Akuntansi Perpajakan

Oleh Agil Rahman

25 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Perpajakan

AKUNTANSI PERPAJAKAN

Dosen Pengampu :
Wirmie Eka Putra, S.E,M.Si
Gandy Wahyu Maulana Zulma, M.S.Ak
Disusun Oleh :
MOHAMMAD AGIL RAHMAN
C0C018014

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas anugerah
dan petunjuk-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Strategi Ekspor
Produk Tekstil Indonesia ke Pasar Asia”. Studi ini merupakan ranah kajian Ilmu Ekonomi
Internasional.
Penulis memiliki ketertarikan terhadap strategi ekspor produk tekstil Indonesia,
khususnya untuk ekspansi di pasar Asia. Produk tekstil Indonesia telah dikenal kualitasnya.
Nilai ekspor produk tekstil pun terus mengalami peningkatan. Hal ini juga terjadi pada ekspor
ke negara –negara di Asia. Penulis merasa penting untuk mengetahui serta memetakan
strategi ekspor produk tekstil yang dilakukan oleh Indonesia, khususnya untuk ekspansi di
pasar Asia. Dengan mengetahui strategi ini, maka Indonesia bisa terus mendorong ekspor
produk tekstil ini dan mengetahui apa kekuatan yang dimiliki, sekaligus kelemahannya.
Dengan makalah ini, penulis berharap dapat menambah wawasan dari para pembaca
mengenai strategi ekspor yang dilakukan Indonesia. Penulis juga ingin agar tulisan ini bisa
bermanfaat bagi para pelaku ekspor produk tekstil dan berbagai pihak lain terkait yang bisa
memanfaatkannya. Jika terdapat saran dan kritik mengenai apa yang dibahas dalam makalah
ini, penulis terbuka untuk menerimanya.

1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................ 1
DAFTAR ISI....................................................................................... 2
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................... 3
A. Latar Belakang............................................................................... 3
B. Rumus Masalah............................................................................................. 4
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 5
A. Amortisasi asset tidak berwujud dengan metode garis lurus dan saldo
menurun…………………………………….…………………...……......
B. Klasifikasi kewajiban jangka pendek………………...............................
C. Pencatatan pajak atas kewajiban jangka
pendek…………..........................................................................................

BAB III PENUTUP...........................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep pencatatan dari asset tidak berwujud dan kewajiban jangka pendek
AKUNTANSI ASET TAK BERWUJUD
Tujuan Pembelajaran;Pengertian aset tak berwujud Konsep dan pencatatan aset tak berwujud
Tata cara menghitung dan mencatat amortisasi menurut akuntansi komersial dan akuntansi
pajakAkuntansi biaya penelitian dan pengembangan
PengertianAset tak berwujud dapat dikategorikan sebagai aset perusahaan, namun secara
fisik aset tersebut tidak tampak. Dalam PSAK No. 19 ( Revisi 2010) menyatakan aset
takberwujud (intangible assets) adalah aset tidak lancar dan tidak berbentuk yang
memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan
tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aset yang lain.
Bentuk aset takberwujud
Bentuk aset dapat berupa;Hak patenHak ciptaWaralaba (franchise) Merek daganggoodwill
DEPLESI
AMORTISASI
Pengertian amortisasi sesuai PSAK 19 (Revisi 2010) yaitu alokasi sistematis jumlah
tersusutkan aset tak berwujud selama umur manfaatnya. Periode amortisasi tidak boleh
melebihi 20 (dua puluh) tahun atas dasar pertimbangan bahwa pada masa tersebut banyak
terjadi perkembangan sehingga waktu lebihnya aset takberwujud diperkirakan manfaat
keekonomiannya tidak ada lagi.
Biaya Amortisasi = % Tarif x Harga Perolehan aset takberwujud
Untuk menetapkan besarnya biaya amortisasi yang dibebankan setiap peride di hitung dengan
memperhatikan metode yang digunakan dalam amortisasi aset takberwujud. Dalam praktik
akuntansi komersial metode amotisasi aset takberwujud pada umumnya menggunakan
metode garis lurus yaitu dirumuskan;Biaya Amortisasi = % Tarif x Harga Perolehan aset
takberwujud
AMORTISASIContoh; PT. ABC mengeluarkan seluruh biaya Rp untuk memperoleh hak
paten yang dibayarnya tunai untuk masa manfaat 5 tahun. Dengan menggunakan metode
garis lurus. Berapa amortisasi setiap tahun; = 1/5 x Rp = Rp Ayat jurnal saat pembayaran 2.
Ayat jurnal saat pembebananTglAkunDebitKreditHak PatenKas dan
BankTglAkunDebitKreditBiaya AmortisasiHak Paten
AMORTISASI DALAM AKUNTANSI PAJAK
Seperti yg telah dilakukan pada aset tetap berwujud, bahwa nilai aset tetap berwujud
dilakukan penyusutan. Sedangkan untuk aset tak berwujud dilakukan amortisasi. Menurut
PSAK No. 19 (revisi 2010) adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud
fisik. Perlakuan akuntansi aset tak berwujud tidak berbeda dengan perlakuan akuntansi
terhadap aset tetap berwujud.

