Akuntansi Syariah

Oleh Halimatus Sakdiah

25 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Syariah

AKUNTANSI SYARIAH

Dosen pembimbing :
Kelas : R-009
Nama :
Halimatus Sakdiah (C1C018005)

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2021

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu yang mencoba mengkonversi bukti
dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi
dan dikelompokan dalam akun, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal,
hasil, biaya dan laba. Kaidah akuntansi dalam konsep syariah islam dapat didefinisikan
sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen yang disimpulkan dari
sumber-sumber syariah islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang akuntan
dalam pekerjaannya baik dlam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan maupun
penjelasan dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Perkembangan pesat dalam kegiatan usaha dan lembaga keuangan (bank, asuransi,
pasar modal, dana pension dan sebagainya) yang berbasis syariah. Dalam 3 dekade
terakhir, lembaga keuangan telah meningkatkan volume dan nilai transaksi berbasis
syariah yang tentunya meningkatkan kebutuhan terhadap akuntansi syariah. Selanjutnya
perkembangan pemikiran mengenai akuntansi syariah juga makin berkembang yang
ditandai dengan makin diterimanya prinsip-prinsip transaksi syariah di dunia
internasional. Sejarah perkembangan akuntansi yaitu bagian dari ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah hukum alam dan perhitungan yang bersifat memiliki
kebenaran yang absolut. Namun untuk sejauh ini masyarakat disekitar belum sepenuhnya
memahami akan pengaplikasian akuntansi di lingkungan dari cara penempatannya.
Namun apabila kita pelajari “Sejarah Islam” ditemukan bahwa setelah munculnya
islam di semananjung arab dibawah pimpinan Rasullah SAW dan terbentukya daulah
islamiah di madinah yang kemudian dilanjutkan oleh para khulafaurasyidin terdapat
undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau
perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr) dan anggaran
Negara. Rasullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus
beberapa sahabt untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal”
(pengawas keuangan). Bahkan Al Qur’an sebagai kitab suci umat islam menganggap
masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang yaitu
Surah Al-Baqarah Ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar
yang harus dipedomani dalam hal tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Akuntansi Syariah ?
2. Bagaimana hubungan syariah islam dengan hubungan akuntansi ?
3. Bagaimana perkembangan transaksi syariah ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami akuntansi syariah
2. Untuk menambah wawasan hubungan syariah islam dengan hubungan akuntansi
3. Untuk mengetahui perkembangan transaksi syariah
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai media pembelajaran
2. Sebagai sarana bacaan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akuntansi Syariah
Akuntansi syariah adalah secara etimologi, kata akuntansi berasal dari bahasa inggris
yaitu “Accounting”. Sedangkan dalam bahasa arab disebut “Muhasabah” yang berasal dari
kata hasaba, hasiba, muhasabah atau wazan yang lain adalah hasaba, hasban, hisabah artinya
menimbang,

memperhitungkan,

mengkalkulasikan,

mendata

atau

menghisab yakni

menghitung dengan seksama atau teliti yang harus dicatat dalam pembukuan tertentu. Kata
“hisab” banyak ditemukan dalam Al Qur’an dengan pengertian yang hampir sama yaitu
berujung pada jumlah atau angka.
Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data menjasi
informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang
dikelompokkan dalam akun, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil,
biaya dan laba. Dalam Al Qur’an disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan
dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan ukuran dan
timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya. Dalam hal ini, Al
Qur’an menyatakan dalam berbagai ayat antara lain surah Asy-Syu’ara Ayat 181-184 yaitu:
Artinya: ”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan
manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat
kerusakan dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang
dahulu.”
Menurut Dr. Omar Abdullah Zaid, Akuntansi syariah adalah suatu aktivitas yang teratur
berkaitan dengan pencatatan transaksi, tindakan serta keputusan yang sesuai dengan syarat
dan jumlah-jumlahnya didalam catatan yang representative sehingga berkaitan dengan
pengukuran dengan hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi, tindakan dan keputusan
tersebut membantu pengambilan keputusan yang tepat. Sedangkan menurut Napier,
Akuntansi syariah adalah bidang akuntansi yang menekankan 2 hal yaitu akuntanbilitas dan
pelaporan. Akuntansi tercemin dari tauhid yaitu dengan menjalankan segala aktivitas

ekonomi

sesuai

dengan

ketentuan

islam.

