Akuntansi Sy

Oleh MÖ Yagunnersya

24 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Sy

Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal
sebagai berikut:
1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi.
2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan
keuangan.
3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal.
4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang.
5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost
(biaya).
6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan.
7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran
Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
Akuntansi konvensional
Konsep modal pokok (capital) belum ditentukan, sehingga cara menentukan nilai/harga
untuk melindungi modal pokok sering berbeda pendapat
o Modal terbagi 2, yakni modal tetap (aktiva tetap) dan modal yg beredar (aktiva lancar)
o Mempraktekkan teori pencadangan & ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam
perhitungan
o Mengeyampingkan laba yg bersifat mungkin
o Menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, juga
uang dari sumber yg haram
o Laba hanya ada ketika adanya jual beli
Akuntansi Islam
o Konsep modal pokok dalam islam berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan
melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yg akan datang dlm
ruang lingkup perusahaan yg kontinuitas
o Barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang
(stock), dst barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang
o Mata uang (emas, perak, dll) bukan tujuan segalanya, melainkan hanya sebagai perantara
utk pengukuran & penentuan nilai/harga (sebagai sumber harga/nilai)
o Penentuan nilai dan harga berdasarkan nilai tukar yg berlaku
o Membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko
o Membedakan laba dari aktivitas pokok dan laba yg berasal dari capital/modal pokok
dengan yang berasal dari transaksi dan wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang
haram jika ada, serta berusaha menghindari & menyalurkan pada tempat-tempat yg tlh
ditentukan oleh para ulama fiqh
o Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha/dicampurkan pada
pokok modal
o Laba akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yg
telah terjual/belum. Akan tetapi jual beli adalah suatu keharusan utk menyatakan laba, dan
laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.
Dengan demikian, dapat diketahui, bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam
dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soal-soal inti dan pokok, sedangkan segi
persamaannya hanya bersifat aksiomatis.
o

AKUNTANSI SYARIAH VS AKUNTANSI KONVENSIONAL

Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu yang mencoba mengkonversi bukti
dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan
dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal,
hasil, biaya, dan laba. Kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan
sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari
sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang akuntan dalam
pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan,
dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Menurut Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang berjudul “On Islamic Accounting”,
Akuntansi Barat (Konvensional) memiliki sifat yang dibuat sendiri oleh kaum kapital dengan
berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan dalam Akuntansi Islam ada konsep
Akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan
ciptaan manusia dan Akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia
yaitu hanief yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial,
bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, dimana setiap orang akan
mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Allah SWT.
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah Nabawiyyah,
Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘Uruf (adat
kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi dalam
Islam, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional.
Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat Islami, dan
termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat
penerapan Akuntansi tersebut.
Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada
hal-hal sebagai berikut:
1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi;
2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan;
3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal;
4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang;
5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost (biaya);
6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan;
7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok
Pikiran Akuntansi Islam, antara lain terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk
melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok
(kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian
berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi
kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang
kontinuitas;
2. Modal dalam konsep Akuntansi Konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap
(aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam
barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang
(stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang;

3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama
kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk
pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;
4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung
semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin,
sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau
harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk
kemungkinan bahaya dan resiko;
5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal
pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam
dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok)
dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang
haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah
ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk
mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal;
6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli,
sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya
perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang
belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak
boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.
Komponen laporan keuangan entitas Syariah meliputi neraca, laporan laba rugi,
laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan dana investasi terikat, laporan
sumber dan penggunaan dana zakat, laporan sumber dan penggunaan dana qardh dan catatan
atas laporan keuangan. Sedangkan komponen laporan keuangan konvensional tidak
menyajikan laporan perubahan dana investasi terikat, laporan sumber dan penggunaan dana
zakat serta laporan sumber dan penggunaan dana qardh.
Prinsip-prinsip Dasar Akuntansi Konvensional dan Prinsip-prinsip Dasar Akuntansi
Islam Dalam Rumusan Teori dan Praktek Akuntansi Islam
October 21, 2014 / Artikel

Mengkaji sistem ekonomi islam, tidak pernah lepas dari membandingkan dengan sistem
ekonomi konvensional yang saat ini hampir menguasai seluruh sistem ekonomi dunia sejak
ratusan tahun yang lalu sampai dengan sekarang sekarang. Pada prakteknya, sistem ekonomi
islam dewasa ini masih tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari pengaruh faktor sistem
ekonomi konvensional.
Walaupun sistem ekonomi islam sudah ada sejak islam datang, yakni bersama dengan
kedatangan Al Quran pada tahun 610 M, jadi 800 tahun lebih dahulu dari akuntansi
konvensional. Hal ini terlihat berdasarkan sejarah akuntansi konvensional yang diketahui
awam dan terdapat dalam berbagai buku “Teori Akuntansi”, disebutkan akuntansi muncul
di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli
pada tahun 1494. Beliau menulis buku “Summa de Arithmatica Geometria et
Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai “Double Entry Accounting System”.

