Komunikasi Informasi Akuntansi

Oleh Erja Humairah Lydina

27 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Komunikasi Informasi Akuntansi

MAKALAH
“Komunikasi Informasi Akuntansi”
Mata Kuliah
AKUNTANSI KEPRILAKUAN

Dosen Pengampu:
Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.

Disusun Oleh:
Erja Humairah Lydina
(C1C018197)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah
Akuntansi Keperilakuan mengenai “komunikasi informasi akuntansi” ini dapat tersusun hingga
selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Wirmie Eka
Putra, SE., M.Si yang telah mendidik dan memberikan tugas pada mata kuliah Akuntansi
Keperilakuan guna untuk dapat memahami dan mempelajari tentang Akuntansi Keperilakuan.
Penulis berharap makalah ini dapat menjadi acuan dan pembelajaran bagi mahasiswa/i lain
untuk terus memahami dan mengetahui tentang mata kuliah Akuntansi Keperilakuan. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 10 Desember 2020

Erja Humairah Lydina

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Dan Fungsi Komunikasi.................................................................................3

2.2.

Model-model Komunikasi...............................................................................................4

2.3 Hal-hal Mendasar Dalalm Komunikasi.................................................................................7
2.4 Variable-variabel yang Berpengaruh pada Komunikasi Akuntansi.......................................9
2.5

Organisasi Pesan.............................................................................................................10

2.6 Perlakuan Pesan...................................................................................................................11
2.7 Saluran.................................................................................................................................12
2.8

Penerima............................................................................................................................13

2.9 Analisis Penerima...............................................................................................................14
BAB III PENUTUP
1.

Kesimpulan........................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................17

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Riset menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk merupakan sumber konflik
interpersonal yang paling sering disebutkan. Karena individu menghabiskan 70 persen
dari waktu aktifnya untuk berkomunikasi seperti menulis, membaca, berbicara,
mendengarkan. Tampaknya wajar untuk menyimpulkan bahwa salah satu kekuatan yang
paling menghambat keberhasilan kinerja kelompok adalah kurangnya komunikasi yang
efektif. Tidak ada kelompok yang dapat tetap ada tanpa komunikasi. Hanya lewat
komunikasi, yang merupakan transfer makna dari satu orang ke orang lain, informasi dan
gagasan dapat diantarkan.
Intisari dari proses akuntansi adalah komunikasi informasi dengan implikasi
keuangan atau manajemen. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang akuntan yang efektif,
seseorang harus menjadi komunikator yang efektif. Informasi bisnis harus disajikan oleh
para akuntan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Informasi tersebut harus dinyatakan
dengan jelas, ringkas, dan akurat.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai, berikut:
1. Apa pengertian dan fungsi komunikasi?
2. Bagaimana model-model komunikasi ?
3. Apa saja hal mendasar dalam komunikasi?
4. Apa saja Variable-variabel yang Berpengaruh pada Komunikasi Akuntansi?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulis dalam membuat makalah ini adalah sebagai, berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dan fungsi komunikasi.
2. Untuk mengetahui model-model komunikasi.
1

3. Untuk mengetahui hal mendasar dalam komunikasi.
4. Untuk mengetahui variable-variabel yang berpengaruh pada komunikasi akuntansi.

2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dan Fungsi Komunikasi
A. Pengertian Komunikasi

Para ahli, menurut Gibson et al. (1995), mengatakan bahwa komunikasi berasal dari
kata latin “communis” yang berarti “sama”. Hal ini berarti adanya suatu pencarian kesamaan
makna atas hal-hal yang dikomunikasikan antara pihak pengirim dengan pihak
penerima. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi adalah proses mempertukarkan
informasi antara dua atau lebih sistem yang ada dalam suatu lingkungan umum. Sistem ini
dapat berupa individu, organisasi sosial, hewan, atau mesin. Informasi pada umumnya
didefinisikan sebagai materi atau energy berpola, yang mengurangi ketidakpastian dalam
perilaku masa depan dari sistem-sistem yang saling berinteraksi. Ketika sistem tersebut
meliputi orang-orang, maka ada arti terkait dengan informasi tersebut. Dalam hal akuntansi,
individu-individu yang terkait dalam bisnis pada umumnya mempertukarkan informasi
keuangan, yang ketika diterjemahkan, memungkinkan prediksi yang wajar mengenai operasi
masa depan dari suatu organisasi dan membantu dalam pengambilan keputusan serta
pengendalian harian.
B. Fungsi Komunikasi
Komunikasi sebagaimana dijelaskan oleh Robins, memiliki empat fungsi utama dalam
suatu kelompok atau organisasi, yaitu pengendalian, motivasi, pengungkapan emosional, dan
informasi. Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku anggota dengan beberapa
cara. Setiap organisasi mempunyai hierarki wewenang dan garis panduan formal yang harus
dipatuhi oleh karyawan.
Komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada para
karyawan apa yang seharusnya dilakukan. Seberapa baik mereka bekerja, dan apa yang dapat
dikerjakan untuk memperbaiki kinerja dibawah standar. Bagi banyak karyawan, kelompok
kerja mereka merupakan sumber pertama untuk interaksi sosial. Komunikasi yang terjadi
didalam kelompok tersebut merupakan mekanisme fundamental dengan mana anggotaanggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas mereka. Oleh karena itu, komunikasi
menunjukkan ungkapan emosional dari perasaan dan merupakan pemenuhan terhadap
kebutuhan sosial.
Fungsi terakhir yang dilakukan oleh komunikasi berhubungan dengan perannya dalam
mempermudah pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan

3

oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan meneruskan data yang
dapat digunakan untuk mengenali dan menilai alternatif-alternatif pilihan.

