Makalah Akuntansi Syariah Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Oleh Febri Wiranto

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Akuntansi Syariah Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH
“SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI
SYARIAH”

Dosen Pengampu :
Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.
Disusun
Oleh :
Febri Wiranto
(C1C018036)

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DANBISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2021/2022

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami panjatkan puji dan syukur atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami bisa
selasaikan makalah mengenai "SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI
SYARIAH”.
Makalah ini telah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan
pertolongan dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepda semua pihak yang
ikut berkontribusi di dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari seutuhnya bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu kami terbuka untuk menerima segala masukan dan
kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga kami bisa melakukan
perbaikan makalah ini sehingga menjadi makalah yang baik dan benar.
Akhir kata kami meminta semoga makalah mata Akuntansi Syariah ini
bisa memberi manfaat ataupun inspirasi pada pembaca.
Terima Kasih

Jambi, 11 Maret 2021

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
BABI:

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang...............................................................................................
B. RumusanMasalah..........................................................................................
C. TujuanPenulisan............................................................................................
.
BAB II: PEMBAHASAN
A. Perkembangan Awal Akuntansi..................................................................
B. Sejarah Akuntansi.......................................................................................
C. perkembangan akuntansi syariah.................................................................
D. prosedur dan istilah yang digunakan dalam akuntansi syariah....................
E. hubungan antara akuntansi modern dan akuntansi syariah .........................

BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan...............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akuntansi syariah pada dasarnya merupakan bentuk aplikasi dari
nilai-nilai islam sebagai suatu agama yang tidak hanya mengatur
masalah keimanan tetapi juga mengatur masalah kehidupan sehari-hari.
Sejarah lahirnya ilmu akuntansi syariah tidak terlepas dari
perkembangan Islam dan kewajiban mencatat transaksi non tunai.
Sebagaimana dalam firman Allah yang artinya: “Hai, orang-orang yang
beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah
seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar” (QS. AlBaqarah [2] : 282). Hal itu kemudian mendorong umat islam peduli
terhadap pencatatan dan menimbulkan tradisi pencatatan di kalangan
umat serta mendorong munculnya aktivitas kerjasama/partnership.
Begitu juga dengan kewajiban mengeluarkan zakat mendorong
pemerintah membuat laporan pertanggungjawaban periodik terhadap
baitul maal yang mereka kelola. Rasulullah SAW sendiri pada masa
hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa sahabat untuk
menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal”
(pengawas keuangan).
Akuntansi keuangan di dalam Islam harus memfokuskan pada
pelaporan yang jujur mengenai posisi keuangan entitas dan hasil-hasil
operasinya, dengan mengungkapkan apa saja yang halal dan haram.
Orang-orang yang bertugas harus menetapkan bagi akuntansi keuangan
aturan-aturan yang diperlukan demi melindungi hak-hak dan kewajiban
perorangan, dan menjamin pengungkapan yang memadai.
Sejarah dan pemikiran akuntansi syariah tidak dapat dilepaskan dari
perkembangan ekonomi islam termasuk nilai-nilai yang sesuai dengan
islam. Sedangkan di sisi lain akuntansi syariah sebagai cabang dari ilmu
akuntansi yang merupakan ilmu pengetahuan tentu harus melampaui
proses dan tahapan tertentu.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan awal akuntansi?
2. Bagaimana sejarah akuntansi?
3. Bagaimana perkembangan akuntansi syariah?
4. Bagaimana prosedur dan istilah yang digunakan dalam
akuntansi syariah?
5. Bagaimana hubungan antara akuntansi modern dan
akuntansi syariah?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui perkembangan awal akuntansi.
2. Untuk mengetahui sejarah akuntansi.
3. Untuk mengetahui perkembangan akuntansi syariah.
4. Untuk mengetahui prosedur dan istilah yang digunakan dalam
akuntansi syariah.
5. Untuk mengetahui hubungan akuntansi modern dan akuntansi
syariah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Awal Akuntansi
Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian
dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alam dan
perhitungan yang bersifat memiliki kebenaran absolut. Sebagian besar dari
ilmu pasti yang perkembangannya bersifat akumulatif, maka setiap penemuan
metode baru dalam akuntansi akan menambah dan memperkaya ilmu
akuntansi tersebut. Bahkan pemikir akuntansi pada awal perkembangannya
merupakan seorang ahli matematika Luca Paciolli dan Musa Al-Khawarizmy.
Penemuan

