Hilal Al Ambia C1c018001 R009 Akuntansi Makalah Akuntansi Syariah Materi 4 Sejarah Dan Pemikiran Aku...

Oleh Hilal Al Ambia

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Hilal Al Ambia C1c018001 R009 Akuntansi Makalah Akuntansi Syariah Materi 4 Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH
SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI SYARIAH

DOSEN PENGAMPU:
WIRMIE EKA PUTRA, S.E., M.Si.

DISUSUN OLEH:
HILAL AL AMBIA
C1C018001
R09 AKUNTANSI

PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2021

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia
dan Rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Akuntansi
Syariah yang berjudul “Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah”. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini khususnya
kepada dosen pengampu akuntansi syariah, Bapak Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang Sejarah dan
Pemikiran Akuntansi Syariah. Harapan penulis, makalah ini dapat menjadi salah satu bahan ajar
untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa terkait materi akuntansi syariah khususnya
mengenai Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan makalah ini. Besar
harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan pihak lain pada
umumnya.

Jambi, 08 Maret 2021
Penulis

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................1
1.4 Manfaat Penulisan.........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN.............................................................................................4
3.1 Perkembangan Awal Akuntansi......................................................................4
3.2 Sejarah Akuntansi...........................................................................................5
3.3 Perkembangan Akuntansi Syariah..................................................................8
3.4 Sekilas Prosedur Dan Istilah Yang Digunakan...............................................10
3.5 Hubungan Antara Akuntansi Modern Dan Akuntansi Syariah......................13
BAB IV PENUTUP.......................................................................................................15
4.1 Kesimpulan...................................................................................................15
4.2 Saran.............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................16

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah dan Pemikiran akuntansi syariah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan
perekonomian islam, termasuk nilai-nilai yang sesuai dengan Islam. Sedangkan di sisi lain,
akuntansi syariah sebagai cabang dari ilmu akuntansi yang merupakan ilmu pengetahuan tentu
harus melampaui proses dan tahapan tertentu.
Akuntansi syariah pada dasarnya merupakan bentuk penerapan nilai-nilai islam sebagai suatu
agama yang tidak hanya mengatur masalah keimanan tetapi juga mengatur masalah kehidupan
sehari-hari. Banyak pihak, baik dari kalangan umat Islam maupun di luar Islam, yang
mempertanyakan definisi akuntansi syariah, apakah harus ditinaju dari sisi geografis/wilayah
yang menerapkannya, jumlah pemeluk Islam di dalam suatu negara, seberapa besar yang akan
menggunakannya, atau seperti apa hubungannya dengan agama lain seperti Christian
Accounting.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan awal akuntansi ?
2. Bagaimana sejarah akuntansi?
3. Bagaimana perkembangan akuntansi syariah?
4. Apa saja sekilas prosedur dan istilah yang digunakan?
5. Bagaimana hubungan antara akuntansi modern dan akuntansi syariah?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui perkembangan awal akuntansi.
2. Untuk mengetahui sejarah akuntansi?
3. Untuk mengetahui perkembangan akuntansi syariah?
1