2.2. Model-model Komunikasi






Model Lasswell
Salah satu model paling awal dari komunikasi yang dikembangkan oleh Harold
Lasswell meliputi :
Siapa….
Mengatakan apa….
Dengan Cara Apa….
Kepada Siapa….
Dengan Dampak Apa….
Model tersebut sederhana, tetapi kurang memiliki sejumlah elemen yang
diperlukan uantuk memahami proses komunikasi. Dalam konteks akuntansi, akuntan
(siapa) menyajikan informasi keuangan (mengatakan apa), pada umumnya dalam bentuk
laporang tertulis (dengan cara apa), kepada pihak pengguna internal dan eksternal
(kepada siapa), dengan tujuan untuk menyediakan data yang andal, relevan, dan tepat
waktu untuk mengambil keputusan bisnis yang berdasarkan informasi (dengan dampak
apa).
Model Shannon-Weaver
Claude Shannon dan Warren Weaver (1949) mengembangkan model matematis dari
komunikasi yang model tersebut dikembangkan untuk menjelaskan komunikasi melalui
alat perantara, seperti telepon atau korespodensi tertulis. Model ini merupakan suatu
kemajuan dibandingkan dengan model Lasswell karena model tersebut membedakan
antara sumber informasi, pengirim informasi, penerima informasi, dan tujuan. Dalam
konteks akuntansi, sumber dapat berupa tenaga pembukuan atau klerek; pengirim
informasi, kontroler; penerima informasi, orang yang memperoleh dokumen tersebut,
akuntan; dan tujuan, pengguna akhir, yaitu klien.
Shannon dan Weaver juga menambahkan gangguan kedalam proses komunikasi.
Gangguan (noise) adalah stimulus yang memberikan kontribusi terhadap distorsi dari
proses transfer informasi. Hal ini tersebut dapat mengarah pada hancurnya
komunikasi. Arus statis dalam sambungan telepon adalah kegaduhan. Bayangkan
masalah yang dapat ditimbulkan akibat salah mendengar nama klien akibat arus statis
tersebut. Model Shannon dan Weaver ini tidak memiliki gagasan mengenai umpan balikpertukaran informasi dan bukannya transfer informasi satu arah-dan konteks atau
lingkungan di mana proses tersebut terjadi.
Model SMCR Berlo
4





Model komunikasi sumber, pesan, saluran, dan penerima (source, message, channel,
receiver- SMCR) yang diajukan oleh David Berlo yang mempunyai beberapa kesalahan
yang sama seperti model-model sebelumnya. Model ini menyarankan arus informasi satu
arah dari suatu sumber kepada penerima tanpa umpan balik dan model ini juga tidak
memasukkan konsep gangguan. Akan tetapi, Berlo menspesifikasikan faktor-faktor yang
mempengaruhi kebenaran komunikasi dan pada tahap mana dalam proses tersebut faktorfaktor tersebut beroperasi. Misalnya saja, ketika mempertimbangkan pesan, ia
menyarankan bahwa elemen-elemen pesan- isi, struktur, kode,dan perlakuannya- akan
memengaruhi pemahamannya oleh penerima. Lebih lanjut lagi, sementara tidak secara
eksplisit memasukkan konteks proses tersebut terjadi, model tersebut mengindikasikan
bahwa sistem sosial dan budaya dari sumber dan penerima, seta sistem kode dimana
pesan tersebut disusun, memengaruhi kebenaran dari proses komunikasi. Gagasangagasan ini terutama penting untuk perusahaan-perusahaan multinasional yang harus
mempertimbangkan budaya dan sistem sosial dari klien dan pelanggan.
Model Westley-MacLean
Bruce Westley dan Malcolm MacLean (1957) mengembangkan satu model untuk riset
komunikasi. Model tersebut memiliki sejumlah implikasi penting. Model tersebut
menjelaskan cara-cara individu dan organisasi memutuskan pesan apa yang akan
dikomunikasikan dan bagaimana pesan tersebut dimodifikasi atau dihapus dalam proses
tersebut.
Model Pemusatan Komunikasi
Rogers dan Kincaid (1981) telah mengkritik model-model terdahulu karena model-model
tersebut mengarah pada tujuh bias dalam komunikasi. Ketujuh bias tersebut meliputi :
1. Suatu pandangan bahwa komunikasi adalah tindakan satu arah yang linier dan
bukannya proses dua arah yang memiliki siklus dimana informasi dipertukarkan
sejalan dengan berlalunya waktu.
2. Sumber bias yang diakibatkan oleh penekanan pada ketergantungan dan bukannya
pada hubungan dari mereka yang melakukan komunikasi dan saling
ketergantungannya yang mendasar. Dalam model tradisional, penerima biasannya
bergantung pada informasi yang ditransfer dari sumber. Tidak ada kebutuhan untuk
berinteraksi.
3. Kecenderungan untuk berfokus pada objek komunikasi dengan mengorbankan
konteks objek tersebut berada. Dalam hal akuntansi, focus tersebut pada laporan itu
sendiri dan bukan pada interaksi yang menghasilkannya.
4. Kecenderungan untuk berfokus pada pesan itu sendiri dengan mengorbankan aspek
waktu dari pesan itu.
5. Kecenderungan untuk menganggap bahwa fungsi utama dari komunikasi adalah
persuasi dan bukannya pemahaman, konsesus, dan tindakan kolektif yang

