Akuntansi Pertanbgungjawaban

Oleh Seno Ariawan

22 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Pertanbgungjawaban

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
MEDAN

SKRIPSI

PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN DALAM
PENILAIAN KINERJA PUSAT PENDAPATAN PADA
PT.RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN

DIAJUKAN OLEH :

NAMA

: HADE HAMBRATA

NIM

: 020503080

DEPARTEMEN

: AKUNTANSI

PROGRAM STUDI

: S-1

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
2007
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
“Penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalam penilaian kinerja pusat
pendapatan pada PT. Rajawali Nusindo cabang Medan.”

Adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah
dimuat, dipublikasi, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan
skripsi level program reguler S1 Departemen akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.

Semua sumber data dan informasi yang diperoleh, telah dinyatakan denga jelas,
benar apa adanya. Dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya
bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas.
Medan, 10 September 2007
Yang Membuat Pernyataan

Hade Hambrata
NIM : 020503080

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini hingga selesai penulis banyak
menerima bimbingan, bantuan, serta do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Arifin Akhmad, M.Si. Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi
dan Bapak Fahmi Natigor Nasution, SE, M.Acc, Ak selaku Sekertaris
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. M. Lian Dalimunthe, M.Ec, Ac, Ak selaku Dosen Pembimbing
yang telah banyak membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
4. Bapak Drs. H. Arifin Lubis, MM, Ak selaku Dosen Penguji I dan Bapak
Fahmi Natigor Nasution, SE, M.Acc, Ak selaku Dosen Penguji II
5. Ibu DR. Erlina, SE, M.Si, Ak selaku Dosen Wali dan juga kepada Bapak dan
Ibu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Lukmanul Hakim, SE selaku pimpinan cabang PT. Rajawali Nusindo,
Bapak Edi Syahputra dan Ibu Dian serta seluruh staff karyawan PT. Rajawali

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Nusindo cabang Medan yang telah memberikan kesempatan dan bantuan
dalam rangka pengumpulan data yang diperlukan.
7. Terima kasih untuk Ayahanda Ir. Herryadi Noezir dan Ibunda Derri Ranti
yang telah memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis juga buat
abangku Barli dan adik-adik ku Rama, Danil serta Heldi.
8. Buat sahabat jojoba, Ahon, Hasyim, Rudi, Gandhi, Ibnu dan bang Alfi serta
Herman, Abdan dan Deddy yang telah memberi dorongan serta semangat
dikala senang maupun sedih dan atas kebersamaannya selama tinggal di
Medan, juga kepada Nita, Erni, Rini, Mainini, lia, Ayu, dan Mia yang telah
membantu penulis.
9. Buat teman senasib dan seperjuangan di kost-an Jumeiri dan Irwansyah, juga
buat teman-teman Akuntansi ’02 FE USU terima kasih atas kebersamaannya
selama ini.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa
skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima setiap
saran dan kritik yang membangun. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita
semua.
Medan, 10 September 2007
Penulis

Hade Hambrata
NIM : 020503080

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

ABSTRAK
Dalam suatu perusahaan yang terdesentralisasi sangat diperlukan suatu
penilaian kinerja terhadap pusat pertanggungjawaban atau unit kerja yang ada
guna mengetahui kesuksesan atau kegagalan. PT. Rajawali Nusindo cabang
Medan adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang distributor obat-obatan
dimana pendapatan utamanya berasal dari penjualan. PT. Rajawali Nusindo
mengenal beberapa tingkatan untuk kantor cabang mulai dari yang paling tinggi
cabang utama, madya, perdana, dan perintis, penentuan dari status kantor cabang
dilihat dari besarnya pendapatan yangn dihasilkan. Untuk menilai kinerja pusat
pendapatan PT. Rajawali Nusindo cabang Medan menggunakan perbandingan
antara anggaran penjualan dengan realisasinya sehingga dapat diketahui
persentase penyimpangan. Sistem akuntansi pertanggungjawaban pusat
pendapatan pada PT. Rajawali Nusindo belum dapat dikatakan berjalan dengan
baik karena tidak adanya suatu sistem reward dan punishment yang jelas terhadap
manajer pusat pendapatan .
Kata kunci : Akuntansi pertanggungjawaban, pusat pendapatan, penilaian
kinerja, anggaran.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
ABSTRAK ..................................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................. v
DAFTAR TABEL .......................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................. 1
B. Perumusan Masalah ........................................................ 3
C. Tujuan penelitian ............................................................ 3
D. Manfaat Penelitian .......................................................... 4
E. Kerangka Konseptual ...................................................... 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Akuntansi Pertanggungjawaban ...................................... 5
o Tujuan dan Manfaat Akuntansi Pertanggungjawaban. 6
o Syarat Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban ..... 6
B. Pusat Pertanggungjawaban .............................................. 8
C. Anggaran ........................................................................ 10
D. Penilaian Kinerja ............................................................. 22
E. Pelaporan Kinerja ............................................................ 29

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ............................................................... 33
B. Jenis Data........................................................................ 33
C. Teknik Pengumpulan Data .............................................. 33
D. Metode Analisis Data ...................................................... 34
E. Lokasi Penelitian ............................................................. 34

BAB IV

HASIL PENELITIAN
A. Data Penelitian ................................................................ 35
1. Gambaran Umum PT. Rajawali Nusindo cabang
Medan ................................................................. 35
o Sejarah Singkat Perusahaan ............................. 35
o Struktur Organisasi Perusahaan........................ 39
B. Analisis Hasil Penelitian ................................................. 43
1. Pusat Pertanggungjawaban ................................... 43
2. Penyusunan Anggaran .......................................... 45
3. Penilaian Kinerja .................................................. 46
4. Pelaporan Kinerja ................................................. 50

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ..................................................................... 52
B. Saran ............................................................................... 53

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... . 54
LAMPIRAN

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbandingan Tipe Informasi Akuntansi Manajemen ....................... 7
Tabel 2.2 Anggaran Laba Bruto ....................................................................... 27
Tabel 2.3 Laba Bruto Sesungguhnya ................................................................ 27
Tabel 2.4 Laporan Pertanggungjawaban Organisasi fungsional ........................ 31
Tabel 2.5 Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Divisional ........................ 32
Tabel 4.1 Daftar target dan aktual .................................................................... 48

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Diagram Masukan-Proses- Keluaran Pusat Pertanggungjawaban .... 8
Gambar 2.2 Struktur Pusat Pertanggungjawaban ................................................ 10
Gambar 2.3 Skema Analisis Selisih Pendapatan ................................................. 25

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

DAFTAR LAMPIRAN
1)

Struktur Organisasi PT. Rajawali Nusindo cabang Medan

2)

Hasil Wawancara

3)

Perhitungan Laba Rugi PT. Rajawali Nusindo cabang Medan

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Setiap perusahaan yang didirikan biasanya memiliki tujuan yang ingin
dicapai, baik berupa laba, efisiensi, peningkatan kualitas barang dan jasa, maupun
tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat. Pada perusahaan kecil biasanya
pemilik perusahaan juga bertindak sebagai manajer perusahaan. Hal ini
dikarenakan masih sedikitnya aktivitas yang terjadi, namun seiring dengan
perkembangan perusahaan maka semakin banyak pula aktivitas yang terjadi
sehingga tidak mungkin seorang manajer mengambil keputusan yang penting
karena banyaknya areal keputusan yang harus diambil dan tidak ada orang yang
mengusai semua bidang yang ada dalam organisasi, sehingga sebagai
konsekuensinya pengambilan keputusan harus didelegasikannya pada tingkatan
yang lebih rendah dengan pemberian wewenang.
Kebutuhan akan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab merupakan
efek dari semakin kompleks dan pentingnya modernisasi organisasi. Wewenang
diberikan dari manajer tingkat atas ke manajer dibawahnya. Dengan wewenang
tersebut seorang manajer diberikan peran untuk mengelola sumber daya ekonomi
dalam pelaksaan kegiatannya. Pendelegasian wewenang ini menuntut seorang
manajer untuk mempertanggungjawabkan hasil kinerjanya kemudian pimpinan
perusahaan akan mengevaluasi dan menilai kinerja yang dihasilkan pusat
pertanggungjawaban tersebut.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Penilaian kinerja dapat diartikan sebagai penilaian secara periodik
efektifitas operasional suatu organisasi,perusahaan, dan karyawan berdasarkan
sasaran, standar, dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada
dasarnya dijalankan oleh manusia maka penilaian kinerja pada hakekatnya adalah
penilaian atas perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang mereka mainkan
didalam organisasi, oleh karena itu jika informasi akuntansi yang dipakai sebagai
salah satu penilaian kinerja maka informasi akuntansi yang memenuhi kebutuhan
tersebut adalah informasi akuntansi manajemen.
Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem yang mengukur
berbagai hasil yang dicapai oleh setiap pusat pertanggungjawaban menurut
informasi yang dibutuhkan oleh para manajer untuk mengoperasikan pusat
pertanggungjawaban sebagai bagian dari sistem pengendalian manajemen. Sistem
ini diciptakan untuk memberikan keleluasaan kepada manajer untuk mengelola
bagian organisasi yang dipimpinnya secara optimal sebagai salah satu model
desentralisasi. Makin luas sebuah organisasi maka semakin dibutuhkan
pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada manajemen level bawah
sebagai suatu bentuk desentralisasi.
Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu bagian dalam organisasi yang
memiliki kendali atas terjadinya biaya, perolehan pendapatan, atau penggunaan
dana investasi. Pusat pertanggungjawaban utama terdiri dari empat macam yaitu
pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi.
PT. Rajawali Nusindo adalah perusahaan yang bergerak dalam pengadaan
obat di Indonesia, dan penjualan adalah sumber pendapatan utama. PT. Rajawali
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Nusindo mengenal beberapa istilah untuk kantor cabang yaitu cabang perintis,
perdana, madya, dan cabang utama, dimana status dari kantor cabang ini
didasarkan pada apakah cabang tersebut mencapai target pendapatan yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu penerapan akuntansi pertanggungjawaban menjadi
penting untuk mengetahui pelaksanaan tanggung jawab manajer pusat pendapatan
dalam mencapai pendapatan yang dianggarkan.
PT. Rajawali Nusindo sendiri telah menerapkan suatu sistem akuntansi
pertanggungjawaban yaitu dengan adanya penilaian manajer pertanggungjawaban
dengan cara membandingkan anggaran dengan realisasinya.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk memilih judul penelitian
“Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat
Pendapatan Pada PT. Rajawali Nusindo cabang Medan”
B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :
1. Apakah PT. Rajawali Nusindo cabang Medan telah menerapkan akuntansi
pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pusat pendapatan ?
2. Bagaimanakah akuntansi pertanggungjawaban digunakan untuk menilai
kinerja manajer pusat pendapatan ?
C. Tujuan penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah PT. Rajawali Nusindo cabang Medan telah
menerapkan akuntansi pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pusat
pendapatan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