4. Untuk mengetahui sekilas prosedur dan istilah yang digunakan?
5. Untuk mengetahui hubungan antara akuntansi modern dan akuntansi syariah?
1.4 Manfaat Penulisan
Makalah ini bisa menjadi tambahan referensi bagi para pembaca dalam mempelajari materi
akuntansi syariah khususnya materi tentang sejarah dan pemikiran akuntansi syariah. Selain itu,
makalah ini juga bisa menambah wawasan baik bagi penulis sendiri maupun kepada pembaca
dalam memahami materi sejarah dan pemikiran akuntansi syariah.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah, menurut Kartodirdjo (1993:20-21) dapat dianggap sebagai alat untuk mengurangi
kekhawatiran terhadap hal-hal yang tidak diketahui. Sejarah akan memperkuat perasaan akan
suatu realitas. Kehidupan modern menuntut alat-alat intelektual yang dapat memahami
lingkungan secara mendalam. Hal ini dapat dipahami melalui pemahaman sejarah. Selain itu,
Kartodirdjo (1993) menambahkan bahwa sejarah adalah produk intelektual manusia,
pengetahuan mengenai masa lalu yang terjalin dalam segala jenis ilmu pengetahuan. Terkait
dengan penjelasan diatas, Miranti dan Paul (1993) mengatakan bahwa: “result from the
historians hesitancy either to establish or to amplify theoretical Constructs”.
Penelitian akan sejarah akuntansi semakin menarik dan berkembang. Banyak para peneliti
mempublikasikan temuan-temuan mereka tentang sejarah perkembangan akuntansi selama
beberapa periode yang kemudian dimuat di dalam jurnal-jurnal diantaranya The Accounting
Historian Journal khususnya jurnal publikasi ilmiah dari The Academy of Accounting Historian.
Akuntansi telah mengalami metamorfosa yang panjang untuk menjadi bentuknya yang
modern seperti sekarang ini. Bagaimanapun juga, tidak ada catatan yang dapat digunakan untuk
menunjuk langsung kapan akuntansi mulai dipraktikkan. Namun bisa diperkirakan bahwa
akuntansi telah dipergunakan sejak jaman pra masehi. Sejumlah ahli mencoba menguraikan
periode sejarah perkembangan akuntansi, dimulai dari Bangsa Mesir sampai ke Eropa. Periode
mesir dimlai dari 3000 tahun sebelum masehi (SM) sampai dengan 1000 tahun SM, sedangkan
periode eropa dimulai dari abad ke 13 setelah masehi.
Nama-nama besar ilmuwan muslim seperti Abu Musa Al-Khawarizmi dengan Algoritmanya, Al-Jabbar dengan matematika Al-gebra-nya, Ibnu Sina dengan Qanun fii Tibb-nya, Ibnu
Rusyd, Al-Kindi, dan Al-Faraby dan masih banyak ilmuwan muslim lainnya yang tentu saja
tidak bisa dikesampingkan begitu saja, sebab merekalah para pemikir, peneliti, dan pencipta
beberapa konsep dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang pesat
sekarang ini.

3

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perkembangan Awal Akuntansi
Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian dari ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alam dan perhitungan yang bersifat
memiliki kebenaran absolut. Penemuan metode baru dalam akuntansi senantiasa mengalami
penyesuaian dengan kondisi setempat, sehingga dalam perkembangan selanjutnya, ilmu
akuntansi lebih cenderung menjadi bagian dari ilmu sosial (social science), yaitu bagian dari
ilmu pengetahuan yang mempelajari fenomena keadaan masyarakat dengan lingkungan yang
bersifat lebih relatif.
Perubahan ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu sosial lebih disebabkan oleh
faktor-faktor perubahan dalam masyarakat yang semula dianggap sebagai sesuatu konstan,
misalnya transaksi usaha yang akan dipengaruhi oleh budaya dan tradisi serta kebiasaan dalam
masyarakat.
Akuntansi dalam islam merupakan alat (tool) untuk melaksanakan perintah Allah Swt.
(dalam QS. Al-Baqarah: 282) untuk melakukan pencatatan dalam melakukan transaksi usaha.
Implikasi lebih jauh, akuntansi adalah keperluan terhadap suatu sistem pencatatan tentang haak
dan kewajiban sehingga, menjadi pelaporan yang terpadu dan komprehensif.
Islam memandang akuntansi tidak hanya sekadar ilmu yang bebas nilai untuk melakukan
pencatatan dan pelaporan saja, tetapi juga sebagai alat untuk menjalankan nilai-nilai islam
(Islamic values) sesuai ketentuan syariah. Akuntansi yang kita kenal sekarang ini diklaim
berkembang dari peradaban barat (sejak Paciolli), padahal apabila dilihat secara mendalam dari
proses lahir dan perkembangannya, terlihat jelas pengaruh keadaan masyarakat atau peradaban
sebelumnya baik Yunani maupun Arab Islam.
Perkembangan akuntansi, dengan domain “arithmatic quality”-nya sangat ditopang oleh
ilmu lain, khususnya arithmetic,algebra, mathematics, dan alghorithm pada abad ke-9 M. Ilmu
ini lebih dahulu berkembang sebelum perkembangan bahasa. Ilmu penting ini ternyata
dikembangkan oleh filsuf islam yang terkenal yaitu Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq Al-Kindi yang
4

