Siklus Akuntansi

Oleh Statistik2 A

3,9 MB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Siklus Akuntansi

I S N A T I N S U N K A A T P N & UN E A S G K N N A O A S & U K U E L K K I N S A R O P LA K E L O M P O K 9 : N A N D A L I T TA A U L I A C 1 0 1 4 0 1 7 3 WULAN SARI DEARYN HESTY HANA SRI DEFINISI Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah “Akuntansi didefinisikan sebagai sebuah proses identifikasi, pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran atas semua transaksi dan aktivitas keuangan, penyajian laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya.” PIHAK YANG MELAKSANAKAN PROSES AKUNTANSI INI Entitas Akuntansi Entitas Pelaporan PERSAMAAN AKUNTANSI Langkah pertama adalah melakukan identifikasi. Identifikasi dilakukan untuk menganalisis tiap transaksi atau aktivitas keuangan yang ada dengan menjawab pertanyaan “akun (kode rekening) apakah yang terpengaruh?” dan “bagaimana pengaruhnya terhadap akun tersebut?”. Untuk mempermudah proses identifikasi transaksi dapat digunakan alat analisis yang disebut dengan PERSAMAAN AKUNTANSI. Persamaan akuntansi merupakan gambaran dari posisi keuangan entitas (Neraca) dimana sisi kiri menggambarkan harta yang dimiliki oleh entitas, sedangkan sisi kanan menggambarkan status atau darimana harta tersebut berasal. Aset = Kewajiban + Ekuitas ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS Kas, Piutang, Persediaan , Aset Tetap, dll Kewajiban Jk. Pendek, Kewajiban Jk. Panjang (+) Pendapatan, (-)Beban CONTOH IDENTIFIKASI TRANSAKSI: KONSEP HOME OFFICE BRANCH OFFICE (HOBO) Konsep Home Office (Kantor Pusat) dan Branch Office (Kantor Cabang) atau yang sering disebut HOBO tidak hanya terdapat di intansi swasta, tetapi juga terdapat di instansi pemerintahan termasuk Pemerintah Daerah. Struktur akuntansi di pemerintah daerah menggunakan konsep HOBO dimana PPKD bertindak sebagai kantor pusat dan SKPD bertindak sebagai kantor cabang. Antara kantor pusat dan kantor cabang akan terdapat banyak transaksi internal. Contoh transaksi internal antara PPKD dan SKPD adalah pemberian Uang Persediaan (UP). Dalam hal ini, PPKD memberikan sejumlah uang kepada bendahara pengeluaran SKPD yang akan digunakan SKPD untuk memenuhi kebutuhan belanjanya. Dari sisi PPKD, arus kas keluar tersebut bukan merupakan beban. Begitu pula dari sisi SKPD, arus kas masuk tersebut bukan CONTOH KASUS Transaksi PPKD Kabupaten Sanden: 1. Dalam APBD 2013 yang telah ditetapkan pada tanggal 30 Desember 2012, telah ditetapkan bahwa Kabupaten Sanden akan mendapatkan Bagi Hasil PPh 21 sebesar Rp 300.000.000 2. 2. Pada tanggal 3 Januari 2013 diterima pendapatan dari bagi hasil Bagi Hasil PPh 21 sebesar Rp 300.000.000 3. 3. Pada tanggal 4 Januari 2013, terjadi penandatanganan Nota Perjanjian Hibah (NPH) antara PPKD dengan Organisasi Kepemudaan Desa Tegalrejo sebesar Rp 15.000.000. 4. Pada tanggal 5 Januari 2013, diberikan Uang Persediaan (UP) untuk SKPD Sentosa sebesar Rp 20.000.000 5. Diterbitkan SP2D pada tanggal 7 Januari 2013 untuk belanja hibah kepada Organisasi Kepemudaan Desa Tegalrejo sebesar Rp 15.000.000 6. Diterbitkan SP2D LS untuk pembelian kendaraan dinas untuk SKPD Sentosa sebesar Rp 30.000.000 pada tanggal 8 Januari 2013. 