2. untuk

mengetahui

cara

penilaian

kinerja

manajer

pusat

pertanggungjawaban
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Bagi civitas akademika sebagai bahan acuan atau referensi bagi yang akan
melakukan ataupun yang akan melanjutkan sesuai dengan judul skrisi ini.
2. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan
mengenai akuntansi pertanggungjawaban dalam penilaian kinerja pusat
investasi.
3. Bagi perusahaan, sebagai bahan masukan yang berguna untuk mengetahui
penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalm pengukuran kinerja pusat
investasi.
E. Kerangka konseptual
Kerangka konseptual merupakan tujuan untuk memecahkan masalah
penelitian. Adapun kerangka konseptual dalam penulisan skripsi ini dapat
digambarkan sebagai berikut.
Rajawali Nusindo cabang Medan

Pusat Pendapatan

Anggaran yang
direncanakan

Rekomendasi
Perbaikan

Anggaran
Aktual
Dibandingkan/
Evaluasi Kinerja

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Akuntansi Pertanggungjawaban
Akuntansi pertanggungjawaban merupakan salah satu konsep dari
akuntansi manajemen yang berkaitan dengan pusat pertanggungjawaban dalam
sebuah organisasi. Akuntansi pertanggungjawaban menelusuri biaya, pendapatan,
laba, dan investasi dalam setiap unit organisasi dimana setiap unit organisasi
merupakan suatu pusat pertanggungjawaban yang dipimpin oleh seorang manajer.
Akuntansi petanggungjawaban mendasarkan pada pemikiran bahwa
seorang manajer harus bertanggung jawab terhadap kinerjanya dan kinerja
bawahannya. Konsep akuntansi pertanggungjawaban menjadi pedoman bagi
departemen akuntansi dalam mengumpulkan, mengukur, dan melaporkan kinerja
sesungguhnya, kinerja yang diharapkan, dan selisih yang terjadi pada setiap pusat
pertanggungjawaban.
Akuntansi pertanggungjawaban menurut Hansen dan Mowen (2001 : 818)
“Sebuah

sistem

yang

disusun

untuk

mengukur

hasil

setiap

pusat

pertanggungjawaban dan membandingkan hasil-hasil tersebut dengan hasil yang
diharapkan atau yang dianggarkan”. Niswonger, dkk ( 1999 : 353 )
mendefenisikan “Akuntansi Pertanggungjawaban (responsibility accounting)
adalah

proses

pengukuran

dan

pelaporan

data

operasi

pada

pusat

pertanggungjawaban”
Dari defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa akuntansi
pertanggungjawaban merupakan suatu sistem dalam akuntansi yang mengakui
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

pusat pertanggungjawaban sebagai pelaksana kegiatan dengan memiliki tanggung
jawab atas biaya dan pendapatan tertentu sehingga pengawasan dapat dilakukan
pada pusat pertanggungjawaban yang bersangkutan.
o Tujuan dan manfaat akuntansi pertanggungjawaban
Tujuan akuntansi pertanggungjawaban pada dasarnya adalah memotivasi
para karyawan untuk melakukan pekerjaan dengan benar serta dapat
bertanggungjawab atas penyimpangan biaya maupun penghasilan perusahaan
yang sesuai dengan tujuan perusahaan.
Akuntansi pertanggungjawaban sangat diperlukan dan bermanfaat bagi
perusahaan besar yang kegiatan usahanya sudah sangat beragam sehingga
memerlukan pembagian tugas dan tanggung jawab. Adapun manfaat akuntansi
pertanggungjawaban menurut Sukarno ( 2002 : 35 ) adalah :
1. Mutu berbagai keputusan lebih baik, sebab dibuat oleh pimpinan yang
berada ditempat terjadinya isu-isu yang relevan.
2. Berkurangnya beban manajemen puncak sehingga bisa lebih
memfokuskan pada konsep pengendalian manajemen yang lebih strategis.
3. Bagi pimpinan pusat pertanggungjawaban, pendelegasian wewenang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi dan kreativitasnya.
o Syarat Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban
Menurut Mulyadi ( 1993 : 348 ) ada kondisi yang harus dipenuhi sehingga
sistem akuntansi pertanggungjawaban dapat diterapkan dengan efektif yaitu :
1. Organisasi yang terdiri dari pusat-pusat pertanggungjawaban dan terdapat
desentralisasi wewenang didalamnya.
2. Anggaran biaya disusun menurut pusat pertanggungjawaban.
3. Penggolongan biaya harus dapat dikendalikan oleh manajer pusat
pertanggungjawaban.
4. Sistem akuntansi pertanggungjawaban biaya yang disesuaikan dengan
struktur organisasi.
5. Sistem pelaporan biaya kepada manajer yang bertanggung jawab.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Menurut Supriono ( 2000 : 142 ) ada beberapa kondisi-kondisi yang harus
dipenuhi agar akuntansi pertanggungjawaban dapat digunakan dengan baik antara
lain :
1. Luas wewenang dan tanggung jawab pembuat keputusan harus ditentukan
dengan baik melalui struktur organisasi.
2. Manajer pusat pertanggungjawaban harus berperan serta dalam penentuan
tujuan yang digunakan untuk mengukur kinerjanya.
3. Manajer pusat pertanggungjawaban harus berusaha untuk mencapai tujuan
yang ditentukan untuknya dan untuk pusat pertanggungjawabannya.
4. Manajer pusat pertanggungjawaban harus bertanggungjawab atas kegiatan
pusat pertanggungjawaban yang dapat dikendalikannya.
5. Hanya biaya, pendapatan, laba, dan investasi yang terkendalikan oleh
manajer pusat pertanggungjawaban yang harus dimasukkan kedalam
laporan kinerjanya.
6. Laporan kinerja dan umpan baliknya untk manajer pusat
pertanggungjawaban harus disajikan tepat waktu.
7. Laporan kinerja harus menyajikan secara jelas selisih yang terjadi,
tindakan koreksi, dan tindak lanjutnya sehingga memungkinkan
diterapkannya prinsip pengecualian.
8. Harus ditentukan dengan jelas peranan kinerja manajemen terhadap
struktur balas jasa atau perangsang dalam perusahaan.
9. Sistem akuntansi pertanggungjawaban hanya mengukur salah satu kinerja
manajer pusat pertanggungjawaban, yaitu kinerja keuangan. Selain kinerja
keuangan, seorang manajer dapat dinilai kinerjanya atas dasar tingkat
kepuasan karyawan, moral, dan sebagainya.
Tabel 2.1 : Perbandingan Tipe Informasi Akuntansi Manajemen dan
Pemakaiannya
Tipe Informasi

Pemakaian Informasi

Akuntansi Manajemen
Historis
Informasi Akuntansi

Peyusunan laporan

Penuh

Keuangan untuk pihak luar

Analisis prestasi ekonomi

Masa Depan
Penyusunan program

Keputusan penetapan
harga jual normal

Cost-type contracts
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Informasi Akuntansi

Keputusan pemilihan

Diferensial

alternatif

Imformasi Akuntansi

Analisis prestasi para

Penyusunan

Pertanggungjawaban

manajer

Anggaran

Pemotivasi para manajer
Sumber : R.A. Supriono, Akuntansi Manajemen 2 : StrukturPengendalian Manajemen, Yogyakarta
BPFE-Yogyakarta, 2001, Hal 8

B. Pusat Pertanggungjawaban
Pusat pertanggungjawaban menurut Hansen dan Mowen ( 2005 : 116 )
adalah “Suatu segmen bisnis yang manajernya bertanggung jawab terhadap
serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu”.
Gambar 2.1 : Diagram Masukan-Proses- Keluaran Pusat
Pertanggungjawaban
PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN

Masukan
Sumber yang dipakai
diukur dengan biaya

PROSES
( PENGERJAAN )

Keluaran
Barang dan Jasa

MODAL
(Aktiva/Investasi)

Sumber : R.A. Supriono, Akuntansi Manajemen 2 : StrukturPengendalian Manajemen, Yogyakarta
BPFE-Yogyakarta, 2001, Hal 23

Pusat biaya merupakan suatu pusat pertanggungjawaban dan manajer
hanya bertanggung jawab untuk biaya-biaya. Departemen produksi dalam sebuah
perusahaan manufaktur seperti perakitan, pengecatan, dan lain-lain merupakan
contoh pusat biaya. Supervisi departemen produksi diukur prestasinya
berdasarkan kemampuannya mengendalikan biaya, hal ini dikarenakan bagian
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

produksi mengendaliakan biaya pabrik dan tidak menentukan harga jual atau
membuat keputusan-keputusan pemasaran lainnya.
Pusat pendapatan yaitu pusat pertanggungjawaban dan seorang manajer
hanya bertanggung jawab terhadap penjualan atau perolehan pendapatan. Apabila
penetapan harga jual produk dilakukan perusahaan diluar pusat pendapatan maka
prestasi manajer pusat pendapatan diukur dengan melihat volume penjualan.
Departemen pemasaran pada umumnya bertanggung jawab terhadap pembuatan
poyeksi penjualan namun departemen pemasaran tidak bertanggung jawab dalam
menetapkan harga jual. Oleh karena itu departemen pemasaran dapat dinilai
sebagai pusat pendapatan. Biaya-biaya langsung departemen pemasaran dan
seluruh penjualan merupakan tanggung jawab manajer penjualan. Namun
demikian nilai dan volume penjualan tidak dapat menjadi satu-satunya alat ukur
prestasi pusat pertanggungjawaban ini. Bila hal ini dilakukan maka akan
mendorong manajer untuk mengejar penjualan dengan cara yang mungkin dapat
merugikan perusahaan.
Pusat laba yaitu suatu pusat pertanggungjawaban dimana manajer
bertanggung jawab untuk biaya-biaya dan pendapatan secara bersama-sama. Pusat
laba mempunyai tanggung jawab dan wewenang untuk mengendalikan biaya dan
pendapatan sekaligus untuk ukuran jangka pendek.
Pusat investasi yaitu pusat suatu pusat pertanggungjawaban dimana
manajer bertanggung jawab untuk atau memiliki kendali atas pendapatan, biaya,
dan investasi sekaligus. Manajer pusat pertanggungjawaban ini tidak hanya

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

bertanggung jawab terhadap laba tapi juga diberi tanggung jawab dan wewenang
atas penggunaan modal kerja dan fisik aktiva.
Pusat-pusat pertanggungjawaban diatas dapat digambarkan dalam suatu
struktur pusat pertanggungjawaban guna memperlihatkan batasan antar pusat
pertanggungjawaban dalam suatu organisasi.
Gambar 2.2 : Struktur Pusat Pertanggungjawaban
Pusat Investasi

Pusat Laba

PT. MEDIA MASSA

DIVISI
MAJALAH

DIVISI
TABLOID

PENERBIT
MAJALAH I

PENERBIT
MAJALAH II

Pusat Biaya
PERCETAKAN I
Pusat Pendapatan
PERWAKILAN I

PERWAKILAN II

Sumber : L.M. Samryn, Akuntansi Manajerial, Jakarta, PT. RajaGrafindoPersada, 2002, hal 260

C. Anggaran
Ide pokok akuntansi pertanggungjawaban adalah bahwa setiap manajer
pusat pertanggungjawaban harus bertanggungjawab terhadap elemen-elemen yang
secara

langsung

berada

dibawah

pengendaliannya.

