Ppt Akuntansi Keprilakuan Ilmu Keprilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh Amelia S

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ppt Akuntansi Keprilakuan Ilmu Keprilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

ILMU KEPRILAKUAN DALAM
PERSPEKTIF AKUNTANSI
Amelia Sewa (C1C018073)

Sebelum masuk pada materi inti, ada 2 definisi akuntansi berdasarkan aspek
keprilakuan pada akuntansi yaitu:
1. Akuntansi adalah tentang manusia
2. Akuntansi adalah tindakan

ADA BEBERAPA TOPIK YANG DIBAHAS YAITU :
◦ A. Dimensi Akuntansi Keperilakuan
◦ Informasi ekonomi dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data-data keuangan saja, tetapi juga
data-data nonkeuangan yang terkait dengan proses pengambilan keputusan.
◦ 1. Lingkup Akuntansi Keperilakuan
◦ Akuntansi keperilakuan berada dibalik akuntansi tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur,
mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Dengan demikian, dimensi akuntansi berkaitan dengan
perilaku manusia dan juga dengan desaian, konstruksi, serta penggunaan suatu system informasi akuntansi
yang efisien. Akuntansi keperilakuan dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dengan
sistem akuntansi mencerminkan dimensi sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi.
◦ 2. Akuntansi Keperilakuan : Perluasan Logis dari Peran Akuntansi Tradisional
◦ Para akuntan yang berkualitas akan memilih gejala keperilakuan untuk melakukan penyelidikan, karena
mereka mengetahui bahwa data keperilakuan sangat berarti untuk melengkapi data keuangan. Informasi
tambahan dari data keprilakuan ini dilaporkan baik dalam suatu kerangka laporan keuangan maupun catatan
atas laporan keuangan perusahaan.

◦ B. Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan
◦ Bernard Berelson dan G.A Stainer menjelaskan secara singkat mengenai definisi keperilakuan, yaitu
sebagai suatu riset ilmiah yang berhadapan secara langsung dengan perilaku manusia. Definisi ini
menangkap permasalahan inti dari ilmu keperilakuan, yaitu riset ilmiah dan perilaku manusia.
◦ C. Lingkup dan Sasaran Hasil Dari Akuntansi Keperilakuan
◦ Pada masa lalu, para akuntan semata-mata fokus pada pengukuran pendapatan dan biaya yang
mempelajari pencapaian kinerja perusahaan di masa lalu guna memprediksi masa depan. Mereka
mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari perilaku manusia dan kinerja
masa lalu itu sendiri merupakan suatu faktor yang akan mempengaruhi perilaku di masa depan. Mereka
melewatkan fakta bahwa arti pengendalian secara penuh dari suatu organisasi harus diawali dengan
memotivasi dan mengendalikan perilaku, tujuan, serta cita-cita individu yang saling berhubungan dalam
organisasi.

◦ D. Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan
◦ Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan manusia. Akuntansi
keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan akuntansi. Ilmu keperilakuan
merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu
akuntasi dan pengetahuan keperilakuan. Namun ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan samasama menggunakan prinsip sosiologi dan psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan
organisasi.
◦ E. Perspektif Berdasarkan Perilaku Manusia : Psikologi, Sosiologi dan Psikologi Sosial
◦ Menurut Robbins (2003), Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi dan psikologi sosial menjadi
kontribusi utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan pencarian untuk menguraikan dan
menjelaskan perilaku manusia, walaupun secara keseluruhan mereka memiliki perspektif yang berbeda
mengenai kondisi manusia. terutama merasa tertarik dengan bagaimana cara individu bertindak.
Fokusnya didasarkan pada tindakan orang-orang ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam
lingkungan mereka, dan perilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya dengan ciri, arah dan motivasi
individu. Keutamaan psikologi didasarkan pada seseorang sebagai suatu organisasi.

◦ Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain
yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan
struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu
tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial.
◦ Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun
karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap
proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya. Sedangkan para sosiolog akan lebih
menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para
individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan
struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang;
sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi,
struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya

◦ F. Beberapa Hal Penting Dalam Perilaku Organisasi
Ada beberapa teori perilaku organisasional yang mencerminkan inti yang ditangani oleh teori-teori, yaitu :
◦ 1. Teori Peran
◦ Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan
apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan
pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
◦ 2. Struktur Sosial
◦ Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang
relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke
generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami
kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas "diri"
(self) - perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri (self).

◦ 3. Budaya


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orangorang yang berbada budaya dan menyesuiakan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Dengan demikian,
budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.

◦ 4. Komitmen Organisasi


Komitmen organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan
dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Robbins (2003), didefinisikan bahwa
keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional
yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional
yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakankebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.

◦ Seseorang individu yang memiliki komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota sejati organisasi.

◦ 5. Konflik Peran
◦ Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut
diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan
dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan
tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya,
konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
◦ 6. konflik kepentingan
◦ Max Weber (1864-1929) menjelaskan bahwa jika suatu organisasi ingin mencapai tujuannya secara efektif maka organisasi
tersebut harus dirancang sedemikian rupa dengan birokrasi dan karakteristik sebagai berikut :
a) Pembagian kerja
b) Hierarki wewenang yang jelas
c) Prosedur seleksi yang normal
d) Peraturan yang rinci
e) Hubungan yang didasarkan pada hubungan pribadi

◦ 7. Pemberdayaan Karyawan
◦ Dalam praktik terdapat banyak pengrtian mengenai apa yang dimaksud dengan pemberdayaan dan
bagaimana cara melakukan untuk melakukan pemberdayaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya definisi
atau pengertian yang diberikan oleh para ahli di berabagai literatur.
◦ Untuk melaksanakan pemberdayaan tersebut, biasanya organisasi kemudian Menyusun dan menentukan
visi serta misi oeganisasi. Disamping itu, perusahaan melaksanakan pula perencanaan strategis dan
berbagai mcam pelatihan berkaitan dengan pemberdayaan, seperti membangun kerja sama tim,
pemberdayaan, kepemiminan dan motivasi, kepekaan emosional di tempat kerja, peningkatan kualiatas
terus-menerus, pelatihan keterampilan khusus yang berkaitan dengan pekerjaan dan lain sebagainya.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Judul: Ppt Akuntansi Keprilakuan Ilmu Keprilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh: Amelia S


Ikuti kami