Akuntansi Persediaan

Oleh Punklima Momiyo

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Persediaan

Akuntansi Persediaan
1. PENGERTIAN PERSEDIAAN DAN CARA PENCATATAN
Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan
untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang
yang akan digunakan. Persediaan ini dapat dicatat dengan dua sistem yaitu:
Sistem Periodik dan Sistem Perpetual.
Dalam Metode Perpetual, pada waktu membeli barang dibuat jurnal yang mendebet akun Persediaan Barang Dagangan dan meng-kredit akun Hutang atau
Kas. Pada waktu menjual barang dibuat jurnal yang mendebet akun Harga
Pokok Penjualan dan mengkredit akun Persediaan sehingga akun Persediaan
akan menunjukkan harga pokok dari persediaan yang ada di gudang.
Jika menggunakan Sistem Periodik, jika ada penjualan barang tidak dibuat jurnal
untuk harga pokok dari barang yang dijual di bagian akuntansi. Pada akhir tahun,
persediaan yang ada di gudang penyimpanan dihitung jumlah kuantitasnya dan
ditentukan nilai/harga belinya. Untuk menentukan persediaan yang dipakai/dijual,
persediaan yang pernah ada (persediaan awal ditambah pembelian selama satu
periode) dikurangi dengan persediaan akhir periode. Kemudian dibuat dua ayat
jurnal penyesuaian. Jurnal yang pertama mendebet akun Ikhtisar Laba Rugi dan
mengkredit akun Persediaan sejumlah persediaan awal. Jurnal yang kedua
didasarkan atas hasil inventarisasi fisik barang pada akhir tahun. Jurnalnya
mendebet akun Persediaan Barang Dagangan dan mengkredit akun Ikhtisar
Laba Rugi. Ayat jurnal ini dibuat sekaligus dalam satu periode.
Berikut ini adalah ilustrasi jurnal untuk sistem perpetual dan sistem periodic,
namun belum mencakup seluruh transaksi berkaitan dengan persediaan, seperti
pembayaran ongkos angkut, penerimaan dan pemberian diskon.

1.

Transaksi
Membeli
barang
dagangan secara kredit
Rp 10.000

Sistem Periodek
Pembelian
Hutang

10.000

Sistem Perpetual
10.000

Persediaan Brg Dag
Hutang

10.000

500

Hutang
Persediaan Brg Dag

500

2.

Retur pembelian Rp 500

Hutang
Retur Pembelian

3.

Terdapat barang yang
dijual. Harga jual Rp
4.000 dan harga pokok
barang Rp 1.500

Piutang/Kas
Penjualan

Pada akhir tahun

Mutlak harus dilakukan inventarisasi fisik
karena tanpa inventarisasi fisik barang, tidak
dapat diketahui persediaan yang ada

4.

Misalkan
menurut
perhitungan fisik pada
akhir
tahun
saldo

Ikhtisar L/R
Persediaan B.D.

500

4.000

150

4.000

Piutang/Kas
Penjualan
HPP
Persediaan Brg Dag

4.000

10.000
500
4.000

1.500

1.500
Tanpa inventarisasi sudah dapat diketahui
persediaan,
namun
inventarisasi
perlu
dilakukan
Jika hasil inventarisasi fisik tidak sama dengan
saldo rekening persediaan, perusahaan perlu
membuat jurnal, jika sama tidak perlu membuat

150
persediaan Rp 200 dan
pada awal tahun Rp 150.

Persediaan B.D
Ikhtisar L/R

jurnal.
200

200

Sumber : http://dasar-akuntansi.blogspot.com/2009/09/akuntansi-persediaan.html
Nama : Astri P
No : 02
Kls : XII AK 1
Diposkan oleh akuntansi siji di 16.32 1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Jumat, 01 Februari 2013
Pengertian Akuntansi Persediaan

AKUNTANSI PERSEDIAAN
A. Pengertian umum


Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup
penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri
(manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana
perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan.



Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam
operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat
barang yang akan dijual.

Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan
dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis
persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang
jadi (siap untuk dijual).
Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan
Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan.
Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan
Rugi/Laba maupun neraca.
Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga
Pokok Penjualan (HPP).
HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH – PERSEDIAAN AKHIR
a. Inventory perusahaan dagang

Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual
kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada
proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.
b. Inventory perusahaan industry
Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli
oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi
atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses
usaha utama perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau
perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan
perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang
jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.
Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada
umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1. Bahan baku (direct material)
2. Barang dalam proses ( Work in proses)
3. Barang jadi (Finished goods)
B. Jenis-jenis persediaan
a. Bahan baku
Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga
akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya
persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat
diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan
produksi.
b. Barang dalam proses
Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga
persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang
dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian
barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya
produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan
menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa
dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.
c. Barang jadi
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada
persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan
cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil
(marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau
sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan
lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk
menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan
resiko penagihan piutang.

Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan
memerlukan adanya penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang
akan dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus kas.
Dengan melihat sifat-sifat dasar persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan
tujuan serta konsep dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut
merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi dasar dalam
penyajian di neraca.
Penekanan pembahasan tujuan teori akuntansi terhadap inventory, adalah menentukan alternative
pedoman untuk mengevaluasi prosedur yang dapat memberikan penilaian (pengukuran) yang
lebih baik dan memberikan informasi yang lebih baik tentang arus kas perusahaan dikemudian
hari. Beberapa dasar pengukuran inventory dari segi kadar interpretasi dan revaluasi bagi
pengambil keputusan investasi.
C. Tujuan penilaian inventory
Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan, sehingga
dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi tradisional. Penekanan pada
perhitungan net income yang didasarkan kepada revenue pada saat penjualan memerlukan
adanya alokasi biaya ke peiode dimana revenue dilaporkan yaitu cost of goods sold. Sedangkan
nilai inventory yang belum terjual akan dibawa ke periode berikutnya dalam laporan keuangan
perusahaan. Jadi dalam proses pengukuran income sangat mirip dengan ciri-ciri umum pada
penilaian prepaid expense dan aktiva tetap atau disebut penangguhan expenses, yaitu atas dasar
input prices, kemudian untuk menentukan nilai cost of goods sold dapat juga dilakukan melalui
perhitungan (rumus) yang lazim digunakan dalam persediaan. Namun demikian dalam keadaan
tertentu persediaan dinilai berdasarkan output values (harga jual) untuk memperoleh penilaian
income.
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang
perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas
dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang akan mendukung
arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas
keluar.
D. Penentuan kuantitas persediaan
Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat dapat
ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
1. Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung, cara ini
merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk menentukan jumlah
persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh unqualified opinion.
2. Menggunakan metode pencatatan perpetual.
3. Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock
opname.
4. Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit
method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income
(AICI) dan current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode

penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah AICI,
kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
1. a.
Metode stock opname atau periodic method:
Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka perhitungan
kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung dari kelengkapan
data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang
dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement, karena hanya membandingkan
dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir.
Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya
dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau
kurang informative. Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan
sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara
berkala tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial
secara cepat.
1. b.
Metode perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah
barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan
setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung
jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement,
karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam
menentukan jumlah inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara
metode perpetual dengan stock opname.
2. c.
Metode agregatif
Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan yang dialami metode perpetual,
kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah penentuan harga persediaan. Dalam
metode ini juga lebih tepat kalau penentuan jumlah dan nilai persediaan dikombinasi
dengan stock opname.
E. Dasar penilaian persediaan
Penilaian persediaan pada prinsipnya ada dua yaitu input values dan output values, sedangkan
kedua konsep tersebut dapat digunakan sesuai dengan siapa pemakainya dan tujuannya. Kalau
untuk pembuatan prediksi arus kas dikemudian hari lebih relevan kalau digunakan output values,
karena akan mencerminkan nilai perusahaan pada saat itu. Sedangkan kalau kondisi nilai
konversi tidak pasti seperti kondisi di Indonesia tahun 1997 lebih relevan kalau digunakan input
values, karena akan memungkinkan interpretasi yang lebih baik sebagai prediksi arus kas
dikemudian hari untuk memperoleh persediaan kembali.
a. Output values
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa persediaan merupakan komponen yang timbul
diberbagai tingkatan proses produksi, yang pada umumnya memerlukan kegiatan bernilai
ekonomis yang cukup besar, maka dengan metode input values lebih tepat. Tetapi dalam keadaan
penentuan crucial event, yaitu menentukan pada saat persediaan diserahkan kepada langganan
(penentuan nilai jual), maka lebih tepat kalau digunakan metode output values, karena
memperhitungkan nilai current persediaan kalau dijual pada saat itu.
Untuk konsep output values ini ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:

Konsep Discounted Money Receipt: konsep ini menekankan pada, bahwa persediaan dapat
dinilai dengan mendiskontokan arus kas dikemudian hari, dengan syarat:



Nilai atau tingkat harga stabil dan ada kepastian yang tinggi.
Timing penerimaan kas yang diharapkan cukup memberikan kepastian.

