Akuntansi Syari'ah

Oleh Subhan Al-amboniy

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Syari'ah

AKUNTANSI SYARI’AH
Pendahuluan
Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu yang mencoba
mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan
pengukuran atas berbagai transaksi dan dikelompokkan dalam account,
perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba.
Kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan sebagai
kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari
sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang
akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran,
pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu
kejadian atau peristiwa.
Menurut Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang berjudul “On Islamic
Accounting”, Akuntansi Barat (Konvensional) memiliki sifat yang dibuat sendiri
oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan
dalam Akuntansi Islam ada konsep Akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum
Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia dan Akuntansi
Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu hanief yang menuntut agar
perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada
pertanggungjawaban

di

akhirat,

dimana

setiap

orang

akan

mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Allah SWT. Tuhan yang
memiliki Akuntan sendiri (Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan
manusia bukan saja pada bidang ekonomi, tetapi juga masalah sosial dan
pelaksanaan hukum Syariah lainnya.
Akuntansi dikenal sebagai sistem pembukuan “double entry”. Menurut
sejarah yang diketahui awam dan terdapat dalam berbagai buku “Teori
Akuntansi”, disebutkan muncul di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan
seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli. Beliau menulis buku “Summa de
Arithmatica Geometria et Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai
“Double Entry Accounting System”. Dengan demikian mendengar kata

”Akuntansi

Syariah”

atau

“Akuntansi

Islam”,

mungkin

awam

akan

mengernyitkan dahi seraya berpikir bahwa hal itu sangat mengada-ada.
Namun apabila kita pelajari “Sejarah Islam” ditemukan bahwa setelah
munculnya Islam di Semananjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW
dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh
para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan
untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf,
hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara. Rasulullah
SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa
sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal”
(pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam
menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya
ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsifungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti
yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal
tersebut. Sebagaimana pada awal ayat tersebut menyatakan “Hai, orang-orang
yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di
antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan
menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya………”
Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam
lebih dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan
pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli yang
menerbitkan bukunya pada tahun 1494. Tak lupa saya mengucapkan terima
kasih kepada dosen saya tercinta Bpk. Aminul Fajri SE, Akt yang telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk membahas topik yang menarik ini.

Analisis dan Pembahasan
A.

Prinsip Umum Akuntansi Syari’ah
Nilai pertanggung jawaban, keadilan dan kebenaran selalu melekat dalam

sistem akuntansi syari’ah. Ketiga nilai tersebut tentu saja sudah menjadi prinsip
dasar yang operasional dalam prinsip akuntansi syariah. Apa makna yang
terkandung dalam tiga prinsip tersebut? Berikut uraian yang ketiga prinsip yang
tedapat dalam surat Al-Baqarah:282.
1.

Prinsip pertanggung jawaban
Prinsip pertanggungjawaban (accountability) merupakan konsep yang tidak

asing lagi dikalangan masyarakat muslim. Pertanggungjawaban selalu berkaitan
dengan konsep amanah. Bagi kaum muslim, persoalan amanah merupakan hasil
transaksi manusia dengan sang khalik mulai dari alam kandungan.. manusia
dibebani olehAllah untuk menjalankan fungsi kehalifahan di muka bumi. Inti
kekhalifahan adalah menjalankan atau menunaikan amanah. Banyak ayat AlQur’an yang menjelaskan tentang proses pertanggungjawaban manusia sebagai
pelaku amanah Allah dimuka bumi. Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah
bahwa individu yang terlibat dala praktik bisnis harus selalu melakukan
pertanggungjawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihakpihak yang terkait.
2.

