Akuntansi, Tradisi

Oleh Tira Occir

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi, Tradisi

Akuntansi, Tradisi,Agama,Modernisasi,
dan Globalisasi
Hakikat & Tradisi Akuntansi
Akuntansi adalah sebuah seni pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisarandengan
aturan baku dan dalam satuan uang, transaksi dan peristiwa yang paling tidak sebagian
dirinya memiliki karakter keuangan dan selanjutnya interpretasi atas hasilnya. Akuntansi
sebagai seni maupun sebagai aktivitas jasa dan secara tidak langsung menyatakan bahwa
akuntansi mencakup sekumpulan teknik yang dianggap bermanfat untuk suatu bidang
tertentu.
Apabila kita melihat perkembangan akuntansi dari masa ke masa, akuntansi memegang
peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, bahkan
akuntansi akan menciptakan sebuah ritme kehidupan yang membawa dampak bagi orang –
orang di sekelilingnya.
Bila melihat dari sisi sejarah, maka kita dapat menelusuri perkembangannya yaitu :
 Tahun 1775 : pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single entry
maupun double entry.
 Tahun 1800 : masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama digunakan dalam
perusahaan.
 Tahun 1825 : mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial auditing).
 Tahun 1850 : laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan yang
dianggap lebih penting.
 Tahun 1900 : di USA mulai diperkenalkan sertifikasi profesi yang dilakukan melalui
ujian yang dilaksanakan secara nasional.
 Tahun 1925 : Mulai diperkenalkan teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk
perpajakan, akuntansi pemerintahan, serta pengawasan dana pemerintah. Sistem akuntansi
yang manual beralih ke sistem EDP dengan mulai dikenalkannya“punch card record”.
 Tahun 1950 s/d 1975 : Pada periode ini akunansi sudah menggunakan komputer untuk
pengolahan data. Lalu, sudah dilakukan Perumusan Prinsip Akuntansi (GAAP). Hingga
Perencanaan manajemen serta management auditing mulai diperkenalkan.

 Tahun 1975

: Total system review yang merupakan metode pemeriksaan efektif mulai

dikenal. Dan Sosial accounting manjadi isu yang membahas pencatatan setiap transaksi
perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat.
Akuntansi secara berkala dan terus – menerus dan pasti mengalami perkembangan yang
signifikan sejalan dengan perkembangan kebutuhan pola hidup masyarakat dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Akunatnsi dituntut agar dapat memenugi kebutuhan akan
pelaporan yang dianggap sangat perlu dalam mengukur kinerja suatu organisasi atau bahkan
kinerja dari suatu perusahaan dan Negara itu sendiri.
Di Indonesia, Akuntansi mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1642. Akan tetapi bukii
yang jelas terdapat pada pembukuan Amphioen Societeit yang berdiri di Jakarta sejak 1747.
Selanjutnya akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanam Paksa dihapuskan pada
tahun 1870. Hal ini mengakibatkan munculnya para pengusaha swasta Belanda yang
menanamkan modalnya di Indonesia.
Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda sekitar 17 (ADB
2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik
akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang
dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era
ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping)
sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda-yang
merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan-memainkan peranan penting
dalam praktik bisnis di Indonesia selama era ini (Diga dan Yunus 1997).
Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan NegaraGovernment Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915 (Soermarso 1995). Akuntan
publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang mendirikan kantor di Indonesia pada
tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan
H.Y.Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak-Belasting Accountant
Dienst (Soemarso 1995).
Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Orang
Indonesia pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD Massie, yang diangkat sebagai
pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal 21 September 1929 (Soemarso
1995).
Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan
mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang

berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995). Praktik akuntansi model
Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an). Pendidikan dan
pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda. Nasionalisasi
atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang orang Belanda dari Indonesia
pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli (Diga dan Yunus
1997).Fungsi pemeriksaan (auditing) mulai dikenalkan di Indonesia tahun 1907, yaitu sejak
seorang anggota NIVA, Van Schagen, menyusun dan mengontrol pembukuan perusaan.
Pengiriman Van Schagen ini merupakan cikal bakal dibukanya Jawatan Akuntan Negara
(GAD – Government Accountant Dients) yang resmi didirikan pada tahun 1915. Akuntan
publik pertama adalah Frese & Hogeweg, yang mendirikan kantornya di Indonesia tahun
1918.
Dalam masa pendudukan Jepang, Indonesia sangat kekurangan tenaga di bidang akuntansi.
Jabatan-jabatan pimpinan di Jawatan Keuangan yang 90% dipegang oleh bangsa Belanda,
menjadi kosong. Dalam masa ini, atas prakarsa Mr. Slamet, didirikan kursus-kursus untuk
mengisi kekosongan jabatan tadi dengan tenaga-tenaga Indonesia. Pada tahun 1874, hanya
ada seorang akuntan berbangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Abutari. Di Indonesia, pendidikan
akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia tahun 1952. Pembukaan ini kemudian diikuti Institut Ilmu Keuangan
(sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tahun 1960 dan Fakultas-fakultas Ekonomi di
Universitas Padjadjaran (1961), Universitas Sumatera Utara (1964), universitas Airlangga
(1962), dan universitas Gadjah Mada (1964).
Organisasi profesi yang menghimpun para akuntan Indonesia bediri 23 Desember 1957.
Organisasi ini diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan pendiri lima orang
akuntan Indonesia.profesi akuntan mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 1967. Pada
tahun itu juga dikeluarjannya undang-undang modal asing yang kemudian disusul dengan
undang-undang penanaman modal dalam negeri tahun 1968 yang merupakan pendorong
berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi Indonesia tahun 1997, peran
profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat profesi ini memiliki peranan strategis di
dalam menciptakan iklim transparansi di Indonesia.

Dari berbagai perkembangan sejarah akuntansi yang telah dipaparkan sebelumnya baik dalam
sejarah dunia maupun sejarak perkembangan akuntansi di Indonesia, setiap akuntan memiliki
pandangan yang berbeda terhadap akuntansi itu sendiri yaitu :
1. Akuntansi sebagai ideology
Akuntansi dipandang sebagai suatu fenomena ideology sebagai suatu sarana untuk
mempertahankan dan melegimitasi aturan-aturan social, ekonomi dan politik yangberlaku
saat ini.
Persepsi akuntansi sebagai instrument rasionalitas ekonomi digambarkan dengan sangat
baik oleh Weber, yang mendefinisikan rasionalitas formal dari suatu tindakan ekonomi
sebagai “tingkat samapi sejauh mana perhitungan kuantitatif atau akuntansi mungkin
dilakukan secara teknis dan secara nyata dapat diterapkan”
2. Akuntansi sebagai bahasa
Akuntansi adalah satu alat mengkomunikasikan informasi suatu bisnis. Persepsi akuntansi
sebagai bahasa ini juga diakui oleh profesi akuntansi, yang menerbitkan bulletin
terminologi akuntansi. Hal ini juga diakui dalam literature empiris, yang mencoba untuk
mengukur komunikasi dari konsep akuntansi.
3. Akuntansi sebagai catatan historis
Umumnya,

akuntansi

telah

dipandang

sebagai

sejarah/historis(history)

suatu

organisasi

dan

suatu

sarana

penyediaan

transaksi-transaksinya

dengan

lingkungannya. Baik bagi pemilik maupun pemegang saham perusahaan, pencatatan
akuntansi menyediakan suatu sejarah kepengurusan manjer terhadap sumber daya
pemilik.
4. Akuntansi sebagai realitas ekonomi masa kini
Akuntansi juga telah dipandang sebagai suatu sarana untuk mencerminkan realitas
ekonomi masa kini. Tesis utama dari pandangan ini adalah bahwa baik neraca maupun
laporan laba rugi harus didasarkan pada suatu basis penilaian yang lebih mencerminkan
kenyataan ekonomi daripada biaya historis. Tujuan utama dari gambaran akuntansi ini
adalah penentuan laba yang sebenarnya, suatu konsep yang mencerminkan perubahan
kesejahteraan perusahaan pada suatu periode waktu.
5. Akuntansi Sebagai Sistem Informasi
Akuntansi

