Teori Akuntansi

Oleh Aries Maret

27 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Teori Akuntansi

TEORI AKUNTANSI
Perekayasaan Pelaporan Keuangan Dan Kerangka Konseptual

Oleh
Kelompok 3
Atiqah Idris 1510532011
Mardhatillah 1510531026
Sri Rahayu Desra 1510531041
Iffah Yonawangi Nabilah 1510532018

Universitas Andalas
Tahun Ajaran 2017/2018

Tujuan pelaporan keuangan
Tujuan adalah kearah mana segala upaya, tindakan, dan pertimbangan dicurahkan. Oleh
karena itu, penentuan tujuan pelaporan keuangan langkah yang paling krusial dalam
perekayasaan akuntansi. Tujuan pelaporan menentukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip
yang relevan, yang akhirnya menentukan bentuk, isi, jenis, dan susunan statemen keuangan.
Pihak yang dituju dan kepentingannya harus diidentifikasi dengan jelas,sehingga informasi
yang dihasilkan pelaporan keuangan dapat memuaskan kebutuhan informasional pihak yang
dituju

Pemakai dan kepentingannya
Beragam kepentingan antara lain adalah pertanggung jawaban,kebermanfaatan, keputusan,
riset keuangan dan pasar, penentuan tarif, penentuan pajak, pengendalian sosial, pengendalian
alokasi sumber daya ekonomik, dan pengukuran kinerjaentitas, jadi penentuan tujuan
merupakan suatu proses yang kompleks.Masalah penyusunan tujuan adalah menentukan
siapa yang dituju, apa saja kepentingannya, seberapa luas (banyak)informasi yang diinginkan,
apa saja sumber informasi yang telah tersedia, dan seberapa banyak informasi dapat dilayani
melalui statemen keuangan.
Most menunjukkan dua pendekatan dalam penentuan tujuan penyediaan infornasi
(pelaporankeuangan), yaitu:
1.Menyediakan informasi untuk sehimpunan pemakai umum yang mempunyai bermacammacam kepentingan keputusan.
2.Menyediakan informasi untuk kelompok pemakai tertentu yang mempunyai kepentingan
tertentu yang diketahui.
Dengan pendekatan (1) pelaporan keuangan diarahkan untuk menghasilkan satu set data (satu
set statemen keuangan) untuk berbagai pemakai dan kepentingan. Pemakai harus harus
melakukan analisis untuk menyerap informasi sematik yang ada di balik data akuntansi.
Pendekatan ini lah yang sekarang banyak ditempuh dan menghasilkan apa yang dikenal
dengan statemen keuangan umum. Karena bersifat umum maka kepentingan spesifik atau
kelompok tertentu harus dikorbankan
Walaupun bersifat umum,masih perlu diidentifikasi kelompok yang dianggap menjadi focus
atau sasaran informasi dengan harapan kelompok yang lain masih dapat menumpang pakai
(menjadi free-rider) statement keuangan umum tsb.

.
Pendekatan (2) berasumsi bahwa kebutuhan informasi dan model pengambilan keputusan
para atau kelompok pemakai diketahui dengan pasti sehingga dapat disusun berbagai
statemen/laporan khusus untuk melayani berbagai keperluan pengambilan keputusan tiap
kelompok pemakai.

Aspek Sosial Tujuan Pelaporan
Sebagai teknologi, pelaporan keuangan dalam suatu Negara harus direkeyasa sehingga
tujuansocial dan ekonomik Negara tercapai. Tujuan nasional dapat tercapai apabila kegiatan
individual

dengan berbagai motivasi

untuk mencapai

tujuan individualnya juga

memaksimumkan tujuan Negara.
1. Tujuan Fungsional
Adalah tujuan masyarakat atau organisasi secara keseluruhan tanpa memperhatikan tujuan
atau motivasi masing-masing individual didalamnya. Tujuan individual tidak dapat diamati
sedangkan tujuan fungsional dapat diidentifikasi dengan mengamati konsekuensikonsekuensi dari kegiatan masyarakat atau organisasi nyata yang terjadi. Dengan
demikian ,tujuan funsional merupakan tujuan normatif yang menjadi pedoman dalam
pembuatan kebijakan di tingkat nasional atau organisasi. ), tujuan fungsional akuntansi dapat
ditetapkan misalnya untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mengalokasi sumber daya ekonomi secara efisien
Membantu perusahaan untuk dapat memperoleh dana untuk ekspansi
Membantu pemerintah untuk menarik pajak secara adil dan efisien
Membantu para manajer dalam keputusan investasi
Mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan negara
Memfasilitasi fungsi dan pengendalian sosial
Mengarahkan perilaku manajer untuk mengambil keputusan yang selaras dengan
tujuan sosial dan ekonomik Negara
8. Mengurangi atau mencegah konflik kepentingan antara manajer, auditor, dan
pemegang

2. Tujuan Bersama
Suatu atau beberapa (sub himpunan) tujuan individual yang sama dengan tujuan individual
yang lainnya. Kalau tujuan fungsional disusun tanpa memperhatikan tujuan-tujuan individual,
tujuan bersama ditentukan dengan mengidentifikasi dahulu tujuan-tujuan individual
kemudian memilih tujuan-tujuan individual (seluruh anggota masyarakat) yang sama untuk
dijadikan tujuan kegiatan social.

3. Tujuan Kelompok Dominan
Bila tujuan dan model pengambilan keputusan semua individual atau kelompok (grup)
individual dapat diidentifikasi, tujuan beberapa individual atau beberapa kelompok individual
yang dominan dalam suatu kegiatan masyarakat dapat dijadikan tujuan kegiatan social (dan
ekonomik) masyarakat bersangkutan. Kelompok atau grup dominan adalah kelompok yang
konsekuensi keputusan atau tindakannya mempengaruhi secara kuat semua anggota
masyarakat.

Perkembangan tujuan pelaporan keuangan


Tujuan Versi ASOBAT

Walaupun berorientasi pada kebutuhan pemakai, komite eksekutif AAA tidak secara spesifik
mengidentifikasi pihak pemakai laporan keuangan. Komite ini mendefinisikan tujuan laporan
keuangan dengan menunjukkan manfaatnya untuk:
1.Membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya (alam,
fisis,manusia, dan financial) yang terbatas.
2.Mengarahkan dan mengendalikan sumber daya fisis dan manusia suatu organisasi
secaraefektif.
3.Memelihara dan melaporkan pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada
manajemen.
4.Memberi kemudahan berjalannya fungsi dan pengendalian social.
Dapat disimpulkan bahwa pemakai yang diarah oleh tujuan diatas adalah berbagai kelompok
yaitu manajemen, investor, kreditor, pegawai, pemasok, dan regulator walaupun tujuan social
juga menjadi perhatian sebagaimana terefleksi dalam tujuan keempat. Karena pihat yyang
dituju tidak jelas ,dapat dikatakan bahwa ASOBAT sebenranya mendefenisikan tujuan
pelporan atas dasar tujuan fungsional.



Tujuan versi APB No. 4

Tujuan pelaporan keuangan yang dicanangkan dalam APB No. 4 secara umum dinyatakan
sebagai berikut:

The basic purpose of financial accounting and financial statements is to provide financial
information about individual business enterprises that is useful in making economic
decisions.
APB No.4 memuat dua tujuan pelaporan yaitu tujuan umum dan tujuan kualitatif. Tujuan
diatas merupakan tujuan umum yang dijadikan dasar untuk menentukan kandungan informasi
akuntansi (apa yang harus dilaporkan). Kemudian tujuan umum ini dijabarkan lebih lanjut:
1. To

present

financial

information

about

enterprises

resources

and

obligations,economic progress,and other changes in resources and obligations
2. To present information helpful in estimating earning potential
3. To present other financial information needed by users,particularly owners and
creditors
Jadi dapat dikatakan bahwa APB mengembangkan tujuan atas dasar kelompok dominan,
dengan kata lain APB berusaha menghasilkan statemen keuangan umum dengan investor dan
kreditor sebagai kelompok dominan.



