Komunikasi Informasi Akuntansi

Oleh Niken Hustilah

24 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Komunikasi Informasi Akuntansi

MAKALAH
AKUNTANSI KEPERILAKUAN
“KOMUNIKASI INFORMASI AKUNTANSI”
Dosen Pengampu:
Wirmie Eka Putra, SE., M.Si

Disusun Oleh:
Niken Hustilah (C1C018044)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah
Akuntansi Keperilakuan mengenai “Komunikasi Informasi Akuntansi” ini dapat tersusun hingga
selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Wirmie Eka
Putra, SE., M.Si yang telah mendidik dan memberikan tugas pada mata kuliah Akuntansi
Keperilakuan guna untuk dapat memahami dan mempelajari tentang Akuntansi Keperilakuan.
Penulis berharap makalah ini dapat menjadi acuan dan pembelajaran bagi mahasiswa/i lain
untuk terus memahami dan mengetahui tentang mata kuliah Akuntansi Keperilakuan. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 11 Desember 2020

Niken Hustilah

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1

Latar Belakang.............................................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah........................................................................................................................1

1.3

Tujuan Umum..............................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................2
2.1

Teori Komunikasi........................................................................................................................2

2.1.1

Pengertian Komunikasi........................................................................................................2

2.1.2

Fungsi Komunikasi..............................................................................................................2

2.2

Model-model Komunikasi...........................................................................................................3

2.2.1

Model Lasswell....................................................................................................................3

2.2.2

Model Shannon-Weaver......................................................................................................4

2.2.3

Model SMCR Berlo.............................................................................................................4

2.2.4

Model Westley-MacLean.....................................................................................................5

2.2.5

Model Pemusatan Komunikasi............................................................................................5

2.3

Variabel-variabel yang Berpengaruh pada Komunikasi Akuntansi..............................................6

2.3.1

Sumber.................................................................................................................................6

2.3.2

Pesan....................................................................................................................................7

2.3.3

Analisis Penerima..............................................................................................................13

2.3.4

Analisis Jaringan................................................................................................................13

2.3.5

Umpan Balik......................................................................................................................14

BAB III PENUTUP..................................................................................................16
3.1

Kesimpulan................................................................................................................................16

3.2

Saran..........................................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................17

ii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Riset menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk merupakan sumber konflik
interpersonal yang paling sering disebutkan. Karena individu menghabiskan 70 persen dari
waktu

aktifnya

untuk

berkomunikasi

seperti

menulis,

membaca,

berbicara,

mendengarkan. Tampaknya wajar untuk menyimpulkan bahwa salah satu kekuatan yang
paling menghambat keberhasilan kinerja kelompok adalah kurangnya komunikasi yang
efektif. Tidak ada kelompok yang dapat tetap ada tanpa komunikasi. Hanya lewat
komunikasi, yang merupakan transfer makna dari satu orang ke orang lain, informasi dan
gagasan dapat diantarkan.
Intisari dari proses akuntansi adalah komunikasi informasi dengan implikasi keuangan
atau manajemen. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang akuntan yang efektif, seseorang
harus menjadi komunikator yang efektif. Informasi bisnis harus disajikan oleh para akuntan
untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Informasi tersebut harus dinyatakan dengan jelas,
ringkas, dan akurat.
1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan teori komunikasi?
2. Apa saja Model-model komunikasi?
3. Variable apa sajakah yang dapat berpengaruh kepada komunikasi akuntansi?

1.3

Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan, sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu teori komunikasi.
2. Untuk mengetahui apa saja model-model komunikasi.
3. Untuk mengetahui variable yang berpengaruh terhadap komunikasi akuntansi.
1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Komunikasi
2.1.1

