Rekonstruksi Paradigma Bisnis Dan Akuntansi: Menuju Akuntansi Berkelanjutan

Oleh Andreas Lako

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Rekonstruksi Paradigma Bisnis Dan Akuntansi: Menuju Akuntansi Berkelanjutan

REKONS
R
STRUKS
SI PARA
ADIGMA
A BISNIS
S DAN A
AKUNTA
ANSI:
MENUJJU AKUN
NTANSI BERKE
ELANJUT
TAN

Pid
dato Pengu
ukuhan Ja
abatan Guru Besar
Dalam Ilmu A
Akuntansi
Pada Fakulta
as Ekonom
mi Univers
sitas Katolik Soegija
apranata
Sem
marang, 28
8 Mei 2011

Oleh:
Proff. Dr. Andrreas Lako

1

DAFTAR ISI
PENGANTAR
BAGIAN I
Pidato Pengukuhan Guru Besar
BAGIAN II
Curiculum Vitae
BAGIAN III
Kesan Keluarga, Guru dan Sahabat
BAGIAN IV
Sekilas Perjalanan Hidup Andreas Lako
BAGIAN V
Refleksi Iman

2

KATA PENGANTAR

Para hadirin yang saya muliakan. Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Yang
Maha Pengasih karena hanya atas kasih dan tuntutan-Nya penulisan naskah Pidato
Pengukuhan Guru Besar ini bisa diselesaikan dengan baik.
Berbeda dengan naskah-naskah pidato guru besar pada umumnya, dalam buku ini saya
berupaya berinovasi dengan menyajikan materi-materi lain yang relevan. Di antaranya
adalah kesan dari orang-orang yang pernah mengenal saya secara dekat dan sekilas
riwayat perjalanan hidup saya. Tujuannya, agar para hadirin bisa mengenal pribadi dan
perjalanan hidup saya secara lebih utuh.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan,
mendukung dan membantu saya dalam proses penulisan hingga penerbitan buku
pidato pengukuhan ini. Kepada kakak Aegidius Naru, pak John Sugianto, pak Hudi
Parwoto dan Prof. Vincent Didiek serta para sahabat semasa sekolah yaitu Paskalis
Baut, David Sukodrat, dan Eko Nugroho yang sudah berkenan memberi kesankesannya, saya ucapkan terima kasih.
Buku ini tentu tidak luput dari kekurangan yang tidak disengaja. Karena itu, apabila
ditemukan ada kekurangan, saya mohon dimaklumi. Semoga buku ini bermanfat bagi
Bapak, Ibu dan Saudara/i sekalian yang terkasih.

Semarang, 28 Mei 2011

Andreas Lako

3

BAGIAN I
PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR

Yang terhormat:
Mgr. Dr. Johanes Pujosumarto, Pr., Uskup Keuskupan Agung Semarang
Ketua dan Pengurus Yayasan Sanjojo
Rektor/Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Unika Soegijapranata
Para Guru Besar
Bapak Prof. Mustafid, M.Eng. Ph.D., Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah
Bapak Letjend. (Purn) Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah
Drs. Soemarmo H.S., M.Si., Walikota Semarang
Prof. Dr. Mohammad Nasir, M.Si, Ketua Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen
Akuntan Pendidik (IAI KAPd)
ara pejabat pemerintah, TNI, Polri dan swasta
Para Rektor dan pimpinan perguruan tinggi
Para Wakil Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Lembaga, Ketua Unit, Dosen,
Karyawan, perwakilan lembaga mahasiswa dan alumni dalam lingkungan Unika
Soegijapranata
Para tamu undangan dan handai taulan yang saya muliakan.

Puji dan sujud syukur saya panjatkan kepada Allah yang Maha Pengasih karena hanya
atas kasih, karunia, dan tuntunan-Nya saya bisa mencapai jenjang tertinggi dalam karir
akademik sebagai Guru Besar dan hari ini diperkenankan menyampaikan pidato
pengukuhan di hadapan Rapat Senat Terbuka Unika Soegijapranata dan hadirin yang
mulia. Berkat tuntunan-Nya pula kita semua dipertemukan di dalam ruang ini dalam
keadaan sehat-walafiat. Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan
pidato pengukuhan berjudul:

REKONSTRUKSI PARADIGMA BISNIS DAN AKUNTANSI: MENUJU
AKUNTANSI BERKELANJUTAN
4

Hadirin yang saya muliakan…

REKONSTRUKSI KONSEPSI TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN
LINGKUNGAN

Sejak DPR mengesahkan Undang-Undang No.40 Tahun 2007 Tentang
Perseroan Terbatas (UUPT) pada Juli 2007, isu tanggung jawab sosial dan lingkungan
(TJSL) atau yang lebih popular disebut corporate social responsibility (CSR)
bagaikan bola liar yang terus menggelinding dan menjadi sumber polemik antara
kalangan pelaku usaha dengan pemerintah dan DPR. Pro-kontra terkait TJSL sebagai
kewajiban perseroan hingga kini belum juga usai.
Tabel 1
Pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(1)

Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan sumber daya alam wajib melaksanakan
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

(2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang
dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan
dan kewajaran.
(3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Paling tidak, ada tiga alasan mengapa pelaku usaha bersikeras menolak TJSL
dijadikan sebagai kewajiban perseroan. Pertama, praktik TJSL di dunia umumnya
bersifat sukarela sehingga sangatlah aneh apabila Indonesia menjadikannya sebagai
kewajiban perseroan. Kedua, menjadikan TJSL sebagai kewajiban akan kian
membebani perseroan dan mengurangi porsi laba untuk pemegang saham. Ketiga,
mewajibkan pelaksanaan TJSL bisa menganggu iklim investasi sehingga bisa
menyebabkan para investor Indonesia dan asing hengkang dan merelokasikan
investasinya ke negara-negara lain.

5

Namun di sisi lain, pemerintah tetap tidak bergeming menghadapi penolakan
itu. Pemerintah bersikeras TJSL harus tetap jadi kewajiban perseroan. Alasannya,
perseroan dalam melakukan aktivitas bisnis dan mengeruk keuntungan telah
menimbulkan banyak dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Kian meningkatnya jumlah penduduk miskin, kerusakan lingkungan dan bencana alam
akibat ulah manusia ditengarai karena dipicu ulah perilaku bisnis yang tidak etis dan
tidak ramah sosial dan lingkungan. Sementara itu, manfaat yang diterima negara dari
perseroan dalam bentuk pajak dan royalti, suplai barang, lapangan kerja dan lainnya
jauh lebih kecil dibanding pengorbanan negara untuk mengatasi dan merehabilitasi
masalah-masalah sosial dan lingkungan yang kian kompleks.
Pertanyaannya, siapakah yang benar dalam polemik tersebut? DPR dan
pemerintah ataukah kalangan pelaku bisnis?
Saya berpendapat, kedua pihak sama-sama keliru. Mencermati dinamika polemik
yang berkembang sejak Juli 2007 hingga saat ini, saya menyimpulkan bahwa kedua
pihak telah salah kaprah dalam memahami hakikat dan manfaat TJSL. Konsepsi TJSL
dalam UUPT Tahun 2007 juga mengandung salah kaprah yang serius (Lako, 2007b).
Dimana letak salah kaprahnya? Pertama, pemerintah dan DPR mengkonsepsikan
secara sempit, diskriminatif dan ambigu hakikat TJSL. Kedua, pelaku usaha
memahami secara sempit hakikat dan manfaat TJSL sebagai beban periodik yang
membebani perseroan dan merugikan pemilik.
Berkenaan dengan salah kaprah pertama, saya mencermati ada dua salah kaprah
serius. Pertama, pasal 74 ayat (1) menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan
kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan sumber daya alam wajib
melaksanakan TJSL. Ayat tersebut diskriminatif karena bertentangan dengan esensi
dan hakikat TJSL (CSR) yang dipahami secara internasional.
Menurut The World Bank Group (2001) dan The World Business Council for
Sustainable Development (2004), CSR adalah suatu komitmen berkelanjutan dari
dunia usaha untuk berperilaku secara etis dan mendukung pembangunan berkelanjutan
bekerjasama dengan karyawan dan perwakilannya, familinya, masyarakat dan
komunitas lokal umumnya untuk memperbarui kualitas hidup, dengan cara-cara yang
baik. CSR juga bermakna sebagai suatu komitmen korporasi untuk berkontribusi
dalam pembangunan ekonomi secara berkesinambungan dengan menyelaraskan
pencapaian kinerja ekonomi dengan kinerja sosial dan lingkungan dalam operasi
bisnisnya.

6

Dari definisi tersebut, tampak jelas bahwa semua korporasi atau perusahaan1,
tanpa kecuali, harus memiliki komitmen berkelanjutan untuk mengintegrasikan dan
melaksanakan TJSL. Tujuannya, agar korporasi, masyarakat (termasuk karyawan atau
buruh, konsumen, komunitas lokal, suplier, komunitas investor, kreditor dan lainnya)
dan lingkungan bisa hidup berdampingan secara damai dan berkelanjutan. Selain itu,
keberadaan suatu korporasi tidak hanya semata-mata sebagai institusi ekonomi yang
mencari laba tapi juga sebagai institusi sosial dan bagian dari ekosistem setempat.
Karena itu, korporasi harus menjaga keselarasan pencapaian tujuan ekonomi dengan
pencapaian tujuan sosial dan lingkungan.
Kedua, Pasal 74 ayat (2) menyatakan bahwa TJSL sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan
sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan
kepatutan dan kewajaran.
Sepintas, ayat itu mengisyaratkan TJSL akan menjadi beban periodik perseroan
dan berpotensi mengurangi setoran pajak kepada negara. Namun, apabila dikaji lebih
mendalam, ayat tersebut justru mengisyaratkan bahwa beban masyarakat konsumen
akan kian bertambah. Penyebabnya, perseroan akan memperhitungkan alokasi
anggaran biaya TJSL ke dalam komponen penentuan harga jual produknya. Dengan
kata lain, meski pada awalnya biaya TJSL menjadi beban perseroan namun pada
akhirnya beban tersebut akan digeser menjadi beban konsumen.
Selain itu, ayat (2) juga mengandung bias makna karena mensyaratkan kepatutan
dan kewajaran dalam perhitungan anggaran biaya TJSL. Karena batasan kepatutan dan
kewajaran bersifat subyektif, ayat ini bisa menimbulkan konflik kepentingan yang
tidak kunjung akhir antara perseroan, masyarakat dan pemerintah.
Berkenaan dengan salah kaprah kedua, yaitu TJSL dipahami secara sempit oleh
pelaku bisnis sebagai beban periodik yang merugikan perseroan dan pemegang saham,
saya menilai pemahaman tersebut juga keliru. Memang, dari perspektif biaya (costbased approach), pemahaman tersebut bisa dimaklumi karena jika TJSL menjadi
kewajiban periodik maka beban perseroan bakal meningkat. Dampaknya, laba bersih
dan dividen yang diterima pemegang saham akan menurun.
Namun, pemahaman tersebut mencerminkan pelaku usaha di Indonesia masih
terbelenggu oleh paradigma bisnis konservatif, yaitu shareholder-based approach dari
aliran ekonomi neoliberal. Paradigma ini mengagungkan pencapaian laba yang
sebesar-besarnya (proft maximization) dan minimalisasi biaya sebagai tolok ukur
prestasi perusahaan. Paradigma shareholder-based business tercermin dalam
1

Karena makna korporasi dan perusahaan hampir sama maka dalam pidato ini kata “korporasi” atau
“perusahaan” sering digunakan secara bergantian.

7

pernyataan Milton Friedman (peraih Hadiah Nobel Ekonomi Tahun 1976) berikut ini:
“There is one and only one social responsibility in business, to use its resources and
engage in activities designed to increase its profits as long as it stays within the rules
of the game, which is to say, engages in open and free competition, without deception
or fraud (1970)2.”
Dalam pandangan Friedman, tanggung jawab sosial bisnis adalah meningkatkan
laba. Dengan laba yang maksimal, korporasi sebagai the good citizen bisa menyetor
pajak dalam jumlah yang meningkat kepada negara. Sementara urusan terkait isu-isu
sosial dan lingkungan adalah tanggung jawab pemerintah. Pemerintahlah yang harus
mengalokasikan dana pajak dari korporasi untuk mengurusi kesejahteraan sosial dan
kelestarian lingkungan karena hal tersebut merupakan tanggung jawab sosial
pemerintah. Andaikan korporasi membantu, itu bersifat sukarela. Mewajibkan
korporasi menjalankan CSR melanggar hak asasi manusia (HAM) dari PARA
pemegang saham karena mengambil uang yang seharusnya menjadi hak mereka.
Pada era 1960an hingga 1990an banyak negara, termasuk Indonesia, mengadopsi
pemikiran Friedman tersebut dalam pengembangan model pembangunan ekonomi
dan bisnis. Namun seiring dengan meningkatnya eskalasi krisis sosial dan lingkungan
yang berdampak negatif pada kinerja bisnis dan keberlanjutan korporasi, pemikiran
Friedman tersebut mulai disanggah dan ditinggalkan.
Berkembangnya teori stakeholder pada awal 1990an yang menekankan bahwa
korporasi perlu menjalin relasi yang harmonis dengan para pihak atau individu yang
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan korporasi (Freeman, 1984;
Caroll, 1993: Bartens, 2000) menyadarkan pelaku bisnis bahwa kepedulian kepada
para stakeholder3 sangat penting. Kepedulian dan tanggung jawab untuk memelihara
keharmonisan relasi tersebut merupakan strategi jitu korporasi untuk membangun
keberlanjutan bisnis (Weather dan Chandler, 2011; Benn dan Bolton, 2011).
Selain itu, pemikiran Friedman juga makin tersisih setelah munculnya teori triple
bottom-line business yang digagas John Elkington (1993, 1997; 2001). Dengan
menganalogikan relasi antara bisnis (profit) dengan masyarakat (people) dan
lingkungan (planet) dalam suatu segitiga, Elkington menempatkan lingkungan sebagai
2

Dimuat dalam banyak buku etika bisnis (misalnya Bartens, 2000; Boatright, 2007), tanggung jawab
korporasi (misalnya Benn dan Bolton, 2011; Werther Jr. dan Chandler, 2011), bisnis dan masyarakat
(misalnya Carroll, 1993, Lawrence dan Weber, 2008; Steiner dan Steiner, 2009), teori akuntansi
(Deegan, 2003), dan lainnya.
3

Para stakeholder meliputi: 1) stakeholder organisasional yaitu para karyawan, manajer dan serikat
pekerja, 2) stakeholder ekonomi yaitu konsumen/pelanggan, pemasok, kreditor, distributor dan pesaing,
dan 3) stakeholder sosial (societal stakeholders) meliputi pemerintah/regulator, institusi nirlaba,
lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas masyarakat sekitar dan lingkungan (Weather dan
Chnadler, 2011).

8

pilar utama dari bisnis disusul masyarakat sebagai pilar kedua. Menurut Elkington,
apabila perilaku bisnis tidak ramah terhadap lingkungan dan masyarakat yang menjadi
bottom-line bisnis atau apabila masyarakat dan lingkungan mengalami krisis atau
terdegradasi maka laba dan keberlanjutan bisnis akan menghadapi masalah serius.
Karena itu, korporasi perlu memadukan pencapaian tujuan ekonomi dengan tujuan
sosial dan lingkungan (triple bottom-line performance) untuk mempertahankan
keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Dalam analisis Elkington, “ideologi” bisnis yang hanya mengutamakan
pencapaian laba telah melahirkan banyak “korporasi ulat (caterpillars corporation)”
dan “korporasi belalang (locusts corporation)” yang gemar mengeksploitasi dan
merusak lingkungan, serta menimbulkan dampak-dampak degeneratif bagi masyarakat
dan lingkungan. Banyak korporasi yang berperilaku tidak etis akhirnya tidak bertahan
lama kelangsungan bisnisnya. Menurut Elkington, apabila menginginkan bisnisnya
bisa bertumbuh secara berkelanjutan maka para CEO harus menjadikan korporasi
mereka sebagai “korporasi kupu-kupu (butterflies corporation)” atau “korporasi lebah
madu (honeybees corporation).” Perilaku bisnis dari dua jenis korporasi tersebut
memberikan dampak regeneratif kepada masyarakat dan lingkungan dan menghasil
return berkelanjutan kepada korporasi.
Pemikiran Elkington tersebut mendapat luas dari didukung banyak kalangan
(Benn dan Bolton, 2011). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mendukungnya
dengan menginisiasi pembentukan Global Reporting Inisiatives (GRI) pada 1999 dan
Global Compact pada 2001. Dalam satu dekade terakhir, kepedulian pelaku bisnis,
pemerintah, lembaga-lembaga internasional dan korporasi global maupun nasional
terhadap isu-isu TJSL atau CSR juga semakin besar. Hal ini menunjukkan bahwa
gagasan ”triple bottom-line business” Elkington adalah logis dan bermanfaat untuk
keberlanjutan korporasi dalam jangka panjang.
Berdasarkan paparan di atas maka konsepsi Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan Perusahaan (TJSLP) perlu direkonstruksi atau ditata kembali. Saya juga
mengusulkan agar pemahaman konsepsi TJSL yang selama ini sering disamakan
dengan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) atau corporate social
responsibility (CSR) perlu direkonstruksi ulang. Meskipun maknanya hampir sama,
namun esensi, fokus dan implikasi implementasinya berbeda.
Secara konseptual, esensi dan fokus dari TJSLP atau corporate environment
and social responsibility (CESR) lebih luas dari TJSP (CSR). Dalam TJSLP, selain
memfokuskan sumberdayanya untuk mendapatkan laba, korporasi juga harus memberi
perhatian dan komitmen yang sama besarnya pada isu-isu sosial (people) dan
lingkungan (planet). Sedangkan pada TJSP (CSR), fokus sumberdaya dan energi
perusahaan selain ditujukan untuk mendapatkan laba juga ditujukan untuk mengatasi
isu-isu sosial sementara isu-isu lingkungan hanya bersifat pelengkap. Pada konsepsi
9

CSR, ada kecenderungan persepsi para pelaku bisnis lebih tertuju pada isu-isu sosial
daripada isu lingkungan.
Hal tersebut bisa tercermin dari hasil analisis Dahlsrud (2006) terhadap 37
definisi CSR. Hasil analisisnya menunjukkan ada lima komponen dalam definisi
CSR, yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, pemangku kepentingan (stakeholders) dan
voluntarisme. Hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa pemangku kepentingan
dan sosial menduduki peringkat teratas dengan rasio 88%, disusul ekonomi (86%),
voluntarisme (80%) dan lingkungan (59%).
Dari hasil tersebut terlihat komponen lingkungan sebagai bagian integral dari
CSR mendapat porsi yang paling kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa bias S (social)
dalam CSR ternyata menyebabkan para perumus konsep CSR tidak secara tegas
memasukkan unsur lingkungan di dalam definisinya. Bias tersebut diyakini juga
mempengaruhi persepsi atau bias pelaku bisnis dalam perumusan konsep, visi, misi,
tujuan, sasaran, program-program dan agenda aksi CSR. Dari sejumlah literatur CSR
(Carroll, 1993, Post, et. al., 1996: Lawrence dan Weber, 2008; Kottler dan Lee,
2005;Steiner dan Steiner, 2009;Werther, Jr dan Chandler, 2010; Price, 2011; Benn dan
Bolton, 2011), kebanyakan praktik CSR di dunia lebih memfokuskan pada aspek
stakeholders dan sosial serta ekonomi dan volunterime dibanding aspek lingkungan.
Kecenderungan tersebut juga terjadi pada kebanyakan perusahaan di Indonesia.
Karena itu, saya mengusulkan agar konsep “Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan Perusahaan (TJSLP)” digunakan sebagai terminologi dalam membahas
isu tanggung jawab perusahaan. Tujuannya adalah agar tidak terjadi bias makna dan
fokus ketika membahas dan melaksanakan tanggung jawab perusahaan.
Saya mengusulkan agar TJSLP didefinisikan sebagai komitmen berkelanjutan
dari suatu perusahaan untuk bertanggung jawab secara ekonomik, legal, etis dan
sukarela terhadap dampak-dampak dari aktivitas ekonominya terhadap komunitas
masyarakat dan lingkungan serta proaktif melakukan upaya-upaya berkelanjutan untuk
mencegah potensi-potensi dampak negatif atau risiko aktivitas ekonomi korporasi
terhadap masyarakat dan lingkungan serta meningkatkan kualitas sosial dan
lingkungan yang menjadi stakeholder-nya.
Definisi tersebut berimplikasi bahwa TJSLP tidak hanya terbatas pada tanggung
jawab yang bersifat reaktif, yaitu karena perusahaan telah menimbulkan dampakdampak negatif. Tapi, juga bertanggung jawab secara proaktif dan interaktif yaitu
merumuskan program-program dan upaya-upaya berkesinambungan untuk mencegah
dampak-dampak negatif atau risiko aktivitas ekonomi terhadap masyarakat dan
lingkungan serta meningkatkan kualitas sosial dan lingkungan yang menjadi
stakeholder-nya. Tanggung jawab tersebut juga mencakup penyajian dan
pengungkapan informasi TJSLP secara jujur, transparan, kredibel dan akuntabel
kepada para stakeholder untuk pengambilan keputusan.
10