Current Selling Price: konsep ini menekankan nilai persediaan berdasarkan harga jual (pasar)
sehingga diperlukan harga yang fixed, sehingga untuk konsep ini disyaratkan:



Adanya suatu pasar yang terkendali dengan harga yang stabil – tetap.
Tidak ada komponen biaya tambahan yang besar (material), misalnya biaya bunga atau
diskonto dalam penerimaan hasil penjualan.

Net Realizable Values: dalam konsep ini perhitungan biaya yang timbul dari penjualan seperti
diskon penjualan harus diperhitungkan dalam nilai penjualan bersih (Net Realizable Values).
Maka konsep ini merupakan konsep current output values dikurangi dengan current values dari
semua biaya tambahan, misalnya biaya penagihan, biaya penjualan.
Sprouse dan Moonitz menyatakan: “……..Inventory yang siap jual dengan harga yang telah
diketahui dan biaya-biaya penjualan yang relative kecil atau biayanya dapat diketahui secara
langsung, maka inventory dinilai dengan Net Realizable Values”, mereka menyatakan bahwa
konsep ini bukan merupakan penyimpangan prosedur penilaian yang lazim melainkan harus
dianggap “…….sejalan dengan tujuan akuntansi yang utama”.
Bulletin no. 43 menyatakan : “Hanya dalam kondisi khususlah, inventory dapat dinyatakan
dengan nilai diatas cost”, dalam bulletin ini konsep cost merupakan konsep dasar utama bagi
penilaian inventory. Jadi konsep Sprouse dan Moonitz sesuai dengan konsep current selling price
diatas. Sedangkan konsep bulletin no. 43 disyaratkan :
1.
2.
3.
4.

Kemungkinan pemasaran secara langsung harga yang di-quote.
Barang dapat dipertukarkan (interchangeability of unit)
Biaya tambahan dapat diperhitungkan
Adanya unsur kesulitan menentukan penilaian cost secara tepat.

b. Input Values
Pengukuran persediaan dengan input values merupakan pengukuran resources yang dipakai
untuk memperoleh persediaan pada kondisi saat ini, sehingga untuk persediaan yang tidak perlu
adanya proses produksi interpretasi mengenai nilai persediaan (input values) sangat jelas. Karena
input values disini menggambarkan arus dari pada kas yang telah dikeluarkan sesungguhnya.
Sedangkan kalau input values tersebut dari nilai resources yang dipergunakan dalam proses
produksi, hal ini akan lebih menyulitkan untuk menentukan input valuesnya, karena adanya
proses penilaian resources ke periode yang bersangkutan dan pengalokasian resources ke dalam
masing-masing departemen. Namun konsep ini dapat dikurangi tingkat kesulitan penilaiannya
dengan penerapan prosedur alokasi costnya, yang hasilnya akan langsung menjadi investment
decision model.
Dengan struktur akuntansi tradisional, selisih input dan output values merupakan gross profit
atau gross margin, sehingga semua metode yang menganut konsep input values berarti adanya
penangguhan pengakuan revenues dan net income keperiode kemudian. Penundaan ini dapat

dibenarkan apabila masih ada kegiatan-kegiatan perusahaan yang harus dilakukan untuk
pelaksanaan penjualan atau karena output tidak verifiable.
Konsep input values pada dasarnya dinyatakan dengan historical cost atau dapat juga dengan
current cost atau standard cost. Current cost disini menggunakan konsep net realizable values
dikurangi dengan normal gross margin dari net realizable values.
COMWIL: merupakan metode penilaian masukan karena istilah “market” pada dasarnya adalah
konsep input values.
F. KONSEP PERSEDIAAN
a. Historical cost
Dalam metode historical cost ini persediaan diukur berdasarkan pada pembayaran yang
dilakukan dimasa lalu atau harus dilakukan dimasa yang akan datang untuk memperoleh barang
atau jasa. Oleh karena itu kalau pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang harga
persediaan harus didiskontokan untuk mendapatkan present cost.
Menurut konsep ini biaya produksi terdiri dari Biaya langsung: material, tenaga langsung dan
BOP, sedangkan avail atau tenaga kerja idle dapat diperhitungkan sebagai COGS, tergantung
kebijakan manajemen.
Keuntungan konsep ini:
1. Inventory bahan baku dan barang dagangan mencerminkan harga yang sebenarnya.
2. Dalam kondisi harga tidak pasti konsep ini merupakan alternative yang layak daripada
net realizable values sebagai alat prediksi.
3. Nilai persediaan tidak dipengaruhi oleh bias kebijakan manajemen.
4. Penilaian dengan cost memungkinkan pertanggung jawaban mengenai kas dan sumber
lain untuk memperoleh persediaan (cross evidence).
Kelemahan konsep ini:
1. Untuk persediaan barang yang cepat usang dan nilai tambah atas barang tidak dapat
disesuaikan harganya.
2. Bila terdapat harga yang berbeda susah untuk diperbandingkan.
3. Banyaknya unsur joint cost dan metode alokasi sehingga menyulitkan penilaian
persediaan.
4. Matching antara revenue dengan cost masa lalu kurang tepat.
b. Current Replacement Cost
Konsep ini adalah untuk mengurangi kelemahan dari konsep historical cost, banyak penulis dan
komite prinsip akuntansi menyarankan menggunakan konsep CRC untuk mengukur persediaan.
Dengan pertimbangan:
1. CRC memungkinkan untuk matching antara current input value dengan current revenue
atas hasil current operation.
2. CRC memungkinkan identifikasi dari holding gains dan loss.
3. CRC merupakan current value dari persediaan.
4. CRC memungkinkan pelaporan current operation profit dapat digunakan sebagai prediksi
arus kas dikemudian hari.

