Makalah Tinjauan Akuntansi Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh Rose Melia Serly

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Tinjauan Akuntansi Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Tinjauan terhadap Ilmu Keperilakuan :
Dalam Perspektif Akuntansi
Mata kuliah : Akuntansi Keperilakuan
Dosen Pengampu : Wirmie Eka Putra, S.E, M.Si

Disusun
oleh:
Rose Melia Serly
NIM: C1C018154

PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN AJARAN 2020/2021

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, saya mengucapkan rasa syukur sebanyak banyaknya ke
pada Allah swt, karena telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam
menyelesaikan penulisan Makalah Akuntansi keperilakuan dengan judul
“Tinjauan terhadap Ilmu Keperilakuan : Dalam Perspektif Akuntansi”
dengan baik dan tepat waktu.
Dan tak lupa pula saya, mengucapkan banyak terima kasih terutama
kepada orang tua saya yang selalu mendoakan saya sehingga saya dapat
menyelesaaikan makalah. Serta Dosen pengampu saya yang telah membimbing
dan memberikan arahan.
Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan harapan semoga
makalah ini dapat bermanfaat untuk orang banyak, dan dapat dipergunakan
sebaik mungkin, apabila dapat kesalahan penulisan saya mohon maaf. Terima
kasih.
Jambi,

Penyusun

i

september 2020

DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………….………......... i
Daftar Isi…………………………………………………………………….……….............. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………....1
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………………..........1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Dimensi Akuntansi keperilakuan..........................................................................3
2.2 Lingkup dan sasaran hasil dari ilmu keperilakuan................................................4
2.3 Lingkup dan sasaran hasil dari akuntansi keperilakuan........................................5
2.4 Beberapa hal penting dalam perilaku organisasi...................................................7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….....14
3.2 Saran………………………………………………………………………….......14
Daftar Pustaka………………………………………………………………….…….............15

ii

BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Perkembangan

akuntansi

sangatlah

pesat

sejalan

dengan

perubahan

lingkungan bisnis dan perkembangan teknologi. Zaman dahulu sudah mulai mengenal
akuntansi, namun hitung menghitungnya dalam bentuk sangat sederhana. Sekarang
akuntansi sangatlah maju sehingga ada penambahan pada sistem pencatatan,
pengikhtisaran, dan pelaporan dari proses transaksi akuntansi. Akuntansi adalah Alat
yang digunakan untuk menghasilkan sistem informasi keuangan yang digunakan oleh
pemakainya sebagai proses dalam pengambilan keputusan. Peran manusia sekarang
ini adalah menganalisis permasalahan yang kompleks. Dengan berkembangannya
teknologi, juga mempengaruhi pekembangan komputerisasi akuntansi yang dapat
menyediakan informasi dengan cepat. tetapi seberapa canggih nya teknologi yang
tersedia, akuntansi tidak lepas dengan bagaimana seorang akuntan dapat menerapkan
aspek keperilakuan dalam mengalokasikan sumber daya dan prodesur yang ada
dengan baik unuk aktivitas bisnis dan ekonomi. Efektivitas yang ada dalam organisasi
bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang yang ada didalmnya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah bentuk dari dimensi Akuntansi keperilakuan?
2. Apa saja lingkup dan sasaran hasil dari ilmu keperilakuan dan akuntansi
keperilakuan?
3. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan antara ilmu keperilakuan dan akuntansi
keperilakuan?
1.3 TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui dimensi akuntansi keperilakuan
2. Untuk mengetahui lingkup dan sasaran hasil dari ilmu keperilakuan dan akuntansi
keperilakuan
3. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari ilmu keperilakuan dan akuntansi
keperilakuan

1

BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Mengapa Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan Pada Akuntansi
Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam menganalisis
permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu pula dengan kemajuan dalam
teknologi komputer akuntansi yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan
cepat. tetapi, seberapa canggih pun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat
disediakan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir.
Kesempurnaan teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk mengetahui
bahwa tujuan jasa akuntansi organisasi bukan hanya sekadar teknik yang didasarkan
pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan bergantung pada
bagaimana perilaku orang-orang didalam perusahaan, baik sebagai pemakai maupun
pelaksana.
1.1.1

Akuntansi Adalah tentang manusia
Berdasarkan pemikiran perilaku, manusia dan faktor sosial
secara jelas didesain dalam aspek-aspek operasional utama dari seluruh
sistem akuntansi.
Dalam pandangan ini, pengertian yang lebih mendalam danz
berharga dapat diperoleh dari pemahamana atas perilaku dan ilmu-ilmu
sosial.

