Berita Akuntansi

Oleh Sigit Pangestu

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Berita Akuntansi

KUTA - Pemerintah memilih bersikap hati-hati dalam penerapan standar pelaporan
akuntansi internasional atau International Fiancial Reporting Standards (IFRS) ke
industri agriculture.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, penerapan pedoman standar akuntansi keuangan
(PSAK), berjalan tidak mudah karena memiliki banyak kompleksitas seperti pernah
terjadi di industri perbankan.
"Kita sudah mengalami yang terberat, di sektor perbankan terjadi pada 2010, di situ
permasalahannya sangat kompleks dan itu kita sudah melaluinya," kata Dewan Standar
Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), Rosita Uli Sinaga saat jumpa pers
di sela International Financial Reporting Standard Region Policy Forum, di
Kuta, Senin (23/5/2011).
Selain itu, ada beberapa lagi industri yang cukup signifikan seperti asuransi yang
diharapkan sudah bisa menerapkan standar pelaporan akuntansi keuangan pada 2012.
Sementara untuk penarapan di industri agriculture, sambung Rosita, sampai saat ini
belum bisa berjalan karena masih harus dilakukan pembahasan lebih mendalam.
"Sampai saat ini dewan belum memutuskan apakah akan mengadopsi IFRS," katanya
menambahkan.
Dijelaskannya, untuk bisa mengadopsi standar tersebut ke industri agriculture, terlebih
dahulu harus menghitung semua aset dengan "Fair Value", sehingga hal itu memerlukan
kehati-hatian. "Kami sungguh hati-hati untuk mengadopsi tersebut," tegasnya dalam
pertemuan yang dihadiri 300 delegasi dari 21 negara dan dibuka resmi Wakil Presiden
Boediono.
Pihaknya optimis, jika standar tersebut akan bisa diterapkan perusahaan pemerintah dan
swasta, terlebih Menteri BUMN telah mengakui dan cukup kooperatif, yang diharapkan
bisa diimplementasikan pada tahun 2013 mendatang. "Hasilnya seperti apa akan kita lihat
nanti," ucapnya.
Ia menambahkan, dari sisi pelaporan keuangan, banyak hal-hal yang tidak bisa dipotret
secara lebih riil. Dicontohkan soal pinjaman yang oleh suatu bank, diberikan dengan suku
bunga lima persen. Namun dengan sistem struktur bunga efektif interest rate yang
memakai anuitas dan flat, ternyata bunganya macam-macam.
Dengan adanya standar pelaporan sekarang, maka suku bunga perbankan akan dilihat
lebih pada substansinya. "Walaupun perbankan mengemasnya bagaimanapun, kalau

kalau riilnya bunga misalnya 10 persen, maka harus dicatatkan 10 persen. Jadi riil
bunganya akan dipotret sama," imbuhnya.

Perusahaan Harus Pakai Sistem Akuntansi
Lingkungan

Ilustrasi. Foto: Corbis

Salman Mardira

Jurnalis


Share on Facebook
 Share on Twitter
 Share on Google
 Share on Pinterest
AA

A

BANDA ACEH - Perusahaan diminta ikut serta menyelamatkan bumi dari kerusakan
dengan menerapkan sistem akuntansi lingkungan berbasis laporan berkelanjutan
(sustainability reporting).
Sistem yang tak hanya memaparkan aspek ekonomi tetapi juga menjurus kepada aspek
lingkungan dan social ini, dinilai penting dianut perusahaan untuk mencegah kerusakan

lingkungan.
Direktur Eksekutif National Center for Sustainability Reporting, Ali Darwin, menyatakan
adanya sistem laporan berkelanjutan ini akan mendorong perusahaan memikirkan
dampak-dampak negatif dihasilkan terhadap lingkungannya.
"Dengan sustainability reporting ini perusahaan akan bisa memperpanjang umur
bumi," katanya, dalam Simposium Nasional Akuntansi (SNI) ke-14, di Gedung
AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, Kamis
(21/7/2011).
Menurutnya, aktivitas perusahaan banyak mengeluarkan karbon (Co2) sehingga
menyebabkan lapisan ozon bumi makin menipis. Pengaruh bahan-bahan kimia dipakai
perusahaan dan juga masyarakat di dunia sekarang dinilai ikut membuat polusi dan
mencemari lingkungan yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global.
Ali Darwin mengatakan aspek lingkungan harus menjadi perhatian serius perusahaan
sekarang, salah satu caranya adalah menerapkan laporan berkelanjutan.
Perusahaan diminta memiliki akuntan-akuntan lingkungan yang bukan hanya melaporkan
aspek ekonomi tapi juga lingkungan, sehingga dapat diminimalisir kerusakan lingkungan
oleh perusahaan.
Tenaga akuntan lingkungan, lanjut Darwin, hingga kini masih terbatas di Indonesia.
Lembaga pendidikan profesi akuntan diminta menjadikan perspektif baru ini dalam
pembentukan akuntan.
Sistem laporan berkelanjutan kini mulai diwajibkan kepada perusahaan di beberapa
Negara. Di Swedia, kata Darwin, semua BUMN diwajibkan membuat laporan
tahunannya dalam sistem ini, begitu juga halnya di Afrika Selatan yang mulai
menerapkannya sejak 2010.
"Sayangnya di Indonesia ini belum dilakukan. Beberapa perusahaan memang sudah
melakukannya, tetapi kendalanya adalah pada kurangnya tenaga akuntan lingkungan,”
kata Darwin.
Menteri BUMN diminta mengintruksikan kepada perusahaan-perusahaan khususnya
perusahaan BUMN untuk wajib menerapkan sustainability reporting dalam
menyampaian laporan tahunan, agar dampak kerusakan lingkungan bisa diatasi.
(ade)

Judul: Berita Akuntansi

Oleh: Sigit Pangestu


Ikuti kami