Hadirin yang saya muliakan…

URGENSI REFORMASI PARADIGMA BISNIS

Rekonstruksi konsepsi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan
(TJSLP) bakal sia-sia hasilnya apabila tidak dibarengi dengan reformasi paradigma
bisnis. Masih banyaknya pelaku bisnis yang menolak konsepsi TJSL sebagai
kewajiban perseroan dengan alasan-alasan yang pragmatis menunjukkan bahwa
paradigma bisnis dari pelaku bisnis di Tanah Air masih konservatif. TJSL selalu
dikaitkan dengan beban dan untung-rugi jangka pendek.
Dalam sejumlah tulisan di sejumlah media massa (lihat Lako, 2011), saya telah
menekankan perlunya pelaku bisnis mengkaji ulang fokus dan orientasi bisnis yang
selama ini tertuju untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya (profit
maximization). Fokus tersebut telah memacu pelaku bisnis melakukan eksploitasi
terhadap para stakeholder, masyarakat dan lingkungan. Eksploitasi itu menyebabkan
terus meningkatnya eskalasi masalah-masalah sosial, kerusakan lingkungan dan
bencana alam. Dalam banyak kasus, eksploitasi itu justru menjadi bumerang yang
merugikan perusahaan sendiri. Banyak perusahaan akhirnya ditutup, bangkrut atau
memburuk kinerjanya akibat penolakan masyarakat dan tuntutan pemerintah. Atau,
karena tidak lagi mendapat sokongan dari pemodal atau kreditor karena tingginya
potensi risiko bisnis akibat lemahnya kepedulian kepada masyarakat dan lingkungan.
Karena itu, reformasi paradigma bisnis oleh pelaku bisnis dalam mensikapi krisis
dan isu-isu sosial dan lingkungan menjadi agenda mendesak. Pebisnis harus
menyadari bahwa bisnis adalah bagian dari masalah atau penyebab krisis sosial dan
lingkungan. Selain itu, pebisnis juga harus segera menyadari bahwa eskalasi krisis
sosial dan lingkungan berpotensi besar mengganggu keberlanjutan perusahaan dan
bisnisnya. Karena itu, pelaku bisnis perlu mengambil langkah-langkah konkrit secara
berkelanjutan untuk mengatasi dan mencegahnya dengan menciptakan programprogram TJSLP yang relevan, terarah, dan efektif hasilnya.
Dalam konteks reformasi paradigma bisnis, pelaku bisnis mesti menyadari
bahwa TJSLP merupakan kewajiban asasi korporasi yang tidak boleh dihindari. Dasar
argumentasinya adalah teori Akuntabilitas Korporasi (Corporate Accountability).
Menurut teori ini, korporasi mesti bertanggung jawab atas semua konsekuensi yang
ditimbulkanya, baik sengaja maupun tidak sengaja, terhadap stakeholder intinya
(misalnya pemegang saham, kreditor, pelanggan, pemasok, pemerintah dan karyawan)
maupun terhadap masyarakat dan lingkungan dimana korporasi beroperasi. Tujuan
11

akhirnya adalah untuk menjaga keberberlanjutan bisnis itu sendiri (Deegan, 2003;
Delaportas et al., 2005; Benn dan Bolton, 2011).
Secara khusus, teori tersebut menyatakan TJSL tidak hanya sekadar aktivitas
kedermawan (charity) atau aktivitas saling mengasihi (stewardship) yang bersifat
sukarela. TJSL juga harus dipahami sebagai suatu kewajiban asasi yang melekat dan
menjadi “roh kehidupan” dalam sistem dan praktik bisnis. Alasannya, TJSL
merupakan konsekuensi logis dari adanya hak asasi yang diberikan negara kepada
korporasi untuk hidup dan berkembang dalam suatu area lingkungan. Jika tidak ada
keselarasan antara hak dan kewajiban asasi maka dalam area tersebut akan hidup dua
pihak, yaitu gainers (korporasi) dan losers yaitu masyarakat (Dellaportas et al., 2005;
Benn dan Bolton, 2011). Dengan demikian, dari perspektif teori corporate
accountibility, TJSLP merupakan suatu kewajiban yang hakiki korporasi.
Teori-teori lain juga menekankan pentingnya perusahaan peduli dan
melaksanakan TJSL secara tepat, serius dan konsisten. Paling sedikit, ada lima basis
teoritis yang memiliki perspektif yang sama dengan teori akuntabilitas korporasi
(Deegan, 2003; Delaportas et. al., 2005; Boatright, 2007; Lako, 2008 & 2011).
Pertama, teori stakeholder. Teori ini menyatakan bahwa kesuksesan dan hidupmatinya suatu perusahaan sangat tergantung pada kemampuannya menyeimbangkan
beragam kepentingan dari para stakeholder. Jika mampu, perusahaan bakal meraih
dukungan yang berkelanjutan dan menikmati pertumbuhan pangsa pasar, penjualan
dan laba secara berkelanjutan pula. Dalam perspektif teori stakeholder, masyarakat
dan lingkungan juga merupakan stakeholder perusahaan yang mesti diperhatikan.
Kedua, teori legitimasi (legitimacy theory). Dalam perspektif teori legitimasi,
korporasi dan komunitas masyarakat sekitarnya memiliki relasi sosial yang erat
karena keduanya terikat dalam suatu “social contract”. Teori social contract
menyatakan bahwa keberadaan suatu perusahaan dalam suatu area karena didukung
secara politis dan dijamin oleh regulasi pemerintah dan parlemen yang juga
merupakan representasi dari masyarakat. Dengan demikian, ada kontrak sosial secara
tidak langsung antara korporasi dengan masyarakat. Masyarakat memberi costs dan
benefits untuk keberlanjutan suatu korporasi sehingga kewajiban korporasi adalah
mengembalikannya dalam bentuk TJSL. Karena itu, TJSL merupakan suatu kewajiban
asasi korporasi, bukan bersifat sukarela.
Ketiga, teori sustainabilitas korporasi (corporate sustainability). Menurut teori
ini, untuk bisa hidup dan tumbuh secara berkelanjutan, korporasi mesti
mengintengrasikan tujuan bisnisnya dengan tujuan sosial dan tujuan ekologi secara
utuh. Pembangunan bisnis harus berfondasikan pada tiga pilar utama yaitu ekonomi,
sosial dan lingkungan secara terpadu, dan tidak mengorbankan kepentingan generasigenerasi berikutnya untuk hidup dan memenuhi kebutuhan mereka (WCED, 1987).
Dalam perspektif teori corporate sustainability, masyarakat dan lingkungan adalah
pilar dasar yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan suatu bisnis. Karena itu,
12

TJSL menjadi suatu keharusan sekaligus kebutuhan hakiki korporasi.
Keempat, teori political economy. Menurut teori ini, perusahaan didirikan untuk
berperan sebagai alat negara untuk mewujudkan tujuan memajukan ekonomi dan
kesejahteraan sosial, mencerdaskan bangsa dan lainnya. Karena itu, domain tujuan dan
transaksi-trasaksi ekonomi korporasi tidak dapat diisolasikan dari masyarakat dan
lingkungan. Karena itu, perusahaan wajib memperhatikan dan melaksanakan TJSL.
Kelima, teori keadilan (justice theory). Menurut teori ini, dalam sistem kapitalis
pasar bebas, laba/rugi mencerminkan ketidakadilan antarpihak. Jika korporasi
menikmati keuntungan atau laba maka ada pihak-pihak yang lain yang telah berkorban
atau dikorbankan untuk meraih laba tersebut. Sebaliknya, jika korporasi menderita
kerugian maka ada pihak-pihak lain yang mengeruk keuntungannya. Karena itu,
perusahaan harus adil terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya yang sudah
turut menanggung dampak-dampak eksternalitas dari aktivitas ekonomi perusahaan
melalui program-program TJSLP.
Merujuk pada perspektif teoritis di atas maka TJSLP merupakan suatu keharusan
untuk keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, TJSLP harus dijadikan
sebagai kebutuhan hakiki yang terinternalisasi dalam sistem manajemen dan praktik
bisnis serta budaya korporasi (Lako, 2011). Kebutuhan untuk menjadikan TJSLP
sebagai kebutuhan hakiki dirasakan kian penting mendesak. Mengapa?
Pertama, karena dunia bisnis sedang dan akan terus menghadapi tekanan
eksternal agar peduli pada TJSL. Tekanan tersebut berasal dari pelaku pasar (market
forces), khususnya investor dan kreditor, yang kian sensitif terhadap isu-isu sosial dan
lingkungan karena terkait dengan risiko dan prospek investasi atau kredit yang mereka
berikan. Selain itu, lembaga-lembaga internasional, seperti PBB, Bank Dunia,
IMF,Uni Eropa dan lainnya, juga kian gencar mengampanyekan internalisasi TJSL
dalam kebijakan dan praktik bisnis. Munculnya Global Compact (2001) yang berisi 10
prinsip dasar etika korporasi global, Global Reporting Inisiative (1997, 2006) yang
menginisiasi model pelaporan dan pengungkapan informasi keuangan,sosial dan
lingkungan secara terintegrasi, dan ISO 26000 (2010) yang mengatur tentang CSR
menunjukkan bahwa TJSL sudah menjadi isu krusial bisnis yang mesti disikapi
pelaku bisnis di Tanah Air.
Kedua, karena pemerintah dan legislatif diperkirakan bakal terus menerbitkan
regulasi yang memaksa perusahaan untuk melaksanakan TJSL (regulatory forces). Hal
ini disebabkan karena kian kompleksnya isu-isu sosial dan lingkungan dan negara
kesulitan dalam menanggulangi isu-isu tersebut sendirian akibat keterbatasan dalam
sumberdaya ekonomi, energi dan kapasitas sumberdaya manusia.
Dengan demikian, pebisnis perlu segera mereformasi paradigma bisnisnya yang
cenderung konservatif ke arah yang lebih progresif dan proaktif terhadap isu-isu
TJSL. TJSLP mesti diperlakukan sebagai investasi strategis untuk membangun
13

keberlanjutan dan kenyaman bisnis serta pertumbuhan laba secara berkelanjutan.
Karena itu, desain sistem manajemen bisnis yang lebih ramah masyarakat dan
lingkungan (sustainability management) menjadi kebutuhan mendesak.

Hadirin yang saya hormati

MANFAAT INVESTASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN

Pertanyaan yang muncul adalah apakah ada manfaat ekonomik bagi perusahaan
apabila peduli dan melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) secara
sungguh-sungguh dan berkelanjutan?
Jawabnya: Ada! Bahkan, banyak! Secara empiris, kepedulian pada TJSL
mendatangkan banyak manfaat ekonomi bagi perusahaan. Semakin besar kepedulian
perusahaan pada isu-isu sosial dan lingkungan maka semakin besar pula manfaat
ekonomik yang bakal didapatkannya.
Secara umum manfaat ekonomik tersebut antara lain (Lako, 2011): Pertama,
profitabilitas dan kinerja keuangan perusahaan semakin kokoh. Kedua, apresiasi dari
komunitas investor, kreditor, pemasok dan konsumen semakin meningkat sehingga
meningkatkan nilai aset dan nilai saham, mempermudah peluang mendapatkan kredit,
dan meningkatkan pangsa pasar produk/jasa perusahaan. Ketiga, komitmen, etos
kerja, efisiensi dan produktivitas karyawan semakin meningkat sehingga berdampak
positif pada peningkatan laba dan nilai perusahaan. Keempat, menurunnya kerentanan
gejolak sosial dan resistensi komunitas sekitarnya sehingga perusahaan bisa
beroperasi dalam lingkungan bisnis yang kondusif. Kelima, meningkatnya reputasi,
corporate branding dan goodwill perusahaan sehingga meningkat pangsa pasar dan
nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Secara internasional, mayoritas hasil studi empiris menunjukkan bahwa kinerja
TJSLP (CSR/ CESR) berpengaruh positif secara signifikan atau berkorelasi erat
dengan kinerja finansial, kinerja harga saham dan nilai korporasi. Selain itu, juga
disimpulkan bahwa korporasi yang lebih peduli CSR lebih menguntungkan
(profitable) dibanding korporasi yang kurang peduli CSR. Dengan demikian, TJSLP
dan profitabilitas korporasi bisa berjalan seiring bukan saling mengorbankan seperti
diklaim sejumlah kalangan selama ini (Steiner dan Steiner, 2009; Wearther dan
Chandler, 2011).
Kesimpulan tersebut didukung oleh hasil studi meta-analysis dari Margolis dan
14

Walsh (2001), Orlitzky et al. (2003) dan Dam (2007). Mereka melaporkan bahwa
mayoritas hasil studi melaporkan bahwa kinerja sosial korporasi memiliki korelasi erat
terhadap kinerja keuangan. Kinerja sosial korporasi juga memiliki relasi yang positif
scara signifikan terhadap kinerja keuangan dan harga saham. Hasil-hasil studi lainnya
(Anderson dan Frankle, 1980); Shane dan Spincer,1983; Nagayama dan Tekeda, 2006;
Ioannou dan Serafeim, 2010), juga melaporkan bahwa kinerja sosial dan lingkungan
korporasi mempengaruhi reaksi pasar modal dan kinerja harga saham, mempengaruhi
abnormal returns yang diperoleh pemegang saham dan investor, dan juga
mempengaruhi kinerja keuangan dan nilai korporasi.
Secara nasional, hasil-hasil studi empiris yang dilakukan sejumlah mahasiswa
bimbingan saya juga menunjukkan bahwa kepedulian perusahaan pada TJSL
berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja keuangan, kinerja harga saham
dan nilai perusahaan (Ariyani, 2008) serta meningkatkan economic value added/EVA
dan market value-added/MVA perusahaan (Monica, 2010). Selain itu, juga dilaporkan
bahwa pelaku pasar merespon positif secara signifikan terhadap publikasi laporan
keuangan yang memiliki pengungkapan informasi CSR yang lebih luas dan sebaliknya
bereaksi negatif namun tidak signifikan terhadap publikasi laporan keuangan yang
memiliki luas pengungkapan CSR tidak luas (Puspitasari, 2010). Perusahaan yang
peduli TJSL memiliki relevansi nilai ekonomik lebih tinggi daripada perusahaan yang
kurang peduli TJSL (Astuti, 2010).4
Dari sejumlah fakta empiris tersebut di atas maka menadi jelaslah bahwa
komitmen pelaku bisnis untuk peduli pada TJSL dan mengungkapkan informasinya
dalam pelaporan perusahaan mendatangkan banyak keuntungan. Semakin besar
kepedulian dan pengungkapan kinerja TJSL semakin besar pula manfaat ekonomi
yang diraup korporasi. Sebaliknya, semakin kecil kepedulian perusahaan pada
pelaksanaan dan pelaporan kinerja TJSL maka akan semakin kecil pula manfaat
ekonomik yang diperoleh.
Karena itu, tidaklah berlebihan kalau disimpulkan bahwa TJSLP merupakan
suatu “investasi strategis” untuk meningkatkan kinerja keuangan dan kinerja harga
saham, nilai fundamental bisnis dan nilai pasar sekuritas, serta relevansi nilai
informasi laporan keuangan untuk pelaku pasar dalam jangka panjang.
Pertanyaannya, mengapa perbuatan TJSL justru mendatangkan berkah berlimpah
bagi perusahaan? Paling tidak, ada empat argumentasi yang dapat menjelaskannya
(Lako, 2009 & 2011; Weather dan Chandler, 2011).

4

Catatan: Saya berperan besar dalam memberikan isu dan penalaran teoritisnya, serta
mengarahkan dan membimbing mereka dalam pengembangan metode riset, analisis hasil
dan interpretasi temuan.

15

Pertama, perbuatan mulia tersebut merupakan suatu ”investasi sosial” yang
merekatkan perusahaan dengan para stakeholder dan komunitas masyarakat sehingga
menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi korporasi dalam jangka panjang.
Misalnya, dengan peduli pada karyawan maka komitmen, loyalitas, etos kerja,
efisiensi dan produktivitas karyawan akan meningkat. Hasilnya, kinerja perusahaan
pasti akan naik.
Kedua, perbuatan terpuji tersebut pasti akan menurunkan potensi gejolak sosial
dan resistensi dari komunitas sekitarnya karena mereka merasa diperhatikan dan
dihargai korporasi. Bagi para penjual produk/jasa perusahaan, perbuatan amal tersebut
justru dirasakan sangat bernilai. Mereka pasti akan makin setia dan rela berkorban
untuk membesarkan pangsa pasar perusahaan. Hal itu akan mendatangkan laba yang
berlipat ganda.
Ketiga, perbuatan baik tersebut tentu berdampak positif menurunkan potensi
risiko bisnis dan meningkat prospek bisnis. Komunitas investor, kreditor, pemasok
dan konsumen tentu akan mengapresiasinya karena menilai lingkungan bisnis
perusahaan sangat kondusif dan prospektif. Para investor tentu akan agresif menanam
modalnya atau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi. Para
kreditor tentu akan berlomba-lomba menawarkan kreditnya. Konsumen juga akan kian
loyal dengan produk atau jasa perusahaan. Pemasok juga akan kian percaya. Semua
kepercayaan itu tentu akan mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan.
Keempat, dengan peduli pada masyarakat dan lingkungan maka perusahaan
akan semakin dihargai dan dihormati sebagai warga negara yang baik (good corporate
citizen) oleh masyarakat, komunitas bisnis, pemerintah setempat dan lainnya.
Penghormatan itu tentu akan meminimalisir sejumlah risiko yang bakal dihadapi dan
mempermudah akses-akses bisnis.

Hadirin yang saya muliakan

REFORMASI PARADIGMA AKUNTANSI: MENUJU AKUNTANSI
BERKELANJUTAN

Reformasi paradigma bisnis tidak akan efektif hasilnya apabila tidak dibarengi
dengan reformasi paradigma akuntansi. Penyebabnya, kerangka konseptual akuntansi,
standar akuntansi keuangan dan prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum
(PABU) yang selama ini menjadi pedoman bagi korporasi dalam praktik akuntansinya
cenderung konservatif. Akuntansi konvensional kurang responsif terhadap perubahan
16

paradigma bisnis yang hendak memperlakukan pengorbanan sumberdaya ekonomi
untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) sebagai suatu investasi strategis.
Akuntansi cenderung memperlakukan pengeluaran untuk TJSL sebagai beban periodik
(Lako, 2011).
Akibat paradigma yang masih konservatif tersebut, akuntansi dan para akuntan
sering dituding sebagai penyebab utama terjadinya krisis sosial dan lingkungan.
Alasannya, karena informasi akuntansi atau informasi laporan keuangan yang
dihasilkan melalui proses akuntansi hanya menyajikan indikator-indikator ”sukses”
kinerja ekonomi. Sementara itu, dampak-dampak negatif yang ditimbulkan perusahaan
terhadap komunitas masyarakat dan lingkungan sekitar diabaikan dalam proses
pencatatan dan pelaporan akuntansi. Akibatnya, pemegang saham, kreditor,
manajemen, pemerintah dan stakeholder lainnya tidak hanya disesatkan oleh sinyalsinyal ”sukses” angka-angka akuntansi tapi juga dirugikan dalam pengambilan
keputusan, kebijakan dan aktivitas (Gray dan Bebbington, 2001; Lamberton, 2005;
Schaltegger et al., 2006; Iva, 2009).
Singkatnya, selama ini pelaporan keuangan yang dihasilkan para akuntan dari
proses akuntansi mengabaikan pelaporan informasi sosial dan lingkungan sehingga
menyesatkan banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Karena itu, para akuntan
harus ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya krisis sosial dan lingkungan yang
kian parah dari waktu ke waktu. Ada tiga alasan utama mengapa akuntan harus ikut
bertanggung jawab (Gray dan Bebbington, 2001; Schaltegger et al., 2006).
Pertama, alasan moral dan etika (moral/ethical reasons). Para akuntan sebagai
orang-orang terhormat harus menyadari bahwa keahlian profesional yang mereka
miliki bukan untuk menghasilkan sinyal-sinyal “sukses” yang menyesatkan. Para
akuntan harus sungguh-sungguh mendorong pelaporan informasi keuangan, sosial dan
lingkungan secara jujur, benar dan utuh untuk membantu para pihak dalam mengambil
keputusan yang terbaik.
Kedua, alasan profesional (professional reasons). Akuntan sebagai profesi yang
terhormat harus menyadari bahwa produk laporan keuangan yang dihasilkannya tidak
lengkap, menyesatkan dan menyebabkan krisis sosial dan lingkungan. Karena itu,
akuntan harus memiliki tanggung jawab profesional untuk mengungkap informasi
akuntansi yang komprehensif, jujur, reliabel dan relevan agar tidak menyesatkan
manajemen dan para pemakai lainnya dalam pengambilan keputusan.
Ketiga, alasan pragmatis atau ekonomi (pragmatic, economic reasons). Para
akuntan harus menyadari bahwa manajer dan pemegang saham sedang mengambil
keputusan-keputusan strategis dan taktis yang didasarkan pada informasi yang tidak
lengkap. Karena isu-isu sosial dan lingkungan mempengaruhi pendapatan dan arus
biaya korporasi maka manajemen dan pemegang saham sebagai pengambil keputusan
17

memerlukan informasi yang utuh untuk mengarahkan mereka membuat keputusankeputusan ekonomi dan manajerial yang terbaik.
Karena itu, reformasi paradigma akuntansi dan akuntan sangat penting dan
mendesak. Tujuannya adalah untuk membantu manajemen dan pemegang saham serta
para pihak agar lebih sensitif, ramah dan mencintai masyarakat dan lingkungan.
Namun, sebelum melakukan reformasi tersebut, akuntan perlu mengidentifikasi
keterbatasan (limitations) mendasar dalam akuntansi konvensional. Deegan (2003)
dan Lako (2011) mengidentifikasi ada lima keterbatasan mendasar dalam akuntansi
keuangan konvensional yang menyebabkan informasi sosial dan lingkungan diabaikan
dalam proses akuntansi dan pelaporan keuangan.
Pertama, akuntansi keuangan hanya memfokuskan pada kebutuhan informasi
dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan alokasi sumberdaya
ekonomi. Fokus itu cenderung terbatas pada para stakeholder yang punya kepentingan
keuangan dengan korporasi. Karena itu, fokus pelaporan informasi dalam laporan
keuangan adalah untuk pihak-pihak yang memiliki relasi keuangan dengan korporasi
seperti pemegang saham, manajemen, kreditor, pemasok, konsumen, karyawan,
pemerintah dan mitra bisnis lainnya. Sementara masyarakat dan lingkungan di
sekitarnya dianggap bukan bagian dari stakeholder karena tidak memiliki relasi
keuangan dengan korporasi.
Kedua, pertimbangan utama dalam proses akuntansi dan pelaporan keuangan
adalah “materialitas” dari informasi yang disajikan. Artinya, hanya informasi yang
dinilai material yang boleh disajikan dalam laporan keuangan. Informasi TJSL
dianggap tidak material untuk disajikan dalam laporan keuangan karena sulit
mengkuantifisir dan memperbandingkan antara cost dan benefit-nya.
Ketiga, pelaporan akuntansi cenderung memperlakukan pengorbanan
sumberdaya ekonomik yang tidak jelas manfaat ekonomiknya di masa datang sebagai
beban periodik. Pengorbanan untuk TJSL dianggap tidak memiliki manfaat tersebut
sehingga harus diperlakukan sebagai beban periodik. Konsekuensinya, kepedulian
korporasi pada TJSL berdampak negatif mengurangi laba, ekuitas pemilik, dividen,
kompensasi manajemen, likuiditas dan solvabilitas korporasi. Inilah yang
menyebabkan kebanyakan pelaku bisnis enggan melaksanakan TJSL.
Keempat, akuntansi masih mengadopsi “asumsi entitas” yang mengharuskan
perusahaan diperlakukan sebagai suatu entitas yang berbeda dari para stakeholder-nya.
Implikasinya, jika suatu transaksi atau peristiwa tidak berdampak langsung pada
korporasi maka harus diabaikan untuk tujuan akuntansi. Karena itu, informasi TJSLK
atau eksternalitas yang disebabkan oleh tindakan dan pelaporan perusahaan umumnya
diabaikan dalam pelaporan akuntansi karena dinilai tidak memberi dampak langsung
pada ukuran-ukuran kinerja keuangan.
18

