Panduan Soal-soal Kuis Penyeragaman Persepsi Ekologi

Oleh Hg Saiya

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Panduan Soal-soal Kuis Penyeragaman Persepsi Ekologi

e-book
PANDUAN SOAL-SOAL KUIS
PENYERAGAMAN PERSEPSI DENGAN
e-learning management systems (EMAS)

EKOLOGI

Pascasarjana S2

Halvina Grasela Saiya, S.Si., M.Sc.

Sekolah Ilmu Lingkungan

Universitas Indonesia
2020

BAGIAN 1: PENDAHULUAN
Sebagai rumpun ilmu yang tergolong multidisiplin, maka program studi Ilmu Lingkungan
memerlukan penyeragaman persepsi di awal semester bagi mahasiswa-mahasiswa baru, sebelum
perkuliahan dimulai. Hal ini yang dikenal sebagai matrikulasi. Matrikulasi adalah hal yang wajar di
jenjang pendidikan pascasarjana. Namun, tahap matrikulasi tidak dilakukan di program studi
magister Ilmu Lingkungan. Ini menimbulkan kesulitan penetapan standar penilaian atau kisaran
penilaian yang terlalu bervariatif dan lebar untuk mata kuliah yang tergolong mata kuliah dasar dan
wajib untuk kajian Ilmu Lingkungan. Selain itu dalam penilaian mahasiswa yang latar belakangnya
berasal dari berbagai disiplin ilmu, menyebabkan adanya penerapan standar yang tidak seragam
atau tidak pasti. Dan jika disamaratakan atau diseragamkan, maka akan berdampak tidak adil pada
pengukuran kemampuan mahasiswa dalam evaluasi.
Mata kuliah dasar yang dikaji adalah Ekologi. Ekologi merupakan mata kuliah wajib dalam Kajian
Ilmu Lingkungan yang merupakan dasar bagi mata kuliah berbasis terapan lainnya. Mulai dari
konservasi & biodiversitas; pembangunan berkelanjutan, teknologi & sistem manajemen
lingkungan; perubahan iklim; bencana dan terapannya ke berbagai sektor yang terkait. Mata kuliah
ini menjadi prasyarat untuk mata kuliah Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan; Pengelolaan
Sumber Daya Alam Berkelanjutan; Teknologi Proteksi Lingkungan dan Pengendalian Pencemaran;
Sistem Manajemen Lingkungan; Manajemen Risiko Lingkungan; Perubahan Iklim Global; Konservasi
Ekosistem dan Biodiversitas; Pangan, Energi, dan Air Berkelanjutan; Manajemen Pencemaran; dan
Manajemen bencana.
Kendalanya adalah ditemui kesulitan ketika harus menerapkan ukuran penilaian yang sama bagi
mahasiswa dengan latar belakang S1 yang beragam. Akibatnya, sering ditemukan indikasi hasil
penilaian yang diseragamkan saja, tanpa pernah benar-benar memeriksa hasil ujian atau tugas
mahasiswa. Dan ditemukan juga hasil uji similarisme yang terlalu tinggi, hasil ini menunjukkan
bahwa penyampaian materi dasar tidak benar-benar dipahami oleh mahasiswa, sehingga dasardasar Ekologi yang dimiliki oleh mahasiswa masih lemah. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab
yang menginisiasi mahasiswa melakukan copy paste tanpa memahami benar apa yang tertulis.
Berdasarkan hal tersebut, maka sudah pasti capaian pembelajaran tidak tercapai.

Gambar. Indikasi Penyeragaman Nilai Mata Kuliah Ekologi

2

Gambar. Hasil Uji Similarisme Dari Tugas Beberapa Mahasiswa

Tantangan mendasar bagi mahasiswa-mahasiswa di program studi dengan kajian multi
disiplin adalah: apakah materi-materi yang penting, yang merupakan dasar untuk mencapai level
higher order thinking skill sudah tertanam baik untuk setiap mahasiswa? Ataukah, dengan sifat
kajiannya yang holistik, apakah mata-mata kuliah dasar sudah dapat dikuasai bagi oleh mahasiswamahasiswa yang sebelumnya belum pernah mempelajari materi tersebut?. Tentu saja, ini adalah
3

tugas yang tidak mudah bagi tim pengajar yang harus menghadapi mahasiswa dari beragam
keilmuan dan beragam kepentingan, serta juga beragam reaksi yang diberikan.
Kualitas lulusan-lulusan perguruan tinggi yang merupakan sasaran permintaan pasar untuk
pangsa pencari kerja adalah lulusan-lulusan yang mampu langsung menerapkan ilmunya untuk
mengatasi permasalahan di berbagai bidang. Ini berarti ilmu-ilmu terapan akan sangat diminati,
begitu juga dengan lulusan Ilmu Lingkungan yang merupakan kajian multi disiplin yang menyasar
penerapan langsung untuk mengatasi isu-isu strategis permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Namun, yang perlu dipastikan adalah, kualitas penerapan ilmu tidak akan sesuai dan memberikan
dampak yang baik, jika tidak didasari dengan pemahaman ilmu-ilmu dasar yang baik. Khusus
program studi multi disiplin, maka perlu sangat memperhatikan cakupan pengetahuanpengetahuan dasar yang dimiliki oleh lulusannya. Karena pengetahuan-pengetahuan dasar itulah
yang menjadi bekal bagi seseorang untuk bertahan di dunia kerja.

BAGIAN 2: CPMK DAN KESEPAKATAN MATERI
Dalam penyeragaman persepsi kepada mahasiswa, tidak hanya mahasiswa saja yang harus
mengalami penyeragaman persepsi, namun juga para dosen. Mata kuliah yang terdiri dari beberapa
dosen sebagai tim pengajar membutuhkan koordinasi yang lebih intens dibandingkan mata kuliah
yang hanya diampu oleh minimal dua orang dosen. Untuk itu penyeragaman persepsi dalam lingkup
tim teaching mata kuliah Ekologi juga merupakan hal yang penting.
Penyeragaman persepsi di kalangan tim teaching lebih berbentuk kesepakatan dalam mufakat.
Dalam diskusi-diskusi ilmiah yang terbentuk melalui rapat-rapat jurusan maupun melalui rapatrapat khusus tim teaching sendiri. Awalnya akan sangat melelahkan dan memerlukan porsi waktu
yang juga tidak sedikit, tetapi hasilnya akan dipakai dan bertahan untuk jangka waktu yang Panjang,
dan hanya memerlukan perbaikan yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan isu
terkini.
Standar capaian mata kuliah Ekologi di level S1, S2, S3 berada dalam porsi dan level capaian
yang berbeda. Tingkatan kognitif yang menjadi rujukan adalah tingkatan kognitif dalam taksonomi
Bloom (Krathwohl, 2002), yaitu: Mengingat (C1); Memahami (C2); Menerapkan (C3); Menganalisis
(C4); Mengevaluasi (C5); Menciptakan (C6). Dimana level C1 sampai C3 merupakan low order
thinking skill dan level C4 sampai C6 merupakan higher order thinking skill. Pada capaian S1, materimateri Ekologi berada pada capaian C1 dan C2, bahkan pada beberapa program studi mengarah
pada C3. Di level S2 dan S3, capaian tingkatan kognitif menyasar pada tingkatan tertinggi yaitu C6,
4

dimana mahasiswa harus bisa menciptakan sesuatu dari materi-materi dasar hingga materi-materi
terapan yang diberikan. Permasalahnnya adalah, dalam kajian multi disiplin, capaian C6 tidak akan
pernah bisa tercapai, jika dasar C1 dan C2 tidak diperkuat terlebih dahulu.
Berdasarkan hal tersebut, maka penyamaan persepsi tim teaching harus juga menyepakati
terkait materi-materi apa saja yang menjadi materi-materi dasar bagi mahasiswa. Kemudian,
materi-materi ini, harus diperlakukan terlebih dahulu sehingga mahasiswa-mahasiswa yang belum
memiliki dasar Ekologi apapun dapat mencapai standar C1 dan C2, dan kemudian di pertemuanpertemuan kuliah berikutnya, dapat disasar untuk mencapai hingga ke level C6. Jika tidak adanya
kesepakatan materi diantara para dosen, maka dampak yang akan timbul adalah:
1) penyampaian materi antara dosen yang satu dengan yang lain akan tidak sinkron,
sehingga pastinya akan membingungkan mahasiswa. Dan ketika dalam perkuliahan
mahasiswa tidak dapat menemukan solusi atas masalahnya, maka sumber-sumber yang
lain akan dicari dan dipakai oleh mahasiswa tersebut. Benar atau tidaknya sumber yang
dipakai oleh mahasiswa, akan menjadi perdebatan ilmiah yang panjang di kalangan
mahasiswa.
2) kesepakatan yang belum terbentuk diantara dosen pengampu, akan berdampak pada
ego masing-masing dosen, sehingga penyampaian materi dalam perkuliahan tidak akan
lagi sesuai dengan silabus perkuliahan yang disepakati. Akhir dari kondisi ini, berakibat
pada ukuran penilaian yang tidak lagi sesuai dengan yang tertera di silabus. Situasi ini
akan sangat merugikan mahasiswa.
3) kondisi yang terus berlangsung di setiap semester, akan membuat ketua program studi
mengambil kebijakan atas permasalahan tersebut. Dampak kedepannya adalah, akan
terlalu sering terjadi perubahan komposisi tim teaching, sehingga setiap semester selalu
harus diinisiasi lagi kesepakatan yang intens antara tim pengajar.
Kesepakatan diantara tim teaching harus dimulai sejak penyusunan silabus, dimana CPMK (Capaian
pembelajaran Mata Kuliah) harus disepakati benar. CPMK yang sudah matang akan menurun ke
materi-materi perkuliahan tiap minggu yang telah terencana dengan baik. Sebagai contoh, berikut
ini adalah CPMK dan bagan alir sub-sub CPMK dari mata kuliah Ekologi.

5

Gambar. CPMK & Bagan alir sub-sub CPMK

Sub-sub CPMK tersebut diturunkan menjadi materi-materi berikut ini
Sub-CPMK 1

Sub-CPMK 2
Sub-CPMK 3

Sub-CPMK 4

Sub-CPMK 5

















Pengertian Ekologi dan Ekosistem
Prinsip-prinsip Ekosistem
Tipe-tipe dan Karakteristik Ekosistem
Tipologi Kerawanan Ekosistem
Tipologi Kegiatan dalam Ekosistem
Kualitas Lingkungan: Rona Awal Lingkungan Sebelum Kegiatan
Kualitas Lingkungan: Dampak Awal Setelah Kegiatan
Sumber Pencemar
Dampak Hayati
Dampak Turunan
Sebaran Pencemar
Aspek Ekologis Penting dalam Dampak Lingkungan
Aspek Ekologis Penting dalam Dampak Turunan yang berkelanjutan
Aspek Ekologis Penting dalam Dampak yang Bersifat Permanen
Aspek Ekologis Penting dalam Dampak yang Bersifat Permanen
6

Sub-CPMK 6

 Idenifikasi dan Analisis Dampak dalam Ekosistem Terdegradasi
 Formulasi Manajemen Ekosistem Terdegradasi
Solusi Pemulihan Ekosistem Terdegradasi Berbasis Ekosistem:
 Terapan dalam bidang kehutanan
 Terapan dalam bidang alih fungsi lahan
 Terapan dalam bidang pertanian, perkebunan dan perikanan
 Terapan dalam bidang industri
 Terapan dalam bidang energi dan pertambangan
 Terapan dalam bidang perkotaan

Dari CPMK beserta sub-sub CPMK dan juga rincam materi per sub-CPMK maka dapat dilihat bahwa
materi pada sub-CPMK 1 dan 2 merupakan materi-materi yang berperan kritis sebagai materimateri dasar. Materi-materi inilah yang membutuhkan penyeragaman persepsi di kalangan
mahasiswa. Dan jika dicermati secara mendalam dengan substansi filosofi Ekologi, maka materimateri yang ada di sub-CPMK 3 hingga sub-CPMK 6 merupakan materi-materi terapan dari materimateri di sub-CPMK 1 dan 2.

