Akuntansi Menengah

Oleh Richard Alianso

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Menengah

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB I
PENGANTAR

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu memahami
pelaporan keuangan. Secara spesifik, Anda diharapkan mampu memahami
neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus
kas, serta hubungan antarlaporan keuangan.

A. Informası Akuntansı
Akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan menyampaikan informasi
keuangan tentang entitas ekonomi kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan
terhadap keuangan entitas ekonomi tersebut. Akuntansi dibedakan menjadi akuntansi
keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan adalah menyiapkan
laporan keuangan perusahaan untuk digunakan terutama oleh pihak eksternal
(misalnya investor dan kreditor) untuk pengambilan keputusan ekonomi (investasi
dan kredit). Akuntansi manajemen adalah proses mengidentifikasi, mengukur,
menganalisa, dan menyampaikan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh
manajemen untuk merencana, mengendalikan, dan mengevaluasi operasi perusahaan.
Modul ini hanya membicarakan akuntansi keuangan.

B. Pelaporan Keuangan Versus Laporan Keuangan
Pelaporan keuangan berbeda dari laporan keuangan. Pelaporan keuangan meliputi
laporan keuangan, pengungkapan, informasi pelengkap, dan alat-alat pelaporan
keuangan lainnya seperti diskusi dan analisis manajemen dan surat kepada pemegang
saham. Jadi, laporan keuangan hanya salah satu komponen dari pelaporan keuangan.
Laporan keuangan itu sendiri terdiri atas neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan
modal, dan laporan arus (aliran) kas, serta catatan atas laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan, menurut IAI (2004) dalam "Kerangka Dasar Penyusunan
dan Penyajian Laporan Keuangan" adalah sebagai berikut : (a) menyajikan informasi
tentang posisi keuangan (aktiva, utang, dan modal pemilik) pada suatu saat tertentu;
Pusdiklat BPK RI

Hal. 1 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

(b) menyajikan informasi kinerja (prestasi) perusahaan; (c) menyajikan informasi
tentang perubahan posisi keuangan perusahaan; dan (d) mengungkapkan informasi
keuangan yang penting dan relevan dengan kebutuhan para pengguna laporan
keuangan.
Agar laporan keuangan dapat mencapai tujuan-tujuan di atas, laporan keuangan harus
memiliki karakteristik kualitatif pokok seperti: dapat dipahami, relevan, andal, dan
dapat dibandingkan. Informasi disebut relevan apabila ia berpautan dengan
keputusan yang akan diambil dan disajikan tepat waktu, yakni ketika keputusan akan
diambil. Informasi dianggap andal jika ia menyajikan informasi apa adanya.
Informasi dapat dibandingkan apabila ia dapat digunakan untuk membandingkan
kinerja suatu perusahaan dari periode ke periode atau antarperusahaan pada periode
yang sama. Informasi dapat dipahami apabila para pemakai memiliki pengetahuan
yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, dan berkehendak
untuk mempelajarinya dengan tekun. Akuntansi tidak menuntut semua orang untuk
memahami semua informasi yang disajikan oleh akuntansi.

C. Neraca
Neraca (disebut juga laporan posisi keuangan) menyajikan secara sistematis posisi
keuangan perusahaan pada suatu saat (tanggal) tertentu. Yang dimaksud posisi
keuangan adalah posisi aktiva (assets), kewajiban (liabilities), dan ekuitas atau
modal (equities) perusahaan. Aktiva adalah sumber-sumber ekonomik (economic
resources) yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan dan masih memberikan
kemanfaatan di masa yang akan datang sebagai akibat dari transaksi masa lampau.
Kewajiban merupakan pengorbanan-pengorbanan ekonomik (economic sacrifices)
untuk menyerahkan aktiva atau jasa kepada entitas lain di masa yang akan datang
sebagai akibat transaksi masa lalu. Ekuitas (modal atau aktiva neto) adalah hak
residu atas aktiva setelah dikurangi dengan kewajiban.

Klasifikasi Aktiva
Di neraca, aktiva dikelompokkan ke dalam aktiva lancar, investasi jangka panjang,
aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, dan aktiva lain-lain.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 2 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Aktiva Lancar meliputi kas dan sumber-sumber ekonomik lainnya yang dapat
dicairkan menjadi kas, dijual, atau dipakai habis dalam rentang waktu satu tahun
sejak tanggal neraca atau satu siklus kegiatan normal perusahaan, mana yang lebih
panjang. Termasuk dalam aktiva lancar, antara lain adalah kas dan setara kas,
piutang, dan Persediaan barang dagangan. Kas dan setara kas akan dibahas di Pokok
Bahasan II, piutang di Pokok Bahasan III, Persediaan di Pokok Bahasan IV, V, dan
VI.
Investasi Jangka Panjang merupakan penyertaan di perusahaan lain dalam jangka
panjang untuk memperoleh pendapatan tetap (berupa bunga), pendapatan tidak tetap
(berupa dividen), atau menguasai perusahaan lain. Investasi dalam sekuritas ekuitas
tersedia untuk dijual atau investasi dalam perusahaan anak merupakan contoh
investasi jangka panjang. Pokok Bahasan IX membahas investasi khusus untuk
investasi dalam sekuritas ekuitas.
Aktiva Tetap adalah sumber-sumber ekonomik yang memiliki wujud fisik,
digunakan secara aktif dalam kegiatan normal perusahaan, dan tidak dimaksudkan
untuk dijual kembali dalam rangka memperoleh pendapatan. Termasuk dalam aktiva
tetap, antara lain adalah tanah, gedung, dan peralatan. Aktiva tetap dibahas di Pokok
Bahasan VII dan VIII.
Aktiva Tidak Berwujud mencerminkan hak-hak istimewa atau kondisi dan posisi
yang menguntungkan perusahaan dalam mencapai pendapatan. Aktiva tersebut dapat
diperoleh dengan membeli dari pihak luar atau dengan mengembangkannya sendiri,
misalnya hak paten. Aktiva tidak berwujud dibahas di Pokok Bahasan X. Di pokok
bahasan tersebut dijelaskan pula aktiva sumber alam.
Aktiva Lain-lain adalah aktiva yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aktiva
lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap, dan aktiva tidak berwujud, serta aktiva
sumber alam. Misalnya gedung yang masih dalam proses konstruksi.

Klasifikasi Kewajiban
Di neraca, kewajiban dibedakan menjadi kewajiban lancar dan kewajiban jangka
panjang.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 3 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Kewajiban Lancar adalah kewajiban yang akan dilunasi dalam rentang waktu tidak
lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca dengan aktiva lancar atau dengan
menimbulkan kewajiban lancar lainnya. Termasuk dalam kewajiban lancar, antara
lain adalah utang usaha, utang wesel, dan utang pajak penghasilan (PPh) karyawan.
Kewajiban lancar dilaporkan di neraca dengan mengurutkan mana yang paling cepat
akan dilunasi. Kewajiban lancar dijelaskan di Pokok Bahasan XI.
Kewajiban Jangka Panjang adalah kewajiban yang pelunasannya atau jatuh
temponya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Apabila ada bagian kewajiban
jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun dan pelunasannya menggunakan
aktiva lancar atau menciptakan kewajiban lancar, maka ia dilaporkan dalam
kelompok kewajiban lancar. Termasuk dalam kewajiban jangka panjang, antara lain
adalah utang hipotik dan utang obligasi. Kewajiban jangka panjang dibahas di Pokok
Bahasan XII.

Klasifikasi Ekuitas
Pada perseroan terbatas, ekuitas atau modal pemegang saham terdiri atas modal
saham biasa, modal saham prioritas, agio modal saham biasa, agio modal saham
prioritas, dan laba ditahan. Modal pemegang saham dan laba ditahan dijelaskan di
Pokok Bahasan XIV.

Bentuk Neraca
Neraca dapat disusun dalam format laporan (report form) yang menyajikan pos-pos
aktiva (assets) di bagian atas laporan dan menyajikan pos-pos utang (liabilities) dan
ekuitas (equity) di bagian bawah laporan, dan dapat pula disusun dalam format akun
(account form) yang menyajikan pos-pos aktiva (assets) di sebelah kiri laporan dan
menyajikan pos-pos utang (liabilities) dan ekuitas (equity) di sebelah kanan laporan
seperti bentuk akun T (T account). Contohnya adalah sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 4 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Contoh Neraca Bentuk Laporan
PT. BINTANG KENCANA
Neraca
Per 31 Desember 2007
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas

Rp20.000.000

Piutang Usaha (nilai realisasi bersih)
Bahan Habis Pakai

70.000.000
185.000.000

Total Aktiva Lancar

Rp275.000.000

Investasi Jangka Panjang
Investasi pada Saham Biasa PT. Guruh (metode ekuitas)

Rp35.000.000

Aktiva Tetap
Tanah (harga perolehan)

Rp300.000.000

Gedung (nilai buku)

200.000.000

Peralatan (nilai buku)

100.000.000
Total Aktiva Tetap

Rp600.000.000

Aktiva Tidak Berwujud
Hak paten, merk dagang, dan lain-lain (nilai buku)

Rp110.000.000

Aktiva Lain-lain
Gedung dalam Konstruksi
Total Aktiva

190.000.000
Rp1.210.000.000
==============

KEWAJIBAN DAN MODAL PEMEGANG SAHAM
Kewajiban Lancar
Utang Wesel

Rp125.000.000

Utang Usaha

25.000.000

Utang Gaji dan Upah

60.000.000

Total Kewajiban Lancar

Rp210.000.000

Kewajiban jangka panjang
Utang Obligasi (12%, jatuh tempo 1 Januari 2015)

Rp300.000.000

Modal Pemegang Saham
Modal Saham Biasa

Rp250.000.000

Agio Modal Saham Biasa

125.000.000

Laba Ditahan

325.000.000
Total Modal Pemegang Saham

Total Kewajiban dan Modal Pemegang Saham

Rp700.000.000
Rp1.210.000.000
==============

Pusdiklat BPK RI

Hal. 5 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Contoh Neraca Bentuk Akun
PT. BINTANG KENCANA
Neraca
Per 31 Desember 2007
(Dalam Ribuan Rupiah)
AKTIVA

Rp

Aktiva Lancar

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Rp

Kewajiban Lancar

Kas

20.000

Utang Wesel

125.000

Piutang Usaha

70.000

Utang Usaha

25.000
60.000

Bahan Habis Pakai

185.000

Utang Gaji dan Upah

Total Aktiva Lancar

275.000

Total Kewajiban jangka

210.000

panjang
Investasi Jangka Panjang
Investasi pada Saham Biasa

Kewajiban jangka panjang
35.000

Aktiva Tetap

Utang Obligasi

300.000

Modal Pemegang Saham

Tanah

300.000

Modal Saham Biasa

250.000

Gedung

200.000

Agio Modal Saham Biasa

125.000

Peralatan

100.000

Laba Ditahan

325.000

Total Aktiva Tetap

600.000

Total Modal Pemegang Saham

700.000

Aktiva Tidak Berwujud
Hak paten, merk dagang, dll.

110.000

Aktiva Lain-lain
Gedung dalam Konstruksi
Total Aktiva

190.000
Rp1.210.000

Total Kewajiban dan Ekuitas

=========

Rp1.210.000
=========

D. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi1 menyajikan secara sistematis hasil usaha perusahaan dalam
rentang waktu tertentu. Unsur-unsur yang dilaporkan di laporan laba rugi adalah
pendapatan (revenues), biaya (expenses), untung (gains), dan rugi (losses).
Pendapatan adalah kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban atau kombinasi
keduanya sebagai akibat penyerahan produk perusahaan kepada para pelanggan.

1

Penyebutannya berbeda-beda, ada yang menyebut laporan laba rugi, laporan rugi-laba, dan ada pula
yang menyebutnya laporan laba sebagai padanan income statement.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 6 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Biaya merupakan kebalikan dari pendapatan, yakni penurunan aktiva atau kenaikan
kewajiban atau kombinasi keduanya sebagai akibat penyerahan produk perusahaan
kepada para pelanggan. Untung adalah kenaikan aktiva neto yang berasal dari
peristiwa insidental dan bukan dari penyerahan jasa kepada pelanggan. Misalnya,
untung pelepasan aktiva tetap. Rugi adalah penurunan aktiva neto yang berasal dari
peristiwa insidental dan bukan dari penyerahan jasa kepada pelanggan. Perhatikan
bahwa yang dijual dalam kasus ini adalah bukan jasa dan bukan pula barang
dagangan.

Bentuk Laporan Laba Rugi
Dalam melaporkan laba dari operasi yang masih berlanjut, laporan laba rugi ada yang
berbentuk single step yang menyajikan pos-pos pendapatan (revenues) diikuti dengan
pos-pos biaya (expenses), dan ada pula yang multiple step yang menyajikan
pendapatan dan biaya dari aktivitas operasi terlebih dahulu, diikuti pendapatan dan
biaya dari aktivitas nonoperasi. Berikut adalah contohnya.
Contoh Laporan Laba Rugi Single Step
PT. BINTANG KENCANA
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2007
Pendapatan
Pendapatan Jasa Angkutan

Rp370.000.000

Pendapatan Bunga

45.000.000

Untung Pelepasan Surat Berharga
Total Pendapatan

5.000.000
Rp420.000.000

Biaya-biaya
Biaya Operasi

180.000.000

Biaya Bunga

20.000.000

Rugi Pelepasan Peralatan Kantor

6.000.000

Total Biaya

Rp206.000.000

Laba Sebelum Pajak

Rp214.000.000

Pajak Penghasilan (10% x Rp 214.000.000)

(21.400.000)

Laba Bersih

Rp192.600.000
==============

Pusdiklat BPK RI

Hal. 7 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Contoh Laporan Laba Rugi Multiple Step
PT. BINTANG KENCANA
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2007
Pendapatan Operasi
Pendapatan Jasa Angkutan

Rp370.000.000

Biaya-biaya Operasi
Biaya Sewa Garasi

Rp35.000.000

Biaya Sewa Kantor

5.000.000

Biaya Gaji Sopir dan Kernet
Biaya Depresiasi Gedung dan Peralatan
Total Biaya-biaya Usaha
Laba Usaha

40.000.000
100.000.000
180.000.000
Rp190.000.000

Pendapatan Lain-lain dan Untung
Pendapatan Bunga

Rp45.000.000

Untung Pelepasan Surat Berharga
Total Pendapatan Lain-lain dan Untung

5.000.000
Rp50.000.000

Biaya Lain-lain dan Rugi
Biaya Bunga

Rp20.000.000

Rugi Pelepasan Peralatan Kantor

6.000.000

Total Biaya Lain-lain dan Rugi

Rp26.000.000

Laba (Rugi) di Luar Usaha

Rp24.000.000

Laba Sebelum Pajak

Rp214.000.000

Pajak Penghasilan 10% x Rp214.000
Laba Bersih

(21.400.000)
Rp192.600.000
=============

E. Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal menyajikan secara sistematis informasi mengenai
perubahan modal perusahaan akibat operasi perusahaan dan transaksi dengan pemilik
pada satu periode akuntansi tertentu. Dalam perseroan terbatas, laporan tersebut
dinamai laporan perubahan laba ditahan. Berikut contohnya:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 8 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

PT. BINTANG KENCANA
Laporan Perubahan Laba Ditahan
Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2007
Laba Ditahan, 1 Januari 2007

Rp282.400.000

Ditambah : Laba Bersih

192.600.000

Kenaikan Laba Ditahan

Rp475.000.000

Dikurangi : Pembagian Dividen

150.000.000

Laba Ditahan, 31 Desember 2007

Rp325.000.000
===============

F. Laporan Arus Kas
Laporan Arus (Aliran) Kas menyajikan secara sistematis informasi tentang
penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periode tertentu. Arus kas diklasifikasi
sebagai berikut. Arus kas dari dan untuk kegiatan operasi, arus kas dari dan untuk
kegiatan pendanaan, dan arus kas dari dan untuk kegiatan investasi.
Kegiatan Operasi meliputi transaksi-transaksi operasional perusahaan yang
berakibat pada kas, yang menjadi penentu laba rugi, misalnya penerimaan kas dari
penjualan jasa dan pembayaran kas kepada pemasok (karyawan).
Kegiatan Pendanaan (atau pembelanjaan) meliputi kegiatan dengan pemegang
saham dan kreditor yang berpengaruh pada kas, seperti penyetoran modal dan
pembagian dividen tunai, dan penarikan utang bank serta pelunasannya.
Kegiatan Investasi meliputi pembelian aktiva tetap untuk fasilitas produksi,
menjualnya kembali, memberi pinjaman uang serta penerimaan dari hasil tagihan
atas pinjaman tersebut. Contohnya sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 9 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

PT. BINTANG KENCANA
Laporan Arus Kas
Untuk Tahun yang Berakhir Pada 31 Desember 2007
Dari dan Untuk Kegiatan Operasi
Dari penjualan jasa kepada pelanggan

Rp300.000.000

Untuk membayar sewa garasi

(20.000.000)

Untuk membayar sewa kantor

(5.000.000

Untuk membayar gaji sopir dan kernet
Untuk membayar pajak penghasilan
Arus Kas Masuk dari Kegiatan Operasi

(40.000)
(21.400.000)
Rp213.600.000

Dari dan Untuk Kegiatan Investasi
Dari pendapatan bunga (investasi pada obligasi)

Rp45.000.000

Dari pelepasan sekuritas perdagangan

25.000.000

Dari pelepasan aktiva tetap

14.000.000

Arus Kas Masuk dari Kegiatan Investasi

Rp84.000.000

Dari dan Untuk Kegiatan Pendanaan
Untuk membayar bunga pinjaman
Untuk membayar dividen tunai
Arus Kas Keluar untuk Kegiatan Pendanaan
Arus Masuk Kas dari Operasi, Investasi, dan Pendanaan
Ditambah : Saldo kas awal tahun
Saldo kas akhir tahun

Rp(20.000.000)
(265.000.000)
Rp(285.000.000)
Rp12.600.000
7.400.000
Rp20.000.000
===============

G. Hubungan Antarlaporan
Berdasar karakteristik double-entry, terdapat hubungan antarlaporan keuangan. Laba
bersih sebagaimana dilaporkan di laporan laba rugi akan muncul di laporan laba
ditahan sebagai unsur penambah saldo awal laba ditahan. Setelah dikurangi
pembagian dividen, saldo akhir laba ditahan yang dilaporkan di laporan laba ditahan
akan muncul di neraca akhir. Jadi, terdapat hubungan antara neraca awal, laporan
laba rugi, laporan laba ditahan, dan neraca akhir. Selanjutnya, saldo kas awal yang
dilaporkan di neraca awal akan muncul di laporan arus kas sebagai penambah arus
masuk kas dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan. Setelah ditambah dengan

Pusdiklat BPK RI

Hal. 10 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

saldo kas awal ini, terhitunglah saldo kas akhir tahun yang dilaporkan di laporan arus
kas. Jumlah ini pula yang akan diletakkan di neraca akhir. Walhasil, terdapat
hubungan antarempat laporan keuangan berikut: neraca awal, laporan laba rugi,
laporan laba ditahan, laporan arus kas, dan neraca akhir.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 11 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB II
KAS DAN SETARA KAS

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan definisi
kas dan setara kas, menjelaskan pengendalian intern kas, menjelaskan
metode penyelenggaraan kas kecil, dan mampu menyusun rekonsiliasi bank,
serta menyajikan kas dan setara kas di neraca.

A. Defınisi Kas Dan Setara Kas
Kas, aktiva yang paling lancar, adalah alat pertukaran dan dasar pengukuran pos-pos
lainnya. Aktiva disebut kas jika ia dapat digunakan untuk membayar semua
kewajiban sekarang dan bebas dari ikatan-ikatan yang membatasi penggunaannya.
Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, dan simpanan di bank dalam bentuk
rekening giro. Setara kas adalah investasi yang sangat likuid yang jatuh temponya
sangat pendek (umumnya tidak lebih dari 3 bulan, paling lama 1 tahun atau 1 siklus
akuntansi normal perusahaan) dan harganya tidak terpengaruh oleh perubahan
tingkat bunga.
Beberapa pos berikut tidak termasuk kas : (1) uang tunai dan simpanan di bank yang
dibatasi penggunaannya untuk tujuan–tujuan khusus, misalnya untuk ekspansi pabrik
dan pelunasan kewajiban jangka panjang, (2) cek mundur (post–dated check), (3) cek
kosong (non–sufficient fund check), dan (4) perangko dan meterai.

B. Pengendalian Intern Kas
Kas merupakan aktiva yang menjadi awal dan akhir dari siklus operasi perusahaan.
Kas yang berupa uang tunai memiliki tiga sifat berikut: (1) mudah ditukarkan
menjadi aktiva nonkas, (2) mudah digelapkan, dan (3) tidak ada identitas
kepemilikannya. Tiga sifat ini menyebabkan setiap orang tertarik untuk melakukan
penggelapan jika ada kesempatan. Oleh karena itu, pengendalian intern harus
dibangun secara memadai untuk mengamankan kas.
Prinsip–prinsip pengendalian intern kas antara lain sebagai berikut:
Pusdiklat BPK RI

Hal. 12 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

1. Pemisahan tugas antara fungsi penerimaan dan pengeluaran kas dengan fungs
penyimpanan dan persetujuan pengeluaran kas.
2. Penyetoran semua penerimaan kas dengan segera ke rekening giro bank.
3. Pemeriksaan mendadak atas catatan dan fisik kas.
4. Penggunaan cek untuk semua pengeluaran kas, kecuali pengeluaran kecil yang
cukup dilakukan dari dana kas kecil (petty cash fund).

C. Kas Kecil
Dana kas kecil (petty cash fund) dibentuk untuk memenuhi pembayaran dengan
jumlah yang relatif kecil, sehingga menjadi tidak praktis bila dilakukan dengan
menggunakan cek, misalnya untuk membeli makanan dan minuman harian, untuk
membeli perangko dan materai, untuk membayar biaya langganan koran dan
majalah,

dan

lain-lain.

Terdapat

dua

sistem/metode

akuntansi

untuk

menyelenggarakan dana kas kecil, yaitu sistem dana tetap atau sering disebut juga
sistem impres (imprest system) dan sistem dana berfluktuasi (fluctuating system).
Jurnal-jurnal pencatatan yang diselenggarakan dalam sistem dana tetap adalah ketika
dana kas kecil dibentuk dan ketika dana kas kecil dilakukan pengisian kembali
(reimbursement atau replenishment). Dalam sistem dana berfluktuasi, jurnal-jurnal
pencatatan dilakukan ketika dana kas kecil dibentuk, ketika dana kas kecil
dikeluarkan, dan ketika dilakukan pengisian kembali.
Sebagai contoh, misalnya pada 30 November 2007 PT. TIARA ADI membentuk
dana kas kecil sebesar Rp1.500.000 yang akan digunakan untuk melakukan
pembayaran-pembayaran yang jumlahnya relatif kecil, dimana pengisian kembali
dana kas kecil dilakukan setiap akhir bulan. Berikut adalah transaksi berkaitan
dengan kas kecil selama bulan Desember 2007:
Des.
5

: Dibayar kuitansi langganan koran dan majalah

Rp450.000

16

: Dibeli materai dan perangko

200.000

27

: Dibeli makanan kecil dan minuman

750.000

31

: Dikeluarkan cek untuk mengisi kembali dana kas klecil

Pusdiklat BPK RI

1.400.000

Hal. 13 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sistem Dana Tetap
Membentuk Dana Kas Kecil
Jurnal untuk mencatat pembentukan dana kas kecil adalah sebagai berikut.
Nov.

30 Dana Kas Kecil
Kas di Bank

1.500.000

-

-

1.500.000

(mencatat pembentukan dana kas kecil)

Menggunakan Dana Kas Kecil
Setiap mengeluarkan kas kecil—pada tanggal 5, 16, dan 27—tidak perlu dicatat
dalam jurnal, melainkan semua bukti transaksi pengeluaran yang dilakukan disimpan
dengan rapi.

Mengisi Kembali Dana Kas Kecil
Pengisian kembali pada tanggal 31 Desember dicatat dengan jurnal sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Langganan Koran dan Majalah

450.000

-

Biaya Bahan Habis Pakai

200.000

-

Biaya Makanan Kecil dan Minuman

750.000

-

-

1.400.000

Kas di Bank
(mencatat pengisian kembali kas kecil)

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa akun Dana Kas Kecil tidak pernah dikredit. Jadi,
saldonya selalu tetap sebesar Rp 1.500.000. Penggunaan sistem ini mengharuskan
pengisian kembali secara berkala, misalnya pada setiap tanggal tertentu pada setiap
bulan. Tujuan pengisian kembali ini adalah untuk mengakui biaya yang telah dibayar
sejak pengisian sebelumnya.

Penyesuaian
Jika sistem dana tetap digunakan tetapi tidak dilakukan pengisian kembali pada akhir
periode, maka perlu dibuat jurnal penyesuaian. Jurnal penyesuaiannya adalah untuk

Pusdiklat BPK RI

Hal. 14 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

mengakui biaya sejak pengisian sebelumnya sampai akhir periode. Misalnya pada
contoh di atas pada tanggal 31 Desember tidak dilakukan pengisian kembali dan
perusahaan menyusun laporan keuangan pada setiap tanggal 31 Desember, maka
jurnal penyesuaiannya sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Langganan Koran dan Majalah

450.000

-

Biaya Bahan Habis Pakai

200.000

-

Biaya Makanan Kecil dan Minuman

750.000

-

-

1.400.000

Dana Kas Kecil
(mencatat jurnal penyesuaian)

Dengan jurnal penyesuaian di atas, maka dana kas kecil menjadi Rp50.000 (=
Rp1.500.000 – Rp1.450.000). Jumlah inilah yang akan dilaporkan di neraca per 31
Desember.

Jurnal Pembalikan
Jurnal penyesuaian di atas dibalik pada hari kerja pertama tahun 2008 sebagai
berikut:
Jan.

1 Dana Kas Kecil

1.400.000

-

Biaya Langganan Koran dan Majalah

-

450.000

Biaya Bahan Habis Pakai

-

200.000

Biaya Makanan Kecil dan Minuman

-

750.000

(mencatat jurnal pembalikan)

Jurnal pengisian kembali dilakukan sebagaimana telah dijelaskan dengan
memperhitungkan seluruh pengeluaran sejak 1 Desember 2007 sampai 1 Januari
2008.

Sistem Dana Berfluktuasi
Membentuk Dana Kas Kecil
Jurnal untuk mencatat pembentukan dana kas kecil adalah sebagai berikut:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 15 dari 163

Akuntansi Menengah

Nov.

30 Dana Kas Kecil
Kas di Bank

Buku Peserta

1.500.000

-

-

1.500.000

(mencatat pembentukan dana kas kecil)

Menggunakan Dana Kas Kecil
Setiap mengeluarkan kas kecil dicatat dalam jurnal dengan mendebit biaya dan
mengkredit dana kas kecil. Jurnal-jurnal pada contoh di atas adalah sebagai berikut:
Des.

5 Biaya Langganan Koran dan Majalah
Dana Kas Kecil

450.000

-

-

450.000

200.000

-

-

200.000

750.000

-

-

750.000

(mencatat pengeluaran dana kas kecil)
16 Biaya Bahan Habis Pakai
Dana Kas Kecil
(mencatat pengeluaran dana kas kecil)
31 Biaya Makanan Kecil dan Minuman
Dana Kas Kecil
(mencatat pengeluaran dana kas kecil)

Mengisi Kembali Dana Kas Kecil
Pengisian kembali pada tanggal 31 Desember dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Des.

31 Dana Kas Kecil
Kas di Bank
(mencatat pembentukan dana kas kecil)

1.400.000

-

-

1.400.000
-

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa akun Dana Kas Kecil dikredit setiap terjadi
pengeluaran sehingga saldonya dari hari ke hari selalu berfluktuasi. Saldonya akan
seperti semula setelah terjadi pengisian kembali. Penggunaan sistem ini tidak
memerlukan pembuatan jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku karena saldo kas
kecil dapat ditunjukkan oleh saldo akun Dana Kas Kecil di setiap hari kerja karena
sifatnya yang berfluktuasi.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 16 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

D. Rekonsiliasi Bank
Untuk memenuhi pengendalian intern kas yang memadai, perusahaan membuka
rekening giro di bank. Dengan demikian terjadi dua catatan kas yang independen.
Pertama, catatan kas menurut pembukuan perusahaan. Kedua, catatan kas menurut
bank. Dalam hal ini pada setiap akhir bulan bank akan mengirim laporan bank atau
sering disebut rekening koran kepada perusahaan, yang berisi saldo kas pada awal
bulan, penerimaan setoran yang dilakukan perusahaan selama sebulan, penarikan cek
yang dilakukan perusahaan selama sebulan dan saldo kas pada akhir bulan yang
bersangkutan. Oleh karena mencatat pos yang sama, maka saldo kas akhir bulan
menurut pembukuan perusahaan dan menurut laporan bank seharusnya sama besar.
Namun dalam kenyataannya dapat berbeda, sehingga perlu dilakukan rekonsiliasi.
Pada dasarnya, penyebab perbedaan terdiri atas dua jenis. Pertama, perbedaan
waktu mencatat antara perusahaan dan bank. Perbedaan waktu mencatat antara lain
sebagai berikut :
1.

Setoran dalam perjalanan (deposit in transit), yakni setoran perusahaan yang
belum diterima oleh bank, misalnya setoran akhir bulan. Dalam laporan
rekonsiliasi bank, setoran ini menambah saldo kas menurut laporan bank.

2.

Cek yang masih beredar (outstanding checks), yakni cek yang sudah
dikeluarkan oleh perusahaan tetapi belum diuangkan oleh bank, misalnya karena
penerima cek belum menguangkannya ke bank. Dalam laporan rekonsiliasi
bank, cek ini mengurangi saldo kas menurut laporan bank.

3.

Penerimaan telah dicatat oleh bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Misalnya jasa giro bank. Dalam laporan rekonsiliasi bank, penerimaan ini
diperlakukan sebagai penambah saldo kas menurut pembukuan perusahaan.

4.

Pengeluaran telah dicatat oleh bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan,
misalnya biaya bank

dan cek kosong (non–sufficient fund check). Dalam

laporan rekonsiliasi bank, pengeluaran dan cek kosong ini diperlakukan sebagai
pengurang saldo kas menurut pembukuan perusahaan.

Kedua, akibat kesalahan, yang dapat terjadi di catatan perusahaan atau bank saja dan
dapat pula terjadi di kedua catatan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 17 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Juni 2007, PT. BIMA SAKTI menerima
laporan bank yang menunjukkan saldo giro perusahaan per 31 Mei 2007 sebesar
Rp4.800.000, sedangkan menurut pembukuan perusahaan Rp5.000.000. Setelah
dilakukan prosedur rekonsiliasi, diketahui bahwa perbedaan saldo di atas disebabkan
oleh hal–hal sebagai berikut.
1. Setoran dalam perjalanan Rp600.000.
2. Cek yang masih beredar Rp150.000.
3. Jasa giro bank dan biaya bank bulan Mei berturut-turut adalah Rp50.000 dan
Rp30.000.
4. Cek yang diterima dari perusahaan lain sebesar Rp270.000 dinyatakan oleh bank
sebagai cek kosong atau tidak ada dananya.
5. Bank berhasil menagihkan wesel nominal Rp520.000. Biaya tagih yang
dibebankan ke perusahaan adalah Rp20.000. Jadi, bersihnya Rp500.000.
6. Bank melaporkan setoran sebesar Rp300.000 yang tidak pernah dilakukan oleh
perusahaan (kemungkinan setoran dari perusahaan lain yang salah dilaporkan
oleh bank).
7. Penerimaan cek dari PT. PRADHIPTA sebesar Rp 550.000 dicatat sebesar
Rp850.000 (terlalu besar) dalam pembukuan perusahaan.

Dari data di atas, maka laporan rekonsiliasi bank tampak sebagai berikut :

Saldo kas per perusahaan
Ditambah :
Penagihan wesel oleh
bank
Jasa giro bank
Dikurangi :
Cek kosong
Biaya bank
Kesalahan mencatat
penerimaan
Saldo kas yang benar

Pusdiklat BPK RI

PT. BIMA SAKTI
Rekonsiliasi Bank
Per 31 Mei 2007
Rp5.000.000 Saldo kas per bank
Ditambah :
Setoran dalam perjalanan
500.000
50.000
Rp5.550.000
Dikurangi :
(270.000) Cek masih beredar
(30.000) Kesalahan melaporkan
setoran perusahaan lain
(300.000)
Rp4.950.000 Saldo kas yang benar
===========

Rp4.800.000
600.000
Rp5.400.000

(150.000)
(300.000)
Rp4.950.000
===========

Hal. 18 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jurnal Penyesuaian Berdasar Rekonsiliasi Bank
Menurut rekonsiliasi bank di atas, saldo kas menurut perusahaan yang benar adalah
Rp 5.250.000 padahal menurut saldo perusahaan sebelum rekonsiliasi adalah
Rp5.000.000. Untuk membetulkan saldo akun Kas di Bank dalam buku besar PT.
BIMA SAKTI, maka diperlukan jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Mei

31 Kas di Bank
Biaya Penagihan
Piutang wesel

500.000

-

20.000

-

-

520.000

50.000

-

-

50.000

270.000

-

-

270.000

300.000

-

-

300.000

(mencatat penagihan piutang wesel oleh bank)
Kas di Bank
Pendapatan Jasa giro
(mencatat pendapatan jasa giro bank)
Piutang Dagang
Kas di Bank
(mencatat cek kosong yang dikembalikan
bank)
Piutang Dagang
Kas di Bank
(mencatat kesalahan pencatatan penerimaan)

Perhatikanlah bahwa pos-pos yang perlu dijurnal adalah pos-pos penambah dan
pengurang saldo kas menurut pembukuan perusahaan sebagaimana tertera dalam
rekonsiliasi bank di kolom sebelah kiri. Pos-pos penambah dan pengurang saldo kas
menurut laporan bank sebagaimana tertera di kolom sebelah kanan, tidak menjadi
dasar penjurnalan pada pembukuan perusahaan. Setelah jurnal penyesuaian di atas
diposting, maka saldo akun Kas di Bank akan tampak sebagai berikut.
Kas di Bank
Mei 31

Mei 31
Saldo sebelum penyesuaian

Penyesuaian (cek kosong)

5.000.000.

270.000

Penyesuaian (wesel)

Penyesuaian (biaya bank)

500.000

30.000

Penyesuaian (jasa giro)

Penyesuaian (salah catat penerimaan)

50.000

300.000

5.550.000

600.000

Saldo setelah penyesuaian

Pusdiklat BPK RI

4.950.000

Hal. 19 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

E. Penyajian Kas Dan Setara Kas
Kas dan setara kas disajikan paling atas dalam kelompok aktiva lancar karena
sifatnya yang terlikuid di antara aktiva-aktiva lancar lainnya. Kas dinilai sebesar nilai
nominal uang (kertas dan logam) ditambah nilai nominal cek perusahaan lain yang
menjadi hak perusahaan, dan saldo rekening giro pada tanggal neraca, serta jumlah
tertentu yang sudah diketahui untuk setara kas .
Bagaimana dengan dana kas kecil? Dana kas kecil merupakan kas yang disisihkan
untuk tujuan tertentu sehingga dilaporkan terpisah dari kas dan setara kas kecuali jika
jumlahnya dipandang tak material. Kas kecil yang disajikan adalah jumlah
sesungguhnya dari dana kas kecil yang terdapat dalam brankas atau laci dana kas
kecil.
Jika terdapat saldo negatif pada rekening giro, maka ia disajikan sebagai kewajiban
lancar. Namun, jika rekening giro lainnya dalam bank yang sama mempunyai saldo
positif yang dapat menutup atau mengkompensasinya, maka saldo negatif dapat
digabungkan.

F. Latihan Soal
Soal Latihan 1:
PT. FAJAR MULYA pada 31 Oktober 2007 membentuk dana kas kecil sebesar
Rp2.500.000 dan akan dilakukan pengisian kembali pada akhir bulan. Berikut
pengeluaran yang terjadi dari dana kas kecil selama November:
Nov. 2 : Biaya makanan dan minuman Rp300.000
15 : Biaya perjalanan dinas Rp400.000
20 : Pembelian perangko dan materai Rp150.000
24 : Biaya langganan koran dan majalah Rp500.000
27 : Pembelian bensin mobil dinas Rp225.000
30 : Pengisian kembali dana kas kecil

Buatlah jurnal pencatatan transaksi kas kecil di atas, dari pembentukan dana kas kecil
sampai pengisian kembali, apabila pencatatannya menggunakan sistem :
Pusdiklat BPK RI

Hal. 20 dari 163

Akuntansi Menengah

1.

Sistem Dana Berfluktuasi

2.

Sistem Dana Tetap

Buku Peserta

Soal Latihan 2 :
Pada 1 Pebruari 2008 PT. NIKISAE menerima laporan bank yang menunjukkan
saldo giro perusahaan per 31 Januari 2008 sebesar Rp11.520.000, sedangkan
menurut pembukuan perusahaan Rp14.742.000. Setelah dilakukan prosedur
rekonsiliasi, diketahui penyebab perbedaan saldo tersebut adalah:
a) Pada laporan bank tercantum pendapatan jasa giro bank dan biaya bank masingmasing Rp280.000 dan Rp52.000.
b) Penerimaan kas bulan pada 31 Januari sebesar Rp7.200.000 yang telah dicatat
dalam pembukuan perusahaan belum tampak pada laporan bank (setoran dalam
perjalanan).
c) Cek dari PT. MAJU sebesar Rp5.470.000 yang disetorkan ke bank pada 18
Januari telah salah dicantumkan pada laporan bank sebesar Rp4.570.000.
d) Cek dari Tn. Ali sebesar Rp3.500.000 ditolak bank karena tidak ada dananya
(kosong).
e) Penerimaan kas sebesar Rp6.750.000 telah salah dicatat dalam pembukuan
perusahaan sebesar Rp7.650.000.
f) Pada laporan bank tercantum adanya hasil penagihan piutang wesel sebesar
Rp5.000.000 dan pendapatan bunga Rp300.000.
g) Cek yang ditarik/dikeluarkan oleh perusahaan sebesar Rp6.150.000 belum
tampak pada laporan bank (cek yang masih beredar).
h) Pada laporan bank tercantum penarikan cek sebesar Rp2.400.000 yang tidak
pernah dilakukan oleh perusahaan (penarikan cek oleh perusahaan lain).
Berdasarkan data di atas, buatlah Rekonsiliasi Bank per 31 Januari 2008 dan jurnal
penyesuaian yang diperlukan oleh PT. NIKISAE !

