Akuntansi Perilaku.docx

Oleh Hans Wakhida

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Perilaku.docx

AKUNTANSI KEPERILAKUAN
RESERCH METHODS
&
FINANCIAL CONTROL

CHAPTER 5
RESERCH METHODS
Bab ini menjelaskan elemen-elemen metode penelitian ilmu keperilakuan. Pertama
kita mendeskripsikan apakah itu riset dan apakah yang bukan. Kemudian kita mendiskusikan
tahap-tahap utama dalam riset keperilakuan: desain proyek, pengumpulan data, analisis data
dan laporan produksi.
APAKAH ITU RISET?
Riset adalah sesuatu yang sistematis, usaha pengorganisasian untuk menginfestigasi
masalah-masalah dan menjawab pertanyaan. Riset dimulai dengan sebuah pertanyaan,
membutuhkan deskripsi pernyataan yang jelas dari masalah agar dapat dipecahkan, dan
sebuah rencana untuk menjawab sebuah pertanyaan. Mengaplikasikan riset adalah
dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah yang spesifik. Riset dasar dan murni
dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan kita dari fenomena tertentu.
TUJUAN RISET
Lima tujuan utama dari riset ilmiah adalah :
1. Mendeskripsikan fenomena
2. Menemukan hubungan
3. Menjelaskan fenomena
4. Memprediksi peristiwa kedepan
5. Dan pengaruh dari suatu kejadian

PROJECT DESIGN
Pertama dan juga yang paling krusial, tahap dari riset keperilakuan adalah definisi
masalah. Sifat dari informasi yang dikumpulkan, metode pengumpulan data yang dipilih, dan
cara pengambilan sampel tergantung dari bagaimana masalah dipersepsikan, menyusun
pertanyaan riset, dan informasi pembuat studi memutuskan untuk dikumpulkan.


Determination of Project Scope
Penentuan scope dalam penelitian didasarkan pada berbagai aspek antara lain melihat
pertanyaan utama yang muncul dari masalah yang ada, untuk beberapa alasan sangat
sulit jika ingin melihat semua aspek dari permasalahan yang ingin diteliti. Hal itu
dikarenakan karena adanya batasan dana yang akan mengakibatkan biaya akan
meningkat sangat tinggi jika ingin meneliti semua aspek penelitian.



Other Factors
Desain proyek lebih dari pendefinisian scope. Aspek-aspek lain dari desain meliputi,
pendefinisian populasi, kebutuhan informasi yang spesifik, metode pengumpulan dan
pemilihan data, dan penganggaran.

PRIMARY AND SECONDARY DATA
Primary data merupakan data yang diperoleh langsung dari target populasi, sedangkan
untuk secondary data diperoleh dari data-data perusahaan, ringkasan dan disediakan oleh
orang lain.


Validity
Validitas merujuk kepada sebaik apa dimensi konsep yang akan diukur. Beberapa
jenis validitas antara lain:
1. Criterion-related validity, ditentukan dengan membandingkan konsep-konsep.
Criterian-related validity ada 2 yaitu:
a. Predictive validity: memperhatikan apakah sebuah tes atau pengukuran dapat
secara akurat memprediksi perilaku.

b. Concurrent validity: memperhatikan pada hubungan antara apa yang kita ukur
dengan criteria dulu dan sekarang.
2. Construct validity: tergantung pada penilaian apakah hasil dari pengukuran kita
sesuai dengan teori.


Reliability
Merupakan pengukuran mengenai apakah penelitian akan memberikan hasil yang
stabil dari masa ke masa.

DATA COLLECTION METHODS
Terdapat 2 cara dalam pengumpulan data:


Survey : ada interaksi antara peneliti dan responden.



Experiments: eksperimen digunakan ketika peneliti ingin memanipulasi atau
mengendalikan variable tertentu dalam rangka membentuk suatu sebab dan akibat dari
suatu hubungan.

SELECTION OF RESPONDEN
Populasi adalah seluruh kelompok dari orang atau kumpulan peristiwa yang relevan untuk
proyek penelitian. Peneliti harus memutuskan apakah akan menggunakan sensus atau sample.