BAGIAN 3: HANDOUT MATERI & RANCANGAN VIDEO INTERAKTIF
Dengan memperhatikan sub-sub CPMK, maka materi-materi di mata kuliah Ekologi untuk jenjang
S2 yang membutuhkan penyeragaman persepsi adalah sebagai berikut:
1) Pengertian Ekologi dan Ekosistem
2) Prinsip-prinsip Ekosistem
3) Tipe-tipe dan Karakteristik Ekosistem
4) Tipologi Kerawanan Ekosistem
5) Tipologi Kegiatan dalam Ekosistem
Materi-materi ini, kemudian dibuat bahan ajar atau handout (Lampiran 1) yang akan dibagikan ke
mahasiswa. Hindari memberikan materi dalam bentuk power point yang sudah jadi.
Ketergantungan mahasiswa pada materi power point akan membuat mahasiswa malas untuk
menggali informasi secara mandiri. Mahasiswa akan terpaksa atau dipaksa menggali informasi
secara mendalam, jika dosen memberikan tugas yang menuntut mereka haris menggali lebih dalam.
Di lain sisi, power point memang sangat membantu dosen dalam mengarahkan perkuliahan dan
sekaligus manajemen waktu dosen ketika berceramah. Namun, power point adalah dampak negatif
bagi mahasiswa. Materi dalam bentuk power point menurunkan daya juang mahasiswa untuk
memahami dan mencari tahu lebih dalam tentang berbagai perkembangan isu atau kasus yang
terkait dengan materi-materi tersebut.
7

Selanjutnya, apa yang akan dilakukan dengan materi-materi dalam bentuk power point yang
dominan telah dimiliki oleh dosen? Disinilah fungsi kreatif dari power point tersebut, yaitu dengan
melakukan modifikasi warna, gambar dan tata letak, kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk
membuat video interaktif. Dengan kombinasi power point, rekaman suara, dan platform belajar elearning maka video interaktif dapat dihasilkan. Dengan ide ini, maka yang perlu dipikirkan adalah,
memotong materi-materi menjadi topic-topik kecil yang cocok untuk video. Usahakan power point
yang dipakai untuk video interaktif bukanlah file yang memiliki slide-slide yang panjang dan
membosankan. Slide-slide harus dibatasi untuk pemberian materi dengan durasi waktu efektif
selama kurang lebih 10 menit. Berikut rincian alur penentuan topik-topik per video, mulai dari
materi-materi yang diturunkan dari sub-CPMK; materi di handout (Lampiran 1); dan topik-topik
video:
Materi-materi yang
diturunkan dari sub-CPMK
Pengertian
Ekologi
dan
Ekosistem
Prinsip-prinsip Ekosistem
Tipe-tipe dan Karakteristik
Ekosistem
Tipologi Kerawanan Ekosistem
Tipologi
Kegiatan
dalam
Ekosistem

Materi di handout (Lampiran)

Topik-topik video

Pengertian
Ekologi
dan 1.
Ekosistem
Prinsip-prinsip Ekosistem
2.
3.
Tipologi Ekosistem, Tipologi
Kegiatan dan Kerawanannya

Defenisi
Ekologi
&
Ekosistem
prinsip-prinsip ekosistem
Siklus biogeokimia

4. Kerawanan ekosistem
5. Tipologi
kegiatan
&
degradasi ekosistem
6. Deskripsi tipologi ekosistem
beserta
kegiatan
dan
kerawanannya
7. Kualitas
lingkungan,
sumber
kegiatan
dan
dampak lingkungan

Dari indikasi warna dapat terlihat bahwa topik video pertama hingga ke-tiga diturunkan dari materi
pertama dan kedua berdasarkan materi dari sub-CPMK. Sedangkan topik video ke-empat hingga keenam diturunkan dari materi ketiga hingga kelima berdasarkan materi dari sub-CPMK. Pengecualian
untuk topik video ke-tujuh, dimana topik ini merupakan bagian dari sub-CPMK 3 yang tidak masuk
dalam materi dasar, tapi materi aplikasi praktis yang mengawali materi-materi terapan di sub-sub
CPMK selanjutnya. Munculnya topik ke-tujuh dikarenakan kesepakatan bersama dari tim dosen
pengampu. Dengan video ke-tujuh diharapkan dapat lebih mudah menjembatani dan membuka
pemahaman mahasiswa tentang teknis aplikasi-aplikasi praktis ekologi untuk lingkungan. Dan ini
juga dikarenakan kondisi pembelajaran jarak jauh yang harus dijalani selama masa pandemi covid,

8

sehingga video ke-tujuh dipertimbangkan untuk dibuat. Untuk ini, maka seperti telah disebutkan
sebelumnya bahwa kesepakatan dalam tim dosen pengampu adalah sangat penting.

BAGIAN 4: VIDEO INTERAKTIF DENGAN EMAS (E-Learning Management Systems)
Universitas Indonesia memiliki fasilitas premium berlangganan MOODLE yang sudah dirancang
khusus untuk kebutuhan UI, dan dikenal dengan istilah EMAS (E-learning Management Systems).
Sebelum masa pandemi covid, penggunaan EMAS tidak terlalu tinggi. Namun di masa pandemi
tentu saja fasilitas ini harus digunakan demi mendukung lancarnya perkuliahan jarak jauh.
Moodle adalah singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment.
Moodle adalah platform yang bersifat web-based. Jadi, seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan
dengan mengakses website menggunakan browser. Platform ini bersifat open source dan bisa
digunakan secara gratis. Dengan demikian, bisa menjadi solusi cara belajar mengajar yang murah
tapi tetap efektif. Beberapa kemudahan MOODLE antara lain: (1) platform ini mendukung semua
skala pembelajaran. Mulai dari kelas kecil berisi beberapa orang, hingga portal pembelajaran untuk
ribuan orang seperti di perusahaan dan sekolah; (2) platformnya gratis. Dapat didownload dan
dikembangkan sendiri sesuai kemampuan. Meskipun demikian, jika ingin membangun kursus atau
portal pembelajaran, maka biaya tetap diperlukan untuk membangun website dan materi; (3)
keamanan pengguna terjamin, sehingga jaminan materi pembelajaran aman; (4) dapat
dikustomisasi sesuai kebutuhan; (5) sudah tersedia dalam bentuk mobile; (6) mendukung pengguna
dengan berbagai bahasa.
Salah satu fitur di Moodle yang bisa digunakan untuk membuat video interaktif adalah fitur
H5P. H5P adalah plugin untuk yang memungkinkan sistem untuk membuat konten interaktif seperti
video interaktif, presentasi, game, kuis, dan sejenisnya. Selengkapnya mengenai tutorial H5P
membuat video interaktif, dapat dilihat di link https://h5p.org/tutorial-interactive-video.
Hal yang perlu diperhatikan dalam video interaktif adalah, penempatan soal-soal yang akan muncul
disela-sela, diawal atau diakhir video. Soal yang ditampilkan harus dirancang agar mahasiswa benarbenar menaruh perhatian penuh untuk menyimak materi yang disampaikan melalui video. Kejelian
dan kecermatan serta penempatan timing yang tepat sangat dibutuhkan, agar seorang dosen dapat
menghasilkan video interaktif pembelajaran yang mumpuni.
Berikut tampilan dari tujuh video interaktif di portal EMAS

9

Topik 1

Topik 2

10

Topik 3

Topik 4

11

Topik 5

Topik 6

12

Topik 7

BAGIAN 5: SOAL-SOAL KUIS
Masih dengan menggunakan EMAS, maka soal-soal kuis yang dibuat harus mengacu pada materimateri yang dijelaskan melalui video serta juga mengacu pada bahan ajar/handout yang dibagikan
ke mahasiswa. Terkait hal ini, soal-soal kuis dibagi dalam dua jenis, yaitu:
(1) Soal-soal kuis yang akan ditempatkan di dalam video interaktif;
(2) Soal-soal kuis sebagai evaluasi

Soal-soal kuis yang ditempatkan di dalam video interaktif berfungsi sebagai latihan bagi
mahasiswa. Latihan-latihan tersebut membuat mahasiswa harus menyimak video dengan seksama.
Dengan pengaturan video di H5P, maka dapat diatur skor yang harus dicapai oleh mahasiswa agar
video dapat terus berlanjut, atau agar mahasiswa dapat mengakses video interaktif selanjutnya. Jadi
soal-soal yang ditempatkan didalam kuis interaktif dapat diulang-ulang terus menerus oleh
mahasiswa, hingga mereka memperoleh skor yang sesuai. Dengan demikian, maka kalimat-kalimat
soal yang dibuat untuk kuis-kuis ini, tidak berbeda dengan kalimat-kalimat yang ada di handout atau
di video. Dan tidak juga berupa pengembangan soal yang membutuhkan analisis atau critical
thinking.
Hal ini tentu saja berbeda dengan soal-soal kuis yang dirancang sebagai evaluasi. Soal-soal
evaluasi seluruhnya berupa pengembangan dari materi, dan modifikasi kalimat yang berbeda
dengan gaya bahasa di handout dan video. Bobot antar soal juga belum tentu sama, dan cenderung
13

berbeda, dikarenakan tingkat kesulitan antar soal harus dibuat berbeda. Dengan desain soal yang
demikian, maka pengajar bebas menempatkan dan membuat soal-soal kunci. Soal-soal kunci yang
dimaksud adalah, soal-soal dengan tingkat analisis yang berbeda dan memang sengaja dirancang
sulit. Soal-soal kunci ini sebagai indikator bagi pengajar, apakah ada mahasiswa yang sudah dapat
mencapai tingkatan persepsi yang diinginkan/yang sesuai dengan capaian yang diharapkan.
Selain itu, dalam melatih dan membentuk persepsi mahasiswa, hindari menggunakan satu
jenis bentuk soal kuis saja secara monoton. Ini akan membuat mahasiswa terlalu terbiasa dengan
bentuk soal tersebut, sehingga sangat mudah untuk mencari celah untuk mengakali jawaban, atau
mahasiswa bisa saja dengan mudah menemukan pola kuis yang diterapkan oleh dosen. Pengajar
harus selalu waspada bahwa tingkatan mahasiswa pascasarjana berada pada tingkatan yang
berbeda, entah itu fresh graduate ataupun yang sudah berpengalaman di dunia kerja. Untuk itu,
kreatifitas membuat soal amat sangat diperlukan.
Fasilitas EMAS menyediakan berbagai bentuk soal kuis yang dapat dipakai. Dan dalam
kegiatan ini, ada empat bentuk soal kuis yang dipakai, yaitu:
(1) Soal Pilihan ganda dengan satu saja jawaban yang benar
(2) Soal Pilihan ganda dengan lebih dari satu jawaban yang benar
(3) Soal Isian
(4) Soal Justifikasi Pernyataan Benar atau Salah
Empat bentuk soal yang dipakai tersebut tidak dipisah di kuis-kuis yang terpisah, namun dicampur,
dipakai secara bersama-sama dalam satu paket soal kuis. Selain itu, sistem di EMAS juga akan
mengatur otomatis untuk mengacak jawaban (khusus soal pilihan ganda), dan juga sekaligus juga
mengacak urutan soal. Dengan desain seperti ini, maka dengan sendirinya mahasiswa digiring untuk
mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengerjakan soal-soal kuis evaluasi. Bahkan, mereka
kemungkinan akan harus mengulang lagi belajar dengan video interaktif, serta dengan membaca
ulang handout. Hal penting yang lainnya adalah, selalu melakukan update soal-soal, minimal setiap
dua semester sekali. Berbagai bentuk modifikasi soal, kalimat dan gaya bahasa dapat dieksplorasi
untuk memperoleh kualitas soal kuis yang menuntut mahasiswa untuk tetap tekun belajar.
Kerumitan soal antara kuis yang satu dengan kuis yang berikutnya juga harus semakin meningkat.
Selayaknya materi pembelajaran yang bertambah rumit, maka soal kuisnya pun harus demikian.
Rancang dan desain soal-soal kuis selayaknya game yang selalu dimainkan di pc komputer maupun
melalui media daring, yakni semakin naik level, maka semakin sulit permainan.
Perlakuan akhir yang diberikan adalah dengan memberikan kuis dengan bentuk soal essay
kepada mahasiswa. Soal dalam kuis ini tidak perlu terlalu banyak. Harus dirancang soal yang pendek
14

dan singkat, namun dalam menjawabnya, mahasiswa akan dituntut untuk berpikir kritis. Dan karena
ini sistem pembelajaran jarak jauh, maka pantau setiap jawaban mahasiswa dengan menggunakan
uji similarisme. Agar dapat diketahui, bahwa mahasiswa melakukan copy paste atau tidak. Jika soal
essay tidak diterapkan, maka pemberian tugas akhir berupa makalah atau critical review dapat
dilakukan. Penilaian penting terletak pada kemampuan mahasiswa membahas permasalahan
lingkungan dengan pendekatan teori-teori ekologi. Analisa dan metode uji boleh bermacammacam, tapi dosen harus mampu melihat, apakah cara pandang ekologi sudah terakomodir dalam
pembahasan tersebut ataukah belum.
Berikut, soal-soal kuis yang dibuat dapat dilihat di Lampiran 2.