Kelima, proses akuntansi hanya terfokus pada item-item yang dapat “dikontrol”
perusahaan. Item-item itu harus lolos seleksi “recognition criteria”. Yaitu: (1)
memenuhi syarat “definition” sebagai item laporan keuangan, (2) dapat diukur
nilainya secara handal (measurability), (3) informasinya relevan untuk pemakai
(relevance), dan (4) keakuratan dan kehandalan informasinya dapat dipercaya
(reliability). Informasi akuntansi sosial dan lingkungan dianggap tidak memenuhi
empat kriteria tersebut sehingga tidak bisa disajikan dalam laporan keuangan.
Karena itu, agenda dan arah reformasi akuntansi di masa depan perlu difokuskan
untuk mengatasi sejumlah keterbatasan tersebut. Saya mengusulkan ada tiga agenda
reformasi akuntansi.
Pertama, agenda pengembangan akuntansi di masa depan perlu difokuskan
untuk mengembangkan dan menerapkan Akuntansi Berkelanjutan (Sustainability
Accounting) yang berbasiskan pada tiga pilar dasar tanggung jawab korporasi (triple
bottom-line corporation accountability) yaitu tanggung jawab ekonomi (economic
accountability), tanggung jawab sosial (social accountability) dan tanggung jawab
lingkungan (environmental accountability). Dalam upaya menuju ke Akuntansi
Berkelanjutan, para akuntan perlu mengkaji kembali relevansi rerangka konseptual
(conceptual framework), prinsip-prinsip akuntansi berterima umum (generally
accepted accounting principles/GAAP) dan standar akuntansi keuangan yang ada
untuk memungkinkan diakui, diukur, diproses dan dilaporkannya transaksi-transkasi
atau peristiwa-peristiwa ekonomi atau bisnis yang berkaitan dengan TJSLP dalam satu
paket akuntansi.
Kedua, agenda pengembangan akuntansi ke depan juga perlu diarahkan untuk
mendorong dan mewujudkan akuntabilitas korporasi (corporate accountability).
Dalam upaya untuk mewujudkan arahan tersebut para akuntan perlu melakukan
pengembangan konsep-konsep dan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum, standar
akuntansi dan model pelaporan berkelanjutan untuk memungkinkan pelaporan dan
pengungkapan informasi keuangan, sosial dan lingkungan secara terintegrasi dalam
satu paket pelaporan akuntansi. Paket pelaporan tersebut dinamakan Pelaporan
Akuntansi Berkelanjutan (Sustainability Accounting Reporting) atau secara
internasional disebut juga sebagai triple bottom-line reporting.
Ketiga, agenda pengembangan akuntansi di masa datang juga perlu diarahkan
untuk mendorong transparansi informasi keuangan, sosial dan lingkungan korporasi
(information transparency) kepada para pemangku kepentingan. Berkenaan dengan
hal tersebut, para akuntan perlu melakukan pengembangan terhadap atribut-atribut
karakteristik kualitatif informasi akuntansi dan model pelaporan dan pengungkapan
(disclosure) informasi akuntansi berkelanjutan untuk memungkinkan korporasi
mengungkapkan informasi keuangan, sosial dan lingkungan secara jujur dan reliabel
kepada para pemangku kepentingan.
19

Singkatnya, agenda reformasi akuntansi ke depan perlu diarahkan untuk
mendukung tiga agenda besar bisnis dan korporasi, yaitu: (1) sustainabilitas korporasi
(corporate sustainability); 2) akuntabilitas korporasi (corporate accountability); dan
3) transparansi informasi keuangan, sosial dan lingkungan secara terintegrasi
(corporate transparency). Tiga agenda reformasi tersebut sesungguhnya merupakan
solusi strategis untuk mewujudkan tatakelola korporasi yang baik (good corporate
governance/GCG) dan keberlanjutan korporasi (Gray dan Bebbington, 2001; Benn
dan Bolton, 2011; Lako 2011).
Untuk mengarahkan dan memudahan praktik akuntansi berkelanjutan
(sustainability accounting), saya mengusulkan langkah-langkah reformasi atau
perekayasaan akuntansi sebagai berikut.
Pertama, merumuskan rerangka konseptual, tujuan dan sasaran, serta prinsipprinsip dasar dari Akuntansi Berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memberikan
arahan strategis, taktis dan operasional bagi perusahaan dan para akuntan dalam
penerapannya.
Kedua, meredefinisi kembali kriteria pengakuan akuntansi (accounting
recognition criteria) terhadap item-item laporan keuangan konvensional. Akuntansi
konvensional mensyaratkan bahwa suatu item dapat diakui sebagai salah satu item
laporan keuangan apabila item tersebut memenuhi kriteria definition, measurability,
relevance, dan reliability. Dengan meredefinisi kembali empat kriteria tersebut maka
informasi sosial dan lingkungan bisa disajikan dalam pelaporan akuntansi
berkelanjutan korporasi.
Ketiga, melakukan restatement dan extension terhadap akun-akun dari laporan
keuangan konvensional untuk memungkinkan informasi atau akun-akun sosial dan
lingkungan dimasukkan dalam pelaporan akuntansi berkelanjutan, khususnya dalam
neraca (sustainability balance sheet) dan laporan laba-rugi (sustainability income
statement).
Keempat, mengembangkan teknik-teknik pengukuran, pencatatan akuntansi dan
alat-alat manajemen data serta model pelaporan akuntansi berkelanjutan untuk
memungkinkan pengukuran nilai, dokumentasi data, pencatatan akuntansi serta
pelaporan informasi terhadap transaksi-transaksi atau perisitiwa-peristiwa keuangan,
sosial dan lingkungan secara terintegrasi.
Kelima, dalam proses akuntansi berkelanjutan, pengakuan, perlakuan akuntansi,
pencatatan, pengukuran dan pelaporan serta pengungkapan informasi sosial dan
lingkungan harus disertakan bersamaan dengan informasi keuangan. Untuk menjamin
bahwa informasi akuntansi yang dihasilkan oleh proses akuntansi berkelanjutan
tersebut dapat dipercaya kehandalannya dan relevan untuk pengambilan keputusan
maka proses pengauditan berkelanjutan (sustainability auditing) sangat diperlukan.
20

Pengembangan rerangka konseptual dan model Akuntansi Berkelanjutan
disajikan pada Gambar 1.

Model
Rerangka Akuntansi Berkelanjutan

Fokus

Akuntansi
Keuangan

Akuntansi Sosial

Obyek
proses

Transaksi keuangan

Transaksi sosial

Output

Model
pelaporan
Jenis
informasi
Tujuan

Pelaporan Keuangan

Pelaporan Sosial

Akuntansi
lingkungan

Transaksi lingkungan

Pelaporan Lingkungan

Pelaporan Akuntansi Berkelanjutan

Informasi kuantitatif
(informasi keuangan)

Informasi kualitatif
(informasi sosial & lingkungan)

Sustainabilitas korporasi, sosial dan lingkungan

Dari Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa fokus dari Akuntansi Berkelanjutan adalah
akuntansi keuangan, akuntansi sosial dan akuntansi lingkungan. Karena itu, obyek dari
proses akuntansinya adalah transaksi-transaksi atau peristiwa keuangan, sosial dan
lingkungan dari suatu korporasi. Output dari proses Akuntansi Berkelanjutan adalah
pelaporan keuangan, pelaporan sosial dan pelaporan lingkungan. Ketiga pelaporan
tersebut disatukan dalam model Pelaporan Akuntansi Berkelanjutan. Karena
menggabungkan tiga model pelaporan maka dalam Pelaporan Akuntansi
Berkelanjutan berisi dua tipe informasi yaitu informasi keuangan (kuantitatif) dan
informasi non keuangan (kualitatif). Tujuan dari pengembangan model Akuntansi
Berkelanjutan adalah untuk keberlanjutan korporasi, masyarakat dan lingkungan.
Reformasi paradigma akuntansi konvesional menuju ke paradigma Akuntansi
Berkelanjutan juga dirasakan kian mendesak karena makin menguatnya desakan para
stakeholder global agar korporasi berukuran besar dan menengah di negara-negara
maju maupun berkembang harus melaporkan kinerja pengelolaan (governance), sosial
dan lingkungan secara terintegrasi dalam pelaporan kinerja korporasi. Tuntutan
21

tersebut tercermin dalam Konferensi Global tentang Sustainability and Transparancy
yang diselenggarakan Global Reporting Inisiatives (GRI) di Amsterdam pada 26-28
Mei 2010 (www.amsterdamGRIconference.org).
Dalam konferensi tersebut, lebih dari 1.200 peserta dari 77 negara yang mewakili
organisasi pemerintah, bisnis, lembaga-lembaga internasional, tenaga kerja, profesi
akuntansi, akademisi, organisasi nirlaba dan lainnya memberikan dukungan penuh
terhadap dua usulan penting dan radikal dari GRI.
Dua usulan tersebut adalah: Pertama, sebelum 2015, semua perusahaan
berukuran besar maupun kecil di negara-negara sedang berkembang (OECD) dan
maju diharuskan untuk melaporkan kinerja pengelolaan, sosial dan lingkungan
korporasi. Jika tidak maka harus dijelaskan alasannya. Kedua, sebelum 2020, harus
sudah ada standar internasional yang dapat diaplikasikan dan diterima secara umum
yang akan secara efektif mengintegrasikan pelaporan keuangan dan pelaporan
pengelolaan, sosial dan lingkungan oleh semua organisasi.
Karena itu, rekonstruksi dan reformasi paradigma akuntansi dan pelaporan
korporasi menuju paradigma baru yaitu Akuntansi dan Pelaporan Berkelanjutan
menjadi agenda mendesak bagi profesi akuntansi dan pendidikan akuntansi pada
masa-masa mendatang.

Para hadirin yang saya muliakan

REFORMASI PARADIGMA PENDIDIKAN AKUNTANSI

Selain reformasi rerangka konseptual, PABU, standar akuntan dan praktik
akuntansi untuk menuju ke paradigma baru yaitu Akuntansi Berkelanjutan, reformasi
paradigma pendidikan Akuntansi di perguruan tinggi juga sangat penting dan
mendesak. Perguruan tinggi, khususnya Program Studi Akuntansi atau Bisnis yang
mendidik dan menghasilkan para sarjana akuntansi, juga perlu mendesain ulang sistem
kurikulum dan sistem pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada
masyarakat ke arah yang lebih ramah sosial dan lingkungan. Program Studi Akuntansi
juga diharapkan proaktif menyiapkan infrastruktur, kurikulum, metode, referensi, dan
kompetensi sumberdaya manusia yang memadai agar bisa memberikan bekal
pengetahuan dan keahlian kepada mahasiswa akuntansi.
Tujuannya adalah untuk menyiapkan generasi baru akuntan yang memiliki
pengetahuan dan keahlian yang memadai tentang akuntansi berkelanjutan
22

(sustainability accounting) yaitu mencakup tiga dimensi yaitu dimensi akuntansi
keuangan (financial accounting), dimensi akuntansi sosial (social accounting) dan
dimensi akuntansi lingkungan (environmental accounting). Mereka diharapkan bisa
membantu korporasi dalam menyiapkan sistem dan menghasilkan pelaporan
akuntansi berkelanjutan (sustainability accounting reporting) yang tidak lagi
menyesatkan manajemen dan para pemangku kepentingan dalam pengambilan
keputusan. Mereka juga diharapkan dapat berperan sebagai auditor yang mengaudit
kewajaran praktik dan pelaporan akuntansi berkelanjutan. Mereka juga diharapkan
menjadi akuntan manajemen yang membantu manajemen dalam menganalisis
dampak, efek dan implikasi TJSLP untuk keputusan manajerial dalam penyusunan
program kerja dan pengganggaran serta pelaksanaannya.
Selain itu, mereka juga diharapkan dapat membantu korporasi, pemerintah atau
pihak-pihak yang berkepentingan dalam memvaluasi dampak (impact), pengaruh
(effect) dan impikasi (implication) dari aktivitas ekonomi korporasi terhadap
masyarakat dan lingkungan. Demikian juga sebaliknya, mereka diharapkan dapat
memvaluasi dampak, efek dan implikasi dari masyarakat dan lingkungan terhadap
bisnis dan keberlanjutan korporasi.
Dengan demikian, ke depan, keberadaan Program Studi Akuntansi dan para
sarjana akuntansi yang dihasilkannya diharapkan memainkan peranan penting dan
menjadi solusi dalam upaya mengatasi krisis sosial dan lingkungan dan menjamin
keberlanjutan korporasi, masyarakat dan lingkungan.

Hadirin yang saya muliakan…..
Ucapan Terima Kasih dan Penghargaan
Pencapaian tertinggi dalam jabatan fungsional akademik sebagai Guru Besar
yang saya peroleh sekarang ini adalah anugerah, berkah dan bahkan saya yakini
sebagai “kemuliaan” yang diberikan Tuhan kepada saya atas doa, ketekunan, keuletan,
kerja keras, ketabahan dan pengharapan saya sejak sekolah dasar hingga hari ini. Saya
menyakini Allah telah memiliki rencana-rencana besar untuk saya. Ia telah bekerja
untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut melalui saudara-saudari saya, keluarga
saya, para guru saya, para sahabat dan kolega saya, maupun semua pihak yang selama
ini berinteraksi dan membantu saya baik langsung maupun tidak langsung. Karena
itu, pencapaian gelar Guru Besar ini, bukan semata-mata karena hasil kerja keras dan
ketekunan saya, tapi juga karena anugerah Allah dan kontribusi dari banyak pihak.
Karena itu, puji dan sujud syukur yang terutama saya panjatkan kepada Allah
Yang Maha Pengasih atas kasih, anugerah dan kemuliaan yang telah dilimpahkan
kepada saya. Atas tuntutan-Nya, acara pengukuhan ini bisa terselenggara dengan
23

lancar. Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, bila Allah masih berkenan
memberikan kesehatan dan umur panjang, saya berjanji akan terus berkarya sebagai
ilmuwan, pendidik dan sebagai pewarta kabar baik bagi sesama.
Selanjutnya, perkenankan saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan
yang setingginya kepada semua pihak yang telah berjasa menghantarkan saya hingga
mencapai jabatan Guru Besar. Saya meyakini mereka yang akan saya sebutkan
namanya di bawah ini telah “dipakai” Tuhan sebagai alat-Nya untuk membantu saya.
Ucapan terima kasih yang pertama saya haturkan kepada Pemerintah Pusat,
khususnya Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh yang telah
menyetujui pengusulan saya sebagai Guru Besar dalam Ilmu Akuntansi pada 30
November 2010.
Ucapan terima kasih kedua saya haturkan kepada Ketua Koordinator Perguruan
Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof.Drs Mustafid, M.Eng.,Ph.D,
yang menyetujui berkas pengusulan saya sebagai Guru Besar di tingkat Kopertis.
Sejak saya terpilih sebagai Dosen Berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VI dan
Tingkat Nasional pada 2008, dalam sejumlah kesempatan Prof. Mustafid juga selalu
mendorong saya untuk segera mengajukan Guru Besar. Kepada tim peer review
Kopertis Wilayah VI yang sudah menilai kelayakan karya-karya saya sebagai Guru
Besar, saya juga menyampaikan terima kasih.
Penghargaan dan ucapan terima kasih ketiga saya haturkan kepada Rektor
sekaligus Ketua Senat dan semua anggota Senat Unika Soegijapranata yang sudah
menyetujui pengusulan jabatan Guru Besar saya pada tingkat Universitas. Kepada para
tim peer review baik di tingkat Universitas maupun di tingkat Fakultas Ekonomi yang
sudah menelaah kelayakan karya-karya akademik saya, saya juga menghaturkan
terima kasih. Kepada Rektor Unika Soegijapranata, Prof. Dr.Ir. Budi Widianarko,
M.Sc. dan para Wakil Rektor (WR) serta segenap staf LPSDM yang sudah
mendukung dan membantu proses pengajuan jabatan Guru Besar saya, juga dihaturkan
terima kasih.
Secara khusus, saya menyampai terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Prof. Budi Widianarko baik sebagai Rektor maupun sebagai sahabat dan guru yang
telah berjasa dalam menghantarkan saya ke jenjang Guru Besar. Karena beliaulah,
saya tetap bersemangat untuk mengajukan berkas ke Guru Besar. Prof. Budi juga telah
berjasa mengenalkan saya pada Ilmu Lingkungan sejak 1995. Beliau juga menjadi
“guru” saya dalam belajar menulis yang baik dan benar. Prof Budi juga telah
menginspirasi saya untuk menjadi pendidik yang baik dan terus tekun dalam bekerja
untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setingginya juga saya haturkan
kepada para mantan Pengurus Yayasan dan Pengurus Yayasan Sandjojo saat ini serta
24

para mantan Rektor Unika Soegijapranata yaitu Rm. Dr.Ir. P. Wiryono, SJ., Bruder
Dr. Martinus Handoko, FIC., dan Dr. Bagus Wismanto, M.Si yang telah menerima
saya menjadi dosen di Unika Soegijapranata pada Juli 1994, dan menyekolahkan saya
ke jenjang S2 dan S3 pada tahun 2000-2007.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setingginya juga saya tujukan
kepada para kolega saya di Fakultas Ekonomi yang telah mendorong, mengingatkan
dan membantu saya dalam proses pengusulan ke Guru Besar. Mereka adalah para
Wakil Dekan saya, yaitu Drs. Theodorus Sudimin, MS (WD I), Theresia Dwi Hastuti,
SE, M.Si., Akt. (mantan WD II), Stefany Lily Indarto, SE, MM, Akt. (WD II) dan Drs.
Yohanes Sugiharto, MM. Selain menjadi team work yang kompak dalam mengelola
Fakultas, mereka juga terus memotivasi saya untuk mengurusi pengusulan Guru Besar
hingga tuntas. Kepada Ketua Jurusan Akuntansi, bu Yusni Warastuti, SE, M.Si., yang
dengan sabar mengoreksi dan menandatangani berkas-berkas pengajuan Guru Besar
pada tingkat Fakultas, saya juga sampaikan terima kasih.
Terima kasih dan penghargaan yang setingginya juga patut saya berikan kepada
mbak Anna, staf kepedidikan untuk administrasi akademik Fakultas Ekonomi, yang
telah bekerja keras dan sabar memilah, mengklasifikasi dan menghitung bobot nilai
dari setiap karya akademik saya. Beliaulah yang terus mengingatkan saya untuk
menyerahkan semua karya ilmiah agar bisa dihitung nilainya. Pada akhir Oktober
2008 saya menyerahkan semua dokumen yang sebelumnya digunakan untuk penilaian
Dosen Berprestasi. Pada pertengahan November 2008 beliau menginformasi bahwa
kum saya sudah melampaui untuk diajukan ke Guru Besar. Meski hampir tidak
percaya namun informasi itu memotivasi saya untuk menyerahkan lagi sejumlah
dokumen Tri Dharma.
Terima kasih dan penghargaan atas kerjasama, keakraban dan kekompakannya
juga saya tujukan kepada semua rekan saya di Jurusan Akuntansi. Selama ini, mereka
menjadi sahabat berdiskusi yang heboh, mewujudkan gagasan-gagasan yang saya
lontarkan, serta mendoakan dan membantu saya ketika menempuh pendidikan S2 dan
S3 hingga pengajuan Guru Besar. Secara khusus, saya mesti berterima kasih kepada
Drs. Hudi Prawoto, MM., Dr. Octavianus Digdo, M.Si.,Akt., Clara Susilawati, SE,
M.Si., Theresia Dwi Hastuti, SE, M.Si.,Akt., Monica Palupi, SE, MM; dan Stefany
Liliy Indarto MM yang sudah memperjuangkan ke Rektor agar memprioritaskan saya
untuk studi S3 pada 2002 demi masa depan jurusan. Sejujurnya, motivasi utama saya
studi S3 dan mengajukan jabatan Guru Besar ini adalah untuk kepentingan Jurusan
Akuntansi.
Penghargaan dan ucapan terima kasih juga haturkan kepada para senior dan
kolega saya di Fakultas Ekonomi pada umumnya. Secara khusus, saya menyampaikan
terima kasih kepada Prof. Vincent Didiek W.A., Ph.D yang telah mendorong saya
untuk segera studi S3 pada 2002 ketika beliau menjabat Dekan. Selain menjadi teman
diskusi dan tempat berguru, beliau juga memberi semangat kepada saya untuk
25

mengajukan jabatan Guru Besar. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para
senior Fakultas Ekonomi yang membimbing dan menjadi tempat saya belajar. Mereka
adalah bapak Drs. Leo Gunawan, ibu Dra. Lucia Hari Patworo, M.Si., ibu Dra Retno
Yustini, M.Si., Dr. Thomas Budi Santoso, Dr. Sentot Suciarto, Drs. Bowo Harcahyo,
MBA, dan Drs. Rudy Eliyadi, MM. Kepada rekan-rekan lainnnya yang tidak bisa saya
sebutkan satu per satu, saya juga mengucapkan terima kasih atas persahabatan,
kerjasama dan dukungannya selama ini.
Secara khusus, saya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
ibu Dra. Lucia Hari Patworo, MS yang turut membantu saya dalam proses pengajuan
Guru Besar ini. Saya juga menyampaikan terima kasih dan doa kepada alm. Drs. Alex
Emyll, MSP (mantan Dekan FE) yang telah merekomedasikan untuk menerima saya
sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan menjadi bapak saksi pernikahan saya.
Sebelum meninggal awal 2008, beliau terus memotivasi saya untuk segera
mengajukan ke Guru Besar. Semoga beliau bangga dan bahagia menyaksikan acara
pengukuhan pada hari ini dari surga.
Selanjutnya, saya juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada
para guru yang telah mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan kepada
saya sejak saya menempuh pendidikan di SDK Langa dan SDK Bomari, di SMP
Negeri I Bajawa dan di SMAK Syuradikara Ende Flores. Secara khusus, saya
mengucapkan terima kasih kepada guru SD saya di SDK Bomari, yaitu bapak Lazarus
Lena, yang telah “merayu” keluarga saya untuk menyekolahkan saya ke jenjang SMP.
Tanpa pertolongan beliau, saat ini mungkin saya sedang menggarap kebun di
kampung sebagai petani. Ucapan terima kasih dan doa khusus juga saya haturkan
untuk guru SMA saya, yaitu alm. Drs. Markus Sabhawea, yang telah mengajarkan dan
mengenalkan saya pada Ilmu Ekonomi dan pembukuan. Berkat didikan beliau, saya
mantap memilih Jurusan Akuntansi ketika kuliah di Yogya. Semoga beliau bangga
menyaksikan pengukuhan ini dari surga.
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para
dosen saya di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sudah
mengajarkan Akuntansi dan Keuangan kepada saya. Berkat didikan awal mereka,
saya jatuh cinta pada ilmu ini, memilih profesi sebagai dosen Akuntansi dan kian
mendalami akuntansi pada tingkat S2 dan S3. Secara khusus, ucapan terima kasih dan
penghargaan setingginya saya berikan kepada ibu Dra. Ch. Rusiti, M.S., Akt, dosen
pembimbing skripsi saya, yang telah menggembleng saya untuk menjadi penulis yang
bertanggung jawab. Berkat tanda silang “X” berwarna merah yang beliau goreskan
pada semua halaman proposal skripsi saya pada awal bimbingan dan hadiah buku
“Pedoman Penulisan Bahasa Indonesia Berdasarkan EYD” pada awal 1993, saya
belajar banyak untuk menjadi penulis yang bertanggung jawab. Didikan awal tersebut
sangat besar pengaruhnya dalam membentuk perjalanan karir akademik saya sebagai
pendidik, penulis dan periset.
26