sebagai

proses

yang

menghubungkan

sumber

informasi

atau

transmitter(biasanya akuntan), saluran komunikasi, dan sekumpulan penerima (pengguna
eksternal). Pandangan ini memberikan manfaat yang penting baik secara konseptual
maupun secara empiris, (1) pandangan ini mengasumsikan bahwa system akuntansi

merupakan satu- satunya system pengukuran formal dalam organisasi, (2) pandangan ini
memunculkan kemungkinan desain system akuntansi yang optimal yang memiliki
kemampuan untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat.
6. Akuntansi sebagai komoditas
Akuntansi juga dipandang sebagai suatu komoditas yang merupakan hasil dari suatu
aktivitas ekonomi. Akuntansi ada karena terdapat permintaan akan informasi khusus dan
akuntan mau dan mampu untuk menghasilkannya.
7. Akuntansi sebagai mitos
Akuntansi menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia ekonomi dan
menjelaskan fenomena kompleks. Melalui akuntansi, suatu fenomena ekonomi kompleks
diterjemahkan bagi para pengguna dengan cara yang lebih mudah dan dapat dimengerti,
sehingga menciptakan lebih banyak mitos dari pada kenyataan.
8. Akuntansi sebagai alasan logis
Akuntansi mungkin digunakan untuk melekatkan makna terhadap peristiwa dan karenanya
menyediakan suatu justifikasi bagi kejadian mereka di masa mendatang, dengan adanya
ketidaktepatan dan ketidakpastian yang melingkupi kebanyakan angka akuntansi,
akuntansi mungkin digunakan sebagai suatu cara untuk melegimitasi pemunculannya.
Oleh sebab itu, akuntansi menjadi suatu perisai jaminan atau sertifikasi otoritas terhadap
angka tersebut dan menyediakan suatu alas an pemikiran atas tindakan yang berdasar pada
angka tersebut.
9. Akuntansi sebagai perumpamaan
Akuntansi memberikan kontribusi terhadap penciptaan suatu gambaran atau citra dari
organisasi. Akuntansi bertindak sebagai suatu gambaran organisasi melalui peristiwa yang
telah diseleksi dan transaksi yang terjadi di organisasi. Konsekuensinya adalah timbul
perasaan akan pentingnya akuntansi dan konsepsi tertentu mengenai realitas organisasi.
10. Akuntansi sebagai percobaan
Akuntansi cukup fleksibel untuk mengekomodasi berbagai situasi, mengadaptasi solusisolusibaru untuk masalah baru, dan beradaptasi terhadap kasus-kasus yang paling
kompleks. Perusahaan-perusahaan dapat melakukan percobaan melalui pemakaian data,
teknik, laporan atau pengungkapan akuntansi yang berbeda agar sesuai dengan
lingkungan tertentu yang mereka miliki dan untuk beradaptasi terhadap kondisi yang
berubah, dan bukannya terhamnat atau terpaku kepada pendekatan konvensional yang
sama. Akuntansi merupakan percobaan terutama ketika ia bersifat sukarela, inovatif dan
tentative.