metode

baru

dalam

akuntansi

senantiasa

mengalami

penyesuaian dengan kondisi setempat, sehingga dalam perkembangan
selanjutnya, ilmu akuntansi lebih cenderung menjadi bagian dari ilmu social
(Social Science), yaitu bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari
fenomena keadaan masyarakat dengan lingkungannya yang bersifat relatif.
Perubahan ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu sosial lebih
disebabkan oleh factor-faktor perubahan dalam masyarakat yang semula
dianggap sebagai sesuatu yang konstan, misalnya transaksi usaha yang akan
dipengaruhi oleh budaya dan tradisi serta kebiasaan dalam masyarakat. Oleh
sebab itu, akuntansi masih ada ditengah-tengah pembagian ilmu pengetahuan
tersebut hingga kini. Bahkan mayoritas pemikiran akuntansi saat ini masih
menitik beratkan pada pemikiran positif melalui penggunaan data empiris
dengan pengolahan yang bersifat matematis.
Akuntansi dalam islam merupakan alat (tool) untuk melaksanakan
perintah Allah Swt. dalam (Q.S 2:282) untuk melakukan pencatatan dan
melakukan transaksi usaha. Implikasi lebih jauh, adalah keperluan terhadap
suatu sistem pencatatan tentang hak dan kewajiban, pelapor yang terpadu dan
komprehensif.
Islam memandang akuntansi tidak sekedar ilmu yang bebas nilai untuk
melakukan pencatatan dan pelaporan saja, tetapi juga sebagi alat untuk

menjalankan nilai-nilai islam (Islamic values) sesuai dengan ketentuan
syariah. Akuntansi yang kita kenal sekarang diklaim dari peradaban barat
(sejak paciolli) padahal apabila dilihat secara mendalam dari proses lahir dan
berkembangnya terlihat jelas pengaruh keadaan masyarakat atau peradaban
sebelumnya baik Yunani maupun Arab Islam.
Perkembangan akuntansi dengan domain “arithmetic quality”nya, saat
ditompang oleh ilmu lain khusunya arithmetic, algebra, mathematics,
alghorithm pada abad ke-19 M. ilmu ini lebih dulu berkembang sebelum
bahasa. Ilmu penting ini ternyata dikembangakan oleh filosof islam yang
terkenal yaitu Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq Al kindi yang lahir pada tahun
801 M. Juga Al Karki (1020) dan Al Khawarizmy yang merupakan asal kata
dari Alghorithm, Algebra juga berasal dari kata arab yaitu “Al jabr”.
Demikian juga penemuan Al Khawarizmy berupa sistem nomor, desimal dan
angka “0” (zero, sifr, kosong, nol) yang kita pakai sekarang disebut angka
Arab sudah dikenal sejak 830 M, yang sudah diakui oleh Hendriksen penulis
buku “Accounting theory” merupakan sumbangan Arab Islam terhadap
akuntansi. Kita tidak bisa membayangkan apabila neraca disajikan dalam
angka romawi, misalnya angka 1843 akan ditulis MDCCCXLIII. Bagaimana
jika kita menyajikan neraca IBL yang memerlukan angka triliunan?
Ibnu Khaldun (lahir tahun 1332) adalah seorang filosof islam yang juga
telah bicara tentang politik, sosiologi, ekonomi, bisnis, perdagangan. Bahkan
ada dugaan bahwa pemikiran mereka itulah yang sebenarnya ditemukan oleh
filosof Barat belakangan yang muncul pada abad ke-18 M. Sebenarnya Al
Khawrizmy-lah yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan
matematika modern Eropa.1[3]
Dapat disimpulkan bahwa pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari
ilmu pasti yang berhubungan dengan hukum alam dan perhitungan dengan
perkembanganmengalami penyesuaian dengan kondisi setempat sehingga
lebih dikenal dengan ilmu sosial dalam metode penemuan baru. Perubahan
ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu sosial disebabkan oleh
1

perubahan masyarakat yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi serta
kebiasaan yang konstan.
B. Sejarah Akuntansi
Akuntansi merupakan salah satu profesi tertua didunia. Dari sejak zaman
pra sejarah, keluarga memiliki perhitungan tersendiri untuk mencatat
makanan dan pakaian yang harus mereka persiapkan dan mereka gunakan
pada saat musim dingin. Ketika masyarakat mulai mengenal adanya
“perdagangan”, maka pada saat yang sama mereka telah mengenal konsep
nilai (values) dan mulai mengenal sistem moneter (monetary system). Bukti
tentang pencatatan (bookkeeping) tersebut dapat ditentukan dari mulai dari
kerajaan Babilonia (4500 SM) Firaun mesir dan kode-kode Hammurabi (2250
SM) sebagaimana ditemukan adnya kepingan pencatatan akuntansi di Ebla
Syria Utara.
Walaupun akuntansi dimulai dari zaman prasejarah, saat ini kita hanya
mengenal Luca Paciolli sebagai bapak akuntansi modern. Paciolli sebagai
ilmuan dan pengajar di beberapa universitas yang lahir di Turcany Italia pada
tahun 1445, merupakan orang yang dianggap menemukan persamaan
akuntansi untuk pertama kali pada tahun 1494 dengan bukunya: Summa de
Arithmetica Geometria et proportionalita (A Review of Arithmetic, Geometry
and Proportions) Dalam buku tersebut beliau menerangkan mengenai double
entry book keeping sebagai dasar perhitungan akuntansi modern, bahkan juga
hampir seluruh kegiatan rutin akuntansi yang kita kenal saat ini sebagai
penggunaan jurnal buku besar (ledger) dan memorandum. Pada penjelasan
mengenai buku besar telah termasuk mengenai asset, utang, modal,
pendapatan dan beban. Ia juga menjelaskan mengenai ayat jurnal penutup
(closing et entries) dan menggunakan neraca saldo (trial balance) untuk
mengetahui saldo buku besar (ledger) penjelasan ini memberikan dasar yang
memadai untuk akuntansi etika dan juga akuntansi biaya.
Sebenarnya Luca Paciolli bukanlah orang yang menemukan double entry
book keeping system, mengingat sistem tersebut telah dilakukan sejak adanya