5



menguntungkan. Dalam konteks bisnis, focus tersebut ada pada penerapan kebijakan
dan bukan pada pengambilan keputusan secara partisipasif.
6. Kecenderungan untuk berkosentrasi pada dampak-dampak psikologis dari
komunikasi terhadap individu-individu yang terpisah dan bukan pada dampak sosial
dan hubungan antar individu dalam suatu komunitas.
7. Suatu keyakinan dalam hubungan sebab akibat mekanistis satu arah dan bukannya
hubungan sebab akibat dua arah yang merupakan karakteristik dari sistem informasi
manusia yang pada dasarnya bersifat sibernetik.
Sebagai alternatif dari model-model yang bias tersebut, Rogers dan Kincaid
mengajukan Model Pemusatan Komunikasi. Mereka menekankan pada kesatuan
informasi dan tindakan. Semua informasi merupakan konsekuensi dari tindakan; melalui
pemrosesan informasi, tindakan mungkin menghasilkan informasi tambahan. Model
tersebut tidak mempunyai awal dan akhir. Hanya hubungan yang saling mendefinisikan
diantara para partisipan yang memberikan makna kepada keseluruhan. Ketika informasi
dibagi oleh dua atau lebih partisipan, pemrosesan informasi dapat mengarah pada saling
memahami, saling menyetujui, dan tindakan kolektif, seperti pemecahan masalah bisnis.
Salah satu konsekuensi dari model ini adalah bahwa komunikasi selalu
mengimplikasikan suatu hubungan- suatu proses saling membagi informasi diantara dua
atau lebih orang. Akibatnyam analisis komunikasi harus mempertimbangkan perbedaan
dan persamaan partisipan dan untuk tujuan, perubahan dalam hubungan antara akuntan
dan pengguna informasi- baik satu sama lain maupun perubahan dalam individu lain
dengan mana mereka berinteraksi mengenai topik-topik keuangan.
Satu Model Komunikasi
Sebelum komunikasi terjadi, perlu adanya pengungkapan atas suatu maksud
sebagai pesan yang akan disampaikan. Maksud itu bergerak antara suatu sumber
(pengirim) dengan penerima. Pesan itu dikodekan (diubah kedalam bentuk simbolis) dan
diteruskan oleh suatu medium (saluran) kepada penerima yang menguraikan kode pesan
yang dimulai oleh pengirim. Hasilnya adalah suatu transfer makna dari satu orang ke
orang lain.
Sumber mengawali suatu pesan dengan “ pengodean” suatu pikiran. Empat
kondisi yang memengaruhi pengodean pesan : keterampilan, sikap, pengetahuan, dan
sistem sosial-sosial budaya.
Jika penulis buku pelajaran tidak memiliki keterampilan untuk menulis sebagaimana
yang dipersyaratkan, maka pesan mereka tidak akan sampai kepada mahasiswa dalam
bentuk yang diinginkan.
Pesan merupakan suatu produk fisik yang sebenarnya dari “pengodean
sumber”. Bila seseorang berbicara, pembicaraan itu adalah pesan. Bila seseorang
menulis, maka tulisan itu adalah pesan. Bila seseorang melukis, lukisan itu adalah
pesan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pesan seseorang dipengaruhi oleh
6

kode atau kelompok symbol yang digunakan untuk mentransfer makna, isi dari pesan itu
sendiri, serta keputusan yang diambil dalam memilih dan menata kode da nisi.
Saluran adalah medium lewat mana pesan itu berjalan. Medium dipilih oleh
sumber yang harus menentukan mana saluran yang formal dan mana yang
informasi. Saluran formal ditetapkan oleh organisasi. Saluran itulah yang meneruskan
pesan mengikuti jaringan wewenang didalam organisasi. Bentuk pesan lain, seperti pesan
pribadi atau sosial, mengikuti saluran informal dalam itu.
Penguraian adalah proses penerimaan pesan oleh pihak yang menjadi sasaran dari
pesan tersebut. Akan tetapi, sebelum pesan dapat diterima, symbol-simbol yang
digunakan harus diterjemahkan ke dalam suatu bentuk yang dapat dipahami oleh
penerima.
Umpan balik jika penerima menguraikan pesan yang dikodekan oleh sumber dan
mengembalikan pesan itu ke dalam sistem, maka akan diperoleh umpan balik. Umpan
balik merupakan pengecekan mengenai seberapa berhasilnya seseorang dalam
mentransfer pesan sebagaimana dimaksudkannya. Umpan balik menentukan apakah
pesan itu telah dipahami atau tidak.
2.3 Hal-hal Mendasar Dalalm Komunikasi