Pengertian Komunikasi
Para ahli, menurut Gibson et al. (1995), mengatakan bahwa komunikasi berasal
dari kata latin “communis” yang berarti “sama”. Hal ini berarti adanya suatu
pencarian kesamaan makna atas hal-hal yang dikomunikasikan antara pihak pengirim
dengan pihak penerima. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi adalah proses
mempertukarkan informasi antara dua atau lebih sistem yang ada dalam suatu
lingkungan umum. Sistem ini dapat berupa individu, organisasi sosial, hewan, atau
mesin. Informasi pada umumnya didefinisikan sebagai materi atau energy berpola,
yang mengurangi ketidakpastian dalam perilaku masa depan dari sistem-sistem yang
saling berinteraksi. Ketika sistem tersebut meliputi orang-orang, maka ada arti terkait
dengan informasi tersebut. Dalam hal akuntansi, individu-individu yang terkait
dalam bisnis pada umumnya mempertukarkan informasi keuangan, yang ketika
diterjemahkan, memungkinkan prediksi yang wajar mengenai operasi masa depan
dari suatu organisasi dan membantu dalam pengambilan keputusan serta
pengendalian harian.
Komunikasi adalah proses dimana informasi dipertukarkan antara dua atau lebih
sistem yang ada dalam lingkungan umum. Sistem ini mungkin individu, organisasi
sosial, hewan, atau mesin. Informasi secara umum didefinisikan sebagai materi
bermotif atau energi, yang mengurangi ketidakpastian dalam perilaku masa depan
sistem berinteraksi.

2.1.2

Fungsi Komunikasi
Komunikasi sebagaimana dijelaskan oleh Robins, memiliki empat fungsi utama
dalam suatu kelompok atau organisasi, yaitu pengendalian, motivasi, pengungkapan
emosional, dan informasi. Komunikasi bertindak untuk mengendalikan

perilaku

anggota dengan beberapa cara. Setiap organisasi mempunyai hierarki wewenang dan
garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh karyawan.
2

Komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada para
karyawan apa yang seharusnya dilakukan. Seberapa baik mereka bekerja, dan apa
yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja dibawah standar. Bagi banyak
karyawan, kelompok kerja mereka merupakan sumber pertama untuk interaksi sosial.
Komunikasi yang terjadi didalam kelompok tersebut merupakan mekanisme
fundamental dengan mana anggota-anggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas
mereka. Oleh karena itu, komunikasi menunjukkan ungkapan emosional dari
perasaan dan merupakan pemenuhan terhadap kebutuhan sosial.
Fungsi terakhir yang dilakukan oleh komunikasi berhubungan dengan perannya
dalam mempermudah pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan informasi
yang diperlukan oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan
meneruskan data yang dapat digunakan untuk mengenali dan menilai alternatifalternatif pilihan.
2.2

Model-model Komunikasi
2.2.1 Model Lasswell
Salah satu model paling awal dari komunikasi yang dikembangkan oleh Harold
Lasswell meliputi:
Siapa….
Mengatakan apa….
Dengan Cara Apa….
Kepada Siapa….
Dengan Dampak Apa….
Model tersebut sederhana, tetapi kurang memiliki sejumlah elemen yang
diperlukan uantuk memahami proses komunikasi. Dalam konteks akuntansi, akuntan
(siapa) menyajikan informasi keuangan (mengatakan apa), pada umumnya dalam
bentuk laporang tertulis (dengan cara apa), kepada pihak pengguna internal dan
eksternal (kepada siapa), dengan tujuan untuk menyediakan data yang andal, relevan,
dan tepat waktu untuk mengambil keputusan bisnis yang berdasarkan informasi
(dengan dampak apa).

3

2.2.2 Model Shannon-Weaver
Claude Shannon dan Warren Weaver (1949) mengembangkan model matematis
dari komunikasi yang model tersebut dikembangkan untuk menjelaskan komunikasi
melalui alat perantara, seperti telepon atau korespodensi tertulis. Model ini
merupakan suatu kemajuan dibandingkan dengan model Lasswell karena model
tersebut membedakan antara sumber informasi, pengirim informasi, penerima
informasi, dan tujuan. Dalam konteks akuntansi, sumber dapat berupa tenaga
pembukuan atau klerek; pengirim informasi, kontroler; penerima informasi, orang
yang memperoleh dokumen tersebut, akuntan; dan tujuan, pengguna akhir, yaitu
klien.
Shannon dan Weaver juga menambahkan gangguan kedalam proses komunikasi.
Gangguan (noise) adalah stimulus yang memberikan kontribusi terhadap distorsi
dari proses transfer informasi. Hal ini tersebut dapat mengarah pada hancurnya
komunikasi. Arus statis dalam sambungan telepon adalah kegaduhan. Bayangkan
masalah yang dapat ditimbulkan akibat salah mendengar nama klien akibat arus
statis tersebut. Model Shannon dan Weaver ini tidak memiliki gagasan mengenai
umpan balik-pertukaran informasi dan bukannya transfer informasi satu arah-dan
konteks atau lingkungan di mana proses tersebut terjadi.
2.2.3 Model SMCR Berlo
Model komunikasi sumber, pesan, saluran, dan penerima (source, message,
channel, receiver- SMCR) yang diajukan oleh David Berlo yang mempunyai
beberapa kesalahan yang sama seperti model-model sebelumnya. Model ini
menyarankan arus informasi satu arah dari suatu sumber kepada penerima tanpa
umpan balik dan model ini juga tidak memasukkan konsep gangguan. Akan tetapi,
Berlo menspesifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kebenaran komunikasi
dan pada tahap mana dalam proses tersebut faktor-faktor tersebut beroperasi.
Misalnya saja, ketika mempertimbangkan pesan, ia menyarankan bahwa elemenelemen