perdagangan Venice dan Genoa pada awal abad ke-19 M setelah terbukanya
jalur perdagangan antara Timur Tengah dan kawasan Mediterania. Bahkan,
pada tahun 1340 bendahara kota Massri telah melakukan pencatatan dalam
bentuk double entry.
Menurut Peragallo, orang yang menuliskan double Entry pertma akali
adalah pedagang yang bernama Benedetto Cotrugli dalam buku Della
Mercatua e del Mercate, Perfetto pada tahun 1458 namun baru diterbitkan
pada tahun 1573.
Menurut Vernon Kam, (1990), ilmu akuntansi diperkenalkan pada
zaman Feodalisme Barat. Namun setelah dilakukan penelitian sejarah dan
arkeologi ternyata banyak data yang membuktikan bahwa jauh sebelum
penulisan ini sudah dikenal akuntansi. Perlu diingat bahwa matematika dan
sistem angka sudah dikenal islam sejak abad ke-9 M. Ini berarti bahwa ilmu
matematika yang ditulis Lucca Paciolli pada tahun 1491 bukan hal yang baru
lagi karena sudah dikenal dalam islam 600 tahun sebelumnya.
Penggunaan angka Arab mempunyai andil besar dalam perkembangan
ilmu akuntansi. Artinya besar kemungkinan bahwa dalam peradaban arab
sudah ada metode pencatatan akuntansi. Bahkan mungkin mereka yang
memulainya. Bangsa Arab pada waktu sudah memiliki Administrasi yang
cukup maju, praktik pembukuan telah menggunakan buku besar umun, jurnal
umum, buku kas, laporan periodik dan penutupan buku.
Majunya peradaban sosial budaya masyarakat Arab pada waktu itu tidak
hanya pada aspek ekonomi atau perdagangan saja, tetapi juga pada proses
transformasi ilmu pengetahuan yang berjalan dengan baik. Selain Aljabar, Al
Khawarizmy (logaritma) juga telah berkembang ilmu kedokteran dari Ibnu
Sina (Avicenna) kimia karya besar Ibnu Rusyd (Averos) ilmu ekonomi (Ibnu
Khaldun), dll. Jadi pada masa itu islam telah menciptakan ilmu murni atau
Pure Science (Al jabar, ilmu ukur fisika dan kimia). Dan juga ilmu terapan
atau Applied Science (kedokteran, Astronomi dan sebagainya).
Menurut Littleton (boydoun 1959) perkembangan akuntansi disuatu
lokasi tidak hanya disebabkan oleh masyarakat dilokasi itu sendiri melainkan

juga dipengaruhi oleh perkembangan pada saat atau periode waktu tersebut
dan dari masyarakat lainnya. Mengingat bahwa Paciolli sendiri telah
mengakui bahwa akuntansi telah dilakukan satu abad sebelumnya dan Venice
sendiri telah menjadi salah satu pusat perdagangan terbuka, maka sangat
terbuka kemungkinan telah terjadi pertukaran informasi dengan para
pedagang muslim yang telah mengembangkan hasil pemikiran dari olmuan
muslim.
Lieber (dalam boydoun 1968) menyatakan bahwa pakar pemikir di Italia
memiliki pengetahuan tentang bisnis yang baik disebabkan dengan rekan
bisnis muslimnya. Bahkan, have (1976) mengatakkan bahwa Italia meminjam
konsep double entry dari Arab.
Para ilmuan muslim sendiri telah memberikan kontribusi yang besar,
terutama adanya penemuan angka nol dan konsep perhitunagan desimal.
Transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi pada masyrakat
Arab menarik sejumlah ilmuan dari Eropa seperti Leonardo Fibonacci da Pisa
yang melakukan perjalanan ilmiahnya di Timur Tengah. Dialah yang
mengenal angka Arab dan aljabar atau metode perhitungan ke Benua Eropa
pada tahun 1202 melalui bukunya yang berjudul “Liber Abacci” serta
memasyarakatkan penggunaan angka Arab tersebut pada kehidupan seharihari termasuk dalam kegiatan ekonomi dan transaksi perdagangan.
Selain dari bangsa Eropa yang belajar ke Timur Tengah pedagangpedagang muslim tak kalah andilnya dalam menyiarkan (Transformasi) ilmu
pengetahuan ini memungkinkan mengingat kekuasaan islam pada saat itu
telah menyebar hampir separuh daratan Eropa dan Afrika dan Jazirah Arab
meluas ke Byzantium, Mesir, Suriah, Palestina, Irak (Mesopotamia, Persia
seluruh Afrika Utara) berlanjut ke Spanyol dengan penyerbuan pasukan yang
dikomandani Panglima Jabal Thaliq (kemudian dikenal dengan Selat
Giblartar) ke Italia dan daerah-daerah Asia Timur sampai pembatasan Cina.
Terjadinya proses transformasi ilmu pengetahuan tadi, juga dimungkinkan
mengingat Al-Quran yang menyerukan semua orang untuk berdakwah. Kotakota yang berada diwilayah kekuasaan islam tersebut seperti Kairo,