BAGIAN 6: ANALISIS HASIL
Berikut salah satu contoh hasil uji coba penerapan soal-soal kuis ke mahasiswa magister ilmu
lingkungan, angkatan 39A, tahun 2020. Kelas ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas regular pagi dan
reguler malam. Perkuliahannya dilaksanakan pada hari yang sama, namun hanya berbeda waktu.
Latar belakang S1 di kelas ini cukup beragam. Sebanyak 23% berasal dari rumpun ilmu biologi,
kehutanan dan pertanian; selanjutnya ada juga rumpun ilmu geografi 7,7%; arsitektur 3,8%;
perencanaan wilayah 7,7%; perikanan & kelautan 7,7%; sosiologi 3,8%; kesehatan 3,8%;, ekonomi,
akuntansi, bisnis dan manajemen 3,8%; teknik industri 3,8%; kimia 7,7%; teknik lingkungan 7,7%;
teknik mesin 3,8%; teknik sipil 7,7%; hubungan internasional dan hukum, masing-masing juga
sebesar 3,8%.

Background S1 Kelas Reguler Sebagai Sampel

Geografi

Arsitektur

Perencanaan wilayah

Perikanan Kelautan

Sosiologi

Kesehatan

Ekonomi, Akuntansi, Bisnis, Manajemen

Teknik Industri

Kimia

Teknik Lingkungan

Biologi, Kehutanan, Pertanian

Teknik Mesin

Teknik Sipil

Hubungan Internasional

Hukum

15

Hasil-hasil kuis dari kelas ini tidak dianalisa nilai angkanya, tapi sebaran soal yang berhasil
dikerjakan. Analisis tersebut menggunakan fitur analisis statistik hasil kuis yang ada di EMAS. Untuk
yang pertama, kita dapat melihat perbandingan nilai secara keseluruhan antara kuis 1, kuis 2 dan
kuis 3. Kuis 1-3 merupakan jenis kuis dengan berbagai bentuk gabungan soal, yaitu pilihan ganda,
isian dan justifikasi penyataan benar atau salah. Sebaran kisaran nilainya adalah sebagai berikut:

KUIS 1

KUIS 2

16

KUIS 3

Kisaran nilai di Kuis 1, sebagian besar tersebar mulai dari kisaran nilai 65 ke atas, dan hanya dibawah
10% yang mendapatkan nilai dibawah 65. Di kuis 1, dominan nilai tertinggi yang diraih adalah 9095, dan diraih oleh 25% mahasiswa dari total mahasiswa.
Kuis 2, sebaran nilai mulai bergerak turun ke arah dominan nilai 65 hingga 85. Dominan mahasiswa
meraih nilai dengan kisaran 60-65 dan 70-75, masing-masing sebesar 20% mahasiswa dari total
mahasiswa. Di kuis 2 juga ditemukan, hampir 10% mahasiswa meraih nilai 30-35, dan sekitar 5%
meraih nilai 35-40%, dan tidak ada mahasiswa yang meraih nilai diatas 90.
Kuis 3, sebaran nilai mulai mengumpul di kisaran 45-50 hingga 80-85. Batas nilai tertinggi hanya
sampai di kisaran 80-85. Dominan mahasiswa meraih nilai dengan kisaran 55-60 dan 70-75.
Dengan membandingkan hasil kuis 1 sampai 3, dapat dilihat bahwa batas nilai tertinggi yang dapat
diraih bergerak terus turun. Diawali dengan nilai 100 di kuis 1, di kuis 2 hanya mencapai nilai
tertinggi 90, dan di kuis 3 hanya mencapai nilai tertinggi 85. Sedangkan, nilai batas terendah yang
diraih bergerak fluktuatif. Ini mengindikasikan masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tidak bisa
serta merta secepat itu memahami materi atau pelajaran yang sama sekali baru bagi mereka.
Sedangkan, para mahasiswa yang mampu cepat beradaptasi dengan materi yang baru, dapat
menyerap beberapa materi dengan baik sehingga nilainya masih berada dalam kisaran aman.
Kemudian, bagi mahasiswa dengan latar belakang S1 yang juga mempelajari ekologi, rupanya perlu
juga beradaptasi lagi atau penyegaran dengan mempelajari ulang materi-materi ekologi yang
pernah dipelajarinya.
Selanjutnya, analisis yang dapat diamati adalah analisis soal. Bagi mahasiswa, ini berguna untuk
melihat kelemahan. Soal-soal yang sulit dijawab, dapat dilatih agar bisa memperdalam. Sedangkan,
bagi dosen, ini bertujuan untuk menganalisis kerumitan soal, dan sebagai perbandingan data untuk
17

dapat menyusun lagi soal-soal baru atau modifikasi soal. Berikut ini adalah perbandingan analisis
struktur soal kuis 1, kuis 2 dan kuis 3 yang didownload dari EMAS.

Tabel. Analisis Struktur Soal Kuis 1

Question type

Facility
index

Standard
deviation

Random
guess
score

Intended
weight

Effective
weight

Discrimination
index

Discriminative
efficiency

1

Multiple choice

100.00%

0.00%

20.00%

6.60%

0.00%

0.00%

40.00%

2

Short answer

70.00%

47.02%

0.00%

6.60%

9.49%

26.86%

34.00%

3

Multiple choice

95.00%

22.36%

20.00%

6.60%

7.44%

54.36%

100.00%

4

Short answer

95.00%

22.36%

0.00%

6.60%

7.44%

54.36%

100.00%

5

Short answer

75.00%

44.43%

0.00%

6.60%

10.37%

43.45%

54.88%

6

True/False

70.00%

47.02%

50.00%

6.60%

8.28%

13.75%

16.49%

7

Short answer

85.00%

36.63%

0.00%

6.60%

7.41%

20.22%

27.78%

8

Short answer

15.00%

36.63%

0.00%

6.60%

7.65%

22.99%

47.63%

9

Short answer

95.00%

22.36%

0.00%

6.60%

3.33%

1.19%

1.88%

10

True/False

90.00%

30.78%

50.00%

6.60%

6.69%

22.04%

32.03%

11

True/False

75.00%

44.43%

50.00%

6.60%

9.21%

27.95%

34.79%

12

Multiple choice

90.00%

30.78%

16.67%

6.60%

8.53%

47.73%

66.65%

13

Multiple choice

85.50%

24.38%

6.60%

2.17%

-7.40%

-8.72%

14

Multiple choice

99.00%

4.47%

6.60%

3.33%

60.62%

100.00%

15

Multiple choice

70.00%

47.02%

7.60%

8.68%

8.19%

9.95%

Q#

14.29%

Tabel. Analisis Struktur Soal Kuis 2

Question type

Facility
index

Standard
deviation

Random
guess
score

Intended
weight

Effective
weight

Discrimination
index

Discriminative
efficiency

1

Short answer

90.00%

30.78%

0.00%

10.00%

0.00%

-19.24%

-29.03%

2

Short answer

55.00%

51.04%

0.00%

5.00%

9.72%

27.15%

33.48%

3

True/False

80.00%

41.04%

50.00%

10.00%

9.43%

-1.69%

-2.15%

4

Multiple choice

85.00%

36.63%

20.00%

5.00%

-17.16%

-22.09%

5

Short answer

70.00%

47.02%

0.00%

12.50%

17.21%

23.23%

29.73%

6

Short answer

70.00%

47.02%

0.00%

5.00%

4.30%

-6.07%

-7.62%

7

Short answer

40.00%

50.26%

0.00%

12.50%

17.48%

17.69%

25.00%

8

Short answer

50.00%

51.30%

0.00%

12.50%

14.27%

-5.25%

-6.82%

9

True/False

80.00%

41.04%

50.00%

12.50%

11.78%

-2.15%

-2.70%

10

True/False

25.00%

44.43%

50.00%

15.00%

15.81%

0.00%

0.00%

Q#

18

Tabel. Analisis Struktur Soal Kuis 3

Question type

Facility
index

Standard
deviation

Random
guess
score

Intended
weight

Effective
weight

1

True/False

100.00%

0.00%

50.00%

5.00%

0.00%

2

Short answer

75.00%

44.43%

0.00%

5.00%

3

Short answer

75.00%

44.43%

0.00%

4

Short answer

75.00%

44.43%

5

Short answer

30.00%

6

Short answer

7

Discrimination
index

Discriminative
efficiency

7.11%

-0.30%

-0.40%

7.00%

12.75%

21.12%

27.90%

0.00%

7.00%

9.48%

-3.31%

-4.21%

47.02%

0.00%

7.00%

10.20%

-2.52%

-3.24%

100.00%

0.00%

0.00%

7.00%

0.00%

Multiple choice

72.50%

25.52%

-23.05%

-27.49%

8

Short answer

55.00%

51.04%

0.00%

8.00%

15.17%

15.39%

20.12%

9

True/False

65.00%

48.94%

50.00%

7.00%

9.60%

-8.39%

-10.58%

10

Multiple choice

100.00%

0.00%

5.00%

0.00%

11

Short answer

45.00%

51.04%

0.00%

8.00%

3.17%

-35.19%

-42.05%

12

Short answer

30.00%

47.02%

0.00%

8.00%

12.92%

5.53%

7.99%

13

True/False

65.00%

48.94%

50.00%

5.00%

9.07%

8.12%

9.89%

14

Short answer

65.00%

48.94%

0.00%

7.00%

10.55%

-3.03%

-3.65%

15

True/False

40.00%

50.26%

50.00%

6.00%

-29.52%

-36.92%

Q#

8.00%

Jika melihat pada facility index (menunjukkan berapa banyak mahasiswa yang berhasil menjawab
suatu pertanyaan dengan benar), maka dapat terlihat bahwa facility index di kuis 2 lebih kecil dari
kuis 1 dan 3. Di kuis 2 tidak ada presentasi yang mencapai 95% atau 100%, namun untuk soal-soal
yang lain di setiap kuis, tingkat persentasi facility index-nya fluktuatif. Ini sangat mendukung bahwa
ada indikasi prior knowledge yang belum merata.
Indikator analisis lainnya adalah:
Standard deviasi (Standard deviation) merupakan ukuran penyebaran rata-rata skor. Jika F sangat
tinggi atau sangat rendah tidak mungkin penyebarannya besar. Nilai SD kurang dari sekitar sepertiga
dari maksimum pertanyaan (yaitu 33%) dalam tabel umumnya tidak memuaskan. Untuk itu dosen
perlu lebih lagi memperhatikan soal-soal dengan standar deviasi dibawah 33%.
Skor tebakan acak (Random guess score): Ini adalah skor rata-rata yang memprediksi bahwa siswa
melakukan tebakan acak pada pertanyaan. Skor tebakan acak hanya tersedia untuk pertanyaan
yang menggunakan beberapa bentuk pilihan ganda. Semua skor tebakan acak hanya untuk umpan
balik yang berfungsi untuk mengasumsikan situasi paling sederhana, misalkan untuk pertanyaan
multi respon siswa akan diberi tahu berapa jawaban yang benar.
Bobot yang diinginkan (Intended weight) adalah bobot penilaian per pertanyaan yang dinyatakan
sebagai persentase dari skor tes keseluruhan. Bobot ini diisi oleh dosen, pada saat melakukan input
soal ke EMAS. Bobot kuis 1-3 dapat dilihat di lampiran 2.
19