11.Akuntansi sebagai distorsi
Karena akuntansi digunakan untuk mengendalikan atau memengaruhi tindakan-tindakan
baik dari pengguna internal maupun eksternal, akuntansi menjadi sasaran ideal bagi pihakpihak yang mencoba untuk memanipulasi arti dari pesan yang akan dilihat oleh
pengguna.Terdapat empat kelompokyang mungkin memengaruhi atau dipengaruhi oleh
pesan-pesan akuntansi : subjek yang perilakunya memberikan data bagi pesan-pesan
akuntansi, akuntan yang menyiapkan data, akuntan yang memeriksa data dan penerima
data.
Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak
keuntungan bagi masyarakat, di mana menurut pendekatan teori akuntansi tradisional,
perusahaan harus memaksimalkan labanya agar dapat memberikan sumbangan yang
maksimum kepada masyarakat sesuai konsep trickle down kapitalisme. Namun seiring
dengan perjalanan waktu, masyarakat semakin menyadari adanya dampak-dampak sosial
yang ditimbulkan oleh perusahaan dalam menjalankan operasinya untuk mencapai laba yang
maksimal, yang semakin besar dan semakin sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu,
masyarakat pun menuntut agar perusahaan senantiasa memperhatikan dampak-dampak sosial
yang ditimbulkannya dan berupaya mengatasinya.
Akuntansi, Agama, dan Modernisasi
Akuntansi tradisional di zaman modern, sudah di anggap sebagai sesuatu yang kaku untuk
diterapkan. Karena akuntansi modern lebih mengedepankan nilai manfaat yang lebih dimasa
yang akan datang yaitu semuanya harus di nilai dengan uang. Ketika perubahan itu terjadi
akuntansi sudah tidak lagi mengedepandankan kepentingan publik tapi lebih kepada
kepentingan perusahaan, organisasi atau bahkan individu.
Jepang dan Belanda yang telah mengenal modernisasi serta telah berbisnis yang modern
dengan menggunakan pencatatan double entry dengan tujuan mendapatkan laba yang
sebesar-besarnya sehingga berdampak buruk terhadap warga Negara Indonesia. Awal
misinya yaitu ingin meningkatkan kesejahte raan masyarakat Indonesia, bukan semata-mata
mencari laba. Penanaman paksa merupakan hal yang wajib dilakukan, masyarakat lokal
dijadikan buruh ketika melakukan perlawanan maka akan di bunuh dan dijadikan pelajaran
kepada yang lain ketika akan melakukan hal yang sama.

Pendekatan modern menyebutkan bahwa organisasi sebagai suatu sistem terbuka, yang
berarti bahwa organisasi merupakan bagian (sub sistem) dari lingkungannya, sehingga
organisasi dapat dipengaruhi maupun mempengaruhi lingkungannya (Lubis dan Huseini,
1987).Menurut Grayson dan Hodges ( 2004), bahwa perusahaan tidak beroperasi di dalam
ruang kosong, melainkan dalam kondisi interaksi yang kompleks dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, situasi politik, pembangunan sosial dan ekonomi, juga risikorisiko yang mungkin timbul. Jonker dan Witte (2004) menyebutkan bahwa Organisasi
sekarang ini tidak hanya bertanggung jawab bagaimana menghasilkan kualitas produk dan
jasa yang baik, tetapi juga harus dapat memenuhi kebutuhan para external stakeholders
sebagai suatu cara untuk mencegah timbulnya dampak negatif sosial.
Saat ini dalam pandangan triple bottom line masih tetap sama yaitu meningkatkan laba
sebesar-besarnya yang pada akhirnya dibagi kepada pemegang saham tanpa memperdulikan
hal-hal kemanusiaan. Kalaupun hal-hal kemanusiaan dilakukan hanya untuk memperbaiki
atau meningkatkan kepercayaan publik terhadap usaha yang dijalankan. Bahkan regulasi
yang dikeluarkan lebih mempermudah perusahaan-perusahaan raksasa atau investor masuk
ke Indonesia dan bahkan diistemewakan, sementara para karyawan yang meninggal akibat
perusahaan tidak memperdulikan kesamatan kerja, kerusakan lingkungan dan pembabasan
pajak, prodak yang membayakan konsumen semua yang terjadi seakan-akan sebagai
fenomena yang terjadi tanpa penyebab.
Perkembangan dunia bisnis terus mengalami kemajuan bahkan satu perusahaan dapat
membuka izin di Negara lain. Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan mampu
bersaing dengan yang lain dengan mempu menarik perhatian investor untuk menanamkan
modal di dalam perusahaan tersebut. Akan tetapi kompetitif tersebut tidak diimbangi dengan
kualitas produk yang jual kepada konsumen.
Mempertahankan jabatan, meningkatkan laba serta citra perusahaan merupakan tanggung
jawab investor, direksi dan manajemen bukan tanggung jawab karyawan. Berbagai kasus
akisisi perusahaan karyawan menjadi korban, demi mempertahankan perusahaan tetap
berjalan itulah solusi terbaik yang dilakukan oleh perusahaan. Bertahun-tahun bahkan
berpuluh tahun karyawan telah bekerja diperusahaan di PHK dengan diberikan pasangon
sesuai dengan masa kerja.
Inilah bencana akuntansi di zaman modern yang dikatakan bebas nilai ternyata hanyalah
symbol, sebenarnya akuntansi adalah syarat dengan nilai, sehingga akuntansi bukan lagi
solusi untuk Sherholder tapi hanya untuk Stekholder. Akuntansi di zaman modern terus