d. Net Realizable Values Dikurangi Normal Markup
Dalam konsep ini persediaan dinilai dengan konsep realizable values dikurangi dengan gross
profit margin yang normal, sehingga nilai persediaan merupakan nilai perolehannya menurut
konsep realizable.
COMWIL
Penilaian dengan konsep comwil sebenarnya tidak konsisten, dan bukanlah penilaian inventory
dengan dasar yang logis menurut teori akuntansi, tetapi lebih menekankan pada unsur
conservatism. Menurut AICPA konsep comwil merupakan metode eclectical yang
mencerminkan nilai keluaran dalam hal-hal tertentu dan nilai masukan pada kesempatan yang
lain. Pengertian market disini bisa cost dan bisa replacement mana yang lebih rendah, sedangkan
menurut AICPA bulletin no. 43 juga, bahwa market ini dibatasi nilai tertinggi (ceiling) dan
terendah (floor) adalah batas untuk net realizable values, sehingga comwil memungkinkan
penilaian yang sangat subyektif.
1. d.
Standard cost
Current standard mencerminkan biaya produksi dibawah kondisi harga dan teknologi
yang sekarang dan formula ditetapkan setelah melalui perhitungan standard efisiensi yang
diinginkan sehingga menyerupai replacement cost. Menurut AICPA bulletin no. 43 :
“Standard cost dapat diterima apabila di-adjust secara berkala agar mencerminkan
kondisi sekarang sehingga pada tanggal neraca standard cost secara layak merupakan
approximate costs berdasarkan salah satu cara penilaian yang diakui.
G. BIAYA-BIAYA YANG HARUS DIMASUKAN DALAM PERSEDIAAN
Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa
jumlah persediaan yang harus yang dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti
aktiva lain, umumnya di perhitungkan atas dasar biaya.
a. Biaya produk
(product cost) adalah biaya yang” melekat” pada persediaan dan di catat dalam akun persediaan.
Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan
pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap di jual. Beban seperti itu mencakup ongkos
pengangkutan barang yang di beli, biaya pembelian langsun lainnya, dan biaya tenaga kerja serta
produksi lain nya yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual. Namun karna adanya
kesulitan prak tis dalam mengalokasikan biaya dan beban, maka tidak dimasukkan dalam
penilaian persediaan.
b. Biaya periode
beban penjualan (selling expenses) dan, dalam kondisi yang biasa, beban umum serta adminstrasi
tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si brang dan, karenanya, tidak
dianggap sebagai bagian dari persediaan. Biaya semacam itu disebut dengan biaya periode secara
konseptual, beban ini merupakan biaya dari produk eperti halnya harga beli awal dan ongkos
pengangkutan.
Biaya bunga yang berhubungan dengan penyiapanpersediaan agar siap dijual biasanya di
bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya
bunga merupakan biaya pembiayaan.
c. Biaya manufaktur
seperti telah dibahas sebelumnya, sebuah bisnis yang membuat barang mengunakan persediaanbahan baku,barang dalam proses, barang jadi. Brang dalam proses dan brang jadi meliputi bahan,

tenaga kerja langsung, da biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi
bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung da pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi,
pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
H. ASUMSI ARUS BIAYA
Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual
optimal, tetap cara ini sering kali tidak haya mhal tetapi juga tidak mungkin untuk di terapkan.
Sebagai akibatnya, beberapa Asumsi arus biaya yang bersifat sistematis dapat digunakan.
Sebetulnya ,arus fisik barang aktual dan asumsi biaya sering kali sangat berbeda. Tidak ada
keharusan bahwa asumsi arus biaya yang d pakai terus konsisten dengan pergeraan fisik barang.
Tujuan utama dari pemiliahan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling
mencerminkan laba periodik,sesuai kondisi yang berlaku.
a.Indentifikasi khusus
Digunakan dengan cara mengidentifikasi seiap brang yang dijual dan dalam pos persediaan.
Biaya barang” yang telah terjual dimaukan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya
barang’ hsus yang masih berada di tangan dimasukan pada persedian. Metode ini hanya bisa
digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahan memisahkan pembelian yang berbeda
yag telah dilakukan secara fisik. Metod ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi yang
melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan.
Dalam industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil, dan sejumlah
furnitur. Dalam area manufaktur, meliputi produk pesanan, khusus dan banyak produk yang
diproduksi menurut job cost system.
b. biaya rata-rata
metode biaya rata-rata menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar
biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode.
I. Biaya Persediaan Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi
Biaya persediaan manufaktur terdiri atas tiga komponen:
1. Bahan baku atau bahan mentah-biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat
produk.
2. Tenaga kerja –biaya tenaga kerja langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk
jadi.
3. Overhead- biaya tidak langsung pada proses manufaktur,seperti penyusutan peralatan
manufaktur, gaji penyelia, dan biaya prasarana.
Perusahaan dapat mengistiminasi dua komponen pertama secara akurat dari spesifikasi
rancangan dan penelitian atas waktu dan pergerakan pada proses perakitan. Overhead sering kali
merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit diukur untuk tingkat produk. Total
overhead harus dialokasi pada seluruh hasil produksi. Umumnya produk yang terbanyak
menggunakan sumber daya (yaitu membutuhkan mesin mahal trbanyak atau memakai waktu
rekayasa tertinggi) harus diberikan alokasi sebagian besar dari overhead. Biaya persediaan untuk
perusahaan manufaktur umumnya dipelajari pada mata kuliah akuntansi manajemen. Namun
analis perlu waspada bahwa alokasi biaya overhead bukan merupakan ilmu pasti dan sangat
tergantung pada asumsi yang digunakan.
Analisis juga perlu mengerti dampak tingkat produksi pda profitabilitas. Overhead dialokasi pada

semua unit yang diproduksi, dan biaya ini dimasukan pada biaya persediaan, bukan menjadi
beban periode berjalan, dan tetap berada pada neraca hingga prsediaan dijual,pada saat tersebut
persediaan menjadi harga pokok penjualan pada laporan laba rugi. Jika peningkatan pada tingkat
produksi menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih banyak biaya overhead yang tertinggal
di neraca dan profibilitas meningkat.kemudian, saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba
rugi terbebani dengan bukan hanya biaya overhead periode berjalan, tetapi juga biaya overhead
periode sebelumnya yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanya laba menjadi turun.
Oleh karna itu, analis harus waspada terhadap dampak perubahan tinkat produksi terhadap laba
yang dilaporkan.
J. Biaya Perolehan atau Nilai PasaR
Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku atas nilai persediaan adalah menilainya pada biaya
perolehan atau nilai pasar, mana yang lebih rendah ( lower of cost or market – LOCOM).
penilaian ini dapat mempengaruhi secara signifikan laba berjalan dan nilai persediaan. Aturan
LOCOM menyatakan bahwa jika harga pasar persediaan turun melebihi biaya perolehan
persediaan untuk alasan apapun termasuk keusangan, rusak, perubahan harga –maka nilai
persediaan diturunkan untuk mencerminkan kerugian ini. Penurunan biaya ini secara efektif
dibebankan pada pendapatan periode saat kerugian terjadi. Karena meningkatkan biaya menjadi
harga pasar dilarang ( kecuali untuk menutupi kerugian hingga kembali kembali kepada biaya
perolehan awal), maka penilaian persediaan menjadi konservatif. Nilai/harga pasar (market)
dijabarkan sebagai biaya biaya penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun
begitu, nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih
setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai realisasi bersih,
mencerminkan biaya penyelesaian dan penyerahan yang terkait dengan penjualan barang. Batas
bawah memastikan bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya perolehan awal menjadi
nilai pasar, angka penurunan yang terjadi mencakup realisasi laba kotor normal atas penjualan
yang dilakukan.
Biaya (cost) merupakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung
dengan salah satu metode biaya persediaan, misalnya FIFO, atau AVERAGE (rata-rata). Analis
persediaan kita harus mempertimbangkan dampak dari aturan LOCOM. Saat harga meningkat,
aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan pilihan metode
biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar.
Cuplikan analisis:
Usaha awal toro company untuk menjual alat kebersihan salju (snowblowers) tidak berhasil.
Toro berangapan bahwa alat pembersih salju merupakan komplemen (pelengkap) usaha alat
pemotong rumputnya, terutama setelah curah salju yang begitu tinggi dari tingkat normal selama
beberapa tahun terakhir. Toro bereaksi memproduksi alat pembersih salju seolah-olah salju
merupakan usaha yang berkembang dan andal seperti tumbuhnya rumput. Tahun disaat alat
pembersih salju diperkenalkan, musim dinginnya menghasilkan salju yang lebih sedikit dari
biasanya, sehingga baik toro maupun penyalurnya memiliki persediaan barang berlebih.
Keuangan beberapa penyalur bahkan sangat tertekan hingga mereka tidak mampu mendanai
persediaan alat pemotong rumput untuk musim depan.
Cuplikan analisis:
Tingkat pengembalian barang regina company akhir-akhir ini sangat tinggi karna rendahnya
kualitas barang. Petunjuk analitis awal masalah ini terlihat dari adanya kenaikan hanpir dua kali
lipat pada persediaan barang jadi dan piutang saat peningkatan penjualan melebihi yang