Alexandria, Damsyik, Baghdad, merupakan pusat perdangangan internasional
yang cukup pesat dan ramai. Melalui perdagangan inilah kebudayaan dan
teknologi muslim tersebar di Eropa Barat, Amalfi, Venice, Pisa dan Genoa
merupakan

pelabuhan

utama

dan

terpenting

yang

menghubungkan

perdagangan dari pelabuhan pedagang muslim di Afrika Utara dan Laut
Tengah bagian timur ke kota-kota Kristen seperti , Konstantinovel, Acre.2[4]
Jadi dapat kita ketahui, bahwa sejarah awal akuntansi dimulai sejak
manusia mengenal hitungan uang dan menggunakan catatan. Pada abad XIV
perhitungan rugi laba telah dilakukan pedagang-pedagang Genoa dengan cara
menghitung harta yang ada pada akhir suatu pelayaran dan dibandingkan
pada saat mereka berangkat. Tonggak sejarah akuntansi dimulai pada tahun
1494 pada saat Lucas Paciolo (Lukas dari Burgos) menerbitkan buku ilmu
pasti yang berjudul “Suma de Arilhmalica, Proportioni et Proportionaiita”.
Dalam buku itu terdapat satu bab, berjudul ‘Tractatus de Computis et
Scriptorio”. yang berisi cara-cara pembukuan menurut catatan berpasangan
(double book keeping).
C. Perkembangan Akuntansi Syariah
1. Zaman Awal Perkembangan Islam
Pendeklerasian negara Islam di Madinah (tahun 622 M bertetapan dengan
1 H) didasari dengan konsep bahwa seluruh umat muslim adalah bersaudara
dan tanpa membeda-bedakan dari segi apapun. Sehingga kegiatan kenegaraan
dilakukan dengan saling kerja sama. hal ini dimungkinkan karena negara
yang baru saja berdiri tersebut hampir tidak memiliki pemasukkan maupun
pengeluaran. karena itu Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bertindak
sebagai kepala negara, ketua mahkama agung, mufti besar, dan panglima
perang tertinggi, serta penanggung jawab administrasi negara. Bentuk
kesekretariatan masih sederhana karena baru di dirikanpada akhir tahun ke-6
H.

2

Telah menjadi tradis,bahwa bangsa arab melakukan 2kali perjalanan
kafilah perdagangan, yaitu musim dingin ke Yaman, dan musim panas ke AsSyam (syria, lebanon, jordania, palestina dan israel). Dan akhirnya
perdagangan tersebut berkembang hingga ke bangsa Eropa terutama setelah
penaklukan Mekah.
Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu ketika ada kewajiban zakat dan
‘ush (pajak pertanian dari muslim) dan perluasan wilayah hingga munculnya
jizyah (pajak perlindungan dari non muslim) dan kharaj (pajak hasil pertanian
non muslim)maka dari itu Rasulullah mendirikan baitul maal pada awal abad
ke-7, konsep ini cukup maju pada zaman tersebut dimana seluruh penerimaan
dikumpulkan secara terpisah dengan pemimpin negara dan baru akan
dikeluarkan untuk kepentingan negara, walaupun dikatakan pengelolaan
baitul maal masih sederhana tetapi Rasulullah telah memilih petugas qadi,
juga sekretaris dan pencatat administrasi pemerntahan. Yang ditinjuk
Rasulullah berjumlah 42 0rang dan telah dan telah dibagi dalam empat
pembagian tugas yaitu: sekretaris pernyataan, sekretaris hubungan dan
pencatatan tanah, sekretaris perjanjian, dan sekretaris peperangan.
2. Zaman Empat Khalifah
Pada pemerintahan Abu Bakar radiallahu’anhu, pada saat itu pengelolaan
baitul maal masih sangat sederhana karena pemasukan dan pengeluaran
dilakukan dengan seimbang dan hampir tidak ada sisa dari hasil
pengelolaannya.
Pada kepemimpinan Umar bin Khatab radiallahu’anhu, terjadi perubahan
sistem administrasi yang cukup signifikan dengan mengajukan istilah Diwan
oleh Sa’ad bin Abi Waqqas (636 M). Katadiwan berasal dari bahasa Arab
yang merupakan bentuk kata benda dari Dawwana berarti penulisan, dengan
artian diwan ini sebagai tempat dimana pelaksana duduk, bekerja dan dimana
akuntansi dicatat dan disimpan. Diwan ini berfungsi untuk

mengurusi

pembayaran gaji.
Khalifah umar memilih beberapa petugas untuk pengelolaan dan
pencatatan dari persia untuk mengawasipembukuan baitul maal. Awal