Akuntansi

pertanggungjawaban adalah akuntansi yang didesain secara khusus dan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

diimplementasikan

untuk

menilai

kinerja

manajer

pusat-pusat

pertanggungjawaban. Tanggung jawab manajer adalah pendapatan, biaya, laba,
dan investasi. Agar manfaat akuntansi pertanggungjawaban tercapai maka suatu
organisasi harus secara cermat mengamati dan menggolongkan pendapatan, biaya,
laba, dan investasi sesuai dengan berbagai jenjang manajemen pusat
pertanggungjawaban.
Sesuai dengan ide pokok akuntansi pertanggungjawaban tersebut diatas,
anggaran harus disusun untuk setiap pusat pertanggungjawaban yang ada. Melalui
laporan kinerja, anggaran setiap pusat pertanggungjawaban dibandingkan dengan
realisasinya

sehingga

dapat

ditentukan

kinerja

manajer

setiap

pusat

pertanggungjawaban. Sebagai akibatnya, sistem akuntansi pertanggungjawaban
memandang pendapat, biaya, laba, dan, investasi dari sudut kinerja manajer dan
bukan dipandang dari kinerja ekonomi.
Menurut Supriono ( 2000 : 40 ) “Anggaran adalah suatu rencana terinci
yang disusun secara sistematis dan dinyatakan secara formal dalam ukuran
kuantitatif, biasanya dalam satuan uang untuk menunjukkan perolehan dan
penggunaaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu”.
Penyusunan anggaran sendiri memiliki beberapa tujuan antara lain (M. Nafarin
2004 : 15 ) :
1. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan
investasi dana
2. Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan.
3. Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana,
sehingga dapat memudahkan pengawasan.
4. Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasi yang
optimal.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

5. Menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran
lebih jelas dan nyata terlihat.
6. menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang
berkaiatn dengan keuangan.
Dalam proses penyusunan anggaran manajer pusat pertanggungjawaban
berperan serta dalam menyusun usulan anggaran serta mengadakan negosiasi
dengan manajer diatasnya. Karakteristik anggaran adalah ( Supriono 2000 : 40 ) :
1. Anggaran mengestimasi potensi laba unit bisnis.
2. Anggaran dinyatakan dalam ukuran moneter dan didukung oleh ukuran
nonmoneter.
3. Anggaran biasanya mencakup periode satu tahun.
4. Anggaran merupakan komitmen manajemen untuk menerima tanggung
jawab mencapai tujuan yang dianggarkan.
5. Usulan anggaran dikajiulang dan disahkan oleh manajer dengan
wewenang yang lebih tinggi dari pengusul anggaran.
Anggaran sendiri memiliki beberapa fungsi atau manfaat antara lain (Supriono
2000:42) :
1. Perencanaan kegiatan organisasi atau pusat pertanggungjawaban dalam
jangka pendek.
2. Membantu mengkoordinasikan rencana jangka pendek.
3. Alat
komunikasi rencana kepada
berbagai manajer
pusat
pertanggungjawaban.
4. Alat untuk memotivasi para manajer untuk mencapai tujuan pusat
pertanggungjawabn yang dipimpinnya.
5. Alat pengendalian kegiatan dan penilaian prestasi pusat-pusat
pertanggungjawaban dan para manajernya.
6. Alat pendidikan para manajer.
Anggaran selain mempunyai banyak manfaat, juga memiliki kelemahan antara
lain ( M. Nafarin 2004 : 16 )
1. Anggaran dibuat berdasarkan taksiran dan asumsi, sehingga mengandung
unsur ketidakpastian.
2. menyusun anggaran yang cermat memerlukan waktu, uang, dan tenaga
yang tidak sedikit, sehingga tidak semua perusahaan mampu menyusun
anggaran secara lengkap ( komprehensif ) dan akurat.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

3. pihak yang merasa dipaksa untuk melaksanakan anggaran dapat
menggerutu dan menentang, sehingga pelaksanaan anggaran dapat
menjadi kurang efektif.
Anggaran sendiri dapat dikelompokkan dari beberapa sudut pandang sebagai
berikut ( M. Nafarin 2004 : 22 ) :
1. Menurut dasar penyusunan.
 Anggaran variable, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval
kapasitas tertentu yang dapat disesuaikan pada tingkat aktivitas yang
berbeda.
 Anggaran tetap, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat
kapasitas tertentu.
2. Menurut cara penyusunan.
 Anggaran periodik, yaitu anggaran yang disusun untuk setiap satu
periode tertentu yang disusun setiap akhir anggaran.
 Anggaran kontinu, yaitu anggaran yang dibuat untuk memperbaiki
yang telah dibuat.
3. Menurut jangka waktu.
 Anggaran jangka pendek, yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka
waktu paling lama sampai satu tahun.
 Anggaran jangka panjang, yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka
waktu lebih dari satu tahun.
4. Menurut bidangnya.
 Anggaran induk ( master budget ), yaitu konsolidasi rencana
keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek, terdiri atas
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009



Anggaran operasional, yaitu anggaran untuk menyusun anggaran
laporan laba rugi, terdiri atas anggaran penjualan, anggaran biaya
pabrik, anggaran beban usaha, dan anggaran laporan laba rugi.



Anggaran keuangan, anggaran untuk menyusun anggaran neraca,
terdiri atas anggaran kas, anggaran piutang, anggaran persediaan,
anggaran utang, dan anggaran neraca.

5. Menurut kemampuan menyusun.
 Anggaran komprehensif, yaitu rangkaian dari berbagai macam
anggaran yang disusun secara lengkap.
 Anggaran parsial, yaitu anggaran yang disusun tidak secara lengkap
dan hanya menyusun bagian anggaran tertentu saja.
6. Menurut fungsinya.
 Anggaran apropriasi, yaitu anggaran yang dibentuk untuk tujuan
tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain.
PT. IQRA
Anggaran Neraca Penelitian dan Pengembangan
Tahun 1997
( Persentase dari Seluruh Kegiatan Berdasarkan Area )
TAHAP

Pengurangan

Perbaikan

Biaya

Produk

A

B

C

A

B

Produksi Baru

Juml
ah

C

A

B

C

Penelitian Terapan

4% 3% 3% 2% 4% 4% 1% 1% 3%

25%

Pengembangan

5% 12% 3% 4% 1%

-

2%

-

3%

30%

Penelitian Dasar

7% 6% 2% 5%

-

10%

-

15% 45%

-

Jumlah/jenis produksi 16% 21% 8% 11% 5% 4% 13% 1% 21% 100
Jumlah per Area

%

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

45%

20%

35%

100
%

Sumber M. Nafarin, Penganggaran Perusahaan, Jakarta, Salemba Empat, 2000,

 Anggaran kinerja, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan fungsi
kegiatan yang dilakukan dalam organisasi. Berguna agar perusahaan
dapat bekerja dengan anggaran biaya yang telah dianggarkan dan juga
berguna untuk menilai kinerja suatu unit bisnis. Misalkan PT. ABC
menempati sebuah bangunan yang digunakan untuk berbagai macam
kegiatan antara lain produksi, administrasi, dan pelaksanaan penjualan.
Untuk itu disusun suatu anggaran biaya eksploitasi bangunan tersebut
yang kemudian dialokasikan pada tiap-tiap kegiatan.
PT. ABC
Anggaran Jasa Bangunan
Untuk Tahun yang Berakhir pada tanggal 21-12-1992
Gaji Penyedia

Rp. 24.000,00

Reparasi dan Pemeliharaan

18.000,00

Depresiasi

60.000,00

Asuransi

3.000,00

Pajak

2.000,00

Gaji

27.000,00

Pembakaran

14.000,00

Air
Jumlah

2.000,00
Rp.150.000,00

Distribusi biaya penempatan
( Berdasarkan luas lantai )
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Bagian Penjualan ( 20% )

Rp.30.000,00

Bagian Administrasi ( 20% )

30.000,00

Bagian Pabrik ( 60% )

90.000,00

Jumlah

Rp.150.000,00
Anggaran Kinerja

Pada umumnya, pada suatu perusahaan yang sudah cukup besar, terdapat
tiga pihak utama yang terkait dalam penyususn anggaran yaitu komite anggaran,
departemen anggaran, dan para manajer pusat pertanggungjawaban. Penyusunan
rancangan anggaran dikoordinasikan dan diadministrasikan oleh komite anggaran
dan departemen anggaran. Komite anggaran adalah suatu unit organisasi yang
mengkoordinasikan berbagai jenis usulan anggaran dari berbagai pusat
pertanggungjawaban untuk kemusian disusun menjadi rancangan anggaran induk.
Komite anggaran mempunyai tugas sebagai berikut
1. Merumuskan sasaran anggaran dan kebijakan pokok perusahaan untuk
tahun anggaran.
2. Menyampaikan informasi mengenai tujuan dan kebijakan pokok tersebut
kepada para manajer pusat pertanggungjawaban
3. Menelaah rancangan anggaran yang diajukan oleh para manajer pusat
pertanggungjawaban
4. Melakukan negosiasi dengan para manajer pusat pertanggungjawaban
mengenai rancangan anggaran yang mereka ajukan
5. Mengajukan rancangan anggaran final perusahaan kepada dewan
komisaris dan rapat umum pemegang saham

