Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah "akuntansi Syariah"

Oleh Irma Fitriana

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah "akuntansi Syariah"

Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah
“Akuntansi Syariah”

Dosen Pengampu:
Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.

Disusun Oleh:
Irma Fitriana (C1F018012)

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2021

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala
berkat, rahmat, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
Akuntansi Syariah dengan judul “Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah”.
Tujuan pembuatan makalah ini ialah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Akuntansi Syariah dengan dosen pengampu yang bersangkutan. Selain itu
juga, makalah ini dibuat untuk menambah wawasan penulis mengenai sejarah serta
perkembangan akuntansi modern dan akuntansi syariah, beserta hubungan antar
keduanya.
Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi penulisan,
penyusunan, bahasa, maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati
penulis menerima kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan tugas
makalah ini agar penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.
Demikian, apabila ada kesalahan dan kekurangan penulis mohon maaf.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Muaro Jambi, 04 Maret 2021

Penulis

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2

Rumusan Masalah ........................................................................................ 1

1.3

Tujuan Penulisan ......................................................................................... 1

1.4

Manfaat Penulisan ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Sejarah dan perkembangan akuntansi .......................................................... 3

2.2

Perkembangan akuntansi syariah ................................................................. 7

2.3

Prosedur dan istilah dalam akuntansi syariah ............................................ 10

2.4

Hubungan antara akuntansi modern dan akuntansi syariah ....................... 11

BAB III PENUTUP
3.1

Kesimpulan ................................................................................................ 13

3.2

Saran .......................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 14

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuntansi merupakan ilmu yang sangat penting, karena konsep ilmiah itu sangat
bagus, terutama yang berkaitan dengan pengaturan keuangan. Tidak dapat
disangkal, kekuatan semacam ini merupakan elemen terpenting dalam persendian
kehidupan. Jika tidak ada uang, logika dunia akan sederhana. Padahal tujuan hidup
bukan hanya untuk uang. Apalagi saat ini, sistem barter sudah tidak dibutuhkan
lagi, karena semuanya bisa diukur dengan uang. Oleh karena itu, ketertiban
keuangan perlu dijaga dan dipelihara. Artinya, pengetahuan akuntansi juga perlu
diajarkan kepada semua orang. Apalagi bagi mahasiswa yang memang cenderung
berinteraksi langsung dengan sistem pengelolaan keuangan, serta masyarakat dan
pemilik bisnis.
Sejarah dan perkembangan akuntansi modern dan akuntansi syariah bisa
dikatakan sama tetapi juga berbeda. Namun diantara keduanya memiliki
keterkaitan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, beberapa rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini adalah:
a. Bagaimana sejarah dan perkembangan akuntansi?
b. Bagaimana perkembangan akuntansi syariah?
c. Apa prosedur dan isitilah dalam akuntansi syariah?
d. Bagaimana hubungan antara akuntansi modern dengan akuntansi
syariah?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk memahami sejarah dan perkembangan akuntansi.
b. Untuk memahami perkembangan akuntansi syariah.
c. Untuk mengetahui prosedur dan istilah dalam akuntansi syariah.
d. Untuk memahami hubungan antara akuntansi modern dengan akuntansi
syariah.

1

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini berdasarkan latar
belakang, rumusan masalah, dan tujuan penulisan adalah:
1. Kegunaan Teoritis
Dari makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengembangan Program
Studi Ekonomi Islam dalam bidang Akuntansi Syariah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat/Mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan acuan tentang
Islam dan syariah Islam.
b. Bagi UNJA, makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi
mahasiswa lain yang akan membuat karya ilmiah mengenai permasalahan
yang serupa.