pendirian diwan ini disarankan dari homozon-seorang tahanan persia dan
menerima islam dengan menjelaskan tentang sistem administrasi yang
dilakukan oleh Raja Sasanian (Siswantoro 2003) ini terjadi setelah
peperanganAl-Qadisiyyah persia dan pangluma perang Sa’ad bin abi waqqas,
al walid bin mughira para sahabat nabi mengusulkan agar dibuatkan
pencatatan untuk setiap penerimaan dan pengeluaran negara.
Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi berkembang dari suatu lokasi ke
satu lokasi lainnya sebagai akibat dari hubungan antar masyarakat. Baitul
maal juga sudah tidak terpusat lagi dimadinah dan mulai berkembang di
daerah-daerah taklukkan Islam. Diwan yang dibentuk oleh khalifah Umar
memiliki 14 depertemen dan 17 kelompok dimana pembagian depertemen
tersebut menunjukkan adanya pembagian tugas dalam sistem keuangan dan
pelaporan keuangan yang baik. Pada masa itu istilah awal pembukuan dikenal
dengan Jarridah atau menjadi istilah Journal dalam bahasa Inggris yang
berarti berita. Di venice istilah ini dikenal dengan sebutan zournal.
Fungsi akuntansi telah dilakukan oleh beberapa pihak dalam Islam: Aalamil, Mubashor, Al-khatib, namun yang terkenal adalah Al-katib yang
menunjukkan orang yang bertanggung jawab atas amanah yang telah
diberikan untuk menuliskan dan melaporkan kasil keuangan maupun non
keuangan. Sementara itu untuk khusus akuntan juga dikenal dengan nama
Muhasabah/Muhtasib yang menunjukkan orang yang bertanggung jawab dari
amanah yang telah diberikan. Dalam melakukan perhitungan.
Muhtasib adalah orang yang telah bertanggung jawab atas lembaga alhisbah dan tidak bertanggung jawab atas eksekutif. Muhtasib juga
bertanggung jawab atas pengawasan dipasar dan tidak hanya persoalan
ibadah.ibnu tahimiya berpendapat bahwa muhtasib adalah kewajiban publik,
muhtasib ini bertugas untuk menjelaskan berbagai tindakan yang tidak pantas
dilakukandalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk tugas muhtasib adalah
mengawasi orang yang tidak sholat, tidah puasa, mereka yang memilii sifat
dengki, berbohong, melakukan penipuan, mengurangi timbangan, praktik

kecurangan dalam industri, perdagangan, agama, dan sebagainya. (siddiqi
dalam boydoun, 1982)
Muhtasib juga memiliki artian kekuasaan yang luas, termasuk kekuasaan
harta, kepentingan sosial, pelaksanaan ibadah pribadi, dan pemeriksaan
transaksi bisnis. Akram khan memberikan 3 kewajiban muhtasib, yaitu
sebagai berikut:
a. Pelaksanaan hak Allah termasuk kegiatan ibadah: semua jenis sholat,
pemeliharaan masjid.
b. Pelaksanaan

hak-hak

masyarakat:

perilaku

dipasar,

kebenaran

timbangan, kejujuran bisnis.
c. Pelaksanaan yang berkaitan dengan keduanya: menjaga kebersihan
jalan, lampu jalan, banguna yang mengganggu masyarakat, dan
sebagainya.
Pada zaman kekhalifaan sudah dikenal keuangan negara kedaulatan islam
telah memiliki departemen-departemen atau disebut dengan diwan, ada diwan
pengeluaran (diwan an-nafaqat), militer (diwan al-jayash), pengawasan,
pemungutan hasil, dan sebagainya. Diwan pengawasan keuangan disebut
diwan al-kharaj yang bertugas mengawasi semua hal yang berkaitan dengan
penghasilan. Pada zaman khalifah mansur dikenal khitabah al rasul was sirr,
yang memelihara pencatatan rahasia, untuk menjamin dilaksanakannya
hukum maka dibentuk Shahib al Shurta. Salah satu pejabat didalamnya itulah
yang disebut muhtasib yang lebih difokuskan pada sisi pengawasan
pelaksanaan agama dan moral, misalnya mengenai timbangan, kecurangan
dalam penjualan, orang yang tidak bayar utang, orang yang tidak sholat
jumat, tidak puasa pada bulan ramadhan, pelaksanaan masa idah, bahkan
termasuk memeriksa iman. Ia juga menjaga moral masyarakat, hubungan
laki-laki dan perempuan, menjaga jangan ada yang minum arak, melarang
musik yang diharamkan, mainanyang tidak baik, transaksi bisnis yang curang,
riba, kejahatan pada budak, binatang, dan lain sebagainya.
Disisi lain, ada juga beberapa fungsi muhtasib dalam bidang pelayanan
umum (publik service) misalnya: pemeriksaan kesehatan, suplai air,