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

6. Menelaah anggaran yang telah disetujui oleh dewan komisaris dan rapat
umum pemegang saham
7. Melakukan negosiasi dengan para manajer pusat pertanggungjawaban
mengenai anggaran yang telah disahkan oleh rapat umum pemegang
saham
8. Melakukan revisi anggaran sesuai dengan kebijakan rapat umum
pemegang saham
Penyusunan dan pengawasan anggaran memerlukan unit organisasi yang
menangani administrasi anggaran, fungsi ini dipegang oleh departemen anggaran
yang mempunyai tugas sebagai berikut
1. Menerbitkan prosedur dan formulir untuk menyiapkan rancangan
anggaran setiap pusat pertanggungjawaban
2. mengkoordinasikan dan menerbitkan asumsi-asumsi yang dipakai sebagai
dasar penyusunan anggaran perusahaan
3. membantu setiap manajer pusat pertanggungjawaban dalam menyusun
rancangan anggaran pusat pertanggungjawaban
4. Mengolah rancangan anggaran pusat pertanggungjawaban menjadi
anggaran induk
5. menganalisa rancangan anggaran dan memberikan rekomendasi kepada
komite anggaran
6. menganalisa realisasi anggaran, menafsirkan hasil-hasilnya, dan membuat
laporan ringkas mengenai hasil analisanya kepada direksi

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

7. mengadministrasikan proses perubahan dan

penyesuaian terhadap

anggaran perusahaan
Anggaran pertanggungjawaban menentukan rencana aktivitas-aktivitas
yang akan dilaksanakan oleh setiap pusat pertanggungjawaban. Anggaran
pertanggungjawaban merupakan alat yang baik untuk pengendalian karena dengan
anggaran ini prestasi yang diharapkan untuk suatu pusat pertanggungjawaban
dibandingkan

dengan

prestasi

sesungguhnya.

Anggaran

pusat

pertanggungjawaban disusun sesuai dengan jenis-jenis pusat pertanggungjawaban
yang ada. Skripsi ini hanya membahas mengenai pusat pertanggungjawaban
pendapatan maka anggaran yang diperlukan adalan anggaran pendapatan atau
penjualan.
Menurut Don R. Hansen, dan Maryanne M Mowen ( 2000 : 355 )
“Anggaran penjualan ( Sales Budget ) adalah proyeksi yang memuat prakiraan
penjualan dalam unit dan satuan moneter yang disetujui oleh komite anggaran”.
Anggaran penjualan merupakan dasar penyusunan anggaran lainnya dan
umumnya disusun terlebih dahulu sebelum menyusun anggaran lainnya. Pusat
pertanggungjawaban pendapatan memiliki dua macam anggaran yaitu anggaran
biaya pemasaran dan anggaran pendapatan. Anggaran biaya pemasaran
merupakan anggaran pusat biaya kebijakan. Anggaran pendapatan berisi proyeksi
volume penjualan dikalikan harga jual yang diharapkan. Anggaran penjualan
merupakan elemen anggaran laba-rugi yang paling kritis dan sekaligus paling
besar ketidakpastiannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi volume penjualan
biasanya dapat dikendalikan oleh manajer pusat pendapatan sehingga manajer
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

tersebut dapat mengendalikan volume penjualan. Sedangkan faktor yang
mempengaruhi harga jual produk biasanya tidak dapat dikendalikan oleh manajer
pusat pendapatan. Anggaran pendapatan mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Anggaran

dirancang

untuk

mengukur

efektifitas

pemasaran.

Penyimpangan yang tidak menguntungkan berarti volume penjualan atau
harga

jual

sesungguhnya

lebih

rendah

dibanding

dengan

yang

dianggarkan.
2. manajer pusat pertanggungjawaban tidak dapat bertanggungjawab secara
lengkap atas pencapaian sasaran pendapatan. Ketidakpastian pasar berada
diluar kendali manajer pusat pendapatan.
Titik kritis penyusunan anggaran penjualan adalah membuat peramalan
penjualan karena anggaran penjualan didasarkan pada peramalan penjualan.
Peramalan penjualan lebih luas dibandingkan dengan anggaran penjualan. Selain
ramalan penjualan, faktor-faktor berikut perlu dipertimbangkan karena dapat
berpengaruh terhadap penjualan antara lain :
1. Faktor pemasaran
Faktor pemasaran yang perlu dipertimbangkan antara lain
 Luas pasar, apakah bersifat local, regional, atau nasional
 Keadaan persaingan, apakah besifat bebas, monopoli, atau oligopoli
 Keadaan konsumen, bagaimana selera konsumen, apakah konsumen
akhir, atau merupakan konsumen industri
2. Faktor keuangan

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

 Apakah modal kerja perusahaan mampu untuk mencapai target yang
dianggarkan, seperti untuk membeli bahan baku, membayar upah
tenaga kerja, promosi produk, dan lain sebagainya
3. Faktor ekonomis
 Yaitu dengan memperhatikan apakah dengan adanya peningkatan
penjualan akan ada peningkatan laba atau malah sebaliknya
4. Faktor teknis
 Dengan kapasitas terpasang seperti mesin dan alat-alat lainnya,
perusahaan dapat memenuhi target penjualan yang dianggarkan
 Apakah terdapat ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja yang murah
dan mudah
5. Faktor lainnya
Yang harus diperhatikan pada faktor ini antara lain
 Apakah pada musim tertentu anggaran penjualan perlu ditambah
 Apakah kebijaksanaan pemerintah tidak berubah
 Sampai berapa lama anggaran yang disusun dapat bertahan.
Dilihat dari sudut siapa yang menyusun anggaran penjualan maka dikenal
tiga pendekatan yang berbeda dalam menyusun anggaran penjualan yaitu :
1. Pendekatan atas bawah ( Top Down Approach )
Dalam pendekatan ini, anggaran penjualan disusun pada jenjang yang
lebih tinggi yaitu pada level direktur atau setingkat direktur tanpa adangya
masukan yang berarti dari manajer dan karyawan pada level yang lebih
rendah.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

2. Pendekatan Bawah Atas ( bottom Up Approach )
Merupakan kebalikan dari pendekatan Atas Bawah, dimana anggaran
disusun dari manajer dan karyawan pada level yang lebih rendah yaitu
manajer pemasaran.
3. Pendekatan Campuran
4. Yaitu anggaran disusun mulai dari manajer level atas atau setingkat direksi
kemudian dilengkapi oleh manajer pemasaran.
Sedangkan dilihat darimana perusahaan mulai menyusun anggaran
penjualan maka ada beberapa cara untuk menyusun anggaran penjualan antara
lain :
1. Apriori
Dalam metode ini penyusunan anggaran penjualan dimulai dari penetapan
angka laba yang diinginkan oleh perusahaan untuk periode tersebut, lalu
diikuti dengan estimasi kuantitas penjualan dan estimasi harga per unit
produk yang memungkinkan perusahaan mencapai laba yang telah
ditetapkan.
2. A Posteriori
Dalam metode ini, penyusunan anggaran penjualan dimulai dari
perhitungan estimasi kuantitas penjualan dan harga per unit produk.
Setelah penghitungan kedua komponen tersebut kemudian perusahaan
menghitung estimasi jumlah laba.
3. Pragmatis

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Dimetode ini penyusunan anggaran penjualan ditetapkan berdasarkan
pengalaman masa lalu. Penetapan anggaran penjualan dilakukan secara
ilmiah berdasarkan standar yang dihitung secara ilmiah atau berdasarkan
tahun-tahun sebelumnya.
Selisih antara anggaran dengan realisasinya dapat dipecahkan kedalam
selisih menguntungkan ( favorable variance ) dan selisih merugikan ( unfavorable
variance ). Selisih yang terjadi antara anggaran dengan realisasinya dilaporkan
kepada manajemen melalui sistem pelaporan kinerja.
D. Penilaian Kinerja
Menurut Sukarno ( 2002 : 207 ) “Penilaian kinerja adalah kegiatan untuk
menilai kesuksesan atau kegagalan suatu pusat pertanggungjawaban atau unit
kerja dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diembannya”.
Sedangkan Mulyadi ( 2001 : 353 ) mengatakan “Penilaian kinerja adalah
penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian
organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran standar dan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.”
Meskipun beberapa perusahaan menganggap kinerja divisi ekuivalen
dengan kinerja manajernya, terdapat alasan yang kuat untuk membedakan
keduanya. Sering kali divisi berkaitan dengan faktor-faktor yang berada di luar
kendali manajer. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mengaitkan
kompensasi manajerial dengan faktor-faktor yang berada dalam kendali manajer.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Ukuran kinerja yang baik bersifat komprehensif dan meliputi ukuranukuran finansial dan non-finansial. Oleh karena itu ukuran kinerja sebaiknya
( samryn 2001 : 262) :
Relevan dengan sasaran atau target perusahaan.
Dapat diperngaruhi oleh tindakan para manajer.
Objektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
Dapat dimengerti oleh manajer.
mencakup aspek-aspek penting dari kinerja tanpa menimbulkan konflik
dengan pihak lain.
6. dapat digunakan untuk menilai dan memberikan penghargaan kepada para
manajer.
7. dapar digunakan secara reguler dan berkelanjutan.
8. memperhatikan keseimbangan jangka panjang dan jangka pendek.
Manfat penilaian kinerja antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efesien melalui
pemotivasian karyawan secara maksimal.
2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan,
seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.
3. mengidentifikasikan kebutuhan, pelatihan, dan pengembangan karyawan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
4. menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan
mereka menilai kinerja mereka.
5. menyediakan suatu standar dasar bagi distribusi penghargaan.
Dalam menilai kinerja terdapat beberapa ukuran yaitu :
1. Ukuran Tunggal
Dimana kinerja diukur hanya dengan menggunakan satu ukuran.
Penggunaan kriteria ini dapat menyebabkan manajer hanya berusaha
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

mencapai kriteria yang ditetapkan dan tidak memperhitungkan kriteria
lainnya.
2. Kriteria Beragam
Penilaian kinerja menggunakan beberapa ukuran antara lain profitabilitas,
produktifitas, dan pangsa pasar.
3. Ukuran Gabungan
Yaitu dengan menghitung bobot masing-masing ukuran dan menghitung
rata-ratanya sebagai ukuran kinerja manajer.
Telah disebutkan sebelumnya prestasi manajer pusat pendapatan diukur
atas dasar pendapatan yang dicapainya, sedangkan biaya yang menjadi tanggung
jawabnya hanyalah biaya yang dapat dikendalikan langsung oleh pusat
pendapatan. Penilaian prestasi manajer tersebut dilakukan dengan cara
membandingkan anggaran pendapatan dengan realisasinya. Selisih antara
anggaran pendapatan dengan realisasinya dianalisis untuk mengetahui penyebab
timbulnya selisih tersebut. Selisih tersebut antara lain disebabkan oleh selisih
harga jual, selisih volume penjualan, selisih komposisi penjualan, selisih volume
penjualan final, dan selisih pasar industri, dan selisih pangsa pasar.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Gambar 2.3 : Skema Analisis Selisih Pendapatan
Anggaran Pendapatan
Penjualan

