Teori Akuntansi - Pertemuan 15 Tren Akuntansi

Oleh Fika Safitri

45 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Teori Akuntansi - Pertemuan 15 Tren Akuntansi

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

Pertemuan 15:
Tren Akuntansi

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.

Merupakan arah yang kemungkinan akan dituju oleh ilmu akuntansi.

2.

Mengetahui topik-topik baru yang dalam perkembangan terakhir masih
terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi.

B. Uraian Materi
Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi
Perkemmbangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan
pengembangan bidng akuntansi yang menjadi tren diantaranya adalah :
1. Akuntansi Internasional atau akuntansi Global;
2. Akuntansi Islam;
3. Akuntansi Sumber Daya Manusia;
4. Triple Entry accounting system;
5. Employee Reporting;
6. Value Added Reporting;
7. Akuntansi perilaku;
8. Multidiciplines Paradigm;
9. Akuntansi dan Pembangunan berkelanjutan;
10. Kegiatan Efficient MarketHypothesis (EMH)
11. Krisis akuntansi
Topik tiga pertama sudah disinggung di beberapa bab sebelumnya dan
dalam bab ini kita akan membahas poin 4 dan seterusnya

S1 Akuntansi (UNPAM)
1

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

1. Triple Entry System
Kalau dahulu kita mengenal single Entry, double Entry maka sekarang kita
mengenal triple entry. Dalam sistem ini transaksi dicatatdalam tiga
dimensi.Model ini adalah pegembangan dari double entry bookkeeping
system. Dalam model ini bukan saja transaksi yang mempengaruhi pos-pos
pada posisi aktiva dan pasivayang dilaporkan, tetapi juga force atau power
yang menyebabkanya sehingga laporan neraca misalnya menyajikan wealth =
capital = force. Triple entrymemiliki force account yang mencatat beberapa
faktor antara lain perubahan harga, perubahan jumlah atau perubahan
volumeterhadap arus hasil dan biaya. Misalnya jika harga suatu barang naik
maka akan dibuat perkiraan force. Demikian juga kalau terjadi perubahan
volume dan jumlah. Informasi yang dilakukan dalam melalui model ini
disebut force statement. Wealth statement maleporkan kekayaan perusahaan
(A-L) sedangkan capitalstatement melaporkan komposisi dan perubahan
modal dimana informasi laba rugi dimasukan di dalamnya. Sementara
itu,force statement memuat informasi perubahan kekayaan juga, tetapi yang
dipengaruhi oleh kenaikan atau penurunan laba saja. Force statement ini akan
didampingi oleh laporan variance analysis yang merinci komponen fixed dan
variabel.
Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi
kepada pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan
yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan. Triple entry
sistem ini juga menjelaskan marhin variance, volume variance, dan efficiency
variance. Ketiga metode ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga
mencatat aspek nilai daya beli yang dicatat sehingga pembaca mendapatkan
informasi tentang daya beli atau dampak inflasi terhadap perusahaan.
Dalam studies in accounting research yang ditulis Yuli Ijiri yang
disponsori AAA menyatakan bahwa kalau double entry itu berdimensi dua
maka triple entry ini berdimensi tiga jadi sebenarnya merupakan
penyempurnaan dari sistem double entry. Bagi yang berniat mendalami ini

