Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta...

Oleh Akhmad Y A F I Z Syam

38 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta Mahasiswa Akuntansi Dan Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA
AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA
SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA
BISNIS NON AKUNTANSI
Riswan Yudhi Fahrianta
Akhmad Yafiz Syam
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banjarmasin
Jalan Brigjend H. Hasan Basry No. 9-11 Kayu Tangi Banjarmasin
Abstract: The purpose of this research is in order to test response between male
accounting student and female accounting student and also between accounting
student and non-accounting business student related to their experience while having
a chance to do some unethical academic activity. The respondents are accounting
students and non-accounting business students. The result of hypothesis shows that
there is no ethical sensitivity difference between male accounting students and female
accounting students toward unethical activity that happened in academic environment
in the use of invalid resources and cheat while making paper. But in some cheat that
happened in some examination shows significantly there is an ethical sensitivity
difference between male accounting student and female accounting student. On the
other hand, when it is about cheat while doing some examination and cheat while
making paper, there is a significant ethical sensitivity difference between accounting
student and non-accounting business student toward unethical activity that happened
in academic environment, and in the use of invalid resources, shows that there is no
significant ethical sensitivity difference between accounting student and nonaccounting business student.
Kata Kunci: sensitivitas etis, gender, mahasiswa akuntansi

PENDAHULUAN
Di Indonesia, isu mengenai etika
akuntansi berkembang seiring dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika, baik yang
dilakukan oleh akuntan publik, akuntan intern,
maupun akuntan pemerintah. Untuk kasus
akuntan publik, beberapa pelanggaran etika ini
dapat ditelusuri dari laporan Dewan Kehormatan IAI dalam laporan pertanggungjawaban
pengurus IAI 1990-1994 yang menyebutkan
adanya 211 buah kasus yang melibatkan 53
Kantor Akuntan Publik (Husada, 1996). Yang
kemudian diungkapkan oleh Christiawan
(2002), bahwa pada tahun 2002 Majelis
Kehormatan IAI telah memberikan sangsi
terhadap 10 Kantor Akuntan Publik (KAP)
yang melakukan pelanggaran berat saat
mengaudit bank-bank yang dilikuidasi (dalam

Rustiana, 2006). Di luar negeri, seperti terjadi
di Amerika Serikat, telah terjadi skandal bisnis
perusahaan besar seperti Sunbeam, Enron,
Worldcom, Tyco, dan Health South yang
melibatkan profesi akuntan dan diikuti dengan
ditutupnya KAP Arthur Andersen pada tahun
2002 disamping KAP tersebut juga harus
mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum.
Kasus-kasus tersebut menyebabkan profesi akuntan publik menjadi sorotan banyak
pihak, karena profesi ini dianggap memiliki
kontribusi dalam banyak kasus kebangkrutan
perusahaan (IAI online, 2004). Seperti pernyataan Khan (2002) dan Muhammad (2002)
yang dikutip oleh Rustiana (2006), bahwa
akuntan publik dihadapkan pada suatu krisis
kepercayaan dan keraguan atas integritas,
kredibilitas, dan profesionalisme profesi, se-

79

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

hingga berdampak negatif terhadap profesi
akuntan. Sebagai anggota dari suatu profesi,
oleh Adib (2001) ditegaskan bahwa akuntan
mempunyai kewajiban untuk menjaga standar
perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi di mana mereka bernaung, profesi
mereka, masyarakat, dan diri mereka sendiri.
Akuntan mempunyai tanggung jawab untuk
menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan obyektivitas mereka.
Penelitian tentang etika dalam situasi
akuntansi semakin marak dilakukan baik di
luar negeri (Sweeney dan Robert, 1997;
Landry JR et. al., 2004; Haywood et. al., 2004;
Radtke, 2004; dalam Rustiana, 2006), maupun
di Indonesia (Adib, 2001; Puspitasari, 2002;
Rustiana, 2006). Penelitian-penelitian tentang
etika dalam bidang akuntansi dengan responden para mahasiswa akuntansi dan atau
para akuntan, dipicu dengan semakin banyaknya pelanggaran etika yang terjadi di luar
negeri maupun di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Adib
(2001pada perguruan tinggi (universitas) di
Yogyakarta dan Jawa Timur dengan 532
responden mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi baik pria maupun
wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa
akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis
yang terjadi di dalam lingkungan akademik,
serta tidak ada perbedaan sensitivitas etis
antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa
bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak
etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik.
Hasil penelitian Swindle et. al. (1987)
terhadap 224 responden akuntan publik, yang
dikutip oleh Fatt (1995), menyimpulkan
bahwa akuntan publik saat ini mempunyai
sistem nilai yang lebih berorientasi personal
dari pada sosial dan mereka tampaknya tidak
menekankan pada karakteristik nilai-nilai
masyarakat saat ini. Konsekuensinya, oleh
Wright et. al. (1997) dalam Adib (2001),
mengemukakan bahwa makin besar sistem
nilai yang berorientasi personal, maka makin
kurang penting dimensi etis dipertimbangkan
dalam sebuah konflik antara diri sendiri

