Akuntansi Lingkungan

Oleh Fitri Ambar

23 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Lingkungan

MAKALAH AKUNTANSI LINGKUNGAN

DISUSUN OLEH:
NAMA

: FITRI AMBARWATI

NIM

: 1201615035

MATA KULIAH

: AKUNTANSI KEUANGAN

UNIVERSITAS SURAKARTA
TAHUN 2018/2019

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
berbagai nikmat kepada saya, baik nikmat iman, islam dan kesehatan. Sehingga kita mampu
dipertemukan dalam konteks pendidikan yang merupakan wadah jihad yang penuh dengan nilai
pahala. Sholawat serta salam semoga senantiasa kita curahkan kepada Baginda Nabi Besar
Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan semoga kita sebagai umat beliau mendapat
syafa’at-Nya di yaumul akhir nanti.
Makalah ini saya buat dengan bahasa yang se-sederhana mungkin agar mudah di pahami
oleh pembaca yang bukan pemerhati ekonomi tetapi ingin menambah pengetahuannya. Dengan
selesainya makalah ini, dalam pemenuhan tugas mata kuliah Akuntansi Lingkungan, saya
mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama penyusunan dan
penyelesaian makalah ini. Kritik dan saran sangat yang bersifat membangun saya harapkan untuk
perbaikan.
Semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat bagi khalayak ramai.
Karanganyar,

Januari 2019

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada mulanya akuntansi diartikan hanya sekedar sebagai prosedur pemrosesan data
keuangan. Pengertian ini dapat ditemukan dalam Accounting Terminology Bulletin yang
diterbitkan oleh AICPA (American Institute of Certified Public Accounting). Dalam
Accounting Terminology Bulettin no.1 dinyatakan sebagai berikut “Accounting is the art of
recording, classifying and summarizing in a significant manner and in the term of money,
transaction and event which are and part, at least of finantial character and interpreting
the result there of.” (AICPA, 2000).
Dalam akuntansi secara umum yang terjadi adalah pengukuran dan pencatatan
terhadap dampak yang timbul dari hubungan antara perusahaan dengan pelanggan atau
konsumen produk namun dalam akuntansi lingkungan lebih cenderung menyoroti masalah
aspek sosial atau dampak dari kegiatan secara teknis, misalnya pada saat penggunaan alat
atau bahan baku perusahaan yang kemudian akan menghasilkan limbah produksi yang
berbahaya. Bidang ini amat penting sebab khususnya di Indonesia saat ini terlalu banyak
perusahaan baik badan usaha milik negara maupun swasta yang dalam pelaksanaan operasi
usaha ini menimbulkan kerusakan ekosistem karena adanya limbah produksi perusahaan
yang tentu memerlukan alokasi biaya penanganan khusus untuk hal tersebut.
Pada perkembangannya, akuntansi tidak hanya sebatas proses pertanggungjawaban
keuangan namun juga mulai merambah ke wilayah 2 pertanggungjawaban sosial
lingkungan sebagai ilmu akuntansi yang relatif baru. Akuntansi lingkungan menunjukkan
biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya, selain itu
juga dapat digunakan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa. Tujuan utamanya adalah
dipatuhinya perundangan perlindungan lingkungan untuk menemukan efisiensi yang
mengurangi dampak dan biaya lingkungan.

Konsep akuntansi lingkungan atau green accounting sebenarnya sudah mulai
berkembang sejak tahun 1970-an di Eropa, diikuti dengan mulai berkembangnya
penelitian-penelitian yang terkait dengan isu green accounting tersebut di tahun 1980-an
(Bebbington, 1997; Gray, dkk., 1996). Di negara-negara maju seperti yang ada di Eropa
(Roussey, 1992), Jepang (Djogo, 2006) perhatian akan isu-isu lingkungan ini berkembang
pesat baik secara teori maupun praktik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peraturan
terkait dengan lingkungan ini. Cooper (1992: 36) menjelaskan istilah green accounting
dalam artikelnya sebagai berikut; “The introduction of green accounting, however well
thought out, will, under the present phallogocentric system of accounting, do nothing to
avert today’s environmental crisis. In fact, it could make matters even worse “.
Dari semakin besarnya dampak yang ditimbulkan dari kegiatan perusahaan ini juga
berpengaruh terhadap masalah lingkungan dan pelestarian alam. Tidak jauh berbeda
dengan akuntansi sosial, akuntansi lingkungan juga mencoba menyoroti aspek sosial, dan
pelestarian alam. Untuk itu, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian tentang
“Analisa Penerapan Akuntansi Lingkungan di Rumah Sakit”

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dalam penelitian ini ada beberapa rumusan masalah
yaitu sebagai berikut:
1.