Pusdiklat BPK RI

Hal. 21 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB III
PIUTANG

Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan
definisi piutang, membedakan antara piutang usaha dan piutang nonusaha, membedakan antara pendekatan laba rugi dan pendekatan neraca
dalam menaksir biaya atau rugi piutang tak tertagih, perhitungan bunga
dan wesel, dan menyajikan piutang di neraca.

A. Piutang Usaha
Definisi Piutang
Piutang adalah klaim perusahaan kepada pihak lain yang diharapkan akan diterima
dalam bentuk kas. Piutang diklasifikasikan ke dalam piutang dagang (usaha), piutang
wesel, dan piutang lain-lain. Piutang usaha adalah tagihan kepada pelanggan yang
berasal dari penjualan barang dagangan dan jasa secara kredit dan tidak disertai
instrumen kredit secara formal. Jika piutang disertai dengan instrumen kredit secara
formal berupa promes, wesel, ataupun aksep, maka piutang disebut piutang wesel.
Dalam promes/wesel/aksep, debitor menyatakan bahwa akan membayar utangnya
pada tanggal tertentu di masa mendatang tanpa syarat. Piutang lain-lain meliputi
piutang nondagang seperti pinjaman kepada para pejabat perusahaan, piutang kepada
pegawai/karyawan, dan piutang restitusi pajak.

Pengakuan Piutang Dagang
Piutang dagang diakui ketika terjadi penjualan kredit atas barang/jasa perusahaan.
Sebagai contoh, misalnya PT. ANEKA KARYA pada 16 Mei 2007 menjual barang
dagangan secara kredit dengan harga Rp10.000.000. Syarat kredit 1/10, n/30.
Artinya, pelanggan diberi potongan 1% jika ia membayar dalam waktu 10 hari dan
batas pembayaran adalah 30 hari sejak tanggal transaksi. Anggaplah pelanggan
membayar pada 25 Mei 2007 sehingga ia diberi potongan Rp100.000. Dengan
demikian jumlah yang harus dibayarnya adalah Rp990.000. Jurnal untuk mengakui

Pusdiklat BPK RI

Hal. 22 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

(1) pendapatan dan piutangnya, dan (2) penerimaan kas adalah sebagai berikut.
Mei

16 Piutang Dagang

10.000.000

-

-

10.000.000

9.900.000

-

100.000

-

-

10.000.000

Penjualan
(mencatat penjualan kredit)
25 Kas
Potongan Penjualan
Piutang Dagang
(mencatat
potongan)

penagihan

piutang

dengan

Jika pembayaran oleh debitor dilakukan di luar periode potongan, misalnya 31 Mei
2007, maka debitor harus membayar harga barang tanpa potongan, yakni
Rp10.000.000. Jurnal untuk mencatat penerimaan kas tanpa potongan ini adalah
sebagai berikut.
Mei

31 Kas

10.000.000

-

-

10.000.000

Piutang Dagang
(mencatat penagihan piutang tanpa potongan)

Retur Penjualan
Perusahaan boleh jadi menerima kembali barang dagangan yang telah dibeli oleh
pelanggan, dikarenakan barang tersebut cacat, tidak sesuai pesanan atau karena sebab
lain. Ini dicatat sebagai retur penjualan. Jika dahulu penjualannya dilakukan dengan
syarat kredit, maka pengembalian barang ini mengurangi piutang dagang. Sebagai
contoh, misalnya pada 10 September 2007, PT. ANEKA KARYA menerima
kembali barang dagangan yang telah dijual secara kredit sepekan sebelumnya. Harga
jual barang yang dikembalikan tersebut menurut faktur adalah Rp500.000 dan
sampai tanggal pengembalian belum ada pembayaran atas harga tersebut.
Penerimaan kembali barang dagangan ini dicatat sebagai berikut :
Sep.

10 Retur Penjualan
Piutang Dagang

500.000

-

-

500.000

(mencatat retur penjualan dari penjualan
kredit)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 23 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Taksiran Piutang Tidak Tertagih
Perusahaan yang menjual barang/jasanya secara kredit menghadapi risiko tidak dapat
menagih piutang. Risiko itu wajar sehingga rugi yang mungkin timbul dari adanya
piutang tidak tertagih diakui sebagai biaya operasional. Akuntansi menggunakan
metode Cadangan (Allowance) untuk mengakui kerugian piutang, yakni mengakui
biaya piutang tidak tertagih pada periode penjualan. Caranya adalah menaksir jumlah
piutang akhir tahun yang mungkin tak dapat ditagih dan mengakuinya melalui jurnal
penyesuaian. Jika di tahun berikutnya terdapat piutang yang benar-benar tidak dapat
ditagih, maka piutang tersebut dihapuskan.
Sebagai contoh, misalnya PT. RAGAM NIAGA selama tahun 2006 menjual barang
dagangan secara kredit Rp100.000.000. Dari jumlah ini, Rp10.000.000 masih berupa
piutang pada akhir tahun 2006. Jika ditaksir Rp500.000 dari piutang akhir tahun ini
tidak akan bisa ditagih, maka jurnal penyesuaian untuk pengakuan biaya piutang
tidak tertagih adalah sebagai berikut.
Des. 31

Biaya Piutang Tidak Tertagih
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

500.000

-

-

500.000

(mencatat cadangan piutang tidak tertagih)

Penghapusan Piutang
Apabila taksiran kerugian piutang benar-benar terjadi pada periode setelah tahun
penjualan, maka dilakukan penghapusan piutang. Adalah manajemen yang
mengambil keputusan penghapusan tersebut. Penghapusan piutang dicatat dengan
mendebit Cadangan Piutang Tidak Tertagih dan mengkredit Piutang Dagang.
Sebagai contoh, misalnya pada 1 Februari 2007, manajemen PT. RAGAM NIAGA
menghapus piutang kepada PT. ABADI JAYA Rp250.000. Jurnal untuk mencatat
penghapusan ini adalah:
Feb.

1 Cadangan Piutang Tidak Tertagih
Piutang Dagang

250.000

-

-

250.000

(mencatat penghapusan piutang tidak tertagih)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 24 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Penerimaan dari Piutang yang Telah Dihapus
Adalah mungkin debitor yang utangnya telah dihapuskan oleh perusahaan datang ke
perusahaan dan membayar. Hal ini dimungkinkan karena perusahaan tidak memberi
tahu bahwa tagihan kepada debitor tersebut telah dihapuskan. Kejadian seperti ini
dicatat oleh perusahaan dengan dua jurnal, yakni jurnal untuk mencatat kesanggupan
debitor untuk membayar utangnya dan jurnal untuk mencatat penerimaan kas.
Sebagai contoh, misalnya pada 1 September 2007 PT. ABADI JAYA melunasi
seluruh utangnya yang telah dihapuskan oleh PT. RAGAM NIAGA. Jurnal yang
dibuat oleh PT. RAGAM NIAGA adalah sebagai berikut :
Sep.

1 Piutang Dagang
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

250.000

-

-

250.000

250.000

-

-

250.000

(mencatat timbulnya kembali piutang)
Kas
Piutang Dagang
(mencatat penerimaan kas)

Dua jurnal di atas sebenarnya dapat digabung menjadi satu jurnal sebagai berikut :
Sep.

1 Kas
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

250.000

-

-

250.000

Penentuan Biaya Piutang Tidak Tertagih
Penentuan jumlah atau pengukuran biaya piutang tidak tertagih tergantung pada
pendekatan yang digunakan. Terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan neraca dan
pendekatan laba rugi.
Pendekatan Neraca
Pada pendekatan neraca, ditentukan lebih dahulu berapa jumlah piutang akhir tahun
yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Untuk memperkirakan ini, dapat dibuat
analisis umur piutang dan ditaksir bahwa piutang yang sudah menunggak relatif
lama, taksiran persentase tidak tertagihnya relatif lebih besar. Jumlah tersebut
merupakan saldo seharusnya akun Cadangan Piutang Tidak Tertagih pada akhir
periode. Penentuan biaya piutang tidak tertagih tergantung pada saldo akun cadangan
sebelum penyesuaian.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 25 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2007 saldo sebelum penyesuaian akun
Piutang Usaha adalah Rp5.000.000 debit dan akun Cadangan Piutang Tidak Tertagih
Rp100.000 kredit. Jika dari piutang usaha akhir tahun tersebut ditaksir 3% tidak
dapat ditagih, maka akun Cadangan Piutang Tidak Tertagih akhir tahun yang
seharusnya adalah Rp150.000 (3% x Rp5.000.000). Oleh karena akun tersebut
sebelum penyesuaian adalah Rp100.000, maka akun tersebut harus disesuaikan
dengan mengkreditnya sebesar Rp50.000 dan mendebit Biaya Piutang Tidak
Tertagih sebesar itu juga. Jurnalnya pada 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut.
Des. 31

Biaya Piutang Tidak Tertagih
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

50.000

-

-

50.000

Andaikan dalam contoh di atas, saldo akun Cadangan Piutang Tidak Tertagih
sebelum penyesuaian adalah Rp 40.000 debit, maka akun tersebut harus disesuaikan
dengan mengkreditnya sebesar Rp 190.000 dan mendebit Biaya Piutang Tidak
Tertagih sebesar itu juga Jurnalnya pada 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut :
Des. 31

Biaya Piutang Tidak Tertagih
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

190.000

-

-

190.000

Jadi, jumlah biaya piutang tak tertagih merupakan akibat dari penyesuaian untuk
akun cadangan.

Analisis Umur Piutang.
Di atas telah disebutkan bahwa analisis umur piutang memudahkan penentuan
jumlah piutang yang diperkirakan tak dapat ditagih. Sebagai contoh, misalnya
analisis umur piutang dengan perkiraan persentase piutang tidak tertagih dari
kelompok debitor berdasar umur menunggak dan takmenunggak dapat dilihat pada
skedul umur piutang sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 26 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Skedul Umur Piutang
Nama
Debitor
PT. ABC
Toko XYZ
Tn. Arief
Nn. Nana
Toko SETIA
Jumlah

Belum
Menunggak
Rp5.000.000
2.000.000
3.000.000
0
1.000.000
Rp11.000.000

1 bulan
Rp200.000
300.000
0
0
100.000
Rp600.000

Menunggak
2 bulan
Rp100.000
200.000
0
0
50.000
Rp350.000

3 bulan
Rp50.000
100.000
0
500.000
0
Rp650.000

Total
Rp5.350.000
2.600.000
3.000.000
500.000
1.150.000
Rp12.600.000

PT. ABC
Toko XYZ
Tn. Arief
Nn. Nana
Toko SETIA
Jumlah

Rp5.000.000
2.000.000
3.000.000
0
1.000.000
Rp11.000.000

Rp200.000
300.000
0
0
100.000
Rp600.000

Rp 100.000
200.000
0
0
50.000
Rp350.000

Rp50.000
100.000
0
500.000
0
Rp650.000

Rp5.350.000
2.600.000
3.000.000
500.000
1.150.000
Rp12.600.000

Persentase
Taksiran
Tidak
Tertagih
Taksiran
Jumlah
Tidak
Tertagih

1%

Rp110.000

2%

Rp12.000

3%

Rp10.500

5%

Rp32.500

Rp165.000

Menurut skedul umur piutang di atas, jumlah total taksiran piutang tidak tertagih
adalah Rp 165.000. Inilah jumlah yang akan dicantumkan dalam akun cadangan
sebelah kredit.

Pendekatan Laba Rugi
Pada pendekatan laba rugi, ditentukan lebih dahulu berapa jumlah biaya piutang
tidak tertagih tanpa memperhatikan saldo akun cadangan sebelum penyesuaian. Nilai
cadangan piutang tidak tertagih justru merupakan akibat dari penentuan jumlah biaya
piutang tidak tertagih. Penentuan jumlah biaya piutang tidak tertagih biasanya
berdasarkan pada penjualan (kredit) selama satu periode.
Sebagai contoh, misalnya, penjualan kredit PT. SATRIA PRADANA selama tahun
2007 adalah Rp20.000.000. Manajemen menaksir bahwa biaya piutang tidak tertagih
2% dari penjualan kredit setahun. Jadi, jumlahnya adalah Rp400.000 (2% x
Rp20.000.000). Jurnal penyesuaian akhir tahun, tanpa memedulikan berapa jumlah
akun cadangan sebelum penyesuaian, adalah sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 27 dari 163

Akuntansi Menengah

Des. Biaya Piutang Tidak Tertagih
31

Buku Peserta

400.000

-

-

400.000

Cadangan Piutang Tidak Tertagih

Jadi, pendekatan laba rugi lebih mementingkan jumlah biaya piutang tak tertagih
yang akan dilaporkan di laba rugi daripada jumlah cadangan piutang tidak tertagih
yang akan dilaporkan di neraca akhir tahun.

Penyajian Di Neraca
Piutang usaha dan piutang wesel disajikan di neraca dalam kelompok aktiva lancar
sebesar nilai realisasi bersih (net realizable value), yakni jumlah bersih yang
diperkirakan dapat ditagih. Contoh penyajiannya seperti berikut ini :
Piutang Wesel
Piutang Dagang
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

Rp25.000.000
Rp32.000.000
(800.000)

Piutang Gaji dan Upah

31.200.000
3.500.000
Rp59.700.000

B. Piutang Wesel
Pengertian
Piutang wesel adalah piutang yang disertai dengan surat janji tertulis (instrumen
kredit formal) dari debitor yang menyatakan bahwa dia akan membayar sejumlah
uang tertentu di waktu yang akan datang tanpa syarat. Piutang wesel dapat berasal
dari transaksi penjualan barang/jasa secara kredit dan dapat pula dari penggantian
piutang terbuka (tanpa wesel) menjadi piutang wesel.
Piutang wesel ada yang berbunga dan ada pula yang takberbunga. Jika takberbunga,
maka nilai jatuh temponya sama dengan nilai nominalnya, namun jika berbunga,
maka nilai jatuh temponya adalah nilai nominal plus bunga selama periode wesel
sejak tanggal penandatanganan wesel sampai tanggal jatuh tempo.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 28 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Perhitungan Bunga
Jika wesel berbunga, maka formula untuk menghitung bunga wesel adalah:
Bunga = Nilai Nominal Wesel x Tingkat Bunga Setahun x Jangka Waktu Wesel
Oleh karena suku bunga dinyatakan dengan suku bunga tahunan maka jangka waktu
wesel pada rumus di atas harus dinyatakan juga sebagai proporsi tahunan. Misalnya,
jika jangka waktu wesel adalah 60 hari, maka 60 hari harus dinyatakan sebagai
60/360 atau 60/365 tergantung kesepakatan jumlah hari dalam setahun. Jika jangka
waktu wesel adalah 4 bulan, maka 4 bulan dinyatakan sebagai 4/12 karena setahun
adalah 12 bulan. Sebagai contoh, misalnya PT. SERUNAI MERDU pada 1 Juni
2007 meminjamkan uang sebesar Rp10.000.000 kepada PT. OASE dengan
menerima sebuah wesel yang mempunyai nilai nominal Rp10.000.000, bunga 12%
setahun, dan jangka waktu 4 bulan atau jatuh temponya 1 Oktober 2007. Sesuai
dengan formula di atas, maka jumlah bunganya = Rp10.000.000 x 12% x 4/12 =
Rp400.000

Nilai Jatuh Tempo
Sebagaimana telah dipaparkan, nilai jatuh tempo wesel tanpa bunga adalah sebesar
nilai nominalnya. Nilai jatuh tempo wesel berbunga adalah nilai nominal plus bunga
selama periode wesel. Jadi misalnya wesel yang diterima oleh PT. SERUNAI
MERDU adalah wesel berbunga. Nilai jatuh temponya adalah Rp10.400.000 (=
Rp10.000.000 + Rp400.000) dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut.

Jun.

1 Piutang Wesel
Kas

10.000.000

-

-

(mencatat penerimaan wesel)
Okt.

1 Kas

10.400.000

-

Piutang Wesel

-

10.000.000

Pendapatan Bunga

-

400.000

(mencatat penagihan piutang wesel)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 29 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Andaikan wesel yang diterima oleh PT. SERUNAI MERDU adalah wesel
takberbunga, maka nilai jatuh temponya adalah sebesar nominalnya Rp10.000.000.
Pendiskontoan Wesel Sebelum Jatuh Tempo
Jika perusahaan sebagai pemegang wesel memerlukan uang sebelum jatuh tempo
piutang wesel, maka perusahaan dapat mendiskontokannya ke lembaga keuangan,
misalnya bank, dengan dipotong diskonto, yang besarnya dihitung sebagai berikut :

Diskonto = Nilai Jatuh Tempo x Tingkat Diskonto x Periode Wesel
Didiskontokan

Sebagai contoh, misalnya PT. CAHAYA KADA pada 1 Agustus 2007
mendiskontokan wesel tertanggal 6 Juni 2006 dengan nilai nominal Rp 6.000.000,
berbunga 12%, jatuh tempo pada 1 Desember 2007 (jangka waktu 6 bulan) ke
BANK MANDIRI dengan tingkat diskonto sebesar 18%. Jadi, periode wesel
didiskontokan — periode bank akan memegang wesel—adalah sejak 1 Agustus 2007
sampai tanggal jatuh tempo 1 Desember 2007 (4 bulan). Maka perhitungan jumlah
yang diterima oleh PT. CAHAYA KADA adalah sebagai berikut :
Nominal wesel ..............................................................

Rp6.000.000

Ditambah : Bunga (Rp 6.000.000 x 12% x 6/12) .........

360.000

Nilai jatuh tempo wesel ................................................

Rp6.360.000

Dikurangi : Diskonto (Rp 6.360.000 x 18% x 4/12) ....

381.600

Kas yang diterima PT. CAHAYA KADA ....................

Rp5.978.400

PT. CAHAYA KADA mencatat pendiskontoan wesel dengan jurnal sebagai berikut :
Agus. Kas
1
Biaya Pendiskontoan Wesel
Piutang wesel

Pusdiklat BPK RI

5.978.400

-

381.600

-

-

6.000.000

Hal. 30 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BANK MANDIRI mencatat pendiskontoan wesel dengan jurnal sebagai berikut :
Agus. 1

Piutang wesel

6.000.000

-

Pendapatan Pendiskontoan Wesel

-

381.600

Kas

-

5.978.400

Kemudian pada 1 Desember 2007 BANK MANDIRI akan menerima penagihan
piutang wesel dari PT. OASE sebesar nilai jatuh tempo wesel Rp 6.360.000 dan
mencatatnya dengan jurnal sebagai berikut :
Des.

1 Kas

6.360.000

-

Pendapatan Bunga

-

360.000

Piutang wesel

-

6.000.000

C. Latihan Soal
Soal Latihan 1 :
Berikut informasi keuangan sebelum penyesuaian pada PT. RAHYUTAMA :
Debit
Piutang dagang

Kredit

Rp20.000.000

-

Cadangan piutang tidak tertagih

-

Rp400.000

Penjualan (secara kredit)

-

180.000.000

10.000.000

-

Retur penjualan

Buatlah jurnal pencatatan Biaya Piutang Tidak Tertagih bila diasumsikan perusahaan
menaksir piutang tidak tertagih sebesar :
1. 1% dari penjualan bersih
2. 3% dari piutang dagang

Soal Latihan 2 :
Berikut adalah ikhtisar transaksi yang mempengaruhi piutang usaha PT. KENCANA
USAHA dan terjadi selama tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2007 :
a) Penjualan kredit dan tunai Rp 6.000.000
Pusdiklat BPK RI

Hal. 31 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

b) Penerimaan kas dari pelanggan kredit (semuanya memanfaatkan potongan tunai
2%) = Rp 1.960.000
c) Penerimaan kas dari penjualan tunai Rp 3.000.000
d) Piutang dihapuskan Rp 200.000
e) Penerimaan kas dari piutang yang telah dihapus tahun lalu Rp 150.000
Taksiran piutang tak tertagih ditetapkan sebesar 2% dari penjualan kredit (bersih)
selama tahun 2007.
Diminta:
1. Buatlah jurnal pencatatan transaksi selama tahun 2007.
2. Hitunglah biaya (kerugian) piutang tidak tertagih tahun 2007 dan buatlah jurnal
penyesuaian akhir tahun 2007 untuk mencatat biaya piutang tidak tertagih.
Soal Latihan 3 :
PT. SWADAYA pada 1 Agustus 2007 menjual barang dagangan sebesar Rp
36.000.000 dengan syarat 2/10, n/30. Pada 1 September 2007 perusahaan menerima
wesel dari pelanggan untuk menggantikan piutang dagang tersebut, nilai nominal Rp
36.000.000, bunga 9%, jangka waktu 5 bulan, yang dilunasi 1 Pebruari 2008.
Buatlah jurnal pencatatan yang diperlukan !
Soal Latihan 4 :
PT. CIPTA USAHA pada 1 Oktober 2007 mendiskontokan wesel berikut ke Bank
Mandiri dengan dikenakan tarip diskonto 15% :
Nominal wesel

Rp 15.000.000

Tanggal wesel

1 Agustus 2007

Jangka waktu wesel

6 bulan

Bunga nominal

10%

Tanggal jatuh tempo

1 Pebruari 2008

Tentukan besarnya kas yang diterima PT. CIPTA USAHA dan buatlah jurnal
pencatatan yang diperlukan PT. CIPTA USAHA dan Bank Mandiri !

Pusdiklat BPK RI

Hal. 32 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB IV
PERSEDIAAN : SISTEM PENGENDALIAN PERIODIK
DAN ALIRAN BIAYA

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan definisi
sediaan, mampu mengklasifikasi jenis-jenis Persediaan di perusahaan
dagang dan perusahaan manufaktur, mampu mengenali metode periodik
dalam penyelenggaraan pengendalian Persediaan, dan menjelaskan metode
aliran biaya: identifikasi khusus, rata-rata, masuk pertama keluar pertama
(MPKP), dan masuk terakhir keluar pertama (MTKP), dan mampu
menghitung harga pokok penjualan dengan berbagai metode aliran biaya.

A. Metode periodik vs. Metode perpetual
Definisi Persediaan
Di perusahaan dagang (trading company), persediaan disebut persediaan barang
dagangan (merchandise inventory) atau cukup disingkat persediaan (inventory).
Persediaan diperoleh dari pemasok dan dijual kepada konsumen tanpa mengalami
perubahan bentuk. Sumber utama pendapatan bagi perusahaan dagang adalah
persediaan (barang dagangan) tersebut.
Di perusahaan pengolahan (manufacturing firm), terdapat tiga persediaan: persediaan
bahan baku (raw material inventory), persediaan barang dalam proses (work in
process inventory), dan persediaan barang jadi (finished goods inventory). Persediaan
bahan baku akan diolah atau diubah bentuknya menjadi barang jadi. Persediaan
barang dalam proses merupakan barang setengah jadi, yaitu bahan baku yang sedang
mengalami proses produksi dan belum menjadi barang jadi yang siap untuk dijual.
Sumber utama pendapatan bagi perusahaan manufaktur adalah persediaan barang
jadi. Bab ini membahas persediaan (inventory) di perusahaan dagang (trading
company).

Pusdiklat BPK RI

Hal. 33 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pengendalian Persediaan
Pengendalian akuntansi untuk persediaan dapat diselenggarakan dengan sistem fisik
(periodik) dan sistem perpetual (permanen atau buku). Bab ini menjelaskan sistem
periodik. Menurut sistem ini, pembelian barang dagangan selama satu periode, baik
tunai maupun kredit, dicatat dalam akun Pembelian (Purchases). Untuk mengetahui
harga pokok penjualan (HPP), dilakukan perhitungan persediaan secara fisik
(inventory taking) pada akhir periode. Setelah ditentukan nilai persediaan akhir
barulah dihitung harga pokok penjualannya yang akan dijelaskan nanti.
Adapun akun Persediaan (Inventory) adalah untuk mencatat harga pokok (cost)
persediaan yang masih tersisa pada akhir periode, yang akan dicatat melalui jurnal
penyesuaian yang akan dijelaskan nanti. Penambahan persediaan yang timbul dari
pembelian dan pengurangan yang timbul dari penjualan tidak dicatat dalam akun ini.

Pembelian, Potongan Pembelian, dan Retur Pembelian. Sebagaimana dijelaskan
di atas, akun Pembelian (Purchases) untuk mencatat pembelian barang dagangan
sebesar harga beli di luar potongan dagang (trade discount). Harga beli adalah harga
beli bersih di luar potongan dagang (trade discount). Potongan dagang adalah
potongan harga dari harga resmi dalam daftar harga atau katalog. Sebagai contoh,
misalnya, kalau dalam katalog tercantum barang A dengan harga Rp 50.000 dengan
potongan dagang 25%, maka jumlah harga bersihnya adalah Rp 37.500 {= Rp50.000
– (25% x Rp 50.000)}. Dengan potongan ini, maka perusahaan pembeli mencatat
pembelian dalam akun Pembelian sebesar Rp 37.500, bukan Rp 50.000.
Jika pembeliannya dilakukan secara kredit, maka potongan tunai akan dicatat dalam
akun Potongan Pembelian (Purchase Discount) ketika perusahaan membayar dalam
masa potongan. Sebagai contoh, misalnya PT. TIARA ADI pada 1 April 2007
membeli barang dagangan seharga Rp 5.000.000 tunai dan Rp 10.000.000 dengan
syarat 2/10, n/30. Pada tanggal 10 April 2007 utang dibayar dengan mendapat
potongan 2% yaitu Rp 200.000 (= 2% x Rp 10.000.000) dan dicatat dengan jurnal
sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 34 dari 163

Akuntansi Menengah

Apr.

1 Pembelian

Buku Peserta

15.000.000

-

Kas

-

5.000.000

Utang Dagang

-

10.000.000

10.000.000

-

Kas

-

9.800.000

Potongan Pembelian

-

200.000

(mencatat pembelian)
10 Utang Dagang

(mencatat pembayaran utang dagang)

Jika utang dagang di atas dibayar di luar masa potongan, misalnya 15 April, maka
pembayarannya adalah Rp 10.000.000 dan jurnalnya adalah sebagai berikut :
Apr.

15 Utang Dagang
Kas

10.000.000

-

-

10.000.000

Jika terjadi retur pembelian dicatat dalam akun Retur Pembelian (purchase return
sebelah kredit dan debitnya adalah akun Kas atau Utang Dagang tergantung barang
yang dibeli dulunya berasal dari pembelian tunai atau pembelian kredit. Sebagai
contoh, misalnya PT. ARUM SARI pada 17 Agustus 2007 melakukan retur atas
barang yang dibelinya sebesar Rp 1.300.000, yang terdiri atas Rp 500.000 dari
pembelian tunai dan Rp 800.000 dari pembelian kredit. Jurnal yang dibuat adalah
sebagai berikut :
Agus. 17 Kas
Utang Dagang
Retur Pembelian

500.000

-

800.000

-

-

1.300.000

Penjualan, Potongan Penjualan, dan Retur Penjualan.
Akun Penjualan (Sales) adalah akun untuk mencatat penjualan barang dagangan—
baik tunai maupun kredit—sebesar harga jual di luar potongan dagang (trade
discount) di sebelah kredit. Akun lawannya adalah Kas atau Piutang Dagang
tergantung apakah penjualannya tunai atau kredit. Akun Potongan Penjualan ( Sales
Discount) digunakan untuk mencatat potongan penjualan tunai jika pelanggan
perusahaan membayar utangnya dalam masa potongan. Akun Retur Penjualan

Pusdiklat BPK RI

Hal. 35 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

(Sales Return) adalah akun untuk mencatat retur penjualan dan dicatat di sebelah
debit. Akun lawannya adalah Piutang Dagang atau Kas tergantung apakah dahulu
penjualannya kredit atau tunai.

Sebagai contoh, misalnya PT. ANDRIJAYA pada 27 Juli 2007 menjual barang
dagangan secara tunai Rp 10.000.000 (setelah trade discount) dan secara kredit Rp
15.000.000 dengan termin 2/10, n/30. Pada 30 Juli 2007 perusahaan menerima
kiriman balik barang yang telah dijualnya secara kredit senilai Rp 3.000.000. Pada 5
Agustus perusahaan menerima pelunasan dari debitor atas penjualan kredit pada 27
Juli setelah dikurangi retur per 30 Juli. Jadi, PT. ANDRIJAYA memberi potongan
2%, yaitu Rp 240.000 (= 2% x Rp 12.000.000). Jurnal yang dibuat adalah sebagai
berikut :

Jul.

27 Kas
Piutang Dagang
Penjualan

10.000.000

-

15.000.000

-

-

25.000.000

3.000.000

-

-

3.000.000

11.760.000

-

240.000

-

-

12.000.000

(mencatat penjualan)
30 Retur Penjualan
Piutang Dagang
(mencatat retur penjualan)
Agus.

5 Kas
Potongan Penjualan
Piutang Dagang
(mencatat penagihan piutang dagang)

Biaya Angkut Pembelian dan Biaya Angkut Penjualan.
Akun Biaya Angkut Pembelian (Transportation In) digunakan untuk mencatat
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atas pengangkutan/pengiriman barang yang
dibeli dengan syarat Franco Gudang Penjualan (FOB Shipping Point), sedangkan
akun Biaya Angkut Penjualan (Transportation Out) untuk mencatat biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan atas pengangkutan/pengiriman barang yang dijual
syarat Franco Gudang Penjualan (FOB Destination).

Pusdiklat BPK RI

Hal. 36 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sebagai contoh, misalnya PT. INDRA MANDIRI pada 10 Agustus 2007 membayar
biaya angkut pembelian Rp 500.000 atas barang yang dibeli dan biaya angkut
penjualan Rp 750.000 atas barang yang dijual. Jurnalnya adalah sebagai berikut.
Agus. 10 Biaya Angkut Pembelian

500.000

-

Biaya Angkut Penjualan

750.000

-

-

1.250.000

Kas

Neraca Saldo
Sesuai dengan siklus akuntansi, perusahaan pada akhir tahun menyusun neraca saldo.
Sebagai contoh, misalnya berikut adalah saldo-saldo dari neraca saldo (sebagian)
per 31 Desember 2007 pada PT. ASIA RAYA :

PT. ASIA RAYA
Neraca Saldo (Sebagian) Per 31 Desember 2007
No.

Akun
2

1 Persediaan

Debit

Kredit

Rp4.000.000

-

-

Rp16.000.000

300.000

-

1.000.000

-

500.000

-

8.000.000

-

7 Potongan pembelian

-

600.000

8 Retur Pembelian

-

1.000.000

400.000

-

10 Harga Pokok Penjualan

0

-

11 Ikhtisar Rugi-Laba

0

-

2 Penjualan
3 Potongan Penjualan
4 Retur Penjualan
5 Biaya Angkut Penjualan
6 Pembelian

9 Biaya Angkut Pembelian

Perhitungan HPP dan Jurnal Penyesuaian
Untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP), diperlukan data tentang nilai
persediaan akhir periode. Jika setelah dilakukan inventory taking, nilai persediaan
akhir PT. ASIA adalah Rp 3.000.000, maka HPP dihitung sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 37 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Persediaan awal periode
Pembelian selama periode
Ditambah : Biaya angkut pembelian
Harga pokok pembelian

Rp4.000.000
Rp8.000.000
400.000
Rp8.400.000

Dikurangi :
Potongan pembelian
Retur pembelian

(300.000)
(1.000.000)

Harga pokok pembelian bersih
Harga pokok barang tersedia dijual

7.100.000
Rp11.100.000

Dikurangi : Persediaan akhir periode
Harga pokok penjualan

(3.000.000)
Rp8.100.000

Jurnal penyesuaian untuk mengakui persediaan akhir pada 31 Desember 2007 adalah
sebagai berikut :
Des.

31 Persediaan (Akhir)

3.000.000

-

300.000

-

Retur Pembelian

1.000.000

-

Harga Pokok Penjualan

8.100.000

-

Pembelian

-

8.000.000

Biaya Angkut Pembelian

-

400.000

Persediaan (Awal)

-

4.000.000

Potongan Pembelian

(mencatat penyesuaian mengakui HPP)

B. Aliran Biaya
Metode aliran biaya (flow of cost) adalah isu penting dalam akuntansi keuangan
karena metode ini akan mempengaruhi laba rugi dan persediaan. Masalah aliran
biaya akan muncul ketika harga pokok antara pembelian yang satu berbeda dari
pembelian lainnya.

Sebagai contoh, misalnya transaksi pembelian dan penjualan barang dagangan
selama bulan Desember adalah sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 38 dari 163

Akuntansi Menengah

Tanggal
Des.

Buku Peserta

Pembelian

Penjualan

1

Saldo
5.000 unit @ Rp1.000

10

15.000 unit @ Rp1.200

20.000 unit

20

17.000 unit

26

16.000 unit @ Rp1.400

3.000 unit
19.000 unit

Harga pokok barang tersedia untuk dijual dapat dihitung sebagai berikut :
Persediaan awal (5.000 unit x Rp 1.000)

Rp5.000.000

Pembelian {(15.000 unit x Rp 1.200) + (16.000 unit x Rp 1.400)}
Harga pokok barang tersedia dijual

40.400.000
Rp45.400.000

Pertanyaannya adalah berapakah nilai persediaan akhir dan berapakah harga pokok
penjualan bulan Desember? Dua pertanyaan ini akan dijawab oleh berbagai metode
aliran biaya sebagai berikut.
1. Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification)
Mengikuti aliran fisik barang merupakan metode yang paling ideal. Metode ini
disebut identifikasi khusus, karena metode ini mengidentifikasi secara spesifik
aliran barang yang keluar. Aliran biaya (kos) sesuai dengan aliran fisik
barangnya.
Sebagai contoh, misalnya perusahaan telah mengidentifikasi bahwa saldo 19.000
unit pada akhir Desember 2007 berasal dari 2.000 unit dari saldo per 1 Desember
dengan kos Rp1.000 per unit, 9.500 unit dari pembelian 10 Desember dengan kos
Rp1.200 per unit, dan 7.500 unit dari pembelian 26 Desember dengan kos
Rp1.400 per unit. Maka persediaan akhir dan harga pokok penjualan menurut
metode identifikasi khusus adalah sebagai berikut :
Tanggal
Des.

Kuantitas (Unit)

Kos per Unit

1

2.000 unit

Rp1.000

Rp2.000.000

10

9.500 unit

1.200

11.400.000

26

7.500 unit

1.400

10.500.000

Harga pokok persediaan akhir

Total kos

Rp23.900.000

Harga pokok penjualan = Rp45.400.000 – Rp23.900.000 = Rp21.500.000
Pusdiklat BPK RI

Hal. 39 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2. Berdasarkan Anggapan
Meskipun ideal, metode identifikasi khusus tidaklah praktis. Untuk kepraktisan,
digunakan metode-metode yang berdasarkan pada anggapan-angapan tertentu :
rerata, masuk pertama keluar pertama (MPKP) dan masuk terakhir keluar
pertama (MTKP). Berikut adalah penjelasannya dengan menggunakan data
sebelumnya :
Metode Rerata Berbobot (weighted average)
Metode menjumlah seluruh harga pokok total persediaan dari persediaan awal
dan pembelian selama satu periode. Disebut berbobot (weighted) karena harga
pokok per unitnya diberi bobot harga masing-masing.2 Metode ini menganggap
bahwa kos setiap unit barang dagangan adalah rerata dari kos total yang dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
Kos yang Tersedia Dijual
Kos Rerata per Unit = —————————————————
Total Unit Barang yang Tersedia Dijual
Rp45.400.000
Kos per Unit = ———————— = Rp1.261,10
36.000
Jadi, kos persediaan akhir = 19.000 x Rp1.261,10 = Rp23.960.900 dan harga
pokok penjualan = = Rp45.400.000 – Rp23.960.900 = Rp21.439.100

Metode MPKP (first in, first out atau FIFO)
Metode ini menganggap barang yang pertama kali dibeli adalah yang mempunyai
urutan pertama keluar dari perusahaan, sehingga barang yang tersisa di akhir
bulan adalah barang yang dibeli paling akhir.
Persediaan akhir pada contoh di atas adalah 19.000 unit, menurut metode MPKP,
persediaan akhir dianggap berasal dari pembelian terakhir (26 Desember)
sebanyak 16.000 unit dengan kos per unit Rp1.400 dan berasal dari pembelian
sebelumnya, yakni 10 Desember sebanyak 3.000 unit dengan kos per unit

2

Ada yang menerjemahkan weighted average sebagai rata-rata tertimbang.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 40 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Rp1.200. Jadi, kos persediaan akhir adalah :
Tanggal
Des.

Kuantitas (Unit)

Kos per Unit

10

3.000 unit

Rp1.200

Rp3.600.000

26

16.000 unit

1.400

22.400.000

Harga pokok persediaan akhir

Total kos

Rp26.000.000

Harga pokok penjualan = Rp45.400.000 – Rp26.000.000 = Rp19.400.000

Metode MTKP (last in, first out atau LIFO)
Metode ini menganggap barang yang dijual pertama kali adalah barang yang
masuk ke perusahaan terakhir kali. Barang yang masih tersisa di akhir tahun, oleh
karena itu, dianggap berasal dari persediaan awal dan pembelian-pembelian
sesudahnya.
Persediaan akhir pada contoh di atas adalah 19.000 unit, menurut metode MTKP,
persediaan akhir dianggap berasal dari saldo awal (1 Desember) sebanyak 5.000
unit dengan kos per unit Rp1.000 dan berasal dari pembelian sesudahnya, yakni
10 Desember sebanyak 14.000 unit dengan kos per unit Rp1.200. Jadi, kos
persediaan akhir adalah :
Tanggal

Kuantitas (Unit)

Kos per Unit

1

5.000 unit

Rp 1.000

Rp5.000.000

10

14.000 unit

1.200

16.800.000

Des.