1.1.2

Akuntansi adalah tindakan
Keselarasan tujuan (goal congruense) antara individu dan
organisasi diperlukan untuk mewujudkan terjadinya sinergi antara
individu dan organisasi. Bagaimana keselarasan tujuan tersebut
muncul, jawaban atas pertanyaan tersebut oleh sebagian akuntan
diyakini berada pada aspek akuntansi, sehingga akuntansi dapat
menjadi salah sau kuncinya.

2

1.2

Dimensi Akuntansi Keperilakuan
1.2.1

Lingkup akuntansi keperilakuan
Akuntansi keperilakuan berada dibalik peran akuntansi
tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur, mencatat, dan
melaporkan informasi keuangan dengan demikian dimensi akuntansi
berkaitan dengan perilaku manusia dan juga dengan desain, kotruksi
serta penggunaan suatu sistem informasi akuntansi yang efisien.
Ruang lingkup akuntansi keperilakuan sebagai berikut:
1. aplikasi dari konsep ilmu keperilakuan terhadap desain dan
kotruksi sistem akuntansi.
2. Studi reaksi manusia terhadap format dan isi laporan akuntansi
3. Cara dengan mana informasi diproses untk membantu dalam
pengambilan keputusan
4. Pengembangan teknik pelaporan yang dapat mengkomunikasikan
perilaku yang pemakai data.
5. Pengembangan strategi untuk memotivaisi dan memengaruhi,
perilaku, pemakai data, serta tujun dari orazng –oranzg yazng
menjalankanorganisasi.

1.2.2

Akuntansi keperilakuan : Perluasan logis dari peran akuntansi
Tradisional
Dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan
akuntaznsi akan dapat menjadi lebih baik jika laporan tersebut
mengandung informasi relevan. Akuntan ini mengakui adanya fakta ini
melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan penuh
(full disclosure). Bentuk lanjut dari gambaran ekonomi suatu
perusahaan

secara

logis

memerlukan

aplikasi

dari

prinsip

pengungkapan penuh. Untuk itu, diperlukan suatu masukan informasi
keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain yang
segera dilaporkan. Sukar untuk dipahami jika dikatakan bahwa
pengambil keputusan tidak tertarik terhadap informasi tambahan yang
relevan karena menganggap bahwa informasi tersebut tidak memiliki
nilai tambah. Surat kabar bisnis, newslatter, dan majalah bisnis lainnya
sering melaporkan mengenai filosofi manajerial perusahaan, moral
untuk mengukur para manajer tingkat menengah, keberhasilan relatif
3

dari pendekatan inovatif terhadap manajemen operasional, dan
pandangan serta aktivitas manajerial pada masalah operasi, laba,
negoisasi pekerja, serta sikap terhadap kekuatan dalam pekerjaan.
Tekanan-tekanazn atas bisnis juga memberikan informasi mengenai
implikasi dari gejala keperilakuan ini terhadap keberhasilazn
perusahaan dimasa depan. Tekanan yazng bersumber dari laporazn
keuangan perusahaan juga didasarkan pada implikasi dari fenomena
keperilakuan bagi keberhasilan organisasi dimasa depan.
Oleh karena itu, para akuntan yang berkualitas akan memilih
gejala keperilakuan untuk melakukan penyelidikan, karena mereka
mengetahui bahwa data keperilakuan sangat berarti untuk melengkapi
data keuangan. Lebih lanjut lagi, para akuntan menjadi satu-satunya
kelompok