Namun dalam perkembangan jaman, dunia lebih dikuasai oleh praktek-praktek ekonomi
konvensional. Sehingga sistem ekonomi islam yang mulai bangkit kembali di abad ini dalam
prakteknya lebih kepada menyempurnakan/mengkontruksi system yang telah ada menuju
kepada nilai-nilai islam, yang merujuk pada Al Quran & Al Hadis.
Dalam system ekonomi islam pun demikian, pada praktek dan teknisnya tidak terbebas dari
pengaruh konvensional. Dalam makalah ini akan dikaji prinsip dasar akuntansi konvensional,
prinsip dasar akuntansi islam, perbedaan diantara keduanya dan bagaimana teori dan praktek
akuntansi islam terbentuk sampai dengan perkembangannya sekarang ini.
PRINSIP DASAR AKUNTANSI ISLAM
Definisi Akutansi Islam
Kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasardasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam
dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam
pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan
dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah Nabawiyyah, Ijma
(kespakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘Uruf (adat
kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah,
memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi
Konvensional.Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat
islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada
tempat penerapan Akuntansi tersebut.
Dalam Akuntansi Islam ada “meta rule” yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus
dipatuhi, yaitu hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan
Akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu “hanief” yang menuntut agar
perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban
di akhirat, dimana setiap orang akan mempertanggungjawab kan tindakannya di hadapan
Tuhan yang memiliki Akuntan sendiri (Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan
manusia bukan saja pada bidang ekonomi, tetapi juga masalah sosial dan pelaksanaan hukum
Syariah lainnya.
Prinsip Umum Akuntansi Islam
Berdasarkan Surat Al Baqarah 282:
1. Prinsip Pertanggungjawaban (accountability)
Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dala
praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah
diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait.
2. Prinsip Keadilan
Dalam konteks akuntansi, menegaskan, kata adil dalam ayat 282 surat Al-Baqarah,

secara sederhana dapat berarti bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahan
harus dicatat dengan benar. Dengan kata lain tidak ada window dressing dalam
praktik akuntansi perusahaan.
3. Prinsip Kebenaran
Dalam akuntansi selalu dihadapkan pada masalah pengakuan & pengukuran laporan.
Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada nilai
kebenaran. Kebenaran ini akan dapat menciptakan nilai keadilan dalam mengakui,
mengukur, dan melaporkan tansaksi-transaksi dalam ekonomi.
Sejarah Praktek Akuntansi Islam
Dari catatan sejarah islam, praktek-praktek akuntansi islam telah diterapkan pada jaman
Rasulullah SAW, tepatnya setelah terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah dan diteruskan
pula oleh para Khulafaur Rasyidin. Pada masa itu dibentuk undang-undang akuntansi yang
diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hakhak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.
Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa
sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal” (pengawas
keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai
suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat
282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan manfaatmanfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani
dalam hal tersebut.
Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data menjadi
informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang
dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal,
hasil, biaya, dan laba.
Jika dibandingkan dengan penjelasan dalam Al Quran, kita harus mengukur secara adil,
jangan dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan ukuran dan
timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya. Dalam hal ini, Al Quran
menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain dalam surah Asy-Syu’ara ayat 181-184 yang
berbunyi:
”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan dan
timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada
hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan
bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”
Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Umer Chapra juga
menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan, biaya, dan laba perusahaan,
sehingga seorang Akuntan wajib mengukur kekayaan secara benar dan adil. Seorang Akuntan
akan menyajikan sebuah laporan keuangan yang disusun dari bukti-bukti yang ada dalam
sebuah organisasi yang dijalankan oleh sebuah manajemen yang diangkat atau ditunjuk
sebelumnya.

Manajemen bisa melakukan apa saja dalam menyajikan laporan sesuai dengan motivasi dan
kepentingannya, sehingga secara logis dikhawatirkan dia akan membonceng kepentingannya.
Untuk itu diperlukan Akuntan Independen yang melakukan pemeriksaaan atas laporan
beserta bukti-buktinya. Metode, teknik, dan strategi pemeriksaan ini dipelajari dan dijelaskan
dalam Ilmu Auditing.
Dalam Islam, fungsi Auditing ini disebut “tabayyun” sebagaimana yang dijelaskan dalam
Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu
kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu
itu.”
Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus menyempurnakan
pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam Neraca, sebagaimana
digambarkan dalam Surah Al-Israa’ ayat 35 yang berbunyi:
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang
benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Jadi, dapat kita simpulkan dari uraian di atas, bahwa konsep Akuntansi Islam jauh lebih
dahulu dari konsep Akuntansi Konvensional, dan bahkan Islam telah membuat serangkaian
kaidah yang belum terpikirkan oleh pakar-pakar Akuntansi Konvensional. Sebagaimana yang
terjadi juga pada berbagai ilmu pengetahuan lainnya, yang ternyata sudah diindikasikan
melalui wahyu Allah dalam Al Qur’an.
“……… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri.” (QS.An-Nahl/ 16:89)
Tujuan akuntansi syariah adalah terciptanya peradaban bisnis dengan wawasan humanis,
emansipatoris, transendental, dan teologis. Dengan akuntansi syariah, realitas sosial yang
dibangun mengandung nilai tauhid dan ketundukan kepada ketentuan Allah SWT.
PRINSIP DASAR AKUNTANSI KONVENSIONAL
Landasan Berpikir Akuntansi Konvensional
Akuntansi kapitalis dibangun berdasarkan landasan pikir sekuler terkonstruksi sebagai ilmu
yang bebas nilai ( Value Free ), sehingga satu-satunya landasannya adalah rasional tanpa
memiliki dimensi teologis ketauhidan serta moral. Akuntansi yang dibangun pada ranah
peradaban ekonomi kapitalis lahir sebagai perangkat konstruktif peradaban tersebut. Seluruh
dimensi penyajian laporan keuangan selalu mencerminkan kebutuhan dan kepentingan
stockholder sesuai dengan filosofi induk yang melahirkannya, hal ini sesuai dengan apa yang
dikatakan Karl Max bahwa akuntansi kapitalis hanya merupakan legalisasi kaum kapitalis
untuk tetap eksis.

