Sosio-spiritual Akuntansi Solusi Krisis Moral Akuntansi

Oleh Wawan Dwi Hadisaputro

460,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sosio-spiritual Akuntansi Solusi Krisis Moral Akuntansi

SOSIO-SPIRITUAL AKUNTANSI SOLUSI KRISIS MORAL AKUNTANSI (Wawan Dwi Hadisaputro, S.Pd) PENGERTIAN AKUNTANSI Corporate report (1975), mengatakan bahwa Akuntansi seharusnya tidak hanya melaporkan tentang kegiatan ekonomi perusahaan saja, tetapi juga harus melaporkan pengaruh perusahaan terhadap sosial masyarakat (pengangguran, kondisi kerja yang tidak sehat), dan lingkungan (biaya polusi lingkungan). Namun, hal Ini yang tidak pernah dilaporkan perusahaan, kecuali dapat dikompesasikan ke pajak atau adanya regulasi yang mewajibkannya. Tulisan lainnya adalah oleh Lehman (2004) yang mengatakan bahwa terdapat krisis moral dan etika dalam profesi akuntansi. Dari beberapa tulisan tersebut, nyata bagi kita bahwa memang sosio-spiritual akuntansi sudah menjadi sebuah kewajiban yang harus dijalankan dalam proses penyajian sebuah laporan pertanggungjawaban. Accounting terminology (1953) sebagai komite dari AICPA (the committee on terminology of the American Institute of Certified Publik accountants) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut; “Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang dan penginterprestasian Hasil proses tersebut”. Perkembangan selanjutnya, akuntansi didefinisikan oleh American Accounting association (1966) yang melihat akuntansi dari sisi proses komunikasi sebagai berikut; “Akuntansi adalah Proses pengidentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian informasi untuk membantu para pemakai dalam pengambilan keputusan secara tepat.” Terakhir kita menyajikan pengertian akuntansi yang dikaitkan dengan akuntansi sebagai konsep sistim oleh APB (1970). “Akuntansi adalah aktifitas jasa yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif, terutama besifat keuangan mengenai kegiatan ekonomi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan dari berbagai alternatif yang ada” Oleh sebab itu, jikalau kita berpatokan pada pengertian yang dikemukakan oleh lembaga yang berwenang tersebut, maka pengertian akuntansi memang tidak berhubungan dengan apa yang menjadi keresahan saat ini yakni akuntansi yang menghasilkan laporan bernilai sosial, lingkungan, dan sipiritual. PRODUK AKUNTANSI DAN UNTUK SIAPA PRODUK TERSEBUT Apabila kita menyaksikan kegagalan akuntansi dalam kaitan tanggungjawabnya kepada lingkungan, sosial, dan kering akan spiritual, maka kita tidak heran jikalau melihat apa yang dihasilkan oleh akuntansi. Perdefinisi diatas, terlihat jelas bahwa produk dari akuntansi adalah bersifat keuangan. Pengertian ini dihasilkan oleh suatu badan yang berwenang sehinga menjadi rujukan dalam prakek akuntansi. Pengertian ini pula yang menjadi dasar bagi akuntan dalam proses penyajian laporan pertanggungjawaban keuangan. Produk dari akuntansi yang bersifat keuangan merupakan sebuah produk pemikiran yang bersifat objektif dari apa yang seharusnya dihasilkan oleh akuntansi. Pada sisi objektif menitikberatkan pada sifat objektif dari realitas ilmu pengetahuan dan prilaku manusia. Sedang pada sisi yang lain, menitikberatkan pada sifat subjektif dari realitas ilmu pengetahuan dan prilaku manusia. Sifat objektif masih mendominasi pemikiran tentang produk akuntansi saat ini. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa produk akuntansi saat ini masih didominasi untuk menghasilkan laporan keuangan. Setidaknya hal ini masih berjalan sekitar tahun-tahun sebelum terjadinya krisis lehman brother yang terkenal dengan subprime mortgage, Worldcom dan Enron. Di Indonesia, tentu kita ingat kasus PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan lain-lainnya. Apabila kita tinjau dari siapa saja pengguna laporan keuangan, maka variasinya akan menjadi luas. Beberapa pengguna laporan keuangan diantaranya pemilik perusahaan, kreditur, supplier, manajemen, pemerintah dalam hal ini pajak, karyawan perusahaan, pelanggan, analis keuangan, pasar modal, masyarakat umum dan lain-lain. Pengguna laporan keuangan ini tentulah memiliki kepentingan yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Pertanyaannya sekarang, baik dilihat dari siapa yang mempengaruhi penetapan sebuah standar akuntansi maupun siapa yang menggunakan laporan keuangan, hanya sedikit yang termasuk dalam kategori sosial (karyawan perusahaan & masyarakat umum) dan tidak satupun yang menyebutkan lingkungan. Karyawan perusahaan dan masyarakat umum dalam kenyataannya pun memiliki keterbatasan akses terhadap laporan keuangan, apalagi kalau kita lihat apakah mereka mengerti atau tidak. Akhirnya dapat kita mengatakan bahwa laporan keuangan sebagai produk akuntansi hanya diperuntukan bagi masyarakat keuangan yang memiliki kepentingan baik langsung maupun tidak langsung. Laporan keuangan bukanlah diperuntukkan bagi kepentingan pertanggungjawaban sosial, lingkungan, sehingga dalam pelaporannya sulit untuk diharapkan menggunakan nilai-nilai spiritual dalam penyajiannya. Kondisi ini masih berlaku sampai saat ini, setidaknya sebelumnya terjadinya guncangan-guncangan hebat dari kasus-kasus yang disebutkan diatas. AKUNTANSI DITENGAH KEPENTINGAN PRINCIPLE DAN PUBLIC Akuntan tidak bisa lari dari dua kepentingan yaitu principle dan public, karena sudah menjadi sebuah ekosistem yang saling mengisi dan berinteraksi. Meskipun kita mengatahui bahwa akuntan dimanapun bekerja, memiliki beberapa standar dan pedoman dalam menjalankan tugas dan profesinya. Namun dalam kenyataannya, akuntan sulit untuk bekerja sesuai dengan pegangan yang ada. Standar dan pedoman tersebut diantaranya standar akuntansi keuangan, standar profesional akuntan publik, peraturan pemerintah dan lainnya. Standar-standar ini mendominasi tugas-tugas akuntan(belkaoui, 2004). Kita dapat mengatakan bahwa akuntan dalam tarik menarik antara kepentingan principle dengan publik, lebih memilih untuk pro kepada kepentingan principle. Satu hal yang paling mempengaruhi mengapa akuntan lebih pro kepada kepentingan principle adalah karena masalah audit fee, intensitas komunikasi, dan hubungan agen dan principle. Audit fee adalah sesuatu yang sangat besar pengaruhnya dalam hal mempengaruhi keteguhan akuntan untuk tetap perpegang teguh dengan prinsip dan nilai-nilai yang telah disepakati. Standar-standar yang ada dapat luntur menjadi sebagai pedoman moral akuntan jika sudah berkaitan dengan audit fee. Faktor intensitas komunikasi juga sangat menentukan longgarnya prinsip yang harus dimiliki oleh seorang akuntan. Hubungan atasan dan bawahan, pemilik dan pekerja menghasilkan sebuah komunikasi yang berkonvergensi pada satu hati, tujuan dan cita-cita. Hubungan ini akan berakhir pada satu tindakan untuk bersama, sehingga pedoman dan ketentuan dari luar dianggap menjadi sesuatu yang tidak perlu diikuti. Hubungan agen dan principle tidak banyak berpengaruh jika menghadapi kepentingan publik. Satu hal yang menyebabkan hal in terjadi adalah tidak berjalannya konsep entitas dalam hubungan antara agen dan principle. Agen dan principle dibanyak perusahaan korporat memiliki hubungan istimewa, sehingga mereka akan bersatu dalam menghadapi kepentingan publik yang notabene tidak menjadi