Akuntansi Perbankan Syariah - Akuntansi Jasa Perbankan Lainnya (i)

Oleh Annisa Rizki

20 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Perbankan Syariah - Akuntansi Jasa Perbankan Lainnya (i)

RESUME
AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH
AKUNTANSI JASA PERBANKAN LAINNYA

Disusun Oleh :
Kelompok 01 (Kelas J)
Mohammad Hanif Akbar 2013310226
Putri Army Lerizki

2013310302

Saputri Dwi Iga Nurani

2013310306

Annisa Rizki

2013310339

Yunita Dwi L.

2013310382

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS
SURABAYA
2016/2017

1

DAFTAR ISI

1.

KAFALAH.......................................................................................................3
1.1 Definisi dan Konsep Kafalah..................................................................3
1.2 Sumber Hukum Kafalah.........................................................................4
1.3 Rukun dan Syarat-Syarat Kafalah........................................................4
1.4 Jenis-Jenis Kafalah..................................................................................6
1.5 Perlakuan Akuntansi Kafalah................................................................7

2.

WAKALAH.....................................................................................................7
2.1 Definisi dan Konsep Wakalah................................................................7
2.2 Sumber Hukum Wakalah.......................................................................9
2.3 Rukun dan Syarat-Syarat Wakalah.......................................................9
2.4 Jenis-Jenis Wakalah..............................................................................10
2.5 Perlakuan Akuntansi Wakalah............................................................11

3.

SHARF...........................................................................................................12
3.1 Definisi dan Konsep Sharf....................................................................12
3.2 Sumber Hukum Sharf...........................................................................12
3.3 Rukun dan Syarat-Syarat Sharf...........................................................13
3.4 Jenis-Jenis Sharf....................................................................................14
3.5 Perlakuan Akuntansi Sharf..................................................................14

4.

ANALISIS SWOT.........................................................................................16

SUMBER REFERENSI.........................................................................................20

2

1. KAFALAH
1.1 Definisi dan Konsep Kafalah
Kafalah disebut juga dhaman (jaminan), hamalah (beban), dan za’amah
(tanggungan). Akad kafalah merupakan perjanjian pemberian jaminan yang
diberikan oleh penanggung (kafi’il) kepada pihak ketiga (makful lahu) untuk
memenuhi kewajiban pihak kedua atau pihak yang ditanggung (makful anhu
/ ashil).
Kafalah dapat bersifat segera, misalnya utang yang harus dilunasi atau
sesuatu di masa depan. Kafalah juga dapat bersyarat, misalnya pemberian
jaminan untuk memenuhi kewajiban pihak lain. Kafalah merupakan jenis
akad tabarru’ yang bertujuan untuk saling tolong menolong. Namun,
penjamin dapat menerima imbalan sepanjang hal itu tidak memberatkan.
Apabila terdapat imbalan, maka akad kafalah bersifat mengikat dan tidak
dapat dibatalkan secara sepihak.
Secara teknis, akad kafalah berupa perjanjian bahwa seseorang
memberikan penjaminan kepada seorang kreditor yang memberikan hutang
kepada seorang debitor, yaitu menjamin bahwa hutang debitor akan dilunasi
oleh penjamin apabila debitor tidak membayar hutangnya. Contoh akad
kafalah adalah garansi bank (bank guarantee), stand by Letter of Credit,
pembukaan L/C Impor, akseptasi, endorsment, dan lain sebagainya.
Berikut Skema Kafalah

3

1.2 Sumber Hukum Kafalah
Berikut ini sumber hukum kafalah :
Telah dihadapkan kepada Rasulullah (mayat seorang laki-laki untuk
dishalatkan)... Rasulullah bertanya “Apakah dia mempunyai warisan?”
Para sahabat menjawab “Tidak”, Rasulullah bertanya lagi, “Apakah
dia mempunyai utang?” Para sahabat menjawab “Ya, sejumlah tiga
dinar.”