Kritik terhadap Akuntansi Konvensional
Trueblood Committee ( Harahap, 2001, h. 92 ), menyampaikan kritik terhadap akuntansi
konvensional sebagai berikut :
1. Akuntansi hanya menyangkut laporan historis sehingga tidak dapat menggambarkan
secara eksplisit prospek masa depan.
2. Angka-angka akuntansi umumnya didasarkan pada hasil transaksi pertukaran sehingga
hanya menggambarkan nilai pada saat itu.
3. Dalam akuntansi sering digunakan metode dari beberapa metode yang sama-sama
diterima yang menghasilkan laporan dan informasi berbeda.
4. Akuntansi menekankan pada laporan keuangan yang bersifat umum yang dapat
digunakan semua pihak. Sehingga terpaksa selalu memperhatikan semua pihak padahal
pemakaiannya yang sebenarnya memiliki perbedaan kepentingan.
5. Angka-angka disatu laporan berkaitan dengan angka-angka dilaporan lainnya.
6. Diakui bahwa laporan keuangan yang sekarang tidak menggambarkan likuiditas dan
arus kas.
7. Perubahan dalam daya beli uang jelas ada, namun hal ini tidak tergambarkan dalam
laporan keuangan.
8. Konsep “materiality” merupakan konsep pelaporan. Batasan terhadap istilah ini agak
abu-abu.
Terdapat kesalahan perspektif filosofis di kalangan akuntan terhadap pengertian bukti atau ”
Evidential Matters”. Evidential Matters dimarjinalisasi pengertiannya menjadi hanya bukti
formal, seharusnya selain memeriksa bukti-bukti formal, legal dan wajar tetapi harus
berdasarkan keyakinan substansi professional yang dimiliki seorang akuntan di bentengi
dengan etika profesi (Bambang Sudibyo, 2002).
Kwik Gian Gie sering sekali menyatakan dalam berbagai media bahwa profesi akuntan hanya
memperhatikan bukti formal bukan substansial, sehingga opini akuntan publik baginya tidak
berguna sama sekali dalam menilai keadaan keuangan perusahaan
( Harahap, 2001, h. 102).
PERSAMAAN & PERBEDAAN AKUNTANSI KONVENSIONAL & AKUNTANSI
ISLAM
Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal
sebagai berikut:
1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi.
2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan
keuangan.
3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal.
4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang.
5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost
(biaya).
6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan.
7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.

Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran
Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
Akuntansi konvensional







Konsep modal pokok (capital) belum ditentukan, sehingga cara menentukan nilai/harga
untuk melindungi modal pokok sering berbeda pendapat
Modal terbagi 2, yakni modal tetap (aktiva tetap) dan modal yg beredar (aktiva lancar)
Mempraktekkan teori pencadangan & ketelitian dari menanggung semua kerugian
dalam perhitungan
Mengeyampingkan laba yg bersifat mungkin
Menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi,
juga uang dari sumber yg haram
Laba hanya ada ketika adanya jual beli

Akuntansi Islam











Konsep modal pokok dalam islam berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan
melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yg akan datang dlm
ruang lingkup perusahaan yg kontinuitas
Barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang
(stock), dst barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang
Mata uang (emas, perak, dll) bukan tujuan segalanya, melainkan hanya sebagai
perantara utk pengukuran & penentuan nilai/harga (sebagai sumber harga/nilai)
Penentuan nilai dan harga berdasarkan nilai tukar yg berlaku
Membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko
Membedakan laba dari aktivitas pokok dan laba yg berasal dari capital/modal pokok
dengan yang berasal dari transaksi dan wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang
haram jika ada, serta berusaha menghindari & menyalurkan pada tempat-tempat yg tlh
ditentukan oleh para ulama fiqh
Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha/dicampurkan pada
pokok modal
Laba akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik
yg telah terjual/belum. Akan tetapi jual beli adalah suatu keharusan utk menyatakan
laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.

Dengan demikian, dapat diketahui, bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam
dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soal-soal inti dan pokok, sedangkan segi
persamaannya hanya bersifat aksiomatis.
PERKEMBANGAN TEORI & PRAKTEK AKUNTANSI ISLAM
Perkembangan Teori & Praktek Akuntansi Islam secara Umum
Realitas akuntansi modern yang dibangun dengan nilai-nilai egoistik, materialistik dan
utilitarian, menjadi belenggu bagi manusia modern untuk menemukan jati dirinya dan Tuhan.