Sedangkan

pelaporan

ialah

bentuk

pertanggungjawaban kepada Allah dan manusia.
Dasar hukum dalam akuntansi syariah bersumber dari Al Qur’an, Sunah Nabawiyah, Ijma
(kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘Uruf (Adat
kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Kaidah-kaidah akuntansi syariah
sesuai dengan norma-norma masyarakat islami dan termasuk disiplin ilmu sosial yang
berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan akuntansi tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka Akuntansi syariah adalah proses akuntansi
atas transaksi yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT. Akuntansi syariah
diperlukan untuk mendukung kegiatan yang harus dilakukan sesuai syariah karena tidak
mungkin dapat menerapkan akuntansi sesuai dengan syariah jika transaksi yang akan dicatat
oleh proses akuntansi tersebut tidak sesuai dengan syariah.
2.2 Hubungan Syariah Islam Dan Akuntansi
Suatu bidang akuntansi disandingkan bersama istilah syariah agar sistem yang ada
kegiatannya maupun pelaporan yang ada dapat sesuai dengan syariat islam yang diajarkan
bagi umat muslim sebab kemashlahatan dapat tercapai. Adapun prinsip akuntansi syariah
diantaranya yaitu prinsip pertanggungjawaban, prinsip keadilan dan prinsip kebenaran.
Adapun perbedaan antara akuntansi konvensional dan akuntansi syariah yaitu:
a. Aktiva dalam akuntansi konvensional dibagi menjadi dua yaitu aktiva tetap dan aktiva
lancar. Sedangkan syariah dibagi menjadi harta berupa uang dan barang. Barang yang
dimaksud terdiri dari barang milik pribadi atau barang dagang.
b. Dalam konsep syariah barang seperti emas, perak memiliki kedudukan yang sama.
c. Konsep konvensional mempraktikan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung
semua kerugian dalam perhitungan dan laba yang sifatnya mungkin. Sedangkan syariah
menentukan harga dan mata uang yang berlaku, membuat cadangan untuk kemungkinan
bahaya dan risiko.
d. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal. Sedangkan syariah
membedakan antara laba aktivitas pokok maupun laba dari sumber yang haram.
e. Konsep syariah memakai kaidah bahwa laba ada ketika ada perkembangan dan
pertambahan pada nilai barang baik yang sudah terjual maupun belum. Laba tidak boleh
dibagi sebelum nyata laba itu nyata diperoleh.

Selain perbedaan, Adapun persamaan dari akuntansi syariah dan akuntansi konvensional
diantaranya yaitu:
a. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi.
b. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan pripsip periode waktu atau tahun pembukuan
keuangan.
c. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan tertanggal.
d. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang.
e. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost
(biaya).
f. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan.
g. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
Adapun Kebaikan selaku akuntan syariah yaitu sebagai berikut:
a. Dapat menggunakan prinsip sesuai syariat islam yang merupakan kewajiban.
b. Adanya kebaikan dari akad-akad dalam akuntansi.
c. Kejelasan dan keadilan dalam pelaporan keuangan.
d. Menjadi salah satu cara ibadah kepada Allah dengan kejujuran.
e. Jauh dari kata riba.
Adapun hubungan antara syariah islam dan akuntansi tentunya akuntansi syariah ada
untuk menghapus apa yang tidak sesuai dalam akuntansi konvensional demi kebaikan umat
muslim. Karena kita sebagai umat muslim dapat menggunakan sistem sesuai syariat islam
dalam kehidupan sehari-hari.
2.3 Perkembangan Transaksi Syariah
Akuntansi syariah pertama kali diterapkan perbankan islam pertama kali muncul di mesir
tanpa menggunakan embel-embel islam. Karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa
saat itu akan melihatnya sebagai pergerakan fundamentalis. Perintisnya adalah Ahmad El
Najjar. Sistem pertama yang dikembangkan adalah mengambil bentuk sebuah bank simpanan
yang berbasis profit sharing (pembagian laba / bagi hasil) pada tahun 1963. Kemudian pada
tahun ’70-an, telah berdiri setidaknya 9 bank yang tidak memungut usaha-usaha perdagangan
dan industri secara langsung dalam bentuk partnership dan membagi keuntungan yang
didapat dengan para penabung. Baru kemudian berdiri Islamic Development Bank pada tahun
1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam, yang
menyediakan jasa finansial berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara anggotanya
dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah Islam. Kemudian setelah itu,
secara berturut-turut berdirilah sejumlah bank berbasis Islam antara lain berdiri Dubai Islamic
Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977) serta
Bahrain Islamic Bank (1979) Phillipine Amanah Bank (1973) berdasarkan dekrit presiden,
dan Muslim Pilgrims Savings Corporation (1983).