Rasulullah

pun

menyuruh

para

sahabatnya

untuk

menshalatkannya (tetapi beliau sendiri tidak). Abu Qatadah lalu
berkata, “saya menjamin utangnya ya Rasulullah.” Maka Rasulullah
pun menshalatkan mayat tersebut. (HR. Bukhari)
1.3 Rukun dan Syarat-Syarat Kafalah
Rukun kafalah adalah sebagai berikut :
1. Penjamin (dhomin/kafiil), yaitu orang yang tidak cacat muamalahnya
secara hukum.
2. Barang yang dijamin atau utang (madhum), yaitu sesuatu yang boleh
diganti dengan sejenisnya secara hukum, dimana utang atau benda
selain uang yang merupakan harta. Jadi, tidak boleh nyawa atau
anggota badan yang dijamin.
3. Pihak yang dijamin (makful anhu), yaitu orang yang dituntut atau
yang memiliki hutang, baik masih hidup atau sudah meninggal.
4. Sighah akad, yaitu ijab dari penjamin atau ijab kabul dari akad
transaksi.
Syarat-syarat kafalah adalah sebagai berikut :
1. Pelaku akad, yang terdiri dari :
a. Pihak Penjamin (Kafiil):
 Baligh (dewasa) dan berakal sehat.
 Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan
hartanya dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.

4

b. Pihak Orang yang berhutang (Makful ‘anhu)
 Sanggup menyerahkan tanggungannya (utang)
 Dikenal oleh penjamin.
c. Pihak Orang yang Berpiutang (Makful Lahu)
 Diketahui identitasnya.
 Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa.
2. Obyek Penjaminan (Makful Bihi)
 Merupakan tanggungan pihak/orang yang berhutang, baik berupa
uang, benda, maupun pekerjaan.
 Bisa dilaksanakan oleh penjamin.
 Harus merupakan utang mengikat, yang tidak mungkin hapus
kecuali setelah dibayar atau dibebaskan.
 Harus jelas nilai, jumlah, dan spesifikasinya.
 Tidak bertentangan dengan syari’ah
3. Ijab kabul adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha atau rela di
antara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis,
melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi
modern.
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan berakhirnya suatu akad
kafalah, yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Ketika utang telah diselesaikan.
2. Kreditor melepaskan utangnya kepada orang yang berutang, tidak
pada penjamin, maka penjamin juga bebas untuk tidak menjamin
utang tersebut. Namun, jika kreditor melepaskan jaminan dari
penjamin, bukan berarti orang yang berutang telah terlepas dari
utang tersebut.
3. Ketika utang tersebut telah dialihkan (transfer utang/hawalah).
4. Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses
arbitrase dengan kreditor.

5

5. Kreditor dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak
menyetujuinya
1.4 Jenis-Jenis Kafalah
Dalam praktik perbankan, kafalah terbagi menjadi beberapa jenis yang
akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Kafalah bin Nafs. Jenis kafalah ini merupakan akad memberikan
jaminan atas diri, contohnya seorang nasabah mendapatkan
pembiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang
atau pemuka masyarakat. Hal ini membuat bank berharap bahwa
tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah
yang dibiayai mengalami kesulitan walaupun bank secara fisik tidak
memegang barang apapun.
2. Kafalah bil Maal merupakan jaminan pembayaran barang atau
pelunasan utang.
3. Kafalah bit Taslim. Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk
menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa
sewa berakhir. Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh
bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan
perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan pembayaran
bagi bank dapat berupa deposito atau tabungan dan bank dapat
membebankan uang jasa atau fee kepada nasabah.
4. Kafalah al Munazah adalah jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh
jangka waktu dan untuk kepentingan atau tujuan tertentu. Salah satu
bentuk kafalah al munazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk
Performance Bonds (jaminan prestasi), dimana hal ini sudah lazim di
kalangan perbankan dan sesuai dengan bentuk akad ini.
5. Kafalah

al

Muallaqah.

Bentuk

jaminan

ini

merupakan

penyederhanaan dari kafalah al munazah, baik oleh industri
perbankan maupun asuransi.

6

1.5 Perlakuan Akuntansi Kafalah
A. Bagi Pihak Penjamin
1. Pada saat menerima imbalan tunai (tidak berkaitan dengan
jangka waktu)
Keterangan

Debit (Rp)

Db. Kas

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Pendapatan Kafalah

xxx

2. Pada saat membayar beban
Keterangan

Debit (Rp)

Db. Beban Kafalah

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Kas

xxx

B. Bagi Pihak yang Meminta Jaminan
Pada saat membayar beban
Keterangan

Debit (Rp)

Db. Beban Kafalah

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Kas

xxx

2. WAKALAH
2.1 Definisi dan Konsep Wakalah
Menurut Fatwa DSN No. 10/DSN-MUI/II/2005, Wakalah adalah
pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang
boleh diwakilkan, seperti mewakilkan dalam pembelian barang, pengiriman
uang, pembayaran utang, penagihan utang, realisasi letter of credit, dan lain
sebagainya.