Bobot efektif (Effective weight) adalah perkiraan bobot yang sebenarnya dimiliki oleh suatu
pertanyaan. Karena pertanyaan tersebut berkontribusi pada penyebaran skor secara keseluruhan.
Bobot efektif harus bertambah hingga 100%.
Intended weight dan Effective weight harus dibandingkan. Jika bobot efektif lebih besar dari bobot
yang dimaksudkan, hal itu menunjukkan bahwa pertanyaan memiliki bagian yang lebih besar dalam
penyebaran skor daripada yang diharapkan. Jika lebih kecil dari bobot yang dimaksudkan, itu
menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut tidak memiliki banyak efek dalam menyebarkan skor
seperti yang dimaksudkan.
Terkait dengan penyeragaman persepsi untuk kemampuan kelas yang beragam, tidak seimbang,
maka dua indeks berikut ini memberikan indikator terhadap hal tersebut.
Indeks diskriminasi (Discrimination index) adalah korelasi antara skor tertimbang pada pertanyaan
dan yang ada di sisa tes. Ini menunjukkan seberapa efektif pertanyaan dalam memisahkan siswa
yang mampu dari mereka yang kurang mampu. Hasilnya harus diinterpretasikan sebagai berikut:
Tabel. Interpretasi nilai Discrimination index
Index
Interpretation
50 and above
Very good discrimination
30 – 50
Adequate discrimination
20 - 29
Weak discrimination
0 - 19
Very weak discrimination
-ve
Question probably invalid

Efisiensi diskriminasi (Discriminative efficiency) memperkirakan seberapa baik indeks diskriminasi
relatif terhadap kesulitan pertanyaan. Suatu soal yang sangat mudah atau sangat sulit tidak dapat
membedakan antara siswa dengan kemampuan berbeda, karena sebagian besar siswa memperoleh
nilai yang sama pada soal tersebut. Diskriminasi maksimum memerlukan indeks fasilitas (facility
index) dalam kisaran 30% - 70% (meskipun nilai seperti itu tidak menjamin indeks diskriminasi
tinggi). Discriminative efficiency jarang mendekati 100%, tetapi nilai yang melebihi 50% harus dapat
dicapai untuk soal yang memenuni standar. Nilai yang lebih rendah menunjukkan bahwa
pertanyaan tersebut hampir tidak seefektif dalam membedakan antara siswa dengan kemampuan
yang berbeda dan oleh karena itu bukan pertanyaan yang sangat baik. Berikut perbandingan indeks
Discriminative efficiency soal-soal kuis 1, kuis 2 dan kuis 3.

20

KUIS 1

KUIS 2

21

KUIS 3

Terlihat jelas bahwa hampir seluruh soal-soal kuis 1 dapat diterima sebagai soal yang mampu
menilai dan diaplikasikan pada siswa dengan kemampuan yang berbeda. Sedangkan, soal-soal kuis
2 dan 3 tidak, dan hanya beberapa soal saja yang mendekati. Ini menunjukan bahwa modifikasi dan
perbaikan soal-soal di kuis 2 dan 3 perlu dipertimbangkan.

Setelah menganalisis hasil kuis dan struktur soal, maka bagaimana dengan tujuan akhir yakni
mengidentifikasi otomatisasi penyeragaman persepsi tersebut. Disinilah letak peran penting soal
essay, makalah dan diskusi. Nilai kuis 1-3 dapat dipakai sebagai patokan, selanjutnya untuk
meyakinkan dosen akan kondisi penyeragaman persepsi, maka jawaban soal essay, makalah
maupun diskusi sangat dibutuhkan. Berikut beberapa contoh jawaban essay dari kuis 4.
mahasiswa 1

22

mahasiswa 2

mahasiswa 3

Sampel jawaban mahasiswa yang diambil merupakan jawaban dari mahasiswa dengan latar
belakang S1 teknik industri (mahasiswa 1); sosiologi (mahasiswa 2); dan hubungan internasional
(mahasiswa 3). Menelisik pada jawaban tersebut, maka dapat terlihat bahwa mereka sangat
berusaha untuk memahami materi-materi ekologi; dan berusaha untuk memahami penerapan
dalam studi kasus kerusakan lingkungan. Ini mengindikasikan soal-soal kuis sebelumnya dapat
menginisiasi rasa ingin tahu yang mereka miliki, sehingga mereka terus mencari. Inilah tujuan akhir
yang mau dicapai oleh mata kuliah Ekologi, dan tentunya sejalan juga dengan visi dan misi
organisasi. Bahwa ahli lingkungan yang dihasilkan, bukan hanya bisa berteori sesuai apa yang
diajarkan, tapi mereka mampu membangun pemahaman konstruksif terhadap suatu permasalahan
dan menggunakan pendekatan yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahannya.
23

BAGIAN 7: KESIMPULAN
Membangun prior knowledge bukanlah suatu hal yang instan, tapi bukan juga suatu hal yang tidak
mungkin dilakukan. Membangun sistem pembelajaran e-learning yang terintegrasi dengan soal-soal
kuis dan media belajar lain yang dapat diakses akan membuat pembelajaran tidak membosankan.
Kondisi demikian akan menginisisasi banyak upaya mahasiswa untuk mengerti suatu materi
pembelajaran. Soal-soal kuis penyeragaman persepsi untuk mata kuliah Ekologi dengan
menggunakan EMAS, yang dilaksanakan di jenjang magister, merupakan salah satu upaya yang
patut untuk dicoba dan dikembangkan. Hal ini dikarenakan kebutuhan matrikulasi di awal semester
bagi mahasiswa baru yang belum tentu dapat dipenuhi oleh program-program studi multi disiplin
yang terkait.
Hal-hal teknis yang dapat diperhatikan terkait dengan pembuatan soal-soal kuis ini adalah:
1. Uji coba berulang-ulang sangat diperlukan untuk mendapatkan kualitas soal kuis yang
mumpuni
2. Modifikasi dan update soal kuis sangat diperlukan agar pengajar tetap dapat menyesuaikan
dengan perkembangan permasalahan lingkungan terkini
3. EMAS memiliki fasilitas analisis statistik soal-soal, yang hasilnya dapat dipertimbangkan bagi
pengembangan model soal kuis yang lebih baik. Namun, yang harus diperhatikan adalah,
justifikasi statistik tidak akan sanggup melebihi justifikasi praktis yang dapat diamati dan
diukur oleh dosen melalui soal essay, makalah maupun diskusi. Justifikasi praktis tetap
diperlukan untuk menilai kedalaman pemahaman setiap mahasiswa.
4. Kuis 1, 2 dan 3 dapat dipakai sebagai soal-soal yang mampu membantu proses
penyeragaman persepsi. Hal ini dikarenakan soal-soal tersebut mampu menginisiasi rasa
ingin tahu mahasiswa untuk menggali terus dan berusaha memahami tentang dasar-dasar
Ekologi.

24

LAMPIRAN 1
Teori Dasar Ekologi
Halvina Grasela Saiya, S.Si., M.Sc.

Ekologi awalnya ditinjau dari pengertian ekologi, dimana ekologi merupakan suatu cabang ilmu
biologi yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan
lingkungannya (Soemarwoto, 1974). Sehingga, dengan berpatokan pada pengertian ekologi maka objek kajian
dalam analisis ekologi adalah organisme. Dengan demikian, analisis ekologi adalah analisis terhadap
keberadaan suatu organisme pada suatu habitat. Beberapa poin penting yang akan dikaji adalah apakah
organisme tersebut memiliki kecocokan dengan habitatnya, yaitu:

(1) apakah organisme memperoleh

kenyamanan tinggal di habitat tersebut; (2) apakah organisme dapat memperoleh makanannya di habitat
tersebut; (3) apakah organisme dapat berinteraksi dan melakukan aktifitas hariannya dengan baik di habitat
tersebut; dan (4) apakah terdapat gangguan pada habitatnya sehingga organisme tersebut merasa terusik atau
bahkan tidak mampu beradaptasi sehingga organisme tidak dapat bertahan, ataukah organisme mampu
bertahan.
Hal lain yang sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan dengan Ekologi yaitu, Ekosistem. Ekosistem
awalnya ditinjau dari pengertian ekosistem yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal
balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 1974). Ekosistem bisa
dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup
yang saling memengaruhi (Odum, 1997). Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada
suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Berdasarkan
hal tersebut, maka objek kajian dalam analisis ekosistem adalah interaksi atau sistem interaksi yang berjalan
dalam suatu kesatuan habitat yang kompleks. Dengan demikian, analisis ekosistem adalah analisis terhadap
hubungan interaksi dan sistem biologis yang dilakukan atau dialami oleh organisme/populasi pada suatu
habitat. Dengan poin penting dari analisis ekosistem adalah untuk mengetahui apakah hubungan timbal balik
atau interaksi dalam suatu habitat itu berjalan dan berkelangsungan ataukah tidak.

1.

Pengertian Ekologi dan Ekosistem
1.1. Ekologi
Awal perkembangan ilmu pengetahuan, filsuf-filsuf Yunani seperti Hippocrates dan Aristoteles
telah menulis berbagai materi yang hingga sekarang ini termasuk dalam kajian Ekologi. Ekologi adalah
suatu istilah yang oleh kebanyakan orang, sering dianggap sama dengan Ekosistem. Namun,
sebenarnya dua istilah tersebut adalah hal yang berbeda. Awalnya, seorang ahli biologi berkebangsaan
Jerman, bernama Ernst Haeckel (1834-1914) memperkenalkan istilah Ekologi. Walaupun banyak
hasil-hasil riset dan publikasinya yang sangat kontroversial, namun Haeckel adalah

salah satu ilmuwan perintis yang menetapkan penamaan organisme dan taksonomi genealogi makhluk
hidup. Selain itu, pakar-pakar lain biologi yang hidup di abad ke 18 dan 19 telah banyak berkontribusi
kedalam bidang-bidang yang kemudian hingga saat ini termasuk dalam ruang lingkup ekologi. Salah
satunya adalah penemuan mikroskop oleh Anthony van Leeuwenhoek. Penemuan ini mengarahkannya
ke dalam studi-studi selanjutnya, yaitu rantai makanan dan populasi.
Secara etimologi, istilah Ekologi terdiri dari dua kata bahasa Yunani, yaitu: ‘oikos’ yang artinya
rumah atau tempat tinggal, dan ‘logos’ yang artinya ilmu (Soemarwoto, 1974). Jadi, Ekologi dapat
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tempat tinggal makhluk hidup. Seiring perkembangan zaman,
maka pengertian lain Ekologi juga bermunculan, yakni Ekologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 1974). Hal ini
didasari fakta bahwa dalam rumah atau tempat tinggal makhluk hidup, tidak terlepas dari adanya
interaksi
Makhluk hidup terdiri dari tiga cakupan utama yaitu: mikroba, tumbuhan dan hewan. Bagi
orang-orang yang baru pertama kali mempelajari Ekologi, maka akan mempertanyakan dimana posisi
Manusia (Homo sapiens). Manusia dalam taksonomi berada dalam satu kelompok dengan hewan.
Untuk itu, perlu diingatkan lebih awal bagi para siswa yang mempelajari Ekologi bahwa porsi manusia
sekelompok dengan hewan adalah porsi ilmu pengetahuan, yang dalam pembahasannya harus
dipisahkan dari keyakinan (sudut pandang agama) dari tiap-tiap siswa.
Selain itu, dilihat dari segi cakupan ilmu, maka Ekologi terbagi atas autoekologi, yaitu ekologi
yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya; sinekologi
yaitu ekologi yang mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai kesatuan yang saling berinteraksi
dalam suatu daerah tertentu (Soemarwoto, 1974; Odum, 1997). Dan menurut habitatnya, maka
cakupan ekologi dapat dipecah-pecah lagi menjadi Ekologi Hutan, Ekologi Danau, Ekologi Terestrial,
Ekologi Laut, Ekologi Padang Rumput, dan lain-lain.
Cakupan ekologi yang lebih luas adalah juga membahas tentang tingkatan kehidupan makhluk
hidup yang dimulai dari bentuk yang paling sederhana hingga bentuk yang paling kompleks. Hal ini
yang disebut dengan hirarki kehidupan di alam. Tingkatan yang paling sederhana diawali dengan
protoplasma, kemudian berturut-turut tingkatannya adalah sel, jaringan, organ, sistem organ,
organisme, populasi, komunitas, ekosistem dan biosfer. Tingkatan yang membentuk organisme dalam
satu spesies yang sama adalah dari tingkatan protoplasma hingga organisme. Selanjutnya tingkatan
yang membentuk interaksi di dalam habitatnya, dimulai dari tingkatan organisme hingga biosfer.
Sehingga biosfer adalah tingkatan tertinggi dalam hirarki kehidupan alam (Gambar 1).