80

dengan masyarakat, yang oleh Kerr dan Smith
(1995) dinyatakan bahwa ketika perilaku etis
hilang dalam diri akuntan, maka kredibilitas
profesi akuntan ada dalam bahaya.
American Assembly of Collegiate Schools of Business (1990) dan The National Commission on Fraudulent Financial Reporting
(1987), yang dikutip oleh Ameen et. al.
(1996), merekomendasikan perlunya memberi
penekanan yang lebih pada masalah-masalah
etis dalam mengajar mata kuliah akuntansi.
Kedua organisasi tersebut meyakini pentingnya mahasiswa bisnis dan kaum professional
untuk menjadi lebih sadar dan sensitiv terhadap masalah-masalah etika. Kerr dan Smith
(1995) juga menyatakan bahwa perilaku etis
dan pendidikan merupakan hal yang kritis
dalam masyarakat modern, dunia bisnis, dan
profesi akuntansi. Hal ini juga diperkuat oleh
hasil survei Fatt (1995) dengan mengirimkan
500 kuesioner kepada masyarakat, mahasiswa
akuntansi, dan akuntan publik untuk meneliti
persepsi mereka mengenai kualitas personal
akuntan. Hasil penelitian menunjukkan lebih
dari setengah responden menganggap bahwa
integritas dan kualitas etis seorang akuntan
merupakan kualitas personal yang paling
penting.
Beberapa penelitian dalam bidang akuntansi mengenai etika dilakukan oleh Glenn dan
Loo (1993), Fischer dan Rosenzweig (1995),
dan Stevens et. al. (1993), yang menemukan
bahwa mahasiswa akuntansi cenderung menunjukkan tingkat kesadaran etis yang lebih
rendah dibanding praktisi (dalam Adib 2001).
Sedangkan O’Clock dan Okleshen (1993)
menemukan bahwa mahasiswa akuntansi
mempunyai tingkat kesadaran yang lebih
rendah dari mahasiswa non akuntansi.
Penemuan-penemuan hasil penelitian tersebut
cukup memprihatinkan karena profesi akuntan
yang kelak akan disandang oleh para mahasiswa akuntansi tersebut terkait erat dengan
masalah-masalah etika. Hasil penemuan-penemuan tersebut makin memperkuat alasan
untuk mengintegrasikan masalah-masalah
etika ke dalam kurikulum akuntansi (Adib,
2001).
Menurut Adib (2001), bibit-bibit perilaku tidak etis di kalangan profesional sebe-

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

tulnya sudah tumbuh bahkan sejak sebelum
menjadi mahasiswa (sejak SMU ke bawah).
Perilaku tersebut, disadari atau tidak terpupuk
oleh aktivitas keseharian dalam kuliah. Salah
satu perilaku tidak etis dalam aktivitas
keseharian mahasiswa adalah perilaku menyontek/menjiplak. Argumentasi ini didasarkan hasil penelitian oleh Putka (1992) yang
dikutip oleh Kerr dan Smith (1995), yang
menunjukkan bahwa perilaku menyontek/
menjiplak yang dilakukan oleh murid SMU/
mahasiswa meningkat dari 40% menjadi 75%
hingga saat ini. Alasan menyontek/menjiplak
di kalangan murid SMU adalah untuk mencari
nilai tinggi, sedangkan menyontek/menjiplak
dalam kuliah untuk mencapai karir.
Kerr dan Smith (1995) juga meminta
mahasiswa akuntansi untuk mendaftar masalah etika yang utama yang ada di lingkungan
kuliah mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa
respon yang paling sering terjadi di lingkungan kuliah mereka adalah: 1) menyontek
pada waktu ujian; 2) menyalin pekerjaan rumah atau masalah kasus yang dikerjakan oleh
mahasiswa lain; 3) berusaha kepada dosen
untuk memberi nilai yang tinggi; 4) memutuskan apakah akan melaporkan atau tidak
mahasiswa lain yang menyontek; dan, 5) tidak
memberi kontribusi yang memadai di dalam
tugas kelompok. Kerr dan Smith (1995) juga
meminta responden untuk menilai tingkat
penyontekan dalam ujian antara murid SMU,
mahasiswa secara keseluruhan, dan mahasiswa akuntansi. Hasilnya menunjukkan tingkat
penyontekan di kalangan murid SMU sebesar
57%, mahasiswa secara keseluruhan 29%, dan
mahasiswa akuntansi 19%.
Sierles et. al. (1980) meneliti frekuensi
dan korelasi penjiplakan dan penyotekan di
antara mahasiswa kedokteran selama kuliah
dengan perilaku etis setelah menapaki jenjang
karir, dari hasil penelitian tersebut Sierles et.
al. (1980) menunjukkan bahwa perilaku menjiplak dan menyontek merupakan prediktor
atas perilaku tidak etis dalam setting profesional berikutnya (Adib, 2001).
Khususnya tentang penjiplakan atau
plagiat di Indonesia, di lingkungan dunia akademis yang seharusnya dihindari, justru semakin merebak di sejumlah perguruan tinggi.

Pelakunya bukan hanya mahasiswa, tetapi
juga dosen, guru besar, dan calon guru besar
dengan beragam modus. Yogyakarta, missalnya, dua calon guru besar perguruan tinggi
swasta dicurigai mengajukan karya ilmiah
hasil penjiplakan dalam berkas pengajuan
gelar guru besarnya. Karena kasus ini, pengajuan gelar guru besar mereka ditangguhkan
hingga proses klarifikasi selesai. Sedangkan,
di Bandung Pengurus Yayasan Universitas
Parahyangan Bandung menerima pengunduran
diri guru besar Jurusan Hubungan Internasional, AABP. Atas perbuatan penjiplakan
yang telah dilakukan AABP, Universitas Parahyangan menyampaikan penyesalan dan
permohonan maaf kepada semua pihak
(Harian Kompas, 18 Pebruari 2010).
Ameen et. al. (1996), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan hubungan antara faktor gender
dengan kesungguhan untuk mentoleransi perilaku akademis yang tidak etis, yaitu perilaku
menyontek/menjiplak. Penelitian mengenai
hubungan antara gender dengan sensitivitas
etis menurut Ameen et. al. (1996) diperlukan
karena sejak akhir tahun 70-an jumlah mahasiswa akuntansi wanita meningkat dengan
pesat. Selama periode tersebut makin banyak
mahasiswa akuntansi wanita yang menjadi top
performer di dalam kelas dan lebih terlibat
dalam aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan akuntansi (organisasi akuntansi, graduate
assistantships, internship, dan sebagainya).
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi wanita lebih sensitif
terhadap isu-isu etis dan lebih tidak toleran
dibanding mahasiswa akuntansi pria terhadap
perilaku tidak etis.
Beberapa penelitian lain mengenai
hubungan gender dengan etika selama ini
menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
Selain Ameen et. al. (1996), oleh Adib (2001)
dikutip hasil penelitian dari beberapa peneliti
lain seperti Ruegger dan King (1992),
Galbraith dan Stephenson (1993), dan
Khazanchi (1995) menyatakan bahwa antara
gender dengan etika terdapat hubungan yang
signifikan. Sedangkan, Sikula dan Costa
(1994) serta Schoderbek dan Deshpande
(1996) dalam Adib (2001) menyatakan tidak