Harga pokok persediaan akhir

Total kos

Rp21.800.000

Harga pokok penjualan = Rp45.400.000 – Rp21.800.000 = Rp23.600.000

C. Latihan Soal
Berikut adalah informasi mengenai transaksi pembelian dan penjualan barang
dagangan selama bulan Desember 2007 pada PT. SWASEMBADA :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 41 dari 163

Akuntansi Menengah

Tanggal
Des.

Buku Peserta

Pembelian

Penjualan

1
8

10.000 unit @Rp 2.000
30.000 unit @ Rp 2.300

15
20

40.000 unit
35.000 unit@Rp3300

40.000 unit @ Rp 2.500

25
29

Saldo

5.000 unit
45.000 unit

38.000 unit @Rp3500
35.000 unit @ Rp 2.600

7.000 unit
42.000 unit

1. Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi persediaan Periodik/Fisik,
tentukan harga pokok persediaan akhir dan harga pokok penjualan bulan
Desember 2007 berdasarkan metode :
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)
c. Metode Rerata Berbobot
2. Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi persediaan periodik/fisik
dengan metode MPKP, buatlah jurnal pencatatan yang diperlukan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 42 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB V
PERSEDIAAN : SISTEM PENGENDALIAN PERPETUAL
DAN ALIRAN BIAYA

Bab ini merupakan lanjutan bab sebelumnya dan membahas akuntansi
untuk Persediaan (barang dagangan) yang menggunakan sistem perpetual.
Di bab ini juga dibahas berbagai metode aliran biaya yang diterapkan
pada sistem perpetual. Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan
mampu menjelaskan metode perpetual, mampu membedakan antara sistem
perpetual dan sistem periodik, dan mampu menyelenggarakan kartu
Persediaan dengan metode rata-rata, MPKP, dan MTKP.

A. Sistem Perpetual
Dalam sistem perpetual, perubahan persediaan dicatat dalam akun Persediaan dan
harga pokok penjualannya ditentukan ketika terjadi penjualan. Masing-masing jenis
persediaan disiapkan Kartu Persediaan yang berfungsi sebagai Buku Pembantu
persediaan dan digunakan untuk mencatat mutasi setiap hari.

Pembelian dan Biaya Angkut Pembelian
Pembelian, baik tunai maupun kredit, dicatat di akun Persediaan sebelah debit.
Begitu pula biaya angkut yang ditanggung perusahaan atas barang yang dibeli.
Sebagai contoh, misalnya PT. FAISALINDO pada 21 Januari 2007 membeli barang
dagangan Rp 15.000.000 secara kredit dengan syarat 2/10, n/30 dan membayar biaya
angkut pembelian Rp 200.000. Transaksi ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan.

21 Persediaan

15.200.000

-

Utang Dagang

-

15.000.000

Kas

-

200.000

(mencatat pembelian kredit dan biaya angkut
pembelian)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 43 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Retur Pembelian dan Potongan Pembelian
Retur pembelian dan potongan pembelian dicatat di sebelah kredit akun Persediaan.
Apabila pada tanggal 22 Januari 2007, barang Rp2.000.000 yang dibeli pada 21
Januari 2007 dikembalikan kepada penjual, maka dicatat dengan jurnal sebagai
berikut :
Jan.

22 Utang Dagang

2.000.000

-

-

2.000.000

Persediaan
(mencatat retur pembelian)

Anggaplah bahwa perusahaan membayar utang usaha pada 27 Januari 2007,
sehingga memperoleh potongan pembelian sebesar 2%, yaitu Rp260.000 (= 2% x
Rp13.000.000), maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan.

27 Utang Dagang

13.000.000

-

Kas

-

12.740.000

Persediaan

-

260.000

(mencatat pembayaran utang dagang)

Penjualan, Retur Penjualan, dan Potongan Penjualan
Transaksi penjualan dicatat dalam dua jurnal : pertama, untuk mengakui pendapatan
dan kedua, untuk mengakui HPP, yang penentuannya akan dijelaskan nanti di subbab
aliran biaya. Angka untuk contoh di sini dimisalkan saja. Misalnya, pada 1
September dijual barang dagangan secara kredit dengan harga jual Rp3.000.000,
syarat 1/10, n/30. Harga pokok barang yang dijual tersebut menurut kartu persediaan
adalah Rp 1.800.000. Transaksi ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Sep.

1 Piutang Dagang
Penjualan

3.000.000

-

-

3.000.000

1.800.000

-

-

1.800.000

(mencatat penjualan barang dagangan)
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
(mencatat harga pokok penjualan)

Apabila terjadi retur penjualan, maka dibuat juga dua jurnal: pertama, untuk
mengakui berkurangnya pendapatan, dan kedua untuk mengakui bertambahnya

Pusdiklat BPK RI

Hal. 44 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

persediaan. Misalnya barang dengan harga jual Rp600.000 dan HPP Rp 360.000
yang dijual di atas diterima kembali dari pelanggan pada 5 September, maka dicatat
dengan jurnal sebagai berikut :
Sep.

5 Retur Penjualan
Piutang Dagang

600.000

-

-

600.000

360.000

-

-

360.000

(mencatat retur penjualan)
Persediaan
Harga Pokok Penjualan
(mencatat penambahan persediaan)

Kalau perusahaan menawarkan potongan tunai, maka potongan hanya dicatat sebagai
pengurang penjualan dan tidak mempengaruhi persediaan. Misalnya, piutang dagang
Rp2.000.000 diterima pelunasannya dalam masa potongan tunai pada 10 September
2007. Kalau potongan tunainya adalah 1%, maka potongannya adalah Rp20.000.
Jurnal pencatatannya adalah sebagai berikut :
Sep.

10 Kas
Potongan penjualan
Piutang Dagang

1.980.000

-

20.000

-

-

2.000.000

(mencatat penagihan piutang dagang)

Biaya Angkut Penjualan (Transportation Out)
Biaya angkut yang ditanggung perusahaan atas barang yang dijualnya dicatat dalam
akun Biaya Angkut Penjualan sebelah debit dan tidak memengaruhi HPP.

Harga Pokok Penjualan
Metode perpetual tidak memerlukan jurnal penyesuaian di akhir periode untuk
menentukan HPP. Hal ini dikarenakan HPP ditentukan pada setiap terjadi transaksi
penjualan barang dagangan. Metode yang digunakan adalah rerata bergerak, MPKP
atau MTKP. Keterangannya di subbab berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 45 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

B. Aliran Biaya
Metode perpetual menghitung HPP pada setiap terjadi penjualan barang dagangan.
Aliran biayanya dapat menggunakan metode rerata bergerak, MPKP atau MTKP.
Untuk setiap jenis barang disediakan Kartu Persediaan yang berfungsi sebagai
Buku Pembantu akun Persediaan.
Sebagai contoh, misalnya data transaksi pembelian dan penjualan barang dagangan
selama bulan Desember sebagai berikut :

Tanggal
Des.

1
10
15
20
25
27

Pembelian

Penjualan

Saldo
8.000 unit @ Rp 1.000
33.000 unit

25.000 unit @ Rp1.200
16.000 unit
20.000 unit @ Rp1.400
18.000 unit
(-) 2.000 unit retur

17.000 unit
37.000 unit
19.000 unit
21.000 unit

Maka harga pokok persediaan akhir per 27 Desember menurut berbagai metode
penilaian persediaan akan dijelaskan sebagai berikut.

Metode Rerata Bergerak
Rata-rata berbobot (moving average) dihitung dengan menjumlah seluruh harga
pokok total persediaan dari persediaan awal dan pembelian, kemudian dibagi dengan
saldo unit persediaan. Jika terjadi penjualan, maka harga pokok penjualannya
dihitung berdasarkan harga pokok rata-rata yang terakhir, dan rata-ratanya berubah
(dihitung kembali). Dan seterusnya setiap terjadi pembelian baru dengan harga per
unit berbeda dan setiap terjadi penjualan, maka rata-ratanya berubah (dihitung
kembali). Demikian juga jika terjadi retur penjualan juga akan menyebabkan
perubahan harga pokok rata-rata. Berdasarkan data di atas, maka Kartu Persediaan
bulan Desember dengan metode ini tampak sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 46 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Kartu Persediaan
Bertambah

Berkurang

Keterangan

Unit

Total

Total

Total
Tgl

Saldo

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Des.1

Saldo awal

-

-

-

-

-

-

8000

1000,0

8000,0

10

Pembelian

25000

1200

30.000

-

-

-

33000

1151,5

38000,0

15

Penjualan

-

-

-

16000

1151,5

18424,0

17000

1151,5

19576,0

20

Pembelian

20000

1400

28.000

-

-

-

37000

1285,8

47576,0

25

Penjualan

-

-

-

18000

1285,8

23144,4

19000

1285,9

24431,6

27

Retur pnjln

-

-

-

(2000)

1285,9

(2571,8)

21000

1285,9

27003,4

Berdasarkan kartu persediaan di atas, menurut metode rata-rata bergerak, harga
pokok persediaan akhir per 27 Desember adalah Rp 27.003.400 dan harga pokok
penjualan = Rp 18.424.000 + Rp 23.144.400 – Rp 2.571.800 = Rp 38.996.600.
Keterangan :
Harga pokok persediaan 10 Des = (Rp8.000.000 + Rp30.000.000)/(8.000 unit + 25.000 unit) =
Rp1151,5
Harga pokok persediaan 15 Des = (Rp38.000.000 - Rp18.424.000)/(33.000 unit - 16.000 unit)=
Rp1151,5
Harga pokok persediaan 20 Des = (Rp19.576.000+ Rp28.000.000)/(17.000 unit + 20.000 unit)=
Rp1285,8
Harga pokok persediaan 25 Des = (Rp47.576.000- Rp23.144.400)/(37.000 unit - 18.000 unit) =
Rp1285,9
Harga pokok persediaan 27 Des = (Rp24.431.600 + Rp2.571.800)/(19.000 unit + 2.000 unit) =
Rp1285,9

Metode MPKP
Metode MPKP (first in, first out atau FIFO) menganggap barang yang pertama kali
dibeli adalah yang mempunyai urutan pertama keluar dari perusahaan (dijual),
sehingga retur penjualan adalah meretur barang yang terakhir dijual pada penjualan
yang terakhir serta saldo yang tersisa setelah penjualan adalah barang yang dibeli
paling akhir. Berdasarkan data di atas, maka Kartu Persediaan bulan Desember
dengan metode ini tampak sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 47 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Kartu Persediaan
Bertambah

Berkurang

Keterangan

Unit

Total

Total

Total
Tgl

Saldo

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Des.1

Saldo awal

-

-

-

-

-

-

8000

1000

8.000

10

Pembelian

25000

1200

30.000

-

-

-

8000

1000

8.000

25000

1200

30.000

33000
15

Penjualan

-

-

-

8000

1000

8.000

_8000

1200

_9.600

16000
20

Pembelian

20000

1400

28.000

38.000

17000

1200

20.400

17000

1200

20.400

20000

1400

28.000

17.600

-

-

-

37000
25

Penjualan

-

-

-

17000

1200

20.400

_1000

1400

_1.400

18000
27

Retur pnjln

-

-

-

(2000)

48.400

19000

1400

26.600

21000

1400

29.400

21.800
1400

(2.800)

Berdasarkan kartu persediaan di atas, menurut metode masuk pertama keluar pertama
(MPKP), harga pokok persediaan akhir per 27 Desember adalah Rp29.400.000 dan
harga pokok penjualan = Rp17.600.000 + Rp21.800.000 – Rp2.800.000 =
Rp36.600.000.

Metode MTKP
Metode MTKP (last in, first out) menganggap persediaan yang dijual pertama kali
adalah barang yang masuk ke perusahaan terakhir kali, sehingga retur penjualan
adalah meretur barang yang pertama dijual pada penjualan yang terakhir serta saldo
persediaan yang tersisa setelah penjualan dianggap berasal dari saldo awal atau
pembelian pertama kali. Berdasarkan data di atas, maka Kartu Persediaan bulan
Desember dengan metode ini tampak sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 48 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Kartu Persediaan
Bertambah

Berkurang
Total

Tgl

Keterangan

Unit

Saldo
Total

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Total

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Unit

Kos/U

(x1000)

(Rp)

(Rp)

Des.1

Saldo awal

-

-

-

-

-

-

8000

1000

8.000

10

Pembelian

25000

1200

30.000

-

-

-

8000

1000

8.000

25000

1200

30.000

33000
15

Penjualan

-

-

-

16000

1200

19.200

38.000

8000

1000

8.000

_9000

1200

10.800

17000
20

Pembelian

20000

1400

28.000

-

-

-

18.800

8000

1000

8.000

9000

1200

10.800

20000

1400

28.000

37000
25

Penjualan

-

-

-

18000

1400

25.200

46.800

8000

1000

8.000

9000

1200

10.800

_2000

1400

_2.800

19000
27

Retur pnjln

-

-

-

(2000)

1400

(2.800)

21.600

8000

1000

8.000

9000

1200

10.800

_4000

1400

_5.600

21000

Berdasarkan kartu persediaan di atas, menurut metode masuk terakhir keluar pertama
(MTKP), harga pokok persediaan akhir per 27 Desember adalah Rp 24.400.000 dan
harga pokok penjualan = Rp19.200.000 + Rp25.200.000 – Rp2.800.000 =
Rp41.600.000.

C. Latihan Soal
Berikut adalah informasi mengenai transaksi pembelian dan penjualan barang
dagangan selama bulan Desember 2007 pada PT. SWASEMBADA :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 49 dari 163

24.400

Akuntansi Menengah

Tanggal
Des.

Buku Peserta

Pembelian

Penjualan

1
8

10.000 unit @ Rp2.000
30.000 unit @ Rp2.300

15
20

40.000 unit
35.000 unit @Rp3300

40.000 unit @ Rp2.500

25
27

Saldo

5.000 unit
45.000 unit

38.000 unit @Rp3500
50.000 unit @ Rp2.600

7.000 unit
57.000 unit

1. Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi persediaan Perpetual/Buku,
tentukan harga pokok persediaan akhir dan harga pokok penjualan bulan
Desember 2007 berdasarkan metode :
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)
c. Metode Rerata Berbobot
2. Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi persediaan Perpetual/Buku
dengan metode MPKP, buatlah jurnal pencatatan yang diperlukan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 50 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB VI
PERSEDIAAN : PROSEDUR PENAKSIRAN, PENILAIAN, DAN
PENYAJIAN DI NERACA

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menggunakan
metode laba bruto untuk menaksir Persediaan akhir, memahami penilaian
Persediaan dengan metode cost, dan memahami penilaian Persediaan
dengan metode lower of cost and net realizable value3 yang diterapkan pada
Persediaan secara individual, kelompok, dan total, serta menyajikan
Persediaan di neraca.

A. Prosedur Penaksıran
Metode Laba Bruto
Bab IV menjelaskan bahwa sistem periodik mewajibkan perusahaan untuk
melakukan inventory taking (perhitungan fisik persediaan) setidak-tidaknya sekali
dalam setahun, yakni pada akhir tahun. Tujuan perhitungan tersebut adalah untuk
menentukan nilai (harga perolehan) persediaan akhir tahun, yang selanjutnya
berguna untuk menghitung harga pokok penjualan (cost of goods sold). Cara seperti
itu tidak praktis bagi perusahaan eceran, misalnya, yang memerlukan informasi
persediaan dengan cepat. Modifikasi perlu dilakukan untuk mengakomodasi
keperluan tersebut. Metode Laba Bruto (Gross Profit method) merupakan salah satu
cara untuk menaksir nilai persediaan secara cepat dan menghasilkan informasi yang
cukup andal.
Bekerjanya metode laba bruto adalah sebagai berikut: pertama, menentukan lebih
dahulu persentase laba bruto apakah dari penjualan atau dari harga pokok penjualan
(HPP). Kedua, menaksir nilai (harga perolehan) persediaan akhir berdasarkan
persentase laba bruto. Terakhir, menghitung harga pokok penjualan (HPP) dengan
cara mengurangkan harga perolehan persediaan tersedia dijual dengan harga
perolehan persediaan akhir.

3

IAI (2004) terkadang menyebutnya lower of cost or net realizable value.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 51 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Persentase Laba Bruto dari Penjualan. Jika persentase laba bruto adalah dari
penjualan, maka penjualan dianggap 100 persen. Sebagai contoh, misalnya data
keuangan PT. NIAGA JAYA, sebuah perusahaan eceran, selama tahun 2006 adalah
sebagai berikut : (a) penjualan Rp20.000.000, (b) laba bruto 25% dari penjualan, (c)
harga perolehan barang tersedia untuk dijual (persediaan awal Rp2.000.000 plus
pembelian Rp14.000.000) adalah Rp 16.000.000. Maka taksiran harga perolehan
persediaan akhir dan HPP :
Persentase
Penjualan

100%

Rupiah
Rp20.000.000

(-) Laba Bruto

25%

?

Harga Pokok Penjualan

75%

?

Jadi, besarnya penjualan Rp20.000.000 = 100%, maka laba bruto = 25% x
Rp20.000.000 = Rp5.000.000 dan

harga pokok penjualan (HPP) = 75% x

Rp20.000.000 = Rp15.000.000. Dengan demikian besarnya harga perolehan
persediaan akhir 2006 dapat dihitung sebagai berikut.

Harga pokok barang tersedia dijual

Rp16.000.000

Dikurangi : Harga pokok penjualan

15.000.000

Harga pokok persediaan akhir

Rp1.000.000

Persentase Laba Bruto dari HPP. Jika persentase laba bruto adalah dari HPP,
maka HPP dianggap 100 persen. Sebagai contoh, data keuangan PT. NIAGA JAYA,
sebuah perusahaan eceran, selama tahun 2006 adalah sebagai berikut : (a) penjualan
Rp20.000.000, (b) laba bruto 33,33% dari HPP, (c) harga perolehan barang tersedia
untuk dijual (persediaan awal plus pembelian) adalah Rp16.000.000. Maka taksiran
harga perolehan persediaan akhir dan HPP :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 52 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Persentase

Rupiah

100%

?

Harga Pokok Penjualan
(+) Laba Bruto
Penjualan

33,33%
133,33%

?
Rp20.000.000

Jadi, besarnya penjualan Rp20.000.000 = 133,33%, maka harga pokok penjualan
(HPP) = 100%/133,33% x Rp20.000.000 = Rp15.000.000 dan laba bruto = 33,33%
x Rp15.000.000 = Rp5.000.000. Dengan demikian besarnya harga perolehan
persediaan akhir 2006 dapat dihitung sebagai berikut.

Harga pokok barang tersedia dijual

Rp 16.000.000

Dikurangi : Harga pokok penjualan

15.000.000

Harga pokok persediaan akhir

Rp 1.000.000

B. Penılaıan
Perusahaan yang menggunakan sistem perpetual (dijelaskan di Bab V) akan
mendapati saldo akun Persediaan di akhir tahun sebesar harga perolehannya
(acquisition cost). Perusahaan yang menggunakan sistem periodik juga akan
mencatat persediaan akhir tahun setelah inventory taking sebesar harga
perolehannya. Memang di sistem apa pun, berbagai metode aliran biaya seperti ratarata, MPKP ataupun MTKP dapat menghasilkan nilai persediaan akhir yang berbeda.
Namun, semua metode itu menghasilkan nilai sebesar harga perolehannya.
Apakah harga perolehan itu yang akan disajikan di neraca ? Itulah yang
dipertanyakan dalam proses penilaian, yakni menentukan besarnya angka rupiah
yang akan dicantumkan di neraca. Berbagai metode yang secara teoretis mungkin
adalah metode harga perolehan yang sesuai dengan prinsip harga perolehan (cost
principle), metode harga pasar (market value), dan harga perolehan atau nilai
realisasi bersih mana yang lebih rendah (lower of cost and net realizable value).

Pusdiklat BPK RI

Hal. 53 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Metode Harga Perolehan
Menurut metode ini, nilai persediaan di neraca adalah sebesar harga perolehannya.
Jika persediaan dinilai di neraca sebesar harga perolehannya, maka pada akhir
periode tidak diperlukan jurnal penyesuaian. Hal ini disebabkan oleh perlakuan
sistem perpetual ataupun sistem periodik yang mencatat persediaan dengan harga
perolehannya. Pelajari kembali diskusi sebelumnya di Bab ini juga mengenai
karakteristik akuntansi yang mencatat persediaan sejak diperoleh dengan
menggunakan harga perolehan. Jadi, dengan metode harga perolehan, nilai yang
dicantumkan di neraca diambil dari saldo akhir akun Persediaan tanpa melakukan
penyesuaian apa pun. Metode ini tidak digunakan di Indonesia.

Metode Harga Pasar
Menurut metode ini, nilai persediaan di neraca adalah harga pasarnya. Yang
dimaksud dengan harga pasar di sini adalah harga jual persediaan pada tanggal
neraca. Jika metode ini digunakan, maka diperlukan jurnal penyesuaiaan. Harga
pasar yang lebih tinggi mengharuskan perusahaan untuk mendebit akun Persediaan
atau Penyesuaian Nilai Persediaan dan mengkredit akun Untung (Rugi) Kenaikan
(Penurunan) Nilai Persediaan. Jumlah yang didebit dan dikredit pada akun-akun
tersebut, masing-masing sebesar selisih lebih antara harga pasar dan harga perolehan.
Jika terjadi selisih kurang, maka akun Untung (Rugi) Kenaikan (Penurunan) Nilai
Persediaan didebit dan akun Persediaan atau Penyesuaian Nilai Persediaan dikredit.
Metode ini di Indonesia tidak digunakan.

Harga Perolehan atau Nilai Realisasi Bersih Mana yang Lebih Rendah
Metode inilah yang ketika modul ini naik cetak digunakan oleh akuntansi di
Indonesia. Menurut metode ini, persediaan dinilai dengan angka yang lebih rendah
antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih. Yang dimaksud nilai realisasi bersih
adalah taksiran harga jual persediaan di pasar output4 dikurangi taksiran biaya

4

Pasar output adalah pasar tempat perusahaan menjual sediaannya. Jadi, harga di pasar output berarti
harga jual kepada konsumen. Lawan dari pasar output adalah pasar input, yakni pasar tempat
perusahaan membeli sediaannya. Kalau dikatakan harga di pasar input, maka maksudnya adalah
harga beli sediaan dari pemasok atau supplier.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 54 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

penyelesaian dan biaya pemasaran. Jika nilai realisasi bersih lebih rendah daripada
harga perolehannya, maka yang disajikan di neraca adalah nilai realisasi bersih.
Untuk sampai ke nilai tersebut, diperlukan jurnal penyesuaian. Sebagai contoh, harga
perolehan persediaan akhir tahun 2007 adalah Rp2.000.000, sedangkan nilai realisasi
bersihnya adalah Rp1.960.000. Maka jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut :
Des. 31 Untung (Rugi)
Persediaan

Kenaikan

(Penurunan)

Penyesuaian Nilai Persediaan

Nilai

40.000

-

-

40.000

Penilaian dengan "harga perolehan atau nilai realisasi bersih mana yang lebih
rendah” dapat diterapkan untuk : (1) tiap jenis persediaan, (2) tiap kelompok
persediaan, dan (3) seluruh persediaan. Contohnya ditayangkan di Tabel 6.1 di
bawah ini :
Tabel 6.1
Penerapan Metode Lower of Cost and Net Realizable Value
Secara Individual, Kelompok, dan Total
(Dalam Ribuan Rupiah)
Nilai
Kelompok
Harga
Kelompok
Individual
Realisasi
Perolehan
(Rp)
(Rp)
Bersih
(Rp)
(Rp)
I
A
11.000
10.500
10.500
B
22.000
21.000
21.000
C
28.000
30.000
28.000
61.000
61.500
61.000
II
D
15.000
16.000
15.000
E
10.000
10.500
10.000
F
12.000
9.000
9.000
37.000
35.500
35.500
98.000
97.000
93.500
96.500

Total
(Rp)

97.000

Selisih Rp4.500
Selisih Rp1.500
Selisih Rp1.000

Pusdiklat BPK RI

Hal. 55 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

C. Penyajıan Di Neraca
Persediaan (barang dagangan) disajikan di neraca dalam kelompok aktiva lancar.
Dengan menggunakan contoh di Tabel 6.1 di atas, jika perusahaan menerapkan
metode lower of cost and net realizable value yang diterapkan secara agregat atau
total, maka penyajiannya adalah sebagai berikut :

Persediaan

Rp98.000.000

Dikurangi : Penyesuaian nilai persediaan

1.000.000
Rp97.000.000

D. Latıhan Soal
Soal Latihan 1 :
Persediaan awal per 1 Januari 2007 pada PT. LOUBENA NIAGA adalah
Rp7.500.000. Selama tahun 2007 terjadi pembelian sebesar Rp25.000.000, ongkos
angkut pembelian Rp500.000, retur pembelian Rp2.000.000 dan potongan pembelian
Rp300.000. Adapun penjualan yang terjadi selama tahun 2007 adalah Rp29.295.000.
Tentukan harga pokok persediaan akhir tahun 2007, apabila perusahaan
menggunakan metode Laba Bruto dan diasumsikan :
1. Persentase laba bruto sebesar 30% dari penjualan
2. Persentase laba bruto sebesar 35% dari harga pokok penjualan

Soal Latihan 2 :
Berikut adalah data tentang harga perolehan dan nilai realisasi bersih setiap jenis
barang dagangan yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok pada PT. BINTANG
SAHARA (dalam jutaan rupiah) :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 56 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Kelompok I

Kelompok II

A

B

C

Harga perolehan

6,30

5,50

4,80

Nilai realisasi bersih

5,70

6,05

3,90

D

Kelompok III

E

F

G

H

I

9,60

8,40

7,30

3,20

4,70

2,90

11,04

6,90

8,10

2,70

5,20

3,30

Tentukan harga pokok persediaan akhir tahun 2007, apabila perusahaan
menggunakan metode Harga Perolehan atau Nilai Realisasi Bersih Mana yang Lebih
Rendah.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 57 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB VII
AKTIVA TETAP : PEMEROLEHAN DAN PELEPASAN
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan definisi
aktiva tetap dan berbagai jenis aktiva tetap tersebut, mampu menentukan
harga perolehan dengan berbagai cara perolehan —pembelian tunai,
pembelian kredit angsuran, pembelian lump-sum, tukar tambah, dan dari
sumbangan pihak lain — dan menghitung untung (rugi) pelepasan ataupun
penghentian aktiva tetap, memahami prosedur akuntansi sejak perolehan
sampai pelepasan, memahami pengakuan aset dalam pengerjaan, dan
menjelaskan perlakuan pertukaran aset sejenis dan tidak sejenis dengan
pendakatan commercial substance.
A. Pemerolehan
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau
dengan dibangun lebih dahulu, digunakan dalam operasi perusahaan, tidak
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan, dan
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Aktiva tetap antara lain adalah
tanah, gedung, dan mesin-mesin yang aktif dimanfaatkan sebagai faktor produksi.
Harga perolehan (acquisition cost) aktiva tetap terdiri atas semua pengorbanan
ekonomis untuk memperolehnya sampai ia siap dimanfaatkan secara aktif. Harga
perolehan mesin pabrik, misalnya, meliputi harga faktur dikurangi potongan tunai
(bila ada) ditambah biaya balik nama, pajak pertambahan nilai, biaya transportasi,
biaya percobaan, dan biaya-biaya lain yang diperlukan agar mesin tersebut siap
diaktifkan. Jika aktiva tetap berupa tanah yang akan dijadikan alas bangunan, maka
biaya penebangan pohon-pohon, biaya merobohkan bangunan lama di atasnya, dan
biaya perataan tanah agar tanah dalam kondisi siap bangun merupakan komponenkomponen harga perolehan tanah.
Terdapat banyak cara untuk memperoleh aktiva tetap, misalnya pembelian tunai,
pembelian kredit jangka panjang, pembelian gabungan, dan sumbangan pihak lain.
Masing-masing cara di atas memerlukan perhatian untuk menentukan harga
perolehan aktiva tetap.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 58 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembelian Tunai
Pembelian tunai merupakan cara termudah dalam penentuan harga perolehannya.
Harga perolehan adalah seharga faktur bersih setelah dikurangi potongan tunai,
terlepas dimanfaatkan atau tidak potongan tersebut. Potongan tunai yang tidak
dimanfaatkan diakui sebagai rugi atau biaya bunga. Sebagai contoh, misalnya PT.
CAHAYA KADA pada 1 Januari 2007 membeli sebuah kendaraan untuk antarjemput karyawan perusahaan. Harga faktur sebesar Rp100 juta dengan syarat 2/10,
n/30. Biaya balik nama dan biaya-biaya lain termasuk biaya percobaan adalah Rp30
juta dan dibayar tunai. Berapa harga perolehan kendaraan? Besarnya kos adalah
sebagai berikut :
Harga faktur

Rp100.000.000

Dikurangi : Potongan tunai 2%

2.000.000

Harga faktur bersih

Rp98.000.000

Ditambah : Biaya-biaya perolehan lain

30.000.000

Harga perolehan (acquisition cost)

Rp128.000.000

Jika kendaraan dibayar tunai pada 1 Januari 2006, maka jurnalnya sebagai berikut :
Jan.

1 Kendaraan
Kas

128.000.000

-

-

128.000.000

Jika kendaraan dibayar pada 25 Januari 2007 —lewat masa potongan— maka jurnal
untuk mencatat pembelian mesin dan pembayarannya adalah sebagai berikut :
Jan.

1 Kendaraan

128.000.000

-

Kas

-

30.000.000

Utang Pembelian Kendaraan

-

98.000.000

98.000.000

-

2.000.000

-

-

100.000.000

(mencatat pembelian kendaraan)
25 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga
Kas
(mencatat pembayaran utang)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 59 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembelian Aktiva Tetap Secara Kredit Angsuran Jangka Panjang
Umumnya, supplier yang menjual barangnya secara angsuran (jangka panjang)
membebankan bunga secara eksplisit ataupun implisit. Perusahaan yang membeli
aktiva (tetap) dengan cara kredit angsuran ini tidak boleh membebankan bunga
(eksplisit atau implisit) ke dalam harga perolehan. Harga perolehan aktiva tetap harus
ditentukan sebesar harga seandainya aktiva tetap itu dibeli secara tunai.

Bunga Eksplisit. Bunga eksplisit adalah bunga yang ditetapkan secara terus terang
dalam kontrak, misalnya 12% dari saldo pokok pinjaman. Tiap angsuran, perusahaan
harus membayar pokok angsuran plus bunga dari saldo pokok pinjaman mula-mula.
Sebagai contoh, misalnya PT. INDRA-INDRI pada 1 Januari 2005 membeli
kendaraan dengan harga faktur Rp100 juta. Syarat pembayarannya adalah uang muka
Rp40 juta, sisanya diangsur secara tahunan mulai 31 Desember 2005 masing-masing
sebesar Rp20 juta plus bunga 12% dari saldo pokok pinjaman awal tahun. Oleh
karena harga fakturnya sebesar Rp100 juta dan bunganya eksplisit, maka harga
perolehan kendaraan sebesar Rp100 juta juga.
Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian dengan uang muka dan 3 kali angsuran
adalah sebagai berikut:
2005
Jan.

1 Kendaraan

100.000.000

-

Kas

-

40.000.000

Utang Pembelian Kendaraan

-

60.000.000

20.000.000

-

7.200.000

-

-

27.200.000

20.000.000

-

4.800.000

-

-

24.800.000

(mencatat pembelian kendaraan)
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga (12% x Rp60.000.000)
Kas
(mencatat pembayaran angsuran pertama)

2006
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga (12% x Rp40.000.000)
Kas
(mencatat pembayaran angsuran kedua)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 60 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2007
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan

20.000.000

-

2.400.000

-

-

22.400.000

Biaya Bunga (12% x Rp20.000.000)
Kas
(mencatat pembayaran angsuran ketiga)

Bunga Implisit. Bunga implisit adalah bunga yang sudah diperhitungkan dalam
angsuran. Penjual tidak menyatakan berapa persen sebenarnya bunga yang
diperhitungkan. Untuk dapat menentukan harga perolehan, perusahaan harus
menaksir berapa bunga implisit kemudian menghitung nilai tunai angsuran. Bunga
implisit antara lain dapat ditentukan sebesar bunga efektif, yakni yang berlaku di
pasar.
Sebagai contoh, misalnya PT. ERWINDO JAYA pada 1 Januari 2005 membeli
kendaraan dari sebuah dealer, dengan membayar uang muka (down payment) sebesar
Rp 40 juta dan sisanya diangsur secara tahunan mulai 31 Desember 2005 masingmasing sebesar Rp 20 juta. Jika dianggap bunga efektif adalah 12% per tahun, maka
harga perolehan kendaraan adalah uang muka ditambah dengan nilai tunai (present
value) dari angsuran tahunan, dimana dapat dihitung sebagai berikut :5

Harga Perolehan = Rp40.000.000 +
= Rp40.000.000 +
= Rp88.036.625
===========

Rp20.000.000
—————— +
(1 + 0,12)1
Rp 17.857.143 +

Rp20.000.000
—————— +
(1 + 0,12)2
Rp 15.943.877 +

Rp20.000.000
——————
(1 + 0,12)3
Rp 14.235.605

Atau dapat pula dihitung dengan cara sebagai berikut :

Harga Perolehan

5

= Rp40.000.000 +

Rp20.000.000 x

= Rp40.000.000 +
= Rp40.000.000 +

Rp20.000.000 x
Rp48.036.600 =

1 – 1/(1 + 0,12)3
———————
0,12
2,40183
Rp88.036.600
===========

Perhitungan-perhitungan di contoh ini sudah dibulatkan ke satuan rupiah demi kepraktisan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 61 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Adapun besarnya biaya bunga per tahun dapat dihitung sebagai berikut :

Tanggal

Pembayaran

Biaya Bunga

Pokok Utang

(b)

Pengurangan
Pokok Utang
(c)

(a)

12% x (d)

(a) – (b)

(d) – (c)

(d)

01 Jan. 2005

-

-

-

Rp88.036.600

01 Jan. 2005

Rp40.000.000

-

Rp40.000.000

48.036.600

31 Des. 2005
31 Des. 2006

20.000.000
20.000.000

Rp5.764.392
4.056.119

14.235.608
15.943.881

33.800.992
17.857.111

31 Des. 2007

20.000.000

2.142.889

17.857.111

0

* Pembulatan sekitar Rp 36

Jurnal-jurnal untuk mencatat transaksi pembelian dengan uang muka dan 3 kali
angsuran, jika digunakan cara perhitungan harga perolehan yang terakhir adalah
sebagai berikut.

2005
Jan.

1 Kendaraan

88.036.600

-

Kas

-

40.000.000

Utang Pembelian Kendaraan

-

48.036.600

14.235.608

-

5.764.392

-

-

20.000.000

15.943.881

-

4.056.119

-

-

20.000.000

17.857.111

-

2.142.889

-

-

20.000.000

(mencatat pembelian kendaraan)
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga
Kas
(mencatat pembayaran angsuran pertama)

2006
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga
Kas
(mencatat pembayaran angsuran kedua)

2007
Des.

31 Utang Pembelian Kendaraan
Biaya Bunga
Kas
(mencatat pembayaran angsuran ketiga)

Pusdiklat BPK RI

Hal. 62 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembelian Aktiva Tetap Secara Borongan
Pembelian borongan (lump–sum) adalah pembelian beberapa jenis aktiva dengan
harga borongan. Sebagai contoh, misalnya PT. SERUNAI MERDU pada 1 Januari
2007 membeli tanah dan bangunan di atasnya dengan harga total Rp375 juta. Oleh
karena akuntansi menghendaki catatan terpisah antara tanah dan bangunan, maka
harga perolehan masing-masing jenis harus ditentukan. Metode harga pasar relatif
dapat digunakan untuk mengalokasi harga perolehan total ke masing-masing jenis.
Misalnya diketahui bahwa harga pasar tanah dan bangunan jika dibeli secara terpisah
adalah Rp150 juta dan Rp350 juta. Dengan menggunakan metode harga pasar relatif,
maka harga perolehan total dapat dialokasi sebagai berikut :

Jenis

Harga Pasar

Tanah

Perhitungan

Alokasi

Rp150.000.000

30%

30% x Rp375.000.000

Rp112.500.000

350.000.000

70%

70% x Rp375.000.000

262.500.000

Rp500.000.000

100%

Bangunan
Total

Persentase

Rp375.000.000

Jurnal untuk mencatat pembelian borongan di atas adalah sebagai berikut :
Jan.

1 Tanah
Bangunan

112.500.000

-

262.500.000

-

-

375.000.000

Kas

Pemerolehan Aktiva Tetap dari Sumbangan
Aktiva tetap dapat diperoleh dari sumbangan, misalnya dari pemerintah atau lembaga
lain. Meskipun untuk memperoleh sumbangan ini tidak ada pengorbanan, namun
akuntansi

akan

tetap

mencatatnya

karena

akuntansi

merupakan

alat

pertanggungjawaban. Penyimpangan terhadap prinsip kos dibenarkan untuk mencatat
aktiva dari sumbangan. Aktiva tetap dari sumbangan dinilai dengan harga pasar
wajar aktiva tersebut ketika sumbangan diterima. Jurnalnyaadalah dengan mendebit
akun aktiva tetap yang diterima dan mengkredit Modal Sumbangan. Apabila terdapat
biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva sumbangan, maka biaya tadi tidak
Pusdiklat BPK RI

Hal. 63 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

boleh menambah nilai sumbangan di atas harga pasar wajar, tetapi menjadi
pengurang modal sumbangan.
Sebagai contoh, misalnya PT. SAHARAWINTA pada 10 Desember 2006 menerima
sumbangan berupa kendaraan yang harganya dalam keadaan on the road adalah
Rp125 juta. Dalam penerimaan sumbangan ini, perusahaan harus membayar bea
balik nama Rp25 juta. Ini berarti sumbangan hanya bernilai Rp100 juta. Jurnal untuk
mencatat pemerolehan kendaraan adalah sebagai berikut :
Des.