7. Pada tanggal 13 Januari 2013, diterima setoran uang pendapatan dari SKPD Sentosa sebesar Rp 25.000.000 JURNAL BEBERAPA TRANSAKSI SKPD DAN TABEL PERSAMAAN AKUNTANSI UNTUK SKPD Transaksi SKPD Sentosa yang merupakan salah satu SKPD di Pemkot Sanden: 1. Menerima Uang Persediaan (UP) dari PPKD sebesar Rp 20.000.000 pada tanggal 5 Januari 2013 2. 2. Melakukan belanja alat tulis kantor sebesar Rp 3.000.000 dengan menggunakan Uang Persediaan (UP) pada tanggal 6 Januari 2013 3. 3. Melakukan belanja cetak sebesar Rp 20.000.000 dengan mekanisme LS. SP2D LS diterbitkan pada tanggal 7 Januari 2013. 4. 4. Membeli kendaraan dinas seharga Rp 30.000.000 dengan mekanisme LS. SP2D LS diterbitkan pada tanggal 8 Januari 2013. 5. Tanggal 9 Januari 2013, diterima Surat Ketetapan Pajak (SKP) Daerah dari PPKD, tertulis bahwa SKPD R memiliki pendapatan Pajak Hotel sebesar Rp 25.000.000 6. Tanggal 12 Januari 2013, diterima pendapatan Pajak Hotel sebesar Rp 25.000.000 7. Bendahara Penerimaan SKPD menyetorkan uang pendapatan Pajak Hotel ke kas daerah sebesar Rp 25.000.000 pada tanggal 13 Januari 2013 JURNAL PENGERTIAN SIKLUS AKUNTANSI TRANSAKSI Alat : Jurnal KLASIFIKASI Alat : Kode Rekening LAP KEUANGAN Alat: Neraca Saldo A. JURNAL Pengertia n Jurnal Contoh Tabel Tanggal Aturan Penulisan Nomer Bukti Kode Rekening Uraian Debit Kredit JURNAL DALAM SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH L O LR A BAGAIMANA CARA MELAKUKAN PENCATATAN TRANSAKSI DENGAN JURNAL LO? 1. harus mengetahui saldo normal dari tiap akun melalui persamaan akuntansi 2. Debit berarti sisi kiri dan yang berada pada sisi kiri persamaan akuntansi adalah kelompok Aset. 3. Kredit berarti sisi kanan dan yang berada pada sisi kanan persamaan akuntansi adalah kelompok Kewajiban dan Ekuitas. ASET KEWAJIBAN + EKUITAS (+) Debit ( + ) kredit (- ) Kredit ( - ) Debit CONTOH PENCATATAN TRANSAKSI JURNAL LO 1. Menerima pendapatan pajak hotel sebesar Rp 50.000.000,Tanggal Kode Uraian Ref Rekening 2 apr 2015 1.1.02.01 8.1.1.06.01 Kas di bendahara penerimaan Debit Kredit 50.000.000 Pendapatan pajak hotel LO 50.000.000 2. Membeli ATK sebesar Rp 500.000,- secara tunai Tanggal 3 apr 2015 Kode Rekening Uraian 9.1.2.01.01 Beban persediaan ATK 1.1.1.03.01 Kas dibendahara pengeluaran Ref Debit Kredit 500.000 500.000 SALDO NORMAL UNTUK JURNAL LRA sebuah transaksi akan dicatat menggunakan jurnal LRA jika transaksi tersebut memenuhi dua syarat berikut: 1. Terdapat arus kas masuk atau arus kas keluar, dan 2. Merupakan realisasi anggaran bagi entitas bersangkutan CONTOH PENCATATAN ANGGARAN SURPLUS: Dalam APBD 2013 Pemerintah Kabupaten Gadoh diketahui bahwa anggaran pendapatan Rp 500.000.000, penerimaan pembiayaan Rp 100.000.000, belanja sebesar Rp 350.000.000 dan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp 200.000.000. Tanggal Kode Uraian ref Debit Kredit Rekening 1-jan-15 3.1.2.01.01 Estimasi pendapatan 500.000.000 3.1.2.02.01 Estimasi penerimaan biaya 100.000.000 3.1.2.05.01 Estimasi Perubahan SAL 50.000.000 3.1.2.03.01 Apropiasi