2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan Akuntansi
Akuntansi telah mengalami perkembangan yang pesat, hingga saat ini, tidak
ada catatan yang dapat digunakan untuk menunjuk langsung kapan akuntansi mulai
dipraktikkan. Namun bisa diperkirakan bahwa akuntansi telah dipergunakan sejak
jaman pra masehi. Ada beberapa bukti empiris yang dapat digunakan untuk
dianalisa. Misalnya naskah-naskah yang ditemukan di dalam gua menunjukkan
bahwa manusia pada saat itu mengetahui hal tentang perhitungan dalam bentuknya
yang sederhana.
Berdasarkan sejarah perkembangan tersebut. Beberapa ahli mencoba
menjelaskan periode sejarah perkembangan akuntansi mulai dari bangsa Mesir
hingga Eropa. Periode Mesir dimulai pada 3000 SM sampai 1000 SM, sedangkan
periode Eropa dimulai pada abad ke 13 setelah masehi. Littleton menyatakan bahwa
perkembangan akuntansi dimulai dengan orang Mesir, Babilonia, Sumeria, Yunani,
Arab dan Roma. Berikut penjabaran singkat perkembangan akuntansi per periode:
a. Periode Mesir
Saat itu, pencatatan dilakukan oleh orang Mesir kuno, yang menggunakan
metode pencatatan untuk membantu mereka dalam bertransaksi di luar negeri.
Pencatatan dilakukan pada selembar kertas. Pada masa-masa awal orang mulai
mengenal uang, metode pencatatan keuangan ini semakin banyak. Data historis
tentang catatan atau pembukuan Arab dapat membuktikan hal ini. Singkatnya,
mereka menghitung untung rugi dengan menghitung barang yang dibawa saat
berangkat berlayar dan barang yang dikembalikan setelah berlayar. Oleh
karena itu, dengan kata lain untung rugi hanya dilakukan di akhir pelayaran.
Pada zaman Mesir, bukti sejarah menunjukkan bahwa gudang Mesir kuno
digunakan sebagai tempat penyimpanan barang berharga seperti emas,
gandum, permata, tekstil dan bahkan ternak, yang menunjukkan bahwa
transaksi telah tercatat. Menurut cerita ini dapat dilihat bahwa sistem
pencatatan telah ada sejak jaman dahulu kala.

3

b. Periode Babilonia
Menurut penelitian Ikhsan & Suprasto (2008), para ilmuwan membongkar
ribuan tablet tanah liat Babilonia. Ternyata hasil penelitian tersebut
membuktikan sistem pembukuan mereka. Dalam sistem pembukuannya,
pencatatan umum sebagian besar muncul dalam bentuk kwitansi tablet. Tablet
berisi keterangan informasi seperti: berapa jumlah uang dan barang diterima,
nama pemberi, nama penerima, dan tanggal terjadinya.
c. Periode China
Pemerintah China menggunakan akuntansi untuk mengevaluasi efisiensi
program dan pelaksana program tersebut. Pada masa Dinasti Chao (1122-256
SM) diketahui sebagai pencapaian akuntansi yang baik (Sueb & Wardini,
2014).
d. Periode Yunani
Pandangan terhadap akuntansi dalam sektor swasta ditawarkan dengan
penemuan di Mesir atas ”zenon papyri,” yang merupakan dokumen dari abad
ketiga sebelum masehi. Waktu Mesir sebagai provinsi Yunani, dibawah
kepemimipinan Alexander Agung, dokumen itu menghasilkan bukti bahwa
adanya akuntansi Yunani abad ke-4 sebelum masehi.
e. Periode Romawi
Periode ini, hanya ada sedikit bukti sejarah dari akuntansi. Catatan-catatan
telah diselamatkan, bersama dengan kesimpulan-kesimpulan yang berkaitan
dengan literatur. Ada sebuah memo atau buku harian yang dicatat atas
penerimaan dan pengeluaran, dan sebuah kode “a code accepti et expensi”,
sama dengan buku kas yang dimasukkan setiap bulannya dalam buku harian
tersebut (Ikhsan & Suprasto, 2008).
Periode Babilonia
3000 SM