lahir tahun 809 M. Al-Khawarizmy, lahir tahun 780 M mengenalkan sistem nomor, desimal, dan
angka “0” (zero, sifr, kosong, nol) seperti yang kita pakai sekarang atau yang disebut angka arab
dan sudah dikenal sejak 830 M. Hal ini diakui oleh Hendriksen penulis buku Accounting Theory
sebagai sumbangan Arab Islam terhadap akuntansi. Al-Khawarizmy juga menciptakan
algorithm, atau algebra yang juga berasal dari kata dalam bahasa arab Al-jabr dalam buku Aljabr wal Muqabalah tahun 825 M (Smith, 1958). Al-Karki (1020) melanjutkan dengan operasi
aritmatika menggunakan bilangan irasional dan polynomial (Jean-Luc Chabert, 1994).
Ibnu Khaldun (lahir tahun 1332) adalah seorang filsuf islam yang juga telah bicara tentang
politik, sosiologi, ekonomi, bisnis, dan perdagangan. Bahkan, ada dugaan bahwa pemikiran
mreka itulah yang sebenarnya dikemukakan oleh para filsuf Barat belakangan yang muncul pada
abad ke-18 M. sebenarnya Al-Khawarizmy-lah yang memberikan kontribusi besar bagi
perkembangan matematika modern eropa. Akuntansi modern yang dikembangkan dari
persamaan algebra dengan konsep-konsep dasarnya digunakan untuk memecahkan persoalan
pembagin harta warisan secara adil sesuai dengan syariah yang ada di Al-Quran, perkara hukum
(law suit), dan praktik bisnis perdagangan.
Sebenarnya, sudah banyak akuntan yang mengakui keberadaan akuntansi islam, misalnya
RE Gambling, William Roget, Baydoun, Hayashi dari Jepang, dan lain-lain. Seperti Paciolli
yang memperkenalkan sistem double entry melalui ilmu matematika, sistem akuntansi juga
dibangun dari dasar persamaan akuntansi Aset = Liabilitas + Ekuitas (A=L+E). Oleh karena
aljabar pada awalnya ditemukan oleh ilmuwan muslim di zaman keemasan islam, maka sangat
logis jika ilmu akuntansi juga telah berkembang pada zaman itu, paling tidak menjadi dasar
pengembangannya.
3.2 Sejarah Akuntansi
Akuntansi merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Dari sejak zaman prasejarah,
keluarga memiliki perhitungan tersendiri untuk mencatat makanan dan pakaian yang harus
mereka persiapkan dan mereka gunakan pada saat musim dingin. Ketika masyarakat mulai
mengenal adanya “perdagangan”, maka pada saat yang sama mereka telah mengenal konsep nilai
(value) dan mulai mengenal sistem moneter (monetary system). Bukti tentang pencatatan
(bookkeeping) tersebut dapat ditemukan sejak zaman Babilonia (4500 SM), Firaun Mesir, dan
5

kode-kode Hammurabi (2250 SM), sebagaimana ditemukan adanya kepingan pencatatan
akuntansi di Ebla, Syria Utara.
Walaupun akuntansi telah dimulai dari zaman prasejarah, saat ini kita hanya mengenal Luca
Paciolli sebagai Bapak Akuntansi Modern. Paciolli, seorang ilmuwan dan pengajar di beberapa
universitas yang lahir di Tuscany, Italia pada tahun 1445, merupakan orang yang dianggap
menemukan persamaan akuntansi untuk pertama kali pada tahun 1494 dengan bukunya: Summa
de Arithmetica Geometria et Proportionalita (A Review of Arithmetic, Geometry, and
Proportions). Dalam buku tersebut, ia memberikan mengenai double entry book keeping sebagai
dasar perhitungan akuntansi modern, bahkan juga hampir seluruh kegiatan rutin akuntansi yang
kita kenal saat ini seperti penggunaan jurnal, buku besar (ledger), dan memorandum. Pada
penjelasan mengenai buku besar telah mencakup aset, utang, modal, pendapatan, dan beban. Ia
juga telah menjelaskan mengenai ayat jurnal penutup (closing entries) dan menggunakan neraca
saldo (trial balance) untuk mengetahui saldo buku besar. Penjelasan ini memberikan dasar yang
memadai untuk akuntansi, etika, dan juga akuntansi biaya.
Sebenarnya, Luca Paciolli bukanlah orang yang menemukan double entry book keeping
system, mengingat sistem tersebut telah dilakukan sejak adanya perdagangan antara Timur
Tengah dan Genoa pada awal abad ke-13 M, setelah terbukanya jalur perdagangan antara Timur
Tengah dan Kawasan Mediterania. Bahkan, pada tahun 1340 Bendahara kota Massari tela
melakukan pencatatan dalam bentuk double entry. Hal ini pun diakui oleh Luca Paciolli bahwa
apa yang dituliskannya berdasarkan apa yang telah terjadi di Venice sejak satu abad sebelumnya.
Menurut Peragallo, orang yang menuliskan double entry pertama kali adalah seorang
pedagang yang bernama Benedetto Cotrugli dalam buku Della Mercatua e del Mercate Perfetto
pada tahun 1458 namun baru diterbitkan pada tahun 1573.
Menurut Vernon Kam (1990), ilmu akuntansi diperkenalkan pada zaman Feodalisme
Barat. Namun, setelah dilakukan penelitian sejarah dan arkeologi ternyata banyak data yang
membuktikan bahwa jauh sebelum penulisan ini sudah dikenal akuntansi. Perlu diingat bahwa
matematika dan sistem angka sudah dikenal islam sejak abad ke-9 M. Ini berarti bahwa ilmu
matematika yang dituis Luca paciolli pada tahun 1491 bukan hal yang baru lagi karena sudah

