Akuntansi Syariah

Oleh Imroatun Anisah

493,5 KB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Syariah

1. - Pengertian Salam Secara bahasa as-salam atau as-salaf berarti pesanan. Secara terminologis para ulama mendefinisikannya dengan: “Menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari” Secara istilah salam adalah jual beli sesuatu dengan ciri-ciri tertentu yang akan diserahkan pada waktu tertentu. Contohnya, orang muslim membeli komoditi tertentu dengan ciri-ciri tertentu, misalnya: mobil, rumah makan, hewan, dan sebagainya, yang akan diterimanya pada waktu tertentu. Ia bayar harganya dan menunggu waktu yang telah disepakati untuk menerima komoditi tersebut. Jika waktunya telah tiba, penjual menyerahkan komoditi tersebut kepadanya. - Pengertian Istishna Istishna adalah akad bersama produsen untuk satu pekerjaan tertentu dalam tanggungan atau jual beli satu barang yang akan dibuat oleh produsen yang juga menyediakan barang bakunya, sedangkan jika barang bakunya dari pemesan maka transaksi itu menjadi akad jarah (sewa), pemesan hanya menerima jasa produsen untuk membuat barang. Sedangkan dalam kodifikasi produk perbankan Syariah dijelaskan bahwa istishna adalah sebagai Jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang berdasarkan persyaratan tertentu, kriteria, dan pola pembayaran sesuai dengan kesepakatan. Tujuan istishna umumnya diterapkan pada pembiayaan untuk pembangunan proyek seperti pembangunan proyek perumahan, komunikasi, listrik, gedung sekolah, pertambangan, dan sarana jalan. Pembiayaan yang sesuai adalah pembiyaan investasi. 2. Akuntansi untuk Penjual Pendapatan istishna’ diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian atau metode akad selesai. Akad adalah selesai jika proses pembuatan barang pesanan selesai dan diserahkan kepada pembeli. Penjual menyajikan: a. Piutang istishna’ yang berasal dari transaksi istishna’ sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh pembeli akhir. b. Termin istishna’ yang berasal dari transaksi istishna’ sebesar jumlah tagihan termin penjual kepada pembeli akhir. Akuntansi untuk Pembeli Pembeli mengakui aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui utang istishna’kepada penjual. Beban istishna’ tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi pelunasan utang istishna’. Pembeli menyajikan: a. Utang ishtisna’ sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum dilunasi. b. Aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar: i. persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada pembeli akhir, jika istishna’ paralel; atau ii. kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna’ (bukan istishna’ paralel). 3. Skema Ijarah & IMBT Keterangan: 1. Nasabah mendatangi bank syariah memohon pembiayaan penyewaan sebuah rumah selama setahun, secara cicilian (bulanan) dan mereka negosiasi tentang harga. 2. Bank menyewa rumah tersebut Rp 10 juta setahun dibayarcash di muka. 3. Bank selanjutnya menyewakan rumah itu secara cicilan per bulan Rp 1 juta dengan akad ijarah (Di sini dilaksanakan pengikatan/kontrak). 4. Rumah dimanfaatkan (digunakan) oleh nasabah. 5. Nasabah mencicil biaya sewa setiap bulan kepada bank. KeteKeterangan: 1. Nasabah (B) mengajukan permohonan pembiayaan secara tertulis kepada Bank (A) terhadap obyek yang dimiliki supplier (C). 2. Membuat akad IMBT antara Bank dan nasabah terhadap obyek sewa. 3. Bank membeli obyek sewa dari Supplier (C) 4. Bank mencatat obyek sewa dalam aktiva ijarah. 5. Bank menyewakan obyek sewa kepada nasabah. 6. Nasabah membayar uang sewa kepada Bank. 7. Pembayaran sewa dilakukan sesuai jangka waktu pembiayaan. 8. Periode pembayaran sewa dilakukan sampai nilai buku obyek sewa adalah nol. 9. Pada saat harga buku obyek sewa = nol, obyek sewa dihibahkan kepada nasabah. 10. Bank dan nasabah menandatangani akad hibah obyek sewa dari Bank kepada nasabah. 4. perbedaan ijarah dan leasing : Pertama : Objek Leasing hanya berlaku untuk sewa menyewa barang saja, jadi hanya manfaat barang yang menjadi objek leasing. Sedang selain barang, seperti jasa tidak bisa menjadi objek leasing. Sedangkan objek Ijarah lebih luas, dimana baik barang maupun jasa dapat menjadi objek ijarah. Jika yang menjadi objek ijarah adalah barang maka disebut sewa-menyewa, sedang jika yang menjadi objek ijarah adalah jasa, seperti tenaga kerja maka disebut upah-mengupah. Kedua : Metode Pembayaran Dalam leasing, metode pembayaran yang digunakan hanya bersifat not contingent to performance atau pembayaran yang tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa. Jadi biaya sewa yang dibayarkan tidak tergantung pada apakah barang tersebut dapat memenuhi kebutuhan penyewa atau tidak. Berbeda dengan Ijarah yang metode pembayarannya terbagi menjadi dua yaitu pertama yang tergantung pada kinerja objek sewa, seperti dalam kasus upah pekerja borongan yang bergantung pada hasil kerjaan. Kedua, pembayaran tidak tergantung pada kinerja objek sewa, seperti sewa-menyewa ruko untuk dagang, biaya sewa tidak bergantung pada hasil penjualan, tapi berdasarkan jangka waktu sewa. Ketiga : Perpindahan Kepemilikan Pada leasing dikenal dua istilah yaitu operating lease dan financial lease. Dalam Operating lease tidak ada perpindahan kepemilikan, sedang financial lease ada opsi perpindahan kepemilikan objek sewa diakhir periode (prakteknya sudah disepakati diawal). Ijarah sama dengan operating lease yang tidak ada perpindahan kepemilikan. Tapi jika penyewa berkeinginan memiliki objek sewa, maka di awal akad pemberi sewa dapat menjanjikan dengan akad wa’ad untuk memindahkan kepemilikan barang tersebut ke penyewa diakhir masa sewa. Proses perpindahan kepemilikan dalam ijarah ada dua yaitu dengan akad jual (bai’) atau hibah. Dalam ijarah, skema ini disebut akad Ijarah Muntahiya BitTamlik (IMBT). Keempat : Sewa – Beli (Lease-Purchase) Sewa-beli adalah varian lain dari leasing, dimana terdapat dua kontrak yang berjalan bersamaan yaitu kontrak sewa sekaligus beli. Dalam akad ijarah tidak dikenal skema ini, karena tidak sesuai dengan prinsip syariah. Dimana dua kontrak dalam satu akad hukumnya haram, karena timbul Gharar. Kelima : Beli dan Sewa kembali (sale and lease back) Skema ini terjadi jika: A menjual barang X ke B, tetapi karena A masih ingin memiliki barang X, maka B menyewakannya kembali ke A dengan kontrak financial lease atau IMBT. Skema ini dibolehkan dalam akad syariah. Skema yang dilarang adalah jika untuk memiliki barang X, B menjual ke A. Sebab skema ini adalah bai’ Inah yang terlarang dalam akad syariah. 5.

Judul: Akuntansi Syariah

Oleh: Imroatun Anisah

Ikuti kami