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setingginya juga saya berikan
kepada para dosen S2 dan S3 saya di Program Pascasarjana Ilmu Akuntansi UGM
yang telah mendidik dan memberikan bekal keilmuan yang mendalam dan kearifan
hidup kepada saya. Secara khusus, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan
yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Jogiyanto Hartono, MBA., Akt selaku
Promotor dan Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA dan Dr. Supriyadi, M.Sc. sebagai
Ko-promotor disertasi yang telah membimbing dan membantu saya dalam
menyelesaikan S3 di UGM. Kepada Prof. Jogi, yang juga menjadi pembimbing tesis
saya, saya hanya bisa menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas semua
“didikan” yang sudah Bapak berikan kepada saya. Saya juga mengucapkan terima
kasih rekan-rekan kuliah semasa studi S3 di UGM atas perhatian, bantuan dan
persahabatannya yang tulus.
Secara khusus, gelar Guru Besar ini saya persembahkan kepada almarhum kedua
orangtua saya, yaitu Bapak Andreas Boko yang telah meninggal pada 1972 dan mama
Agatha Lewa yang meninggal bulan Oktober 2000. Sebagai anak bungsu dari tujuh
bersaudara, saya dibesarkan mama saya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Ibu saya juga selalu mendoakan agar saya menjadi orang yang baik dan berguna bagi
sesama. Secara tidak sadar, doa dan pengharapan tersebut telah menuntun arah
kehidupan dan perilaku saya sebagai pendidik hingga mencapai gelar Guru Besar ini.
Secara khusus, gelar Guru Besar ini saya persembahkan untuk kedua kakak saya
yang telah berjasa besar menghantarkan saya melewati pendidikan SMP, SMA dan S1.
Yang pertama adalah kae Katharina Moi. Beliau inilah yang telah “dipakai Tuhan dan
diberkahi rejeki” untuk menyekolahkan saya ke tingkat SMP, SMA bahkan hingga
kuliah S1. Saya masih ingat, ketika lulus SD tahun 1981, saya menangis meminta
untuk melanjutkan ke SMP. Keluarga bingung karena tak punya biaya. Tiba-tiba,
kakak saya ini memberanikan diri dan menyatakan sanggup untuk membiayai saya
hingga SMP. Ketika itu, beliau mulai belajar menenun kain ikat khas Bajawa. Dari
hari ke hari, kain tentunannya kian laris. Berkat kerja keras beliau, saya akhirnya bisa
melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA dan perguruan tinggi. Beliau telah banyak
mengorbanan hidupnya untuk saya. Karena ini, pada kesempatan ini saya
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga buat beliau.
Yang kedua adalah kae Drs. Aegidius Naru. Berkat beliau inilah, saya bisa
kuliah di Jawa dan menyelesaikan S1 di Atma Jaya Yogya. Saya meyakini, keputusan
beliau berhenti dari Seminari Tinggi sebagai calon imam pada 1984 dan kemudian
langsung merantau ke Yogya merupakan skenario Allah untuk mempersiapkan dan
membuka jalan untuk saya agar bisa studi ke Jawa, bisa menjadi dosen di Unika
Soegijapranata dan saat ini dikukuh sebagai Guru Besar. Beliau telah berjasa besar
dalam mendidik dan membimbing saya dalam segala hal. Selain membiayai kuliah
saya, beliau dan istrinya, Dra. Marieta D.Susilawati, M.Hum., juga telah berjasa
mendidik dan membimbing saya untuk menjadi pribadi yang tangguh dan ulet. Karena
itu, pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih dan pengarhargaan yang
27

setingginya kepada kakak ipar saya, mbak Susi, yang telah memperlakukan saya
seperti adik sendiri. Kepada keponakan saya, Ica, Denis dan Rico, om ucapkan terima
kasih atas dukungan dan doa kalian selama ini.
Ucapan terima kasih juga saya haturkan kepada empat saudara kandung yang
lain yaitu kae Maria Moi (alm), Nus Rani, Lugerus Ladja dan Reta Langa yang juga
berperan besar dalam perjalanan kehidupan saya mulai kecil hingga saat ini. Secara
khusus, ucapan terima kasih saya berikan kepada kae Gerus yang terus membimbing,
mendoakan, memberi nasihat dan semangat kepada saya mulai dari kecil hingga saat
ini agar selalu kerja keras dan tekun dalam doa. Beliau selalu mengingatkan saya agar
selalu dekat dan menyerahan diri kepada Tuhan dalam segala hal.
Penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga juga saya hatur kepada
Ibu mertua saya, Ibu Dwijo Sumarto (83 tahun), yang telah berkenan menerima saya
menjadi anak menantunya. Beliau juga berjasa besar dalam menghantarkan saya
meraih jabatan Guru Besar ini. Selama saya melanjutkan studi S3 di UGM, beliau
bersedia menampung, merawat dan membesarkan anak-anak saya dengan penuh kasih
sayang di Wates. Kesediaan dan pengorbanan beliau, memungkinan saya bisa
berkonsentrasi kuliah dan menyelesaikan S3 tepat waktu. Saya sangat berhutang budi
pada beliau karena meskipun usianya sudah lanjut, kesehatannya terganggu dan
masalah yang dihadapi dalam mengasuh anak-anak saya begitu kompleks, namun
beliau belum pernah mengeluh karena kuatir konsentrasi saya dalam studi terganggu.
Doa saya agar beliau diberi umur panjang agar bisa menghadiri bila saya dikukuhkan
jadi Guru Besar terkabulkan hari ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
semua kakak ipar: mbak Atik sek., mbak Har, mas Sudar sek., mbak Tin sek., mbak
Martini, mas Tono sek., dan mas Sumar sek. atas perhatian, doa, dukungan dan kasih
sayangnya kepada saya dan keluarga.
Akhirnya, ucapan terima kasih yang tak terhingga saya tujukan kepada istri
tercinta, Anna Sumaryati, dan anak-anak saya, yaitu Gloria (+), Julio, Intan dan Nia
yang sudah mendampingi, memberi semangat, mendokan dan banyak berkorban untuk
saya. Istri saya dengan setia, tulus, dan tabah mendampingi saya pada masa-masa sulit
terutama ketika kami dikaruniai anak pertama, Gloria (alm.), yang cacat total sejak
lahir hingga meninggal akhir April 2006, dan anak kedua kami, Julio, yang juga
mengalami kelainan pada kulitnya. Kecatatan dan kelainan pada kedua anak kami
menyebabkan kami berdua, yang sama-sama anak bungsu, terguncang baik secara
psikis dan iman maupun materi. Namun berkat komunikasi yang baik dan iman akan
kekuasaan Ilahi, kami akhirnya bisa melewati guncangan tersebut. Istri saya juga tabah
dan iklas ketika harus berkorban wira-wiri setiap hari dari Wates (Yogya) ke
Semarang (PP) karena harus mengajar di Universitas Dian Nuswantoro. Ia juga
menjadi tulang punggung ekonomi keluarga selama saya studi. Berkat KKN (kerja
keras nyonya), saya bisa menyelesaikan studi S3 tepat waktu dan perekonomian
rumah tangga saya tidak bangkrut.
28

Kepada anakku, Gloria (alm.), yang sekarang semoga berada di Surga, bapak
berterima kasih karena dari penderitaan, senyuman, tertawa dan perjuanganmu untuk
bertahan hidup selama 7 tahun 8 bulan, telah menjadi sumber inspirasi dan kekuatan
bagi bapak dalam menyelesaikan studi S2 dan S3 dan menulis untuk mendapatkan
tambahan penghasilan. Dari kecacatan dan penderitaanmu, bapak dan mama bisa
belajar banyak hal tentang misteri Allah dan makna kehidupan ini. Kepada Julio, Intan
dan Nia, Bapak mohon maaf karena selama ini kalian kurang mendapat perhatian dan
kasih sayang dari Bapak. Bapak berdoa semoga kalian bisa tumbuh jadi anak-anak
yang mandiri, jujur, ulet dan berguna bagi sesama. Gelar Guru Besar yang diperoleh
ini juga Bapak dedikasikan untuk mama dan kalian.
Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada
bapak Dr.Ir. Edi Noer Sasangko, M.Kom., Rektor Universitas Dian Nuswantoro
(Udinus) dan segenap rekan dosen di Fakultas Ekonomi Udinus yang sudah memberi
dukungan moril dan finansial, serta tolerasi waktu kerja kepada istri saya terutama
ketika keluarga kami menghadapi saat-saat sulit. Dukungan tersebut sangat besar
artinya bagi saya dan keluarga.
Ketua Senat dan hadirin yang saya muliakan...
Mengakhiri pidato ini, perkenankan saya atas nama pribadi maupun keluarga
besar saya, menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada Rektor dan para
Wakil Rektor, Ketua Panitia Pengukuhan Guru Besar (Drs Theo Sudimin, MS) dan
segenap timnya, seluruh civitas akademika Unika Soegijapranata dan semua pihak
yang sudah menyiapkan dan mendukung terselenggaranya acara pengukuhan ini.
Kepada pak Wiranto (Kepala UPT Perpustakaan), pak Teguh, bu Ratna dan
semua staf Perpustakaan yang sudah membantu dalam menyiapkan literatur dan
ruangan yang nyaman selama saya “menyepi” menulis pidato pengukuhan ini, saya
juga haturkan terima kasih.
Kepada para Guru Besar, anggota Senat dan tamu undangan yang telah berkenan
hadir dan sabar mendengarkan pidato pengukuhan ini, saya menghaturkan banyak
terima kasih. Kepada rekan-rekan alumni SMA Syuradikara Ende angkatan ’84/85,
rekan-rekan alumni Akuntansi FE-UAJY angkatan ’87/88 dan rekan-rekan alumni S3
Ilmu Akuntansi dan Manajemen UGM yang selama ini memberi suport dan hadir pada
acara pengukuhan ini, saya juga ucapkan terima kasih atas kekompakan dan
persahabatannya.
Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas kebaikan dan
ketulusan Bapak, Ibu dan Saudara-saudari sekalian. Terima kasih dan Berkah Dalem.
========== 000 =============

29

DAFTAR BACAAN

Ariyani, S., 2008. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap
Profitabilitas dan Reaksi Pasar: Studi Empiris pada Emiten Manufaktur di Bursa
Efek Indonesia (BEI). Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang
Astuti, T. 2010. Relevansi nilai Laporan Keuangan untuk Investor Pasar Saham pada
Perusahaan yang Peduli dan Kurang Peduli Corporate Social Responsibility
(CSR). Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unika
Soegijapranata Semarang.
Benn, S. dan D. Bolton. 2011. Key Concepts in Corporate Social Responsibility. First
Edition. Sage Publication Ltd. London.
Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Penerbit Kanisius. Yoyakarta
Boatright, J.R. 2007. Ethics and the Conduct of Business. Fifth Edition. Pearson
Prentice Hall. New Jersey.
Cannon. T. 1992. Corporate Responsibility. Pitman Publishing. London
Carroll, A.B. 1993. Business & Society: Ethics and Stakeholder Management. Second
Edition. South-Western Publishing Co. Ohio
Dahlsrud, A. 2006. How Corporate Social Responsibility is Defined: An Analysis of
37 Definitions. Corporate Social Responsibility and Environmental
Management. Vol. 15. 1-13.
Deegan, C., 2003. Financial Accounting Theory. Second Edition. McGraw-Hill
Companies. Australia.
Dellaportas, S., K. Gibson, R. Alagiah, M. Hutchionson, P. Leung dan D.V. Homrigh.
2005. Ethics, Governance & Accounting: A Professional Perspective. John
Wiley & Sons Australia Ltd., Australia.
Elkington, J. 1993. Coming Clean: The Rise and the Rise of the Corporate
Environment Report. Business Strategy and the Environment. Vol.2. No.2.
hlm42-44
_________.1997. Cannibals with Forks: The Tripple Bottom Line of 21st Century
Business. Capstone, Oxford
30

_________.2001. The Chrysalis Economy: How Citizen CEOs and Corporations can
Fuse Values and Value Creation. Capstone Publishing Ltd. United Kongdom.
Freeman, R.E. 1984. Strategic Management: A Stakeholder Approach. Pitman
Global Reporting Initiatives (GRI). 2006. Sustainability Reporting Guidelines version
3.0. Amsterdam.
__________. Executive Brief the Amsterdam Global Conference on Sustainability and
Transparancy: Rethink, Rebuild, Report. www.amsterdamGRIconference.org
Gray, R., dan J. Bebbington. 2001. Accounting for the Environment. Second Edition.
Sage Publication. London
Ivan, R. 2009. Sustainability in Accounting-Basis: A Conceptual Framework. Annales
Universitatis Series Oeconomica. Vol.1. No.1. hlm 106-116
Kottler, P., dan N. Lee. 2005. Corporate Social Resposibility: Doing the Most Good
for Your Company and Your Cause. John Wiley & Sons., New Jersey
Lamberton, G. 2005. Sustainability Accounting-A Brief History and Conceptual
Framework. Accounting Forum. No. 29. hlm 7-26
Lako, A. 2007. Cost-Benefit dan Urgensi Formalisasi CSR. Bisnis Indonesia. 19 Juli.
_______. 2008. Kewajiban CSR dan Reformasi Paradigma Bisnis dan Akuntansi.

Manajemen & Usahawan Indonesia No. 6, November-Desember 2008.
______. 2009. Perusahaan Untung Karena Beramal. Suara Merdeka. 20 September.
______. 2010. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan: Motif,
Perlakuan Akuntansi dan Bukti Empiris. Manajemen & Usahawan
Indonesia No. 2, Januari-Pebruari 2010
______.2011. Dekonstruksi CSR & Reformasi Paradigma Bisnis & Akuntansi.
Penerbit Erlangga. Jakarta
Lawrence, A.T., dan J. Weber. 2008. Business & Society: Stakeholders, Ethics, Public
Policy. Twelfth Edition. McGraw-Hill Irwin.
Monica. 2010. Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Economic
Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA): Studi Empiris pada
Emiten Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang.

31

Post, J.E., W.C. Frederick. A.T. Lawrence dan J. Weber. 1996. Business and Society:
Corporate Strategy, Public Policy, Ethics. Eighth Edition. McGraw Hill
Price, T. 2010. Corporate Social Responsibility: Is Good Citizenship Good for the
Bottom-line. Dalam Issues for Daebate in Corporate Social Responsibility.
Selected from CQ Researcher, Sage Publication Ltd. London
Puspitasari, D.A. 2010. Reaksi Pasar Terhadap Publikasi Informasi Tanggung Jawab
Sosial dan Lingkungan (CSR) yang Memiliki Luas Pengungkapan Berbeda
Dalam Laporan Keuangan: Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar
di BEI. Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unika
Soegijapranata
Schaltegger, S.,M. Bennett dan R. Burritt. (Eds.). 2006. Sustainability Accounting and
Reporting. Eco-Efficiency and Science Volume 21. Springer.Netherlands.
Werther, Jr. W. dan D. Chandler. 2011. Strategies Corporate Social Responsibility:
Stakeholders in A Global Environment. Second Edition. Sage Publication Ltd.
London.
World Commission on Environment and Development (WCED). 1987. Our Common
Future (Report of the Brundtland Commission. OUP, Oxford.

32

BAGIA
AN II
ATA
BIODA

A DATA PR
A.
RIBADI:
Nama lengka
N
ap
N
NPP
T
Tempat/
tang
ggal lahir
A
Agama
N
Nama
Istri

dreas Lako
: And
: 5811994155
: Lan
nga Bajawa N
Nusa Tengga
ara Timur; 30
0 Nopember 1
1966
: Kato
olik
: Ann
na Sumaryatii, SE, M.Si

A
Anak

: 1. A
Agatha Gloria
a Andreana ((alm.)
2.L
Laurensius Ju
ulio Andreaja
a
3. Myria
M
Intana Andreana
4. Irene Karunia
a Andreana

A
Alamat
Ruma
ah

: Tam
man Kradena
an Asri Blok D32F, Sukorrejo
Gu
unungpati Semarang
Telp.024-85011
185
mi Unika Soe
egijapranata
: Fakkultas Ekonom
Jln Pawiyatan Luhur IV/1 Be
endan Dhuwu
ur
marang 5023
34
Sem
: a_llako@yahoo.com

A
Alamat
Kanto
or

E
E-mail
pribad
di

B RIWAYAT
B.
T PENDIDIKA
AN:
1 SD
1.
2. SMP
2
3 SMA
3.
4 S-1
4.
5 S-2
5.
6 S-3
6.

