Akuntansi Zakat

Oleh Maxyanus Taruk Lobo'

20 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Zakat

Nama : Maxyanus Taruk Lobo
NIM : A311 12 296

AKUNTANSI ZAKAT
A. Pengertian
Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, pengihtisaran, penafsiran dan
pengkomunikasian dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan
kejadian-kejadian ekonomi dari suatu entitas hukum atau sosial.
Pengertian akuntansi dalam ilmu pengetahuan modern menegaskan bahwa
akuntansi dikhususkan untuk menentukan berbagai macam kebijakan, kemudian
menyampaikan informasi yang berkaitan dengan hasil aktivitas tersebut kepada pihak
yang berkepentingan untuk dipergunakan dalam pengambilan keputusan.
Zakat adalah sebagian harta yang wajib dikeluarkan oleh wajib zakat (Muzakki)
untuk diserahkan kepada penerima zakat (mustahiq). Pembayaran zakat dilakukan
apabila nisab dan haulnya terpenuhi dari harta yang memenuhi kriteria wajib zakat
(PSAK 101 paragraf 71). Unsur dasar laporan sumber dan penggunaan dana zakat
meliputi sumber dana, penggunaan dana, penggunaan dana selama satu jangka waktu,
serta saldo dana zakat yang menunjukan dan azakat yang belum disalurkan pada tanggal
tertentu (paragraf 72). Dalam hal ini, dana zakat tidak diperkenankan untuk menutup
penyisihan kerugian aset produktif.
Sumber hukum zakat :
1.
Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 110
2.
Al-Hadits
“golongan yang tidak mengeluarkan zakat (di dunia) akan ditimpa kelaparan dan
kemarau panjang.” (HR. Tabrani)
Menurut Alnof, Akuntansi Zakat merupakan satu proses pengakuan (recognition)
kepemilikan dan pengukuran (measurement) nilai suatu kekayaan yang dimiliki dan
dikuasai oleh muzakki untuk tujuan penetapan, apakah harta tersebut sudah mencapai
nishab harta wajib zakat dan memenuhi segala persyaratan dalam rangka penghitungan
nilai zakat.
Dalam penerapannya, akuntansi zakat dana mencakup teknik penghitungan harta
wajib zakat yang meliputi pengumpulan, pengidentifikasian, penghitungan beban
kewajiban yang menjadi tanggungan muzakki dan penetapan nilai harta wajib zakat serta
penyalurannya kepada golongan yang berhak menerima zakat.
Menurut Fajar Laksana dalam AAS-IFI (Accounting & Auditing Standard for
Islamic Financial Institution) tujuan akuntansi zakat adalah menyajikan informasi
mengenai ketaatan organisasi terhadap ketentuan syariah Islam, termasuk informasi
mengenai penerimaan dan pengeluaran yang tidak diperbolehkan oleh syariah, bila
terjadi, serta bagaimana penyalurannya.

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan akuntansi zakat adalah proses
penghitungan dan pengukuran harta wajib zakat, untuk menentukan jumlah zakat yang
harus dibayarkan oleh muzakki dari harta yang dimiliki. Kemudian disalurkan kepada
yang berhak menerima zakat (mustahiq) seperti yang telah ditentukan oleh syariah Islam.
Aturan Akuntasi Untuk Lembaga Pengelola Zakat Indonesia. Sampai dengan saat
ini belum ada yang secara khusus membuat aturan akuntansi zakat, hal inilah salah satu
penyebab kesulitan dalam melakukan standarisasi pencatatan dan pelaporan akuntansi
zakat di Indonesia. Sementara ini bentuk pencatatan dan pelaporan akuntansi zakat
seringkali didasarkan kepada metoda akuntansi yang secara umum berlaku, yang
kemudian di modifikasi dengan ketentuan syariah. Dan ketentuan syariah inilah yang
menentukan terhadap perlakuan pencatatan dan pelaporan akuntansi zakat.
B. Syarat dan Wajib Zakat
1. Syarat wajib zakat, antara lain:
a. Islam, berarti mereka yang beragama Islam baik anak-anak atau sudah dewasa,
berakal sehat atau tidak.
b. Merdeka, berarti bukan budak dan memiliki kebebasan untuk melakukan dan
menjalankan seluruh syariat Islam.
c. Memiliki satu nisab dari salah satu jenis harta yang wajib dikenakan zakat dan
cukup haul.