secara

logis

mampu

mengikutsertakan

informasi

keperilakuan ke dalam laporan keuangan bisnis yang ada.
1.3

Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan
Siegel dan Marcony (1989) menulis bahwa pada laporan tahun 1971,
American accounting of the associaton’s curriculum mengembangkan lingkup
dazn definisi dari “ilmu keperilakuan”sebagai berikut:
Istilah ilmu keperilakuan adalah penemuan yang relatif baru. Konsep
tersebut begitu luasnya sehingga lebih baik lingkungan isinya digambarkan
dari awal. Ilmu keperilakuan mencakup bidang riset manapun yazng
mempelajari, baik melalui metode eksperimentasi maupun observasi, perilaku
dari manusia dalam lingkungan fisik maupun sosial.
Tujuan

utama

dari

ilmu

perilaku

manusia

adalah

untuk

mengidentifikasikan kebiasaan yazng medasari manusia dan konseksuensi
yang di timbulkannya. Kedua, riset tersebut harus dilakukazn “secara ilmiah”.
Hal ini berarti bahwa harus ada suatu usaha sistematis untuk menggambarkan,
menghubungkan, menjelaskan, dan oleh karena itu memprediksikan
sekelompok fenomena; yaitu, kebiasaan yang mendasari dalam perilaku
manusia harus dapat diobservasi atau mengarah pada dampak yang dapat di
observasi.

4

Bernard Berelson dan G.A Stainer juga menjelaskan secara singkat
mengenai definisi keperilakuan, yaitu sebagai suatu riset ilmiah yazng
berhadapan secara langsung dengan perilaku manusia. Definisi ini menangkap
permasalahan inti dari ilmu keperilakuan, yaitu riset ilmiah(scientific
research) dan perilaku manusia (human behavior).
Ilmu keperilakuan adalah bagian dari ilmu sosial manusia. Ilmu sosial
meliputi disiplin antropologi, ekonomi, sejarah, politik, psikologi, dan
sosiologi. Ilmu keperilakuan meliputi psikologi dan sosiologi, aspek ekonomi
keperilakuan dan ilmu pengetahuan politik, serta aspek antropologi
keperilakuan.
1.4

Lingkup dan sasaran hasil dari hasil akuntansi keperilakuan
Para akuntan keperilakuan melihat kenyataan bahwa perusahaan yazng
melakukan penjualan terlebih dahuluu mempertimbangkan perilaku juru tulis
yang mencatat pesanan pelanggazn melalui telepon. Para juru tulis tersebut
harus menyadari bahwa tujuan mereka melakukan pekerjaan itu adalah untuk
kelangsungan hidup organisasi. Tanggung jawab mereka menjangkau ke luar
pengumpulan dan pengukuran data yang sederhana untuk meliputi persepsi
dan penggunaan laporan akuntansi oleh orang lain.

1.5

Persamaan dan perbedaan Ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan
Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi
keperilakuan manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara k
eperilakuan manusia dengan akutansi. Sementara ilmu keperilakuan
merupakan bagian dari ilmu social, akuntansi keperilakuan merupakan bagian
darii ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan.
Akuntansi keperilakuan diterapkan dengan praktis menggunakan riset
ilmu keperilakuan untuk menjelaskan dan memprediksikan perilaku manusia.
Akuntansi selalu menggunakan konsep, prinsip, dan pendekatan dari disiplin
ilmu lainnya untuk meningkatkan kegunaannya.
Akutansi adalah suatu profesi, dan sangat diinginkan agar paraakuntan
menjadi terlatih untuk memikirkan tindakan secara professional.

5

1.6

Perspektif berdasarkan perilaku manusia : Psikolog, sosiologi, dan
Psikologi social
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha untuk
mengukur, menjelaskan, dan terkadang untuk mengubah perilaku manusia.
Para psikolog industry atau organisasi awal memerhatikan masalah
kelemahan, kebosanan, dan factor-faktor lain yang relevan dengan kondisi
kerja yang dapat menghalangi kinerja kerja yang diharapkan.
Sedangkan sosiologi memperlajari orang-orang dalam hubungannya
dengan sesame manusia. Secara spesifik, sosiologi telah memberikan
kontribusi yang besar pada perilaku organiasi melalui studi mereka terhadap
perilaku kelompok dalam organisasi, terutama organisasi yang formal dan
relative rumit.
Psikologi social adalah suatu bidang kajian di dalam psikologi, tetapi
memadukan konsep-konsep baik dari psikologi maupun sosiologi. Psikologi
social memfokuskan pada pengaruh satu-satunya terhadap orang lain. Salah
satu bidang utama adalah bagaimana melaksanakan pengaruh tersebut dan
bagaimana mengurangi hambatan terhadap penerimaanya. Disampingitu,
dapat dilihat bahwa para psikologi social memberikan sumbangan yang berarti
dalam

