Akuntansi Perpajakan

Oleh Dewina Sibarani

2,5 MB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Perpajakan

AKUNTANSI PERPAJAKAN AKUNTANSI PERPAJAKAN Eddy Supriyanto AKUNTANSI PERPAJAKAN Oleh : Eddy Supriyanto Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2011 Hak Cipta  2011 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit. Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta 55283 Telp. : 0274-889836; 0274-889398 Fax. : 0274-889057 E-mail : info@grahailmu.co.id Supriyanto, Eddy AKUNTANSI PERPAJAKAN/Eddy Supriyanto - Edisi Pertama – Yogyakarta; Graha Ilmu, 2011 xii + 180 hlm, 1 Jil. : 23 cm. ISBN: 978-979-756- 1. Akuntansi 2. Perpajakan I. Judul K ATA PENGANTAR D engan memanjatkan Puji dan Syukur kepada Allah SWT, penyusun telah menyelesaikan suatu buku Perpajakan di Indonesia. Buku ini disusun berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku hingga tahun 2010, selain itu buku ini disediakan pula contohcontoh soal di bidang perpajakan berserta petunjuknya sehingga sangat mudah dipahami oleh para pembaca. Praktik perpajakan di indonesia saat ini telah berkembang begitu pesat megikuti perkembangan zaman saat ini. Hal ini ditunjukan dengan meningkatnya penerimaan pajak yang ditargetkan oleh Dirjen Pajak dan peningkatan jumlah wajib pajak di indonesia. Dengan peningkatan jumlah wajib pajak ini maka akan ada tuntutan bagi wajib itu sendiri untuk menghitung, menyetor dan melaporkan jumlah pajaknya, karena sistem perpajakan di indonesia lambat-laun secara global sudah.mengarah pada self asessment system. Kebanyakan masyarakat masih awam terhadap perpajakan. Untuk itulah, penulis mencoba menulis sedikit tata cara dan prosedur perpajakan di Indonesia. vi Akuntansi Perpajakan Berdasarkan pada hasil penelitian edy & Ajeng (2010) mengenai pengaruh tingkat Kesadaran, Pelayanan, Kepatuhan Wajib Pajak Terhadap Kinerja Penerimaan Pajak di Kabupaten Grobogan bahwa Kesadaran wajib pajak mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja penerimaan pajak bumi dan bangunan, kondisi ini terjadi karena kesadaran wajib pajak Kabupaten Grobogan dalam membayar pajak dibentuk oleh dimensi persepsi wajib pajak, pengetahuan wajib pajak, karakteristik wajib pajak dan penyuluhan perpajakan. Kesadaran wajib pajak akan meningkat bilamana dalam masyarakat Kabupaten Grobogan muncul persepsi positif terhadap pajak. Dengan meningkatnya pengetahuan perpajakan masyarakat Kabupaten Grobogan melalui pendidikan perpajakan baik formal maupun informal akan berdampak positif terhadap kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak. Pengetahuan masyarakat mengenai pajak saat ini sangat minim sekali, sehingga kesadaran untuk memenuhi kewajiban perpajakannya juga minim. Untuk itu buku ini disusun agar dapat memberikan masukan dan pengetahuan kepada wajib pajak untuk memotong, membayar dan melaporkan kewajiban perpajakannya. Selain untuk wajib pajak pada umumnya, buku ini utamanya ditujukan bagi mahasiswa-mahasiswi yang duduk di perguruan tinggi yang mengambil mata kuliah hukum pajak maupun perpajakan. Namun tidak menutup kemungkinan buku ini juga berguna para kalangan praktisi di bidang perpajakan seperti konsultan pajak, staf perusahaan yang bekerja dibagian tax dan lain sebagainya. Buku ini terdiri dari 13 Bab dan dilengkapi glosarium penting di dalam pajak serta daftar pustaka yang relevan. Semua bab dilengkapi dengan dasar hukum-dasar hukum yang jelas dan update sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku di indonesia. Para pembaca diharapkan dapat memahami terlebih dahulu mengenai konsep dasar dari akuntansi pada bab 1. Setelah memahami konsep ini diharapkan dapat memahami transaksi-transaksi yang berkaitan Akuntansi KataPerpajakan Pengantar vii dengan kewajiban perpajakanya. Untuk itu pada masing-masing bab disajikan contoh kasus beserta pembahasannya dan juga latihan soal untuk dapat lebih memahami konsep akuntansi dan perpajakan secara lebih mendalam. Buku ini secara langsung telah direview oleh pegawai pajak dibagian Tax Audit di Kantor Pelayanan Pajak Semarang Selatan, yaitu Bapak Tirsono, Msi, Akt, untuk itu penulis mengucapkan banyakbanyak terima kasih. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam menyajikan buku ini, maka penyusun mohon kritik dan saran untuk meningkatkan kualitas buku Perpajakan di Indonesia ini. Semoga buku ini dapat berguna bagi semua pemakai dan penyusun. Amin. Semarang, April 2011 Penyusun DAFTAR ISI KATA PENGANTAR v DAFTAR ISI ix BAB 1 PENGERTIAN AKUNTANSI PAJAK 1 A. B. C. Pendahuluan Pembukuan Vs Pencatatan Proses Akuntansi Perpajakan BAB 2 PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) DAN PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH (PPnBM) A. B. C. D. E. F. Pendahuluan Penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak Objek Pajak Faktur Pajak Tarif Pajak Pertambahan Nilai Dasar Pengenaan Pajak BAB 3 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 A. B. Pendahuluan Perhitungan Umum Pajak Penghasilan Pa sal 21 2 3 5 15 16 17 19 23 26 26 35 36 37 x Akuntansi Perpajakan BAB 4 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 A. B. C. D. Pendahuluan Beberapa Barang yang Tergolong Mewah yang Dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 22 Tarif Pajak Penghasilan Pasal 22 Dasar Pengenaan Pajak BAB 5 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 23 A. B. C. D. E. Pendahuluan Objek dan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 23 Penghasilan yang Tidak Dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23 Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 Tarif Bagi Wajib Pajak Tak Ber-NPWP BAB 6 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 24 A. B. C. Pendahuluan Objek dan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 24 Kredit Pajak Penghasilan Pasal 24 BAB 7 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 4 (2) A. B. C. Pendahuluan Objek Pajak Tarif PPh Pasal 4 (2) 43 44 46 47 48 53 54 55 56 57 57 61 62 63 64 67 68 69 70 BAB 8 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25, 28A, 29, DAN 31E 75 A. B. C. D. Pendahuluan Dasar Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 Perlakuan Khusus perhitungan PPh Terutang untuk Wajib Pajak Badan Beberapa Ketetentuan Kaitannya dengan Pajak Penghasilan Pasal 25 76 78 80 83 Pengertian Akuntansi Daftar Pajak Isi BAB 9 AKUNTANSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A. B. C. D. E. F. G. xi 93 Pendahuluan 94 Objek Pajak Bumi dan Bangunan 95 Bukan Objek Pajak Bumi dan Bangunan 96 Subjek Pajak Bumi dan Bangunan 97 Tarif, Dasar, dan Cara Perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan 98 Klasifikasi Bumi dan Bangunan Serta Penerapannya dalam Menghitung PBB 99 Persentase Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) 105 BAB 10 AKUNTANSI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) 109 A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. Pendahuluan 110 Objek BPHTB 111 Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB 112 Tarif Pajak 113 Dasar Pengenaan BPHTB 113 Pengenaan BPHTB 114 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) Ditetapkan Secara Regional Paling Banyak 114 Saat, Tempat, dan Cara Pembayaran Pajak Terutang 115 Tempat Pajak Terutang Adalah Di Wilayah Kabupaten, Kota, Atau Propinsi Yang Meliputi Letak Tanah Dan Bangunan. 116 Cara Penghitungan BPHTB 116 BAB 11 AKUNTANSI BEA MATERAI A. B. C. D. Pendahuluan Subjek Bea Materai Saat Terutang Bea Meterai Objek Bea Materai 121 122 123 123 124 xii Akuntansi Perpajakan E. F. G. H. I. J. K. Dokumen yang Tidak Terutang Bea Meterai: 125 Dokumen yang Tidak Dikenakan Bea Meterai 126 Cara Pelunasan Bea Meterai 127 Syarat Pelunasan Bea Meterai dengan Mengguna­kan Mesin Teraan Meterai 128 Kewajiban Penerbit Dokumen yang Mendapatkan Ijin Penggunaan Mesin Teraan Meterai 128 Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian 129 Sanksi Tidak atau Kurang Melunasi Bea Meterai 130 BAB 12 REKONSILIASI FISKAL A. B. C. Pendahuluan Beda Waktu dan Beda Tetap Koreksi Positif dan Koreksi Negatif BAB 13 AKUNTANSI PAJAK TANGGUHAN A. B. C. Pendahuluan Penilaian dan Pengakuan Aktiva dan Kewajiban Pajak Tangguhan 131 132 133 154 165 166 167 169 GLOSARIUM 175 DAFTAR PUSTAKA 179 BAB 1 Pengertian Akuntansi Pajak 1 PENGERTIAN AKUNTANSI PAJAK B ab ini merupakan pengantar yang harus anda fahami sebelum mempelajari bab-bab selanjutnya. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Akuntansi Pajak, lalu selanjutnya akan dibahas mengenai proses atau siklus akuntansi itu sendiri hingga dapat disusun laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal. Disamping itu juga akan disediakan pula Dasar Hukum dan Ketentuan Perundang-undangan perajakan yang berlaku saat ini serta Stándar Akuntansi Keuangan yang mengatur mengenai perpajakan. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk : 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu membedakan antara pembukuan dan pencatatan di dalam akuntansi perpajakan 3. Menjelaskan secara jelas mengenai siklus akuntansi komersial dan siklus akuntansi fiskal 4. Mampu menyusun dan membuat Neraca Lajur untuk persiapan pembuatan laporan keuangan 2 Akuntansi Perpajakan 5. Mengerti bentuk dari Laporan Keuangan Komersial mulai dari Neraca, Laporan Laba/Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan serta Laporan Rekonsiliasi Fiskal A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - - - Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali perubahan, Pertama: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991, Kedua: Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, Ketiga: UndangUndang Nomor 17 Tahun 2000 dan diubah terakhir dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Undang-Undang No 5 Tahun 2008 dan UndangUndang No 16 Tahun 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 46 Tentang Akuntansi Pajak Tangguhan A.2 Pengertian Akuntansi Pajak Akuntansi Pajak berasal dari dua kata yaitu akuntansi dan pajak. Akuntansi adalah suatu proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran suatu transaksi keuangan dan diakhiri dengan suatu pembuatan laporan keuangan. Sedangkan Pajak adalah iuran atau pungutan wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung. Jadi Akuntansi Pajak adalah suatu proses pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran suatu transaksi keuangan kaitannya dengan kewajiban perpajakan dan diakhiri dengan Pengertian Akuntansi Pajak 3 pembuatan laporan keuangan fiskal sesuai dengan ketentuan dan peraturan perpajakan yang terkait sebagai dasar pembuatan Surat Pemberitahuan Tahunan. Penyusunan laporan keuangan ini diperlukan untuk mempermudah perusahaan dalam melaporan harta/kekayaan dan juga penghasilan serta biaya yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu. Perusahaan memerlukan jenis laporan laba/rugi untuk menghitung besarnya pajak yang terutang pada tahun pajak tertentu. Pada golongan masyarakat tertentu menganggap bahwa akuntansi merupakan suatu hal yang sulit, apalagi kalau dihubungkan dengan pajak yang memliki peraturan yang selalu berubah. Sesungguhnya akuntansi yang berlaku bagi perusahaan tidak jauh berbeda dengan akuntansi yang berlaku untuk tujuan perpajakan. Yang membedakan hanya pada sisi peraturan perundang-undangan yang berlaku di indonesia kaitannya dengan akuntansi. Untuk itu disimpulkan terdapat dua perbedaan yaitu beda tetap dan beda waktu. Kaitannya dengan hal ini akan dibahas lebih jelas dan lengkap pada Bab Rekonsiliasi Fiskal. B. Pembukuan Vs Pencatatan Berdasarkan Undang-Undang No 16 Tahun 2009 Pasal 28 ayat (1) disebutkan bahwa Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. Lalu pada Pasal 28 ayat (2)disebutkan bahwa Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi wajib melakukan pencatatan, adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan 4 Akuntansi Perpajakan bebas. Sedangkan ketentuan mengenai wajib pajak Orang Pribadi yang menggunakan NPPN diatur dalam Pasal 14 ayat (2) UU No 36 Tahun 2008 disebutkan bahwa: Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun kurang dari Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Berdasarkan ketentuan di atas jelas bahwa sesungguhnya baik wajib pajak orang pribadi (WPOP) maupun wajib pajak badan (WPB) diwajibkan untuk melakukan pembukuan. Pembukuan merupakan proses pencatatan semua transaksi perusahaan disertai dengan buktibukti yang akurat dan diahiri dengan pembuatan laporan keuangan. Dari definisi tersebut dapat kita samakan antara pembukuan dengan akuntansi itu sendiri. Pada buku ini akan dibahas lebih khusus pada proses pembukuan. Namun, bagi WPOP yang peredaran bruto atau penjualan brutonya selama satu tahun kurang dari Rp 4.800.000.000,00 dapat menggunakan pencatatan. Pencatatan merupakan proses menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Penghitungan penghasilan ini biasanya berdasarkan estimasi atau perkiraan dari wajab sendiri. Hal ini diperbolehkan karena alasan kurangnya pengetahuan mengenai akuntansi itu sendiri. Sehingga dalam pencatatan tidak didukung oleh bukti-bukti yang jelas dan akurat. Namun bagi WPOP yang memilih sendiri untuk menggunakan pembukuan dalam melaporkan kekayaan dan penghasilannya juga diperbolehkan. Misalnya WP Andi adalah pengusaha Toko Kelontong di daerah A, jika selama setahun diperkirakan penghasilan netto pada tahun 2009 sebesar Rp 100,000,000. JIka diasumsikan prosentase NPPN di daerah A adalah 30% maka besarnya pajak terutang bagi WP Andi adalah sbb: Pengertian Akuntansi Pajak 5 Dasar Pengenaan Pajak = 30% X Rp 100,000,000 = 30,000,000 PPh Terutang = 5% X Rp 30,000,000 = 1,500,000 C. Proses Akuntansi Perpajakan Proses akuntansi perpajakan tidak jauh beda dengan proses akuntansi seperti biasanya. Akuntansi selalu dimulai dengan transaksi yang akan dicatat. Transaksi ini kaitannya dengan informasi keuangan yang dapat dinilai dengan uang, bukan informasi non-keuangan. Lalu transaksi ini akan dicatat pada suatu Jurnal, kemudian di posting, lalu dimasukan ke dalam neraca lajur dan diakhiri dengan pembuatan laporan keuangan. Laporan keuagan ini dapat dibuat secara bulanan atau tahunan. Proses akuntansi secara detail dan juga ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 1 mengenai siklus akuntansi dibawah ini. Prosesnya adalah sebagai berikut: Gambar 1 Siklus Akuntansi Perpajakan 6 Akuntansi Perpajakan Keterangan: 1) Jurnal Suatu transaksi yang terjadi akan dicatat setiap bulannya ke dalam jurnal baik jurnal untuk mencatat transaksi sehari-hari maupun jurnal penyesuaian akun-akun nominal seperti biaya dan pendapatan. Jenis Jurnal ini bisa dibagi menjadi dua yaitu : a. Jurnal Umum Jurnal umum ini digunakan untuk mencatat semua transaksi baik yang kredit maupun yang tunai. Jadi semua transaksi dapat dicatat pada satu jurnal ini. Bentuk Jurnal Umum dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini. Tabel 1 Jurnal Umum Tanggal 1/1/2010 Keterangan Debet Piutang Dagang Kredit 1,000,000 Penjualan 2/1/2010 1,000,000 Kas 1,000,000 Piutang Dagang 1,000,000 b. Jurnal Khusus Jurnal Khusus ini dibedakan menjadi empat (4) Jenis Jurnal diantaranya adalah sebagai berikut : - Jurnal Penjualan: Digunakan untuk mencatat transaksi kaitannya dengan penjualan secara kredit. Tabel 2 dibawah ini adalah contoh bentuk dari Jurnal Penjualan: Tabel 2 Jurnal Penjualan Tanggal Keterangan Rp 1/1/2010 Si Budi 1,000,000 2/1/2010 Si Anto 2,000,000 Total 3,000,000 Pengertian Akuntansi Pajak 7 Jurnal: Piutang Dagang 3,000,000 Penjualan 3,000,000 - Jurnal Pembelian: Digunakan untuk mencatat transaksi kaitannya dengan pembelian secara kredit. Tabel 3 dibawah ini adalah contoh bentuk dari Jurnal Pembelian: Tabel 3 Jurnal Pembelian Tanggal Keterangan Rp 1/1/2010 Si Cahyo 1,000,000 2/1/2010 Si Ratna 2,000,000 Total 3,000,000 Jurnal: Pembelian 3,000,000 Hutang Dagang 3,000,000 - Jurnal Penerimaan Kas: Digunakan untuk mencatat transaksi kaitannya dengan kas/uang yang masuk ke kas perusahaan. Tabel 2 dibawah ini adalah contoh bentuk dari Jurnal Penjualan: Tabel 4 Jurnal Penerimaan Kas Tanggal Keterangan Debet (Kas) Kredit (Akun Lainnya) 1/1/2010 Penjualan tunai 1,000,000 1,000,000 Jurnal: Kas xxx Penjualan xxx Piutang xxx - Jurnal Pengeluaran Kas: Digunakan untuk mencatat transaksi kaitannya dengan penjualan secara kredit. 8 Akuntansi Perpajakan Tabel 5 Jurnal Penerimaan Kas Tanggal Debet (Akun Lainnya) Keterangan Kredit (Kas) Jurnal: Biaya xxx Hutang Dagang xxx Kas xxx 2) Setelah transaksi dijurnal, maka langkah selanjutnya yaitu Pemostingan. Posting adalah proses menggolongkan suatu jurnal ke dalam buku besar masing-masing akun yang terkait. Misal : Jurnal: Pembelian 3,000,000 Hutang Dagang 3,000,000 Maka cara memposting ke dalam buku besar masing-masing akun yang terkait adalah sebagai berikut: Buku Besar Nama Akun: Pembelian Tanggal Keterangan 1/1/2010 Saldo Awal 2/1/2010 Pembelian Debet Kredit Saldo 1,000,000 3,000,000 4,000,000 Buku Besar Nama Akun: Hutang Dagang Tanggal Keterangan 1/1/2010 Saldo Awal 2/1/2010 Pembelian 3,000,000 Debet Kredit Saldo - 3,000,000 Pengertian Akuntansi Pajak 9 3) Proses berikutnya adalah pembuatan Buku Besar Pembantu. Buku Pembantu ini terdiri dari Buku Pembantu Piutang Dagang, Buku Pembantu Hutang Dagang, & Buku Pembantu Persediaan. Buku ini digunakan untuk membantu bagian akuntansi dalam memonitoring besarnya mutasi hutang/piutang/persediaan untuk masing-masing suplier/pelanggan/barang. 4) Setelah proses pemostingan maka proses selanjutnya yaitu pembuatan Neraca Lajur. Neraca lajur dibuat untuk mempermudah kita membuat laporan keuangan. Pada posisi ini kita harus memasukan semua akun yang ada beserta saldo akhirnya. Pada neraca lajur ini juga kita bisa memasukan jurnal penyesuaian yang telah kita buat. Bentuknya seperti gambar 2 dibawah ini: Gambar 2 Neraca Lajur 10 Akuntansi Perpajakan 5) Berdasarkan Neraca Lajur di atas kita dapat membuat Laporan Keuangan. Laporan Keuangan ini terdiri dari: - Laporan Neraca Gambar 3 - Laporan Laba/Rugi Gambar 4 Pengertian Akuntansi Pajak - Laporan Perubahan Ekuitas Gambar 5 - Laporan Arus Kas Gambar 6 11 12 Akuntansi Perpajakan - Catatan atas laporan keuangan Gambar 7 6) Berdasarkan peraturan dan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku di indonesia, terdapat perbedaan perlakuan antara akuntansi komersial yang berlaku dengan peraturan perpajakan. Perbedaan ini menyebabkan perusahaan harus membuat laporan rekonsiliasi fiskal. Laporan Rekonsiliasi Fiskal ini akan dibahas lebih panjang pada bab berikutnya. Bentuk dari Laporan Rekonsiliasi Fiskal ini adalah sebagai berikut: Pengertian Akuntansi Pajak 13 Gambar 8 7) Berdasarkan Laporan Rekonsiliasi Fiskal di atas kita dapat membuat Laporan Keuangan Fiskal. Laporan Keuangan ini terdiri dari : Laporan Neraca Fiskal Laporan Laba/Rugi Fiskal 14 Akuntansi Perpajakan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) BAB 2 15 PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) DAN PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH (PPnBM) B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). 16 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum UU No. 42 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UU NO. 8 TAHUN 1983 TENTANG PPN & PPn BM UU No. 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UU NO. 8 TAHUN 1983 TENTANG PPN & PPn BM PP No. 143 Th. 2000 TENTANG PELAKSANAAN UU PPN TAHUN 2000 PP No. 144 Th. 2000 TENTANG JENIS BARANG DAN JASA YG TDK DIKENAKAN PPN PP No. 145 Th. 2000 TENTANG KELOMPOK BKP YG TERGOLONG MEWAH YANG DIKENAKAN PPn BM PP No. 146 Th. 2000 TENTANG IMPOR/PENYERAHAN BKP & JKP TERTENTU YANG DIBEBASKAN DARI PPN KMK No. 547 s.d. 554 & 567 s.d 570, 575 Tahun 2000 & KMK No. 10, 11, 50 Tahun 2001 Kep DJP No. 522 s.d. 526 & 539, 540, 546, 549 Thn 2000 A.2 Pengertian Akuntansi PPN dan PPnBM Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dipungut/dipotong oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang berkaitan dengan transaksi penyerahan (penjualan atau pembelian atau transaksi lainnya) barang/jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh wajib pajak badan maupun orang pribadi. Jadi setiap transaksi yang berhubungan dengan penyerahan (penjualan atau pembelian atau transaksi lainnya) barang/jasa kena pajak, maka akan dikenakan PPN atas barang/jasa tersebut. Pengenaan PPN atas transaksi tersebut biasanya diikuti dengan pembuatan Faktur Pajak. Akuntansi PPN & PPnBM merupakan pencatatan suatu transaksi penjualan dan pembelian barang dan atau jasa yang dikenakan pajak baik PPN maupun PPnBM. Pada perusahaan dagang dan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 17 perusahaan jasa, barang atau jasa ini dianggap sebagai komoditi yang diperjual-belikan, sehingga perusahaan harus mengakui harga perolehannya berdasarkan metode akuntansi yang berlaku secara umum. Pada bab ini akan lebih berfokus pada transaksi yang berkaitan dengan perusahaan di atas. Suatu transaksi yang berkaitan dengan penyerahan barang kena pajak selain dipungut pajak pertambahan nilai, namun juga dipungut pajak penjualan barang mewah (PPnBM). Berikut ini adalah jenis penyerahan Barang kena pajak yang dikenakan PPnBM sebagai berikut: 1. Penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah tersebut di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya 2. Impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. Berbeda dengan Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dikenakan hanya satu kali pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah oleh Pengusaha yang menghasilkan atau pada waktu impor. B. Penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak Berdasarkan UU No 18 tahun 2000 pasal 1A menyebutkan beberapa jenis transaksi yang termasuk dalam jenis penyerahan barang kena pajak. Jenis penyerahan tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian 2. Pengalihan Barang Kena pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing; 3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang; 4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak; 18 Akuntansi Perpajakan 5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan; 6. Penyerahan Barang Kena Pajak dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak antar Cabang; 7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi Semua jenis transaksi di atas termasuk dalam jenis penyerahan barang kena pajak. Jadi setiap ada transaksi yang disebutkan di atas dilakukan oleh pengusaha kena pajak maka harus dipungut PPN. Di dalam akuntansi khususnya bagi perusahaan dagang maupun manufaktur, ada dua metode pencatatan persediaan yaitu metode perpetual dan metode fisik. 1. Metode Perpetual Metode perpetual ini mencatat persediaan/barang kena pajak berdasarkan pada akun persediaan, sehingga mutasi persediaan setiap waktunya dapat diketahui. Ketika perusahaan membeli barang/persediaan, maka perusahaan akan mencatat : Persediaan xxx Kas/Hutang Dagang xxx Ketika Barang/Persediaan tersebut dijual maka perusahaan akan mencata : Kas/Piutang Dagang xxx Persediaan xxx 2. Metode Fisik Metode Fisik ini mencatat persediaan/barang kena pajak bukan pada akun persediaan, sehingga mutasi persediaan setiap waktunya tidak dapat diketahui. Untuk mengetahui jumlah persediaan setiap periodenya perlu dilakukan perhitungan fisik persediaan atau stock opnam. Oleh karena itu perusahaan perlu mencatat Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 19 penyesuaian atas persediaan tersebut. Ketika perusahaan membeli barang/persediaan, maka perusahaan akan mencatat : Pembelian xxx Kas/Hutang Dagang xxx Persediaan xxx Harga Pokok Persediaan xxx Ketika Barang/Persediaan tersebut dijual maka perusahaan akan mencatat: Kas/Piutang Dagang xxx Penjualan xxx Harga Pokok Persediaan Persediaan xxx xxx Selain ada beberapa transaksi yang tergolong dalam penyerahan, ada juga beberapa transaksi yang tergolong tidak termasuk dalam penyerahan. Meskipuun transaksi ini secara perpajakan tidak dianggap sebagai penyerahan bukan berarti tidak perlu ada pencatatan. Secara akuntansi semua transaksi yang dilakukan harus dicatat sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Transaksi tersebut diantaranya adalah: 1. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang 2. Penyerahan Barang Kena pajak untuk jaminan utang piutang 3. Penyerahan Barang Kena Pajak dalam hal Pengusaha Kena Pajak memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang C. Objek Pajak Menurut Bab 3 tentang Objek Pajak pasal 4 menyebutkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas: 1. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha 20 Akuntansi Perpajakan 2. Impor Barang Kena Pajak 3. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha 4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean 5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean 6. Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak. Ketika ada penyerahan/pemanfaatan barang/jasa kena pajak di dalam daerah pabean, maka perusahaan akan mencatat (asumsinya metode fisik): Kas/Piutang Dagang xxx Penjualan xxx PPN xxx Ketika ada pembelian barang/jasa kena pajak di dalam daerah pabean, maka perusahaan akan mencatat (asumsinya metode fisik): Pembelian xxx PPN xxx Kas/Piutang Dagang xxx Pada umumnya semua barang/jasa dikenakan pajak, namun ada pula beberapa barang/jasa yang tidak dikenakan pajak. Berikut ini adalah beberapa jenis barang yang tidak dikenakan pajak pertambahan nilai diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya 2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak 3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya 4. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga. Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 21 Selain beberapa jenis barang yang tidak kena pajak pertambahan nilai, ada pula beberapa jenis jasa yang tidak dikenakan pajak pertambahan nilai diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik 2. Jasa di bidang pelayanan social 3. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko 4. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi 5. Jasa di bidang keagamaan 6. Jasa di bidang pendidikan 7. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan 8. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan; 9. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air; 10. Jasa di bidang tenaga kerja 11. Jasa di bidang perhotelan 12. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. 13. Jasa penyediaan tempat parkir; 14. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam; 15. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan 16. Jasa boga atau catering Ketika perusahaan menjual barang/jasa yang tidak dikenakan pajak maka perusahaan akan mencatat: Kas/Piutang Dagang xxx Penjualan xxx Ketika perusahaan menjual barang/jasa yang tidak dikenakan pajak maka perusahaan akan mencatat: Pembelian xxx Kas/Piutang Dagang xxx 22 Akuntansi Perpajakan Selain dikenakan pajak pertambahan nilai, barang yang tergolong mewah juga akan dikenakan Pajak Penjualan Barang Mewah. Berikut ini adalah Barang yang tergolong sangat mewah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan No 253 Tahun 2008 adalah sebagai berikut ini: a. Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari Rp20.000.000.000,00 (dua puluh milyar rupiah) b. Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) c. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga pengalihanya lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) dan luas bangunan lebih dari 500m2 (lima ratus meter pcrsegi) d. Apartemen, kondominium, dll sejenisnya dengan harga jual atau pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) dan/atau luas bangunan lebih dari 400 m2 (empat ratus meter Persegi) e. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari 10 orang berupa sedan, jeep, sport utility Vehicles (suv), multi purpose vahicls (mvp), minibus dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) dan dengan kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc. Ketika perusahaan melakukan penjualan barang yang tergolong mewah ini maka perusahaan akan mencatat: Kas/Piutang Dagang xxx Penjualan xxx PPN xxx PPnBM xxx Ketika perusahaan melakukan pembelian barang yang tergolong mewah maka perusahaan akan mencatat (asumsinya metode fisik): Pembelian xxx PPN xxx PPnBM xxx Kas/Piutang Dagang xxx Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 23 D. Faktur Pajak Dasar pencatatan di dalam akuntansi adalah bukti transaksi. Bukti pemungutan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan barang mewah adalah faktur pajak. Faktur Pajak adalah bukti pungutan Pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak. Ada 4 jenis Faktur Pajak, di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang paling sedikit memuat keterangan tentang: a. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak; b. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak; c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga; d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut; e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut; f. Kode, Nomor Seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan g. Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. 2. Faktur Pajak Gabungan adalah Faktur Pajak Standar untuk semua penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang terjadi selama 1 (satu) bulan takwim kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama. 3. Faktur Pajak Sederhana adalah Faktur Pajak yang dapat berbentuk: a. Slip Cash Register atau Segi Cash Register yang dibuat oleh Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak sederhana. b. Apabila dalam harga jual Barang Kena Pajak sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai, Slip Cash Register atau Segi Cash 24 Akuntansi Perpajakan Register sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib diberi keterangan “untuk Barang Kena Pajak harga sudah termasuk PPN”. 4. Faktur Pajak Khusus adalah faktur pajak yang khusus digunakan untuk keperluan khusus. Contoh: PIB (Pemberitahuan Impor Barang), PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang), dll Berdasarkan Undang-Undang No 42 Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM menyatakan bahwa Faktur Pajak yang berlaku adalah satu Jenis Faktur Pajak, sedangkan untuk Faktur Pajak lainnya tidak berlaku lagi. Waktu Pembuatan Faktur Pajak Standar Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat: a. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak b. Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak; c. Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/ atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak; d. Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau e. Pada saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai. Bentuk Faktur Pajak Standar Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak Standar disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak dan dalam hal diperlukan dapat ditambahkan keterangan lain selain keterangan sebagaimana Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 25 dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Ketentuan pembuatan Faktur Pajak standar adalah sebagai berikut : 1. Faktur Pajak Standar paling sedikit dibuat dalam rangkap 2 (dua) yang peruntukannya masing-masing sebagai berikut : a. Lembar ke-1, disampaikan kepada Pembeli Barang Kena Pajak atau Penerima Jasa Kena Pajak b. Lembar ke-2, untuk arsip Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar. 2. Keterangan dalam Faktur Pajak Standar harus diisi secara lengkap, jelas, dan benar, serta ditandatangani oleh pejabat/kuasa yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak untuk menandatanganinya. Faktur Pajak Standar yang tidak diisi secara lengkap, jelas, benar, dan/atau tidak ditandatangani merupakan Faktur Pajak Cacat yaitu Faktur Pajak yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. 3. Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak Cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak. 4. Pengusaha Kena Pajak harus menerbitkan Faktur Pajak Standar dengan menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana ditetapkan oleh Peraturan Direktur Jenderal Pajak. Kode Faktur Pajak Standar terdiri dari: a. 2 (dua) digit Kode Transaksi; b. 1 (satu) digit Kode Status; dan C. 3 (tiga) digit Kode Cabang. 26 Akuntansi Perpajakan Nomor Seri Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. 2 (dua) digit Tahun Penerbitan; dan b. 8 (delapan) digit Nomor Urut. Penulisan Kode dan Nomor Seri pada Faktur Pajak Standar, harus lengkap sesuai dengan banyaknya digit. Contoh: 010.000-07.00000001, berarti penyerahan kepada Selain Pemungut PPN, Faktur Pajak Standar Normal (bukan Faktur Pajak Standar Pengganti), diterbitkan tahun 2007 dengan nomor urut 1. E. Tarif Pajak Pertambahan Nilai Tarif PPN ada dua macam: 1. 10 % untuk semua jenis penyerahan barang/jasa kena pajak kecuali ekspor. Jumlah ini dapat berubah sesuai yang diatur dalam Peraturan Pemerintah serendahnya 5 % dan setinggi-tingginya 15 %. 2. 0 % untuk ekspor. Hal ini dikarenakan tujuan pemerintah untuk meningkatkan sumber devisa Negara. Tarif untuk PPnBm adalah: 1. Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% 2. Atas ekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dikenakan pajak dengan tarif 0% (nol persen) F. Dasar Pengenaan Pajak Untuk menghitung besarnya PPN maupun PPnBM yang terutang atau yang harus dibayar, harus diketahui dulu mengenai dasar pengenaan pajak (DPP). Ada 5 dasar pengenaan pajak, diantaranya adalah sebagai berikut: Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 27 1. Harga Jual Harga jual adalah semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli barang kena pajak dan telah dikurangi dengan potongan penjualan yang diberikan. Harga jual yang menjadi dasar pengenaan pajak biasanya harga jual netto (artinya setelah dikurangi potongan/diskon) 2. Nilai Penggantian Nilai semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli jasa kena pajak. Nilai ini untuk menggantikan jasa yang telah diberikan oleh pengusaha kena pajak. 3. Nilai Impor Nilai impor adalah semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli barang kena pajak dan pungutan lain berdasarkan ketentuan perundang-undangan kepabean. Nilai impor ini dihitung dengan menjumlahkan antara Cost/Harga Barang (C), Insurance/Jaminan (I), Freight/Biaya pengiriman (F) dan biaya-biaya kepabean lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan kepabean. Nilai Impor = C + I + F + biaya lain 4. Nilai Ekspor Nilai ekspor adalah semua nilai yang berupa uang mengenai harga produk yang diekspor tersebut atau sering disebut sebagai Harga Pokok Ekspor (HPE). Ada beberapa produk tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah seperti industri kelapa sawit. 5. Nilai lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan Nilai lain ini ditetapkan ketika terdapat kesulitan dalam penentuan harga jual atau nilai penggantian atas produk. Dalam hal ini menteri keuangan dapat menetapkan dasar pengenaan pajaknya. 28 Akuntansi Perpajakan Berdasarkan Ps. 1 angka 17. Jo. KMK-567/KMK.04//2000 ada beberapa dasar pengenaa pajak berdasarkan nilai lain yang ditetapkan oleh menteri keuangan diantaranya adalah: a. Untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma bkp/jkp adalah harga jual/penggantian setelah dikurangi laba kotor b. Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata c. Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil ratarata per judul film d. Untuk persediaan bkp yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang ppn atas perolehan aktiva tersebut dapat dikreditkan adalah harga pasar wajar e. Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah harga pasar wajar f. Untuk kendaraan bermotor bekas adalah 10% dari harga jual g. Untuk penyerahan jasa biro perjalanan/pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih h. Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih i. Untuk jasa anjak piutang adalah 5% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih j. Untuk penyerahan yang dilakukan oleh pkp pedagang eceran adalah 20% x jumlah seluruh penyerahan barang dagangan. Setelah diketahui dasar pengenaan pajaknya, baru bias kita menghitung besarnya PPN atau PPnBM terutang. Ada tiga metode/ cara menghitung PPN yaitu: 1. Metode Langsung Metode langsung ini dengan cara mengalikan secara langsung tarif pajak pertambahan nilai dengan dasar pengenaan pajak. Hasil perkalian ini akan menghasilkan Pajak Masukan (PPN Masukan) atau Pajak Keluaran (PPN Keluaran). Pajak Masukan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 29 adalah pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak. Misalnya suatu produk harga jualnya sebesar Rp 10 juta tanpa diskon, maka besarnya PPN terutangnya sebesar : 10% X Rp 10 juta = Rp 1 juta. Jika transaksi ini adalah pembelian maka harus kita catat: Pembelian 10,000,000 PPN Masukan 1,000,000 Kas/Piutang Dagang 11,000,000 2. Metode Tidak Langsung Metode tidak langsung ini dengan cara mekanisme pengkreditan antara pajak masukan dan pajak keluaran. Apabila dalam suku Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besarbdaripada Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan 30 Akuntansi Perpajakan penyerahan yang terutang pajak. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan unluk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. Misalnya: Jika barang kena pajak yang dibeli seharga Rp 10 Juta dijual dengan harga Rp 15 Juta maka besarnya pajak yang terutang adalah: PPN Masukan: 10% X Rp 10,000,000 = Rp 1,000,000 Dicatat: Pembelian 10,000,000 PPN Masukan 1,000,000 Kas/Piutang Dagang 11,000,000 PPN Keluaran : 10% X Rp 15,000,000 = Rp 1,500,000 Kas/Piutang Dagang 16,500,000 PPN Keluaran 1,500,000 Penjualan 15,000,000 Maka PPN terutang adalah = PPN Keluaran – PPN Masukan = Rp 1,500,000 – Rp 1,000,000 = Rp 500,000 Jadi kita akan mencatatnya: PPN Keluaran 1,000,000 PPN Masukan 1,500,000 Hutang PPN 500,000 Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 31 3. Metode Lainnya Metode lain yang sering digunakan adalah Norma Penghitungan Penghasilan Neto baik yang belum maupun yang sudah dapat melaksanakan pembukuan. Untuk PKP pedagang eceran yaitu 2% dari total omset penjualan/penyerahan seperti yang telah dijelaskan di atas. 1. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pedagang Eceran dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, sebesar 80% (delapan puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak selain Pedagang Eceran, sebesar 70% (tujuh puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak, sebesar 40% (empat puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran. Misalnya: Toko Glory menjual pakaian untuk konsumen di Blok M Square dengan omzet penjualan setahun Rp 800 juta. Dalam menghitung penghasilan neto untuk Pajak Penghasilan Joshua pemilik Toko Glory menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Selama bulan September 2008 omzet penjualannya adalah Rp 150 juta dan membeli bahan dagangannya sebesar Rp 80 juta. Penghitungan PPN atas Toko Glory untuk bulan September 2008 adalah sebagai berikut: Jika Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Peredaran Usaha Usaha Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 Pajak Masukan 80% x Rp 15.000.000 PPN Kurang Bayar = Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000 = Rp 12.000.000 = Rp 3.000.000 Jika Menggunakan Mekanisme Umum Peredaran Usaha Usaha Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 Pembelian Rp 80.000.000 = Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000 32 Akuntansi Perpajakan Pajak Masukan 10% x Rp 80.000.000 PPN Kurang Bayar = Rp 8.000.000 = Rp 7.000.000 Dalam pengkreditan masukan dengan pajak keluaran, tidak semua pajak masukan dapat dikreditkan dengan pajak keluaran. Pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: 1. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; 2. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha 3. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan 4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak 5. Perolehan barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang bukti pungutannya berupa Faktur Pajak Sederhana 6. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan 7. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan 8. Perolehan Barang Kena Pajakatas Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak 9. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang diketemukan pada waktu dilakukannya pemeriksaan. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan. Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 33 Contoh Kasus PT. ABC adalah Pengusaha Kena Pajak yang bergerak di bidang Jualbeli Barang Elektronik. Berikut ini adalah transaksi selama bulan Januari 2010 sebagai berikut: Tgl 1 5 10 15 Keterangan Membeli TV 10 unit dengan harga @ Rp 2,500,000 (belum termasuk PPN) secara kredit Menjual TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 (belum termasuk PPN) secara tunai Meretur TV 1 Unit yang dibeli pada tanggal 1 Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 5 berupa TV 1 unit Jawab: 1 Membeli TV 10 unit dengan harga @ Rp 2,500,000 (belum termasuk PPN) secara kredit (Metode Perpetual) Harga TV = 10 X Rp 2,500,000 = Rp 25,000,000 PPN = 10% X Rp 25,000,000 = Rp 2,500,000 Persediaan 25,000,000 PPN Masukan 2,500,000 Hutang Dagang 27,500,000 5 Menjual TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 ( belum termasuk PPN) secara tunai (Metode Perpetual) Harga TV = 5 X Rp 3,000,000 = Rp 15,000,000 PPN = 10% X Rp 15,000,000 = Rp 1,500,000 Kas 16,500,000 PPN Keluaran 1,500,000 Persediaan 15,000,000 34 Akuntansi Perpajakan 10 Meretur TV 1 Unit yang dibeli pada tanggal 1 Harga TV = 1 X Rp 2,500,000 = Rp 2,500,000 PPN = 10% X Rp 2,500,000 = Rp 250,000 Hutang Dagang PPN Masukan Persediaan 2,750,000 250,000 2,500,000 15 Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 5 berupa TV 1 unit Harga TV = 1 X Rp 3,000,000 = Rp 3,000,000 PPN = 10% X Rp 3,000,000 = Rp 300,000 Persediaan PPN Keluaran Kas 3,000,000 300,000 3,300,000 Latihan PT. ABC adalah Pengusaha Kena Pajak yang bergerak di bidang Jualbeli Barang Elektronik. Berikut ini adalah transaksi selama bulan Januari 2010 sebagai berikut: Tgl Keterangan 1 5 10 15 25 15 Mengimpor TV 10 unit dengan harga @ $ 200 dengan Biaya Asuransi $ 20 dan biaya angkut $ 5 (Kurs saat itu Rp 10,000/$) Toko “Jaya” memesan TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 ( belum termasuk PPN) dengan uang muka sebesar Rp 1,000,000. Menjual 2 unit TV dengan harga Rp 3,000,000 secara kredit kepada Toko “Budi” dengan syarat 2/10-n/30 Menerima pembayaran dari Toko “Budi” Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 10 berupa TV 1 unit Memenuhi pesanan dari Toko “Jaya” dan saat itu dibayar lunas. Buatlah jurnal atas transaksi di atas? BAB 3 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 35 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 21. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak penghasilan pasal 21 dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 21. 36 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - - - - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak Atas Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, Dan Kegiatan Orang Pribadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK. 03/2008 tentang Besarnya Biaya Jabatan atau Biaya Pensiun yang dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau Pensiunan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 57/Pj/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-31/Pj/2009 Tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 Dan/Atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, Dan Kegiatan Orang Pribadi. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 46 Tentang Akuntansi Pajak Tangguhan A.2 Pengertian Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri wajib dilakukan oleh pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai, Bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan; Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain dengan nama apa pun dalam rangka pensiun; Badan yang membayar Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 37 honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, dan Penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan. Akuntansi PPh Pasal 21 adalah proses pencatatan transaksi kaitannya dengan PPh Pasal 21 misalnya pembayaran gaji, upah dan lain sebagainya. Ketika ada transaksi kaitannya dengan pemotongan/ pemungutan PPh Pasal 21, pembayaran PPh Pasal 21 dan juga pembayaran gaji/upah karyawan maka perlu ada pencatatan akunatnsi yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. B. Perhitungan Umum Pajak Penghasilan Pa sal 21 Secara sederhana Penghasilan Kena Pajak ini dihitung dengan cara: Gaji Pokok Sebulan Tunjangan-tunjangan Total gaji sebulan xxxx xxxx + xxxx Pengurangan: Biaya Jabatan/Pensiun xxxx PTKP xxxx + Total Pengurangan xxxx Penghasilan Kena Pajak xxxx Biaya Jabatan/Biaya Pensiun Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-250/ PMK. 03/2008, besarnya biaya jabatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pegawai tetap ditetapkan sebesar 5% dari Penghasilan Bruto, setinggi-tingginya Rp 6.000.000,00 setahun atau Rp 500.000,00 sebulan. Sedangkan besarnya biaya pensiun sebagai pengurang penghasilan bruto adalah sebesar Rp 2.400.000,- setahun atau Rp 200.000,- sebulan. 38 Akuntansi Perpajakan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah bagi: • Wajib Pajak: Rp 15.840.000,• Tambahan status kawin: Rp 1.320.000,• Istri Bekerja: Rp 15.840.000,• Tambahan tanggungan: Rp 1.320.000,- (Maksimal 3) Tarif PPh Pasl 21 • • • • Penghasilan s.d Rp 50.000.000, tarif 5% Penghasilan s.d Rp 50.000.000 s.d. Rp 250.000.000, tarif 15% Penghasilan Rp 250.000.000 s.d. Rp 500.000.000, tarif 25% Penghasilan di atas Rp 500.000.000, tarif 30% Contoh Kasus: Andi bekerja pada perusahaan PT ABC dengan memperoleh Gaji sebulan Rp. 3.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp. 75.000,00 perbulan. Andy menikah tetapi belum mempunyai anak. Penghitungan PPh Pasal 21-nya adalah sebagai berikut: Gaji sebulan Rp Pengurangan: 1. Biaya Jabatan: 5% x Rp 3.000.000,00 Rp 150.000,00 2. Iuran Pensiun Rp 75.000,00 Total Pengurangan Rp Penghasilan neto sebulan Rp Penghasilan neto setahun adalah 12 x Rp. 2.775.000,00 Rp PTKP setahun untuk WP sendiri Rp 15.840.000,00 tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Total PTKP Rp 17.160.000,00 Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 16.140.000,00 3.000.000,00 225.000,00 2.775.000,00 33.300.000,00 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp. 16.140.000,00 PPh Pasal 21 sebulan Rp 807.000,00: 12 39 = Rp.807.000,00 = Rp. 67.250,00 Kasus di atas diasumsikan andi telah bekerja di PT. ABC telah melebihi tahun takwim atau tahun pajak, sehingga jika gaji yang dihitung diatas adalah gaji untuk bulan Januari 2010 maka besarnya gaji netto yang diterima si Andi pada tanggal 31 Januari 2010 adalah Rp 3,000,000 – Rp 67,250 = Rp 2,932,750,-. Maka untuk kasus diatas maka perusahaan telah memungut PPh Pasal 21 dari penghasilan si Andi pada bulan Januari 2010 sebesar R 67,250,-. Jika PPh Pasal 21 tersebut dibayar pada tanggal 8 Februari 2010, untuk itu perusahaan ataupun si Andi (Jika si Andi dalam pelaporan pajaknya menggunakan Istilah Pembukuan) perlu mencatat transaksi di atas adalah sebagai berikut: Bagi PT. ABC sebagai Pemotong PPh Pasal 21 31/1 Biaya Gaji (Si Andi) 3,000,000 Kas 2,932,750 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 (untuk mencatat pemotongan PPh Pasal 21) 8/2 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 Kas 67,250 (untuk mencatat pembayaran PPh Pasal 21 yang telah dipungut oleh PT. ABC) Bagi Si Andi sebagai Karyawan yang dipotong PPh Pasal 21 31/1 Kas 2,932,750 PPh Pasal 21 dibayar dimuka 67,250 Pendapatan Gaji 3,000,000 (untuk mencatat penerimaan gaji dan pemotongan PPh Pasal 21) Bagi Si Andi ini PPh Pasal 21 ini dapat menjadi kredit pajak ketika akan melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi Si Andi sendiri dan 40 Akuntansi Perpajakan penghasilan ini dapat digabung dengan penghasilan lain yang diterima si andi pada tahun pajak yang sama. Namun Bagi PT. ABC PPh Pasal 21 ini tidak dapat menjadi kredit pajak atau biaya pengurang penghasilan, kecuali jika PPh Pasal 21 dibayar oleh perusahaan atau dianggap sebagai tunjangan pajak. Kasus di atas diasumsikan jika gaji dibayarkan oleh perusahaan pada akhir bulan atau pertengahan bulan pada bulan yang sama, maka perlakuan pencatatan seperti di atas dapat berlaku. Namun jika perusahaan membayarkan gaji pada awal bulan berikutnya maka perlakuan seperti diatas tidak berlaku. Jika di asumsikan gaji Si Andi dibayarkan oleh PT. ABC pada tanggal 1 Februari 2010 maka pencatatannya adalah sebagai berikut: Bagi PT. ABC sebagai Pemotong PPh Pasal 21 31/1 Biaya Gaji (Si Andi) 3,000,000 Hutang Gaji 2,932,750 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 (mencatat penyesuaian gaji bulan Januari 2010 dan pemotongan PPh Pasal 21) 1/2 Hutang Gaji (Si Andi) 2,932,750 Kas 2,932,750 (untuk mencatat pembayaran gaji) 8/2 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 Kas 67,250 (untuk mencatat pembayaran PPh Pasal 21 yang telah dipungut oleh PT. ABC) Bagi Si Andi sebagai Karyawan yang dipotong PPh Pasal 21 31/1 Piutang pendapatan Gaji 2,932,750 PPh Pasal 21 dibayar dimuka 67,250 Pendapatan Gaji 3,000,000 (untuk mencatat penyesuaian gaji Januari 2010 dan pemotongan PPh Pasal 21) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 41 1/2 Kas 67,250 Piutang pendapatan Gaji 67,250 (untuk mencatat penerimaan Gaji) Kasus lain ketika perusahaan membayarkan gaji pada awal bulan pada bulan yang sama. Misalnya gaji bulan januari 2010 dibayarkan oleh PT. ABC pada tanggal 1 Januari 2010 maka pencatatannya adalah sebagai berikut: Bagi PT. ABC sebagai Pemotong PPh Pasal 21 1/1 Biaya Gaji (Si Andi) 3,000,000 Kas 2,932,750 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 (mencatat pemotongan PPh Pasal 21) 8/2 Hutang PPh Pasal 21 (Si Andi) 67,250 Kas 67,250 (untuk mencatat pembayaran PPh Pasal 21 yang telah dipungut oleh PT. ABC) Bagi Si Andi sebagai Karyawan yang dipotong PPh Pasal 21 1/1 Kas 2,932,750 PPh Pasal 21 dibay ar dimuka 67,250 Pendapatan Gaji 3,000,000 (untuk mencatat pembayaran gaji Januari 2010 dan pemotongan PPh Pasal 21) Latihan Berikut ini adalah nama-nama pegawai PT. ABC pada Januari 2010 : No Nama Status Gaji/bulan 1 Andi K/2 6,000,000 2 Budi TK 3,000,000 3 Cinta K/3 4,000,000 4 Dila K/- 3,500,000 42 Akuntansi Perpajakan Pertanyaan: 1. Hitung PPh Pasal 21 yang harus dipungut oleh PT. ABC? 2. Buatlah jurnal yang diperlukan? BAB 4 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 43 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 22. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 22. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk : 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 22. 44 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A1. Dasar Hukum - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 08/ PMK.03/2008 Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor S - 1637/PJ.532/2000 Tentang Pembebasan PPN Dan PPh Pasal 22 Impor Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008 Tentang Wajib Pajak Badan Tertentu Sebagai Pemungut Pajak Penghasilan Dari Pembeli Atas Penjualan Barang Yang Tergolong Sangat Mewah A2. Pengertian Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 PPh Pasal 22 merupakan salah satu bentuk pemotongan dan pemungutan PPh yang dilakukan oleh Pihak lain terhadap Wajib Pajak yang melakukan penyerahan barang. Pada umumnya pengenaan PPh Pasal 22 ini dikenakan terhadap perdagangan barang yang dianggap menguntungkan sehingga penjual atau pembelinya kemungkinan besar akan mengalami keuntungan. Selain itu juga PPh pasal 22 ini dapat dikenakan pada Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah. Jadi Akuntansi PPh Pasal 22 adalah bagaimana proses pencatatan transaksi kaitannya dengan PPh Pasal 22. Ketika perusahaan melakukan transaksi penyerahan barang/jasa kena pajak kepada bendaharawan pemerintah maka selain dipungut PPN, juga akan dipungut PPh pasal 22 oleh bendaharawan pemerintah. Saat itu perusahaan akan mencatat: Kas/Piutang Dagang xxx Penjualan xxx PPN Keluaran xxx (Mencatat penjualan) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 45 PPh Pasal 22 dibayar dimuka xxx PPN Keluaran xxx Kas xxx (Mencatat pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN) PPh pasal 22 yang dipungut oleh pemungut maka bagi perusahaan dianggap sebagai biaya dibayar dimuka. Biaya ini nantinya akan dapat dipakai sebagai kredit pajak untuk pajak terutang tahunan nantinya Berdasarkan Undang-Undang No 36 Tahun 2008 pasal 22 menyebutkan bahwa Menteri Keuangan dapat menetapkan beberapa pihak yang berhak memungut PPh Pasal 22, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang b. Badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain; dan c. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Berdasarkan pada ketentuan baru yang mengatur tentang PPh Pasal 22, yang berlaku mulai 1 Januari 2009 para pihak yang berhak yang menjadi pemungut atas PPh Pasal 22 dapat dijabarkan lebih luas yaitu sebagai berikut: a. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang b. Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat Pusat ataupun di tingkat Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang c. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD) d. Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia 46 Akuntansi Perpajakan (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, PT Pertamina, dan bankbank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN e. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri f. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas g. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul h. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah. B. Beberapa Barang yang Tergolong Mewah yang Dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 22 Berdasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/ PMK.03/2008. Beberapa penjualan barang yang tergolong sangat mewah adalah sebagai berikut: 1. Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari Rp 20 milyar; 2. Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp10 milyar; 3. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp 10 miliar dan luas bangunan lebih dari 500 m2 4. Apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan harga jual atau pengalihannya lebih dari Rp 10 milyar dan/atau luas bangunan lebih dari 400 m2 5. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari 10 orang berupa sedan, jeep, sport utility vehicle (SUV), multi Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 47 purpose vehicle (MPV), minibus dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp 5 milyar dan dengan kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc C. Tarif Pajak Penghasilan Pasal 22 Tarif Pajak Penghasilan Pasal 22 sangat bervariasi, berdasarkan pertauran pemerintah besarnya Pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 ditetapkan adalah sebagai berikut: a. Atas impor: 1 yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari nilai impor; 2 yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari nilai impor 3. yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari harga jual lelang; b. Atas pembelian barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir 2,3, dan 4 sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga pembelian. c. Atas penjualan hasil produksi atau pembelian bahan-bahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir 5,6 dan 7 berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Ketentuan di atas hanya berlaku bagi wajib pajak yang mempunyai NPWP. Ketentuan bagi wajib pajak yang tidak mempunyai NPWP akan lebih tinggi 100% dari tarif pajak semula jika mempunyai NPWP. Misalnya suatu transaksi terutang PPh Pasal 22 sebesar 1.5 % dari harga jual tidak termasuk PPN, bagi WP yang tidak ber-NPWP akan dipungut PPh 22 dengan tariff 2x lipat (lebih tinggi 100%) yaitu sebesar 3 %. 48 Akuntansi Perpajakan D. Dasar Pengenaan Pajak Dasar pengenaan pajak penghasilan pasal 22 adalah sebagai berikut: a. Harga Jual/Beli Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Berikut ini adalah contoh perhitungan PPh pasal 22 yang harus dipungut oleh para pemungut: Contoh: 1. PT. ABC sebagai penjualan barang elektronik, menjual TV kepada Departemen Keuangan dengan harga jual Rp 2.200.000,- sudah termasuk PPN. Berapakah bersarnya Pajak penghasilan yang harus dipungut oleh Departemen Keuangan? Jawab: Karena Departemen Keuangan adalah salah satu badan yang ditunjuk sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22, maka atas transaksi penjualan di atas harus dipungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5 % dari harga Jual sebelum dikenakan PPN 10%. 100 ×Nilaipenjualan 110 100 Harga jual = ×Rp2.200.000 = 2.000.000, − 110 PPh 22 = 1, 5%× 2.000.000 PPh 22 = 300.000 Harga jual = Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 49 Catatan Bagi PT. ABC sebagai penjual (asumsi: Metode Fisik) Kas 2,200,000 Penjualan 2,000,000 PPN Keluaran 200,000 (Mencatat penjualan tunai) PPh Pasal 22 dibayar dimuka 300,000 PPN Keluaran 200,000 Kas 500,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN oleh Departemen Keuangan) Catatan Bagi Departemen Keuangan sebagai pembeli Belanja Barang 2,200,000 Kas 2,200,000 (Mencatat pembelian tunai) Kas 500,000 Penerimaan PPh Pasal 22 300,000 Penerimaan PPN 200,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN) b. Nilai Impor Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut menurut Undang-Undang ini Nilai Impor=(Cost+Insurace+Freight)+BeaLainnya 2. PT. ABC mengimpor barang elektronik dari Taiwan sebanyak 100 unit dengan harga US$ 100, ditambah bea masuk 1%, bea lainnya sebesar 0,5% dari harga jual. Pada saat itu kurs yang berlaku Rp 10.000,-/$. Berapakah bersarnya Pajak 50 Akuntansi Perpajakan penghasilan yang harus dipungut oleh Dirjen Bea Cukai? Karena Dirjen Bea Cukai adalah salah satu badan yang ditunjuk sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22. Jika PT. ABC diasumsikan mempunyai API maka atas transaksi penjualan di atas harus dipungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5 % dari harga Jual sebelum dikenakan PPN 10%. Jawab: Cost=100unit ×100 ×10.000 Cost=100.000.000 Bea Masuk =1%×100.000.000=1000.000 BeaLainnya=0,5%×100.000.000=500.000 Nilai Impor=(Cost+Insurace+Freight)+BeaLainnya Nilai Impor=100.000.000 0+1.000.000+500.000=101.500.000 PPh22=2,5%×Rp101.500.000 PPh 22=2.537.500 PPN = 10% X Rp 101.500,000 = 10,150,000 Catatan Bagi PT. ABC sebagai penjual (asumsi: Metode Fisik) Pembelian 101,500,000 Hutang Dagang 101,500,000 (Mencatat pembelian kredit) PPh Pasal 22 dibayar dimuka 2,537,500,000 PPN Keluaran 10,150,000 Kas 2,547,650,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN oleh Dirjen Bea Cukai) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22 51 Catatan Bagi Bea Cukai sebagai pemungut Kas 500,000 Penerimaan PPh Pasal 22 300,000 Penerimaan PPN 200,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN) Latihan 1 1. PT. ABC sebagai penjualan barang elektronik, menjual 3 buah AC kepada Pemerintah Daerah setempat dengan harga jual @ Rp 3.000.000,- belum termasuk PPN. Pertanyaan: a. Berapakah besarnya Pajak penghasilan yang harus dipungut oleh Pemerintah Daerah? b. Buatlah jurnal atas transaksi di atas? 2. PT. ABC mengimpor barang elektronik dari Taiwan sebanyak 10 unit dengan harga US$ 1,000, ditambah bea masuk 1%, bea lainnya sebesar 0,5% dari harga jual. Pada saat itu kurs yang berlaku Rp 9.000,-/$. Diasumsikan PT. ABC mempunyai API. Pertanyaan: a. Berapakah besarnya Pajak penghasilan yang harus dipungut oleh Dirjen Bea Cukai? b. Buatlah jurnal atas transaksi di atas? 52 Akuntansi Perpajakan BAB 5 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 53 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 23 B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 23. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 23. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 23 yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 23. 54 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A1. Dasar Hukum - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 244/ PMK.03/2008 tentang objek dan besarnya tarif PPh Pasal 23 A2. Pengertian Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 PPh Pasal 23 merupakan salah satu bentuk pemotongan dan pemungutan PPh yang dilakukan atas penghasilan (dividen, bunga, royalti, dan hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 serta sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dan imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21) dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap. Jadi Akuntansi PPh Pasal 23 adalah bagaimana proses pencatatan transaksi kaitannya dengan PPh Pasal 23. Ketika perusahaan menerima penghasilan yang berasal dari deviden, bunga, royalty dan sebagaimana yang telah diatur dalam peratuan menteri keuangan, maka perusahaan akan dipotong PPh Pasal 23 oleh perusahaan yang memberikan penghasilan tersebut. Oleh karena itu ketika perusahaan menerima penghasilan ini maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 55 Kas xxx Pedapatan Deviden/Sewa/Bunga xxx (Mencatat penerimaan pendapatan deviden, sewa, lainnya) PPh Pasal 23 dibayar dimuka xxx Kas (Mencatat PPh Pasal 23 yang dipungut) xxx Bagi perusahaan yang memungut PPh Pasal 23 atas penghasilan yang berasal dari deviden, bunga, royalty dan sebagaimana yang telah diatur dalam peratuan menteri keuangan dari perusahaan yang menerimanya. Selain itu perusahaan ini mempunyai kewajiban untuk membayar dan melaporkan PPh Pasal 23 yang telah dipotong tersebut. Maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: Biaya Deviden/Sewa/Bunga xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran deviden, sewa, lainnya) Kas xxx Hutang PPh Pasal 23 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 23) xxx Hutang PPh Pasal 23 xxx Kas (Mencatat pembayaran PPh Pasal 23) xxx B. Objek dan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 23 Dengan diterbitkannya PMK Nomor 244/PMK.03/2008 sebagai juklak dari UU PPh No. 36 Tahun 2008 yang berlaku mulai 1 Januari 2009. Maka objek dan besaran tarif untuk Pasal 23 menyesuaikan dengan ketentuan tersebut. Ketentuan ini cenderung memaksa WP untuk memiliki NPWP kecuali bila yang bersangkutan memilih dipotong lebih tinggi. Berikut ini adalah ringkasannya, atas penghasilan dari: 56 Akuntansi Perpajakan 1. Dividen, bunga, royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai PPh Final pasal 4 (2), terutang PPh Pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto 2. Atas Imbalan sehubungan dengan jasa lain selain jasa yang telah dipotong PPh Pasal 21, dipotong PPh Pasal 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN, C. Penghasilan yang Tidak Dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23 Selain penghasilan di atas, ada juga beberapa penghasilan yang dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23 adalah: 1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank 2. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi 3. Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f UU PPh dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c) UU PPh 4. Bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i UU PPh 5. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya 6. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang terdiri dari: Perusahaan pembiayaan yang merupakan badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan dan telah memperoleh ijin usaha dari Menteri Keuangan Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 - 57 BUMN atau BUMD yang khusus didirikan untuk memberikan sarana pembiayaan bagi usaga mikro, menengah dan koperasi, termasuk PT (Persero) Permodalan Madani. Salah satu perubahan besar yang dilakukan oleh Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru saja disetujui oleh rapat paripurna DPR adalah masalah Pajak Penghasilan Pasal 23. Sebelum dikeluarkannya UU No 36 Tahun 2008 sistem pentarifan PPh Pasal 23 masih menggunakan perkiraan penghasilan neto, sehingga kemudian ada istilah tarif efektif, sekarang ini telah diganti dengan penerapan tarif langsung kepada penghasilan bruto. D. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 Dalam masalah pemotong pajak ini, nampaknya tidak ada perubahan berarti yaitu tetap badan pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. Wajib Pajak Orang Pribadi dapat ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai pemotong PPh Pasal 23. Ketentuan inipun tak mengalami perubahan. Pihak yang dipotong PPh Pasal 23 tidak mengalami perubahan yaitu Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT). E. Tarif Bagi Wajib Pajak Tak Ber-NPWP Berdasarkan Pasal 23 ayat (1a) Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru, Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dan tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), maka besarnya tarif pemotongan PPh Pasal 23 adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif PPh Pasal 23 umumnya. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Jika bagi Wajib Pajak yang berNPWP dikenakan tarif 15%, maka bagi yang tidak berNWP akan dikenakan tarif 30%. Begitu juga jika Wajib Pajak berNPWP dikenakan tarif 2% maka bagi yang tidak berNPWP menjadi 4%. 58 Akuntansi Perpajakan Contoh 1: PT. ABC membayar jasa service kepada CV. Service sebesar Rp 3.000.000,Jawab: Pada contoh ini PT. ABC merupakan pemungut PPh pasal 23 atas jasa service tersebut. Besarnya PPh Pasal 23 adalah sebagai berikut: a. Jika CV. Service mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 23 adalah PPh pasal 23 = 2% X Rp 3.000.000,PPh Pasal 23 = Rp 60.000,- b. Jika CV. Service tidak mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 23 adalah PPh pasal 23 = 100% X 2% X Rp 3.000.000,PPh Pasal 23 = Rp120.000,Catatan bagi CV. Service Kas 3,000,000 Pedapatan Service 3,000,000 (Mencatat penerimaan pendapatan deviden, sewa, lainnya) PPh Pasal 23 dibayar dimuka 60,000 Kas 60,000 (Mencatat PPh Pasal 23 yang dipungut) Catatan bagi PT. ABC Biaya Service 3,000,000 Kas 3,000,000 (Mencatat pengeluaran deviden, sewa, lainnya) Kas 60,000 Hutang PPh Pasal 23 60,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 23) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23 59 Hutang PPh Pasal 23 60,000 Kas 60,000 (Mencatat pembayaran PPh Pasal 23) Contoh: Pada tanggal 20 Januari 2010 PT. ABC menerima penghasilan Deviden dari PT. BCA sebesar Rp 130.000.000,-. Tanggal 2 Februari 2010 PT. BCA menyetor Pajak yang telah dipotong atas penghasilan tersebut. Berapakah besar PPh Pasal 23 yang telah dipotong dan bagaimanakah pencatatan atas transaksi tersebut ? Jawab: Pada contoh ini PT. BCA merupakan pemungut PPh pasal 23 atas penghasilan Deviden tersebut. Besarnya PPh Pasal 23 adalah sebagai berikut: a. Jika PT. ABC mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 23 adalah PPh pasal 23 = 15% X Rp 130.000.000,PPh Pasal 23 = Rp 19,500.000,- b. Jika CV. Service tidak mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 23 adalah PPh pasal 23 = 100% X 15% X Rp 3.000.000,PPh Pasal 23 = Rp 39,000.000,Catatan bagi PT. ABC 20/1 Kas 130,000,000 Pedapatan Deviden 130,000,000 (Mencatat penerimaan pendapatan deviden, sewa, lainnya) 20/1 PPh Pasal 23 dibayar dimuka 19,500,000 Kas 19,500,000 (Mencatat PPh Pasal 23 yang dipungut) 60 Akuntansi Perpajakan Catatan bagi PT. BCA 20/1 Biaya Deviden 130,000,000 Kas 130,000,000 (Mencatat pengeluaran deviden, sewa, lainnya) 20/1 Kas 19,500,000 Hutang PPh Pasal 23 19,500,000 (Mencatat pemungutan PPh Pasal 23) 2/2 Hutang PPh Pasal 23 19,500,000 Kas 19,500,000 (Mencatat pembayaran PPh Pasal 23) Latihan 1. PT. ABC membayar jasa maklon kepada CV. Sejahtera sebesar Rp 30.000.000,-. (Diasumsikan kedua perusahaan memiliki NPWP) Pertanyaan: a. Berapakah PPh Pasal 23 yang dipotong oleh PT. ABC? b. Buatlah Jurnal atas transaksi di atas? 2. Departemen Keuangan membayar sewa kendaraan roda empat dari CV. Rentalindo sebesar Rp 5,000,000. (Diasumsikan CV. Rentalindo tidak mempunyai NPWP) Pertanyaan: a. Pajak apa saja dan berapakah pajak yang harus dipotong oleh Departemen Keuangan? b. Buatlah Jurnal atas transaksi di atas? BAB 6 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 61 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 24 B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 24. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 24. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 24 yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 24. 62 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A1. Dasar Hukum - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 A2. Pengertian Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 PPh Pasal 24 merupakan salah satu bentuk pemotongan dan pemungutan pajak atau pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama. Pajak penghasilan pasal 24 ini biasanya telah dipotong oleh pemberi kerja yang berada di luar negeri. Jadi Pajak yang telah dipotong diluar negeri tersebut nantiya dapat dikreditkan dengan pajak terutang di dalam negeri untuk tahun pajak yang sama. Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 bagaimana proses pencatatan transaksi kaitannya dengan PPh Pasal 24. Ketika perusahaan menerima penghasilan yang berasal dari luar negeri dengan nama dan dalam bentuk apapun (misalnya laba bersih, deviden dan lainlain) sebagaimana yang telah diatur dalam undang-undang, maka perusahaan akan dipotong pajak oleh Negara dimana perusahaan tersebut berada. Oleh karena itu ketika perusahaan menerima penghasilan ini maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: Kas xxx Pedapatan Deviden/Sewa/Bunga/lainnya xxx (Mencatat penerimaan pendapatan deviden, sewa, lainnya) PPh Pasal 24 dibayar dimuka xxx Kas xxx (Mencatat PPh Pasal 24 yang dipungut) Besarnya pajak penghasilan pasal 24 yang telah dipotong tersebut, bagi perusahaan, nantinya dapat dikreditkan dengan besarnya pajak terutan tahunan perusahaan. Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 63 B. Objek dan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 24 Berdasarkan pada UU PPh No. 36 Tahun 2008 yang berlaku mulai 1 Januari 2009. Maka objek untuk pajak penghasilan Pasal 24 adalah beberapa penghasilan yang boleh dikategorikan boleh dikreditkan dengan pajak terutang adalah sebagai berikut: 1. Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan 2. Penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada 3. Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak 4. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada 5. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan 6. Penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada 7. Keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada 8. Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap Contoh 1: PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z Inc. tersebut dalam tahun 2006 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100,000.00. Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X 64 Akuntansi Perpajakan adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%. Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut: Keuntungan Z Inc Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc.: (48%) US$ 52,000.00 Pajak atas dividen (38%) Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ 100,000.00 US$ 48,000.00 (-) US$ 19,760.00 (-) US$ 32,240.00 Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$ 19,760.00. Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. Sebesar US$ 48,000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A, karena pajak sebesar US$ 48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri, melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. di negara X. C. Kredit Pajak Penghasilan Pasal 24 Besarnya kredit pajak penghasilan pasal 24 yang boleh dikurangkan dengan Pajak Penghasilan Tahunan adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang ini Contoh: PT. ABC pada tahun 2009 memperoleh penghasilan sebagai berikut: Deviden dari PT CBA di Amerika sebesar 100 Milliar dengan tarif disana sebesar 20 % Sewa Gedung di Singapura sebesar 200 Milliar dengan tarif 25 % Penghasilan dari Indonesia sendiri sebesar 300 Milliar Berapakah besarnya PPh Pasal 24 yang boleh dikreditkan ? Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 24 65 Jawab: Pajak di Amerika Pajak di Singapura Total Penghasilan = 100 Milliar X 20% = 20 Milliar = 200 Milliar X 25% = 50 Milliar = 100 M + 200 M + 300 M = 600 M Jika diasumsikan peredaran Bruto pada tahun 2009 adalah sebesar 56 Milliar - Pajak Terutang = 600 M X 28% = 168 M Besarnya PPh Pasal 24 yang Boleh dikreditkan untuk : a. Deviden dari Negara Amerika : = 100M ×168M=28M 600M Jika dilihat bahwa besarnya PPh yang dihitung berdasarkan Undang-undang di Indonesia lebih besar maka PPh Pasal 24 yang boleh dikreditkan adalah sebesar 20 M. b. Sewa Dari Singapura: = 200M ×168M=56M 600M Jika dilihat bahwa besarnya PPh yang dihitung berdasarkan Undang-undang di Indonesia lebih besar maka PPh Pasal 24 yang boleh dikreditkan adalah sebesar 50 M. Catatan Bagi PT. ABC Kas 100 M Pedapatan Deviden 100 M (Mencatat penerimaan pendapatan deviden) 66 Akuntansi Perpajakan PPh Pasal 24 dibayar dimuka 20 M Kas (Mencatat PPh Pasal 24 yang dipungut) 20 M Kas 200 M Pedapatan Sewa 200 M (Mencatat penerimaan pendapatan Sewa) PPh Pasal 24 dibayar dimuka 50 M Kas (Mencatat PPh Pasal 24 yang dipungut) 50 M Latihan 1. PT. ABC pada tahun 2009 memperoleh penghasilan sebagai berikut: Bunga dari Bank ”A” di Amerika sebesar 10 Milliar dengan tarif disana sebesar 25 % Laba perusahaan cabang di Singapura sebesar 30 Milliar dengan tarif 35 % Penghasilan dari Indonesia sendiri sebesar 100 Milliar Pertanyaan: a. Pajak apa saja dan berapakah pajak yang harus dipotong oleh Departemen Keuangan ? b. Buatlah Jurnal atas transaksi di atas ? BAB 7 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) 67 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 4 (2) B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 4 (2). Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 4 (2). Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk : 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 4 (2). 68 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 A.2 Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) PPh Pasal 4 (2) adalah salah satu pemotongan atau pemungutan pajak yang bersifat final yang dikenakan kepada wajib pajak yang memperoleh penghasilan sebagaimana diatur dalam UndangUndang No 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat 2 seperti penghasilan deposito, hadiah undian, dan lain-lain. Pajak ini bersifat final maksudnya adalah kewajiban pajak oleh wajib pajak yang memperoleh penghasilan yang dikenakan pajak ini telah berakhir artinya sudah dipotong pada saat memperoleh penghasilan tersebut dan wajib pajak tersebut tidak mempunyai kewajiban lagi atas pajak tersebut. Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) bagaimana proses pencatatan transaksi kaitannya dengan PPh Pasal 4 (2). Ketika perusahaan menerima penghasilan penghasilan deposito, hadiah undian, dan lain-lain sebagaimana yang telah diatur dalam undangundang, maka perusahaan akan dipotong Pajak Penghasilan Pasal 4 (2). Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) ini merupakan bersifat final sehingga nantinya tidak dapat dikreditkan dengan pajak terutang tahunan perusahaan. Oleh karena itu ketika menerima penghasilan ini maka perusahaan akan mencatatnya sebagai biaya/pengeluaran biasa sebagai berikut: Kas xxx Pedapatan Deposito/Hadiah/lainnya xxx (Mencatat penerimaan pendapatan deposito, hadiah, lainnya) Biaya PPh Pasal 4 (2) xxx Kas xxx (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) 69 Bagi perusahaan yang memungut/memotong PPh Pasal 4 (2) ini akan mencatat sebagai berikut: Biaya Bunga Deposito//Hadiah/lainnya xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran untuk bunga deposito, hadiah, lainnya) Kas xxx Hutang PPh Pasal 4 (2) xxx (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) B. Objek Pajak Berikut ini adalah beberapa penghasilan yang dikenai pajak bersifat Final adalah sebagai berikut: a. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; b. penghasilan berupa hadiah undian; c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura; d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan e. penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. 70 Akuntansi Perpajakan C. Tarif PPh Pasal 4 (2) Berikut ini adalah tarif ntuk masing-masing objek pajak diatas sebagai berikut: No Keterangan Setahun 1. Hadiah Undian 2. Bunga Deposito dan Tabungan Serta Disconto SBI 20 % dari Pengecualian : Jumlah Bruto Bunga Deposito dan Tabungan Serta Disconto SBI sepabjang jumlah Deposito dan Tabungan Serta Disconto SBI tidak melebihi Rp 7.500.000,dan bukan merupakan yang dipecah-pecah Bunga Disconto dan Tabungan yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia Bunga Deposito dan Tabungan Serta Disconto SBI yang diterima oleh dana pension yang telah disahkan oleh meneteri keuangan sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana dimaksud pada pasal 29 UU No 11 tahun 1992 tentang dana pension Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk oleh pemerintah dalam rangka pemilikan rumah sederhana dan sangat sederhana, kapling siap bangun rumah sederhana atau sangat sederhana, rumah susun sederhana sepanjang untuk dihuni sendiri. 3 Bunga Simpanan Koperasi : penghasilan berupa bunga simpanan sampai dengan Rp 240.000 bunga untuk penghasilan berupa bunga simpanan lebih dari Rp 240.000 4 Transaksi Saham di Bursa Efek : a. Saham Pendiri b. Bukan Saham Pendiri 25 % dari Jumlah Bruto 0% 10 % 0,5 % 0,1 % Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) 5 Penghasilan Dari Transaksi Derivatif 6 Bunga atau Disconto Obligasi yang dijualbelikan di Bursa Efek 20 % 7 Persewaan Tanah/Bangunan 10 % 8 Penghasilan atas pengalihan hak atas tanah dan/ bangunan 5% 9 Usaha Jasa Konstruksi: Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil Pelaksanaan Kuonstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha kecil Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa selain penyedia jasa di atas Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang memiliki kualifikasi usaha Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha 10 11 71 2,5% dari margin awal 2% 4% 3% 4% 6% Penghasilan Perusahaan Modal Ventura dari transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan odla pada perusahaan pasangannya dengan syarat : Merupakan perusahaan kecil menengah atau yang melakukan kegiatan dalam sector-sektor usaha yang ditetapkan oleh menteri keuangan Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek 0,1 % Deviden yang diterima Orang Pribadi 10 % Contoh: 1. CV. Jaya pada bulan januari 2010 mempunyai saldo uang di Bank A sebesar Rp 100,000,000 dan memperoleh bunga 0,7%/bulan. Berapakah PPh Pasal 4 (2) yag akan dipotong oleh Bank A? 72 Akuntansi Perpajakan Jawab: Besarnya PPh Pasal 4 (2) adalah sebagai berikut : Bunga Bank : 0,7% X Rp 100,000,000 = Rp 700,000 a. Jika CV. Jaya mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 4 (2) adalah: PPh pasal 4 (2) = 20% X Rp 700.000,PPh Pasal 4 (2) = Rp 140.000,- b. Jika CV. Jaya tidak mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 4 (2) adalah PPh pasal 4 (2) = 100% X 20% X Rp 700.000,PPh Pasal 4 (2) = Rp280.000,- Catatan CV. Jaya: Kas 700,000 Pedapatan Deposito 700,000 (Mencatat penerimaan pendapatan deposito, hadiah, lainnya) Biaya PPh Pasal 4 (2) 140,000 Kas 140,000 (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Catatan Bank A: Biaya Bunga Deposito 700,000 Kas 700,000 (Mencatat pengeluaran untuk bunga deposito, hadiah, lainnya) Kas 140,000 Hutang PPh Pasal 4 (2) 140,000 (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Hutang PPh Pasal 4 (2) 140,000 Kas 140,000 (Mencatat penyetoran PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) 73 2. CV. Jaya pada bulan Maret 2010 mendapatkan hadiah undian dari Bank A sebuah mobil senilai Rp 100,000,000. Berapakah PPh Pasal 4 (2) yang akan dipotong oleh Bank A ? Jawab: Besarnya PPh Pasal 4 (2) adalah sebagai berikut : a. Jika CV. Jaya mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 4 (2) adalah: PPh pasal 4 (2) = 25% X Rp 100,000.000,PPh Pasal 4 (2) = Rp 25,000.000,- b. Jika CV. Jaya tidak mempunyai NPWP maka besarnya PPh pasal 4 (2) adalah PPh pasal 4 (2) = 100% X 25% X Rp 100,000.000,PPh Pasal 4 (2) = Rp 50,000.000,- Catatan CV. Jaya: Kas 100,000,000 Pedapatan Deposito 100,000,000 (Mencatat penerimaan pendapatan deposito, hadiah, lainnya) Biaya PPh Pasal 4 (2) 25,000,000 Kas 25,000,000 (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Catatan Bank A: Biaya Bunga Deposito 100,000,000 Kas 100,000,000 (Mencatat pengeluaran untuk bunga deposito, hadiah, lainnya) Kas 25,000,000 Hutang PPh Pasal 4 (2) 25,000,000 (Mencatat PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) 74 Akuntansi Perpajakan Hutang PPh Pasal 4 (2) 25,000,000 Kas 25,000,000 (Mencatat penyetoran PPh Pasal 4 (2) yang dipungut) Dalam contoh kasus di atas dapat kita katakan bahwa CV. Jaya sebagai pihak yang menerima penghasilan dipotong PPh Pasal 4 (2), sedangkan Bank A sebagai pihak yang memotong PPh Pasal 4 (2). Pajak ini bagi CV. Jaya dicatat sebagai biaya karena termasuk pajak final. Latihan: 1. PT. ABC membayar sewa tanah kepada CV. Sejahtera sebesar Rp 30.000.000,-. (Diasumsikan kedua perusahaan memiliki NPWP) Pertanyaan: a. Berapakah PPh Pasal 4 (2) yang dipotong oleh PT. ABC? b. Buatlah Jurnal atas transaksi di atas? 2. PT. CBA memperoleh penghasilan jasa konstruksi dari CV. Sejahtera sebesar Rp 500,000,000 atas penyelesaian 50% pekerjaannya. (Diasumsikan CV. Rentalindo tidak mempunyai NPWP) Pertanyaan: a. Pajak apa saja dan berapakah pajak yang harus dipotong oleh CV. Sejahtera? b. Buatlah Jurnal atas transaksi di atas? Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E BAB 8 75 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25, 28A, 29, DAN 31E B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, & 31E. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, & 31E. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, & 31E yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, & 31E 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, & 31E. 76 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A1. Dasar Hukum - Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Petunjuk Pengisian SPT PPh Badan 1771 (Rp) Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2007 A2. Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 25 Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan No 36 Tahun 2008, PPh Pasal 25 merupakan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhir tahun pajak yang lalu. PPh Pasal 25 ini berbeda dengan pajak lain. Jika Pajak lainnya besarnya ditentukan berdasarkan besarnya transaksi, misalnya Deviden sebesar Rp 100 juta maka besarnya PPh Pasal 23 sebesar Rp 15 Juta (15% X Rp 100 juta), atau Penjualan sebesar Rp 100 Juta (1,5% X Rp 100 juta). Namun pada PPh Pasal 25 ini dapat dihitung berdasarkan perhitungan pajak selama satu tahun pajak yang bersangkutan, lalu diperhitungkan juga besarnya pajak yang telah dibayar sendiri oleh waib pajak maupun pajak yang telah dipungut atau dipotong oleh pihak lain. Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25 merupakan proses pencatatan transaksi kaitannya dengan saat pengakuan PPh Pasal 25, pembayaran PPh Pasal 25 dan saat pelaporan PPh Pasal 25. Sebelum menghitung PPh Pasal 25 perlu dihitung dahulu PPh Pasal 29/28A atau kurang/lebih bayarnya pajak terutang selama setahun. Menghitung besarnya PPh Pasal 29/28A yang berasal dari pajak terutang selama setahun dikurangi seluruh kredit pajak mulai dari PPh Pasal 21 s/d 25. Ketika dihitung hasilnya kurang bayar, maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 77 Biaya Pajak xxx PPh Pasal 21/22/23 xxx PPh Pasal 24/25 xxx Fiskal Luar Negeri xxx Hutang PPh Pasal 29 xxx (Mencatat PPh terutang kurang bayar) Ketika dihitung hasilnya lebih bayar, maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: Biaya Pajak xxx Piutang PPh Pasal 28A xxx PPh Pasal 21/22/23 xxx PPh Pasal 24/25 xxx Fiskal Luar Negeri xxx (Mencatat PPh terutang lebih bayar) Setelah menghitung besarnya PPh Pasal 29/28A, lalu kita hitung besarnya PPh Pasal 25 dengan caramengurangkan antara pajak terutang selama setahun dengan seluruh kredit pajak kecuali 25 lalu dibagi 12 bulan. PPh Pasal 25 ini menjadi dasar untuk pembayaran pada tahun yang akan dating. Ketika membayar PPh Pasal 25, maka perusahaan akan mencatat sebagai berikut: PPh Pasal 25 dibayar dimuka xxx Kas xxx (Mencatat pembayaran PPh Pasal 25) Pembayaran PPh Pasal 25 untuk bulan ini akan dibayar pada bulan berikutnya. Untuk itu perlu dibuat untuk menyesuaiakan setoran PPh Pasal 25 bulan ini, maka Jurnal Penyesuaian yang perlu kita buat adalah: PPh Pasal 25 dibayar dimuka xxx Hutang PPh Pasal 25 xxx (Mencatat pengakuan PPh Pasal 25 bulan ini) 78 Akuntansi Perpajakan Lalu pembayaran yang dilakukan pada bulan berikutnya akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut: Hutang PPh Pasal 25 xxx Kas xxx (Mencatat pembayaran PPh 25 pada bulan berikutnya) B. Dasar Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 Dasar perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan: 1. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 2. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, Setelah diperoleh hasil pengurangan tersebut, kemudian dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak. Intinya adalah dalam perhitungan PPh Pasal 25, semua pemungutan dan pemotongan pajak penghasilan pada tahun tertentu akan menjadi pengurang atau kredit pajak untuk pajak terutang tahun tertentu itu juga, kecuali pajak yang telah dibayar sendiri atau istilahnya PPh Pasal 25. Jika dapat dirumuskan sebagai berikut: Pajak Terutang setahun Kredit Pajak PPh Pasal 21 xxx PPh Pasal 22 xxx PPh Pasal 23 xxx PPh Pasal 24 xxx + Total Kredit Pajak Pajak Kurang/Lebih Bayar PPh Pasal 25 : xxxxv : xxx : xxx : Hasil diatas /12 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 79 Sedangkan untuk menghitung besarnya PPh Pasal 28A/29 adalah sebagai berikut: Pajak Terutang setahun : xxxx Kredit Pajak PPh Pasal 21 xxx PPh Pasal 22 xxx PPh Pasal 23 xxx PPh Pasal 24 xxx PPh Pasal 25 xxx + Total Kredit Pajak : xxx Pajak Kurang (29)/Lebih Bayar (28A) : xxx Keterangan: Jika pajak terutang pada tahun tersebut melebihi jumlah kredit pajak yang telah dipungut oleh pihak lain maka akan muncul kurang bayar. Kurang bayar disini yang disebut sebagai PPh Pasal 29. Jika pajak terutang pada tahun tersebut kurang dari jumlah kredit pajak yang telah dipungut oleh pihak lain maka akan muncul lebih bayar. Lebih bayar disini yang disebut sebagai PPh Pasal 28A. Contoh: Pada tahun 2009 PT. ABC mencatat peredaran bruto Rp 55 Miliar dan penghasilan kena pajak sejumlah Rp 100 juta. Jika pada tahun tersebut perusahaan telah dipotong dan dipungut PPh Pasal 22 sebesar 2 juta, PPh Pasal 23 sebesar 3 juta. Berapakah besarnya PPh Pasal 29/28A dan PPh Pasal 25 yang menjadi dasar angsuran pembayaran untuk tahun pajak yang akan datang? Jawab: PPh Pasal 28A/29: Penghasilan kena pajak : 100 juta Pajak Terutang setahun (28% X 100 juta) : 28 juta 80 Akuntansi Perpajakan Kredit Pajak PPh Pasal 22 2 Juta PPh Pasal 23 3 Juta + Total Kredit Pajak Pajak Kurang Bayar (Pasal 29) : 5 juta : 23 Juta PPh Pasal 25: Penghasilan kena pajak : 100 juta Pajak Terutang setahun (28% X 100 juta) : 28 juta Kredit Pajak PPh Pasal 22 2 Juta PPh Pasal 23 3 Juta + Total Kredit Pajak : 5 juta Pajak Kurang/Lebih Bayar : 23 Juta PPh Pasal 25 : 23 Juta /12 : 1.916.667 Jadi Besarnya PPh Pasal 25 adalah sebesar 1.916.667,Catatan yang harus dibuat adalah: Biaya Pajak 28,000,000 PPh Pasal 22 2,000,000 PPh Pasal 23 3,000,000 Hutang PPh Pasal 29 23,000,000 (Mencatat PPh terutang kurang bayar) C. Perlakuan Khusus perhitungan PPh Terutang untuk Wajib Pajak Badan Berdasarkan pada pasal 17 ayat (2b) disebutkan bahwa Tarif khusus bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya. Wajib Pajak tersebut dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah 81 Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E daripada tarif sebagaimana dimaksud pada Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Contoh: Jumlah Penghasilan Rp1.250.000.000,00 Kena Pajak dalam tahun pajak 2009 Pajak Penghasilan yang terutang = (28% - 5%) x Rp1.250.000.000,00 = Rp 287.500.000,00. Pada TariPPh Pasal 31E disebutkan bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Berdasarkan penjelasan pada Pasal 31E di perhitungannya dapat dibedakan menjadi dua yaitu: atas maka, 1) Jika peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00, maka penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut: PPh terutang = 50% X 28% X seluruh Penghasilan Kena Pajak 2) Jika peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000,00 sampai dengan Rp 50.000.000.000,00, maka penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut: PPh Terutang = [(50% X 28%) X PKP yang memperoleh fasilitas] + [28% X PKP yang tidak memperoleh fasilitas] Contoh: Peredaran bruto PT ABC dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 4.500.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 500.000.000,00. 82 Akuntansi Perpajakan Jawab: Penghitungan pajak yang terutang yaitu seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenakan tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00. Pajak Penghasilan yang terutang = 50% x 28% x Rp 500.000.000,00 = Rp 70.000.000,00 Jika Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 30.000.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3.000.000.000,00. Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang: a. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas = (Rp 4.800.000.000,00 : Rp 30.000.000.000,00) x Rp 3.000.000.000,00 = Rp 480.000.000,00 b. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas = Rp 3.000.000.000,00 – Rp 480.000.000,00 = Rp 2.520.000.000,00 c. Total Pajak Penghasilan yang terutang = (50%x 28% x Rp480.000.000,00) Rp2.520.000.000,00) = Rp 67.200.000,00 + Rp 705.600.000,00 = Rp772.800.000,00 + (28% x Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 83 D. Beberapa Ketetentuan Kaitannya dengan Pajak Penghasilan Pasal 25 Ada beberapa ketentuan khusus yang perlu diperhatikan kaitannya dengan Pajak penghasilan Pasal 25, dinatanranya adalah sebegai berikut: 1. Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak. 2. Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, sebagai berikut: a. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian b. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur c. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan d. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan e. Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan f. terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak. 3. Menteri Keuangan menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak bagi: a. Wajib Pajak baru b. Bank, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, Wajib Pajak masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan harus membuat laporan keuangan berkala 84 Akuntansi Perpajakan c. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu dengan tarif paling tinggi 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran bruto. 4. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun yang bertolak ke luar negeri wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan ini berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. 5. Pajak Penghasilan atas berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak. Contoh: Pada Tahun 2009 Budi melaporkan Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Rp 50.000.000,00 dikurangi: a. Pajak Penghasilan Pasal 21 b. Pajak Penghasilan Pasal 22 c. Pajak Penghasilan Pasal 23 d. Pajak Penghasilan Pasal 24 Jumlah kredit pajak Selisih Rp15.000.000,00 Rp10.000.000,00 Rp 2.500.000,00 Rp 7.500.000,00 (+) Rp35.000.000,00 (-) Rp15.000.000,00 Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp1.250.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 12). Namun jika Si Budi memperoleh penghasilan pada tahun 2009 mulai bulan Juli atau masa 6 (enam) bulan dalam tahun 2009, maka besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2010 adalah sebesar Rp2.500.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 6). 6. Mengingat batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak orang pribadi adalah akhir bulan ketiga tahun pajak berikutnya dan bagi Wajib Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 85 Pajak badan adalah akhir bulan keempat tahun pajak berikutnya, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan belum dapat dihitung sesuai dengan ketentuan pada ayat (1). Berdasarkan ketentuan ini, besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu. Contoh: Apabila Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan oleh Wajib Pajak orang pribadi pada bulan Februari 2010, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak tersebut untuk bulan Januari 2010 adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009, misalnya sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Apabila dalam bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak menjadi nihil sehingga angsuran pajak sejak bulan Oktober sampai dengan Desember 2009 menjadi nihil, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak untuk bulan Januari 2010 tetap sama dengan angsuran bulan Desember 2009, yaitu nihil. 7. Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, angsuran pajak dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut. Perubahan angsuran pajak tersebut berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan diterbitkannya surat ketetapan pajak. Contoh: Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak 2009 yang disampaikan Wajib Pajak dalam bulan Februari 2010, perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus 86 Akuntansi Perpajakan dibayar adalah sebesar Rp1.250.000,00 (satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun pajak 2009 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah). Berdasarkan ketentuan dalam ayat ini, besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah). Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama, lebih besar, atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan. 8. Pada dasarnya besarnya pembayaran angsuran pajak oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan sedapat mungkin diupayakan mendekati jumlah pajak yang akan terutang pada akhir tahun. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan ini dalam hal-hal tertentu Direktur Jenderal Pajak diberikan wewenang untuk menyesuaikan perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan apabila terdapat kompensasi kerugian; Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan tidak teratur; atau terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak. 9. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi maupun badan yang melakukan perjalanan keluar negeri yang dikenakan fiskal luar negeri, maka besarnya fikal luar negeri tersebut dapat dikreditkan dengan besarnya pajak terutang yang harus dibayar atau istlahnya disebut sebagai kredit pajak. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut kaitannya dengan Fiskal Luar Negeri sebagai berikut : Tarif Fiskal Luar Negeri adalah: a. Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah), untuk setiap kali perjalanan dengan menggunakan pesawat udara; b. Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah), untuk setiap kali perjalanan dengan menggunakan kapal laut Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 87 Pengecualian Fiskai Luar Negeri Beberapa Orang Pribadi yang akan bertolak ke luar negeri dikecualikan dari pembayaran FLN dengan cara sebagai berikut: Pembebasan langsung, diberikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang; Pembebasan melalui pemberian Surat Keterangan Bebas Fiskai Luar Negeri (SKBFLN) diterbitkan Unit Fiskal Luar Negeri (UPFLN) DJP. Pembebasan Langsung: Ada beberapa wajib pajak yang dibebaskan dari fiscal luar negeri secara langsung diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Orang asing yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dengan menunjukkan visa kunjungan atau visa singgah. 2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing, termasuk anggota keluarganya dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka, yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersamasama mereka, sepanjang bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik, dengan menunjukkan paspor Diplomatik. 3. Dalam hal keberangkatannya ke luar negeri dalam rangka penempatan di luar negeri, pembebasan diberikan juga kepada isteri dan anak-anaknya yang merupakan anggota keluarga yang belum berusia 25 tahun, belum kawin, belum mempunyai penghasilan, masih menjadi tanggungan dan tinggal bersama di wilayah akreditasi sesuai dengan ketentuan Pasal 4 huruf b angka (2) Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SP/993/PD/XI/72 tanggal 12 Juni 1972. 