Tujuan Versi Trueblood Committee

Tujuan pelaporan yang diajukan oleh komite trueblood tidak jauh berbeda dengan tujuan
dalam ASOBAT maupun APB No. 4 kecuali bahwa tujuan dalam laporan komite trueblood
lebih rincidan mengidentifikasi aspek-aspek tujuan. Dua hal yang penting yang ditekankan
pada komite iniadalah daya melaba (earnings power) dan elemen aliran kas. Tujuan
pelaporan oleh komite truebolood ini akhirnya menjadi basis penyusunan tujuan pelaporan
dalam rerangka konseptual yang dikembangkan oleh FSAB.

Tujuan Pelaporan Keuangan FASB
Adalah untuk memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan bisnis
dan ekonomi.FASB mendasarkan penyusunan tujuan pelaporan pada tiga aspek landasan
pikiran yaitu bahwa :
1.Tujuan pelaporan keuangan ditentukan oleh lingkungan ekonomik, hukum, politis dansocial
tempat akuntansi diterapkan.
2.Tujuan pelaporan dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan informasi yang
dapatdisampaikan melalui mekanisme laporan keuangan.

3.Tujuan pelaporan memerlukan suatu focus untuk menghindari terlalu umumnyainformasi
akibat terlalu banyaknya pihak pemakai yang ingin dipenuhi kebutuhan informasionalnya.

Konteks lingkungan tujuan pelaporan
Tujuan FASB didasarkan atas lingkungan ekonomik, hukum, politis, dan social, di
Amerika,lingkungan penerapan akuntansi diberi ciri sebagai berikut:
1.Sistem ekonomi pasar yang maju
2.Sistem produksi, keuangan, dan perbankan yang canggih
3.Pemisahan antara pemilikan dan manajemen; kegiatan perusahaan dijalankan melalui
perusahaan/badan usaha milik investor
4.Pasar modal sebagai sarana pemenuhan modal utama selain lembaga keuangan 5.Pemilikan
pribadi sumber ekonomi diakui dan dilindungi pemerintah, sumber daya produktif lebih
banyak, dikelola oleh swasta atau pribadi daripada oleh pemerintah dan pemerintah bertindak
sebagai regulator
6.Pemerintah membantu kegiatan bisnis dan ekonomik dengan menyediakan informasi public
yang sebagian berasal dari informasi pelaporan keuangan yang disediakan oleh tiap badan
usaha
7.Realibilitas dan kreditabilitas informasi dalam pelaporan keuangan dicapai melalui
pengauditan oleh auditor independen

Karakteristik dan keterbatasan informasi
Tujuan pelaporan dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan tentang jenis informasi
yang dapat disediakan. Karakteristik dan keterbatasan tersebut adalah bahwa informasi
yangdisediakan melalui mekanisme pelaporan keuangan:
1.Lebih berkaitan dengan badan usaha atau perusahaan daripada dengan industry
atauekonomi secara keseluruhan.
2.Lebih merupakan informasi kuantitatif yang bersifat pendekatan daripada hasil perhitungan
yang pasti.
3.Sebagian besar merefleksi pengaruh transaksi dan kejadian yang telah terjadi.
4.Hanya merupakan salah satu sumber informasi yang dibutuhkan oleh mereka
yangmengambil keputusan tentang badan usaha.

5.Persediaan

dan

penggunaannya

memerlukan

atau

melibatkan

kos

sehingga

pertimbangankos manfaat dapat membatasi apa yang harus dilaporkan.
Keterbatasan diatas lebih bersifat umum dan inheren dalam pelaporan keuangan tiap
lngkungan tertentu tidak hanya yg terjadi di Amerika.

Focus atau cakupan informasi
Pertimbangan atau penalaran FASB untuk memfokuskan pelaporan pada pelaporan
keuanganumumnya diuraikan berikut ini:
1.Tujuan pelaporan didasarkan pada keperluan para pemakai eksternal yang tidak mempunyai
autoritas untuk menentukan atau akses untuk memperoleh informasi yangmereka perlukan
sehingga mereka harus menggantungkan pada informasi yangdisampaikan oleh manajemen
kepada mereka.
2.Oleh Karena itu tujuan pelaporan disusun atas dasar gagasan bahwa kemampuan
perusahaan untuk menciptakan aliran kas yang menguntungkan merupakan focus atau
kepentingan umum/bersama dari berbagai pemakai informasi.
3.Tujuan pelaporan berkaitan dengan penyediaan informasi luas untuk melayani
keputusaninvestasi dan kredit bukan hanya dengan informasi yang dapat dituangkan dalam
bentuk statemen keuangan. Dengan kata lain, tujuan pelaporan lebih diarahkan untuk
pelaporankeuangan dan tidak hanya untuk statemen keuangan.

Isi tujuan pelaporan
Tiga aspek landasan pikiran diatas ,yaitu konteks lingkungan,keterbatsan,dan focus
pelaporan,menjadi

pertimbangan

FASBuntuk

merumuskan

tujuan

pelaporan

keuangansebagai salah satu komponen rerangka konseptual
Tujuan Utama Pelaporan Keuangan dalam rerangka Konseptual FSAB :
1.

Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang bermanfaat bagi para investor

dan kreditor dan pemakai lain, baik berjalan maupun potensial, dalam membuat keputusan keputusan investasi, kredit, dan semacamnya yang rasional.
2.

Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi untuk membantu para investor dan

kreditor dan pemakai lain, baik berjalan maupun potensial, dalam menilai (assessing) jumlah,
saat terjadi, dan ketidakpastian penerimaan kas mendatang (prospective cash receipts) dari

deviden atau bunga dan pemerolehan kas (proceds) mendatang dari penjualan, penebusan,
atau jatuh temponya sekuritas atau pinjaman.
3.

Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi tentang sumber daya ekonomik suatu

badan usaha, klaim terhadap sumber-sumber tersebut (kewajiban badan usaha untuk
mentransfer sumber daya ekonomik ke entitas lain dan ekuitas pemilik) dan akibat-akibat dari
transaksi, kejadian, dan keadaan yang mengubah sumber daya badan usaha dan klaim
terhadap sumber daya tersebut.
Ketiga tujuan diatas sebenarnya saling berkaitan. Tujuan 1 dapat dianggap sebagai tujuan
dasar . tujuan 2 dan 3 adalah penjabaran .Kalimat kedua dalam tujuan 1 sebenarnya bukan
merupakan tujuan pelaporan tetapi lebih merupakan tingkat atau syarat pengetahuan para
pemakai yang diacu.
Kalimat kedua tujuan 2 merupakan pernyataan kembali tujuan dalam kalimat pertama tetapi
dari sudut pandang badan usaha. Dalam kalimat pertama, penerimaan dan pemerolehan kas
dimaknai sebagai kas yang mengalir ke pemakai (investor, kreditor, dan lainnya).

Teori di Balik Tujuan Pelaporan FASB
Akuntansi akan mempunyai peran yang nyata dalam kehidupan social dan ekonomi kalau
informasi yang dihasilkan oleh akuntansi dapat mengendalikan pencapaian tujuan social dan
ekonomik negara.
Pasar modal adalah sarana untuk mempertemukan peminta dan pemasok atau penyedia dana.
Pasar modal merupakan suatu sistem pemenuhan kebutuhan dana dan investasi yang
terorganisasi yang melibatkan partisipan yang terdiri atas bank-bank komersil dan semua
perantara di bidang keuangan, investor, dan kreditor dan melibatakan instrument keuangan
dan surat berharga baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Mekanisma pasar dan pengakuan hak milik pribadi sebagai landasan ekonomi mempunyai
konsekuensi bahwa pemerintah tidak secara langsung mengendalikan efisiensi alokasi
sumber daya ekonomik. Informasi yang dibentuk melalui standar akuntansi dapat
mempengaruhi perilaku ekonomik sehingga distribusi kemakmuran diharapkan dapat terjadi
melalui tiga partisipan yaitu investor dan kreditor sebagai pihak sasaran (intended users),
pemakai laporan lain yang tidak dituju secara langsung (free riders), dan manajemen sebagai
pihak yang menyampaikan dan menyiapakan informasi (reporting entity).
Dengan struktur ekonomi tersebut, laba, kemampuan melaba, dan kemampuan menciptakan
kas badan usaha dianggap sebagai indicator yang dapat mempengaruhi perilaku para

partisipan di pasar modal. Investor dan kreditor menanamkan kekayaan dalam industri
tertentu yang memproduksi barang dan jasa untuk kepentingan masyarakat. Harapan investor
adalah dana yang ditanamkan akan berkembang yang berarti bahwa investasinya memberikan
kembalian yang memadai.
Secara ringkas, FASB berasumsi bahwa informasi akuntansi mempengaruhi keputusan
investasi pada investor dan kreditor. Dengan mekanisma pasar modal dan pasar bebas,
evaluasi terhadap badan usaha secara keseluruhan tercermin dalam harga pasar sekuritas
badan usaha. Karena standar akuntansi menetapkan informasi apa yang harus diungkapkan
maka akuntansi mempunyai pengaruh ekonomik terhadap kemakmuran partisipan melalui
harga sekuritas.