Gambar 1. Hirarki Kehidupan Alam (Sumber: Thomson Learning)

1.2. Ekosistem
Selanjutnya, apa itu Ekosistem. Secara etimologi, Ekosistem adalah gabungan antara kata
Ekologi dan Sistem. Aliff dkk. (2004), mendefinisikan ekosistem sebagai hubungan interaksi antara
komunitas yang terdiri dari hewan, tumbuhan dan mikroba, dengan lingkungan fisiknya. Sedangkan,
Odum (1997) mengemukakan bahwa ekosistem adalah tingkat organisasi biologi yang merupakan unit
fungsional dasar adanya interaksi antara abiotik, biotik dan energi. Menurut Soemarwoto (1974),
ekosistem menitik beratkan pada adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini dikarenakan, komponen-komponen penyusun ekosistem
masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, namun dapat tetap terkoordinasi baik secara sistem,
sehingga menghasilkan interaksi yang seimbang dan selaras.
Adapun dalam ekosistem, komponen-komponennya terdiri dari komponen abiotik, komponen
biotik dan energi. Tiga faktor tersebut merupakan syarat terbentuknya ekosistem. Komponen abiotik,
terdiri dari air, udara, tanah, termasuk suhu dan kelembaban dan lain-lainnya; kemudian faktor biotik
yang terdiri dari produsen, konsumen dan dekomposer atau pengurai; serta energi yang berasal dari
cahaya matahari (Gambar 2). Berdasarkan keberadaan komponen-komponen ekosistem yang ada,
maka sudah dapat dipastikan bahwa terjadi berbagai interaksi dan daur/siklus materi dalam ekosistem.

Gambar 2. Syarat terbentuknya ekosistem (sumber: Arron Glenn. Slide Player)

Interaksi yang paling mendasar yang ada didalam ekosistem adalah rantai makanan. Rantai
makanan adalah proses transfer energi yang berupa makanan dari produsen ke konsumen dan berakhir
di decomposer (Odum, 1997). Tingkatan organisme yang terdapat di dalam rantai makanan disebut
juga tingkatan trofik. Beberapa rantai makanan (Food Chain) akan selanjutnya membentuk jaringjaring makanan, yang merupakan sistem yang lebih kompleks. Rantai makanan terbagi atas dua jenis,
yaitu rantai makanan pemangsa (Grazing Food Chain) dan rantai makanan dekomposer (Detritus Food
Chain) (Odum, 1997). Rantai makanan pemangsa diawali dengan tumbuhan hijau sebagai
produsennya, dan secara berurutan diikuti oleh herbivora dan karnivora (Gambar 3). Sedangkan, rantai
makanan dekomposer diawali dengan dekomposer yang menyediakan sumber makanan bagi
konsumen, sehingga dalam hal ini dekomposer bertindak sebagai produsen (Gambar 4). Rangkaian
dari berbagai rantai makanan tersebut, itulah yang membentuk jarring-jaring makanan (Food Web)
seperti yang ditunjukan pada Gambar 5.

Gambar 3. Grazing Food Chain (sumber: https://www.pmfias.com)

Gambar 4. Detritus Food Chain (sumber: https://www.pmfias.com)

Jaring-jaring makanan merupakan suatu siklus yang saling tercipta antara beberapa rantai
makanan dimana rantai makanan yang satu dengan rantai makanan yang lainnya saling mempengaruhi.
Sehingga, cakupan siklus makanan dalam perspektif jaring-jaring makanan, cakupannya sangat luas.
Ini merupakan hal wajar, karena satu organisme tidak hanya akan memakan satu jenis makanan saja
sepanjang hidupnya, namun juga beberapa jenis makanan yang lain menjadi sumber makanannya.
Inilah yang membuat cakupan jaring-jaring makanan menjadi lebih luas. Sedangkan, apa fungsinya
jaring-jaring makanan ini dipetakan. Dalam tatanan ekosistem yang stabil, hal ini sangat perlu
dilakukan, karena dengan jaring-jaring makanan akan dapat dilihat peran dominan atau peran tidak
dominan suatu spesies dalam ekosistem. Dengan ini, akan dapat terlihat spesies mana yang merupakan
spesies peralihan, spesies konsumen tingkat 1 dan 2, serta spesies yang dominan omnivora atau
karnivora yang akan mengambil posisi sebagai predator puncak atau predator utama. Dalam analisis
degradasi lingkungan, maka dengan mengetahui suatu posisi organisme dalam jaring-jaring makanan,
maka akan mudah untuk diprediksi terkait kondisi ketidakstabilan ekosistem, jika organisme tersebut
jumlahnya menjadi berkurang atau keberadaannya terancam.

Gambar 5. Jaring-jaring makanan (sumber: https://www.pmfias.com)

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa rantai makanan adalah bentuk transfer energi antar
organisme (Odum, 1997). Hal ini berarti ada aliran energi yang terjadi di dalam rantai makanan. Aliran
energi ini tetap mengacu pada hukum kekekalan energi (Termodinamika 1) yaitu energi yang tersedia
di dalam lingkungan jumlahnya tertentu, tetap, tidak berubah, dan jumlah energi itu tidak dapat

ditambah ataupun dikurangi (Taylor dkk., 1994). Dan mengacu juga pada hukum entropi
(Termodinamika 2) yaitu

energi yang tersedia tersebut tidak dapat dipakai semuanya untuk

menghasilkan kerja, tidak dapat mencapai efisiensi 100%, pada setiap proses pemakaian energi selalu
ada sisa energi yang tidak terpakai dan disebut dengan entropi (Taylor dkk., 1994). Terkait dengan
prinsip tersebut, maka aliran energi yang terjadi di dalam rantai makanan adalah sebagai berikut
(Gambar 6). Diawali dengan energi dari organisme autotrof yang dapat membuat makanan sendiri atau
menghasilkan energi sendiri dengan bantuan sumber energi utama yaitu matahari. Kemudian
organisme autotrof ini akan dimakan oleh organisme heterotrof yakni konsumen yang tidak dapat
membuat makanan atau menghasilkan energi sendiri. Dengan demikian maka energi berpindah dari
produsen ke konsumen. Begitu seterusnya, jika konsumen tingkat 2 memakan konsumen tingkat 1,
maka energi yang awalnya dari produsen itu berpindah ke konsumen tingkat 2. Aliran ini berjalan
hingga ke konsumen puncak. Aliran energi yang terjadi sejalan dengan pola perpindahan biomassa dari
produsen hingga ke konsumen puncak pada biomassa di darat, namun berbanding terbalik dengan pola
perpindahan biomassa dari produsen hingga ke konsumen puncak pada biomassa di laut/perairan
(Soemarwoto, 1974; Odum, 1997).

Gambar 6. Aliran Energi dalam Rantai Makanan (Sumber: Environmental Studies Tutorial)

Selain rantai makanan dan jaring-jaring makanan, maka siklus-siklus lain yang penting didalam
ekosistem juga adalah siklus hidrologi, siklus nitrogen, siklus karbon, siklus fosfor, dan lain-lain.
Siklus-siklus ini adalah siklus-siklus faktor abiotik yang ada di ekosistem. Keberadaan siklus-siklus
ini juga menopang keberadaan siklus biotik, yakni rantai makanan dan jaring-jaring makanan, yang

merupakan siklus biotik. Siklus hidrologi adalah sistem megasiklus yang terbesar yang digerakkan oleh
energi dari matahari, dengan atmosfer yang menyediakan hubungan vital antara laut dan benua. Awal
siklus hidrologi tak dapat ditentukan, apakah berawal dari evaporasi (penguapan air oleh enargi sinar
matahari), ataukah berawal dari presipitasi (curah hujan yang jatuh ke bumi), bahkan ada juga
limpasan, yakni air yang mengalir dari darat dan terkumpul di laut. Ketiga proses ini terus berjalan
secara berkesinambungan di dalam siklus. Siklus hidrologi bersifat seimbang. Karena jumlah total uap
air di atmosfer tetap sama, presipitasi tahunan rata-rata di dunia setara dengan jumlah air yang menguap
(Taylor dkk., 1994). Akan tetapi, jika semua benua dihitung bersamaan, presipitasi akan melampaui
evaporasi (Taylor dkk., 1994). Sebaliknya, di atas laut, evaporasi melampaui presipitasi. Siklus
hidrologi dan beberapa siklus lainnya sering disebut dengan siklus biogeokimia.
Siklus biogeokimia adalah Pertukaran atau perubahan secara terus menerus dari bahan-bahan
antara komponen biosfer yang hidup dan yang tidak hidup (Taylor et al., 1994). Pengertian yang lain
menuturkan bahwa siklus biogeokimia adalah pemindahan yang berulang-ulang atau terurai dan
terbentuk secara terus menerus antara komponen biotik dan abiotik. Secara garis besar, yang disebut
siklus biogeokimia adalah terdiri dari: siklus gas yang berada dalam atmosfir; siklus biologis dari
berbagai proses sintesa proses dekomposisi, sekresi dan respirasi oleh unsur biotis lingkungan fisik;
dan siklus geologis yang berkaitan dengan segala proses yang ada di tanah atau air. Itulah ekosistem
dengan proses-proses yang ada didalamnya. Proses-proses tersebut menunjukan interaksi-interaksi
yang saling berkesinambungan yang terjadi di alam.

2.