2.

Zakat adalah kewajiban bagi pihak yang memenuhi semua kriteria di atas,
zakat adalah utang kepad Allah SWT dan harus disegerakan pembayarannya, serta
ketika membayar harus diniatkan untuk menjalankan perintah Allah dan
mengharapkan rida-nya.
Syarat harta kekayaan yang wajib dizakatkan ayau objek zakat.
a. Halal
Halal tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan yang halal (sesuai
dengan tuntunan syariah).
b. Milik penuh
Artinya kepemilikan disini berupa hak untuk penyimpanan, pemakaian,
pengelolaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, dan dilamnya tidak ada
hak orang lain.
c. Berkembang
Menurut ahli fikih, “harta yang berkembang” secara etimologiberarti “harta
tersebut bertambah”, tetapi menurut istilah bertambah itu terbagi menjadi dua
yaitu bertambah secara nyata dan bertambah secara tidak nyata.
d. Cukup nisab
Nisab yaitu jumlah mminimal yang menyebabkan harta terkena kewajiban
zakat.
e. Cukup haul

Haul adalah jangka waktu kepemilikan harta ditangan si pemilik sudah
melampaui dua belas bulan Qamariyah. Persyaratann setahun ini hanya untuk
objek zakat berupa ternak, uang, dan harta benda dagang.
f. Bebas dari utang
Dalam menghitung cukup nisab, harta yang dikeluarkan zakatnya harus bersih
dari hutang, karena ia dituntutatau melunasi hutangnya tersebut.
g. Lebih dari kebutuhan pokok
Kebutuhan adalah sesuatu yang betuk-betul diperukan untuk kelangsungan hidup
secara rutin; seperti kebutuhan sehari-hari.
C. Jenis Zakat
Jenis zakat terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.
Zakat jiwa/zakat fitrah
2.
Zakat harta.
a. Perniagaan
b. Pertanian
c. Pertambangan
d. Hasil laut
e. Hasil ternak
f. Harta temuan
g. Emas dan perak
h. Hasil kerja (profesi)
D.

Sumber Dana Zakat di Bank Syariah
Sumber dana zakat di bank syariah terdiri atas:
1.
Zakat dari dalam entitas bank syariah.
2.
Dana zakat dari pihak luar entitas bank syariah (termasuk zakat dari nasabah)

E.

Penyaluran Dana Zakat
Penyaluran dana zakat dibatasi pada 8 golongan (asnaf) yang sudah ditentukan oleh
syariah:
1. Fakir yaitu orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga
untuk memenuhi penghidupannya.
2. Miskin yaitu orang yang tidak cukup penghidupannya, dan dalam keadaan
kekurangan.
3. Amil yaitu orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Muallaf yaitu orang kafir yang ada harapan untuk masuk Islam dan orang yang baru
masuk Islam.
5. Hamba sahaya (riqab) yaitu untuk memerdekakan budak, mencakup juga untuk
melepaskan orang muslim yang ditawan oleh oarang-orang kafir.
6. Ghorimin yaitu orang-orang yang terlilit utang karena untuk kepentingan yang
bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya.

7.
8.

F.