88 Akuntansi Perpajakan 4. Pejabat-pejabat dari perwakilan organisasi internasional yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan, termasuk anggota keluarganya, sepanjang bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia, dengan menunjukkan paspor Diplomatik. Dalam hal keberangkatannya ke luar negeri dalam rangka penempatan di luar negeri, pembebasan diberikan juga kepada isteri dan anak-anaknya yang merupakan anggota keluarga yang belum berusia 25 tahun, belum kawin, belum mempunyai penghasilan, masih menjadi tanggungan dan tinggal bersama di wilayah akreditasi sesuai dengan ketentuan Pasal 4 huruf b angka (2) Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SP/993/PD/XI/72 tanggal 12 Juni 1972. 5. Warga Negara Indonesia yang bertempat tinggal tetap di luar negeri yang memiliki dokumen resmi sebagai penduduk negeri tersebut, dengan menunjukkan salah satu dari tanda pengenal resmi yang masih berlaku sebagai penduduk luar negeri berikut ini: a. Green Card; b. Identity Card; c. Student Card; d. Pengesahan alamat di luar negeri pada Paspor oleh Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri; e. Surat Keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia atau Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri; f. Tertulis resmi di paspor oleh Kantor Imigrasi negara setempat. 6. Meskipun seseorang mempunyai salah satu tanda pengenal resmi sebagaimana huruf a s.d. f, tetapi dalam kenyataannya tidak tinggal di negara tersebut tetapi tinggal di Indonesia lebih Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 89 dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, yang bersangkutan wajib membayar FLN pada saat akan bertolak ke luar negeri. 7. Jemaah haji yang penyelenggaraannya dilakukan oleh instansi yang berwenang, dengan menunjukkan daftar nama para jemaah haji oleh pimpinan rombongan dan petugas pelaksana pemberangkatan haji yang pembiayaannya dibebankan pada Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) dengan menyerahkan surat dari Departemen Agama. Pengecualian tersebut tidak berlaku bagi Jemaah Haji Khusus yang penyelenggaraannya dibebankan pada BPIH Khusus. 8. Orang pribadi yang melakukan perjalanan lintas batas wilayah Republik Indonesia melalui darat. 9. Para pekerja Warga Negara Indonesia yang akan bekerja di luar negeri dalam rangka program pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI), sepanjang tidak menerima penghasilan dari sumber di dalam negeri dengan a. menunjukkan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN); atau b. menyerahkan persetujuan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 10. Mahasiswa dari negara asing yang berada di Indonesia dalam rangka belajar dengan rekomendasi dari perguruan tinggi tempat mereka belajar dan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, dengan menyerahkan surat pernyataan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dan surat rekomendasi sebagai mahasiswa atau pelajar dari pimpinan perguruan tinggi sekolah yang bersangkutan. Pembebasan tersebut tidak berlaku bagi isteri dan anak-anaknya maupun anggota keluarga lainnya 90 Akuntansi Perpajakan 11. Orang asing yang berada di Indonesia dan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia yang melaksanakan: a. penelitian di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan di bawah koordinasi lembaga pemerintah terkait; b. program kerjasama teknik dengan mendapat persetujuan Sekretariat Negara; dan c. tugas sebagai anggota misi keagamaan dan misi kemanusiaan di bawah koordinasi instansi terkait, dengan menyerahkan surat pernyataan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dan surat rekomendasi atau persetujuan dari instansi terkait. Pengecualian tersebut tidak berlaku bagi isteri dan anakanaknya maupun anggota keluarga lainnya. 12. Tenaga kerja warga negara asing, pendatang, yang bekerja di Pulau Batam, Pulau Bintan, Pulau Karimun, sepanjang mereka telah dipotong Pajak Penghasilan oleh pemberi kerja, dengan menyerahkan tanda bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atau Pasal 26 yang telah dilegalisir oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Batam atau Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Pinang atau Pejabat yang ditunjuk. Penyandang cacat atau orang sakit yang akan berobat ke luar negeri atas biaya organisasi sosial termasuk 1 (satu) orang pendamping, dengan menyerahkan surat persetujuan dari Menteri Kesehatan atau yang mewakilinya. 10. Anggota misi kesenian, misi kebudayaan, misi olah raga atau misi keagamaan yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia ke luar negeri, dengan menyerahkan surat persetujuan dari menteri terkait atau yang mewakilinya dengan ketentuan sebagai berikut: a. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk misi kesenian dan misi kebudayaaan; b. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga untuk misi olah raga; c. Menteri Agama untuk misi keagamaan; Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 25, 28A, 29, dan 31E 91 13. Mahasiswa atau pelajar yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun yang akan belajar di luar negeri dalam rangka program resmi pertukaran mahasiswa atau pelajar yang diselenggarakan pemerintah atau badan asing dengan persetujuan menteri terkait. Mahasiswa atau pelajar yang dikecualikan dari kewajiban pembayaran FLN adalah: a. Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan anggota Polisi Republik Indonesia (POLRI) yang dilengkapi dengan paspor dinas dan surat tugas atau perjalanan dinas; b. Mahasiswa atau pelajar dalam rangka program resmi pertukaran mahasiswa atau pelajar yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Badan Asing dengan persetujuan Menteri Pendidikan Nasional; Pengecualian tersebut tidak berlaku bagi isteri dan anak-anaknya maupun anggota keluarga lainnya 92 Akuntansi Perpajakan BAB 9 Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 93 AKUNTANSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Pajak Bumi dan Bangunan. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Pajak Bumi dan Bangunan. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Pajak Bumi dan Bangunan yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Pajak Bumi dan Bangunan. 94 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1994 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANGUNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN A.2 Pengertian Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan hak atas bumi dan bangunan yang ada di atasnya yang nilainya di atas nilai jual objek pajak tidak kena pajak (NJOPTKP). Jadinya intinya pajak bumi dan bangunan ini dikenakan kepada semua wajib pajak yang mempunyai hak atas objek pajak bumi dann bangunan yang ada di atasnya. Pajak bumi dan bangunan berbeda dengan pajak-pajak lainnya, karena salah satu penyebabnya adalah system yang dipakai masih cenderung pada official assessment, artinya semua hal yang kaitannya dengan penentuan besarnya pajak bumi dan bangunan yang harus dibayar adalah pihak petugas pajak (fiskus). Hal ini yang membedakan pajak bumi dan bangunan dengan penghasilan (PPh) yang cenderung pada system self assessment. Akuntansi dipakai oleh perusahaan untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Proses pencatatan pengeluaran pajak bumi dan bangunan ini lebih sederhana dibandingkan dengan pajak penghasilan maupun pajak pertambahan nilai, karena pajak bumi bumi dan bangunan ini dibayar setahun sekali. Hal ini mempermudah perusahaan mencatat transaksi ini setahun sekali. Menurut undang-undang PPh disebutkan bahwa pajak merupakan salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penghasilan bruto kecuali pajak penghasilan. Oleh karena itu pengeluaran ini akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut: Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 95 Biaya Pajak Bumi & Bangunan xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran untuk pajak bumi dan bangunan) Sebelum dibahas panjang lebar mengenai PBB, lebih baik kita ketahui mengenai beberapa pengertian kaitannya dengan PBB. 1. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya; 2. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan; 3. Nilai Jual Obyek Pajak adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, Nilai Jual Obyek Pajak ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau Nilai Jual Obyek Pajak Pengganti; 4. Surat Pemberitahuan Obyek Pajak adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data obyek pajak menurut ketentuan undang-undang ini; 5. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terhutang kepada wajib pajak B. Objek Pajak Bumi dan Bangunan Berdasarkan UU No 12 tahun 1985 pasal 1A menyebutkan objek pajak bumi dan bangunan hádala tentu saja bumi dan/ bangunan. Namur dalam hal ini bumi dan bangunan yang seperti apa. Di dalam Peraturan Menteri keuangan dijelaskan bahwa Yang dimaksud dengan klasifikasibumi dan bangunan adalah pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan sebagai pedoman serta untuk memudahkan penghitungan pajakterhutang. 96 Akuntansi Perpajakan Dalam menentukan klasifikasi bumi/tanah diperhatikanfaktorfaktor sebagai berikut: 1 Letak 2 Perutukan 3 Pemanfaatan 4 Kondisi Lingkungan Dalam menentukan klasifikasi bangunan diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut: 1 Bahan yang Digunakan 2 Rekayasa 3 Letak Kondisi Liingkungan dan Lain-lain C. Bukan Objek Pajak Bumi dan Bangunan Selain bumi dan bangunan di atas, ada beberapa objek pajak yang dikecualikan, diantaranya adalah: 1. Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Yang dimaksud dengan tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan adalah bahwa objek pajak itu diusahakan untuk melayani kepentingan umum, dan nyata-nyata tidak ditujukan untuk mencarikeuntungan. Halini dapat diketahui antara lain dari anggaran dasardan anggaran rumah tangga dari yayasan/badan yang bergerak dalam bidang ibadah,sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional tersebut. Termasukpengertian ini adalah hutan wisata milik Negara sesuai Pasal 2 Undang-undangNomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Contoh: pesantren atau sejenis denganitu; madrasah; tanah wakaf; rumah sakit umum. Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 97 2. Objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu; 3. Objek pajak yang merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum di bebani suatu hak; 4. Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. D. Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Yang menjadi subyek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan. Subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak menurut Undang-undang ini. Dalam hal atas suatu obyek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya, Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai wajib pajak. Subyek pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap obyek pajak dimaksud Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak membatalkan penetapan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya surat keterangan dimaksud. Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan surat keputusan penolakan dengan disertai alasan-alasannya. Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan itu dianggap disetujui 98 Akuntansi Perpajakan E. Tarif, Dasar, dan Cara Perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan Tarif pajak bumi dan bangunan adalah 0,5 % dari Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Besarnya Nilai Jual Obyek Pajak ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya. Sedangkan Dasar penghitungan pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya 100% (seratus persen) dari nilai jual obyek pajak. Besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional Cara menghitung pajak dan bangunan adalah sebagai berikut : PBB = 0,5 % X NJKP PBB = 0,5 % X (Prosentase tertentu X DPP) PBB = 0,5 % X [Presentase tertentu X (NJOP –NJOPTKP)] Contoh: PT. ABC mempunyai satu bidang tanah seluas 100 M2 dengan NJOP sebesar Rp 1 juta/M2. Jika prosentase NJKP tanah tersebut adalah sebesar 20% dan NJOPTKP sebesar Rp 10 juta. Berapakah besarnya Pajak Bumi dan bangunan yang harus di bayar oleh WP A? Jawab : NJOP : 100 M2 X Rp 1 juta/M2 : Rp 100 Juta PBB = 0,5 % X [20% X (100 Juta – 10 Juta)] PBB = 0,5 % X (20% X 90 Juta) PBB = 0,5 % X 18 Juta PBB = Rp 90.000,Jadi besarnya pajak bumi dan bangunan yang harus dibayar adalah sebesar Rp 90.000,- Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 99 PT. ABC akan mencatat: Biaya Pajak Bumi & Bangunan 90,000 Kas 90,000 (Mencatat pengeluaran untuk pajak bumi dan bangunan) F. Klasifikasi Bumi dan Bangunan Serta Penerapannya dalam Menghitung PBB Untuk memudahkan penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terutang atas suatu objek pajak berupa tanah (bumi) dan atau bangunan perlu diketahui pengelompokan objek pajak menurut nilai jualnya, tarif, Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP), dan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Pengelompokan Objek Pajak menurut nilai jual tersebut lazim disebut dengan klasifikasi tanah (bumi) dan bangunan. Pengklasifikasian ini mempermudah wajib pajak untuk menghitung besarnya NJOP dan NJOPTKP maisng-masing objek pajak. Nilai NJOP dan NJOPTKP masing-masing objek pajak ini dipengaruhi oleh letak daerah dan letak tanah itu sendiri. Daerah tertentu kemungkinan akan memiliki nilai NJOP dan NJOPTKP yang berbeda dengan daerah lain. Berikut ini disajikan penggolongan nilai NJOP dan NJOPTKP berdasarkan klas masing-masing objek pajak sebagai berikut: I. Klasifikasi, Penggolongan Dan Ketentuan Nilai Jual Bumi Kelompok A. Klas Penggolongan Nilai Jual Permukaan Bumi (Tanah) Nilai Jual (Rp/M2) 1 > 3.000.000 s/d 3.200.000 3.100.000 2 > 2.850.000 s/d 3.000.000 2.925.000 3 > 2.708.000 s/d 2.850.000 2.779.000 4 > 2.573.000 s/d 2.708.000 2.640.000 5 > 2.444.000 s/d 2.573.000 2.508.000 100 Akuntansi Perpajakan 6 > 2.261.000 s/d 2.444.000 2.352.000 7 > 2.091.000 s/d 2.261.000 2.176.000 8 > 1.934.000 s/d 2.091.000 2.013.000 9 > 1.789.000 s/d 1.934.000 1.862.000 10 > 1.655.000 s/d 1.789.000 1.722.000 11 > 1.490.000 s/d 1.655.000 1.573.000 12 > 1.341.000 s/d 1.490.000 1.416.000 13 > 1.207.000 s/d 1.341.000 1.274.000 14 > 1.086.000 s/d 1.207.000 1.147.000 15 > 977.000 s/d 1.086.000 1.032.000 16 > 855.000 s/d 977.000 916.000 17 > 748.000 s/d 855.000 802.000 18 > 655.000 s/d 748.000 702.000 19 > 573.000 s/d 655.000 614.000 20 > 501.000 s/d 573.000 537.000 21 > 426.000 s/d 501.000 464.000 22 > 362.000 s/d 426.000 394.000 23 > 308.000 s/d 362.000 335.000 24 > 262.000 s/d 308.000 285.000 25 > 223.000 s/d 262.000 243.000 26 > 178.000 s/d 223.000 200.000 27 > 142.000 s/d 178.000 160.000 28 > 114.000 s/d 142.000 128.000 29 > 91.000 s/d 114.000 103.000 30 > 73.000 s/d 91.000 82.000 31 > 55.000 s/d 73.000 64.000 32 > 41.000 s/d 55.000 48.000 33 > 31.000 s/d 41.000 36.000 34 > 23.000 s/d 31.000 27.000 35 > 17.000 s/d 23.000 20.000 36 > 12.000 s/d 17.000 14.000 37 > 8.400 s/d 12.000 10.000 Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 38 > 5.900 s/d 8.400 7.150 39 > 4.100 s/d 5.900 5.000 40 > 2.900 s/d 4.100 3.500 41 > 2.000 s/d 2.900 2.450 42 > 1.400 s/d 2.000 1.700 43 > 1.050 s/d 1.400 1.200 44 > 760 s/d 1.050 910 45 > 550 s/d 760 660 46 > 410 s/d 550 480 47 > 310 s/d 410 350 48 > 240 s/d 310 270 49 > 170 s/d 240 200 50 > 170 101 140 II. Klasifikasi, Penggolongan Dan Ketentuan Nilai Jual Bumi Kelompok B Klas Penggolongan Nilai Jual Permukaan Bumi (Tanah) Nilai Jual (Rp/M2) 1 > 67,390,000 s/d 69,700,000 68,545,000 2 > 65,120,000 s/d 67,390,000 66,255,000 3 > 62,890,000 s/d 65,120,000 64,000,000 4 > 60,700,000 s/d 62,890,000 61,795,000 5 > 58,550,000 s/d 60,700,000 59,625,000 6 > 56,440,000 s/d 58,550,000 57,495,000 7 > 54,370,000 s/d 56,440,000 55,405,000 8 > 52,340,000 s/d 54,370,000 53,355,000 9 > 50,350,000 s/d 52,340,000 51,345,000 10 > 48,400,000 s/d 50,350,000 49,375,000 11 > 46,490,000 s/d 48,400,000 47,445,000 12 > 44,620,000 s/d 46,490,000 45,555,000 13 > 42,790,000 s/d 44,620,000 43,705,000 14 > 41,000,000 s/d 42,790,000 41,895,000 102 Akuntansi Perpajakan 15 > 39,250,000 s/d 41,000,000 40,125,000 16 > 37,540,000 s/d 39,250,000 38,395,000 17 > 35,870,000 s/d 37,540,000 36,705,000 18 > 34,240,000 s/d 35,870,000 35,055,000 19 > 32,650,000 s/d 34,240,000 33,445,000 20 > 31,100,000 s/d 32,650,000 31,875,000 21 > 29,590,000 s/d 31,100,000 30,345,000 22 > 28,120,000 s/d 29,590,000 28,855,000 23 > 26,690,000 s/d 28,120,000 27,405,000 24 > 25,300,000 s/d 26,690,000 25,995,000 25 > 23,950,000 s/d 25,300,000 24,625,000 26 > 22,640,000 s/d 23,950,000 23,295,000 27 > 21,370,000 s/d 22,640,000 22,005,000 28 > 20,140,000 s/d 21,370,000 20,755,000 29 > 18,950,000 s/d 20,140,000 19,545,000 30 > 17,800,000 s/d 18,950,000 18,375,000 31 > 16,690,000 s/d 17,800,000 17,245,000 32 > 15,620,000 s/d 16,690,000 16,155,000 33 > 14,590,000 s/d 15,620,000 15,105,000 34 > 13,600,000 s/d 14,590,000 14,095,000 35 > 12,650,000 s/d 13,600,000 13,125,000 36 > 11,740,000 s/d 12,650,000 12,195,000 37 > 10,870,000 s/d 11,740,000 11,305,000 38 > 10,040,000 s/d 10,870,000 10,455,000 39 > 9,250,000 s/d 10,040,000 9,645,000 40 > 8,500,000 s/d 9,250,000 8,875,000 41 > 7,790,000 s/d 8,500,000 8,145,000 42 > 7,120,000 s/d 7,790,000 7,455,000 43 > 6,490,000 s/d 7,120,000 6,805,000 44 > 5,900,000 s/d 6,490,000 6,195,000 45 > 5,350,000 s/d 5,900,000 5,625,000 46 > 4,840,000 s/d 5,350,000 5,095,000 Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 47 > 4,370,000 s/d 4,840,000 4,605,000 48 > 3,940,000 s/d 4,370,000 4,155,000 49 > 3,550,000 s/d 3,940,000 3,745,000 50 > 3,200,000 s/d 3,550,000 3,375,000 103 III. Klasifikasi, Penggolongan Dan Ketentuan Nilai Jual Bangunan Kelompok A Klas Penggolongan Nilai Jual Bangunan ( Rp/M2 ) Nilai Jual (Rp/M2) 1 > 1,034,000 s/d 2 > 902,000 s/d 1,366,000 1,200,000 1,034,000 968,000 3 > 744,000 s/d 902,000 823,000 4 > 656,000 s/d 744,000 700,000 5 > 534,000 s/d 656,000 595,000 6 > 476,000 s/d 534,000 505,000 7 > 382,000 s/d 476,000 429,000 8 > 348,000 s/d 382,000 365,000 9 > 272,000 s/d 348,000 310,000 10 > 256,000 s/d 272,000 264,000 11 > 194,000 s/d 264,000 225,000 12 > 188,000 s/d 194,000 191,000 13 > 136,000 s/d 188,000 162,000 14 > 128,000 s/d 136,000 132,000 15 > 104,000 s/d 128,000 116,000 16 > 92,000 s/d 104,000 98,000 17 > 74,000 s/d 92,000 83,000 18 > 68,000 s/d 74,000 71,000 19 > 52,000 s/d 68,000 60,000 20 > 52,000 50,000 104 Akuntansi Perpajakan IV. Klasifikasi, Penggolongan Dan Ketentuan Nilai Jual Bangunan Kelompok B Klas Penggolongan Nilai Jual Bangunan (Rp/M2) Nilai Jual (Rp/M2) 1 > 14,700,000 s/d 15,800,000 15,250,000 2 > 13,600,000 s/d 14,700,000 14,150,000 3 > 12,550,000 s/d 13,600,000 13,075,000 4 > 11,550,000 s/d 12,550,000 12,050,000 5 > 10,600,000 s/d 11,550,000 11,075,000 6 > 9,700,000 s/d 10,600,000 10,150,000 7 > 8,850,000 s/d 9,700,000 9,275,000 8 > 8,050,000 s/d 8,850,000 8,450,000 9 > 7,300,000 s/d 8,050,000 7,675,000 10 > 6,600,000 s/d 7,300,000 6,950,000 11 > 5,850,000 s/d 6,600,000 6,225,000 12 > 5,150,000 s/d 5,850,000 5,500,000 13 > 4,500,000 s/d 5,150,000 4,825,000 14 > 3,900,000 s/d 4,500,000 4,200,000 15 > 3,350,000 s/d 3,900,000 3,625,000 16 > 2,850,000 s/d 3,350,000 3,100,000 17 > 2,400,000 s/d 2,850,000 2,625,000 18 > 2,000,000 s/d 2,400,000 2,200,000 19 > 1,666,000 s/d 2,000,000 1,833,000 20 > 1,366,000 s/d 1,666,000 1,516,000 Contoh penerapan Klasifikasi Bumi dan/atau Bangunan Dalam Penghitungan PBB: Misalnya ada objek perumahan: Luas Bumi 1.000 m2 dengan nilai Jual Rp. 840.000,00/m2 Nilai Jual tanah tersebut termasuk kelas A 17 dengan nilai jual Rp. 802.000,- /m2 Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan - 105 Luas Bangunan 400 m2 dengan nilai jual Rp. 1,000.000,00/m2. Nilai jual bangunan tersebut termasuk kelas A 2 dengan nilai jual Rp. 968.000,- /m2 Jawab: Penghitungan PBB-nya: Jumlah NJOP bumi (1,000 x Rp 802.000,-) = Rp. 802.000.000,Jumlah NJOP Bangunan 400 x Rp 968.000,-= Rp. 387.200.000,NJOP sebagai dasar pengenaan = Rp. 1.189.200.000,NJOPTKP = Rp. 12.000.000,NJOP untuk penghitungan PBB = Rp. 1.177.200.000,NJKP (40% x Rp. 1.177.200.00,-) = Rp. 470.880.000,Jadi PBB yang terutang = 0,5% X Rp 470.880.000, = Rp. 2.354.400,Wajib Pajak akan mencatat: Biaya Pajak Bumi & Bangunan 2,354,400 Kas 2,354,400 (Mencatat pengeluaran untuk pajak bumi dan bangunan) G. Persentase Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) Berikut ini adalah besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut: 1. Objek pajak perkebunan adalah 40% 2. Objek pajak kehutanan adalah 40% 3. Objek pajak pertambangan adalah 40% 4. Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan): apabila NJOP-nya > Rp. l.000.000.000,00 adalah 40% apabila NJOP-nya < Rp. l.000.000.000,00 adalah 20% 106 Akuntansi Perpajakan Contoh: 1. Seorang Wajib Pajak hanyamepunyai Objek Pajak berupa berupa bumi dengan nilai sebagai berikut: Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 3.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 8.000.000,00 Karena Nilai Jual Objek Pajakberada di bawah Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak, maka Objek Pajaktersebut tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan. 2. Seorang Wajib Pajak mempunyai dua Objek Pajak berupabumi dan bangunan masing-masing di Desa A dan di Desa B dengan nilai sebagaiberikut : a. Desa A - Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untukPenghitungan Pajak : Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 5.000.000,00 (+) Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan pajak Rp13.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 8.000.000,00 (-) Nilai Jual Objek Pajak untuk Penghitungan Pajak Rp 5.000.000,00 Akuntansi Pajak Bumi dan Bangunan 107 b. Desa B - Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 3.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untukPenghitungan Pajak: Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 3.000.000,00 (+) Nilai Jual Objek Pajak sebagaidasar pengenaan pajak Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 0,00 (-) Nilai Jual Objek Pajak untuk Penghitungan Pajak Rp 8.000.000,00 Untuk Objek Pajak di Desa B,tidak diberikan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebesar Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah), karena Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajaktelah diberikan untuk Objek Pajak yang berada di Desa A. 3. Seorang Wajib Pajak mempunyai dua Objek Pajak berupabumi dan bangunan pada satu Desa C dengan nilai sebagai berikut : a. Objek I - Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 4.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 2.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untukPenghitungan Pajak: Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 4.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 2.000.000,00 (+) Nilai Jual Objek Pajak sebagaidasar pengenaan pajak Rp 6.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 8.000.000,00 (-) 108 Akuntansi Perpajakan Karena Nilai Jual Objek Pajak berada di bawah Nilai JualObjek Pajak Tidak Kena Pajak, maka Objek Pajak tersebut tidak dikenakan PajakBumi dan Bangunan. b. Objek II - Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 4.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak TidakKena Pajak Rp 1.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untukPenghitungan Pajak: Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 4.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 1.000.000,00 (+) Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan pajak Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 0,00 (-) Nilai Jual Objek Pajak untuk Penghitungan Pajak Rp 5.000.000,00 Latihan Wajib pajak Masdar pada awal tahun 2008 mempunyai objek pajak tanah dan bangunan lengkap sebagai berikut: Tanah seluas 750 M2 dengan nilai jual Rp 200.000,-/M2 Rumah seluas 450 M2 dengan harga jual Rp 300.000,-/M2 Taman seluas 600 M2 dengan harga jual Rp 200.000,-/M2 Pagar Mewah seluas 150 M2 dengan harga jual Rp 150.000,-/M2 Diasumsikan bahwa persentase Nilai Jual Kena pjak ditetapkan pemerintah 30% dan NJOPTKP sebesar Rp 8.000.000,-. Berapakah besarnya PBB tahun 2008 yang harus dibayar? Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) BAB 10 109 AKUNTANSI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. 