: 1. SDK Langa, Bajawa, NTT (1975-1
1979)
2. SDK Bom
mari Bomari, NTT (1979-1
1981)
N
(1981-19
984)
: SMP Negerri I Bajawa, NTT
a, Ende, NTT
T (1984-1987
7)
: SMA Katolikk Syuradikara
ultas Ekonom
mi Universitass Atma Jaya
: Jurusan Akkuntansi Faku
Yogyakarta
a (1987-1993
3)
: Program Magister Sainss Ilmu Akunttansi Universsitas Gadjah Mada
(2000-2001
1)
oktor Ilmu Akkuntansi Univversitas Gadjjah Mada (Ag
gustus
: Program Do
2002- 2 Ma
aret 2007)

33

C. RIWAYAT PEKERJAAN DI UNIKA SOEGIJAPRANATA:
1. Riwayat pangkat dan golongan ruang serta pengangkatannya:
a. Calon Pegawai Tetap
: Juli 1994- Agustus 1995
b. Asisten Ahli Madya/IIIA
: 1 Pebruari 1996
b. Asisten Ahli /IIIb
: 1 Juli 1998
c. Asisten Ahli (Penyesuaian) III/b
: 2000
d. Lektor /IIIC
: 1 Januari 2003
e. Guru Besar
: 1 Desember 2010

2. Riwayat Pengalaman Jabatan Struktural
1. Dekan Fakultas Ekonomi (1 September 2008 - sekarang)
2. Sekretaris Forum Doktor Unika Soegijapranata (2007-2009)
2. Ketua Jurusan Akuntansi (Juli 1997-Januari 2000)
3. Pemimpin Redaksi Jurnal Akuntansi & Manajemen (2002)
4. Pemimpin Redaksi VISI Fenata (1995-1996)

D. BIDANG KEAHLIAN / MINAT
1. Analisis Laporan Keuangan dan Pasar Modal
2. Keuangan Korporasi dan Keputusan Manajerial
3. Green Business dan Corporate Responsibility
4. Akuntansi Sosial dan Lingkungan
5. Akuntansi Berkelanjutan
6. Tatakelola Korporasi dan Nilai Perusahaan

E. RIWAYAT PEKERJAAN
1. Dosen tetap Fakultas Ekonmi Unika Soegijapranata ( Juli 1994-sekarang)
2. Dosen Program Manajemen Manajemen dan Magister Sains Unika Segijapranata
(2007 – sekarang
3. Dosen Program Magister Manajemen Universitas Dian Nuswantara (2008- sekarang)
4. Financial Advisor Amartha Institute (2007-sekarang)
5. Pembina CSR Jateng (2011-sekarang)
6. Kolumnis tetap ”Akuntansi & Investasi” Business News, Jakarta (2005- 2010)
7. Kolumnis tetap ”Gambang Semarang” haian Jawa Pos Radar Semarang (2010Sekarang)
8. Konsultan Bisnis PDAM Tirta Moedal Kota Semarang (2009)
9. Dosen tidak tetap STIE BPD Jateng (2002)
10. Chief Accounting PT MacPower Sejahtera, Jakarta (1994)
11. Asisten Dosen Fakultas Eknomi Universitas Atma Jaya (1991-1993)

34

F. PRESTASI DAN PENGHARGAAN YANG DIPEROLEH
1. Dosen Berprestasi Tingkat Nasional 2008
2. Dosen Berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah 2008
3. Dosen Berprestasi Dalam Rangka 25 Tahun Unika Soegijapranata 2007
4. Dosen Idiol “TERSMART” 2008 hasil pilihan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Unika
Soegijapranata
5. Lulusan Cum Laude dari Program Doktor Ilmu Akuntansi UGM Yogyakarta (2007)
6. Lulusan Cum Laude dari Program Magister Sains UGM Yogyakarta (Januari 2002)
7. Juara I Pemakalah Terbaik dalam Simposium Dwi Tahunan Journal of Accounting,
Management and Economics Research. Agustus 2004
8. Juara IV Lomba Penulisan Artikel “Membangun Masa Depan Perbankan Nasional”
dari Bank BNI 1946, Jakarta (Maret 2007)
9. Penerima Beasiswa Unggulan untuk Penulisan Buku “Laporan Keuangan & Konflik
Kepentingan” dari Depdiknas 2007

G. KEPENGURUSAN DAN KEANGGOTAAN DALAM ORGANISASI
1. Ketua IAI Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI-KAPd) Wilayah Jawa Tengah (20102012)
2. Pengurus IAI KAPd Seksi Corporate Governance & CSR (2010-sekarang)
3. Anggota Kompartemen Akuntan Pendidik, Ikatan Akuntan Indonesia (2002- searang)
4. Anggota IAI (2010 – sekarang)
5. Ketua Bidang Penelitian dan Publikasi Forum Mahasiswa dan Alumni Doktoral
Ekonomi Universitas Gadjah Mada (FORMADEGAMA) 2005-2006
6. Ketua Forum Mahasiswa dan Alumni Doktoral Ekonomi Universitas Gadjah Mada
(FORMADEGAMA) 2006-Pebruari 2007
7. Anggota Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), 2007- sekarang

H. KEPENGURUSAN DALAM JURNAL ILMIAH
1. Chief in Editor JURNAL AKUNTANSI BISNIS, Unika Soegijapranata (2009-sekarang)
2. Chief in Editor JURNAL DINAMIKA SOSIAL EKONOMI, Kopertis Wilayah VI Jawa
Tengah (2010-sekarang)
3. Chief in Editor JOURNAL OF KNOWLEDGE, TECHNOLOGY AND SOCIETY IN
EMERGING ECONOMIES, Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah (2011-sekarang)
4. Editor Board pada Journal of Issues in Social and Environmental Accounting (2011sekarang)
5. Dewan Penyunting JURNAL RISET AKUNTANSI DAN KEUANGAN,Fakultas Ekonomi
UKDW Yogyakarta (205-sekarang),
6. Dewan Penyunting KINERJA, Program Pascasarjana UAJY (2004-sekarang)
7. Dewan Penyunting Jurnal EKONOMI, STIE Indonesia (2007-sekarang)
8. Dewan Penyunting JURNAL AKUNTANSI KONTEMPORER , Unika Widya Mandala
Surabaya, (2008-sekarang)
9. Dewan Penyunting JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS, Univ. Muhammadiyah Solo
10. Mitra Bestari VITASPHERE Pascasarjana Unika Soegijapranata,
11. Dewan Penyunting KAJIAN AKUNTANSI, Universitas STIKUBANK (2008-Sekarang)
12. Dewan Penyunting JURNAL DINAMIKA MANAJEMEN, Pascasarjana Unika
Soegijapranata (2010-saat ini)

35

H. KARYA TULIS BERUPA BUKU
1. Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi: Isu, Teori dan Solusi. Amara Books. 2004
2. Relevansi Informasi Akuntansi Untuk Pasar Saham Indonesia: Teori dan Bukti
Empiris. Amara Books. 2006
3. Laporan Keuangan dan Konflik Kepentingan. Amara Books. 2007
4. Dekonstruksi CSR & Reformasi Paradigma Bisnis & Akuntansi. Edisi Pertama.
Penerbit Erlangga. 2011

I. PUBLIKASI KARYA ILMIAH DALAM JURNAL (2003-2011)
No.
Karya Ilmiah
1
2
3

4
5
6
7

8
9
10

11
12
13

14

Budaya Organisasi dan Kesuksesan Kinerja
Ekonomi
Kelayakan Sistem Kompensasi Karyawan
Anomali Reaksi Investor terhadap Pengumuman
Laba Good News dan Laba Bad News: Bukti
Empiris dari Bursa Efek Jakarta.
Kekuatan dan Konsekuensi dari Informasi
Laporan Keuangan
Aspek-aspek Keperilakuan dalam Penyusunan
dan Implementasi Anggaran
Relevansi dan Kelemahan Generic Strategic
Porter
Akuntabilitas Publik dan dan pentinganya Audit
Kinerja Sektor Publik dalam Era otonomi Daerah.
(bersama Anna Sumaryati).
Framing Effects Dalam Proses Pengambilan
Keputusan Investasi
Aspek-aspek Keperilakuan dalam Perencanaan
dan Penyusunan Anggaran Perusahaan
Akuntabilitas Publik dan Pentingnya Audit Kinerja
Sektor Pada Era Otonomi Daerah.
Generic Competitive Strategy Porter, Apa
Relevansinya.
Relevansi dan Kritik Terhadap Transformational
Leadership.
Reaksi Investor Terhadap Publikasi Rasio-rasio
Keuangan “Good News dan Band News”.
Budaya Organisasi dan Kesuksesan Kinerja
Ekonomi

36

Penerbit/tahun

Kajian Bisnis, STIE Widya
Wiwaha. (Terakreditasi)
Bank & Manajemen.
Januari/Peb. 2003
Manajemen dan Usahawan
Indonesia. Pebruari 2003.
(TERAKREDITASI)
Bank & Manajemen. Maret –
April 2003.
Bank & Manajemen. SeptemberOktober. 2003
Bank & Manajemen. NopemberDesember 2003.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis .
September.2003.
(TERAKREDITASI)
Bank & Manajemen. No. 73. JuliAgustus 2003. 46-52
Bank & Manajemen. No. 74.
September-Oktober 2003. 42-46
Jurnal Ekonomi dan Bisnis,. Vol.
IX. No. 2. (Bersama Anna
Sumaryati). (TERAKREDITASI)
Bank & Manajemen. No. 75.
Nopember-Desember 2003.
Bank & Manajemen. No.
76. Januari- Pebruari 2004.
Jurnal Ekonomi. STIE Indonesia.
Januari –Maret 2004.
(TERAKREDITASI)
Dalam buku “Strategi
Organisasi.” (Editor: A. Usmara
& L. Dwiantara). Penerbit Amara
Books. 2004. 109-128

15
16
17

18

19
20

21
22
23
24
25

Peran Corporate Strategy Dalam KesuksesanKegagalan Merger&Akuisisi: Telaah Literatur.
Peran Filsafat Ilmu Sebagai Fondasi Utama
Dalam Pengembangan Ilmu (Teori) Akuntansi.
Pengujian Empiris Indikasi Free-Riding Dalam
Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Laporan
Keuangan.
Peran Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
Dalam Memacu Efektivitas Implementasi
Balance Scorecard
Eskalasi Komitmen dan Dalam Keputusan
Investasi dan Solusi Pemecahannya.
Investigasi Terhadap Perilaku Free-Riding dalam
Reaksi Pasar Terhadap Publikasi Laba Good
News dan Bad News.
Menyoal Paradigma Auditing BPK Di Bank
BUMN
Kaji Ulang Kebijakan Pembagian Dividen
Korporasi
Laporan Keuangan dan Transfer Informasi
Intraindustri
Dampak Transparansi Informasi Terhadap Nilai
Korporasi Perbankan
Free-riding Dalam laporan Keuangan

26

Relevansi Nilai Informasi Akuntansi Untuk
Investor Pasar Saham: Problema dan Peluang
Riset

27

Market Anomaly in Market reaction to earnings
announcements with and without confounding
effects: an empirical evidence from Jakarta Stock
Exchange.
Market Reaction to Financial Statement
Announcements With and Without Confounding
Effects: An Empirical Evidence from Jakarta
Stock Exchange.
An Empirical Investigation of the Market
Response to the Good and Bad News Earnings
Announce-ments with and without Confounding
Effects.

28

29

30

The Explanatory Power of Unexpected Earnings
for Stock Abnormal Returns during Uncertainty
Periods.

31

Market Reaction to Earnings Announcements
With and Without Confounding Effects: An
Empirical Evidence from Jakarta Stock
Exchange.
Relevansi Nilai Informasi Akuntansi Untuk

32

37

Kinerja. MM UAJY. Juni 2004.
70-81. (Terakreditasi)
Jurnal Bisnis dan Akuntansi.
Agustus 2004. (Terakreditasi)
Jurnal Ekonomi dan
Bisnis..September 2004.
(TERAKREDITASI)
Bank & Manajemen. No. 81.
Nopember-Desember 2004
Bank & Manajemen. No. 82.
Januari-Pebruari 2005
Jurnal Riset Akuntansi &
Keuangan. Pebruari 2005.
Bank & Manajemen. Maret-April
2006
Bank & Manajemen. Mei—Juni
2006
Bank & Manajemen. No.92.
Nopember-Desember, 2006
Bank & Manajemen. No.93.
Januari-Pebruari 2007
Bank & Manajemen. JuliAgustus 2007
Jurnal Akuntansi & Manajemen.
Agustus 2007-Peburuari 2008.
STIE YKPN Yogyakarta
(TERAKREDITASI)
Jurnal Akuntansi Bisnis. Edisi 1
(Agustus 2002 – Pebruari 2003).
Vol. 1. 2002 (co Dr. Jogiyanto
HM)
The Journal of Accounting,
Management and Economics
Research. Pebruary 2003. 19-33
The Journal of Acconting,
Management and Economics
Research. Vol. 4. No. 1.
(February 2004).
(TERAKREDITASI)
The Journal of Accounting,
Management and Economics
Research. Vol. 4. No. 2.
August 2004. (Terakreditasi)
Jurnal Ekonomi. Juli-September
2004 (Bersama Dr. Jogiyanto
Hartonom, MBA).
(TERAKREDITASI)
Jurnal Akuntansi & Manajemen.

Investor Pasar Saham: Problema dan Peluang
Riset.
33

34
35

36

Pengaruh Kinerja Laba Kejutan Terhadap
Relevansi Nilai Laporan Keuangan Untuk Pasar
Saham
Kewajiban CSR dan Reformasi Paradigma Bisnis
dan Akuntansi
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perusahaan: Motif, Perlakuan Akuntansi
dan Bukti Empiris.
Relasi Manajemen Keuangan dan Pasar Modal:
Tinjauan Teoritis, Pengajaran dan Riset

Agustus 2007-Peburuari 2008.
STIE YKPN Yogyakarta
(Terakreditasi)
Manajemen dan Usahawan
Indonesia. IV/Juni- Juli 2008
Manajemen dan Usahawan
Indonesia. Nov.-Des. 2008
Manajemen
&
Usahawan
Indonesia
No. 2, 2010
Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi.
Vol. 6. No.2 November 2010

J. PUBLIKASI KARYA ILMIAH POPULER DI MAJALAH & MEDIA MASSA (2003-2011)
No.
1

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Artikel popular

Media

Problema Internasional dalam Pelaporan
Informasi Akuntansi Sosial-Lingkungan dan
Implikasinya terhadap Perusahaan Publik
Indonesia.
Isu-Isu Krusial dan Strategi Dalam Merger &
Akuisisi Antarbank
Salah Kaprah Interpretasi Korupsi Bonus PLN
Laporan Keuangan dan Fenomena Free-Riding
Penyusunan Standar Akuntansi Lingkungan:
Peluang Dan Kendala
Kompensasi Manajemen Saat Krisis Keuangan
Audit Kinerja Manajemen Untuk Meningkatkan
Kinerja Organisasi Secara Berkelanjutan
Dampak Pengungkapan Sukarela Laba
Menjadi Perusahaan Sosial, Apa Untungnya?
Rekonsiliasi Paradigma Auditing dan Manajerial
Strategi Mengatrol Nilai Pasar Saham
Perusahaan
Manajemen Laba Untuk Menghindari
Pembayaran Pajak
Rekayasa Laba Untuk Menghindari Pajak
Pengungkapan Intangible Asset dan Apresiasi
Stakeholder
Tipuan Dalam Pelaporan Laba
Agar Manajer Tak Curang
Kaji Ulang Strategi Bisnis pada Profit
Maximization
Kelayakan Sistem Kompensasi Untuk Eksekutif
Pengakuan Biaya Pemasaran Sebagai
Pengeluaran Investasi dan Implikasinya Terhadap
Kinerja Keuangan

38

Media Akuntansi. No.23. Peb-Maret
2003.

Business News. 1 Agustus 2005
Bisnis Indonesia, 31 Agustus 2005
Bisnis Indonesia, 12 September
2005
Media Akuntansi. September 2005
Bisnis Indonesia, 10 Oktober 2005
Business News, 30 Oktober 2005
Bisnis Indonesia, 14 Desember 2005
KONTAN, 19 Desember 2005
Bisnis Indonesia, 23 Desember 2005
Bisnis Indonesia, 30 Desember 2005
Business News, 2 Januari 2006
KONTAN, 23 Januari 2006
SWA, 12-25 Januari 2006
KONTAN, 13 Pebruari 2006
KONTAN, 13 Maret 2006
Business News, 17 April 2006
Business News, 13 September 2006
Media Akuntansi. Januari 2006

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62

Budaya Korporasi dan Kesuksesan Kinerja Bisnis
Laporan Keuangan Tak Berguna?
Kenikmatan Tersembunyi Intangible Asset
Intangible Asset sebagai Pencipta Nilai
Menyiasati Timing Publikasi laporan Keuangan
Kontradiksi Peraturan Nomor X.K.7
Keuntungan Yang langgeng Tanggung Jawab
Sosial Perusahaan
Friedman dan Polemik tangggung jawab sosial
Perusahaan
Kenaikan IHSG dan Faktor SBY-JK
Kaji Ulang Strategi Kebijakan Dividen Korporasi
Agar Bursa penuh Emiten
Untung-Rugi BUMN Masuk Bursa
Teknologi Informasi dan Kinerja Laba
Punya Anak Cacat itu Anugerah
Mengapa Laba Dimanipulasi
Emiten Juga Perlu Dilindungi
Cost-Benefit dan Urgensi Formalisasi CSR
Salah Kaprah CSR dan GSR
CSR, Beban Yang Mendatangkan Untung
Free-riding Dalam laporan Keuangan.
Regulasi Bapepam dan Relevansi Nilai Laporan
Keuangan.
Penyehatan Penyakit PDAM
Akuntansi CSR.
Bumerang Kenaikan Setoran Dividen BUMN..
Kemajuan Bangsa dan Penciptaan Nilai
Pendidikan Masa Depan
Perlukah BUMN Transparan?
Kaji Ulang Insentif Pajak Go Public
Bumerang Diskon Pajak Penghasilan Emiten
Bursa
Salah Kaprah dan Dekonstruksi CSR
Salah Kaprah Pajak lingkungan
Problema Dividen BUMN
Salah kaprah Valuasi Harga Hutan
Salah Kaprah Intensifikasi Pajak Komoditi
Mencari Standar Akuntansi CSR
Untung-rugi Perusahaan Go Public
CSR adalah Kewajiban Asasi
Anomali Opsi Privatisasi KS
CSR dan Reformasi Akuntansi
Reformasi Pelaporan Bisnis
CSR dan Reformasi pelaporan
Free-rider dan Strategi Publikasi Laporan
Keuangan
Jadikan SR Kebutuhan Hakiki Korporasi
Mngukur Kinerja Direksi

39

Business News, 29 September 2006
KONTAN, 13 November 2006
KONTAN, 13 Desember 2006
SWA, 4-17 Januari 2007
Bisnis Indonesia, 9 April 2007
Seputar Indonesia, 16 April 2007
KONTAN, Minggu IV April 2007
Business News, 10 April 2007
Business News, 27 Mei 2007
Business News, 27 Mei 2007
KONTAN, Minggu II Juni 2007
Bisnis Indonesia, 7 Juni 2007
SWA, 12/XXIII/4-13 Juni 2007
Majalah INSPIRASI, Juni 2007
Majalah Auditor, Juni 2007
Bisnis Indonesia, 2 Juli 2007
Bisnis Indonesia, 19 Juli 2007
KONTAN, Minggu IV Juli 2007
Business News, 1 Agustus 2007
Bank & Manajemen. SeptemberOktober 2007
WARTA Bapepam-LK, Minggu III
November 2007
Suara Merdeka, 22 Oktober 2007
SWA. 24 Januari-5 Pebruari 2008.
BUMN Track, April 2008
Warta APTIK, Agustus-Des. 2007
KONTAN, Minggu I November 2007
Bisnis Indonesia, 16 Januari 2008
KONTAN, 17 Januari 2008
KONTAN, 11 Pebruari 2008
KONTAN, 19 Pebruari 2008
Harian KONTAN, 10 Maret 2008
Bisnis Indonesia, 15 Maret 2008
Harian KONTAN, 1 April 2008
Harian KONTAN, 18 April 2008
Business News, 19 April 2008
KONTAN, 8 Mei 2008
KONTAN, 26 Mei 2008
KONTAN, 4 Juli 2008
KONTAN, 12 Juli 2008
KONTAN, 10 Desember 2008
KONTAN, 4 Pebruari 2009
Business News, 12 Peb. 2009
KONTAN, 11 Maret 2009

63
64
65
66

Solusi Menghindari PHK
Mengungkap Tipuan Direksi
Apakah laporan keuangan masih berguna bagi
investor?
Perusahaan Untung Karena Beramal

67
68

Mgr Suharyo dan Pendidikan Berbasis Kasih
Irwan Hidayat dan Nasionalisme pengusaha

69
70

Mengurai Motif Tersembunyi Dalam CSR
Pengusaha Berjiwa Semarangan Sejati

71

Meningkatkan Daya Saing Jawa Tengah

72

CSR Beban Yang Menguntungkan

73

Problema Investasi di Jawa Tengah

74

Kandidat Tak Paham Akar Masalah

75

Kontradiksi Klaim Keberhasilan Pak Gub

76

Pencopotan Yang Tidak Etis

77

Pengusaha, Jangan Takut Go Public

78
79

Perusda dan Anggapan Sapi Perah
Salah Kaprah Pencopotan Dirut PDAM

80

Visi Bersama Bangun Kota Semarang

81

Laporan Keuangan Ramah CSR

82

CSR, Berkah Perusahaan di Jateng

83
84

CSR dan Reformasi Akuntansi
Direksi baru dan fokus penyehatan PDAM

85

Solusi Penyehatan PDAM

86

Pahami Penyakit Kronis PDAM

87

Pajak ABT dan Pembenahan PDAM

88

CSR Bersama untuk Majukan Jawa Tengah

89

Menjadi Corporate Citizenship

KONTAN, EDISI 29 nOVEMBER‐5
DESEMBER 2010

90

Nikmatnya jadi Corporate Citizenship

KONTAN, 6 November 2010

40

KONTAN, 14 April 2009
KONTAN, 12 Mei 2009
Majalah BANK & MANAJEMEN,
Mei-Juni 2009
SUARA MERDEKA, 20 September
2009
INSPIRASI, Oktober 2009
Majalah MARKETERS, Desember
2009
KONTAN, 22 Desember 2009
JAWA POS RADAR SEMARANG,
18 Pebruari 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
15 Maret 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
13 Mei 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG, 4
Maret 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
12 April 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
25 Maret 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG, 5
Juni 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
29 April 2010
SUARA MERDEKA,10 April 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
24 Mei 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
26 Juli 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
10 September 2010
SUARA MERDEKA, 14 OKTOBER
2010
KONTAN, 27 September 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
15 November 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG, 2
September 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
15 Agustus 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
29 November 2010
JAWA POS RADAR SEMARANG,
20 Desember 2010

91

CSR dan kesehatan ekonomi perusahaan

92
93

UU Pelaporan Keuangan Mendesak
Jangan naikkan tarif PDAM

94
95

Relevansi Nilai CSR Bagi Perusahaan
Mengapa Perlu CSR Bersama?

96

Mewujudkan CSR Bersama Jateng

97

Suara Merdeka Berkalanjutan

98

Bareng-bareng Mbangun Semarang

99

Memaafkan LKPj Gubernur

100

Kaji Ulang Tarif RSUD

101

Penerapan CSR Bersama di Jateng

BISNIS INDONESIA, 26 Desember
2010
Harian KONTAN, 8 Januari 2011
JAWA POS RADAR SEMARANG,
17 Januari 2011
KONTAN, 10 Pebruari 2011
JAWA POS RADAR SEMARANG, 7
Pebruari 2011
JAWA POS RADAR SEMARANG,
14 Pebruari 2011
SUARA MERDEKA, 14 PEBRUARI
2011
JAWA POS RADAR SEMARANG, 1
Maret 2011
JAWA POS RADAR SEMARANG,
16 April 2011
JAWA POS RADAR SEMARANG, 2
Mei 2011
SUARA MERDEKA, 9 MEI 2011

K. PEMBICARA DAN NARASUMBER FORUM ILMIAH DAN PELATIHAN (2003-2011)
1. Empirical Investigation to the Market Response to Good and Bad News Earnings
announcements with and without confounding effects. Paper dipresentasikan dalam
Simposim Nasional Akuntani (SNA) VI (International Class). 16-17 Oktober 2003.
Fakultas Ekonomi Unair Surabaya.
2. Peran Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Dalam Memacu Efektivitas
Implementasi Balance Scorecard. Disajikan dalam Seminar Bedah Buku: “Budaya
Organisasi & Balance Scorecard: Dimensi Teri dan Praktik” karya Heru K. Tjahjono.
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 4 Pebruari 2004.
3. The Explanatory Power of Unexpected Earnings for Stock Abnormal Returns during
Uncertainty Periods. Dipresentasikan dalam Simposium Nasional II The Journal of
Acconting, Management and Economics Research Fakultas Ekonomi UTY. 14
Agustus 2004. Hotel Radison Yogyakarta. (Mendapat Penghargaan sebagai
Pemenang I untuk Kategori Studi Ilmu Ekonomi.
4. Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi:Isu, Teori dan Solusi. Dipresentasi dalam
Bedah Buku Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi:Isu, Teori dan Solusi Karya
Andreas Lako. UPT Perpustakaan Unika Soegijapranata Semarang, 22 September
2004.
5. Relevansi Informasi Laporan Keuangan untuk Investor Pasar Saham: Pengujian
Berbasis Model Return dan Kandungan Informasi Marjinal. Disajikan dalam Doctoral
Colloqium I. Prasetya Mulya Business School Jakarta. 15 Desember 2004.