bidang

pengukuran,

pemahaman

dan

perubahan

sikap,

polakomunikasi,cara-cara dengan mana kegiatan kelompok dapat memuaskan
kebutuhan individu, serta proses pengambilan keputusan kelompok.
Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi,dan psikologi sosial
menjadi kontributor utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan
pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia, walaupun
secara keseluruhan mereka memiliki perspektif yang berbeda mengenai
kondisi manusia. Psikologi terutama merasa tertarik dengan bagaimana cara
seorang individu bertindak. Fokusnya didasarkan pada tindakan orang-orang
ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam lingkungan mereka, dan
perilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya dengan ciri, arah, dan motivasi
individu.
Dari pihak lain, sosiologi dan psikologi sosial memusatkan perhatian
pada perilaku kelompok sosial. Penekanan keduanya adalah pada interaksi
antara orang-orang dan bukan pada ransangan fisik. Perilaku diterangkan
dalam hubungannya dengan ilmu sosial, pengaruh sosial, dan ilmu dinamika
6

kelompok. Suatu usaha dilakukan untuk memahami bagaimana pemikiran,
perasaan, dan tindakan seseorang dipengaruhi oleh hal nyata, bayangan, atau
tambahan kehadiran dari yang lain.
Ada banyak faktor kompleks yang terkait dengan perilaku manusia.
Faktor ini dikelompokka dalam tiga kategori utama:
1. Struktur karakter
Mengacu pada ciri kepribadian, kebiasaan, dan perilaku individu.
2. Struktur sosial
Menunjukkan

beberapa

hubungan

diantara

orang-orang

yang

mencakup ekonomi, politik, militer, dan kerangka kerja relijius yang
menggambarkan perilaku yang bisa diterima.
3. dinamika politik
Ilmu dinamika kelompok dapat dipandang sebagai suatu sintesa atau
kombinasi struktur karakter dan struktur sosial, yang mengacu pada
pengembangan interaksi pola manusia, proses dari interaksi sosial, dan
hasil yang berhubungan dengan interaksi tersebut. Keterlibatan
psikolog sosial dalam studi ilmu dinamika kelompok sangatlah
dirasakan.
1.7 Beberapa hal penting dalam perilaku organisasi
Ilmu perilaku organisasi dikembangkan dengan menggunakan konsep-konsep
umum dan kemudian mengubah penerapannya pada situasi tertentu. Jadi, misalnya
saja, pakar perilaku organisasi akan menghindari pernyataan bahwa pemimpin efektif
hendaknya selalu mencari ide-ide dari anak buahnya sebelum mengambil keputusan.
Sebagai gantinya, mereka mengatakan bahwa dalam beberapa situasi, gaya
pasrtisipatif jelas unggul, tetapi kata lain, efektivitas dari suatu gaya kepemimpinan
tertentu bergantung pada situasi dimana gaya tersebut dimanfaatkan
Teori-teori perilaku organisasional mencerminkan inti yang ditangani oleh
teori-teori tersebut. Manusia bersifat kompleks dan rumit, demikian pula teori-teori
yang dikembangkan untuk menjelaskan tindakan-tindakannya.
7