Prinsip keadilan
Jika ditafsirkan lebih lanjut, surat Al-Baqarah;282 mengandung prinsip

keadilan dalam melakukan transaksi. Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan
nilai penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai
inheren yang melekat dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa manusia itu
pada dasarnya memiliki kapsitas dan energi untuk berbuat adil dalam setiap aspek
kehidupannya. Dalam konteks akuntansi, menegaskan, kata adil dalam ayat 282
surat Al-Baqarah, secara sederhana dapat berarti bahwa setiap transaksi yang
dilakukan oleh perusahan harus dicatat dengan benar. Misalnya, bila nilai
transaksi adalah sebesar Rp 100 juta, maka akuntansi (perusahan) harus mencatat
dengan jumlah yang sama. Dengan kata lain tidak ada window dressing dalam
praktik akuntansi perusahaan.

3.

Prinsip kebenaran
Prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan.

Sebagai contoh, dalam akuntansi kita kan selalu dihadapkan pada masalah
pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik
apabila dilandaskan pada niali kebenaran, kebenaran ini kan dapat menciptakan
nilai keadilan dalam mengakui, mengukur, dan melaporkan tansaksi-transaksi
dalam ekonomi. Dengan demikian pengembangan akuntansi Islam, nilai-nilai
kebenaran, kejujuran dan keadilan harus diaktualisasikan dalam praktik akuntansi.
Secara garis besar, bagaimana nilai-nilai kebenaran membentuk akuntansi syariah
dapat diterangkan.
1) Akuntan muslim harus meyakini bahwa Islam sebagai way of life (QS. 3 :85).
2) Akuntan harus memiliki karakter yang baik, jujur, adil, dan dapat dipercaya
(Q.S. An-Nisa : 135).
3) Akuntan bertanggung jawab melaporkan semua transaksi yang terjadi
(muamalah) dengan benar, jujur serta teliti, sesuai dengan syariah Islam (Q.S.
Al-Baqarah : 7 – 8).
4) Dalam penilaian kekayaan (aset), dapat digunakan harga pasar atau harga
pokok. Keakuratan penilaiannya harus dipersaksikan pihak yang kompeten
dan independen (Al-Baqarah : 282).
5) Standar akuntansi yang diterima umum dapat dilaksanakan sepanjang tidak
bertentangan dengan syariah Islam.
6) Transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan syariah, harus dihindari, sebab
setiap aktivitas usaha harus dinilai halal-haramnya. Faktor ekonomi bukan
alasan tunggal untuk menentukan berlangsungnya kegiatan usaha
B.

Dasar Hukum Akuntansi Syari’ah
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah

Nabawiyyah, Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa
tertentu), dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah
Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki karakteristik khusus yang

membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Kaidah-kaidah Akuntansi
Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat islami, dan termasuk disiplin
ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan
Akuntansi tersebut.


Dalil Akuntansi Dalam Al-Quran
Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba

mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan
pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam
account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya,
dan laba (Dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat A-Baqarah :282).
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah
seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah
penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka
hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan
(apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya,
dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya…”
Dalam Al Quran juga disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil,
jangan dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan
ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya..
Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain dalam surah
Asy-Syu’ara ayat 181-184 yang berbunyi:
”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu
merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka
bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah kepada Allah yang telah
menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”
Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Dr.
Umer Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan,
biaya, dan laba perusahaan, sehingga seorang Akuntan wajib mengukur kekayaan

secara benar dan adil. Agar pengukuran tersebut dilakukan dengan benar, maka
perlu adanya fungsi auditing.
Dalam Islam, fungsi Auditing ini disebut “tabayyun” sebagaimana yang
dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan
kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus
menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam
Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa’ ayat 35 yang berbunyi:
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah
denganneraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.”
Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kaidah Akuntansi
dalam konsep Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum
yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam
dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik
dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan
menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
C.

