Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta...

Oleh Akhmad Y A F I Z Syam

206,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta Mahasiswa Akuntansi Dan Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi

APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta Akhmad Yafiz Syam Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banjarmasin Jalan Brigjend H. Hasan Basry No. 9-11 Kayu Tangi Banjarmasin Abstract: The purpose of this research is in order to test response between male accounting student and female accounting student and also between accounting student and non-accounting business student related to their experience while having a chance to do some unethical academic activity. The respondents are accounting students and non-accounting business students. The result of hypothesis shows that there is no ethical sensitivity difference between male accounting students and female accounting students toward unethical activity that happened in academic environment in the use of invalid resources and cheat while making paper. But in some cheat that happened in some examination shows significantly there is an ethical sensitivity difference between male accounting student and female accounting student. On the other hand, when it is about cheat while doing some examination and cheat while making paper, there is a significant ethical sensitivity difference between accounting student and non-accounting business student toward unethical activity that happened in academic environment, and in the use of invalid resources, shows that there is no significant ethical sensitivity difference between accounting student and nonaccounting business student. Kata Kunci: sensitivitas etis, gender, mahasiswa akuntansi PENDAHULUAN Di Indonesia, isu mengenai etika akuntansi berkembang seiring dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika, baik yang dilakukan oleh akuntan publik, akuntan intern, maupun akuntan pemerintah. Untuk kasus akuntan publik, beberapa pelanggaran etika ini dapat ditelusuri dari laporan Dewan Kehormatan IAI dalam laporan pertanggungjawaban pengurus IAI 1990-1994 yang menyebutkan adanya 211 buah kasus yang melibatkan 53 Kantor Akuntan Publik (Husada, 1996). Yang kemudian diungkapkan oleh Christiawan (2002), bahwa pada tahun 2002 Majelis Kehormatan IAI telah memberikan sangsi terhadap 10 Kantor Akuntan Publik (KAP) yang melakukan pelanggaran berat saat mengaudit bank-bank yang dilikuidasi (dalam Rustiana, 2006). Di luar negeri, seperti terjadi di Amerika Serikat, telah terjadi skandal bisnis perusahaan besar seperti Sunbeam, Enron, Worldcom, Tyco, dan Health South yang melibatkan profesi akuntan dan diikuti dengan ditutupnya KAP Arthur Andersen pada tahun 2002 disamping KAP tersebut juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum. Kasus-kasus tersebut menyebabkan profesi akuntan publik menjadi sorotan banyak pihak, karena profesi ini dianggap memiliki kontribusi dalam banyak kasus kebangkrutan perusahaan (IAI online, 2004). Seperti pernyataan Khan (2002) dan Muhammad (2002) yang dikutip oleh Rustiana (2006), bahwa akuntan publik dihadapkan pada suatu krisis kepercayaan dan keraguan atas integritas, kredibilitas, dan profesionalisme profesi, se- 79 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI hingga berdampak negatif terhadap profesi akuntan. Sebagai anggota dari suatu profesi, oleh Adib (2001) ditegaskan bahwa akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi di mana mereka bernaung, profesi mereka, masyarakat, dan diri mereka sendiri. Akuntan mempunyai tanggung jawab untuk menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan obyektivitas mereka. Penelitian tentang etika dalam situasi akuntansi semakin marak dilakukan baik di luar negeri (Sweeney dan Robert, 1997; Landry JR et. al., 2004; Haywood et. al., 2004; Radtke, 2004; dalam Rustiana, 2006), maupun di Indonesia (Adib, 2001; Puspitasari, 2002; Rustiana, 2006). Penelitian-penelitian tentang etika dalam bidang akuntansi dengan responden para mahasiswa akuntansi dan atau para akuntan, dipicu dengan semakin banyaknya pelanggaran etika yang terjadi di luar negeri maupun di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Adib (2001pada perguruan tinggi (universitas) di Yogyakarta dan Jawa Timur dengan 532 responden mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi baik pria maupun wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, serta tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. Hasil penelitian Swindle et. al. (1987) terhadap 224 responden akuntan publik, yang dikutip oleh Fatt (1995), menyimpulkan bahwa akuntan publik saat ini mempunyai sistem nilai yang lebih berorientasi personal dari pada sosial dan mereka tampaknya tidak menekankan pada karakteristik nilai-nilai masyarakat saat ini. Konsekuensinya, oleh Wright et. al. (1997) dalam Adib (2001), mengemukakan bahwa makin besar sistem nilai yang berorientasi personal, maka makin kurang penting dimensi etis dipertimbangkan dalam sebuah konflik antara diri sendiri 80 dengan masyarakat, yang oleh Kerr dan Smith (1995) dinyatakan bahwa ketika perilaku etis hilang dalam diri akuntan, maka kredibilitas profesi akuntan ada dalam bahaya. American Assembly of Collegiate Schools of Business (1990) dan The National Commission on Fraudulent Financial Reporting (1987), yang dikutip oleh Ameen et. al. (1996), merekomendasikan perlunya memberi penekanan yang lebih pada masalah-masalah etis dalam mengajar mata kuliah akuntansi. Kedua organisasi tersebut meyakini pentingnya mahasiswa bisnis dan kaum professional untuk menjadi lebih sadar dan sensitiv terhadap masalah-masalah etika. Kerr dan Smith (1995) juga menyatakan bahwa perilaku etis dan pendidikan merupakan hal yang kritis dalam masyarakat modern, dunia bisnis, dan profesi akuntansi. Hal ini juga diperkuat oleh hasil survei Fatt (1995) dengan mengirimkan 500 kuesioner kepada masyarakat, mahasiswa akuntansi, dan akuntan publik untuk meneliti persepsi mereka mengenai kualitas personal akuntan. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responden menganggap bahwa integritas dan kualitas etis seorang akuntan merupakan kualitas personal yang paling penting. Beberapa penelitian dalam bidang akuntansi mengenai etika dilakukan oleh Glenn dan Loo (1993), Fischer dan Rosenzweig (1995), dan Stevens et. al. (1993), yang menemukan bahwa mahasiswa akuntansi cenderung menunjukkan tingkat kesadaran etis yang lebih rendah dibanding praktisi (dalam Adib 2001). Sedangkan O’Clock dan Okleshen (1993) menemukan bahwa mahasiswa akuntansi mempunyai tingkat kesadaran yang lebih rendah dari mahasiswa non akuntansi. Penemuan-penemuan hasil penelitian tersebut cukup memprihatinkan karena profesi akuntan yang kelak akan disandang oleh para mahasiswa akuntansi tersebut terkait erat dengan masalah-masalah etika. Hasil penemuan-penemuan tersebut makin memperkuat alasan untuk mengintegrasikan masalah-masalah etika ke dalam kurikulum akuntansi (Adib, 2001). Menurut Adib (2001), bibit-bibit perilaku tidak etis di kalangan profesional sebe- PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 tulnya sudah tumbuh bahkan sejak sebelum menjadi mahasiswa (sejak SMU ke bawah). Perilaku tersebut, disadari atau tidak terpupuk oleh aktivitas keseharian dalam kuliah. Salah satu perilaku tidak etis dalam aktivitas keseharian mahasiswa adalah perilaku menyontek/menjiplak. Argumentasi ini didasarkan hasil penelitian oleh Putka (1992) yang dikutip oleh Kerr dan Smith (1995), yang menunjukkan bahwa perilaku menyontek/ menjiplak yang dilakukan oleh murid SMU/ mahasiswa meningkat dari 40% menjadi 75% hingga saat ini. Alasan menyontek/menjiplak di kalangan murid SMU adalah untuk mencari nilai tinggi, sedangkan menyontek/menjiplak dalam kuliah untuk mencapai karir. Kerr dan Smith (1995) juga meminta mahasiswa akuntansi untuk mendaftar masalah etika yang utama yang ada di lingkungan kuliah mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa respon yang paling sering terjadi di lingkungan kuliah mereka adalah: 1) menyontek pada waktu ujian; 2) menyalin pekerjaan rumah atau masalah kasus yang dikerjakan oleh mahasiswa lain; 3) berusaha kepada dosen untuk memberi nilai yang tinggi; 4) memutuskan apakah akan melaporkan atau tidak mahasiswa lain yang menyontek; dan, 5) tidak memberi kontribusi yang memadai di dalam tugas kelompok. Kerr dan Smith (1995) juga meminta responden untuk menilai tingkat penyontekan dalam ujian antara murid SMU, mahasiswa secara keseluruhan, dan mahasiswa akuntansi. Hasilnya menunjukkan tingkat penyontekan di kalangan murid SMU sebesar 57%, mahasiswa secara keseluruhan 29%, dan mahasiswa akuntansi 19%. Sierles et. al. (1980) meneliti frekuensi dan korelasi penjiplakan dan penyotekan di antara mahasiswa kedokteran selama kuliah dengan perilaku etis setelah menapaki jenjang karir, dari hasil penelitian tersebut Sierles et. al. (1980) menunjukkan bahwa perilaku menjiplak dan menyontek merupakan prediktor atas perilaku tidak etis dalam setting profesional berikutnya (Adib, 2001). Khususnya tentang penjiplakan atau plagiat di Indonesia, di lingkungan dunia akademis yang seharusnya dihindari, justru semakin merebak di sejumlah perguruan tinggi. Pelakunya bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dosen, guru besar, dan calon guru besar dengan beragam modus. Yogyakarta, missalnya, dua calon guru besar perguruan tinggi swasta dicurigai mengajukan karya ilmiah hasil penjiplakan dalam berkas pengajuan gelar guru besarnya. Karena kasus ini, pengajuan gelar guru besar mereka ditangguhkan hingga proses klarifikasi selesai. Sedangkan, di Bandung Pengurus Yayasan Universitas Parahyangan Bandung menerima pengunduran diri guru besar Jurusan Hubungan Internasional, AABP. Atas perbuatan penjiplakan yang telah dilakukan AABP, Universitas Parahyangan menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada semua pihak (Harian Kompas, 18 Pebruari 2010). Ameen et. al. (1996), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan hubungan antara faktor gender dengan kesungguhan untuk mentoleransi perilaku akademis yang tidak etis, yaitu perilaku menyontek/menjiplak. Penelitian mengenai hubungan antara gender dengan sensitivitas etis menurut Ameen et. al. (1996) diperlukan karena sejak akhir tahun 70-an jumlah mahasiswa akuntansi wanita meningkat dengan pesat. Selama periode tersebut makin banyak mahasiswa akuntansi wanita yang menjadi top performer di dalam kelas dan lebih terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan akuntansi (organisasi akuntansi, graduate assistantships, internship, dan sebagainya). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi wanita lebih sensitif terhadap isu-isu etis dan lebih tidak toleran dibanding mahasiswa akuntansi pria terhadap perilaku tidak etis. Beberapa penelitian lain mengenai hubungan gender dengan etika selama ini menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Selain Ameen et. al. (1996), oleh Adib (2001) dikutip hasil penelitian dari beberapa peneliti lain seperti Ruegger dan King (1992), Galbraith dan Stephenson (1993), dan Khazanchi (1995) menyatakan bahwa antara gender dengan etika terdapat hubungan yang signifikan. Sedangkan, Sikula dan Costa (1994) serta Schoderbek dan Deshpande (1996) dalam Adib (2001) menyatakan tidak 81 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI ada hubungan yang signifikan antara gender dengan etika. Kesadaran beretika pada mahasiswa akuntansi makin dirasakan urgensinya setelah terbitnya SK Mendikbud No. 036 tahun 1994, dimana akuntansi dimasukkan dalam pendidikan profesi. Agoes (1996) mengemukakan bahwa setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat harus memiliki kode etik yang merupakan seperangkat prinsip-prinsip moral dan mengatur tentang perilaku profesional. Alasan yang mendasari diperlukannya kode etik sebagai standar perilaku profesional tertinggi pada setiap profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi terlepas dari yang dilakukan secara perorangan. Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jasa profesional akan meningkat jika profesi mewujudkan standar yang tinggi dan memenuhi semua kebutuhan. Dari hal-hal yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa akuntansi seharusnya mempunyai kesadaran etis yang berbeda dari mahasiswa disiplin ilmu lainnya khususnya mahasiswa bisnis non akuntansi. Namun demikian, beberapa penelitian yang membandingkan kesadaran etis mahasiswa akuntansi dan mahasiswa dari disiplin ilmu lain selama ini masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Hasil penelitian O’Clock dan Okleshen (1993), serta Cohen et al. (1998) dalam Adib (2001) menyatakan terdapat perbedaan sensitivitas etis yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dengan mahasiswa non akuntansi, sedangkan beberapa penelitian lain sebagaimana yang dikutip oleh Adib (2001) dari Cohen et. al. (1998) dan O’Clock dan Okleshen (1993), menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara bidang studi dengan etika. Penelitian ini adalah replikasi penelitian yang dilakukan oleh Adib (2001) dengan lokasi yang berbeda yaitu di Banjarmasin dengan mengambil sampel mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi baik pria maupun wanita pada perguruan tinggi swasta khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi dan jurusan bisnis non akuntansi. Motivasi lainnya 82 adalah, sampel penelitian Adib (2001) hanya diambil dari perguruan tinggi (universitas) di Yogyakarta dan Jawa Timur yang belum tentu sama hasil penelitiannya kalau dilakukan di Banjarmasin yang menurut Shaub (1994) dalam Adib (2001), bahwa lokasi geografis dan budaya dapat mempengaruhi perspektif etis individual, yang peneliti juga berpendapat ada kemungkinan perbedaan temuan penelitian karena adanya perbedaan lokasi geografis dan budaya setempat terutama untuk perguruan tinggi swasta khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi dan jurusan bisnis non akuntansi yang berada di Banjarmasin. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada perbedaan sensivitas etis mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, serta perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan bukti empiris dan konfirmasi konsistensi dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan dapat digunakan sebagai masukan dan memberikan kontribusi pada pengembangan kurikulum khususnya kurikulum akuntansi untuk perlunya mengintegrasikan masalah-masalah etika dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Bahwa akuntan (lulusan pendidikan tinggi akuntansi) masa depan seperti yang diungkapkan dalam Pernyataan Profesi IAI pada Konvensi Nasional Akuntansi VI 14 Agustus 2009 di Bandung, bukanlah lagi sekedar pemeriksa atau penyedia informasi keuangan, tetapi menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi dan sosial untuk menciptakan Indonesia yang lebih berkeadilan dan makmur. Karena hasil-hasil penelitian terdahulu masih tidak konsisten, baik mengenai perbedaan gender maupun perbedaan disiplin ilmu, maka dalam penelitian ini peneliti mengajukan null hypothesis, yaitu: H01: Tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. H02: Tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. METODE PENELITIAN Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi baik pria maupun wanita yang terdaftar di beberapa perguruan tinggi swasta khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi dan jurusan bisnis non akuntansi program strata satu (S1) yang berada di Banjarmasin. Adapun mahasiswa yang dipilih sebagai sampel adalah mahasiswa semester III ke atas (lebih dari satu tahun masa studi). Pemilihan mahasiswa semester III ke atas ini bertujuan untuk mengetahui efek disiplin ilmu dari masing-masing kelompok bidang studi. Metode Pengumpulan Data Data penelitian dikumpulkan dengan membagikan kuesioner penelitian kepada mahasiswa jurusan akuntansi dan mahasiswa jurusan bisnis non akuntansi baik pria maupun wanita dengan kriteria mahasiswa tersebut telah menempuh masa studi lebih dari satu tahun di beberapa perguruan tinggi swasta khususnya sekolah tinggi ilmu ekonomi yang mempunyai jurusan akuntansi dan jurusan bisnis non akuntansi yang berada di Banjarmasin. Operasionalisasi Variabel Penelitian ini menggunakan variabel/instrumen yang dikembangkan oleh Ameen et. al. (1996) untuk mengukur sensitivitas etis mahasiswa terhadap 23 aktivitas tidak etis. Oleh Ameen et. al. (1996), instrumen tersebut dikelompokkan ke dalam 3 dimensi yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, tugas kelompok/individu, dan tugas pembuatan makalah/paper. Namun demikian, Ameen et. al. (1996) tidak secara eksplisit mengelompokkan ke-23 item pernyataan tersebut ke dalam 3 dimensi yang dimaksud. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisis faktor untuk mengelompokkan item-item pernyataan berdasarkan dimensi yang akan dihasilkan, seperti yang juga dilakukan oleh Adib (2001). Skala yang digunakan untuk mengindikasikan tingkat kecurangan untuk masingmasing 23 aktivitas tidak etis adalah dengan menggunakan skala likert 5 poin, dimana setiap responden diminta untuk menyatakan persepsinya dengan memilih satu nilai dalam skala 1 sampai 5. Skala rendah (nilai 1) menunjukkan aktivitas tersebut tidak curang, sampai skala tinggi (nilai 5) untuk menunjukkan aktivitas tersebut sangat curang. Pengujian Hipotesis Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji kualitas data. Menurut Hair et. al. (1998), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas. Uji tersebut masing-masing untuk mengetahui konsistensi dan keakurasian data yang dikumpulkan melalui penggunaan instrumen. Ada tiga prosedur yang akan dilakukan dalam penelitian untuk mengukur reliabilitas dan validitas data, yaitu: (1) uji konsistensi internal dengan uji statistik Cronbach’s Alpha; (2) uji homogenitas data dengan uji korelasional antara skor masing-masing butir dengan skor total; dan, (3) uji validitas konstruk dengan analisis faktor terhadap skor setiap butir dengan Varimax Rotation. Untuk uji hipotesis, dianalisis dengan membandingkan rata-rata dua grup yang tidak berhubungan satu dengan yang lain, apakah kedua grup tersebut mempunyai rata-rata yang sama ataukah tidak secara signifikan (Ghozali, 2006). Teknik statistik dengan menggunakan Independent-Sample t Test, dengan menggunakan uji-t ini akan diketahui signifikansi perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dengan mahasiswa akuntansi wanita, dan mahasiswa akuntansi dengan mahasiswa bisnis non akuntansi. 83 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Dari 240 kuesioner yang telah disiapkan untuk didistribusikan secara proporsional, yaitu 120 kuesioner untuk mahasiswa jurusan akuntansi dan 120 kuesioner untuk mahasiswa jurusan bisnis non akuntansi atau manajemen, serta dari 120 kuesioner pada masing-masing jurusan didistribusikan secara proposional untuk 60 kuesioner untuk mahasiswa pria dan 60 kuesioner untuk mahasiswa wanita. Tingkat pengembalian kuesioner adalah 100%, namun 40 kuesioner yang telah diisi tidak dapat diikutsertakan karena isian yang tidak lengkap dan sebagian mahasiswa semester II, sehingga jumlah kuesioner yang layak dianalisa sebanyak 200 kuesioner. Partisipasi responden yang mengisi 200 kuesioner dan layak digunakan untuk analisis data, berdasarkan jurusan 103 kuesioner dari jurusan akuntansi dan 97 kuesioner dari jurusan manajemen (bisnis non akuntansi), sedangkan berdasarkan gender, 96 orang pria dan 104 orang wanita. Untuk jurusan akuntansi, 49 pria dan 54 wanita. Rata-rata umur responden adalah 22 tahun dalam rentang umur termuda 19 tahun dan umur tertua 25 tahun. Penelitian ini menggunakan variabel/instrumen yang dikembangkan oleh Ameen et. al. (1996) untuk mengukur sensitivitas etis mahasiswa terhadap 23 aktivitas tidak etis yang terjadi di lingkungan akademik. Oleh Ameen et. al. (1996), instrumen tersebut dikelompokkan ke dalam 3 dimensi yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, tugas kelompok/individu, dan tugas pembuatan makalah/paper. Namun demikian, Ameen et. al. (1996) tidak secara eksplisit mengelompokkan ke-23 item pernyataan tersebut ke dalam 3 dimensi yang dimaksud. Karena penelitian ini ingin mengkonfirmasi hasil penelitian Adib (2001), yang mengelompokkan ke dalam 4 dimensi, maka instrumen juga dikelompokkan ke dalam 4 dimensi. Dimensi pertama adalah berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, dimensi kedua berkaitan dengan penggunaan sumber yang tidak sah, dimensi ketiga berkaitan dengan 84 kecurangan pada saat pembuatan makalah /paper, dan dimensi keempat berkaitan dengan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai. Statistik deskriptif terhadap 4 dimensi instrumen disajikan dalam tabel 1. Ditunjukkan bahwa pada dimensi 1, kisaran jawaban responden cenderung mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya dengan nilai rata-rata 22,13 dan standar deviasi 6,14. Ini berarti bahwa jawaban responden agak menyebar ke dalam lima kategori, tetapi cenderung bahwa perbuatan kecurangan pada saat ujian dianggap perbuatan curang, yang ditunjukkan nilai rata-rata yang cenderung mendekati nilai maksimum kisaran sesungguhnya. Sedangkan pada dimensi 2, kisaran jawaban responden cenderung mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya dengan nilai rata-rata 