10 Kendaraan

125.000.000

-

Modal Sumbangan

-

100.000.000

Kas

-

25.000.000

Pemerolehan Aktiva Tetap dengan Membangun Sendiri
Perusahaan dapat memperoleh aktiva tetap dengan cara membangun sendiri. Selama
proses konstruksi harus dicatat seluruh pengorbanan untuk konstruksi tersebut. Biaya
konstruksi antara lain terdiri atas : (1) biaya (harga perolehan) bahan bangunan yang
digunakan, (2) upah tenaga kerja langsung, dan (3) biaya-biaya lain seperti
pemakaian listrik dan depresiasi fasilitas (aktiva tetap) perusahaan yang digunakan
untuk membangun. Semua jenis biaya konstruksi harus diperhitungkan dan didebit
ke akun Aktiva Dalam Konstruksi. Kalau yang dibangun sendiri adalah gedung
kantor, maka semua biaya konstruksi didebit ke akun ”Gedung Dalam Konstruksi.”
Jika pembangungan gedung tersebut sudah selesai 100 persen, maka akun Gedung
Dalam Konstruksi dikredit dengan akun lawan (debit) Gedung.

Sebagai contoh, misalnya PT. SATRIA PRADHANA membangun sendiri mesin
produksinya dengan biaya-biaya sampai selesai 100 persen pada 10 Desember 2007
sebagai berikut.
Bahan baku (baja, besi, dan lain-lain)

Rp4.000.000

Biaya tenaga kerja langsung tunai

8.000.000

Biaya listrik tunai

2.000.000

Biaya depresiasi gedung dialokasikan ke mesin

1.000.000

Harga perolehan

Pusdiklat BPK RI

Rp15.000.000

Hal. 64 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pencatatan biaya-biaya di atas dalam buku jurnal adalah sebagai berikut :
Mesin dalam Konstruksi

15.000.000

-

Persediaan Bahan Baku

-

4.000.000

Kas

-

10.000.000

Akumulasi Depresiasi Gedung

-

1.000.000

Jurnal untuk mencatat ketika pembangunan sendiri mesin telah selesai 100 persen,
misalnya pada 10 Desember, adalah sebagai berikut.
Des.

10 Mesin

15.000.000

-

-

15.000.000

Mesin dalam Konstruksi

Akun aktiva dalam konstruksi — yang sampai akhir tahun buku belum selesai —
dinilai sebesar total biaya yang sudah dikeluarkan sampai akhir tahun tersebut dan
disajikan di neraca dalam kelompok aktiva lain-lain. Ketika modul ini dibuat, aktiva
dalam konstruksi untuk lembaga pemerintahan diklasifikasi ke dalam aktiva tetap.
Penghematan dan Pemborosan. Biaya untuk membangun sendiri aktiva tetap
mungkin tidak sama dengan harga apabila aktiva diperoleh dengan cara membeli
atau dibangunkan pihak lain atas dasar kontrak konstruksi. Bagaimana menentukan
harga perolehannya? Pada prinsipnya, jika terjadi penghematan yang diperoleh
karena membangun sendiri, maka penghematan itu tidak boleh diakui sebagai untung
(gains). Namun, jika terjadi pemborosan (biaya membangun sendiri lebih besar
daripada harga jika membeli dari luar), maka pemborosan itu harus diakui sebagai
rugi (losses).

Pemerolehan Aktiva Tetap dengan Mengeluarkan Saham Biasa
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan mengeluarkan saham biasa. Acquisition cost
aktiva tetap adalah sebesar harga pasar wajar aktiva tetap tersebut pada saat
dipertukarkan dengan saham biasa perusahaan. Sebagai contoh, misalnya PT.
RAHYUTAMA pada 1 Nopember 2007 mengeluarkan 10.000 lembar saham biasa
untuk memperoleh sebuah mesin produksi. Nominal saham per lembar Rp5.000.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 65 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pada saat pengeluaran saham, diketahui bahwa harga pasar wajar mesin produksi
tersebut adalah Rp55.000.000. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai
berikut.
Nop.

1 Mesin

55.000.000

-

Modal Saham Biasa

-

50.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

5.000.000

Apabila pada saat pertukaran dengan saham, harga pasar aktiva tetap tidak diketahui,
maka acquisition cost aktiva tetap adalah sebesar harga pasar wajar saham biasa pada
saat dipertukarkan dengan saham biasa. Selisih lebih (kurang) harga pasar saham
biasa di atas (di bawah) nilai nominalnya diakui sebagai agio (disagio) modal saham
biasa.

Pemerolehan Aktiva Tetap dengan Tukar Tambah (Trade-In)
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan cara menukarkan aktiva tetap bekas (yang
selama ini dioperasikan) dengan aktiva tetap baru. Penentuan harga perolehan aktiva
tetap dari pertukaran ini bergantung pada apakah terdapat substansi komersial
(commercial substance).

Terdapat Substansi Komersial
Sebuah pertukaran dikatakan memiliki substansi komersial jika terdapat perubahan
dalam aliran kas masa mendatang sebagai akibat dari transaksi pertukaran tersebut.
Contoh paling mudah adalah kalau perusahaan menukarkan mesin produksi dengan
tanah. Pertukaran ini sangat mungkin memengaruhi aliran kas masa mendatang yang
berarti pertukaran ini memiliki substansi komersial. Dalam pertukaran seperti ini,
harga perolehan aktiva tetap (baru) yang diterima adalah sebesar harga pasar wajar
aktiva tetap (bekas) yang diserahkan kepada pihak lain plus kas yang dikeluarkan
dalam pertukaran tersebut, apabila ada. Untung (rugi) yang timbul diakui.

Rugi Diakui dalam Pertukaran
Sebagai contoh, misalnya PT. SAHARAWINTA pada 1 Oktober 2007 menukarkan
Pusdiklat BPK RI

Hal. 66 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

mesin bekas dengan nilai buku mesin bekas adalah Rp6.000.000 (harga perolehan
Rp10.000.000 dan akumulasi depresiasi Rp4.000.000) dan harga pasar wajarnya
adalah Rp5.000.000 dengan mesin model baru seharga Rp15.000.000, menurut daftar
harga. Transaksi ini memiliki substansi komersial. Dalam pertukaran, mesin bekas
dihargai oleh toko dengan nilai Rp 8.000.000, sehingga perusahaan harus membayar
dengan kas Rp7.000.000. Maka harga perolehan mesin model baru dihitung sebagai
berikut.
Harga mesin model baru menurut daftar harga

Rp15.000.000

Dikurangi : Harga pertukaran mesin bekas
Kas yang dibayarkan oleh perusahaan

8.000.000
Rp7.000.000

Ditambah : Harga pasar wajar mesin bekas
Harga perolehan mesin baru

5.000.000
Rp12.000.000

Adapun untung (rugi) pertukaran mesin tersebut dihitung sebagai berikut.
Harga pasar wajar mesin bekas

Rp5.000.000

Nilai buku mesin bekas kas
Rugi pelepasan (pertukaran) mesin bekas

6.000.000
Rp1.000.000

Jurnal untuk mencatat perolehan mesin baru adalah sebagai berikut.
Nop.

1 Mesin (Baru)

12.000.000

-

Akumulasi Depresiasi Mesin (Bekas)

4.000.000

-

Rugi Pertukaran Mesin

1.000.000

-

Mesin (Bekas)

-

10.000.000

Kas

-

7.000.000

Untung Diakui dalam Pertukaran
Sebagai contoh, misalnya PT. NIMMINDO pada 1 Oktober 2007 menukarkan
mesin bekas dengan nilai buku mesin bekas adalah Rp6.000.000 (harga perolehan
Rp10.000.000 dan akumulasi depresiasi Rp4.000.000) dengan mesin model baru.
Transaksi ini memiliki substansi komersial. Dalam pertukaran, mesin bekas dihargai
oleh toko senilai Rp8.000.000 dan masih harus membayar kas Rp1.500.000. Maka
harga perolehan mesin baru dihitung sebagai berikut :
Pusdiklat BPK RI

Hal. 67 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Harga pasar wajar mesin bekas

Rp8.000.000

Ditambah : Kas yang dibayarkan oleh perusahaan

1.500.000

Harga perolehan mesin baru

Rp9.500.000

Untung (rugi) pertukaran mesin tersebut dihitung sebagai berikut :
Harga pasar wajar mesin bekas

Rp8.000.000

Nilai buku mesin bekas kas

6.000.000

Untung pelepasan (pertukaran) mesin bekas

Rp2.000.000

Jurnal untuk mencatat perolehan mesin baru adalah sebagai berikut.
Nop.

1 Mesin (Baru)

9.500.000

-

4.000.000

-

Untung Pertukaran Mesin

-

2.000.000

Mesin (Bekas)

-

10.000.000

Kas

-

1.500.000

Akumulasi Depresiasi Mesin (Bekas)

Tidak Terdapat Substansi Komersial
Sebuah pertukaran dikatakan tidak memiliki substansi komersial jika tidak terdapat
perubahan dalam aliran kas masa mendatang sebagai akibat dari transaksi pertukaran
tersebut. Contohnya adalah pertukaran mesin produksi bekas dengan mesin produksi
baru yang sejenis dan umur ekonomis mesin baru tidak berbeda secara signifikan
dengan sisa umur ekonomis mesin bekas. Kalau manajemen yakin pertukaran ini
tidak mengakibatkan perubahan aliran kas masa mendatang, maka pertukaran ini
tidak memiliki substansi komersial.

Tidak Terdapat Penerimaan Kas.
Jika dalam pertukaran perusahaan harus mengeluarkan kas, maka harga perolehan
mesin baru adalah nilai buku mesin bekas plus kas yang dikeluarkan. Perusahaan
tidak boleh mengakui adanya untung pertukaran. Jika dalam contoh yang baru saja
Pusdiklat BPK RI

Hal. 68 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

diberikan di atas ternyata tidak terdapat substansi komersial, maka harga perolehan
mesin baru adalah sebagai berikut.

Nilai buku mesin bekas

Rp6.000.000

Ditambah : Kas yang dibayarkan oleh perusahaan

1.500.000

Harga perolehan mesin baru

Rp7.500.000

Jurnal untuk mencatat perolehan mesin baru adalah sebagai berikut :

Nop.

1 Mesin (Baru)

7.500.000

-

4.000.000

-

Mesin (Bekas)

-

10.000.000

Kas

-

1.500.000

Akumulasi Depresiasi Mesin (Bekas)

Terdapat Penerimaan Kas. Jika dalam pertukaran, perusahaan menerima kas, maka
harus dihitung bagian dari nilai buku aktiva tetap (bekas) yang dianggap dijual
melalui pertukaran. Harga perolehan aktiva baru adalah: (1) nilai buku aktiva bekas
minus bagian dari nilai buku aktiva bekas yang dianggap dijual tersebut, atau (2)
nilai wajar aktiva baru minus untung yang ditangguhkan. Sebagai contoh, misalnya
PT. BINTANG SAKTI pada 1 Januari 2007 menukarkan mesin bekas dengan mesin
baru dan manajemen yakin tidak terdapat substansi komersial. Nilai buku mesin
bekas Rp6.000.000 (harga perolehan Rp10.000.000 dan akumulasi depresiasi
Rp4.000.000) dan harga pasar wajarnya Rp9.000.000. Perusahaan menerima mesin
baru yang harga pasar wajarnya adalah Rp7.500.000 dan menerima kas Rp1.500.000.
Perhatikanlah bahwa dalam pertukaran ini, untung totalnya adalah Rp3.000.000,
yakni harga pasar mesin bekas Rp9.000.000 dikurangi nilai buku mesin bekas
Rp6.000.000. Dalam hal ini hanya sebagian dari untung Rp3.000.000 ini yang boleh
diakui pada saat pertukaran dan sebagian lainnya ditangguhkan.
Adapun untung yang boleh diakui dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Kas yang Diterima
Untung Diakui =

Pusdiklat BPK RI

——————————————————
Kas Diterima + Harga Wajar Aktiva Baru

x Untung

Hal. 69 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Maka dalam contoh di atas, untung yang boleh diakui adalah sebagai berikut :
Rp1.500.000
Untung Diakui = ———————————— x
Rp1.500.000 + Rp7.500.000

Rp3.000.000 = Rp500.000

Dengan demikian untung yang ditangguhkan adalah sebesar Rp2.500.000
(=Rp3.000.000 – Rp500.000). Jadi, harga perolehan mesin baru adalah nilai wajar
mesin baru Rp7.500.000 minus untung yang ditangguhkan Rp2.500.000 =
Rp5.000.000.6 Jurnal untuk mencatat perolehan mesin baru adalah sebagai berikut :
Nop.

1 Mesin (Baru)

5.000.000

-

Akumulasi Depresiasi Mesin (Bekas)

4.000.000

-

Kas

1.500.000

-

Untung Pertukaran Mesin

-

500.000

Mesin (Bekas)

-

10.000.000

B. Pelepasan
Aktiva tetap akan dilepas atau diberhentikan kembali jika, misalnya, umur
ekonomisnya telah habis. Sebelum pelepasan atau pemberhentian, janganlah lupa
untuk mencatat depresiasi sejak awal tahun sampai tanggal pelepasan. Pada saat
pelepasan, akun Akumulasi Depresiasi didebit dan akun aktiva tetap dikredit. Jika
aktiva tetap dilepas dengan cara menjualnya, maka sangatlah mungkin bahwa harga
jual berbeda dari nilai bukunya, sehingga timbul adanya untung (rugi) pelepasan
aktiva dan harus diakui.
Sebagai contoh, misalnya PT. MA’RIFATULLAH pada 1 Juli 2007 menjual mesin
produksi yang telah dipakainya selama 5 tahun dan telah habis masa manfaatnya
dengan harga jual Rp12.000.000. Harga perolehan mesin tersebut adalah

6

Sebagaimana telah dijelaskan, harga perolehan mesin baru juga dapat dihitung dengan rumus: “nilai
buku mesin bekas plus bagian nilai buku mesin bekas yang dianggap dijual.” Bagian nilai buku
tersebut adalah (Rp150.000 : Rp900.000) x Rp600.000 = Rp100.000. Jadi, harga perolehan mesin
baru adalah Rp600.000 minus Rp100.000 = Rp500.000.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 70 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Rp55.000.000, disusutkan dengan metode Garis Lurus, dimana dahulu ditaksir
mempunyai nilai residu Rp5.000.000. Jadi, depresiasi per tahunnya adalah
Rp10.000.000, yakni selisih antara harga perolehan dengan nilai residu dibagi
dengan taksiran usia manfaat. Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka
akumulasi depresiasi sampai 31 Desember 2006 adalah Rp 45.000.000 (= 4,5 tahun x
Rp10.000.000) dan nilai bukunya Rp10.000.000 (= Rp55.000.000 – Rp45.000.000).
Jurnal pada 1 Juli 2007 untuk mencatat depresiasi setengah tahun Rp5.000.000
adalah sebagai berikut.
Jul.

1 Biaya Depresiasi Mesin

5.000.000

Akumulasi Depresiasi Mesin

-

5.000.000

Setelah jurnal di atas diposting, maka akumulasi depresiasi per 1 Juli 2007 adalah
Rp50.000.000 dan nilai bukunya adalah Rp5.000.000. Oleh karena mesin dijual
dengan harga Rp12.000.000, maka untungnya adalah Rp7.000.000. Jurnal untuk
mencatat transaksi penjualan mesin adalah sebagai berikuT
Jul.

1 Kas

12.000.000

-

5.000.000

-

Mesin

-

55.000.000

Untung Pelepasan Mesin

-

7.000.000

Akumulasi Depresiasi Mesin

C. Latihan Soal

Soal Latihan 1 :
PT. FAJAR pada 1 Maret 2005 membeli peralatan kantor dengan harga faktur
Rp100.000.000, dengan pembayaran uang muka 40% dan sisanya diangsur secara
tahunan mulai 1 Maret 2006 masing-masing Rp30.000.000 plus bunga 6% dari
pokok pinjaman awal tahun.
Buatlah jurnal pencatatan yang diperlukan sampai angsuran dibayar lunas !

Pusdiklat BPK RI

Hal. 71 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Soal Latihan 2 :
PT. SENJA JINGGA pada 1 Agustus 2007 menukarkan mesin bekasnya dengan
mesin model baru yang mempunyai harga faktur Rp6.000.000. Harga perolehan
mesin bekas tersebut Rp4.000.000, akumulasi depresiasi Rp1.600.000 dan harga
pasar wajar Rp2.000.000. Transaksi ini dinyatakan memiliki substansi komersial.
Dalam pertukaran ini mesin bekas dihargai oleh toko sebesar Rp3.200.000, sehingga
perusahaan harus membayar kas Rp2.800.000.
Buatlah jurnal pencatatannya.

Soal Latihan 3 :
PT. SENJA JINGGA pada 1 Januari 2008 menukarkan mesin bekasnya dengan
mesin model baru yang mempunyai harga faktur Rp2.250.000. Harga perolehan
mesin bekas tersebut Rp3.000.000, akumulasi depresiasi Rp1.200.000 dan harga
pasar wajar Rp2.700.000. Transaksi ini dinyatakan tidak memiliki substansi
komersial. Dalam pertukaran ini perusahaan menerima kas Rp450.000.
Buatlah jurnal pencatatan yang diperlukan!

Pusdiklat BPK RI

Hal. 72 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB VIII
AKTIVA TETAP : PEMANFAATAN

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan
berbagai metode depresiasi aktiva tetap seperti metode garis lurus, metode
jumlah angka tahun, dan metode saldo menurun, dan menjelaskan prosedur
akuntansi selama pemanfaatan aktiva tetap tersebut.

Telah dijelaskan di pokok bahasan sebelumnya bahwa manfaat aktiva tetap melebihi
satu tahun (periode akuntansi). Oleh karena manfaatnya lebih dari satu tahun, maka
semua pengorbanan untuk memperoleh aktiva tetap dicatat mula-mula sebagai harga
perolehan (acquisition cost), alih-alih diakui secara langsung sebagai beban pada
periode pengeluaran tersebut. Pengakuan beban dilakukan dengan cara mengalokasi
biaya (harga) perolehan ke periode-periode (periode sekarang dan periode
mendatang) yang menerima manfaat aktiva tetap tersebut. Itulah yang disebut
sebagai depresiasi atau penyusutan (depreciation). Kalau yang dialokasi seperti itu
adalah harga perolehan sumber alam, maka pengalokasiannya disebut deplesi
(depletion) dan jika untuk aktiva tak berwujud, maka alokasinya disebut amortisasi
(amortization).
Pokok bahasan ini selanjutnya menjelaskan : (1) faktor-faktor yang dipertimbangkan
untuk menentukan jumlah biaya depresiasi tahunan, (2) berbagai metode depresiasi,
dan (3) penentuan acquisition cost untuk aktiva tetap yang diperoleh dengan
pertukaran.

A. Penentuan Jumlah Depresiasi
Jumlah biaya depresiasi yang akan dibebankan ke masing-masing periode yang
menerima manfaat aktiva tetap dipengaruhi oleh empat variabel berikut : (1)
acquisition cost (selanjutnya akan disebut cost atau kos saja, harga perolehan, atau
harga perolehan mula-mula), (2) taksiran umur ekonomis/masa manfaat, (3) taksiran
nilai residu (sisa) di akhir umur ekonomis, dan (4) pola penggunaan. Berikut
penjelasannya.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 73 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

1. Kos aktiva tetap meliputi harga faktur bersih (setelah dikurangi potongan tunai
apabila ada) ditambah seluruh biaya untuk memperolehnya sampai dalam kondisi
siap pakai. Pelajari kembali hal ini di pokok bahasan sebelumnya.
2. Taksiran umur ekonomis adalah taksiran jumlah waktu yang diperkirakan
menerima manfaat aktiva tetap secara ekonomis. Dalam menaksir umur
ekonomis harus dipertimbangkan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi selama
pemanfaatan aktiva tetap, pengaruh iklim/cuaca, dan kebijakan manajemen
terkait dengan perawatan dan pemeliharaannya.
3. Taksiran nilai residu adalah jumlah moneter yang diharapkan dapat direalisasi
pada saat aktiva tetap diberhentikan. Selisih antara kos dan taksiran nilai residu
merupakan kos yang akan didepresiasi (depreciable cost).
4. Pola penggunaan. Agar dapat mencerminkan pola penggunaan aktiva tetap
setepat mungkin, maka dipertimbangkan pola penggunaan jasa aktiva tetap
selama umur ekonomisnya. Misalnya, jika pola penggunaan aktiva tetap merata
di setiap tahun selama masa ekonomisnya, maka metode garis lurus lebih
mencerminkan pola tersebut daripada metode-metode lainnya.
Setelah empat variabel di atas ditentukan, perhitungan jumlah depresiasi yang
dibebankan ke masing-masing periode dapat dilakukan dengan dasar waktu
(depresiasi sebagai fungsi waktu) atau prestasi (depresiasi sebagai fungsi prestasi).

B. Metode Depresiasi
1. Metode Garis Lurus (Atas Dasar Waktu)
Metode Garis Lurus (Straight Line) menghitung biaya depresiasi untuk masingmasing periode dengan jumlah yang sama. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Kos – Taksiran Nilai Residu
Depresiasi per Tahun =

————————————
Taksiran Umur Ekonomis

Sebagai contoh, misalnya kendaraan dibeli pada 1 Januari 2007 dengan harga
perolehan (acquisition cost) Rp 160.000.000, ditaksir mempunyai umur

Pusdiklat BPK RI

Hal. 74 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

ekonomis 5 tahun, dan nilai residu Rp 10.000.000. Maka depresiasi per tahun
adalah :
Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000
–––––––––––––––––––––––––––– = Rp 30.000.000
5
Tabel depresiasi kendaraan di atas dengan metode Garis Lurus adalah sebagai
berikut.

Tahun

Nilai Buku Awal
Tahun
(a)

2007
2008
2009
2010
2011

Rp 160.000.000
130.000.000
100.000.000
70.000.000
40.000.000

Tabel Depresiasi Kendaraan
Metode Garis Lurus
Akumulasi
Depresiasi
Biaya
Sampai Dengan
Depresiasi
Akhir Tahun
Tahun
(b)
(c)
= (c) + (b)
Rp 30.000.000
Rp 30.000.000
30.000.000
60.000.000
30.000.000
90.000.000
30.000.000
120.000.000
30.000.000
150.000.000

Nilai Buku Akhir
Tahun
(d) = (a) – (b) atau
Kos – (c)
Rp 130.000.000
100.000.000
70.000.000
40.000.000
10.000.000

Perhitungan yang mudah merupakan kebaikan metode Garis Lurus. Metode ini
cocok untuk aktiva tetap seperti gedung kantor yang pola penggunaannya relatif
sama dari tahun ke tahun.

2. Metode Jumlah Menurun
Dasar pemikiran metode ini adalah bahwa biaya yang berkaitan dengan
penggunaan aktiva tetap sebagian besar disebabkan oleh biaya pemeliharaan dan
depresiasi. Biaya pemeliharaan pada tahun-tahun pertama cenderung kecil dan
pada tahun-tahun berikutnya cenderung besar. Metode ini merencanakan agar
biaya periodik selama umur ekonomisnya dari tahun ke tahun selalu relatif sama
besar. Untuk mengimbangi biaya pemeliharaan yang semakin lama semakin
besar, maka biaya depresiasi pada tahun-tahun pertama dihitung lebih besar
daripada tahun-tahun berikutnya. Yang termasuk metode jumlah menurun adalah
metode

Jumlah

Pusdiklat BPK RI

Angka

Tahun

dan

metode

Saldo

Menurun.

Berikut

Hal. 75 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

penjelasannya.

a. Metode Jumlah Angka Tahun.
Metode Jumlah Angka Tahun (Sum-of-the-Years’-Digits) menghitunga biaya
depresiasi dengan cara : (1) memberi bobot masing-masing tahun sebesar sisa
umur aktiva pada tahun yang bersangkutan, (2) menjumlahkan angka-angka
tahun pada umur ekonomis aktiva, misalnya yang umur ekonomis aktiva 3
tahun : 3 + 2 + 1 = 6, dan (3) mengalikan proporsi bobot tahun relatif
terhadap jumlah angka tahun dengan kos yang didepresiasi (depreciable
cost). Proporsi untuk tahun pertama dengan contoh di atas adalah 3/6, tahun
ke-2 adalah 2/6, dan tahun ke-3 adalah 1/6. Depreciable cost adalah
acquisition cost dikurangi taksiran nilai residu.
Sebagai contoh, misalnya kendaraan diperoleh pada 1 Januari 2007 dengan
harga perolehan mula-mula Rp 160.000.000, ditaksir umur ekonomisnya 3
tahun, dan nilai residunya Rp 10.000.000. Jadi, depresiasi tahun pertama
sampai tahun ke-3 adalah :
Tahun I :

3/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 75.000.000

Tahun II :

2/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 50.000.000

Tahun III :

1/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 25.000.000

Tabel depresiasi kendaraan di atas dengan metode Jumlah Angka Tahun
adalah sebagai berikut :
Tabel Depresiasi Kendaraan
Metode Jumlah Angka Tahun
Akumulasi
Biaya
Depresiasi
Tahun
(b)

Tahun

Nilai Buku Awal
Tahun
(a)

2007

Rp 160.000.000

Rp 75.000.000

2008

85.000.000

2009

35.000.000

Pusdiklat BPK RI

Depresiasi
Sampai Dengan
Akhir Tahun
(c)
= (c) + (b)
Rp

Nilai Buku Akhir
Tahun
(d) = (a) – (b) atau
Kos – (c)

75.000.000

Rp 85.000.000

50.000.000

125.000.000

35.000.000

25.000.000

150.000.000

10.000.000

Hal. 76 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

b. Metode Saldo Menurun.
Metode Saldo Menurun (Declining Balance) menggunakan tarif dengan
kelipatan tertentu dari metode garis lurus. Misalnya, kalau umur ekonomis
aktiva tetap 5 tahun, maka tarif depresiasi untuk metode garis lurus adalah 1/5
atau 20%. Metode saldo menurun merupakan kelipatan tertentu dari 20%.
Contoh metode yang menggunakan metode saldo menurun adalah metode
Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance) yang kelipatannya adalah
2 kali tarif metode garis lurus = 2 x 20% = 40%. Untuk tahun pertama, tarif
ini dikalikan dengan nilai buku awal tahun yang dari tahun ke tahun menurun
nilai jumlahnya. Dalam menghitung jumlah yang akan didepresiasi, metode
saldo menurun tidak memasukkan taksiran nilai residu.
Sebagai contoh, misalnya kendaraan dibeli pada 1 Januari 2007 dengan
harga perolehan (acquisition cost) Rp 160.000.000, ditaksir umur
ekonomisnya 3 tahun, dan nilai residunya Rp 10.000.000.

Sebagaimana

penjelasan sebelumnya, tarif depresiasi untuk aktiva dengan umur ekonomis
5 tahun adalah 20% jika metode garis lurus digunakan, sehingga tarifnya
menjadi 40% dengan metode saldo menurun ganda. Maka tabel depresiasinya
sebagai berikut :

Tabel Depresiasi Kendaraan
Metode Saldo Menurun Ganda

Tahun

Nilai Buku
Awal Tahun
(a)

Biaya Depresiasi
Tahun
(b)

Akumulasi
Depresiasi
Sampai Dengan
Akhir Tahun
(c)
= (c) + (b)

Nilai Buku
Akhir Tahun
(d) = (a) – (b) atau
Kos – (c)

2007

Rp160.000.000

Rp64.000.000

Rp64.000.000

Rp96.000.000

2008

96.000.000

38.400.000

102.400.000

57.600.000

2009

57.600.000

23.040.000

125.440.000

34.560.000

2010

34.560.000

13.824.000

139.264.000

20.736.000

2011

20.736.000

8.294.400

147.558.400

12.441.600

Pusdiklat BPK RI

Hal. 77 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

3. Metode Atas Dasar Prestasi
Metode atas dasar prestasi mendasarkan depresiasi pada kinerja aktiva tetap.
Salah satunya adalah metode Output Produktif (Production-Units). Metode ini
menghitung depresiasi berdasarkan pada argumen bahwa aktiva tetap diperoleh
untuk jasa yang disediakannya dalam bentuk hasil produksi. Menurut metode ini,
perlu ditaksir lebih dahulu total satuan hasil produksi aktiva. Kemudian dihitung
tarif depresiasi per satuan hasil produksi dengan cara membagi depreciable cost
dengan taksiran total satuan hasil tersebut. Terakhir, dihitung depresiasi untuk
masing-masing tahun dengan mengalikan tarif depresiasi per satuan hasil
produksi dengan jumlah satuan output yang dihasilkan oleh masing-masing tahun
tersebut.
Sebagai contoh, misalnya sebuah mesin dengan kos Rp21.000.000 ditaksir
mampu memproduksi 100.000 unit produk selama kurun waktu 5 tahun. Taksiran
nilai residu Rp1.000.000. Maka biaya depresiasi untuk setiap unit produk yang
dihasilkan adalah:
Rp21.000.000 – Rp1.000.000
–––––––––––––––––––––––––––– = Rp200
100.000
Jika satuan hasil tahun pertama, misalnya, sebanyak 15.000 unit produk, maka
biaya depresiasi untuk tahun pertama tersebut adalah sebesar Rp3.000.000(=
15.000 x Rp200). Jika satuan hasil tahun kedua sebanyak 20.000 unit produk,
maka biaya depresiasi untuk tahun kedua adalah sebesar Rp4.000.000 (= 20.000
x Rp200). Begitu seterusnya, bergantung pada jumlah satuan hasil di tahun-tahun
berikutnya.

Depresiasi Bagian dari Tahun
Bagian ini membahas depresiasi yang mendasarkan pada waktu (misalnya
metode garis lurus) ketika aktiva tetap diperoleh dan mulai aktif dioperasikan
tidak pada awal periode akuntansi, tetapi, misalnya, pada pertengahan tahun (1
Juli). Oleh karena depresiasi aktiva tetap dihitung setelah aktiva tetap aktif
dioperasikan, maka depresiasi untuk tahun pertama adalah setengah tahun.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 78 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Andaikan sebuah aktiva tetap mulai digunakan 1 Juli 2006, kos perolehan
Rp18.000.000, taksiran umur ekonomis 3 tahun, tanpa nilai residu, dan disusut
dengan metode garis lurus. Maka depresiasi per tahun = (18.000.000 – Rp0)/3 =
Rp6.000.000.

Dengan demikian depresiasi tahun 2006 adalah sebesar

Rp3.000.000 (= Rp6.000.000 x 6/12). Depresiasi tahun 2007 dan 2008 masingmasing adalah sebesar Rp6.000.000, sedangkan depresiasi tahun 2009 adalah
Rp3.000.000 (= Rp6.000.000 x 6/12).
Bila aktiva tetap mulai digunakan pada selain pertengahan tahun, maka depresiasi
dihitung dengan dasar kebijakan manajemen. Misalnya, kalau aktiva tetap mulai
dipakai 1 Mei 2007, maka depresiasi untuk tahun 2007 terhitung mulai 1 Mei
tersebut. Jadi, untuk tahun 2007 depresiasinya adalah untuk aktivitas 7 bulan.
Kalau aktiva tetap mulai dipakai pada tanggal 10 Mei 2007, maka depresiasi
untuk tahun 2007 dapat didasarkan pada waktu 6,5 bulan ataupun 7 bulan
tergantung kebijakan manajemen.

C. Pencatatan Biaya Depresiasi
Pencatatan biaya depresiasi dalam buku jurnal umumnya dilakukan pada akhir tahun
buku. Jika depresiasi kendaraan dibebankan Rp 500.000 ke tahun 2007, maka jurnal
untuk mencatat depresiasi pada akhir tahun 2007 adalah sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Depresiasi Kendaraan
Akumulasi Depresiasi Kendaraan

500.000

-

-

500.000

Biaya Depresiasi digunakan untuk mencatat biaya depresiasi yang dibebankan ke
tahun berjalan, sedangkan Akumulasi Depresiasi digunakan untuk menampung biaya
depresiasi secara kumulatif dari tahun ke tahun. Tabel depresiasi yang dijelaskan
sebelumnya menunjukkan penjelasan tersebut.

D. Penyajian Di Neraca
Aktiva tetap dilaporkan secara terpisah dari aktiva tidak berwujud7 dan sumber

7

Dibahas di bab lain.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 79 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

alam.8 Tanah umumnya tidak didepresiasi kecuali untuk kondisi-kondisi tertentu.
Aktiva tetap (selain tanah) dinilai sebesar nilai buku, yakni harga perolehan
dikurangi akumulasi depresiasi. Penyajian aktiva tetap di neraca diurutkan berdasar
urutan kekekalannya. Tanah, misalnya, disajikan terlebih dahulu dari gedung dan
gedung terlebih dahulu daripada mesin-mesin dan peralatan. Berikut contohnya:
Tanah (Harga Perolehan)
Gedung (Harga Perolehan)
Dikurangi : Akumulasi Depresiasi

Rp150.000.000
Rp200.000.000
(140.000.000)

Nilai Buku Gedung
Peralatan (Harga Perolehan)
Dikurangi : Akumulasi Depresiasi
Nilai Buku Peralatan
Total

60.000.000
Rp70.000.000
(18.000.000)
52.000.000
Rp262.000.000

E. Latihan Soal
Soal Latihan 1 :
PT. KERIS PUSAKA pada 1 April 2003 membeli mesin pabrik dengan harga
perolehan mula-mula Rp82.000.000, ditaksir mempunyai masa manfaat 5 tahun, dan
nilai residu Rp7.000.000.
1. Tentukan depresiasi per tahun mesin tersebut bila digunakan metode berikut :
a. Metode Garis Lurus
b. Metode Jumlah Angka Tahun
c. Metode Saldo Menurun Ganda
2. Tentukan biaya depresiasi yang akan diakui pada 31 Desember 2003, 2004, 2005,
2006 dan 2007 menurut ketiga metode pada permintaan nomor 1) di atas
Soal Latihan 2 :
PT. KERIS PUSAKA pada 1 Januari 2004 membeli mesin pabrik dengan harga
perolehan mula-mula Rp19.000.000, ditaksir mampu menghasilkan 150.000 unit

8

Dibahas di bab lain.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 80 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

produk selama jangka waktu 4 tahun, dan nilai residu Rp1.000.000.
1. Tentukan depresiasi per unit mesin tersebut bila digunakan metode Unit Produksi
2. Tentukan biaya depresiasi yang akan diakui pada 31 Desember 2004, 2005, 2006
dan 2007 bila unit produk yang dihasilkan selama tahun 2004 sebanyak 41.000
unit, tahun 2005 sebanyak 36.000 unit, tahun 2006 sebanyak 38.000 unit, dan
tahun 2007 sebanyak 35.000 unit.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 81 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB IX
INVESTASI

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan definisi
investasi, memahami akuntansi investasi dalam sekuritas ekuitas yang
dipertanggungjawabkan dengan metode ekuitas dan metode fair value, dan
akuntansi investasi dalam sekuritas utang yang dimiliki dalam jangka
panjang (sampai dengan jatuh tempo) dan yang dimiliki dalam jangka
pendek, dimana amortisasi agio (disagio) menggunakan metode garis
lurus.

Sekuritas (surat berharga) terdiri atas sekuritas ekuitas dan sekuritas utang. Sekuritas
ekuitas (equity securities) menunjukkan hak kepemilikan (misalnya saham biasa) dan
hak untuk memperoleh kepemilikan tersebut (misalnya opsi beli) atau hak untuk
menjualnya (misalnya hak opsi jual) dengan harga yang telah atau akan ditetapkan.
Sekuritas utang (debt securities) menunjukkan pengakuan utang oleh pihak yang
mengeluarkannya (misalnya obligasi).

A. Investası Dalam Sekurıtas Ekuıtas
Investasi dalam sekuritas ekuitas menunjukkan tingkat kepemilikan suatu perusahaan
penanam modal (investor) dalam saham-saham biasa, saham prioritas atau modal
saham lainnya— yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit saham (investee).
Tingkat persentase kepemilikan perusahaan investor dalam saham biasa perusahaan
investee menentukan sistem perlakuan pencatatan akuntansinya sebagai berikut :
1. Pemilikan lebih kecil dari 20% menggunakan metode Nilai Wajar (Fair Value
method), dimana investor sebagai pemilik pasif.
2. Pemilikan antara 20% dan 50% menggunakan metode Ekuitas (Equity method),
dimana investor memiliki pengaruh yang signifikan (significant influence)
terhadap perusahaan investee.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 82 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

3. Pemilikan lebih besar dari 50% menggunakan metode Laporan Konsolidasi
(Consolidated

Statement

method),

dimana

investor

memiliki

tingkat

pengendalian/kontrol terhadap perusahaan investee.
Akuntansi dan pelaporan sekuritas ekuitas sesuai tingkat kepemilikan dijelaskan
sebagai berikut.
Kategori

Penilaian

Untung (Rugi)

Dampak terhadap

Belum Terealisasi

Pendapatan Lain-lain

Kepemilikan kurang
dari 20% :
1. Sekuritas
Perdagangan

Nilai wajar (fair

Diakui dalam laba

Pembagian dividen,

value)

bersih

untung (rugi) dari

(Trading Securities)
2.Sekuritas Tersedia
untuk Dijual

penjualan
Nilai wajar (fair

Diakui sebagai Laba

Pembagian dividen,

value)

Komprehensif Lain

untung (rugi) dari

dan sebagai

penjualan

(Available for Sale)

komponen terpisah
atas modal
pemegang saham
Kepemilikan antara

Ekuitas (Equity)

Tidak diakui

20% dan 50%

Pembagian
proporsional laba
(rugi) bersih investee

Kepemilikan lebih dari

Konsolidasi

50%

(Consolidated)

Tidak diakui

Tidak dapat
diaplikasikan

Investasi Dalam Saham Biasa dengan Metode Ekuitas
Investasi dalam saham biasa perusahaan lain (investee)9 dipertanggungjawabkan
dengan metode ekuitas jika proporsi kepemilikannya antara 20 persen dan 50% dari
total saham biasa perusahaan investee yang beredar, dimana penanam modal
(investor) mempunyai tingkat pengaruh yang signifikan (significant influence)
terhadap perusahaan investee.