diharapkan. Namun banyak investor, kreditor, dan pihak-pihak lain yang terkejut saat berita
msalah ini tersebar luas.
K. Harga Pokok Penjualan
Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah menetapkan secara layak hasil usaha selama satu
periode dengan mengaitkan pendapatan terhadap biaya untuk memperoleh dan mempertahankan
penghasilan tersebut. Dalam akuntansi persediaan harus ditentukan apakah suatu persediaan
merupakan beban atau merupakan aktiva. Jika persediaan telah terjual maka persediaan tersebut
akan dilaporkan sebagai beban atau merupakan komponen dari harga pokok penjualan,
sebaliknya jika persediaan tersebut masih merupakan milik perusahaan (belum terjual) maka
akan dilaporkan sebagai aktiva lancar
perusahaan.
Menurut PSAK no 14, jika barang dalam persediaan di jual, maka nilai tercatat persediaan
tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut.
Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan
pengaitan (matching) beban dengan pendapatan. Oleh karena itu dalam menentukan besarnya
laba harus dihitung terlebih dahulu besarnya harga pokok penjualan. Persediaan yang dibeli atau
ibuat selama suatu periode ditambahkan ke persediaan awal dan jumlah biaya persediaan ini
disebut dengan harga pokok barang tersedia untuk dijual. Pada akhir periode akuntansi, jumlah
biaya yang tersedia untuk dijual dialokasikan antara persediaan yang masih tersisa (dicatat di
neraca sebagai aktiva) dan persediaan yang dijual selama periode (dilaporkan dalam laba rugi
sebagai biaya, harga pokok penjualan). Secara ringkas dapat kita ilustrasikan
sebagai berikut:

Penjualan barang dagangan
XXX
Harga pokok penjualan terdiri dari:
Persediaan 1 Jan 2003
XXX
Pembelian
XXX
(Retur pembelian)
(XXX)
(Potongan pembelian)
(XXX)
Pembelian bersih
XXX
Persediaan tersedia untuk dijual
XXX
Persediaan 31 Des 2003
(XXX)
Harga pokok penjualan barang dagangan
(XXX)
Laba/(Rugi) kotor
XXX
Dalam menentukan harga perolehan dan harga pokok persediaan akan
dipengaruhi oleh sistem pencatatan dan system penilaian persediaan yang
digunakan oleh perusahaan
K. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN
Untuk dapat menetapkan nilai persediaan pada akhir periode dan menetapkan biaya persediaan
selama satu periode, sistem persediaan yang digunakan adalah:
1. Sistem Periodik (physical), yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara
phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi
pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada pada akhir suatu periode untuk

kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan
sistem periodik umumnya memiliki karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun
nilainya relatif kecil. Sebagai ilustrasi adalah kios majalah di sebuah pusat perkantoran
dan pertokoan yang menjual berbagai jenis majalah, koran, alat tulis, aksesoris
handphone, dan gantungan kunci. Jenis persediaan beraneka ragam namun nilainya relatif
kecil sehingga tidaklah efisien jika harus mencatat setiap transaksi yang nilainya kecil
namun frekuensi transaksi tinggi. Meskipun demikian sebenarnya pada saat ini alasan
tersebut dapat diabaikan dengan adanya teknologi komputer yang meMudahkan
pencatatan transaksi dengan frekuensi tinggi, misalnya seperti di toko retail.
1. Sistem Permanen (Perpetual), yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus
menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun
penjualan. Sistem perpetual ini seringkali digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai
yang tinggi untuk mengetahui posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan
dapat mengatur pemesanan kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu.
Misalnya persediaan alat rumah tangga elektronik (mesin cuci, kulkas, microwave).
Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat
pembelian persediaan. Pada system pencatatan periodik pembelian persediaan dicatat dengan
mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk
mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode.

PERBEDAAN JURNAL UMUM (METODE PEREODIK DAN PERPETUAL)
metode preiodik
metode perpetual
no
keterangan
debet kredit
keterangan
debet kredit
1 pembelian
6,000
persediaan
6,000
kas
6,000
kas
6,000
2 ongkos masuk
300
HPP
300
kas
300
kas
300
3 utang dagang
200
utang dagang
200
retur pembelian
200
persediaan
200
4 utang dagang
1,500
utang dagang
1,500
kas
1,470
kas
1,470
diskon pembelian
30
HPP
30
5 piutang dagang
7,000
piutang dagang
7,000
penjualan
7,000
penjualan
7,000
HPP
5,600
persediaan
5,600
6 retur penjualan
200
retur penjualan
200
piutang dagang
200
piutang dagang
200
persediaan
160
HPP
160
7kas
1,950
kas
1,950

diskon penjualan
50
diskon penjualan
50
piutang dagang
2,000
piutang dagang
2,000
8beban operasional
650
beban oprasional
650
kas
650
kas
650
JURNAL PENYESUAIAN :
metode preiodik
metode perpetual
no
keterangan
debet
kredit
keterangan
debet kredit
Iktisar L/R
2,000
PERSEDIAAN
2,000 TIDAK PERLU DI
PERSEDIAAN
2,360
BUAT
Iktisar L/R
2,360
Laporan laba-rugi
METODE PERIODIK
METODE PERPETUAL
PENJUALAN
xxx
PENJUALAN
xxx
RETUR PENJUALAN
(xxx)
RETUR PENJUALAN
(xxx)
POT. PENJUALAN
(xxx)
POT. PENJUALAN
(xxx)
PENJUALAN BERSIH
xxx
PENJUALAN BERSIH
xxx
HARGA POKOK
HARGA POKOK
PENJUALAN
PENJUALAN
(xxx)
PERS. Barang awal
xxx
LABA KOTOR
xxx
pembelian
xxx
ongkos angkut
(xxx)
potongan pembelian
(xxx)
barang tersedia dijual
xxx
Pers. Barang akhir
(xxx)
HARGA POKOK
PENJUALAN
(xxx)
LABA KOTOR
xxx
a. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM FISIK ( PEREODIK)
Untuk menentukan nilai persediaan barang pada akhir periode menurut system pisik
adalah sebagai berikut :
1. Metode Tanda Pengenal Khusus
2. Metode RataRata
3. Metode MPKP ( FIFO )
4. Metode MTKP ( LIFO )
5. Metode Persediaan Dasar.
1. Metode Tanda Pengenal Khusus
Dalam metode tanda pengenal khusus ( specific identification ) setiap barang yang dibeli atau
yang masuk diberi kode / tanda pengenal yang menunjukkan harga per satuan sesuai faktur yang
diterima. Pada metode ini sudah jelas harga per satuannya Dengan demikian untuk mengetahui
jumlah atau nilai persediaan pada akhir periode tinggal mengalikan jumlah barang yang masih
ada dengan harga yang tercantum dalam etiket barang tersebut.
2. Metode RataRata
a. Metode RataRata Sederhana

Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga beli per satuan
setiap transaksi pembelian dan persediaan awal dengan frekwensi pembelian dan persediaan
awal periode.
b. Metode Rata-Rata Tertimbang
Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga barang yang
tersedia untuk dijual yakni jumlah persediaan awal ditambah jumlah pembelian dengan kuantitas
barang tersebut
3. Metode MPKP ( FIFO )
Dalam metode ini, barang yang lebih dulu masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga
nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk belakangan.
Jadi harga pokok barang yang keluar (dijual) dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli
lebih dahulu, sesuai dengan jumlah pembeliannya. Atau dengan kata lain nilai persediaan akhir
barang didasarkan pada harga barang yang dibeli terakhir, sesuai dengan jumlah unitnya.