Belanja 350.000.000 3.1.2.04.05 Apropiasi pengeluaran biaya 200.000.000 CONTOH PENCATATAN ANGGARAN DEFISIT SKPD N menganggarkan pendapatannya sebesar Rp 400.000.000 dan menganggarkan belanjanya sebesar Rp 500.000.000 Tanggal Kode Uraian ref Debit Kredit Rekening 1-jan-15 3.1.2.01.01 Estimasi pendapatan 400.000.000 3.1.2.02.01 Estimasi perubahan SAL 100.000.000 3.1.2.05.01 Apropiasi Belanja 500.000.000 SYARAT PENCATATAN LRA 1. Terdapat arus kas masuk atau arus kas keluar, dan 2. Merupakan realisasi anggaran bagi entitas bersangkutan Adanya realisasi anggaran, baik realisasi Pendapatan, realisasi Penerimaan Pembiayaan, realisasi Belanja, maupun realisasi Pengeluaran Pembiayaan akan mempengaruhi nilai Estimasi Perubahan SAL. Dengan demikian, setiap terjadi penjurnalaan atas realisasi anggaran, maka akun lawannya adalah akun Estimasi Perubahan SAL. Berikut akan disajikan pencatatan Jurnal LRA atas transaksi-transaksi realisasi anggaran. Dengan adanya Jurnal LO dan Jurnal LRA, maka setiap kali terjadi transaksi atau aktivitas keuangan, Fungsi Akuntansi di setiap entitas harus mencatatatnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi untuk menyusun LO, Neraca, dan LRA. Berikut beberapa catatan penting ketika hendak melakukan pencatatan transaksi ke dalam jurnal:  Setiap transaksi atau aktivitas keuangan pasti dicatat menggunakan Jurnal LO, kecuali pencatatan anggaran hanya dilakukan menggunakan Jurnal LRA  Apabila suatu transaksi atau aktivitas keuangan menyebabkan arus kas masuk atau arus kas keluar dan merupakan realisasi anggaran bagi entitas bersangkutan, maka selain dicatat menggunakan Jurnal LO dicatat juga menggunakan Jurnal LRA. CONTOH PENCATATAN DARI KABUPATEN SANDEN DAN DINAS PENDAPATAN DI BAGIAN PERSAMAAN AKUNTANSI. 1. Dalam APBD 2013 yang telah ditetapkan pada tanggal 30 Desember 2012, telah ditetapkan bahwa Kabupaten Sanden akan mendapatkan Bagi Hasil PPh 21 sebesar Rp 500.000.000 2. Pada tanggal 3 Januari 2013 diterima pendapatan dari bagi hasil Bagi Hasil PPh 21 sebesar Rp 500.000.000 3. Pada tanggal 4 Januari 2013, terjadi penandatanganan Nota Perjanjian Hibah (NPH) antara PPKD dengan Organisasi Kepemudaan Desa Tegalrejo sebesar Rp 15.000.000. 4. Pada tanggal 5 Januari 2012, diberikan Uang Persediaan (UP) untuk Dinas Pendapatan sebesar Rp 20.000.000 5. Diterbitkan SP2D pada tanggal 7 Januari 2013 untuk belanja hibah kepada Organisasi Kepemudaan Desa Tegalrejo sebesar Rp 15.000.000 6. Diterbitkan SP2D LS untuk pembelian kendaraan dinas untuk Dinas Pendapatan sebesar Rp 30.000.000 pada tanggal 8 Januari 2013. 7. Pada tanggal 13 Januari 2013, diterima setoran uang pendapatan dari Dinas Pendapatan sebesar Rp 25.000.000 Tanggal 1 Jan 2013 Kode rekening 1.1.3.05.01 8.2.1.01.04 3 Jan 2013 1.1.1.01.01 1.1.3.05.01 4 Jan 2013 7 Jan 2013 9.1.5.05.03 Beban Hibah kepada Organisasi Kepemudaan RK SKPD - Dinas Pendapatan Kas di Kas Daerah 2.1.5.06.03 Utang Belanja Hibah 1.1.1.01.01 Kas di Kas Daerah Belanja Hibah kepada Organisasi Kepemudaan 3.1.2.05.01 Estimasi Perubahan SAL 1.1.8.01.09 RK SKPD - Dinas Pendapatan 1.1.8.01.09 500.000.000 500.000.000 500.000.000 500.000.000 500.000.000 15.000.000 15.000.000 20.000.000 20.