9

Investee adalah sebutan untuk perusahaan yang mengeluarkan sekuritas ekuitas menurut pandangan
perusahaan investor.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 83 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Dengan metode ekuitas, investasi dalam saham biasa dicatat dalam akun Investasi
dalam Saham Biasa (Investment in Common Stock) sebesar harga perolehannya,
yakni harga beli ditambah biaya-biaya transaksi yang terjadi secara insidental ketika
diperoleh, misalnya komisi makelar. Selanjutnya, pengumuman laba oleh perusahaan
investee dicatat sebagai penambah nilai investasi sebesar proporsi hak atas laba yang
diumumkan, sedangkan pembagian dividen dicatat sebagai pengurang nilai investasi
sebesar proporsi hak atas dividen yang dibagikan.

Pemerolehan
Sebagai contoh, misalnya PT. SETIA ABADI pada 1 Juni 2006 membeli tunai
500.000 lembar saham biasa PT. XYZ (25% dari total saham beredar), nominal Rp
1.000/lembar, kurs 110 (110% dari nilai nominal). Biaya-biaya transaksi
Rp50.000.000. Jadi, harga perolehan 500.000 lembar saham = (500.000 x Rp1.000 x
110%) + Rp50.000.000 = Rp600.000.000 atau per lembarnya Rp1.200. Pembelian ini
dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jun.

1 Investasi dalam Saham Biasa

600.000.000

-

-

600.000.000

Kas

Pengumuman Laba dan Pembagian Dividen
Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2006 PT. SETIA ABADI menerima
pengumuman bahwa PT. XYZ memperoleh laba bersih Rp400.000.000 dan
membayar dividen tunai Rp 150 per lembar. Jurnal untuk mencatat bagian laba dan
penerimaan dividen tunai adalah sebagai berikut.
Des. 31 Investasi dalam Saham Biasa
Pendapatan dari Investasi

100.000.000

-

-

100.000.000

75.000.000

-

-

75.000.000

(mencatat pengakuan laba bersih 25% x Rp 400 juta)
Kas
Investasi dalam Saham Biasa
(mencatat penerimaan dividen 500.000 x Rp 150 juta)

Jadi, harga perolehan 500.000 lembar saham sekarang menjadi = Rp600.000.000 +
Rp100.000.000 – Rp75.000.000 = Rp625.000.000 atau per lembar = Rp1.250.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 84 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pelepasan
Investasi dalam saham biasa ketika dilepas atau dijual dikredit sebesar harga
perolehan setelah terdapat penyesuaian atas transaksi atau peristiwa seperti
pengumuman laba dan pembagian dividen. Jika terdapat selisih antara harga jual
bersih dan harga perolehan tersebut, maka diakui sebagai untung (rugi) pelepasan.
Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Nopember 2007, PT. SETIA ABADI pada
contoh sebelumnya melepas 100.000 lembar saham biasa PT. XYZ dengan harga
bersih total Rp 145.000.000. Oleh karena harga perolehan terbaru per lembar
Rp1.250, maka harga perolehan 100.000 lembar adalah Rp125.000.000. Jadi, untung
yang harus diakui = Rp145.000.000 – Rp125.000.000 = Rp20.000.000. Jurnal
pelepasannya sebagai berikut :
Nop. 1 Kas

145.000.000

-

Investasi dalam Saham Biasa

-

125.000.000

Untung Pelepasan Investasi Saham

-

20.000.000

Penarikan oleh Perusahaan Investee
Investasi dalam saham biasa dikredit jika terdapat penarikan oleh perusahaan
investee. Untung (rugi) penarikan harus diakui jika terdapat selisih antara harga
perolehan dan harga penarikan. Sebagai contoh, misalnya pada 1 Desember 2007
saham biasa PT. XYZ ditarik dengan kurs 140. Oleh karena investasi dalam saham
biasa dalam buku PT. SETIA ABADI adalah 400.000 lembar, maka harga
perolehannya = 400.000 x Rp1.250 = Rp500.000.000. Jurnal untuk mencatat
penarikan saham ini adalah sebagai berikut :
Des.

1 Kas (400.000 x Rp 1.000 x 140%)

560.000.000

-

Investasi dalam Saham Biasa

-

500.000.000

Untung Penarikan Investasi Saham

-

60.000.000

Peristiwa-Peristiwa Penting
Dividen Saham. Ini adalah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham
(investor) dalam bentuk saham yang sejenis dengan saham yang telah beredar.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 85 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Dividen saham menambah jumlah lembar saham yang sebelumnya dimiliki oleh
investor tanpa aktiva apa pun untuk memperolehnya. Oleh karena itu, harga
perolehan total investasi tidak berubah, tetapi harga perolehan per lembarnya
berubah, yakni menjadi lebih kecil. Dengan demikian penerimaan dividen saham
tidak perlu dijurnal oleh perusahaan investor, tetapi cukup dibuat memorandum yang
menyatakan adanya perubahan jumlah lembar dan harga perolehan per lembar saham
yang dimiliki.
Pemecaham Saham (Stock Splits-Up). Ini adalah pemecahan nilai nominal per
lembar saham yang dilakukan oleh investee. Misalnya, nominal per lembar yang
semula Rp1.000 kini dipecah menjadi 2 lembar, sehingga nilai nominal per
lembarnya menjadi Rp500. Perusahaan investor tidak menjurnal penggantian saham
dari stock splits-up ini, tetapi cukup dibuat memorandum yang menyatakan adanya
perubahan jumlah lembar dan harga perolehan per lembar saham yang dimiliki.
Hak Beli Saham atau Waran. Ini adalah hak istimewa bagi investor untuk membeli
saham baru yang dikeluarkan oleh investee dengan harga di bawah harga pasar.
Waran mempunyai nilai ekonomis, tetapi investor tidak mengeluarkan pengorbanan
untuk memperolehnya. Oleh karena itu, investor harus mengalokasi sebagian harga
perolehan (HP) investasi ke waran ini dengan rumus :
Harga Pasar Waran

Harga Perolehan

————————————————————————— x
Harga Pasar Saham Tanpa Waran + Harga Pasar Waran

Investasi Saham
Mula-mula

Sebagai contoh, misalnya PT. FAISALINDO pada 1 Agustus 2007 memiliki
200.000 lembar saham biasa PT. ABC dengan harga perolehan total Rp 850.000.000.
PT. FAISALINDO menerima 200.000 lembar waran. Harga pasar per lembar saham
biasa tanpa waran adalah Rp2.000, sedangkan harga pasar per lembar waran Rp 125.
Jumlah yang dialokasi ke waran adalah 125/(2.000 + 125) x Rp850.000.000 =
Rp50.000.000. Jadi, harga perolehan waran per lembar = Rp50.000.000 : 200.000 =
Rp250. Pengalokasian ini dijurnal sebagai berikut.
Agus. 1 Investasi dalam Waran
Investasi dalam Saham Biasa

Pusdiklat BPK RI

50.000.000

-

-

50.000.000

Hal. 86 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembelian Saham Baru dengan Waran
Jika perusahaan investor membeli saham baru dengan menggunakan waran, maka
harga perolehan investasi adalah jumlah kas yang dikeluarkan plus harga perolehan
waran yang diserahkan. Sebagai contoh, misalnya PT. FAISALINDO pada 10
Agustus 2007 membeli 100.000 lembar saham baru PT. ABC dengan menyerahkan
kas Rp150.000.000 dan 200.000 lembar waran. Telah dihitung di atas bahwa harga
perolehan per lembar waran adalah Rp250 sehingga untuk 200.000 lembar adalah
Rp50.000.000. Jadi, harga perolehan saham baru Rp150.000.000 + Rp50.000.000 =
Rp200.000.000. Pembelian ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut.
Agus. 10 Investasi dalam Saham Biasa Waran

200.000.000

-

Investasi dalam Waran

-

50.000.000

Kas

-

150.000.000

Waran yang masih tersisa, jika ada, dapat dijual. Untung (rugi) dihitung dengan
membandingkan antara harga jual bersih dan harga perolehannya. Waran yang tidak
dimanfaatkan hingga daluwarsa harus diakui sebagai rugi.

Penilaian Dan Penyajian
Investasi dalam saham biasa perusahaan lain yang diakuntansikan dengan metode
ekuitas dinilai di neraca sebesar harga perolehannya (setelah mengalami perubahan
berbagai transaksi atau peristiwa yang relevan) dan disajikan dalam kelompok aktiva
nonlancar.

Investasi Dalam Saham Biasa Sebagai Sekuritas Perdagangan
Investasi dalam saham biasa perusahaan lain (investee) dipertanggungjawabkan
dengan metode Nilai Pasar Wajar (Fair Value) jika proporsi kepemilikannya kurang
dari 20 persen dari total saham biasa perusahaan investee yang beredar dan
manajemen mempunyai niat untuk memperdagangkannya. Umumnya, periode
kepemilikan tidak lebih dari tiga bulan karena tujuannya memang untuk memperoleh
capital gain — selisih lebih harga jual di atas harga perolehannya.
Dengan metode nilai pasar wajar, investasi dalam saham biasa dicatat dalam akun

Pusdiklat BPK RI

Hal. 87 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sekuritas Perdagangan (Trading Securities) sebesar harga perolehannya, yakni harga
beli ditambah biaya-biaya transaksi yang terjadi secara insidental ketika diperoleh,
misalnya komisi makelar. Pengumuman laba oleh perusahaan investee tidak diakui
oleh perusahaan investor, sedangkan pembagian dividen dicatat dalam akun
Pendapatan Dividen (Dividend Revenue). Selanjutnya, apabila pada akhir periode
akuntansi terdapat selisih antara nilai wajar dan harga perolehan diakui dalam akun
Untung (Rugi) Belum Terealisasi (Unrealized Holding Gain or Loss) dan dilaporkan
sebagai komponen laba dalam kelompok pendapatan (biaya) lain-lain dan untung
(rugi).

Pemerolehan
Sebagai contoh, misalnya PT. ARIEF ADI KARYA pada 1 Mei 2006 membeli tunai
300.000 lembar saham biasa PT. XYZ (15% dari total saham beredar), nominal
Rp1.000/lembar, kurs 110 (110% dari nilai nominal). Biaya-biaya transaksi
Rp33.000.000. Harga perolehan 300.000 lembar saham = (300.000 x Rp 1.000 x
110%) + Rp33.000.000 = Rp363.000.000 atau per lembar Rp1.210. Pembelian ini
dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jun.

1 Sekuritas Perdagangan

363.000.000

Kas

-

363.000.000

Pembagian Dividen dan Perubahan Nilai Pasar Wajar
Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2006 PT. ARIEF ADI KARYA
menerima pengumuman bahwa PT. XYZ membayar dividen tunai Rp150 per lembar
dan nilai pasar wajar sahamnya adalah Rp 1.300/lembar. Jadi, terdapat kenaikan nilai
pasar wajar = 300.000 x (Rp1.300 – Rp1.210) = Rp27.000.000. Jurnal untuk
mencatat penerimaan dividen tunai dan kenaikan nilai pasar wajar adalah sebagai
berikut.
Des. 31 Kas
Pendapatan Dividen

45.000.000

-

-

45.000.000

27.000.000

-

(mencatat penerimaan dividen 300.000 x Rp
150)
Penyesuaian
Perdagangan
Pusdiklat BPK RI

Nilai

Wajar

Sekuritas

Hal. 88 dari 163

Akuntansi Menengah

Untung
Belum

Buku Peserta

(Rugi)

Sekuritas

Perdagangan

Terealisasi

-

27.000.000

(mencatat kenaikan nilai pasar wajar)

Pelepasan
Sekuritas Perdagangan dikredit ketika dilepas kembali (dijual) sebesar harga
perolehannya. Untung (rugi) pelepasan dihitung dengan membandingkan harga jual
bersih dengan harga perolehan sekuritas yang dijual.
Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Juli 2007, PT. ARIEF ADI KARYA pada
contoh sebelumnya melepas 100.000 lembar saham biasa PT. XYZ dengan harga
bersih total Rp145.000.000. Oleh karena harga perolehan per lembar adalah Rp1.210,
maka harga perolehan 50.000 lembar adalah Rp60.500.000. Jadi, untung yang harus
diakui = Rp72.500.000 – Rp60.500.000 = Rp12.000.000. Jurnal pelepasannya
sebagai berikut :
Jul. 1 Kas

72.500.000

-

Sekuritas Perdagangan

-

60.500.000

Untung Pelepasan Sekuritas Perdagangan

-

12.000.000

Untung (rugi) belum terealisasi (BT) dilaporkan sebagai komponen laba dalam
kelompok pendapatan (biaya) lain-lain dan untung (rugi). Jika sekuritas dimiliki
secara portofolio, maka untung (rugi) penilaian menggunakan dasar portofolio.
Misalnya, harga pasar wajar dan harga perolehan saham perdagangan yang dimiliki
oleh PT ABC pada 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut.
Harga Perolehan
(Rp)

Harga Pasar
Wajar
(Rp)

Untung
(Rugi)
(Rp)

Saham PT. NIAGA 100.000 lembar

90.000.000

99.000.000

-

Saham
lembar

51.000.000

48.500.000

-

141.000.000

147.500.000

6.500.000

PT.

ANEKA
Total

250.000

Jika saldo akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Perdagangan sebelum
penyesuaian adalah kredit Rp1.200.000, maka jurnal penyesuaiannya didebit sebesar
Pusdiklat BPK RI

Hal. 89 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Rp7.700.000 (= Rp1.200.000 + Rp6.500.000) sebagai berikut.

Des. 31 Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Perdagangan

7.700.000

-

-

7.700.000

Untung (Rugi) Sekuritas Perdagangan Belum
Terealisasi
(mencatat kenaikan nilai pasar wajar)

Akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Perdagangan bersaldo debit (kredit)
dilaporkan di neraca sebagai penambah (pengurang) akun Sekuritas Perdagangan :

Aktiva Lancar
Sekuritas Perdagangan (Harga Perolehan)

Rp141.000.000

Ditambah : Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Perdagangan

6.500.000
Rp147.500.000

Sekuritas Tersedia untuk Dijual (Available for Sale)
Investasi dalam saham biasa diklasifikasikan ke dalam sekuritas tersedia untuk dijual
(TUD) jika: (1) proporsi kepemilikan kurang dari 20 persen dari total saham biasa
investee

yang

beredar,

dan

(2)

manajemen

mempunyai

niat

untuk

memperdagangkannya. Seluruh prosedur akuntansi untuk sekuritas perdagangan—
seperti telah dijelaskan sebelumnya — berlaku juga untuk sekuritas TUD ini kecuali
perlakuan untung (rugi) belum terealisasi sebagai akibat dari proses penilaian di
akhir tahun buku dan penyajiannya di neraca.

Penilaian Dan Penyajian
Sekuritas TUD juga dinilai di neraca sebesar fair value — harga pasar wajar. Namun,
untung (rugi) sebagai akibat dari proses penilaian dilaporkan di neraca sebagai
penambah (pengurang) ekuitas. Jika sekuritas perdagangan di contoh sebelumnya
adalah sekuritas TUD, maka penyajiannya di neraca adalah sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 90 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Aktiva Lancar
Sekuritas Tersedia untuk Dijual (Harga Perolehan)

Rp150.000.000

Ditambah : Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas TUD

42.000.000
Rp192.000.000

Ekuitas Pemegang Saham
Modal Saham
Agio Modal Saham

Rp600.000.000
120.000.000

Laba Ditahan

50.000.000

Untung Kenaikan Nilai Sekuritas TUD Belum Terealisasi

42.000.000
Rp812.000.000

B. Investası Dalam Sekurıtas Utang
Investasi dalam sekuritas utang menunjukkan hubungan antara perusahaan yang
membeli sekuritas utang-obligasi, wesel atau surat utang lainnya (investor) sebagai
kreditor atas perusahaan yang menerbitkan sekuritas utang (investee).
Perusahaan mengelompokkan investasi dalam sekuritas utang menjadi tiga kategori
untuk tujuan pertanggungjawaban dan pelaporan sebagai berikut.
1. Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo (Held-to-Maturity Securities): sekuritas
utang yang dibeli dan dimiliki perusahaan dalam jangka panjang, umumnya
sampai dengan jatuh tempo.
2. Sekuritas Perdagangan (Trading Securities): sekuritas utang yang dibeli dan
dimiliki perusahaan dalam jangka pendek, umumnya periode kepemilikan tidak
lebih dari tiga bulan karena tujuannya memang untuk memperoleh capital gain
—selisih lebih harga jual di atas harga perolehannya.
3. Sekuritas Tersedia untuk Dijual (Available for Sale Securities): sekuritas utang
yang dibeli dan dimiliki perusahaan yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo atau Sekuritas Perdagangan.
Berikut adalah ilustrasi ketiga kategori berkaitan dengan akuntansi dan
pelaporannya:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 91 dari 163

Akuntansi Menengah

Kategori

Buku Peserta

Penilaian

Untung (Rugi)

Dampak terhadap

Belum Terealisasi

Pendapatan Lain-lain

Tidak diakui

Bunga ketika

Dimiliki Sampai Jatuh

Harga perolehan

Tempo (Held-to-

yang

diperoleh, untung

Maturity)

diamortisasi

(rugi) dari penjualan

(amortized cost)
Sekuritas Perdagangan

Nilai wajar (fair

Diakui dalam laba

Bunga ketika

(Trading Securities)

value)

bersih

diperoleh, untung
(rugi) dari penjualan

Sekuritas Tersedia

Nilai wajar (fair

Diakui sebagai Laba

Bunga ketika

untuk Dijual (Available

value)

Komprehensif Lain

diperoleh, untung

dan sebagai

(rugi) dari penjualan

for Sale)

komponen terpisah
atas modal
pemegang saham

Amortized cost adalah harga perolehan dikurangi (ditambah) amortisasi agio
(disagio), jika ada. Fair value adalah nilai pasar wajar yang berlaku pada tanggal
tertentu.

Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo
Pada saat diperoleh, sekuritas dimiliki sampai jatuh tempo (held-to-maturity
securities) dicatat sebesar harga perolehannya, yakni harga beli ditambah biayabiaya transaksi yang terjadi secara insidental ketika diperoleh, misalnya komisi
makelar. Selisih harga perolehan di atas nilai nominal obligasi dinamakan agio,
sedangkan selisih harga perolehan di bawah nilai nominal obligasi dinamakan
disagio. Agio (disagio) harus

diamortisasi pada setiap akhir periode dan diakui

sebagai pengurang (penambah) pendapatan bunga dan nilai investasi. Dalam hal ini
agio (disagio) diamortisasi dengan metode Garis Lurus.

Harga Perolehan Di Bawah Nilai Nominal.

Sebagai contoh, misalnya PT.

USAHA MANDIRI pada 1 Januari 2006 membeli obligasi dengan nominal
Rp10.000.000, berbunga 8% setahun dibayar tiap 1 Januari dan 1 Juli, jatuh tempo
Pusdiklat BPK RI

Hal. 92 dari 163

Akuntansi Menengah

pada1 Januari 2011 (jangka waktu 5 tahun),

Buku Peserta

dengan harga Rp9.304.000. Jadi,

terdapat disagio = Rp10.000.000 - Rp9.304.000 = Rp696.000 dan amortisasi disagio
per tahun = Rp696.000/5 = Rp139.200.
Investasi dalam obligasi tersebut dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan.

1 Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo

9.304.000

-

-

9.304.000

Kas

Pada 1 Juli 2006, perusahaan mendapatkan bunga = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 =
Rp400.000 dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Jul.

1 Kas

400.000

-

-

400.000

Pendapatan Bunga

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka pada 31 Desember 2006 dilakukan
penyesuaian untuk mengakui bunga berjalan, yakni bunga sejak 1 Juli sampai 31
Desember 2006 (6 bulan) sebesar = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 = Rp400.000

dan

mengakui amortisasi disagio sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2006 (12 bulan)
sebesar Rp139.200 dan jurnal penyesuaiannya sebagai berikut.
Des. 3 Piutang Bunga
1

400.000

-

-

400.000

139.200

-

-

139.200

400.000

-

139.200

-

-

539.200

Pendapatan Bunga
(mencatat pendapatan bunga berjalan)
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo
Pendapatan Bunga
(mencatat amortisasi disagio)

Kedua jurnal di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut.
Des. 3 Piutang Bunga
1
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo
Pendapatan Bunga

Pada 1 Januari 2007, jurnal penyesuaian yang mengakui pendapatan bunga berjalan
dibalik dengan mendebit Pendapatan Bunga dan mengkredit Piutang Bunga.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 93 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Demikian seterusnya pada 1 Juli 2007 sampai 31 Desember 2010 dibuat jurnal
pencatatan sama dengan jurnal pencatatan tahun 2006, dan tanggal jatuh tempo pada
1 Januari 2011, ketika obligasi dilunasi oleh perusahaan investee sebesar nilai
nominal —sebagai nilai jatuh tempo obligasi— dijurnal sebagai berikut :
Jan.

1 Kas

10.000.000

-

-

10.000.000

Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo

Harga Perolehan Di Atas Nilai Nominal. Sebagai contoh, misalnya PT. USAHA
MANDIRI pada 1 Januari 2006 membeli obligasi dengan nominal Rp10.000.000,
berbunga 8% setahun dibayar tiap 1 Januari dan 1 Juli, jatuh tempo pada1 Januari
2011 (jangka waktu 5 tahun), dengan harga Rp10.750.000. Jadi, terdapat agio =
Rp10.750.000 - Rp10.000.000 = Rp750.000 dan amortisasi agio per tahun =
Rp750.000 /5 = Rp150.000.
Investasi dalam obligasi tersebut dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Jan.

1 Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo

10.750.000

-

-

10.750.000

Kas

Pada 1 Juli 2006, perusahaan mendapatkan bunga = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 =
Rp400.000 dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Jul.

1 Kas

400.000

-

-

400.000

Pendapatan Bunga

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka pada 31 Desember 2006 dilakukan
penyesuaian untuk mengakui bunga berjalan, yakni bunga sejak 1 Juli sampai 31
Desember 2006 (6 bulan) sebesar = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 = Rp400.000

dan

mengakui amortisasi disagio sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2006 (12 bulan)
sebesar Rp150.000 dan jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 94 dari 163

Akuntansi Menengah

Des. 3 1

Piutang Bunga

Buku Peserta

400.000

-

-

400.000

150.000

-

-

150.000

400.000

-

Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo

-

150.000

Pendapatan Bunga

-

250.000

Pendapatan Bunga
(mencatat pendapatan bunga berjalan)
Pendapatan Bunga
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo
(mencatat amortisasi disagio)

Kedua jurnal di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut.
Des. 3 1

Piutang Bunga

Pada 1 Januari 2007, jurnal penyesuaian yang mengakui pendapatan bunga berjalan
dibalik dengan mendebit Pendapatan Bunga dan mengkredit Piutang Bunga.
Demikian seterusnya pada 1 Juli 2007 sampai 31 Desember 2010 dibuat jurnal
pencatatan sama dengan jurnal pencatatan tahun 2006, dan tanggal jatuh tempo pada
1 Januari 2011, ketika obligasi dilunasi oleh perusahaan investee sebesar nilai
nominal —sebagai nilai jatuh tempo obligasi— dijurnal sebagai berikut.
Jan.

1 Kas
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo

10.000.000

-

-

10.000.000

Penyajian di Neraca
Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh Tempo disajikan di neraca dalam kelompok
investasi jangka panjang sebesar nilai yang diamortisasi (amortized cost).

Sekuritas Tersedia untuk Dijual
Pada saat diperoleh, sekuritas tersedia untuk dijual (available for sale securities)
dicatat sebesar harga perolehannya. Selisih harga perolehan di atas (di bawah) nilai
nominal obligasi dinamakan agio (disagio), yang harus

diamortisasi pada setiap

akhir periode dan diakui sebagai pengurang (penambah) pendapatan bunga dan nilai
investasi.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 95 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Perlakuan akuntansi untuk mencatat Sekuritas Tersedia untuk Dijual pada dasarnya
sama dengan perlakuan akuntansi untuk mencatat Sekuritas Dimiliki Sampai Jatuh
Tempo. Perbedaannya adalah untuk sekuritas tersedia untuk dijual, pada setiap akhir
periode — 31 Desember — nilai yang diamortisasi (amortized cost) dibandingkan
dengan nilai pasar wajar yang berlaku dan kenaikan (penurunan) nilainya diakui.
Kenaikan nilai wajar di atas amortized cost dicatat dengan jurnal :
Des. 3 1 Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Tersedia untuk Dijual

xxxxx

-

Untung (Rugi) Sekuritas Tersedia untuk Dijual Belum
Terealisasi

- xxxxx

Sedangkan Penurunan nilai wajar di bawah amortized cost dicatat dengan jurnal:
Des. 3 1 Untung (Rugi) Sekuritas Tersedia untuk Dijual Belum Terealisasi
Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Tersedia untuk Dijual

xxxxx

-

- xxxxx

Sebagai contoh, misalnya PT. USAHA MANDIRI pada 1 Januari 2006 membeli
obligasi yang dicatat sebagai Sekuritas Tersedia untuk Dijual. Obligasi tersebut
mempunyai nilai nominal Rp10.000.000, berbunga 8% setahun dibayar tiap 1 Januari
dan 1 Juli, jatuh tempo pada 1 Januari 2011 (jangka waktu 5 tahun), dengan harga
Rp10.750.000. Jadi, terdapat agio = Rp10.750.000 - Rp10.000.000 = Rp750.000 dan
amortisasi agio per tahun = Rp750.000 /5 = Rp150.000.
Investasi dalam obligasi tersebut dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan.

1 Sekuritas Tersedia untuk Dijual
Kas

10.750.000

-

-

10.750.000

Pada 1 Juli 2006, perusahaan mendapatkan bunga = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 =
Rp400.000 dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut.

Jul.

1 Kas
Pendapatan Bunga

400.000

-

-

400.000

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka pada 31 Desember 2006 dilakukan
penyesuaian untuk mengakui bunga berjalan, yakni bunga sejak 1 Juli sampai 31

Pusdiklat BPK RI

Hal. 96 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Desember 2006 (6 bulan) sebesar = Rp10.000.000 x 8% x 6/12 = Rp400.000

dan

mengakui amortisasi disagio sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2006 (12 bulan)
sebesar Rp150.000 dan jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut.
Des. 31

Piutang Bunga

400.000

-

-

400.000

150.000

-

-

150.000

400.000

-

Sekuritas Tersedia untuk Dijual

-

150.000

Pendapatan Bunga

-

250.000

Pendapatan Bunga
(mencatat pendapatan bunga berjalan)
Pendapatan Bunga
Sekuritas Tersedia untuk Dijual
(mencatat amortisasi disagio)

Kedua jurnal di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut.
Des. 31

Piutang Bunga

Perhatikanlah bahwa pada 31 Desember 2006, amortized cost = harga perolehan
mula-mula Rp10.750.000 – amortisasi agio 2006 Rp150.000 = Rp10.600.000.
Apabila, misalnya, nilai wajar obligasi tersebut Rp10.700.000, maka terdapat
kenaikan nilai = Rp10.700.000 - Rp10.600.000 = Rp100.000, dan jurnal
penyesuaiannya adalah :
Des. 31

Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Tersedia untuk Dijual

100.000

-

-

100.000

Untung (Rugi) Sekuritas Tersedia untuk Dijual
Belum
Terealisasi

Besarnya nilai Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Tersedia untuk Dijual selalu
disesuaikan pada setiap akhir tahun, misalnya pada 31 Desember 2007 nilai wajar
obligasi tersebut Rp10.400.000. Pada 31 Desember 2007, amortized cost = amortized
cost 31 Des 2006 Rp10.600.000 – amortisasi agio 2007 Rp150.000 = Rp10.450.000,
maka terdapat penurunan nilai = Rp10.450.000 - Rp10.400.000 = Rp50.000. Oleh
karena pada 31 Desember 2006 terdapat saldo (debit) Penyesuaian Nilai Wajar
Sekuritas Tersedia untuk Dijual sebesar Rp100.000, maka penyesuaiannya adalah
dengan mengkreditnya sebesar Rp150.000 dan jurnalnya sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 97 dari 163

Akuntansi Menengah

Des. 31

Buku Peserta

Untung (Rugi) Sekuritas Tersedia untuk Dijual Belum
Terealisasi

150.000

-

-

150.000

Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas Tersedia
untuk Dijual (Rp 100.000 + Rp 50.000)

Pada setiap awal tahun, jurnal penyesuaian yang mengakui pendapatan bunga
berjalan dibalik dengan mendebit Pendapatan Bunga dan mengkredit Piutang Bunga.
Demikian seterusnya pada setiap tahun dibuat jurnal pencatatan sama dengan jurnal
pencatatan tahun 2006, sampai sekuritas tersebut dijual/dilepaskan.

Sebagai contoh, misalnya pada 1 Juli 2008 —pada tanggal bunga— sekuritas pada
contoh di atas dijual dengan harga bersih Rp10.500.000. Jadi, pada 1 Juli 2008,
amortized cost = amortized cost 31 Des 2007 Rp10.450.000 – (amortisasi agio 2008
Rp150.000 x 6/12) = Rp10.395.000. Dengan demikian untung = Rp10.500.000 –
Rp10.395.000 = Rp 105.000 dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut.
Jul. 1 Kas

400.000

-

Sekuritas Tersedia untuk Dijual (Rp150.000 x
6/12)

-

75.000

Pendapatan Bunga (Rp400.000 – Rp75.000)

-

325.000

10.500.000

-

Sekuritas Tersedia untuk Dijual

-

10.395.000

Untung Pelepasan Sekuritas Tersedia untuk Dijual

-

105.000

(mencatat pendapatan bunga dan amortisasi 6 bulan)
Kas

(mencatat pelepasan sekuritas)

Penyajian di Neraca
Sekuritas Tersedia untuk Dijual disajikan di neraca dalam kelompok aktiva lancar
sebesar nilai yang diamortisasi (amortized cost) ditambah (dikurangi) kenaikan
(penurunan) nilai wajar di atas (di bawah) amortized cost. Berikut contohnya:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 98 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Aktiva Lancar
Sekuritas Tersedia untuk Dijual (Harga Perolehan)
Ditambah : Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas TUD

Rp10.700.000
200.000
Rp10.900.000

Ekuitas Pemegang Saham
Modal Saham

Rp600.000.000

Agio Modal Saham

120.000.000

Laba Ditahan

50.000.000

Untung Kenaikan Nilai Sekuritas TUD Belum Terealisasi

200.000
Rp770.200.000

Securitas Perdagangan
Pencatatan akuntansi untuk securitas perdagangan (trading securities) pada dasarnya
sama dengan pencatatan akuntansi untuk sekuritas tersedia untuk dijual.
Perbedaannya adalah untuk securitas perdagangan, Untung Kenaikan Nilai Sekuritas
Perdagangan Belum Terealisasi dilaporkan sebagai Pendapatan (Biaya) Lain-lain dan
Untung (Rugi) dalam laporan laba rugi.

C. Latıhan Soal
Soal Latihan 1:
PT. SERUNAI pada Januari 2006 membeli tunai 200.000 lembar saham PT. PQR
(20% dari total saham yang beredar) bernominal Rp1.500/lembar, dengan kurs 112.
Pada 31 Desember 2006 dan 2007 PT. PQR mengumumkan laba (rugi), dividen tunai
dan nilai pasar wajar sahamnya sebagai berikut.
Tahun

Laba (rugi) Bersih

Dividen Tunai

Nilai Wajar

2006

Rp150.000.000

Rp60.000.000

Rp1.800

2007

(60.000.000)

15.000.000

1.500

Pusdiklat BPK RI

Hal. 99 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Apabila pada 1 Pebruari 2008, PT. SERUNAI menjual seluruh sahamnya dengan
harga Rp1.600, maka buatlah jurnal pencatatannya apabila diasumsikan sebagai
berikut.
1. Saham yang dibeli tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
2. Saham yang dibeli mempunyai pengaruh yang signifikan

Soal Latihan 2 :
PT. SATRIA pada 1 Pebruari 2005 membeli tunai 100 lembar obligasi PT. KLM
bernominal Rp120.000/lembar, bunga 9% dibayar tiap 1 Pebruari dan 1 Agustus,
jatuh tempo pada 1 Pebruari 2010 (jangka waktu 5 tahun), dengan harga perolehan
Rp134.400/lembar. Investasi dalam obligasi dicatat sebagai Sekuritas Dimiliki
sampai Jatuh Tempo. Apabila agio diamortisasi dengan metode Garis Lurus, maka
buatlah jurnal pencatatan sebagai berikut :
1. Dari 1 Pebruari 2005 sampai 31 Desember 2006
2. Pada 1 Pebruari 2010, tanggal jatuh tempo, pada saat obligasi dilunasi

Soal Latihan 3 :
PT. SAHARA pada 1 Mei 2005 membeli tunai 100 lembar obligasi PT. XYZ
bernominal Rp100.000/lembar, bunga 10% dibayar tiap 1 Mei dan 1 November,
jatuh tempo pada 1 Mei 2008 (jangka waktu 3 tahun ), dengan harga perolehan
Rp89.200/lembar. Investasi dalam obligasi dicatat sebagai Sekuritas Tersedia untuk
Dijual. Nilai pasar wajar obligasi pada 31 Desember 2005 dan 2006 masing-masing
Rp91.000/lembar dan Rp 97.000/lembar.

Apabila disagio diamortisasi dengan

metode Garis Lurus, maka buatlah jurnal pencatatan sebagai berikut :
1. Dari 1 Mei 2005 sampai 31 Desember 2006
2. Pada 1 Juli 2007, bila 60 lembar obligasi dijual seharga Rp88.000/lembar
3. Pada 1 Oktober 2007, bila 40 lembar obligasi dijual seharga Rp99.500/lembar

Pusdiklat BPK RI

Hal. 100 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB X
SUMBER ALAM DAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu mengenali
karakteristik aktiva tidak berwujud, memahami berbagai jenis aktiva tidak
berwujud, memahami prosedur akuntansi perolehan dan amortisasi aktiva
tidak berwujud, dan menyajikan aktiva tidak berwujud di neraca..

A. Sumber Alam
Definisi
Sumber alam (natural resources)10 terdiri atas petroleum (minyak bumi dan gas
alam), mineral (batu bara, emas, dan perak), dan kayu (misalnya pohon-pohon kayu
jati dan kayu meranti di hutan) yang dikuasai oleh perusahaan. Sumber alam
memiliki dua kareakterisik utama. Pertama, konsumsi aset fisik sampai habis
(complete removal of the asset). Minyak bumi, misalnya, akan diangkat dari
sumurnya sampai ia habis secara fisik. Ini berbeda dari mesin pabrik yang hanya
dipakai untuk berproduksi dan fisik mesinnya masih tetap utuh sampai umur
ekonomisnya habis sekalipun. Kedua, penggantian aset hanya dengan tindakan alam.
Minyak, umpamanya, setelah diangkat habis tidak dapat diganti oleh tangan manusia.
Ia hanya dapat diganti jika terdapat proses alamiah yang terjadi be-ribu atau berjuta
tahun.

Basis Deplesi
Sumber alam karena akan diangkat mineralnya, misalnya, akan menjalani akuntansi
deplesi sebagaimana aktiva tetap berwujud menjalani akuntansi depresiasi. Agar
mampu mendeplesi, maka kita harus menentukan lebih dahulu basis deplesinya.
Basis deplesi terdiri atas 4 faktor : (1) acquisition cost; (2) exploration cost; (3)
development cost; dan (4) restoration cost.