Pendapatan Penjualan
Sesungguhnya

Rp. 500.000,00

Rp. 516.000,00
Selisih Pendapatan
Penjualan
Rp. 16.000,00

Selisih Harga Jual

Selisih Volume Penjualan

Rp. 6.000,00

Rp. 10.000,00
Selisih Komposisi
Penjualan

Selisih Volume
Penjualan Final

( Rp. 15.000,00 )

Rp. 25.000,00

Selisih Pasar
Industri

Selisih Pangsa
Pasar

Rp. 20.000,00

Rp. 5.000,00

Sumber : R.A. Supriono, Akuntansi Manajemen 2 : StrukturPengendalian Manajemen, Yogyakarta
BPFE-Yogyakarta, 2001, Hal 47

Departemen pemasaran pada suatu divisi atau suatu perusahaan pada
umumnya dipandang sebagai pusat pendapatan sehingga manajernya mempunyai
tanggung jawab utama untuk mencapai anggaran pendapatan atau penjualan yang
dianggarkan. Namun jika pengukuran prestasi manajer pemasaran hanya
didasarkan pada pendapatan saja dapat menyebabkan manajer yang bersangkutan
menjual dengan harga murah untuk menaikkan penjualan sehingga hal ini akan
menyebabkan naiknya penjualan namun tidak diikuti dengan kenaikan laba secara
proporsional.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Sehingga timbul pandangan yang lebih luas dalam menilai prestasi
manajer pemasaran, yaitu dengan melihat kemampuan manajer pemasaran dalam
menghasilkan laba bruto dan bekerja dalam batas anggaran biaya pemasaran yang
telah ditentukan. Penilaian prestasi manajer pemasaran menggunakan laba bruto
dipengaruhi oleh harga pokok yang digunakan, yaitu :
1. Konsep Biaya Penuh
Prestasi manajer pemasaran dianalisis kemampuannya untuk menghasilkan
laba bruto sehingga ditentukan besarnya selisih laba bruto. Laba bruto
adalah selisih antara pendapatan penjualan dikurangi harga pokok
penjualan.
2. Konsep Biaya Variabel
Prestasi manajer pemasaran dianalisis kemampuannya untuk menghasilkan
laba kontribusi bruto sehingga ditentukan besarnya selisih kontribusi
bruto. Kontribusi bruto adalah selisih antara pendapatan penjualan
dikurangi harga pokok penjualan variabel.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Tabel 2.2 : Anggaran Laba Bruto
PT. BENTARA KASIH
Keterangan

Produk A

Produk B

Jumlah

Penjualan
1000 x Rp. 200

Rp. 200.000

1000 x Rp. 300

Rp. 300.000

Rp. 500.000

Rp. 220.000

Rp. 350.000

Rp. 80.000

Rp. 150.000

HPP Standar
1000 x Rp. 130

Rp. 130.000

1000 x Rp. 220
Laba Bruto
1000 x Rp. 70

Rp. 70.000

1000 x Rp. 80

Tabel 2.3 : Laba Bruto Sesungguhnya
PT. BENTARA KASIH
Keterangan

Produk A

Produk B

Jumlah

Penjualan
1200 x Rp. 190

Rp. 228.000

900 x Rp. 320

Rp. 288.000

Rp. 516.000

Rp. 198.000

Rp. 354.000

Rp. 90.000

Rp. 162.000

HPP Standar
1200 x Rp. 130

Rp. 156.000

900 x Rp. 220
Laba Bruto
1200 x Rp. 60
900 x Rp. 100

Rp. 72.000

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Dari data diatas dapat dihitung laba bruto PT. BENTARA KASIH
Selisih Laba Bruto = Laba Bruto yang Dianggarkan – Laba Bruto
Sesungguhnya
= Rp. 150.000 – Rp. 162.000
= Rp. 12.000 Laba
Total selisih laba bruto suatu dalam suatu departemen pemasaran dalam suatu
organsasi dapat dianalisis lebih lanjut kedalam :
1. Selisih Laba Bruto Per Unit.
Selisih ini timbul karena perbedaan antara laba bruto per unit yang
dianggarkan dengan laba bruto per unit yang sesungguhnya.
Selisih Laba Bruto Per Unit = KS ( LBA – LBS )
KS

: Kuantitas atau volume penjualan sesungguhnya

LBA : Laba bruto per unit yang dianggarkan
LBS

: Laba bruto per unit yang sesungguhnya

2. Selisih Volume Laba Bruto.
Selisih ini disebabkan karena adanya perbedaan antara volume penjualan
dianggarkan dengan volume penjualan sesungguhnya. Selisi ini disebut
juga selisih volume bersih.
Selisih Volume Laba Bruto = ( KA –KS ) LBA
KS

: Kuantitas atau volume penjualan sesungguhnya

KA

: Kuantitas atau volume penjualan yang dianggarkan

LBA : Laba bruto per unit yang dianggarkan
3. Selisih Komposisi Laba Bruto.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Selisih ini timbul karena jenis produk tertentu menghasilkan laba bruto per
unit yang lebih besar dibandingkan dengan jenis produk yang lain dan
komposisi produk yang sesungguhnya pada berbagai laba bruto per unit
berbeda dengan komposisi yang dianggarkan.
Selisih Komposisi Laba Bruto = ( KAJ – KSJ ) LBA
KSJ : Kuantitas penjualan sesungguhnya untuk setiap jenis produk yang
dijual
KAJ : Kuantitas penjualan yang dianggarkan untuk setiap jenis produk
yang dijual
LBA : Laba bruto per unit yang dianggarkanuntuk setiap jenis produk
E. Pelaporan Kinerja
Dalam laporan kinerja pribadi, dibandingkan kinerja sresungguhnya suatu
pusat pertanggungjawaban dengan kinerja yang seharusnya dicapai dibawah
kondisi

tertentu,

penyebab

terjadinya

perbedaan,

dan

jika

mungkin

dikuantitatifkan.
Oleh karena itu laporan kinerja pribadi memuat tiga macam informasi ( Supriono,
2000 : 138 ) :
1. Informasi kinerja yang sesungguhnya dicapai.
2. Informasi kinerja yang seharusnnya dicapai.
3. penyebab perbedaan antara kinerja yang sesungguhnya dengan yang
diharapkan.
Sistem pelaporan yang baik mempunyai karakteristik sebagai berikut
1. Laporan menyajikan selisih antara anggaran deangan realisasinya, faktorfaktor penyebab selisih, dan manajer yang bertanggungjawab.
2. Laporan mencakup ramalan tahunan.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

3. Laporan mencakup penjelasan mengenai penyebab selisih, tindakan
koreksi atas selisih, dan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan
tindakan koreksi secara efektif.
Dalam laporan penilaian kinerja ada syarat yang harus dipenuhi :
1. laporan kinerja untuk manajemen tingkat bawah harus berisi informasi
yang rinci dan laporan kinerja untuk manajemen tingkat atas harus berisi
informasi yang lebih ringkas. Semakin tinggi jenjang manajer semakin
ringkas isi laporan kinerjanya.
2. lapoaran kinerja harus berisi unsur terkendali dan unsur tidak terkendali
yang disajikan secara terpisah, sehingga manajer yang bertanggung jawab
atas kinerja dapat dimintai pertanggungjawaban atas unsur-unsur yang
terkendali olehnya.
3. laporan kinerja harus mencakup penyimpangan, baik yang menguntungkan
maupun yang merugikan.
4. laporan kinerja sebaiknya diterbitkan paling tidak satu bulan sekali.
Penerbitan kurang dari periode satu bulan dapat dilakukan dalam keadaan
khusus yang memerlukan perhatian segera dan perubahan segera terhadap
perilaku manajer.
5. laporan kinerja harus disesuaikan dengan kebutuhan dan pengalaman
pemakai.
6. penyajian laporan kinerja sebaiknya memperhatikan kemampuan penerima
dalam memahami laporan tersebut.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Sesuai

dengan

struktur

organisasi

suatu

perusahaan,

laporan

pertanggungjawaban dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu laporan
pertanggungjawaban untuk organisasi fungsional dan divisional. Bentuk dari
laporan pertanggungjawaban tersebut dapat disajikan sebagai berikut
Tabel 2.4 : Laporan Pertanggungjawaban Organisasi fungsional
PT. Permata
Laporan Kinerja Direktur Bulan Januari 2xx1
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Pusat Pendapatan :
Departemen Pemasaran
Pusat Biaya :
Direktur
Departemen Pemasaran I
Departemen Produksi
Departemen Keuangan
Jumlah Biaya Terkendali
Laba Total

Selisih

500.000,00

502.000,00

2.000,00

25.000,00
25.000,00
165.000,00
85.000,00
400.000,00
100.000,00

24.000,00
28.000,00
164.800,00
84.000,00
400.800,00
101.200,00

1.000,00
(3.000,00)
200,00
1.000,00
(800,00)
1.200,00

PT. Permata
Laporan Kinerja Departemen Produksi Bulan Januari 2xx1
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Selisih
Pusat Biaya :
Kepala Departemen
10.000,00
8.000,00
2.000,00
Seksi Proses B
40.000,00
41.000,00 (1.000,00)
Seksi Proses A
70.000,00
71.300,00 (1.300,00)
Seksi Jasa X
25.000,00
23.500,00
1.500,00
20.000,00
21.000,00 (1.000,00)
Seksi Jasa Y
165.000,00
164.800,00
Jumlah Biaya Terkendali
200,00
PT. Permata
Laporan Kinerja Seksi Proses A
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Jenis Biaya :
Bahan Baku
Tenaga Kerja Langsung
Overhead Pabrik
Jumlah Biaya Terkendali

30.000,00
15.000,00
25.000,00
70.000,00

29.900,00
15.400,00
26.000,00
71.300,00

Selisih
100,00
(400,00)
(1.000,00)
(1.300,00)

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Tabel 2.5 : Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Divisional
PT. Intania
Laporan Kinerja Direksi Bulan Januari 2xx1
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Kantor Direksi (Pusat) :
(80.000,00)
(78.400,00)
Divisi Laba I
120.000,00
122.000,00
Divisi Laba II
100.000,00
99.000,00
Laba Total Perusahaan
140.000,00
142.600,00