Wakalah

dapat

diartikan

juga

sebagai

penyerahan,

pendelegasian, atau pemberian mandat.
Wakalah dalam pendelegasian pembelian barang terjadi dalam situasi,
dimana seseorang (perekomendasi) mengajukan calon atau menunjuk orang
lain untuk mewakili dirinya membeli sesuatu. Orang yang meminta
diwakilkan (muwakkil) harus menyerahkan sejumlah uang secara penuh

7

sebesar harga barang yang akan dibeli kepada agen/pihak yang mewakili
(wakil) dalam suatu kontrak wadiah. Agen (wakil) membayar pihak ketiga
dengan menggunakan titipan muwakkil untuk membeli barang.
Agen (wakil) boleh menerima komisi (al-ujr) dan boleh untuk tidak
menerima komisi (hanya mengharap ridha Allah/tolong-menolong). Jika
terdapat komisi atau upah, maka akadnya seperti akad ijarah/sewa
menyewa. Wakalah dengan imbalan disebut wakalah bil ujrah, bersifat
mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak.
Implementasi Wakalah dalam Lembaga Keuangan Syariah :
1. Murabahah
2. Asuransi Syariah
3. Reksadana Syariah
4. L/C Impor dan Ekspor
5. Jasa pembayaran,dll
Berikut Skema Wakalah

8

2.2 Sumber Hukum Wakalah
Berikut ini sumber hukum wakalah :
“Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang
Anshar untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al Harits”.
HR. Malik dalam al-Muwaththa’)
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan
yang haram.” (HR Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf)
2.3 Rukun dan Syarat-Syarat Wakalah
Rukun wakalah adalah sebagai berikut:
1. Adanya pelaku akad, yaitu pemberi kuasa (muwakil) merupakan pihak
yang memberikan kuasa kepada orang lain dan penerima kuasa
(wakil) adalah pihak yang diberi kuasa untuk melakukan sesuatu.
2. Obyek akad, yaitu objek yang dikuasakan.
3. Ijab kabul, dimana pernyataan ijab kabul harus dinyatakan oleh para
pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan
kontrak.
Syarat wakalah adalah sebagai berikut :
1.

Pemilik dapat bertindak dari sesuatu yang diwakilkan

2.

Seorang wakil (penerima kuasa) harus berakal.

3.

Bagi pihak yang yang diwakilkan harus mengetahui siapa yang
mewakilkan.

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan berakhirnya suatu akad
wakalah, yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Salah seorang pelaku meninggal dunia atau hilang akal.
2. Pekerjaan yang diwakilkan sudah selesai.

9

3. Pemutusan oleh orang yang mewakilkan.
4. Wakil mengundurkan diri.
5. Orang yang mewakilkan sudah tidak memiliki status kepemilikan
atas sesuatu yang diwakilkan.
2.4 Jenis-Jenis Wakalah
Dilihat dari sisi khusus dan umumnya sesuatu yang diwakilkan,
wakalah dapat terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Wakalah Ammah (perwakilan umum), yaitu mewakilkan suatu
urusan secara umum, tanpa mengkhususkan suatu perkara atau
mengecualikan perkara lainnya. Perwakilan umum memiliki hak
atau kuasa untuk melakukan semua urusan, kecuali urusan yang
mendatangkan mudharat bagi muwakil.
2. Wakalah Khasah (perwakilan khusus), yaitu mewakilkan suatu
urusan secara khusus hanya pada urusan yang diwakilkan. Dalam
wakalah khasah, wakil tidak diperkenankan mengerjakan atau
melakukan sesuatu yang tidak diwakilkan kepadanya.
Dari sisi terikat atau tidak terikatnya objek yang diwakilkan, wakalah
dapat terbagi sebagai berikut :
1. Wakalah Mutlaqah, yaitu wakalah yang tidak terikat dengan ikatan
waktu (zaman), ikatan tempat, atau ikatan-ikatan yang lain.
2. Wakalah Muqayyadah, yaitu wakalah yang terikat dengan ikatan
waktu (zaman), ikatan tempat, atau ikatan-ikatan yang lain.
Dari sisi ada atau tidaknya kompensasi yang diberikan dari perwakilan
tersebut, wakalah dapat terbagi sebagai berikut :
1. Wakalah bil Ujrah, yaitu mewakilkan untuk mengerjakan sesuatu
dengan

memberikan

mengerjakannya.
melaksanakan

ujrah

Dalam
tugasnya

atau

upah

kepada

wakil

yang

wakalah

bil

ujrah,

wakil

harus

dengan

baik

dan

tidak

boleh

membatalkannya secara sepihak.