1. Teori peran
Peran digambarkan secara sederhana sebagai bagian dari orang-orang
yang berinteraksi satu sama lain. Peranan sosial menggamabrkan hak atau
kebenaran, tuags-tugas, kewajiban, dan perilaku yang sesuai dengan oangorang yang memegang posisi tertentu dalam konteks sosial tertentu. Peran
membedakan perilaku dari orang yang menduduki posisi organisasi tertentu
dan berfungsi untuk mempersatukan kelompok dengan memperlengkapi
spesialisasi dan fungsi koordinasi.
Peran merupakan komponen perilaku nyata yang disebut norma.
Norma-norma adalah harapan dan kebutuhan perilaku yang sesuai untuk suatu
peranan tertentu. Satu aspek pentiing dari teori peran adalah bahwa identitas
dan perilaku dianugrahkan secara sosial kepada dukungan sosial. Posisi
seseorang yang menduduki suatu organisasi formal atau suatu kelompok
informal membawa pola perilaku bersama yang diharapkan.
2. Struktur sosial
Studi keperilakuan manusia yang sistematiss bergantung pada dua
fakta. Pertama, orang-orang bertindak secara teratur dan dengan pola yang
berulang. Kedua, orang-orang tidak mengisolasikan bentuk, tetapi mereka
saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Untuk mencakup sejumlah aturan dalam perilaku manusia, konsep
masyarakat dan budaya perlu dipertimbangkan. Masyarakat mungkin
digambarkan sebagai penjumlahan dari total hubungan manusia. Didalam
sistem sosial ini, masih ada subsistem dan kelompok manusia yang paling
berhubungan dan menarik perhatian para akuntan keperilakuan.
Memasukkan struktur sosial yang mengacu pada hubungan yang
dipolakan antara berbagai subsistem sosial dan individu memungkinkannya
berfungsi bagi masyarakat, organisasi sosial, atau kelompok sosial.

8

3. Budaya
Budaya merupakan satu titik pandang yang pada saat yang bersamaan
dijadikan jalan hidup oleh suatu masyarakat. Budaya memengaruhi pola
teladan perilaku manusia yang teratur karena budaya menggambarkan perilaku
yang sesuai untuk situasi tertentu. Aspek budaya yang terpenting adalah
memastikan kehidupan manusia baik secara fisik maupun secara sosial.
Manusia adalah makhluk budaya. Dengan demikian, seseorang
akuntan perilaku harus menyadari akan gagasan untuk budaya. Untuk
memahami perilaku dalam suatu organisasi, seorang akuntan keperilakuan
harus menyadari gagasan mengenai budaya. Dalam beberapa peristiwa budaya
organisasi dikenal sebagai suatu lingkungan pekerjaan yang mewujudkan
iklim organisasi. Dalam budaya bisnis akan berlaku sistem etika bisnis, praktik
bisnis, pengetahuan teknis, dan perangkat keras yang memengaruhi perilaku.
Budaya telah didefinisikan dengan berbagai cara, namun sampai
sekarang belum dapat ditentukan definisinya secara pasti. Budaya merupakan
norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku organisasi. Budaya
dapat dipecah menjadi tiga faktor mendasar, yaitu struktural, politis, dan
emisional. Faktor struktural ditentukan oleh ukuran-ukuran, seperti umur dan
sejarah perusahaan, tempat operasi, serta lokasi geografis perusahaan dalam
satu jenis industri. Faktor politis ditentukan oleh distribusi kekuasaan dan cara
pengambilan keputusan manajerial. Sedangkan faktor emosional merupakan
pemikiran kolektif, kebiasaan, sikap, perasaan, dan pola pola perilaku.
Menurut Reynold (1986), praktik-praktik yang dilakukan oleh anggota
dari suatu budaya juga perlu diamati karena praktik itu menggambarkan
manifestasi dari nilai-nilai budaya tersebut. Hofstede, dkk (1990) menyatakan
bahwa nilai-nilai budaya dapat dimanifestasikan dalam berbagai pilihan
perilaku. Lebih lanjut lagi, Hofstede, dkk.(1990) menjelaskan bahwa ada dua
jenis praktik organisasi yang ditimbulkan dan menghasilkan nilai-nilai budaya.
Kedua jenis praktik tersebut adalah proses seleksi dan proses sosialisasi.
Sedangkan menurut Robbin (1996), budaya organisasi adalah suatu persepsi
bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu, sehingga persepsi
tersebut menjadi suatu sistem dan makna bersama diantara para anggotanya.
9