Arah Komunikasi
Komunikasi dapat mengalir secara vertical atau lateral. Dimensi vertical dapat dibagi
lebih lanjut menjadi komunikasi ke atas dan kebawah.
1. Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas merupakan komunikasi yang mengalir kesuatu tingkatan yang
lebih tinggi dalam kelompok atau organisasi. Komunikasi ini digunakan untuk
memberikan umpan balik, menginformasikan kemajuan tujuan, dan meneruskan
masalah-masalah yang ada kepada atasan. Komunikasi ke atas menyebabkan para
manajer menyadari perasaan para karyawan terhadap pekerjaannya, rekan sekerjanya,
dan organisasi secara umum. Manajer juga mengandalkan komunikasi ke atas untuk
mendapatkan gagasan mengenai bagaimana segala sesuatu dapat diperbaiki.
2. Komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah merupakan komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam
suatu kelompok atau organisasi ke tingkat yang lebih rendah. Bila anda
membayangkan para manajer yang berkomunikasi dengan bawahannya, maka itu
adalah pola komunikasi kebawah. Pola itu digunakan oleh pemimpin kelompok dan
manajer untuk menetapkan tujuan, memberikan instruksi pekerjaan,
menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada bawahan, menunjukkan masalah
yang memerlukan perhatian, dan melakukan kontak lisan atau tatap muka.
Komunikasi lateral adalah komunikasi yang terjadi diantara anggota kelompok kerja
pada tingkatan yang sama, diantara kelompok kerja pada tingkatan yang sama,
7

diantara manajer pada tingkatan yang sama, diantara manajer pada tingkatan yang
sama, atau diantara setiap karyawan yang setara secara horizontal.






Jaringan Formal dan Informal
Jaringan komunikasi menetapkan saluran-saluran tempat informasi mengalir. Saluran ini
merupakan salah satu dari dua jenis saluran- formal atau informal. Jaringan formal pada
umumnya vertical, mengikuti tingkatan wewenang, dan terbatas pada komunikasi yang
bertalian dengan tugas. Sebaliknya, jaringan informal, seperti selentingan, biasanya bebas
untuk bergerak ke segala arah, melompati tingkatan wewenang dan kemungkinan besar
memenuhi kebutuhan sosial dari anggota kelompok karena mempermudah penyelesaian
tugas.
Komunikasi Non-verbal
Studi akademis tentang gerakan tubuh disebut dengan kinetika. Studi ini merujuk pada
sikap tubuh, konfigurasi wajah, dan gerakan tubuh lainnya. Akan tetapi, studi ini
merupakan bidang yang relatif baru dan lebih dipengaruhi oleh dugaan dan popularisasi
dan bukannya dukungan penemuan riset. Dengan demikian, walaupun diakui bahwa
gerakan tubuh merupakan salah satu segmen penting dari studi atas komunikasi dan
perilaku, seseorang tetap harus berhati-hati dalam pengambilan keputusan.
Penghalang Komunikasi yang Efektif
Terdapat beberapa penghalang utama terhadap komunikasi efektif yang perlu disadari,
yaitu penyaringan, persepsi selektif, defensif, dan bahasa.
Penyaringan mengacu pada pengirim yang memanipulasi informasi sedemikian
rupa, sehingga tampak lebih menguntungkan dimata penerima. Penentu utama dari
penyaringan adalah banyaknya tingkatan dalam suatu struktur organisasi. Semakin
banyak tingkatan vertical dalam hierarki organisasi, semakin banyak kesempatan untuk
penyaringan.
Persepsi selektif muncul karena penerima dalam proses komunikasi tersebut
melihat dan mendengar secara selektif berdasarkan kebutuhan, motivasi, pengalaman,
latar belakang, dan karakteristik pribadinya. Penerima juga memproyeksikan minat dan
harapan mereka ke dalam komunikasi ketika mereka menguraikan komunikasi
tersebut. Pewancara calon karyawan yang mengharapkan seorang pelamar wanita untuk
lebih mementingkan keluarganya daripada kariernya kemungkinan besar akan melihat hal
itu pada para pelamar wanita, tidak peduli apakah pelamar itu merasa demikian atau
tidak.
Defensif ketika orang yang merasa terancam cenderung bereaksi
dengan cara mengurangi kemampuan mereka untuk mencapai pemahaman timbal balik.
Artinya,
mereka
menjadi
defensif,
yaitu
terlibat
dalam
perilaku,
seperti menyerang orang lain secara verbal, memberikan ungkapan-ungkapan yang
sarkastis, bersikap terlalu mengadili, dan menanyakan motif-motif orang lain. Dengan
8

demikian, bila individu menafsirkan pesan orang lain sebagai sesuatu yang mengancam,
mereka sering kali menanggapinya dengan cara yang mengganggu komunikasi yang
efektif.
Bahasa adalah kata-kata yang memiliki arti berbeda bagi orang yang
berbeda. “Makna kata-kata tidaklah dalam kata-kata itu sendiri; maknanya ada pada diri
penerima.” Usia, pendidikan, dan latar belakang budaya merupakan tiga dari variable
yang jelas memengaruhi bahasa yang digunakan oleh seseorang dan definisi yang
diberikannya kepada kata-kata tersebut. Dalam suatu organisasi, biasanya karyawan
berasal dari latar belakang yang beragam. Oleh karena itu, mereka mempunyai pola
bicara yang berbeda. Disamping itu, pengelompokan karyawan ke dalam departemendepartemen menciptakan spesialis-spesialis yang mengembangkan jargon atau bahasa
teknis mereka sendiri. Dalam organisasi besar, anggota-anggotanya sering kali tersebar
luas secara geografis, mereka bahkan beroperasi di negara-negara yang berlainan, dan
individu ditiap tempat akan menggunakan istilah dan ungkapan yang unik di kawasannya.
2.4 Variable-variabel yang Berpengaruh pada Komunikasi Akuntansi