S1 Akuntansi (UNPAM)
2

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

dapat dibaca studies in accounting research No 18 yang ditulis Yuli Ijiri
(1982).
2. Employee Reporting
Semakin besarnya kekuatan menawar seriakt pekerja di barat, khususnya
di Eropa menimbulkan fenomena baru dalam tuntutan akan laporan keuangan
yang dapat menggambarkan informasi yang dibutuhkan oleh kaum pekerja.
Pegawai selaku salah satu dari stakeholders juga berhak akan informasi
keuangan. Informasi keuangan seperti inilah yang disebut Employee
Reporting. Employee Reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang
memuat informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Employee
Reporting sangat berkembang di USA dan Eropa pada khususnya. Bahkan
telah diterapkan di beberapa negara seperti anggota Organization of Economic
Cooperationand Development (OECD) seperti USA, Canada, Prancis,
Denmark< Norwegia, Swedia, dan United Kingdom (Belkaoui, 1995).
Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya Employee
Reporting ini adalah (Purdy dalam Belkaoui, 1985):
a. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure;
b. Praktik dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan;
c. Munculnya perdebatan tentang demokratisasi perusahaan;
d. Perkembangn di negara lain akan perlunya informasi dimaksud.
Disamping tentunya semakin kuatnya organisasi pekerja di planet ini.
Keharusan perusahan memasukan informasi yang dibutuhkan karyawan dan
serikat pekerja telah diatur oleh berbagai negara, seperti di Jerman, 1972,
Prancis, 1979, Swedia, USA, dan Kanada.
Beberapa informasi penting yang diminta dilaporkan dalam Employee
Reporting ini adalah:
-

Jumlah pegawai;

-

Lokasi tempat kerja;

-

Umur karyawan;

-

Jam kerja;

-

Biaya tenaga kerja;

S1 Akuntansi (UNPAM)
3

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

-

Program pensiun;

-

Program jaminan sosial, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua;

-

Pelatihan dan pendidikan atau adanya career path;

-

Pengakuan terhadap serikat pekerja;

-

Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin;

-

Dan sebagainya.

Bagi karyawan hal ini sangat penting untuk mengetahui hak-haknya,
iklim atau atmosfir yang terjadi dalam perusahaan, jaminan sosial yang dapat
dinikmatinya, pengembangan karir, dan sebagainya. Sedangkan bagi pemerintah
hal ini dapat digunakan untuk mengetahui sampai dimana perusahaan
menyesuaikan diri dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Bagi investor,
informasi ini penting untuk mengetahui resiko yang mungkin timbul dalam
perusahaan yang disebabkan kemungkinan tindakan karyawan.
Informasi pada karyawan ini bisa disampaikan melalui laporan keuangan,
majalah, media lain, newsletter maupun dalam bentuk surat, pidato, konferensi
pers, upacara, atau memorandum internal lainnya.
Dari suatu survei laporan keuangan kepada karyawan sejak tahun 1919
sampai 1979 diketahui beberapa alasan pelaporan sebagi berikut (Lewis,et. al
1984).
a. Menyampaikan perubahan.
b. Menyajikan propaganda manajemen.
c. Mempromosikan

kepentingan

memahami

masalah

dan

prestasi

perusahaan.
d. Menyampaikan keputusan manajemen.
e. Menyampaikan hubungan antara karyawan, manajemen, dan pemegang
saham.
f. Menjelaskan tujuan perusahaan.
g. Mendorong partisipasi karyawan yang lebih besar.
h. Merespon tekanan legislatif atau serikat pekerja.
i. Membangun image perusahaan

S1 Akuntansi (UNPAM)
4

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

j. Memenuhi ketentuan UU tentang pengungkapan informasi yang
dibutuhkan karyawan.
k. Merespons kekhawatiran manajemen terhadap berbagai tuntutan pegawai,
maupun persaingan.
l. Menunjukan perhatian besar terhadap karyawan.

3. Value Added Reporting
Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai barkaitan
juga dengan Human Resources Accounting dan Employee Reporting terutama
dalam hal informasi yang disajikannya. Value Added Reporting ini masih belum
diwajibkan sebagai laporan utama di berbagai negara, jadi masih dalam tahap
wacana akademik. Value Added Reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, Neraca, Laba Rugi, dan
Arus Kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:
a. Total produktivitas dari perusahaan;
b. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikut dalam proses
manajemen yaitu: pemegang saham, kreditor, pegawai, dan pemarintah
(Balkaoui, 1995).