Orang yang sedang barjihat (fisabililah) yaitu untuk keperluan pertahanan dan
kejayaan Islam dan kemaslahatan kaum muslimin.
Ibnu Sabil yaitu orang-orang yang sedang dalam perjalanan bukan maksiat yang
mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Batasan-batasan (Nishab) Zakat
Sebagai suatu kelebihan yang khas dalam agama Islam, zakat dikeluarkan setelah
mencapai batas minimal atas kebutuhan yang dikeluarkan. Dengan kata lain, zakat
dikeluarkan atas harta yang dimiliki oleh seseorang. Harta dalam Islam dapat
menggolongkan pemiliknya ke dalam golongan orang-orang yang menurut pengertian
zakat; manakala telah memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Harta itu telah sampai kepada batas minimal yang diistilahkan dengan nishab. Batas
minimal ini diperkirakan untuk barang-barang komoditi seharga 20 dinar emas.
Adapaun untuk hasil-hasil pertanian, jumhur fuqaha (kebanyakan ahli hukum Islam)
berpendapat bahwa setiap tetumbuhan bumi yang ada zakatnya, tidak ada nizabnya
yang tertentu.
2. Pemilik harta tetap memiliki senisab ini dalam masa satu tahun penuh selebihnya
dari kebutuhan-kebutuhannya yang asli seperti tempat tinggal, makanan dan
pakaian.
Dari ketentuan kewajiban pengeluaran zakat, maka dapat dirumuskan batasanbatasan yang harus diikuti dalam menentukan standar akuntansi zakat, yaitu
1. Penilaian current exchange value (nilai tukar sekarang) atau harga pasar. Kebanyakan
para ahli fiqh mendukung bahwa harta perusahaan pada saat menghitung zakat harus
dinilai berdasarkan harga pasar.
2. Aturan satu tahun. Untuk mengukur nilai asset, kalender bulan harus dipakai kecuali
untuk zakat pertanian. Asset ini harus diberlakukan lebih satu tahun.
3. Aturan mengenai independensi. Pengaturan ini berkaitan dengan standar yang
diuraikan di atas. Zakat yang dihitung tergantung pada kekayaan akhir tahun. Piutang
pendapatan yang bukan pendapatan tahun ini dan pendapatan yang dipindahkan ke
depan tidak termasuk.
4. Standar realisasi. Kenaikan jumlah diakui pada tahun yang bersangkutan apakah
transaksi selesai atau belum. Dalam hal ini, piutang (transaksi kecil) harus
dimasukkan dalam perhitungan zakat.
5. Yang dikenakan zakat. Nisab (batas jumlah) harus dihitung menurut ketentuan
(hadist), sehingga orang yang tidak cukup dari nisabnya maka tidak berkewajiban di
tagih.
6. Net total (gross) memerlukan net income. Setelah satu tahun penuh, biaya, utang, dan
penggunaan keluarga harus dikurangkan dari income yang akan dikenakan zakat.
7. Kekayaan dari aset. Setiap muslim yang memiliki harta atau kekayaan dalam batas
waktu tertentu akan dihitung kekayaannya untuk dikenai zakat.