Prinsip-Prinsip Ekosistem
Ada lima prinsip utama yang menjadi prinsip dalam ekosistem, yaitu Keanekaan, Keterkaitan,
Ketergantungan, Keharmonisan dan Keberlanjutan (Soemarwoto, 1974; Odum, 1997). Lima prinsip
ini mengacu pada keberadaan dan fungsi ekosistem di alam.
Prinsip keanekaan dalam ekosistem merujuk pada berbagai jenis organisme maupun berbagai
bentuk dan jenis populasi yang terbentuk beraneka ragam di dalam ekosistem (Soemarwoto, 1974;
Odum, 1997). Jadi, ekosistem itu bukan hanya terdiri dari satu spesies saja, atau satu faktor abiotik
saja, namun juga terdiri dari berbagai jenis yang bergabung di dalam ekosistem membentuk sistem
kehidupan. Prinsip keterkaitan merujuk pada organisme yang satu dengan organisme yang lain
membentuk hubungan yang saling terikat. Seperti layaknya faktor biotik sangat terikat keberadaannya
dengan faktor abiotik sebagai pendukungnya. Begitu juga keberadaan konsumen dalam rantai
makanan, sangat terikat dengan keberadaan produsen, dan sebagainya. Kemudian, suatu sistem yang
memiliki kondisi keterikatan, sudah pasti saling tergantung. Rantai makanan memperlihatkan sangat
jelas fungsi ketergantungan ini. Sangat jelas bahwa keberlangsungan konsumen puncak, sangat
tergantung pada keberlangsungan produsen sebagai organisme autotrof. Selanjutnya, bagaimana
sistem itu dapat berjalan, jika tidak ada keharmonisan. Contohnya adalah siklus biogeokimia yang

harus selalu berjalan dalam keharmonisan agar ketersediaan unsur hara, air dan sebagainya harus tetap
ada. Dan prinsip yang terakhir adalah keberlanjutan. Ini merupakan tujuan akhir dari upaya menjaga
ekosistem (Soemarwoto, 1974; Odum, 1997). Keberlanjutan berarti memastikan suatu sumber daya
tetap ada untuk masa-masa yang akan datang, bukan hanya untuk waktu saat ini saja. Inilah prinsip
yang merujuk pada keberadaan ilmu lingkungan, sebagai ilmu yang harus mengelola dan
memanajemen sumber daya di alam.
Di dalam ekosistem juga terdapat kaidah-kaidah ekosistem yang terus berjalan secara alamiah.
Kaidah yang pertama adalah ekosistem diatur secara alamiah, kemudian memiliki daya kemampuan
optimal dalam keadaan berimbang. Dalam interaksinya bersifat crucial inter relationship, yakni antara
sesama komponen biotik, sesama komponen abiotik dan antara komponen biotik dan abiotik
(Soemarwoto, 1974; Odum, 1997). Selain itu, dinamika yang terjadi adalah dinamika yang stabil,
dimana proses perubahan apapun yang terjadi, selalu menuju kepada kesetimbangan (dynamic
equllibrium), serta ekosistem juga dipengaruhi oleh faktor ruang dan waktu (Soemarwoto, 1974;
Odum, 1997). Beberapa jenis interaksi penting dalam ekosistem (Soemarwoto, 1974; Odum, 1997)
adalah:
1. Mutualisme, yakni dua organisme berada pada posisi sama-sama diuntungkan;
2. Komensalisme, yakni salah satu organisme untung dan satunya lagi impas;
3. Amensalisme, yakni salah satu organisme impas, dan satunya lagi rugi;
4. Parasitisme, yakni salah satu organisme untung, dan satunya lagi rugi tapi tidak mati;
5. Predasi, yakni salah satu organisme untung, dan satunya lagi rugi dan mati;
6. Kompetisi, yakni dua organisme berada pada posisi sama-sama rugi.
Contoh dari mutualisme adalah interaksi antara bunga dan lebah atau serangga lain yang berperan
dalam penyerbukan; sedangkan contoh dari komensalisme adalah interaksi antara ikan besar dan ikan
kecil; dan contoh interaksi amensalisme adalah interaksi antara rerumputan yang berada di bawah
pohon beringin. Kemudian, contoh interaksi parasitisme adalah adanya benalu yang sering ditemukan
di tanaman; selanjutnya contoh interaksi predasi adalah antara elang dan ayam; dan yang terakhir
adalah kompetisi, contohnya adalah perebutan makanan antara dua organisme atau lebih.
Dalam ekosistem juga terdapat nilai-nilai penting dari komponen ekosistem. Nilai yang
pertama adalah komponen ekosistem yang jarang dijumpai, contohnya adalah Bunga Bangkai, Badak
di Ujung Kulon, dan tanaman padi yang asli. Selain itu, ada juga nilai ekonomi potensial, contohnya
usaha perikanan yang dikembangan dari lokasi ekosistem yang strategis. Serta nilai ekosistem sebagai
pelindung alam, contohnya hutan mangrove yang melindungi pantai dari abrasi. Ditambah lagi,
ekosistem memiliki nilai-nilai estetis yang sering digunakan dalam penataan landscape perkotaan
maupun taman.

3.

Tipologi Ekosistem, Tipologi Kegiatan dan Kerawanannya
Tipologi merupakan observasi mendalam terkait tipe atau jenis dari sesuatu. Terkait dengan
ekosistem, maka tipologi ekosistem adalah observasi mendalam tentang tipe-tipe ekosistem.
Berdasarkan cara dan proses dari terbentuknya suatu ekosistem, maka ekosistem terbagi menjadi
ekosistem alami dan ekosistem binaan/buatan (Soemarwoto, 1974).
Ekosistem yang prosesnya terbentuk secara alamiah, disebut dengan ekosistem alami
(Soemarwoto, 1974). Ekosistem alami contohnya seperti hutan, danau, sungai, padang rumput, dan
sejenisnya. Namun, ekosistem alami juga dapat mengalami perubahan akibat adanya proses alami,
misalnya: gempa bumi dan letusan gunung berapi. Berikut akan diuraikan beberapa tipologi dari
ekosistem alami.
Ekosistem hutan hujan tropis sangat terpengaruh oleh cahaya matahari yang bersinar sepanjang
tahun yang menyebabkan suhu udara relatif sama sepanjang tahun. Selain itu, curah hujan yang hampir
turun sepanjang tahun. Maka, dengan kondisi ini, sudah dapat dipastikan bahwa kelembaban udara
relatif tinggi dank arena itu akan dapat mempercepat pembentukan humus tanah, maka ekosistem hutan
hujan tropis biasanya adalah ekosistem yang subur. Selain itu, beberapa ciri umum yang lain di
ekosistem hutan hujan tropis adalah: tidak memiliki ciri musiman yang mencolok, keragaman spesies
tinggi, strukturnya kompleks; dengan stabilitas yang cukup. Tidak menunjukkan musiman yang
mencolok berarti perbedaan antara rerata pada bulan panas dan dingin pada dataran rendah tropis
lembab biasanya kurang dari 4°C (tutorialspoint.com). Selanjutnya, hutan hujan tropis sudah pasti
memiliki biodiversitas yang tinggi. Faktor ini tergantung pada posisi daerah geografisnya serta akan
sangat baik jika terdapat di daerah yang drainasenya tidak terhalangi. Sedangkan, yang dimaksud
dengan struktur yang kompleks adalah terkait dengan kekompleksan strata vegetasi yang ada di
dalamnya, sehingga dengan kondisi demikian maka ekosistem hutan hujan tropis dapat dikatakan
sebagai ekosistem klimaks yang stabil. Namun, kestabilan hutan hujan tropis tentu dapat terganggu
dengan adanya gangguan yang merupakan dampak dari berbagai aktivitas yang tidak sejalan dengan
prinsip-prinsip ekosistem.
Adapun beberapa permasalahan yang sering terjadi di ekosistem hutan hujan tropis adalah
terjadinya penebangan untuk perladangan tradisional; terjadinya penebangan dengan skala yang lebih
luas untuk perkebunan dan sebagainya; terjadinya penebangan illegal; kegiatan penambangan dan porsi
pertanian yang tidak tepat; eksploitasi kehidupan liar; kegiatan rekayasa pembangunan jalan dan
sejenisnya; terjadinya pencemaran dan kebakaran hutan.
Ekosistem hutan musim adalah hutan yang dipengaruhi oleh pergantian musim. Ekosistem ini
sering dijumpai pada daerah yang mengalami pergantian musim kemarau dan musim penghujan
(tutorialspoint.com). Kondisi ekosistem hutan musin sering dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Permasalahan yang sering terjadi di hutan musim adalah penebangan dalam skala terbatas maupun
luas; kebakaran hutan; adanya kegiatan penambangan dan aktivitas pertanian yang berlebihan;

eksploitasi kehidupan liar; kegiatan rekayasa pembangunan jalan dan fasilitas umum lain yang tidak
terkontrol; serta pencemaran.
Ekosistem pertanian adalah kegiatan bercocok tanam yang menyangkut input, proses dan
output (Utomo, 2018). Ekosistem pertanian dapat hadir dalam bentuk apapun, misalnya area pertanian
yang sudah stabil, area pertanian sementara, area pertanian baru, dan bahkan dulu dalam kehidupan
masyarakat yang nomaden, masih terdapat area pertanian berpindah. Beberapa permasalahan

di

ekosistem pertanian adalah: tingkat pendidikan petani yang umumnya rendah, sehingga sering sekali
melakukan kesalahan dalam penggunaan pupuk maupun pestisida; penggunaan pupuk dan pestisida
dengan dosis maupun kombinasi yang tidak tepat secara langsung akan berpengaruh pada kualitas
kimia lingkungan, dimana hal ini adalah hal yang sering tidak disadari oleh petani. Permasalahan
lainnya adalah penggunaan lahan yang tidak sesuai yaitu alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian
yang dilakukan di area yang tidak tepat. Hal ini dapat berlanjut hingga ke erosi dan longsor.
Ekosistem sungai atau dalam tingkatan jaringan aliran sungai, biasa disebut dengan Daerah
Aliran Sungai (DAS). Ekosistem ini mempunyai peran sebagai penyalur massa air yang datang dari
atas (tutorialspoint.com), melalui pohon dan perakaran pohon, maupun dari hujan. Beberapa
permasalahan di ekosistem sungai antara lain: terjadinya penebangan hutan di bagian hulu sungai;
kegiatan pertanian di lahan terjal sehingga terjadi erosi dan pendangkalan sungai; penggunaan pupuk
di lahan pertanian yang berada di sekitar sungai, sehingga dapat berdampak pada proses eutrofikasi
yang terjadi di sungai. Permasalahan lain adalah buangan limbah domestik, industri hingga aktifitas
tambang berlebihan di sekitarnya.
Ekosistem lahan basah adalah salah satu ekosistem yang memiliki banyak jenis dan tersebar di
berbagai daerah di Indonesia. Lahan basah menurut konvensi Ramsar adalah daerah rawa-rawa, payau,
gambut dan area perairan yang bersifat tetap maupun sementara; tergenang maupun mengalir; tawar,
payau dan asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada
waktu surut (Indonesia.wetlands.org; ramsar.org). Ekosistem ini berfungsi sebagai pengendali banjir
dan kekeringan, jalur transportasi, penyedia sumber air bagi masyarakat, habitat bagi berbagai spesies
dan sebagai pengendali iklim global.
Secara lebih mendalam, beberapa cakupan wilayah ekosistem lahan basah anatar lain: lahan
basah berpasir, rawa-rawa, wilayah berair mengalir dan danau atau lahan basah buatan. Lahan basah
berpasir meliputi dataran lumpur, dataran berpasir, terumbu karang, padang lamun dan mangrove.
Rawa-rawa terdiri dari: hutan rawa air tawar, lahan gambut dan rawa tanpa hutan. Wilayah berair
mengalir, terdiri atas: sungai, dataran banjir dan estuari. Sedangkan danau dan lahan basah buatan
terdiri dari: danau alami, danau buatan, sawah, kolam, tambak air payau dan tambak garam
(Indonesia.wetlands.org; ramsar.org). Permasalahan ekosistem lahan basah adalah penebangan hutan
mangrove yang tidak terkontrol, perluasan wilayah tambak, perburuan, adanya sedimentasi yang
berlebihan, abrasi, upwelling dan pencemaran.

Ekosistem yang berikutnya adalah ekosistem laut. Pada dasarnya ekosistem laut maupun
terrestrial adalah serupa dimana di kedua sistem tersebut baik produsen maupun konsumen akan
dimanfaatkan oleh dekomposer yang selanjutnya terurai menjadi unsur hara yang akan dimanfaatkan
oleh tumbuhan. Perbedaannya, fitoplankton yang ada di laut tidak mampu mencukupi kebutuhan
herbivora laut (pmfias.com; tutorialspoint.com). Begitu pula perbedaannya antara ekosistem laut
dengan ekosistem sungai, yang terutama lebih berasal dari kandungan kadar garam yang lebih tinggi.
Dengan adanya sejumlah perbedaan ini, maka ekosistem laut mempunyai keunikan tersendiri
dibanding dengan ekosistem-ekosistem lainnya, yang pada akhirnya akan memiliki cara penanganan
yang berbeda, termasuk pengelolaan makhluk hidup di dalamnya.
Jenis ekosistem binaan atau buatan adalah jenis ekosistem yang terbentuk dengan campur
tangan atau rekayasa manusia (Soemarwoto, 1974). Contoh ekosistem binaan yang paling nyata
adalah ekosistem kota. Ekosistem kota merupakan ketepatan alokasi ruang untuk setiap kegiatan
pembangunan. Ekosistem kota juga memiliki ketersediaan dan kemampuan kelembagaan dalam
proses pengelolaan lingkungan. Terdapat juga pengendalian kegiatan pembangunan yang mengarah
kepada efisiensi penggunaan bahan dan pengendalian pencemaran dan perusakan fungsi.
Permasalahan ekosistem kota antara lain: pencemaran air, tanah dan udara; keterbatasan sumber
daya alam, seperti sumber air bersih; daya dukung lingkungan tidak sebanding dengan jumlah
manusia; ketergantungan dengan daerah lain untuk mendapatkan sumber daya air, produkproduk pertanian, dll.; tingkat urbanisasi yang tinggi; tingkat pengangguran yang tinggi; kemacetan
lalu lintas; serta masalah penumpukan sampah.

