Akuntansi Syariah

Oleh Dewi Megalia

20 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Syariah

Bab 6
Kontak Syariah ( Akad )
Pengertian Kontak Syariah
Menurut kompilasi hukum ekonomi syariah, akad adalah kesepakatan
dalam suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk melakukan dan tidak
melakukan perbuatan hukum tertentu.
Dasar Hukum Kontak Syariah ( Akad )
Dasar hukum kontak syariah adalah sebagai berikut :
 Al-Qur’an . Hal ini terdapat dalam beberapa ayat yaitu :
a. QS. Al-Isra (17) : 34
b. QS. Al-Maidah (5) : 1
c. QS. Al-Baqarah (2) : 282
Rukun dan Syarat Kontak Syariah
1. Para pihak yang membuat akad ( aqidain )
Syariah syarat subjek akad tersebut, yaitu :
a. Seseorang yang mukallaf, yaitu orang yang telah memiliki kedudukan
tertentu sehingga dia dapat dibebani kewajiban – kewajiban tertentu
b. Badan Hukum
2. Pernyataan kehendak para pihak ( shighat’aqd )
Syarat shigh’aqd di antaranya :
a. Jalal’ul ma’na ( dinyatakan dengan ungkapan yang jelas dan pasti
maknanya )
b. Tawafuq / tathabuq bainal Ijab Wal Kabul ( persesuaian antara ijab
dan qabul )
c. Jazmul iradataini ( ijad dan kabul mencerminkan kehendak masing –
masing pihak secara pasti, mantap )
d. Ittishad Al-Kabul bil-hijab, dimana kedua pihak dapat hadir dalam
suatu majlSyaatis
3. Objek Akad ( mahallul’aqd )
Syarat objek akad, yaitu :
a. Halal menurut syara’
b. Bermanfaat
c. Dimiliki sendiri atau atas kuasa sendiri ( pemilik )
d. Dapat diserah terimakan

e. Dengan harga yang jelas
4. Tujuan Akad (maudhu’al ‘aqd)
Syarat tujuan akad :
a. Baru ada pada saat dilaksanakan akad
b. Berlangsung adanya hingga berkhirnya akad
c. Tujuan akad harus dibenarkan syara’

Asas – asas kontak syariah
1. Ikhitiyari / sukarela ( terhindar dari keterpaksaan )
2. Amanah / menepati janji
3. Ikhtiyati / kehati – hatian
4. Luzum / tidak berubah
5. Saling menguntungkan
6. Taswiyah / kesetaraan ( memiliki kedudukan sama )
7. Transparasi
8. Kemampuan
9. Taisir / Kemudahan
10.Iktikad Baik
11.Sebab yang halal

Ingkar janji dalam Akad dan Sanksinya
1.
2.
3.
4.

Tidak melakukan apa yang dijanjikan untuk melakukannya
Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tapi tidak semestinya
Melakukan apa yang dijanjikan tapi terlambat
Melakukan yang menurut perjanjian tidak boleh
Sanksi bagi pelaku ingkar janji :
a. Pembayaran ganti rugi
b. Pembatalan akad
c. Peralihan resiko
d. Denda
e. Pembayaran biaya perkara

Akibat akad ( kontrak )
1. Semua akan secara sah berlaku sebagai nash syariah bagi mereka
yang mengadakan akad
2. Suatu akad tidak hanya mengikat untuk hal yang dinyatakan secara
tegas di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu menurut sifat
akad yang diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, dan nosh – nosh
syariah
3. Suatu akad hanya berlaku antara pihak – pihak yang mengadakan
akad
4. Suatu akad dapat dibatalkan oleh pihak yang berpiutang, jika pihak
yang berutang terbukti melakukan perbuatan yang mrugikan pihak
yang berpiutang
Batalnya kontrak ( Akad )
1. Batalnya dibuat oleh pembuat penawaran
2. Kematian salah satu pihak atau hilangnya kemampuan
3. Penolakan penawaran yang dilakukan dengan ucapan atau tindakan
4. Berakhirnya tempat perjanjian
5. Kerusakan objek yang akan ditransaksikan