Selisih
1.600,00
2.000,00
(1.000,00)
2.600,00

PT. Intania
Laporan Kinerja Divisi Laba Bulan Januari 2xx1
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Selisih
Pusat Pendapatan :
Departemen Pemasaran
520.000,00
517.000,00 (3.000,00)
Pusat Biaya :
Direktur
25.000,00
24.000,00
1.000,00
Departemen Pemasaran I
75.000,00
72.000,00
3.000,00
Departemen Produksi
225.000,00
226.000,00 (1.000,00)
Departemen Keuangan
75.000,00
73.000,00
2.000,00
Jumlah Biaya Terkendali
400.000,00
395.000,00
5.000,00
Laba Total
120.000,00
122.000,00
2.000,00
PT. Intania
Laporan Kinerja Departemen Produksi Bulan Januari 2xx1
( Angka Rupiah dalam Ribuan )
Anggaran Sesungguhnya
Selisih
Pusat Biaya :
Kepala Departemen
15.000,00
13.000,00
2.000,00
Seksi Proses A
80.000,00
79.000,00
1.000,00
Seksi Proses B
75.000,00
76.300,00 (1.300,00)
Seksi Jasa X
25.000,00
26.500,00 (1.500,00)
Seksi Jasa Y
30.000,00
31.200,00 (1.200,00)
Jumlah Biaya Terkendali
225.000,00
226.000,00 (1.000,00)
PT. Intania
Laporan Kinerja Seksi Proses A
Anggaran Sesungguhnya
Jenis Biaya :
Bahan Baku
Tenaga Kerja Langsung
Overhead Pabrik
Jumlah Biaya Terkendali

35.000,00
20.000,00
25.000,00
80.000,00

35.100,00
19.400,00
24.500,00
79.000,00

Selisih
(100,00)
600,00
500,00
1.000,00

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan
dengan cara menguraikan sifat-sifat dan karakteristik suatu objek penelitian
B. Jenis data
a. Data primer, yaitu data mentah yang diperoleh dari perusahaan atau data
yang terjadi di lapangan yang kemudian diolah oleh penulis. Yang menjadi
data primer yaitu wawancara.
b. Data skunder, yaitu berupa data yang diperoleh perusahaan dalam bentuk
yang sudah jadi yang tidak perlu diolah lagi, seperti struktur
organisasi,laporan keuangan, flowchart, dan lain-lain.
C. Teknik pengumpulan data
c. Teknik wawancara, dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung
dengan pihak perusahaan, khususnya pada bagian yang berkaitan dengan
penelitian.
d. Teknik observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan secara langsung
terhadap objek yang diteliti dalam hal ini akuntansi pertanggungjawaban
dalam penilaian kinerja pusat investasi PT. Rajawali Nusindo cabang
Medan.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

D. Metode penganalisaaan data
Analisa yang dilakukan dengan metode deskriptif yaitu metode penganalisaan
data dimana data dikumpulkan, diinterpretasikan, dianalisis, sehingga
memberi keterangan bagi pemecahan masalah yang dihadapi.
E. Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan pada PT. Rajawali Nusindo cabang Medan. Jalan Raya
Binjai KM. 5 No. 146.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Data Penelitian
1. Gambaran Umum PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan
o Sejarah Singkat dan Aktivitas Perusahaan
Berdirinya PT Rajawali Nusantara Indonesia (Nusindo) berawal dari usaha
Oei Tjien Sien, seorang pedagang gula di Semarang pada tahun 1863 dengan
badan usaha bernama NV Handel My Kian Gwan yang kemudian diwariskan
kepada putranya Oei Tiong Ham pada tahun 1885. Pada tahun 1961 perusahaan
ini dinasionalisasikan oleh pemerintah Republik Indonesia dan pada tahun 1964
namanya diubah menjadi PT Rajawali Nusantara Indonesia (Nusindo).
Perkembangan PT Rajawali Nusindo dewasa ini telah tumbuh menjadi
suatu perusahaan yang terpercaya di bidang agroindustri, farmasi/ alat kesehatan,
dan kemudian mengembangkan usahanya pada bidang perdagangan umum dan
lain-lain. Di samping itu pula PT Rajawali Nusindo juga tetap menyandang citra
historisnya sebagai produsen gula terbesar di Indonesia. PT Rajawali Nusindo
sempat meraih sukses di bidang real estate dan property, namun kemudian usaha
ini tidak lagi diprioritaskan sejak tahun 1997 karena PT Rajawali Nusindo
berkonsentrasi pada bisnis unggulannya, yaitu angroindustri dan farmasi/ alat
kesehatan. Bidang usaha yang berorientasi pada ekspor telah banyak
meningkatkan pendapatan perusahaan, dan manajemen perusahaan menetapkan
kebijakan baru untuk kembali mengutamakan agro industri, farmasi/ alat
kesehatan dan perdagangan sebagai bisnis yang diunggulkan perusahaan.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Sebagai

perusahaan

dinamis

yang

senantiasa

memproyeksikan

pertumbuhan, PT. Rajawali Nusindo melakukan upaya-upaya kompetitif dengan
meningkatkan kualitas produk-produknya. Bidang usaha perusahaan sangat
beragam, antara lain: agroindustri, farmasi dan alat kesehatan, perdagangan dan
property. Agroindustri sendiri meliputi berbagai bidang, seperti gula, kelapa
sawit, karet dan teh. Belakangan ini telah pula dikembangkan agro-medicine,
yang memadukan agroindustri dengan farmasi.
PT Rajawali Nusindo Cabang Medan, yang beralamat di Jl. Raya Binjai
KM 5 No. 146 Medan dengan kode pos 20123, adalah salah satu dari 26 kantor
cabang PT Rajawali Nusindo (Persero) yang berkantor pusat di Jakarta. Kegiatan
usaha dilakukan oleh kantor cabang perusahaan sesuai dengan anggaran dasar
masing-masing dengan bidang usaha seperti industri gula, perdagangan umum,
farmasi, asuransi, budidaya karet, apotek, pergudangan, kulit, pengolahan dan
pengusahaan perusahaan dan investasi.
PT Rajawali Nusindo merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 1974 dengan Akte
Notaris No. 5 tanggal 21 Mei 1976 dengan bentuk badan hukum perusahaan
perseroan (persero) dan telah mendapat pengesahan Menteri Kehakiman No. C
24260 – HT – 01 – 04 tahun 1983 pada tanggal 3 Juni 1983.
Kebijakan umum dari kantor cabang ditentukan oleh Direksi kantor pusat,
sedangkan kebijakan usaha yang memiliki otoritas operasional dan administrasi
sebagai badan hukum yang berdiri sendiri. PT Rajawali Nusindo ini dibentuk
berdasarkan Keputusan Direksi No. KEP 1200.PKP/WPI.024/KI/811/1985 dan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

surat izin dari Departemen Perdagangan SIUP 35/051 – UPD.1/CAB/IX/1998
dengan bidang usaha distributor obat-obatan dan alat-alat kesehatan dengan izin
operasional sebagai Perusahaan Besar Farmasi (PBF) No. 31.088/PBF/III/1991.
Daerah pemasaran PT Rajawali Nusindo Cabang Medan adalah wilayah
Sumatera Utara dan Aceh. Obat-obat yang dipasarkan perusahaan meliputi
berbagai klasifikasi obat yang ditetapkan Departemen Kesehatan, yaitu obat keras
(obat-obatan daftar O), obat daftar G, obat bebas terbatas, dan obat bebas. Obat
daftar O merupakan obat keras yang diperjualbelikan PBF atau apotek tertentu.
Obat-obatan ini hanya disalurkan ke rumah sakit atau PBF yang telah mendapat
izin khusus dari Departemen Kesehatan. Obat daftar G merupakan obat yang
pembeliannya harus menggunakan resep dokter dan pemakaiannya sesuai dengan
petunjuk dokter. Obat bebas terbatas dapat dibeli tanpa menggunakan resep
dokter, yang dapat disalurkan semua PBF dan dapat diperjualbelikan ke apotek
atau toko obat. Pada pembungkusannya dicantumkan ‘awas obat keras’ dan aturan
pemakaiannya. Sedangkan obat bebas dapat diperjualbelikan tanpa resep dokter.
Sesuai dengan peraturan yang ada bahwa PBF tidak boleh menjual produknya ke
konsumen akhir, maka pelanggan perusahaan adalah PBF (sebagai sub agen),
apotek, toko obat, laboratorium, rumah sakit, poliklinik, klinik dan dokter.
PT Rajawali Nusindo Cabang Medan sebagai distributor obat-obatan
menggunakan strategi differensial marketing, dimana dalam aktivitasnya
perusahaan berhadapan dengan tiga pasar, yaitu:
a. Pasar Produsen, yaitu pasar dimana pembeli membeli obat untuk dioleh
kembali. Yang termasuk dalam pasar ini adalah apotek, yang merupakan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

sasaran perusahaan dalam memasarkan obat-obatan daftar G maupun
obat

bebas.

Apotek membeli obat

dari perusahaan kemudian

mengolahnya sesuai dengan kebutuhan konsumen atau menurut resep
dokter. Penjualan ke apotek mempunyai kegiatan rutin. Para salesman
dari perusahaan selalu memeriksa daftar obat-obatan yang akan
dibutuhkan atau yang sudah habis di apotek-apotek, kemudian para
salesman ini akan menawarkan obat-obatan dari perusahaan. Jika
disetujui maka perusahaan akan mengirimkan obat-obatan tersebut
secepatnya ke apotek. Di samping itu, apotek juga melakukan
pemesanan langsung ke perusahaan.
b. Pasar Penjual, yaitu pasar yang membeli obat-obatan dari perusahaan
kemudian menjual kepada konsumen. Yang termasuk pasar penjual ini
adalah toko obat atau apotek. Penjualan ke toko obat merupakan
kegiatan rutin melalui pemesanan langsung ke perusahaan. Biasanya
yang dibeli oleh toko obat adalah obat-obatan yang telah dikenal oleh
masyarakat dan tidak perlu resep dokter.
c. Pasar Pemerintah. Yang termasuk di dalamnya adalah rumah sakit dan
proyek-proyek pengadaan obat-obatan dan alat-alat kesehatan, yang
dibiayai oleh APBN atau APBD. Perusahaan menyalurkan produknya,
biasanya setelah ditunjuk sebagai pemenang tender pengadaan obat oleh
kepala rumah sakit atau pemimpin proyek. Penjualan biasanya dilakukan
di bawah harga pasar karena dilakukan dalam jumlah besar.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

o Struktur Organisasi Perusahaan dan Pembagian Tugas
Setiap perusahaan, baik perusahaan negara maupun swasta, mempunyai
struktur organisasi. Dengan adanya struktur organisasi maka perusahaan akan
mempunyai kesatuan tindakan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya secara
efisien dan efektif dalam mencapai tujuan perusahaan. Tugas dan wewenang dari
setiap karyawan akan jelas dan dapat mengerjakan tanggung jawabnya masingmasing demi mencapai tujuan perusahaan.
Struktur organisasi perusahaan yang digunakan PT Rajawali Nusindo
adalah berbentuk garis dan staff, dimana kekuasaan dan tanggung jawab mengalir
dalam suatu garis bagian pada masing-masing bagian bertanggung jawab kepada
bagian yang lebih tinggi.
Berikut ini diuraikan mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari
bagian-bagian pada PT Rajawali Nusindo Cabang Medan:
a. Kepala Cabang
1. Menyusun target ataupun anggaran tahunan sesuai pengarahan dari
kantor pusat dengan menginstruksikan pembentukan tim anggaran
dan melaksanakan program-program keuangan dan administrasi
sesuai dengan sasaran kerjanya
2. Melaksanakan pengurusan atas pekerjaan distribusi, administrasi,
keuangan, personalia, dan lain-lain, serta mengorganisasikan
kegiatan produksi
3. Menandatangani surat, laporan kas mutasi, bank mutasi giro, cek,
dan kontrak penjualan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