bagian dari perusahaan. SOSIO-SPRIRITUAL AKUNTANSI SEBAGAI SOLUSI Sosio spiritulitas sebagai solusi karena kandungan akuntansi diisi oleh sumber utamanya yakni agama. Flesher & flesher (1979) seperti dikutip oleh Jacobs and walker telah mengungkapkan peran agama dalam akuntansi. Mereka menyajikan sebuah studi tentang masyarakat yang harmonis disebuah komunitas agama “Indiana frontier”. Mereka menyimpulkan bahwa praktek-praktek akuntansi yang harmonis sangat memberikan hasil yang memuaskan sebagai hasil substansi retailing dan operasi manufacturing dari masyarakat. Peran agama dalam akuntansi juga dipublikasi oleh Askary & Jackling (2004) dalam tulisannya yang berjudul “a theritical frame work of analysisi of accounting propensity in different religions.” Ada tiga hal yang menarik dari tulisan tersebut yakni (1) analisis model Hofstede and gray tentang akuntansi berasal dari kerangka budaya yang meliputi authority, measurement, enforcement and disclosure. (2) Lebih lanjut disebutkan bahwa nilai-nilai kultur hofstede dikendalikan oleh nilai-nilai sosial islam yang merujuk pada kitab suci alqur’an. (3) studi kemanfaatan nilai-nilai masyarakat islam menerapkan model gray untuk mengembangkan teori dalam menetapkan tentang praktek-praktek akuntansi. Dalam tulisan ini menyimpulkan bagaimana model yang dikembangkan dapat menyajikan alasan yang menjelaskan bagaimana agama sebagai salah satu faktor yang bisa mempengaruhi praktek akuntansi dalam masyarakat yang berbeda. Inti dari kedua penulis diatas adalah bagaimana agama dapat mempengaruhi akuntansi dalam memainkan peranannya sebagai pihak yang netral dan bertanggungjawab dalam membuat dan menyampaikan sebuah laporan pertanggungjawaban. Reformasi akuntansi yang merujuk pada nilai-nilai moral akuntan sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas laporan pertanggungjawaban juga mendapat dukungan glenn lehman (2004) dalam tulisannya “Accounting, accountability and religion: Charles taylor’s catholic modernity and the malaise of a disenchanted world”. Lehman mengatakan bahwa telah terjadi krisis moral dan etika dalam profesi akuntansi sehingga perlu direformasi. Jika kita setuju perlu ada reformasi akuntansi, maka sosio spiritual akuntasilah yang paling pas untuk dijadikan dasar pengembangannya. NILAI SOSIAL DALAM MODEL HOFSTEDE Menurut Hofstede, Budaya dapat dipahami sebagai suatu pemrograman kolektif dari pikiran yang membedakan anggota suatu kelompok atau kategori orang, dari yang lain. Budaya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa dimensi dapat dipahami bahwa perbandingan budaya mengandaikan bahwa ada sesuatu yang harus dibandingkan, bahwa setiap budaya sebenarnya tidaklah begitu unik, bahwa setiap budaya yang paralel dengan kebudayaan lain tidak memiliki makna yang begitu berarti. Dimensi budaya yang dibangun oleh Hofstede antara lain: 1. Power Distance Power Distance atau jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota dari suatu organisasi atau lembaga yang berada dalam posisi yang kurang kuat menerima dan berharap kekuasaan didistribusikan secara tidak merata. Dalam dimensi budaya yang mendukung jarak kekuasaan rendah (Small Power Distance), orang berhubungan satu sama lain terlepas dari posisi formalitas mereka. Bawahan mersaa lebih nyaman serta menuntut hak untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan. Begitu sebaliknya, di negara-negara dengan jarak kekuasaan tinggi (large power distance) bawahan mengakui kekuatan orang lain hanya berdasarkan dimana mereka berada dalam struktur formal atau posisi hirarki tertentu. 