pesan-

isi,

struktur,

kode,dan

perlakuannya-

akan

memengaruhi

pemahamannya oleh penerima.
Lebih lanjut lagi, sementara tidak secara eksplisit memasukkan konteks proses
tersebut terjadi, model tersebut mengindikasikan bahwa sistem sosial dan budaya
dari sumber dan penerima, seta sistem kode dimana pesan tersebut disusun,
4

memengaruhi kebenaran dari proses komunikasi. Gagasan-gagasan ini terutama
penting untuk perusahaan-perusahaan multinasional yang harus mempertimbangkan
budaya dan sistem sosial dari klien dan pelanggan.
2.2.4 Model Westley-MacLean
Bruce Westley dan Malcolm MacLean (1957) mengembangkan satu model untuk
riset komunikasi. Model tersebut memiliki sejumlah implikasi penting. Model
tersebut menjelaskan cara-cara individu dan organisasi memutuskan pesan apa yang
akan dikomunikasikan dan bagaimana pesan tersebut dimodifikasi atau dihapus
dalam proses tersebut.
2.2.5 Model Pemusatan Komunikasi
Rogers dan Kincaid (1981) telah mengkritik model-model terdahulu karena
model-model tersebut mengarah pada tujuh bias dalam komunikasi. Ketujuh bias
tersebut meliputi:
Suatu pandangan bahwa komunikasi adalah tindakan satu arah yang linier dan
bukannya proses dua arah yang memiliki siklus dimana informasi dipertukarkan
sejalan dengan berlalunya waktu.
Sumber bias yang diakibatkan oleh penekanan pada ketergantungan dan
bukannya pada hubungan dari mereka yang melakukan komunikasi dan saling
ketergantungannya yang mendasar. Dalam model tradisional, penerima biasannya
bergantung pada informasi yang ditransfer dari sumber. Tidak ada kebutuhan untuk
berinteraksi.
Kecenderungan untuk berfokus pada objek komunikasi dengan mengorbankan
konteks objek tersebut berada. Dalam hal akuntansi, focus tersebut pada laporan itu
sendiri dan bukan pada interaksi yang menghasilkannya.
Kecenderungan untuk berfokus pada pesan itu sendiri dengan mengorbankan
aspek waktu dari pesan itu.
Kecenderungan untuk menganggap bahwa fungsi utama dari komunikasi adalah
persuasi dan bukannya pemahaman, konsesus, dan tindakan kolektif yang
menguntungkan. Dalam konteks bisnis, focus tersebut ada pada penerapan kebijakan
dan bukan pada pengambilan keputusan secara partisipasif.

5

Kecenderungan untuk berkosentrasi pada dampak-dampak psikologis dari
komunikasi terhadap individu-individu yang terpisah dan bukan pada dampak sosial
dan hubungan antar individu dalam suatu komunitas.
Suatu keyakinan dalam hubungan sebab akibat mekanistis satu arah dan
bukannya hubungan sebab akibat dua arah yang merupakan karakteristik dari sistem
informasi manusia yang pada dasarnya bersifat sibernetik.
Sebagai alternatif dari model-model yang bias tersebut, Rogers dan Kincaid
mengajukan Model Pemusatan Komunikasi. Mereka menekankan pada kesatuan
informasi dan tindakan. Semua informasi merupakan konsekuensi dari tindakan;
melalui pemrosesan informasi, tindakan mungkin menghasilkan informasi tambahan.
Model tersebut tidak mempunyai awal dan akhir. Hanya hubungan yang saling
mendefinisikan diantara para partisipan yang memberikan makna kepada
keseluruhan. Ketika informasi dibagi oleh dua atau lebih partisipan, pemrosesan
informasi dapat mengarah pada saling memahami, saling menyetujui, dan tindakan
kolektif, seperti pemecahan masalah bisnis.
Salah satu konsekuensi dari model ini adalah bahwa komunikasi selalu
mengimplikasikan suatu hubungan- suatu proses saling membagi informasi diantara
dua atau lebih orang. Akibatnyam analisis komunikasi harus mempertimbangkan
perbedaan dan persamaan partisipan dan untuk tujuan, perubahan dalam hubungan
antara akuntan dan pengguna informasi- baik satu sama lain maupun perubahan
dalam individu lain dengan mana mereka berinteraksi mengenai topik-topik
keuangan.
2.3