81

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

ada hubungan yang signifikan antara gender
dengan etika.
Kesadaran beretika pada mahasiswa
akuntansi makin dirasakan urgensinya setelah
terbitnya SK Mendikbud No. 036 tahun 1994,
dimana akuntansi dimasukkan dalam pendidikan profesi. Agoes (1996) mengemukakan
bahwa setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat harus memiliki
kode etik yang merupakan seperangkat prinsip-prinsip moral dan mengatur tentang perilaku profesional. Alasan yang mendasari
diperlukannya kode etik sebagai standar perilaku profesional tertinggi pada setiap profesi
adalah kebutuhan akan kepercayaan publik
terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi
terlepas dari yang dilakukan secara perorangan. Kepercayaan masyarakat terhadap
kualitas jasa profesional akan meningkat jika
profesi mewujudkan standar yang tinggi dan
memenuhi semua kebutuhan.
Dari hal-hal yang diuraikan di atas dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa akuntansi
seharusnya mempunyai kesadaran etis yang
berbeda dari mahasiswa disiplin ilmu lainnya
khususnya mahasiswa bisnis non akuntansi.
Namun demikian, beberapa penelitian yang
membandingkan kesadaran etis mahasiswa
akuntansi dan mahasiswa dari disiplin ilmu
lain selama ini masih menunjukkan hasil yang
tidak konsisten. Hasil penelitian O’Clock dan
Okleshen (1993), serta Cohen et al. (1998)
dalam Adib (2001) menyatakan terdapat
perbedaan sensitivitas etis yang signifikan
antara mahasiswa akuntansi dengan mahasiswa non akuntansi, sedangkan beberapa
penelitian lain sebagaimana yang dikutip oleh
Adib (2001) dari Cohen et. al. (1998) dan
O’Clock dan Okleshen (1993), menyimpulkan
bahwa tidak ada hubungan antara bidang studi
dengan etika.
Penelitian ini adalah replikasi penelitian
yang dilakukan oleh Adib (2001) dengan
lokasi yang berbeda yaitu di Banjarmasin
dengan mengambil sampel mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi baik
pria maupun wanita pada perguruan tinggi
swasta khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi dan
jurusan bisnis non akuntansi. Motivasi lainnya

82

adalah, sampel penelitian Adib (2001) hanya
diambil dari perguruan tinggi (universitas) di
Yogyakarta dan Jawa Timur yang belum tentu
sama hasil penelitiannya kalau dilakukan di
Banjarmasin yang menurut Shaub (1994) dalam Adib (2001), bahwa lokasi geografis dan
budaya dapat mempengaruhi perspektif etis
individual, yang peneliti juga berpendapat ada
kemungkinan perbedaan temuan penelitian
karena adanya perbedaan lokasi geografis dan
budaya setempat terutama untuk perguruan
tinggi swasta khususnya sekolah tinggi ilmu
ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi
dan jurusan bisnis non akuntansi yang berada
di Banjarmasin.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini
bertujuan untuk menguji apakah ada perbedaan sensivitas etis mahasiswa akuntansi pria
dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap
aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, serta perbedaan sensitivitas
etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas
tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan
akademik. Diharapkan hasil penelitian dapat
memberikan bukti empiris dan konfirmasi
konsistensi dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan dapat digunakan sebagai masukan
dan memberikan kontribusi pada pengembangan kurikulum khususnya kurikulum
akuntansi untuk perlunya mengintegrasikan
masalah-masalah etika dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Bahwa akuntan (lulusan
pendidikan tinggi akuntansi) masa depan
seperti yang diungkapkan dalam Pernyataan
Profesi IAI pada Konvensi Nasional Akuntansi VI 14 Agustus 2009 di Bandung, bukanlah lagi sekedar pemeriksa atau penyedia
informasi keuangan, tetapi menjadi bagian
penting dari pembangunan ekonomi dan sosial
untuk menciptakan Indonesia yang lebih berkeadilan dan makmur.
Karena hasil-hasil penelitian terdahulu
masih tidak konsisten, baik mengenai perbedaan gender maupun perbedaan disiplin
ilmu, maka dalam penelitian ini peneliti
mengajukan null hypothesis, yaitu:
H01: Tidak ada perbedaan sensitivitas etis
antara mahasiswa akuntansi pria dan
mahasiswa akuntansi wanita terhadap

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam
lingkungan akademik.
H02: Tidak ada perbedaan sensitivitas etis
antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap
aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam
lingkungan akademik.
METODE PENELITIAN
Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi
populasi adalah mahasiswa akuntansi dan
mahasiswa bisnis non akuntansi baik pria
maupun wanita yang terdaftar di beberapa
perguruan tinggi swasta khususnya sekolah
tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan
akuntansi dan jurusan bisnis non akuntansi
program strata satu (S1) yang berada di
Banjarmasin. Adapun mahasiswa yang dipilih
sebagai sampel adalah mahasiswa semester III
ke atas (lebih dari satu tahun masa studi).
Pemilihan mahasiswa semester III ke atas ini
bertujuan untuk mengetahui efek disiplin ilmu
dari masing-masing kelompok bidang studi.
Metode Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan dengan
membagikan kuesioner penelitian kepada mahasiswa jurusan akuntansi dan mahasiswa
jurusan bisnis non akuntansi baik pria maupun
wanita dengan kriteria mahasiswa tersebut
telah menempuh masa studi lebih dari satu
tahun di beberapa perguruan tinggi swasta
khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang
mempunyai jurusan akuntansi dan jurusan
bisnis non akuntansi yang berada di Banjarmasin.
Operasionalisasi Variabel
Penelitian ini menggunakan variabel/instrumen yang dikembangkan oleh Ameen et. al.
(1996) untuk mengukur sensitivitas etis mahasiswa terhadap 23 aktivitas tidak etis. Oleh
Ameen et. al. (1996), instrumen tersebut dikelompokkan ke dalam 3 dimensi yang berkaitan
dengan kecurangan pada saat ujian, tugas
kelompok/individu, dan tugas pembuatan makalah/paper. Namun demikian, Ameen et. al.
(1996) tidak secara eksplisit mengelompokkan