Nilai-Nilai Akuntansi syariah
Akuntansi modern tidak mungkin bebas dari nilai dan kepentingan apapun,

karena dalam proses penciptaan akuntansi melibatkan manusia yang memiliki
kepribadian dan penuh dengan kepentingan. Nilai utama yang melekat dalam diri
akuntansi modern adalah nilai egoistik. Bila informasi yang dihasilkan oleh
akuntansi egoistik dikonsumsi oleh para pengguna, maka dapat dipastikan bahwa
pengguna tadi akan berpikir dan mengambil keputusan yang egoistik pula.
Nilai utama kedua yang melekat pada akuntansi modern adalah nilai
materialistik, yang juga merupakan sifat yang melekat pada diri manusia. Dengan
nilai ini akuntansi hanya akan memberikan perhatian pada dunia materi (uang).

Sifat egoistik dan materialistik, diekspresikan dengan jelas pada laporan
keuangan. Laporan rugi-laba misalnya, menunjukkan akomodasi akuntansi
modern terhadap kepentingan (ego) stakeholders untuk mendapatkan informasi
besarnya laba yang menjadi haknya.
Setelah kedua nilai utama akuntansi modern itu, muncullah nilai
utilitarianisme sebagai akibat dari menguatnya dua sifat sebelumnya. Sifat
utilitarian adalah sifat yang menganggap bahwa nilai baik atau buruk dari sebuah
perbuatan, diukur dengan ada tidaknya utilitas yang dihasilkan dari perbuatan
yang dilakukan. Sehingga, sepanjang perbuatan itu menghasilkan utilitas, maka
sepanjang itu pula sebuah perbuatan dikatakan baik tanpa melihat bagaimana
prosesnya. Ketiga nilai yang dimiliki oleh akuntansi modern ini kemudian dikenal
sebagai kapitalisme.
Realitas akuntansi modern yang dibangun dengan nilai-nilai egoistik,
materialistik dan utilitarian, menjadi belenggu bagi manusia modern untuk
menemukan jati dirinya dan Tuhan. Menjadikan manusia modern terperangkap
dalam dunia materi yang hedonis. Sehingga, akan mengakibatkan terjadinya
dehumanisasi bagi diri manusia itu sendiri. Selain menjadikan manusia jauh dari
penemuan jati dirinya bahkan menjauhkan manusia pada Tuhannya, karakter ini
juga merusak hubungan antar manusia. Dimana relasi sosial menjadi terasuki oleh
sifat egoistik, materialistik dan utilitarian.Bagi kalangan masyarakat muslim,
Tuhan menjadi tujuan akhir dan menjadi tujuan puncak kehidupan manusia.
Akuntansi syari’ah, hadir untuk melakukan dekonstruksi terhadap akuntansi
modern. Melalui epistemologi berpasangan, akuntansi syari’ah berusaha
memberikan kontribusi bagi akuntansi sebagai instrumen bisnis sekaligus
menunjang penemuan hakikat diri dan tujuan hidup manusia.
Pada versi pertama, akuntansi syari’ah memformulasikan tujuan dasar
laporan keuangannya untuk memberikan informasi dan media untuk akuntabilitas.
Informasi yang terdapat dalam akuntansi syari’ah merupakan informasi materi
baik mengenai keuangan maupun nonkeuangan, serta informasi nonmateri seperti
aktiva mental dan aktiva spiritual. Contoh aktiva spiritual adalah ketakwaan,

sementara aktiva mental adalah akhlak yang baik dari semua jajaran manajemen
dan seluruh karyawan.
Sebagai media untuk akuntabilitas, akuntansi syari’ah memiliki dua macam
akuntabilitas

yaitu

akuntabilitas

horisontal,

dan

akuntabilitas

vertikal.