Sumber
Ada dua aspek sumber yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Dua aspek tersebut
adalah kredibilitas sumber dan kesamaan antara penerima dan sumber.
1. Kredibilitas Sumber
Secara umum diakui bahwa semakin kredibel sumber dari suatu pesan, semakin besar
efektivitasnya. Efektivitas biasanya dipahami sebagai perubahan sikap kea rah yang
disarankan oleh sumber. Akan tetapi, kredibilitas sumber merupakan suatu
karakteristik dari sumber sebagaimana dipandang oleh penerima. Hal ini adalah
bagian dari citra sumber dan dapat bervariasi diantara situasi komunikasi yang
berbeda. Biasanya, hal ini dibentuk sebelum sumber dan penerima memasuki
kejadian komunikasi.
Kredibilitas sumber merupakan suatu bangunan yang multidimensional. Risetriset empiris mengindikasikan bahwa kredibilitas sumber terdiri atas tiga faktor. Ketiga
faktor tersebut adalah :
1) Kewenangan- seberapa andal, terinformasi, memenuhi kualifikasi (melalui gelar
atau profesi), cerdas, atau ahli sumber itu dipandang.
2) Kejujuran- seberapa aman, jujur, ramah, menyenangkan, dan menariknya sumber
itu dipandang.
3) Kedinamisan- seberapa agresif, kuat, berani, dan energiknya sumber itu
dipandang.
2. Kesamaan antara Penerima dan Sumber
Komunikasi yang efektif akan lebih mudah terjadi ketika sumber dan penerima
adalah serupa. Tingkat kesamaan atau perbedaan tersebut ditentukan oleh dua
9

faktor, yaitu : kesamaan demografi (misalnya usia, pendidikan, jenis kelamin,
Negara, dan lain-lain) serta kesamaan kognitif (misalnya kesamaan dalam sikap,
nilai, budaya, keyakinan, dan lain-lain).
Komunikasi yang efektif dihasilkan dari kesamaan antara sumber dan
penerima. Akan tetapi, yang sebaliknya dapat juga benar. Pada awalnya, sumber dan
penerima mungkin memiliki sedikit kesamaan. Dengan berinteraksi, sumber dan
penerima menyatu kerangka kognitif bersama atas saling memahami. Misalnya saja,
penerima laporan keuangan mungkin saja hanya mengetahui sedikit atau
tidak sama sekali mengenai masalah tersebut sebelum mereka mulai
membacanya. Lebih lanjut lagi, sementara ideal untuk membuat akuntan serupa
mungkin dengan pengguna dari suatu dokumen, kesamaan mungkin saja adalah
mustahil. Perbedaan yang signifikan pada umumnya ada, paling tidak dalam hal
pengetahuan akuntan yang ekstensif mengenai apa yang sedang dikomunikasikan
sementara pengguna tidak memiliknya.


Pesan
Barlo mengidentifikasikan lima elemen pesan yang sebaiknya dipertimbangkan ketika
menganalisis komunikasi, yaitu: 1) isi, 2) organisasi atau struktur, 3) kode, 4) perlakuan,
dan 5) elemen-elemen pesan. Diasumsikan bahwa isi adalah informasi atau materi
keuangan yang berkaitan dengan kebijakan manajemen dan bahwa sistem kode adalah
bahasa dari sumber dan penerima. Elemen-elemen dari pesan adalah kata-kata, kalimat,
paragraph, angka, statistik, tabel, dan grafiknya. Hal-hal tersebut tentu saja bervariasi
dengan saluran yang berbeda.

2.5 Organisasi Pesan
Cara terbaik untuk mengorganisasikan suatu pesan bergantung pada budaya tempat informasi
tersebut digunakan. Di masyarakat Barat, pola pemikiran bersifat linier atau
berurutan. Pemrosesan linier merupakan karakteristik dari semua pemrosesan bahasa
(membaca dan mendengarkan) dan juga banyak aktivitas pemecahan masalah dan
berpikir. Karena bahasa Inggris menjadi bahasa utama dari bisnis internasional, dapat di
asumsikan bahwa laporan-laporan bisnis akan diorganisasi secara linier dengan pendahuluan,
bagian tengah, dan bagian akhir.
Cara optimal untuk menyusun suatu pesan juga bergantung pada latar belakang
pendengar. Faktor, seperti sikap sebelumnya, pendidikan, komitmen, keterampilan, harapan,
perhatian, dan tingkat ketertarikan mereka terhadap materi tersebut seluruhnya membantu
menentukan cara terbaik untuk mengorganisasi suatu pesan.
Riset terhadap dampak dari urutan juga memiliki implikasi terhadap komunikasi
keuangan. Asumsi teoretis yang mendasari riset ini adalah bahwa efektivitas pesan
bergantung pada penempatan argumentasi atau materi dalam suatu penyajian. Terdapat tiga