10,45 dan standar deviasi 3,37. Ini berarti bahwa jawaban responden agak menyebar ke dalam lima kategori, tetapi cenderung bahwa penggunaan sumber yang tidak sah dianggap perbuatan curang, ditunjukkan bahwa nilai rata-rata yang cenderung mendekati nilai maksimum kisaran sesungguhnya. Untuk dimensi 3 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper dapat ditunjukkan responden juga menganggap bahwa perbuatan tersebut juga curang, karena kisaran jawaban responden cenderung mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya dengan nilai rata-rata 17,42 dan standar deviasi 4,40. Sedangkan pada dimensi 4 yang berkaitan dengan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai, juga dianggap responden mahasiswa sebagai perbuatan curang, ditunjukkan kisaran jawaban responden cenderung mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya dengan nilai rata-rata 4,53 dan standar deviasi 1,04. Untuk uji kualitas data yang ditampilkan pada tabel 2 menunjukkan tingkat kekonsistenan dan keakurasian yang cukup baik. Pada uji reliabilitas konsistensi internal koefisien Cronbach’s Alpha menunjukkan tidak ada koefisien yang kurang dari nilai batas minimal 0,60 (Ghozali, 2006). Sedangkan pada pengujian validitas dengan uji homogenitas data PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 dengan uji korelasional antara skor masingmasing butir dengan skor total (Pearson Correlations) menunjukkan korelasi yang positif dan signifikan pada level 0,01. Selanjutnya pada pengujian validitas dengan analisis faktor yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa masing-masing pernyataan akan terklarifikasi pada variable-variabel yang telah ditentukan (construct validity). Uji analisis faktor dilakukan terhadap nilai setiap dengan Varimax Rotation, nilai Kaiser’s MSA yang disyaratkan agar data yang terkumpul dapat tepat dilakukan dengan analisis faktor adalah 0,50, dan hal ini juga akan menunjukkan construct validity dari masing-masing variabel (Kaiser dan Rice, 1974 dalam Riyadi, 2000). Hasil pengujian analisis faktor menunjukkan nilai di atas 0,50, artinya validitas pada masing-masing variabel cukup valid. Sedangkan factor loading masing-masing variabel juga cukup memadai, dengan batas penerimaan 0,40 (Hair et. al., 1998; Chia, 1995 dalam Riyadi, 2000). Untuk dimensi 4 tidak dapat diuji reliabilitas dan validitas data karena hanya berisi 1 butir pernyataan. Hasil Pengujian Hipotesis Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5% (0,05), dalam menggunakan Independent Sample t-Test menggunakan dua tahapan analisis. Tahapan pertama dengan Levene’s Test untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama ataukah berbeda, jika F-hitung probabilitasnya lebih besar dari 0,05, maka kedua varians populasi sampel tidak berbeda secara signifikan atau sama atau H0 diterima (tidak dapat ditolak). Sebaliknya jika F-hitung probabilitasnya lebih kecil dari 0,05, maka kedua varians populasi sampel berbeda secara signifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat diterima (ditolak). Ghozali (2006), menyatakan samanya atau tidak berbedanya secara signifikan kedua varians membuat penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan ttest sebaiknya menggunakan dasar Equal Variance (diasumsikan kedua varians sama). Null hypothesis pertama yang diuji adalah, bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. Rangkuman hasil uji hipotesis pertama disajikan pada tabel 3. Dari hasil pengujian Levene’s Test dapat disimpulkan bahwa tiga dimensi yang diuji (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) kedua varians populasi adalah sama atau tidak berbeda atau H0 tidak dapat ditolak, ditunjukkan oleh probabilitas hitungnya lebih besar dari 0,05, sehingga tahap kedua dari uji t-test dapat dilanjutkan karena asumsi kedua varians adalah sama. Sedangkan pada dimensi 4 probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan secara statistik kedua varians populasi sampel berbeda secara siginifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat diterima, sehingga analisis tidak dapat dilanjutkan karena asumsi kedua varians sama tidak terpenuhi. Dengan analisis t-test terhadap tiga dimensi (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) yang sudah lolos uji asumsi kesamaan varians, ditunjukkan bahwa dimensi 2 dan dimensi 3 probabilitas hitungnya lebih besar dari 0,05, artinya kedua rata-rata sampel tidak berbeda secara signifikan atau sama atau H0 diterima (tidak dapat ditolak). Sedangkan pada dimensi 1, ditunjukkan bahwa probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05, artinya kedua rata-rata sampel berbeda secara signifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat diterima (ditolak). Null hypothesis kedua adalah, bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. Rangkuman hasil uji hipotesis kedua disajikan pada tabel 4. Dari hasil pengujian Levene’s Test dapat disimpulkan bahwa tiga dimensi yang diuji (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) kedua varians populasi adalah sama atau tidak berbeda atau H0 tidak dapat ditolak, ditunjukkan oleh probabilitas hitungnya lebih besar dari 0,05, sehingga tahap kedua dari uji t-test dapat dilanjutkan karena asumsi kedua varians adalah sama. Sedangkan pada dimensi 4 probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan secara statistik 85 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI kedua varians populasi sampel berbeda secara siginifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat diterima, sehingga analisis tidak dapat dilanjutkan karena asumsi kedua varians sama tidak terpenuhi. Dengan analisis t-test terhadap tiga dimensi (dimensi 1, dimensi 2, dan dimensi 3) yang sudah lolos uji asumsi kesamaan varians, ditunjukkan bahwa dimensi 1 dan dimensi 3 probabilitas hitungnya lebih kecil dari 0,05, artinya kedua rata-rata sampel berbeda secara signifikan atau tidak sama atau H0 tidak dapat diterima (ditolak). Sedangkan pada dimensi 2, ditunjukkan bahwa probabilitas hitungnya lebih besar dari 0,05, artinya kedua rata-rata sampel tidak berbeda secara signifikan atau sama atau H0 diterima (tidak dapat ditolak). Pembahasan Hasil pengujian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, memperlihatkan bahwa: pertama, pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, bahwa terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,04 (lebih kecil dari 0,05). Hasil ini tidak konsisten atau tidak sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 1 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap kecurangan pada saat ujian. Bahwa mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita tidak sama mempersepsikan kecurangan pada saat ujian adalah perbuatan curang, Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Kisaran Teoritis Dimensi 1 Dimensi 2 Dimensi 3 Dimensi 4 Sumber: data primer diolah 2010 86 7 – 35 4 – 20 5 – 25 1–5 ditunjukkan dari rata-rata dimensi 1 untuk mahasiswa akuntansi wanita sebesar 24,52 dan mahasiswa akuntansi pria 22,27 dalam rentang nilai minimal 8 dan maksimal 35, yang berarti kecurangan pada saat ujian bagi mahasiswa akuntansi wanita adalah perbuatan curang, sedangkan bagi mahasiswa akuntansi pria perbuatan tersebut tidak terlalu curang, karena nilai rata-rata mahasiswa akuntansi pria realtif lebih kecil atau di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi wanita. Hasil ini relevan dengan hasil penelitian Ameen et. al. (1996) bahwa mahasiswa akuntansi wanita lebih sensitif terhadap isu-isu etis dan lebih tidak toleran dibanding mahasiswa akuntansi pria terhadap perilaku tidak etis. Oleh karena itu wanita lebih mungkin untuk lebih patuh pada aturan dan kurang toleran terhadap individu-individu yang melanggar aturan dibandingkan dengan pria. Beberapa hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rugger dan King (1992), Galbraith dan Stephenson (1993), dan Khazanchi (1995) juga relevan dengan hasil penelitian ini, yang menemukan bahwa gender merupakan faktor signifikan dalam penentuan ethical conduct dan wanita lebih etis dari pada pria (Adib, 2001). Kedua, pada dimensi 2 yang berkaitan dengan penggunaan sumber yang tidak sah, bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,08 (lebih besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 2 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap kecurangan pada penggunaan sumber yang tidak sah. Kisaran Sesungguhnya 9 – 35 4 – 18 5 – 25 1–5 Rata-Rata Standar Deviasi 22,13 10,45 17,42 4,53 PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam 6,14 3,37 4,40 1,04 APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 Tabel 2. Hasil Uji Kualitas Data Variabel Cronbach’s Alpha Dimensi 1 0,83 Dimensi 2 0,61 Dimensi 3 0,76 Dimensi 4 - Pearson Correlations 0,54 – 0,83* 0,63 – 0,73* 0,67 – 0,75* - Kaiser’s MSA 0,85 0,68 0,75 - Factor Loading 0,45 – 0,85 0,54 – 0,79 0,66 – 0,77 - * Signifikan pada level 0,01 Sumber: data primer diolah 2010. Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi Pria dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Levene’s Test for T-Test Equality of Variances Variabel F-stat. Sig. t-stat. Sig. Dimensi 1 0,483 0,49 -2,029 0,04 Dimensi 2 0,271 0,60 -1,765 0,08 Dimensi 3 1,687 0,20 -1,526 0,13 Dimensi 4 19,332 0,00 -2,238 0,03 Sumber: data primer diolah 2010 Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi Levene’s Test for T-Test Equality of Variances Variabel F-stat. Sig. t-stat. Sig. Dimensi 1 1,293 0,26 3,183 0,00 Dimensi 2 0,378 0,54 0,488 0,63 Dimensi 3 0,356 0,55 2,582 0,01 Dimensi 4 5,444 0,02 1,765 0,08 Sumber: data primer diolah 2010 Bahwa mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita sama mempersepsikan kecurangan pada penggunaan sumber yang tidak sah, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 2 untuk mahasiswa akuntansi wanita sebesar 11,13 dan mahasiswa akuntansi pria 9,94 dalam rentang nilai minimal 4 dan maksimal 18 dengan rata-rata 10,56, yang berarti kecurangan penggunaan sumber tidak sah bagi mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita adalah perbuatan curang, karena nilai rata-rata cenderung mendekati nilai maksimalnya. Ketiga, pada dimensi 3 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,13 (lebih besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 3 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita terhadap kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper. Bahwa mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita sama mempersepsikan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 3 untuk mahasiswa akuntansi wanita sebesar 18,43 dan mahasiswa akuntansi pria 17,47 dalam rentang nilai