Hofstede (1996) dalam artikelnya yang berjudul An American in
Paris : The Influnce of Nationality on Organization Theories menyatakan
antara lain bahwa bagi orang prancis kekuasaan adalah sangat penting, maka
analisis organisasi maupun ilmu sosial selalu dimulai berdasarkan konsep
kekuasaan.
Untuk memahami perbedaan antar bangsa, Hofstede dalam Mas’ud
(2002) menggunakan kerangka berpikir yang dinamikan dimensi budaya
nasional. Menurut Hofstede (1980, 1991), ada empat dimensi budaya nasional
sebagai berikut:
1. Jarak kekuasaan (power distance), yaitu sejauh mana orang percaya
bahwa kekuasaan dan status didistribusikan secara tidak merata dan
bagaimana orang menerima distribusi kekuasaan yang tidak merata
tersebut sebagai cara yang tepat untuk mengorganisasikan sistem sosial.
2. Penghindaran ketidakpastian (uncertain avoindance), yaitu sejauh mana
orang merasa terancam dengan keadaan yang tidak tentu (tidak pasti) atau
tidak diketahui.
3. Maskulinitas dan feminitas (masculinitas and femininity)
maskulinitas adalah suatu situasi yang ditandia dengan adanya nilai-nilai
yang dominan dalam

masyarakat,

yang lebih menekankan

dan

mementingkan uang, harta benda, atau materi.
Femininity adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai-nilai yang dominan
dalam masyarakat, yang lebih menekankan pada pentingnya hubungan
antar manusia.
4. individualisme dan kolektivisme (individualisme and collectivism)
individualisme adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam suatu
masyarakat, yang cenderung untuk memerhatikan dirinya sendiri dan
keluarga dekatnya saja.
Kolektivisme adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam
masyarakat, yang cenderung untuk merasa memiliki ikatan yang kuat
dengan satu kelompok yang berbeda dengan kelompok lainnya. Orang
dalam suatu kelompok cenderung memedulikan dan melindungi
anggotanya, dan mengharapkan kesetiaan terhadap kelompok tersebut.

10

4. komitmen organisasi
Komitmen organisasi merupakan tingkat sampai sejauh mana seorang
karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya,
serta berniat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi itu.
Robbinson(1996) mengemukakan bahwa komitmen karyawan pada
organisasi merupakan salah satu sikap yang mencerminkan perasaan suka
atau tidak suka seorang karyawan terhadap organisasi tempat dia bekerja.
Tiga karakterisktik yang berhhubungan dengan komitmen organisasi
menurut Cherrington (1996) adalah :
1. keyakinan dan penerimaan yang kaut terhadap nilai dan tujuan
organisasi
2. kemauan untuk sekuat tenaga melakukan yang diperlukan untuk
kepentingan organisasi
3. Keinginan yang kuat untuk menjaga keanggotaan dalam organisasi.
Sementara, Aranya, dkk (1980) mendefinisikan komitmen organisasi
sebagai:
1. suatu kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan serta nilainilai dari organisasi dan atau profesi
2. suatu kemauan untuk melakukan usaha yang sungguh-sungguh guna
kepentingan organisasi dan atau profesi.
3. suatu keinginan untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi dan
atau profesi.
5. Konflik peran
Menurut Wolfe dan Snoke (1962), konflik peran timbul karena adanya
dua “perintah” berbeda yang diterima secara bermasaan dan pelaksanaan atas
salah satu perintah saja akan mengakibatkan diabakannya perintah yang lain.
Apabila seorang profesional bertindak sesuai dengan kode etik, maka
ia akan merasa berperan sebagai karyawan perusahaan yang baik. Sebaliknya,
apabila ia betindak tidak sesuai dengan prosedur yang ditentukan oleh
perusahaan, maka ia akan merasa merasa telah bertidak secara tidak
profesional. Kondisi seperti inilah yang disebut konflik peran : yaitu suatu