2000 SM

Periode Mesir

Periode Yunani
1000 SM

1M

Feodalisme di Eropa
5M

13M

Periode Romawi

Pembangunan Piramida dan Sphinx : 2650 – 2500 SM

4

Masa Nabi Ibrahim : 2000 SM
Kode Hammurabi : 1750 SM
Masa Nabi Musa : 1400 SM
Sumber : Vernon Kam
Gambar 1. Periode Perkembangan Akuntansi
Dari gambar di atas, hilangnya periode peradaban Islam dalam sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan Barat, tampaknya berusaha menyembunyikan
kontribusi Islam bagi perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Barat. Tidak
bisa dipungkiri, kemajuan negara-negara Barat saat ini tidak lepas dari kontribusi
para cendekiawan Muslim. Nama-nama besar ilmuwan Muslim, seperti Abu Musa
Al-Khawarizmi dengan Algoritma, Al-Jabbar dengan matematika Algebra Ibn Sina
dengan Qanun fi Tibb, Ibn Rusyd, Al-Kindi dan Al-Faraby, Tentu saja, ilmuwan
Muslim lainnya tidak dapat dikesampingkan, Karena mereka adalah pemikir,
peneliti dan pencipta konsep dasar tertentu Ilmu dan teknologi modern yang
berkembang pesat sekarang.
Pada artikel yang ditulis oleh Herbert (dalam Harahap, 1997) menjelaskan
perkembangan akuntansi sebagai berikut:
Tahun 1775: pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single
entry maupun double-entry.
Tahun 1800: masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama
digunakan dalam perusahaan.
Tahun 1825: mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial auditing).
Tahun 1850: laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan yang
dianggap lebih penting.
Tahun 1900: tepatnya di negara Amerika Serikat mulai diperkenalkan sertifikasi
profesi yang dilakukan melalui ujian yang dilaksanakan secara nasional.
Tahun 1925: banyak perkembangan yang terjadi tahun ini, antara lain:


Mulai diperkenalkan teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk
perpajakan, akuntansi pemerintahan, serta pengawasan dana pemerintah;

5



Laporan keuangan mulai diseragamkan;



Norma pemeriksaaan akuntan juga mulai dirumuskan; dan



Sistem akuntansi yang manual beralih ke sistem EDP dengan mulai
dikenalkannya “punch card record”.

Tahun 1950 s/d 1975: Pada tahun ini banyak yang dapat dicatat dalam
perkembangan akuntansi, yaitu sebagai berikut.


Pada periode ini akunansi sudah menggunakan computer untuk pengolahan
data.



Sudah dilakukan Perumusan Prinsip Akuntansi (GAAP).



Analisis Cost Revenue semakin dikenal.



Jasa-jasa perpajakan seperti kunsultan pajak dan perencanaan pajak mulai
ditawarkan profesi akuntan.



Management accounting sebagai bidang akuntan yang khusus untuk
kepentingan manajemen mulai dikenal dan berkembang cepat.



Muncul jasa-jasa manajemen seperti sistem perencanaan dan pengawasan.



Perencanaan manajemen serta management auditing mulai diperkenalkan.

Tahun 1975: mulai periode ini akuntansi semakin berkembang dan meliputi
bidang-bidang lainnya, perkembangan itu antara lain:


Timbulnya management science yang mencakup analisis proses manajemen
dan

usaha-usaha

menemukan

dan

menyempurnakan

kekurangan-

kekurangannya;


Sistem informasi semakin canggih yang mencakup perkembangan modelmodel organisasi, perencanaan organisasi, teori pengambilan keputusan,
dan analisis cost benefit;



Metode permintaan yang menggunakan computer dalam teori cybernetics;



Total system review yang merupakan metode pemeriksaan efektif mulai
dikenal; dan



Social accounting manjadi isu yang membahas pencatatan setiap transaksi
perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat.