4. Memeriksa DO dan faktur, kasbon, cek, dan giro, valuta mundur,
posisi stock, posisi hutang
5. Memutuskan hal-hal yang berhubungan dengan bidang administrasi,
keuangan, personalia, dan yang diminta oleh Direksi
6. Menilai prestasi para karyawan cabang untuk diusulkan kepada
Direksi
7. Membina hubungan baik dengan relasi
b. Kepala Non Operasional
1. Membuat laporan rutin harian
2. Membuat anggaran tahunan bersama anggota tim anggaran lain
3. Menguasai dan mengendalikan pelaksanaan anggaran dan rencana
kerja
4. Menandatangani laporan rutin DO/ faktur/ kasbon
5. Membina hubungan baik dengan relasi
c. Kepala Operasional
1. Mengembangkan perusahaan sesuai dengan kebijaksanaan yang
dibuat pimpinan
2. Membuat anggaran tahunan bersama anggota tim anggaran lain
3. Mengawasi pelaksanaan dari bagian-bagian yang bersangkutan
menurut rencana masing-masing
4. Menangani dan mencari jalan keluar dari kesulitan tiap-tiap bagian
5. Menyampaikan laporan/ hal penting yang akan dilaksanakan atau
diputuskan pimpinan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

6. Menilai hasil kerja bawahan langsung untuk diusulkan kepada
Kepala Cabang
d. Kepala Akuntansi dan Keuangan
1. Memberi kode bukti pembukuan
2. Memantau laporan keuangan dari bagian komputer pusat
3. Membuat anggaran tahunan bersama anggota tim anggaran lain
4. Memeriksa bukti masuk dan keluar kas
5. Mengatur pengiriman bukti pembukuan dengan sistem komputerisasi
6. Menilai hasil kerja bawahan langsung untuk dibahas kepada Kepala
Non Operasional kemudian diusulkan kepada Kepala Cabang
e. Supervisor Penjualan
1. Menyusun rencana kerja dari para salesman di bawah koordinasi
Kepala Bagian Operasional
2. Membantu meningkatkan penjualan apotek
3. Membina hubungan baik dengan relasi
f. Kepala Administrasi
1. Membuat laporan rutin, mingguan, bulanan
2. Membuat surat pesanan
3. Membuat evaluasi pesanan dan melakukan pesanan
4. Membuat DO
5. Membuat macam-macam urusan administrasi operasional
g. Pembantu Kepala Pembukuan
1. Mengerjakan kode rekening
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

2. Mengerjakan memorial rekening antar cabang
3. Membuka pos gantungan
4. Membuat daftar kas rekonsiliasi antar cabang
5. Pemantauan buku besar
6. Operator komputer
h. Personalia
1. Memeriksa absensi seluruh karyawan
2. Menyiapkan kendaraan (transportasi) keluar kota
3. Mengurus izin usaha perusahaan
4. Menyiapkan calon karyawan dilakukan dengan tes kesehatan dan
psikotes
5. Menyiapkan dokumen secara benar dan baik
6. Bertanggung jawab atas pekerjaan kepada pimpinan perusahaan
i.

Salesman
1. Menjual semua produk yang dipasarkan oleh bagian impor
2. Menyelesaikan penagihan di dalam/ luar kota
3. Membuat laporan penjualan harian maupun mingguan sesuai
petunjuk Supervisor Penjualan
4. Melaporkan

hal-hal

yang

berhubungan

dengan

peningkatan

penjualan di wilayah masing-masing
j.

Sekretaris
1. Mengagendakan surat masuk dan keluar
2. Mengarsipkan surat-surat keluar

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

3. Menyampaikan surat masuk yang masuk kepada setiap bagian
4. Mengarsipkan surat-surat dengan rapi dan benar
k. Kepala Gudang
1. Mengkoordinir kelancaran pemasukan atau pengeluaran barang
2. Mengkoordinir kendaraan dinas
3. Mengatur kelancaran administrasi gudang
4. Mengecek barang yang akan dikirim dan diterima
l.

Kasir
1. Menyiapkan setoran dan kliring ke bank
2. Melayani setoran dan pengeluaran rutin atas dasar Bukti Kas Masuk
(BKM) dan Bukti Kas Keluar (BKK)
3. Mengkoreksi inkaso dan cek yang akan ditagih
4. Memeriksa mutasi kas dan perubahan bank
5. Mencocokkan pembukuan di bank
6. Menilai hasil kerja bawahan langsung untuk dibahas kepada Kepala
Non Operasional untuk selanjutnya diusulkan kepada Kepala Cabang

Struktur organisasi PT Rajawali Nusindo Cabang Medan dapat dilihat pada
lampiran.
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Pusat Pertanggungjawaban
Tujuan dari akuntansi pertanggungjawaban adalah untuk meletakkan
dasar-dasar bagi pembentukan sistem yang dapat memberikan informasi yang
diperlukan manajemen, antara lain :
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

1. Mengoptimalkan aspek perencanaan.
2. Menilai kinerja unit-unit organisasi perusahaan.
3. Menghasilkan informasi dalam berbagai alternatif dalam pengambilan
keputusan.
Untuk itu diperlukan pengidentifikasian tiap-tiap unit organisasi atau unit
kerja sebagai suatu pusat pertanggungjawaban tertentu sesuai dengan sifat dan
sasaran kegiatan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, yaitu :
1. Yang menjadi pusat biaya adalah setiap kantor cabang
2. Yang menjadi pusat pendapatan adalah departemen pemasaran dan
departemen penjualan.
3. Yang menjadi pusat laba adalah kantor cabang utama, karena merupakan
tempat terjadinya biaya dan pendapatan.
4. Yang menjadi pusat investasi adalah kantor pusat.
Pada

hakekatnya

pusat

pendapatan

adalah

suatu

pusat

pertanggungjawaban yang tidak memiliki wewenang dalam menetapkan harga
jual dan tidak bertanggung jawab terhadap harga pokok barang yang dipasarkan.
Hal ini sesuai dengan konsep yang menyatakan bahwa pusat pendapatan hanya
bertanggung jawab terhadap pendapatan sedangkan biaya yang menjadi tanggung
jawabnya

adalah

pertanggungjawaban

biaya
tersebut.

yang
PT.

berkaitan

langsung

Rajawali

Nusindo

dengan
cabang

pusat
Medan

memperlakukan bagian penjualan dan bagian pemasaran sebagai pusat
pendapatan. Dimana bagian pemasaran bertugas untuk mempromosikan produk
kepada dokter dan bertanggung jawab langsung kepada kantor pusat sedangkan
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

bagian penjualan bertugas menjual produk tersebut ke apotek-apotek dan
bertanggung jawab kepada kantor cabang masing-masing. Dalam skripsi ini
penulis hanya membahas mengenai pusat pendapatan bagian penjualan.
2. Penyusunan Anggaran
Agar dapat memudahkan pengawasan terhadap tercapai atau tidaknya
tujuan perusahaan, diperlukan suatu perencanaan yang dinyatakan dalam suatu
anggaran. Dengan menggunakan anggaran, perusahaan dapat melakukan suatu
penilaian kinerja atau prestasi dari tiap pimpinan pusat pertanggungjawaban
dimana anggaran merupakan dasar bagi perusahaan untuk menilai kinerja para
manajer.
PT. Rajawali Nusindo cabang Medan menyusun anggaran penjualan
setahun sekali, biasanya pada bulan Juli tiap tahunnya. Dalam menyusun anggaran
penjualan untuk tahun berikutnya pada PT. Rajawali Nusindo biasanya dengan
cara memperhatikan realisasi penjualan semester pertama pada tahun berjalan.
Misalnya, anggaran untuk tahun 2008 maka anggaran disusun pada bulan juli
2007, dengan cara melihat realisasi penjualan januari – juni 2007.
Anggaran penjualan disusun dengan mengunakan metode Top Down
dimana anggaran penjualan disusun oleh kepala cabang bersama-sama dengan
kepala operasional sedangkan manajer penjualan hanya melaksanakan anggaran
tersebut. PT. Rajawali Nusindo biasanya mengadakan pertemuan antar seluruh
kepala kantor cabang di Indonesia tiap tahunnya dikantor pusat, salah satu
kegiatannya adalah penyampaian anggaran penjualan untuk kemudian meminta
persetujuan, setelah disetujui baru anggaran penjualan tersebut dapat disahkan.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Untuk memudahkan pengawasan dan perencanaan, anggaran untuk satu
periode atau satu tahun dibagi kedalam 12 bulan. Pada tiap bulannya PT. Rajawali
Nusindo

cabang Medan mengadakan pertemuan untuk

me-review dan

memperbaiki anggaran untuk tiap bulan yang berjalan ataupun untuk bulan yang
akan datang bila diperlukan. Review terhadap anggaran dilakukan oleh pimpinan
perusahaan bersama kepala operasional.
Seperti yang telah dikemukakan sebelum anggaran penjualan disusun,
terlebih dahulu dibuat ramalan penjualan. PT. Rajawali Nusindo membuat
ramalan penjualan tahun yang akan datang dengan cara membandingkan anggaran
penjualan tahun lalu dengan anggaran tahun berjalan. Anggaran penjualan untuk
tahun yang akan datang biasanya 10 – 20 % dari anggaran tahun berjalan
tergantung pada situasi pasar. Anggaran penjualan PT. Rajawali Nusindo dapat
dilihat pada laporan laba-rugi
3. Penilaian Kinerja
Secara teoritis pengukuran prestasi pusat pertanggungjawaban pada
dasarnya dilakukan untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi suatu pusat
pertanggungjawaban. Efisiensi biasanya dilakukan dengan cara membandingkan
suatu ukuran tertentu, misalnya membandingkan suatu pusat pertanggungjawaban
dengan