Sensus akan tepat dilakukan apabila:
1. Populasi nya kecil dan biaya pengumpulan datanya tidak secara signifikan beda
dengan sample.
2. Sensus penting jika ingin mengetahui setiap elemen populasi.
3. Resiko dari ketidaktepatan generalisasi sangat besar.



Sampling Design
Terdapat 2 sampling design:
1. Probability design : menggunakan beberapa bentuk random sampling.
2. Nonprobability design : tidak menggunakan random sampling.

THE RESEARCH INSTRUMENT

Pengembangan kuisioner, atau instrument penelitian adalah tahap krusial lain dalam
proses penelitian.
1. Menjamin dapat memperoleh responden yang kooperatif.
2. Menjamin respon akan valid dan reliabel.
Pertanyaan kuisoner dapat berupa:
a. Close-ended question: responden diberikan instruksi memilih satu atau lebih
alternative jawaban yang telah disedikan.
b. Double-barreled questions : menyediakan dua kalimat dan pertanyaan untuk satu
respon.

DATA ANALYSIS AND REPORT PREPARATIONS
Tahap-tahap nya meliputi:
1. Mengedit dan mengkode data yang telah didapat.
2. Analisis data.
3. Laporan akhir menyampaikan penarikan kesimpulan dari analisis data.

CHAPTER 6
FINANCIAL CONTROL

Pada chapter ini kita akan membahas dilemma dari sebuah kontrol yang
mengilustrasikan bagaimana meraih konsekuensi dari sebuah kontrol akuntansi keuangan.
Dilemma ini disertai dengan tujuan dan definisi yang berdampingan dengan desain dari
sistem kontrol akuntansi keuangan.
DEFINISI DARI KONTROL KEUANGAN (FINANCIAL CONTROL)
Respon Mekanis VS Respon Prilaku
Perhatian utama pada subsistem pengendalian keuangan adalah perilaku dari orangorang yang ada dalam perusahaan, bukan alat-alat keuangannya (mesin). Untuk alasan
tersebut, pengendalian keuangan dapat dipahami dengan memberi penekanan pada
pentingnya asumsi keperilakukan. Tidak semua bentuk pengendalian memberi perhatian pada
perilaku manusia. Aplikasi tekhnik dari kontrol, seperti alat pengatur panas yang mengntrol
suhu ruangan, memberi tekanan pada respon mekanis (mechanical feedback) daripada respon
prilaku (behavioral responses). Tentu saja, peralatan tekhnik dan elektrik juga dapat
digunakan untuk mempengaruhi perilaku manusia. Sebagai contoh, alarm peringatan
dipasang sebagai alat pengaman atau sistem password yang didesain untuk mencegah orang
yang tidak mempunyai otorisasi mengunakan komputer. Contoh tersebut menggunakan alat
dengan sistem mekanis dan elektrik yang dipasang dengan tujuan untuk mempengaruhi
manusia (memperoleh respon dari manusia) bukan untuk menginduksi respon mekanis dari
alat tersebut. Mengacu pada contoh tersebut maka subsistem pengendalian keuangan
didasarkan pada asumsi keperilakuan.
Secara umum pengendalian didefinisikan sebagai inisiatif yang dipilih karena
dipercayai bahwa (dengan melakukan pengendalian) probabilitas mendapatkan hasil yang
diinginkan akan semakin meningkat. Dalam pengendalian keuangan, inti dari hasil yang
diinginkan adalah peristiwa perilaku (behavioral events) dan dapat diaplikasikan pada
masalah keuangan. Selain itu, definisi dari pengendalian didasarkan pada konsep kepercayaan
(beliefs) dan probabilitas (probabilitas).
Memperluas konsep tradisional