Tujuan Pelaporan Entitas Nonbisnis
Financial Accounting Standards

Board (FASB) berargumen bahwa karakteristik

kedua kategori entitas (bisnis dan nonbisnis) mengandung persamaan dan perbedaan tetapi
tidak perlu disusun dua kerangka konseptual terpisah untuk masing-masing kategori
organisasi. Dengan demikian tujuan pelaopran keuangan untuk organisasi nonbisnis
dimasukkan sebagai salah satu komponen kerangka konseptual. Perbedaan-perbedaan dalam
tujuan tersebut dapat dijadikan basis untuk mengidentifikasi pelaporan yang memerlukan
perlakuan akuntansi khusus atau unik.
Pada awalnya FSAB mempertimbangkan unit-unit kepemerintahan , organisasi amal dan
keagaamaan, institusi sosial dan organisasi swasta nonprofit sebagai entitas nonbisnis.
Namun dalam perkembangannya unit-unit kepemerintahan dipisahkan dari lingkup organisasi
nonbisnis dan pelaporan keuangannya ditangani oleh Governmental Accounting Standards
Board (GASB). Oleh karena itu entitas tidak lagi dikategorikan menjadi bisnis dan nonbisnis,
tetapi menjadi pemerintahan dan nonkepemerintahan. Entitas nonkepemerintahan meliputi
entitas bisnis dan nonbisnis yang pelaporan keuangannya berada dibawah jurisdiksi atau
wilayah autoritas FASB sedangkan entitas kepemerintahan meliputi pemerintah pusat dan
daerah yang berada di bawah jurisdiksi atau wilayah autoritas GASB. FASB mengidentifikasi
ciri-ciri nonbisnis yang menjadikan tujuan peleporan organisasi nonbisnis berbeda dengan
organisasi bisnis. Ciri-ciri tersebut adalah (SFAC No. 4, prg. 6):

1. Penerimaan sumber ekonomik yang cukup besar dari penyedia dana yang tidak
mengharapkan untuk menerima imbalan atau manfaat yang proporsional dengan
sumber ekonomik yang diserahkan.
2. Tujuan operasi selain menyediakan/menjual barang dan jasa untuk mendatangkan
laba atau setara laba.
3. Tidak terdapatnya hak pemilikan dengan proporsi tertentu/pasti yang dapat dijual,
dipindahtangankan, atau ditarik, atau yang mengandung hak yuridis atas bagian dari
sisa kekayaan dalam hal organisasi dilikuidasi/dibubarkan.
Pelaporan entitas nonbisnis memiliki tujuan utama yaitu Pelaporan keuangan entitas
nonbisnis harus menyediakan informasi yang bermanfaat bagi para penyedia dana dan
pemakai lain, baik berjalan maupun potensial, dalam membuat keputusan-keputusan rasional
tentang alokasi dana ke entitas tersebut dan dengan tujuan-tujuan spesifik sebagai berikut :
1. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi untuk membantu para penyedia
dana dan pemakai lain, baik berjalan maupun potensial, dalam menilai jasa-jasa yang
disediakan organisasi dan kemampuannya untuk terus menyediakan jasa-jasa tersebut.
2. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi untuk membantu para penyedia
dana dan pemakai lain, baik berjalan maupun potensial, dalam menilai bagaimana
para

manajer

organisasi

nonbisnis

telah

melakasanakan

tanggung

jawab

kepengurusannya dan aspek-aspek lain kinerjanya.
3. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi tentang sumber daya, kewajiban
dan sumberdaya (asset) bersih organisasi, dan akibat-akibat dari transaksi, kejadian,
dan keadaan yang mengubah sumber daya dan hak atas sumber daya tersebut.
4. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi tentang kinerja organisasi selama
suatu periode. Pengukuran periodic perubahan-perubahan jumlah dan sifat asset
bersih organisasi nonbisnis dan informasi tentang upaya-upaya dan hasil jasa
organisasi secara bersama menunjukkan informasi yang paling bermanfaat dalam
menilai kinerja organisasi.
5. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi tentang bagaimana organisasi
mendapatkan dan membelanjakan kas atau sumber likuid lain, tentang pinjaman dan
pelunasannya, dan tentang faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.
6. Pelaporan keuangan harus mencakupi penjelasan-penjelasan dan interpretasiinterpretasi untuk membantu para pemakai memahami keuangan yang disediakan.

Karakteristik kualitatif informasi
Rerangka konseptual merupakan pedoman bagi penyusun standar untuk memutuskan
apakah suatu objek atau kajadian harus diwajibkan, melalui standar akuntansi, untuk
dilaporkan oleh badan usaha atau organisasi. Ada dua level atau tataran kebijakan akuntansi
yaitu tataran penyusun standar dan tataran badan usaha secara individual. Karena merupakan
konstitusi yang harus diacu dalam pembuatan kebijakan akuntansi tersebut, maka rerangka
konseptual harus memuat kriteria untuk mengevaluasi apakah suatu objek layak untuk
dilaporkan dalam kaitannya dengan tujuan pelaporan keuangan.
Kriteria yang menjadi pedoman kebijakan akuntansi sangat erat kaitannya dengan
masalah apakah informasi suatu objek bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi pihak
pemakai yang dituju. Kebermanfaatan (usefulness) merupakan suatu karakteristik yang hanya
dapat ditentukan secara kualitatif. Oleh karena itu, kriteria ini secara umum disebut
karakteristik kualitatif (qualitative characteristics) atau kualitas (qualities) informasi
akuntansi. Informasi akan bermanfaat apabila informasi tersebut berhubungan dengan
keputusan yang menjadi sasaran informasi, dipahami dan digunakan oleh pemakai, dan
dipercayai oleh pemakai. Kalau pemakai tidak dapat mencerna informasi yang disajikan,
akhirnya informasi akan menjadi tidak dipakai yang berarti tidak bermanfaat kalau
disediakan. Oleh karena itu, kualitas informasi juga harus sepadan dengan kualitas pemakai
(user-specific qualities).

Nilai Informasi
Informasi dikatakan mempunyai nilai (kebermanfaatan keputusan) apabila informasi
tersebut:
1. Menambah pengetahuan pembuat keputusan tentang keputusannya di masa lalu,
sekarang, atau masa datang.
2. Menambah keyakinan para pemakai mengenai probabilitas terealisasinya suatu
harapan dalam kondisi ketidakpastian.
3. Mengubah keputusan atau perilaku para pemakai.

Keterpahamian (understandbility)
Keterpahamian adalah kemampuan informasi untuk dapat dicerna maknanya oleh
pemakai.