VAR berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan
informasi tentang kompensasi yang diberikan kepada pegawai yang dapat
digunakan baik oleh pegawai maupun mereka yang berkepentingan lainnya
terhadap informasi kegiatan SDM dan prestasi perusahaan.
Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba
maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah.
Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang
saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value
added adalah kenaikan nilai kekayaan yang di generate atau dihasilkan dengan
penggunaan aset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayaan perusahaan oleh
seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan
pemerintah. Sebenarnya konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu

S1 Akuntansi (UNPAM)
5

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

ekonomi terutama dalam perhitungan Pendapatan Nasional. Namun, perlu diingat
bahwa Value added tidak sama dengan laba. Laba menunjukan pendapatan bagi
pemilik saham sedangkan pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi
seluruh stakeholders. Laporan Pertambahan Nilai jangan lupa disamakan dengan
Pajak Pertambahan Nilai.
Kesadaran akan pentingnya VAR ini sejalan dengan peralihan penekanan
tujuan manajemen dari pertama-tama memaksimalkan profit kepada pemilik
modal, ke memaksimalkan nilai tambah kepada stakeholders. Masyarakat yang
semakin menyadari pentingnya keadilan sosial juga merupakan salah satu
penyebab munculnya Var ini. Karena dianggap lebih adil dan lebih demokratis
jika diberikan nilai tambah. Sehingga hubungan antara masing-masing pihak yang
bekerja sama dalam satu tim lebih harmonis karena masing-masing nilai tambah
yang diberikannya diukur. Indikator atau informasi ini tentu akan bisa digunakan
untuk melakukan pembagian hasil yang lebih adil. Dalam konsep ekonomi islam
tampaknya konsep VAR ini lebih sesuai karena konsep bisnis dalam islam
didasarkan pada kerjasama (musyarakah atau mudharabah) yang adil, transparan,
dan saling menguntungkan bukan salah satu mengeksploitasi yang lain.
Sebenarnya di US dan Eropa konsep value added (VA) ini pun sudah dikenal
khususnya dalam perpajakan. Konsep VA ini semakin populer pada tahun 1970
sejak keluarnya Corporate Report yang merupakan hasil kajian Accounting
standards Steering Comitte (sekarang namanya Accounting Standard Committe)
pada bulan Agustus 1977. Pada survei yang dilakukan untuk nilai ini, pada tahun
1980 lebih 20% perusahaan terbesar di UK sudah mebuat laporan Pertambahan
Nilai. Perkembangan ini didorong oleh desakan dari serikat buruh yang dikenal
sangat kuat di Eropa. Bahkan sekarang dikenal VAIPS atau Value Added incentive
payment Scheme dimana dasar pemberian instensif didasarkan pada pertambahan
nilai.

Isi Laporan Pertambahan Nilai
Sebenarnya Lporan Pertambahan Nilai ini adalah modifikasi dari laporan
Laba Rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan laporan

S1 Akuntansi (UNPAM)
6

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

laba rugi ini. Langkah yang diikuti dalam menyusun laporan pertambahan nilai
dari laporan laba rugi adalah (Belkaoui, 1995):
Langkah 1:
Disini dihitung Laba Ditahan yang didapat dari Hasil Penjualan dikurangi
Biaya, Pajak, Dividen atau:
Penerimaan Penjualan
Rp....................
Dikurangi:
Pemelian Barang dan Jasa

Rp..........................

Penyusunan

Rp..........................

Biaya Karyawan
Biaya Bunga
Dividen
Pajak

Rp..........................
Rp..........................
Rp..........................
Rp..........................

Total Pengurangan
Rp....................
Laba Ditahan
Rp....................
Langkah 2:
Laporan Pertambahan Nilai dapat disusun dari data diatas dengan format
sebagai berikut:
Penerimaan Penjualan

Rp.............................

Dikurangi: Pembelian Barang dan Jasa

Rp.............................

Pertambahan nilai kotor

Rp.............................

Pertambahan nilai ini dirinci sbb:
Penyusutan
Biaya Karyawan
Biaya bunga
Dividen
Pajak

Rp.............................
Rp.............................
Rp.............................
Rp.............................
Rp.............................