10

strategi urutan pesan yang telah diinvestigasi, yaitu: 1) klimaks, informasi yang paling
penting disajikan terlebih dahulu, 2) antiklimaks, informasi terpenting ditempatkan ditengah.
Para peneliti menyimpulkan bahwa urutan penyajian memengaruhi faktor-faktor,
seperti perhatian, minat, pemahaman, dan ingatan. Urutan yang paling efektif dalam
menghasilkan perubahan sikap adalah: 1) pendahuluan, 2) transisi, 3) kesimpulan. Skema
yang menggunakan urutan deduktif secara logis lebih efektif dalam memastikan retensi
dibandingkan dengan urutan di mana kalimat inti ditempatkan di bagian tengah, tetapi tidak
ada perbedaaan dalam minat pembaca. Pada umumnya riset mengenai pembelajaran dan
proses ingatan mengindikasikan bahwa pemahaman dan retensi bertanggung pada
organisasi. Yaitu materi yang terstruktur dengan baik selalu dipahami dan di ingat dengan
lebih baik dibandingkan dengan materi yang tidak terstruktur.
Riset mengindikasikan bahwa terdapat kesepakatan yang semakin besar mengenai
seluruh topic jika topic-topik yang diinginkan disajikan terlebih dahulu. Penjelasan tersebut
bergantung pada teori pembelajaran stimulus respons. Kandungan awal dari pesan
memberikan penghargaan dan membiasakan seseorang untuk memberikan perhatian pada
materi tersebut. Ketika informasi negatif disajikan terlebih dahulu, informasi tersebut
cenderung menghukum penerima untuk memberikan perhatian sejak awal. Hal ini dapat
menyebabkan penerima untuk berhenti memerhatikan materi selanjutnya. Komunikator
sebaiknya menetukan sikap penerima dan menyajikan materi yang disetujui atau disenangi
oleh penerima sebelum meyajikan informasi yang dianggap ofensif. Informasi bisnis yang
positif sebaiknya mendahului yang negatif. Misalnya saja, letakkan materi yang sulit setelah
materi yang mudah atau letakkan berita keuangan yang positif sebelum yang
negatif. Mungkin adalah ide yang bagus untuk memulai suatu laporan atau presentasi dengan
sedikit humor. Di pihak lain, terdapat sedikit riset empiris yang mengaitkan humor dengan
eefektivitas. Walaupun humor meningkatkan perhatian terhadap situasi komunikasi, dapat
saja humor tersebut menghambat pemahaman.
2.6 Perlakuan Pesan
Informasi akuntansi sebaiknya berulang. Pengulangan meningkatkan pemahaman atas
materi. Retensi meningkat dengan adanya pengulangan atas fakta dan ide penting. Ringkasan
yang menunjukkan, menyoroti, atau mengorientasikan pembaca terhadap fakta penting juga
meningkatkan pemahaman dan retensi pembaca. Pengulangan lintas saluran juga
meningkatkan retensi. Retensi pembaca semakin meningkat ketika fakta-fakta dalam
penyajian verbal disoroti dengan penarik perhatian, seperti garis bawah, huruf besar, bagan,
dan warna.
Terdapat cukup banyak riset mengenai bagaimana menyajikan materi secara efektif. G. R.
Klare (1977) menguraikan bagaimana cara untuk membuat materi ini lebih mudah dibaca
mudah dimengerti. Kemudahan membaca materi merupakan fungsi dari karakteristik kata-

11




















kata dan kalimat, tetapi Klare lebih lanjut menetapkan aturan untuk menghasilkan dokumen
yang mudah dibaca, yaitu:
Kata-kata yang sering muncul dan akrab meningkatkan kemudahan membaca suatu materi.
Kata-kata lebih pendek membuat membaca menjadi lebih cepat dan mudah.
Kata-kata yang mempunyai nilai asosiatif (secara psikologis) yang berkaitan dengan katakata lain yang muncul di bagian selanjutnhya dari teks sebaiknya digunakan.
Kata-kata yang konkret, dan bukannya kata-kata yang abstrak, membuat dokumen menjadi
lebih mudah dibaca.
Kata-kata kerja aktif, dan bukannya bentuk nominalis, meningkatkan kemudahan membaca.
Penggunaan kata ganti dan anafora (kata-kata atau ungkapan yang mengacu kembali pada
kata atay bagian teks sebelumnya) harus dibatasi.
Kalimat harus singkat. Jika penulis akan menggunakan kata penghubung, ia sebaiknya
menggunakan kata dan dibandingkan dengan tetapi atau kata karena.
Anak kalimat sebaiknya singkat dan struktur kalimat sederhana.
Kalimat aktif lebih menarik dibandingkan dengan bentuk kalimat pasif.
Anderson (1971) menyarankan bahwa faktor-faktor, seperti rantai ide, struktur, dan
konsep dalam teks tersebut sebaiknya digunakan untuk menentukan seberapa sulit untuk
memahami materi itu. Riset masa depan berdasarkan pada pengukuran empiris dibutuhkan
untuk menentukan faktor-faktor yang memprediksikan pemahaman terhadap materi-materi
teknis seperti laporan keuangan. Parameter-paramater berikut ini sebaiknya diinvestigasikan
secara khusus untuk materi-materi keuangan:
Kompleksitas struktur dan materi.
Keabstrakan.
Konsep baru.
Kebutuhan akan pengetahuan yang melatarbelakangi.
Beban kerja selama membaca.
Penggunaan waktu.
Sensitivitas terhadap gangguan dari luar.
Isi ingatan jangka panjang.
Sejumlah materi mengenai variabel-variabel pesan dan dampaknya terhadap
efektivitas komunikasi telah disajikan. Kesimpulannya sering kali berlawanan karena
komunikasi adalah proses kompleks yang melibatkan interaksi dari semua komponen yang
dijelaskan dalam model-model tersebut. Ketika riset dilakukan mengenai satu komponen
tunggal mana pun, seperti pesan, faktor-faktor lainnya mungkin tidak konklusif, sehingga
usulan apa pun sebaiknya dipandang secara skeptis.