2. Uncertainty Avoidance Uncertainty Avoidance adalah bentuk toleransi masyarakat untuk ketidakpastian dan ambiguitas. Hal ini menggambarkan sejauh mana anggota organisasi atau lembaga berusaha untuk mengatasi perasaan cemas dan mengurangi ketidakpastian yang mereka hadapi. Orang-orang yang memiliki dimensi budaya penghindaran ketidakpastian tinggi (high uncertainty avoidance) cenderung lebih emosional. Mereka mencoba untuk meminimalkan terjadinya keadaan yang tidak diketahui atau tidak biasa. Saat terjadi perubahan mereka menjalaninya dengan hati-hati, langkah demi langkah dengan perencanaan dan menerapkan hukum serta peraturan yang berlaku. Sebaliknya, dimensi budaya penghindaran ketidakpastian rendah (low uncertainty avoidance) menerima dan merasa nyaman dalam situasi yang tidak terstruktur atau lingkungan yang kerap kali mengalami perubahan. Mereka mencoba untuk memiliki beberapa aturan dalam aktifitas mereka. Orang-orang dalam dimensi budaya ini cenderung lebih pragmatis, mereka jauh lebih toleran terhadap perubahan. 3. Indvidualism vs Collectivism Ciri organisasi atau lembaga Individualism dengan Collectivism, adalah sejauh mana individu diintegrasikan ke dalam organisasi atau lembaga tersebut. Dalam masyarakat yang individualistik (individualism), tekanan atau stres diletakkan dalam permasalahan pribadi, serta menuntut hak-hak individu. Orang-orang diharapkan untuk membela diri sendiri dan keluarga mereka. Selain itu juga mereka diharapkan untuk memilih afiliasi sendiri. Sebaliknya dalam masyarakat kolektifis (collectivism), individu bertindak terutama sebagai anggota kelompok seumur hidup. Daya kohesifitas yang tinggi tercipta di dalam kelompok mereka (kelompok di sini tidak mengacu kepada politik atau negara). Orang-orang memiliki keluarga besar, yang dijadikan sebagai perlindungan bagi dirinya sehingga loyalitasnya tidak diragukan. 4. Masculinity vs Feministy Masculinity berkaitan dengan nilai perbedaan gender dalam masyarakat, atau distribusi peran emosional antara gender yang berbeda. Nilai-nilai dimensi maskulin (masculinity) terkandung nilai daya saing, ketegasan, materialistik, ambisi dan kekuasaan. Dimensi feminin (feminimity) menempatkan nilai yang lebih terhadap hubungan dan kualitas hidup. Dalam dimensi maskulin, perbedaan antara peran gender nampak lebih dramatis dan kurang fleksibel dibandingkan dengan dimensi feminin yang melihat pria dan wanita memiliki nilai yang sama, menekankan kesederhanaan serta kepedulian. 5. Long Term vs Short Term Orientation Masyarakat yang berorientasi jangka panjang (long term orientation) lebih mementingkan masa depan. Mereka mendorong nilai-nilai pragmatis berorientasi pada penghargaan, termasuk ketekunan, tabungan dan kapasitas adaptasi. Masyarakat yang memiliki dimensi orientasi hubungan jangka pendek (short term orientation), nilai dipromosikan terkait dengan masa lalu dan sekarang, termasuk kestabilan, menghormati tradisi, menjaga selalu penampilan di muka umum, dan memenuhi kewajiban-kewajiban sosial. 6. Indulgence vs Restraint Kesenangan (indulgence) mengarah kepada lingkungan sosial yang mengijinkan gratifikasi sebagai nafsu manusiawi yang alamiah terkait dengan menikmati hidup. Pengekangan (restraint) mengarah kepada lingkungan sosial yang mengontrol gratifikasi dari kebutuhan dan peraturan-peraturan dengan cara norma sosial yang tegas. MODEL NILAI AKUNTANSI GRAY (1988) YANG TERKAIT DENGAN NILAI-NILAI SOSIAL 1. PROFESSIONALISM V STATUTORY CONTROL Dalam Gray (1988), profesionalisme didefinisikan sebagai preferensi oleh akuntan untuk melatih penilaian profesional individu dalam melakukan tugas-tugas akuntansi. Ini