mengalami perkembangan yang sangat cepat dengan dikeluarkan berbagai standar dan
dibentuk berbagai komite yaitu IASB, IAS, IOSOCdan IFAC.
Komite yang dibentuk lebih cenderung membahas terhadap kewajaran laporan keuangan,
transparasi serta akuntabilitas dan tidak tersentuh terhadap nilai-nilai kemanusiaan bahkan
gaji karyawan, kerusakan lingkungan, komplen masyarakat terhadap suatu produk,dll
semunya digolongkan dalam beban biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan bukan
digolongkan pada aset perusahaan.
Bila berbicara masalah modernisasi, maka akan banyak kepentingan yang akan diangkat,
dimana seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pengejaran keuntungan sebesar –
besarnya merupakan tujuan akhir dari suatu organisasi, dan untuk itu apabila hal ini dikaitkan
dengan masalah agama maka yang terkena dampak langsung adalah masalah etika dan moral
yang dimiliki oleh para akuntan dalam menjalankan profesinya, dimana ada banyak akauntan
yang berkerja untuk berbagai sector, seperti akuntan publik, akuntan manajemen, akuntan
pendidik, dan lainnya.
Profesionalisme mensyaratkan tiga hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi
yaitu: keahlian, pengetahuan, dan karakter. Karakter menunjukkan personality (kepribadian)
seorang profesional yang diantaranya diwujudkan dalam sikap etis dan tindakan etis. Sikap
dan tindakan etis akuntan publik akan sangat menentukan posisinya di masyarakat pemakai
jasa profesionalnya. dengan bersikap etis dan didasari dengan niat yang muncul dari dalam
diri setiap auditor, maka apabila dihadapkan pada suatu situasi yang memaksa untuk
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika akan dapat menentukan sikapnya.
Dengan demikian, hakikat berbuat etis dalam melaksanakan audit dan profesionalitas, harus
bertumpu kepada kepentingan oarng banyak dan masyarakat secara luas serta seluruh pihak
yang akan terkena dampaknya apabila kita akan mengambil keputusan untuk melakukan
tindakan tersebut atau tidak. Karena dampak yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan
adalah bukan hanya semata – mata untuk kepentingan jangka pendek atau saat ini, melainkan
untuk kepentingan jangka panjang atau masa depan.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk membangun sebuah kepercayaan membutuhkan
waktu yang lama, namun untuk menghancurkannya dapat dilakukan dalam sekejap. Apabila
pepatah tersebut diterapkan dalam profesi sebagai auditor, maka kepercayaan akan terbangun
dan terpupuk dengan baik apabila seorang auditor benar – benar dapat mempertahankan sikap
dan prinsip etika serta moralitas dalam diri dan pekerjaan sehingga kepercayaan masayarakat
kepada profesi auditor dapat terbentuk dan dampaknya perekonomian akan semakin stabil.
Setiap agama di dunia ini mengajarkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik untuk mencapai