G. Beberapa Pemahaman Akuntansi Zakat
Ada beberapa pemahaman/istilah tentang zakat yang wajib diketahui adalah sebagai
berikut:
1. Al-Maujudat
Al-Zakawiyah:
yang
dimaksud
dengan al-maujudat
alzakawiyah adalah jenis harta yang memenuhi syarat untuk tunduk kepada zakat
sesuai dengan macam dan enis harta.
2. Tanggungan dan tuntutan yang harus dilunasi, yaitu tuntutan-tuntutan yang harus
dipenuhi dari harta yang tunduk kepada zakat yang mengurangi jumlah harta wajib
zakat, sehingga harta yang tunduk kepada zakat merupakan harta yang dimiliki oleh
muzakai secara sempurna, tidak ad tanggungan hutang yang harus dilunasi.
3. Wi’a al-zakat (tempat zakat): yaitu harta bersih yabg harus dikeluarkan zakatnya,
wi’a zakat ini diperoleh dari jenis harta wajib dizakati dikurangi tanggungan dan
tututan yang harus dibayar.
4. Nisab zakat: kadar jumlah harta yang mana ika wi’a zakat (harta wajib zakat setelah
dikurangi semua tuntutan yang harus dibayar) sampai kepada jumlah tersebut, maka
harta tersebut tuduk kepada zakat, sebaliknya jika kurang dari jumlah tersebut maka
tidak wajib dikeluarkan zakatnya.
5. Harga zakat: nisbah prosentase harta yang dikhususkan untuk zakat. Harga zakat ini
berbeda antara zakat satu dengan zakat lainnya.
6. Jumlah zakat: jumlah harta yang dihitung sebagai zakat dengan cara mengalikan
tempat zakat ketika memenuhi nasab dengan harga zakat.
H. Asas-asas Penghitungan Zakat
Penghitungan zakat tunduk ke beberapa asas yang diambil dari hukum dan dasar-dasar
fiqih yaitu:
1. Asas tahunan: zakat harta dihitung ketika telah melewati dua belas bulan hijtiyah.
Tahun zakat dimulai ketika harta tersebut mencapai niasab, selain zakat harta
pertanian yang dihitung zakatnya pada waktu panen dan jakat rikaz yang wajib
dikeluarkan zakatnya pada waktu menemukannya.
2. Asas independensi tahun zakat: setiap tahun zakat independen dari tahun-tahun zakat
lainnya (tahun sebelum dan sesudahnya), tidak boleh mewajibkan dua zakat atas satu
jenis harta dalam tahun yang sama, sebagimana satu jenis harta tidak boleh tunduk
kepada zakat dua kali dalam setahun.
3. Asas terealisasinya perkembangan dalam harta yang tunduk kepada zakat baik
secara riil maupun prediksi dan maknawi, artinya harta yang tunduk kepada zakat
haruslah harta yang berkembang seperti harta perdagangan dan binatang ternak atau
harta tersebut dihukumi sebagai harta berkembang seperti harta tunai yang tidak
diinvestasikan, yang mana ika harta tersebut diinvestasikan akan berkembang.
4. Asas penghitungan zakat atas semua harta (Jumlah kotor) atau atas jumlah bersih
harta sesuai dengan jenis zakat. Misalnya zakat harta tunai dihitung atas semua harta
dan perkembangannya sedang zakat harta mustaghalat (harta yang diliki untuk

mendapat pemasukan) dan zakat gaji dihitung atas jumlah bersih harta setelah
dikurangi pembiayaan yang harus dikeluarkan.
5. Asas penghitungan nialai harta zakat berdasarkan nilai (harga) pasar yang berlaku
pada waktu pembayaran zakat. Misalnya harta perdagangan dihitung nilainya
berdasarkan harga grosir (partai) dipasar dan zakat piutang dihitung berdasarkan
nilai/umlah yang diharapkan pelunasannya.
6. Asas penggabungan harta-harta yang sejenis yang sam haul, nisab dan harga
zakatnya; seperti barang perdagangan digabungkan dengan harta tunai, simpanan
gaji dan pemberian.
7. Asas pengurangan harta yang wajib dizakati oleh tuntutan dan kewajiban jangka
pendek (kontan), sedang kewajiban jangka panjang yang mengurani harta zakat
adalah bagian yang harus dibayar pada tahun itu.
I.

Akuntansi Dana Zakat
Pada laporan keuangan tahun 20XA, saldo dana Zakat Bank Syariah Peduli (BSP)
adalah sebesar Rp 15.000.000. Berikut adalah transaksi yang terkait dengan dana
Zakat pada BSP selama tahun 20XB.
 15 Jan 20XB diterima zakat dari Bu. Ietje secara tunai Rp 3.000.000
 13 Mar 20XB diterima zakat dari Bu. Barbara secara tunai sebesar Rp
12.000.000
 17 Mar 20XB disalurkan tunai dana zakat kepada masyarakat miskin sebesar Rp
12.000.000
 1 April 20XB diterima zakat perniagaan Bank Syariah Peduli tahun 20XB Rp
50.000.000
 2 Mei 20XB diterima via rekening tabungan, zakat dari Bu Erni sebesar Rp
10.000.000
 7 Mei 20XB disalurkan dana zakat kepada ustad yang berdakwah di pedalaman
pulau Kalimantan sebesar Rp 10.500.000
 16 Agus 20XB diterima dana zakat penghasilan dari Bu Widyas, nasabah Giro
Rp20.000.000 via rekening nasabah
 25 Sept 20XB disalurkan tunai dana zakat kepada orang miskin Rp 65.000.000
 30 Nov 20XB disalurkan tunai dana zakat kepada mualaf sebesar Rp 2.000.000
 15 Des 20XB disalurkan tunai dana zakat kepada ibnu sabil sebesar Rp 500.000
 27 Des 20XB ditransfer honor amil sebesar Rp 500.000 ke tabungan Bpk
Misbah petugas penyaluran bantuan dana ZIS.
Jurnal transaksi diatas sbb:
Tanggal
15 Jan 20XB
13 Mar 20XB