6

Jadi, akuntansi dikenal mulai periode Mesir hingga periode Romawi, namun
menurut Elbert sebagai ekonom, Ia berpendapat bahwa akuntansi dimulai tahun
1775, dimana pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single
entry maupun double-entry, hingga tahun 1975 dimana akuntansi semakin
berkembang.
2.2 Perkembangan Akuntansi Syariah
Sejarah lahirnya ilmu akuntansi syariah tidak terlepas dari perkembangan
Islam, kewajiban mencatat transaksi non tunai, mendorong umat islam peduli
terhadap pencatatan dan menimbulkan tradisi pencatatan di kalangan umat, dan hal
ini merupakan salah satu faktor yang mendorong kerjasama waktu itu.
Dalam literatur sejarah peradaban bangsa Arab, perhatian bangsa Arab sangat
besar terhadap perdagangan. Kerena itu, mereka telah menggunakan dasar-dasar
penggunaan akuntansi yang bertujuan untuk menghitung transaksi mereka serta
mengetahui perubahan-perubahan dari jumlah aset. Jadi konsep akuntansi waktu itu
dapat dilihat pada pembukuan yang berdasarkan metode penjumlahan statistik yang
sesuai dengan aturan penjumlahan.
Sejarah membuktikan bahwa Ilmu Akuntansi telah lama dipraktekkan dalam
dunia Islam, seperti istilah jurnal (dahulu zornal), telah lebih dahulu digunakan pada
zaman

khalifah

Islam

dengan

istilah “jaridah” untuk

buku

catatan

keuangan. Begitu juga dengan double entry yang ditulis oleh Luca Pacioli.
1) Sejarah Perkembangan Akuntansi di Zaman Nabi Muhammad SAW
Pada masa Rasulullah memimpin di Madinah, beliau mulai membersihkan
praktek keuangan atau kegiatan ekonomi dari unsur-unsur yang diharamkan
dalam syariat dan segala usaha untuk mengambil harta orang lain secara bhatil.
Rasulullah lebih menekankan pada pencatatan keuangan dan mendidik
beberapa orang sahabat untuk menangani profesi ini, mereka bisa disebut
sebagai hafazhatul amwal (pengawas keuangan). Praktik akuntansi dapat
dicermati pada pendirian baitulmaal oleh Rasulullah saw sekitar awal abad ke7. Pada masa itu, baitulmaal berfungsi untuk menampung dan mengelola
seluruh penerimaan negara, baik berupa zakat, ‘ushr (pajak pertanian dari
muslim), jizyah (pajak perlindungan dari nonmuslim yang tinggal di daerah
yang diduduki umat Muslim) serta kharaj (pajak hasil pertanian dari

7

nonmuslim). Semua pengeluaran untuk kepentingan Negara baru dapat
dikeluarkan setelah masuk dan dicatat di baitulmaal walaupun pengelolaannya
masih sederhana, namun Nabi SAW telah menunjuk petugas qadi, ditambah
para sekretaris dan pencatat administrasi pemerintahan. Mereka ini berjumlah
42 orang dan dibagi dalam empat bagian yaitu: sekretaris pernyataan, sekretaris
hubungan dan pencatatan tanah, sekretaris perjanjian dan sekretaris peperangan
(Nurhayati & Wasilah, 2009).
2) Abu Bakar Assidiq
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, dalam mengelola perekonomiannya
menerapkan konsep balance budget policy pada baitulmaal. Dalam Lembaga
baitulmaal, Abu bakar ash Siddiq juga mendistribusikan harta baitulmaal
dengan prinsip kesamarataan, sehingga meningkatkan agregat demand dan
agregat supply.
3) Umar bin Khattab
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sudah dikenalkan dengan istilah
“Diwan” yaitu tempat dimana pelaksana duduk, bekerja dan dimana akuntansi
dicatat dan disimpan, yang berfungsi untuk mengurusi pembayaran gaji.
Khalifah Umar menunjukkan bahwa akuntansi berkembang dari suatu lokasi
ke lokasi lain sebagai akibat dari hubungan antar masyarakat. Selain itu
baitulmaal sudah diputuskan di daerah-daerah taklukan islam.
4) Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah Utsman, beliau memperkenalkan tentang
istilah khittabat al-Rasull wa sirr yaitu berarti memelihara pencatatan rahasia.
Dalam hal pengawasan pelaksanaan agama dan moral lebih difokuskan kepada
muhtasib yaitu orang-orang yang bertanggungjawab atas lembaga al hisbah,
misalnya mengenai timbangan, kecurangan dalam penjualan, orang yang tidak
banyak hutang dan juga termasuk ke dalam perhitungan ibadah.
5) Ali Bin Abi Thalib
Pada masa pemerintahan Ali, sistem administrasi baitulmaal difokuskan
pada pusat dan lokal yang berjalan baik, surplus dibagikan secara profesional
sesuai dengan ketentuan Rasulullah SAW. Adanya surplus ini menunjukkan
bahwa proses pencatatan dan pelaporan berlangsung dengan baik. Khalifah Ali