41

6. Relevansi Informasi Laporan Keuangan untuk Pasar Saham: Bukti Empiris dari Bursa
Efek Jakarta. Disjaikan dalam “ The 1st Indonesian Business Management
Conference”, Prasetya Mulya Busiess School Jakarta. 26 Januari 2005
7. Relevansi Nilai Informasi Laporan Keuangan Untuk Investor Pasar Saham: Suatu
Bukti Empiris Baru.Simposium Riset II, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI),
Universitas Airlangga, Surabaya. 24-25 November 2005
8. Relevansi Nilai Informasi Laporan Keuangan untuk Pasar Saham: Pengujian Berbasis
Teori Valuasi dan Pasar Efisien. Promosi Terbuka Doktor. Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada, 2 Maret 2007
9. Kemajuan Bangsa dan Penciptaan Nilai Pendidikan Masa Depan. Dipresentasikan
dalam seminar nasional “Kritik Terhadap Paradok Nilai Dalam Industri Pendidikan”
yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang, 9 Juni
2007
10. Kiat Menulis di Media Massa: Refleksi Pengalaman Pribadi. Disajikan dalam
workshop “Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media-Massa”. Unika
Soegijapranata 10-11 Juli 2007
11. Salah Kaprah dan Dekonstruksi CSR. Disajikan dalam Diskusi Bulanan Program
Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata Semarang, 10 Agustus
2007
12. Laporan Keuangan & Konflik Kepentingan. Disajikan Dalam Seminar Pasar Modal &
Bedah Buku yang diselenggarakan BEJ dan Pojok BEJ Unika Soegijapranata
Semarang, 7 September 2007
13. Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial dan Lingkungan: Peluang dan Tantangan Bagi
Profesi Akuntansi. Seminar nasional diselenggarakan Jurusan akuntansi Unika
Soegijapranta, 27 Oktober 2007
14. Salah Kaprah Valuasi Harga Hutan. Disajikan dalam Diskusi Bulanan Program
Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata Semarang, 21 Maret 2008
19. Dekonstruksi CSR dan Reformasi paradigma Bisnis dan Akuntansi. Seminar Nasional
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan. Juni 2008. Unika
Soegijapranata 2008
20. Pelatihan Manajemen Pengelolaan Majalah Ilmiah bagi Dosen PTS di Lingkungan
Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah. 27-29 Mei Mei 2008
21. Pelatihan Penulisan Artikel pada Jurnal Ilmiah bagi Dosen PTS di Lingkungan
Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah.27-30 Juni 2008
22. Pemaduan Teori Pasar Efisien dan Teori relevansi untuk mengukur Relevansi Nilai
lapodran keuangan Untuk Pasar saham. Seminar Dosen Berprestasi Tingkat Nasional
Agustus 2008

42

23. Relevansi Informasi Akuntansi untuk Pasar Modal Indonesia: kajian Akademis.
Seminar Pasar Modal 30 September 2008. Pojok BEI Unika Soegijapranata & BEI
Jakarta
24. Relasi Manajemen Keuangan dan Pasar Modal: Tinjauan Teoritis, Pengajaran dan
Riset Pengabdian. Seminar keuangan fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Semarang, Oktober 2008
25. Valuasi Hasil AMDAL Sukolilo dan Dampak Ekonomi Pembangunan Pabrik Semen.
Disajikan dalam Kajian Maslahat dan Mafsadah PCNU Pati, 11 Januari 2009.
26. Analisis Laporan Keuangan dan Strategi Keputusan Investasi. Kuliah Umum
diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Dian Nuswantara. 15 April 2009
27. Telaah kritis dan Strategi menulis di Jurnal Terakreditasi. Disajikan dalam Pelatihan
penulisan artikel ilmiah di Jurnal Terakreditasi yang diselengarakan Kopertis Wilayah
VI Jawa Tengah, 22-23 Juli 2009
28. Pengaruh Aset tidak Berwujud Terhadap relevansi Nilai Laporan keuangan. Disajikan
dalam seminar Penelitian yang diselenggarakan LPPM Unika Soegijapranata. 29 Juli
2009.
29. Fairness and Reciprocity in Earnings Management. Disajikan dalam Simposium
Nasional Akuntansi (SNA). Palembang. 5 Oktober 2009
30. Pengelolaan Aset Perusahaan: Inventarisasi, Level dan Optimalisasi Nilai Aset.
Diselenggarakan Pertamina. Patra Jasa 13 Oktober 2009
31. Manajemen Kemitraan dan manajemen jurnal ilmiah. Disajikan dalam pelatihan
pengelolaan Jurnal yang diselenggarakan Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah. Oktober
2009,
32. Manajemen dan Optimalisasi Nilai Aset Perusahaan. Diselenggarakan Pertamina.
Bandung, 3-4 November 2009
33. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan: Motif, Perlakuan Akuntansi dan
Bukti Empiris. Seminar Nasional diselenggarakan oleh Jurusan Akuntansi Unika
Soegijapranata. 21 November 2009.
34. Strategi Pengembangan Investasi Dalam Mendukung Daya Saing Daerah Jawa
Tengah.. Bapeda Jateng, 23 Pebruari 2010
35. Pemanasan Global: Penyebab, Akibat dan Agenda Aksi. Seminar Regional dengan
topik Save Our Planet. Unika Soegijapranata, 24 April 2010.
36. Telaah kritis Artikel ilmiah &Strategi Artikel Ilmiah Diterima Jurnal Terakreditasi.
Disajikan dalam pelatihan penulisan artikel pada jurnal ilmiah bagi dosen PTS
dilingkungan Kopoertis Wilayah VI, Jawa Tengah, 20-23 April 2010.

43

37. Standar Akuntansi Pemerintahan: Tinjauan Konseptual dan Praktik. Disajikan dalam
Sarasehan Penguatan Jurnalisme tentang Standar Akuntansi Pemerintahan oleh
Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jawa Tengah. 31 Juli 2010
38. Urgensi dan Usulan RUU Pelaporan Keuangan: Pelajaran dari negara lain. Disajikan

dalam “Diskusi RUU Pelaporan Keuangan” yang diselenggarakan oleh Kementerian
Keuangan, IAPI Jateng & DIY pada 19 November 2010
39. Apakah Corporate Social Responsibility (CSR) Memiliki Relevansi Nilai Ekonomik
untuk Perusahaan? Kajian Teoritis dan Bukti Empiris. Disajikan dalam Seminar
Nasional CSR: Great Solution for Green Business. Diselenggarakan HMJ Akuntansi
Unika Soegijapranata. 9 Desember 2010
40. Menjadikan Pedesaan Sebagai Lokomotif Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
Talkshow Smart Business Forum dengan tema “Peran Pedesaan Dalam
mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi 2011. Hotel Graha Premier. 20 Januari 2011
41. Menjadikan Laporan Keuangan Sebagai Basis Keputusan Investasi di Pasar Modal.
Disajikan dalam Seminar Economic-Market Outlook 2011. Unika Soegijapranata. 21
Januari 2011
42. Kiat Bisa Menulis di Media Massa: Mengalaman Pribadi. Disajikan dalam Pelatihan
Penulisan Artikel Koran Yang Diselenggarakan Forum Doktor Unika Soegijapranata.
Bandungan. 16 Pebruari 2011
43. Aspek-aspek krusial dalam Pengelolaan E-journal & Tatakelola e-journal Ilmiah yang
Baik. Disajikan dalam pelatihan pengelolaa e-journal Ilmiah bagi Dosen PTS Kopertis
Wilayah VI, Salatiga, 8-11 Maret 2011
44. Pembedah Buku “Perjalanan Pemikiran Konsep Pemarasan Hermawan Kartajaya dari
Indonesia untuk Dunis: Simplifikasi, Redefinisi dan Futurisasi (2010).
Diselenggarakan MarkPlus Inc., dan Penerbit Erlangga di Radio SonoraFM. 28 Maret
2011.
45. Pertumbuhan Penduduk Berkah bagi Pembangunan Ekonomi Daerah. Disajikan
dalam Seminar “Strategi Menekan Laju Pertumbuhan Penduduk untuk Meningkatkan
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah yang diselenggarakan Cakra TV Semarang. 9
Mei 2011.

L. PENGALAMAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
1. Narasumber untuk isu-isu ekonomi dan sosial-lingkungan pada Radio Republik
Indonesia (RRI), radio SMARTFM, Trijaya FM, SonoraFM, PasFM dan Idola FM
2. Narasumber untuk CakraTV, ProTV, Borobudur TV dan TVKU.
3. Narasumber untuk harian KOMPAS, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Seputar
Indonesia, Suara Merdeka, Jawa Pos Radar Semarang, Harian Semarang, dan
lainnya.

44

4. Kolumnis pada harian dan tabloid KONTAN (2005-sekarang), Bank & Manajemen
(1995-sekarang) dan Bisnis Indonesia (2005-2008).
5. Anggota tim independen kajian Amdal Sukolilo terkait rencana pembangunan pabrik
semen PT Semen Gresik Tbk (2008-2009)
6. Anggota Tim Penanggulangan Kemiskinan Kota Semarang dengan fokus
pengembangaan kemitraan melalui CSR Bersama Kota Semarang (2011-2015)
7. Anggota Tim pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jawa Tengah (2010sekarang)
8. Dewan Juri Pemilihan Dosen Berprestasi Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah (20092011)
9. Dewan Juri untuk Master Journey in Management FE-UI dan Bisnis Indonesia (20082011)

45

BAGIAN III
KESAN SAUDARA, GURU DAN SAHABAT

Catatan dari saudara:

Ande Itu Tekun dan Ulet
Oleh: Aegidius Naru*

Andreas Lako atau Ande sapaan akrab di tanah kelahirannya Ngada-Flores,
adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Walau orangtuanya petani, dan kelima kakaknya
hanya sampai SD, Ande kecil memiliki impian melanjutkan pendidikan di SMP meski
berjarak 7 kilometer. Meski tak punya biaya, namun keluarga mendukung karena hasil
belajarnya menonjol. Walau harus berjalan kaki sekitar 14 kilometer setiap hari
sekolah selama 3 tahun itu, toh ia senang dapat menyelesaikan SMP dengan hasil yang
bagus. Dia pernah menjadi juara umum dan mendapatkan piagam dari kepala
sekolahnya ketika duduk di kelas III.
Selanjutnya Ande ingin masuk SMA Syuradikara di Ende yakni salah satu
sekolah favorit di NTT. Tentu saja keluarga yang telah ditinggal mati ayah ketika
Ande masih berusia enam tahun SD merasa amat berat biayanya. Tetapi niat dan tekad
Ande yang kuat membuat keluarga berupaya keras mencukupi biayanya. Ande bisa
meneyelesaikan pendidikan di SMA itu dengan hasil membanggakan.
Impian Ande melambung ingin melanjutkan studi Ekonomi di FE-UGMYogyakarta. Keluarga terhenyak. Dari mana biayanya ? Mungkin terinspirasi oleh
motivasi bijak: “If you can dream, you can do it”, berangkatlah Ia ke Yogya untuk
mengikuti SIPENMARU tahun 1987. Saat itu, saya sudah tinggal di Yogya dan
*

Kakak dari Andreas Lako

46

menyambutnya. Saya yakin, dengan konsistensi prestasi belajar yang tergolong bagus,
Ande akan lulus masuk FE-UGM. Ternyata hasilnya, Ia tak lolos. Saya sedih dan
kecewa. Ande terpukul.
Lalu, saya menghibur dan mendorongnya ikut tes masuk Jurusan Akuntansi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang saat ini masih berstatus Terdaftar.
Semenjak diterima kuliah di UAJY, motivasi belajarnya mulai naik. Ia meningkatkan
rasa percaya dirinya dengan mengikuti olahraga beladiri Taekwondo di kampus dan
juga kegiatan jurnalistik. Minat menulisnya sejak di SD dikembangkan. Ande cukup
disiplin dalam belajar dan bersungguh-sungguh dalam apapun tugas yang
dilakukannya. Baginya setiap waktu berharga. Maka ia tak suka keluyuran,
berkumpul-kumpul tanpa makna apalagi pacaran.
Hasilnya Ande dapat menyelesaikan studi tepat waktu dengan hasil yang baik.
Ia pun melamar menjadi dosen di dua perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogya.
Namun, ditolak karena belum ada formasi. Ande sedih. Ande lalu mencari kerja di
Jakarta.
Setelah bekerja sebentar di Jakarta, Ande melamar dan diterima menjadi dosen
di FE-UNIKA Soegijapranata Semarang. Impiannya untuk kuliah di FE-UGM mulai
terwujud satu per satu di jenjang S2 dan S3. Ia pun lulus dengan predikat cum laude.
Bahkan memuncak menjadi Guru Besar dalam Ilmu Akutansi. Puji Tuhan... Tuhan
telah membuat semua perjuangan manusia indah pada waktunya.
Saya dan keluarga lega dan bersyukur atas karya Tuhan Yang Maha Bijaksana
dalam diri Ande dan orang-orang yang telah menempanya sejak SD hingga perguruan
tinggi. Walaupun Ande pernah terpukul oleh kegagalan-kegagalannya, tetapi mampu
bangkit meraih jenjang prestasi akademik tertinggi. Ande juga pernah sedih dan
kecewa karena dikaruniai dua putra yang kurang sempurna pertumbuhan fisiknya.
Namun Ia mampu bangkit mensyukurinya sebagai kurnia Tuhan.
Secara rohani, Ia mampu mengolah dan menuangkan pikiran-pikirannya dalam
karya-karya tulis yang bermanfaat baik di media masa maupun forum ilmiah. Bagi
Ande, menulis menjadi hobi yang menyenangkan dan menggairahkan semangatnya .
Apa yang dicapai Ande sekarang ini adalah buah-buah manis dari konsistensi impian,
kerja keras, disiplin belajar dan doa syukur.
Saya dan keluarga berharap dan berdoa semoga Ande tetap sayang pada
keluarga, sederhana dan rendah hati. Jagalah kesehatan dan teruslah berkarya untuk
masyarakat dan negara. Tuhan menyertaimu adikku.
Atas nama keluarga,
Aegidius Naru
47

48

Kesan dari mantan guru SMA:

Dia Anak Yang Pendiam dan Tekun
Oleh: Drs. Yohanes Sugianto*

Saya pernah mengajar Andreas Lako atau biasa dipanggil Ande pada tahun
1985-1986. Kisahnya dimulai ketika seorang suster teman ibu saya mencari guru
bahasa Inggris untuk sebuah SMA di Ende (Flores). Waktu itu saya sudah dua tahun
mengajar di Bandung tapi tidak tahan oleh dinginnya udara di sana. Maka ibu
menganjurkan saya untuk pindah ke Ende.
Penduduk Ende ternyata ramah. Pada hari-hari awal kedatangan saya, banyak
yang menyapa. Belakangan saya baru tahu bahwa saya dikira pastor. Dan setelah
mereka tahu bahwa saya bukan pastor, penghormatan yang berlebihan itupun
berkurang.
Saya mengajar di SMA Katolik Syuradikara. Waktu itu bulan Juni 1984. Pada
awalnya, saya merasa sulit membedakan murid satu dengan yang lain karena rata-rata
berkulit hitam dan berambut keriting. Tetapi, lama kelamaan saya mulai dapat
mengenali mereka satu per satu, tentu dari perbedaan karakternya.
Salah satu murid yang berkesan bagi saya adalah ANDREAS LAKO. Murid
saya ini adalah seorang anak yang pendiam. Karena bukan keturunan orang berada,
dengan modal pas-pasan dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan belajar. Kebetulan
Tuhan menganugerahi dia otak yang encer, maka lengkaplah sudah kesempatan itu.
Dan karena dia bukan tipe anak yang suka bermain-main, maka setiap kesempatan
digunakannya untuk memperdalam ilmu. Maka jadilah dia seperti yang ada sekarang.
Bisa meraih pendidikan yang tinggi dan mengabdikan ilmunya.
Saya hanya dua tahun saja di SMA Syuradikara, yaitu ketika ANDREAS
LAKO di kelas 1 dan 2. Setelah lebih dari 20 tahun tidak pernah berjumpa dengan
murid-murid saya, akhirnya kami bisa dipertemukan kembali berkat adanya Facebook.
ANDREAS LAKO justru termasuk yang belakangan baru join di Facebook.
Semoga beliau dapat mengabdikan ilmunya semaksimal mungkin untuk
membantu mencerdaskan generasi muda Indonesia.

*

Mantan guru Bahasa Inggris Andreas Lako. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan mengelola Toko Buku
SARI ILMU di Jln Malioboro.

49

Catatan dari seorang sahabat SMA:

Andreas itu tekun dan punya kemauan keras
Oleh:
Makarius Paskalis Baut,SH*

Saya adalah teman sekolah bapak Prof. Dr. Andreas Lako saat sekolah di SMAK
Syuradikara Ende Flores. Sejak kelas 1 dan kelas 2 kami selalu satu ruangan.
Seorang Andreas Lako yang saya kenal saat itu adalah orang yang selalu rendah
hati. Dia suka menolong teman-teman yang bertanya kepadanya tentang suatu materi
pelajaran yang kurang dimengerti. Perilaku dan caranya berpakaian menggambarkan
bahwa dia adalah anak yang berasal dari desa.Tutur katanya selalu santun, tidak suka
konflik, pendengar yang baik dan rajin berdoa.
Di dalam kelas, Andreas Lako tergolong anak yang cerdas meski bukan yang
paling cerdas. Beliau sangat taat terhadap aturan dan disiplin sekolah maupun aturan
di Asrama Sekolah. Di antara teman-teman yang lainya, Andreas adalah seorang yang
sangat suka membaca. Karena itu pula, dia tidak terlalu suka berolah raga atau
berjalan-jalan saat waktu senggang mengitari kota Ende seperti teman-teman kami
yang lainnya. Penampilannya yang sederhana serta sikapnya yang rendah hati dan
sabar tidak jarang di ledekin teman-teman karena yakin dia tidak akan marah.
Andreas adalah seorang yang selalu hidup teratur, tekun serta punya kemauan
yang keras untuk mendapat hasil yang maksimal. Meski demikian, dia termasuk orang
yang cepat lupa dan hampir mendekati pelupa.
Persahabatan saya dengan Andreas hanya berlangsung 2 tahun karena saya
pindah ke sekolah yang lain. Hampir 21 tahun kami tidak pernah berjumpa.

*

Sahabat karib Andreas Lako saat SMA. Saat ini bekerja sebagai seorang Advokat,
tinggal di Jakarta.

50

Pertengahan tahun 2010 saya berhasil berkomunikasi dengan beliau. Rasa
terkejut campur gembira mendengar info darinya bahwa dia sudah S3 dan akan
mendapat pengukuhan sebagai profesor dalam waktu yang akan datang. Sesaat saya
berpikir bahwa Dia pantas mendapatkan prestasi seperti itu karena sejak SMA dia
telah memperlihatkan ketekunan dan kemauannya yang keras.
Dan satu hal yang sulit dia tinggalkan adalah logat dan dialek bahasa daerah
Bajawa (Flores) masih sangat kental di dengar, meski sudah puluhan tahun berada di
Pulau Jawa.
Proficiat buat sahabatku Andreas Lako.

Catatan dari sahabat kuliah S1:

Andreas punya semangat kuat belajar
Oleh: Dr. David S. Kodrat, MM.CPM*

Saya mengenal Andreas Lako semasa kami kuliah S1 di Jurusan Akuntansi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta selama 1987-1992. Saya mengenalnya sebagai
sosok yang pendiam dan memiliki semangat kuat untuk belajar. Sejak kuliah hingga
saat ini saya dan Andreas terus menjalin persahabatan.
Banyak pengalaman hidup yang telah dialaminya dari masalah keluarga,
pendidikan dan pekerjaannya. Namun, Andreas mampu menangkapnya sebagai proses
untuk mendewasakan dan proses menjadi “manusia”. Akhirnya, karir tertinggi dalam
pendidikan dalam pendidikan telah dicapainya.
Saya melihat kehidupan yang dilalui Andreas seperti sebuah perjalanan dari satu
titik ke titik yang lain yang lebih tinggi yang ditabur oleh mimpi-mimpi diisi oleh
keberanian untuk mengambil keputusan dan tindakan berdasarkan iman dan
keyakinan.
Proficiat dan terus berkarya sahabatku….
*

Saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ciputra, Surabaya.