10

2. Wakalah bidunil Ujrah, yaitu mewakilkan untuk mengerjakan
sesuatu dengan sukarela tanpa memberikan ujrah atau upah tertentu
kepada wakil yang mengerjakannya. Dalam wakalah ini, wakil boleh
melepaskan diri dari tugasnya secara sepihak.
2.5 Perlakuan Akuntansi Wakalah
A. Bagi Pihak yang Mewakilkan/Wakil/Penerima Kuasa
1.

Pada saat menerima imbalan tunai (tidak berkaitan dengan
jangka waktu)
Keterangan
Db. Kas

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Pendapatan Wakalah
2.

xxx

Pada saat membayar beban
Keterangan
Db. Beban Wakalah

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Kas
3.

xxx

Pada saat diterima pendapatan untuk jangka waktu dua tahun
dimuka
Keterangan
Db. Kas

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Pend. Wakalah Diterima Dimuka

4.

xxx

Pada saat mengakui pendapatan wakalah di akhir periode
Keterangan
Db. Pend. Wakalah Diterima Dimuka

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Pendapatan Wakalah

xxx

11

B. Bagi Pihak yang Meminta Diwakilkan
Pada saat membayar ujr/komisi
Keterangan

Debit (Rp)

Db. Beban Wakalah

Kredit (Rp)

xxx

Kr. Kas

xxx

3. SHARF
3.1 Definisi dan Konsep Sharf

Sharf adalah transaksi jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya.
Transaksi jual beli atau pertukaran mata uang, dapat dilakukan baik dengan
mata uang yang sejenis maupun yang tidak sejenis.
Berikut Skema Sharf
3.2 Sumber Hukum Sharf
Berikut ini sumber hukum sharf :
“Janganlah engkau menjual emas dengan emas, kecuali seimbang, dan
jangan pula menjual perak dengan perak kecuali seimbang. Juallah
emas dengan perak atau perak dengan emas sesuka kalian.” (HR.
Bukhari).

12

3.3 Rukun dan Syarat-Syarat Sharf
Rukun sharf adalah sebagai berikut :
1. Penjual (Ba’i)
2. Pembeli (Musyari)
3. Objek Sharf (mata uang yang diperjual belikan). Objek sharf harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Nilai tukar atau kurs mata uang telah diketahui oleh kedua belah
pihak.
b. Valuta yang diperjualbelikan telah dikuasai, baik oleh pembeli
maupun penjual, sebelum keduanya berpisah.
c. Apabila mata uang atau valuta yang diperjualbelikan itu dari
jenis yang sama, maka jual beli mata uang itu harus dilakukan
dalam kuantitas yang sama, sekalipun model dari mata uang itu
berbeda.
d. Tidak boleh ada hak khiyar syarat bagi pembeli.
e. Tidak boleh terdapat tenggang waktu antara penyerahan mata
uang yang saling dipertukarkan, dilakukan secara tunai atau
dalam kurun waktu 2 X 24 jam
4. Nilai tukar (Si’rus Sharf)
5. Ijab Kabul
Syarat-syarat sharf sebagai berikut :
1. Serah terima sebelum iftirak (berpisah) adalah transaksi tukar
menukar dilakukan sebelum kedua belah pihak berpisah. Hal ini
berlaku pada penukaran mata uang yang berjenis sama maupun
berbeda. Oleh karena itu, kedua belah pihak harus melakukan serah
terima sebelum keduanya berpisah serta tidak boleh menunda
pembayaran. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, maka hukumnya
tidak sah.