Dua faktor yang mempengaruhi keterpahamaan informasi yaitu pemakai dan

informasi itu sendiri. Dalam menetapkan tujuan, FASB menetapkan kriteria kebermanfaatan
atas dasar karakteristik pemakai dan informasi sekaligus sebagai berikut (SFAC No. 1,prg.
34):
The information should be comprehensible to those who have a
reasonable understanding of business and economic activities and are
willing to study the information with reasonable diligence.
Keberpautan (Relevance)
Keberpautan atau kerelevanan adalah kemampuan informasi untuk membantu
pemakai dalam membedakan beberapa alternatif keputusan sehingga pemakai dapat dengan
mudah menentukan pilihan. Bila dihubungkan dengan tujuan pelaporan keuangan,
keberpautan adalah kemampuan informasi untuk membantu investor, kreditor dan pemakai
lain dalam menyusun prediksi-prediksi tentang beberapa munculan (outcomes) dari kejadian
masa lalu, sekarang, dan masa datang atau dalam mengkonfirmasi atau mengkoreksi harapanharapannya. Bila dihubungkan dengan dengan pemakai, menurut Hendriksen dan Van Breda

(1992, hlm,134) mengartikan keberpautan dalam tiga aspek yaitu keberpautan tujuan,
keberpautan semantic dan keberpautan keputusan.
Nilai Prediktif (Timeliness)
Nilai prediktif adalah kemampuan informasi untuk membantu pemakai dalam
meningkatkan probabilitas bahwa harapan-harapan pemakai akan munculan/hasil suatu
kejadian masa lalu atau masa yang datang akan terjadi. Nilai prediksi disini adalah
kemampuan informasi dalam memperbaiki kemampuan atau kapasitas pembuat keputusan
untuk melakukan prediksi. Dengan kata lain, nilai prediktif adalah kemampuan informasi
dalam memperbaiki kemampuan atau kapasitas pembuat keputusan untuk membuat prediksi.
Dari segi apa yang disajikan, informasi akuntansi mempunyai nilai prediksi karena
menjadi masukan bagi model pengambilan keputusan. Menurut Hendriksen dan Van Breda
(1992, hlm 135) mendeskripsikan nilai prediksi atas dasar bagaimana informasi membantu
proses prediksi dengan cara langsung, tidak langsung, indicator arah dan informasi penegas
untuk informasi yang lain dalam laporan yang sama.
Nilai Balikan (Feedback Value)
Nilai balikan adalah kemampuan informasi untuk membantu pemakai dalam
mengkonfirmasi dan mengkoreksi harapan-harapan pemakai di masa lalu. Jadi, nilai balikan
adalah kemampuan informasi untuk dijadikan basis mengevaluasi apakah keputusankeputusan masa lalu adalah tepat dengan datangnya informasi tersebut.
Ketepatwaktuan (Timeliness)
Ketepatwaktuan adalah tersedianya informasi bagi pembuat keputusan pada saat
dibutuhkan sebelum informasi tersebut kehilangan kekuatan untuk mempengaruhi keputusan.
Tersedianya informasi lama setelah suatu kejadian yang memerlukan tanggapan atau
keputusan berlalau akan menjadikan informasi tersebut tidak mempunyai nilai lagi.
Dalam hal tertentu, mengejar keberpautan dan ketepatwaktuan untuk mencapai
kebermanfaatan harus dibarengi dengan mengorbankan kualitas lain yaitu keakuratan/presisi
atau keterandalan. Jadi, terdapat saling korban (trade-off) antara ketepatwaktuan dan
keakuratan/reliabiltas untuk mendapatkan kebarmanfaatan.
Keterandalan (Reliability)

Keterandalan adalah kemampuan informasi untuk memberikan keyakinan bahwa
informasi tersebut benar atau valid. Informasi akan mempunyai nilai yang tinggi kalau
pemakai mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap kebanaran informasi. Keterandalan
sangat erat kaitannya dengan sumber informasi dan cara merepresentasi, mendeskripsi, atau
menyimbolkannya.
Ketepatan Penyimbolan (Representational Faithfulness)
Ketepatan penyimbolan adalah kesesuaian atau kecocokan antara pengukur atau
deskripsi (representasi) dan fenomena yang diukur atau dideskripsi. Dalam akuntansi,
fenomena yang ingin direpresentasi adalah kondisi fisis, kondisi keuangan, dan kegiatan
ekonomik badan usaha berupa sumber ekonomik, kewajiban keuangan, dan transaksi atau
kejadian yang mengubah sumber ekonomik dan kewajiban tersebut.
Ketepatan penyimbolan dalam akuntansi menyangkut dua hal yaitu ketepatan
deskripsi atau definisional (misalnya aset, kas, piutang, dan kewajiban) dan validitas
pengukuran. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi keterandalan informasi melalui
ketepatan penyimbolan adalah ketelitian, ketidakpastian, pengaruh bias, dan kelengkapan.
Keterujian (verifiability)
Keterujian adalah kemampuan informasi untuk memberi keyakinan yang tinggi
kepada para pemakai karena tersedianya sarana bagi para pemakai untuk menguji secara
independen ketepatan peyimbolan (kebenaran/validitas informasi). Proses verifikasi dalam
dalam akuntansi tidak dengan sendirinya selalu menjamin bahwa suatu informasi mempunyai
kualitas ketepatan penyimbolan yang tinggi karena ketepatan penyimbolan sebenarnya
merupakan konsesus atau ketentuan yang dihasilakn dari proses perkayasaan pelaporan
keuangan.
Secara ringkas, keterujian (verifiabilitas) adalah kemampuan untuk meyakinkan
bahwa informasi merepresentasi apa yang dimaksudkan untuk direpresentasi sesuai dengan
konsensus atau bahwa cara pengukuran yang dipilih telah diaplikasi tanpa kesalahan atau
bias. Verivikasi lebih berkaitan dengan meminimkan bias dalam proses pengukuran daripada
dengan menentukan ketepatan dasar pengukuran. Dengan demikian, verifikasi tidak
dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa dasar pengukuran relevan dengan keputusan yang
dituju.

Kenetralan (Neutrality)
Kenetralan adalah ketidakberpihakan pada grup tertentu atau ketakberbiasan dalam
perlakuan akuntansi. Ketakberbiasan berarti bahwa informasi disajikan tidak untuk
mengarahkan grup pemakai tertentu agar bertindak sesuai dengan keinginan penyedia
informasi atau untuk menguntungkan/merugikan grup pemakai tetentu atau untuk
menghindari akibat/konsekuensi tertentu bagi sekelompok pemakai.
Kenetralan lebih mempunyai arti penting bagi penyusun standar daripada bagi
pelaksana standar (penyusun laporan keuangan). Kenetralan berarti bahwa baik dalam
merumuskan atau mengimplementasikan standar, perhatian utama adalah relevansi dan
reliabilitas informasi yang dihasilkan bukan pengaruh standar tersebut terhadap pihak
pemakai tertentu.
Keterbandingan (Comparability)
Keterbandingan adalah kemampuan informasi untuk membantu para pemakai
mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara dua perangkat fenomena ekonomik.
Informasi tentang suatu badan usaha akan bertambah tingkat kebermanfaatannya bila ia dapat
dibandingkan dengan informasi yang serupa. Jadi kebermanfaatan informasi tentang suatu
objek akan meningkat jika informasi tersebut dibandingkan dengan suatu patok duga
(benchmark).
Dua hal atau lebih dapat dibandingkan kalau mereka mempunyai beberapa
karakteristik bersama sebagai basis perbandingan. Contohnya adalah asset, pertumbuhan,
ukuran dan lain sebagainya. Perbandingan biasanya dengan menilai/mengukur karakteristik
bersama tersebut secara kuantitatif. Perbandingan akan bermakna hanya jika kuantitas
karakteristik bersama dihasilkan dengan dasar, standar, prosedur, atau metode yang sama.
Dalam akuntansi, bukan hanya unit pengukur yang sama yang disyaratkan melainkan juga
definisi yang sama tentang suatu objek.
Standar akuntansi dimaksudkan untuk menjamin bahwa kualitas ketebandingan
antarbadan usaha tinggi. Selain itu juga, memberikan keleluasaan bagi badan usaha untuk
memilih perlakuan akuntansi yang paling sesuai dengan kondisi badan usaha. Sehingga
terjadilah tarik menarik antara perlunya keseragaman (uniformity) dan keragaman (diversity)
perlakuan akuntansi. Hendriksen dan Van Breda (1992, hlm. 142) menunjukan argumen para
pendukung masing-masing pendekatan.