11

konflik yang timbul karena mekanisme pengendalian birokratis organisasi
yang tidak sesuai dengan norma, aturan, etika, dan kemandirian profesional.
Konflik peran merupakan suatu gejala psikologi yang dialami oleh
anggota organisasi, yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja
dan berpotensi untuk menurunkan motivasi kerja.
6. Konflik kepentingan
Gagasan Max Weber (1864-1920). Weber menjelaskan bahwa jika suatu
organisasi ingin mencapai tujuannya secara efektif, maka organisasi tersbut harus
dirancang sedemikian rupa dengan birokrasi dan karakteristik berikut: 1)pembagian
kerja, 2) hierarki wewenang yang jelas, 3)prosedur seleksi yang normal, 4) peraturan
yang rinci, dan 5) hubungan yang tidak didasarkan pada hubungan pribadi.
Disamping itu, menurut prinsip manajemen yang dikemukakan oleh Henry
Fayol (1914), yakni prinsip no.6, kepentingan pribadi adalah kelompok harus tunduk
kepada kepentingan organisasi secara keseluruhan.
7. Pemberdayaan karyawan
Mas’ud (2002) menuliskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendorong
organisasi dalam melaksanakan pemberdayaan. Beberapa diantaranya adalah tuntutan
pelanggan yang semakin tinggi terhadap kualitas produk maupun layanan, jaminan
keamanan, perlindungan konsumen, persaingan dalam efisisensi dan inovasi produk,
penggunaan teknologi baru yang canggih, peraturan pemerintah dan lain sebagainya.
ada banyak definisi atau pengertian dari para ahli, namun ada kesamaan dalam hal
maksud dilakukannya pemberdayaan dalam organisasi, yaitu antara lain untuk:
1.

Meningkatkan motivasi guna mengutangi kesalahan dan mendorong karyawan
untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya.

2.

Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi

3.

Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa

4.

Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mendekatkan karyawan terhadap
pelanggan, sehingga karyawan dapat melayani dengan lebi baik.

5.

Meningkatkan kesetiaan dan pada saat yang sama mengurangi tingkat
kemangkira
12

6.

Mendorong kerja sama yang lebih baik dengan sesama reka keja dalam
meningkatkan pengawasan dan produktivitas

7.

Mengurangi tugas pengawasan (pengendalian)dari manajemen menengah
dalam pekerjaan operasional sehari-hari, sehingga para manajer lebih
mempunyai waktu dan perhatian terhadap masalah-masalah yang lebih besar

8.

Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan menghadapi perubahan sukses,
dan tuntutan persaingan

9.

Meningkatkan daya saing bisnis

13

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Tujuan ilmu keperilakuan adalah memahami, menjelaskan dan memprediksi
tingkah laku manusia. Dan dalam membentuk secara umum mengenai perilaku
maznusia harus dikumpulkan melalui bukti empiris yang dikumpulkazn secara
impersonal dengan prosedur yang terbuka.
Menurut Bernard Berelson dan GA Steiner mengenai ilmu keperilakuan
adalah “penelitian ilmiah sangat berkaitan langsung dengan tingkah laku manusia”.
Hal ini mencerminkan dua hal yang menonjol dari ilmu keperilakuazn yaitu penelitian
ilmiah dan perilaku manusia.
Ilmu keperilakuan adalah “sisi kemanusiaan”dari ilmu sosial. Dikarenakan
ilmu social termasuk disiplin antropologi, ekonomi, sejarah, ilmu politik, psikolog dan
sosiologi.
Perilaku akuntan focus pada hubungannya perilaku manusia dan system
akuntansi. Proses akuntansi dipengaruhi oleh peristiwa ekonomi yang merupakan
hasil dari perilaku yang dilakukan oleh manusia. Perilaku ekonomi juga dapat
merancang system informasi yang dapat mempengaruhi motivasi karyawan, moral
maupun produktivitas. Perilaku akuntan juga paham bahwa laporan akuntansi
memiliki tujuan utama, yaitu untuk mempengaruhi perilaku untuk memotivasi suatu
tindakan yang akan diinginkan.
Ilmu perilaku adalah bagian dari ilmu social, dan akuntansi perilaku
merupakan bagian dari akuntansi dan ilmu perilaku. Artinya bahwa semuanya
mungkin terlibat dalam penelitian mengenai teori motivasi, stratifikasi social maupun
pembentukan sikap.
3.2 Saran
Harapan saya adalah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi orang banyak.
Untuk mewujudkan hal itu saya memerlukan beberapa saran perbaikan untuk makalah
ini, saran yang membangun untuk melengkapi apa yang kurang dalam makalah ini.
14

DAFTAR PUSTAKA
Arfan ihsan, 2009 “ Akuntansi keperilakuan”

15

Judul: Makalah Tinjauan Akuntansi Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh: Rose Melia Serly


Ikuti kami