Variabel-variabel yang Berpengaruh pada Komunikasi Akuntansi
2.3.1

Sumber
Ada dua aspek sumber yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Dua aspek
tersebut adalah kredibilitas sumber dan kesamaan antara penerima dan sumber.
1. Kredibilitas Sumber
Secara umum diakui bahwa semakin kredibel sumber dari suatu pesan,
semakin besar efektivitasnya. Efektivitas biasanya dipahami sebagai perubahan
sikap kearah yang disarankan oleh sumber. Akan tetapi, kredibilitas sumber
merupakan suatu karakteristik dari sumber sebagaimana dipandang oleh
6

penerima. Hal ini adalah bagian dari citra sumber dan dapat bervariasi diantara
situasi komunikasi yang berbeda. Biasanya, hal ini dibentuk sebelum sumber
dan penerima memasuki kejadian komunikasi.
Kredibilitas sumber merupakan suatu bangunan yang multidimensional.
Riset-riset empiris mengindikasikan bahwa kredibilitas sumber terdiri atas tiga
faktor. Ketiga faktor tersebut adalah:
1)

Kewenangan- seberapa andal, terinformasi, memenuhi kualifikasi
(melalui gelar atau profesi), cerdas, atau ahli sumber itu dipandang.

2)

Kejujuran- seberapa aman, jujur, ramah, menyenangkan, dan menariknya
sumber itu dipandang.

3)

Kedinamisan- seberapa agresif, kuat, berani, dan energiknya sumber itu
dipandang.

2.

Kesamaan antara Penerima dan Sumber
Komunikasi yang efektif akan lebih mudah terjadi ketika sumber dan
penerima adalah serupa. Tingkat kesamaan atau perbedaan tersebut ditentukan
oleh dua faktor, yaitu : kesamaan demografi (misalnya usia, pendidikan, jenis
kelamin, Negara, dan lain-lain) serta kesamaan kognitif (misalnya kesamaan
dalam sikap, nilai, budaya, keyakinan, dan lain-lain).
Komunikasi yang efektif dihasilkan dari kesamaan antara sumber dan
penerima. Akan tetapi, yang sebaliknya dapat juga benar. Pada awalnya,
sumber dan penerima mungkin memiliki sedikit kesamaan. Dengan
berinteraksi, sumber dan penerima menyatu kerangka kognitif bersama atas
saling memahami. Misalnya saja, penerima laporan keuangan mungkin saja
hanya mengetahui sedikit atau tidak sama sekali mengenai masalah tersebut
sebelum mereka mulai membacanya. Lebih lanjut lagi, sementara ideal untuk
membuat akuntan serupa mungkin dengan pengguna dari suatu dokumen,
kesamaan mungkin saja adalah mustahil. Perbedaan yang signifikan pada
umumnya ada, paling tidak dalam hal pengetahuan akuntan yang ekstensif
mengenai apa yang sedang dikomunikasikan sementara pengguna tidak
memiliknya.