Pendukung keseragaman :
1.

Adanya

berbagai

metode

akuntansi

yang

diperbolehkan

menjadikan

perbandingan antarperusahaan sulit bahkan tidak mungkin dilakukan.
2.

Keleluasaan untuk memilih metode yang cocok dapat membuka kesempatan bagi
manajemen untuk memanipulasi informasi untuk kepentingannya.

3.

Keseragaman yang ditentukan sendiri oleh profesi atau sector swasta akan lebih
bermanfaat dibandingkan keseragaman yang dipaksakan oleh autoritas
(SEC/BAPEPAM atau pemerintah).

Keseragaman menjamin keterbandingan yang tinggi tetapi dapat mengurangi relevansi
dan reliabilitas informasi badan usaha secara individu. Oleh karena itu, perlu dicapai suatu
keseimbangan antara kebutuhan untuk mecapai keterbandingan yang tinggi tanpa harus
mengorbankan relevansi dan reliabilitas.
Pendukung keragaman:
1.

Keseragaman akan membatasi kebebasan manajemen untuk menentukan metode
terbaik dalam konteks kegiatan perusahaannya.

2.

Keseragaman prosedur yang kaku justru akan merugikan perbandingan, karena
informasi tidak lagi berpaut dan terandalkan untuk kegiatan nyata tiap
perusahaan.

3.

Keseragaman menghalangi perubahan yang memang diperlukan untuk menuju
ke perbaikan.

Materialitas (Materiality)
Tidak semua informasi disajikan dalam laporan keuangan, hal ini disebabkan oleh
pertimbangan bahwa investor tidak tertarik pada informasi yang tidak berpengaruh terhadap
keputusannya atau karena jumlah rupiah informasi akuntansi terlalu kecil untuk
mempengaruhi keputusan. Oleh karena itu, diperlukan batas bawah untuk menyaring
informasi mana yang dianggap penting dan tidak, sehingga perlu diakui atau tidak. Penting
tidaknya informasi biasanya dievaluasi atas dasar besar-kecilnya jumlah rupiah (magnitude)
objek informasi dibandingkan dengan jumlah rupiah objek keputusan. Pada umumnya, hal ini
diukur secara kuantitatif. Ambang batas (threshold) kuantitatif untuk menyaring informasi
untuk diakui adalah materialitas.

Materialitas adalah besar-kecilnya atau magnitude suatu penghilangan atau
penyalahsajian

informasi

akuntansi

yang

menjadikan

besar

kemungkinan

bahwa

pertimbangan seorang bijaksana yang mengandalkan diri pada informasi tersebur berubah
atau terpengaruh oleh penghilangan/pengabaian atau penyalahsajian tersebut. Untuk menjadi
material, mangnituda informasi harus dievaluasi bersamaan dengan kondisi-kondisi yang
melingkupi informasi tersebut.

Pertimbangan meterialitas lebih banyak dihadapi oleh

manajemen atau auditor di tataran badan usaha (penyaji statemen keuangan) daripada oleh
perekayasa atau penyusun standar. Auditor sangat berkepentingan dengan materialitas karena
kewajaran dalam laporan auditor dinyatakan dalam batas-batas dalam semua hal materialitas
(in all material respects).
Bobot Keterpautan dan Keterandalan
Keberpautan dan keterandalan keduanya harus melekat pada suatu informasi agar
informasi tersebut bermanfaat. Karakteristik ini juga menjadi kriteria yang keduanya harus
dipenuhi dalam pengakuan informasi untuk disajikan dalam laporan keuangan. Karena para
pemakai yang berbeda mempunyai kepentingan dan kebutuhan yang berbeda. Dalam kondisi
tertentu, bobot yang diletakkan pada tiap kerakteristik juga berbeda-beda. Sehingga di sini
terjadi saling korban antara keberpautan dan keterandalan.
Setelah batas atas (benefit > kos) dilewati dan informasi cukup material, ambang
keterandalan minimal harus ditetepkan dengan cukup wajar sehingga laporan keuangan tetep
berisi informasi yang cukup layak berpaut dengan keputusan para pemakai. Dengan
demikian, laporan keuangan tetap bermanfaat, dan keberpautan juga merupakan kriteria
pengakuan suatu pos untuk masuk sebagai elemen laporan keuangan.

Elemen-Elemen Laporan Keuangan
Elemen laporan keuangan adalah makna (meaning) atau konstruk (contruct) yang
sengaja ditentukan dalam perekayasaan akuntansi untuk menyimbolkan atau merepresentasi
realitas kegiatan usaha suatu badan usaha sehingga orang dapat membayangkan realitas
kegiatan tersebut secara keuangan tanpa harus menyaksikan sendiri secara fisis kegiatan
tersebut. Kegiatan badan usaha di sini meliputi kondisi fisis dan nonfisis serta proses
ekonomik badan usaha.
Bila laporan keuangan dianalogi dengan peta jalan, gambar jalan, lebar gambar jalan,
arah, nama jalan, dan jembatan yang tercetak dalam peta merupakan elemen-elemen

fenomena atau realitas fisis jalan dalam wilayah yang dipetakan. Agar orang yang melakukan
perjalanan tidak tersesat, maka informasi jalan dalam peta harus terandalkan, dan harus
berpaut dengan tujuan pembuatan peta. Peta pariwisata, peta demografi, atau peta geologi
jelas akan berbeda dengan peta jalan.
Elemen laporan keuangan merupakan bahan pembentuk informasi semantik yang
dikandung laporan keuangan. Informasi semantic terdiri atas elemen (objek), ukuran (size),
dan hubungan (relationship). Jadi elemen-elemen laporan keuangan harus ditentukan atas
dasar informasi semantik yang ingin disampaikan dalam pelaporan keuangan. Dengan kata
lain, tujuan pelaporan keuangan menentukan informasi semantik yang harus disajikan dan
akhirnya menentukan banyaknya elemen laporan keuangan.
Informasi semantik harus mencakupi :
1. Posisi keuangan
2. Kemampuan menghasilkan laba
3. Kinerja manajemen
4. Pertanggungjawaban manajemen
Elemen – elemen yang harus disajikan untuk mempresentasikan informasi semantik
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Aliran kas bersih masa dating ke badan usaha
2. Sumber daya ekonomik badan usaha
3. Klaim terhadap sumber ekonomik tersebut dari :
1. Entitas atau badan usaha lain
2. Pemilik
3. Perubahan elemen di atas akibat transaksi, kejadian, atau keadaan
Ada tiga jenis perubahan akibat transaksi, kejadian, atau keadaan, yaitu:
1. Perubahan yang tidak mempengaruhi ekuitas
2. Perubahan yang mempengaruhi ekuitas dan elemen lain
3. Perubahan yang hanya mempengaruhi ekuitas

Definisi Elemen

Definisi berkaitan dengan beberapa karakteristik utama elemen-elemen statement
keuangan. Definisi elemen merupakan penyaring atau criteria penting pertama untuk
menentukan isi statement keuangan. Untuk disajikan melalui statement keuangan, suatu objek
atau pos tidak cukup hanya memenuhi definisi tetapi harus mengakui criteria pengakuan dan
pengukuran. Berikut ini disajikan definisi elemen-elemen yang diidentifikasikan FASB.


Aset adalah manfaat ekonomik masa dating yang cukup pasti yang diperoleh atau
dikuasai oleh suatu entitas sebagai hasil transaksi atau kejadian masa lalu.



Kewajiban adalah pengorbanan masa manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu entitas untuk mentransfer asset atau
menyerahkan jasa kepada entitas lain di masa datang sebagai akibat dari transaksi atau
kejadian masa lalu.



Ekuitas atau aset bersih adalah hak residual terhadap asset suatu entitas yang masih
tersisa setelah mengurangi asset dengan kewajibannya.