memastikan orang yang miskin mendapatkan bantuan atau tunjangan,
banguna yang mau roboh, memriksa kelayakkan pembangunan rumah,
ketidaknyamanan dan keamanan berlalu lintas, jalan untuk pejalan kaki,
menjaga keamana dan kebersihan pasar, dari berbagai fungsi shahib al shurta
dan muhtasib dapat disimpulkan bahwa fungsi utamanya adalah mencega
pelanggaran dari hukum-hukum yang ada seperti hukum baik, hukum sipil,
dan hukum agama.
Jadi, dapat disimpulkan akuntansi Islam adalah menyangkut segala sesuatu
yang lebih luas mengenai praktik kehidupan, tidak hanya mengenai ekonomi
ataupun bisnis dalam sistem kapitalis. Akuntansi lebih luas dari setiap
perhitungan

angka,

informasi

mengenai

keuangan

ataupun

pertanggungjawaban. Hal itu hanya penyangkut semua penegakkan hukum
agar tidak ada yang melanggar hukum-hukum yang ada yang berkaitan
ibadah, jika hal tersebut dianggap hal utama dari akuntansi maka yang lebih
“compatible” dengan sistem akuntansi ilahiyah dan akuntansi amal yang
doitegakkan dalam Al-Qur’an dan Hadist, atau lebih dekat “auditor” dalam
bahasa akuntansi kontemporer.
Pengembangan lebih konprehensif mengenai baitul maal, dilanjutkan
pada khalifah ali bin abi thalib pada masa pemerintahan beliau, sistem
administrasi baitul maal baik ditingkat pusat dan lokal telah berjalan baik
serta telah terjadi surplus pada baitul maal dan dibagikan secara proposional
sesuai tuntunan Rasulullah, adanya surplus ini menunjukkan bahwa proses
pencatatan dan pelaporan telah berlangsung dengan baik.3[5]
Dapat

disimpulkan

bahwa

pada

awal

perkembangan

dilakukan

pendeklarasian yang bertepatan tahun (1 Hijriyah) di dirikan konsep seluruh
umat islam itu bersaudara dan tanpa membeda-bedakan baik dari warna kulit,
dan lain hal, dan pada saa itu masih kurang berkembang maka Rasulullah lah
yang menjadi pemimpin di negara, dan bangsa arab melakukan perniagaan
sebanyak 2x pada musim dingin ke yaman dan pada saat musim panas ke assyam, dan perkembangan selanjutnya ditegakkan pembayaran zakat dan
3

pembayaran lainnya dan dibentuklah baitul maal pada abad ke-7 dan
Rasulullah telah memilih 42 orang yang terpercaya untuk menjalankan tugas
masing-masing di baitul maal.
Sementara pada zaman para sahabat khalifah pertama Abu Bakar
radiallahu’anhu masih sederhana pemasukkan dan pengeluaran seimbang
sedangkan pemerintahan Umar bin Khatab adanya perubahan sistem yang
signifikan yang dianjurkan untuk melakukan diwan yaitu pencatatan disetiap
pemasukkan dan pengeluaran dan telah memilih orang-orang yang akan
bertanggung jawab dalam setiap tugasnya,, selanjutnya Utsaman bin Affan
untuk menjamin dijalankan hukum maka ditunjuknya orang-orang untk
menjaga penghasilan, dan sahabat yang terakhir Ali bin Abu Thalib mulai
berkembang pesat. Dan perkembangannya pesat terjadi disetiap lokasi ke
lokasi lainnya, dan dapat mengatur perekononian serta akuntansi Islam adalah
menyangkut segala sesuatu yang lebih luas mengenai praktik kehidupan.
D. Sekilas Prosedur dan Istilah yang Digunakan
Dari uraian yang telah dijelaskan diatas bahwa berjalan lancarnya
pelaksanaan akuntansi pada negara Islam karena ditegakkannya pembayaran
zakat yang kemudian di kelola dengan baik hingga saat ini melalui baitul
maal. dokumentasi yang pertama kali dilakukan oleh Al-Mazenderany (1363
M) mengenai akuntansi pemerintahan yang dilakukan selama dinasti Khan II
pada buku Risalah Falakiyah Kitabus Siyakat. Namun, dokumentasi yang
baik mengenai system akuntansi Negara Islam tersebut pertama kali
dilakukan oleh Al- Khawarizmy pada tahun 976 M.
Kontribusi besar yang diberikaan oleh Al- Khawarizmy adalah membuat
system akuntansi dan pencatatan dalam Negara Islam dan membaginya dalam
beberapa jenis daftar. Beliau juga bersama dengan penjelasan dari AlKhawarizmy menjelaskan tentang system akuntansi termasuk tujuan serta
praktik yang terjadi.
Tujuan system akuntansi adalah untuk memastikan akuntabilitas,
mendukung proses pengambilan keputusan serta mempermudah proses

evaluasi atas program yang telah selesai. Tujuan ini tidak hanya berlaku di
pemerintahan tetapi juga pada perusahaan . Orientasi system akuntasi ini
adalah

