Akuntansi Syariah

Oleh Anggreni Tridha

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Syariah

NAMA

: ANGGRAINI TRIDHA AYUNINGSIH

STAMBUK

: 2016 31 018

KELAS

:

TUGAS RINGKASAN AKUNTANSI SYARIAH

AKAD MUDHARABAH
Pengertian akad mudharabah merupakan akad yang ada dalam konsep ilmu syariah.
Mudharabah berasal dari kata Adhdharby fil ardhi yang memiliki arti berpergian dalam
urusan dagang. Qirad sendiri memiliki arti potongan yang mengambil dari kata Al Qardhu.
Dimana sebuah transaksi memang melakukan pemotongan sebagian hartanya untuk
diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan akad mudharabahnya.
Secara teknis, mudharabah merupakan akad kerja sama di bidang usaha baik antara pemilik
dana dan pengelola dana untuk dibuat sebuah usaha dan dikelola baik laba dibagi atas dasar
nisbah bagi hasil menurut kesepakatan baik pihak pertama maupun pihak kedua. Namun, bila
terjadi kerugian maka akan ditanggung oleh si-pemilik dana kecuali disebabkan oleh
pengelola dana itu sendiri.
Akad Mudharabah memang biasa disebut sebagai suatu transaksi pendanaan atau investasi
yang menggunakan kepercayaan sebagai modal utamanya. Seperti halnya pemilik dana,
memang sengaja memberikan dana pada pengelola untuk diolah agar lebih bermanfaat dan
lebih menguntungkan. Dari pengertian dan sikap awalnya saja, akad ini membutuhkan rasa
percaya antara pihak yang terlibat. Dalam istilah ekonomi, mudharabah biasa disebut trust
financing yang memang bermodalkan keperayaan untuk membangun sebuah transaksinya

JENIS-JENIS AKAD :
Dalam aturannya, akad mudharabah dibagi menjadi beberapa jenis yang sudah dijelaskan
PSAK 105, dimana ketiga jenis tersebut yaitu :
1. Mudharabah Muthlaqah
Mudharabah mutlaqah merupakan bentuk kerjasama yang dibangun antara pemilik dana dan
pengelola dana tanpa adanya pembatasan oleh pemilik dana dalam hal tempat ataupun

investasi objeknya. Dalam hal ini, pemilik dana memang memberikan kewenangan penuh
atas hartanya untuk dikelola oleh pengelola dana.
Kontrak mudharabah muthlaqah dalam perbankan syariah biasa digunakan untuk tabungan
ataupun pembiayaan lain-lain. Sifat mudharabah ini tidak terikat. Rukun transaksi
mudharabah diantaranya dua pihak transaktor atau pemilik modal dan pengelola, objek akad
mudharabah atau modal dan usaha dan juga ijab dan kabul atau biasa disebut persetujuan
perjanjian.
2. Mudharabah Musytarakah
Mudharabah musytarakah merupakan jenis akad selanjutnya yang bisa anda ketahui. Ketika
awal kerjasama, akad yang disepakati yakni akad mudharabah dengan modal 100% dari
pemilik dana, namun ketika berjalanya usaha dan pengelola dana tertarik menanam modal
pada usaha tersebut, maka pengelola dana diperbolehkan untuk ikut dan menyumbang modal
untuk bisa mengembangkan usaha tersebut. Cukup banyak yang melakukan akad
mudharabah musytarakah, karena pada akhirnya banyak pengelola dana yang tergiur untuk
bergabung dan menerima keuntungan.
3. Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah muqayyadah merupakan jenis akad dengan bentuk kerjasama antara pemilik
dana serta pengelola dana, dengan kondisi pemilik dana membatasi pengelola dana untuk
memilih tempat maupun transaksi dan juga objek investasinya.Dalam transaksi mudharabah
muqayyadah jika diibaratkan sebagai bank syariah, maka bersifat agen yang menghubungkan
antara shahibul maal serta mudharib.
Imbalan yang bisa diterima oleh bank sebagai agen dinamakan fee dan bersifat tetap tanpa
dipengaruhi oleh keuntungan yang akan diterima. Fee yang diterima bank tetap harus
dilaporkan dalam bentuk laporan laba rugi sebagai pendapatan operasi lainnya. Mudharabah
muqayyadah ini memiliki sifat terikat atau restricted mudharabah.