minimal 5 dan maksimal 25 dengan rata-rata 18,18, yang berarti kecurangan pada saat 87 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI pembuatan makalah/paper bagi mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita adalah perbuatan curang, karena nilai rata-rata cenderung mendekati nilai maksimalnya. Hasil pengujian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, memperlihatkan bahwa: pertama, pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian, bahwa terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,00 (lebih kecil dari 0,05). Hasil ini tidak konsisten atau tidak sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 1 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi (manajemen) terhadap kecurangan pada saat ujian. Bahwa mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi tidak sama mempersepsikan kecurangan pada saat ujian adalah perbuatan curang, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 1 untuk mahasiswa akuntansi sebesar 23,45 dan mahasiswa bisnis non akuntansi 20,74 dalam rentang nilai minimal 8 dan maksimal 35, yang berarti kecurangan pada saat ujian bagi mahasiswa akuntansi adalah perbuatan curang, sedangkan bagi mahasiswa bisnis non akuntansi perbuatan tersebut tidak terlalu curang karena nilai rata-rata mahasiswa bisnis non akuntansi relatif di bawah dari rata-rata mahasiswa akuntansi. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Cohen et. al. (1998) yang menyatakan bahwa mahasiswa akuntansi lebih yakin dari pada mahasiswa bisnis lainnya dan tindakan yang dipertanyakan keetisannya merupakan tindakan kurang etis (Adib, 2001). Kedua, pada dimensi 2 yang berkaitan dengan penggunaan sumber yang tidak sah, bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,63 (lebih besar dari 0,05). Hasil ini konsisten atau sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang 88 pada dimensi 2 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap kecurangan pada penggunaan sumber yang tidak sah. Bahwa mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi sama mempersepsikan kecurangan pada penggunaan sumber yang tidak sah, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 2 untuk mahasiswa akuntansi sebesar 10,56 dan mahasiswa bisnis non akuntansi 10,33 dalam rentang nilai minimal 4 dan maksimal 18 dengan rata-rata 10,45, yang berarti kecurangan penggunaan sumber tidak sah bagi mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi adalah perbuatan curang, karena nilai rata-rata cenderung mendekati nilai maksimalnya. Ketiga, pada dimensi 3 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, bahwa terdapat perbedaan signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi, ditunjukkan probabilitas sebesar 0,01 (lebih kecil dari 0,05). Hasil ini tidak konsisten atau tidak sama dengan hasil penelitian Adib (2001), yang pada dimensi 3 ditunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper. Bahwa mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi tidak sama mempersepsikan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, ditunjukkan dari rata-rata dimensi 3 untuk mahasiswa akuntansi sebesar 18,18 dan mahasiswa bisnis non akuntansi 16,60 dalam rentang nilai minimal 5 dan maksimal 25 dengan rata-rata 17,42, yang berarti kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper bagi mahasiswa akuntansi adalah perbuatan curang, sedangkan bagi mahasiswa bisnis non akuntansi perbuatan tersebut tidak terlalu curang karena nilai rata-rata relatif di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi. PENUTUP Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam APRIL 2011, VOLUME 12 NOMOR 1 akuntansi wanita terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik pada dimensi 2 (penggunaan sumber yang tidak sah), dan dimensi 3 (kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper). Tetapi pada dimensi 1 (kecurangan pada saat ujian) menunjukkan hasil bahwa secara signifikan terdapat perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita, dimana mahasiswa akuntansi wanita mempersepsikan kecurangan pada saat ujian adalah perbuatan curang, sedangkan bagi mahasiswa akuntansi pria perbuatan tersebut tidak terlalu curang, karena nilai ratarata mahasiswa akuntansi pria relatif lebih kecil atau di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi wanita. Hasil pengujian hipotesis pertama pada dimensi 2 dan dimensi 3 ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adib (2001), tetapi pada dimensi 1 yang berkaitan dengan kecurangan pada saat ujian menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Untuk pengujian hipotesis kedua yang dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik, menunjukkan hasil pada dimensi 1 (kecurangan pada saat ujian), dan dimensi 3 (kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper) bahwa terdapat perbedaan signifikan. Dengan kata lain terdapat perbedaan yang signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di lingkungan akademik untuk kecurangan pada saat ujian dan kecurangan pada saat pembuatan makalah/paper, dimana mahasiswa akuntansi mempersepsikan kedua aktivitas kecurangan tersebut adalah curang, sedangkan mahasiswa bisnis non akuntansi mempersepsikan perbuatan tersebut tidak terlalu curang, karena nilai rata-rata mahasiswa bisnis non akuntansi relatif lebih kecil atau di bawah rata-rata