Rekening
Dana Zakat
Kas
Dana Zakat
Kas

Debit (Rp)
3.000.000

Kredit (Rp)
3.000.000

12.000.000
12.000.000

17 Mar 20XB

Kas

1 April 20XB
2 Mei 20XB
7 Mei 20XB
16 Agus 20XB
25 Sept 20XB
30 Nov 20XB
15 Des 20XB
15 Des 20XB

12.000.000

Dana Zakat
Zakat bank syariah
Dana Zakat
Rekening tabungan nasabah
Dana Zakat
Dana Zakat
Kas
Rekening giro nasabah
Dana Zakat
Dana Zakat
Kas
Dana Zakat
Kas
Dana Zakat
Kas
Dana Zakat
Rekening tabungan-bpk
misbah

12.000.000
50.000.000
50.000.000
10.000.000
10.000.000
10.500.000
10.500.000
20.000.000
20.000.000
65.000.000
65.000.000
2.000.000
2.000.000
500.000
500.000
500.000
500.000

Laporan Dana Zakat
Bank syariah peduli
laporan sumber dan pengguna zakat
periode 01 jan s/d 31 des 20X2 dan 20X1
Keterangan

Tahun 20X2
(Rp)

20X1
(Rp)

Sumber dana zakat
a. Zakat dari bank
b. Zakat dari pihak luar bank
Total sumber dana
Pengguna dana zakat
a. Fakir
b. Miskin
c. Amil
d. Muallaf
e. Ghorim
f. Riqob
g. Fisabillilah
h. ibnu sabil
Total pengguna
Kenaikan(penurunan) sumber atas pengguna
Sumber dana zakat pada awal tahun
Sumber dana zakat pada akhir tahun

50.000.000
45.000.000
95.000.000

35.000.000
45.000.000
80.000.000

(0)
(77.000.000)
(500.000)
(2.000.000)
(0)
(0)
(10.500.000)

(0)
(48.000.000)
(500.000)
(4.000.000)
(0)
(0)
(1.500.000)

(500.000)
(90.500.000)

(30.000.000)
(84.000.000)

4.500.000

(4.000.000)

1.500.000
19.500.000

19.000.000
1.500.000

J.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat laporan akuntansi zakat adalah :
1. Setiap penerimaan dan pengeluaran harus di ketahui termasuk jenis dana apa.
2. Setiap penyaluran dana yang ada harus sesuai dengan ketentuan Syari’ah.
3. Setiap jenis dana yang ada harus dapat di ketahui saldonya.
4. Jika zakat di terima dalam bentuk barang maka prinsip akutansi menghendaki
barang tersebut di nilai dalam satuan moneter (dalam rupiah), sesuai dengan nilai
pasarnya (jika di ketahui) atau nilai taksirannya.
5. Aktiva tetap yang dimiliki boleh disusutkan ataupun tidak

Referensi:
Rahman,
Habib.
2014.
Akuntamsi
Zakat.
(Online)
(http://rahman8194.blogspot.com/2014/01/akuntansi-zakat_3957.html. Diakses pada
tanggal 9 April 2015)

Judul: Akuntansi Zakat

Oleh: Maxyanus Taruk Lobo'


Ikuti kami