8

memilki konsep tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalahmasalah yang berkaitan dengannya secara jelas.
Perkembangan akuntansi syariah juga telah memasuki wilayah Indonesia yang ditandai
dengan seringnya seminar, workshop, diskusi dan berbagai pelatihan yang membahas
berbagai kegiatan ekonomi dan akuntansi syariah, antara lain perbankan, asuransi,
pegadaian hingga pendidikan.

Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia menurut Wiroso (2011) adalah
sebagai berikut:
a. Periode sebelum tahun 2002
Meskipun Bank Muamalat telah beroperasi sejak tahun 1992, namun belum
diatur oleh PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) sampai dengan
tahun 2002. Oleh karena itu, walaupun tidak dapat digunakan sepenuhnya
selama periode tersebut, tetap mengutip PSAK 31 akuntansi bank terkait,
khususnya paragraf yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (seperti
perlakuan akuntansi atas kredit). Selain itu, juga mengacu pada Standar
Akuntansi dan Auditing untuk Lembaga Keuangan Islam, yang disusun oleh
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions
(lembaga otonom yang didirikan di Bahrain pada tanggal 27 Maret 1991). Elearning dapat digunakan untuk mempelajari informasi tentang perkembangan
lembaga keuangan syariah (baik bank maupun non bank). Perkembangan yang
diinformasikan terkait dengan jumlah perusahaan, total aset, dan nilai
pembiayaan yang dibayarkan.
b. Periode tahun 2002–2007
Selama periode ini telah terdapat PSAK 59 tentang akuntansi perbankan
syariah yang dapat digunakan sebagai acuan akuntansi bagi Bank Umum
Syariah, Bank Negara Syariah dan Cabang Syariah dalam lingkup PSAK.
c. Tahun 2007– sekarang
Selama periode ini, DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan)
menerbitkan PSAK Syariah, yang merupakan perubahan dari PSAK 59.
KDPPLKS (Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Laporan Keuangan
Syariah) dan PSAK Islam digunakan oleh badan Syariah dan badan hukum
tradisional. Entitas yang melakukan transaksi Syariah baik di sektor publik

9

maupun swasta. Oleh karena itu, di Indonesia selain PSAK Islam juga terdapat
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Konvergen IFRS, SAK
ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Tanpa Entitas yang Bertanggung Jawab
Publik) yang resmi dirilis pada 17 Juli 2009, Standar Akuntansi Pemerintahan,
dan Standar Akuntansi Keuangan (SAK-EMKM) untuk Entitas Mikro, Kecil,
dan Menengah.
Jadi, sejarah membuktikan bahwa Ilmu Akuntansi telah lama dipraktekkan
dalam dunia Islam, seperti istilah jurnal (dahulu zornal), telah lebih dahulu
digunakan pada zaman khalifah Islam dengan istilah “jaridah” untuk buku catatan
keuangan. Di Indonesia sendiri, akuntansi syariah mulai dikenal dari tahun 1992
saat bank syariah pertama didirikan, namun masih belum mempunyai regulasi yang
jelas. Seiring berjalannya waktu, regulasi mengenai akuntansi syariah di Indonesia
mulai ditegakkan dan diperkuat oleh pemerintah.
2.3 Prosedur dan Istilah dalam Akuntansi Syariah
Lasheen (1973, hlm. 163-165) mencatat beberapa prosedur pencatatan umum
yang diterapkan setelah abad kedua H (8 M), di antaranya pemerintah dan sektor
swasta negara-negara Islam mengembangkan dan menerapkan prosedur pencatatan
berikut:
1. Transaksi harus dicatat segera setelah terjadi
2. Transaksi