6

dikenal Islam 600 tahun sebelumnya. Dalam buku "Accounting Theory” , Vernon Kam (1990)
menulis:
“Menurut sejarahnya, kita mengetahui bahwa sistem pembukuan double entry muncul di
Italia pada abad ke-13. Itulah catatan paling tua yang kita miliki mengenai sistem akuntansi
“double entry” sejak akhir abad ke-13 itu. Namun adalah mungkin sistem double entry sudah ada
sebelumnya”.
Hendriksen, dalam buku Accounting Theory menulis:
“….the introduction of Arabic Numerical greatly facilitated the growth of accounting.”
(penemuan angka arab sangat membantu perkembangan akuntansi).
Kutipan ini menandai anggapan bahwa sumbangan Arab terhadap perkembangan disiplin
akuntansi sangat besar. Dapat kita catat bahwa penggunaan angka arab mempunyai andil besar
dalam perkembangan ilmu akuntansi. Artinya besar kemungkinan bahwa dalam peradaban Arab
sudah ada metode pencatatan akuntansi. Bahkan, bisa saja mereka yang memulainya. Bangsa
arab pada waktu itu sudah memiliki administrasi yang cukup maju, praktik pembukuannya pun
telah menggunakan buku besar umum, jurnal umum, buku kas, laporan periodik, dan penutupan
buku.
Menurut Littleton (dalam Boydoun, 1959) perkembangan akuntansi di suatu lokasi tidak
hanya disebabkan oleh masyarakat di lokasi itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh
perkembangan pada saat atau periode waktu tersebut dan dari masyarakat lainnya. Mengingat
bahwa Paciolli sendiri telah mengakui bahwa akuntansi telah dilakukan satu abad sebelumnya,
dan Venice telah menjadi salah satu pusat perdagangan terbuka, maka sangat besar kemungkinan
bahwa telah terjadi pertukaran informasi dengan para pedagang muslim yang telah
mengembangkan hasil pemikiran dari ilmuwan muslim. Lieber (dalam Boydoun, 1968),
menyatakan bahwa para pemikir di italia memiliki pengetahuan tentang bisnis yang baik
disebabkan hubungannya dengan rekan bisnis muslimnya. Bahkan, Have (1976) mengatakan
bahwa italia meminjam konsep double entry dari Arab.
Para ilmuwan muslim sendiri telah memberikan kontibusi yang besar, terutama adanya
penemuan angka nol dan konsep perhitungan desimal. Mengingat orang-orang eropa mengerti
7

aljabar dengan menerjemahkan tulisan dari bangsa arab, tidak mustahil bahwa merekalah yang
pertama kali melakukan praktik bookkeeping (Heaps dalam Napier, 2007). Para pemikir islam
yang dimaksud antara lain: Al-Kashandy, Jabir Ibhu Hayyan, Ar-Razy, Al-Bucacis, Al-Kindy,
Al-Khawarizmy, Avicenna, Abu Bacer, dan Al Mazendarany.
Apa yang dilakukan oleh Luca Paciolli memiliki kemiripan dengan apa yang telah disusun
oleh pemikir muslim pada abad ke-8-10 M. kemiripan tersebut antara lain (Siswantoro, 2003)
adalah sebagai berikut.
Tahun

Luca Paciolli

Islam

In the Name of God

Bismillah (dengan nama Allah)

