Paper Akuntansi

Oleh Mohamad Arifin

90,5 KB 6 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Paper Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia (PT Pelni Persero) adalah perusahaan pelayaran nasional yang menyediakan jasa angkutan transportasi laut yang didirikan pada tanggal 28 Aapril 1952, meliputi jasa angkutan penumpang dan muatan barang antar pulau. Saat ini perusahaan mengoperasikan 25 unit kapal penumpang dan tiga unit kapal barang. PT Pelni dalam melaksanakan tanggung jawabnya tidak hanya terbatas melayani rute komersial, tetapi juga melayani pelayaran dengan rute pulau-pulau kecil terluar. Saat ini, ada 92 pelabuhan yang disinggahi kapal Pelni dengan 46 kantor cabang dan bekerja sama dengan 400 travel agen yang tersebar di seluruh Indonesia untuk penjualan Tiket. PT Pelni Persero sebagai salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di jasa pelayaran, sudah tentu mempunyai laporan keuangan, laporan keuangan merupakan salah satu informasi untuk menganalisa keadaan perusahaan di masa akan datang, laporan keuangan diharapkan dapat memberi informasi tentang keadaan perusahaan dari hasil-hasil usaha yang telah dicapai secara kuantitatif pada semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan itu. Informasi akan menjadi komoditi yang sangat penting saat ini, sebab setiap pengambilan keputusan harus didasari pada informasi yang akurat. BAB II PENYSUTAN AKTIVA TETAP Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi. Standar Akuntansi Keuangan menyatakan penyusutan atau depresiasi aset tetap merupakan jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama massa manfaat aset tetap menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis. Apapun metode penyusutan yang digunakan, diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak ataupun tingkat keuntungan perusahaan supaya bisa memberikan daya banding hasil operasional entitas dari beberapa periode. Dalam bahasa sederhana, penyusutan aset tetap ialah biaya perolehan Aset Tetap yang dialokasikan kepada biaya operasional akibat penggunaan aset tetap, atau dengan kata lain biaya yang dibebankan kedalam harga pokok produksi sebagai akibat dari penggunaan aset tetap dalam Contoh proses Jurnal Atas produksi serta Penyusutan operasional Aset entitas Tetap secara sebagai umum. berikut: Bentuk Jurnalnya : Debet : Beban Penyusutan Kredit : Akumulasi Penyusutan Rp xxx Rp xxx Biasanya dicatat saat tutup buku, besarnya nilai penyusutan tergantung dari beberapa faktor dan Ini dia beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penyusutan. Faktor Faktor Penyusutan Aktiva Tetap  Harga Perolehan [Acquisition Cost] Faktor yang sangat berpengaruh atas besaran biaya penyusutan adalah harga perolehan atau acquisition cost  Nilai Residu atau Nilai Sisa Aset [Salvage Value] Nilai Sisa Aset adalah prediksi atau taksiran potensi arus kas masuk bila aset tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian aset. Salvage Value tidak harus/selalu ada, misalnya pada masa penarikannya asetnya tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual. hanya jadi limbah saja  Umur Ekonomis Aset Tetap (Economical Life Time) Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis. Biasanya aset tetap memiliki Dua jenis umur: 1. Umur fisik Aset Tetap, berhubungan dengan kondisi fisik suatu aset tetap. Suatu aset memiliki umur fisik jika secara fisik aset tetap masih baik kondisinya meskipun mengalami penurunan fungsi. 2. Umur Fungsional Aset Tetap, berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. Aset Tetap masih mempunyai umur fungsional jika aset tetap tersebut masih memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik Dan atau bahkan jika suatu fisik aset perusahaan masih dikatakan baik, tapi karena tidak berkontribusi bagi perusahaan, maka aset belum tentu memiliki umur fungsional. Metode Metode Penyusutan Aset Tetap (Depreciation Method)  Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda.  Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.  Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan. Namun, kebanyakan di Indonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan dalam praktenya, berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karena mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi. 1. Metode Garis Lurus [ Straight Line Method ] Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi. Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya, semisal bangunan, peralatan kantor dll 2. Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ] Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat terbesarnya pada periode awal masa penggunaan, dan akan mengalami penurunan fungsi yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aset tetap yang berkurang. jadi semakin lama penggunaan aset tetap maka kontribusinya akan menurun dalam operasional perusahaan. Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan, contohnya mesin produksi. 2.2. Penyusutan Aktiva Tetap pada PT Pelni Suatu aset tetap diukur sebesar biaya perolehan, yang terdiri dari harga perolehannya dan biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan. Biaya perolehan suatu aset yang dibangun sendiri ditentukan dengan menggunakan prinsip yang sama sebagaimana perolehan aset dengan pembelian atau cara penyertaan modal negara. Aset tetap yang berasal dari bantuan Pemerintah, swasta dan pihak lain dinyatakan sebesar nilai bantuan ditambah semua pengeluaran yang dapat diindentifikasikan langsung dengan aset tetap tersebut sehingga siap untuk digunakan. Aset tetap yang harga perolehannya sebesar atau kurang dari Rp 5.000.000 per satuan akan langsung dibukukan sebagai biaya dalam tahun buku saat aset tersebut diperoleh (ditempatkan di atas kapal) atau dimiliki. Biaya sehubungan dengan penambahan, perbaikan atau penggantian komponen aset tetap yang dapat yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun atau setara dengan nilai sebesar Rp 100.000.000 atau jumlah biayanya diatas 10% dari harga perolehan aset tetap tersebut dibukukan pada akun Biaya Ditangguhkan dan diamortisasi secara bulanan selama masa 5 (lima) tahun. Penyusutan diakui dengan menggunakan metode garis lurus, untuk galangan dan alat apung serta alat mekanik dan non mekanik disusutkan berdasarkan metode saldo menurun untuk menyusutkan nilai aset tetap, kecuali tanah. Tanah diakui sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan. Estimasi masa manfaat aset tetap pada PT Pelni adalah sebagai berikut: Golongan Aktiva Tetap Masa Manfaat (tahun) Tarif Penyusutan Bangunan 40 Tahun 2,5% Kendaraan 5 Tahun 20% Peralatan Kantor 7 Tahun 15 % Armada Kapal 30 Tahun 3,33 % Misal PT Pelni memperoleh modal dari negara berupa satu kapal KM Gunung Dempo pada tanggal 1 Oktober 2010 senilai Rp 986.526.699.900 dengan umur ekonomis 30 tahun dan nilai residu Rp 0. Maka jurnal penyusutan yang dilakukan setiap bulannya oleh PT Pelni adalah : Biaya penyusutan perbulan = 986.526 .699.900 = 2.740.351.944 360 Maka jurnal yang akan dibuat pada akhir bulan selama 30 tahun adalah : Beban Penyusutan Kapal Milik Akumulasi penyusutan armada niaga Rp 2.740.351.944 Rp 2.740.351.944 BAB III KESIMPULAN Penyusutan aktiva tetap telah diatur dalam PSAK No 17. Perhitungan beban penyusutan sangat penting bagi perusahaan karena pengakuan beban penyusutan setiap tahun dapat digunakan sebagai alokasi perusahaan untuk membeli aktiva baru jika masa manfaat aktiva lama telah habis. Selain itu beban penyusutan juga memegang peranan penting dalam ketepatan perhitungan harga pokok penjualan sehingga perhitungan laba rugi perusahaan pun menjadi wajar. Rekening akumulasi penyusutan aktiva tetap harus ditampilkan ke dalam neraca dimana rekening ini akan digunakan oleh perusahaan pada saat penghentian aktiva tetap. Untuk menyusutkan aktiva tetap harus diperhitungkan terlebih dulu harga perolehan, umur manfaat, dan nilai residu dari aktiva yang bersangkutan. Setelah itu perusahaan dapat menentukan metode penyusutan mana yang akan digunakan sesuai dengan kriteria aktiva yang dimiliki. Ketepatan dalam pemilihan metode penyusutan sangat penting karena beban peyusutan dari tiap-tiap metode akan berbeda. Pada PT Pelni kebayakan metode penyusutan aktiva tetap adalah metode garis lurus (Straight Line). Aktiva tetap yang dimiliki oleh PT Pelni diantaranya berupa armada kapal, bangunan, tanah, kendaraan, kontainer, peralatan kantor, dll.

Judul: Paper Akuntansi

Oleh: Mohamad Arifin

Ikuti kami