S1 Akuntansi (UNPAM)
7

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

Total Pertambahan Nilai
Rp.............................

Berikut ini contoh Laporan Pertambahan Nilai yang di ambil dari data laporan
Laba Rugi.
PT. Sipangko Jaya
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun yang berakhir pada 2005
Penjualan
Rp. 10.000.000
Dikurangi:
Bahan yang digunakan
Upah Tenaga Kerja

Rp. 1.000.000
Rp. 2.000.000

Biaya Jasa-Jasa

Rp. 3.000.000

Biaya Bunga

Rp.

600.000

Penyusutan

Rp.

400.000

Total Biaya

Rp.

7.000.000
Laba Sebelum pajak

Rp.

3.000.000
Biaya Pajak 40%
Rp.

1.200.000

Laba Setelah Pajak

Rp.

1.800.000
Dividen
Rp.

500.000

Laba Ditahan

Rp.

1.300.000

S1 Akuntansi (UNPAM)
8

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

PT. Sipangko Jaya
Laporan Pertambahan Nilai
Untuk Tahun yang berakhir pada 2005

Penjualan

Rp.

10.000.000
Dikurangi:
Bahan yang digunakan

Rp. 1.000.000

Biaya Jasa-Jasa

Rp. 3.000.000

Penyusutan

Rp.

400.000

Total Biaya Barang dan Jasa
Rp.

4.400.000

Pertambahan Nilai yang bisa Ditahan
atau didistribusikan

Rp.

5.600.000
jumlah ini dibagikan kepada:
Upah Tenaga Kerja

Rp. 2.000.000

Biaya bunga

Rp.

600.000

Biaya pajak 40%

Rp. 1.200.000

Dividen

Rp.

500.000

Laba Ditahan

Rp. 1.300.000

Total

Rp. 5.600.000

Beberapa keguanaa dari Value AddedReporting ini dapat disebut sebagai
berikut.
a. Konsep ini dinilai objektif sehingga di anggap sebagai informasi yang
absah sebagai dasar perhitungan reward.
b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk
mengetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi dan
ekonomi dengan mengungkapkan jumlah kekayaan dalam pengukuran
pendapatan nasional.

S1 Akuntansi (UNPAM)
9

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan
pertambhan nilai kotor:
1) Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan
bonus produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada
perubahan modal.
2) Dengan mengurangkan biaya penyusutan akan menghindari double
counting yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua
perusahaan.
3) Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba
untuk semua. Ini akan mendorong spiritteam atau sense of belonging
pada perusahaan. Masing masing pihak mengetahui kontribusinya
dalam proses peningkatan kekayaan perusahaan.
4) Mestinya remunerasi karyawan tidak hanya berasal dari gaji, tetapi
juga kenaikan kekayaan, ini konsep baru dalam dunia bisnis modern.
Informasi untuk kepentingan ini di-supply oleh Laporan Pertambahan
Nilai.
5) Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi
yang dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.
6) Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendapatan nasional.
7) Daat menilai proporsi masing-masing terhadap nilai tambah sehingga
dapat mendorong keadilan.
Namun, disamping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan
Laporan Pertambhan Nilai ini, yaitu sebagai berikut.
a. Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai
itu merasa senang bekerja sama dengan yang lain. Tidak jarang justru ada
konflik sehingga laporan ini justru bisa menimbulkan atau mempertajam
konflik.
b. Ada kemungkinan dengan adanya laporan pertambahan nilai dapat
menimbulkan kepalsuan pendapat seperti:
1) Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;

S1 Akuntansi (UNPAM)
10

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

2) Kenaikan pertambahan nilai per unit dianggap otomatis bermanfaat
bagi pemegang saham;
3) Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas
perubahan pertambahan nilai;
4) Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja per unit dianggap
merupakan prestasi ekonomi yang baik;
5) Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak
mendapatkan gaji yang tinggi.

Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan
Dilaksanakannya “Earth Summit” mengingatkan kita pada isu yang sama
yang diajukan oleh Club of Rome tahun 1975 yag lalu yaitu konsep Limit to
Growth atau sering juga disebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini
menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai
faktor yang harus direm perkembangannya seperti perkembangan penduduk,
investasi, konsumsi sumber alam, industri, ketidak adilan distribusi
pendapatan, pertanian, kehutanan. Club ini ingin menyelamatkan masa depan
manusia dengan mengungatkan kita perlunya keharmonisan pengelolaan
ekosistem yang bersifat global dan dependen. Subbab ini ingin mencoba
menjelaskan perlunya alat ukur untuk memudahkan para engambil keputusan
dalam memanaje masalah pembangunan, lingkungan, dan aspek sosial
ekonominya.
Akuntansi sebagai Alat ukur
Sebenarnya akuntansi diam-dia mempunyai perangkaat penting dalam
mengamankan pembanguna bumi yang aman. Namun, para teknokrat
barangkali belum tahu dan mungkin belum terfikir untuk memanfaatkannya.
Bekas presiden Bank dunia A.W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena
ketiadaan alat yang dapat mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi
kejadian, dadmpak industri (pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan
kesukaran kita mengawasi dampak itu.

S1 Akuntansi (UNPAM)
11

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

Keluhan beliau ini sebenarnya dapat diatasi oleh disiplin akuntansi sebagai
satu instrument measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal tahun
1390-an sebenarnya sudah melakukan pengkajian yang intensif tentang
bagaimana mencatat, mengukur national income, social accounting, dan
dampak sosial yang di akibatkan oleh industri, perusahaan, atau kwgiatan
pembangunan. Ini tidak berbeda dengan apa yang dibicarakan dalam KTT
bumi tersebut. Dalam pengertian lingkungan termasuk didalamnya manusia,
flora, fauna, air, lahan, dan segala isinya.
Komitmen negara maju terhadap keselamatan lingkungan cukup besar.
Hal ini dibuktikan dengan ketatnya peraturan kongres, lembaga pemerintah
seperti Security Exchange Commision (SEC), Organisasi Profesi (seperti
AICPA), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terhadap penyajian laporan
keuangan. Badan ini biasanya mewajibkan agar setiap lembaga termasuk
perusahaan untuk membuaat laporan tentang dampak positif (social benefit)
dan dampak negatif (social cost) dari setiap kegiatan yang dilakukannya. SEC
misalnya meminta laporan tentang polusi, diskriminasi, pengaruh sosial
ekonomi perusahaan pada pendapatan nasional, dan lain-lain.
Kerusakan lingkungan yang terjadi disuatu negara memengaruhi dunia lain
sehingga kerusakan lingkungan yang berlangsung di suatu negara tanpa dapat
dibatasi negara lain. Negara berkembang ber[acu mengejar ketertinggalan
ekonominya sehingga kadangkala kerusakan lingkunganpun terpaksa ditelan
untuk mengejar ketertinggalan dan kemiskinan yang juga harus dipecahkan.
Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan.
Keputusan yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang
valid, faktual, dan relevan. Keadaan yang faktual, valid, dan relevan dapat
disupply oleh akuntansi. Dalam akuntansi disiplin yang mensupply ini
disebutenvironmental accounting. Disiplin ini secara praktis, teori-teorinya
belum sepenuhnya disepakati oleh sebagian besar para ahli akuntansi dan
organisasi profesi. Bidang ini sampai saat ini masih terus menjadi ladang
penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang sudah diwajibkan dan ada
yang masih dalam taraf dianjurkan penyajiannya dalam laporan keuangan