10

Disebut juga wasting assets.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 101 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Acquisition Cost. Ini tergantung cara memperoleh sumber alam. Untuk sumber alam
yang belum ditemukan, maka acquisition cost adalah harga yang dibayar oleh
perusahaan untuk memperoleh property right (hak properti) untuk mencari dan
mendapatkan sumber alam yang belum ditemukan tersebut. Untuk sumber alam yang
sudah ditemukan dan perusahaan tinggal membelinya, maka acquisition cost adalah
harga yang dibayar untuk membeli sumber alam tersebut. Acquisition cost dapat pula
sejumlah nilai tunai pembayaran sewa-guna (lease payments) kepada pemilik
properti untuk properti yang mengandung sumber alam produktif. Untuk yang
disebut terakhir ini, pembayaran royalti kepada pemilik properti diperhitungkan
sebagai komponen acquisition cost
Exploration Cost. Ini adalah biaya untuk menemukan sumber alam setelah
perusahaan memperoleh hak properti. Penentuan apakah biaya eksplorasi menjadi
bagian basis deplesi menjadi masalah apabila eksplorasi dilakukan untuk lebih dari
satu sumber tetapi terdapat salah satu (atau lebih) sumber yang gagal dieksploitasi.
Apakah pengorbanan untuk eksplorasi yang gagal dimasukkan ke dalam basis
deplesi? Terdapat dua metode untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, full cost.
Menurut metode ini, biaya eksplorasi sumur yang gagal dimasukkan sebagai basis
deplesi sumur yang sukses. Kedua, succesfull efforts. Menurut metode ini, biaya
eksplorasi sumur yang gagal langsung dibebankan ke laba rugi di tahun pengeluaran
biaya tersebut.
Development Cost. Biaya ini dibedakan menjadi biaya peralatan berwujud (tangible
equipment cost) dan biaya pengembangan tidak berwujud (intangible development
cost). Hanya yang disebut kedua dimasukkan dalam basis deplesi. Yang termasuk
dalam biaya pengembangan tidak berwujud adalah biaya pengeboran (drilling cost),
terowongan (tunnels), dan sumur minyak. Biaya peralatan berwujud seperti alat-alat
transportasi dan alat-alat berat lainnya tidak dimasukkan ke dalam basis deplesi
sebab alat-alat ini dapat dipindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, alatalat ini didepresiasi untuk mengalokasi biaya peralatan tersebut.
Restoration Cost. Ini adalah biaya untuk memulihkan kembali properti ke kondisi
alam semula seperti sebelum terjadi ekstraksi. Biaya ini merupakan bagian dari dasar
deplesi.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 102 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Deplesi dan Prosedur Akuntansinya
Umumnya, deplesi sumber alam menggunakan metode unit produksi. Artinya,
besarnya deplesi bergantung pada jumlah kandungan sumber alam yang benar-benar
diekstrak di tahun bersangkutan. Taksirlah lebih dahulu jumlah kandungan total yang
dapat diekstrak. Bagilah cost sumber alam setelah dikurangi nilai residunya dengan
jumlah kandungan total tadi untuk memperoleh tarif deplesi per unit. Kalikan tarif ini
dengan jumlah kandungan yang diekstrak pada periode yang akan dihitung
deplesinya.
Sebagai contoh, misalnya PT. Pertamini memperoleh hak untuk menggunakan 10
ribu hektar tanah di daerah Cepu, Jawa Tengah untuk menambang batubara.
Anggaplah bahwa PT Pertamini membayar seluruh biaya yang dapat dimasukkan
dalam basis deplesi sebesar Rp10.500.000.000. Diperkirakan total batu bara yang
dapat diekstrak adalah 10.000 ton. Jika diperkirakan nilai residu tambang batu bara
adalah

Rp500.000.000,

maka

tarif

deplesi

per

ton

adalah

Rp1

juta

{(Rp10.500.000.000 – Rp500.000.000)/10.000}. Kalau di tahun ini jumlah batu bara
yang diekstrak sebanyak 120 ton, maka deplesi tahun ini adalah Rp120.000.000.
Jurnal untuk mencatat deplesi adalah sebagai berikut :
Des.

31 Persediaan Batu Bara
Akumulasi Deplesi Batu Bara

120.000.000

-

-

120.000.000

Sumber alam disajikan di neraca dalam kelompok aktiva tetap dan dinilai dengan
nilai buku, yakni cost sumber alam setelah dikurangi akumulasi deplesi. Misalnya,
neraca PT. Pertamini per 31 Desember tahun ini sehubungan dengan sumber alam
adalah sebagai berikut :
Tambang Batu Bara (at cost)
Dikurangi : Akumulasi Deplesi

Rp10.500.000.000
120.000.000
Rp10.380.000.000

Pusdiklat BPK RI

Hal. 103 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

B. Aktiva Tidak Berwujud
Definisi
Aktiva tidak berwujud (intangible assets) adalah aktiva yang memiliki manfaat
jangka panjang (lebih dari setahun), tidak memiliki wujud fisik, dan bukan instrumen
keuangan. Termasuk dalam aktiva tidak berwujud adalah hak paten, hak cipta,
franchise atau lisensi, merk atau nama dagang, dan goodwill. Bukti pemerolehan
aktiva tidak berwujud dapat berbentuk kontrak, lisensi, atau dokumen lainnya.
Aktiva tidak berwujud dapat diperoleh dengan (1) membeli dari pihak lain, atau (2)
mengembangkan sendiri secara internal perusahaan. Khusus untuk goodwill,
perolehannya tidak dapat dilakukan dengan satupun dari dua cara di atas. Goodwill
hanya diperoleh ketika perusahaan mengakuisisi perusahaan lain dengan harga beli
lebih tinggi daripada penjumlahan harga pasar tiap-tiap aktiva perusahaan yang
dibeli dikurangi total kewajibannya.

Harga Perolehan
Pembelian. Cara penentuan kos aktiva tidak berwujud pada dasarnya sama dengan
cara penentuan untuk aktiva tetap. Untuk aktiva tidak berwujud yang diperoleh
dengan cara pembelian tunai dari pihak lain, harga perolehannya adalah harga beli
plus biaya-biaya yang diperlukan untuk menjadikan aktiva tidak berwujud siap untuk
dimanfaatkan sesuai tujuannya. Biaya-biaya yang diperlukan meliputi legal fees dan
biaya-biaya insidental lain yang terjadi ketika transaksi pembelian berlangsung.
Jika aktiva tidak berwujud diperoleh dengan mengeluarkan saham biasa atau
pertukaran dengan aset lainnya, maka harga perolehannya adalah harga pasar wajar
saham biasa atau aset lainnya yang diserahkan atau nilai wajar aktiva tidak berwujud
yang diterima, mana yang dapat dibuktikan secara lebih jelas.
Jika beberapa aktiva tidak berwujud diperoleh secara pembelian gabungan (lump
sum), maka penentuan harga perolehan untuk setiap jenis aktiva tidak berwujud
adalah dengan mengalokasikan harga perolehan total. Metode harga pasar relatif,
sebagaimana digunakan untuk aktiva tetap, dapat digunakan untuk mengalokasi.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 104 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pengembangan. Umumnya, penentuan harga perolehan aktiva tidak berwujud yang
dikembangkan secara internal menggunakan konsep konservatif. Biaya riset dan
pengembangan meskipun sangat subtansial biasanya dibebankan ke laba rugi pada
periode pengeluaran. Hanya biaya-biaya langsung saja—seperti biaya pengurusan
proses hukumnya—dikapitalisasi sebagai harga perolehan aktiva tidak berwujud.

Amortisasi
Amortisasi adalah alokasi harga perolehan aktiva tidak berwujud ke periode-periode
yang menerima manfaatnya secara sistematis dan rasional, sebagaimana halnya
depresiasi untuk aktiva tetap (selain tanah) dan deplesi untuk sumber alam.
Aktiva tidak berwujud terdiri atas aktiva yang umur manfaatnya terbatas dan aktiva
yang umur manfaatnya takterbatas. Aktiva tidak berwujud dianggap memiliki umur
tidak terbatas apabila tidak terdapat faktor-faktor hukum, peraturan perundanganundangan, kontraktual, kompetitif, dan lain sebagainya yang membatasi umur
manfaat aktiva tidak berwujud. Jika terdapat faktor-faktor di atas yang membatasi
umur manfaat aktiva tidak berwujud, maka ia terkategori sebagai terbatas umur
manfaatnya. Amortisasi hanya dilakukan untuk aktiva tidak berwujud dengan umur
manfaat terbatas.
Jumlah yang diamortisasi adalah harga perolehan dikurangi nilai residu. Umumnya,
nilai residu aktiva tidak berwujud dianggap nihil kecuali jika pada akhir umur
manfaatnya, aktiva tersebut mempunyai nilai bagi perusahaan lain sehingga
perusahaan dapat menjualnya.
Jumlah amortisasi setiap tahun sedapat mungkin mencerminkan pola penggunaan
aktiva tidak berwujud. Jika pola tersebut sulit ditentukan, maka metode garis lurus
dapat digunakan.

Prosedur Akuntansi Aktiva Tidak Berwujud
Di bagian ini diberikan contoh prosedur akuntansi untuk hak paten. Pada dasarnya,
jenis-jenis aktiva tidak berwujud diperlakukan seperti hak paten, sehingga tidak
diberikan contohnya. Oleh karena berbeda dari aktiva tidak berwujud lainnya,
goodwill akan dijelaskan.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 105 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Hak Paten. Hak paten adalah hak eksklusif yang diberikan kepada pemegangnya
untuk menggunakan, mengolah, dan menjual sebuah produk atau jasa selama periode
tertentu (misalnya 20 tahun) tanpa campur tangan atau pelanggaran pihak lain. Harga
perolehan hak paten meliputi seluruh legal fees dan biaya-biaya yang dikeluarkan di
dalam rangka mempertahankan secara sukses gugatan hak paten dari pihak lain.
Harga perolehan ini diamortisasi, misalnya dengan metode garis lurus.
Sebagai contoh, misalnya pada 1 Januari 2007 PT. OJO DUMEH mengeluarkan
biaya hukum Rp10.000.000 untuk berhasil mempertahankan hak patennya. Jika
dianggap hak paten ini mempunyai umur manfaat selama 10 tahun, maka jurnal
untuk mencatat pengeluaran biaya dan amortisasi pada tahun 2007 adalah sebagai
berikut.
Hak Paten
Kas
Des.

31 Biaya Amortisasi Hak Paten
Hak Paten11

10.000.000

-

-

10.000.000

1.000.000

-

-

1.000.000

Goodwill. Sebagaimana telah dijelaskan, goodwill hanya boleh diakui ketika
perusahaan mengakuisisi perusahaan lain dengan harga lebih tinggi daripada
penjumlahan harga pasar seluruh aktiva perusahaan yang dibeli setelah dikurangi
nilai wajar kewajibannya. Goodwill diamortisasi selama waktu tidak boleh lebih dari
20 tahun. Di Amerika Serikat, amortisasi goodwill tidak berlaku lagi. Yang berlaku
adalah penilaian di tanggal neraca dengan menaksir berapa nilai goodwill yang sudah
rusak (impairment of goodwill) dan menyajikan goodwill di neraca dengan jumlah
yang masih dapat dipertahankan.
Sebagai contoh, misalnya untuk kasus di Indonesia, anggaplah PT. RAGAM
USAHA pada tanggal 1 Januari 2007 membeli tunai perusahaan lain dengan harga
Rp620.000.000 Informasi mengenai aktiva dan kewajiban pada tanggal pembelian
menurut harga pasar adalah sebagai berikut.

11

Kita juga dapat mengkredit akun Akumulasi Amortisasi Hak Paten.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 106 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Piutang Dagang ......................................................

Rp 150.000.000

Persediaan ...............................................................

120.000.000

Asuransi Dibayar di Muka .......................................

30.000.000

Tanah .......................................................................

170.000.000

Bangunan (neto) ......................................................

90.000.000

Peralatan (neto) .......................................................

140.000.000
Rp 700.000.000

Utang Dagang ....................................................
Aktiva neto

(160.000.000)
Rp 540.000.000

Perhatikanlah bahwa aktiva neto menurut harga pasar pada saat pembelian adalah
Rp540.000.000, sedangkan harga belinya adalah Rp620.000.000. Jadi, goodwill yang
diakui adalah Rp80.000.000. Akuisisi di atas dicatat oleh PT. RAGAM USAHA
dengan jurnal sebagai berikut :
Jan.

1 Piutang Dagang

150.000.000

-

120.000.000

-

30.000.000

-

170.000.000

-

Bangunan

90.000.000

-

Peralatan

140.000.000

-

Goodwill

80.000.000

-

Utang Usaha

-

160.000.000

Kas

-

620.000.000

Persediaan
Asuransi Dibayar di Muka
Tanah

Jika goodwill diamortisasi selama 10 tahun dengan menggunakan metode garis lurus,
maka amortisasi per tahun adalah Rp8.000.000. Jurnal untuk mencatat amortisasi ini
pada akhir tahun 2007 adalah sebagai berikut.
Des. 31 Biaya Amortisasi Goodwill
Goodwill
Goodwill)

(Akumulasi

Amortisasi

8.000.000

-

-

8.000.000

Penyajian di Neraca
Di neraca, goodwill disajikan sebesar nilai bukunya, yakni harga perolehan dikurangi

Pusdiklat BPK RI

Hal. 107 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

akumulasi amortisasi goodwill. Berikut contohnya:
Goodwill (at cost)
Dikurangi : Akumulasi Amortisasi

Rp 80.000.000
8.000.000
Rp 72.000.000

C. Latıhan Soal
Soal Latihan 1:
PT PERTAMANI pada 2006 membayar seluruh biaya yang dapat dimasukkan dalam
basis deplesi sebesar Rp21.000.000.000. Diperkirakan total batu bara yang dapat
diekstrak adalah 300 ton. Buatlah jurnal pencatatan biaya deplesi pada 31 Desember
2006 dan 2007, bila jumlah batu bara yang diekstrak selama tahun 2006 sebanyak 32
ton dan tahun 2007 sebanyak 27 ton.

Soal Latihan 2 :
PT. NOGOSOSRO pada tanggal 1 Januari 2007 membeli tunai PT. SABUK INTEN
dengan harga Rp300.000.000, dimana goodwill yang timbul akan diamortisasi
selama 10 tahun. Informasi mengenai aktiva dan kewajiban pada tanggal pembelian
menurut harga pasar adalah sebagai berikut.


Piutang Dagang ..................................................

Rp 75.000.000



Persediaan ...........................................................

60.000.000



Asuransi Dibayar di Muka .................................

15.000.000



Tanah ..................................................................

85.000.000



Bangunan (neto) .................................................

45.000.000



Peralatan (neto) ..................................................

70.000.000



Utang Dagang ....................................................

38.000.000



Utang Wesel .......................................................

35.000.000



Utang Gaji dan Upah ..........................................

6.000.000

Buatlah jurnal pencatatan akuisisi PT. SABUK INTEN pada 1 Januari 2007 dan
biaya amortisasi goodwill pada 31 Desember 2007.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 108 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB XI
KEWAJIBAN LANCAR
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu mengidentifikasi
karakteristik utama kewajiban, mengklasifikasi kewajiban menjadi lancar
dan taklancar, mengetahui berbagai jenis kewajiban lancar, dan
menguasai prosedur akuntansi untuk utang usaha, utang wesel, utang
dividen, dan pendapatan belum terhimpun (unearned revenues), serta
menjelaskan kewajiban kontinjen dan bagaimana mengungkapkannya.

A. Karakteristik Kewajiban Dan Klasifikasinya
Karakteristik utama kewajiban adalah (1) keharusan perusahaan saat ini, (2) untuk
menyerahkan aktiva atau menyediakan jasa kepada pihak lain di masa mendatang,
(3) sebagai akibat dari transaksi atau kejadian di masa lamapu. Pokok bahasan ini
menjelaskan kewajiban lancar, yakni kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu
maksimum satu tahun sejak tanggal neraca. Kewajiban jangka panjang — pokok
bahasan berikutnya — adalah kewajiban yang pelunasannya lebih dari satu tahun
sejak tanggal neraca. Namun, kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam
tahun berjalan diklasifikasi ke dalam kewajiban lancar jika akan dilunasi dengan
menggunakan aktiva lancar.
Jenis-jenis kewajiban lancar meliputi, antara lain utang usaha (utang dagang), utang
wesel, utang dividen, utang pajak penghasilan (PPh), utang pajak penghasilan
karyawan, dan pendapatan belum terhimpun. Beberapa jenis kewajiban lancar
dijelaskan di pokok bahasan ini.
Dari pandangan kepastian timbulnya, kewajiban dibedakan menjadi kewajiban pasti
(determinable liability) dan kewajiban kontinjen (contingent liability). Kewajiban
pasti adalah kewajiban yang eksistensinya sudah pasti, tidak bergantung pada kondisi
di masa mendatang. Jumlahnya ada yang sudah pasti dan ada yang perlu ditaksir
lebih dahulu. Kewajiban kontinjen adalah kewajiban yang keberadaannya masih
bergantung pada terjadi atau tidaknya suatu peristiwa di masa mendatang. Misalnya,
kewajiban yang mungkin timbul dari tuntutan oleh pihak lain dalam perkara
pelanggaran hak cipta.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 109 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Utang Wesel (Usaha)
Utang wesel bisa berasal dari kegiatan normal perusahaan, misalnya dari pembelian
bahan baku atau barang dagangan, dan bisa pula berasal dari penarikan pinjaman
bank. Jika berasal dari pembelian barang dagangan, maka jurnalnya adalah debit
Pembelian atau Persediaan12 dan kredit Utang Wesel. Pada saat pelunasan, Utang
Wesel didebit dan Kas dikredit. Bila weselnya berbunga, maka debitnya Utang
Wesel dan Biaya Bunga, sedangkan kreditnya adalah Kas. Bagaimana menghitung
bunga sudah dijelaskan di pokok bahasan lain.

Utang Wesel Bank
Utang wesel bank timbul dari kejadian penarikan pinjaman jangka pendek dari bank
dengan menandatangani wesel (promes atau aksep). Wesel ada yang berbunga dan
ada pula yang tanpa bunga. Wesel tak berbunga dibayar oleh bank di bawah nilai
nominalnya, sedangkan wesel berbunga dibayar sebesar nilai nominalnya.

Wesel Berbunga. Sebagai contoh, misalnya PT. LOUBENA JAYA pada tanggal 1
Nopember 2007 menarik utang wesel jangka pendek dari bank, nilai nominal
Rp10.000.000, bunga 12%, jangka waktu 3 bulan. Jurnal untuk mencatat penarikan
utang wesel adalah sebagai berikut :
Nov.

1 Kas

10.000.000

-

-

10.000.000

Utang Wesel

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir
tahun 2007 untuk mengakui biaya bunga selama 2 bulan (1 Nopember - 31
Desember) sebagai berikut :

Des.

31 Biaya Bunga (Rp 10 juta x 12% x 2/12)

200.000

-

-

200.000

Utang Bunga

12

Bergantung metode periodik atau perpetual dalam sistem pengendalian sediaan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 110 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Di neraca per 31 Desember 2007, utang wesel berbunga beserta utang bunganya
disajikan sebagai berikut :
Kewajiban Lancar :
Utang Wesel

Rp

Ditambah : Utang Bunga

10.000.000
200.000

Rp 10. 200.000
Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir tahun 2007 dibalik pada awal tahun 2008
dengan mendebit Utang Bunga dan mengkredit Biaya Bunga sebesar Rp200.000.
Kemudian, pada saat pelunasan 1 Februari 2008 dibuat jurnal sebagai berikut.

Peb.

1 Utang Wesel

10.000.000

Biaya Bunga (Rp 10 juta x 12% x 3/12)
Kas

300.000

-

-

10.300.000

Wesel Tanpa Bunga. Sebagai contoh, misalnya PT. PRADHANA pada tanggal 1
Nopember 2007 menarik utang wesel jangka pendek dari bank, nilai nominal
Rp10.000.000, jangka waktu 3 bulan, tidak disebutkan tingkat bunga secara eksplisit.
Namun, bank hanya membayar Rp9.700.000. Jurnal untuk mencatat penarikan utang
wesel adalah sebagai berikut.

Nov.

1 Kas

9.700.000

-

300.000

-

-

10.000.000

Diskonto Utang Wesel
Utang Wesel

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir
tahun 2007 untuk mengamortisasi diskonto dan mengakuinya sebagai biaya bunga
selama 2 bulan (1 Nopember - 31 Desember) sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Bunga (Rp 300.000 x 2/3)
Diskonto Utang Wesel

Pusdiklat BPK RI

200.000

-

-

200.000

Hal. 111 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Di neraca per 31 Desember 2007, utang wesel tanpa bunga eksplisit disajikan sebagai
berikut.

Kewajiban Lancar :
Utang Wesel

Rp

Ditambah: Diskonto Utang Wesel

10.000.000
100.000

Rp

9.900.000

Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir tahun 2007 tidak dibalik pada awal tahun
2008. Kemudian, pada tanggal 1 Februari 2008 dilakukan penjurnalan untuk
amortisasi diskonto selama 1 bulan dan penjurnalan untuk pelunasan utang wesel
sebagai berikut.
Peb.

1 Biaya Bunga (Rp 300.000 x 1/3)
Diskonto Utang Wesel
Utang Wesel
Kas

100.000

-

-

100.000

10.000.000

-

-

10.000.000

Utang Dividen Tunai
Dividen tunai adalah laba perseroan terbatas yang dibagikan dalam bentuk kas
kepada pemegang saham. Utang dividen tunai terjadi pada saat pengumuman
pembagian dividen. Sebagai contoh, misalnya PT. SERUNAI MERDU pada 31
Desember 2007 mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 100 untuk satu
lembar saham yang akan dibayar tanggal 10 Januari 2008. Jika jumlah saham yang
beredar adalah 1.000.000 lembar, maka jurnal untuk mencatat pengumuman dividen
tunai dan pembayarannya adalah sebagai berikut.

Des.

31 Laba Ditahan
Utang Dividen

Jan.

1 Utang Dividen
Kas

Pusdiklat BPK RI

100.000.000

-

-

100.000.000

100.000.000

-

-

100.000.000

Hal. 112 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Utang PPh Karyawan
Subyek pajak penghasilan (PPh) karyawan adalah karyawan perusahaan. Artinya,
karyawanlah yang menanggung PPh tersebut, meskipun perusahaan juga
diperbolehkan untuk ikut menanggungnya. Perusahaan sebagai pembayar upah
karyawan diwajibkan oleh pemerintah untuk menghitung, memungut, menyetor, dan
melaporkan pajak atas gaji dan upah karyawan.
Jumlah penghasilan kena pajak (PKP) adalah penghasilan bruto minus pengurangan
yang diperbolehkan oleh undang-undang. Jumlah pengurangan itu disebut
penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Sebagai contoh, misalnya pada 1 Juli 2007,
Ibu Nimmie Fadhillah, seorang karyawan tetap, tidak kawin, dan tidak punya
tanggungan, bekerja pada PT. OASE SEMBADA dengan penghasilan setiap bulan
Rp2.800.000. Jika tarif pajaknya adalah 10% dan PTKP Rp2.400.000 per bulan,
maka pajak yang harus dipotong dari gajinya adalah Rp40.000, yakni 10% x
(Rp2.800.000 – Rp2.400.000). Anggaplah PPh harus disetor tiap tanggal 10. Jurnal
untuk mencatat pemotongan gaji, pembayaran gaji, dan pembayaran PPh ke Kas
Negara adalah sebagai berikut.
Jul. 1 Gaji dan Upah

2.800.000

-

Utang Gaji dan Upah

-

2.760.000

Utang PPh Karyawan

-

40.000

2.760.000

-

-

2.760.000

40.000

-

-

40.000

Utang Gaji dan Upah
Kas
Jul. 10 Utang PPh Karyawan
Kas

Pendapatan Belum Terhimpun
Pendapatan belum terhimpun (unearned revenue) adalah kenaikan aktiva yang
dibarengi dengan kewajiban untuk menyerahkan barang atau jasa kepada pelanggan.
Hal ini terjadi sebagai akibat dari penerimaan uang muka untuk penjualan
barang/jasa perusahaan, pendapatan

sewa, dan lain-lain. Pendapatan belum

terhimpun (unearned revenues) sering disebut juga pendapatan diterima di muka,
Pusdiklat BPK RI

Hal. 113 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

uang muka, dan istilah lain yang menunjukkan adanya kewajiban untuk
menyerahkan barang/jasa kepada pelanggan. Utang pendapatan ini menjadi lunas
ketika perusahaan menyerahkan barang/jasa kepada pelanggan.

Pendapatan Jasa Diterima di Muka. Sebagai contoh, misalnya pada 1 Juli 2007
sebuah perusahaan penerbangan menjual tiket kepada 100 orang untuk penerbangan
Jakarta-Jogja dengan menerima uang tunai Rp42.500.000. Semua penumpang telah
menerima jasa penerbangan Jakarta-Jogja tersebut pada 7 Juli 2007. Jurnal-jurnal
untuk mencatat penerimaan uang tunai dan pengakuan pendapatan adalah sebagai
berikut.
Jul. 1 Kas
Pendapatan Jasa Diterima di Muka
Jul. 7 Pendapatan Jasa Diterima di Muka
Pendapatan Jasa

42.500.000

-

-

42.500.000

42.500.000

-

-

42.500.000

Pendapatan Sewa Diterima di Muka. Sebagai contoh, misalnya PT. NANARIA
pada 1 Oktober 2005 menerima uang tunai Rp15.000.000 dari Tuan Mulyanto
sebagai uang sewa ruangan kantor selama 2 tahun atau Rp7.500.000 per tahun.
Jurnal untuk mencatat penerimaan uang tunai dan pengakuan pendapatan belum
terhimpun adalah sebagai berikut.
Okt. 1 Kas
Pendapatan Sewa Diterima di Muka

15.000.000

-

-

15.000.000

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir
tahun 2005 untuk mengakui pendapatan selama 3 bulan (1 Oktober – 31 Desember
2005), pada akhir tahun 2006 untuk mengakui pendapatan selama 1 tahun (1 Januari
– 31 Desember 2006), dan pada 1 Oktober 2007 untuk mengakui pendapatan selama
9 bulan (1 Januari – 1 Oktober 2007) sebagai berikut.
2005
Des. 31 Pendapatan Sewa Diterima di Muka
Pendapatan Sewa (3/12 x Rp 7,5 juta)

Pusdiklat BPK RI

1.875.000

-

-

1.875.000

Hal. 114 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2006
Des. 31 Pendapatan Sewa Diterima di Muka

7.500.000

-

-

7.500.000

5.625.000

-

-

5.625.000

Pendapatan Sewa
2007
Okt.

1 Pendapatan Sewa Diterima di Muka
Pendapatan Sewa (9/12 x Rp 7,5 juta)

Kewajiban Kontinjen
Sebagaimana telah dijelaskan di awal pokok bahasan ini, kewajiban ada yang bersifat
kontinjen (contingent liabilities). Kewajiban kontinjen didefinisikan sebagai berikut
(PSAK No. 57, par. 11):
1. kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya
menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada
masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan; atau
2. kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui
karena:
a. tidak terdapat kemungkinan besar (not probable) perusahaan mengeluarkan
sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis

untuk menyelesaikan

kewajibannya; atau
b. jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.
Sebagai contoh, misalnya, pada saat ini PT. MULTI SPEKULASI digugat oleh
perusahaan lain dengan jumlah gugatan ganti rugi Rp 100 juta atas pelanggaran hak
cipta

yang

dituduhkannya.

kemungkinannya

bahwa

di

Menurut
masa

pengacara

mendatang

perusahaan,
keputusan

adalah

besar

pengadilan

akan

mengabulkan gugatan tersebut. Namun, jumlah gugatan yang dikabulkan belum
dapat ditaksir secara layak. Nyatalah dari contoh ini, bahwa perusahaan memiliki
kewajiban kontinjen karena timbulnya kewajiban untuk membayar ganti rugi masih
bergantung pada keputusan pengadilan. IAI, dalam PASK No. 57 (par. 28), melarang
perusahaan untuk mencatat dan melaporkan kewajiban kontinjen. Namun, kewajiban
kontinjen harus diungkapkan, kecuali apabila probabilitas aliran keluar (kos atau
aktiva lain) di masa depan adalah kecil.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 115 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

B. Penyajian Di Neraca
Di neraca, kewajiban lancar disajikan lebih dahulu sebelum kewajiban jangka
panjang. Urutan masing-masing jenis kewajiban lancar itu mengikuti urutan
likuiditasnya. Pos yang lebih likuid (lancar) disajikan lebih dahulu. Logisnya
mendahulukan kewajiban yang jatuh temponya relatif lebih pendek. Untuk
kemudahan, kewajiban lancar diurutkan berdasarkan urutan jumlahnya. Namun,
utang wesel umumnya dilaporkan paling atas tanpa mengindahkan jumlahnya,
kemudian utang dagang dan utang-utang lainnya. Berikut adalah contohnya :
Kewajiban Lancar
Utang Wesel

Rp13.000.000

Utang Dagang

42.000.000

Utang Gaji dan Upah

17.000.000

Utang PPh Karyawan

3.000.000

Utang Jangka Panjang jatuh tempo tahun ini

6.000.000
Rp81.000.000*

*)Jumlah ini belum termasuk kewajiban kontinjen. Perusahaan pada saat ini sedang digugat
untuk membayar ganti rugi Rp5.000 kepada PT KLM atas tuduhan pelanggaran hak cipta.
Pengacara perusahaan memperkirakan probabilitasnya 51 persen bahwa perusahaan akan
dinyatakan kalah oleh pengadilan.

C. Latihan Soal
Soal Latihan 1 :
PT. ANDRIJAYA membayar gaji dan upah karyawannya tiap tanggal 20 pada setiap
bulan sebesar Rp15.000.000. Apabila gaji dan upah karyawan bulan Januari 2008
telah dihitung pada tanggal 15 Januari dan tarif pajak penghasilan (PPh) karyawan
sebesar 15%, maka buatlah jurnal pencatatannya!

Pusdiklat BPK RI

Hal. 116 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Soal Latihan 2 :
PT. MAHARDIKA pada 1 Juni 2006 membayar sewa gedung untuk 3 tahun ke
depan sebesar Rp18.000.000. Buatlah jurnal pencatatan pada 1 Juni 2006 sampai
dengan 1 Juni 2009!

Soal Latihan 3 :
Tn. Syafruddin pada 1 September 2007 menarik utang wesel dari Bank Sembada,
nilai nominal Rp10.000.000, bunga 9%, jangka waktu 5 bulan. Buatlah jurnal
pencatatannya sampai dengan tanggal jatuh tempo 1 Februari 2008 !

Soal Latihan 4 :
Nn. Fadhillah pada 1 November 2007 menarik utang wesel dari Bank XYZ, nilai
nominal Rp12.000.000, jangka waktu 3 bulan, maka buatlah jurnal pencatatannya
sampai dengan tanggal jatuh tempo 1 Februari 2008 apabila Bank hanya membayar
kas Rp10.200.000 kepada Nn. Fadhillah !

Pusdiklat BPK RI

Hal. 117 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB XII
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan
prosedur formal berkaitan dengan pengeluaran utang tak lancar,
menguasai prosedur akuntansi utang taklancar, terutama utang obligasi
dan utang wesel jangka panjang, dan menyajikan dan mengungkapkan
kewajiban jangka panjang.

Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang
akan dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Kewajiban
jangka panjang meliputi utang obligasi, utang wesel bank, dan utang hipotik. Bab ini
akan menjelaskan utang obligasi dan utang wesel bank jangka panjang.

A. Utang Obligasi
Utang obligasi menyatakan nilai nominal, tanggal pengeluaran, tanggal jatuh tempo,
persentase, dan tanggal bunga untuk obligasi berbunga. Nilai nominal adalah jumlah
yang akan dilunasi pada tanggal jatuh tempo. Tanggal pengeluaran adalah tanggal
dikeluarkannya obligasi. Tanggal bunga adalah tanggal dibayarnya bunga nominal.
Umumnya, bunga obligasi dibayar di belakang. Persentase bunga adalah suku bunga
yang dijanjikan, yang dihitung dari nilai nominal. Suku bunga ini disebut suku bunga
nominal.
Obligasi dibedakan menjadi term bond dan serial bond. Term bond akan dilunasi
seluruhnya pada satu tanggal tertentu sekaligus. Serial bond (obligasi berseri) adalah
obligasi yang cara pelunasannya berangsur-angsur. Pokok bahasan ini hanya
menjelaskan term bond.

Alasan Mengeluarkan Obligasi
Obligasi merupakan alternatif sumber dana di samping saham biasa dan saham
prioritas. Beberapa keuntungan pengeluaran obligasi dibandingkan pengeluaran
Pusdiklat BPK RI

Hal. 118 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

saham biasa adalah sebagai berikut:
1.

Tidak mempengaruhi kontrol para pemegang saham sebelumnya karena
pemegang obligasi tidak mempunyai hak suara.

2.

Menghemat pajak karena bunga obligasi dapat mengurangi laba kena pajak.

3.

Jika perusahaan bisa menggunakan dana obligasi dengan memperoleh tingkat
keuntungan yang lebih besar daripada suku bunga obligasi, maka pemegang
saham bisa menjadi lebih makmur, yakni laba per lembar saham (earnings per
share) yang akan naik.

Harga Jual Penerbitan Obligasi
Harga (nilai) jual obligasi secara teoretis adalah nilai tunai (present value) dari
jumlah pembayaran bunga periodik selama jangka waktu obligasi ditambah nilai
tunai dari pembayaran tunggal nilai nominal pada tanggal jatuh tempo, dengan
mempertimbangkan bunga nominal dan bunga efektif. Bunga pasar efektif
(effective market interest rate) adalah bunga yang berlaku di pasar. Jika bunga
nominal sama dengan bunga efektif, maka obligasi dihargai sama dengan nilai
nominalnya. Sedangkan jika bunga nominal lebih besar daripada bunga efektif, maka
obligasi dihargai lebih besar daripada nilai nominalnya dan selisihnya merupakan
premium atau agio, sebaliknya jika bunga nominal lebih kecil daripada bunga efektif,
maka obligasi dihargai lebih kecil daripada nilai nominalnya dan selisihnya
merupakan diskonto atau disagio.
Adapun nilai tunai dari jumlah pembayaran bunga secara berkala selama jangka
waktu obligasi dihitung dengan rumus sebagai berikut.

PVn =

R x

(PVF-OA Table IV, n, i) =

R x

1 – 1/(1 + i)n
———————
I

Sedangkan nilai tunai dari jumlah pembayaran tunggal (nilai nominal) pada tanggal
jatuh tempo dihitung dengan rumus sebagai berikut.
1
PV =

Pusdiklat BPK RI

A x

(PVF Table II, n, i) =

A x

————
(1 + i)n

Hal. 119 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Keterangan :
R adalah besarnya bunga yang dibayar secara berkala pada setiap tanggal bunga
A adalah besarnya nilai nominal obligasi
i adalah suku bunga efektif per periode pembayaran bunga
n adalah frekuensi pembayaran bunga berkala selama jangka waktu obligasi

Obligasi dengan Pembayaran Bunga Tahunan. Sebagai contoh, misalnya PT.
TRUNTUM SARI pada 1 Maret 2003 menerbitkan obligasi tertanggal 1 Maret 2003
yang akan jatuh tempo pada1 Maret 2008 atau jangka waktu 5 tahun. Nilai nominal
Rp15.000.000, dengan bunga 10% setahun dibayar tiap tanggal 1 Maret. Dalam hal
ini besarnya bunga yang dibayar tiap 1 Maret (R) = 10% x Rp15.000.000 =
Rp1.500.000, besarnya nilai nominal (A) = Rp15.000.000, frekuensi pembayaran
bunga selama 5 tahun (n) = 5.
a) Berapakah harga jual obligasi bila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah
10%?
b) Berapakah harga jual obligasi bila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah 8%?
c) Berapakah harga jual obligasi bila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah
12%?

Berikut adalah jawabannya :
a) Apabila suku bunga efektif 10% setahun, maka harga jual obligasi adalah :
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,10)5
———————
0,10
3,79079 = ........................

Rp5.686.185

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
1/(1 + 0,10)5
= Rp15.000.000 x
0,62092 = .....................

9.313.800

= Rp1.500.000 x
= Rp1.500.000 x

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Pusdiklat BPK RI

Rp15.000.000
=============

Hal. 120 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jadi, pada suku bunga nominal sama dengan bunga efektif 10% maka harga jual
obligasi Rp15.000.000, sama dengan nilai nominalnya, atau kurs 100 (=
Rp15.000.000/Rp15.000.000 x 100%).

b) Apabila suku bunga efektif 8% setahun, maka harga jual obligasi adalah :
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,08)5
= Rp1.500.000 x

———————
0,08
3,99271 = ........................

Rp5.989.065

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
1/(1 + 0,08)5
= Rp15.000.000 x
0,68058 = .....................

10.208.700

= Rp1.500.000 x

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Rp16.198.000
=============

Jadi, pada suku bunga nominal 10% di atas bunga efektif 8% maka harga jual
obligasi Rp16.276.000, di atas nilai nominalnya, atau kurs 108,50 (=
Rp16.276.000/Rp15.000.000 x 100%).

c) Apabila suku bunga efektif 12% setahun, maka harga jual obligasi adalah :
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,12)5
= Rp1.500.000 x

———————
0,12
3,60478 = ........................

Rp5.407.170

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
1/(1 + 0,12)5
= Rp15.000.000 x
0,56743 = .....................

8.511.450

= Rp1.500.000 x

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Pusdiklat BPK RI

Rp13.919.000
=============

Hal. 121 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jadi, pada suku bunga nominal 10% di bawah bunga efektif 12% maka harga jual
obligasi Rp13.919.000, di bawah nilai nominalnya, atau kurs 92,80 (=
Rp13.919.000/Rp15.000.000 x 100%).

Obligasi dengan Pembayaran Bunga Setengah-Tahunan. Sebagai contoh,
misalnya bunga obligasi 10% setahun pada contoh di atas dibayar 2 kali (setengah
tahunan) tiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Dalam hal ini besarnya bunga yang
dibayar tiap 1 Maret (R) = 10% x Rp15.000.000 x 6/12 = Rp750.000, besarnya nilai
nominal (A) = Rp15.000.000, frekuensi pembayaran bunga selama 5 tahun (n) = 2 x
5 = 10.
a) Berapakah harga jual obligasi apabila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah
10% (5% setengah tahun)?
b) Berapakah harga jual obligasi apabila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah
8% (4% setengah tahun)?
c) Berapakah harga jual obligasi apabila diasumsikan suku bunga efektif (i) adalah
12% (6% setengah tahun)?

Berikut adalah jawabannya:
a) Apabila suku bunga efektif 5% per setengah tahun, harga jual obligasi adalah :
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,05)10
= Rp750.000 x
———————
= Rp750.000 x

0,05
7,72173 = ........................

Rp5.791.297

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
= Rp15.000.000 x

1/(1 + 0,05)10
0,61391 = .....................

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Pusdiklat BPK RI

9.208.650
Rp15.000.000
=============

Hal. 122 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

b) Apabila suku bunga efektif 4% per setengah tahun, harga jual obligasi adalah:
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,04)10
= Rp750.000 x
———————
0,04
= Rp750.000 x

8,11089 = ........................

Rp6.083.167

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
1/(1 + 0,04)10
= Rp15.000.000 x

0,67556 = .....................

10.133.400

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Rp16.216.000
=============

c) Apabila suku bunga efektif 6% per setengah tahun, harga jual obligasi adalah:
Nilai tunai dari pembayaran bunga berkala :
1 – 1/(1 + 0,06)10
= Rp750.000 x

———————
0,06
7,36009 = ........................

Rp5.520.067

Nilai tunai dari nilai nominal :
= Rp15.000.000 x
1/(1 + 0,06)10
= Rp15.000.000 x
0,55839 = .....................