Bagaimana penerapan akuntansi lingkungan di rumah sakit ?

2.

Apakah

rumah

sakit

menerapkan

sistem

akuntansi

lingkungan

sebagai

pertanggungjawaban sosial kepada masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah
dan lingkungan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku ?
C.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1.

Mengetahui penerapan akuntansi lingkungan di rumah sakit

2.

Untuk mengetahui pengolahan limbah dan lingkungan yang di terapkan sesuai dengan
standar akuntansi yang berlaku.

D.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.

Bagi penulis, dapat menambah wawasan tentang konsep akuntansi lingkungan yang
merupakan konsep baru dalam akuntansi.

2.

Bagi Perusahaan, sebagai masukan dalam menerapkan akuntansi lingkungan yang
seharusnya diterapkan pada perusahaan.

3.

Menambah referensi dan mendorong dilakukannya penelitian-penelitian akuntansi
lingkungan. Hasil penelitian ini juga diharapkan akan dapat memberikan sumbangan
bagi penelitian berikutnya.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Akuntansi Lingkungan
Menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accounting) dalam
buletinnya, Akuntansi didefinisikan sebagai berikut : Accounting is the art of recording,
classifying and summarizing in a significant manner and in the term of money, transaction
and event which are and part, at least of financial character and interpreting the result there
of (1998). Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi merupakan
sebuah seni untuk mencatat, mengklasifikan, dan menjumlahkan nilai dari transaksi yang
sudah dilakukan oleh perusahaan sebagai bagian dari pertanggungjawaban keuangan yang
disajikan dalam bentuk sistematis”.
Sedangkan lingkungan hidup berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 1 angka 1 adalah :
“kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk
didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya”. Akuntansi lingkungan atau
Environmental Accounting (EA) merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya
biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau
lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan
mampun non-keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi
kualitas lingkungan menurut Ikhsan (2008).
Kedua, akuntansi lingkungan juga meliputi biya-biaya individu, masyarakat maupun
lingkungan suatu perusahaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Akuntansi
lingkungan juga didefinisikan sebagai pencegahan, pengurangan, dan atau penghindaran
dampak terhadap lingkungan, bergerak dari beberapa kesempatan, dimulai dari perbaikan
kembali kejadiankejadian yang menimbulkan bencana atas kegiatan-kegiatan tersebut
(Ikhsan, 2008). Bidang akuntansi lingkungan terus berkembang dalam mengidentifikasi

pengukuran-pengukuran dan mengomunikasikan biaya-biaya aktual perusahaan atau
dampak potensial lingkungannya. Biaya ini meliputi biaya-biaya pembersihan atau
perbaikan tempat-tempat yang terkontaminasi, biaya pelestarian lingkungan, biaya hukuman
dan pajak, biaya pencegahan polusi teknologi dan biaya manajemen pemborosan.
Biaya lingkungan dapat merupakan presentase yang signifikan dari biaya operasional
total. Melalui manajemen yang efektif, banyak dari biaya-biaya ini yang dapat dikurangi
atau dihapuskan. Untuk melakukannya, diperlukan informasi biaya lingkungan yang
menuntut

manajemen

untuk

mendefinisikan,

mengukur,

mengklasifikasikan,

dan

membebankan biaya lingkungan kepada proses, produk, dan objek biaya lainnya. Akuntansi
lingkungan menunjukkan biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya
efisiensi biaya, selain itu juga digunakan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa menurut
Trisnawati (2014).
Biaya lingkungan dilaporkan sebagai sebuah kelompok terpisah agar manajer dapat
melihat pengaruhnya terhadap profitabilitas perusahaan.
1. Model biaya kualitas lingkungan
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah model biaya kualitas lingkungan.
Dalam model kualitas lingkungan total, kondisi ideal adalah tidak adanya kerusakan
lingkungan; kerusakan dianggap sebagai degradasi langsung dari lingkungan
(misalnya polusi air dan udara) atau degradasi tidak langsung (misal penggunaan
bahan baku dan energi yang tidak perlu). Biaya lingkungan didefinisikan sebagai
biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena
kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Oleh karenannya biaya lingkungan
dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention cost), yaitu biayabiaya
untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan/atau
sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh: biaya seleksi
pemasok, seleksi alat pengendali polusi, desain proses dan produk, training
karyawan, dll.
b. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection cost), yaitu biaya-biaya untuk
aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah, produk, proses, dan aktivitas