7

2.3.2

Pesan
Barlo mengidentifikasikan lima elemen pesan yang sebaiknya dipertimbangkan
ketika menganalisis komunikasi, yaitu: 1) isi, 2) organisasi atau struktur, 3) kode, 4)
perlakuan, dan 5) elemen-elemen pesan. Diasumsikan bahwa isi adalah informasi
atau materi keuangan yang berkaitan dengan kebijakan manajemen dan bahwa sistem
kode adalah bahasa dari sumber dan penerima. Elemen-elemen dari pesan adalah
kata-kata, kalimat, paragraph, angka, statistik, tabel, dan grafiknya. Hal-hal tersebut
tentu saja bervariasi dengan saluran yang berbeda.
1. Organisasi Pesan
Cara terbaik untuk mengorganisasikan suatu pesan bergantung pada budaya
tempat informasi tersebut digunakan. Di masyarakat Barat, pola pemikiran
bersifat linier atau berurutan. Pemrosesan linier merupakan karakteristik dari
semua pemrosesan bahasa (membaca dan mendengarkan) dan juga banyak
aktivitas pemecahan masalah dan berpikir. Karena bahasa Inggris menjadi
bahasa utama dari bisnis internasional, dapat di asumsikan bahwa laporanlaporan bisnis akan diorganisasi secara linier dengan pendahuluan, bagian
tengah, dan bagian akhir.
Cara optimal untuk menyusun suatu pesan juga bergantung pada latar
belakang pendengar. Faktor, seperti sikap sebelumnya, pendidikan, komitmen,
keterampilan, harapan, perhatian, dan tingkat ketertarikan mereka terhadap
materi tersebut seluruhnya membantu menentukan cara terbaik untuk
mengorganisasi suatu pesan.
Riset terhadap dampak dari urutan juga memiliki implikasi terhadap
komunikasi keuangan. Asumsi teoretis yang mendasari riset ini adalah bahwa
efektivitas pesan bergantung pada penempatan argumentasi atau materi dalam
suatu penyajian. Terdapat tiga strategi urutan pesan yang telah diinvestigasi,
yaitu: 1) klimaks, informasi yang paling penting disajikan terlebih dahulu, 2)
antiklimaks, informasi terpenting ditempatkan ditengah.
Para peneliti menyimpulkan bahwa urutan penyajian memengaruhi faktorfaktor, seperti perhatian, minat, pemahaman, dan ingatan. Urutan yang paling
efektif dalam menghasilkan perubahan sikap adalah: 1) pendahuluan, 2)
8

transisi, 3) kesimpulan. Skema yang menggunakan urutan deduktif secara logis
lebih efektif dalam memastikan retensi dibandingkan dengan urutan di mana
kalimat inti ditempatkan di bagian tengah, tetapi tidak ada perbedaaan dalam
minat pembaca. Pada umumnya riset mengenai pembelajaran dan proses
ingatan mengindikasikan bahwa pemahaman dan retensi bertanggung pada
organisasi. Yaitu materi yang terstruktur dengan baik selalu dipahami dan di
ingat dengan lebih baik dibandingkan dengan materi yang tidak terstruktur.
Riset mengindikasikan bahwa terdapat kesepakatan yang semakin besar
mengenai seluruh topic jika topic-topik yang diinginkan disajikan terlebih
dahulu. Penjelasan tersebut bergantung pada teori pembelajaran stimulus
respons. Kandungan awal dari pesan memberikan

penghargaan

dan

membiasakan seseorang untuk memberikan perhatian pada materi tersebut.
Ketika informasi negatif disajikan terlebih dahulu, informasi tersebut cenderung
menghukum penerima untuk memberikan perhatian sejak awal. Hal ini dapat
menyebabkan penerima untuk berhenti memerhatikan materi selanjutnya.
Komunikator sebaiknya menetukan sikap penerima dan menyajikan materi
yang disetujui atau disenangi oleh penerima sebelum meyajikan informasi yang
dianggap ofensif. Informasi bisnis yang positif sebaiknya mendahului yang
negatif. Misalnya saja, letakkan materi yang sulit setelah materi yang mudah
atau letakkan berita keuangan yang positif sebelum yang negatif. Mungkin
adalah ide yang bagus untuk memulai suatu laporan atau presentasi dengan
sedikit humor. Di pihak lain, terdapat sedikit riset empiris yang mengaitkan
humor dengan eefektivitas. Walaupun humor meningkatkan perhatian terhadap
situasi komunikasi, dapat saja humor tersebut menghambat pemahaman.
2. Perlakuan Pesan
Informasi akuntansi sebaiknya berulang. Pengulangan meningkatkan
pemahaman atas materi. Retensi meningkat dengan adanya pengulangan atas
fakta dan ide penting. Ringkasan yang menunjukkan, menyoroti, atau
mengorientasikan pembaca terhadap fakta penting juga meningkatkan
pemahaman

dan

retensi

pembaca.