kecerdasan spiritual atau aktualisasi diri. Seringkali kita justru menganggap ritual atau ibadah
sebagai tujuan bukan sebagai cara. Kita melakukan ibadah sebagai sebuah kewajiban yang
harus dilakukan, karena jika tidak kita takut akan menerima hukuman dari Tuhan (azab dan
neraka), dan jika kita lakukan kita akan menerima pahala dan surga.
Menjalankan ibadah agama dengan motivasi karena ketakutan (fear motivation)
menunjukkan kecerdasan spiritual yang paling bawah, dilanjutkan dengan motivasi karena
hadiah (reward motivation) sebagai kecerdasan spiritual yang lebih baik. Tingkatan ketiga
adalah motivasi karena memahami bahwa kitalah yang membutuhkan untuk menjalankan
ibadah agama kita (internal motivation), dan tingkatan kecerdasan spiritual tertinggi adalah
ketika kita menjalankan ibadah agama karena kita mengetahui keberadaan diri kita sebagai
makhluk spiritual dan kebutuhan kita untuk menyatu dengan Sang Pencipta berdasarkan
kasih (love motivation).
Dalam menjalankan profesinya, para akuntan seringkali dihadapkan pada berbagai tekanan
yang memaksanya untuk menetukan pilihan yang baik dan buruk, kepentingan
pribadi/golongan atau kepentingan yang lebih luas. Dala hal inilah, maka teknik spriritual
perlu untuk dikembangkan, dimana seseorang harus rela meletakkan kepentingan pribadinya
ataupun golongan di atas kepentingan orang banyak yang tentu saja didasarkan pada aturan
dan norma yang berlaku dan sesuai dengan ketentuan yang ada. Seringkali bila kita berada
dalam tekanan yang lebih kita dengarkan adalah suara hati kita sendiri, kita jarang untuk
mencoba berhenti dan berdoa serta memohon pertolongan dari yang Maha kuasa untuk dapat
turut campur dalam masalah ataupun dilema yang sedang kita hadapi.
Dalam tahap inilah, penyerahan diri secara total membantu kita agar dapat menyerahkan
segala sesuatunya kepada Pencipta.
Akuntansi dan Globalisasi
Globalisasi didefinisikan sebagai tindakan atau proses globalisasi: keadaan menjadi
global, terutama: perkembangan ekonomi global yang semakin terintegrasi ditandai terutama
oleh perdagangan bebas, aliran bebas modal, dan penyadapan murah pasar tenaga kerja asing.
Perdagangan bebas yang merupakan tanda era globalisasi sudah di depan mata. Globalization
is a reality, not a choice ( Gernon& Meek, 2001). Apakah siap atau tidak, warga dunia harus
menghadapi era ini seiring telah disepakatinya berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Globalisasi telah mengubah standar akuntansi dengan menciptakan kebutuhan untuk satu set
universal standar pelaporan. Sebagai akibat dari kebutuhan mendesak untuk Standar

Akuntansi global, globalisasi telah menciptakan dampak pada pendidikan akuntansi juga.
Dampak globalisasi dalam profesi akuntansi harus diatasi agar akuntan untuk sukses bersaing
dalam perekonomian global saat ini dan untuk memberikan pengguna informasi keuangan
dengan data pembanding.
Informasi keuangan yang relevan dan dapat diandalkan merupakan faktor penentu
keberhasilan dalam fungsi apapun, berkembang atau tumbuh pasar modal. Untuk membantu
dalam pasar modal sukses, standar akuntansi yang efektif dan prosedur yang ditetapkan untuk
memastikan bahwa informasi keuangan yang relevan dan handal yang disediakan.
Tantangan yang akan banyak dihadapi oleh para akuntan adalah bagaimana meningkatkan
value dunia bisnis agar bisa survived di era perdagangan bebas. Dalam meninjau dunia
korporasi di Indonesia, ada hal yang patut menjadi pertanyaan yaitu : faktor – faktor apa yang
menyebabkan daya saing sebagian perusahaan nasional belum optimal bila dibandingkan
dengan perusahaan luar?. Bila dicermati, salahsatunya adalah mengenai aspek governancenya lebih baik. Pelaksanaan good governance