Akuntansi pertama kali dikenal di Indonesia sekitar tahun 1960an, sementara akuntansi
konvensional yang kita pahami dari berbagai literature menyebutkan bahwa akuntansi
pertama kali berkembang di Italia dan dikembangkan oleh Lucas Pacioli (1494). Pemahaman
ini sudah mendarah daging pada masyarakat akuntan kita. Olehnya itu, ketika banyak ahli
yang mengemukakan pendapat bahwa akuntansi sebenarnya telah berkembang jauh
sebelumnya dan di mulai di arab, akan sulit diterima oleh masyarakat akuntan.
Perkembangan akuntansi syariah beberapa tahun terakhir sangat meningkat ini di tandai
dengan seringnya kita menemukan seminar, workshop, diskusi dan berbagai pelatihan yang
membahas berbagai kegiatan ekonomi dan akuntansi Islam, mulai dari perbankan, asuransi,
pegadaian, sampai pada bidang pendidikan semua berlabel syariah. Namun dokumen tertulis
yang menyiratkan dan mencermikan proses perjuangan perkembangan akuntansi syariah
masih sangat terbatas jumlahnya. Demikian pula dengan sejarah perkembangan akuntansi
syariah di Indonesia. Kekurang tertarikan banyak orang terkait masalah ini, baik sebagai
bagian dari kehidupan penelitian maupun sebagai sebuah ilmu pengetahuan menjadikan
sejarah akuntansi syariah masih sangat minim di temukan.
Bank syariah sebagai landasan awal perkembangan akuntansi syariah. Perkembangan
akuntansi syariah di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari proses pendirian Bank Syariah.
Pendirian Bank Muamalat Indonesia (BMI) merupakan landasan awal diterapkannya ajaran
Islam menjadi pedoman bermuamalah. Pendirian ini dimulai dengan serangkaian proses
perjuangan sekelompok masyarakat dan para pemikir Islam dalam upaya mengajak
masyarakat Indonesia bermuamalah yang sesuai dengan ajaran agama. Kelompok ini
diprakarsai oleh beberapa orang tokoh Islam, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),
serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pada waktu itu, sekitar tahun 1990-1991. Setelah
didirikannya bank syariah, terdapat keganjilan ketika bank membuat laporan keuangan.
Dimana pada waktu itu proses akuntansi belumlah mengacu pada akuntansi yang dilandasi
syariah Islam. Maka selanjutnya munculah kebutuhan akan akuntansi syariah Islam. Dan
dalam proses kemunculannya tersebut juga mengalami proses panjang.
Berdirinya bank syariah tentunya membutuhkan seperangkat aturan yang tidak
terpisahkan, antara lain, yaitu peraturan perbankan, kebutuhan pengawasan, auditing,
kebutuhan pemahaman terhadap produk-produk syariah dan Iain-Iain. Dengan demikian
banyak peneliti yang meyakini bahwa kemunculan kebutuhan, pengembangan teori dan
praktik akuntansi syariah adalah karena berdirinya bank syariah. Pendirian bank syariah
adalah merupakan salah satu bentuk implementasi ekonomi Islam.
Dengan demikian, berdasarkan data dokumen, dapat diinterpretasikan bahwa keberadaan
sejarah pemikiran tentang akuntansi syariah adalah setelah adanya standar akuntansi
perbankan syariah, setelah terbentuknya pemahaman yang lebih konkrit tentang apa dan
bagaimana akuntansi syariah, dan terbentuknya lembaga-lembaga yang berkonsentrasi pada
akuntansi syariah. jadi secara historis, sejak tahun 2002 barulah muncul ide pemikiran dan
keberadaan akuntansi syariah, baik secara pengetahuan umum maupun secara teknis. Sebagai
catatan, IAI baru membentuk Komite Akuntansi Syariah di Indonesia.

