:
a. Teknik dan kebijaksanaan akuntansi harus dapat menggambarkan realitas ekonomi.
b. Pilihan terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada konsekuensi ekonomis.
Pendekatan ini banyak dianut oleh FASB.
6. Eklektif
Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya satu pendekatan, tetapi berbagai
kombinasi pendekatan maka disebut eklektif.
Dari literatur lain kita mengenal pendekatan komunikatif (communication theory) dalam
perumusan teori akuntansi. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bedford dan Baldouni yang
menganggap bahwa akuntansi adalah sebagai suatu sistem yang terpadu dalam proses
komunikasi. Di sini dirumuskan informasi apa yang perlu dan disajikan oleh perusahaan
kepada para pembaca agar mereka dapat menggunakannya dalam proses pengambilan
keputusan. ASOBAT (A Statement of Basic Accounting Theory) termasuk menggunakan
teori ini.
Banyak lagi pendekatan lain yang perlu dikemukakan di sini antara lain: behavioral approach,
yang menekankan pada aspek perilaku yang ditimbulkan oleh informasi akuntansi, pragmatic,
nontheoretical approach (perumusannya tidak didasarkan pada dasr teori yang berlaku.
Keadaan ini terjadi pada periode awal perkembangan akuntansi), theory of account approach
yang melihat akuntansi dari aspek hubungan antara perkiraan yang dibangun dari dasar teori
double entry.

2.7. PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI DI INDONESIA
Sampai saat ini Indonesia masih belum berupaya untuk merumuskan teori maupun standar
akuntansinya sendiri. Kita masih tetap menggunakan teori atau standar akuntansi Amerika
atau terakhir dari IASC (International Accounting Standard Committee) sebagai dasar
pengembangan akuntansi di Tanah Air. Standar Akuntansi Keuangan maupun Pernyataan
Standar Pemeriksaan masih mengadopsi atau menerjemahkan standar atau pedoman dari
Amerika atau IASC dengan berbagai modifikasi minor. Upaya yang baru dilakukan oleh
profesi akuntansi adalah perumusan prinsip akuntansi Indonesia namun belum menyentuh
dasar teori akuntansinya. Dalam sebuah kuliahnya di gedung baja (1991), Belkaoui
menganjurkan agar setiap negara memiliki teori akuntansi sendiri termasuk Indonesia.
Menurut beliau teori akuntansi lahir dari kondisi, lingkungan, dan situasi ekonomi dan sosial
yang ada disuatu negara yang tentu akan berbeda dengan negara lainnya. Akibatnya kita tidak
akan tepat jika menggunakan teori akuntansi yang dilahirkan dari negara lain dengan situasi
dan kondisi yang berbeda dengan negara kita.
Menurut penulis buku ini, tentu sangat ideal dan tidak akan mungkin dapat kita wujudkan
dalam jangka pendek. Namun pada dasarnya kita harus membuat agenda menuju ke sana.
Oleh karena itu para peneliti akuntansi, pemerintah, Fakultas Ekonomi serta Kantor Akuntan
Publik sudah selayaknya memikirkan permasalahan ini dengan upaya yang intens untuk
melakukan berbagai penelitian akuntansi. Sebelum hal itu terwujud maka sebaiknya profesi
dan pemerintah sudah harus melakukan upaya-upaya dalam perumusan teori dan standar
akuntansi Indonesia yang digali dari kondisi kita. Dan tentu saja teori akuntansi yang sudah
ada khususnya dari negara lain seperti dari Amerika dapat kita jadikan sebagai dasar atau
pedoman dalam merumuskan teori kita atau mengisi teori yang masih lowong.
PENUTUP
3.1. Simpulan
Dari uraian diatas maka dapat kami simpulkan bahwa banyak para pakar mengemukakan
mengenai teori akuntansi, baik itu Vernon Kam, Kuhnian, dan masih banyak lagi pakar-pakar
yang mengemukakannya. Teori dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang berdasarkan
metode ilmiah atau logika. Teori terdiri dari dua bagian yaitu:
1. Asumsi-asumsi termasuk definisi variabel-variablenya dan logika yang menghubungkan
antar variabel tersebut. Asumsi-asumsi, definisi logika dipergunakan untuk mengatur,
menganalisa, memahami, gejala empiris yang menjadi perhatian.
2. Himpunan hipotesa-hipotesa yang penting. Sedangkan hipotesa merupakan anggapan awal
dari sebuah fenomena atau masalah yang akan dianalisa. Tujuan teori akuntansi adalah
menjelaskan dan meramalkan praktek akuntansi.
Teori akuntansi adalah suatu konsep definisi dalil yang menyajikan secara sistematis
gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel dengan variabel
lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan

fenomena yang mungkin muncul. Dalam merumuskan teori akuntansi, ada beberapa metode
yang dapat dipergunakan yaitu metode deskriptif (pragmatic), psichological pragmatic,
metode normatif dan metode positive. Sampai saat ini Indonesia masih belum berupaya untuk
merumuskan teori maupun standar akuntansinya sendiri. Kita masih tetap menggunakan teori
atau standar akuntansi Amerika atau terakhir dari IASC (International Accounting Standard
Committee) sebagai dasar pengembangan akuntansi di Tanah Air.

3.2 Saran
Dalam hal ini, penyusun dapat memberikan saran seharusnya teori akuntansi dapat di
implementasikan sesuai dengan kondisi, lingkungan, dan situasi ekonomi agar dapat
dijadikan dasar atau pedoman dalam penuyusunan teori akuntansi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Harahap,sofyan syafri.2002.Teori Akuntansi.Jakarta : PT.Raja
http://www.skripsi-tesis.com/search/latar+belakang+teori+akuntansi

Grafindo

Persada

www.pengusahamuslim.com/strategi-bisnis/pembukuan-dan-administrasi/523-menggunakansoftware-akuntansi-tanpa-memahami-teori-akuntansi

Judul: Teori Akuntansi

Oleh: Dewi Setyowati


Ikuti kami