Konsep pengendalian tradisional dalam akuntansi telah mengasumsikan bahwa
pembuatan informasi akuntansi adalah langkah terakhir dari peranan akuntan. Dalam
pendekatan keperilakuan terhadap desain dan implementasi subsistem pengendalian
keuangan, pembuatan informasi bukanlah sebagai langkah akhir dari keterlibatan seorang
akuntan melainkan sebuah langkah (tahap) menengah dari pembuatan informasi.
Ketika mendesain sistem pengendalian yang sesuai dengan informasi akuntansi yang
akurat dan andal, pendekatan tradisional menekankan pada tujuh faktor berikut:
1. Melibatkan anggota yang akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan kompeten
dan berintegritas
2. Menghindari fungsi-fungsi yang tidak kompetibel dengan pemisahan tugas dan
tanggung jawab
3. Menjelaskan otoritas yang berhubungan dengan posisi mereka sehingga kebenaran
transaksi yang dieksekusi dapat dievaluasi
4. Menetapkan metode yang sistematik untuk memberi keyakinan bahwa transaksi
dicatat secara akurat
5. Menjamin bahwa dokumentasi telah memadai
6. Perlindungan aset dengan merancang prosedur untuk membatasi akses terhadap aset
7. Merancang pengecekan independen untuk meningkatkan akurasi.
Tujuh faktor pertimbangan untuk kontrol keuangan tradisional ini kemudian
dikembangkan sebagai dasar untuk mendesain kontrol internal audit, yang dibagi menjadi
accounting control dan administrative control.
KONTROL YANG KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE CONTROL)
Secara formal, pengendalian sistem yang komprehensif sebenarnya merupakan
kesatuan subsistem formal yang mendukung proses administratif. Untuk perumusan
(pembentukan), subsistem pengendalian harus disusun terlebih dahulu dan ditetapkan sebagai
proses yang tepat untuk pencapaian tujuan tertentu. Kemudian untuk menjadi komprehensif,
sistem pengendalian harus mencakup aktivitas perencanaan, operasi, dan fungsi umpan balik.

Perencanaan
Proses ini identik dengan istilah penyusunan tujuan perilaku. Aspek penting dari proses
penetapan tujuan merupakan perhatian mendasar dari organisasi dan komunikasi. Jika

struktur organisasi kurang baik, hal ini harus diselesaikan selama proses perencanaan
berlangsung. Dapat dilihat bahwa perencanaan merupakan hal yang sangat penting untuk
menciptakan sebuah kontrol yang efektif. Begitu juga dengan kontrol yang merupakan bagian
yang penting dari penciptaan perencanaan yang efektif. Sehingga dua hal ini merupakan hal
yang tidak dapat dipisahkan.

Operasi
Pada organisasi yang terstruktur, fungsi operasi menganggap keberadaan perencanaan
organisasi, walaupun perencanaannya dalam bentuk informal atau tidak tertulis. Istilah
operasi mengacu pada pelaksanaan aktivitas operasi pada organisasi, termasuk ketentuan
mengenai jasa dan pembuatan produk yang merupakan fungsi pendukung penting yang
dibutuhkan untuk menjaga operasi berjalan sebagaimanamestinya. Pengendalian operasi
adalah sebuah proses untuk memonitor dan mengoreksi aktivitas operasi selama proses
implementasi rencana manajemen.

Umpan balik
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal maupun informal dan
tersusun dari komunikasi nonverbal ke tabulasi statistik yang rutin. Umpan balik dibutuhkan
dan dicari sebagai dasar untuk membuat evaluasi yang akan mempengaruhi pembagian
reward, penilaian pinalti dan pergantian antara proses perencanaan dengan operasi yang akan
menghasilkan umpan balik.

Interaksi pengendalian
Aktivitas perencanaan, operasi dan umpan balik telah diidentifikasi sebagai tiga aspek
dari proses adminitrartif yang akan mendukung desain pengendalian komprehensif.
Ketiganya bukan aktivitas yang independen, sehingga mereka saling mempengaruhi.
Perancangan dari subsistem perencanaan untuk jangka panjang maupun pendek, pembuatan
pengendalian untuk mendukung operasi, dan keputusan untuk menekankan bahwa
pengukuran umpan balik tertentu mengindikasikan kesuksesan atau kegagalan organisasi

merupakan isu yang saling berkaitan. Hubungan saling keterkaitan ini dapat di kelola untuk
mendsapatkan keuntungan yang besar jika sebuah organisasi dapat dengan sukses
menghubungkan subsistem kontrol yang didesain untuk mensuport fungsi perencanaan,
operasi, dan juga umpan balik.