Akuntabilitas horisontal berkaitan dengan akuntabilitas kepada manusia dan alam,
sementara akuntabilitas vertikal adalah akuntabilitas kepada Sang Pencipta Alam
Semesta.
Pada versi kedua, tujuan dasar laporan keuangan syari’ah adalah:
memberikan informasi, memberikan rasa damai, kasih dan sayang, serta
menstimulasi bangkitnya kesadaran keTuhanan. Ketiga tujuan ini, merefleksikan
secara berturut-turut dunia materi, mental, dan spiritual. Tujuan pertama secara
khusus hanya menginformasikan dunia materi baik yang bersifat keuangan
maupun non keuangan. Tujuan kedua membutuhkan bentuk laporan yang secara
khusus menyajikan dunia mental yakni rasa damai, kasih dan sayang. Selanjutnya
tujuan ketiga, disajikan dalam wadah laporan yang khusus menyajikan informasi
kebangkitan kesadaran keTuhanan.
Kinerja manajemen syari’ah memiliki tiga bentuk realitas yaitu fisik (materi)
dengan perpektif kesalehan keuangan yang memiliki indikator seperti nilai tambah
syari’ah (profit), dan zakat. Realitas berikutnya adalah psikis (mental) dengan
perspektif kesalehan mental dan sosial, yang memiliki indikator seperti damai,
kasih, sayang, adil, empati, dan peduli. Sementara realitas terakhir adalah spiritual
dengan perspektif kesalehan spiritual, yang memiliki indikator seperti ikhsan,
cinta, dan takwa.
Akuntansi syari’ah dibangun dengan mengambil inspirasi dari syari’ah
Islam. Secara ontologis, akuntansi syari’ah memahami realitas dalam pengertian
yang majemuk. Sedangkan secara epistemologis, akuntasi syari’ah dibangun
berdasarkan kombinasi antara akal yang rasional dengan rasa dan intuisi
(kombinasi dunia fisik dengan dunia non fisik).

D.

Persamaan Akuntansi Syari’ah dengan Akuntansi Konvensional
Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional

terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
a. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi;
b. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun
pembukuan keuangan;
c. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal;
d. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang;
e. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income
dengan cost (biaya);
f. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan;
g. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
E.

Perbedaan Akuntansi Syari’ah dengan Akuntansi Konvensional
Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-

Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
a.

Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai
atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang
dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep
Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku,
dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di
masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas;

b.

Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian,
yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar),
sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta
berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi
menjadi barang milik dan barang dagang;

c.

Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang
sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya
sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau
sebagai sumber harga atau nilai;

d.

Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari
menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan
laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan
hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar
yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan
resiko;

e.

Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba
dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram,
sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan
laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari
transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika
ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang
telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak
boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal;

f.

Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika
adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu
akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang,
baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu
keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata
laba itu diperoleh.

F.

Jenis Laporan dalam Akuntansi Syari’ah
Menurut Baydoun dan Willet (2000), bentuk laporan keuangan perusahaan

yang lebih cocok dengan akuntansi islam adalah value added reporting bukan
laporan laba rugi konvensional. Menurut beliau laporan value added reporting
cenderung kepada prinsip-prinsip pertanggung jawaban sosial. Dalam value added
reporting informasi yang disajikan meliputi laba bersih yang diperoleh perusahaan
sebagai nilai tambah yang kemudian didistribusikan secara adil kepada kelompok
yang terlibat dengan perusahaan dalam menghasilkan nilai tambah.
Menurut Harahap (2001) berbicara mengenai tangung jawab sosial, islam
telah mengaturnya, tidak hanya tanggung jawab sosial, tapi hanya kepada tuhan.