13

2. Sama rata (Al-Tamaksul), yaitu pertukaran mata uang yang nilainya
harus sama rata, jika pertukaran mata uang memiliki nilai yang tidak
sama rata, maka hukumnya haram. Syarat ini berlaku untuk
pertukaran uang yang sejenis sedangkan pertukaran yang jenisnya
berbeda boleh untuk tidak sama rata.
3. Pembayaran harus dilakukan segera, tidak diperbolehkan untuk
menunda pembayaran, baik penundaan itu dari satu pihak atau dari
pihak lainnya.
3.4 Jenis-Jenis Sharf
Transaksi jual beli valuta atau sharf terbagi dalam beberapa jenis yang
dijelaskan sebagai berikut :
1. Transaksi Spot. Transaksi pembelian dan penjualan valas serta
penyerahannya pada saat itu atau penyelesaiannya maksimal dalam
jangka waktu dua hari. Transaksi ini dibolehkan secara syari’ah.
2. Transaksi Forward. Transaksi pembelian dan penjualan valas yang
nilainya ditetapkan sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang
akan datang. Jenis transaksi seperti ini tidak diperbolehkan dalam
syari’ah.
3. Transaksi Swap. Kontrak pembelian atau penjualan valas dengan
harga forward. Jenis transaksi seperti ini tidak diperbolehkan dalam
syari’ah.
4. Transaksi Option. Kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka
membeli (call option) atau hak untuk menjual (put option) yang
tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valas pada harga dan jangka
waktu atau tanggal tertentu. Hukumnya haram karena ada unsur judi.
3.5 Perlakuan Akuntansi Sharf
A. Saat Membeli Valuta Asing (Valas)
Keterangan
Db. Kas Valas
Kr. Kas Rupiah

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

xxx
xxx

14

B. Saat Menjual Valuta Asing (Valas)
Keterangan

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Db. Kas Rupiah

xxx

Db. Kerugian*

xxx

*

Kr. Keuntungan**

xxx

Kr. Kas Valas

xxx

Jika harga beli valas lebih besar daripada harga jual (HB > HJ)

** Jika harga beli valas lebih kecil daripada harga jual (HB < HJ)
C. Jurnal Penyesuaian
1.

Jika nilai kurs tengah BI lebih kecil dari nilai kurs tanggal transaksi
Keterangan
Db. Kerugian

Debit (Rp)
xxx

Kr. Piutang (Valas)
Db. Utang (Valas)

xxx
xxx

Kr. Keuntungan
2.

Kredit (Rp)

xxx

Jika nilai kurs tengah BI lebih besar dari nilai kurs tanggal
transaksi
Keterangan
Db. Piutang (Valas)

Debit (Rp)
xxx

Kr. Keuntungan
Db. Kerugian
Kr. Utang (Valas)

Kredit (Rp)
xxx

xxx
xxx

15

4.

ANALISIS SWOT
KAFALAH
Strength
o Salah satu fasilitas perbankan
syariah yang merupakan jaminan
dapat berupa jaminan diri maupun
barang untuk membebaskan
kewajiban yang ditanggung pihak
lain.
o Kafalah diadakan untuk
mendukung transaksi bisnis
karena dapat memberikan rasa
aman dan kondusif bagi
kelangsungan bisnis maupun
proyek yang sedang berjalan
sehingga dapat diselesaikan
sesuai dengan jadwal disepakati.
o Bagi pihak nasabah (yang
dijamin), kafalah yang diberikan
oleh bank, nasabah bisa
mendapatkan/mengerjakan
proyek dari pihak ketiga, karena
biasanya pemilik proyek
menentukan syarat tertentu dalam
mengerjakan proyek yang mereka
miliki.
o Pihak yang terjamin (pemilik
proyek), pemilik mendapat
jaminan bahwa proyek yang akan
dikerjakan oleh nasabah tadi akan
diselesaikan dengan jadwal yang
telah ditentukan, karena kafalah
merupakan pengambilalihan
risiko oleh bank apabila nasabah
cidera janji melaksanakan
kewajibannya.

Weakness
o Kurangnya penjelasan dan
promosi mengenai perbedaan
transaksi jaminan di perbankan
konvensional dan transaksi
kafalah dalam dunia perbankan
syariah sehingga masyarakat
mengganggap bahwa jaminan
dan akad kafalah adalah sama
sehingga masih belum banyak
yang belum mengerti akad
kafalah.
o Bank masih memungut biaya
sebagai ju’alah dan biaya
administrasi.
o Bank mensyaratkan nasabah
menempatkan sejumlah dana
untuk fasilitas sebagai jaminan.

16

Opportunity

Threat

o Merupakan salah satu jenis akad
tabarru’ yang bertujuan untuk
saling tolong menolong sehingga
nasabah dapat memanfaatkan
akad kafalah untuk beramal
karena memiliki tujuan yang baik.
o Masih diperlukan kajian yang
lebih dalam tentang kafalah
sehingga dapat meningkatkan
perkembangan ekonomi islam
dan dapat bersaing dengan
perbankan konvensional.
o Layanan kafalah yang dipakai
perbankan syariah di Indonesia
mempunyai license yang kuat
menurut syar’i.