Pengulangan

lintas

saluran

juga

meningkatkan retensi. Retensi pembaca semakin meningkat ketika fakta-fakta
9

dalam penyajian verbal disoroti dengan penarik perhatian, seperti garis bawah,
huruf besar, bagan, dan warna.
Terdapat cukup banyak riset mengenai bagaimana menyajikan materi secara
efektif. G. R. Klare (1977) menguraikan bagaimana cara untuk membuat materi
ini lebih mudah dibaca mudah dimengerti. Kemudahan membaca materi
merupakan fungsi dari karakteristik kata-kata dan kalimat, tetapi Klare lebih
lanjut menetapkan aturan untuk menghasilkan dokumen yang mudah dibaca,
yaitu:
1. Kata-kata yang sering muncul dan akrab meningkatkan kemudahan
membaca suatu materi.
2. Kata-kata lebih pendek membuat membaca menjadi lebih cepat dan mudah.
3. Kata-kata yang mempunyai nilai asosiatif (secara psikologis) yang berkaitan
dengan kata-kata lain yang muncul di bagian selanjutnhya dari teks
sebaiknya digunakan.
4. Kata-kata yang konkret, dan bukannya kata-kata yang abstrak, membuat
dokumen menjadi lebih mudah dibaca.
5. Kata-kata kerja aktif, dan bukannya bentuk nominalis, meningkatkan
kemudahan membaca.
6. Penggunaan kata ganti dan anafora (kata-kata atau ungkapan yang mengacu
kembali pada kata atay bagian teks sebelumnya) harus dibatasi.
7. Kalimat harus singkat. Jika penulis akan menggunakan kata penghubung, ia
sebaiknya menggunakan kata dan dibandingkan dengan tetapi atau kata
karena.
8. Anak kalimat sebaiknya singkat dan struktur kalimat sederhana.
9. Kalimat aktif lebih menarik dibandingkan dengan bentuk kalimat pasif.
Anderson (1971) menyarankan bahwa faktor-faktor, seperti rantai ide,
struktur, dan konsep dalam teks tersebut sebaiknya digunakan untuk
menentukan seberapa sulit untuk memahami materi itu. Riset masa depan
berdasarkan pada pengukuran empiris dibutuhkan untuk menentukan faktorfaktor yang memprediksikan pemahaman terhadap materi-materi teknis seperti

10

laporan keuangan. Parameter-paramater berikut ini sebaiknya diinvestigasikan
secara khusus untuk materi-materi keuangan:
1. Kompleksitas struktur dan materi.
2. Keabstrakan.
3. Konsep baru.
4. Kebutuhan akan pengetahuan yang melatarbelakangi.
5. Beban kerja selama membaca.
6. Penggunaan waktu.
7. Sensitivitas terhadap gangguan dari luar.
8. Isi ingatan jangka panjang.
Sejumlah materi mengenai variabel-variabel pesan dan dampaknya terhadap
efektivitas komunikasi telah disajikan. Kesimpulannya sering kali berlawanan
karena komunikasi adalah proses kompleks yang melibatkan interaksi dari
semua komponen yang dijelaskan dalam model-model tersebut. Ketika riset
dilakukan mengenai satu komponen tunggal mana pun, seperti pesan, faktorfaktor lainnya mungkin tidak konklusif, sehingga usulan apa pun sebaiknya
dipandang secara skeptis.
3. Saluran
Jalur komunikasi merupakan alat untuk menyebarkan informasi. Schramm
(1973) mengelompokkan atau membedakan saluran berdasarkan enam dimensi:
1. Pancaindra yand dipengaruhi; komunikasi tatap muka membuatnya mungkin
untuk menggunakan seluruh pancaindra, sementara media yang berbeda
menggunakan subkelompok dari pancaindra ini dalam kombinasi untuk
menghasilkan dampak diferensial terhadap penerima.
2. Peluang untuk umpan balik; peluang pertukaran informasi dua arah maksimal
dalam komunikasi tatap muka. Pada umumnya, umpan balik dibutuhkan untuk
memastikan komunikasi yang efektif dan untuk memahami informasi yang
disampaikan. Dengan demikian, dalam penyajian laporan keuangan harus
terkandung di dalamnya metode umpan balik.
3. Besarnya kendali penerima; terdapat sejumlah besar kendali dalam interaksi
interpersonal. Ketika menggunakan media cetak, penerima dapat membaca
11