ke-23 item pernyataan tersebut ke dalam 3
dimensi yang dimaksud. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisis faktor untuk
mengelompokkan item-item pernyataan berdasarkan dimensi yang akan dihasilkan, seperti
yang juga dilakukan oleh Adib (2001).
Skala yang digunakan untuk mengindikasikan tingkat kecurangan untuk masingmasing 23 aktivitas tidak etis adalah dengan
menggunakan skala likert 5 poin, dimana setiap responden diminta untuk menyatakan
persepsinya dengan memilih satu nilai dalam
skala 1 sampai 5. Skala rendah (nilai 1) menunjukkan aktivitas tersebut tidak curang,
sampai skala tinggi (nilai 5) untuk menunjukkan aktivitas tersebut sangat curang.
Pengujian Hipotesis
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis,
terlebih dahulu dilakukan uji kualitas data.
Menurut Hair et. al. (1998), kualitas data yang
dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas
dan validitas. Uji tersebut masing-masing
untuk mengetahui konsistensi dan keakurasian
data yang dikumpulkan melalui penggunaan
instrumen. Ada tiga prosedur yang akan dilakukan dalam penelitian untuk mengukur
reliabilitas dan validitas data, yaitu: (1) uji
konsistensi internal dengan uji statistik Cronbach’s Alpha; (2) uji homogenitas data dengan
uji korelasional antara skor masing-masing
butir dengan skor total; dan, (3) uji validitas
konstruk dengan analisis faktor terhadap skor
setiap butir dengan Varimax Rotation.
Untuk uji hipotesis, dianalisis dengan
membandingkan rata-rata dua grup yang tidak
berhubungan satu dengan yang lain, apakah
kedua grup tersebut mempunyai rata-rata yang
sama ataukah tidak secara signifikan (Ghozali,
2006). Teknik statistik dengan menggunakan
Independent-Sample t Test, dengan menggunakan uji-t ini akan diketahui signifikansi
perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa
akuntansi pria dengan mahasiswa akuntansi
wanita, dan mahasiswa akuntansi dengan mahasiswa bisnis non akuntansi.

83

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Dari 240 kuesioner yang telah disiapkan
untuk didistribusikan secara proporsional,
yaitu 120 kuesioner untuk mahasiswa jurusan
akuntansi dan 120 kuesioner untuk mahasiswa
jurusan bisnis non akuntansi atau manajemen,
serta dari 120 kuesioner pada masing-masing
jurusan didistribusikan secara proposional
untuk 60 kuesioner untuk mahasiswa pria dan
60 kuesioner untuk mahasiswa wanita. Tingkat pengembalian kuesioner adalah 100%,
namun 40 kuesioner yang telah diisi tidak
dapat diikutsertakan karena isian yang tidak
lengkap dan sebagian mahasiswa semester II,
sehingga jumlah kuesioner yang layak dianalisa sebanyak 200 kuesioner.
Partisipasi responden yang mengisi 200
kuesioner dan layak digunakan untuk analisis
data, berdasarkan jurusan 103 kuesioner dari
jurusan akuntansi dan 97 kuesioner dari
jurusan manajemen (bisnis non akuntansi),
sedangkan berdasarkan gender, 96 orang pria
dan 104 orang wanita. Untuk jurusan akuntansi, 49 pria dan 54 wanita. Rata-rata umur
responden adalah 22 tahun dalam rentang
umur termuda 19 tahun dan umur tertua 25
tahun.
Penelitian ini menggunakan variabel/instrumen yang dikembangkan oleh Ameen et. al.
(1996) untuk mengukur sensitivitas etis mahasiswa terhadap 23 aktivitas tidak etis yang
terjadi di lingkungan akademik. Oleh Ameen
et. al. (1996), instrumen tersebut dikelompokkan ke dalam 3 dimensi yang berkaitan
dengan kecurangan pada saat ujian, tugas
kelompok/individu, dan tugas pembuatan
makalah/paper. Namun demikian, Ameen et.
al. (1996) tidak secara eksplisit mengelompokkan ke-23 item pernyataan tersebut ke
dalam 3 dimensi yang dimaksud. Karena penelitian ini ingin mengkonfirmasi hasil
penelitian Adib (2001), yang mengelompokkan ke dalam 4 dimensi, maka instrumen
juga dikelompokkan ke dalam 4 dimensi.
Dimensi pertama adalah berkaitan dengan
kecurangan pada saat ujian, dimensi kedua
berkaitan dengan penggunaan sumber yang
tidak sah, dimensi ketiga berkaitan dengan