Client

Mawla

Cheque

Sakk

Separate Sheet

Waraka khidma

Closing Book

Yutbak

622 M

Journal

Jaridah

750 M

Receivable-Subsidiary Ledger

Al-awraj

750 M

General Journal

Daftar al-yawmiah

750 M

Journal Voucher

Ash-shahad

Abad 8 M

Collectible Debt

Arra’ej menal mal

Uncollecetible Debt

Munkaser menal mal

Doubful, difficult, complicated audit

Al-Mutaakhher wal mutahyyer

Auditing

Hisab

Chart of Account

Sabh Al Asha

3.3 Perkembangan Akuntansi Syariah
3.3.1 Sejarah Perkembangan Akuntansi Zaman Nabi Muhammad SAW
Pada masa Rasulullah memimpin daulah islamiah di Madinah, beliau mulai membersihkan
praktek keuangan atau kegiatan ekonomi dari unsur-unsur riba dan dari segala bentuk penipuan,
pembodohan, perjudian, pemerasan, monopoli, dan segala usaha untuk mengambil harta orang
8

lain secara Bhatil. Bahkan Rasulullah lebih menekankan pada pencatatan keuangan. Rasulullah
mendidik secara khusus beberapa orang sahabat untuk menangani profesi ini dan mereka diberi
sebutan khusus yaitu hafazhatul amwa (pengawas keuangan). Praktik akuntansi di masa
Rasulullah Saw dapat dicermati pada baitulmaal yang didirikan Rasulullah Saw sekitar awal
abad ke-7. Pada masa itu, baitulmaal berfungsi untuk menampung dan mengelola seluruh
penerimaan negara, baik berupa zakat, ‘ushr (pajak pertanian dari muslim), jizyah (pajak
perlindungan dari nonmuslim yang tinggal di daerah yang diduduki umat muslim), serta kharaj
(pajak hasil pertanian dari nonmuslim).
Semua pengeluaran untuk kepentingan negara baru dapat dikeluarkan setelah masuk dan
dicatat di baitulmaal. Meskipun pengelolaan baitulmaal saat itu masih sederhana, namun Nabi
SAW telah menunjuk petugas qadi, ditambah para sekretaris dan pencatat administrasi
pemerintahan. Mereka ini berjumlah 42 orang dan dibagi dalam empat bagian yaitu: sekretaris
pernyataan, sekretaris hubungan dan pencatatan tanah, sekretaris perjanjian dan sekretaris
perperangan (Nurhayati & Wasilah, 2009). Kemudian Baitul Maal ini dilanjutkan pada
kekhalifahan sahabat Rasulullah, yaitu Abu Bakar Ashsidiq (537-634M), Umar Bin Khattab
(584-644M), Utsman bin Affan (23-35H/644-656 M), Ali bin Abi Thalib (35-40H/656-661 M).
Perkembangan baitulmaal yang lebih pesat terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib
r.a dimana pada masa itu sistem administrasi baitulmaal sudah berjalan dengan baik di tingkat
pusat dan lokal. Tidak hanya itu, dimasa kekhalifahan beliau juga telah terjadi surplus pada
baitulmaal yang kemudian dibagikan secara sesuai tuntunan Rasullullah saw.
3.3.2 Perkembangan Akuntansi Syariah Zaman Empat Khalifah
Pada pemerintahan Abu Bakar radiallahu’anhu, pada saat itu pengelolaan baitul maal masih
sangat sederhana karena pemasukan dan pengeluaran dilakukan dengan seimbang dan hampir
tidak ada sisa dari hasil pengelolaannya.
Pada kepemimpinan Umar bin Khatab radiallahu’anhu, terjadi perubahan sistem administrasi
yang cukup signifikan dengan mengajukan istilah Diwan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas (636 M).
Khalifah umar memilih beberapa petugas untuk pengelolaan dan pencatatan dari Persia untuk
mengawasi pembukuan baitul maal. Awal pendirian diwan ini disarankan dari homozon-seorang
tahanan persia dan menerima islam dengan menjelaskan sistem administrasi yang dilakukan oleh
9