Investasi oleh pemilik adalah kenaikan dalam ekuitas suatu badan usaha sebagai
akibat dari transfer ke entitas lain sesuatu yang bernilai untuk mendapatkan atau
menaikkan hak pemilikan atau ekuitas di dalamnya.



Distribusi ke pemilik adalah penurunan dalam ekuitas suatu badan usaha sebagai
akibat pentransferan asset, penyerahan jasa, dan penimbulan kewajiban oleh badan
usaha tersebut kepada pemilik.



Laba komprehensif adalah perubahan dalam ekuitas suatu badan usaha selama suatu
periode yang berasal dari transaksi dan kejadian lain dan kondisi dari sumber-sumber
nonpemilik.



Pendapatan adalah aliran msuk asset atau kenaikan asset lainnya pada suatu entitas
atau penyelesaian/pelunasan kewajiban entitas tersebut dari penyerahan atau produksi
barang, pemberian/penyerahan jasa, atau kegiatan lain yang membentuk operasi sentral
atau utama dan berlanjut dari entitas tersebut.



Biaya adalah aliran keluar asset atau penyerapan asset lainnya pada suatu entitas atau
penimbulan kewajiban entitas tersebut (atau kombinasi keduanya) dari penyerahan atau
produksi barang, pemberian/penyerahan jasa, atau kegiatan lain yang membentuk
operasi sentral atau utama dan berlanjut dari entitas tersebut.



Untung adalah kenaikan dalam ekuitas yang berasal dari transaksi peripheral (ikutan)
atau insidental (kala-kala) suatu entitas dan dari semua transaksi atau kejadian atau
keadaan lain yang mempengaruhi entitas tersebut kecuali kenaikan sebagai akibat dari
pendapatan atau investasi oleh pemilik.



Rugi adalah penurunan dalam ekuitas yang berasal dari transaksi peripheral atau
insidental suatu entitas dan dari semua transaksi atau kejadian atau keadaan lain yang
mempengaruhi entitas tersebut kecuali penurunan sebagai akibat dari biaya atau
distribusi ke pemilik.
Sepuluh elemen diatas disebut secara eksplisit oleh FASB dalam SFAC No. 2. Aliran

kas bersih terdiri atas tiga aliran berikut ini :


Aliran kas dari kegiatan operasi



Aliran kas dari kegiatan investasi



Aliran kas dari kegiatan pendanaan

Perubahan Posisi Keuangan
Asset, kewajiban, dan ekuitas sebagai elemen posisi keuangan dapat berubah akibat
tiga hal, yaitu :
1. Kejadian (events)
Adalah terjadinya suatu perkara atau urusan yang mempunyai konsekuensi terhadap
suatu entitas. Misalnya, suatu entitas memasukkan bahan baku ke mesin pengolah (contoh
kejadian internal) atau membeli bahan baku (contoh kejadian eksternal).
2. Keadaan (circumstances)
Adalah suasana atau seperangkat kondisi yang berkembang dari suatu kejadian atau
serangkaian kejadian yang berkulminasi pada situasi yang tak terduga atau sulit diduga.
Keadaan biasanya bersifat random, tak terantisipasi, dan biasanya bersifat darurat atau
istimewa.
3. Transaksi (transaction)
Adalah salah satu bentuk kejadian eksternal yang melibatkan transfer sesuatu yang
bernilai (manfaat ekonomik masa datang) antara dua entitas atau lebih. Untuk dapat disebut
sebagai transaksi, suatu kejadian harus melibatkan pihak luar.
Bila dilihat dari elemen ekuitas, perubahan-perubahan posisi keuangan akibat tiga hal
tersebut dapat dikategorikan menjadi :

1. Semua perubahan dalam asset dan kewajiban yang tidak dibarengi dengan perubahan
dalam ekuitas.
2. Semua perubahan dalam asset atau kewajiban yang dibarengi dengan perubahan dalam
ekuitas.
3. Perubahan dalam ekuitas yang tidak melibatkan asset atau kewajiban.
Jadi, secara konseptual, statement laba rugi dan statement perubahan ekuitas
sebenarnya merupakan lampiran dari neraca sehingga seperangkat penuh statement keuangan
akan saling berkaitan.

Pengukuran dan Pengakuan
Elemen dan pos menjadi bahan penyusunan seperangkat penuh laporan keuangan.
Agar seperangkat penuh laporan keuangan memuat informasi semantik, suatu pos harus
diukur untuk menentukan besar-kecilnya (size). Agar secara teknis penyusunan laporan
keuangan dapat dilaksanakan dengan mudah, diperlukan sarana (berupa buku besar) untuk
mencatat hasil pengukuran. Oleh karena itu, pos-pos yang harus disajikan dalam laporan
keuangan menjadi basis untuk menamai akun-akun dalam buku besar. Perekayasaan
pelaporan harus menetapkan konsep-konsep pengukuran serta pengakuan sebagai pedoman
umum tersebut.

Pelaporan dan Statement Keuangan
Walaupun tujuannya sama, pelaporan keuangan harus dibedakan dengan laporan
keuangan. FASB menyatakan bahwa laporan keuangan adalah media utama atau ciri sentral
pelaporan keuangan. Laporan keuangan merupakan ciri sentral pelaporan dan oleh karena itu
menjadi batas lingkup pengakuan dan pengukuran. Penjelasan atau catatan atas statement
keuangan menjadi bagian integral dari statement keuangan dasar.
Pelaporan keuangan mencakupi pula penyediaan informasi yang manajemen ingin
menyampaikan selain melalui laporan keuangan baik lantaran informasi tersebut wajib
diungkapkan untuk memenuhi undang-undang, peraturan pemerintah, atau kebiasaan lantaran
manajemen menganggap bahwa informasi tersebut bermanfaat bagi pihak luar dan
berkehendak untuk mengungkapkannya secara sukarela. Pelaporan keuangan meliputi
penyampaian informasi yang wajib secara luas (mandatory)ndan sukarela (voluntary).

Seperangkat Statement Keuangan
Tujuan pelaporan, karakteristik kualitatif, dan element statement keuangan akan
menentukan jenis statement apa saja yang membentuk seperangkat penuh statement
keuangan. Sekelompok elemen akan membentuk jenis statement keuangan tertentu. FASB
menyatakan bahwa seperangkat penuh statement keuangan untuk suatu periode harus
menunjukkan informasi sebagai berikut :
1. Posisi keuangan pada akhir periode tersebut
2. Laba untuk periode tersebut
3. Laba komprehensif untuk periode tersebut
4. Aliran kas selama periode tersebut
5. Investasi oleh dan distribusi ke pemilik selama periode tersebut
Informasi di atas tidak lain adalah informasi semantik yang termuat dalam tujuan
pelaporan 2 dan 3. Perbedaannya adalah bahwa informasi di atas dikaitkan secara spesifik
dengan seperangkat statemen keuangan sebagai satu kesatuan penuh (lengkap). Tiap
informasi tersebut harus dituangkan dalam satu jenis statemen keuangan (individual financial
statetment). Gambar di bawah ini menunjukkan jenis statemen dan informasi semantik yang
dikandungnya.