dengan kecepatan mereka sendiri dan membaca kembali bagian-bagian yang
penting atau terperinci. Penerima memiliki sedikit kendali terhadap media
siaran, kecuali mereka merekam program tersebut, semakin besar kendali
pengguna, semakin besar pembelajaran.
4. Jenis pengodean pesan; interaksi tatap muka memungkinkan penggunaan
petunjuk-petunjuk non verbal. Hal ini tidak terlalu berlaku untuk media video,
film, dan terutama media cetak. Akan tetapi, media cetak lebih baik dalam
menyampaikan ide-ide abstrak seperti kebijakan manajemen. Media
audiovisual adalah media yang lebih kuat untuk menyajikan informasi
konkret.
5. Kekuatan multiplikatif; system komunikasi massa dapat dengan efesien dan
cepat mencapai banyak penerima yang tersebar. Saluran-saluran interpersonal
dapat mencapai peneriima ini hanya dengan usaha yang besar dan periode
waktu yang relatip lama.
6. Pelestarian pesan; keunggulan dari media massa adalah catatan permanen
yang tidak ada dalam interaksi tatap muka. Secara tradisional, keunggulan ini
hanya terbatas pada media cetak. Tetapi, dengan pita dan pirinngan audio dan
video serta system manajemen informasi yang berbasis komputer, kapasitas
ini telah diperluas ke media elektronik.
Pemahaman materi tertentu dapat diperbaiki dengan penggunaan jaringan
selain media cetak. Lebih lanjut lagi, cara untuk meningkatkan pemahaman
adalah melalui penyajian materi secara serempak menggunakan saluran yang
berbeda. Hal ini disebabkan adanya kebutuhan penerima untuk menggunakan
lebih dari satu pancaindra pada waktu yang bersamaan.
Secara ringkas, akuntansi membangun mekanisme untuk umpan balik ke
dalam proses dan menggunakan saluran yang lebih sesuai untuk menyampaikan
pesan dan dampak yang diinginkan kepada penerima melalui laporan secara
teknis. Dengan pesan, saluran yang optimal bergantung pada situasi komunikasi
yang unik di mana laporan disajikan.
4. Penerima

12

Ketika

menganalisis

suatu

situasi

komunikasi,

seseorang

perlu

mempertimbangkan faktor-faktor mengenai penerima, seperti latar belakang
demografis dan budaya, sikap sebelumnya, pengetahuan, pola perilaku, dan
system atau lingkungan sosial dimana mereka akan menggunakan informasi
tersebut. Pada umumnya, semakin serupa penerima dan sumber mengenai
faktor-faktor ini, maka semakin mudah dan semakin efektif komunikasi tersebut.
2.3.3

Analisis Penerima
Pengetahuan mengenai penerima dapat digunakan untuk mendesain pesan yang
lebih efektif dan menyampaikannya melalui saluran yang paling sesuai. Komunikasi
yang efektif dihasilkan ketika informasi didesain secara spesifik untuk penerima.
Akuntan sebaiknya menyelidiki penerima yang dimaksudkan, penerima actual, dan
penerima yang potensial sebelum menghasilkan dokumen. Para akuntan keprilakuan
sebaiknya juga menyelidiki pola pencarian informasi oleh klien mereka dan
pengguna lainnya dari laporan bisnis. Riset tersebut menyimpulkan bahwa orang
hanya memberikan sedikit usaha untuk pencarian informasi dan akan menggunakan
sumber yang paling dapat diakses. Informasi dicari karena secara sosial informasi
merupakan suatu keuntungan dan dapat dibahas dalam jaringan interpersonal
pengguna.

2.3.4

Analisis Jaringan
Pada dasarnya, penjelasan struktur komunikasi dari suatu organisasi dihasilkan
dengan menggunakan dengan memeriksa arus informasi antar-komponen dari system
tersebut. Komponen-komponen itu dapat berupa individu, kelompok tugas kecil, atau
organisasi formal secara keseluruhan. Struktur jaringan yang optimal bervariasi
dengan fungsi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terlibat dengan
manifestasi tugas produktif akan dilaksanakan fungsi mereka paling baik ketika
mereka sangat terintegrasi. Mereka yang berkepentingan dengan inovasi memerlukan
sejumlah besar perluasan batasan dan demikian mereka dapat melakukan fungsinya
dengan paling baik ketika terhubung secara longgar.
Peran dari komunikator berbeda ketika materi dikembangkan untuk konsumsi
pihak internal dibandingkan jika materi tersebut akan disebarkan kepada lingkungan.
Bidang terakhir berkaitan dengan penggunaan teknologi komunikasi baru, seperti
13

jaringan komputer, kabel interaktif dua arah, system pengiriman lewat satelit, dan
teks video. Sejumlah perusahaan pialang saham saat ini memiliki system pendukung
pengambilan keputusan (decision support system) berbasis komputer untuk
membantu para pialang menyimpan dan mengakses catatan klien, menganalisis
portofolionya, dan memperoleh berita tentang harga dan keuangan terkini.
2.3.5