Kafalah bersifat tidak mengikat,
sehingga peserta dapat mengakhiri
masa pertanggungannya kapan saja
selama dikehendaki dengan
persetujuan pihak ketiga yaitu
penerima jaminan, apabila keputusan
mengakhiri tersebut dilakukan secara
mendadak keputusan tersebut
tentunya akan merugikan salah satu
pihak dalam perikatan tersebut.

WAKALAH
Strength
 Akad wakalah dapat
dipergunakan untuk kegiatan
investasi untuk reksadana syariah,
antara pemodal dan manajer
investasi.
 Akad wakalah dalam perbankan
syariah biasanya digunakan
sebagai akad dalam menerbitkan
L/C Impor atau penerusan
permintaan barang dalam negeri
dari bank di luar negeri (L/C
Ekspor).
 Akad wakalah bersifat amanah
sehingga wakil tidak
menaanggung risiko terhadap
kerugian investasi dengan
mengurangi fee yang telah

Weakness
 Perusahaan asuransi yang
menggunakan akad wakalah
sebagai wakil tidak berhak
memperoleh bagian dari hasil
investasi.
 Wakil tidak boleh mewakilkan
kepada pihak lain atas kuasa
yang diterimanya, kecuali ijin
muwakkil.

17

diterima.
Opportunity

Threat

Setiap perusahaan di bidang lembaga
keuangan syariah baik dalam bentuk
perbankan ataupun non-bank bebas
menetapkan produk mereka dengan
ketentuan akad yang sesuai sehingga
lembaga
keuangan
khususnya
perbankan syariah memiliki peluang
yang besar dalam mengembangkan
akad wakalah ini.

Jika
manajer
investasi
tidak
melaksanakan amanat dari pemodal
sesuai mandata yang diberikan atau
manajer investasi dianggap lalai,
maka manajer investasi bertanggung
jawab atas risiko yang ditimbulkannya
ketika menggunakan akad wakalah.

SHARF
Strength

 Sharf adalah transaksi jual beli
atau pertukaran mata uang
sehingga dapat digunakan untuk
kebutuhan transaksi atau berjagajaga.
 Mendapatkan mata uang yang
diperlukan untuk bertransaksi.
 Sharf memiliki batasan-batasan
agama yang cukup jelas sehingga
dapat menjauhkan nasabah dari
transaksi pasar gelap dan
penyimpangan.

Opportunity
 Perbankan syariah harus
menysuun pedoman kerja
operasional bagi dirinya agar
mempunyai akses yang luas
dalam pasar valuta asing.

Weakness
 Sharf hanya memperbolehkan
transaksi spot saja karena
transaksi tunai dan ketiga
transaksi lainnya tidak
dibenarkan dalam sharf.
 Transaksi sharf memiliki
batasan-batasan yang terkadang
nasabah masih belum bisa
menerimanya karena adanya
pemikiran yang sama dengan
perbankan konvensional.
 Nilai kurs yang selalu berubah
setiap waktu dapat
mempengaruhi kerugian dan
keuntungan transaksi.
Threat
 Adanya risiko operasional yang
terkait dengan human error
ataupun fraud ketika
menggunakan akad sharf
sehingga membuat nasabah
merasa tidak aman menggunakan

18

akad sharf.

 Perbankan syariah dapat
mengembangkan produk islamic
swap antara lain hedging
sehingga dapat mendukung
perkembangan ekonomi dan
perbankan islam.

 Prinsip utama sharf digunakan
untuk berjaga-jaga atau transaksi
akan tetapi masih ada yang
memanfaatkan untuk spekulasi
sedangkan salam Islam tidak
diperbolehkan untuk melakukan
spekulasi.
 Adanya fluktuasi valas yang
cukup tinggi, sehingga harga atau
kurs yang ditetapkan menjadi
mahal untuk nasabah.

19

SUMBER REFERENSI
Rizal Yaya, Aji E. Martawireja dan Ahim Abdurahim (2014), Akuntansi
Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer Berdasarkan PAPSI
2013, Penerbit Salemba Empat

20

Judul: Akuntansi Perbankan Syariah - Akuntansi Jasa Perbankan Lainnya (i)

Oleh: Annisa Rizki


Ikuti kami