telah

membiasakan

perusahaan

untuk

berbisnis secara sehat dan aware terhadap berbagai resiko ( sebagaimana good governance
sangat concern terhadap risk management). Dengan pengelolaan resiko yang lebih baik, maka
sebagian biaya (seperti biaya modal) dapat ditekan sehingga tercapai efisiensi operasi.
Keunggulan ini telah berkontribusi dalam menghasilkan output : high quality product with
lower price. Setiap produk akan secara fair bersaing tanpa mengenal batasan Negara
mengingat dihilangkannya barrier – barrier perdagangan antar Negara.
Dalam menghadapi era globalisasi, sistem akuntansi yang berkualitas adalah hal yang mutlak
dibutuhkan. Sistem akuntansi yang terintegrasi akan membawa bisnis menjadi lebih efektif
dan efisien. Adanya pencatatan yang tertib dan andal, menghasilkan adanya kepastian yang
bisa dianalisis. Pelaku bisnis dapat menghitung asset, aktivitas dan kecenderungan usahanya.
Terintegrasinya hal – hal ini membuat perencanaan dapat dilakukan.
Dengan adanya kesamaaan standar pelaporan akuntansi di dunia yaitu IFRS diharapkan dapat
memberikan ruang gerak yang bebas bagi para investor di berbagai penjuru dunia untuk
menanamkon modal di perusahaan yang diinginkan.
Namun apakah dengan penggunaan IFRS ini dapat menjamin suatu Negara dapat
berkembang dengan bebas dan independen secara ekonomi?. IFRS itu sendiri tidak terlepas
dari kepentingan politik Negara-negara yang menciptakan standar tersebut. Dengan IFRS
transfer modal antara Negara-negara berkuasa terhadap Negara-negara berkembang semakin
bebas untuk dilakukan.

Dampak dari globalisasi yang dirasakan oleh Negara-negara berkembang salah satunya
adalah indonesia. Saat ini regulasi tentang perpajakan yaitu Tax Holiday yang diberikan
kepada investor asing sehingga dapat meningkatkan investasi di Indonesia. Sementara
Koperasi di Indonesia yang merupakan tulang punggung perekonomian bangsa, ketika
memperoleh laba dikenakan pajak 5% dan tidak mendapatkan laba tetap membayar 1%.
Bukan saja koperasi regulasi tentang ekspor dan impor juga mengalami hal yang sama, dapat
disimpulkan bahwa dengan globalisasi penjahan tidak lagi seperti perang menggnakan senjata
tetapi penjajahan menggunakan akuntansi dengan di dukung dengan regulasi serta politik.
Seyogyanya kita mempertanyakan kembali laba yang diperoleh investor di indonesia, karena
investor tidak membayar pajak akan tetapi perusahaan sebagai pengekola yang membayar
pajak dan seharusnya laba yang diperoleh harus disimpan di Negara Indonesia bukan di
Negara investor berdomisil. Dan mempertanyakan kembali apa dampak globalisasi yang
membawa manfaat bagi Bangsa Indonesia jika semua aset perekonomian dikuasai oleh
investor asing.
Untuk itulah maka peran para akuntan di Indonesia di zaman globalisasi ini diharapkan dapat
secara aktif melakukan pembenahan, perbaikan, dan pemulihan perekonomian nasional
dengan memperhatikan berbagai konstelasi global yang terkait. Peran tersebut harus
diwujudkan melalui pemantapan profesionalisme serta penegakan kode etik akuntan, yang
justru saat ini mendapat sorotan keras dari masyarakat.
Perubahan lingkungan bisnis global yang diwarnai dengan penerapan Teknologi informasi
menuntut setiap perusahaan untuk beradaptasi dan mengubah strategi, jika mau survive dan
berkembang. Dan sekali lagi para akuntan dituntut harus menunjukkan kompetensinya.
Dengan dibentuknya IAI sebagai wadah untuk pengembangan peran akuntan, sangat
membawa dampak yang positif bagi persaingan akuntan di era globalisasi.
Tujuan dari pembentukan IAI ini adalah mengembangkan dan menjaga profesi akuntan
dalam masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman; memelihara martabat dan
kehormatan profesi akuntan; serta meningkatkan kecakapan dan tanggung jawab professional
anggota.
Kesimpulan
Akuntansi terus berkembang dan menjadi alat untuk mengukur kesuksesan, sayangnya
perkembangan akuntansi yang terjadi begitu pesat telah mengabaikan nilai-nilai kemanusian
sehingga akuntansi saat ini dikatakan sebagai alat kapitalisme. Bottom line merupakan salah