melaporkan

kegiatan

yang

menghasilkan

laba/

rugi

atau

surplus/deficit, dan menyelesaikan seluruh kebutuhan dari Negara, namun
perhitungan dari system akuntansi ini masih memasukkan transaksi yang
bersifat moneter dan nonmoneter .
Ada tujuh hal khusus dalam system akuntansi yang dijalankan oleh
Negara islam sebagaimana dijelaskan oleh c dan Al- Mazendarany (Zaid,
2004), sebagai berikut.
1. Sistem akuntansi untuk kebutuhan hidup, system ini di bawah koordinasi
di bawah menejer. System ini untuk memenuhi kebutuhan hidup
perorangan dan Negara. Namun tidak menutup kemungkinandigunakan
pada sector private terutama yang terkait dalam perhitungan pembayaran
zakat.
2. System akuntansi untuk kontruksi merupakan system akuntansi untuk
proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Pada system ini
mengatur pencatatan (baik dalam bentuk material maupun pengeluaran
kepada pihak lain), pengendalian dan akuntabilitas untuk masing-masing
proyek berdasarkan anggaran (budget). System ini di bawah tanggung
jawab seorang koordinator proyek.
3. System akuntansi untuk pertanian merupakan system yang berbasis nonmoneter. System ini lebih memfokuskan diri untuk mencatat dan
mengelola persediaan pertanian dalam bentuk fisik, hal ini di dorong oleh
kewajiban dalam zakat pertanian. System ini – seperti di jelaskan oleh
Al- Mazendarany dan Al- Khawarizmy – tidak memisahkan antara fungsi
pencatatan dan pemegang persediaan. System ini mirip sebagaimana
telah di praktikkan oleh zenon atau appianus dari Mesir.
4. System akuntansi gudang merupakan system untuk mencatat pembalian
barang Negara. System ini bukan hanya mencatat barang masuk atau
keluar saja tapi juga dalam nilai uang, sehingga akan ada pemisahan
tugas antara orang yang memegang barang dan yang mencatat sehingga

hal ini menunjukkan system pengendalian intern (internal control) telah
ada.
5. System akuntansi mata uang, system ini telah dilakukan oleh Negara
islam sebelum abad ke-14 M. system ini memberikan hak kepada
pengelolahnya untuk mengubah emas dan perak yang diterima pengelola
menjadi koin sekaligus mendistribusikannya. Dengan fungsi tersebut,
maka dapat dikatakan system perbendaharaan Negara telah berjalan.
System akuntansi ini telah di jalankan dengan tiga jurnal khusus, yaitu
untuk mancatat persediaan (inventory), pendapatan (revenue), dan beban
(expense).
6. System akuntansi perternakan merupakan system untuk mencatat seluruh
binatang ternak.pencatatan ini dilakukan dalam sebuah buku khusus
dengan

mencatat

keluar

dan

masuknya

ternak

berdasarkan

pengelompokan binatang serta nilai uang .namun, penjelasan yangn
dilakukan oleh Al- Mazendarany dan Al- Khawarizmy kurang detail.
7.

System akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat
penerimaan dan pengeluaran harian negara, baik dalam nilai uang atau
barang.
Pencatatan dalam negara islam telah memiliki prosedur yang wajib

diikuti, serta pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan
atas aktivitas dan menemukan surflus dan deficit atas pencatatan yang tidak
seimbang. Prosedur yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Transaksi harus dicatat setelah terjadi.
b. Transaksi harus dikelompokkan berdasarkan jenisnya
c. Penerimaan akan dicatat disisi sebelah kanan dan pengeluaran dicatat di
sebelah kiri. Sumber-sumber penerimaan harus di jelaskan dan dicatat
d. Pembayaran harus dicatat dan di berikan penjelasan yang memadai di sisi
kiri halaman
e. Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati.
f. Tidak memberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri dan harus di beri
garis penutup.

g.

Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tidak boleh dengan cara
menghapus atau menulis ulang tetapi harus diganti.

h. Jika akun telah di tutup, maka akan di beri tanda tentang hal tersebut.
i.

Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnal akan di pindahkan pada
buku khusus berdasarkan pengelompokan transaksi.

j.

Orang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan
orang yang melakukan pencatatan harian.

k. Saldo diperoleh dari selisih
l. Laporan harus di susun setiap bulan dan tahun dengan detail dan memuat
informasi penting.
m. Pada setiap akhir tahun laporan yang disampaikan oleh Al-Khateb harus
menjelaskan seluruh informasi barang secara detail dan dana yang berada
di bawah wewenangnya .
n.