Referensi
Aliff, J. V., Raven, P. H., & Berg, L. R. (2004). Study Guide to Accompany Environment
[by Peter H. Raven, Linda R. Berg]. Wiley.
Arron Glenn. Slide Player. https://slideplayer.com/slide/10753836/
Energy Flow through an Ecosystem: Food Chain, Food Web. https://www.pmfias.com
Environmental Studies - Ecological Pyramid. Environmental Studies Tutorial.
https://www.tutorialspoint.com/environmental_studies/environmental_studies_ecologi
cal_pyram id.htm
Odum, E. P. (1997). Ecology: a bridge between science and society. Sinauer Associates
Incorporated. Ramsar Convention. https://www.ramsar.org/
Soemarwoto, O. (1974). Pendekatan ekosistem terhadap permasalahan waduk. An ecosystem
approach to the problems of reservoirs]. Paper presented at the Environmental Week
Program, Jakarta, 2126.
Taylor, B., Hutchinson, C., Pollack, S., & Tapper, R. (1994). The environmental
management handbook. Pitman Publishing Limited.
Thomson Learning. https://openlibrary.org/publishers/Thomson_Learning
Utomo, SW, 2018, “ Berbagai Konsep Ekologi dan Implementasinya Dalam Pembangunan,
Lembaga Penerbit Fak Ekonomi
Wetlands International. https://indonesia.wetlands.org/

LAMPIRAN 2
BANK SOAL
KUIS EKOLOGI
MAGISTER ILMU LINGKUNGAN
SEKOLAH ILMU LINGKUNGAN

Bank soal ini dibuat berdasarkan materi handout Ekologi yaitu Teori Dasar Ekologi dan dari materi yang
disajikan dalam 7 video interaktif. Materi dan topik diturunkan sesuai dengan CPMK, yaitu sub-CPMK 1,
2 dan tambahan sedikit materi sub-CPMK 3 sebagai pengantar awal penerapan Ekologi ke permasalahan
Lingkungan.

Materi-materi yang
diturunkan dari sub-CPMK
Pengertian
Ekologi
dan
Ekosistem
Prinsip-prinsip Ekosistem
Tipe-tipe dan Karakteristik
Ekosistem
Tipologi Kerawanan Ekosistem
Tipologi
Kegiatan
dalam
Ekosistem

Sub-CPMK 3

Materi di handout (Lampiran)

Topik-topik video

Pengertian
Ekologi
dan 1.
Ekosistem
Prinsip-prinsip Ekosistem
2.
3.
Tipologi Ekosistem, Tipologi
Kegiatan dan Kerawanannya

Defenisi
Ekologi
&
Ekosistem
prinsip-prinsip ekosistem
Siklus biogeokimia

4. Kerawanan ekosistem
5. Tipologi
kegiatan
&
degradasi ekosistem
6. Deskripsi tipologi ekosistem
beserta
kegiatan
dan
kerawanannya
7. Kualitas
lingkungan,
sumber
kegiatan
dan
dampak lingkungan

Bank soal ini terbagi menjadi dua, yaitu: soal-soal kuis untuk evaluasi dan soal-soal kuis yang akan
ditempatkan didalam video interaktif. Kuis yang disajikan didalam video interaktif, akan saling
melengkapi dengan soal-soal evaluasi. Namun, soal-soal untuk video interaktif hanya untuk melatih
pemahaman mahasiswa, sedangkan soal-soal evaluasi adalah pengembangan soal, sehingga penilaian
otomatisasi penyeragaman persepsi berdasarkan soal-soal kuis evaluasi.

A. SOAL-SOAL KUIS EVALUASI
KUIS I
(1) Ekologi adalah....
Pilihlah satu jawaban yang tepat
a. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara abiotik dengan lingkungannya.
b. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara biotik dengan lingkungannya.
c. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara sosial budaya dengan lingkungannya.
d. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara satu makhluk hidup dengan lingkungannya.
e. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

(2) Manusia adalah organisme pemakan segala. Maka, manusia disebut dengan istilah ...
Jawaban: ………………….

(3) Pilihlah semua jawaban benar terkait dengan prinsip-prinsip ekosistem!
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Kebebasan
Keluwesan
Kekinian
Keluasan
Kesejahteraan
Keterkaitan
Kekompleksan
Keharmonisan
Keberlanjutan
Ketergantungan
Kenyamanan
Keanekaan

(4) Rantai makanan dalam ekosistem perairan diawali dengan zooplankton.
Benar atau Salah pernyataan tersebut?

(5) Kawasan pariwisata dan kawasan perkebunan tergolong dalam ekosistem...
Jawaban: ……………….

(6) Syarat terbentuknya ekosistem adalah cukup dengan adanya faktor abiotik dan faktor biotik.
Benar atau Salah pernyataan tersebut?

(7) Rantai makanan terbagi atas dua jenis, yaitu rantai makanan pengurai dan rantai makanan pemangsa.
Benar atau Salah pernyataan tersebut?

(8) Berikut ini adalah contoh dari nilai komponen ekosistem, kecuali...
Pilihlah satu jawaban yang tepat
a. Khas/Jarang dijumpai
b. Berperan dalam interaksi plantae dan Animalia
c. Pelindung alam
d. Nilai estetis
e. Nilai ekonomi potensial
f. Pelindung pantai
g. Bernilai Kuantitas

(9) Menurut taksonomi, ekologi terbagi atas...
Pilihlah satu jawaban yang tepat
a. Ekologi Serangga, Ekologi Mikroba, Ekologi Hutan
b. Ekologi Hewan, Ekologi Padang Rumput, Ekologi Terestrial
c. Ekologi Mikroba, Ekologi Laut, Ekologi Hewan
d. Ekologi Rawa, Ekologi Mikroba, Ekologi Tumbuhan
e. Ekologi Tumbuhan, Ekologi Mikroba, Ekologi Hewan

(10)

Satu/suatu individu dari satu/suatu jenis adalah...

Jawaban: ……………….

(11) Yang berperan sebagai organisme autotrof (dapat membuat makanan sendiri) dalam rantai
makanan dan jaring-jaring makanan adalah...
Jawaban: ……………….

(12) Interaksi di dalam ekosistem, ketika dua organisme sama-sama merasakan kerugian, disebut
dengan ...
Jawaban: ……………….

(13) Sumber daya alam yang tetap tersedia untuk waktu-waktu yang akan datang, merupakan salah satu
dari prinsip ekosistem, yaitu...
Jawaban: ……………….

(14) Pilihlah semua jawaban benar terkait dengan tiga peran penting yang membentuk rantai makanan
dan jaring-jaring makanan adalah...
a. Konsumen
b. Herbivora
c. Dekomposer
d. Karnivora
e. Produsen
f. Energi
g. Autotrof
h. Mineral

(15) Interaksi di dalam ekosistem yang terjadi diantara 2 organisme, dimana satu untung dan satu rugi,
tapi tidak mati, disebut dengan...
Pilihlah satu jawaban yang tepat
a. Predasi
b. Parasitisme
c. Mutualisme
d. Komensalisme
e. Amensalisme
f. Kompetisi

Kunci Jawaban kuis 1:

Nomor soal
1
2

3

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Jawaban
Bobot (%)
Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik
6,6
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Omnivora
Keterkaitan
Keberlanjutan
Ketergantungan
Keharmonisan
Keanekaan

6,6
7,6

Salah
Binaan/Buatan
Salah
Benar
Bernilai Kuantitas
Ekologi Tumbuhan, Ekologi Mikroba, Ekologi
Organisme
Hewan
Produsen
Kompetisi
Keberlanjutan
Produsen
Konsumen
Dekomposer
Parasitisme
TOTAL

6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
6,6
100

KUIS II
(1) Sesuai tingkatan hirarki makhluk hidup, maka gabungan beberapa ratusan atau ribuan sel
membentuk ...
(2) Semua komponen abiotik dan biotik di dalam ekosistem membentuk jaringan interaksi yang ...

(3) Ekosistem hutan produksi kayu merupakan ekosistem alami.
Benar atau Salah pernyataan tersebut?

(4) Gambar ini menunjukkan salah satu nilai ekosistem yang memiliki nilai ...
a. tangkapan ikan
b. keuntungan potensial
c. estetis
d. ekonomi
e. ekowisata

(5) Tumbuhan Tali Putri adalah jenis tumbuhan berbunga yang selalu harus hidup pada tumbuhan
inang. Ini merupakan contoh nyata dari interaksi yang bersifat ...

(6) Nama ilmiahnya adalah Alisma plantago-aquatica
Jika dilihat dari bentuknya, maka jenis tumbuhan air ini dalam ekosistem dapat memiliki nilai ...

(7) Perhatikan gambar ini!
Jenis interaksi yang terjadi antara penyu dan ikan-ikan
kecil tersebut, adalah jenis interaksi yang disebut
dengan ...

(8) Perhatikan beberapa gambar tersebut!
Gambar-gambar tesebut merupakan contoh tingkatan hirarki makhluk hidup pada level ...

(9) Dalam rantai makanan, Burung Pelikan berposisi sebagai
konsumen tingkat satu atau konsumen primer.
Benar atau Salah pernyataan tersebut?

(10)
Elang Botak (Haliaeetus leucocephalus) adalah
konsumen puncak dalam suatu ekosistem.
Suatu saat, terjadi penurunan populasi Ikan Salmon
yang merupakan salah satu makanan dari Elang Botak.
Beberapa waktu kemudian, populasi ikan jenis lain dan
jenis burung-burung yang berukuran kecil menjadi
meningkat, dan populasi Elang Botak menurun.
Dari pernyataan kasus tersebut, apakah itu merupakan kondisi yang benar dapat terjadi ataukah
salah ?

Kunci Jawaban kuis 2:

Nomor soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Jawaban
Jaringan
kompleks
Salah
Ekonomi
Parasitisme
Estetis
Komensalisme
Komunitas
Salah
Salah
TOTAL

Bobot (%)
10
5
10
5
12.5
5
12.5
12.5
12.5
15
100

KUIS III
(1) Sekelompok tanaman pepaya di
sebidang kebun belakang rumah
merupakan organisme.
Benar atau Salah pernyataan tersebut ?

(2) Suatu aquarium didalamnya terdapat
ikan-ikan mas, ikan pari, ikan hiu, dan
ikan-ikan lainnya. Serta juga terdapat
lumut, udara, pasir, tumbuhan paku
dan air. Maka aquarium itu dapat
disebut sebagai ...

(3) Hubungan antara lebah dan bunga
merupakan contoh dari interaksi ...

(4) Interaksi jenis apa yang terjadi ketika Beruang
memakan Ikan Salmon ...

(5) Perhatikan jaring-jaring makanan pada gambar tersebut!
Posisi kepiting bakau,
siput, udang & kerangkerangan berada pada
posisi
tingkat
konsumen yang sama,
oleh
karena
jenis
makanan mereka sama.
Berdasarkan
jenis
makanannya,
maka
kepiting bakau, siput,
udang
&
kerangkerangan
disebut
sebagai ...

(6) Perhatikan jaring-jaring makanan berikut ini !

Jika populasi laba-laba menurun
drastis, maka populasi yang akan
meningkat adalah populasi ...