diklasifikasikan

menurut

sifatnya.

Ini

membutuhkan

pengelompokan setiap transaksi dari jenis yang sama dan sejenis ke dalam satu
akun dan satu catatan
3. Tanda terima dicatat di sebelah kanan, dan sumber penerimaan telah ditentukan
dan dipublikasikan
4. Catat pembayarannya dan tunjukkan jumlah yang cukup di sebelah kiri
5. Penjelasan rinci tentang catatan transaksi
6. Tidak ada ruang tersisa di antara dua transaksi. Jika karena alasan tertentu
masih ada ruang yang tersisa, garis harus dibuat pada ruang tersebut. Baris ini
disebut Attarkeen
7. Dilarang mengoreksi catatan transaksi dengan menulis ulang atau menghapus.
Jika Al-Kateb (akuntan) membuat kesalahan dalam perkiraan jumlah, dia harus
membayar selisihnya kepada Diwan.

10

8. Jika akun ditutup, tempatkan tanda tangan tertentu di buku untuk
mencerminkan pengungkapan akun
9. Setiap transaksi yang identik dicatat dalam buku induk, dan kemudian
diposting ke buku khusus yang disediakan untuk jenis transaksi tersebut
10. Setiap transaksi serupa diposting oleh seseorang yang tidak ada hubungannya
dengan pencatat dan pembukuan transaksi harian lainnya
11. Neraca yang disebut Al-Hasel (perbedaan antara kedua jumlah) harus ditarik
12. Harus menyiapkan laporan bulanan dan / atau tahunan
13. Pada setiap akhir tahun fiskal, Al-Kateb harus menyiapkan laporan yang
merinci semua komoditas dan dana di bawah otorisasi dan pengelolaannya
14. Laporan berkala yang dibuat oleh Al-Kateb akan direview (diaudit) dan
dibandingkan dengan laporan tahun sebelumnya dan laporan tersebut disimpan
di Diwan.
Adapun istilah-istilah yang terkait dengan prosedur ini adalah sebagai berikut:
a. Al-Jaridah adalah buku yang mencatat transaksi, dalam bahasa Arab untuk
surat kabar atau terbitan berkala
b. Daftar Al Yaumiyah (diary / Persia: Ruznamah)
c. Al-Ruznamadj atau diary, mencatat setiap hari
d. Al-Khatma adalah laporan pendapatan dan pengeluaran bulanan
e. Al-Khatma Al-Djami`a adalah laporan tahunan
f. Al-Taridj adalah catatan tambahan yang akan ditampilkan, kategori
keseluruhan
g. Al-Arida adalah 3 kolom jurnal, jumlah totalnya ada di kolom ketiga
h. Al-Bara`a adalah bukti pembayaran wajib pajak
i. Al-Muwafakawal-djama`a adalah akuntansi komprehensif yang disediakan
oleh amil.
2.4 Hubungan antara Akuntansi Modern dengan Akuntansi Syariah
Perkembangan ilmu pengetahuan termasuk masuknya sistem pencatatan ke
dalam periode daulah Abbasyiah , dan pada periode yang sama, Eropa berada dalam
periode "Abad Kegelapan". Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara Luca
Paciolli dengan akuntansi syariah.