84

kecurangan pada saat pembuatan makalah
/paper, dan dimensi keempat berkaitan dengan
ancaman dan sogokan terhadap dosen atau
mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai.
Statistik deskriptif terhadap 4 dimensi
instrumen disajikan dalam tabel 1. Ditunjukkan bahwa pada dimensi 1, kisaran jawaban
responden cenderung mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya dengan nilai rata-rata
22,13 dan standar deviasi 6,14. Ini berarti
bahwa jawaban responden agak menyebar ke
dalam lima kategori, tetapi cenderung bahwa
perbuatan kecurangan pada saat ujian dianggap perbuatan curang, yang ditunjukkan nilai
rata-rata yang cenderung mendekati nilai
maksimum kisaran sesungguhnya. Sedangkan
pada dimensi 2, kisaran jawaban responden
cenderung mendekati nilai maksimum kisaran
teoritisnya dengan nilai rata-rata 10,45 dan
standar deviasi 3,37. Ini berarti bahwa jawaban responden agak menyebar ke dalam
lima kategori, tetapi cenderung bahwa penggunaan sumber yang tidak sah dianggap
perbuatan curang, ditunjukkan bahwa nilai
rata-rata yang cenderung mendekati nilai maksimum kisaran sesungguhnya.
Untuk dimensi 3 yang berkaitan dengan
kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper dapat ditunjukkan responden juga menganggap bahwa perbuatan tersebut juga curang,
karena kisaran jawaban responden cenderung
mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya
dengan nilai rata-rata 17,42 dan standar
deviasi 4,40. Sedangkan pada dimensi 4 yang
berkaitan dengan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk
meningkatkan nilai, juga dianggap responden
mahasiswa sebagai perbuatan curang, ditunjukkan kisaran jawaban responden cenderung
mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya
dengan nilai rata-rata 4,53 dan standar deviasi
1,04.
Untuk uji kualitas data yang ditampilkan
pada tabel 2 menunjukkan tingkat kekonsistenan dan keakurasian yang cukup baik. Pada
uji reliabilitas konsistensi internal koefisien
Cronbach’s Alpha menunjukkan tidak ada
koefisien yang kurang dari nilai batas minimal
0,60 (Ghozali, 2006). Sedangkan pada pengujian validitas dengan uji homogenitas data

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

dengan uji korelasional antara skor masingmasing butir dengan skor total (Pearson
Correlations) menunjukkan korelasi yang
positif dan signifikan pada level 0,01. Selanjutnya pada pengujian validitas dengan
analisis faktor yang dimaksudkan untuk
memastikan bahwa masing-masing pernyataan
akan terklarifikasi pada variable-variabel yang
telah ditentukan (construct validity). Uji analisis faktor dilakukan terhadap nilai setiap
dengan Varimax Rotation, nilai Kaiser’s MSA
yang disyaratkan agar data yang terkumpul
dapat tepat dilakukan dengan analisis faktor
adalah 0,50, dan hal ini juga akan menunjukkan construct validity dari masing-masing
variabel (Kaiser dan Rice, 1974 dalam Riyadi,
2000). Hasil pengujian analisis faktor menunjukkan nilai di atas 0,50, artinya validitas pada
masing-masing variabel cukup valid. Sedangkan factor loading masing-masing variabel
juga cukup memadai, dengan batas penerimaan 0,40 (Hair et. al., 1998; Chia, 1995
dalam Riyadi, 2000). Untuk dimensi 4 tidak
dapat diuji reliabilitas dan validitas data
karena hanya berisi 1 butir pernyataan.
Hasil Pengujian Hipotesis
Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5% (0,05), dalam menggunakan Independent Sample t-Test menggunakan dua
tahapan analisis. Tahapan pertama dengan
Levene’s Test untuk menguji apakah varians
populasi kedua sampel tersebut sama ataukah
berbeda, jika F-hitung probabilitasnya lebih
besar dari 0,05, maka kedua varians populasi
sampel tidak berbeda secara signifikan atau
sama atau H0 diterima (tidak dapat ditolak).
Sebaliknya jika F-hitung probabilitasnya lebih
kecil dari 0,05, maka kedua varians populasi
sampel berbeda secara signifikan atau tidak
sama atau H0 tidak dapat diterima (ditolak).
Ghozali (2006), menyatakan samanya atau
tidak berbedanya secara signifikan kedua
varians membuat penggunaan varians untuk
membandingkan rata-rata populasi dengan ttest sebaiknya menggunakan dasar Equal
Variance (diasumsikan kedua varians sama).
Null hypothesis pertama yang diuji
adalah, bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas
etis antara mahasiswa akuntansi pria dan

mahasiswa akuntansi wanita terhadap aktivitas
tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan
akademik. Rangkuman hasil uji hipotesis pertama disajikan pada tabel 3.
Dari hasil pengujian Levene’s Test dapat
disimpulkan bahwa tiga dimensi yang diuji
(dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) kedua
varians populasi adalah sama atau tidak berbeda atau H0 tidak dapat ditolak, ditunjukkan
oleh probabilitas hitungnya lebih besar dari
0,05, sehingga tahap kedua dari uji t-test dapat
dilanjutkan karena asumsi kedua varians
adalah sama. Sedangkan pada dimensi 4
probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05,
sehingga dapat disimpulkan secara statistik
kedua varians populasi sampel berbeda secara
siginifikan atau tidak sama atau H0 tidak
dapat diterima, sehingga analisis tidak dapat
dilanjutkan karena asumsi kedua varians sama
tidak terpenuhi.
Dengan analisis t-test terhadap tiga
dimensi (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3)
yang sudah lolos uji asumsi kesamaan varians,
ditunjukkan bahwa dimensi 2 dan dimensi 3
probabilitas hitungnya lebih besar dari 0,05,
artinya kedua rata-rata sampel tidak berbeda
secara signifikan atau sama atau H0 diterima
(tidak dapat ditolak). Sedangkan pada dimensi
1, ditunjukkan bahwa probabilitas hitungnya
lebih kecil dari 0,05, artinya kedua rata-rata
sampel berbeda secara signifikan atau tidak
sama atau H0 tidak dapat diterima (ditolak).
Null hypothesis kedua adalah, bahwa
tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis
non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis
yang terjadi di dalam lingkungan akademik.
Rangkuman hasil uji hipotesis kedua disajikan
pada tabel 4.
Dari hasil pengujian Levene’s Test dapat
disimpulkan bahwa tiga dimensi yang diuji
(dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) kedua
varians populasi adalah sama atau tidak berbeda atau H0 tidak dapat ditolak, ditunjukkan
oleh probabilitas hitungnya lebih besar dari
0,05, sehingga tahap kedua dari uji t-test dapat
dilanjutkan karena asumsi kedua varians
adalah sama. Sedangkan pada dimensi 4 probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05,
sehingga dapat disimpulkan secara statistik