mahasiswa akuntansi. Sedangkan pada dimensi 2 yang berkaitan dengan penggunaan sumber yang tidak sah, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi terhadap aktivitas tidak etis yang terjadi di dalam lingkungan akademik. Hasil pengujian hipotesis kedua pada dimensi 1 dan dimensi 3 ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adib (2001), tetapi pada dimensi 2 yang berkaitan dengan penggunaan sumber yang tidak sah menunjukkan hasil yang konsisten. Untuk dimensi 4 yang berkaitan dengan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai, uji t-test untuk menguji perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita maupun perbedaan sensitivitas etis antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa bisnis non akuntansi tidak dapat dilakukan karena kedua varians populasi sampel tidak sama. Tapi dari statistik deskriptif menunjukkan responden mahasiswa mempersepsikan bahwa perbuatan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai, merupakan perbuatan tidak etis atau sangat curang karena kisaran jawaban responden cenderung hampir mendekati nilai maksimum kisaran teoritisnya, ditunjukkan rata-rata 4,53 dengan standar deviasi 1,04 dalam skala 1 (tidak curang) sampai dengan 5 (sangat curang). Kecenderungan ke arah nilai maksimum ini dapat disimpulkan bahwa perbuatan ancaman dan sogokan terhadap dosen atau mahasiswa lain untuk meningkatkan nilai menurut persepsi responden mahasiswa cenderung cukup ekstrim ketidaketisannya atau dengan kata lain cenderung melanggar hukum. Hal yang perlu mendapat perhatian dari hasil penelitian ini adalah perlu dalam pengembangan kurikulum khususnya kurikulum akuntansi dan kurikulum jurusan atau program studi bisnis non akuntansi untuk mengintegrasikan masalah-masalah etika dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Wilopo (Harian Kompas, 8 Februari 2010), bahwa sebagian besar pendidikan tinggi yang melahirkan akuntan hanya melahirkan hard skill, tidak seimbang dengan soft skill, semestinya seorang akuntan memiliki kompetensi dan nilai, antara lain memiliki independensi dan kepatuhan pada etika. Yang juga menandaskan 89 JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI hasil temuan sebelumnya bahwa perlunya mempertajam materi pendidikan akuntansi dengan penekanan antara lain pada ketaatan aturan akuntansi, serta tanggung jawab moral para akuntan (Wilopo, 2006). Tidak hanya untuk kurikulum akuntansi saja ini perlu mendapat perhatian tetapi juga pada kurikulum jurusan atau program studi bisnis non akuntansi juga perlu mendapatkan perhatian karena kemungkinan besar lulusan program studi bisnis non akuntansi akan menjadi pelaku bisnis di kemudian hari. DAFTAR PUSTAKA Adib, Noval, 2001. Pengaruh Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi Pria dan Mahasiswa Akuntansi Wanita serta Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Non Akuntansi. Makalah Simposium Nasional Akuntansi IV IAI-KPd. Bandung. Agoes, S., 1996. Penegakan Kode Etik Akuntan Indonesia. Makalah KNA-KLB IAI. Semarang. Ameen, E. C., D. M. Guffrey, dan J. J. McMillan, 1996. Gender Differences in Determining the Ethical Sensitivity of Future Accounting Professional. Journal of Business Ethics 15. Fatt, J.P.T., 1995. Ethics and the Accountant. Journal of Business Ethics 14. Ghozali, Imam, 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Cetakan Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. Hair, J.F., Anderson, R.E., Tatham, R.L. dan Black W.C., 1998. Multivariate Data Analysis. Fifth Edition. New Jersey: Prentice Hall. 90 Husada, J., 1996. Etika Bisnis dan Etika Profesi dalam Era Globalisasi. Makalah KNA-KLB IAI. Semarang. Kerr, D.S., and L.M. Smith, 1995. Importance of and Approachs to Incorporating Ethics into the Accounting Classroom. Journal of Business Ethics 14. Mautz, R.K., dan H.A. Sharaf, 1993. The Philosophy of Auditing. Seventeenth Printing. American Accounting Association. Riyadi, S., 2000. Motivasi dan Pelimpahan Wewenang sebagai Variabel Moderating dalam Hubungan antara Partisipasi Penyusunan Anggaran dan Kinerja Manajerial. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.3 No.2. Juli. Hal. 134-150. Rustiana, 2006. Persepsi Etika Mahasiswa Akuntansi dan Auditor dalam Situasi Dilema Etis Akuntansi. Jurnal Bisnis dan Ekonomi KINERJA. Volume 10 No.2. Hal. 116-128. Sekaran, Uma, 2000. Research Methods for Business: A Skill-Building Approach. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc. U.S.A. Supomo, Bambang, 1998. Pengaruh Struktur dan Organisasional terhadap Keefektifan Anggaran Partisipatif dalam Peningkatan Kinerja Manajerial: Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Indonesia. Kelola. No.18/VII. Hal. 6184. Wilopo, 2006. Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi: Studi pada Perusahaan Publik dan Badan Usaha Negara di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Volume 9 No.3. Hal. 346-366. PERBANDINGAN SENSITIVITAS ETIS ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI PRIA DAN MAHASISWA AKUNTANSI WANITA SERTA MAHASISWA AKUNTANSI DAN MAHASISWA BISNIS NON AKUNTANSI Riswan Yudhi Fahrianta dan Akhmad Yafiz Syam

Judul: Perbandingan Sensitivitas Etis Antara Mahasiswa Akuntansi Pria Dan Mahasiswa Akuntansi Wanita Serta Mahasiswa Akuntansi Dan Mahasiswa Bisnis Non Akuntansi

Oleh: Akhmad Y A F I Z Syam

Ikuti kami