Oleh karena itu untuk memfasilitasipertanggung jawaban tersebut maka beberapa
kemungkinan bentuk dan jenis laporan keuangan akuntansi islam adalah sebagai
berikut:
1) Neraca dimana juga dimuat informasi tentang karyawan, dan akuntansi SDM
Laporan nilai tambah sebagai pengganti laporan laba rugi.
2) Laporan arus kas Socio Economic atau laporan pertanggng jawaban sosial
catatan penyelesaian laporan keuangan yang bisa berisi laporan :
a. Mengungkapkan lebih luas tentang laporan keuangan yang disajikan
b. Laporan tentang berbagai nilai dan kegiatan yang tidak sesuai dengan syarat
islam. Misalnya dengan juga menyajikan pernyataan dari Dewan Pengawas
Syari’ah
c. Menyajikan Informasi tentang efisiensi, good governance dan laporan
produktifitas.
Beberapa item yang dapat diungkapkan melalui laporan keuangan :
informasi tentang karyawan :
a. Cuti hamil yang diberikan perusahan
b. Bonus /THR
c. Rasio Pendapatan Pegawai tertinggi dan terendah
d. Jam kerja biasa dan sewaktu Ramadhan
e. Perbedaan jam kerja, ruangan wanita dan laki-laki
Aspek lingkungan:
a. Tingkat polusi yang ditimbulkan perusahaan
b. Komplain masyarakat/ tetangga
c. Penyediaan sarana Ibadah
d. Perlindungan karyawan, keamanan pekerja, pekerja malam.
e. Pemeliharaan lingkungan yang nyaman.
Aspek social:
a. Zakat yang dibayarka
b. Infaq dan shadaqah
c. Pemeliharaan dan bantuan orang miskin dan anak yatim
d. Bantuan pembangunan mesjid, sarana pendidikan dan sarana sosial lainnya.

e. Bantuan keamanan lingkungan
f. Bantuan untuk kegiatan masyarakat
Konsepsi Pelaporan Keuangan
Karena akuntansi konvensional yang dikenal saat ini diilhami dan
berkembang berdasarkan tata nilai yang ada dalam masyarakat barat, maka
kerangka konseptual yang dipakai sebagai dasar pembuatan dan pengambangan
standar akuntansi berpihak kepada kelompok kepentingan tertentu.
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses akuntansi. Agar
informasi keuangan yang disajikan bermanfaat bagi para pemakai, maka proses
penyajiannya harus berdasarkan pada standar akuntansi yang berlaku. Dalam
merumuskan standar akutansi, diperlukan acuan teoritikalyang dapat diterima
umum, sehingga standar akuntansi yang diterapkan dapat digunakan untuk
mengevaluasi praktik akuntansi yang berlangsung. Acuan teoritikal ini disebut
kerangka konseptual penyusunan laporan keuangan.
Fenomena kegagalan akuntansi konvensional dalam memenuhi tuntutan
masyarakat akan informasi keuangan yang benar, jujur dan adil, meningkatkan
kesadaran di kalangan intelektual muslim akan perlunya pengetahuan akuntansi
yang islami. Perumusan kembali kerangka konseptual pelaporan keuangan dengan
mendasarkan pada prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan menjadi sangat
mendesak untuk dilakukan. Mengingat akuntansi syariah sesuai dengan fitrah
(kecenderungan)

manusia

yang

menghendaki

terwujudnya

kehidupan

bermasyarakat yang menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab sosial.
Islam yang disampaikan Rasulullah saww melingkupi seluruh alam yang
tentunya mencakup seluruh umat manusia. Di sinilah perbedaan antara paham
akuntansi konvensional dengan akuntansi syariah. Paham akuntansi konvensional
hanya mementingkan kaum pemilik modal (kapitalis), sedangkan akuntansi
syariah bukan hanya mementingkan manusia saja, tetapi juga seluruh makhluk di
alam semesta ini.

G.

Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam

a. Pada zaman Rasulullah SAW cikal bakal akuntansi dimulai dari fungsi
pemerintahan untuk mencapai tujuannya dan penunjukkan orang-orang yang
kompeten (Zaid, 2000);
b. Pemerintahan Rasulullah SAW memiliki 42 pejabat yang digaji, terspesialisasi
dalam peran dan tugas tersendiri(Hawary, 1988);
c. Perkembangan pemerintahan Islam hingga Timur Tengah, Afrika, dan Asia di
zaman Umar bin Khatab, telah meningkatkan penerimaan dan pengeluaran
negara;
d. Para