8.375.850

= Rp750.000 x

Harga jual obligasi (dibulatkan) .....................

Rp13.896.000
=============

Agio (disagio) utang obligasi harus diamortisasi selama masa sejak tanggal penjualan
sampai tanggal jatuh tempo. Amortisasi agio dicatat dalam buku jurnal dengan
mendebit akun Agio Utang Obligasi dan mengkredit Biaya Bunga. Hal ini
mengakibatkan jumlah biaya bunga pada suatu tahun berkurang dengan jumlah
amortisasi agio tahun tersebut. Sedangkan amortisasi disagio dicatat dengan
mendebit akun Biaya Bunga dan mengkredit Disagio Utang Obligasi, dan
mengakibatkan jumlah biaya bunga pada suatu tahun bertambah dengan jumlah
amortisasi disagio tahun tersebut. Jumlah biaya bunga setelah dikurangi (ditambah)
dengan amortisasi agio (disagio) disebut bunga efektif.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 123 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Demi kepraktisan, dalam contoh berikut ini amortisasi agio (disagio) menggunakan
metode Garis Lurus dan pencatatan amortisasi dilakukan pada akhir tahun buku
melalui jurnal penyesuaian.

Harga Obligasi Sama dengan Nilai Nominal.
Penerbitan Obligasi
Pengakuan utangnya adalah sebesar nilai nominalnya. Sebagai contoh, misalnya,
obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai nominal Rp 15.000.000, bunga 10%
setahun dibayar setengah tahunan tiap 1 Maret dan 1 September pada contoh di atas
terjual pada 1 Maret 2003 seharga Rp 15.000.000, maka jurnalnya sebagai berikut.
Mar.

1 Kas

15.000.000

-

-

15.000.000

Utang Obligasi

Pembayaran Bunga Berkala
Bunga 10% setahun, dibayar 2 kali tiap tanggal 1 Maret dan 1 September masingmasing = 10% x Rp15.000.000 x 6/12 = Rp750.000. Oleh karena obligasi di atas
terjual pada 1 Maret 2003, maka pembayaran bunga pertama kali adalah pada 1
September 2003 dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut.

Sep.

1 Biaya Bunga

750.000

-

-

750.000

Kas

Penyesuaian Bunga Berjalan
Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka pada 31 Desember diperlukan jurnal
penyesuaian untuk mengakui bunga berjalan, yakni bunga terhitung sejak 1
September sampai 31 Desember (4 bulan) = 10% x Rp15.000.000 x 4/12

=

Rp500.000 dan dicatat dengan jurnal penyesuaian sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Bunga
Utang Bunga

Pusdiklat BPK RI

500.000

-

-

500.000

Hal. 124 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pada awal tahun 2004, jurnal penyesuaian di atas dibalik dengan mendebit Utang
Bunga dan mengkredit Biaya Bunga sebesar masing-masing Rp500.000. Hal ini
untuk memudahkan penjurnalan pembayaran bunga pada 1 Maret 2004. Dengan
demikian pembayaran bunga pada 1 Maret 2004 dicatat dengan jurnal sebagai
berikut.
Mar.

1 Biaya Bunga
Kas

750.000

-

-

750.000

Pelunasan pada Tanggal Jatuh Tempo
Pada tanggal jatuh tempo—1 Maret 2008—perusahaan melunasi utangnya sebesar
nilai nominal Rp15.000.000 ditambah pembayaran bunga terakhir Rp750.000 dan
dicatat dengan jurnal sebagai berikut.
Mar.

1 Biaya Bunga
Utang Obligasi
Kas

750.000

-

15.000.000

-

-

15.750.000

Harga Obligasi Di atas Nilai Nominal.
Penerbitan Obligasi
Pengakuan utangnya dicatat dalam dua akun : akun Utang Obligasi sebesar nilai
nominal dan akun Agio Utang Obligasi sebesar premiumnya. Akun Agio Utang
Obligasi merupakan akun penambah (adjunct account) atas akun Utang Obligasi.
Penjumlahan utang dan agionya merupakan nilai buku utang obligasi. Sebagai
contoh, misalnya, obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai nominal
Rp15.000.000, bunga 10% setahun dibayar setengah tahunan tiap 1 Maret dan 1
September pada contoh di atas terjual pada 1 Maret 2003 seharga Rp16.200.000,
maka jurnalnya sebagai berikut.
Mar.

1 Kas

16.200.000

-

Utang Obligasi

-

15.000.000

Agio Utang Obligasi

-

1.200.000

Agio utang obligasi sebesar Rp 1.200.000 diamortisasi selama jangka waktu 5 tahun,
maka besarnya amortisasi agio per tahun = Rp1.200.000/5 = Rp240.000.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 125 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembayaran Bunga Berkala
Pembayaran bunga pertama pada 1 September 2003 sebesar Rp750.000 dicatat
dengan jurnal sebagai berikut :
Sep.

1 Biaya Bunga
Kas

750.000

-

-

750.000

Penyesuaian Bunga Berjalan dan Amortisasi Agio
Pada 31 Desember 2003, jurnal penyesuaian dibuat untuk mengakui bunga berjalan
Rp500.000 dan amortisasi agio selama 10 bulan (1 Maret – 31 Desember) =
Rp240.000 x 10/12 = Rp200.000 dan dicatat dengan jurnal penyesuaian sebagai
berikut :
Des.

31 Biaya Bunga
Utang Bunga

500.000

-

-

500.000

200.000

-

-

200.000

(mencatat bunga berjalan 4 bulan)
Agio Utang Obligasi
Biaya Bunga
(mencatat amortisasi agio 10 bulan)

Jurnal penyesuaian di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut :
Des.

31 Biaya Bunga
Agio Utang Obligasi
Utang Bunga

300.000

-

200.000

-

-

500.000

Pada awal tahun 2004, jurnal penyesuaian yang mengakui utang bunga di atas dibalik
dengan mendebit Utang Bunga dan mengkredit Biaya Bunga sebesar masing-masing
Rp500.000. Maka pembayaran bunga pada 1 Maret 2004 Rp750.000 dicatat dengan
jurnal sebagai berikut :
Mar.

1 Biaya Bunga
Kas

Pusdiklat BPK RI

750.000

-

-

750.000

Hal. 126 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pelunasan pada Tanggal Jatuh Tempo
Pada tanggal jatuh tempo—1 Maret 2008—agio diamortisasi selama 2 bulan (1
Januari – 31 Maret) = Rp240.000 x 2/12 = Rp40.000. Dengan demikian saldo agio
utang obligasi telah habis diamortisasi dan perusahaan melunasi utangnya sebesar
nilai nominalnya Rp15.000.000 ditambah pembayaran bunga terakhir Rp750.000 dan
dicatat dengan jurnal sebagai berikut.
Mar.

1 Agio Utang Obligasi

40.000

-

-

40.000

750.000

-

15.000.000

-

-

15.750.000

710.000

-

40.000

-

15.000.000

-

-

15.750.000

Biaya Bunga
(mencatat amortisasi agio 2 bulan)
Biaya Bunga
Utang Obligasi
Kas
(mencatat pelunasan obligasi)

Jurnal di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut.
Mar.

1 Biaya Bunga
Agio Utang Obligasi
Utang Obligasi
Kas

Harga Obligasi Di bawah Nilai Nominal.
Penerbitan Obligasi
Pengakuan utangnya adalah sebesar harga yang terjadi tersebut. Namun,
pencatatannya diletakkan dalam dua akun: akun Utang Obligasi sebesar nilai
nominal dan akun Disagio Utang Obligasi sebesar diskontonya. Akun Disagio Utang
Obligasi merupakan akun pengurang (contra account) atas akun Utang Obligasi.
Utang obligasi dikurangi disagio utang obligasi merupakan nilai buku utang obligasi.
Sebagai contoh, misalnya, obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai nominal
Rp15.000.000, bunga 10% setahun dibayar setengah tahunan tiap 1 Maret dan 1
September pada contoh di atas terjual pada 1 Maret 2003 seharga Rp13.800.000,
maka jurnalnya sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 127 dari 163

Akuntansi Menengah

Mar.

1 Kas
Disagio Utang Obligasi
Utang Obligasi

Buku Peserta

13.800.000

-

1.200.000

-

-

15.000.000

Disagio utang obligasi sebesar Rp 1.200.000 diamortisasi selama jangka waktu 5
tahun, maka besarnya amortisasi disagio per tahun = Rp1.200.000/5 = Rp240.000.

Pembayaran Bunga Berkala
Pembayaran bunga pertama pada 1 September 2003 sebesar Rp750.000 dicatat
dengan jurnal sebagai berikut:
Sep.

1 Biaya Bunga
Kas

750.000

-

-

750.000

Penyesuaian Bunga Berjalan dan Amortisasi Disagio
Pada 31 Desember 2003, jurnal penyesuaian dibuat untuk mengakui bunga berjalan
Rp500.000 dan amortisasi disagio selama 10 bulan (1 Maret – 31 Desember) =
Rp240.000 x 10/12 = Rp200.000 dan dicatat dengan jurnal penyesuaian sebagai
berikut:
Des.

31 Biaya Bunga
Utang Bunga

500.000

-

-

500.000

200.000

-

-

200.000

(mencatat bunga berjalan 4 bulan)
Biaya Bunga
Disgio Utang Obligasi
(mencatat amortisasi disagio 10 bulan)

Jurnal penyesuaian di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut:
Des.

31 Biaya Bunga

700.000

-

Disgio Utang Obligasi

-

200.000

Utang Bunga

-

500.000

Pada awal tahun 2004, jurnal penyesuaian yang mengakui utang bunga di atas dibalik
dengan mendebit Utang Bunga dan mengkredit Biaya Bunga sebesar masing-masing
Pusdiklat BPK RI

Hal. 128 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Rp500.000. Maka pembayaran bunga pada 1 Maret 2004 Rp750.000 dicatat dengan
jurnal sebagai berikut :
Mar.

1 Biaya Bunga
Kas

750.000

-

-

750.000

Pelunasan pada Tanggal Jatuh Tempo
Pada tanggal jatuh tempo, yakni 1 Maret 2008, disagio diamortisasi selama 2 bulan
(1 Januari – 31 Maret) = Rp240.000 x 2/12 = Rp40.000. Dengan demikian saldo
disagio utang obligasi telah habis diamortisasi dan perusahaan melunasi utangnya
sebesar nilai nominal Rp15.000.000 ditambah pembayaran bunga terakhir Rp750.000
dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Biaya Bunga

40.000

-

-

40.000

750.000

-

15.000.000

-

-

15.750.000

790.000

-

15.000.000

-

Disagio Utang Obligasi

-

40.000

Kas

-

15.750.000

Disgio Utang Obligasi
(mencatat amortisasi disagio 2 bulan)
Mar.

1 Biaya Bunga
Utang Obligasi
Kas
(mencatat pelunasan obligasi dan pembayaran
bunga terakhir)

Jurnal di atas dapat dicatat dalam satu jurnal sebagai berikut.
Mar.

1 Biaya Bunga
Utang Obligasi

Menjual Obligasi di Luar Tanggal Bunga
Apabila obligasi terjual di antara tanggal-tanggal pembayaran bunga, maka pembeli
diwajibkan membayar bunga berjalan, yakni bunga sejak tanggal bunga terakhir
sampai tanggal penerbitan obligasi. Bagi perusahaan penerbit obligasi, penerimaan
bunga berjalan akan dikembalikan ke pembeli pada tanggal bunga. Pada tanggal
bunga, perusahaan akan selalu membayar bunga obligasi sepenuhnya selama satu
periode tanpa memandang apakah obligasi telah beredar satu periode penuh atau
belum.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 129 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Sebagai contoh, misalnya, obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai nominal
Rp15.000.000, bunga 10% setahun dibayar setengah tahunan tiap 1 Maret dan 1
September pada contoh di atas baru terjual pada 1 Mei 2003 seharga Rp16.200.000.
Bunga berjalan yang harus dibayar pembeli adalah bunga sejak 1 Maret sampai 1
Mei (2 bulan) = 10% x Rp15.000.000 x 2/12 = Rp250.000. Jadi, jumlah yang
diterima perusahaan adalah Rp16.200.000 + Rp250.000 = Rp16.450.000. Bunga
berjalan dapat dicatat dengan metode laba rugi atau metode neraca.
Metode Laba Rugi
Metode ini mencatat bunga berjalan dalam akun Biaya Bunga sebelah kredit dan
jurnalnya sebagai berikut.
Mei

1 Kas

16.450.000

-

Utang Obligasi

-

15.000.000

Agio Utang Obligasi

-

1.200.000

Biaya Bunga

-

250.000

Pada tanggal bunga pertama kali sejak penjualan obligasi (dalam contoh ini
1 September 2003) jurnal untuk mencatat pembayaran bunga sebagai berikut.
Mar.

1 Biaya Bunga
Kas

750.000

-

-

750.000

Metode Neraca
Metode ini mencatat bunga berjalan dalam akun Utang Bunga sebelah kredit. Pada
tanggal pembayaran bunga 1 September 2003, akun Utang Bunga akan didebit
sehingga saldonya menjadi nol. Pada contoh di atas maka jurnalnya adalah sebagai
berikut.
Mei

Sep.

1 Kas

16.450.000

-

Utang Obligasi

-

15.000.000

Agio Utang Obligasi

-

1.200.000

Utang Bunga

-

250.000

500.000

-

1 Biaya Bunga (Rp 750.000 – Rp 250.000)
Utang Bunga
Kas

Pusdiklat BPK RI

250.000
-

750.000
Hal. 130 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Pembayaran bunga pada tanggal-tanggal bunga berikutnya sama sekali tidak
terpengaruh oleh metode untuk mencatat bunga berjalan pada saat penjualan obligasi.
Oleh karena obligasi baru terjual pada 1 Mei 2003, maka agio utang obligasi
diamortisasi selama jangka waktu 58 bulan (1 Mei 2003 – 1 Maret 2008), maka
besarnya amortisasi agio per bulan = Rp1.200.000/58 = Rp20.690.

Amortisasi Agio (Disagio) dengan Metode Bunga Efektif
Secara teoretis, amortisasi agio (disagio) utang obligasi menggunakan metode Bunga
Efektif (Effective Interest). Metode garis lurus pada dasarnya tidak diperkenankan
kecuali jika selisih antara metode bunga efektif dan metode garis lurus tidak material.
Contoh penentuan amortisasi agio (disagio) dengan metode Bunga Efektif akan
diberikan berikut.
Amortisasi Agio. Misalnya, obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai nominal
Rp15.000.000, bunga 10% dibayar tahunan tiap 1 Maret, jatuh tempo pada 1 Maret
2008, terjual pada 1 Maret 2003—pada saat bunga efektif 8%—seharga
Rp16.198.000, maka dibuat tabel rencana amortisasi agio utang obligasi sebagai
berikut:
Tabel Rencana Amortisasi Agio Utang Obligasi – Metode Bunga Efektif
Tanggal

Bunga Dibayar

Biaya Bunga
Diakui
(b)
= 8% x Nilai Buku
(Rp)

Amortisasi
Agio
(c)
= (a) – (b)
(Rp)

Nilai Buku
Utang Obligasi
(d)
= (d) – (c)
(Rp)

1/3/2003

(a)
= 10% x
Nominal
(Rp)
-

-

-

16.198.000

1/3/2004

1.500.000

1.295.840

204.160

15.993.840

1/3/2005

1.500.000

1.279.507

220.493

15.773.347

1/3/2006

1.500.000

1.261.868

238.132

15.535.215

1/3/2007

1.500.000

1.242.817

257.183

15.278.032

1/3/2008

1.500.000

1.221.968

278.032

15.000.000

Pembulatan ± Rp274

Apabila jurnal amortisasi agio diselenggarakan setiap akhir tahun—pada 31
Desember. —berdasarkan perhitungan amortisasi di tabel di atas, maka besarnya
amortisasai agio utang obligasi yang diakui pada 31 Desember 2003, 2004, 2005,
Pusdiklat BPK RI

Hal. 131 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2006, 2007 dan 1 Maret 2008 dapat dihitung sebagai berikut:
Tanggal

Jangka Waktu
Amortisasi Agio
31/12/2003 01/03/03-31/12/03

Perhitungan

Amortisasi
Agio
Rp170.133

Rp204.160 x 10/12

31/12/2004 31/12/03-31/12/04

(Rp204.160x2/12) + (Rp220.493x10/12)

217.771

31/12/2005 31/12/04-31/12/05

(Rp220.493x2/12) + (Rp238.132x10/12)

235.192

31/12/2006 31/12/05-31/12/06

(Rp238.132x2/12) + (Rp257.183x10/12)

254.008

31/12/2007 31/12/06-31/12/07

(Rp257.183x2/12) + (Rp278.032x10/12)

274.557

01/03/2008 31/12/07-01/03/08

Rp278.032 x 2/12

46.339

Adapun jurnal-jurnal untuk mencatat penerbitan obligasi, pembayaran bunga berkala
pada setiap 1 Maret, penyesuaian pengakuan bunga berjalan dan amortisasi agio pada
setiap 31 Desember sampai untuk mencatat pelunasan obligasi pada tanggal jatuh
tempo pada 1 Maret 2008 adalah sama seperti pada ilustrasi contoh di atas.

Amortisasi Disagio. Misalnya, obligasi tertanggal 1 Maret 2003 dengan nilai
nominal Rp15.000.000, bunga 10% dibayar tahunan tiap 1 Maret, jatuh tempo pada 1
Maret 2008, terjual pada 1 Maret 2003—pada saat bunga efektif 12%—seharga
Rp13.919.000, maka dapat dibuat tabel rencana amortisasi disagio utang obligasi
sebagai berikut.
Tabel Rencana Amortisasi Disagio Utang Obligasi – Metode Bunga Efektif
Tanggal

Bunga Dibayar

Amortisasi
Disagio
(c)
= (b) – (a)
(Rp)

Nilai Buku
Utang Obligasi
(d)
= (d) + (c)
(Rp)

1/3/2003

(a)
= 10% x
Nominal
(Rp)
-

Biaya Bunga
Diakui
(b)
= 12% x Nilai
Buku
(Rp)
-

-

13.919.000

1/3/2004

1.500.000

1.670.280

170.280

14.089.280

1/3/2005

1.500.000

1.690.714

190.714

14.279.994

1/3/2006

1.500.000

1.713.599

213.599

14.493.593

1/3/2007

1.500.000

1.739.231

239.231

14.732.824

1/3/2008

1.500.000

1.767.176

267.176

15.000.000

Pembulatan ± Rp 762

Pusdiklat BPK RI

Hal. 132 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Apabila jurnal amortisasi disagio diselenggarakan setiap akhir tahun—pada 31
Desember—berdasarkan pada perhitungan amortisasi di tabel di atas, maka besarnya
amortisasai disagio utang obligasi pada 31 Desember 2003, 2004, 2005, 2006, 2007
dan 1 Maret 2008 dapat dihitung sebagai berikut.

Tanggal

Jangka Waktu
Amortisasi Agio

Perhitungan

Amortisasi
Agio

31/12/2003 01/03/03-31/12/03

Rp170.280 x 10/12

Rp141.900

31/12/2004 31/12/03-31/12/04

(Rp170.280x2/12) + (Rp190.714x10/12)

187.308

31/12/2005 31/12/04-31/12/05

(Rp190.714x2/12) + (Rp213.599x10/12)

209.785

31/12/2006 31/12/05-31/12/06

(Rp213.599x2/12) + (Rp239.231x10/12)

234.959

31/12/2007 31/12/06-31/12/07

(Rp239.231x2/12) + (Rp267.176x10/12)

262.518

01/03/2008 31/12/07-01/03/08

Rp267.176 x 2/12

44.529

Adapun jurnal-jurnal untuk mencatat penerbitan obligasi, pembayaran bunga berkala
pada setiap 1 Maret, penyesuaian pengakuan bunga berjalan dan amortisasi disagio
pada setiap 31 Desember sampai untuk mencatat pelunasan obligasi pada tanggal
jatuh tempo pada 1 Maret 2008 adalah sama seperti pada ilustrasi contoh di atas.

Penyajian di Neraca
Utang obligasi disajikan di neraca dalam kelompok kewajiban jangka panjang
sebesar nilai buku yaitu nilai nominal ditambah agio yang belum diamortisasi atau
nilai nominal dikurangi disagio yang belum diamortisasi. Misalnya utang obligasi
dengan nominal Rp 10.000.000 dengan saldo agio (yang belum diamortisasi) sebesar
Rp300.000 per 31 Desember 2007 disajikan sebagai berikut:
Kewajiban Jangka Panjang
Utang Obligasi
Ditambah : Agio Utang Obligasi

Rp10.000.000
300.000
Rp10.300.000

Pusdiklat BPK RI

Hal. 133 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

B. Utang Wesel
Utang Wesel Bank
Utang wesel bank jangka panjang timbul dari kejadian penarikan pinjaman jangka
panjang dari bank dengan menandatangani wesel (promes atau aksep). Wesel ada
yang berbunga dan ada pula yang tanpa bunga. Wesel tak berbunga dibayar oleh
bank di bawah nilai nominalnya, sedangkan wesel berbunga dibayar sebesar nilai
nominalnya.
Akuntansi untuk utang wesel bank pada prinsipnya tidak berbeda antara wesel jangka
panjang dan wesel jangka pendek. Perbedaannya terletak pada penyajiannya.
Berbeda dari utang wesel bank jangka pendek, utang wesel bank jangka panjang
disajikan dalam kelompok kewajiban jangka panjang.
Sama dengan utang wesel bank jangka pendek, utang wesel bank jangka panjang
dinilai sebesar nilai tunai. Bunga utang wesel jangka panjang yang jatuh tempo di
tahun berjalan disajikan dalam kelompok utang lancar, meskipun utang weselnya
disajikan dalam kelompok utang taklancar. Tengoklah kembali prosedur akuntansi
utang wesel bank jangka pendek di pokok bahasan kewajiban lancar.

Utang Wesel untuk Membeli Aktiva Tetap
Perusahaan boleh jadi membeli aktiva tetap (mesin produksi, misalnya) dengan
mengeluarkan wesel bayar. Masalah yang timbul adalah menentukan harga
perolehan aktiva tetap tersebut. Harga perolehan aktiva tetap diperhitungkan sebesar
nilai wajarnya ketika diperoleh. Kalau wesel bayar tidak menyatakan bunga secara
eksplisit, maka agio atau disagio wesel bayar diperhitungkan sebesar selisih antara
nilai nominal dan nilai wajar aktiva tetap yang diperoleh.
Sebagai contoh, misalnya PT. DAYA UTAMA pada 1 Januari 2006 menjual
sebidang tanah dengan harga jual tunai Rp 285.000.000 kepada PT. PRIMA
USAHA. Untuk membayar tanah tersebut, PT. PRIMA USAHA menyerahkan wesel
bayar dengan nilai nominal Rp 300.000.000, jatuh tempo 3 tahun. Pertukaran ini
dicatat oleh PT. PRIMA USAHA sebagai berikut:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 134 dari 163

Akuntansi Menengah

Jan.

1 Tanah
Diskonto Utang Wesel

Buku Peserta

285.000.000

-

15.000.000

-

-

300.000.000

Utang Wesel

Jika sesaat setelah pertukaran tanah dengan wesel bayar disusun neraca, maka tanah
dan utang wesel disajikan sebagaimana contoh berikut.

Aktiva Tetap
Tanah

Rp285.000.000

Kewajiban Jangka Panjang
Utang Wesel

Rp300.000.000

Dikurangi : Diskonto Utang Wesel

15.000.000
Rp285.000.000

Pada akhir tahun 2006, perusahaan mengamortisasi diskonto utang wesel sebesar 1/3
x Rp 15.000.000 = Rp 5000.000 dengan jurnal sebagai berikut.
Des.

31 Biaya Bunga
Diskonto Utang Wesel

5000.000

-

-

5000.000

Setelah jurnal penyesuaian di atas diposting, saldo Diskonto Utang Wesel adalah
debit Rp10.000.000, sehingga nilai buku utang wesel pada akhir tahun 2006 adalah
Rp300.000.000 - Rp10.000.000 = Rp290.000.000. Pada akhir tahun 2007, nilai
bukunya menjadi Rp300.000.000 - Rp5.000.000 = Rp295.000.000, dan pada akhir
tahun 2008, nilai bukunya adalah Rp300.000.000.

C. LATIHAN SOAL
Soal Latihan 1:
PT. DIORAMA pada 1 Mei 2003 mengeluarkan obligasi nominal Rp 18.000.000,
bunga 12% dibayar tiap 1 Mei dan 1 November, jatuh tempo 1 Mei 2008 (jangka
waktu 5 tahun), pada saat tingkat bunga efektif 10%. Apabila amortisasi agio

Pusdiklat BPK RI

Hal. 135 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

menggunakan metode Garis Lurus, maka diminta:
1. Tentukan harga jual obligasi tersebut
2. Buatlah jurnal pencatatan dari 1 Mei 2003 sampai 31 Desember 2004
3. Buatlah jurnal pencatatan pada 1 Mei 2008 (jatuh tempo), saat melunasi obligasi

Soal Latihan 2:
PT. BATHIMORO pada 1 Oktober 2003 mengeluarkan obligasi nominal
Rp30.000.000, bunga 10% dibayar tiap 1 April dan 1 Oktober, jatuh tempo 1
Oktober 2008 (jangka waktu 5 tahun), dengan kurs 91. Apabila amortisasi disagio
menggunakan metode Garis Lurus, maka diminta:
1. Tentukan harga jual obligasi tersebut
2. Buatlah jurnal pencatatan dari 1 Oktober 2003 sampai 31 Desember 2004
3. Buatlah jurnal pencatatan pada 1 Oktober 2008 (jatuh tempo), saat melunasi
obligasi

Soal Latihan 3:
PT. SPEKTAKULER pada 1 Februari 2003 mengeluarkan obligasi nominal
Rp21.000.000, bunga 9% dibayar tiap 1 Februari, jatuh tempo 1 Februari 2008
(jangka waktu 5 tahun), pada saat tingkat bunga efektif 11%. Apabila amortisasi
disagio menggunakan metode Bunga Efektif, maka diminta:
1. Tentukan harga jual obligasi tersebut
2. Buatlah jurnal pencatatan dari 1 Februari 2003 sampai 31 Desember 2004
3. Buatlah jurnal pencatatan pada 1 Februari 2008 (jatuh tempo), saat melunasi
obligasi.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 136 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB XIII
PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BIAYA

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan elemenelemen laba rugi, pengakuan pendapatan dan biaya dengan berbagai metode,
dan prinsip menandingkan biaya dengan pendapatan.

A. Elemen-Elemen Laba Rugi
Akuntansi di sektor bisnis sampai sekarang menggunakan dasar akrual (accrual
basis) untuk mengakui pendapatan dan biaya. Pendapatan menurut dasar ini diakui
ketika hak atasnya telah terhimpun (earned) dan telah terealisasi (realized) atau dapat
direalisasi (realizable). Pendapatan dikatakan earned kalau proses sejak pembelian
bahan baku (untuk perusahaan pemanufakturan) atau barang dagangan (untuk
perusahaan perdagangan) sampai pengiriman produk ke pasar telah selesai.
Pendapatan dikatakan realized kalau perusahaan telah menukarkan produk atau
jasanya dengan kas atau klaim terhadap kas, dan dikatakan realizable kalau
perusahaan dapat merealisasi aktiva nonkas (piutang misalnya) menjadi kas. Biaya13
menurut dasar akrual diakui ketika kewajiban untuk menyelesaikan atau membayar
kegiatan utama perusahaan telah terjadi.
Pendapatan dan biaya merupakan unsur-unsur atau elemen-elemen laporan laba rugi.
Unsur-unsur lainnya adalah untung (gains) dan rugi (losses). Untung merupakan
kenaikan aktiva neto yang timbul dari transaksi insidental, misalnya untung
pelepasan aktiva tetap. Rugi merupakan penurunan aktiva neto yang timbul dari
transaksi insidental, misalnya rugi pelepasan sekuritas trading. Dalam mengakui
untung ataupun rugi, kriterium earned umumnya kurang signifikan dibanding
realized atau realizable. Pokok bahasan ini menjelaskan kapan pendapatan
(revenues) dan biaya (expenses) diakui untuk organisasi bisnis.

13

IAI (2004) menyebutnya beban sebagai padanan expense secara tidak konsisten.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 137 dari 163

Akuntansi Menengah

B.

Buku Peserta

Pengakuan Pendapatan Dan Biaya
Pada Saat Penjualan. Pada umumnya, kriteria telah terhimpun (earned) dan
terealisasi (realized) atau dapat direalisasi (realizable) telah terpenuhi ketika
perusahaan menyerahkan produk atau jasa kepada pelanggan. Oleh karena itu, point
of sale (saat penjualan) merupakan pedoman umum sebagai saat untuk mengakui
pendapatan. Pedoman ini menuntun kepada penjurnalan sebagai berikut ketika terjadi
penjualan barang dagangan :
Kas atau Piutang Usaha

harga jual

-

-

harga jual

cost

-

-

cost

Penjualan
Harga Pokok Penjualan14
Persediaan

Metode Persentase Penyelesaian. Di bawah keadaan-keadaan tertentu, pendapatan
diakui sebelum perusahaan menyelesaikan atau mengirim barang ke pelanggan.
Contohnya adalah pengakuan pendapatan pada kontrak konstruksi jangka panjang
(long-term

construction

contract)

yang

menggunakan

metode

Persentase

Penyelesaian (Percentage of Completion). Menurut metode ini pendapatan, biaya dan
laba dari kontrak konstruksi jangka panjang diakui pada setiap periode akuntansi
proporsional dengan tingkat penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan pada periode
tersebut.
Sebagai contoh, misalnya PT. PAKU BUANA — sebuah perusahaan konstruksi —
menandatangani kontrak untuk membangun jembatan dengan harga Rp900.000.000
dengan taksiran biaya untuk menyelesaikannya sebesar Rp800.000.000. Kontrak
dimulai pada 1 Maret 2005 dan harus diselesaikan pada akhir Juni 2007. Berikut
adalah data berkaitan dengan periode konstruksi, biaya yang sesungguhnya telah
terjadi, dan biaya taksiran untuk menyelesaikan (beserta revisi taksiran biaya) :

14

Pendebitan akun HPP dan pengkreditan akun Sediaan ketika terjadi penjualan dilakukan jika system
pengendalian sediaannya menggunakan metode perpetual. Pada sistem periodik, penjurnalan HPP
dilakukan pada akhir tahun buku.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 138 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2005
Biaya yang terjadi
sampai akhir tahun
Taksiran biaya untuk

2006

2007

Rp200.000.000

Rp495.000.000

Rp850.000.000

600.000.000

330.000.000

0

Rp800.000.000

Rp825.000.000

Rp850.000.000

menyelesaikan kontrak
Taksiran biaya total

============= ============= =============
Pemfakturan
(penagihan) selama
tahun
Penerimaan kas dari
tagihan selama tahun

Rp180.000.000

Rp520.000.000

Rp200.000.000

180.000.000

500.000.000

220.000.000

Jurnal untuk mencatat biaya yang dikeluarkan untuk membangun jembatan,
penagihan kepada pelangan, dan penerimaan kas dari tahun 2005 sampai 2007 adalah
sebagai berikut.

Konstruksi dalam Proses
Kas, Utang, Material, dll
(mencatat biaya yang terjadi)

2005
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
200
200

2006
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
295
295

2007
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
355
355

Piutang Dagang
Penagihan atas Konstruksi
dalam Proses
(mencatat pemfakturan)

180

-

520

-

200

-

-

180

-

520

-

200

Kas
Piutang Dagang
(mencatat penerimaan kas)

180
-

180

500
-

500

220
-

220

Selanjutnya ntuk menentukan pendapatan (revenue), biaya (expenses), dan laba bruto
(gross profit) yang diakui pada tahun 2005, 2006, dan 2007, mula-mula dihitung
terlebih dahulu persentase penyelesaian tiap tahun sebagai berikut.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 139 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Persentase penyelesaian sampai dengan tahun :


2005 =

Rp200 juta/Rp800 juta x 100% =

25%




2006 =
2007 =

Rp495 juta/Rp825 juta x 100% =
Rp850 juta/Rp850 juta x 100% =

60%
100%

Kemudian dihitung pendapatan dan laba bruto setiap tahun sebagai berikut :
Pendapatan (revenue) dan laba bruto untuk setiap tahun :
• Tahun 2005:
Taksiran pendapatan tahun 2005 = 25% x Rp 900 juta =
Taksiran laba bruto tahun 2005 = 25% x (Rp900 jut - Rp800 juta) =

Rp225 juta
25 juta

• Tahun 2006:
Taksiran total pendapatan = 60% x Rp 900 juta =
Pendapatan telah diakui pada tahun 2005

Rp540 juta
225 juta

Pendapatan telah diakui pada tahun 2006

Taksiran laba bruto total = 60% x (Rp900 jut - Rp825 juta) =
Laba bruto telah diakui pada tahun 2005
Laba bruto telah diakui pada tahun 2006

• Tahun 2007:
Taksiran total pendapatan = 100% x Rp 900 juta =
Total pendapatan telah diakui pada tahun 2006
Pendapatan telah diakui pada tahun 2007

Taksiran laba bruto total = 100% x (Rp900 jut - Rp850 juta) =
Total laba bruto telah diakui pada tahun 2006
Laba bruto telah diakui pada tahun 2007

Rp315 juta
==========
Rp45 juta
25 juta
Rp20 juta
==========

Rp900 juta
540 juta
Rp360 juta
==========
Rp50 juta
45 juta
Rp5 juta
==========

Pusdiklat BPK RI

Hal. 140 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jurnal pencatatan untuk mengakui pendapatan, biaya, dan laba bruto untuk tahun
2005, 2006, dan 2007 dan penyerahan jembatan pada tahun 2007 adalah sebagai
berikut.

Konstruksi dalam Proses
Biaya Konstruksi
Pendapatan Kontrak Jangka
Panjang
(mencatat pendapatan, biaya dan
laba)

2005
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
25
200
-

Penagihan atas Konstruksi
dalam Proses
Konstruksi dalam Proses
(mencatat penyerahan jembatan)

2006
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
20
295
-

2007
(Jutaan Rupiah)
Dr.
Cr.
5
355
-

-

225

-

315

-

360

-

-

-

-

900
-

900

Metode Kontrak Selesai. Metode Kontrak Selesai (Completed Contract) merupakan
metode alternatif dari metode persentase penyelesaian yang digunakan oleh
perusahaan yang membangun jembatan, misalnya, untuk pelanggan dalam jangka
panjang. Metode kontrak selesai mengakui pendapatan, biaya, dan laba pada point of
sale, yakni ketika pembangunan jembatan tadi telah selesai. Selama masa proses
konstruksi, perusahaan mengumpulkan biaya-biaya yang diperlukan untuk
membangun tetapi tidak dilakukan pengakuan interim terhadap pendapatan, biaya,
dan laba. Pengakuan tiga unsur laba rugi tadi dilakukan ketika kontrak telah selesai.
Dengan menggunakan data PT. PAKU BUANA yang membangun jembatan pada
contoh sebelumnya, maka jurnal-jurnal pencatatannya adalah sebagai berikut.
2005

2006

2007

(Jutaan Rupiah)

(Jutaan Rupiah)

(Jutaan Rupiah)

Dr.
Konstruksi dalam Proses
Kas, Utang, Material, dll

Cr.

Dr.

Cr.

Dr.

Cr.

200

-

295

-

355

-

-

200

-

295

-

355

180

-

520

-

200

-

-

180

-

520

-

200

(mencatat biaya yang terjadi)
Piutang Dagang
Penagihan atas Konstruksi dalam
Proses
(mencatat pemfakturan)
Pusdiklat BPK RI

Hal. 141 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

2005

2006

2007

(Jutaan Rupiah)

(Jutaan Rupiah)

(Jutaan Rupiah)

Dr.
Kas
Piutang Dagang
(mencatat penerimaan kas)
Penagihan atas Konstruksi dalam
Proses
Pendapatan Kontrak Jangka
Panjang
(mencatat pendapatan dan menutup
akun penagihan)
Biaya Konstruksi
Konstruksi dalam Proses
(mencatat biaya dan menutup
Konstruksi dalam Proses)

Cr.

Dr.

Cr.

Dr.

Cr.

180

-

500

-

220

-

-

180

-

500

-

220

-

-

-

-

900

-

-

-

-

-

-

900

-

-

-

-

850
-

850

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perusahaan mengakui seluruh pendapatan
proyek dan juga biayanya tidak sesuai dengan kemajuan proyek, tetapi setelah
proyek selesai. Jadi, dalam contoh di atas, tidak terdapat pengakuan pendapatan dan
biaya pada tahun 2005 dan 2006.
Metode Penjualan Cicilan. Di bawah keadaan-keadaan tertentu, pendapatan diakui
setelah perusahaan mengirim barang ke pelanggan, contohnya adalah pengakuan
pendapatan pada perusahaan yang melakukan penjualan barang dagangan secara
cicilan yang menggunakan metode Penjualan Cicilan (Installment Sale). Penjualan
secara cicilan ada yang tidak berbunga, dan ada pula yang berbunga, misalnya
penjualan barang-barang elektronik, furnitur, real estate, mobil, sepeda motor, dan
lain-lain. Menurut metode ini pendapatan, biaya dan laba diakui pada saat kas telah
diterima (cash basis), dengan cara mengakui realisasi laba bruto dari laba bruto yang
ditangguhkan sebesar persentase laba bruto dikalikan dengan penerimaan kas dari
pokok piutang dagang cicilan.
Metode Penjualan Cicilan Tanpa Bunga. Sebagai contoh, misalnya PT. ANEKA
KARYA menjual barang dagangan secara cicilan dengan data penjualan selama 3
tahun terakhir sebagai berikut :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 142 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Penjualan cicilan
Harga pokok penjualan cicilan
Laba bruto
Persentase laba bruto
Penerimaan kas:
ƒ Dari Penjulan 2005
ƒ Dari Penjulan 2006
ƒ Dari Penjulan 2007

2005
Rp200.000.000
148.000.000
Rp52.000.000
===========
26%

2006
Rp250.000.000
190.000.000
Rp60.000.000
===========
24%

2007
Rp300.000.000
216.000.000
Rp84.000.000
===========
28%

Rp70.000.000
-

Rp80.000.000
90.000.000
-

Rp50.000.000
100.000.000
120.000.000

Jurnal-jurnal untuk mencatat penjualan cicilan yang terjadi pada PT. ANEKA
KARYA tersebut adalah sebagai berikut (dalam jutaan rupiah):
2005
Dr.
Cr.
200,00
- 200,00

Dr.