DASAR HUKUM MUDHARABAH
Setiap peraturan dan sistem yang berlaku pasti menggunakan dasar untuk memperkuat serta
menjadi pedoman utamanya. Dalam akad mudharabah ada beberapa dasar hukum yang sudah
jelas diketahui oleh manusia.
1. Al Quran
Sebagai kitab suci umat muslim, Quran merupakan dasar hukum pertama dalam setiap
peraturan manusia menurut agama Islam. Semua sudah diatur dalam Al Quran dengan detail
dan lengkap termasuk mengenai transaksi secara syariah dan berbagai keuntungannya,
“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia
Allah SWT.” (QS 62:10)
“Maka, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Alloh Tuhannya” (QS 2:283).
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari
dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan
dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah
mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu,
Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari
Al Quran.
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang
yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi
berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan
dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman
yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.
dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (Al-Muzzammil [73]: 20).
Kata yang menjadi wajhud-dilalah atau argument dari ayat di atas adalah yadhribun yang
sama dengan akar kata mudharabah yang berarti melakukan suatu perjalanan usaha.

2. As Sunnah
As sunnah merupakan dasar hukum kedua dari akad mudharabah. Dimana dari Shalih bin
Suaib r.a Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan
yaitu jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampuradukan dengan
tepunguntuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah).
Sedangkan HR Thabrani dari Ibnu Abbas menyebut “Abbas bin Abdul Muthalib jika
menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada pengelola dananya agar
tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika
persyaratan itu dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung tersikonya. Ketika
persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar oleh Rasulullah SAW, beliau
membenarkannya.”
Dalam hal ini, Sunnah dan Quran juga turut serta membantu kita dalam melakukan transaksi
dengan jujur, dan juga memberikan selalu laporan keuangan agar tidak terjadi
kesalahpahaman ketika bertransaksi.

RUKUN DAN KETENTUAN AKAD MUDHARABAH
Rukun Mudharabah ada empat, yaitu :
1. Pelaku, teridiri atas : pemilik dana dan pengelola dana
2. Objek Mudharabah , berupa : Modal dan kerja
3. Ijab Kabul/Serah terima
4. Nisbah keuntungan
Ketentuan Syariah adalah sebagai berikut :
1. Pelaku
a. Pelaku harus cakap hokum dan baliqh
b. Pelaku akad mudharabah dapat dilakukan sesame muslim atau dengan
nonmuslim
c. Pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha tetapi ia boleh
mengawasi.
2. Objek Mudharabah ( Modal dan Kerja )

Objek Mudharabah merupakan konsekuensi logis engan dilakukannya akad
Mudharabah :
a. Modal
1) Modal yang diserahkan dapat berbentuk uang atau asset lainnya
(dinilai sebesar nilai wajar),harus jumlah dan jenisnya.
2) Modal harus tunai dan tidak utang.Tanpa adanya setoran modal, berarti
pemilik dana tidak memberikan kontribusi apapun padahal pengelola
dana harus bekerja.
3) Modal harus diketahui dengan jelas jumlahnya sehingga dapat
dibedakan dari keuntungan.
b. Kerja
1) Kontribusi pengelola dana dapat berbentuk keahlian, keterampilan,
selling skill, management skill, dan lain-lain
2) Kerja adalah hak pengelola dana dan tidak boleh diintervensi oleh
pemilik dana
3) Pengelola dana harus menjalankna usaha sesuai dengan syariah
4) Pengelola dana harus mematuhi semua ketetapan yang ada dalam
kontrak
3. Ijab Kabul
Adalah pernyataan dan ekspresi selling rida/rela diantara pihak-pihak pelaku akad
yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan caracara komunikasi modern.
4. Nisbah Keuntungan
a. Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan,
mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua pihak yang
bermudharabah atas keuntungan yang diperoleh.
b. Perubahan nisbah harus dilakukan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak
c. Pemilik dana tidak boleh minta pembagian keuntungan dengan menyatakan
nilai nominal tertentu karena dapat menimbulkan riba.

BERAKHIRNYA AKAD MUDHARABAH
Akad mudharabah bisa saja berakhir dengan berbagai kejadian baik yang diharapkan maupun
tidak diharapkan. Sebenarnya lama kerja sama yang dibangun dalam akad ini tidak tentu dan

tidak memiliki batasan. Namun banyak pihak yang memilih menentukan jangka waktu yang
jelas agar usaha dan transaksi berjalan dengan jelas dan gamblang. Akad mudharabah bisa
berakhir jika :


Salah satu pihak memutuskan untuk mengundurkan diri dari perjanjian, baik dengan alasan
diterima maupun tidak diterima. Karena akad ini haruslah terjadi dengan kesediaan kedua
belah pihak tanpa ada paksaan.



Dalam hal mudharabah tersebut, dibatasi waktunya atau diberikan waktu jelasnya



Jika salah satu pihak meninggal dunia atau mengalami hilang akal. Sehingga dianggap
sebagai hilangnya kesepakatan.



Pengelola dan tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk mencapai tujuan
sebagaimana dituangkan dalam akad tersebut.



Modal yang dimiliki sudah habis atau tidak ada.

Judul: Akuntansi Syariah

Oleh: Anggreni Tridha


Ikuti kami