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 30.000.000 Kas di Kas Daerah Kas di Kas Daerah RK SKPD - Dinas Pendapatan Kredit 500.000.000 Utang Belanja Hibah 1.1.1.01.01 1.1.1.01.01 Debit Piutang Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil PPh 21LRA 1.1.1.01.01 13Jan 2013 Kas di Kas Daerah 4.2.1.01.04 1.1.8.01.09 R ef Pendapatan bagi hasil PPh 21-LO Estimasi Perubahan SAL 5.1.5.05.03 8 Jan 2013 Piutang Bagi Hasil Pajak 3.1.2.05.01 2.1.5.06.03 5 Jan 2013 Uraian 30.000.000 25.000.000 25.000.000 Transaksi Dinas Pendapatan yang merupakan salah satu SKPD Pemkot Sanden: 1. Menerima Uang Persediaan (UP) dari PPKD sebesar Rp 20.000.000 pada tanggal 5 Januari 2013 2. Melakukan belanja alat tulis kantor sebesar Rp 3.000.000 dengan menggunakan Uang Persediaan (UP) pada tanggal 6 Januari 2013 3. Melakukan belanja cetak sebesar Rp 20.000.000 dengan mekanisme LS. SP2D LS diterbitkan pada tanggal 7 Januari 2013. 4. Membeli kendaraan dinas seharga Rp 30.000.000 dengan mekanisme LS. SP2D LS diterbitkan pada tanggal 8 Januari 2013. 5. Tanggal 9 Januari 2013, diterima Surat Ketetapan Pajak (SKP) Daerah dari PPKD, tertulis bahwa Dinas Pendapatan memiliki pendapatan Pajak Hotel sebesar Rp 25.000.000 6. Tanggal 12 Januari 2013, diterima pendapatan Pajak Hotel sebesar Rp 25.000.000 7. Bendahara Penerimaan SKPD menyetorkan uang pendapatan Pajak Hotel ke kas daerah sebesar Rp 25.000.000 pada tanggal 13 Januari 2013 BUKU BESAR Setelah transaksi dicatat dalam jurnal, tahap selanjutnya adalah mengklasifikasikan transaksi berdasarkan akunnya ke dalam buku besar. Buku besar kumpulan catatan transaksi per akun. Setiap akun memiliki satu buku besarnya masing-masing sehingga jumlah buku besar yang dimiliki sebuah entitas sama banyaknya dengan jumlah akun yang dimilikinya. Buku besar dibuat dalam sebuah format tertentu dan dengan aturan tertentu yang telah disepakati. SKPD: SKPD A Nama Rekening: Kendaraan Dinas Kode Rekening1.3.02.04.01 Pagu APBD: Rp. – Pagu Perubahan APBD: Rp. – Tanggal 1 Jan Uraian Ref Debit Saldo awal Kredit Saldo 175.000 2013 9 sep 2013 31 de2013 Pembelian kendaraan 250,000 375,000 PENGISIAN SALDO AWAL Pemerintah Kota Saden SKPD R NERACA Per 1 Januari 2013 Aktiva Kas di bendahara penerimaan Kas di bendahara Pasiva - Ekuitas 125,000,000 5,125,000,000 pengeluaran Kendaraan 5,000,000,000 Gedung kantor Total aktiva Tanggal 1 Jan SKPD : SKPD R 5.125,000,000Nama TotalRekening pasiva : Kendaraan Dinas 5,125,000,000 Kode Rekening 1.3.02.04.01 Pagu APBD : Rp 250.000.000 Pagu Perubahan APBD : Rp 350.000.000 Uraian Saldo awal ref Debit Kredit Saldo 125.000.000 NERACA SALDO Setelah selesai melakukan proses klasifikasi transaksi ke dalam buku besar, tahap selanjutnya adalah menyusun neraca saldo. Neraca saldo merupakan sebuah daftar yang memuat nama setiap buku besar (kode rekening) dan saldonya pada tanggal tertentu. Bagan berikut akan menggambarkan proses penyusunan neraca saldo dari buku besar NERACA SALDO Neraca Saldo yang telah dihasilkan pada tahapan sebelumnya menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan entitas. Tiga laporan keuangan yang dapat langsung dihasilkan dari Neraca Saldo adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO) dan Neraca. LRA disusun dari Neraca Saldo kelompok kode rekening 4, 5, 6, dan 7. LO disusun dari Neraca Saldo kelompok kode rekening 8 dan 9. Sementara Neraca disusun dari Neraca Saldo kelompok kode rekening 1, 2, dan 3. PENYUSUNAN LRA LRA disusun dengan cara memasukkan nilai saldo kelompok akun Pendapatan-LRA, Belanja, Transfer, dan Pembiayaan ke dalam format LRA. Total Pendapatan-LRA dikurangi total Belanja dan Transfer akan mengahasilkan Surplus/Defisit-LRA. Kemudian Surplus/Defisit-LRA ditambah dengan Penerimaan Pembiayaan dan dikurangi dengan Pengeluaran Pembiayaan akan menghasilkan SiLPA atau SiKPA. Perlu diperhatikan bahwa dalam format LRA sebagaimana yang diilustrasikan dalam SAP berbasis akrual tidak dirinci berdasarkan kode rekening per rincian obyek sehingga perlu berhati-hati dalam mengelompokkan Pendapatan-LRA, Belanja, Transfer, dan Pembiayaan. Berikut akan disajikan contoh pengelompokkan Belanja dari Neraca Saldo ke format LRA. JURNAL PENUTUP LRA Setelah membuat LRA, langkah selanjutnya adalah membuat Jurnal Penutup LRA untuk menutup akun-akun terkait anggaran dan realisasinya. Jurnal penutup ini berfungsi untuk membuat saldo dari akun-akun terkait anggaran dan realisasinya menjadi nol pada awal periode. Cara menutup akun-akun tersebut adalah dengan mencatatnya pada posisi lawannya. Akun Pendapatan-LRA yang pada saat realisasi dijurnal pada sisi kredit, maka ketika ditutup akan dicatat di sisi debit. Akun Belanja yang pada saat realisasi dijurnal pada sisi debit, maka ketika ditutup akan dicatat di sisi kredit. Begitu juga dengan akun Transfer, akun Penerimaan Pembiayaan, akun Pengeluaran Pembiayaan, akun Estimasi Pendapatan, akun Apropriasi Belanja dan akun Estimasi Perubahan SAL. Jumlah sisi debit harus sama dengan sisi kredit. Berikut akan disajikan contoh Jurnal Penutup LRA untuk SKPD Setelah melakukan penutupan atas akun-akun terkait anggaran dan realisasinya, maka akan diperoleh Neraca Saldo setelah penutupan LRA dimana tidak terdapat lagi akun-akun terkait anggaran dan realisasinya. Proses penyusunan LRA yang telah dijabarkan dapat dilihat dalam bagan berikut. PENYUSUNAN LO LO disusun dengan cara memasukkan nilai saldo kelompok akun Pendapatan-LO dan Beban ke dalam format LO. Total Pendapatan-LO dikurangi dengan total Beban akan menghasilkan Surplus/Defisit-LO. Surplus/Defisit-LO ini nantinya akan mempengaruhi nilai Ekuitas dalam Neraca. Sama seperti format LRA, format LO sebagaimana yang diilustrasikan dalam SAP berbasis akrual juga tidak dirinci berdasarkan kode rekening per rincian obyek sehingga perlu berhati-hati dalam mengelompokkan Pendapatan-Lo dan Beban. Berikut akan disajikan contoh pengelompokkan Beban dari Neraca Saldo ke format LO. LO disajikan dengan menyandingkan nilai Pendapatan-LO dan Beban di tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Setelah melakukan penutupan atas akun-akun Pendapatan-LO dan Beban, maka akan diperoleh Neraca Saldo setelah penutupan LO