51

Catatan dari sahabat Kuliah S3:

Pengalaman hidup satu indekos
Bersama Andreas Lako
Oleh:
Drs. Eko Nugroho, M.Si (Kand.doktor)*

Pak Andre, begitulah pertama kali aku mengenalnya. Dia teman satu angkatan
ketika kuliah di Program S3 UGM. Ketika pertama kali ketemu, aku langsung
kesengsem dan bertanya dimana dia tinggal. Dari penuturannya, Dia mau indekos di
daerah Melati Sleman. Ketika mendengar itu, aku kasihan padanya karena jarak antara
kampus dan indekos itu cukup jauh. Dengan berbagai bujuk rayu akhirnya saya
berhasil mengajaknya tinggal bersama di indekosan Gang Surya 5B. Kamar kami
bersebelahan.
Walaupun baru ketemu, kami merasa dekat. Pak Andre yang hitam manis suka
tersenyum. Kami tinggal di tempat itu mulanya hanya berdua sehingga semua
keperluan kos, dicukupi bersama. Kami sering makan bersama, diskusi bersama, dan
belajar bersama karena ketika semester 1, 2, dan 3 ada beberapa mata kuliah yang
sama. Ada sejumlah pengalaman yang mengesan ketika kami hidup bersama kurang
lebih empat tahun.
Suatu saat, pak Andre yang sedang belajar di kamar kosnya tiba-tiba merintih
kesakitan. Ia meringis kesakitan sambil memegang dadanya. Ia memanggil saya.
Mendengar panggilannya, saya segera datang dan bertanya: Kenapa Pak Andre?
Sakit ya?” Jawabnya: Iyaa.pak Eko. Nggak tau, dadaku terasa sakit dan sesak”.
Melihat kejadian itu, saya kebingungan karena takut Ia kena sakit jantung. Lalu
kutawarai untuk periksa ke dokter. Tapi Ia menolak. Ia malah minta tolong digosok
dadanya dengan rhemason. Tanpa berpikir panjang, aku segera bantu menggosokkan
dan mengerokinnya. Tidak lama kemudian, pak Andre tertidur. Malam itu aku sering
menjenguknya.

*

Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Surabaya

52

Di kamar, saya kasihan karena Ia tidur pada kasur kecil tanpa tempat tidur.
Kupikir hal inilah yang jadi salah satu penyebab dia sakit. Yah,…..studi di S3 UGM
memang berat. Kami sering kurang tidur karena banyak yang harus dikerjakan…
Lalu besoknya kusarankan agar dia segera membeli tempat tidur agar tidak sering
sakit semacam itu. Tapi dia menjawab, “Pak Eko,…(sambil garuk-garuk kepala yang
sering menjadi kebiasaannya)….. beasiswaku dari Unika belum cair, jadi saya belum
bisa beli tempat tidur”.
Pengalaman menarik kedua adalah ketika pak Andre menghadapi ujian prelim.
Ujian prelim merupakan peristiwa yang menakutkan bagi kami karena hanya diberi
kesempatan dua kali. Jika tidak lulus kami harus keluar dari Program S3 di UGM.
Kukenal pak Andre orang yang serius dalam belajar dan mandiri sehingga untuk
menghadapi ujian prelim dia telah mempersiapkan dua bulan sebelumnya.
Namun, ketika mata ujian prelim di hari terakhir dan sifat ujiannya take home,
pak Andre tampak panik. Malamnya, dia berusaha keras mengerjakan ujian tersebut.
Sebagai tetangga kos, saya tahu bahwa dia sering garuk-garuk kepala ketika kesulitan
mengerjakannya. Soal ujian take home itu dibaca berkali-kali dengan serius, wajahnya
jadi kelihatan seram dan nampak kebingungan mencari jawabannya.
Melihat hal itu, saya tidak berani menyapanya. Dia pun tidak bertegur sapa
dengan diriku karena sangat serius dan kebingungan. Dari kamarku, saya perhatikan
perilakunya yang kebingungan, buka komputer, buka buku sana kemari, keluar-masuk
kamar. Tak lama kemudian, dia keluar naik motor entah kemana (barangkali ke
warnet). Setelah pulang, dia masih bersungut-sungut.
Akhirnya dia mulai membuka suaranya, “Pak Eko, saya bingung untuk
mengerjakan soal ini. Padahal besok jam 12 siang harus sudah dikumpulkan”.
Keluhan itu, dia sampaikan pagi hari kira-kira pukul 22.00 malam. Padahal dia belum
mengerjakan sama sekali. Akhirnya aku mencoba membantunya. Dalam hati kupikir,
pak Andre nampak gengsi minta bantuanku, itulah sifat mandirinya. Lalu saya
meminta lembar soal ujian Metodologi Penelitian dan membacanya. Soal ujian itu
terkait dengan proposal riset dengan menggunakan metode eksperimen.
Setelah membaca, lalu kukatakan padanya “Lho, seingat saya pak Andre pernah
membuat penelitian seperti diminta dalam soal ujian itu…dan ..seingat saya…pak
Andre masih menyimpan filenya.”
Dengan kata-kata yang kusampaikan itu pak andre mulai berkurang kerenyut di
wajahnya. Lalu, saya menyarankan agar pak Andre membuka file itu dan
memodifikasinya menjadi proposal riset.
Dia menjawab, “O iya, pak Eko, saya baru ingat. Terima kasih pak.”
53

Dia lalu mencari file tersebut di komputernya dan berhasil mendapatkannya.
Malam itu, dia mulai mengerjakan soal ujiannya dengan serius hingga keesokkan
harinya. Kira-kira pkl 11.30, ujiannya sudah selesai dikerjakan dan di-print. Ketika
mau berangkat ke kampus untuk mengumpulkan hasil ujiannya, Pak Andre sudah
tidak kuat lagi berjalan. Badannya lemas dan lunglai, bahkan pakai sepatu pun
kesulitan. Akhirnya dia memakai sepatu sandalnya yang butut.
Dia minta tolong saya mengantarkannya ke kampus untuk menyerahkan
pekerjaannya ke bagian akademik. Selama perjalanan ke kampus, badannya ambruk
ke punggungku. Tapi akhirnya, pak Andre berhasil menyerahkan hasil ujiannya. Dia
pun berhasil lulus ujian prelim. Ketika berita kelulusannya sudah didapat, saya
ditraktir makan di bang Ucok. Kami berdua berpesta.
Pak Andre juga seorang yang humoris. Ada banyak cerita lucu yang sengaja
dia karang untuk membuat saya tertawa. Misalnya, joke tentang Doa Bapa Kami, kisah
seorang pastor muda yang menemukan “buah terlarang” di Bali, dan masih banyak
lagi.
Itulah kisah saya bersama pak Andre selama tinggal bersama di Gang Surya 5B
Yogykarta. Banyak suka-duka bersama di kota Yogyakarta selama kami menempuh
studi S3 di UGM.
Sekarang pak Andre sudah sukses. Bisa berkumpul lagi bersama keluarga, bisa
aktif kembali di kampus Unika Soegijapranata, dan dipercaya menjadi Dekan. Bahkan,
sekarang menjadi Profesor.
Selamat dan profisiat untuk Profesor Doktor Andreas Lako. Dari saudaramu seindekosan, Eko Nugroho...

54

CATATAN KOLEGA DOSEN DI JURUSAN AKUNTANSI:

Sempat punya keinginan berhenti dari Unika
Oleh: Drs. Hudi Prawoto, MM, Akt*

Seorang Andreas Lako yang saya kenal pertama kali sekitar 17 tahun yang lalu,
orangnya lugu. Ia sama sekali belum memperlihatkan talenta yang mencolok seperti
sekarang ini. Waktu itu, dia cenderung orangnya mudah bingungan dan kurang yakin
dalam menekuni profesi sebagai seorang tenaga edukatif.
Waktu itu, Ia bahkan sempat punya keinginan untuk berhenti sebagai tenaga
edukatif dan ingin keluar dari Unika. Namun, saya sebagai pengelola jurusan punya
tanggung jawab untuk menjaga agar jangan sampai ada teman sejawat ingin keluar
gara-gara tergoda penghasilan yang lebih tinggi. Saya maklum waktu itu penghasilan
dosen hanya sekitar Rp.300.000. Kemudian, saya bujuk dia agar mempertimbangkan
kembali niatnya untuk keluar dari Unika Soegijapranata.
Saya mengatakan kepada dia: Bukankah Anda diberi talenta Tuhan pandai
menulis? Kenapa hal itu tidak kamu lakukan lagi di kampus ini?
Hal itu saya ungkapkan karena pak Lako pernah cerita kepada saya bahwa
selama menjadi mahasiswa di Atmajaya Yogyakarta, Dia pernah ikut mengelola
buletin mahasiswa. Akhirnya, dia mengurungkan niatnya untuk berhenti dari Unika.
Memang, kalau kita perhatikan terhadap pribadi seseorang tidak ada manusia di
dunia ini yang sempurna. Bahkan seorang guru besar juga punya kekurangan. Hal itu
juga terjadi pada diri Profesor Andreas Lako yang masih punya bawaan penyakit
bingung, suka lupa dan kurang teliti.
Tapi, kita juga tidak boleh lupa bahwa Dia punya talenta yang luar biasa dalam
menulis. Dia terbukti sangat produktif dalam menulis di media massa dan punya karya
beberapa buku. Di samping itu, Dia mampu menyelesaikan S-2 dan S-3 dengan
prestasi yang sangat membanggakan. Saya ikut bahagia bahwa apa yang saya yakini
dan disampaikan kepada beliau waktu itu, tidak keliru.

*

Dosen senior dan mantan Ketua Jurusan Akuntansi Unika Soegijapranata

55

Sampai saat ini saya cukup dekat dengan beliau. Saya sebagai orang yang
dituakan di Jurusan Akuntansi amat bahagia dan bangga kepada sahabatku, adikku
sekaligus pemimpinku di Fakultas Ekonomi.
Teruslah berjuang untuk selalu berprestasi. Keberhasilan dan kesuksesan
seseorang bukan karena diukur dari titelnya, hartanya atau kedudukannya. Tetapi
“ORANG YANG SELALU DALAM HIDUPNYA PUNYA KEINGINAN DAN
TINDAKAN MENCIPTAKAN KEMASLAHATAN BAGI UMAT DAN
MEMBERIKAN MANFAAT BAGI UMAT.”
Semoga saudaraku Andreas Lako terus berkarya untuk kemaslahatan umat.
Sekali lagi PROFISIAT untuk saudaraku ANDREAS LAKO.

56

CATATAN DARI DOSEN SENIOR FAKULTAS:

Beliau seorang fighter
Prof. Vincent Didiek Wiet Aryanto, Ph.D*

Pak Andre panggilan akrab saya pada beliau adalah seorang yang rajin dan selalu
mengasah talentanya dalam menulis, mulai dari menulis karya popular sampai pada
karya ilmiah berupa jurnal ilmiah dan buku ajar. Kemampuan tersebut ternyata tidak
datang seketika tetapi dipupuk ketika menjadi mahasiswa.
Saya mengatakan beliau adalah seorang fighter dan selalu mengajak
“bertanding” dengan saya dalam menulis artikel di media popular (koran & majalah).
Kepribadiannya adalah membutuhkan tantangan, kompetisi tapi dalam suasana yang
kooperatif dan kondusif. Dalam manajemen, hal ini dikenal dengan Co-opetition
singkatan dari cooperation & competition artinya bersaing dalam konteks yang fair
dan sehat. Bisa juga berarti beraliansi sekaligus bersaing.
Sebagai Dekan, beliau selalu menekankan agar budaya organisasi di Fakultas
Ekonomi Unika Soegijapranata dalam suasana yang kondusif dan kohesif (triple-co)
karena dalam suasana seperti itu kita bisa berkreasi dan berkarya dengan optimal. Juga
tercipta budaya kerja yang baik dan mendorong adanya word of mouth yang baik pula
bagi para mahasiswa yang kita layani.
Beliau akan senang bila kita bekerja dengan bersemangat dan berdedikasi,
bahkan selalu mendorong agar civitas academika FE UNIKA untuk terus berprestasi.
Sebagai contoh, bila tulisan saya di jurnal internasional dimuat, atau juga di Koran,
beliau selalu saja memberikan dorongan dan apresiasinya yang mendalam.
Pak Andre adalah tipe orang yang mempunyai n-ach atau need of achievement
(kebutuhan untuk berprestasi) yang tinggi dan luar biasa. Maka, tidak heran kalau Ia
pernah dinobatkan sebagai dosen berprestasi di tingkat Kopertis Wilayah VI Jawa
Tengah maupun di tingkat Nasional tahun 2008. Prestasi itu tidak mudah dicapai oleh
semua orang karena harus berkompetisi dengan orang-orang hebat di lembaga lain
*

Mantan Ketua Jurusan Akuntansi (1992‐1995) dan Dekan Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata
(2000‐2004). Guru Besar dalam Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata.

57

baik PTS maupun PTN. Untuk menjaga momentumnya sering beliau mengajak
berdiskusi dengan semua pihak baik tentang hal-hal terkait pengembangan fakultas
maupun tentang hal lain.
Sebagai seorang insan Pak Andre juga mempunyai keterbatasan. Hal ini terjadi
karena ide dan keinginannya begitu banyak untuk memajukan Fakultas Ekonomi
maupun untuk agenda pribadinya sehingga sulit untuk membuat prioritas aktivitas
mana yang akan diselesaikan terlebih dahulu, sehingga kelihatannya seperti pelupa.
Saking banyaknya agenda yang dilakukan, seringkali aktivitas yang sudah
didelegasikan kepada gugus tugaspun tidak diikuti perkembangannya.
Sebagai seorang guru besar, saat ini saya melihat perkembangan kepribadiannya
semakin matang, akomodatif dan menjadi bapak pengayom fakultas yang baik,
menjadi motivator yang inspiratif.
Selamat berkarya terus Pak Andre. Semoga Tuhan selalu memberkati dan jangan
lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Selamat atas pengukuhannya sebagai profesor,
Prof. Andre…bravo!!.

58

BAGIAN V

SEKILAS PERJALANAN HIDUP
ANDREAS LAKO

Prof. DR. Andreas Lako

Menerobos “kemustahilan,” berbekal ketekunan
dan sikap positif*
“Tak ada satu orang pun yang pernah hancur akibat menanggung beban hidup
dalam satu hari. Akan tetapi, bila beban hari kemarin dan hari esok
ditambahkan pada beban hari ini, maka berat totalnya akan melebihi
kesanggupan kita untuk menanggungnya..,” ~ George Macdonald.
Hampir seluruh penulis biografi mengetahui bahwa masa kecil seseorang—
dengan berbagai kondisi lingkungannya—adalah hadiah terbesar bagi sebuah
individu. Lingkungan pertumbuhan—betapapun buruk kelihatannya—selalu
menawarkan peluang yang unik untuk tumbuh. Seakan, sengaja dirancang
secara khusus untuk menyingkap potensi terbaik kita.
Begitu pula dengan kondisi lingkungan tempat Andreas kecil tumbuh. Ia lahir
dan tumbuh di sebuah pedesaan di Bajawa – Nusa Tenggara Timur. Sebuah
daerah yang sebagian besar masyarakatnya miskin, sehingga kurang
memprioritaskan pendidikan. Tak heran kalau 99% dari teman-teman Andreas,
hanya sempat mengenyam pendidikan tingkat Sekolah Dasar.
Kondisi itu—mau tak mau—juga berimbas pada keluarga Andreas. Sehingga
dari tujuh bersaudara, hanya Andreas anak bungsu, dan kakaknya yang nomor
tiga yang bersekolah. ”Itu pun kakak saya yang ketiga bisa sekolah karena
*

Profil ini ditulis oleh Andi Odang (wartawan senior majalah LUARBIASA) berdasarkan hasil
wawancara dengan saya pada pertengahan April 2011. Profil ini diambil dari majalah LUARBIASA
edisi Mei 2011, hlm.10-13

59

masuk Seminari. Nah, saya sendiri sebenarnya juga tidak sekolah. Hanya saja,
ebetulan pada waktu itu saya memiliki dorongan yang sangat kuat untuk bisa
sekolah, paling tidak sampai SMP,” ungkapnya, membuka perbincangan dengan
Majalah LuarBiasa.
Sayangnya, persoalan tidak langsung bisa selesai hanya karena mempunyai niat
dan kemauan saja. Karena persoalan yang sesungguhnya, sebagaimana
umumnya dihadapi oleh masyarakat di daerahnya, adalah keterbatasan biaya.
Untungnya, sebagaimana bunyi ungkapan: “There is a will, there is a way.” Di
mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan! Begitulah yang juga terjadi dalam
kisah Andreas.
“Saya dari kecil sangat tekun dalam bekerja. Apapun saya lakukan. Dalam
berdoa pun saya tekun. Waktu itu karena keinginan kuat untuk bisa sekolah
sampai SMP, maka sejak kelas 4 SD saya berjualan apapun di pasar. Setiap hari
saya berjalan kaki sejauh 7 kilometer dari kampung menuju kota untuk
berdagang manisan. Sehingga pada waktu kelas 6 SD, saya masih ingat,
tabungan dari penghasilan saya sudah terkumpul lebih dari seratus ribu rupiah.
Dengan uang sebesar itu, saya pikir, saya bisa masuk SMP di kota. Tetapi kakak
saya yang putri menyatakan, dia sanggup membiayai sekolah saya sampai SMP.”
Sinkronisitas
Dalam hidup ini, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan.
Segala pengalaman, pertemuan atau peristiwa kecil yang tampaknya tidak
berarti, bisa saja justru menjadi faktor penentu yang mengubah jalannya sejarah
hidup seseorang. Prinsip itu pernah diungkap secara panjang-lebar oleh Wayne
Dyer dalam bukunya Real Magic, Ketika melihat kembali seluruh perjalanan
hidup dari perspektif masa kini, kita baru dapat menyadari, bahwa setiap aspek
kehidupan demikian penting dan sempurna. Setiap langkah pada akhirnya
menuntun kita ke tempat yang lebih tinggi, meski sering kali langkah-langkah
tersebut terasa seperti rintangan atau pengalaman yang menyakitkan. Tak
adanya peristiwa “kebetulan” yang benar-benar terjadi secara kebetulan, sejalan
dengan prinsip sinkronisitas.
Pengalaman sinkronisitas seperti itulah yang juga banyak terjadi dalam
perjalanan hidup Andreas Lako. Salah satunya, ketika ia bertekad untuk bisa
sekolah, ”kebetulan” kakak perempuannya berniat belajar menenun. Siapa yang
mengira, kalau sebagai hasilnya, sang kakak mulai bisa menenun dan kemudian
hasil tenunannya mulai laku sehingga bisa membiayai sekolah adiknya?
”Berkat Tuhan hasil tenunan dia mulai laku dan makin lama semakin laris,
sehingga cukup untuk mengongkosi saya. Sampai saya lulus SMP, tabungan
yang semula saya siapkan untuk biaya sekolah, tetap utuh tersimpan. Karena
itu setelah kelas 3 SMP saya mulai berpikir, bahwa saya harus lebih dari SMP.
60

Toh saya masih punya tabungan tadi. Kemudian saya sempat berpikir untuk
sekolah di seminari saja, dan menjadi Romo. Karena kalau masuk seminari kan
biayanya lebih murah. Tetapi kakak perempuan saya sekali lagi bilang, dia
masih sanggup mengongkosi sekolah saya sampai SMA, karena tenunannya
semakin laris. Maka saya segera mencari SMA yang cukup favourite di Flores.”
Pengalaman sinkronisitas yang lain terjadi saat ia masih di SMA. Pada waktu
itu ia sempat berpikir tak akan sanggup melanjutkan kuliah. Karena meski
tabungannya masih utuh, tetapi jumlahnya tak mencukupi untuk biaya kuliah.
Oleh karena itulah niatnya semula untuk masuk ke Seminari dan menjadi imam,
kembali muncul. Akan tetapi lagi-lagi ”kebetulan,” kakaknya yang nomor tiga
tiba-tiba keluar dari seminari tinggi dan menolak ditahbiskan menjadi imam.
Selanjutnya sang kakak memutuskan pergi ke Jawa, dan menetap di Yogya.
Momen inilah yang menuntun Andreas kuliah di Yogya, mengikuti kakaknya.
”Ketika kuliah, saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga bersama
kakak ipar saya. Yang penting saya harus bisa survive. Kalau saya mau suvive,
berarti saya harus bisa mengambil hati kakak ipar saya. Karena itu, apapun
pekerjaan rumah tangga saya kerjakan. Saya bagi waktu antara kuliah dengan
mengerjakan pekerjaan di rumah. Di dalam perjalanan itu saya melihat, bahwa
sebuah kerja keras, ketekunan, keuletan kalau disertai dengan keyakinan bahwa
Tuhan akan menyertai kita, pada akhirnya semuanya akan jadi kenyataan.”
Begitulah awal kisah perjalanan hidup Andreas Lako, yang menurutnya: ”Tuhan
sudah mempunyai rencana-rencana besar dan agenda-agenda besar untuk saya.
Dan Tuhan telah menyuruh orang lain untuk bekerja bagi saya. Seperti kakak
perempuan saya yang tiba-tiba digerakkan hatinya untuk belajar menenun,
untuk membiayai sekolah saya. Begitu juga dengan kakak ketiga yang menolak
ditasbihkan, karena harus membuka jalan bagi saya untuk hidup di Yogya. Jadi
kenapa saya sampai punya kemampuan seperti ini, dan kenapa saya bisa
mencapai jenjang ini? Semuanya karena campur tangan Tuhan.”
”Saya sangat percaya itu. Saya percaya bahwa dibalik lingkungan, dibalik alam
semesta itu sebenarnya ada kekuatan. Tuhan lah yang berada di balik alam
semesta itu, untuk menggerakkan semuanya agar mendukung niat baik kita.
Bahkan saya melihat bahwa siapa pun yang mempunyai niat baik dan tekun,
serta terus melangkah; apapun masalahnya dan apapun kendalanya, suatu
waktu dia pasti akan mencapai tahap kemuliaan. Tapi kalau orang itu dalam
tahap kemuliaan kemudian lupa diri, dia pasti akan jatuh.”
Ujian Iman Dalam Rumah Tangga
Sebagaimana pada umumnya pasangan suami-istri, Andreas bersama istrinya
pun mengharapkan hidup berbahagia dan dikarunia anak-anak yang sehat.
Akan tetapi kenyataan sering tak sejalan dengan harapan.
61