Bagi kalangan masyarakat muslim, Tuhan menjadi tujuan akhir dan menjadi tujuan puncak
kehidupan manusia. Akuntansi syari’ah,hadir untuk melakukan dekonstruksi terhadap
akuntansi modern. Melalui epistemologi berpasangan, akuntansi syari’ah berusaha
memberikan kontribusi bagi akuntansi sebagai instrumen bisnis sekaligus menunjang
penemuan hakikat diri dan tujuan hidup manusia.
Versi Pertama:
Akuntansi syari’ah memformulasikan tujuan dasar laporan keuangannya untuk memberikan
informasi dan media untuk akuntabilitas. Informasi yang terdapat dalam akuntansi syari’ah
merupakan informasi materi baik mengenai keuangan maupun nonkeuangan, serta informasi
nonmateri seperti aktiva mental dan aktiva spiritual. Contoh aktiva spiritual adalah
ketakwaan, sementara aktiva mental adalah akhlak yang baik dari semua jajaran manajemen
dan seluruh karyawan.
Sebagai media untuk akuntabilitas, akuntansi syari’ah memiliki dua macam akuntabilitas
yaitu akuntabilitas horisontal, dan akuntabilitas vertikal. Akuntabilitas horisontal berkaitan
dengan akuntabilitas kepada manusia dan alam, sementara akuntabilitas vertikal adalah
akuntabilitas kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Versi Kedua:
Tujuan dasar laporan keuangan syari’ah adalah: memberikan informasi, memberikan rasa
damai, kasih dan sayang, serta menstimulasi bangkitnya kesadaran keTuhanan. Ketiga tujuan
ini, merefleksikan secara berturut-turut dunia materi, mental, dan spiritual. Tujuan pertama
secara khusus hanya menginformasikan dunia materi baik yang bersifat keuangan maupun
non keuangan. Tujuan kedua membutuhkan bentuk laporan yang secara khusus menyajikan
dunia mental yakni rasa damai, kasih dan sayang.
Selanjutnya tujuan ketiga, disajikan dalam wadah laporan yang khusus menyajikan informasi
kebangkitan kesadaran keTuhanan.
Pendekatan dalam perumusan sistem ini adalah seperti yang dikemukakan oleh Accounting
and Auditing Standards for Islamic Financial Institution (AAOIFI) yaitu :
1. Menentukan tujuan berdasarkan prinsip Islam dan ajarannya kemudian menjadikan
tujuan ini sebagai bahan pertimbangan dengan mengaitkannya dengan pemikiran
akuntansi yang berlaku saat ini.
2. Memulai dari tujuan yang ditetapkan oleh teori akuntansi kapitalis kemudian
mengujinya menurut hukum syariah, menerima hal-hal yang konsisten dengan hukum
syariah dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan syariah.
Prinsip Modal Pokok dalam Akuntansi Islam
Diantara tujuan syariat Islam ialah menjaga dan mengembangkannya melalui jalur-jalur yang
syar’i, untuk merealisasikan fungsinya dalam kehidupan perekonomian serta membantu
memakmurkan bumi dan pengabdian kepada Allah SWT. Sumber-sumber hukum Islam telah

mencukup kaidah-kaidah yang mengatur pemeliharaan terhadap modal pokok
(kapital). Prinsip-Prinsip Akuntansi pada Modal Pokok yang terpenting diantaranya sebagai
berikut.
1. Tamwil dan Syumul (Mengandung Nilai dan Universal)
modal itu harus dapat memberikan nilai, yaitu mempunyai nilai tukar di pasar bebas.
Bisa saja, modal beda dalam naungan sebuah perusahaan dalam bentuk uang, barang
milik, atau barang dagangan selama harta itu masih bisa dinilai dengan uang oleh
pakar-pakar yang ahli di bidang itu serta disepakati oleh mitra usaha.
Ra’sul-maal (modal awal) juga bisa berbentuk manfaat , yang dalam konsepakuntansi
positif disebut ushul ma’nawiah (modal nonmateri), seperti halnya sesorang yang
terkenal maupun nama baik dan hak-hak istimewa. Oleh karena itu dalam konsep
akuntasi Islam, kapital mempunyai makna universal dan luas, yang meliputi uang,
benda, atau yang nonmateri.
2. Mutaqawwim (Bernilai)
Modal itu harus bernilai, artinya dapat dimanfaatkan secara syar’i. Jadi, harta-harta
yang tidak mengandung nilai tidak termasuk dalam wilayah akuntansi yang sedang
dibicarakan, seperti khamar, daging babi, dan alat-alat perjudian.
Di suatu negara yang berhukum kepada hukum Islam, tidak boleh masuk kedalam
keuangannya atau keuangan masyarakatnya yang muslim jenis-jenis harta yang tidak
boleh dimafaatkan secara syar’i. Jika didapati, harus disita dan menghukum orangorang Islam yang memilikinya.
3. Penguasaan dan Pemilikan yang Berharga
Mal atau harta itu harus dimilki secara sempurna dan dikuasainya sehingga ia dapat
memanfaatkannya secara bebas dalam bermuamalah atau bertransaksi. Sebagai contoh,
tidak boleh bagi seseorang untuk memulai dengan pihak lain kerja sama dalam uang
dan pekerjaan dengan janji membayarkan uang tersebut dikemudian hari atau uang itu
masih bersifat utang (dalam jaminan), seperti yang ditegaskan oleh ulama fiqih dalam
fiqih syarikah.
4. Keselamatan dan Keutuhan Ra,sul-maal
Sistem akuntansi Islam menekankan pemeliharan terhadap kapital yang hakiki, seperti
yang tergambar dalam sabda Rasul sebagai berikut.“Seorang mukmin itu bagaikan
seorang pedagang; dia tidak akan menerima laba sebelum dia mendapatka ra’sulmaalnya (modal). Demikian juga, seorang mukmin tidak akan mendapatkan amalanamalan sunnahnya sebelum ia menerima amalan-amalan wajibnya.” (HR Bukhari dan
Muslim)Jadi, kalau modal belum dipisahkan dan keuntungan telah dibagi, itu dianggap
telah membalikan sebagai modal kepada sipemilik saham. Hal inilah yang banyak
menimbulkan masalah dalam perusahaan-perusahaan.
Adapun yang dimaksud dengan selamatnya modal hakiki ialah selamat dari julah, unit-unit
materinya, dan daya tukar barang, bukan dari segi unit-unit uangnya dan juga bukan dari segi
daya beli secara umum. Prinsip ini adalah hasil bahasan seorang peneliti konsep akuntansi
Islam dalam tesis magisternya yang berjudul “Perhitungan terhadap Modak antara konsep
Akuntansi Islam Modern”. Dia menjelaskan kelebihan konnsep akuntansi Islam yang lebih
dahulu menyelesaikan problem pemeliharaan terhadap modal hakiki. Hukum-hukum Isla juga
mengandung kaidah-kaidah pengukuran yang dapat merealisasikannya.
Hukum Islam juga meangadung apa yang kita bahas, yang diantaranya tentang penentuan
harga berdasarkan nilai yang berlaku di pasar bebas yang jauh dari tipu muslihat, monopoli,