Umpan Balik
Umpan balik merupakan pesan yang dikirim oleh penerima kepada sumber dalam
menanggapi pesan awal. Umpan balik memungkinkan terjadinya pertukaran ide.
Dengan demikian, tujuan komunikasi adalah pemahaman dan bukannya arus
penyebaran informasi satu arah dari sumber kepada penerima. Umpan balik
memastikan komunikasi yang efektif- yaitu, pemahaman ide di antara individu dalam
jaringan sosial atau organisasi formal.
Barnett (1979) menyarankan bahwa pendekatan sibernetik digunakan untuk
komunikasi teknis. Hal itu membangun banyak mekanisme umpan balik kedalam
proses komunikasi dan mengubah peran pengguna dari pembaca pasif menjadi
individu yang terlibat secara aktif dalam penyusunan dokumen yang akan memenuhi
kebutuhan mereka. Umpan balik dari pengguna pada tahap perencanaan akan
membantu menentukan fungsi, isi, dan perlakuan dari laporan tertentu. Ketika
menyebarkan laporan tersebut, penerima sebaiknya dimintai umpan balik. Umpan
balik

terhadap

pertanyaan-pertanyaan

berikut

ini

dapat

digunakan

untuk

memodifikasi draf dokumen untuk meningkatkan efektivitasnya:
1.

Seberapa efektif laporan tersebut memenuhi kebutuhan pengguna? Apakah
laporan dimengerti?

2.

Apakah laporan tersebut memenuhi harapan penggung?

3.

Seberapa sering laporan itu digunakan dan untuk tujuan apa laporan itu
dibutuhkan?

4.

Apakah pemakai melengkapi laporan tersebut dengan mencari sumber-sumber
lain?

5.

Sumber-sumber lain manakah- dokumen dan orang- yang dicari oleh pengguna
untuk memperoleh informasi yang sama?

14

6.

Informasi tambahan manakah yang sebaiknya juga dikandung oleh laporan
tersebut?

7.

Umpan balik seperti apa dapat ditawarkan pengguna laporan terhadap bagian
tertentu dari laporan tersebut?

8.

Umpan balik seperti apa yang belum diantisipasi yang dapat diberikan oleh
pengguna dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan terbuka?

9.

Apakah karakteristik-karakteristik demografi dan sosial dari pengguna actual?
Siapakah yang menggunakan laporan tersebut?
Jika penyimpangan antara tujuan laporan dan penggunaannya signifikan, maka

modifikasi sebaiknya dibuat untuk mengoreksi masalah-masalah ini. Proses ini dapat
dimurnikan dan diulang dengan berjalannya waktu sampai laporan tersebut
memenuhi kebutuhan pengguna. Dengan cara ini, focus komunikasi bergeser dari
arus satu arah yang berkosentrasi pada penghasilan pesan ke pertukaran ide antara
akuntan dan pengguna laporan. Dengan perubahan fokus ini akan terjadi perubahan
dalam dokumen tersebut.

15

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diantara fungsi-fungsi akuntan, seperti pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan
pengomunikasian data, keberadaan komunikasi merupakan hal yang paling penting untuk
memunculkan tanggung jawab akuntansi. Hal ini berarti bahwa tahapan komunikasi yang
diawali oleh komunikasi hingga umpan balik bagi komunikator menjadi serangkaian tahapan
yang perlu dijadikan focus. Hal ini disebabkan karena pemahaman yang terkait dengan
perilaku yang tepat merupakan hasil dari proses komunikasi. Selain dari tahapan komunikasi,
berbagai jenis variabel komunikasi juga menjadi hal yang penting bagi saluran, penerima,
umpan balik, dan lingkungan. Masing-masing variabel membawa pengaruhnya kedalam
setiap tahapan komunikasi.
3.2 Saran
Saran penyusunan terhadap makalah yang berjudul “Komunikasi Informasi Akuntansi”
yakni masih banyaknya teori-teori yang berkaitan, sehingga penulis menyarankan untuk
mencari lagi teori-teori tersebut. Selain itu penulis juga mengharapkan masukan terhadap
makalah ini agar lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan pembaca
mengenai “Komunikasi Informasi Akuntansi”

16

DAFTAR PUSTAKA

Ikhsan, Arfan dan Muhammad Ishak. 2008. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

17

Judul: Komunikasi Informasi Akuntansi

Oleh: Niken Hustilah


Ikuti kami