4. Metode MPKP ( LIFO )
Dalam metode ini, barang yang terakhir masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga
nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk lebih awal.
Sehingga harga pokok barang yang terjual dihitung berdasarkan pada harga barang yang dibeli
terakhir sesuai dengan jumlah unitnya, atau nilai persediaan barnag didasarkan pada harga
barang yang dibeli pada awal, sesuai dengan jumlah unitnya.
5. Metode Persediaan Dasar ( Basic Stock )
Disebut juga sebagai persediaan besi yakni persediaan minimum yang harus dimiliki oleh
perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaannya. Dalam metode Ini keterlambatan masuknya
barang yang disebabkan adanya kemacetan atau sebabsebab lain tidak mengganggu persediaan
sehingga perusahaan masih dapat melayani pelanggan atau pembeli.
Dalam metode ini persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pokok yang ditetapkan. Adapun
selisih antara persediaan barang yang ada dengan persediaan dasar dinilai dengan harga menurut
metode yang dikehendaki ( Metode ratarata, MPKP, MTKP, harga pasar dll ).
b. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM PERPETUAL
Dalam sistem perpetual setiap terjadi mutasi persediaan dicatat dalam akun persediaan. Metode
penilaian persediaan digunakan pada saat terjadi transaksi penjualan, dengan membuat Kartu
Persediaan Barang secara lengkap yang memuat kuantitas, harga satuan, jumlah harga baik untuk
lajur masuk, keluar, maupun sisa. Kartu persediaan tersebut sebagai buku pembantu untuk tiap
macam barang digunakan atau yang dijual. Sehingga apabila perusahaan memiliki 15 jenis
barang, maka harus membuat Kartu Persediaan barang sebanyak 15.
Format Kartu Persediaan adalah sebagai berikut :
KARTU PERSEDIAAN (STOCK CARD)
NAMA
BARAN
METODE
HARGA
G:
PENCATATAN :
JUAL :
TGL KETERANG
MASUK
KELUAR
SALDO

UNI HARG JUMLA UNI HARG JUMLA UNI HARG JUMLA
T
A
H
T
A
H
T
A
H
Metode penilaian persediaan dalam pencatatan secara perpetual sebagai berikut :
1. Metode RataRata bergerak ( Moving Average )
Dalam metode ini, harga beli ratarata dihitung setiap terjadi transaksi
pembelian. Harga pokok penjualan per satuan didasarkan pada harga ratarata pada saat terjadi
transaksi penjualan.
2. Metode FIFO
Metode ini beranggapan barang yang ada paling awal dianggap dijual paling awal juga.
Perbedaanya adalah dalam metode perpetual perhitungan harga pokok dilakukan pada saat
terjadi penjualan.
3. Metode LIFO
Pada metode ini barang yang terakhir dibeli dianggap dijual lebih dahulu. Harga pokok
dihitung pada saat terjadi penjualan
AN

c. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN METODE TAKSIRAN
Penetapan harga pokok persediaan dengan metode cost mengharuskan perusahaan untuk
mengadakan perhitungan secara pisik atas persediaan, umumnya memerlukan waktu lama dan
biaya yang besar . Pada perusahaan tertentu seperti Toserba atau swalayan, metode cost dirasa
kurang praktis atau tidak efisien. Untuk itu diperlukan metode lain, yakni metode Taksiran,
khususnya dalam penilaian persediaan pada laporan intern. Dalam metode ini dapat digunakan
dua cara yakni :
a. Metode Eceran
b. Metode Laba kotor.
Metode Eceran
Metode ini banyak digunakan pada perusahaanperusahaan besar seperti toserba atau
swalayan yang memperdagangkan puluhan bahkan ratusan jenis barang. Dalam hal ini setiap
jenis barang yang ada dilekati label harga jual eceraannya sehingga pelayan toko lebih tahu harga
jual eceran dari pada harga pokoknya dan lebih mudah baginya membuat laporan atas barang
yang masih ada berdasarkan harga eceran tersebut .
Prosedur penilaian persediaan :





Atas persediaan awal , selain diketahui harga pokoknya, juga diketahui harga jual
ecerannya
Setiap terjadi transaksi pembelian harus diketahui jumlah harga jualnya
Dihitung barang tersedia untuk dijual menurut harga beli dan menurut harga jual.
Dihitung prosentase harga pokok terhadap harga jual dengan rumus :

Harga Pokok Persediaan Barang Tersedia dijual
X 100 % = ………%
Harga jual barang tersedia dijual



Prosentase harga pokok dengan harga jual tersebut digunakan untuk menaksir harga
pokok persediaan yang ada pada kahir akhir suatu periode.

Metode Laba Kotor ( Gross Profit Method )
Dalam metode ini konsep yang digunakan adalah konsep hubungan antara harga pokok dan
harga jual. Besarnya prosentase laba kotor umumnya didasarkan prosentase laba-laba tahun lalu.
Metode laba kotor dapat bermanfaat dalam kondisi berikut ini :
a)
Perusahaan memerlukan laporan persediaan untuk keperluan intern bila perusahaan
menggunakan sistem periodik. Atau untuk melihat persedian bulanan,sedang biaya stock opname
sangat mahal.
b)
Persediaan rusak atau musnah akibat kebakaran, pencurian, bencana alam dll.
c)
Untuk menguji keabsahan angka persediaan yang dihitung dengan cara lain.
Dalam metode laba kotor besarnya prosentase laba kotor dapat dihitung dengan



Prosentase laba kotor dari harga jual
Prosentase laba kotor dari harga pokok.

Prosentase laba kotor dihitung dari harga Jual
Dalam metode ini harga jual adalah 100%, sedangkan Harga pokok barang yang dijual adalah
100% dikurangi laba kotor, atau persen laba kurang dari 100. Cara menentukan nilai persediaan
akhir adalah sebagai berikut :
1. Dihitung lebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual dengan jalan menambahkan
persediaan barang daganga awal tahun ditambah pembelian bersih tahun berjalan.
2. Dihitung harga pokok barang yang dijual dengan cara jumlah penjualan dikurangi
persentase dikali jumlah penjualan.
3. Dihitung nilai persediaan akhir barang dagangan, yakni barang tersedia untuk
dijualdikurang harga pokok barang yang sudah dijual.

Persentase laba kotor dihitung dari harga Pokok.
Bila persentase laba kotor ditentukan dari harga pokok , besarnya harga jual adalah harga pokok
( 100% ) ditambah prosentase laba. Jadi harga jual lebih dari seratus persen atau disebut persen
laba diatas seratus.
Simpulan
Persediaan (inventory), adalah meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat
tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan.
Aktiva lain yang dimiliki perusahaan, tetapi tidak untuk dijual atau dikonsumsi tidak termasuk
dalam klasifikasi persediaan. Persediaan merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi
yang cukup penting dalam suatu perusahaan.

11

EmailShare

Dengan gambaran tersebut maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada
umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1. Bahan baku (direct material)
2. Barang dalam proses (work in proses)
3. Barang jadi (finished goods).
Metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan ada dua, yaitu:
1. Metode Stock Opname atau Metode Periodik (Fisik)
2. Metode Perpetual.
Masalah kepemilikan barang dalam perjalanan (Goods in transit) sangat tergantung dari
perjanjian yang disepakati oleh penjual dan pembeli. 2 syarat tersebut adalah (1) Fob Shipping
Point dan (2) Fob Destination. Tidak semua barang yang berada di gudang/toko bisa diakui
menjadi milik perusahaan, misalnya barang titipan (barang konsinyasi) dari pihak lain dengan
tujuan akan dijual untuk dan atas nama pihak lain tersebut dengan mendapatkan sejumlah komisi
(consignment in) tidak dapat diakui sebagai milik perusahaan. Sebaliknya untuk barang yang
sifatnya consigment out, yang sampai dengan tanggal neraca belum terjual harus dicantumkan di
Neraca.
Sistem pencatatan (administrasi) persediaan ada dua, yang pertama sistem fisik/periodik
(periodic inventory system), berdasarkan sistem ini persediaan ditentukan dengan melakukan
menghitung fisik terhadap persediaan.
Sumber : http://fadhlanaccounting.wordpress.com/akuntansi-persediaan/
Nama : Dewi Rahayu
No : 08
Kls : XII AK 1
Diposkan oleh akuntansi siji di 17.31 3 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