110 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan - - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN UU NO 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN PP NO.XX TAHUN 2000 KEP. MEN.KEU NO. XX/KMK.04/2000 A.2 Pengertian Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah bea yang dikenakan pada setiap pemindahan hak termasuk hibah wasiat atas harta tetapdan hak-hak kebendaan atas tanah yang pemindahan haknya dilakukan dengan akta. Menurut peraturan undang-undang BPHTB bahwa Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut pajak, sedangkan pengertian perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, berserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainnya. Akuntansi dipakai oleh perusahaan untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Proses pencatatan pengeluaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ini sama sederhanyanya dengan Pajak Bumi dan Bangunan dan lebih sederhana dibandingkan dengan Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 111 pajak penghasilan maupun pajak pertambahan nilai. Namun Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ini dicatat ketika perusahaan memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan atau pada saat melunasi BPHTB ini. Menurut undang-undang PPh disebutkan bahwa pajak merupakan salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penghasilan bruto kecuali pajak penghasilan. Oleh karena itu pengeluaran ini akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut : Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) Biasanya pembayaran BPHTB ini bersamaan dengan pembelian atau penjualan Tanah dan atau bangunan. Saat itu perusahaan akan mencatat: Tanah/Bagunan xxx Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) B. Objek BPHTB Objek BPHTB menurut pasal 2 UU No 21 Tahun 1997 yaitu perolehan hak atas tanah atau/dan bangunan dimana perolehan hak ini bisa dalam hal pemindahan hak dan pemberian hak baru. Beberapa sebab terjadinya perolehan hak tersebut dapat dijelaskan berikut ini: 1. Perolehan hak dalam istilah pemindahan hak terjadi karena: Jual Beli Tukar Menukar Hibah Hibah Wasiat 112 Akuntansi Perpajakan - Waris Pemasukan dalam perseroan atau Badan Hukum lainnnya Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan Penunjukan pembeli dalam lelang Putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap Penggabungan Usaha Peleburan usaha Pemekaran Usaha Hadiah 2. Perolehan hak dalam istilah pemberian hak baru terjadi karena : Kelanjutan pelepasan hak Diluar pelepasan hak C. Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB adalah objek pajak yang diperoleh: 1. Perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik 2. Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum 3. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut 4. Orang pribadi atau badan atau karena konversi hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama 5. Orang pribadi atau badan karena wakaf 6. Orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 113 D. Tarif Pajak Tarif pajak ditetapkan sebesar 5% (lima persen). E. Dasar Pengenaan BPHTB Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dalam hal: 1. Jual beli adalah harga transaksi 2. Tukar-menukar adalah nilai pasar 3. Hibah adalah nilai pasar 4. Hibah wasiat adalah nilai pasar 5. Waris adalah nilai pasar 6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar 7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar; h.Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar 8. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar 9. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar 10. Penggabungan usaha adalah nilai pasar 11. Peleburan usaha adalah nilai pasar 12. Pemekaran usaha adalah nilai pasan 13. Hadiah adalah nilai pasar 14. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang; Apabila NPOP dalam hal a s/d n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP PBB yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah NJOP PBB. 114 Akuntansi Perpajakan F. Pengenaan BPHTB Ada beberapa kondisi dimana seorang wajib pajak harus dikenapan BPHTB diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pengenaan BPHTB karena waris dan Hibah Wasiat BPHTB yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terutang 2. Pengenaan BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan. Besarnya BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut: • 0% (nol persen) dan BPHTB yang seharusnya terutang terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/kota, Lembaga Pemerintah lainnya, dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas) • 50% (lima puluh persen) dari BPHTB yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud diatas. G. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) Ditetapkan Secara Regional Paling Banyak Berikut ini adalah beberapa nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak (NPOPTKP) yang dapat mengurangi NPOP suatu objek pajak tertentu sebagai berikut: 1. Rp. 49.000.000 (empat puluh sembilan juta rupiah) dalam hal perolehan hak Rumah Sederhanan Sehat (RSH) dan Rumah Susun Sederhana 2. Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dalam hal perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam dalam rangka program peningkatan sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit bagi usaha Mikro dan kecil Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 115 3. Rp.300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dalam hal perolehan hak karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah termasuk istri/suami 4. Paling banyak Rp.60.000.000 (enam puluh juta rupiah) dalam hal selain yang disebutkan di atas. H. Saat, Tempat, dan Cara Pembayaran Pajak Terutang Saat terutang Pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan untuk: 1. Jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 2. Tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 3. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 4. Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 5. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 6. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 7. Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang 8. Putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap 9. Hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 10. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak 11. Pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak 116 Akuntansi Perpajakan 12. Penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandata­ nganinya akta 13. Peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 14. Pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 15. Hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta I. Tempat Pajak Terutang Adalah Di Wilayah Kabupaten, Kota, Atau Propinsi Yang Meliputi Letak Tanah Dan Bangunan Cara Pembayaran Pajak adalah wajib pajak membayar pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. Pajak terutang dibayar ke kas negara melalui Kantor Pos/Bank BUMN/ BUMD atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri dengan Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (SSB). J. Cara Penghitungan BPHTB Besarnya BPHTB terutang adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) dikalikan tarif 5 % (lima persen). Secara matematis adalah; BPHTB = 5 % X (NPOP – NPOPTKP) Contoh 1. Pada tanggal 6 Januari 2006, Tuan “S” membeli tanah yang terletak di Kabupaten “XX” dengan harga Rp.50.000.000,00. NJOP PBB tahun 2006 Rp. 40.000.000,00. Mengingat NJOP lebih kecil dari harga transaksi, maka NPOP-nya sebesar Rp. 50.000.000,Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) untuk perolehan hak selain karena waris, atau hibah wasiat yang diterima Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 117 orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, untuk Kabupaten “XX” ditetapkan sebesar Rp. 60.000.000,00. Mengingat NPOP lebih kecil dibandingkan NPOPTKP, maka perolehan hak tersebut tidak terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. BPHTB = 5 % x (Rp. 50 juta – Rp. 60 juta) = 5 % x (0) = Rp. 0 (nihil). 2. Pada tanggal 7 Januari 2006, Nyonya “D” membeli tanah dan bangunan yang terletak di Kabupaten “XX” dengan harga Rp. 90.000.000,- NJOP PBB tahun 2006 adalah Rp. 100.000.000,00. Sehingga besarnya NPOP adalah Rp. 100.000.000.-. NPOPTKP untuk perolehan hak selain karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/ istri, untuk Kabupaten “XX” ditetapkan sebesar Rp. 60.000.000,00. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah Rp. 100.000.000,00 dikurangi Rp. 60.000.000,00 sama dengan Rp. 40.000.000,00, maka perolehan hak tersebut terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. BPHTB = 5 % x (Rp. 100 – Rp. 60) juta = 5 % x ( Rp. 40) juta = Rp. 2 juta . Catat yang dibuat atas transaksi di atas adalah: Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan 2 Juta Kas 2 Juta (Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) 118 Akuntansi Perpajakan 3. 3. Pada tanggal 28 Juli 2006, Tuan“S” mendaftarkan warisan berupa tanah dan bangunan yang terletak di Kota “BB” dengan NJOP PBB Rp. 400.000.000,00. NPOPTKP untuk perolehan hak karena waris untuk Kota “BB” ditetapkan sebesar Rp. 300.000.000,00. Besarnya NPOPKP adalah Rp. 400.000.000,00 dikurangi Rp. 300.000.000,00 sama dengan Rp. 100.000.000,00, maka perolehan hak tersebut terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. BPHTB = 50% x 5 % x (Rp. 400 – Rp. 300) juta = 50% x 5 % x ( Rp. 100) juta = Rp. 2,5 juta. Catat yang dibuat atas transaksi di atas adalah: Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan 2,5 Juta Kas 2,5 Juta (Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) 4. Pada tanggal 7 November 2006, Wajib Pajak orang pribadi “K” mendaftarkan hibah wasiat dari orang tua kandung, sebidang tanah yang terletak di Kota “BB” dengan NJOP PBB Rp. 250.000.000,00. NPOPTKP untuk perolehan hak karena hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, untuk Kota “BB” ditetapkan sebesar Rp. 300.000.000,00. Mengingat NPOP lebih kecil dibandingkan NPOPTKP, maka perolehan hak tersebut tidak terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan BPHTB = 50% x 5 % x (Rp. 250 – Rp. 300) juta = 50% x 5 % x (0) = Rp. 0 (nihil). Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 119 Latihan Wajib pajak Masdar pada awal tahun 2008 mempunyai objek pajak tanah dan bangunan lengkap sebagai berikut: Tanah seluas 750 M2 dengan nilai jual Rp 200.000,-/M2 Rumah seluas 450 M2 dengan harga jual Rp 300.000,-/M2 Taman seluas 600 M2 dengan harga jual Rp 200.000,-/M2 Pagar Mewah seluas 150 M2 dengan harga jual Rp 150.000,-/M2 Jika pada Tahun 2009 Tanah dan Bangunan tersebut dijual dengan harga 100 juta. JIka NPOPTKP sama dengan NJOPTKP tahun 2008. Maka kewajiban pajak apa yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak Masdar? 120 Akuntansi Perpajakan BAB 11 Akuntansi Bea Materai 121 AKUNTANSI BEA MATERAI B ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Bea Materai. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Bea Materai. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Bea Materai yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Bea Materai 3. Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Bea Materai. 122 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - - Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Meterai Surat edaran direktur jenderal pajak Nomor se - 29/pj.5/2000 tentang dokumen perbankan yang dikenakan bea meterai A.2 Pengertian Akuntansi Bea Materai Bea Materai adalah suatu pungutan atau pembayaran pajak melalui benda materai yang dikenakan khusus untuk beberapa dokumen yang diharuskan oleh undang-undang. Akuntansi dipakai oleh perusahaan untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam melunasi Bea Materai. Proses pencatatan pengeluaran Bea Materai ini sama sederhanyanya dengan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan. Namun Bea Materai ini dicatat ketika perusahaan melunai atau membeli Benda Materai. Menurut undang-undang PPh disebutkan bahwa pajak merupakan salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penghasilan bruto kecuali pajak penghasilan. Oleh karena itu pengeluaran ini akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut: Biaya Materai xxx Kas xxx (Mencatat pengeluaran untuk Bea Materai) Sebelum kita membahas panjang lebar mengenai bea materai lebih baik kita mengenal istilah-istilah berikut ini : a. Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan; Akuntansi Bea Materai 123 b. Benda meterai adalah meterai tempel dan kertas meterai yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI; c. Tandatangan adalah tandatangan sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk pula parap, teraan Atau cap tandatangan atau cap parap, teraan cap nama atau tanda lainnya sebagai pengganti tandatangan; d. Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea Meterai yang dilakukan oleh Pejabat Pos atas permintaan pemegang dokumen yang Bea meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya; e. Pejabat Pos adalah Pejabat Perusahaan Umum Pos dan Giro yang diserahi tugas melayani permintaan pemeteraian kemudian. B. Subjek Bea Materai Subjek Bea materai atau disebut dengan pihak-pihak yang terutang Bea Materai adalah pihak yang menerima atau mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain. Jadi intinya adalah semua pihak yang dengan sengaja menggunakan atau memanfaatkan semua jenis dokumen sesuai dengan peraturan perundang-undangan bea cukai harus membayar atau menempelkan materai baik benda materai atu bentuk lainnya pada dokumen tersebut Misalnya: Si Andi membuat cek dengan nilai nominal yang ada pada cek tersebut sejumlah Rp 2 juta, maka Si andi berkewajiban untuk menempelkan atau membubuhkan materai senilai Rp 6.000,- C. Saat Terutang Bea Meterai Saat terutangnya bea materai ditentukan dalam hal: 1. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan 124 Akuntansi Perpajakan 2. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat Dokumen tersebut selesai ditandangani oleh semua pihak yang terkait 3. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia. D. Objek Bea Materai Yang menjadi objek bea materai atau istilahnya dokumen-dokumen yang dikenakan Bea Meterai adalah sebagai berikut : 1. Dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp. 3.000,a. Surat yang memuat jumlah uang, yaitu: menyebutkan penerimaan uang, menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank, berisi pemberitahuan saldo rekening di bank, berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) b. Cek dan Bilyet Giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal c. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) d. Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah). 2. Dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp. 6.000,: - Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang, dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata Akuntansi Bea Materai - - - - - 125 Akta-akta notaris termasuk salinannyaAkta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap rangkapnya Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan, yaitu: 1) Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan; 2) Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula; Surat yang memuat jumlah uang, yaitu: 1) Menyebutkan penerimaan uang; 2) Menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank 3) Berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; 4) Berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah). E. Dokumen yang Tidak Terutang Bea Meterai Terdapat beberapa Dokumen yang tidak terutang Bea Materai diantaranya adalah sebagai berikut: a. Surat yang memuat jumlah uang, yaitu: 1. Menyebutkan penerimaan uang; 2. Menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank; 126 Akuntansi Perpajakan 3. Berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; 4. Berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah); b. Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). F. Dokumen yang Tidak Dikenakan Bea Meterai Ada beberapa dokumen yang tidak dikenakan Bea Materai diantaranya adalah sebagai berikut: a. Dokumen yang berupa: 1. Surat penyimpanan barang; 2. Konosemen; 3. Surat angkutan penumpang dan barang 4. Keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3) 5. Bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang; 6. Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim; 7. Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6). b. Segala bentuk Ijazah; c. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu; d. Tanda bukti penerimaan uang Negara dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank; e. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintahan Daerah dan bank; Akuntansi Bea Materai 127 f. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi; g. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut; h. Surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Umum Pegadaian; i. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek,dengan nama dan dalam bentuk apapun. G. Cara Pelunasan Bea Meterai Untuk membayar atau melunasi Bea materai dapat dilakukan dengan: 1. Meterai Tempel a. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai b. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana Tanda tangan akan dibubuhkan c. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada diatas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel d. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas. Apabila cara diatas tidak dipenuhi, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai. 2. Kertas Meterai Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak bermeterai 128 Akuntansi Perpajakan - - Membubuhkan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu diatas kertas Meterai Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi. Apabila ketentuan diatas tidak dipenuhi, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai hanya diperkenankan kepada penerbit dokumen yang melakukan pemeteraian dengan jumlah rata-rata setiap hari minimal sebanyak 50 dokumen. H. Syarat Pelunasan Bea Meterai dengan Mengguna­ kan Mesin Teraan Meterai: • • • • Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat; Mencantumkan jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan meterai yang akan digunakan; Melampirkan surat pernyataan tentang jumlah ratarata dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari; Harus melakukan penyetoran Bea Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta Rupiah) dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (F.2.0.32.01) Ke Kas Negara melalui Bank Presepsi I. Kewajiban Penerbit Dokumen yang Mendapatkan Ijin Penggunaan Mesin Teraan Meterai • • Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan meterai kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat tanggal 15 setiap bulan; Menyampaikan laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat satu bulan setelah mesin teraan meterai Akuntansi Bea Materai • • • 129 tidak dipergunakan lagi atau terjadi perubahan alamat/tempat kedudukan pemilik/pemegang ijin penggunaan mesin teraan meterai; Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan; Bea Meterai yang belum dipergunakan karena mesin teraan meterai rusak atau tidak dipergunakan lagi, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai lain atau pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan ataupun dengan sistem komputerisasi; Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud diatas harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan. J. Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian Pemeteraian Kemudian dilakukan atas: • Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan; • Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya: • Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia. Pemeteraian kemudian wajib dilakukan terhadap dokumen-dokumen seperti diatas dengan menggunakan: a. Meterai Tempel; atau b. Surat Setoran Pajak yang disahkan oleh Pejabat Pos. Besarnya Bea Meterai yang Harus Diiunasi dengan Cara Pemeteraian Kemudian adalah: 1. Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan 130 Akuntansi Perpajakan adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan; 2. Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya adalah sebesar Bea Meterai yang terutang; 3. Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan. K. Sanksi Tidak atau Kurang Melunasi Bea Meterai Dokumen yang terutang/dikenakan Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda administrasi sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dibayar. Pemegang dokumen atas dokumen yang tidak atau kurang dibayar Bea Meterainya harus melunasi Bea Meterai yang terutang berikut dendanya dengan cara pemeteraian kemudian. Latihan Dari beberapa transaksi dibawah ini, berapakah bea materai yang harus dilunasi: a. Cek senilai Rp 100,000 , Rp 2,000,000, Rp 750,000 & Rp 10,000,000 b. Kwitansi senilai Rp 300,000 , Rp 1,100,000, Rp 750,000 & Rp 10,000,000 c. 100 Ijazah kepada mahasiswa lulusan Universitas ABC d. Akta jual beli tanah senilai Rp 30,000,000. BAB 12 Rekonsiliasi Fiskal 131 REKONSILIASI FISKAL B ab ini merupakan konsep dari rekonsiliasi fiskal hingga penyusunan laporan keuangan fiskal. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Rekonsialiasi Fiskal. Selanjutnya akan dibahas mengenai perbedaan waktu dan perbedaan tetap, faktorfaktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep Rekonsiliasi Fiskal 3. Mampu membedakan antara perbedaan waktu dan perbedaan tetap. 4. Mampu membedakan antara koreksi positif dan koreksi negatif serta cara melakukan rekonsiliasi 5. Mampu memahami kasus rekonsiliasi fiskal dan cara penyelesaian soal secara mendalam. 132 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - - Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali perubahan, Pertama: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991, Kedua: Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, Ketiga: UndangUndang Nomor 17 Tahun 2000 dan diubah terakhir dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 46 Tentang Akuntansi Pajak Tangguhan A.2 Pengertian Rekonsiliasi Fiskal Rekonsiliasi Fiskal adalah suatu proses penyesuaian-penyesuaian laporan laba/rugi fiskal berdasarkan ketentuan perundangundangan perpajakan di indonesia sehingga diperoleh laba/ rugi fiskal sebagai dasar untuk perhitungan pajak penghasilan untuk satu tahun tertentu. Berdasarkan pengertian di atas dapt disimpulkan bahwa ada tiga unsur penting dari proses rekonsialisi fiskal diantaranya adalah: • Laporan Laba Rugi Komersial Dasar untuk membuat laporan rekonsiliasi fiskal adalah laporan laba/rugi. Mengapa? Hal ini disebabkan karena pajak penghasilan adalah penghasilan, sedangkan penghasilan biasanya dicatat di dalam laporan laba/rugi. Hasil dari Laporan ini adalah laba/rugi yang menjadi dasar dalam perhitungan besarnya pajak yang harus dibayar oleh perusahaan. • Koreksi/Penyesuaian Fiskal Koreksi/Penyesuaian dilakukan jika terjadi kesalahan atau ketidakcocokan antara peraturan/ketentuan satau dengan lainnya. Di dalam akuntansi terdapat beberapa metode atau asumsi yang dipakai dalam penyusunan laporan keuangan. Rekonsiliasi Fiskal 133 Asusmsi atau metode ini yang kemungkinan terjadi perbedaan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di indonesia. Perbedaan ini disimpulkan ada dua yaitu beda waktu dan beda tetap. Untuk konsep ini akan dibahas pada sub bab selanjutnya. • Laba/Rugi Fiskal Hasil dari proses koreksi/penyesuaian terhadap penghasilan atau biaya di dalam laporan laba/rugi fiskal berdasarkan ketentuan perundang-undangan adalah laba/rugi fiskal. Laba/ rugi fiskal ini yang menjadi dasar di dalam perhitungan besar/ kecilnya pajak terutang bagi perusahaan. B. Beda Waktu dan Beda Tetap Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa perbedaan ini terjadi karena perbedaan asumsi/metode yang diapaki didalam akuntansi komersial dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Secara umum terdapat dua perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan perpajakan (fiskal) yang menyebabkan terjadinya koreksi fiskal, yaitu: 1. Beda Tetap (Permanent Different) 2. Beda Waktu (Time Different) B1. Beda Tetap (Permanent Different) Beda Tetap merupakan perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan ketentuan Undang-undang PPh yang sifatnya permanen artinya koreksi fiskal yang dilakukan tidak akan diperhitungkan dengan laba kena pajak tahun pajak berikutnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa beda tetap ini secara permanent, ketika tahun atau periode sekarang suatu penghasilan/biaya tidak dapat diakui sebagai penghasilan/biaya menurut undang-undang maka pada tahun atau periode yang akan datang juga tidak dapat diakui sebagai penghasilan/biaya di dalam laporan laba/rugi. 134 Akuntansi Perpajakan Ada beberapa kondisi yang menyebabkan penghasilan/biaya tidak boleh diakui di dalam laporan laba/rugi. Berdasarkan UndangUndang No 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat 2 tentang beberapa penghasilan yang tergolong final diantaranya adalah sebagai berikut: a. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; b. penghasilan berupa hadiah undian; c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura; d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/ atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan e. penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Ketika di dalam laporan laba/rugi terdapat penghasilan yang disebutkan di atas maka harus dilakukan koreksi/penyesuaian. Selain itu Pajak PPh Pasal 4 (2) di dalam undang-undang pajak penghasilan ini termasuk juga biaya yang tidak boleh mengurangi penghasilan bruto. Misalnya berikut ini adalah laporan laba/rugi komersial sederhana dari PT. ABC: Laporan L/R Komersial Jumlah Penjualan Bruto HPP Laba Kotor 3,000,000 (200,000) 3,200,000 Rekonsiliasi Fiskal Biaya Sanksi Pajak Penghasilan Bunga Deposito Penghasilan Sumbangan/Donatur (100,000) 200,000 300,000 Laba Bersih 3,600,000 135 Di dalam laporan laba /rugi di atas dilihat bahwa ada komponen penghasilan bunga Deposito sebesar 200,000. Penghasilan bunga deposito ini merupakan salah satu penghasilan yang tergolong final maka penghasilan bunga Deposito ini harus dilakukan koreksi/penyesuaian fiskal. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut Undang-undang PPh bukan merupakan penghasilan. Menurut Undang-Undang No 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat 3 tentang beberapa penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan 2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; 136 Akuntansi Perpajakan 3. Warisan; 4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UndangUndang PPh sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal; 5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Undang-Undang PPh; 6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa; 7. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: • dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan • bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor; 8. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pension yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai; 9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada nomor 8, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; Rekonsiliasi Fiskal 137 10. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif; 11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : • merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan • sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia; 12. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; m. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; 13. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 138 Akuntansi Perpajakan Misalnya: Pada laporan laba rugi PT. ABC di atas terdapat penghasilan sumbangan/donator sebesar 300,000. penghasilan sumbangan/donator di atas jelas termasuk dalam penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak maka harus dilakukan koreksi fiskal. Dalam hal pengakuan biaya/beban koreksi karena beda tetap terjadi karena menurut akuntansi komersial merupakan biaya, sedangkan menurut Undang-undang PPh bukan merupakan biaya yang dapat mengurangi penghasilan bruto. Berdasarkan Undang-Undang No 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat 3 tentang beberapa penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak diantaranya adalah sebagai berikut: misalnya: 1. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi; 2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota; 3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali: • cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang; • cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial; • cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan; • cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan; • cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan • cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan Rekonsiliasi Fiskal 4. 5. 6. 7. 8. 9. 139 limbah industri, yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan; Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan; Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; Pajak Penghasilan; Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya; 140 Akuntansi Perpajakan 10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham; 11. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundangundangan di bidang perpajakan Misalnya : Pada laporan laba rugi PT. ABC di atas terdapat Biaya Sanksi Pajak sebesar 100,000. penghasilan sumbangan/donator di atas jelas termasuk dalam biaya yang tidak boleh dikurangkan dengan penghasilan bruto maka harus dilakukan koreksi fiskal. B2. Beda Waktu (Time Different) Selain Beda tetap ada satu beda yang disebut dengan beda waktu. Beda Waktu merupakan perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan ketentuan Undang-undang PPh yang sifatnya sementara artinya koreksi fiskal yang dilakukan akan diperhitungkan dengan laba kena pajak tahun-tahun pajak berikutnya. Jadi ketika suatu penghasilan atau biaya pada periode tahun/periode sekarang tidak dapat diakui di dalam laporan laba/rugi, namun kemungkinan akan dapat diakui pada periode tahun/periode yang akan datang. Ada beberapa sebab atau kondisi dimana terjadi beda waktu. Beda waktu ini sebagian besar disebabkan karena asumsi atau metode yang digunakan di dalam akuntansi komersial berbeda dengan akuntansi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang ini di Indonesia. Metode/asumsi ini akan berdampak pada penilaian akun-akun di dalam laporan keuangan. Contoh: Persediaan, Piutang Dagang, Aktiva tetap, Investasi, dan lain-lain. Selain itu dalam akuntansi komersial, pengakuan penghasilan/ biaya berdasarkan system cash basis atau accrual basis untuk lebih dari satu tahun. Dimana penghasilan/biaya tersebut harus dialokasi sesuai dengan masa perolehannya sesuai dengan prinsip Rekonsiliasi Fiskal 141 matching cost with revenue, namun sedangkan menurut Undangundang PPh, penghasilan/biaya tersebut harus diakui sekaligus pada saat diterima atau dikeluarkan. Dalam hal pengakuan biaya koreksi karena beda waktu terjadi karena perbedaan metode penyusutan, dimana menurut Undangundang PPh metode penyusutan yang diperbolehkan hanya metode garis lurus dan saldo menurun • Perbedaan metode penilaian persediaan, dimana menurut Undang-undang PPh metode penilaian persediaan yang diperbolehkan hanya metode rata-rata dan FIFO • Penyisihan piutang tak tertagih, dimana menurut Undangundang Penyisihan piutang tak tertagih tidak diperkenankan kecuali untuk usaha-usaha tertentu dan sebagainya B2.1 Persediaan Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang yang akan digunakan. Di dalam akuntansi konvensional, ada dua metode pencatatan persediaan yaitu metode fisik dan metode perpetual seperti yang telah dibahas pada bab akuntansi PPN & PPnBM. Sedangkan metode penilaian yang biasa digunakan oleh perusahaan dan sering dipelajari ada 3 Metode yaitu: 1. Metode First In First Out (FIFO): barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang termuda/terakhir. 2. Metode Last In First Out (FIFO): barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar, sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal 3. Metode Average (Rata-Rata): pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya. 142 Akuntansi Perpajakan Ketiga metode di atas di dalam perhitungan laba rugi akan menghasilkan laba yang berbeda, sehingga konskuensinya terhadap pajak yang berbeda. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada contoh berikut ini: Contoh: Berikut ini adalah data persediaan pada bulan januari 2010: Tanggal Keterangan Unit Harga/Unit Total 1/1 Persediaan awal 10 1,000 10,000 2/1 Pembelian 20 1,100 22,000 5/1 Pembelian 10 1,150 11,500 20/1 Penjualan 15 2,000 30,000 25/1 Pembelian 5 1,200 6,000 20/1 Penjualan 25 2,000 50,000 Dari data di atas kita dapat menghitung laba menggunakan ketiga metode di atas sebagai berikut : FIFO Sebelum menghitung laba, kita hitung terlebih dahulu persediaan akhir: Persediaan akhir = Persediaan awal + Pembelian – Penjualan = 10 unit + 35 Unit – 40 Unit = 5 Unit Permasalahannya harga pokok yang mana yang digunakan untuk menilai persediaan akhir tersebut. Karena Metode yang digunakan FIFO maka harga yang digunakan adalah harga yang terakhir dibeli. Jadi nilai persediaan akhir menjadi = 5 Unit X Rp 1,200 = Rp 6,000,- Penjualan 80,000 Harga Pokok Penjualan Persediaan Awal 10,000 Pembelian 39,500 Rekonsiliasi Fiskal 143 Barang Siap dijual 49,500 Persediaan Akhir 6,000 HPP 43,500 Laba 36,500 Jadi jika menggunakan metode FIFO diperoleh laba Rp 36,500. LIFO Masih menggunakan hasil persediaan pada metode FIFO sebesar 5 Unit. Karena Metode yang digunakan LIFO maka harga yang digunakan adalah harga yang pertama dibeli. Jadi nilai persediaan akhir menjadi = 5 Unit X Rp 1,000 = Rp 5,000,Penjualan 80,000 Harga Pokok Penjualan Persediaan Awal 10,000 Pembelian 39,500 Barang Siap dijual 49,500 Persediaan Akhir 5,000 HPP 44,500 Laba 35,500 Jadi jika menggunakan metode LIFO diperoleh laba Rp 35,500. Average Masih menggunakan hasil persediaan pada metode FIFO sebesar 5 Unit. Karena Metode yang digunakan Average maka harga yang digunakan adalah harga rata-rata. Harga rata-rata = Nilai barang siap jual/unit = Rp 49,500/45 unit = Rp 1,100,Jadi nilai persediaan akhir menjadi = 5 Unit X Rp 1,100 = Rp 5,500,- 144 Akuntansi Perpajakan Penjualan 80,000 Harga Pokok Penjualan Persediaan Awal 10,000 Pembelian 39,500 Barang Siap dijual 49,500 Persediaan Akhir 5,500 HPP 44,000 Laba 36,000 Jadi jika menggunakan metode LIFO diperoleh laba Rp 36,000. Dari ketiga metode di atas, diketahui bahwa laba yang tertinggi diperoleh jika menggunakan metode FIFO dan yang terendah adalah jika menggunakan metode LIFO. Oleh karena itu berdasarkan undang-undang PPh metode LIFO ini tidak diperkenankan digunakan oleh perusahaan dalam menghitung nilai persediaan. Berdasarkan UU PPh Pasal 10 Penilaian persediaan hanya diperbolehkan menggunakan harga perolehan, yang didasarkan atas pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok yang dilakukan secara ratarata ataupun yang dilakukan dengan mendahulukan persediaan yang di dapat pertama. Ketika awalnya perusahaan dalam menghitung nilai persediaan menggunakan metode LIFO, maka dalam Laporan keuangan fiskal perlu dilakukan koreksi fiscal karena harus menggunakan metode yang diperbolehkan berdasarkan undang-undang PPh. Misalnya dari contoh di atas Harga pokok yang diperoleh jika menggunakan LIFO adalah sebesar Rp 44,500, namun Harga pokok yang diperoleh jika menggunakan FIFO adalah sebesar Rp 43,500. Maka selisih sebesar Rp 1,000 (44,500 – 43,500) ini akan dilakukan koreksi fiscal. Rekonsiliasi Fiskal 145 B2.2 Piutang Piutang merupakan salah satu jenis asset perusahaan yang timbul karena transaksi penjualan secara kredit. Contohnya adalah: piutang dagang, piutang karyawan, dan piutang lain-lain). Piutang ini akan menjadi kas jika mampu ditagih atau dibayar oleh konsumen/pelanggan. Ketika konsumen/ pelanggan tidak mampu membayar maka piutang ini termasuk di dalam piutang bermasalah atau disebut piutang yang tak tertagih. Menurut akuntansi komersial, piutang yang tak tertagih ini dapat diakui sebagai biaya dengan pencatatan secara langsung atau tidak langsung atau pencadangan. Jika menggunakan metode secara langsung: Biaya Kerugian Piutang xxx Piutang xxx (Penghapusan piutang secara langsung) Jika menggunakan metode pencadangan: Biaya Kerugian Piutang xxx Cadangan KerugianPiutang xxx (Pencadangan piutang secara langsung) Cadangan Kerugian Piutang xxx Piutang xxx (Penghapusan piutang ) Menurut peraturan perpajakan tidak semua piutang tak tertagih dapat dibiayakan, hanya piutang tak tertagih tertentu yang memenuhi syarat yang boleh di akui sebagai biaya. Menurut UU PPh disebutkan bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat: 1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial; 146 Akuntansi Perpajakan 2. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan 3. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu Jika di dalam laporan laba rugi terdapat biaya kerugian piutang namun tidak memenuhi syarat di atas maka harus dikoreksi fiskal. B2.3 Aktiva Tetap Menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (2001: 154) aktiva tetap adalah “Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.” Dari definisi aktiva tetap dapat disimpulkan bahwa ada 3 unsur yang terkait dengan aktiva tetap diantaranya adalah: • Aktiva tetap tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi • Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. • Mempunyai manfaat di masa yang akan datang. Aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan digolongkan ke dalam dua kategori yaitu aktiva berwujud dan aktiva tidak bewujud. Berdasarkan penggolongan tersebut, umur ekonomis aktiva tersebut disusutkan dengan dua bentuk yaitu Metode Depresiasi (Garis Lurus, Saldo Menurun, Angka Tahun, Unit Produksi, dan lain-lain), dan Metode Amortisasi (Garis Lurus, Saldo Menurun). Rekonsiliasi Fiskal 147 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penentuan Beban Penyusutan yaitu Harga peolehan, Umur kegunaan, dan Nilai sisa. Satu perusahaan dengan perusahaan lainnya kemungkinan akan menilai suatu aktiva yang sama, namun akan menghasilkan nilai yang berbeda. Di dalam peraturan perpajakan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 138/KMK.03/2002 tanggal 8 April 2002 Tentang Jenis-Jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwijud bukan bangunan sebagai berikut: Kelompok 1 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Usaha Semua jenis usaha Pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan Industri makanan dan minuman Jenis Harta Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan b. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator, mesin fotokopi, mesin akun­ting/pembukuan, komputer, printer, scanner dan sejenisnya c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassete, video recorder, televisi dan sejenis d. Sepeda motor, sepeda dan becak e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang bersangkutan f. Alat dapur untuk memasak, makanan dan minuman g. Dies, jigs, dan mould Alat yang digerakkan bukan dengan mesin a. Mesin ringan yang dapat dipindahpindahkan seperti huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet dan sejenisnya Perhubungan, perguMobil taksi, bus dan truk yang digunakan dangan dan komunikasi sebagai angkutan umum Industri semi konduktor Flash memory tester, writer machine, biporar test system, eliminator (PE8-1), pose checker 148 Akuntansi Perpajakan Kelompok 2 Jenis Usaha 1. Semua jenis usaha Jenis Harta a. b. c. 2. Pertanian, perkebunan, a. kehutanan, perikanan b. 3. Industri makanan dan a. minuman b. c. d. 4. Industri mesin Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin, dan sejenisnya Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya Container dan sejenisnya Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan sejenisnya Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memperoduksi bahan atau barang pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin minyak kelapa, margarine, penggilingan kopi, kembang gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan beras, gandum, tapioca Mesin yang menghasilkan /memproduksi minuman dan uah-buahan minuman segala jenis Mesin yang menghasilkan /memproduksi bahan-bahan makanan dan makanan segala jenis Mesin yang menghasilkan/produksi mesin ringan (misalnya mesin jahit, pompa air) Rekonsiliasi Fiskal 149 5. Perkayuan Mesin dan peralatan penebangan kayu 6. Konstruksi Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck, crane buldozer dan sejenisnya 7. Perhubungan, pergu- a. dangan dan komunikasi b. c. d. e. a. b. Truck kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truck peron. truck ngangkang, dan sejenisnya Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batu-batuan, biji tambang termasuk kapal pendingin, dan sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal-kapal suar, dan sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat sampai dengan 250 DWT Kapal balon 8. Telekomunikasi Perangkat pesawat telepon Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan penerimaan radio telegraf dan radio telepon 9. Industri semi konduktor Autoframe loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar cut machine, dicer, die bonder, die shear test, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-from machine, SMD stocker, taping machine, tieber cut press, trimming/ forming machine, wire bonder, wire pull tester 150 Akuntansi Perpajakan Kelompok 3 Jenis Usaha Jenis Harta 1. Pertambangan minyak dan gas selain Mesin-mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan, termasuk mesin-mesin yang mengolah produk pelican 2. Pemintalan, pertenunan a. dan pencelupan b. 3. Perkayuan a. b. 4. Industri Kimia a. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk tekstil (misalnya kain katun, kain-kain bulu, tule) Mesin untuk yarn preparation, bleaching, dyeing, printing, finishing, texturing, packaging dan sejenisnya Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk kayu, barang-barang dari jerami, rumput dan bahan anyaman lainnya Mesin dan peralatan penggergajian kayu Mesin peralatan yang mengolah/ menghasilkan produk industri kimia dan industri yang ada hubungannya dengan industri kimia (misalnya bahan kimia anorganis, persenyawaan organis dan anorganis dan logam mulia, elemen radio aktif, isotop, bahan kimia organis, produk farmasi, pupuk, obat celup, obat pewarna, cat, pernis, minyak eteris dan resinoidaresinoida wangi-wangian, obat kecantikan dan obat rias, sabun, detergent, dan bahan organis pembersih lainnya, zat albumina, perekat, bahan peledak, produk pirotehnik, korek api, alloy piroforis, barang fotografi dan sinematografi) Rekonsiliasi Fiskal b. 5. Industri Mesin 6. Perhubungan, pergu- a. dangan dan komunikasi c. d. e. Telekomunikasi Mesin yang mengolah/menghasilkan produk industri lainnya (misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester dan ester dari selulosa, karet sintetis, karet tiruan, kulit samak, jangat dan kulit mentah). Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah dan berat (misalnya mesin mobil, mesin kapal) b. 7. 151 Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum, batu-batuan) termasuk kapal pendingin dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT sampai dengan 1.000 DWT Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong dan sejenisnya, yang mempunyai berat dai atas 100 DWT sampai dengan 1.000 DWT Dok terapung Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat di atas 250 DWT Pesawat terbang dan helicopter segala jenis Perangkat radio navigasi, radar dan kendali jarak jauh 152 Akuntansi Perpajakan Kelompok 4 Jenis Usaha Jenis Harta 1. Konstruksi 2. Perhubungan, dan ko- a. munikasi b. Mesin berat untuk konstruksi c. d. e. f. g. Lokomotif uap dan tender atas rel Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau dengan tenaga listrik dari sumbr luar Lokomotif atas rel lainnya Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk container khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik dengan satu alat atau beberapa alat pengangkutan Kapal penumpang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum, batubatuan,) termasuk kapal pendingin dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 1.000 DWT Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, kerankeran terapung dan sebagainya, yang mempunyai berat di atas 1.000 DWT Dok-dok terapung Selain pengelompokan aktiva tetap di atas, di dalam undangundang no 36 tahun 2008 tentang PPh disebutkan tariff untuk masing-masing kelompok tersebut adalah: Rekonsiliasi Fiskal Keterangan Masa Manfaat 153 Tarif Penyusutan/Amosrtisasi Garis Lurus Saldo Menurun Kelompok Harta Berwujud I. Bukan bangunan - Kelompok 1 4 Tahun 25 % 50% - Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25 % - Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5% - Kelompok 4 20 Tahun 5% 10% - Permanen 20 Tahun 5% - - Tidak Permanen 10 Tahun 10% - II. Bangunan Kelompok Harta Tidak Berwujud Kelompok 1 4 Tahun 25 % 50% Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25 % Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5% Kelompok 4 20 Tahun 5% 10% Perbedaan antara metode dan masa manfaat dari aktiva tetap tersebut yang menyebabkan perbedaan pembebanan penyusutan atau amortisasi suatu aktiva tetap. Perbedaan ini nantinya yang akan dilakukan koreksi fiscal. Perhitungan dari penyusutan/amortisasi ini dapat mengunakan rumus sebagai berikut: Harga Perolehan-Nilai Residu Dep/th= Umum Ekonomis Misal: Sebuah meja yang terbuat dari logam senilai Rp 1,000,000,-. Ditaksir umur ekonomisnya 2 tahun tanpa nilai residu. Maka penyusutan Meja per tahunnya menjadi sebagai berikut: 1,000,000-0 Dep/th= 2 = 500,000/th 154 Akuntansi Perpajakan Jadi Depresiasi meja pertahun menurut akuntansi komersial sebesar Rp 500,000. Namun menurut pajak bahwa meja tersebut masuk dalam kelompok satu dengan umur ekonomis 4 tahun. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut: 1,000,000-0 Dep/th= 4 = 250,000/th Jadi Depresiasi meja pertahun menurut akuntansi pajak sebesar Rp 250,000. Selisih sebesar Rp 250,000 (500,000– 250,000) ini akan dilakukan koreksi fiskal. C. Koreksi Positif dan Koreksi Negatif Di dalam rekonsiliasi fiscal ada dua koreksi yaitu koreksi positif dan koraksi negative. Koreksi positif adalah suatu koreksi dimana koreksi ini akan menyebabkan laba fiscal akan menjadi meningkat atau bertambah. Sedangkan Koreksi negatif adalah suatu koreksi dimana koreksi ini akan menyebabkan laba fiscal akan menjadi menurun atau berkurang. Ketika penghasilan menurut akuntansi komersial lebih besar daripada penghasilan menurut akuntansi fiskal maka perlu dilakukan koreksi negative karena penghasilan akan dikurangi dan pengaruhnya laba akan berkurang. Sebaliknya Ketika penghasilan menurut akuntansi komersial lebih kecil daripada penghasilan menurut akuntansi fiskal maka perlu dilakukan koreksi positif karena penghasilan akan bertambah dan pengaruhnya laba akan bertambah pula. Misalnya di dalam laporan laba/rugi terdapat penghasilan bunga deposito maka harus dikoreksi negative, karena penghasilan ini termasuk penghasilan final. Ketika biaya menurut akuntansi komersial lebih besar daripada biaya menurut akuntansi fiskal maka perlu dilakukan koreksi positif karena biaya akan dikurangi dan pengaruhnya laba akan bertambah. Rekonsiliasi Fiskal 155 Sebaliknya ketika biaya menurut akuntansi komersial lebih kecil daripada biaya menurut akuntansi fiskal maka perlu dilakukan koreksi negatif karena biaya akan bertambah dan pengaruhnya laba akan berkurang. Misalnya di dalam laporan laba/rugi terdapat Biaya sumbangan maka harus dikoreksi positif, karena penghasilan ini tidak boleh di akui sebagai biaya yang mengurangi penghasilan bruto. Contoh: PT. ABC bergerak dibidang jual beli barang elektronik. Perusahaan menggunakan metode LIFO untuk menghitung nilai persediaan dan metode garis lurus untuk menghitung penyusutan aktiva tetap. Umur ekonomis semua aktiva tetap diasumsikan 15 tahun untuk mesin dan 5 tahun untuk semua alat kantor dengan tanpa nilai residu. Berikut ini adalah laporan laba/rugi dari PT. ABC per 31 Desember 2010 sebagai berikut: Penjualan Bersih 2,000,000,000 Harga Pokok Penjualan Persediaan Awal 741,000,000 Pembelian 619,800,000 Retur Pembelian (58,500,000) Potongan Pembelian Pembelian Bersih (159,075,000) 402,225,000 Barang Siap Jual 1,143,225,000 Persediaan Akhir (650,000,000) HPP 493,225,000 Laba Kotor BAU - Gaji Honor dan tunjangan 1,506,775,000 367,170,000 BAU - Listrik, Air dan Telepon 54,660,000 BAU - Biaya penyusutan Mesin 10,000,000 BAU - Biaya penyusutan Alat Kantor BAU - Biaya Bunga Pajak BAU - Biaya Lain-lain Total Biaya Administrasi Umum 3,000,000 41,500,000 123,958,334 600,288,334 156 Akuntansi Perpajakan B Penj - Biaya perjalanan dinas 83,000,000 B Penj - Biaya iklan dan promosi 20,000,000 Total Biaya Penjualan Penghasilan Bunga Deposito Penghasilan Deviden d 103,000,000 10,000,000 163,800,000 Total Penghasilan Lainnya 173,800,000 Laba Bersih 977,286,666 Keterangan: 1. Persediaan awal jika menggunakan metode FIFO sebesar Rp 750,000,000 dan metode LIFO sebesar Rp 741,000,000 2. Persediaan akhir jika menggunakan metode FIFO sebesar Rp 700,000,000 dan metode LIFO sebesar Rp 650,000,000 3. Aktiva tetap terdiri dari: • Mesin senilai Rp 100,000,000 (kelompok 2) • Alat kantor senilai Rp 10,000,000 (kelompok 1) 4. Di dalam biaya listrik, air dan telepon 10 % digunakan untuk rumah direkturnya 5. Di dalam biaya perjalanan dinas ada Fiskal Luar Negeri sebesar Rp 10,000,000 6. Di dalam biaya lain-lain ada biaya sumbangan kepada panti asuhan sebesar Rp 9,000,000. 