Raja Sasanian (Siswantoro, 2003) ini terjadi setelah perperangan Al-Qadisiyyah Persia dan
panglima perang Sa’ad bin Abi Waqqas, Al Walid bin Mughira para sahabat mengusulkan agar
dibuatkan pencatatan untuk setiap penerimaan dan pengeluaran negara.
Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi berkembang dari suatu lokasi ke lokasi lainnya
sebagai akibat dari hubungan antar masyarakat. Baitul maal juga sudah tidak terpusat lagi di
madinah dan mulai berkembang di daerah-daerah taklukkan islam. diwan yang dibentuk oleh
Khalifah Umar memiliki 14 departemen dan 17 kelompok dimana pembagian departemen
tersebut menunjukkan adanya pembagian tugas dalam sistem keuangan dan pelaporan keuangan
yang baik. Pada masa itu, istilah awal pembukuan dikenal dengan Jarridah atau menjadi istilah
journal dalam bahasa inggris yang berarti berita. Di venice istilah ini dikenal dengan sebutan
zournal.
3.4 Sekilas Prosedur dan Istilah yang Digunakan
Dari uraian yang telah dijelaskan diatas bahwa berjalan lancarnya pelaksanaan akuntansi
pada negara islam karena ditegakannya pembayaran zakat yang kemudian di kelola dengan baik
hingga saat ini melalui baitul maal. Dokumentasi yang pertama kali dilakukan oleh AlMazenderany (1363 M) mengenai akuntansi pemerintahan yang dilakukan selama dinasti Khan
II pada buku Risalah Falakiyah Kitabus Siyakat. Namun dokumentasi yang baik mengenai
sistem akuntansi negara islam tersebut pertama kali dilakukan oleh Al-Khawarizmy pada tahun
976 M.
Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh negara islam sebagaimana
dijelaskan oleh Al-Khawarizmy dan Al-Mazendarany, sebagai berikut.
1. Sistem akuntansi untuk kebutuhan hidup, sistem ini di bawah koordinasi di bawah manajer.
sistem ini untuk memenuhi kebutuhan hidup perorangan dan negaram namun tidak menutup
kemungkinan digunakan pada sektor privat terutama yang terkait dalam perhitungan pembayaran
zakat.
2.. Sistem akuntansi untuk konstruksi merupakan sistem akuntansi untuk proyek pembangunan
yang dilakukan oleh pemerintah.
3. Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistem yang berbasis non-moneter.
10

4. Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian barang negara.
5. Sistem akuntansi mata uang, sistem ini telah dilakukan oleh negara Islam sebelum abad ke-14
M.
6. Sistem akuntansi perternakan merupakan sistem untuk mencatat seluruh binatang ternak.
7. Sistem akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat penerimaan dan
pengeluaran harian negara, baik dalam nilai uang atau barang.
Pencatatan dalam negara islam telah memiliki prosedur yang wajib diikuti serta pihak yang
bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan atas aktivitas dan menemukan surfplus dan
defisit atas pencatatan yang tidak seimbang. Prosedur yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Transaksi harus dicatat setelah terjadi.
b. Transaksi harus dikelompokkan berdasarkan jenisnya.
c. Penerimaan akan dicatat di sisi sebelah kanan dan pengeluaran dicatat sebelah kiri. Sumbersumber penerimaan harus dijelaskan dan dicatat.
d. Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai di sisi kiri halaman.
e. Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati.
f. Tidak memberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri dan harus diberi garis penutup.
g. Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tidak boleh dengan cara menghapus atau menulis
ulang tetapi harus diganti.
h. Jika akun telah ditutup, maka akan diberi tanda tentang hal tersebut.
i. Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnal akan dipindahkan pada buku khusus berdasarkan
pengelompokan transaksi.
j. Orang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan orang yang melakukan
pencatatan harian.
11