FAKTOR-FAKTOR KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL PFACTORS)
Konteks dapat menjadi bagian yang sangat penting agar sukses dalam merancang dan
melaksanakan sistem pengendalian keuangan. Konteks merujuk pada kumpulan karakteristik
yang mengukur pengaturan empiris dimana sistem pengendalian akan ditetapkan. Proses
identifikasi faktor kontekstual yang kritis sangatlah subyektif dan tidak kekal. Faktor
kontekstual tersebut yaitu ukuran, stabilitas lingkungan, motivasi laba, dan faktor proses.
Ukuran
Ukuran dapat dipandang sebagai suatu peluang dan hambatan. Ukuran dipandang
sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat ekonomi dan bukan sebagai strategi
pengendalian. Sedangkan ukuran juga dapat menjadi suatu hambatan jika pertumbuhan
ekonomi menyebabkan terjadinya eliminasi tehadap strategi pengendalian tetapi tidak bisa
diformalkan agar sesuai dengan kebutuhan organisasi yang lebih besar. Meskipun jelas
bahwa ukuran dapat menjadi faktor penting dalam membedakan konteks, banyak variabel
lain juga dapat dikaitkan dengan masalah ukuran, misalnya; faktor stabilitas lingkungan dan
proses sering dikaitkan dengan ukuran.
Stabilitas Lingkungan
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari desain
pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah. Stabilitas dalam lingkungan eksogen
dapat dinilai dari gerakan yang secara eksternal menghasilkan produk-produk yang
memerlukan suatu tanggapan. Tingkat stabilitas lingkungan dapat diukur dengan memilih
tindakan yang tepat dari perubahan lingkungan seperti jumlah produk baru yang
diperkenalkan selama interval waktu yang ditentukan, tindakan pesaing yang memiliki
inisiatif membuat metode produksi usang atau tidak efisien atau legislatif yang
mempengaruhi unit tergantung pada hasil dari proses-proses tersebut.

Motif Keuntungan
Keberadaan dari motif keuntungan tentunya bukanlah penghalang dalam menggunakan
ukuran-ukuran penilaian akuntansi terhadap produktivitas. Pada sisi lain, jelas bahwa sistem
pengendalian yang didasarkan pada motif dan ukuran-ukuran profitabilitas sering kali tidak
bisa diterjemahkan secara langsung pada konteks nirlaba (nonprofit). Ukuran-ukuran laba
merupakan hal yang penting meskipun sulit dijadikan sebagai indikator keberhasilan kinerja
keuangan suatu organisasi. Indikator keberhasilan sering diperlihatkan dalam bentuk statistik.
Statistik ini sering diartikan sebagai ringkasan dari keseluruhan keberhasilan subsistem yang
kompleks dan rumit dari suatu organisasi, dan indicator tersebut merupakan tolok ukur dari
keberhasilan manajer dan anggotanya. Ketika motif keangan tidak ada, indikator lain
keberhasilan organisasi dan individu harus diandalkan. Dalam pengaturan ini, pemilihan
langkah-langkah alternatif merupakan sebuah tantangan bagi para manajer.
Faktor-Faktor Proses
Suatu faktor proses penting dalam pegendalian biaya-biaya yang tidak dapat dihindari
dan biaya-biaya untuk melakukan rekayasa ulang disebut sebagai biaya variabel. Strategi
pengendalian biaya untuk proses strategi biaya variabel sering kali memiliki perbedaan
substansi dengan strategi pengendalian biaya yang disesuaikan, seperti aplikasi biaya tetap.
Proses yang sederhana ditandai dengan memahami hubungan sebab akibat, sebuah proses
yang kompleks menyebabkan beberapa hubungan tidak dapat dipahami dengan baik.
Sehingga proses yang sederhana lebih mudah dikendalikan daripada yang kompleks.
Biaya diskresioner adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan biaya
yang dikeluarkan oleh unit. Unit bisa memiliki proses yang sederhana atau kompleks. Contoh
biaya diskresioner meliputi unit penelitian dan pengembangan, pemasaran dan administrasi
kepegawaian.
PERTIMBANGAN DESAIN (DESIGN CONSIDERATION)
Pengendalian didefinisikan sebagai inisiatif pilihan karena kepercayaan bahwa
probabilitas untuk mendapatkan hasil yang diinginkan akan meningkat. Untuk meningkatkan
probabilitas kesuksesan perancang akan melihat pada hubungan sebab akibat yang dipercaya
untuk dihadirkan di lingkungan, lalu menyiapkan mereka untuk mengantisipasi konsekuensi
logis yang dapat dihasilkan dari penerapan pengendalian. Karena fokusnya adalah perilaku
maka perancang harus memikirkan harapan dan kemungkinan. Pengendalian yang digunakan
dalam perusahaan harus dirancang dengan pemahaman tentang konsekuensi perilaku yang
ingin dihasilkan dan apresiasi untuk kebutuhan mengakomodasi perubahan.