PERIODE DAN METODE AMORTISASI
PSAK No. 19 adanya klasifikasi aset takberwujud berdasarkan periode amortisasi, yaitu;Aset
takberwujud dengan umur manfaat terbatasAset takberwujud dengan umur manfaat tidak
terbatasAmortisasi menurut akuntansi pajak berdasarkan pasal 11A UU PPh, menyebutkan
amortisasi dilakukan terhadap pengeluaran untuk memperoleh harta takberwujud. Metode yg
digunakan adalah;Metode garis lurusMetode saldo menurun
Pengelompokan Aset Takberwujud dan Tarif Amortisasi
Untuk tujuan pajak, aset takberwujud dikelompokkan sesuai dengan masa manfaat, utk lebih
jelas dapat dilihat dalam tabel berikut; Contoh, masa manfaat sebenarnya 6 tahun dapat
menggunakan kelompok masa manfaat 4 tahun atau 8 tahun.Kelompok Harta Tak
BerwujudMasa ManfaatTarif AmortisasiGaris LurusSaldo MenurunKelompok 14
Tahun25%50%Kelompok 28 Tahun12,5%Kelompok 316 Tahun6,25%Kelompok 420
Tahun5%10%
Pengelompokan Aset Takberwujud dan Tarif Amortisasi
Contoh;Untuk memperoleh hak paten perusahaan mengeluarkan uang tunai sebesar Rp masa
manfaat hak paten tersebut 4 tahun.Perhitungan amortisasi setiap tahun dengan menggunakan
metode garis lurus= 25% x Rp = RpPerhitungan amortisasi setiap tahun dengan
menggunakan metode saldo menurun= 50% x Rp = Rp

B. RUMUS MASALAH
1. BAGAIMANA AMORTASASI ASSET TIDAK BERWUJUD DENGAN METODE GARIS LURUS
DAN SALDO MENURUN
2. APA SAJA KLASIFIKASI KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
3. BAGAIMANA PENCATATAN PAJAK ATAS KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

C. TUJUAN MASALAH
1. UNTUK MENGETAHUI AMORTASASI TIDAK BERWUJUD DENGAN METODE GARIS LURUS
DAN SALDO MENURUN
2. UNTUK MENGETAHUI KLASIFIKASI KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
3. UNTUK MENGETAHUI PENCATATAN PAJAK ATAS KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

BAB II PEMBAHASAN
A. Amortisasi asset tidak berwujud dengan metode garis lurus dan saldo
menurun
Metode dan Pencatatan Amortisasi Aset Tak Berwujud
Di dalam ilmu akuntansi, kita mengenal suatu penurunan nilai atau penyusutan dari
sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun. Aset yang
mempunyai umur ekonomis yang lebih dari satu tahun tersebut adalah Aset Tetap dan
Aset Tidak Berwujud. Aset Tetap misalnya tanah, gedung atau bangunan, mesin
produksi, kendaraan operasional dan yang lainnya. Sedangkan contoh dari Aset Tak
Berwujud adalah hak paten, merk dagang, goodwill dan yang lainnya. Semua Aset
tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai tiap saat. Penurunan
nilai ini di dalam akuntansi dikenal sebagai penyusutan untuk Aset Tetap dan amortisasi
untuk Aktiva Tidak Berwujud.
Pengertian Amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu Aktiva
tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu disetiap periode
akuntansi. Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit
Secara umum metode yang digunakan dalam amortisasi aset tidak berwujud menurut
akuntansi ada dua jenis, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun. Jika
mengacu pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2000 tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang – Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, metode dan penilaian amortisasi aset tak berwujud dikelompokan menurut
masa manfaatnya.

Kelompok 1
Kelompok 2

4 Tahun
8 Tahun

Tarif Amortisasi
Garis Lurus
25%
12.5%

Kelompok 3

16 Tahun

6.25%

12.5%

Kelompok 4

20 Tahun

5%

10%

Kelompok Harta Tidak Berwujud Masa Manfaat

Saldo Menurun
50%
25%

1.Metode garis lurus
Metode penyusutan garis lurus merupakan suatu metode pengalokasian pembebanan
biaya, dimana jumlah biaya yang dialokasikan setiap tahunnya adalah sama. Dengan
kata lain, untuk metode garis lurus, nilai biaya penyusutannya konstan untuk setiap
tahunnya, dari tahun perolehan sampai dengan tahun akhir masa manfaatnya. Sebagai
contoh, perusahaan anda membeli lisensi IKEA untuk produksi furnitur rumah tangga

dengan masa manfaat selama 4 tahun sebesar Rp 100.000.000,-. Maka perhitungan
amortisasi pertahunnya adalah sebagai berikut
Beban amortisasi tahunan:
¼ x Rp 100.000.000,- = Rp 25.000.000,Dari perhitungan di atas, maka setiap tahun perusahaan anda harus melakukan
amortisasi lisensi IKEA sebesar Rp 25.000.000,-. Sehingga perhitungan akuntansinya
ketika tutup buku akhir tahun adalah sebagai berikut
Beban Amortisasi
Aset tak Berwujud