Laporan tahunan yang di susun Al- Khateb akan di periksa dan di
bandingkan dengan tahun sebelumnya dan akan disimpan di Diwan
pusat.
Dapat disimpulkan bahwa, Islam karena dikelolanya pembayaran zakat

dengan baik melalui baitul maal.dan segala aktivitas muamalah harus dicatat
sesuai dengan Q.S Al-Baqarah ayat 282 disitu dijelaskan bahwa segala
sesuatu yang berhubungan dengan muamalah harus dicatat.
E. Hubungan Akuntansi Modern Dan Akuntansi Islam
Perkembangan ilmu pengetahuan termasuk sistem pencacatan pada zaman
dinasti Abbasiah (750 M – 1258 M) sudah demikian maju sementara pada
kurun waktu tertentu yang hampir bersamaan , eropa masuk dalam priode The
Dark Ages. Dari sini kita dapat melihat hubungan antara Luca Paciolli dan
Akuntansi Islam.
Luca paciolli sebagaimana telah diterangkan bahwa seorang ilmuwan
sekaligus juga seorang pengajar di beberapa universitas italia seperti vanice,
milan, florence, dan roma. Untuk itu beliau telah membaca banyak buku
termasuk buku yang telah diterjemahkan hal ini dibuktikan bahwa sejak tahun

1202 M buku-buku para ilmuwan muslim/arab telah banyak diterjemahkan
kebahasa eropa seperti yang dilakukan oleh Leonardo Fibonacci of pisa
dengan judul liber abacci, verba filiorum dan epistola de proportitione et
proportionalitate. Pisa banyak belajar mengenai angka dan bahasa arab.
Sehingga didalam bukunya disebutka bahwa ia menyarankan dan
menerangkan manfaat mengenai angka arab termasuk dalam pencatatan
transaksi.
Pada tahun 1429 M angka arab dilarang digunakan dalam pemerintahan
italia, luca paciolli selalu tertarik dalam belajar mengenai angka bahasa arab
serta belajar dari alberti seorang ahli matemtika yang belajar dari pemikir
arab dan selalu menjadikan karya pisa sebagai rujukan, tahun 1484 M paciolli
pergi dan bertemu dengan temannya onofrio dini florence seorang pedagang
yang suka berpergian ke afrika utara dan kontantinopel sehingga diduga
paciolli mendapat ide tentang double entry tersebut dari temannya ini. Bahkan
alfred liber (1968), mendukung pendapat tersebut bahwa memang ada
pengaruh dari pedagang arab pada italia, walaupun arab tidak berarti muslim
saja.
Alasan teknis yang mendukung hal itu adalah: luca paciolli mengatakan
bahwa setiap transaksi harus dicatat dengan baik dan benar yaitu dengan cara
mencatat dua kali di sisi sebelah kredit dan sisi sebelahnya dalah debit.
Dengan artian lain bahwa paciolli menerjemahkan dari hal tersebut dari
bahasa arab yang memang semuanya dimulai dari kanan.
Penelitian sejarah tentang perkembangan akuntansi memang perlu dikaji
lebih dalam lagi dan lebih terperinci, tetapi dalam mengingat masih
dipertanyakan bukti-bukti autentik/langsung tentang hal tersebut sebagaiman
diungkapkan oleh napler (2007) hal tersebut tetap dilakukan oleh para
ilmuwan muslim saat ini, dan pembuktiaan tersebut akan menempuh jalan
masih panjang menginga bukti-bukti autentik dari zaman dinasti Abbasiah
(dengan pusat pemerintahan di Kufah, Irak) saat ini sudah banyak yang hilang
karena perang.4[7]
4

Hubungannya akuntansi modern dengan akuntansi islam yaitu dimana
zaman modern ini mengikuti dari zaman islam contohnya buku-buku yang
diterjemahkan ke bahasa eropa dan mengikuti sistem-sistemnya dan masih
saling berhubungan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sejarah awal akuntansi dimulai sejak manusia mengenal hitungan uang
dan menggunakan catatan. Pada abad XIV perhitungan rugi laba telah dilakukan
pedagang-pedagang Genoa dengan cara menghitung harta yang ada pada akhir
suatu pelayaran dan dibandingkan pada saat mereka berangkat. Tonggak sejarah
akuntansi dimulai pada tahun 1494 pada saat Lucas Paciolli (Lukas dari Burgos)
menerbitkan buku ilmu pasti yang berjudul “Suma de Arilhmalica, Proportioni et
Proportionaiita.” Dalam buku itu terdapat satu bab, berjudul ‘Tractatus de
Computis et Scriptorio” yang berisi cara-cara pembukuan menurut catatan
berpasangan (double book keeping).
Sementara awal perkembangan akuntansi syariah dimulai sejak abad 622 M
ketika Rasulullah yang pada saat itu merupakan pemimpin di negara Madinah,
membentuk baitul maal pada abad ke-7. Kemudian pada pemerintahan Umar bin
Khattab terjadi perubahan sistem, dimana dibentuk diwan yaitu pencatatan di
setiap pemasukan dan pengeluaran.

DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Sofyan Syafri, 2010, Akuntansi Perbankan Syariah, Jakarta: LPFE
Usakti.

Nurhayati, Sri dan Wasilah, 2011, Akuntansi Syari’ah di Indonesia, Jakarta:
Salemba Empat.
https://www.academia.edu/30519590/
Teori_dan_Konsep_Akuntansi_Islam_serta_Perbedaannya_dengan_Akuntansi_K
onvensional
http://akuntansisyaria.blogspot.co.id/2014/09/sejarah-akuntansi-syariah.html

Judul: Makalah Akuntansi Syariah Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Oleh: Febri Wiranto


Ikuti kami