dimana tidak terdapat lagi akun-akun terkait Pendapatan-LO dan Beban, tetapi muncul akun baru, yaitu Surplus/Defisit LO yang masuk ke kelompok akun Ekuitas. Proses penyusunan LO yang telah dijabarkan dapat dilihat dalam bagan berikut. PENYUSUNAN NERACA LO disusun dengan cara memasukkan nilai saldo kelompok akun Aset, Kewajiban, dan Ekuitas ke dalam format Neraca. Total Aset harus sama dengan total Kewajiban ditambah dengan Ekuitas. Surplus/Defisit-LO akan menambah Ekuitas jika nilainya positif (surplus) dan akan mengurangi Ekuitas jika nilainya negatif (defisit). Sama seperti format LRA dan LO, format Neraca sebagaimana yang diilustrasikan dalam SAP berbasis akrual juga tidak dirinci berdasarkan kode rekening per rincian obyek sehingga perlu berhati-hati dalam mengelompokkan Aset, Kewajiban, dan Ekuitas. Berikut akan disajikan contoh pengelompokkan Aset Tetap dari Neraca Saldo ke format Neraca. Neraca disajikan dengan menyandingkan nilai Aset, Kewajiban, dan Ekuitas per akhir periode berjalan dengan periode sebelumnya. Jurnal Penutup Akhir ini berfungsi untuk memasukkan unsur Surplus/Defisit-LO ke dalam Ekuitas. Cara menutup akun-akun tersebut adalah dengan mencatatnya pada posisi lawannya. Akun Surplus/Defisit-LO jika saat Jurnal Penutup LO ada di sisi debit, maka ketika Penutup Akhir dicatat di sisi kredit. Sementara itu, jika akun Surplus/Defisit-LO saat Jurnal Penutup LO ada di sisi kredit, maka ketika Penutup Akhir dicatat di sisi debit. Untuk penyeimbang sisi debit dan kredit Jurnal Penutup Akhir adalah akun Ekuitas. Jumlah sisi debit harus sama dengan sisi kredit. Berikut akan disajikan contoh Jurnal Penutup Akhir untuk SKPD. Setelah melakukan penutupan atas Surplus/Defisit-LO, maka akan diperoleh Neraca Saldo Akhir dimana tidak terdapat lagi akun Surplus/DefisitLO karena sudah masuk ke dalam nilai Ekuitas. Proses penyusunan Neraca yang telah dijabarkan dapat dilihat dalam bagan berikut Penyusunan LPE LPE disusun dengan cara memasukkan nilai awal Ekuitas yang diperoleh dari Neraca Awal Tahun ke dalam format LPE, diakumulasi dengan Surplus/Defisit-LO tahun berjalan, Dampak Kumulatif Perubhan Kebijakan/Kesalahan Mendasar sehingga menghasilkan Ekuitas Akhir. Nilai Ekuitas Akhir yang ada di LPE harus sama dengan nilai Ekuitas yang ada di Neraca. LPE disajikan dengan menyandingkan nilai perubahan Ekuitas tahun berjalan dan tahun sebelumnya. Penyusunan Laporan Perubahan SAL Laporan Perubahan SAL disusun dengan cara memasukkan nilai SAL awal tahun yang merupakan nilai SAL akhir tahun sebelumnya ke dalam format Laporan Perubahan SAL dikurangi dengan Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun Berjalan. Hasilnya kemudian diakumulasikan dengan SiLPA/SiKPA tahun berjalan yang diperoleh dari LRA, diakumulasikan dengan Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya serta lain-lain yang mempengaruhi nilai SAL sehingga akan diperoleh nilai SAL akhir. Penyusunan LAK LAK disusun dengan mengklasifikasikan arus kas masuk dan arus kas keluar ke dalam kategori aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas pendanaan, dan aktiviats transitoris. Informasi