Akuntansi Pajak

Oleh Sie Aizen-comanderespada

23 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Pajak

AKUNTANSI
PAJAK

1

PENDAHULUAN
Dalam akuntansi PPh, laba dibedakan antara laba
akuntansi (accounting profit) atau laba komersial
dengan laba fiskal (taxable profit) atau penghasilan
kena pajak. Laba akuntansi adalah laba/rugi bersih
selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak yang
dihitung berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan lebih ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi,
sedangkan laba fiskal adalah laba/rugi selama satu
periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan
dan lebih ditujukan untuk menjadi dasar penghitungan PPh
(IAI, 2007)

2

Tahun 1998, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan 46 (PSAK 46) mengenai akuntansi PPh.
Penerapan PSAK 46 untuk memenuhi tuntutan
dalam memasuki era globalisasi agar laporan
keuangan yang disajikan perusahaan Indonesiayang
digunakan di dalam negeri maupun di luar negeri
dapat sejalan dengan perkembangan standar
internasional. PSAK 46 ini sejalan dengan SFAS 96
yang diterbitkan oleh FASB tahun 1987 dan SFAS
109 pada tahun 1992, yang mengatur perlakuan
akuntansi untuk PPh
3

BEDA WAKTU /SEMENTARA
Beda waktu artinya secara keseluruhan
beban atau pendapatan akuntansi maupun
perpajakan sebenarnya sama, tetapi hanya
berbeda alokasi setiap tahunnya. Beda
waktu dapat berasal dari perbedaan akrual
dan realisasi, penyusutan, amortisasi, dan
kompensasi kerugian fiskal antara
akuntansi dan perpajakn. Beda waktu akan
menimbulkan aset/kewajiban pajak
tangguhan, tetapi beda tetap tidak

4

BEBAN PAJAK TANGGUHAN DAN
PENDAPATAN PAJAK TANGGUHAN
Beban PPH Terdiri dari beban pajak kini
dan beban pajak tangguhan / pendapatan
pajak tangguhan. Pajak kini (current tax)
adalah jumlah PPh terutang atas
Penghasilan Kena Pajak pada satu periode.
Beban pajak tangguhan akan menimbulkan
kewajiban pajak tangguhan sedangkan
pendapatan pajak tangguhan menimbulkan
aset pajak tangguhan

5

ASET PAJAK TANGGUHAN
Aset pajak tangguhan (deferred tax asset)
timbul apabila beda waktu menyebabkan
terjadinya koreksi positif sehingga beban
pajak menurut akuntansi lebih kecil
daripada beban pajak menurut peraturan
perpajakan. Aset pajak tangguhan adalah
jumlah PPh terpulihkan pada periode
mendatang sebagai akibat adanya
perbedaan temporer yang boleh dikurangi
dan sisa kompensasi kerugian
6

KEWAJIBAN PAJAK TANGGUHAN
Kewajiban pajak tangguhan ( deferred tax
liabilities) timbul apabila beda waktu
menyebabkan terjadinya koreksi negatif
sehingga beban pajak menurut akuntansi
lebih besar daripada beban pajak menurut
peraturan perpajakan. Kewajiban pajak
tangguhan adalah jumlah PPh terutang
untuk periode mendatang sebagai akibat
adanya perbedaan temporer kena pajak.

7

PENCATATAN DAN PENYAJIAN
Pengakuan aset dan kewajiban pajak
tangguhan dilakukan terhadap rugi fiskal
yang masih dapat dikompensasikan dan
beda waktu antara laporan keuangan
komersial dengan laporan keuangan fiskal
yang dikenakan pajak, dikalikan dengan
tarif pajak yang berlaku. Dalam aplikasinya,
tarif maksimum PPH 30% (sebelum tahun
2009) dan 28% untuk tahun 2009
digunakan karena alasan kepastian.

8

Jurnal untuk mencatat timbulnya aset pajak
tangguhan yaitu :

Keterangan
Aset pajak tangguhan
Pendapatan Pajak tangguhan

Debit

Kredit

xxx
xxx

9

Sementara itu jurnal untuk mencatat timbulnya
kewajiban pajak tangguhan yaitu :

Keterangan
Beban pajak tangguhan
Kewajiban Pajak tangguhan

Debit

Kredit

Xxx
xxx

10

Penyajian pajak tangguhan :
1

Aset dan kewajiban pajak tangguhan harus
disajikan terpisah dari aset dan kewajiban
lainnya dalam neraca
2 Aset dan kewajiban pajak tangguhan harus
dibedakan dari aset pajak kini (prepaid tax)
dan kewajiban pajak kini (tax payable).
3 Aset atau kewajiban pajak tangguhan tidak
boleh disajikan sebagai aset atau kewajiban
lancar

11

Penyajian pajak tangguhan :
4 Aset pajak kini harus dikompensasikan (offset)
dengan Kewajiban pajak kini dan jumlah netonya
disajikan dalam neraca
5 Beban (Penghasilan) pajak yang berhubungan
dengan laba atau rugi dari aktivitas normal harus
disajikan terpisah tersendiri pada laporan
laba/rugi
6 Aset pajak tangguhan disajikan terpisah dengan
akun tagihan restitusi PPh dan kewajiban
tangguhan juga disajikan terpisah dengan utang
PPh 29
12

7 PPh Bersifat Final :
a Apabila nilai tercatat aset atau kewajiban yang
berhubungan dengan PPh final berbeda dari Dasar
Pengenaan Pajaknya, maka perbedaan tersebut tidak
boleh diakui sebagai aset atau kewajiban pajak
tangguhan.
b Atas penghasilan yang telah dikenakan PPh Final, maka
beban pajak diakui proporsional dengan jumlah
pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode
berjalan
c Selisih antara jumlah PPh final yang terutang dengan
jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada
perhitungan laba rugi diakui sebagai Pajak Dibayar Di
muka dan Utang Pajak.
d Akun PPh final dibayar di muka harus disajikan terpisah
dari PPh final yang masih harus dibayar
13

8 Perlakuan akuntansi untuk hal khusus :
a Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang
ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak harus
dibebankan sebagai pendapatan atau beban lain-lain
pada Laporan Laba/Rugi Periode Berjalan.
b Apabila diajukan keberatan dan / atau banding, maka
pembebanannya ditangguhkan.
c Apabila terdapat kesalahan mendasar, maka perlakuan
akuntansinya mengacu pada PSAK 25 tentang Laba atau
Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan
Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi

14

Penyajian dalam laporan keuangan
Laba sebelum PPh

xxx

PPh :
a Pajak Kini

xxx

b Pajak Tangguhan

xxx
xxx

Laba setelah PPh

xxx

15

Judul: Akuntansi Pajak

Oleh: Sie Aizen-comanderespada


Ikuti kami