S1 Akuntansi (UNPAM)
12

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

Perlunya Akuntansi Lingkungan
keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas. Konsep
yang menganggap bahwa perusahaan sebagai wadah hukum yang melakukan
eksploitasi dalam suatu wilayah ffdan negara dan mendapatkan keuntungan
dari kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik,
yang melindungi alamya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan
rasional. Sebuah industri sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya faktor
produksi alam, tenaga kerja, makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah
etis seandainya perusahaan itu juga yang tergantung dengan makhluk lain
sebagai penduduk bumi ikut bertanggung jawab melindungi bumi dari setiap
kerusakan lingkungan yang kalau tidak dijaga akhirnya akan dia merusak dia
sendiri sehingga tidak dapat dilakukan pembangunan berkelanjutan atau
pembangunan berwawasan lingkungan.
Kesulitan pengukuran
Kelemahan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para
ahli dalam menentukan kriteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan
lingkungan, nilai social cost maupun social benefit-nya tidak semudah yang
dibayangkan. Contohnya kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain
sebagainya menuinjukan betapa sukarnya melakukan penetapan nilai
kerusakan dan perbaikan lingkungan yang sama-sama diterima dan sesuai pula
dengan prinsip akuntansi yang sudah baku.
Namun, sebenarnya banyak lembaga yang sudah memberikan konsep
pengukuran dan penyajian masalah ini antara lain Institute of Management
Accountant, the American Accounting Association, dan beberapa para ahli
seperti Flamholtz, Eipstein, Mcdonouch, Nikolai, Bazley, Brummet. Mereka
ini telah barhasil mengidentifikasi beberapa kinerja perusahaan yang disorot
untuk menilai keterlibatan perusahaan dalam masalah lingkungan ini seperti:
keterlibatan sosial, pengembangan sumber daya manusia, penyehatan
lingkungan, kualitas produk dan jasa, kesehatan, kontribusi sosial, ilmu
pengetahuan, kualitas air, polusi, saura yang menggangu masyarakat, bau
tidak sedap, dan lain-lain. Lihat bab Akuntansi Sosial Ekonomi.

S1 Akuntansi (UNPAM)
13

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

Penyajian
Dari berbagai konsep yang diajukan lembaga dan para ahli ini ada yang
menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan
(footnote disclosure, narrative disclosure), membuat pos tersendiri, laporan
khusus tentang kerusakan lingkungan,
environmental

Exchange

Report,

Social

Social Responsibility Report,
Income

Statement

Report,

Comprehensive Social Benefite Cost Model, dan Multidimensional Income
Statement, SEC biasanya mengharuskan perusahaan yang listed di bursa New
york Stock Exchange untuk melsporkan kal-hal yang bertalian dengan
masalah lingkungan, dan social cost dan benefit lainnya.
Semua negara tampaknya mempunyai kemampuan politik untuk ikut
bertanggung jawab dalam keamanan bumi yang kita diami ini. Model ini
sudah cukup menjadi pegangan dalam mengelolah lingkungan. Untuk
mengelolah lingkungan diperlukan informasi yang sebenarnya dapat di supply
oleh Environmental accounting yang masih terus dikembangkan oleh profesi
akuntan. Indonesia yang uga bertanggung jawab terhadap buminya sudah
selayaknya memulai mempelopori penyusunan prinsip akuntansi lingkungan.
Dalam hal-hal tertentu akuntansi lingkungan sejalan dengan socio economis
accounting. Dari kesepakatan global initiative pada tahun 2013 perusahaan
haus membuat laporan tentang Triple P (Profit, People, Planet).

C. Latihan Soal/Tugas
1. Bagaimana kontribusi akuntansi terhadap pembangunan

ekonomi

berkelanjutan?
2. Jelaskan hubungan antara akuntansi dengan pembangunan ekonomi negara
perkembangan!

S1 Akuntansi (UNPAM)
14

Modul Teori Akuntansi

Akuntansi

D. Daftar Pustaka
Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.
Yogyakarta : BPFE
Sofyan Syafri Harahap, 2007, Teori Akuntansi. Jakarta : Raja Grafindo
Belkoui, dan Riahi, Ahmed. 2001. Teori Akuntansi Edisi 5. Jakarta: Salemba
Empat

S1 Akuntansi (UNPAM)
15

Judul: Teori Akuntansi - Pertemuan 15 Tren Akuntansi

Oleh: Fika Safitri


Ikuti kami