Ditengah-tengah kebahagiaannya menikahi gadis asal Yogya, lahirlah anak
pertama yang cacat total. ”Jadi seluruh tubuhnya tidak berfungsi. Dia hanya bisa
senyum, dan melirak-lirik saja. Kami sudah mencoba ke medis sampai ke
paranormal, ternyata malah membuat kami tidak normal. Saya sempat
menyalahkan istri, dan begitu juga sebaliknya, keluarga istri saya juga
menyalahkan saya. Nah, anak kami ini setiap bulan pasti masuk rumah sakit.
Gaji saya tidak cukup untuk membayar biaya yang diperlukan untuk
perawatannya. Ketika malam hari, karena kami harus berganti berjaga, saya
mulai belajar menulis. Dan rupanya, Tuhan tengah memberi kemampuan
kepada saya untuk menulis. Sambil menunggu anak, saya selalu menulis. Mulai
tahun 1997, tulisan saya mulai banyak diterima oleh media, sehingga bisa
membantu biaya pengobatan anak saya. Biasanya sebelum anak saya masuk
rumah sakit, ada saja macam-macam rejeki yang datang. Tetapi setelah
terkumpul cukup banyak, anak saya pasti kembali masuk rumah sakit, dan
setelah itu uang lalu habis. Begitu terus kejadiannya sampai tahun 2006. Selama
itu, saya mendapat penilaian ”miring” dari lingkungan, dan tak jarang harus
menghadapi omongan dari keluarga istri saya. Sampai-sampai kami hampir
bercerai.”
Singkatnya, selama delapan tahun Andreas dan sang istri menerima tekanan
dan ujian yang sangat krusial. Sampai akhirnya, anak sulungnya tersebut
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, itu baru episode pembuka dalam
rangkaian cobaan yang rupanya masih berlangsung panjang. ”Setelah saya dan
istri bersepakat untuk kembali kepada iman, dan tidak akan mendengar
omongan dari pihak keluarga maupun dari orang lain, rumah tangga kami mulai
menjadi tenang. Lalu saya juga mulai membuka jalan untuk mengikuti program
S2. Sampai tibanya kelahiran anak kami yang kedua; Dia menderita cacat
sekujur kulitnya, yang sampai sekarang belum ketemu solusi medis bagi
penyembuhannya. Diberi dua anak itu bener-bener ujian yang luar biasa bagi
kami. Rasanya saya sampai jadi minder dan kehilangan rasa percaya diri.
Ketika terjadi pada anak kedua itu, membuat saya hampir jadi atheis, tidak
percaya sama Tuhan. Kenapa kok kejadiannya begini begini terus? Tapi semakin
saya jauh dari Tuhan, semakin kejadiannya macem-macem. Sehingga akhirnya
saya kembali ke Tuhan, dan tidak lagi pergi ke paranormal. Sekali lagi, semua
menjadi lebih tenang dan terbuka lagi. Pintunya seperti dibukakan lagi. Dalam
keadaan seperti itulah, kami dinasehati supaya mempunyai anak lagi. Sampai
ada seorang suster yang bilang, bahwa nanti saya pasti diberi anak yang lebih
baik lagi. Ternyata bener, saya diberi anak ketiga dan keempat, semakin baik
dan semakin baik lagi. Dan berkah atas kelahiran anak ketiga dan keempat itu,
saya dan istri menjadi pulih lagi. Ohh.. ternyata kami ini normal,” kenangnya.
Setelah tertatih menempuh jalan setapak dengan jatuh-bangun serta kenyang
dengan berbagai macam pahit-getirnya kehidupan, pada tahun 2007, Andreas
Lako berhasil menyelesaikan program doktoralnya di bidang akuntansi dari
62

Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada dengan predikat cum laude. Sejak
tanggal 1 Oktober 2008 hingga sekarang, ia dipercaya oleh para koleganya untuk
menjabat Dekan Fakultas Ekonomi, di UNIKA Soegijapranata Semarang. Dan
pada Mei 2011 ini, ia pun dikukuhkan menjadi Guru Besar.
Dengan semua pengalaman yang telah dilaluinya, apa insight yang ingin Ia
bagikan?
”Yang penting, dalam setiap hal yang kita hadapi—baik suka maupun duka—itu
semua harus dilihat dalam konteks rencana Tuhan. Itu yang pertama. Ketika
kita menghadapi hal-hal yang menyedihkan, duka, jangan kita mencari jawaban
dengan menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain. Kita harus
melihat bahwa itu adalah bagian dari ujian-ujian, bagian dari tantangantantangan; yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Dan bisa jadi, cobaan-cobaan
seperti itu tidak hanya datang sekali. Kita bisa saja, sekali maju kemudian kena,
ketika maju lagi kena lagi. Tapi khabar baiknya, kalau kita berhasil lolos dari
empat rintangan tersebut, bisa jadi artinya kita akan dimuliakannya.
Ketika tantangan pertama kita lalui, kita harus siap hadapi tantangan kedua.
Ketika kita bisa mengatasi tantangan kedua dan setelah itu muncul tantangan
ketiga, umumnya kita mulai menganggap Tuhan tidak adil. Terus Tuhan kita
suruh punya rencana lain. Kita harus melihat dalam konteks bahwa Tuhan
sedang bersama kita. Yang saya yakini adalah ketika Tuhan memberikan cobaan
dan memberikan tantangan, Tuhan pasti punya solusinya. Dan solusi itu muncul
pada detik-detik terakhir. Kalau kita percaya bahwa semua terselenggara karena
kuasa Illahi, semua akan diatasi pada detik-detik terakhir. Dan gimana caranya?
Lakukan, lakukan dan lakukan. Hasilnya serahkan pada yang diatas. Kemudian
kalau sudah secara bertahap menghadapinya, kita pasti akan dimuliakan.”
Kalau saya melihat dari pengalaman saya sendiri—Andreas Lako melanjutkan—
sungguh sebuah proses perjuangan yang luar biasa. Saya sempat dipilih menjadi
dosen berprestasi Unika Soegijapranata pada tahun 2007. Tahun 2008, saya
ditunjuk universitas untuk berkompetisi di tingkat Kopertis Jawa Tengah.
Disana saya terpilih sebagai dosen berprestasi. Lalu saya dikirim ke Jakarta
untuk berkompetisi dengan dosen dari perguruan tinggi negeri dan swasta di
seluruh Indonesia. Hasilnya, saya berhasil terpilih menjadi 10 besar Dosen
Berprestasi Nasional.
Lalu saya berpikir: Kenapa sih Tuhan, kok saya bisa begini? Oh, berarti saya ini
sedang dimuliakan Tuhan.

63

PUNYA ANAK CACAT ITU ANUGERAH
(Suatu Refleksi Iman)*

Oleh: Andreas Lako

Dikaruniai anak yang normal, sehat dan cerdas adalah idaman dari semua orangtua
yang baru mengikatkan diri dalam suatu ikatan perkawinan: suami-istri. Namun, jika
kemudian dikaruniai anak yang cacat atau kelainan, tidak semua orangtua siap
menerimanya. Bagi yang tidak siap menerima ‘cobaan’ itu, Tuhan yang pasti jadi sasaran
amarah karena dianggap tidak adil. Mereka bisa saling menyalahkan, sedih, malu pada
orang lain, atau mengucilkan anaknya. Hidup berkeluarga ibarat neraka! Bahkan, tidak
sedikit yang tega meninggalkan istri atau suaminya.

Itulah sepenggal pengalaman pahit yang pernah diungkapkan sejumlah orangtua
yang memiliki anak cacat atau kelainan fisik maupun mental kepada kami (saya dan
istri saya). Kami pun pernah mengalami emosi serupa. Pengalaman itu mereka
bagikan kepada kami karena merasa senasib dan seperjuangan.
Proses interaksi itu terjadi ketika kami sedang mengupayakan pengobatan secara
medis dan non medis (alternatif) untuk kesembuhan dua anak kami. Yaitu, Gloria
(alm.) yang cacat total secara fisik dan adiknya Julio yang punya kelainan pada
kulitnya, selama 1999-2002. Cacat fisik dan kelainan kulit (penebalan kulit) diderita
kedua anak kami sejak lahir.
Dari interaksi itu, kami peroleh kesimpulan bahwa dikarunia anak yang cacat
atau kelainan memang sangat tidak menyenangkan dan bisa membuat suasana
keluarga seperti neraka. Sejumlah orangtua galau dan menjadi tidak yakin lagi dengan
imannya. Rumah sakit, para dokter dan paranormal ternyata juga tidak bisa memberi
solusi kesembuhan. Mereka bahkan hanya memperlakukan anak-anak cacat atau
kelainan sebagai “obyek perahan.” Tidak sedikit sejumlah orangtua kecewa, putus asa
dan tidak memiliki apa-apa lagi. Singkatnya, menjadi orangtua yang memiliki anak
cacat atau kelainan banyak dukanya.

*

Tulisan ini diambil dari kolom “Kesaksian” majalah INSPIRASI No.34 Juni 2007, hlm. 35-37. Tulisan ini
ditulis sendiri oleh Andreas Lako sebagai sharing kesaksian iman.

64

Kekuatan ’magis’ janji perkawinan
Kami sendiri, awalnya juga mengalami emosi dan kesimpulan serupa. Namun,
pada akhir 2001 kami disadarkan oleh kekuatan iman bahwa memiliki anak cacat dan
kelainan itu adalah ujian iman dari Tuhan terhadap janji perkawinan yang pernah kami
ikrarkan (5/7/1997) di Gereja Wates, Yogya. Janji untuk selalu setia dalam suka dan
duka, untung dan malang, dan sanggup membesarkan anak-anak yang dititipkan
Tuhan dengan kasih sayang, menjadi kekuatan “magis” yang menyembuhkan kami
dari “sakit” secara iman dan psikis.
Akhirnya, kami meyakini Allah pasti punya rencana-rencana lain yang indah
terhadap keluarga kami dan perjalanan waktulah yang akan membuktikannya. Dan
kami pun percaya, Allah pasti tidak akan memberi “beban” melampaui kemampuan
yang Dia berikan pada kami. Keyakinan itulah yang mengubah secara total cara
pandang dan orientasi hidup kami. Kami memperlakukan kedua anak kami sebagai
anugerah Tuhan yang juga patut disyukuri.
foto
Kenangan keluarga: Foto ini diambil 2 September 2005. Dari kiri ke kanan: Intan (3 thn), Julio (5 thn), istri
saya (Anna Sumaryati) dan Gloria (7 thn), saya dan putri saya Nia (1 thn).
Khusus untuk Gloria, yang sejak kecil (lahir 28/8/1998) sangat menderita dan
didiagnosis dokter menderita sakit CP (cerebral palsy), kami mengasuhnya dengan
penuh kasih sayang. Dia tidak lagi kami anggap sebagai “beban”, tapi sebagai hiburan
keluarga. Meski hidupnya sepenuhnya tergantung pada orang lain, kami tidak lagi
panik memikirkan kesembuhan dan bagaimana masa depannya. Kami tidak lagi peduli
pada “ocehan” orang lain.
Kami selalu berusaha untuk saling menguatkan terhadap komitmen iman
tersebut dari hari ke hari. Penyerahan total pada kehendak Allah, tidak memiliki
impian yang muluk-muluk dan hanya melakukan apa yang bisa dilakukan, menjadi
pedoman hidup kami sehari-hari. Meski demikian, secara manusiawi rasa kecewa dan
putus asa juga kadang muncul.

Diberkahi Tuhan
Mungkin karena kesediaan yang tulus dan penyerahan total pada kehendak Ilahi
itulah, putri kami Gloria menjadi lebih tenang. Dia tidak lagi sering menangis, lebih
banyak senyum meski tidak bisa bicara, dan tidak sering sakit-sakitan lagi. Padahal
sebelumnya, dia sering masuk-keluar RS Elisabeth karena menderita komplikasi
penyakit. Menurut dokter, fisiknya sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Itu
adalah berkah yang pertama.
65

Berkah kedua adalah diberikan kesempatan kepada kami untuk studi lanjut.
Pada 2001, istri saya diminta kampusnya (FE Universitas Dian Nuswantara)
melanjutkan studi S2 di UNDIP. Ketika itu, saya sedang menyelesaikan tesis di
Program S2 Akuntansi UGM. Ketika selesai akhir 2001, saya berjanji akan
berkonsentrasi merawat kedua anak saya sambil mengupayakan pengobatan untuk
penyembuhan.
Namun April 2002, pimpinan saya (Rektor Unika Soegijapranata) justru
meminta saya untuk melanjutkan studi S3. Pada awalnya, tawaran itu saya tolak.
Namun kemudian saya sadar bahwa itu adalah “jalan” Tuhan dan harus saya terima
apa adanya.
Keputusan saya untuk melanjutkan studi S3 dan harus indekos di Jogya,
menyebabkan Gloria dan adiknya Julio dititipkan di tempat si mbah-nya (nenek) di
Wates. Tujuannya, agar si-mbah-nya bisa membantu mengawasi para pembantu yang
mengasuh anak-anak saya.
Selama 4 tahun (September 2002-Juli 2006), istri saya harus pergi-pulang (PP)
Wates-Semarang mulai Senin-Jumat untuk bekerja. Meski setiap minggu dijalaninya,
namun Ia tak pernah sakit atau mengeluh. Gloria yang sebelumnya sering sakitansakitan, tampak sehat. Ibu mertua, yang meski usianya telah 76 tahun dan sebelumnya
sakit-sakitan, malah sehat. Hal inilah yang memungkinkan saya bisa konsentrasi
kuliah dan bisa lulus ujian preliminary pada semester ke-V. Saya menyadari semua itu
adalah berkah Tuhan.
Berkah ketiga adalah kami dikaruniai lagi dua putri yang normal dan cerdas.
Putri ke-3, Intan, lahir September 2002. Sementara adiknya, Nia, lahir Agustus 2004.
Kelahiran Intan dan Nia merupakan suatu anugerah Tuhan karena sebelumnya saya
dan istri sudah bertekad untuk tidak punya anak lagi. Kami trauma dan takut jika
punya anak lagi akan mengalami nasib serupa dengan Gloria dan Julio. Kami bahkan
sempat minta R.S. Elisabeth untuk melakukan KB steril, tapi ditolak karena
pertimbangan moral dan demi masa depan keluarga kami.
Kelahiran anak ke-3 memulihkan kepercayaan diri kami. Ternyata, kami bisa
dikarunia anak yang normal dan sehat. Begitu pula kelahiran putri ke-4. Kami semakin
bersyukur dan merasa diberi kesempurnaan Tuhan. Ternyata, ketakutan kami
dibalikkan Tuhan. Puji Tuhan!

Meninggal dalam kemuliaan Tuhan
Berkah lainnya adalah putri kami, Gloria, meninggal dalam ‘kemuliaan’ Tuhan.
Dikatakan sebagai berkah karena setelah saya selesai kuliah teori dan tinggal
66

menyelesaikan disertasi, Gloria yang sebelumnya (akhir 2001-Maret 2005) jarang
sakit, mulai mengalami sakit serius. April dan Juli 2005, sempat beberapa minggu
dirawat di RS Panti Rapih, Jogya. Ketika itu, kami masih bisa membayar biaya rumah
sakitnya karena dibantu dari institusi istri saya bekerja. Setelah itu, tidak ada bantuan
lagi.
Ajaibnya, mulai Juli 2005 hingga awal April 2006, dorongan bagi saya untuk
menulis lagi di media massa nasional begitu besar. Selama jangka waktu itu, ada
sekitar 40an artikel terbit di sejumlah media massa. Artikel-artikel itu ditulis
bersamaan dengan proses bimbingan disertasi dan proses pengumpulan serta
penginputan data. Ketika itu, saya juga mendapat beasiswa BPPS dari UGM. Pada
awal April 2006, jumlah uang yang terkumpul lumayan besar sehingga saya berniat
membeli mobil.
Ternyata, uang tersebut hanya titipan sementara dari Tuhan untuk Gloria. Pada
pertengahan - akhir April 2006, Gloria kembali masuk RS Panti Rapih dalam kondisi
semakin kritis dan akhirnya meninggal 28 April. Ketika itu, saya mengatakan kepada
istri dan keluarga bahwa mereka tidak perlu cemas memikirkan biaya rumah sakit dan
biaya pemakaman karena uang sudah tersedia. Saya katakan kepada mereka bahwa
Tuhan sudah menyiapkan semuanya untuk Gloria. Tampak, ibu mertua dan semua
saudara tertegun haru...
Pada saat Gloria menghembuskan napas terakhir hingga dimakamkan 29 April,
kami melihat ada tanda-tanda kemuliaan dari Tuhan. Saat menghembuskan napas
terakhirnya, selain disaksikan keluarga besar, juga disaksikan sejumlah kolega dari
kantor saya dan kantor istri saya, serta rekan-rekan mahasiswa S3 Program Doktor
Ekonomi UGM.
Setelah dimandikan dan didandani perawat, saya dan istri, keluarga serta para
suster yang pernah memberkatinya terkejut karena Gloria berubah jadi gemuk dan
cantik. Padahal, sebelumnya kurus. Pada 29 April, banyak sekali orang yang melayat
dan ikut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Banyak orang memberi
kesaksian bahwa Tuhan telah menunjukkan kemuliaan-Nya pada Gloria, meski selama
hidupnya sangat menderita.

Sumber kekuatan
Kepergian Gloria yang begitu cepat meninggalkan kesedihan dan rasa
kehilangan yang mendalam bagi kami sekeluarga. Penderitaan bersamanya,
ketabahannya bertahan hidup dan senyumannya yang menghibur hingga kini terus
kami kenang. Setelah berintrospeksi, kami akhirnya menemukan figur Tuhan yang

67

utuh melalui Gloria: Tuhan itu ada, Tuhan itu maha kasih, Tuhan itu berkarya pada
kami, dan kami percaya padanya!
Keyakinan itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi saya untuk segera
menyelesaikan disertasi setelah beberapa bulan berhenti. Meski prosesnya cukup alot
karena harus melewati beberapa tahap ujian (evaluasi hasil, penilaian, ujian tertutup
dan ujian terbuka), akhirnya dalam Ujian Terbuka 2 Maret 2007 lalu saya dinyatakan
lulus doktor dengan predikat cum laude dan dalam waktu yang relatif cepat. Keluarga,
tim penguji disertasi, serta para tamu undangan yang hadir tertegun karena prestasi itu
saya raih dengan perjuangan yang sangat berat. Apalagi mereka tahu bahwa selama
menjalani S3, saya juga menulis 3 buku, 35 artikel ilmiah di sejumlah jurnal dan
menulis lebih dari 40 artikel populer di media massa.

Catatan penutup
Pengalaman iman di atas sengaja saya sharing via majalah Inspirasi ini karena
masih banyak orangtua yang belum siap menerima kehadiran anak-anak yang cacat
atau kelainan. Sejumlah orangtua saling menyalahkan dan bahkan ada yang bercerai.
Mereka resah, menyalahkan dan menjauhi Tuhan, takut dicemoohkan orang lain dan
masih banyak lagi. Yang jadi korban justru adalah anak yang seharusnya menjadi
fokus perhatian dan mendapat kasih sayang. Anak justru semakin tertekan secara
psikis.
Karena itu, ada beberapa hal penting yang patut dilakukan orangtua yang
memiliki anak cacat atau kelainan. Pertama, pasrahkan itu semua sebagai bagian dari
rencana besar Allah terhadap keluarga kita sambil terus mengupayakan pengobatan
seoptimal mungkin. Jangan saling menyalahkan atau mencari “kambing hitam”,
apalagi memarahi anak, karena hal itu justru hanya akan menghadirkan ‘neraka’ dalam
keluarga.
Kedua, jika mau mengupayakan pengobatan secara medis atau alternatif,
lakukan secara terarah dan cermat. Seringkali, keluarga besar atau orang lain berusaha
membantu dengan memberi informasi bahwa dokter A, B atau C, paranormal X,Y
atau Z, atau rumah sakit F, G atau H hebat dan bisa menyembuhkan. Jangan cepat
percaya dan selidiki dulu bukti-bukti dari orang yang pernah berobat ke situ.
Hal itu penting karena pengalaman kami menunjukkan informasi seperti itu
banyak bohongnya, dan hanya buang-buang duit saja. Justru anak yang jadi korbannya
karena hanya dijadikan “obyek perahan.” Sebaiknya cari dokter ahli yang benar-benar
peduli pada anak-anak cacat atau kelainan. Diskusikan dengannya apakah secara
medis kecacatan atau kelainan pada anak bisa disembuhkan atau bersifat permanen.
Jika bisa disembuhkan, mintalah rekomendasinya dan upayakan pengobatan seoptimal
68

mungkin. Tapi jika bersifat permanen, jangan terlalu berharap untuk memperoleh
kesembuhan total dengan mencari pengobatan-pengobatan medis atau alternatif.
Pengalaman kami dan sejumlah orangtua lainnya menunjukkan hasilnya justru nihil
dan lebih banyak merugikan. Yang justru ditingkatkan porsinya adalah berilah kasih
sayang yang tulus.
Yakinlah, Tuhan pasti sudah membuat rencana-rencana indah buat anak dan
keluarga kita. Kelak, kita pasti akan mendapatkan jawabannya. Dan yakinlah, punya
anak yang cacat atau kelainan itu adalah suatu anugerah Tuhan yang indah yang hanya
dilimpahkan kepada kelurga kita. Kita sebenarnya dipilih dan diajak untuk mengenal
dan berinteraksi langsung dengan Tuhan melalui “kacamata” iman.

69

BAGIA
AN V

REFL
LEKS
SI IMA
AN

Refle
eksi Ima
an

“Allaah punyaa rencan
na-rencan
na untuk
kku…
memberii talenta u
untuk m
membekaali hidupk
ku
Dia m
menuntu
unku agaar terus berusahaa
Dia m
meng
gembang
gkan tallenta-Ny
ya
dan m
mewujud
dkan ren
ncana-ren
encana-N
Nya
memanu
usiakan dan
d mem
muliakan
nku mela
lalui
Dia m
sesam
maku…
ka kuyak
kini, Alla
lah pasti menjadiikanku ssebagai
Maka
alat-Nya unt
ntuk mem
manusiaakan dan
n
muliakan
n sesamaaku….”
mem
ma kasihh Tuhan…
….
Terim

70

Judul: Rekonstruksi Paradigma Bisnis Dan Akuntansi: Menuju Akuntansi Berkelanjutan

Oleh: Andreas Lako


Ikuti kami