(7) Perhatikan jaring-jaring makanan berikut ini !
Belalang memakan sebagian besar
tumbuhan yang ada, maka populasi
yang lebih dulu, pertama-tama
akan terancam adalah ...
Pilihlah satu atau lebih jawaban
yang tepat:
a. Burung Pemakan Biji
b. Kelinci
c. Tikus

(8) Terkait dengan teori homeostatis, tekanan populasi dapat menganggu ….. yang
terkait dengan tercapainya equilibrium

(9) Keseimbangan suatu ekosistem akan ditentukan oleh faktor yang paling minimum.
Benar atau salah pernyataan tersebut?

(10)

Tiga proses dalam siklus hidrologi adalah
Pilihlah tiga jawaban yang tepat!
a. Sedimentasi
b. Akumulasi
c. Hilirisasi
d. Dekomposisi
e. Aerasi
f. Evaporasi
g. Infiltrasi
h. Presipitasi

(11)

Perhatikan jaring-jaring makanan berikut ini

Spesies ikan di tingkat konsumen, yang dapat dikatakan perannya sebagai
salah satu spesies kunci dalam jaring-jaring makanan ini, adalah ...

(12)

Perhatikan jaring-jaring makanan berikut ini

Suatu saat, populasi berbagai jenis larva menjadi sangat cepat berkurang, namun
populasi tanaman-tanaman air berada dalam kondisi yang normal, yaitu tidak
menurun dan tidak meningkat juga populasinya. Maka, hal ini mengindikasikan
bahwa ada ledakan populasi salah satu pemangsa yang memicu populasi berbagai
jenis larva tersebut menjadi berkurang dengan cepat. Pemangsa itu adalah ...

(13)

Energi tidak bertambah dan hanya berubah bentuk.
Benar atau Salah pernyataan tersebut ?

(14)

Alga hijau, alga merah, alga coklat, diatom, lamun dan sejenisnya, dalam
ekosistem perairan memiliki peran utama ekologis sebagai ...

(15)

Dalam rantai makanan, proses aliran energi dan siklus materi menjadi
terbatas.
Benar atau Salah pernyataan tersebut ?

Kunci Jawaban kuis 3:

Nomor soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Jawaban
Salah

Bobot (%)
5

Ekosistem
Mutualisme
Predasi
 Omnivora = mendapat 2 dari 7 bobot
 Konsumen primer/tingkat 1 = mendapat 3 dari 7 bobot
 Dominan herbivora = mendapat 2 dari 7 bobot

5
7
7
7

Belalang
Burung pemakan biji
Kelinci

7
8

Daya dukung
Benar
Evaporasi
Infiltrasi
Presipitasi
Ikan Salmon
Kodok
Benar
Produsen
Salah

8
7
5

TOTAL

8
8
5
7
6
100

KUIS IV
Essay pemahaman mendalam
(1)

Ekosistem Terumbu Karang adalah ekosistem yang tingkat kerawanannya tinggi terhadap
perubahan-perubahan kualitas lingkungan yang terjadi.
Jelaskan tipologi ekosistem terumbu karang, penyebab-penyebab utama kerusakan ekosistem
dan bagaimana dampak yang akan terjadi ...

(2)

Ekosistem Kota adalah ekosistem yang memiliki banyak keterbatasan untuk meningkatkan
kualitas lingkungannya.
Jelaskan, permasalahan-permasalahan degradasi ekosistem yang terjadi di ekosistem kota,
beserta dampak yang ditimbulkan....

(3)

Kondisi Covid-19 yang sedang terjadi, adalah bukti nyata kesetimbangan ekosistem yang
terganggu.
Berdasarkan prinsip-prinsip ekosistem, jelaskan tentang kesetimbangan ekosistem yang
terganggu, hingga berdampak pada pandemi Covid-19 yang sedang dialami saat ini...
NB: teks jawaban akan diuji simililaritas untuk mengetahui apakah jawaban disalin dari blog, jurnal
maupun sumber-sumber internet yang lain. Harap memberikan jawaban sesuai pemahaman anda
terhadap materi 1 hingga 7.
Panduan Penilaian kuis 4:
Nomor
Soal

Bobot
(%)

1

25

2

25

Panduan Penilaian
Soal nomor 1 & 2 tidak dijelaskan mendetail jawabannya di handbook, namun di video
interaktif diberikan penjelasan yang cukup komprehensif dan holistik terkait ini. Selain itu
dibahas juga saat ceramah perkuliahan.
Jawaban mahasiswa diteliti apakah mahasiswa menyalin seratus persen yang mereka
dengarkan ataukah ada kajian mendalam yang mereka lakukan atau mereka tambahkan.
Jika ada, ini berarti mahasiswa tersebut turut membaca berbagai sumber lain selain bahanbahan kuliah yang diberikan.
Harap memperhatikan juga hasil uji iThenticate & turnitin dari jawaban mahasiswa.
Fokus pada pengembangan analisis dengan menggunakan teori-teori dasar Ekologi yang
dilakukan oleh mahasiswa.
Semua jawaban mahasiswa dibaca & dianalisis terlebih dahulu, kemudian sekaligus
menentukan skor untuk semua mahasiswa
Ini merupakan soal khusus yang tidak dijelaskan di handbook maupun di video. Pada
ceramah perkuliahan, ada pertanyaan terkait ini.
Jawaban mahasiswa diteliti apakah hanya menjelaskan permukaannya saja, atau ada
keterkaitan holistik yang dibahas, dan tentunya harus sesuai dengan teori dasar-dasar
Ekologi.

3

50
Fokus pada pengembangan analisis dengan menggunakan teori-teori dasar Ekologi yang
dilakukan oleh mahasiswa.
Semua jawaban mahasiswa dibaca & dianalisis terlebih dahulu, kemudian sekaligus
menentukan skor untuk semua mahasiswa

B. SOAL-SOAL KUIS INTERAKTIF VIDEO
Soal-Soal Interaktif Video 1
1. Oikos berarti...
Tempat Tinggal
Tempat Makan
Tempat Bernaung
Tempat Berkumpul

2. Ekologi mencakup rumah tangga...
Makhluk Hidup
Organisme
Animalia
Plantae

3. Makhluk hidup mencakup...
Mikroba, Tumbuhan, Hewan
Mikroba, Organisme, Hewan
Mikroba, Sel, Tumbuhan
Mikroba, Organisme, Populasi

4. Ekologi yang mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai kesatuan yang saling
berinteraksi dalam suatu daerah tertentu disebut...
Sinekologi
Autoekologi
Ekologi Manusia
Ekologi Hewan

5. Setangkai mawar, seekor kumbang, seorang anak, masing-masing adalah...
Organisme
Sel
Protoplasma
Populasi

6. Ekosistem menitikberatkan pada ....... antar makhluk hidup dengan lingkungan fisiknya
Interaksi
Harapan
Kualitas
Kuantitas

7. Organisasi makhluk hidup yang paling sederhana adalah...
Protoplasma
Organ
Jaringan
Populasi

8. Beraneka ragam organisme dan populasi membentuk...
Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman Gen
Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman Ekosistem

Soal-Soal Interaktif Video 2
1. Kelompok ekosistem binaan adalah…
Pedesaan, Perindustrian, Perkotaan, Pertambangan, Perkebunan
Pedesaan, Pemukiman, Hutan, Danau, Perkebunan
Perkotaan, Perkebunan, Padang Rumput, Pemukiman
Perkotaan, Pemukiman, Perindustrian, Padang Rumput

2. Prinsip-prinsip ekosistem adalah…
Keanekaan, Keterkaitan, Ketergantungan, Keharmonisan, Keberlanjutan
Keanekaan, Keberlanjutan, Kesenjangan, Keharmonisan, Keinteraksian
Keanekaan, Keinteraksian, Keberlanjutan, Ketergantungan, Keesaan
Keanekaan, Keharmonisan, Kesatuan, Keterkaitan, Keberlanjutan

3. Salah satu kaidah ekosistem adalah…
Crucial inter relationship
Crucial none relationship
Crucial multi relationship
Crucial double relationship

4. Interaksi-interaksi dalam ekosistem adalah…
Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Amensalisme, Predasi, Kompetisi
Mutualisme, Komensalisme, Intersitisme, Amensalisme, Predasi, Kompetisi
Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Abionsalisme, Predasi, Kompetisi
Mutualisme, Komensalisme, Porositisme, Amensalisme, Predasi, Kompetisi

5. Menurut Odum, ada 2 jenis rantai makanan, yaitu…
Grazing Food Chain & Detritus Food Chain
Grape Food Chain & Detritus Food Chain
Grazing Food Chain & Detrotus Food Chain
Graping Food Chain & Detritus Food Chain

Soal-Soal kuis interaktif video 3
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Siklus biogeokimia melibatkan pertukaran antara dua komponen yaitu *abiotik* dan *biotik*
2. Siklus biogeokimia memiliki mekanisme umpan balik yang terus diatur secara mandiri hingga
terbentuknya suatu *keseimbangan*
3. Ketika uap air yang mengalami kondensasi sudah jenuh dan turun dari atmosfer ke permukaan bumi,
maka hal itu disebut dengan *presipitasi*
4. Jumlahnya tetap, tidak berubah, tidak dapat ditambah ataupun dikurangi. Hal tersebut adalah *energi*
5. Energi yang tersisa dan tidak terpakai disebut *entropi*

Soal-Soal kuis interaktif video 4
Bagian 1
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Saat pohon-pohon di hutan hujan tropis ditebang, maka akan terbentuk *bercak* , sehingga cahaya
matahari dapat menembus sampai ke lantai hutan.
2. Lantai hutan yang tertembus oleh cahaya matahari, akan mengalami peningkatan *suhu* , dan
penurunan *kelembaban*

Bagian 2
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Biota-biota yang hidup di ekosistem mangrove dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu di bagian
*bawah* substrat, di *substrat* dan di *atas* substrat.
2. Fungsi ekosistem mangrove, terbagi menjadi 3 fungsi, yaitu secara *fisik* , *biologi* dan *ekonomi*

Bagian 3
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Karang yang dapat membentuk kapur atau yang dapat menghasilkan terumbu (reef), disebut dengan
karang *hermatifik*
2. Bahan aktif di dalam kapur yaitu senyawa dominan yang terdapat di karang adalah *kalsium karbonat*

Bagian 4
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
Disamping adanya pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur yang memadai, maka di ekosistem kota juga terjadi
peningkatan perubahan *bentang alam* , *konversi lahan* , dan meningkatnya volume *sampah* serta
pencemaran.

Soal-Soal kuis interaktif video 5
Bagian 1
Benar atau Salah pernyataan ini
Secara Ekologi, mengkonversi lahan gambut menjadi sawah adalah hal yang baik dan sejalan.
Salah

Bagian 2
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Pemicu utama degradasi ekosistem adalah *populasi manusia* yang meningkat
2. Dengan demikian, *kebutuhan* menjadi meningkat, yang mengarah pada pemanfaatan sumber daya
yang berlebihan, dan lain-lain

Soal-Soal kuis interaktif video 6
Bagian 1
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. *daya dukung lingkungan* tidak sebanding dengan *jumlah manusia* , adalah salah satu contoh
permasalahan di ekosistem kota.
2. Perluasan wilayah *tambak* , merupakan salah satu ancaman bagi ekosistem *lahan basah*

Bagian 2
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
1. Ekosistem yang dapat dikatakan stabil adalah ekosistem *hutan hujan tropis*
2. Ekosistem yang memiliki tingkat kerawanan paling tinggi yaitu ekosistem *terumbu karang*

Soal-Soal kuis interaktif video 7
Isilah bagian yang kosong dengan jawaban yang benar
Setiap aktivitas menimbulkan *dampak*
Minimalisasi *dampak negatif*
Maksimalisasi *dampak positif*

Highlight kuning jawaban yang benar. Sistem di EMAS akan otomatis mengacak jawaban

Judul: Panduan Soal-soal Kuis Penyeragaman Persepsi Ekologi

Oleh: Hg Saiya


Ikuti kami