k. Saldo diperoleh dari selisih.
l. Laporan harus disusun setiap bulan dan tahun dengan detail dan memuat informasi penting.
m. Pada setiap akhir tahun laporan yang disampaikan oleh Al-Khateb harus menjelaskan seluruh
informasi barang secara detail dan dana yang berada di bawah wewenangnya.
n. Laporan tahunan yang disusun Al-Khateb akan diperiksa dan dibandingkan dengan
sebelumnya dan akan disimpan di diwan pusat.
Dihubungkan dengan prosedur tersebut, terdapat beberapa istilah sebagai berikut.
a. Al-Jaridah merupakan buku untuk mencatat transaksi yang dalam bahasa arab berarti Koran
atau jurnal. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Al-Mazendarany (1363) dan Ibnu Khadun
(1378), dan al-jaridah ini perlu dicap dengan stempel sultan. Al-jaridah sendiri telah ada ketika
masa Daulah bani Umayyah dan dikembangkan ketika Daulah Bani Abbasiyah dengan beberapa
bentuk jurnal khusus (lasheen, 1973) seperti berikut ini.
1. Jaridah Al-Kharaj, digunakan untuk berbagai jenis zakat seperti pendapatan yang berasal
dari tanah, tanaman dan binatang ternak. Hal ini mirip dengan buku besar pembantu, serta
telah dilakukan proses pengurutan berdasarkan alfabetis dan wilayah untuk memudahkan
(An-Nuwairy). Di susun dengan dua kolom mirip dengan debet dan kredit.
2. Jaridah Annafakat, digunakan untuk mencatat jurnal pengeluaran. Al-jaridah ini dibawah
Diwan Annafakat (departemen pengeluaran), dan telah dilakukan pengurutan berdasarkan
alfabetis serta didukung oleh bukti yang relevan.
3. Jaridah Al-Maal, digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan yang berasal dari
penerimaan dan pengeluaran zakat. Al-Jaridah ini dibawah Diwan Al-Maal (departemen
perbendaharaan), dan dilakukan pengelompokan berdasarkan tuntutan Al-Quran tentang
zakat.
4. Jaridah Al-Musadereen, digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan khusus berupa
perolehan dana dari individu yang tidak harus taat dengan hukum islam seperti orang non
muslim. Al-Jaridah ini dibawah Diwan Al-Musadereen.

12

b. Daftar Al Yaumiah (buku harian/dalam bahasa Persia dikenal dengan nama: Ruznamah) daftar
tersebut digunakan untuk pembuatan jurnal vocher. Bentuk umum dari daftar diantaranya
sebagai berikut:
1. Daftar attawjihat: buku yang digunakan untuk mencatat anggaran pembelanjaan.
2. Daftar attahwilat: buku yang untuk mencatat keluar masuknya dana antara wilayah dan
pusat pemerintahan.
c. Beberapa jenis laporan keuangan sebagai berikut.
1. Al-Khitmah merupakan laporan yang dibuat setiap akhir bulan yang menunjukkan total
penerimaan dan pengeluaran.
2. Al-Khitmah Al-Jameeah merupakan laporan yang disiapkan oleh Al-Khateb dan
diberikan kepada atasannya (biasa disebut Al-Maafakah-penerima) berisi: pendapatan,
beban, dan surplus atau defisit setiap akhir tahun.
3. Bentuk perhitungan dan laporan zakat akan dikelompokkan pada laporan keuangan
terbagi dalam 3 kelompok yaitu:
a. Ar-Raj Minal Mal (yang dapat tertagih).
b. Ar-Munkasir Minal Mal (piutang tidak dapat tertagih); dan
c. Al-Muta’adhir Wal Mutahayyer wal Muta’akkid (piutang yang sulit dan piutang yang
bermasalah sehingga tidak tertagih).
3.5 Hubungan Antara Akuntansi Modern dan Akuntansi Syariah
Perkembangan ilmu pengetahuan termasuk sistem pencatatan pada zaman dinasti Abbasiah
(750 M- 1258 M) sudah demikian maju sementara pada kurun waktu tertentu yang hampir
bersamaan, eropa masuk dalam periode The Dark Ages. Dari sini kita dapat melihat hubungan
antara Luca Paciolli dan Akuntansi Islam.
Luca Pacioli adalah seorang ilmuwan sekaligus juga seorang pengajar di beberapa
universitas italia seperti Venice, Milan, Florence, dan Roma. Beliau banyak membaca buku
termasuk buku yang telah diterjemahkan. Sejak tahun 1202 M buku-buku para ilmuwan
muslim/arab telah banyak diterjemahkan ke bahasa eropa seperti yang dilakukan oleh Leonardo
Fibonacci of Pisa dengan judul Liber Abbaci, Verba Filiorum dan Epsitola De Proportitione Et
13