SISTEM PERIODIK vs SISTEM PERPETUAL

Akuntansi Persediaan: Sistim Periodik Vs
Perpetual

Dalam akuntansi persediaan, ada dua sistim yang lumrah digunakan, yaitu: sistim
periodik dan sistim perpetual. Bagi pegawai accounting, sistim persediaan periodik atau
perpetual—yang diterapkan di dalam perusahaan—menentukan bagaimana pencatatan
transaksi persediaan dilakukan. Sedangkan bagi pengelola keuangan dan pengelola usaha,
sistim persediaan yang diterapkan menentukan seberapa efektif persediaan bisa dikelola—
terutama aspek pengawasannya.
Persediaan dan Impilkasinya Terhadap Laporan Keuangan
Sebelum berpikir yang rumit-rumit—termasuk implikasi (pengaruh) persediaan terhadap laporan
keuangan dan pengelolaan keuangan, APA ITU PERSEDIAAN?
Sederhananya, yang disebut persediaan adalah apa yang oleh masyarakat umum kenal dengan
istilah “stok”. Di Eropa, sampai sekarang masih menggunakan istilah “stock”. Tetapi secara
internasional persediaan disebut dengan istilah “inventory”, yang disebut stock justru saham.
Mau disebut inventory, mau disebut stock, silahkan. Yang lebih penting di sini: wujud dari
persediaan itu berupa apa?
Wujud fisik persediaan suatu perusahaan tergantung pada jenis usahanya. Meskipun pada
kenyataannya ada banyak jenis atau model usaha, dalam akuntansi—untuk tujuan
penyederhanaan—jenis usaha biasanya hanya dibagi menjadi 3 kelompok saja.
Berikut adalah 3 jenis perusahaan beserta persediaannya:




Perusahaan Jasa (misal: konsultan, agen, broker, dll) – Tidak memiliki persediaan
Perusahaan Dagang (misal: toko, mini market, dll) – Persediaannya berupa barang jadi
Perusahaan Manufaktur (misal: pabrik gula, pabrik pakaian jadi, dll) – Persediaannya
berupa: (a) bahan baku; (b) bahan penolong; (c) barang dalam proses; dan (d) barang jadi.

Persediaan berimplikasi luas terhadap pelaporan keuangan dan pengelolaan keuangan
perusahaan.
Apa implikasinya terhadap laporan keuangan? Persediaan berimplikasi langsung terhadap
Neraca dan Laporan Laba-Rugi:




Di Neraca, persediaan disajikan dalam kelompok “Aktiva Lancar” (current assets)—
setelah akun “Piutang” (silahkan lihat contoh format Neraca), sehingga besar-kecilnya
nilai saldo persediaan yang disajikan berpengaruh terhadap besar kecilnya nilai aktiva
(aset) secara keseluruhan.
Di Laporan Laba Rugi, besar kecilnya PENGGUNAAN persediaan (bahan baku, bahan
penolong dan barang jadi) menentukan besar kecilnya “Harga Pokok Penjualan” (HPP),
yang pada akhirnya juga akan menentukan besar kecilnya “Laba” atau “Rugi” yang
disajikan di dalam laporan laba-rugi. Pada akhirnya, besar-kecilnya laba/rugi yang
dibukukan pada suatu periode akuntansi berimplikasi terhadap besar-kecilnya “Laba
Ditahan” (Retained Earning) yang disajikan di Neraca—persisnya di kelompok akun
“Ekuitas.”

Oke. Implikasi persediaan terhadap laporan keuangan sudah jelas terlihat. Pertanyaannya:
Apakah penerapan sistim persediaan periodik/perpetual berpengaruh terhadap laporan
keuangan? Maksud saya, apakah dengan menggunakan sistim perpetual membuat laporan
keuangan menjadi berbeda jika dibandingkan dengan menggunakan sistim periodik?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat perbandingan antara sistim persediaan periodik
dengan perpetual. Yuk pindah ke paragraf berikutnya…

Perbedaan Paling Fundamental Antara Sistim Periodik dan Perpetual
Perbedaan paling mencolok antara sistim periodik dengan sistim perpetual ada pada 2 hal:
1. Penentuan Nilai Saldo Akhir Persediaan di Neraca:
(a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menerapkan sistim periodik, nilai saldo akhir persediaan
di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan yang lumrah dikenal
dengan istilah “stok opname” —sederhananya; di akhir periode, fisik barang bersediaan (bahan
baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik
barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) satuan barang.
(b) Sistim Perpetual – Jika yang diterapkan adalah sistim perpetual, perusahan tidak perlu
melakukan penghitungan fisik untuk menentukan nilai saldo akhir persediaan., karena setiap
transaksi terkait dengan persediaan—baik kenaikan maupun penurunan—telah dicatat melalui
penjurnalan. Meskipun demikian, penghitungan fisik tetap dilakukan untuk kemudian
dibandigkan dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku persediaan. Jika terjadi perbedaan
antara saldo akhir hasil penghitungan fisik dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku
persediaan, maka dibuatkan rekonsiliasi persediaan dengan memasukan jurnal penyesuaian
persediaan (inventory adjustment entry).
2. Penentuan Persediaan Digunakan (atau Terjual) dalam Harga Pokok Penjualan:
(a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menggunakan sistim periodik, maka nilai persediaan yang
digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok Penjualan”, dihitung dengan
cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan total pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu
dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang diperoleh melalui penghitungan fisik. Misalnya:
Data persediaan JAK Mart (perusahaan dagang) untuk tahun 2012 adalah sbb:




Saldo awal = Rp 20,000,000
Pembelian Bersih Jan s/d Des 2012 = Rp 150,000,000
Saldo akhir 31 Desember 2012 (diketahui setelah penghitungan fisik) = Rp 22,000,000

Harga Pokok Penjualan = 20,000,000 + 150,000,000 – 22,000,000 = 148,000,000. Selanjutnya
harga pokok ini dimasukan dengan journal penyesuaian (sebentar lagi kita bahas di perbandingan
jurnal.)
(b) Sistim Perpetual – Dengan sistim perpetual, perusahaan tidak perlu lagi membuat
perhitungan seperti pada sistim periodik karena penggunaan persediaan langsung diakui setiap
kali ada penjualan dengan mendebit akun “Harga Pokok Penjualan” dan mengkredit
“Persediaan” di sisi lainnya, seperti jurnal di bawah ini:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Persediaan = xxx
“Oke. Dengan sistim perpetual setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau
penurunan volume persediaan selalu dicatat dengan memasukan jurnal begitu transaksi
terjadi. Apakah dengan sistim periodik transaksi-transaksi yang terjadi tidak dicatat
samasekali?” Mungkin ada yang berpikir seperti itu.
Tentu saja dicatat. Hanya saja, biasanya, menggunakan nama akun berbeda dibandingkan jika

menggunakan sistim perpetual. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat transaksi-per-transaksi.
Lanjut…