2.7 Saluran
Jalur komunikasi merupakan alat untuk menyebarkan informasi. Schramm (1973)
mengelompokkan atau membedakan saluran berdasarkan enam dimensi:
12













Pancaindra yand dipengaruhi; komunikasi tatap muka membuatnya mungkin untuk
menggunakan seluruh pancaindra, sementara media yang berbeda menggunakan
subkelompok dari pancaindra ini dalam kombinasi untuk menghasilkan dampak diferensial
terhadap penerima.
Peluang untuk umpan balik; peluang pertukaran informasi dua arah maksimal dalam
komunikasi tatap muka. Pada umumnya, umpan balik dibutuhkan untuk memastikan
komunikasi yang efektif dan untuk memahami informasi yang disampaikan. Dengan
demikian, dalam penyajian laporan keuangan harus terkandung di dalamnya metode umpan
balik.
Besarnya kendali penerima; terdapat sejumlah besar kendali dalam interaksi interpersonal.
Ketika menggunakan media cetak, penerima dapat membaca dengan kecepatan mereka
sendiri dan membaca kembali bagian-bagian yang penting atau terperinci. Penerima
memiliki sedikit kendali terhadap media siaran, kecuali mereka merekam program tersebut,
semakin besar kendali pengguna, semakin besar pembelajaran.
Jenis pengodean pesan; interaksi tatap muka memungkinkan penggunaan petunjukpetunjuk non verbal. Hal ini tidak terlalu berlaku untuk media video, film, dan terutama
media cetak. Akan tetapi, media cetak lebih baik dalam menyampaikan ide-ide abstrak
seperti kebijakan manajemen. Media audiovisual adalah media yang lebih kuat untuk
menyajikan informasi konkret.
Kekuatan multiplikatif; system komunikasi massa dapat dengan efesien dan cepat mencapai
banyak penerima yang tersebar. Saluran-saluran interpersonal dapat mencapai peneriima ini
hanya dengan usaha yang besar dan periode waktu yang relatip lama.
Pelestarian pesan; keunggulan dari media massa adalah catatan permanen yang tidak ada
dalam interaksi tatap muka. Secara tradisional, keunggulan ini hanya terbatas pada media
cetak. Tetapi, dengan pita dan pirinngan audio dan video serta system manajemen informasi
yang berbasis komputer, kapasitas ini telah diperluas ke media elektronik.
Pemahaman materi tertentu dapat diperbaiki dengan penggunaan jaringan selain
media cetak. Lebih lanjut lagi, cara untuk meningkatkan pemahaman adalah melalui
penyajian materi secara serempak menggunakan saluran yang berbeda. Hal ini disebabkan
adanya kebutuhan penerima untuk menggunakan lebih dari satu pancaindra pada waktu yang
bersamaan.
Secara ringkas, akuntansi membangun mekanisme untuk umpan balik ke dalam
proses dan menggunakan saluran yang lebih sesuai untuk menyampaikan pesan dan dampak
yang diinginkan kepada penerima melalui laporan secara teknis. Dengan pesan, saluran yang
optimal bergantung pada situasi komunikasi yang unik di mana laporan disajikan.

2.8 Penerima
Ketika menganalisis suatu situasi komunikasi, seseorang perlu mempertimbangkan faktorfaktor mengenai penerima, seperti latar belakang demografis dan budaya, sikap sebelumnya,
13