85

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

kedua varians populasi sampel berbeda secara
siginifikan atau tidak sama atau H0 tidak
dapat diterima, sehingga analisis tidak dapat
dilanjutkan karena asumsi kedua varians sama
tidak terpenuhi.
Dengan analisis t-test terhadap tiga
dimensi (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3)
yang sudah lolos uji asumsi kesamaan varians,
ditunjukkan bahwa dimensi 1 dan dimensi 3
probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05,
artinya kedua rata-rata sampel berbeda secara
signifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat
diterima (ditolak). Sedangkan pada dimensi 2,
ditunjukkan bahwa probabilitas hitungnya
lebih besar dari 0,05, artinya kedua rata-rata
sampel tidak berbeda secara signifikan atau
sama atau H0 diterima (tidak dapat ditolak).
Pembahasan
Hasil pengujian hipotesis pertama yang
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi
pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap
aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam
lingkungan akademik, memperlihatkan bahwa:
pertama, pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, bahwa terdapat
perbedaan signifikan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa
akuntansi wanita, ditunjukkan probabilitas
sebesar 0,04 (lebih kecil dari 0,05). Hasil ini
tidak konsisten atau tidak sama dengan hasil
penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 1
ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara mahasiswa akuntansi pria
dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap
kecurangan pada saat ujian. Bahwa mahasiswa
akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi
wanita tidak sama mempersepsikan kecurangan pada saat ujian adalah perbuatan curang,
Tabel 1. Statistik Deskriptif
Variabel
Kisaran Teoritis
Dimensi 1
Dimensi 2
Dimensi 3
Dimensi 4
Sumber: data primer diolah 2010

86

7 – 35
4 – 20
5 – 25
1–5

ditunjukkan dari rata-rata dimensi 1 untuk
mahasiswa akuntansi wanita sebesar 24,52 dan
mahasiswa akuntansi pria 22,27 dalam rentang
nilai minimal 8 dan maksimal 35, yang berarti
kecurangan pada saat ujian bagi mahasiswa
akuntansi wanita adalah perbuatan curang,
sedangkan bagi mahasiswa akuntansi pria
perbuatan tersebut tidak terlalu curang, karena
nilai rata-rata mahasiswa akuntansi pria realtif
lebih kecil atau di bawah rata-rata mahasiswa
akuntansi wanita. Hasil ini relevan dengan
hasil penelitian Ameen et. al. (1996) bahwa
mahasiswa akuntansi wanita lebih sensitif
terhadap isu-isu etis dan lebih tidak toleran
dibanding mahasiswa akuntansi pria terhadap
perilaku tidak etis. Oleh karena itu wanita
lebih mungkin untuk lebih patuh pada aturan
dan kurang toleran terhadap individu-individu
yang melanggar aturan dibandingkan dengan
pria. Beberapa hasil penelitian lainnya yang
dilakukan oleh Rugger dan King (1992),
Galbraith dan Stephenson (1993), dan
Khazanchi (1995) juga relevan dengan hasil
penelitian ini, yang menemukan bahwa gender
merupakan faktor signifikan dalam penentuan
ethical conduct dan wanita lebih etis dari pada
pria (Adib, 2001).
Kedua, pada dimensi 2 yang berkaitan
dengan penggunaan sumber yang tidak sah,
bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan
sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi
pria dan mahasiswa akuntansi wanita,
ditunjukkan probabilitas sebesar 0,08 (lebih
besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau sama
dengan hasil penelitian Adib (2001), yang
pada dimensi 2 ditunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara mahasiswa
akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi
wanita terhadap kecurangan pada penggunaan
sumber yang tidak sah.

Kisaran
Sesungguhnya
9 – 35
4 – 18
5 – 25
1–5

Rata-Rata

Standar Deviasi

22,13
10,45
17,42
4,53

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

6,14
3,37
4,40
1,04

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

Tabel 2. Hasil Uji Kualitas Data
Variabel
Cronbach’s
Alpha
Dimensi 1
0,83
Dimensi 2
0,61
Dimensi 3
0,76
Dimensi 4
-

Pearson
Correlations
0,54 – 0,83*
0,63 – 0,73*
0,67 – 0,75*
-

Kaiser’s
MSA
0,85
0,68
0,75
-

Factor Loading
0,45 – 0,85
0,54 – 0,79
0,66 – 0,77
-

* Signifikan pada level 0,01

Sumber: data primer diolah 2010.
Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi Pria dan
Mahasiswa Akuntansi Wanita
Levene’s Test for
T-Test
Equality
of Variances
Variabel
F-stat.
Sig.
t-stat.
Sig.
Dimensi 1
0,483
0,49
-2,029
0,04
Dimensi 2
0,271
0,60
-1,765
0,08
Dimensi 3
1,687
0,20
-1,526
0,13
Dimensi 4
19,332
0,00
-2,238
0,03
Sumber: data primer diolah 2010
Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi dan
Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi
Levene’s Test for
T-Test
Equality of Variances
Variabel
F-stat.
Sig.
t-stat.
Sig.
Dimensi 1
1,293
0,26
3,183
0,00
Dimensi 2
0,378
0,54
0,488
0,63
Dimensi 3
0,356
0,55
2,582
0,01
Dimensi 4
5,444
0,02
1,765
0,08
Sumber: data primer diolah 2010
Bahwa mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita sama mempersepsikan
kecurangan pada penggunaan sumber yang
tidak sah, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 2
untuk mahasiswa akuntansi wanita sebesar
11,13 dan mahasiswa akuntansi pria 9,94
dalam rentang nilai minimal 4 dan maksimal
18 dengan rata-rata 10,56, yang berarti kecurangan penggunaan sumber tidak sah bagi
mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa
akuntansi wanita adalah perbuatan curang,
karena nilai rata-rata cenderung mendekati
nilai maksimalnya.
Ketiga, pada dimensi 3 yang berkaitan
dengan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, bahwa tidak terdapat perbedaan
signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa

akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,13
(lebih besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau
sama dengan hasil penelitian Adib (2001),
yang pada dimensi 3 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi
wanita terhadap kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper. Bahwa mahasiswa
akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita sama mempersepsikan kecurangan pada
saat pembuatan makalah/paper, ditunjukkan
dari rata-rata dimensi 3 untuk mahasiswa
akuntansi wanita sebesar 18,43 dan mahasiswa
akuntansi pria 17,47 dalam rentang nilai minimal 5 dan maksimal 25 dengan rata-rata
18,18, yang berarti kecurangan pada saat