Perbandingan Sistim Periodik Vs Perpetual Transaksi-Per-Transaksi
Ada banyak transaksi yang mengakibatkan volume persediaan menjadi meningkat atau menurun
selama satu periode. Di sini kita lihat perbandingan sistim periodik dan perpetual transaksi-pertransaksi, jurnal-per-jurnal.
1. Pembelian dan Penjualan Barang
Dalam sistim perpetual, pembelian dan penjualan barang persediaan dicatat langsung ke akun
“Persediaan,” dengan kata lain: perubahan nilai nominal dan volume persediaan langsung terlihat
dalam buku besar (ledger) persediaan setiap kali ada transaksi pembelian dan penjualan.
Sedangkan dalam sistim periodik yang dicatat hanya kenaikan nilai dan volume persediaan
melalui akun yang disebut dengan “Pembelian”, sementara tidak mencatat adanya penurunan
pada setiap transaksi penjualan yang terjadi (penurunan persediaan diakui sekaligus di akhir
periode dengan melakukan pemeriksaan fisik). Untuk lebih jelasnyanya, kita lihat contoh berikut
ini:
JAK Mart, Perusahaan Grossir, menunjukan data sbb:
(a) Saldo Awal Persediaan = 100 units @ Rp 60,000 = Rp 6,000,000
(b) Pembelian = 900 units @ Rp 60,000 = Rp 54,000,000
(c) Penjualan = 600 units @ Rp 120,000 = Rp 72,000,000
(d) Saldo Akhir = 400 units @Rp 60,000 = Rp 24,000,000
(Note: Untuk menghindari penggunaan cost flow—yang bisa membingungkan, kita asumsikan
cost per unit persediaan konstan dari awal hingga akhir periode)
Jika JAK Mart menggunakan sistim perpetual, maka alur transaksi dan jurnalnya akan
nampak sbb:
(a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000
(b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Persediaan = Rp 54,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000
(c) Penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000 per unit dicatat dengan sepasang jurnal:
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000
(Untuk mengakui penjualan dan piutang)
Dan;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000
[Kredit]. Persediaan = Rp 36,000,000
(Untuk mengakui harga pokok penjualan sekaligus penurunan nilai inventory, 60,000 x 600 = Rp
36,000,000.)
(d) Kecuali ada perbedaan antara hasil penghitungan fisik dengan buku, maka tidak ada jurnal
penyesuaian yang perlu dimasukan. Saldo akhir persediaan otomatis menunjukan nilai Rp
24,000,000.
Bagaimana jika JAK Mart menggunakan sistim periodik? Jurnalnya akan nampak sebagai
berikut:
(a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000
(b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Pembelian = Rp 54,000,000 (menggunakan akun pembelian)
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000
(c) Pada sistim periodik, penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000/unit dicatat hanya dengan
satu jurnal saja—untuk mengakui penjualan dan piutang dagang (Note: penurunan persediaan
dan pengakuan harga pokok penjualan dilakukan sekaligus di akhir periode):
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000
(Untuk mengakui penjualan dan piutang)
(d) Di akhir periode, setalah dilakukan penghitungan fisik, JAK memasukan jurnal penyesuaian
—untuk mengakui persediaan, harga pokok penjualan, sekaligus ‘menghapus’ saldo akun
“Pembelian”—sebagai berikut:
[Debit]. Persediaan = Rp 18,000,000
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000
[Kredit]. Pembelian = Rp 54,000,000
Note: Dengan jurnal penyesuaian yang dimasukan di akhir periode ini, maka saldo akun
“Pembelian” menjadi nol, saldo akhir persediaan di Neraca menjadi Rp 24,000,000 (=saldo awal
6,000,000 + adjustment kenaikan 18,000,000), dan muncul Harga Pokok Penjualan di Laporan
Laba-Rugi sebesar Rp 54,000,000 (=6,000,000 + 54,000,000 – 24,000,000).
2. Retur Pembelian, Diskon Pembelian dan Cadangan
Apa yang terjadi jika ada retur pembelian atau diskon? Perusahaan yang menerapkan sistim
periodik, disamping menggunakan akun “Pembelian”—yang bersaldo debit mereka juga
menggunakan 2 kontra-akun pembelian (bersaldo kredit) yang diberi nama “Retur Pembelian”
dan “Diskon Pembelian.” Jika ada pembelian yang dikembalikan (retur pembelian) atau
memeperoleh potongan, maka kontra akun ini menjadi pengurang nilai “Pembelian”. Hasil silang
saldo “Pembelian” dan kedua kontra-akun ini menghasilkan apa yang disebut dengan
“Pembelian Bersih”. Bagaimanapun juga, semua slado akun ini (Pembelian, Diskon Pembelian
dan Retur Pembelian) bersifat sementara saja, nantinya akan dihapus degan jurnal penyesuaian di
akhir periode (seperti terlihat pada contoh jurnal penyesuaian sebelumnya). Untuk lebih
konkoretnya, kita buat satu contoh transaksi:
Karena adanya kerusakan, JAK Mart mengembalikan pembelian barang sebesar Rp 7,000,000.
Jika JAK Mart menerapkan sistim perpetual, maka JAK akan mengakui penurunan nilai
utang sekaligus langsung mengakui penurunan nilai persediaan, dengan jurnal:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000
[Kredit]. Persediaan = Rp 7,000,000
(Note: Pengembalian barang mengurangi nilai persediaan sebesar Rp 7,000,000)
Jika JAK Mart menerapkan sistim periodik, maka jurnalnya adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000
[Kredit]. Retur Pembelian = Rp 7,000,000
(Note: pembelian megurangi nilai pembelian)
Lanjut dengan diskon…
Di lain kesempatan JAK Mart membeli barang sebesar Rp 10,000,000 dengan termin kredit 2/10,
n/30. Karena JAK Mart bisa melakukan pelunasan seminggu setelah pembelian, maka JAK Mart
memperoleh diskon 2%. Bagimana jurnalnya?
Jika menerapkan sistim perpetual, maka saat pembelian JAK Mart memasukan jurnal:
[Debit]. Persediaan = Rp 10,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000

Saat pelunasan, diskon Rp 200,000 tersebut sekaligus diakui sebagai pengurang nilai persediaan,
dengan jurnal:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
[Credit]. Persediaan = Rp 200,000
[Credit]. Kas = Rp 9,800,000
Jika menggunakan sistim periodik, maka saat pembelian jurnal yang dimasukan adalah:
[Debit]. Pembelian = Rp 10,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
Diskon yang diperoleh tidak diakui sebagai pengurang nilai persediaan (ingat: sistim periodik
tidak mencatat persediaan tetapi “pembelian”), melainkan dicatat sebagai “Diskon Pembelian.”
Sehingga jurnal yang dimasukan ketika melakukan pelunasan adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
[Credit]. Diskon Pembelian = Rp 200,000
[Kredit]. Kas = Rp 9,800,000
3. Retur Penjualan dan Diskon Penjualan
Transkasi lainnya yang terkait dengan persediaan adalah retur penjualan dan diskon penjualan.
Pada transaksi ini, baik sistim perpetual maupun sistim periodik sama-sama meggunakan akun
yang diberi nama “Retur Penjualan” dan “Diskon Penjualan”—yang kedua-duanya merupakan
kontra-akun penjualan (bersaldo debit), bedanya hanya di pengakuan “Harga Pokok Penjualan”.
Pada sistim perpetual return penjualan, disamping mengakui penurunan piutang dagang dan
penurunan penjualan (dengan akun “retur penjualan”) juga mengakui penurunan harga pokok
penjualan dan persediaan. Sedangkan pada sistim periodik, tidak. Misalnya:
JAK Mart menerima barang kembali dari pelanggan (karena cacat) senilai Rp 6,000,000. Harga
Pokok Penjualan barang yang diretur tersebut adalah Rp 3,000,000. (Kita asumsikan pengakuan
penjualan menggunakan metode bruto/gross method)
Jika menggunakan perpetual, maka JAK Mart akan mencatat retur tersebut dengan sepasang
jurnal:
[Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit)
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000
(Untuk mengakui retur penjualan)
Dan;
[Debit]. Persediaan = Rp 3,000,000
[Kredit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 3,000,000
(Untuk mengakui barang persediaan yang telah dikembalikan sekaligus menguragi harga pokok
penjualan).
Sedangkan jika menggunakan sistim periodik, JAK Mart hanya akan memasukan satu jurnal
saja, yaitu:
[Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000
(Untuk mengakui retur penjualan)
Catatan: Sistim periodik baru akan menghitung saldo persediaan dan mengakui harga pokok
penjualan di akhir periode—setelah penghitungan fisik dilakukan.
Selanjutnya, diskon penjualan. Bagaimana pencatatanya?
Oke. Anggap JAK Mart memberikan diskon Rp 200,000 atas pelunasan pembelian sebesar Rp
10,000,000 dari pelanggan (masih menggunakan metode pengakuan penjualan bruto/gross
method)