Proportionalitate. Pada tahun 1429 M, angka Arab dilarang digunakan dalam Pemerintahan
italia.
Namun Luca Pacioli selalu tertarik untuk belajar hal tersebut. Tahun 1484 M, Paciolli pergi
dan bertemu dengan temannya Onofiro Dini Florence seorang pedagang yang suka berpergian ke
Amerika Utara dan Konstantinopel sehingga diduga Paciolli mendapat ide tentang double entry
tersebut dari temannya ini. Alasan teknis yang mendukung hal itu adalah Luca Pacioli
mengatakan bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali di sisi sebelah kredit dan sisi
sebelahnya adalah debit. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Pacioli menerjemahkan hal
tersebut dari bahasa arab.
Luca Pacioli dengan bukunya tahun 1494 M dengan bukunya : Summa de Arithmetica
geometria Proportionalita (A review of Arithmetica, Geometry and Proportions) pada tahun
1494 M menerangkan mengenai double entry book keeping sehingga ditetapkan sebagai penemu
akuntansi modern. Dari hal penelusuran pemikir islam, ditemukan bahwa ada hubungan antara
para pedangan italia dan pedagang muslim, yang membuka kemungkinan bahwa akuntansi
modern tersebut diperoleh Luca Pacioli dari hubungannya dengan pedagang muslim.
Bukti-bukti istilah yang digunakan Paciolli juga sama dengan apa yang dilakukan oleh para
pedagang muslim. Selain itu ketika Daulah Islam mulai berkembang, telah dikembangkan juga
sistem akuntansi yang cukup maju dan dapat dijadikan dasar bahwa klaim muslim turut dalam
pengembangan akuntansi modern.

14

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian dari ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alam dan perhitungan yang bersifat
memiliki kebenaran absolut. Perubahan ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu
sosial lebih disebabkan oleh faktor-faktor perubahan dalam masyarakat yang semula dianggap
sebagai sesuatu konstan, misalnya transaksi usaha yang akan dipengaruhi oleh budaya dan tradisi
serta kebiasaan dalam masyarakat.
Akuntansi dalam islam merupakan alat (tool) untuk melaksanakan perintah Allah Swt.
(dalam QS. Al-Baqarah: 282) untuk melakukan pencatatan dalam melakukan transaksi usaha.
Akuntansi bukanlah suatu profesi baru, dalam bentuk yang sangat sederhana telah dilakukan
pada zaman Sebelum Masehi. Luca Paciolli dengan bukunya tahun 1494 M dengan bukunya:
Summa de Arithmetica Geometria Proportionalita (A Review Of Arithmetic, Geometry And
Proportions) pada tahun 1494 M menerangkan mengenai double entry book keeping sehingga
ditetapkan sebagai penemu akuntansi modern, walaupun ia mengatakan bahwa hal tersebut telah
dilakukan lebih dari satu abad yang lampau. Dari hasil penelusuran pemikir islam, ditemukan
bahwa ada hubungan antara pedagang Italia dan pedagang muslim, yang membuka kemungkinan
bahwa akuntansi modern tersebut diperoleh Paciolli dari hubungannya dengan pedagang muslim.
Bukti-bukti dan istilah yang digunakan Paciolli juga sama dengan apa yang dilakukan oleh para
pedagang muslim. Selain itu, ketika daulah islam mulai berkembang, telah dikembangkan juga
sistem akuntansi yang cukup maju dan dapat dijadikan dasar bahwa klaim muslim turut dalam
pengembangan akuntansi modern.
4.2 Saran
Diharapkan mahasiswa memahami materi tentang sejarah dan pemikiran akuntansi syariah di
dalam makalah ini agar mendapat tambahan wawasan mengenai sejarah dan pemikiran akuntansi
syariah. Makalah ini diharapkan agar dapat menjadi tambahan literatur dalam mempelajari
materi sejarah dan pemikiran akuntansi syariah.
15

DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati, Sri Dan Wasilah. 2019. Akuntansi Syariah Di Indonesia Edisi 5. Jakarta: Salemba
Empat.
Khaddafi, Muammar dkk. 2017. Akuntansi Syariah Meletakkan Nilai-Nilai Syariah Islam dalam
Ilmu Akuntansi. Medan: Madenatera.
Sawarjuwono, Tjiptohadi, Basuki Basuki dan Imam Harymawan. 2011. Menggali Nilai, Makna,
dan Manfaat Perkembangan Sejarah Pemikiran Akuntansi Syariah di Indonesia. JAAI. 15(1).
65-82.
Zhasriani.

2018.

Sejarah

dan

Pemikiran

Akuntansi

https://zhasriani.blogspot.com/2018/07/sejarah-dan-pemikiran-akuntansi-syariah.html

Syariah.
(diakses

pada 11 Maret 2021)
Dosen pendidikan. 2020. Akuntansi Syariah.

https://www.dosenpendidikan.co.id/akuntansi-

syariah/ (diakses pada 11 maret 2021)

16

Judul: Hilal Al Ambia C1c018001 R009 Akuntansi Makalah Akuntansi Syariah Materi 4 Sejarah Dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Oleh: Hilal Al Ambia


Ikuti kami