Rp 25.000.000,Rp 25.000.000,-

2.Metode saldo menurun
Sedangkan metode penyusutan saldo menurun, merupakan suatu metode
pengalokasian pembebanan biaya, dimana jumlah biaya yang dialokasikan semakin
menurun tiap tahunnya seiring bertambahnya masa manfaatnya, dan pada tahun
dimana merupakan akhir masa manfaatnya, dilakukan penyusutan sekaligus atas nilai
sisa buku yang ada. Dalam metode saldo menurun, pada tahun perolehan, biaya
penyusutan akan lebih besar, dan untuk tahun berikutnya biaya penyusutan akan
semakin kecil. Jika mengikuti contoh kasus di atas, maka perhitungan amortisasinya
adalah sebagai berikut
a.Amortisasi lisensi IKEA tahun pertama

50% x Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000,b.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-2

50% x (Rp 100.000.000 – Rp 50.000.000) = Rp 25.000.000,c.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-3

50% x (Rp 50.000.000 – Rp 25.000.000) = Rp 12.500.000,d.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-4

Tahun keempat adalah akhir masa manfaat lisensi. Maka pada pembukuannya adalah
dengan cara mendebet sisa nilai ke dalam akun beban amortisasi dan mengkreditkan
akun aset tak berwujud atau akun lisensi. Dari perhitungan di atas, maka sisa nilai
lisensi yang harus bukukan adalah sebesar Rp 12.500.000,-

B. Klasifikasi kewajiban jangka pendek
Masuk dalam klasifikasi liabilitas jangka pendek, antara lain:
1. Kewajiban yang timbul dari pembelian barang atau jasa yang digunakan dalam operasional
normal perusahaan,diantaranya:  Utang Dagang  Utang Tertulis Jangka Pendek  Utang Upah
dan Gaji Pegawai  Utang Pajak  Utang Lain-lain
2. Pembayaran diterima dimuka yang mengakibatkan timbulnya kewajiban untuk menyerahkan
barang atau jasa di masa yang akan datang, misalnya:  Pendapatan Diterima Dimuka  Deposit
Dari Pelanggan  Sewa Diterima Dimuka
3. Kewjiban lain yang akan jatuh tempo di periode berjalan, misalnya: promes yang akan segera
jatuh tempo. Lebih jauh lagi, laibilitas lainnya yang masuk klasifikasi jangka pendek adalah:
liabilitas tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal tetapi jatuh tempo untuk diselesaikan
dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan atau dimiliki untuk tujuan
diperdagangkan. Misalnya:  Liabilitas keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk
diperdagangkan;

C. Pencatatan pajak atas kewajiban jangka pendek

-

Penyajian ikhtisar utang pajak yang baik dan teratur akan mempermudah penelitian atas
kewajiban pajak dan pemenuhannya. Utang pajak yang dimaksud dapat mencakup hal-hal
sebagai berikut:
Utang pajak penghasilan yang dibayar sendiri (PPh Pasal 25 dan 29)
Utang pajak penghasilan yang dipungut atau dipotong dari pihak ketiga (PPh Pasal 21, 22,
dan 23)
Utang pajak yang wajib dipungut atau dipotong dari pihak ketiga (PPh Pasal 21, 22, 23 dan
26)
Utang PPn dan PPnBM
Utang PBB

Contoh Utang Pajak Penghasilan:
Setiap pembayaran gaji pegawai dipotong 10% sebagai pajak penghasilan pegawai yang
nantinya akan disetorkan ke kas negara. Jika gaji pegawai bulan Desember 2004 sebesar Rp
1.500.000 maka jurnal yang dibuat sebagai berikut:
Gaji dan Upah
Utang PPh
Kas

Rp 1.500.000
Rp 150.000
Rp 1.350.000

Contoh Utang PPN:
Penjualan bulan Desember 2004 sebesar Rp 25.000.000 termasuk PPN 10% maka jurnal
yang dibuat sebagai berikut:
Kas

Rp 25.000.000
Utang PPN
Penjualan

Rp 2.500.000
Rp 22.500.000

BAB III
A. KESIMPULAN

Sumber : https://slideplayer.info/slide/12216433/
https://www.akuntansionline.id/metode-dan-pencatatan-amortisasi-aset-tak-berwujud/
https://www.slideshare.net/sripardede/klasifikasi-liabilitas-jangka-pendek-sesuaiifrs#:~:text=Masuk%20dalam%20klasifikasi%20liabilitas%20jangka,Lain%2Dlain
%202.%20Pembayaran%20diterima
http://dendyraharjo.blogspot.com/2013/05/akuntansi-pajak-terhadap-hutang-dan_4959.html

Judul: Akuntansi Perpajakan

Oleh: Agil Rahman


Ikuti kami