Berakhirnya akad :
1. Di – fasakh ( dibatalkan )
2. Dengan sebab adanya khiyar
3. Salah satu pihak membatalkan
4. Kewajiban tidak dipenuhi oleh pihak – pihak akad
5. Karena habis waktunya
6. Karena tidak mendapat izin
7. Karena kematian
Kontrak Perwakilan
1. Wakil yang ditunjuk dapat memenuhi keinginan pemberian
tugas yang harus mampu melaksanakan hal – hal yang
diamanatkan
2. Pemberi amanat ( wakalah ) adalah orang yang kompeten untuk
memberikan kepercayaannya

3. Tindakan atau barang yang menjadi kesepakatan perwakilan
adalah sah menurut syara’. Objek yang bisa dilakukan dengan
perwakilan
a. Jual beli
b. Persewaan
c. Pinjam meminjam
d. Memberi hadiah
e. Jaminan
f. Bersumpah
g. Berutang
h. Investasi
i. Penyelesaian perkara di pengadilan
j. Kontrak perkawinan
k. Perceraian
l. Pelepasan Hak
m. Penerimaan dan Pengakuan Hak
Berakhirnya tugas perwakilan
1. Kesepakatan bersama untuk mengakhirinya
2. Pemutusan sepihak, baik oleh penerima atau pemberi otoritas
perwakilan
3. Selesai pelaksanaan kontrak perwakilan
4. Rusaknya objek yang menjadi kesepakatan
5. Meninggal atau hilangnya kemampuan secara hukum
Macam – Macam Akad
1. Dilihat dari keabsahannya, terbagi menjadi tiga kategori :
a. Akad yang sah . Kriteria akad yang sah :
- Akad yang terpenuhi rukun dan syarat – syaratnya
- Akad yang disepakati dalam perjanjian, tidak mengandung
unsur khilaf, sukarela
b. Akad yang fasad ( akad yang terpenuhi rukun dan syarat –
syaratnya tetapi ada hal lain yang merusak akal karena
pertimbangan maslahat )
c. Akad yang batal ( akad yang kurang rukun / syarat –
syaratnya)
2. Dilihat dari penamaannya, dibagi menjadi dua

a. Akad bernama ( Al – ‘Uqud Al – musamma ) yaitu akad yang
penamaannya telah disebutkan dan diterangkan ketentuannya
oleh syara’
b. Akad tidak bernama ( Al – Uqud Ghair Al – Musamma ) yaitu
akad yang belum dinamai syarat’ tetapi muncul dalam
perjalanan sejarah umat islam yang disesuaikan dengan
kebutuhan dan perkembangan zaman
3. Dilihat dari zat nya, dibagi menjadi dua :
a. Akad terhadap benda yang berwujud ( Ainiyyah ) dianggap
sah jika objek diserahterima
b. Akad terhadap benda tidak berwujud ( Ghair Al – Ainiyyah )
dianggap sah sekalipun objeknya tidak ada
4. Dilihat dari kedudukannya, dibagi menjadi dua :
a. Akad pokok, akad yang berdiri sendiri tidak tergantung
kepada suatu hal lain
b. Akad asesoir, akad yang keberadaannya tidak berdiri sendiri
melainkan bergantung kepada suatu hal
5. Dilihat dari tujuannya, dibagi menjadi lima golongan
a. Bertujuan tamlik
b. Bertujuan mengadakan usaha bersama
c. Bertujuan tautsiq ( memperkokoh kepercayaan )
d. Bertujuan menyerahkan kekuasaan
e. Bertujuan mengadakan pemeliharaan
6. Dilihat dari segi unsur tempo dalam akad, dibagi menjadi dua :
a. Akad bertempo, akad yang didalamnya unsur waktu
merupakan bagian dari isi perjanjian
b. Akad tidak bertempo, akad dimana unsur waktu tidak
merupakan bagian dari isi perjanjian
7. Dilihat dari segi terjadinya / keberlakuannya dibagi menjadi tiga
a. Akad konsensual, perjanjian yang terjadi karena kesepakatan
para pihak
b. Akad formalistik, akad yang tunduk pada syarat formalitas
yang ditentukan hukum
c. Akad riil, akad yang untuk terjadinya diharuskan adanya
penyerahan objek