7. Penghasilan Deviden adalah penghasilan bruto diperoleh dari kepemilikan saham pada PT. BCA sebesar 20% dari modal yang disetor 8. Pajak yang telah dibayar selama tahun 2010 : PPh Pasal 22 Rp 5,000,000 PPh Pasal 23 Rp 10,000,000 PPh Pasal 25 Rp 15,000,000 Pertanyaan: a. Buatlah laporan rekonsiliasi fiskal beserta penjelasannya untuk tahun pajak 2010 ? b. Berapakah besarnya pajak terutang untuk tahun 2010 ? Rekonsiliasi Fiskal 157 Jawab: a. Untuk membuat laporan Rekonsiliasi fiskal dasarnya adalah laporan laba/rugi komersial. Keterangan: 1. FIFO Persediaan Awal 750,000,000 Pembelian bersih 402,225,000 Barang Siap dijual 1,152,225,000 Persediaan Akhir 700,000,000 HPP 452,225,000 Jadi koreksi fiskal sebesar Rp 41,000,000 (493,225,000– 452,225,000) dan berupa koreksi positif karena menambah laba. 2. Biaya Depresiasi Diasumsikan aktiva tetap di susutkan satu tahun penuh. a. Mesin 100,000,000-0 Dep/th= 8 =12,500,000/th Jadi koreksi fiskal sebesar Rp 2,500,000 (12,500,000– 10,000,000) dan berupa koreksi negatif karena mengurangi laba. b. Alat Kantor 10,000,000-0 Dep/th= 4 =2,500,000/th Jadi koreksi fiskal sebesar Rp 500,000 (3,000,000– 2,500,000) dan berupa koreksi positif karena menambah laba. 158 Akuntansi Perpajakan 3. Biaya listrik, air dan telepon 10 % digunakan untuk rumah direkturnya, maka Rp 5,466,000 (10% x 54,660,000) harus dikoreksi Positif, karena biaya untuk kepentingan pribadi tidak diakui sebagai biaya. 4. Fiskal Luar Negeri sebesar Rp 10,000,000 harus dikoreksi positif karena termasuk pembayaran pajak juga, namun biaya ini nantinya dapat menjadi kredit pajak 5. Biaya sumbangan kepada panti asuhan sebesar Rp 9,000,000 harus dikoreksi positif 6. Bunga pajak tidak boleh sebagai biaya sehingga akan dikorekis positif. 7. Penghasilan Bunga Deposito harus dikoreksi negatif karena penghasilan yang kena pajak final. Berdasarkan keterangan di atas kita dapat membuat laporan rekonsilaisi fiskal sebagai berikut: Laporan Rekonsiliasi Fiskal Laporan L/R Komersial Penjualan Bersih Jumlah Koreksi Fiskal Positif 2,000,000,000 Negatif Laporan L/R Fiskal 2,000,000,000 Harga Pokok Penjualan - Persediaan Awal 741,000,000 741,000,000 Pembelian 619,800,000 619,800,000 Retur Pembelian (58,500,000) (58,500,000) (159,075,000) (159,075,000) 402,225,000 402,225,000 Barang Siap Jual 1,143,225,000 1,143,225,000 Persediaan Akhir (650,000,000) (650,000,000) Potongan Pembelian Pembelian Bersih HPP Laba Kotor BAU - Gaji Honor dan tunjangan 493,225,000 1 41,000,000 452,225,000 1,506,775,000 1,547,775,000 367,170,000 367,170,000 Rekonsiliasi Fiskal BAU - Listrik, Air dan Telepon BAU - Biaya penyusutan Mesin BAU - Biaya penyusutan Alat Kantor BAU - Biaya Bunga Pajak 54,660,000 5,466,000 10,000,000 159 49,194,000 2 2,500,000 7,500,000 3,000,000 2 500,000 2,500,000 41,500,000 6 41,500,000 - BAU - Biaya Lain-lain 123,000,000 5 9,000,000 114,000,000 Total Biaya Administrasi Umum B Penj - Biaya perjalanan dinas B Penj - Biaya iklan dan promosi Total Biaya Penjualan 599,330,000 83,000,000 4 540,364,000 10,000,000 73,000,000 20,000,000 20,000,000 103,000,000 93,000,000 Penghasilan Bunga Deposito Penghasilan Deviden 10,000,000 7 10,000,000 - 163,800,000 163,800,000 Total Penghasilan Lainnya 173,800,000 163,800,000 Laba Bersih 978,245,000 1,078,211,000 b. Setelah dibuat laporan rekonsiliasi fiskal kita mendapatkan laba fiskal sebesar Rp 1,077,211,000. Dari laba ini kita dapat menghitung besarnya pajak terutang sebagai berikut: Karena peredaran bruto tahun 2010 kurang atau tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00 maka dikenakan tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku. Pajak Penghasilan yang terutang = 50% x 28% x Rp 1,077,211.000 = Rp 150,949,540,00 Pajak Terutang setahun Kredit Pajak PPh Pasal 22 5 Juta PPh Pasal 23 10 Juta PPh Pasal 23 15 Juta + Total Kredit Pajak Pajak Kurang/Lebih Bayar : Rp 150,949,540,00 : Rp 30,000,000,00 : Rp 120,949,540,00 160 Akuntansi Perpajakan Jadi Besarnya PPh terutang untuk tahun pajak 2010 adalah sebesar Rp 120,949,540,00. Latihan Perusahaan Aneka Laba adalah bergerak dibidang jual beli peralatan sekolah. Berikut ini adalah kebijakan akuntansi perusahaan: - Pencatatan dan Penilaian Persediaan Untuk mancatat persediaan barang dangangan, perusahaan menggunakan sistem Periodik (Fisik), sedangkan untuk penilaian persediaan menggunakan metode LIFO. - Metode Penyusutan Aktiva Tetap Metode penyusutan yang dipakai oleh perusahaan adalah menggunakan metode garis lurus. Berikut ini adalah susunan Aktiva Tetap perusahaan beserta keterangan lainnya mengenai harga perolehan,tahun perolehan dan perkiraan umur ekonomis menurut perusahaan: Nama Aktiva Gedung Kantor Tgl Perolehan Harga Perolehan UE 1/1/2001 300,000,000 30 Meja & Kursi dari Logam 1/1/2006 5,000,000 5 Komputer 1/10/2007 3,500,000 5 Printer 1/10/2007 750,000 5 Lemari Besi Arsip 5/3/2007 1,000,000 5 AC 1/1/2008 4,750,000 5 Peralatan Total Peralatan 15,000,000 Kendaraan Toyota Kijang Total Aktiva 5/3/2007 45,000,000 360,000,000 10 Rekonsiliasi Fiskal 161 Berikut ini adalah Neraca Saldo per 31 Desember 2010 : PT. SIDO MAKMUR NERACA SALDO NAMA REKENING DEBET (Rp) Kas dan bank 515,415,112 Piutang usaha 347,000,000 Persediaan Barang Dagangan 741,000,000 PPh Pasal 21 Dibayar di Muka 11,000,000 PPh Pasal 25 Dibayar di Muka 100,000,000 Investasi Jangka Panjang 300,000,000 Gedung kantor Akumulasi Penyusutan - gedung kantor 89,166,667 15,000,000 Peralatan kantor Akumulasi Penyusutan - peralatan kantor KREDIT (Rp) 8,022,500 45,000,000 Kendaraan 9,975,000 Akumulasi Penyusutan - Kendaraan 950,946 Hutang PPh Pasal 21 - Hutang PPh Pasal 25 1,000,000 Hutang PPN 150,000 Hutang Dagang 150,000,000 Modal 1,000,000,000 Laba ditahan 630,000,000 Penjualan Bruto Potongan penjualan 1,270,000,000 50,000,000 Ikhtisar R/L Pembelian 450,000,000 Retur Pembelian 50,000,000 Potongan Pembelian BAU - Gaji Honor dan tunjangan 150,000,000 335,650,000 BAU - Premi Asuransi 30,500,000 BAU – Listrik, Air dan Telepon 54,500,000 162 Akuntansi Perpajakan BAU - Biaya penyusutan Gedung 9,166,667 BAU - Biaya penyusutan Peralatan 2,750,000 BAU - Biaya Bunga 41,500,000 BAU - Biaya Sewa 18,000,000 BAU - Biaya Kantor 25,000,000 BAU - Biaya Perawatan 30,500,000 BAU - Biaya Lain-lain 103,958,334 B Penj – Biaya perjalanan dinas 83,000,000 B Penj – Biaya iklan dan promosi 20,000,000 B Penj – Biaya Pajak dan retribusi daerah 20,000,000 B Penj – Biaya penyusutan Kendaraan 4,125,000 B Penj – Biaya lain-lain 30,000,000 Penghasilan Bunga Deposito 10,000,000 Penghasilan Deviden 13,800,000 3,383,065,113 3,383,065,113 Keterangan kaitannya dengan Rekonsiliasi Fiskal: 1. Premi asuransi a. Kebakaran bangunan kantor b. Kendaraan operasional perusahaan c. Kendaraan pribadi Direktur jumlah Rp. Rp. Rp. Rp. 2. Biaya listrik dan telepon a. Untuk kantor b. Untuk rumah pribadi Direktur jumlah Rp. 44.000.000 Rp. 10.500.000 Rp. 54.500.000 3. Biaya Perjalanan Dinas a. Perjalanan ke LN keluarga Direktur b. Fiskal luar negeri c. Perjalanan dinas Kantor jumlah Rp. Rp. Rp. Rp. 20.500.000 7.500.000 2.500.000 30.500.000 30.000.000 3.000.000 50.000.000 83.000.000 Rekonsiliasi Fiskal 163 4. Biaya iklan dan promosi a. Iklan di media cetak Rp. 15.000.000 b. Iklan ucapan selamat kantor baru Rp. 5.000.000 jumlah Rp. 20.000.000 5. Biaya Bunga a. Bunga pinjaman bank Rp. 40.000.000 b. Bunga sanksi di bidang perpajakan Rp. 1.500.000 jumlah Rp. 41.500.000 6. Biaya perawatan a. Kendaraan perusahaan b. Rumah pribadi Direktur jumlah 7. B Penj.- Biaya Lain-Lain a. Alat Tulis Kantor b. Sumbangan bencana Tsunami Aceh c. Pakaian Seragam Satpam d. Biaya entertainmen (tidak ada daftar nominative) Jumlah Rp. 25.000.000 Rp. 5.000.000 Rp. 30.500.000 Rp 14.000.000 Rp 1.500.000 Rp 2.000.000 Rp 12.500.000 Rp 30.000.000 8. Data berkaitan dengan persediaan barang dagangan sbb: Keterangan Persediaan Barang Awal Persediaan Barang Akhir FIFO 761.000.000 750.000 LIFO 741.000.000 650.000.000 9. Penghasilan Bunga Deposito belum dipotong Pajak Pertanyaan: a. Buatlah laporan rekonsiliasi fiskal beserta penjelasannya untuk tahun pajak 2010? b. Berapakah besarnya pajak terutang untuk tahun 2010? 164 Akuntansi Perpajakan BAB 13 Akuntansi Pajak Tangguhan 165 AKUNTANSI PAJAK TANGGUHAN B ab ini merupakan konsep dari akuntansi pajak tangguhan berdasarkan PSAK No 46 tentang akuntansi pajak penghasilan. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian akuntansi pajak tangguhan. Selanjutnya akan dibahas mengenai faktor-faktor-faktor apa yang menyebabkan diakui sebagai pasiva pajak tangguhan dan aktiva pajak tangguhan. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar stándar akuntansi keuangan No 46 tentang akuntansi pajak penghasilan 2. Mampu menjelaskan mengenai konsep Pajak Tangguhan 3. Mampu membedakan pengakuan aktiva pajak tangguhan dan pasiva pajak tangguhan 4. Mampu memahami kasus dan cara penyelesaian soal secara mendalam. 166 Akuntansi Perpajakan A. Pendahuluan A.1 Dasar Hukum - - Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali perubahan, Pertama: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991, Kedua: Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, Ketiga: UndangUndang Nomor 17 Tahun 2000 dan diubah terakhir dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 46 Tentang Akuntansi Pajak Tangguhan A.2 Pengertian Akuntansi Pajak Tangguhan Akuntansi pajak tangguhan adalah pencatatan transaksi perusahaan yang berkaitan dengan kewjiban pajaknya dapat ditunda sampai periode atau waktu yang diperbolehkan. Hal ini disebebkan karena perbedaan temporer atau beda waktu pengakuan penghasilan atau biaya antara akuntansi komersial dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Perbedaan temporer seperti yang dijelaskan di bab sebelumnya ini akan menyebabkan terjadi pengakuan diakuntansi yang disebut dengan aktiva pajak tangguhan maupun pasiva pajak tangguhan. Menurut PSAK No 46 disebutkan bahwa Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak. Sedangkan Aktiva pajak tangguhan (deferred tax asset) adalah jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian. Perbedaan temporer (temporary differences) adalah perbedaan antara jumlah tercatat aktiva atau kewajiban dengan DPPnya. Perbedaan temporer dapat berupa perbedaan temporer Akuntansi Pajak Tangguhan 167 kena pajak dan perbedaan temporer yang boleh dikurangkan. Perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah kena pajak (taxable amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled). Sedangkan perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan (deductible amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled). B. Penilaian dan Pengakuan Di dalam PSAK No 46 ini mengatur mengenai dasar pengenaan pajak dari aktiva maupun pasiva itu sendiri. DPP aktiva adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal, terhadap setiap manfaat ekonomi(penghasilan) kena pajak yang akan diterima perusahaan pada saat memulihkan nilai tercatat aktiva tersebut. Apabila manfaat ekonomi (penghasilan) tersebut tidak akan dikenakan pajak maka DPP aktiva adalah sama dengan nilai tercatat aktiva. Artinya penilaian DPP ini didasarkan atas pengakuan dari penghasilan atau biaya itu sendiri. Ketika biaya/penghasilan diakui atas dasar kas maka besarnya DPP aktiva adalah nol karena sudah diakui pada saat itu, namun ketika atas dasar accrual maka besarnya DPP adalah sebesar nilai yang tercatat dari biaya/penghasilan. DPP aktiva adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal, terhadap setiap manfaat ekonomi(penghasilan) kena pajak yang akan diterima perusahaan pada saat memulihkan nilai tercatat aktiva tersebut. Apabila manfaat ekonomi (penghasilan) trsebut tidak akan dikenakan pajak maka DPP aktiva adalah sama dengan nilai tercatat aktiva. Contoh: 168 • • • • Akuntansi Perpajakan Mesin nilai perolehan 100. Untuk tujuan fiskal, mesin telah disusutkan sebesar 30 dan sisa nilai buku dapat dikurangkan pada periode mendatang. Penghasilan mendatang dari penggunaan aktiva merupakan obyek pajak. DPP aktiva tersebut adalah 70 Piutang bunga mempunyai nilai tercatat 100. Untuk tujuan fiskal, pendapatan bunga diakui dengan dasar kas. DPP piutang adalah nihil. Piutang usaha mempunyai nilai tercatat 100. Pendapatan usaha terkait telah diakui untuk tujuan fiskal. DPP piutang adalah 100. Pinjaman yang diberikan mempunyai nilai tercatat 100. Penerimaan kembali pinjaman tidak mempunyai konsekuensi pajak. DPP pinjaman yang diberikan adalah 100 DPP kewajiban adalah nilai tercatat kewajiban dikurangi dengan setiap jumlah yang dapat dikurangkan pada masa mendatang. Contoh: • Nilai tercatat beban yang masih harus dibayar (accured expenses) 100. Biaya tersebut dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal dengan dasar kas. DPP-nya adalah nol. • Nilai tercatat pendapatan bunga diterima dimuka 100. Untuk tujuan fiskal, pendapatan bunga tersebut dikenakan pajak dengan dasar kas. DPP-nya adalah nol. • Nilai tercatat beban masih harus dibayar (accured expense) 100. Untuk tujuan fiskal biaya tersebut telah dikurangkan. DPP-nya adalah 100. • Nilai tercatat beban denda yang masih harus dibayar 100. Untuk tujuan fiskal, beban denda tersebut tidak dapat dikurangkan. DPPnya adalah 100. • Nilai tercatat pinjaman yang diterima 100. Pelunasan pinjaman tersebut tidak mempunyai konsekuensi pajak. DPP-nya adalah 100. Akuntansi Pajak Tangguhan 169 Di dalam PSAK ini juga diatur kaitannya dengan pengakuan aktiva atau kewajiban pajak terkini. Jumlah pajak kini, yang belum dibayar harus diakui sebagai kewajiban. Apabila jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode- periode sebelumnya melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode-periode tersebut, maka selisihnya, diakui sebagai aktiva. Misalnya Pada akhir tahun pajak 2010 pajak terutang saat ini sebesar 10 juta dan selama tahun 2010 telah membayar pajak 5 juta maka selisih 5 juta diakui sebagai kewajiban atau hutang pajak terkini. Namun ketika selama tahun 2010 telah membayar pajak 15 juta maka selisih 5 juta diakui sebagai aktiva atau Piutang pajak terkini. C. Aktiva dan Kewajiban Pajak Tangguhan Seperti yang dijelaskan di atas bahwa aktiva pajak tangguhan timbul karena beda temporer yang dapat dikurangi artinya kemungkinan dapat mengurangi besarnya pajak di masa yang akan datang. Sedangkan kewajiban pajak tangguhan timbul karena beda temporer kena pajak artinya kemungkinan dapat menambah besarnya pajak di masa yang akan datang. Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan pada contoh di bawah ini: Contoh Perusahaan membeli peralatan pada Januari 2010 senilai Rp. 100.000.000,- Menurut komersial peralatan tersebut memiliki masa manfaat 5 tahun, sementara menurut pajak peralatan tersebut masuk ke dalam Kelompok II yang memiliki masa manfaat 8 tahun. 170 Akuntansi Perpajakan Perhitungan Depresiasinya dapat dilihat sbb: Penyusutan Beban (Komersial) Beban (Pajak) Beda Waktu Th. Ke-1 (2002) 20,000,000 12,500,000 7,500,000 Th. Ke-2 (2003) 20,000,000 12,500,000 7,500,000 Th. Ke-3 (2004) 20,000,000 12,500,000 7,500,000 Th. Ke-4 (2005) 20,000,000 12,500,000 7,500,000 Th. Ke-5 (2006) 20,000,000 12,500,000 7,500,000 Th. Ke-6 (2007) - 12,500,000 - 12,500,000 Th. Ke-7 (2008) - 12,500,000 - 12,500,000 Th. Ke-8 (2009) - 12,500,000 - 12,500,000 Total 100,000,000 100,000,000 0 Pajak tangguhan yang dimaksud dari ilustrasi di atas adalah dengan adanya perbedaan masa manfaat menurut pajak dan komersial yang juga mengikuti besarnya beban yang diakui maka mengkibatkan pajak yang harus dibayarnya menjadi lebih besar di tahun ke 1 s.d tahun ke-5. Sebenarnya pajak yang dibayar atas peralatan di atas, menurut komersial ataupun menurut pajak sama saja, hanya dengan adanya aturan pajak maka dikoreksi sampai waktu yang ditentukan. Pada tahun ke-1 biaya depresiasi menurut akuntansi komersial sebesar Rp 20,000,000 dan menurut pajak Rp 12,500,000. Selisih sebesar Rp 7,500,000 tersebut diakui sebagai kewajiban pajak tangguhan, karena kemungkinan pada tahun yang akan datang dapat menambah besarnya pajak terutang. Untuk mencatat koreksi ini adalah: Pajak Penghasilan Tangguhan 7,500,000 Kewajiban Pajak Tangguhan 7,500,000 PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan par. 26 menjelaskan bahwa saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aset pajak tangguhan apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan memadai untuk dikompensasi. Akuntansi Pajak Tangguhan 171 Menurut PSAK 46 paragraf 27 diatur bahwa berikut ini adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah penghasilan kena pajak akan tersedia dalam jumlah memadai untuk dikompensasikan: 1. Apakah perusahaan mempunyai perbedaan temporer kena pajak dalam jumlah yang memadai, yang memungkinkan sisa kompensasi dapat digunakan sebelum masa berlakunya kadaluarsa; 2. Apakah perusahaan mungkin memperoleh laba fiskal agar saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi kerugian dapat digunakan sebelum masa berlakunya daluarsa; Apakah saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi timbul dari kasus-kasus tertentu yang hampir tidak mungkin berulang. Apabila laba fiskal tidak mungkin tersedia dalam jumlah yang memadai untuk dapat dikompensasi dengan saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi, maka aset pajak tangguhan tidak diakui. Paragraf 28 mengatur mengenai penilaian kembali aset pajak tangguhan. Pada setiap tanggal neraca, perusahaan menilai kembali aset pajak tangguhan yang tidak diakui. Perusahaan mengakui aset pajak tangguhan yang sebelumnya tidak diakui apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan akan tersedia untuk pemulihannya. Berdasarkan Undang undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang undang No. 36 Tahun 2008 (UU PPh) Pasal 6 ayat (2) diatur bahwa apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. 172 Akuntansi Perpajakan Contoh: PT A selama 3 tahun berturut-turut diperoleh gambaran sebagai berikut: Tahun 2008 2009 2010 Laba /Rugi Komersial (20,000.00) (5,000.00) 15,000.00 Kompensasi Kerugian - (20,000.00) (25,000.00) (20,000.00) (25,000.00) (10,000.00) Laba /Rugi Fiskal Jika diasumsikan tarif pajak untuk ketiga tahun adalah 28% maka besarnya pajak tagguhan pertahun adalah Pajak Tangguhan Th 2008 = 20,000 X 28% = 5,600 Jika tahun sebelumnya dianggap tidak ada kerugian maka jurnal untuk mencatatnya adalah: Aktiva Pajak Tangguhan 5,600 Pajak Penghasilan Tangguhan 5,600 Pajak Tangguhan Th 2009 = 25,000 X 28% = 7,000 Karena tahun sebelumnya telah dicatat aktiva pajak tangguhan sebesar 5,600 maka jurnal untuk mencatat aktiva pajak tangguhan tahun ini sebesar 1,400 (7,000 – 5,600) adalah: Aktiva Pajak Tangguhan 1,400 Pajak Penghasilan Tangguhan 1,400 Pajak Tangguhan Th 2010 = 10,000 X 28% = 2,800 Karena tahun sebelumnya telah dicatat aktiva pajak tangguhan sebesar 5,600, sedangkan tahun ini aktiva pajak tangguhan tahun ini sebesar 2,800 maka tahun ini dicatat kewajiban pajak tangguhan sebesar 4,200 (5,600 – 2,800), maka jurnal untuk mencatatnya adalah: Akuntansi Pajak Tangguhan Pajak Penghasilan Tangguhan 5,600 Kewajiban Pajak Tangguhan 173 5,600 Pada tahun 2011 nanti ketika saldo aktiva pajak tangguhan sebesar 2,800 akan dikompensasikan dengan laba sekarang maka jurnalnya adalah: Pajak Penghasilan Tangguhan 2,800 Kewajiban Pajak Tangguhan 2,800 Dari ayat-ayat jurnal di atas, dapat diketahui bahwa saldo Aset Pajak Tangguhan di Neraca PT A per 31/12/2006 sudah menjadi nol seiring dengan habisnya kompensasi saldo rugi fiskal pada tahun 2006. Latihan 1. PT ABC selama 3 tahun berturut-turut diperoleh gambaran sebagai berikut: Tahun Laba /Rugi Komersial Kompensasi Kerugian Laba /Rugi Fiskal 2008 2009 (20,000.00) (5,000.00) - 2010 15,000.00 (20,000.00) (25,000.00) (20,000.00) (25,000.00) (10,000.00) Jika diasumsikan tarif pajak ketiga tahun adalah 30%. Berdasarkan data di atas, berapakah besarnya pajak tangguhan yang kan dicatat setiap tahunnya?. Buatlah jurnal yang diperlukan? 2. Perusahaan membeli Mesin pada Juli 2010 senilai Rp. 500.000.000,Menurut komersial peralatan tersebut memiliki masa manfaat 15 tahun, sementara menurut pajak peralatan tersebut masuk ke dalam Kelompok III yang memiliki masa manfaat 16 tahun. Pertanyaan: a. Berapakah besarnya pajak tangguhan yang kan dicatat setiap tahunnya? b. Buatlah jurnal yang diperlukan? 174 Akuntansi Perpajakan GLOSARIUM Pengertian Akuntansi Pajak 175 1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara diatasnya serta tempattempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. 2. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan. 3. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. 4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean karena suatu perjanjian di dalam Daerah Pabean. 176 Akuntansi Perpajakan 5. Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual, termasuk kegiatan tukar menukar barang, tanpa mengubah bentuk atau sifatnya. 6. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. 7. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. 8. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk atau sifat suatu barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna baru, atau kegiatan mengolah sumber daya alam termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan kegiatan tersebut. 9. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. 10. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnyn diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. 11. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa Pengertian Akuntansi Glosarium Pajak 177 karena penyerahan Jasa Kena Pajak, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. 12. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Pabean untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini. 13. Penerima jasa adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan Jasa Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar Penggantian atas Jasa Kena Pajak tersebut. 14. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 15. Pajak Masukan adalah pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak. 16. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak. 17. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir. 178 Akuntansi Perpajakan 18. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah bendaharawan Pemerintah, badan, atau instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada bendaharawan Pemerintah, badan, atau instansi Pemerintah tersebut.” 19. Pajak Penghasilan Final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis penghasilan, transaksi atau usaha tertentu. 20. Laba Akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak. 21. Penghasilan Kena Pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan. 22. Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah agregat pajak kini(current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode. 23. Pajak kini (current tax) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) atas penghasilan kena pajak pada satu periode DAFTAR PUSTAKA Pengertian Akuntansi Pajak 179 Endang Kiswara, 2004, “Aplikasi Akuntansi Perpajakan Indonesia” EKC. Semarang HM. Zain, Manajemen Pajak, Salemba Empat, 2003 Mulyadi, 2006, “Perpajakan” Salemba, Edisi 4 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, PT. MITRAINFO – Jakarta – 2000 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN & PPnBM www.pajak.go.id 180 Akuntansi Perpajakan

Judul: Akuntansi Perpajakan

Oleh: Dewina Sibarani

Ikuti kami