pusat

pertanggungjawaban

lainnya,

membandingkan

prestasi

sesungguhnya ( aktual ) dengan yang dianggarkan ataupun membandingkan
kinerja pusat pertanggungjawaban masa sekarang dengan kinerja di masa lalu.
Sedangkan efektifitas biasanya berhubungan dengan output yang dihasilkan suatu
pusat pertanggungjawaban dalam mencapai tujuan yang ditetapkan perusahaan.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Jika output yang dihasilkan suatu pusat pertanggungjawaban tidak dapat
memberikan kontribusi yang memadai dalam pencapaian tujuan perusahaan, maka
pusat pertanggungjawaban tersebut dapat dikatakan tidak efektif.
Penilaian kinerja manajer pusat pendapatan pada PT. Rajawali Nusindo
cabang Medan dilakukan dengan cara menggunakan indikator anggaran sebagai
alat untuk mengevaluasi yaitu dengan cara membandingkan angka pendapatan
yang sebenarnya dengan pendapatan yang dianggarkan, dan dari hasil
perbandingan tersebut akan diperoleh selisih atau deviasi yang terjadi dalam
perusahaan. Selisih antara anggaran dengan realisasinya dapat berupa selisih laba
atau selisih menguntungkan ( favorable ) maupun selisih merugikan ( unfavorable
) yang selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya
selisih/deviasi tersebut kemudian diambil tindakan-tindakan perbaikan.
Penilaian kinerja terhadap manajer suatu pusat pertanggungjawaban
biasanya dilakukan sebulan sekali yaitu melalui laporan keuangan. Dalam menilai
kinerja terhadap

pusat pendapatan, PT. Rajawali Nusindo tidak menerapkan

reward dan punishment yang ketat bagi para manajer pusat pertanggungjawaban
terhadap kemampuannya dalam mencapai target anggaran yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam menilai kinerja pusat pertanggungjawaban pendapatan pada
PT. Rajawali Nusindo, jika manajer tersebut tidak dapat mencapai anggaran
penjualan yang telah ditetapkan maka manajer tersebut tidak menerima
punishment begitu juga jika seorang manajer pusat pertanggungjawaban
pendapatan dapat melebihi target anggaran yang telah ditetapkan, tetap tidak
mendapat balas jasa atau reward.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Hal ini menunjukkan ketidaktegasan PT. Rajawali Nusindo dalam
melaksanakan akuntansi pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pusat
pendapatan, karena disatu sisi terdapat penilaian kinerja yang dilaksanakan tiap
bulannya namun tidak terdapat adanya reward maupun punishment terhadap
kinerja manajer penjualan.
Untuk menilai kinerja manajer pusat pendapatan pada PT. Rajwali
Nusindo, penulis mengambil data anggaran penjualan dan realisasi tahun 2006
Tabel 4.1 : Daftar target dan aktual
PT. Rajawali Nusindo
Periode tahun 2006
Bulan
Januari

Target

Aktual

Penyimpangan ( % )

Rp. 2.062.473.000

Rp. 5.445.640.057

264,03

Februari

1.855.686.000

5.196.237.155

280,02

Maret

2.074.779.000

4.953.469.976

238,75

April

2.089.206.000

6.948.289.680

332,58

Mei

2.533.788.000

11.506.962.999

454,14

Juni

4.552.152.000

2.421.408.151

53,19

Juli

4.334.881.000

2.296.085.637

52,97

Agustus

5.151.081.000

3.731.306.518

72,44

September

5.341.483.000

3.720.971.447

69,66

Oktober

4.960.877.000

5.018.788.283

101,17

November

5.937.078.000

3.461.963.274

58,31

Desember

6.297.198.000

19.317.241.497

306,76

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Berdasarkan hasil perbandingan daftar target dan realisasi anggaran penjualan
2006, dapat dilihat adanya selisih untung ( favorable varians ) dan selisih rugi
(unfavorable varians ).
1. Selisih untung yang terbesar terjadi pada bulan Mei dengan realisasi
penjualan Rp. 11.506.962.999 atau 454,14 % dari anggaran yang
ditetapkan ( Rp. 2.533.788.000 ), sedangkan selisih rugi terbesar terjadi
pada bulan Juli dengan realisasi penjualan sebesar Rp. 2.296.085.637 atau
hanya 52,97 % dari anggaran penjualan yang ditetapkan ( Rp.
4.334.881.000 ).
2. Dari data diatas dapat dilihat bahwa pusat pendapatan PT. Rajawali
Nusido tidak dapat mencapai target lima kali dalam satu tahun yaitu dari
bulan Juni – September dan pada bulan November. Tidak tercapainya
target pendapatan selama empat bulan berturut-turut mungkin disebabkan
karena manajer tidak melakukan analisis terhadap penyebab terjadinya
selisih tersebut.sehingga tidak dapat diambil tindakan-tindakan perbaikan
yang memadai.
3. Meskipun lima dari dua belas ( 12 ) bulan, pusat pendapatan PT. Rajawali
Nusindo tidak dapat mencapai target, tetapi secara komulatif realisasi
penjualan tetap melebihi dari anggaran yang telah ditetapkan yaitu Rp.
74.018.364.676 atau 156,85 % dari anggaran pendapatan sebesar Rp.
47.190.682.000

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

4. Pelaporan Kinerja
Laporan merupakan catatan kegiatan atau peristiwa yang disusun secara
sistematis dan berurutan dari waktu ke waktu, berisi catatan kualitatif dan
kuantitatif yang disusun sedemikian rupa sehingga dengan membacanya akan
diperoleh informasi berupa data dan fakta tentang peristiwa yang telah terjadi.
Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh sebuah laporan kinerja yang baik,
misalnya sebuah laporan kinerja harus disusun menyesuaikan dengan struktur
organisasi perusahaan. Laporan kinerja harus dibuat untuk tiap pusat
pertanggungjawaban, dimana laporan untuk manajemen tingkat bawah harus
berisi informasi yang rinci dan laporan kinerja untuk manajemen tingkat atas
harus berisi informasi yang lebih ringkas. Semakin tinggi jenjang manajer
semakin ringkas isi laporan kinerjanya.
Sistem pelaporan pusat pertanggungjawaban pada dasarnya merupakan
seperangkat laporan yang saling berhubungan yang menyajikan informasi untuk
pengawasan manajemen. Laporan ini berisi informasi pertanggungjawaban
kepada tingkat manajemen yang lebih tinggi dimana setiap manajer level atas
akan menerima laporan pertanggungjawaban dari manajer dibawahnya.
PT.

Rajawali

Nusindo

cabang

Medan

membuat

laporan

pertanggungjawaban dengan cara membandingkan antara anggaran dengan
realisasinya. Laporan jenis ini dimaksudkan untuk lebih memperlihatkan deviasi
yang terjadi. Hal ini akan membuat perhatian manajemen perusahaan lebih fokus
terhadap penyimpangan yang terjadi, kemudian diambil suatu tindakan koreksi
bagi penyimpangan tersebut atau jika perlu dilakukan peninjauan kembali
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

terhadap anggaran yang ditetapkan. PT. Rajawali Nusindo membuat laporan
pertanggungjawaban secara berkala tiap bulannya, walaupun kadang kala dalam
situasi khusus laporan pertanggungjawaban dapat diterbitkan tiap minggu.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan.
Berdasarkan analisis dan evaluasi yang dilakukan penulis pada bab IV,
maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut
1. Sistem akuntansi pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pusat pendapatan
yang diterapkan PT. Rajawali Nusindo belum berjalan dengan baik, hal ini
dapat dilihat dari
 Pada PT. Rajawali Nusindo meskipun anggaran penjualan sudah
dapat dikatakan berfungsi sebagai alat penilaian kinerja manajer
pusat pendapatan yaitu dengan cara membandingkan antara
anggaran penjualan dengan realisasinya tetapi tidak terdapat suatu
sistem reward dan punishment yang jelas terhadap manajer pusat
pendapatan.
Meskipun begitu terdapat beberapa hal yang telah berjalan dengan baik, antara
lain
 Adanya kejelasan pembagian pusat pertanggungjawaban
 Adanya sistem pelaporan hasil kegiatan kepada atasan tentang apa
saja yang telah dicapai. Laporan tersebut dibuat oleh manajer pusat
pertanggungjawaban yang bersangkutan kepada manajer level yang
lebih tinggi. Laporan tersebut memperlihatkan penyimpangan
antara anggaran dengan realisasinya, dan untuk mengetahui apakah
kegiatan perusahaan telah berjalan sesuai dengan rencana.
Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

2. Pada PT. Rajawali Nusindo, penilaian kinerja terhadap pusat pendapatan
dilakukan hanya dengan menggunakan perbandingan antara anggaran
pendapatan dengan realisasinya dan tidak ada analisis lebih lanjut terhadap
perbedaan-perbedaan yang terjadi sehingga tidak dapat diketahui penyebab
terjadinya perbedaan tersebut.
B. Saran
Selain dari kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, penulis juga
memberi masukan berupa saran kepada perusahaan yang berhubungan dengan
penerapan sistem akuntansi pertanggungjawaban pusat pendapatan sebagai alat
ukur kinerja pusat pendapatan. Masukan ini diharapkan dapat berguna bagi
perusahaan dalam menerapkan akuntansi pertanggungjawaban
1. PT. Rajawali Nusindo sebaiknya menerapkan sistem reward dan punishment
yang baik terhadap pusat pertanggungjawaban pendapatan, ini sangat penting
karena penerapan reward dan punishment yang baik akan mendorong manajer
penjualan bekerja lebih baik.
2. PT. Rajawali Nusindo sebaiknya melakukan analisis lebih lanjut, agar dapat
diketahui penyebab adanya perbedaan antara anggaran dengan realisasi.
Analisis yang dilakukan dapat berupa analisis varian harga jual, varian volume
penjualan, dan varian komposisi penjualan.

Hade Hambrata : Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dalam Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan Pada
PT. Rajawali Nusindo Cabang Medan, 2007.
USU Repository © 2009

Judul: Akuntansi Pertanbgungjawaban

Oleh: Seno Ariawan


Ikuti kami