8. Dilihat dari segi sifat mengikatnya, dibagi menjadi dua
a. Akad yang mengikat secara pasti, artinya tidak boleh
dibatalkan secara sepihak
b. Akad yang mengikat secara tidak pasti, artinya dapat
dibatalkan
9. Dilihat dari bentuknya, dibagi menjadi dua
a. Akad tidak tertulis, akad dibuat secara lisan saja dan terjadi
pada akad sederhana
b. Akad tertulis, akad yang dituangkan dalam bentuk tulisan /
akta

10.Dilihat dari motif yang mendasarinya, dibagi menjadi dua :
a. Akad tabarru’, transaksi yang tidak bertujuan untuk
mendapatkan laba / keuntungan
b. Akad muawadah atau akad tijarah, akad yang bertujuan untuk
mendapatkan imbalan berupa keuntungan tertentu
11.Dilihat dari segi hukum taklifi, dibagi menjadi lima
a. Akad wajib ( akad nikah bagi orang yang sudh mampu )
b. Akad Sunah ( meminjamkan uang )
c. Akad Mubah ( akad jual beli )
d. Akad Makruh ( bentuk akad yang diragukan akan bisa
menyebabkan kemaksiatan )
12.Dilihat dari segi dilarang atau tidaknya oleh syara’ dibagi
menjadi dua
a. Akad masyru’, akad yang dibenarkan oleh syara’ untuk dibuat
dan tidak ada larangan untuk menutup
b. Akad mamnu’ah, akad yang dilarang oleh syara’ untuk dibuat
( jual beli janin )
13.Dilihat dari segi waktunya atau dari hubungan hukum dan
shigatnya, dibagi menjadi tiga
a. Akad munja, akad yang mempunyai akibat hukum setelah
terjadinya ijab dan qabul
b. Akad mudhaf’ilaal mustaqibal, akad yang disandarkan kepada
waktu yang akan datang

c. Akad mu’allaq, akad yang digantungkan atas adanya syarat
tertentu
14.Dilihat dari segi dapat dilaksanakan atau tidak, dibagi menjadi
dua
a. Akad nafidz, setiap akad yang keluar dari orang yang punya
legalitas dan kuasa untuk mengeluarkan
b. Akad mauquf, setiap akad yang keluar dari pihak yang punya
kemampuan untuk berakad, tapi tidak memiliki kewenangan
untuk melakukannya
15.Dilihat dari segi keharusan membayar ganti atau tidak, dibagi
menjadi tiga
a. Akad tanggungan, tanggung jawab pihak kedua sesudah
barang – barang itu diterimanya
b. Akad kepercayaan, tanggung jawab dipikul oleh yang
empunya, bukan yang memegang barang
c. Akad yang dipengaruhi oleh beberapa unsur, dari satu segi
yang mengharuskan dhamanah dandari segi lain merupakan
amanah yaitu ijarah, rahn, dan mudharabah
16.Dilihat dari cara melakukannya, dibagi menjadi dua
a. Akad – akad yang harus dilaksanakan dengan tata caca
tertentu ( akad nikah )
b. Akad – akad yang tidak memerlukan tata cara ( jual beli )
17.Dilihat dari segi tukar menukar hak, dibagi menjadi tiga
a. Akad mu’awadhah, akad – akad yang berlaku atas dasar
timbal balik ( sewa – menyewa )
b. Akad tabbarru’at, akad – akad yang berdasarkan pemberian
dan pertolongan ( hibah dan ‘ariyah )
c. Akad yang mengandung tabarru’ pada pemulaannya tetapi
menjadi mu’awadhah pada akhirnya ( ketika sikafil meminta
kembali utangnya kepada si Madin )

Judul: Akuntansi Syariah

Oleh: Dewi Megalia


Ikuti kami