Jenis Statemen keuangan dan Informasi Yang Dikandung
Informasi Semantik

Jenis Statemen Keuangan

Posisi Keuangan

Statemen Posisi Keuangan (Neraca)

Laba Periode

Statemen Laba-Rugi

Laba Komprehensif

Statemen Laba/Penghasilan Komprehensif

Aliran Kas Periode

Statemen Aliran Kas

Investasi
pemilik

oleh

dan

distribusi

ke

Statemen Perubahan Ekuitas atau Laba
Ditahan

Pengukuran
Pengukuran (measurement) adalah penentuan besarnya unit pengukur (jumlah rupiah)
yang akan diletakkan pada suatu objek (elemen atau pos) yang terlibat dalam suatu transaksi,
kejadian, atau keandalan untuk merepresentasi makna atau atribut (attribute) objek tersebut.
Atribut adalah sesuatu yang melekat pada suatu objek yang menggambarkan sifat atau ciri
yang dikandung objek tersebut. Atribut pengukuran (measurement attributes) suatu elemen
/pos adalah dasar pengukuran (jumlah rupiah) yang harus diletakkan pada suatu eleman/pos
untuk merepresentasi secara tepat atribut yang ingin diungkapkan darielemen/pos tersebut
dalam pelaporan keuangan.
FSAB mengidentifikasi atribut pengukuran yang sekarang diterapkan dan masih dapat
dilanjutkan penggunaannya yaitu (SFAC No. 5, prg. 67):
1. Kos historis atau perolehan kas historis (historical cost atau proceeds)
2. Kos sekarang (current cost)
3. Nilai pasar sekarang (current market value)
4. Nilai terealisasi/pelunasan neto (net realizable/settlement value)
5. Nilai sekarang atau diskunan aliran kas masa datang (present or discounted value of
future cash flows)
Sebagai landasan konseptual bagi penyusun standar, atribut pengukuran di atas lebih
dimaksudkan sebagai contoh daripada sebagai pembatasan. Secara teoritis masih terdapat
banyak atribut pengukuran. Gambar di bawah mendiskripsi atribut yang dikandung suatu pos
serta atribut pengukuran yang berpaut sebagaimana dideskripsi dan dicontohkan oleh FSAB.

Atribut Pos dan Atribut Pengukuran Yang Berpaut
Contoh Pos
Gedung,

Atribut Pengukuran

Sisa potensi jasa

Biaya historis

mesin,

perlengkapan
Kewajiban

Atribut yang Direpresentasi

kepada

Harga barang atau jasa

pelanggan

yang disepakati

Beberapa sediaan

Pengeluaran

Perolehan kas historis
untuk

memperoleh barang yang

Biaya sekarang

sama
Jumlah
Surat-surat berharga

Utang usaha

dalam

Nilai terealisasi

rupiah

yang

bawaan

Nilai pelunasan
(carrying

value) yang harus diterima

Nilai sekarang aliran kas

bila dilunasi saat ini

masuk masa datang

Nilai
Utang Obligasi

yang

akhirnya dibayar
Nilai

obligasi

rupiah

Nilai pasar sekarang

akhirnya tertagih
Jumlah

Investasi

yang

diperoleh bila terjual
Jumlah

Piutang usaha

rupiah

bawaan

(carrying

value) yang harus dibayar

Nilai sekarang aliran kas

bila dilunasi saat ini.

keluar masa datang.

Deskripsi atribut pengukuran di atas lebih bersifat instruksional (mendidik) bagi
penyusun standar, penyaji, dan pemakai statemen keuangan untuk memahami adanya atribut
yang berbeda antarpos daripada bersifat sebagai pedoman. Pengukuran suatu pos untuk
dilaporkan pada tanggal statemen keuangan sering disebut sebagai penilaian (valuation)
sedangkan istilah pengukuran sering dibatasi penggunaannya untuk menentukan jumlah
rupiah pada saat pemerolehan atau terjadinya suatu objek. Pengukuran atau penilaian
merupakan bagian penting dalam rerangka konseptual karena keterukuran (measurability)
merupakan salah satu kriteria untuk menyajikan suatu pos melalui statemen keuangan.

Pengakuan
Secara konseptual, pengakuan adalah penyajian suatu informasi melalui statemen
keuangan sebagai ciri sentral pelaporan keuangan. Secara teknis, pengakuan berarti
pencatatan secara resmi (penjurnalan) suatu kuantitas (jumlah rupiah) hasil pengukuran ke
dalam sistem akuntansi sehingga jumlah rupiah terrsebut akan mempengaruhi suatu pos dan
terefleksi dalam statemen keuangan.

FSAB menetapkan empat kriteria pengakuan fundamental (konseptual) sebagai
berikut (SFAC No. 5, prg. 63):
-

Definisi (definitions), suatu pos harus memenuhi definisi elemen statemen
keuangan.

-

Keterukuran (measurability), suatu pos harus mempunyai atribut yang
berpaut dengan keputusan dan dapat diukur dengan tingkat keterandalan yang
cukup.

-

Keberpautan (relevance), informasi yang dikandung suatu pos mempunyai
daya untuk membuat perbedaan dalam keputusan pemakai.

-

Keterandalan (reliability), informasi yang dikandung suatu pos secara tepat
menyimbolkan fenomena, teruji (terverifikasi), dan netral.

Keempat kriteria di atas harus dipertimbangkan dalam konteks karakteristik kualitatif
informasi yaitu memenuhi batas atas (benefit > biaya) dan batas bawah (materialitas). Bila
keempat kriteria dipenuhi, masalah berikutnya adalah kapan keempat kriteria di atas dipenuhi
atau kapan suatu hasil pengukuran dapat diakui. Oleh karena itu, diperlukan lagi kriteria saat
pengakuan (timing of recognition).

Nilai Sekarang dalam Pengukuran Akuntansi
Rerangka pengukuran dan pengakuan sebagaimana dimuat dalam SFAC No. 5 telah
dikembangkan dan dilengkapi dengan SFAC No. 7 tentang penggunaan informasi aliran kas
dan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi. Sebagai komponen rerangka konseptual,
SFAC no. 7 memberi pedoman yang berisi:

1. Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi.
2. Prinsip-prinsip umum (general Principles) yang melandasi penggunaan nilai
sekarang, terutama bila jumlah rupiah (amounts) aliran kas masa datang, saat
terjadinya (timing), atau keduanya tidak pasti.

Pengertian Dasar
Untuk memahami konsep-konsep dalam komponen rerangka konseptual ini, perlu dipahami
beberapa pengertian dasar yang terkandung dalam rerangka ini.

Saat Pengukuran
Ditinjau dari saat pengukuran, terdapat dua saat penting yaitu pengukuran pada saat
pengakuan mula-mula (at initial recognition) dan pada berbagai saat atau periode sesudah
pengakuan mula-mula yang disebut dengan pengukuran baru mulai (fresh start).
Pengukuran saat pengakuan mula-mula adalah pengukuran pada saat suatu elemen atau pos
timbul dan dicatat pertama kali akibat transaksi, kejadian, atau keadaan. Penentuan dan
pencatatan jumlah rupiah yang melekat pada suatu mesin pada saat diperoleh merupakan
contoh pengukuran ini. Sedangkan pengukuran baru mulai adalah pengukuran dalam periodeperiode setelah pengakuan mula-mula untuk menenetukan jumlah rupiah bawaan (carying
value) baru yang tidak berkaitan dengan jumlah-jumlah rupiah sebelumnya (misalnya kos
historis atau atribut pengukuran lain yang telah tercatat dalam sistem akuntansi).
Penentuan Aliran Kas Masa Datang
Pengukuran atribut suatu pos atau elemen saat ini dapat didasarkan atas aliran kas masa
datang. Aliran kas masa datang umumnya harus diestimasi. Ada beberapa dasar penentuan
jumlah rupiah kas masa datang.
Taksiran atau Estimat Terbaik (Best Estimate) adalah jumlah rupiah tunggal yang paling
boleh jadi (most-likely) dalam suatu kisar/rentang beberapa jumlah rupiah estimasian yang
mungkin terjadi. Dalam statistika, jumlah rupiah ini merupakan modus suatu distribusi
variabel.
Aliran Kas Estimasian (Estimated Cash Flow) adalah jumlah rupiah tunggal yang akan
diterima atau dibayar di masa datang. Penerimaan atau pembayaran dalam aliran kas
estimasian dapat terdiri atas beberapa jumlah rupiah tunggal.
Aliran Kas Harapan (expected Cash Flow) adalah gunggung (sum) beberapa jumlah rupiah
berbobot probabilitas (probability-weighted amounts) dalam suatu kisar rupiah estimasian
yang mungkin terjadi. Dalam statistika, angka ini merupakan mean atau rata-rata berbobot.
Nilai Sekarang Aliran Kas Masa Datang
Menggunakan nilai sekarang dan aliran kas masa datang dalam pengukuran memerlukan
pemahaman tentang dua pengertian dasar berikut.
Nilai sekarang (Present value) adalah pengukur sekarang aliran kas masuk atau keluar masa
datang. Pengukur ini adalah aliran kas masa datang didiskun pada tingkat bunga tertentu
selama beberapa periode antara sekarang dan saat tibanya aliran kas estimasian.
Nilai Sekarang Harapan (Expected Present Value) adalah gunggung beberapa nilai
sekarang berbobot probabilitas suatu kisar aliran kas estimasian yang mungkin terjadi, yang
semuanya didiskun dengan tingkat bunga yang sama.
Nilai wajar (Fair Value) adalah jumlah rupiah yang disepakati untuk suatu objek dalam
suatu transaksi antara pihak-pihak yang berkehendak bebas tanpa tekanan atau keterpaksaan.
Niali wajar suatu aset (atau kewajiban) dapat dibeli (atau terjadi/disepakati) atau dijual (atau

dilunasi) dalam suatu transaksi antara pihak berkehendak, yaitu bukan dari penjualan paksaan
atau likuidasi.