pengetahuan, pola perilaku, dan system atau lingkungan sosial dimana
mereka akan menggunakan informasi tersebut. Pada umumnya, semakin serupa penerima dan
sumber mengenai faktor-faktor ini, maka semakin mudah dan semakin efektif komunikasi
tersebut.
2.9 Analisis Penerima
Pengetahuan mengenai penerima dapat digunakan untuk mendesain pesan yang lebih efektif
dan menyampaikannya melalui saluran yang paling sesuai. Komunikasi yang efektif
dihasilkan ketika informasi didesain secara spesifik untuk penerima. Akuntan sebaiknya
menyelidiki penerima yang dimaksudkan, penerima actual, dan penerima yang potensial
sebelum menghasilkan dokumen. Para akuntan keprilakuan sebaiknya juga menyelidiki pola
pencarian informasi oleh klien mereka dan pengguna lainnya dari laporan bisnis. Riset
tersebut menyimpulkan bahwa orang hanya memberikan sedikit usaha untuk pencarian
informasi dan akan menggunakan sumber yang paling dapat diakses. Informasi dicari karena
secara sosial informasi merupakan suatu keuntungan dan dapat dibahas dalam jaringan
interpersonal pengguna.
 Analisis Jaringan
Pada dasarnya, penjelasan struktur komunikasi dari suatu organisasi dihasilkan dengan
menggunakan dengan memeriksa arus informasi antar-komponen dari system
tersebut. Komponen-komponen itu dapat berupa individu, kelompok tugas kecil, atau
organisasi formal secara keseluruhan. Struktur jaringan yang optimal bervariasi dengan
fungsi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terlibat dengan manifestasi tugas
produktif akan dilaksanakan fungsi mereka paling baik ketika mereka sangat
terintegrasi. Mereka yang berkepentingan dengan inovasi memerlukan sejumlah besar
perluasan batasan dan demikian mereka dapat melakukan fungsinya dengan paling baik
ketika terhubung secara longgar.
Peran dari komunikator berbeda ketika materi dikembangkan untuk konsumsi pihak
internal dibandingkan jika materi tersebut akan disebarkan kepada lingkungan. Bidang
terakhir berkaitan dengan penggunaan teknologi komunikasi baru, seperti jaringan
komputer, kabel interaktif dua arah, system pengiriman lewat satelit, dan teks
video. Sejumlah perusahaan pialang saham saat ini memiliki system pendukung
pengambilan keputusan (decision support system) berbasis komputer untuk membantu
para pialang menyimpan dan mengakses catatan klien, menganalisis portofolionya, dan
memperoleh berita tentang harga dan keuangan terkini.



Umpan Balik
Umpan balik merupakan pesan yang dikirim oleh penerima kepada sumber dalam
menanggapi pesan awal. Umpan balik memungkinkan terjadinya pertukaran ide. Dengan
14

demikian, tujuan komunikasi adalah pemahaman dan bukannya arus penyebaran
informasi satu arah dari sumber kepada penerima. Umpan balik memastikan komunikasi
yang efektif- yaitu, pemahaman ide di antara individu dalam jaringan sosial atau
organisasi formal.
Barnett (1979) menyarankan bahwa pendekatan sibernetik digunakan untuk
komunikasi teknis. Hal itu membangun banyak mekanisme umpan balik kedalam proses
komunikasi dan mengubah peran pengguna dari pembaca pasif menjadi individu yang
terlibat secara aktif dalam penyusunan dokumen yang akan memenuhi kebutuhan
mereka. Umpan balik dari pengguna pada tahap perencanaan akan membantu
menentukan fungsi, isi, dan perlakuan dari laporan tertentu. Ketika menyebarkan laporan
tersebut, penerima sebaiknya dimintai umpan balik. Umpan balik terhadap pertanyaanpertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk memodifikasi draf dokumen untuk
meningkatkan efektivitasnya:
1. Seberapa efektif laporan tersebut memenuhi kebutuhan pengguna? Apakah laporan
dimengerti?
2. Apakah laporan tersebut memenuhi harapan penggung?
3. Seberapa sering laporan itu digunakan dan untuk tujuan apa laporan itu dibutuhkan?
4. Apakah pemakai melengkapi laporan tersebut dengan mencari sumber-sumber lain?
5. Sumber-sumber lain manakah- dokumen dan orang- yang dicari oleh pengguna untuk
memperoleh informasi yang sama?
6. Informasi tambahan manakah yang sebaiknya juga dikandung oleh laporan tersebut?
7. Umpan balik seperti apa dapat ditawarkan pengguna laporan terhadap bagian tertentu
dari laporan tersebut?
8. Umpan balik seperti apa yang belum diantisipasi yang dapat diberikan oleh pengguna
dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan terbuka?
9. Apakah karakteristik-karakteristik demografi dan sosial dari pengguna actual?
Siapakah yang menggunakan laporan tersebut?
Jika penyimpangan antara tujuan laporan dan penggunaannya signifikan, maka
modifikasi sebaiknya dibuat untuk mengoreksi masalah-masalah ini. Proses ini dapat
dimurnikan dan diulang dengan berjalannya waktu sampai laporan tersebut memenuhi
kebutuhan pengguna. Dengan cara ini, focus komunikasi bergeser dari arus
satu arah yang berkosentrasi pada penghasilan pesan ke pertukaran ide antara akuntan
dan
pengguna
laporan.
Dengan
perubahan
fokus
ini
akan
terjadi
perubahan dalam dokumen tersebut.

15

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Diantara fungsi-fungsi akuntan, seperti pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan
pengomunikasian data, keberadaan komunikasi merupakan hal yang paling penting untuk
memunculkan tanggung jawab akuntansi. Hal ini berarti bahwa tahapan komunikasi yang
diawali oleh komunikasi hingga umpan balik bagi komunikator menjadi serangkaian tahapan
yang perlu dijadikan focus. Hal ini disebabkan karena pemahaman yang terkait dengan
perilaku yang tepat merupakan hasil dari proses komunikasi. Selain dari tahapan komunikasi,
berbagai jenis variabel komunikasi juga menjadi hal yang penting bagi saluran, penerima,
umpan balik, dan lingkungan. Masing-masing variabel membawa pengaruhnya kedalam
setiap tahapan komunikasi.

16

DAFTAR PUSTAKA
Ikhsan, Arfan dan Muhammad Ishak. 2008. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba
Empat.

17

Judul: Komunikasi Informasi Akuntansi

Oleh: Erja Humairah Lydina


Ikuti kami