dan semua jenis jual beli yang dilarang syar’i, yang menyebabkan memakan harta orang lain
secara batil. Pendapat ahli tafsir dan ulama fiqih tentang pemeliharaan modal (ra’sul-maal)
hakiki.
1. Imam ar-Razi berkata, “Yang diinginkan oleh seorang saudagar dari usahannya ialah
dua hal: keselamatan modal dan laba.”
2. Imam an-Nasafi berkata, “Sesungguhnya tuntutandagang itu ialah selamatnya modal
dan adnya laba.”
3. Ibnu Qudamah berkata, “laba itu ialah hasil pemeliharaan terhadap modal.”
4. At-habari berkata. “orang yang beruntung dalam perdagangannya ialah orang yang
menukar barang yang dimilikinya dengan suatu tukaran yang lebih berharga dari
barangnya semula.”
Prinsip Perhitungan Laba dalam Akuntansi Islam
Diantara tujuan dagang yang terpenting ialah meraih laba, yang merupakan cerminan
pertumbuhan harta. Laba ini muncul dari proses pemutaran modal dan pengopersiannya
dalam aksi-aksi dagang dan moneter. Islam sangat mendorong pendayagunaan harta/modal
yang melarang menyimapnnya sehingga tidak habis sdimakan zakat, sehingga harta itu dapat
merealisasikan peranannya dalam aktivitas ekonomi. Di dalam Islam, laba mempunyai
pengertian khusus sebagaimana telah dijelaskan oleh ulama-ulama salaf dan khalaf. Dalam
bahasa Arab, laba berarti pertumbuhan dalam dagang
Pengertian Laba dalam Konsep Islam
Dari pengertian laba secara bahasa atau menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pendapat ulamaulama fiqih dapat kita simpulkan bahwa laba ialah pertambahan pada modal pokok
perdagangan atau dapat juga dikatakan sebagai tambahan nilai yang timbul karena barter atau
ekpedisi dagang.
Aturan laba dalam konsep Islam.







Adanya harta (uang) yang dikhususkan untuk perdagangan
Mengoperasikan modal tersebut secara interaktif dengan
unsur-unsur yang lain lain yang terkait untuk produksi,
seperti usaha dan sumber-sumber alam.
Memposisikan harta sebagai obyek dalam pemutarannya
karena adanya kemungkinan-kemungkinan pertmabahan atau
pengurangan jumlahnya
Selamatnya modal pokok yang berati modal bisa
dikembalikan.

Kesimpulan
Akuntansi konvensional yang berkembang hingga saat ini dan yang banyak dipakai para
akuntan di dunia terbukti tidak sesuai dengan nilai-nilai islam yang bersumber pada Al Quran
dan Al Hadis. Bahkan pada perkembangannya akuntansi konvensional yang bebas nilai ini,

yang dilandasi pola berpikir egoistik, materialistik dan utilitarian tidak memiliki kemampuan
untuk menjawab persoalan-persoalan akuntansi yang muncul dewasa ini.
Perkembangan dan perubahan bentuk industri tidak diikuti secara pararel oleh ilmu akuntansi
konvensional, pencatatan hanya dilakukan pada aktiva berwujud saja, sedangkan industri
pada masa kini besar dengan assets berupa aktiva tak berwujud seperti paten, goodwill,
lisensi, hak cipta, internet, website, software dan sebagainya. Itulah salah satu keterbatasan
akuntansi konvensional pada saat ini, tidak mampu menghitung assets yang diluar kalkulasi
material.
Tidak demikian dengan Akuntansi Islam yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika dan
berpedoman pada Al Quran dan Al Hadis. Dalam sistem tersebut, kegiatan identifikasi,
klarifikasi, dan pelaporan dan mengambil keputusan ekonomi harus berdasarkan prinsip
akad-akad syari’ah, yaitu tidak mengandung zhulum (Kezaliman), riba, maysir (judi), gharar
(penipuan), barang yang haram dan membahayakan.
Dengan system yang dianut tersebut, Akuntansi Islam justru pada perkembangannya saat ini
menunjukkan kinerja yang lebih baik dari sistem akuntansi lainnya.
TEMPO.CO, Bogor - Direktur Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Dhani Gunawan
Idhat mengatakan, terdapat tujuh masalah yang menjadi tantangan dan perlu diatasi oleh
perbankan syariah agar dapat maju dan berkembang.
"Ada tujuh isu strategis yang perlu jadi perhatian," ujarnya di Hotel Rancamaya, Bogor, pada
Sabtu 21 November 2015.
Pertama, dia menjelaskan, dimulai dari masih kurangnya sinergi antara OJK dan pemerintah
dalam membangun industri keuangan syariah. Dhani pum membandingkan industri keuangan
syariah di Indonesia dengan Malaysia yang sudah lebih maju. Pemerintah Malaysia memberi
dukungan dengan bentuk insentif pajak, tax holiday, riset, dan pengelolaan anggaran belanja
negara.
Kedua, yaitu permasalahan modall perbankan syariah. Pada blueprint perbankan syariah
setiap tahunnya menurut Dhani selalu memuat misi bank syariah harus mampu mandiri
hingga mampu memisahkan diri dari induknya. Tetapi hal tersebut belum dapat dilakukan
karena kapasitas yang masih terbatas. "Karena hukumnya kan modal kecil jangan harap jadi
pemain besar," katanya.