Antisipasi dari Konsekuensi Logis
Antisipasi terhadap konsekuensi logis adalah elemen kunci dari perancangan
pengendalian. Penekanan ini merupakan poin penting bagi manajer yang membuat penilaian
berdasarkan pada apakah hasil yang diperoleh itu benar atau tidak benar. Pengendalian lebih
merefleksikan konsekuensi perilaku dari strategi pengendalian yang ditetapkan. Manajer yang
berpengalaman lebih disukai untuk mengantisipasi hasil yang berhubungan dengan proses
pengendalian karena mereka telah mengenal dan memahami bidangnya.
Relevansi dari Agency Theory
Agency Theory memfasilitasi antisipasi konsekuensi logis dengan menyediakan
kerangka untuk memahami dan memprediksi perilaku. Agen adalah orang yang disewa oleh
pemilik untuk melaksanakan tugas yang telah dirancang oleh pemilik. Untuk memotivasi
agen agar lebih giat bekerja, pemilik diharapkan menyiapkan rencana kontrak untuk
mengurangi risiko yang menyebabkan agen menjadi diluar kendali dan mencari waktu luang.
Pemilik dapat mengalokasikan sumber daya untuk memperoleh keuntungan dengan tiga cara,
yaitu: pemantauan, insentif/pinalti, dan asuransi atau memindahkan risiko. Kelebihan teori
agensi adalah pemahaman mendalam dalam menyediakan sistem pengendalian yang
menguntungkan bagi kedua pihak. Pengalaman dan kepekaan terhadap perubahan lingkungan
menjadi pondasi untuk dapat menyediakan konsekuensi logis.
Mengelola Perubahan
Mengelola

perubahan

merupakan

pertimbangan

penting

dalam

merancang

pengendalian. Pengendalian yang ada di perusahaan seringkali dihadapkan pada dilema.
Manajer khawatir bila pengendalian berubah akan mengeluarkan biaya berlebih pada
gangguan status quo daripada nilai keuntungan perusahaan. Yang lebih mengkhawatirkan
apabila manajer menyimpulkan bahwa pengendalian baru adalah biaya yang dibenarkan pada
waktu organisasi tidak mampu untuk berubah. Beberapa organisasi menggunakan jasa
konsultan eksternal dan auditor internal untuk mendorong pembaharuan sistem pengendalian.
Untuk jangka panjang, perusahaan menjaga suatu lingkungan yang terkendali melalui
proses perubahan dan kompensasi. Hal ini akan terjadi ketika desain pengendalian
dimodifikasi melalui proses berkelanjutan dan regenerasi internal atau perubahan yang
disebabkan oleh faktor eksternal mempengaruhi organisasi. Hanya melalui perubahan dan
kompensasi, sebagian besar organisasi dapat menentukan keadaan konstan dari pemeliharaan
status yang terkendali dalam organisasi.

Judul: Akuntansi Perilaku.docx

Oleh: Hans Wakhida


Ikuti kami