Sektor syariah yang sedang berkembang adalah transaksi investasi syariah dan sektor
keuangan non-bank Transaksi ini terus mengalami peningkatan, diantaranya:
a. Obligasi Syariah (Sukuk), Semenjak ada konvergensi pendapat bahwa bunga
adalah riba, maka instrumen-instrumen yang punya komponen bunga (interestbearing instruments) ini keluar dari daftar investasi halal. Karena itu, dimunculkan
alternatif yang dinamakan obligasi syariah. Sebenarnya obligasi yang tidak
dibenarkan itu adalah obligasi yang bersifat utang dengan kewajiban membayar
bunga (sistem riba). Di dalam Islam, istilah obligasi lebih dikenal dengan istilah
sukuk. Merujuk kepada Fatwa Dewan Syari’ah
Nasional
No:
32/DSN-MUI/IX/2002, “Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka
panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang
Obligasi Syari’ah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada
pemegang Obligasi Syari’ah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar
kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo”.
b. Pasar Modal Syariah, Pada tanggal 18 April 2001, untuk pertama kali Dewan
Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang
berkaitan
langsung
dengan
pasar
modal,
yaitu
Fatwa
Nomor
20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana
Syariah. Selanjutnya, instrumen investasi syariah di pasar modal terus bertambah
dengan kehadiran Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002.
Instrumen ini merupakan Obligasi Syariah pertama dan akad yang digunakan
adalah akad mudharabah. Sejarah Pasar Modal Syariah juga dapat ditelusuri dari
perkembangan institusional yang terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah
tersebut. Perkembangan tersebut dimulai dari MoU antara Bapepam dan DSNMUI pada tanggal 14 Maret 2003. MoU menunjukkan adanya kesepahaman
antara Bapepam dan DSN-MUI untuk mengembangkan pasar modal berbasis
syariah di Indonesia. Perkembangan Pasar Modal Syariah mencapai tonggak
sejarah baru dengan disahkannya UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat
Berharga Syariah Negara (SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-undang ini
diperlukan sebagai landasan hukum untuk penerbitan surat berharga syariah
negara atau sukuk negara. Pada tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya
Pemerintah Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002. Pada
tanggal 30 Juni 2009, Bapepam-LK telah melakukan penyempurnaan terhadap
Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan
II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.
c. Dana Pensiun Syariah, Salah satu yang menjadi dasar asuransi syariah adalah
adanya perintah untuk saling tolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan. Selain
berdasarkan ayat Al Quran ditemuinya kebiasaan suku Arab sebelum masa
kenabian Muhammad SAW menerapkan azas tolong menolong apabila salah satu
anggota suku mengalami kemalangan. Seluruh anggota suku akan membantu
mengurangi beban dari anggota yang sedang mengalami kemalangan tersebut.
Pada zaman Rasulullah SAW, Rasul tidak melaranga hal tersebut sehingga para
sahabat menganggap bahwa perbuatan tersebut diperkenankan. Rasulullah SAW

akan menghentikannya apabila ada tradisi lama yang bertentangan dengan hukum
Islam. Perkembangan Asuransi syariah didasarkan kepada prinsip ajaran Islam
untuk saling menolonng, tidak berdasarkan prinsip mengalihkan risiko dengan
imbalan sejumlah uang atas suatu kejadian di masa datang yang tidak pasti kapan
akan terjadinya. Uang imbalan akan hangus atau menjadi milik pihak asuransi
apabila sampai dengan waktu yang diperjanjikan tidak terjadi risiko atau kondisi
yang tidak diinginkan. Pada asuransi Syariah pihak-pihak yang memerlukan
asuransi diminta untuk menyerahkan dana (premi) kepada perusahaan asuransi
untuk dikelola dan nantinya apabila tidak digunakan maka dana tersebut menjadi
tetap milik anggotanya atau dihibahkan menjadi dana kebajikan (tabarru), apabila
terjadi kemalangan maka dana tersebut akan digunakan untuk meringankan beban
anggota yang mendapat kemalangan.
d. Pendanaan Proyek Syariah, Konsep syariah ini intinya pembagian sama rata
baik keuntungan maupun kerugian dalam setiap program ataupun proyek yang
bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
e. Real Estate Syariah, Hak untuk memiliki sebidang tanah dan memanfaatkan apa
saja yang ada didalamnya, Real estate yang dimaksud di sini merupakan
pemberian kredit kepada nasabah, Transaksi ini banyak di gunakan masyarakat
khususnya di indonesia karna tidak mengunakan sistem bunga namun sisitem bagi
hasil yang diterapkan di perbankan syariah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Akuntansi Syariah yaitu akuntansi yang berbasis syariah islam sehingga dalam
penerapan di perlukan pemahaman mengenai syariah islam, Sedangkan cara dan metode
pecatataan dalam pembukuan sama halnya dengan akuntansi Konensional. Pada saat
sekarang ini Transaksi akuntansi syaiah sedang mengalami peningkatan baik di Indonesia
sendiri maupun di tingkat internasional,hal ini di karenakan penerapan sistem akuntansi
syariah yang menggunakan system bagi hasil pada setiap asset dan memberikan tanggung
jawab baik secara horizontal maupun vertikal.
3.2 Saran
Dilihat dari keuntungan-keuntungan dan manfaat penggunaan metode akuntansi
syariah seharusnya baik Lembaga, perusahaan dan masyarakat menggunakannya. Namun
faktanya pada zaman ini masih banyak yang menggunakan metode akuntansi
konvensional karena tergiur oleh bunga yang dijanjikan. Padahal bunga adalah riba dalam
hukum Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Wasilah, Nurhayati, Sri. 2009. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat : Jakarta.
Departemen Agama Republik Indonesia. 1989. Al Qur’an dan Terjemahannya. Proyek
Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an. Jakarta.
https://www.dosenpendidikan.co.id/akuntansi-syariah/

Judul: Akuntansi Syariah

Oleh: Halimatus Sakdiah


Ikuti kami