Dari total 12 bank syariah saat ini, 6 bank masih berada di kategori BUKU 1 atau permodalan
kurang dari Rp 1 triliun, dan 6 bank lain berada di kategori BUKU 2 atau permodalan antara
Rp 1-5 triliun.
Dhani mengatakan, permasalahan yang ketiga adalah biaya dana perbankan syariah yang
mahal. "Semua perbankan syariah alami ini, karena kalau biaya yang diperoleh mahal,
jualnya juga nanti mahal," ucapnya.

Hal ini, menurut dia, menjadi penyebab masyarakat mengeluh perbankan syariah lebih mahal
dibandingkan bank umum konvensional. Kondisi saat ini, bank syariah banyak bergantung
dari deposito masyarakat yaitu sebesar 60 persen, lalu 40 persen sisanya merupakan
tabungan, berkebalikan dari bank umum. "Karena kalau deposito kan bukan dana murah ya
pasti mintanya bunga tinggi, jadi struktur dananya tidak kompetitif," ujar Dhani.
Kemudian permasalahan keempat adalah produk bank syariah yang tidak variatif dan belum
dapat diakses masyarakat. Akses pendanaan bank syariah masih kurang pada sektor-sektor
tertentu, khususnya infrastruktur, pertanian, maritim, dan perkebunan. "Padahal ini kan sektor
yang prospek, jadi sejauh ini masih main di sektor riil saja" kata Dhani. Ia menuturkan
perbankan syariah Indonesia saat ini baru memiliki 17 produk, sedangkan Malaysia sudah
mencapai 45 produk.
Permasalahan kelima adalah terkait dengan kualitas sumber daya manusia di perbankan
syariah yang kurang memadai. "Hanya sedikit SDM berkualitas yang mau bergabung,
kebanyaknya di konvesnional, jadi ada gap of human resources," ujar Dhani.
Kemudian permasalahan keenam adalah terkait dengan pemahaman dan kesadaran
masyarakat tentang perbankan syariah yang masih kurang. "Edukasi terus dilakukan, tapi kan
generasi baru terus muncul, jadi ini proses yang tidak akan selesai," katanya. Dhani
mengatakan selama 10 tahun terakhir sosialisasi dan edukasi terus dilakukan, sehingga
masyarakat yang tadinya tidak memiliki minat terhadap perbankan syariah mulai tertarik.
Adapun permasalahan yang terakhir, menurut Dhani, adalah terkait dengan pengaturan dan
pengawasan perbankan syariah oleh OJK yang masih harus ditingkatkan. "Pengaturan dan
pengawasan ini penting untuk meningkatkan daya saing dan untuk mencapai good corporate
governance," kata Dhani lagi.
Isu dan Solusi Pengawasan Syariah
16 Desember 2016

Ilustrasi.
Oleh: Salta Febri Wulandari
Mahasiswa aktif semester 7 di STEI SEBI- Depok

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, Indonesia menempati urutan ke 4 sebagai negara
dengan penduduk muslim terbesar mencapai 237,6 juta jiwa. Sebagai negara dengan
penduduk mayoritasnya adalah muslim hal ini sangat memungkinkan penduduk muslim
untuk meningkatkan industri lembaga keuangan syariah. Seiring dengan berkembanya zaman
dari era tradisional ke era teknologi yang modern. Kebutuhan masyarakat akan lembaga
keuangan terus meningkat. Keterlibatan masyarakat Muslim pastinya berpengaruh besar
terhadap perkembangan dan penggunaan LKS di Indonesia.
Lembaga keuangan syariah terus mengalami peningkatan. Permasalahan yang dihadapi dalam
pengembangan bank syariah salah satunya adalah minimya pengetahuan masyarakat akan
sistem keuangan syariah, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap masyarakat
terhadap bank syariah juga cenderung rendah. Mengingat perbankan konvensional telah lebih
dulu hadir di Indonesia, masih banyak masyarakat yang meragukan eksistensi bank syariah.
Berikut beberapa isu terkait Dewan Syariah:
Pertama, Isu Terkait Dewan Syariah
Semakin berkembangnya zaman kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat, dalam
bermuamalah di era modern seperti saat sekarang masyarakat tentu memilih yang lebih
praktis dan mudah. Dengan adanya Dewan Syariah di dalam sebuah Islamic Finance/
Lembaga Keuanan Islam dapat meningkatkan keperrcayaan masyarakat.
Kedua, Masalah Kerahasiaan
Kekurangan Dewan syariah yaitu rangkap jabatan, padahal ketika adanya rangkap jabatan
bisa menimbulkan peluang untuk kecurangan. Dikhawatirkan ada oknum yang kurang
bertanggungjawab menyebarkan rahasia perusahaan.
Ketiga, Masalah Kompetensi Anggota Dewan Syariah
Bank Syariah terbesar saat ini mampu membukukan aset sekitar 4 milia US Dollar sehingga
belum ada yang masuk ke dalam jajaran 25 bank syariah dengan aset terbesar di dunia. Maka
dari itu dibutuhkan tenaga yang siap dibidang ini.Untuk menjadi seorang Dewan Syariah
dituntut harus memiliki kemampuan yang mumpuni. Namun saat ini masih didominasi oeh
lulusan syariah padahal untuk menjadi seorang dewan syariah harus memiliki kemampuan di
bidan fiqih muamalah, keuangan dan akuntansi.
Keempat, Konsistensi dalam Dewan Syari’ah
Perbedaan opini antara DPS satu dengan DPS lain disebabkan karena belum adanya standar
khusus yang mengatur tentang Pengawasan Syariah.
Dengan itu penulis memberikan beberapa saran untuk masalah/ isu terkait dewan syariah:

A. Penyingkapan Informasi
Saat ini masih banyak diantara masyarakat yang belum mengetahui perbedaan sistem
keuangan Islam dan sistem keuangan konvensional. Untuk itu perlu pengungkapan informasi
kepada masyarakat luas untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat serta upaya
transparansi.
Untuk menghindari keraguan dari masyarakat dalam hal ini bank dirasa perlu memberikan
penjealasan bahwa bank syariah tidak hanya menghapuskan riba (bunga) tetapi juga ribah
(diragukan) elemen dari setiap transaksi.
B. Pelatihan yang intensif
Tugas DPS diantaranya yaitu menghasilkan pemenuhan prinsip- prinsip syariah. Kredibilitas
suatu bank syariah ditentukan oleh kredibilitas DPS. Kepercayaan nasabah terhadap bank
syariah itu sendiri sangat mempengaruhi peningkatan brand keuangan Islam itu sendiri. Maka
dari itu penting bagi Dewan Syariah untuk menambah kapasitas dan kompetensinya.
AAOIFI menyadari kekurangan tenaga yang profesinal di lembaga keuangan Islam kemudian
AAOIFI mengambil inisiatif untu membuat program untuk peningkatan keterampilan staf
lembaga keuangan Islam: Certified Islamic Professional Accountant (Islamic accounting),
and Certified Shariah Advisor and Auditor.
Dengan adanya program ini diharapkan membawa dampak untuk pengembangan kapasitas
para staf lembaga keuangan Islam dan membuat mereka llebih ahli dibidangnya.
Di negara Malaysia sendiri telah menerapkan cara ntuk mengatasi kekurangan SDM di
lembaga keunagan syariah. Malaysia mengembangkan kesempatan kerja untuk para lulusan
perbankan syariah yang sebeumnya telah diberikan pelatiahan.
C. Perlu Pengembangan Standararisasi untuk Masalah Syariah
Saat ini belum ada standar khusus terkait kompetensi Dewan Syariah. Bagaimana proses DPS
dalam bekerja belum ada standar yang mengatur, DPS yang 1 dan yang lainnya masih
berbeda opini. Hal ini yang membuat kurangnyaperan DPS dalam meningkatkan citra
lembaga keuangan syariah itu sendiri. Untuk itu perlu dibuat sebuah standar untuk
Pengawasan Syariah.
Referensi:
1. Tahreem Noor Khan 1, “Enhancing Islamic Financial Brand Syariah Bord Theoritical
Conceptual Framework”, Journal of Islamic Banking and Finance June 2015, Vol.3 No. 1,
April 2015
2. Dr Halim Alamsyah ( Deputi Gubernur Bank Indonesia), Perkembangan dan Prospek
Perbankan Syariah Indonesia: Tantangan dalam Menyongsong MEA 2015

PERBEDAAN LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH VS BANK KONVENSIONAL
·

(SAMPEL: PT BANK SYARIAH MEGA INDONESIA)

ü Dimulai pada persamaaan akuntansi bank syariah yaitu aktiva=kewajiban+investasi tidak
terikat+ekuitas sedangkan pada bank konvensional yaitu aktiva=utang+modal disini terlihat
ada penambahan investasi tidak terikat yang berupa dana investasi tidak terikat(mudharabah
muthiaqah) terdiri dari tabungan mudharobah dan deposito mudharobah

ü Pos pada bank syariah pada akun piutang jual beli terdiri dari piutang murabahah,piutang
salam, piutang isthisna,piutang qardh sedangkan pada bank konvensional nama akunnya
piutang dagang.

ü Terdapat perbedaan konsep standar neraca bank syariah:

Pada sisi aktiva:
1.

Piutang jual beli

1.

Dana pihak ketiga

mudharabah

Giro wadiah

salam.

Tabungan wadiah

isthisna

Deposito wadiah

lainnya
2.

sisi pasiva :

2.

Pembiayaan

Tabungan mudharabah

Mudharabah
musyarakah

Investasi tidak terikat

Deposito mudarabah
3.

ü Pada laporan
keuangan selain
laporannya

Equity

sama(neraca,laporan labarugi,laporan perubahan ekuitas dan cash flow seperti bank
konvensianal tetapi pada bank syariah ada beberapa tambahan laporan keuangan bank syariah
seperti terdapat laporan sumber dan penggunaan dana ZIS sebagai zakat infaq sadaqah yang
akan disalurkan melalui qard sedangkan pada bank konvensional tidak, laporan sumber dan
penggunaan dana qardh disini bank syariah sebagai pengemban fungsi social juga terdapat
laporan perubahan dana investasi tidak terikat disini bank sebagai agen syariah
ü Pada bank konvensional tidak ada pinjaman qard yaitu pemberian harta kepada orang lain
yang dapat ditagih atau dimita kembali,meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan dan
bukan transaksi komersial.