satu satu ukuran ketika seseorang akan menilai kesuksesan perusahaan bukan pada seberapa
besar perusahaan mempunyai pelanggan atau konsumen, atau seberapa besar pengaruh
shareholder terhadap kesuksesan perusahaan.
Akuntansi pada era globalisasi memegang peranan yang begitu besar dalam setiap segi
perkembangan zaman, baik secara ekonomi, politik, tradisi, agama, dan arus modernisasi.
Akuntansi terus mengalami perkembangan dari masa ke masa dari sistem pencatatan,
pelaporan, dan pengambilan keputusannya. Tradisi membentuk akuntansi dengan membuat
suatu sistem yang dianut oleh para pemakainya atau penduduk setempat agar pelaoran dapat
dimengerti dan mudah dipahami.
Dengan adaya akuntasi maka pemilik modal, pekerja, pemerintah, dan para pemimpin
perusahaan serat organisasi mengetahu arah perkembangan usahanya dengan pasti dan tepat
waktu.
Namun meskipun demikian dengan perkembangan zaman, maka semakin kompleks pula
persoalan yang dihadapi karena banyaknya kepentingan yang diakomodir dalam proses
akuntansi itu sendiri.
Konsep akuntansi saat ini telah dibangun oleh berbagai perspektif yang berkembang dan
mendasari perkembangan akuntansi itu sendiri. Menurut teori kepemilikan Littleton,
Kepemilikan adalah “substansi” dari sistem pencatatan berpasangan. Lain halnya dengan
teori kepemilikan, terdapat pula teori entitas. Teori entitas dirumuskan dalam rangka
menanggapi kekurangan dari pandangan eksklusif tentang perusahaan. Teori dana, William
Vatter, telah mengusulkan pandangan teoritis yang berfokus pada sebuah “dana” pribadi
daripada kepemilikan. Teori eksklusif ini mengambil sudut pandang pemilik, dan teori entitas
mengambil sudut pandang entitas. Vatter percaya bahwa pandangan pribadi mengarah ke
interpretasi yang spesifik dan metode penilaian yang baik. Goldbert melalui teori commander
berpendapat bahwa baik kepemilikan dan teori entitas didasarkan kepemilikan, yang
merupakan konsep yang sulit untuk didefinisikan dan dianalisis. Teori investor dibangun
berdasarkan tujuan akuntansi memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus
berpendapat bahwa fungsi akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang
investor. Sedangkan Teori perusahaan/enterprise menyatakan bahwa konsep perusahaan lebih
luas daripada entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran dalam masyarakat,
sedangkan teori entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan yang berusaha untuk
memperoleh keuntungan.
Penentuan sudut pandang akuntansi yang tepat dalam praktik akuntansi yang berbeda-beda
sangatlah diperlukan. Terlebih informasi yang dihasilkan akuntansi tersebut untuk membuat

perencanaan yang efektif, pengawasan, dan pengambilan keputusan oleh manajemen, dan
pertangungjawaban organisasi kepada para investor, kreditur, badan pemerintah, dan
sebagainya.

Sumber Referensi
Aubert, Jean-Eric. 2005. Knowledge Economies: A Global Perspective. Dalam Bounfour and
Edvinsson.
Bounfour, Ahmed and Leif Edvinsson. 2005. Intellectual Capital for Communities Nations,
Regions, Cities. Oxford: Elsevier.
Fitz-enz, Jac. 2000. The ROI of Human Capital: Measuring the Economic Value of Employee
Performance. New York: AMACOM
Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Prestasi Pustaka Publisher.
Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar
Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Burrel, G. dan G. Morgan. 1979. Sociological Paradigms and Organizational Analysis. New
York: Ashgate Publishing Company.
Ikhsan Budi Riharjo. 2011. Memahami Paradigma Penelitian Non-Positivisme dan
Implikasinya dalam Penelitian Akuntansi. Jurnal Akuntansi, Manajemen Bisnis
dan Sektor Publik (JAMBSP). Vol 8 No.1-Oktober 2011: 128-146
Efraim Ferdinan Giri. 2008. Konvergensi Standar Akuntans dan Dampaknya terhadap
Pengembangan Kurikulum Akuntansi dan Proses Pembelajaran Akuntansi di
Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No.
2 – Tahun 2008 : 7 – 22.
Riahi, Ahmed-Belkaoui. 2000. Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Judul: Akuntansi, Tradisi

Oleh: Tira Occir


Ikuti kami