11

Pada 1429, pemerintah Italia melarang penggunaan angka Arab, dan pada 1484
M, Pacchioli pergi menemui temannya Onforio Dini Florence, seorang pengusaha
yang suka bepergian ke Afrika Utara. Sehingga diduga Paciollli mendapat ide
double entry dari temannya. Alfred Lieber (1968) mendukung gagasan pengaruh
pedagang Arab di Italia. Pernyataan Luca Paciolli mendukung poin ini, bahwa
setiap transaksi harus dicatat dua kali pada pemberi pinjaman dan peminjam, atau
tulis pemberi pinjaman dan kemudian debit. Ini menimbulkan kecurigaan bahwa
Paciolli menerjemahkannya dari bahasa Arab yang ditulis di sebelah kanan.

12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Akuntansi dikenal mulai periode Mesir (pencatatan dilakukan oleh orang
Mesir kuno, yang menggunakan metode pencatatan untuk membantu mereka dalam
bertransaksi di luar negeri) hingga periode Romawi (ada sebuah memo atau buku
harian yang dicatat atas penerimaan dan pengeluaran). Sedangkan menurut Elbert
sebagai ekonom, Ia berpendapat bahwa akuntansi dimulai tahun 1775, dimana pada
tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single entry maupun doubleentry, hingga tahun 1975 dimana akuntansi semakin berkembang.
Perkembangan awal Islam dimulai di Madinah, karena Madinah tidak
memiliki pendapatan dan pengeluaran pada saat itu, dan negara tersebut melakukan
kegiatan koperasi. Pada abad ke-7, Nabi Muhammad SAW mendirikan baitulmaal
sebagai tempat wajib zakat dan ushr. Setelah Nabi Muhammad wafat, tahta khalifah
ditempati oleh sahabat Nabi, antara lain Abu Bakar Ashdiq, Umar bin Khatab,
Usman bin Afan, dan Ali bin A Than Thalib. Pada masa Khulafau Rasyidin,
perkembangan ekonomi Madinah sangat pesat, yaitu pembangunan negara dengan
pencatatan dan sistem akuntansinya yang baik tanpa meninggalkan pedoman
Rasullulah SAW.
Akuntansi modern dan akuntansi Islam memiliki hubungan sebagai akibat
interaksi antara Luca Paciolli dan pedagang Arab yang menimbulkan dugaan
mengenai konsep double entry. Paciolli menggunakan sertifikat dan terminologi
yang sama dengan para pedagang Arab.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa masih banyaknya kekurangan dalam penulisan
makalah ini dan minimnya pengetahuan penulis tentang pembahasan ini. Oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan untuk
perbaikan kedepannya.

13

DAFTAR PUSTAKA

Khadaffi, M., Siregar, S dkk. (2017). Akuntansi Syariah. Sumatera Utara:
Madinatera.
Mental Kaya, “ Sejarah Akuntansi Syariah di Dunia”. Diakses pada 04 Maret 2021,
pukul 16.04 pada https://www.mentalkaya.com/akuntansi-syariah/.
Miftahuddin, “Sejarah Awal Perkembangan Ilmu Akuntansi”. Diakses pada 04
Maret

2021,

pukul

16.16

pada

http://ilmu-

iqtishoduna.blogspot.com/2015/07/sejarah-awal-perkembangan-ilmuakuntansi.html.
Nurhayati, S. (2009). Akuntansi syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Omar Abdullah Zaid, “Prosedur dan Sistem Akuntansi Pada Masa Awal
Pemerintahan Islam”. Diakses pada 07 Maret 2021, pukul 07.10 WIB pada
https://duniaislamnet.wordpress.com/ekonomi-islam/prosedur-dan-sistemakuntansi-pada-masa-awal-pemerintahan-islam/.
Sugi Priharto, “Mengetahui Sejarah Akuntansi di Dunia dan Indonesia secara
Lengkap”.

Diakses

pada

04

Maret

2021,

pukul

16.24

pada

https://accurate.id/akuntansi/mengetahui-sejarah-akuntansi-lengkap/.

14

Judul: Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah "akuntansi Syariah"

Oleh: Irma Fitriana


Ikuti kami