ü Terdapat distribusi bagi hasil karena tujuan bank syariah berdasarkan bagi hasil,jual belidan
sewa.
ü Pada laporan laba rugi bank sayriah vs konvensional terdapat perbedaan yaitu
Bank konvensional

Bank syariah

1.Pendapatan bunga bersih

pendapatan operasional kegiatan syariah

2.Beban operasional

a.pendapatan dari penyaluran dana

3.Laba opersaional

b.pendapatan operasional lainnya

4.Pendapatan non operasional

bagi hasil untuk investor dana tidak
terikat

5.Beban non operasioanal
6.Laba setelah pajak
7.Pajak penghasilan
8.Laba bersih

pendapatan operasional setelah distribusi
bagi hasil untuk investor dana tidak
terikat
beban penyisihan penghapusan aktiva
beban estimasi kerugian dan kontijensi
beban operasional lainnya
Laba(rugi) opersaional
Pendapatan non operasional
Beban non operasioanal
Laba bersih

Perbedaan Laporan Keuangan Syariah dan Konvensional
Laporan keuangan konvensial dan syariah sejatinya merupakan jenis laporan yang memuat
sebagian besar hal-hal yang sama dan intinya melaporkan kinerja perusahaan sembari
memperlihatkan posisi perusahaan saat ini terkait dengan kekayaan dan kewajiban. Namun
ada beberapa perbedaan yang menjadikan keduanya merupakan laporan keuangan yang
berbeda. Beberapa hal yang menjadi poin-poin perbedaan antara laporan keuangan syariah
dan konvensional akan dijabarkan sebagai berikut.
1. Sudut Pelaporan
Dari segi pelaporannya, laporan keuangan konvensional memuat lebih sedikit unsur-unsur
laporan keuangan. Unsur laporan keuangan konvensional terdiri dari neraca, laporan laba
rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.
Sedangkan pada laporan keuangan syariah, unsur-unsur yang termuat antara lain neraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan dana
investasi terkait, laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil, laporan sumber dana dan
penggunaan dana zakat, serta laporan dan penggunaan dana kebaikan.

(Baca Juga: Perkembangan Akuntansi)
2. Akad dan Legalitas
Istilah akad dikenal sebagai kesepakatan kedua belah pihak terkait untuk melaksanakan
kewajiban mereka masing-masing. Syarat dan ketentuannya jelas sudah disepakati dari awal
secara rinci dan spesifik sehingga ketika salah satu pihak tidak bisa memenuhi kewajibannya
maka ia wajib menerima sanksi seperti yang sudah disepakati. Ketentuan akad tersebut
teridiri dari rukun dan syarat. Rukun menyangkut unsur-unsur fisik seperti penjual, pembeli,
barang, serta harga. Sementara syarat yang diwajibkan antara lain: barang dan jasa wajib
halal, harga barang atau jasa harus jelas, tempat penyerahan yang jelas,serta barang yang
ditransaksikan wajib sepenuhnya dalam kepemilikan.
(Baca Juga: Pengertian Akuntansi)
3. Organisasi
Dilihat dari segi organisasi, kehadiran Dewan Pengawas Syariah atau DPS menjadi faktor
pembeda antara perusahaan berbasis syariah dengan perusahaan konvensional. Kehadiran
DPS yang terdiri dari minimal 3 orang propesi ahli hukum Islam ini bertanggung jawab
dalam memberikan fatwa agama dan mengawasinya bersama dengan Dewan Komisaris
perusahaan yang menggunakan basis syariah. Sedangkan dalam perusahaan konvensional
tidak dikenal adanya DPS maupun aturan-aturan yang merupakan bagian dari tanggung
jawab DPS itu.
(Baca Juga: Pengertian Akuntansi Perpajakan)
4. Penyelesaian Sengketa
Adanya masalah akan diselesaikan secara berbeda oleh perusahaan dengan basis
konvensional serta basis syariah. Pada perusahaan berbasis syariah, adanya masalah akan
diselesaikan dengan aturan dan hukum syariah. Berbeda halnya dengan perusahaan
konvensional yang memilih menyelesaikan perkaranya di pengadilan negeri. Lembaga yang
mengatur hukum syariah di Indonesia ini adalah Badan Arrbitrase Muamalah Indonesia atau
BAMUI.
5. Usaha yang Dibiayai
Ada paradigma berbeda yang membedakan usaha konvensional dengan usaha berbasis
syariah. Usaha berbasis syariah akan menggunakan paradigma tersendiri yang mana
menekankan kepercayaan bahwa setiap aktivitas manusianya memiliki nilai akuntabilitas dan
ilahiah yang menempatkan akhlak serta perangkat syariah sebagai parameter baik dan
buruknya suatu aktivitas usaha. Berbeda halnya dengan perusahaan konvensional yang tidak
mengenal hal semacam ini sebagai dasar pelaksanaan aktivitas bisnis mereka.
(Baca Juga: Fungsi Akuntansi Manajemen)
Demikian informasi yang bisa kami sajikan terkait perbedaan antara laporan keuangan
syariah dan konvensional. Semoga artikel ini bisa memberikan pengetahuan tambahan bagi
Anda yang mempelajari laporan keuangan.

Judul: Akuntansi Sy

Oleh: MÖ Yagunnersya


Ikuti kami