Tujuan Nilai Sekarang dalam Pengukuran
Tujuan penggunaan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi adalah untuk
menangkap/merefleksi sedapat mungkin perbedaan ekonomik antara sehimpunan aliran kas
masa datang dan untuk mengestiamsi niali wajar. Nilai sekarang akan mampu membedakan
beberapa aliran kas yang tampak sama besarnya.
Pengukuran atas dasar nilai sekarang aliran kas masa datang akan menghasilkan informasi
yang lebih berpaut daripada pengukuran yang didasarkan atas aliran kas yang tidak didiskon.
Nilai sekarang dapat menangkap perbedaan ekonomik antaraliran kas kalau unsur-unsur
berikut dipertimbangkan. (SFAC No. 7prg. 23):
1. Suatu estimate aliran kas masa datang atau, dalam beberapa kasus yang kompleks,
serangkaian aliran kas masa datang yang tiba pada saat berbeda.
2. Harapan-harapan tentang variasi yang mungkin terjadi dalam jumlah dan saat tibanya
aliran kas tersebut.
3. Nilai waktu yang ditunjukkan dengan oleh bunga bebas resiko.
4. Harga atau nilai penanggungan risiko atau ketidakpastian yang melekat pada aset atau
kewajiban.
5. Faktor-faktor lain termasuk likuiditas dan ketaksempurnaan pasar.

Pengukuran akuntansi umumnya didasarkan pada jumlah rupiah bentukan pasar yang
teramati (observablemarketplace-determined amount) seperti kas yang diterima/dibayardalam
jual-beli suatu aset. Jumlah rupiah ini lebih terandalkan dan lebih efisien ditentukan daripada
jumlah rupiah pengukuran yang menggunakan aliran kas masa datang. Tujuan nilai sekarang
dalam pengukuran pada saat pengkuan mula-mula dan saat baru mulai adalah untuk
mengestimasikan nilai wajar.
Nilai wajar menjadi sasaran pengukuran dengan nilai sekarang karena pengukuran nilai wajar
menangkap secara penuh kelima unsur diatas. FASB juga membahas pengukuran alternatif
yaitu : Pengukuran nilai terpakai (value-in-use) atau specifik-entitas (entity-specific),
penyelesaian efektif (effective-settlement), dan akumulasi kos(cost-accumulation) atau akrual
kos (cost-accrual). FASB berargumen bahwa ketiga pengukuran tersebut tidak cukup lengkap
atau penuh menangkap kelima unsur diatas.
Jadi, bila tidak terdapat harga pasar, nilai sekarang dapat digunakan untuk menetukan nilai
wajar.
Prinsip-Prinsip Umum
Prinsip-prinsip umum yang menjadi pedoman penerapan nilai sekarang dalam mengukur aset
dan kewajiban adalah :

1. Sedapat-dapatnya, aliran kas estimasian dan tingkat bunga harus merefleksi asumsiasumsi tentang kejadian dan ketidakpastian masa datang yang dipertimbangkan dalam
memutuskan apakah memperoleh atau tidak suatu transaksi tunai yang bebas.
2. Tingkat bunga yang digunakan untuk mendiskon aliran kas harus merefleksi asumsiasumsi yang konsisten dengan asumsi-asumi yang melekat pada aliran kas estimasian
agar pengaruh asumsi tidak berganda atau malahan terabaikan.
3. Aliran kas estimasian dan tingkat bunga harus bebas dari bias dan faktor yang tidak
berkaitan dengan aset atau kewajiban yang bersangkutan.
4. Aliran kas estimasian dan tingkat bunga harus merefleksi kisar munculan yang
mungkin terjadi (possible outcomes) daripada jumlah rupiah tunggal paling boleh
jadi, minimum, atau maksimum.
Manfaat dan Keterbatasan Model
Sebagai suatu model, rerangka konseptual (RK) versi FASB di ata mempunyai manfaat
sebagai sumber acuan untuk mengembangkan hal yang sama untuk lingkungan(negara) yang
lain. Karena konteks lingkungan yang berbeda, RK yang dikembangkan untuk tiap negara
dapat sama atau berbeda bahkan harus berbeda dengan model yang dijadikan acuan.
Transfer Teknologi
Bila akuntansi dipandang sebagai teknologi, Rerangka Konseptual (termasuk standar yang
diturunkannya) dapat dipandang sebagai produk teknologi. Dalam hal inilah harus dibedakan
antara transfer teknologi dan transfer produk.
Dengan memahami teknologi penalaran dan perekayasaaan akuntansi, orang akan dapat
menciptakan produk (raktikum akuntansi) yang paling sesuai dengan lingkungan
penerapannya. Dengan kata lain , proses penalaran di balik RK FASB dapat dijadikan basis
untk mengembangkan RK dengan memasukkan karakteristik lingkungan (parameter)
diterapkannya model tersebut. Pengembangan praktik mestinyatidak sekedar mentransfer
produk. Dalam beberapa hal transfer produk sering terpaksa harus dilakukan tetapi dalam
banyak hal hasilnya tidak begitu menggembirakan.
Pengaruh RK FASB
Dalam kenyataanya, RK FASB mempunyai pengaruh (dampak) yang besar dalam memicu
dam melandasi pengembangan RK di beberapa negara lain pada periode pengembangan atau
pada periode setelah RK FASB selesai. Berbagai organisasi profesi dan badan pemerintah
yang berusaha untuk mengembangkan rerangka untuk negaranya masing-masing. Organisasi
profesi tersebut adalah :

1.
2.
3.
4.
5.

a.
b.
c.
d.
e.

Australian Accounting Research foundation (AARF)
International Accounting Standards Committee (IASC)
Canadian Institute of Chartered Accountants (CICA)
Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW)
(UK) Accounting Standards board (UK ASB)

Dokumen Kebijakan

RK merupakan dokumen kebijakan atau politis. Oleh karena itu, bukan merupakan teori
ilmiah. Sebagai dokumen kebijakan, proses penyusunannya melibatkan perdebatan atau
argumen yang keputusan akhirnya dalam beberapa kasus melibatkan pemungutan suara. RK
FASB penuh dengan muatan nilai-nilai yang dianut dalm konteks lingkungan Amerika
(value-laden). Validitas RK harus diuji atas dasar keefektifannya sebagai alat dan bukan atas
dasar kriteriakebenaran atau dasar kriteria kebenaran atau validitas ilmiah.
Karena bersifat deduktif-normatif, proses perekayasaan dan penalaran itu sendiri bebas nilai
adalah konteks lingkungan dan parameter yang dipertimbangkan dalam proses penalaran. Di
Indonesia sudah berkembang organisasi-organisasi syariah yang bergerak dalam bidang
bisnis dan nonbisnis. Proses penalaran dalam penyusunan RK FASB dapat dijadikan model
untuk mengembangkan RK untuk organisasi tersebut tentu saja dengan memasukkan
parameter-parameter yang berpaut/relevan.

Judul: Teori Akuntansi

Oleh: Aries Maret


Ikuti kami