Cr.

Dr.

Cr.

250,00
-

250,00

300,00
-

300,00

Harga Pokok Penjualan Cicilan
Persediaan
(mencatat harga pokok cicilan)

148,00
-

148,00

190,00
-

190,00

216,00
-

216,00

Penjualan Cicilan
Harga Pokok Penjualan Cicilan
Laba Bruto Ditangguhkan 2005
Laba Bruto Ditangguhkan 2006
Laba Bruto Ditangguhkan 2007
(menutup penjualan cicilan dan harga
pokok penjualan cicilan)

200,00
-

148,00
52,00
-

250,00
-

190,00
60,00
-

300,00
-

216,00
84,00

70,00
-

70,00
-

170,00
-

80,00
90,00
-

170,00
-

50,00
100,00
120,00

18,20
-

-

-

18,2
-

Piutang Dagang Cicilan 2005
Piutang Dagang Cicilan 2006
Piutang Dagang Cicilan 2007
Penjualan Cicilan
(mencatat penjualan cicilan)

Kas
Piutang Dagang Cicilan 2005
Piutang Dagang Cicilan 2006
Piutang Dagang Cicilan 2007
(mencatat penerimaan kas)
Laba Bruto Ditangguhkan 2005
Laba Bruto Ditangguhkan 2006
Laba Bruto Ditangguhkan 2007
Realisasi Laba Bruto atas
Penjualan Cicilan
(mencatat realisasi laba bruto)

1)

Realisasi Laba Bruto atas Penjualan
Cicilan
Ikhtisar Laba Rugi
(menutup realisasi laba bruto)
Ket :
1)

26% x Rp70,

2)

Pusdiklat BPK RI

26% x Rp80,

3)

26% x Rp90,

4)

2006

2)

2007

20,80
21,60
-

-

18,2

-

18,2

42,40
-

26% x Rp50,

3)

5)

4)

13,00
24,00
6)
33,60

-

42,40

-

70,60

42,40

70,60
-

70,60

5)

26% x Rp100, 6) 26% x Rp120
Hal. 143 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Metode Penjualan Cicilan Berbunga. Sebagai contoh, misalnya PT. CAHAYA
MOBILINDO pada 1 Januari 2005 menjual berbagai jenis mobil ”NIKISAE”,
dengan total harga jual tunai Rp700.000.000, dengan menerima uang muka
Rp210.000.000 dan sisanya diterima melalui 3 kali cicilan tahunan sebesar
Rp179.932.000, termasuk bunga 5%, mulai 31 Desember 2005. Harga pokok mobilmobil yang terjual tersebut total Rp525.000.000. Maka laba bruto = Rp700.000.000 –
Rp525.000.000

=

Rp175.000.000

dan

persentase

laba

bruto

=

Rp175.000.000/Rp700.000.000 = 25%.
Oleh karena pada penjualan mobil secara cicilan umumnya si pembeli
menandatangani akte perjanjian kredit, maka perusahaan mengakui piutang wesel =
Rp179.932.000 x 3 = Rp539.796.000. Jurnal pencatatannya adalah sebagai berikut.
Jan.

1 Kas

210.000.000

-

539.796.000

-

Penjualan Cicilan

-

700.000.000

Diskonto Piutang Wesel

-

49.796.000

525.000.000

-

-

525.000.000

700.000.000

-

Harga Pokok Penjualan Cicilan

-

525.000.000

Laba Bruto Ditangguhkan

-

175.000.000

Piutang Wesel

(mencatat penjualan cicilan)
Harga Pokok Penjualan Cicilan
Persediaan
(mencatat harga pokok penjualan cicilan)
Penjualan Cicilan

(menutup penjualan cicilan dan harga pokok
penjualan cicilan)

Diskonto piutang wesel diamortisasi tiap tahun dan diakui sebagai pendapatan bunga
dengan tabel rencana amortisasi diskonto sebagai berikut:
Tanggal

01/01/2005
31/12/2005
31/12/2006
31/12/2007

Tabel Rencana Amortisasi Diskonto Piutang Wesel
Penerimaan
Pendapatan
Pengurangan
Pokok Piutang
Kas
Bunga
Pokok Piutang
(a)
(b) = 5% x (d)
(c) = (a) – (b)
(d) = (d) – (c)
(Rp)
(Rp)
(Rp)
(Rp)
490.000.000
179.932.000
24.500.000
155.432.000
334.568.000
179.932.000
16.728.400
163.203.600
171.364.400
179.932.000
8.567.600
171.364.400
0

Pembulatan ± Rp 620

Pusdiklat BPK RI

Hal. 144 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jurnal pencatatan penerimaan cicilan, pengakuan pendapatan bunga serta pengakuan
realisasi laba bruto pada 31 Desember 2005, 2006 dan 2007 adalah:
2005
Des. 31 Kas

179.932.000

-

24.500.000

-

Piutang Wesel

-

179.932.000

Pendapatan Bunga

-

24.500.000

91.358.000

-

-

91.358.000

Pendapatan Bunga

24.500.000

-

Realisasi Laba Bruto atas Penjualan Cicilan

91.358.000

-

-

115.858.000

179.932.000

-

16.728.400

-

Piutang Wesel

-

179.932.000

Pendapatan Bunga

-

16.728.400

40.800.900

-

-

40.800.900

Pendapatan Bunga

16.728.400

-

Realisasi Laba Bruto atas Penjualan Cicilan

40.800.900

-

-

57.529.300

179.932.000

-

8.567.600

-

Diskonto Piutang Wesel

(mencatat penerimaan cicilan pertama)
Laba Bruto Ditangguhkan
Realisasi Laba Bruto atas Penjualan
Cicilan
{mengakui realisasi laba bruto= 25% x
(Rp210.000.000 + Rp155.432.000) =
Rp91.358.000}

Ikhtisar Laba Rugi
(menutup pendapatan bunga dan realisasi laba
bruto)
2006
Des. 31 Kas
Diskonto Piutang Wesel

(mencatat penerimaan cicilan pertama)
Laba Bruto Ditangguhkan
Realisasi Laba Bruto atas Penjualan
Cicilan
(mengakui realisasi laba bruto = 25% x
Rp163.203.600 = Rp40.800.900)

Ikhtisar Laba Rugi
(menutup pendapatan bunga dan realisasi laba
bruto)
2007
Des. 31 Kas
Diskonto Piutang Wesel
Pusdiklat BPK RI

Hal. 145 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Piutang Wesel

-

179.932.000

Pendapatan Bunga

-

8.567.600

42.841.100

-

-

42.841.100

8.567.600

-

42.841.100

-

-

51.408.700

(mencatat penerimaan cicilan pertama)
Laba Bruto Ditangguhkan
Realisasi Laba Bruto atas Penjualan
Cicilan
(mengakui realisasi laba bruto = 25% x
Rp171.364.400 = 42.841.100)
Pendapatan Bunga
Realisasi Laba Bruto atas Penjualan Cicilan
Ikhtisar Laba Rugi
(menutup pendapatan bunga dan realisasi laba
bruto)

C.

Prinsip Matching Costs Against Revenues
Untuk melengkapi pembahasan dalam pokok bahasan ini, berikut dijelaskan prinsip
penandingan biaya dengan pendapatan. Pertama, direct matching. Kedua, systematic
and rational allocation. Ketiga, immediate recognition.
Direct Matching. Aliran keluar kas ataupun aktiva lain yang memunyai kaitan
langsung dengan proses penghimpunan (earning) pendapatan ditandingkan secara
langsung dengan pendapatan. Contohnya harga pokok penjualan yang menunjukkan
kos barang terjual, biaya penjualan, dan komisi penjualan. Dalam perusahaan
dagang, misalnya, kos barang yang melekat pada barang dagangan diakui sebagai
biaya ketika barang itu telah dijual. Kalau tahun ini perusahaan membeli barang
dagangan dengan kos Rp 300.000 dan barang itu dijual tahun depan, maka jumlah Rp
300.000 akan dibebankan sebagai harga pokok penjualan di tahun depan, meskipun
barang itu dibeli dan dibayar tahun sekarang.
Systematic and Rational Allocation. Prinsip ini digunakan untuk kos yang melekat
pada aktiva jangka panjang seperti aktiva tetap. Pembebanannya menjadi biaya
adalah dengan menggunakan alokasi yang sistematis dan rasional, yakni
menggunakan proses alokasi (depresiasi) dengan metode (depresiasi) tertentu,
misalnya garis lurus.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 146 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Immediate Recognition. Aliran keluar kas ataupun aktiva lain yang memunyai
hubungan tidak langsung dengan proses penghimpunan pendapatan diakui dengan
segera menjadi biaya pada periode dikeluarkannya. Biaya administrasi, misalnya,
langsung dibebankan pada periode dikeluarkannya.

D.

Latihan Soal
Soal Latihan 1:
Untuk mencapai target omzed penjualan yang diinginkan, PT. RAGAM USAHA
menjual barang dagangannya secara cicilan, dengan peraturan pembayaran 50%
dicicil pada tahun pertama, 30% pada tahun kedua dan 20% pada tahun ketiga.
Data penjualan selama 3 tahun terakhir sebagai berikut.

Penjualan cicilan
Harga pokok penjualan cicilan

2005

2006

2007

Rp 350.000.000
262.500.000

Rp 480.000.000
336.000.000

Rp 570.000.000
381.900.000

Apabila perusahaan mengakui pendapatan dengan metode Penjualan Cicilan
(Installment Sale), maka buatlah ayat jurnal pencatatan yang diperlukan (didukung
dengan perhitungannya)!

Soal Latihan 2:
Pada awal tahun 2005 PT. PASAK BUANA menandatangani kontrak pembangunan
Gedung Kantor dengan harga kontrak Rp 500 juta. Diperkirakan pembangunan
Gedung Kantor akan diselesaikan pada pertengahan tahun 2007 dengan total biaya
Rp 400 juta. Berikut data biaya yang terjadi selama 3 tahun (dalam ribuan rupiah):
2005

2006

2007

Biaya yang terjadi sampai tahun
Estimasi biaya penyelesaian kontrak

Rp162.000
243.000

Rp307.500
102.500

Rp412.000
0

Total biaya kontrak

Rp405.000

Rp410.000

Rp412.000

Faktur penagihan diajukan setiap tahun proporsional dengan persentase penyelesaian
pekerjaan, dimana kas yang berhasil tertagih sebesar Rp140 juta pada tahun 2005,
sebesar Rp150 pada tahun 2006 dan Rp210 juta pada tahun 2007.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 147 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Apabila pendapatan diakui dengan metode Persentase Penyelesaian (Percentage of
Completion), maka buatlah ayat jurnal pencatatan yang diperlukan (didukung dengan
perhitungannya) !

Pusdiklat BPK RI

Hal. 148 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

BAB XIV
MODAL SAHAM DAN LABA DITAHAN

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan
komponen-komponen ekuitas pemegang saham, prosedur akuntansi
pengeluaran saham biasa, prosedur akuntansi saham treasuri, dan
prosedur akuntansi pembagian laba ditahan, serta penyajian modal saham
dan laba ditahan, dan memahami klasifikasi ekuitas di lembaga
pemerintahan.

A. Modal Saham Biasa
Defisini Ekuitas
Ekuitas atau modal pemegang saham (pemilik) pada perseroan terbatas (PT) terdiri
atas saham-saham. Terdapat dua jenis saham—saham biasa dan saham prioritas.
Saham prioritas mempunyai keunggulan di atas saham biasa dalam hal memperoleh
bagian laba lebih dahulu. Namun, tidak seperti saham biasa, saham prioritas tidak
memiliki hak suara (voting interest) dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).
Modal saham merupakan modal yang disetor oleh para pemilik atau pemegang
saham. Dalam perjalanan hidup perusahaan, perusahaan dapat memperoleh tambahan
modal dari hasil usaha, yakni laba. Laba yang belum dibagikan kepada pemegang
saham merupakan bagian dari modal (tetapi bukan yang disetor oleh pemegang
saham) dan diberi nama laba ditahan. Penjelasan berikut membahas modal saham
biasa dan laba ditahan sebagai dua pos penting dalam modal pemegang saham
sebuah perseoran terbatas.

Mengeluarkan Saham Biasa
Aliran kas masuk ke perusahaan dari saham biasa hanya terjadi ketika perusahaan
mengeluarkan saham baru di pasar perdana. Pasar perdana adalah pasar pertama kali
perusahaan menjual sahamnya ke publik melalui pasar modal. Setelah saham berada
di publik, terjadilah pertukaran saham antarinvestor di bursa efek. Pertukaran saham

Pusdiklat BPK RI

Hal. 149 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

di bursa efek—yang disebut pasar sekunder—tidak mengalirkan kas sama sekali ke
perusahaan. Oleh karena itu, akuntansi hanya dilakukan ketika perusahaan
melakukan initial public offerings (IPO) di pasar perdana.
Berbeda dari obligasi, saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Artinya,
saham biasa tidak dilunasi pada tanggal tertentu. Sebagaimana obligasi, saham biasa
juga dapat laku di pasar perdana dengan harga sebesar nilai nominal, lebih besar
daripada nilai nominal, atau lebih kecil daripada nilai nominal. Prosedur akuntansi
dijelaskan berikut ini.
Harga Sama dengan Nilai Nominal. Penjualan saham biasa dengan harga sebesar
nilai nominalnya dicatat dalam buku jurnal dengan mengkredit akun "Modal Saham
Biasa" sebesar nilai nominalnya. Sebagai contoh, misalnya PT. PASAR KEMBANG
pada 1 Januari 2007 mengeluarkan 1.000.000 lembar saham biasa dengan nilai
nominal per lembar Rp500. Seluruh saham laku terjual tunai pada tanggal tersebut
dengan harga sama sebesar nilai nominalnya. Transaksi ini dicatat sebagai berikut.
Jan.

1 Kas
Modal Saham Biasa

500.000.000

-

-

500.000.000

Harga di Atas Nilai Nominal. Saham yang laku dijual di atas nilai nominalnya,
pencatatannya diletakkan pada dua pos : Modal Saham Biasa dan Agio Modal Saham
Biasa. Andaikan contoh sebelumnya menunjukkan bahwa saham terjual dengan
harga Rp750 per lembar, maka jurnal untuk mencatatnya adalah sebagai berikut.
Jan.

1 Kas

750.000.000

-

Modal Saham Biasa

-

500.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

250.000.000

Akun Agio Modal Saham Biasa merupakan adjunct account yang dilaporkan di
neraca sebagai penambah akun Modal Saham Biasa. Berbeda dari agio utang
obligasi, agio modal saham biasa tidak diamortisasi sebab modal saham biasa tidak
memiliki tanggal jatuh tempo.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 150 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Harga di Bawah Nilai Nominal. Jika saham dijual dengan harga di bawah nilai
nominalnya, maka selisih antara nilai nominal dan harga jual dicatat dalam akun
Disagio Modal Saham Biasa. Andaikan contoh di atas menunjukkan bahwa saham
biasa laku terjual tunai dengan harga per lembar Rp400, maka jurnal yang dibuat
adalah sebagai berikut :
Jan.

1 Kas
Disagio Modal Saham Biasa

400.000.000

-

100.000.000

-

-

500.000.000

Modal Saham Biasa

Akun Disagio Modal Saham Biasa adalah contra account bagi akun Modal Saham
Biasa. Berbeda dari disagio utang obligasi, disagio modal saham biasa tidak
diamortisasi sebab modal saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.

Menjual Saham Biasa Berdasarkan Pesanan
Saham biasa boleh jadi dipesan oleh calon pemegang saham dengan uang muka dan
angsuran jangka pendek. Jika saham biasa dijual dengan cara ini, maka dibentuk
akun Piutang kepada Pemesan Saham Biasa dan Modal Saham Biasa Dipesan. Agio
ataupun disagio yang timbul segera diakui pada saat menerima pesanan. Sebagai
contoh, misalnya PT. BAKTI PERSADA pada 1 Januari 2007 menerima pesanan
100.000 lembar saham biasa, nominal per lembar Rp1.000, harga jual per lembar
Rp1.400. Uang muka diterima 20% dan sisanya dibayar pada saat saham diserahkan,
yaitu pada 31 Januari 2007. Transaksi ini dicatat sebagai berikut.
Jan. 1 Piutang kepada Pemesan Saham Biasa

140.000.000

-

Modal Saham Biasa Dipesan

-

100.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

40.000.000

28.000.000

-

-

28.000.000

112.000.000

-

-

112.000.000

(mencatat penerimaan pesanan saham)
Kas (20% x Rp 140.000.000)
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa
(mencatat penerimaan uang muka pesanan
saham)
Jan. 31 Kas (80% x Rp 140.000.000)
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa
(mencatat penerimaan
saham)
Pusdiklat BPK RI

pelunasan

pesanan

Hal. 151 dari 163

Akuntansi Menengah

Modal Saham Biasa Dipesan
Modal Saham Biasa

Buku Peserta

100.000.000

-

-

100.000.000

(mencatat penyerahan saham)

Pemesan Membatalkan Pesanannya (Gagal Melunasi)
Adalah mungkin pemesan saham pada akhirnya tidak atau gagal membayar jumlah
yang tersisa dan kemudian membatalkan pesanannya. Apabila hal ini terjadi, maka
terdapat 4 (empat) alternatif tindakan yang mungkin dilakukan perusahaan penerbit
saham (issuing company):
1. Perusahaan mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya kepada pemesan.
2. Perusahaan mengembalikan kas yang telah diterimanya setelah memotongnya
sebagai ganti kerugian ataupun biaya penjualan kembali saham yang gagal
dipesan.
3. Perusahaan tidak mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya.
4. Perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan setara dengan jumlah kas yang
telah diterimanya.
Sebagai contoh, misalnya pemesan saham —pada contoh sebelumnya— yang
memesan 10.000 lembar saham dan telah membayar uang muka (20%) Rp2.800.000
ternyata gagal membayar sisanya pada 31 Januari 2007. Jadi, pesanan saham yang
dibatalkan adalah 10% (= 10.000 lembar/100.000 lembar). Oleh karena itu Modal
Saham Biasa Dipesan sebesar nilai nominal Rp 10.000.000 (= 10% x
Rp100.000.000) dan Agio Modal Saham Biasa sebesar Rp 4.000.000 (= 10% x
Rp40.000.000) harus dibatalkan. Demikian pula Piutang kepada Pemesan Saham
Biasa yang gagal dibayar sebesar Rp11.200.000 (= 80% x 10.000 x Rp1.400) juga
dibatalkan. Sedangkan uang muka yang telah diterima Rp2.800.000 diperlakukan
sesuai dengan alternatif yang dipilih oleh perusahaan, yang akan dijelaskan sebagai
berikut.

Alternatif pertama, perusahaan mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya
yakni uang muka Rp2.800.000 kepada pemesan dan jurnal pencatatannya adalah :

Pusdiklat BPK RI

Hal. 152 dari 163

Akuntansi Menengah

Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan

Buku Peserta

10.000.000

-

4.000.000

-

Piutang kepada Pemesan Saham Biasa

-

11.200.000

Kas

-

2.800.000

Agio Modal Saham Biasa

Alternatif kedua, perusahaan mengembalikan kas yang telah diterimanya setelah
memotongnya sebagai ganti kerugian ataupun biaya penjualan kembali saham yang
gagal dipesan. Misalnya dalam contoh ini, perusahaan pada 5 Pebruari 2008
menerbitkan 10.000 lembar saham yang dibatalkan dengan harga Rp1.350 per
lembar (turun Rp50 per lembar) atau total Rp13.500.000. Namun, pada saat
menerbitkan 10.000 lembar saham yang dibatalkan, agio modal saham akan tetap
diakui sebesar Rp4.000.000. Oleh karena itu kas yang dikembalikan kepada pemesan
hanya sebesar Rp2.300.000 (= Rp2.800.000 – Rp500.000) dan jurnalnya :
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan

10.000.000

-

4.000.000

-

Piutang kepada Pemesan Saham Biasa

-

11.200.000

Hutang dari Pemesan Saham

-

2.800.000

13.500.000

-

500.000

-

Modal Saham Biasa

-

10.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

4.000.000

2.300.000

-

-

2.300.000

Agio Modal Saham Biasa

(mencatat pembatalan pesanan saham)
Peb. 5 Kas (10.000 x Rp 1.350)
Hutang dari Pemesan Saham (10.000 x Rp 50)

(mencatat penerbitan kembali saham yang telah
dibatalkan)
Hutang dari Pemesan Saham
Kas (Rp 2.800.000 – Rp 500.000)
(mencatat pengembalian kas kepada pemesan
yang batal)

Alternatif ketiga, perusahaan tidak mengembalikan seluruh kas yang telah
diterimanya. Dalam hal ini uang muka Rp2.800.000 yang tidak dikembalikan dicatat
dalam akun “Tambahan Modal Disetor dari Denda Pembatalan Pesanan Saham” dan
jurnal pencatatannya:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 153 dari 163

Akuntansi Menengah

Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan
Agio Modal Saham Biasa
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa

Buku Peserta

10.000.000

-

4.000.000

-

-

11.200.000

-

2.800.000

Tambahan Modal Disetor dari Denda
Pembatalan Pesanan Saham

Alternatif keempat, perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan setara
dengan jumlah kas yang telah diterimanya, yakni uang muka Rp2.800.000 (20%).
Jadi, perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan sebanyak 2.000 lembar (=
20% x 10.000 lembar). Oleh karena itu Agio Modal Saham Biasa yang dibatalkan
hanya 80%, yaitu Rp3.200.000 (= 80% x Rp4.000.000) dan jurnal pencatatannya
adalah :
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan

10.000.000

-

3.200.000

-

Piutang kepada Pemesan Saham Biasa

-

11.200.000

Modal Saham Biasa (2.000 x Rp 1.000)

-

2.000.000

Agio Modal Saham Biasa

Jumlah saham biasa sebanyak 8.000 lembar sisanya tentu saja akan perusahaan
terbitkan dan dicatat seperti telah dijelaskan di atas.

Menjual Saham Biasa Secara Borongan (Lump-Sum)
Menjual saham secara borongan adalah menjual saham biasa dan saham prioritas
dengan total harga borongan. Sebagai contoh, misalnya PT. RIZKILLAH pada 1
Januari 2007 menerbitkan 100.000 lembar saham biasa bernominal Rp500 per
lembar dan 50.000 lembar saham prioritas bernominal Rp1.300 per lembar dengan
harga total Rp128.000.000. Oleh karena akuntansi menghendaki catatan terpisah
antara saham biasa dan saham prioritas, maka harga jual borongan harus
dialokasikan ke saham biasa dan saham prioritas, dimana dapat digunakan metode
Harga Pasar Relatif. Misalnya diketahui pada saat ini harga pasar saham biasa
Rp700/lembar atau total Rp70.000.000 dan saham prioritas Rp1.800/lembar atau
total Rp90.000.000, maka harga jual borongan dapat dialokasikan dengan cara
sebagai berikut:

Pusdiklat BPK RI

Hal. 154 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jenis Saham

Harga Pasar

Biasa

Rp70.000.000

43,75% 43,75% x Rp 128 juta

Rp56.000.000

90.000.000

56,25% 56,25% x Rp 128 juta

72.000.000

Prioritas

Rp160.000.000

%

Perhitungan

Alokasi Harga

100%

Rp128.000.000

Jurnal pencatatannya adalah sebagai berikut :
Jan. 1 Kas

10.000.000

-

Modal Saham Biasa (100.000xRp 500)

-

50.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

6.000.000

Modal Saham Prioritas (50.000xRp 1.300)

-

65.000.000

Agio Modal Saham Prioritas

-

7.000.000

Saham Tresuri
Meskipun tidak memiliki tanggal jatuh tempo, saham biasa yang sudah beredar dapat
ditarik kembali oleh perusahaan penerbit (issuing company). Saham yang ditarik
kembali mungkin tidak akan dijual kembali dan mungkin pula akan dijual kembali ke
publik. Saham yang dijelaskan terakhir ini disebut saham tresuri (treasury stock).
Saham treasuri ketika ditarik kembali dapat didebit (1) sebesar harga penarikan
kembali (reacquisition cost) dan diperlakukan sebagai pengurang modal disetor dan
laba ditahan di neraca — disebut cost method (metode harga perolehan), atau (2)
sebesar nilai nominal dan diperlakukan hanya sebagai pengurang modal saham —
disebut par method (metode nilai nominal). Metode kos banyak digunakan dan, oleh
karena itu, metode inilah yang akan dijelaskan berikut ini.
Sebagai contoh, misalnya PT. MAJU TERUS pada 30 November 2007 menarik
kembali 100.000 lembar saham, nominal Rp500 per lembar, dengan kurs 130. Jadi,

Pusdiklat BPK RI

Hal. 155 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

reacquisiton cost adalah 100.000 x Rp500 x 130% = Rp65.000.000 atau per
lembarnya Rp650. Transaksi ini dijurnal sebagai berikut :
Nov. 30 Saham Tresuri

65.000.000

-

-

65.000.000

Kas

Selisih lebih antara harga jual kembali dan reacquisition cost dicatat dalam akun
Agio dari Saham Tresuri sebelah kredit. Jika sebaliknya, maka akun tersebut didebit.
Sebagai contoh, misalnya pada 15 Desember 2007 perusahaan menjual kembali
60.000 lembar saham tresuri di atas dengan kurs 140. Penjualan kembali saham
tresuri ini dijurnal sebagai berikut.
Des. 15 Kas (60.000 x Rp500 x 140%)

42.000.000

-

Saham Tresuri (60.000 x Rp500 x 130%

-

39.000.000

Agio dari Saham Tresuri

-

3.000.000

Stock Splits-up
Sebagaimana telah dijelaskan di pokok bahasan investasi, stock splits-up adalah
pemecahan nilai nominal tiap lembar saham, tanpa mengubah nilai nominal saham
secara keseluruhan. Saham dengan nilai nominal sebelumnya yang sudah beredar
segera ditarik dan diganti dengan saham yang baru. Dengan demikian, maka yang
bertambah adalah jumlah lembar sahamnya saja. Perubahan nilai nominal per lembar
akibat stock splits–up tidak perlu dicatat dalam buku jurnal.

B. Laba Ditahan
Laba ditahan berasal dari laba perusahaan dari tahun ke tahun yang secara kumulatif
tidak atau belum dibagikan kepada pemegang saham. Ketika pertama kali perusahaan
baru berdiri, laba ditahan adalah nihil. Setelah perusahaan beroperasi dan
memperoleh laba, barulah laba ditahan berubah.

Memperoleh Laba
Jika perusahaan memperoleh laba, maka labanya ditutup ke akun Laba Ditahan.
Sebagai contoh, misalnya PT. FAJAR MULYA pada tahun 2006 memperoleh laba
Pusdiklat BPK RI

Hal. 156 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

bersih setelah pajak sebesar Rp100.000.000. Jurnal untuk menutup laba ke laba
ditahan adalah sebagai berikut.
Des. 31 Ikhtisar Laba rugi

100.000.000

-

Laba Ditahan

-

100.000.000

Jika yang terjadi sebaliknya, yakni perusahaan menderita rugi, maka jurnalnya
adalah debit Laba Ditahan dan kredit Ikhtisar Laba rugi.

Membagi Dividen Kas
Dividen tunai (kas) merupakan bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham.
Bagi perusahaan, utang dividen diakui pada tanggal pengumuman. Di sisi lain, laba
ditahan berkurang. Sebagai contoh, misalnya perusahaan telah mengeluarkan saham
biasa 1.000.000 lembar, nominal Rp 1.000 per lembar. Pada tanggal 1 Pebruari 2007,
perusahaan mengumumkan pembagian dividen tunai Rp20 per lembar atau total
Rp20.000.000 yang akan dibayar pada tanggal 15 Februari 2007. Jurnal yang dibuat
adalah sebagai berikut.
Peb. 1 Laba Ditahan

20.000.000

-

-

20.000.000

20.000.000

-

-

20.000.000

Utang Dividen Kas
(mencatat pengumuman pembagian dividen)
15 Utang Dividen
Kas
(mencatat pembayaran dividen)

Membagi Dividen Saham
Berbeda dari dividen tunai, dividen saham dibagikan dalam bentuk saham yang
sejenis dengan saham yang telah beredar. Pembagian dividen saham diakui sebagai
pengurang laba ditahan dan penambah modal saham. Apabila ketika dibagikan, harga
pasar saham biasa berbeda dari nilai nominal, maka selisihnya diakui sebagai agio
atau disagio modal saham biasa. Jumlah laba ditahan yang berkurang adalah sebesar
harga pasar saham biasa pada saat pengumuman pembagian dividen.
Sebagai contoh, misalnya perusahaan pada 1 Februari 2007 mengumumkan
pembagian selembar dividen saham kepada setiap pemegang 20 lembar saham biasa.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 157 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Jumlah saham biasa perusahaan yang sekarang beredar adalah 1.000.000 lembar
dengan nilai nominal per lembar Rp500, di mana harga pasar saham saat ini adalah
Rp700. Jadi, yang akan dibagikan kepada seluruh pemegang saham adalah 50.000
lembar (= 1.000.000 lembar/20) yang akan dibayar pada tanggal 15 Februari 2007.
Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut.
Peb.

Peb.

1 Laba Ditahan (50.000 x Rp700)

35.000.000

-

Utang Dividen Biasa (50.000 x Rp500)

-

25.000.000

Agio Modal Saham Biasa

-

10.000.000

25.000.000

-

-

25.000.000

1 Utang Dividen Biasa
Modal Saham Biasa

C. Penyajian Ekuitas Perseroan Terbatas
Ekuitas pemegang saham disajikan di neraca di bawah kewajiban jangka panjang.
Berikut adalah contoh penyajian pos “Modal Pemegang Saham” di neraca:
Modal Pemegang Saham:
Modal Disetor :
Modal Saham Biasa
Modal Saham Prioritas
Agio Modal Saham Biasa
Agio Modal Saham Prioritas
Agio dari Saham Tresuri
Total Modal Disetor
Laba Ditahan
Total Modal Disetor dan Laba Ditahan

Rp200.000.000
300.000.000
60.000.000
120.000.000
35.000.000
Rp715.000.000
843.000.000
Rp1.558.000.000

Dikurangi : Kos Saham Tresuri

16.000.000

Total Modal Pemegang Saham

Rp1.542.000.000

D. Ekuitas Pemerintah Daerah
Sebagai penutup, berikut dijelaskan ekuitas (aset bersih) pada pemerintah daerah
(local government) di Indonesia seperti pemerintah kabupaten, pemerintah kota, dan
pemerintah provinsi. Ekuitas pada pemerintah daerah diklasifikasi menjadi ekuitas
Pusdiklat BPK RI

Hal. 158 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

dana lancar, ekuitas dana investasi, dan ekuitas dana cadangan. Ekuitas Dana
Lancar adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar. Ekuitas Dana
Investasi menunjukkan kekayaan pemerintah daerah yang ditanam dalam aset tetap,
investasi jangka panjang, dan aset lain-lain setelah dikurangi kewajiban jangka
panjang. Ekuitas Dana Cadangan menunjukkan kekayaan pemerintah daerah yang
dicadangkan untuk keperluan tertentu dalam jangka panjang yang tidak dapat didanai
dengan anggaran pendapatan tahun tertentu.

E. Latihan Soal
Soal Latihan 1 :
Buatlah jurnal pencatatan transaksi-transaksi di bawah ini:
a) Dijual 50.000 lembar saham biasa, nilai nominal Rp2.000/lembar seharga Rp
2.600/lembar dan 25.000 lembar saham prioritas, nilai nominal Rp5.000/lembar
seharga Rp 7.500/lembar.
b) Dijual secara lump-sum: 30.000 lembar
Rp2.000/lembar

dan

60.000

lembar

saham biasa, nilai

saham

prioritas,

nilai

nominal
nominal

Rp5.000/lembar dengan harga borongan total Rp372 juta. Harga pasar wajar
saham biasa dan saham prioritas adalah Rp2.500/lembar dan Rp6.500/lembar.

Soal Latihan 2 :
Manajemen PT. CAHAYA KADA mengotorisasi penerbitan saham berikut :
o 200.000 lembar Saham Biasa, Nominal Rp 2.000 per lembar.
o 100.000 lembar Saham Prioritas, 10%, Nominal Rp3.000 per lembar.

Transaksi berkaitan dengan modal saham selama tahun 2007 adalah :
a) Dijual tunai 50.000 lembar saham prioritas dengan harga Rp4.500 per lembar.
b) Diterima pesanan 100.000 lembar saham biasa dengan harga Rp2.800 per lembar
dan diterima uang muka 30%.
c) Diterima pelunasan pesanan saham biasa pada nomor b) di atas 70% dan
diterbitkan sertifikat saham kepada pemesan.
Pusdiklat BPK RI

Hal. 159 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

d) Dijual secara lump-sum 50.000 lembar saham biasa dan 25.000 lembar saham
prioritas dengan total harga Rp204.000.000. Harga pasar wajar per lembar saham
biasa dan saham prioritas pada saat ini masing-masing Rp2.700 dan Rp 4.200.
e) Diperoleh laba bersih tahun 2007 sebesar Rp117.000.000.
f) Diumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp200 per lembar saham biasa.
g) Dibayarkan dividen tunai yang diumumkan pada nomor f) di atas .
Diminta:
1. Buatlah jurnal pencatatan transaksi tahun 2007 di atas.
2. Susunlah bagian ”Modal Pemegang Saham” pada neraca per 31 Desember 2007.

Soal Latihan 3 :
Berikut saldo dari Modal Pemegang Saham per 31 Desember 2006 pada PT.
SATRIA PRADHANA :
(Rp)
Modal Saham Biasa, Nominal @ Rp3.000 (200.000 lembar beredar)

600.000.000

Agio Modal Saham Biasa .......................................................................

300.000.000

Laba Ditahan ..........................................................................................

78.000.000

Total Modal Pemegang Saham

1.378.000.000

Transaksi berkaitan dengan saham tresuri selama tahun 2007 :
a) Dibeli 50.000 lembar saham tresuri dengan cost Rp4.700 per lembar.
b) Dijual 15.000 lembar saham tresuri dengan harga Rp5.000 per lembar.
c) Dijual 25.000 lembar saham tresuri dengan harga Rp4.500 per lembar.
Diminta :
1. Buatlah jurnal pencatatan transaksi di atas dengan metode Cost
2. Susunlah bagian ”Modal Pemegang Saham” pada neraca per 31 Desember 2007

Pusdiklat BPK RI

Hal. 160 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

Soal Latihan 4 :
Berikut saldo dari Modal Pemegang Saham per 31 Desember 2006 pada PT.
SAHARAWINTA :
Modal Saham Biasa, Nominal @ Rp2.000 (100.000 lembar

Rp200.000.000

beredar)
150.000.000

Modal Saham Prioritas, 10%, Nominal @ Rp3.000 (50.000
lembar beredar)
Agio Modal Saham Biasa

60.000.000

Agio Modal Saham Prioritas

45.000.000

Laba Ditahan

27.000.000

Transaksi berkaitan dengan modal saham selama tahun 2007 :
a) Ditukarkan 30.000 lembar saham prioritas dengan tanah senilai Rp110.000.000
b) Diterima pesanan 50.000 lembar saham biasa dengan harga Rp3.000 per lembar
dan diterima uang muka 40%
c) Diterima pelunasan pesanan saham biasa pada nomor b) di atas 60% dari
pemesan 40.000 lembar dan diterbitkan 40.000 lembar sertifikat saham kepada
pemesan yang telah melunasi pesanan. Sedangkan pemesan 10.000 lembar saham
membatalkan pesanannya dan kepadanya diberikan sertifikat saham proporsional
dengan kas yang telah dibayarnya
d) Diumumkan dan dibayar pembagian dividen saham biasa, dimana tiap lembar
saham biasa akan diberikan ke pemegang 3 lembar saham biasa dan ke pemegang
2 lembar saham prioritas. Harga pasar wajar saham biasa Rp2.600
e) Diperoleh laba bersih tahun 2007 Rp90.000.000

Diminta: Buatlah jurnal pencatatan transaksi tahun 2007 di atas!

Pusdiklat BPK RI

Hal. 161 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

DAFTAR PUSTAKA

IAI. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.

Kieso, D.E., J.J. Weygandt., and T.D. Warfield. 2007. Intermediate Accounting, 12th
Ed.. John Wiley & Sons. Hoboken, N.J.

Sugiri, S. dan Sumiyana. 2005. Akuntansi Keuangan Menengah Buku 1, Edisi
Revisian. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 162 dari 163

Akuntansi Menengah

Buku Peserta

CATATAN PESERTA
Evaluasi Modul
Lembar yang disediakan ini dapat anda gunakan untuk membantu Pusdiklat dalam meningkatkan mutu modul
pembelajaran dengan menuliskannya kembali ke Lembar Evaluasi yang diberikan oleh Panitia Diklat diakhir kegiatan.

Agenda untuk pengembangan pribadi
Lembar yang disediakan ini dapat Saudara gunakan untuk membantu IDP Saudara(Individual Development Plan).
Masukkan rencana-rencana yang akan Saudara lakukan untuk memperdalam pemahaman anda atas hal-hal yang
dibahas dipelajaran ini.

Pusdiklat BPK RI

Hal. 163 dari 163

Judul: Akuntansi Menengah

Oleh: Richard Alianso


Ikuti kami