memerlukan pemeliharaan pengaturan-diri profesional. Hal ini berbeda dengan kontrol perundang-undangan, pengenaan kekuatan pada akuntan untuk mematuhi persyaratan hukum preskriptif dengan dukungan sanksi hukum untuk ketidakpatuhan. Menurut Gray, individualisme yang tinggi dan rendahnya ketidakpastianpenghindaran dan jarak kekuasaan dalam suatu masyarakat terkait erat dengan profesionalisme akuntansi. Dia menjelaskan: “. . . preferensi untuk penilaian profesional independen konsisten dengan preferensi untuk kerangka budaya yang longgar di mana ada lebih banyak penekanan pada independensi, keyakinan dalam keputusan individu dan menghormati usaha individu ”. Atas dasar itu, dia beralasan bahwa profesionalisme dalam akuntansi lebih mungkin diterima dalam masyarakat dengan jarak kekuasaan kecil dengan perhatian untuk pelaksanaan hak yang sama. Namun demikian, dapat dipertentangkan, bahwa profesionalisme lebih cocok dengan "masyarakat yang merajut secara longgar", dan bahwa tindakan independen berlaku dalam masyarakat yang sangat terorganisir. Perlu dicatat bahwa bukan kemerdekaan masyarakat yang dipermasalahkan di sini, tetapi kemandirian individuindividu tertentu (dan untuk tujuan penelitian ini, para akuntan) di dalamnya, dan independensi mereka (posisi pada skala profesionalisme) dalam konteks yang terbatas pada latihan keterampilan khusus mereka. Di kebanyakan praktisi akuntansi negara-negara Barat adalah "sangat terorganisasi" - membutuhkan "pendaftaran" untuk berlatih, sering diperlukan untuk memenuhi kondisi tertentu untuk menyediakan layanan khusus untuk klien - selalu kredensial dalam hal baik prestasi akademik dan paparan praktek yang sebenarnya adalah norma. Selain itu, mereka mungkin memiliki kebijaksanaan profesional (sangat independen) yang lengkap tentang "bagaimana" mereka melayani kebutuhan klien mereka. Norma, bukan pengecualian, adalah bahwa mereka mengalami kontrol yang sangat terpusat atas masuknya mereka ke praktik dan hak mereka yang berkelanjutan untuk menawarkan layanan mereka kepada publik secara luas. Tetapi mereka secara seragam menikmati kapasitas yang sangat terbatas (hampir) yang mutlak tanpa batas untuk memanfaatkan pengalaman individual mereka dan mengumpulkan kebijaksanaan untuk mempraktekkan keterampilan mereka - sangat populer dalam profesionalisme. Individualisme Hofstede tidak mengangkut domain praktisi akuntansi individual semulus yang disarankan Gray. Masalah Gray terletak pada penerjemahan ekstrim Hofstede sehubungan dengan dimensi budaya menjadi ekstrim seperti dalam hal nilai-nilai akuntansi. 2. UNIFORMITY V FLEXIBILITY Keseragaman dalam hal akuntansi dalam konteks perdebatan budaya adalah preferensi untuk penegakan praktik akuntansi seragam, yang bertentangan dengan fleksibilitas sesuai dengan keadaan yang dirasakan masing-masing perusahaan (Gray, 1988). Pengungkapan data keuangan dalam tujuan umum laporan keuangan adalah pengaturan tertentu di mana keseragaman, atau sebaliknya, adalah masalah. Untuk Gray, dimensi nilai akuntansi ini sangat penting karena sikap lain seperti konsistensi dan komparabilitas dimasukkan sebagai fitur dasar prinsip akuntansi di seluruh dunia. Gray beralasan bahwa individualisme dan penghindaran ketidakpastian terkait erat dengan keseragaman. Gray dengan demikian mengaitkan keseragaman secara dekat dengan penghindaran ketidakpastian, karena penghindaran ketidakpastian yang kuat dirasakan olehnya untuk dihubungkan dengan kode perilaku yang kaku, hukum, aturan dan aturan dan peraturan tertulis, untuk menghindari kesalahan dan hasil yang tidak dapat diprediksi. Sebagai akibatnya, masyarakat jarak jauh yang besar dianggap memfasilitasi keseragaman dengan memberlakukan hukum dan kode karakter yang seragam pada masyarakat itu. Diharapkan kemudian, bahwa negaranegara yang dilambangkan untuk berlatih jarak kekuasaan besar akan memiliki katalog besar standar akuntansi. 