87

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

pembuatan makalah/paper bagi mahasiswa
akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi
wanita adalah perbuatan curang, karena nilai
rata-rata cenderung mendekati nilai maksimalnya.
Hasil pengujian hipotesis kedua yang
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara
mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis
non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis
yang terjadi di dalam lingkungan akademik,
memperlihatkan bahwa: pertama, pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada
saat ujian, bahwa terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi,
ditunjukkan probabilitas sebesar 0,00 (lebih
kecil dari 0,05). Hasil ini tidak konsisten atau
tidak sama dengan hasil penelitian Adib
(2001), yang pada dimensi 1 ditunjukkan tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non
akuntansi (manajemen) terhadap kecurangan
pada saat ujian. Bahwa mahasiswa akuntansi
dan mahasiswa bisnis non akuntansi tidak
sama mempersepsikan kecurangan pada saat
ujian adalah perbuatan curang, ditunjukkan
dari rata-rata dimensi 1 untuk mahasiswa
akuntansi sebesar 23,45 dan mahasiswa bisnis
non akuntansi 20,74 dalam rentang nilai
minimal 8 dan maksimal 35, yang berarti kecurangan pada saat ujian bagi mahasiswa
akuntansi adalah perbuatan curang, sedangkan
bagi mahasiswa bisnis non akuntansi perbuatan tersebut tidak terlalu curang karena
nilai rata-rata mahasiswa bisnis non akuntansi
relatif di bawah dari rata-rata mahasiswa
akuntansi. Hasil ini konsisten dengan hasil
penelitian Cohen et. al. (1998) yang menyatakan bahwa mahasiswa akuntansi lebih yakin
dari pada mahasiswa bisnis lainnya dan tindakan yang dipertanyakan keetisannya merupakan tindakan kurang etis (Adib, 2001).
Kedua, pada dimensi 2 yang berkaitan
dengan penggunaan sumber yang tidak sah,
bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan
sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi
dan mahasiswa bisnis non akuntansi,
ditunjukkan probabilitas sebesar 0,63 (lebih
besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau sama
dengan hasil penelitian Adib (2001), yang

88

pada dimensi 2 ditunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara mahasiswa
akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi
terhadap kecurangan pada penggunaan sumber
yang tidak sah. Bahwa mahasiswa akuntansi
dan mahasiswa bisnis non akuntansi sama
mempersepsikan kecurangan pada penggunaan sumber yang tidak sah, ditunjukkan dari
rata-rata dimensi 2 untuk mahasiswa akuntansi
sebesar 10,56 dan mahasiswa bisnis non akuntansi 10,33 dalam rentang nilai minimal 4 dan
maksimal 18 dengan rata-rata 10,45, yang
berarti kecurangan penggunaan sumber tidak
sah bagi mahasiswa akuntansi dan mahasiswa
bisnis non akuntansi adalah perbuatan curang,
karena nilai rata-rata cenderung mendekati
nilai maksimalnya.
Ketiga, pada dimensi 3 yang berkaitan
dengan kecurangan pada saat pembuatan
makalah/paper, bahwa terdapat perbedaan
signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa
akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,01
(lebih kecil dari 0,05). Hasil ini tidak konsisten atau tidak sama dengan hasil penelitian
Adib (2001), yang pada dimensi 3 ditunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan
antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa
bisnis non akuntansi terhadap kecurangan
pada saat pembuatan makalah/paper. Bahwa
mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis
non akuntansi tidak sama mempersepsikan
kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 3
untuk mahasiswa akuntansi sebesar 18,18 dan
mahasiswa bisnis non akuntansi 16,60 dalam
rentang nilai minimal 5 dan maksimal 25
dengan rata-rata 17,42, yang berarti kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper
bagi mahasiswa akuntansi adalah perbuatan
curang, sedangkan bagi mahasiswa bisnis non
akuntansi perbuatan tersebut tidak terlalu
curang karena nilai rata-rata relatif di bawah
rata-rata mahasiswa akuntansi.
PENUTUP
Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1

akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis
yang terjadi di dalam lingkungan akademik
pada dimensi 2 (penggunaan sumber yang
tidak sah), dan dimensi 3 (kecurangan pada
saat pembuatan makalah/paper). Tetapi pada
dimensi 1 (kecurangan pada saat ujian) menunjukkan hasil bahwa secara signifikan
terdapat perbedaan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa
akuntansi wanita, dimana mahasiswa akuntansi wanita mempersepsikan kecurangan pada
saat ujian adalah perbuatan curang, sedangkan
bagi mahasiswa akuntansi pria perbuatan
tersebut tidak terlalu curang, karena nilai ratarata mahasiswa akuntansi pria relatif lebih
kecil atau di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi wanita. Hasil pengujian hipotesis pertama pada dimensi 2 dan dimensi 3 ini konsisten
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Adib (2001), tetapi pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian
menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
Untuk pengujian hipotesis kedua yang
dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan
mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap
aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, menunjukkan hasil pada
dimensi 1 (kecurangan pada saat ujian), dan
dimensi 3 (kecurangan pada saat pembuatan
makalah/paper) bahwa terdapat perbedaan
signifikan. Dengan kata lain terdapat perbedaan yang signifikan sensitivitas etis antara
mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis
non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis
yang terjadi di lingkungan akademik untuk kecurangan pada saat ujian dan kecurangan pada
saat pembuatan makalah/paper, dimana mahasiswa akuntansi mempersepsikan kedua
aktivitas kecurangan tersebut adalah curang,
sedangkan mahasiswa bisnis non akuntansi
mempersepsikan perbuatan tersebut tidak
terlalu curang, karena nilai rata-rata mahasiswa bisnis non akuntansi relatif lebih kecil
atau di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi.
Sedangkan pada dimensi 2 yang berkaitan
dengan penggunaan sumber yang tidak sah,
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa
akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi

terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di
dalam lingkungan akademik. Hasil pengujian
hipotesis kedua pada dimensi 1 dan dimensi 3
ini tidak konsisten dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Adib (2001), tetapi pada
dimensi 2 yang berkaitan dengan penggunaan
sumber yang tidak sah menunjukkan hasil
yang konsisten.
Untuk dimensi 4 yang berkaitan dengan
ancaman dan sogokan terhadap dosen atau
mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai, uji
t-test untuk menguji perbedaan sensitivitas etis
antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita maupun perbedaan
sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi
dan mahasiswa bisnis non akuntansi tidak
dapat dilakukan karena kedua varians populasi
sampel tidak sama. Tapi dari statistik deskriptif menunjukkan responden mahasiswa
mempersepsikan bahwa perbuatan ancaman
dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa
lain untuk meningkatkan nilai, merupakan
perbuatan tidak etis atau sangat curang karena
kisaran jawaban responden cenderung hampir
mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya,
ditunjukkan rata-rata 4,53 dengan standar
deviasi 1,04 dalam skala 1 (tidak curang) sampai dengan 5 (sangat curang). Kecenderungan
ke arah nilai maksimum ini dapat disimpulkan
bahwa perbuatan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai menurut persepsi responden
mahasiswa cenderung cukup ekstrim ketidaketisannya atau dengan kata lain cenderung
melanggar hukum.
Hal yang perlu mendapat perhatian dari
hasil penelitian ini adalah perlu dalam
pengembangan kurikulum khususnya kurikulum akuntansi dan kurikulum jurusan atau
program studi bisnis non akuntansi untuk
mengintegrasikan masalah-masalah etika dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran.
Seperti yang diungkapkan oleh Wilopo
(Harian Kompas, 8 Februari 2010), bahwa
sebagian besar pendidikan tinggi yang melahirkan akuntan hanya melahirkan hard skill,
tidak seimbang dengan soft skill, semestinya
seorang akuntan memiliki kompetensi dan
nilai, antara lain memiliki independensi dan
kepatuhan pada etika. Yang juga menandaskan

89

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

hasil temuan sebelumnya bahwa perlunya
mempertajam materi pendidikan akuntansi
dengan penekanan antara lain pada ketaatan
aturan akuntansi, serta tanggung jawab moral
para akuntan (Wilopo, 2006). Tidak hanya
untuk kurikulum akuntansi saja ini perlu
mendapat perhatian tetapi juga pada kurikulum jurusan atau program studi bisnis non
akuntansi juga perlu mendapatkan perhatian
karena kemungkinan besar lulusan program
studi bisnis non akuntansi akan menjadi
pelaku bisnis di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, Noval, 2001. Pengaruh Sensitivitas Etis
antara Mahasiswa Akuntansi Pria dan
Mahasiswa Akuntansi Wanita serta Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Non
Akuntansi. Makalah Simposium Nasional Akuntansi IV IAI-KPd. Bandung.
Agoes, S., 1996. Penegakan Kode Etik Akuntan Indonesia. Makalah KNA-KLB IAI.
Semarang.
Ameen, E. C., D. M. Guffrey, dan J. J.
McMillan, 1996. Gender Differences in
Determining the Ethical Sensitivity of
Future Accounting Professional. Journal
of Business Ethics 15.
Fatt, J.P.T., 1995. Ethics and the Accountant.
Journal of Business Ethics 14.
Ghozali, Imam, 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Cetakan Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Hair, J.F., Anderson, R.E., Tatham, R.L. dan
Black W.C., 1998. Multivariate Data
Analysis. Fifth Edition. New Jersey:
Prentice Hall.

90

Husada, J., 1996. Etika Bisnis dan Etika
Profesi dalam Era Globalisasi. Makalah
KNA-KLB IAI. Semarang.
Kerr, D.S., and L.M. Smith, 1995. Importance
of and Approachs to Incorporating
Ethics into the Accounting Classroom.
Journal of Business Ethics 14.
Mautz, R.K., dan H.A. Sharaf, 1993. The Philosophy of Auditing. Seventeenth Printing. American Accounting Association.
Riyadi, S., 2000. Motivasi dan Pelimpahan
Wewenang sebagai Variabel Moderating dalam Hubungan antara Partisipasi
Penyusunan Anggaran dan Kinerja Manajerial. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.3 No.2. Juli. Hal. 134-150.
Rustiana, 2006. Persepsi Etika Mahasiswa
Akuntansi dan Auditor dalam Situasi
Dilema Etis Akuntansi. Jurnal Bisnis dan
Ekonomi KINERJA. Volume 10 No.2.
Hal. 116-128.
Sekaran, Uma, 2000. Research Methods for
Business: A Skill-Building Approach.
Third Edition. John Wiley & Sons, Inc.
U.S.A.
Supomo, Bambang, 1998. Pengaruh Struktur
dan Organisasional terhadap Keefektifan Anggaran Partisipatif dalam Peningkatan Kinerja Manajerial: Studi
Empiris pada Perusahaan Manufaktur
Indonesia. Kelola. No.18/VII. Hal. 6184.
Wilopo, 2006. Analisis Faktor-faktor yang
Berpengaruh terhadap Kecenderungan
Kecurangan Akuntansi: Studi pada Perusahaan Publik dan Badan Usaha
Negara di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Volume 9 No.3. Hal.
346-366.

PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA
AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI

Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

Judul: Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta Mahasiswa Akuntansi Dan Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi

Oleh: Akhmad Y A F I Z Syam


Ikuti kami