terkait arus kas masuk dan arus kas keluar dapat diperoleh dari LRA karena LRA disusun berdasarkan arus kas masuk dan keluar. Selain itu, informasi kas masuk dan keluar bisa juga diambil dari catatan BKU bendahara. LAPORAN KEUANGAN Devinisi PSAP 1 PP No. 71 tahun 2010 Informasi yang harus jelas pada setiap laporan LAPORAN REALISASI ANGGARAN (LRA) Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan laporan pelaksanaan anggaran yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Informasi yang terdapat dalam LRA berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas terhadap anggaran. Juga dapat dilihat tingkat penyerapan anggaran entitas yang dapat menjadi salah satu indikator produktivitas atau kinerja entitas. LRA disusun dan disajikan dengan basis kas. FORMAT DASAR DARI SEBUAH LAPORAN REALISASI ANGGARAN BERIKUT ADALAH FORMAT LRA SKPD, LRA PPKD, SERTA LRA PEMERINTAH PROVINSI, DAN LRA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA YANG DIBERIKAN OLEH PERMENDAGRI NO. 64 TAHUN 2013: LAPORAN OPERASIONAL Pengguna laporan keuangan dapat menggunakan Laporan Operasional untuk : a. mengenai besarnya beban yang harus ditanggung oleh entitas untuk menjalan kapelayanan; b. mengenai operasi keuangan secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja entitas dalam hal efisiensi, efektivitas, dan kehematan perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi; c. yang berguna dalam memprediksi pendapatan-LO yang akan diterima untuk mendanai kegiatan entitas dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif; d. mengenai penurunan ekuitas (bila defisit operasional), dan peningkatan ekuitas (bila surplus operasional) FORMAT DASAR DARI SEBUAH LAPORAN OPERASIONAL FORMAT LO SKPD, LO PPKD, SERTA LO PEMERINTAH PROVINSI, DAN LO PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA YANG DIBERIKAN OLEH PERMENDAGRI NO. 64 TAHUN 2013: NERACA tampillan dalam format Taccount atau I-coloum FORMAT NERACA SKPD, NERACA PPKD, SERTA NERACA PEMERINTAH PROVINSI/ KABUPATEN/KOTA YANG DIBERIKAN OLEH PERMENDAGRI NO. 64 TAHUN 2013: LAPORAN PERUBAHAN SAL format Laporan Perubahan SAL yang diberikan oleh Permendagri No. 64 tahun 2013: LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS LAPORAN ARUS KAS Format dasar AKTIVITAS OPERASI Arus masuk kas Arus keluar kas AKTIVITAS INVESTASI Arus masuk kas Arus keluar kas AKTIVITAS PENDANAAN AKTIVITAS TRANSITORIS format Laporan Laporan Arus Kas yang diberikan oleh Permendagri No. 64 tahun 2013 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Catatan atas Laporan Keuangan setidaknya mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: a. Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi; b. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro; c. Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target; d. Informasi tentang dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya; e. Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan; f. Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan; dan g. Informasi lainnya yang diperlukan Hatur Nuhun

Judul: Siklus Akuntansi

Oleh: Statistik2 A

Ikuti kami