sahabat

merekomendasikan

perlunya

pencatatan

untuk

pertanggungjawaban penerimaaan dan pengeluaran negara;
e. Umar bin Khatab mendirikan lembaga yang bernama Diwan (dawwana =
tulisan);
f. Reliabilitas laporan keuangan pemerintahan dikembangkan oleh Umar bin
Abdul Aziz (681-720M) dengan kewajiban mengeluarkan bukti penerimaan
uang (Imam, 1951);
g. Al Waleed bin Abdul Malik (705-715M) mengenalkan catatan dan register
yang terjilid dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasheen, 1973);
h. Evolusi perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi
pada masa Daulah Abbasiah;
i. Akuntansi diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi seperti Akuntansi
peternakan, Akuntansi pertanian, Akuntansi perbendaharaan, Akuntansi
konstruksi, Akuntansi mata uang, dan pemeriksaan buku / auditing (AlKalkashandy, 1913);
j. Sistem pembukuan menggunakan model buku besar, meliputi :
a. Jaridah

Al-Kharaj

(menyerupai

receivabale

subsidiary

ledger),

menunjukkan utang individu atas zakat tanah, hasil pertanian, serta utang
hewan ternak dan cicilan. Utang individu dicatat di satu kolom dan cicilan
pembayaran di kolom yang lain (Lasheen, 1973);
b. Jaridah Annafakat (Jurnal Pengeluaran);

c. Jaridah Al Mal (Jurnal Dana), mencatat penerimaan dan pengeluaran dana
zakat;
d. Jaridah Al Musadareen, mencatat penerimaan denda / sita dari individu
yang tidak sesuai syariah, termasuk korupsi.
k. Laporan Akuntansi yang berupa :
a. Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang dibuat
setiap bulan (Bin Jafar, 1981);
b. Al Khitmah Al Jame’ah, laporan keuangan komprehensif gabungan antara
income statement dan balance sheet (pendapatan, pengeluaran, surplus /
defisit, belanja untuk aset lancar maupun aset tetap), dilaporkan pada akhir
tahun;
l. Dalam perhitungan dan penerimaan zakat. Utang zakat diklasifikasikan pada
laporan keuangan dalam 3(tiga) kategori yaitu collectable debts, doubtful
debts, dan uncollectable debts (Al-Khawarizmi, 1984).
Kesimpulan
Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kaidah Akuntansi
dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar
hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah
Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam
pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan,
maupun penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau
peristiwa.
Selain dari itu melalui uraian di atas dapat kita ketahui bersama, bahwa
konsep Akuntansi Islam jauh lebih dahulu dari konsep Akuntansi Konvensional,
dan bahkan Islam telah membuat serangkaian kaidah yang belum terpikirkan
oleh pakar-pakar Akuntansi Konvensional. Sebagaimana yang terjadi juga pada
berbagai ilmu pengetahuan lainnya, yang ternyata sudah diindikasikan melalui
wahyu Allah dalam Al Qur’an. “……… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab
(Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan
kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS.An-Nahl/ 16:89)

Akhir kata saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya bila dalam penulisan
makalah ini masih terdapat banyak kesalahan, wabillahi taufik wal hidayah
wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Referensi
 Departemen Agama Republik Indonesia. 1989. Al Qur’an
Terjemahannya. Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an. Jakarta.

dan

 Triyuwono, Iwan dan Moh. As’udi. 2001. Akuntansi Syari’ah :
Memformulasikan Konsep Laba dalam Konteks Metafora Zakat. Salemba
Empat. Jakarta.
 http://finance.groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/
 http://kiamifsifeui.wordpress.com/2008/04/18/essai-4-akuntansi-syariah-vsakuntansi-konvensional/
 http://www.nofieiman.com
 http://docslide.net/documents/akuntansi-syariah-558467a77dd61.html

Judul: Akuntansi Syari'ah

Oleh: Subhan Al-amboniy


Ikuti kami