Sistim perpetual dan sistim periodik memasukan jurnal yang sama persis untuk pelunasan
yang mengandung diskon penjualan. Dalam contoh ini:
[Debit]. Kas = Rp 9,800,000
[Debit]. Diskon Penjualan = Rp 200,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit).
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 10,000,000
Secara keseluruhan, dari pebandingan jurnal—antara sistim periodik dan perpetual, jelas
terlihat bahwa:
Terhadap laporan keuangan yang disajikan di setiap akhir periode, menggunakan sistim
perpetual atau periodik tidak berpengaruh apa-apa, dalam pengertian: nilai saldo akhir persediaan
(yang disajikan di neraca) dan harga pokok penjualan (yang disajikan di laporan laba-rugi), akan
menunjukan hasil yang sama.
Bedanya, hanya terjadi pada teknis pengakuan dan nama akun yang digunakan pada setiap
pengakuan transaksi. Sistim perpetual selalu mendebit/mengkredit akun “Persediaan” untuk
setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan persediaan. Sedangkan sistim
periodik—untuk sementara—menggunakan akun “Pembelian” untuk setiap penambahan
persediaan dan baru memperhitungkan penurunan persediaan di akhir periode—sertelah
penghitungan fisik dilakukan.
Bagaimana jika perusahaan yang menerapkan sistim periodic—terpaksa harus menyajikan
laporan padahal periode belum berakhir—misalnya: untuk pengajuan kredit? Perusahaan bisa
(a) menggunakan laporan periode sebelumnya, atau (b) melakukan penghitungan fisik saat itu
juga lalu menjalankan prosedur seperti yang dilakukan di akhir periode.
Oke. Penerapan sistim periodik atau perpetual tidak ada pengaruhnya terhadap laporan
keuangan. Bagaimana dengan pengelolaan persediaan dan keuangan secara keseluruhan?
Mari kita lihat implikasinya… Lanjut…

Implikasi Penerapan Sistim Periodik dan Perpetual Terhadap Pengelolaan
Persediaan
Dari perbenadingan di atas, jelas terlihat bahwa: untuk tujuan pengawasan persediaan, sistim
perpetual jauh lebih baik dibandingkan sistim periodik. Dengan sistim perpetual, management
dapat mengetahui nilai persediaan sewaktu-waktu—tanpa perlu menunggu hingga akhir periode.
Khususnya di perusahaan-perusahaan manufaktur, pengawasan terhadap barang persediaan
sangat kompleks—dengan adanya potensi barang scrap dan cacat yang lebih tinggi dibandingkan
dengan perusahaan jenis lain. Dalam kondisi seperti ini, jika sistim persediaan yang diterapkan
adalah sistim periodik—dimana penurunan (volume dan nilai persediaan) baru diperhitungkan di
akhir periode, maka kesempatan untuk mengetahui adanya pemborosan bahan baku, bahan
penolong dan kemungkinan adanya barang cacat saat dalam proses produksi menjadi lebih sulit
ditelusuri—kemungkinan baru diketahui setelah di akhir periode, dengan kata lain: sudah terjadi.
Efektifitas pengawasan terhadap barang persediaan berimplikasi besar terhadap pengelolaan
keuangan perusahaan secara keseluruhan. Terutama di perusahaan dagang dan manufaktur,
sebagian besar kekayaan (asset) perusahaan ada di persediaan—entah itu berupa bahan baku,
bahan penolong, barang dalam proses maupun barang jadi. Diantara banyaknya beban yang
ditanggung oleh operasional perusahaan, penggunaan persediaan cenderung mendominasi. Jika
scope-nya dipersempit, persediaan bahkan mengkonsumsi modal kerja (working capital) paling
besar.
Itu sebabnya, bagi managemen perusahaan, pemilihan sistim persediaan yang akan diterapkan

(apakah menggunakan sistim perpetual atau periodik) menjadi sangat krusial.
“Lalu, apakah sebaiknya saya menerapkan sistim persediaan perpetual atau periodik?”
Mungkin ada yang berpikir demikian. Kita pindah ke paragraph selanjutnya…

Apakah Sebaiknya Menggunakan Sisitim Persediaan Periodik atau Perpetual?
Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi opersional perusahaan
anda sehari-hari.
Dari aspek pelaporan keuangan, menurut saya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Menggunakan
sistim perpetualpun, toh di akhir periode anda masih harus melakukan stock opname (inventory
physical count) untuk memverifikasi keakuratan data persediaan yang diperoleh dari sistim
perpetual. Dan, jika terjadi perbedaan antara hasil penghitungan fisik dengan saldo akhir buku,
toh anda masih harus membuat rekonsiliasi dan inventory adjustment, iya kan?
Tetapi dari aspek pengawasan persediaan, sistim perpetual jelas lebih baik dibandingkan sistim
periodik. Tetapi perlu di sadari bahwa: menerapkan sistim perpetual artinya anda harus siap
melakukan pencatatan setiap kali ada transaksi sehubungan dengan persediaan.
Untuk perusahaan-perusahaan berskala besar, jelaslah bahwa sistim perpetual selalu lebih baik—
lagipula tenaga untuk melakukan input data setiap saat selalu ada. Tetapi untuk perusahaan
berskala sedang dan kecil, menerapkan sistim perpetual bisa menjadi tantangan tersediri. Masih
perlu melihat kondisi operasional perusahaan sehari-hari.
Untuk mempermudah, saya buatkan 2 macam perusahaan—dengan karakter opersional
yang sangat berbeda, sebagai ilustrasi:
1. Perusahaan Pertama, Computer Wholesaler – Anda mengelola perusahaan yang menjual
komputer dalam jumlah besar, pangsa pasar perusahaan anda bisa jadi pengguna akhir maupun
pedagang computer eceran. Sebelum memilih apakah menggunakan sistim persediaan periodik
atau perpetual, anda perlu mempertimbangkan kondisi operasional perusahaan anda. Bagaimana
kondisinya?






Barang dagangan anda adalah tergolong bernilai tinggi
Iklan produk/perushaan anda muncul di TV atau suratkabar lokal setiap hari
Volume penjualan harian anda sangat tinggi
Anda mempekerjakan lebih dari 40 orang pegawai sales
Anda membayangkan bahwa pelanggan akan sangat kecewa jika mereka datang
berbelanja tetapi barang persediaan yang anda iklankan ternyata sudah habis terjual

Dengan kondisi operasional perusahaan seperti ini, apakah menggunakan sistim perpetual
cukup masuk akal? Jelas iya. Anda perlu mengetahui saldo persediaan barang setiap hari—
bahkan mungkin setiap jam atau menit, yang tidak mungkin bisa anda dapatkan jika
menggunakan sistim periodik. Dengan sistim perpetual, setiap transkasi penjualan selalu diikuti
dengan pencatatan barang keluar, sementara dalam sistim periodik tidak.
2. Perusahaan Kedua, Toko Serba Ada Di Stasiun Kereta Api – Di sini anda mengelola toko
yang menjual berbagai macam barang, untuk orang-orang sibuk yang bepergian kesana-kemari
dengan kondisi yang selalu terburu-buru. Anda perlu mempertimbangkan kondisi opersional
toko anda sebelum memutuskan untuk menerapkan sistim persediaan perpetual atau periodik.
Bagaimana situasinya?







Penjualan paling banyak terjadi di waktu pagi—saat sebagian besar orang buru-buru ke
tempat kerja atau ke kampus, dan petang hari—saat sebagian besar orang buru-buru
pulang ke rumah setelah seharian bekerja.
Anda menjual berbagai macam barang mulai dari kertas tisu, permen, koran/majalan,
gantungan kunci, stationary, minuman dingin, kue kotak, dll
Anda hanya memiliki 2 orang pegawai yang untuk melayani pembeli di waktu-waktu
padat sudah terlihat kewalahan, sehingga sering anda sendiri yang ikut membantu.
Di jam-jam padat, banyak pelanggan yang sampai harus mengantri untuk membayar—
sementara mereka hanya membeli barang-barang kecil yang sesungguhnya bisa dibeli di
toko mana saja.

Dalam kondisi operasional seperti ini, apakah menerapkan sistim persediaan perpetual masuk
akal? Jelas tidak. Pegawai dan anda tidak akan sempat melakukan aktivitas administrative
(termasuk accounting) yang diperlukan untuk menerapkan sistim perpetual. Salah-salah,
pelanggan tidak jadi belanja karena malas menunggu proses.

Judul: Akuntansi Persediaan

Oleh: Punklima Momiyo


Ikuti kami