3. CONSERVATISM V OPTIMISM Konservatisme tidak mengambil makna khusus dalam konteks debat akuntansi / budaya. Seperti dalam fokus konvensional pada akuntansi, konservatisme adalah preferensi untuk pendekatan hati-hati untuk pengukuran elemen akuntansi seperti nilai uang aset, dan jumlah moneter kewajiban, pendapatan, pengeluaran dan perhitungan laba atau rugi, dengan ketidakpastian peristiwa masa depan dalam pikiran. Sebaliknya, optimisme dapat dianggap sebagai laissez-faire, pendekatan pengambilan risiko dalam pengukuran akuntansi. Itu sesuai dengan konteks perdebatan budaya / akuntansi (Gray, 1988). Penjelasan Gray menyiratkan bahwa hanya penghindaran ketidakpastian yang dapat dikaitkan erat dengan konservatisme. Penghindaran ketidakpastian yang tinggi dalam hal pengukuran laba dan nilai aset konsisten dengan nilai akuntansi yang sangat konservatif yang dinyatakan untuk aset dalam neraca perusahaan. Selain itu, ada hubungan yang dirasakan, meskipun kurang kuat, antara individualisme, maskulinitas dan konservatisme, karena penekanan pada prestasi dan kinerja individu yang mungkin kondusif untuk pendekatan yang kurang konservatif terhadap pengukuran, dengan maksud untuk memperkuat hasil kinerja yang dilaporkan. dan mendorong persepsi tentang apa yang Gray (konsisten dengan Hofstede) anggap sebagai indikasi sifat maskulin yang sangat selaras. 4. SECRECY V TRANSPARENCY Kerahasiaan diambil dalam debat budaya / akuntansi untuk mewujudkan preferensi untuk kerahasiaan. Manifestasinya akuntansi demikian terletak pada pembatasan pengungkapan informasi keuangan yang berkaitan dengan penilaian dan evaluasi kinerja dan keadaan urusan bisnis. Ini kontras dengan pendekatan yang lebih transparan, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik. (Gray, 1988). Hipotesis Gray menunjukkan bahwa dari empat nilai Hofstede, penghindaran ketidakpastian dan individualisme adalah yang paling berpengaruh dalam kaitannya dengan nilai-nilai akuntansi. Selain itu, Perera dan Matthews (1990) telah mengklaim bahwa dimensi budaya penghindaran ketidakpastian dan individualisme mengerahkan pengaruh terkuat pada nilai-nilai akuntansi (hal. 265), hanya sebagai akibat dari efek positif individualisme dan efek negatif dari ketidakpastian yang lemah pada Profesionalisme, fleksibilitas, optimisme, dan transparansi Gray. Itu adalah alasan yang menghasilkan efek positif dari penghindaran ketidakpastian dan jarak kekuasaan yang bergabung untuk membangkitkan kerahasiaan. Sebagai akibatnya, diharapkan bahwa jarak listrik yang kecil dan penghindaran ketidakpastian yang lemah dapat menimbulkan efek positif pada transparansi. DAFTAR PUSTAKA Askary, Saeed dan Beverley Jackling. 2004. A Theoritical Framework of Analysis of Accounting Propensity in Different Religions. Singapura: Accounting Conference Fourth Asia Pacific Interdisciplinary Research Bratasena. 2016. https://budayaindonesia2016blog.wordpress.com/2016/03/19/dimensibudaya-geert-hofstede/ diakses pada tanggal 26 Oktober 2018 Mulya, Hadri dan Wiwik Utami. 2013. Modul Perkuliahan Teori Akuntansi: Sosio-Spiritual Akuntansi Solusi Krisis Moral Akuntansi (Sebuah Tinjauan kritis peran sosio spiritual akuntansi). Jakarta: Universitas Mercu Buana

Judul: Sosio-spiritual Akuntansi Solusi Krisis Moral Akuntansi

Oleh: Wawan Dwi Hadisaputro

Ikuti kami