lainnya telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau/tidak. Contoh: biaya
audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses, pelaksanaan pengujian
pencemaran, pengukuran tingkat pencemaran, dll.
c. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure cost), yaitu
biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah, tetapi
tidak dibuang ke lingkungan luar. Contoh: biaya operasional peralatan
pengurang/penghilang polusi, pengolahan dan pembuangan limbah beracun,
pemeliharaan peralatan, daur ulang sisa bahan, dll.
d. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure cost), yaitu
biaya-biaya untuk aktifitas yang dilakukan setelah melepas limbah/sampah ke
dalam lingkungan.
1) Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost), yaitu
biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Contoh : biaya
membersihakan danau atau tanah yang tercemar atau minyak yang tumpah,
penyelesaian klaim kecelakaan pribadi, hilangnya penjualan karena reputasi
lingkungan yang buruk, dll.
2) Biaya kegagalan eksternal yang tidak direalisasikan/ biaya sosial (unrealized
external failure cost/social cost), yaitu biaya sosial yang disebabkan oleh
perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Contoh: biaya perawatan medis karena kerusakan lingkungan, hilangnya
lapangan pekerjaan karena polusi, rusakan ekosistem,dll.
Pelaporan biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang
penting, yaitu : (1) dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas, dan (2) jumlah
relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori. Dari sudut pandang praktis, biaya
lingkungan akan menerima perhatian manajemen hanya jika jumlahnya signifikan.
Dalam kenyataannya, biaya lingkungan dapat secara signifikan mempengaruhi
profitabilitas perusahaan. Laporan biaya juga menyediakan informasi yang
berhubungan dengan distribusi relatif dari biaya lingkungan. Biaya kegagalan
lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan lebih banyak aktivitas-aktivitas
pencegahan dan deteksi.

Dimungkinkan bahwa model pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku
serupa dengan model biasa kualitas total, yaitu bahwa biaya lingkungan yang terendah
diperoleh pada titik kerusakan nol, sama seperti titik cacat nol pada model biaya
kualitas total. Pengetahuan akan biaya lingkungan dan hubungannya dengan produk
dapat menjadi sebuah insentif untuk melakukan inovasi dan meningkatkan efisiensi.
2. Perlakuan Akuntansi atas biaya akuntansi lingkungan
a. Biaya Lingkungan dan Belanja
PSAK No. 33 edisi revisi 2012 tentang Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum taksiran biaya
untuk pengelolaan lingkungan hidup yang timbul sebagai akibat kegiatan produksi
tambang diakui sebagai beban. PSAP No.2 tentang Laporan Realisasi Anggaran
bahwa biaya pengelolaan limbah termasuk dalam elemen belanja (Trisnawati,
2014).
Kriteria menurut PSAP No. 02 bahwa belanja adalah semua pengeluaran dari
rekening kas umum Negara atau Daerah yang mengurangi saldo anggaran lebih
dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak diperoleh pembayarannya
kembali oleh pemerintah.
b. Pengukuran biaya akuntansi lingkungan
Dalam SAP Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 98,
pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan
setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah
suatu transaksi yang harus dicatat. Pengukuran lebih berhubungan dengan masalah
penentuan jumlah rupiah yang pertama kali pada saat suatu transaksi terjadi
menurut Suwarjono, 2010 dalam Trisnawati, 2014.
c. Pengakuan biaya akuntansi lingkungan
Pengakuan ialah pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam sistem akuntansi
sehingga jumlah tersebut akan mempengaruhi suatu pos dan terefleksi dalam
laporan keuangan (Suwarjono, 2010) dalam dalam Trisnawati, 2014. Kriteria
pengakuan menurut FASB meliputi empat aspek, yaitu definition, measurability,
relevance dan reliability. Berdasarkan kriteria tersebut, maka biaya pengolahan

limbah dapat diakui dan dicatat ke dalam sistem pencatatan yang akan
mempengaruhi laporan keuangan. memegang peranan penting”. Pengungkapan
berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal informatif yang
dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai, yaitu bagaimana suatu informasi
keuangan atau kebijakan akuntansi perusahaan tersebut diungkapkan (Suwarjono,
2010 dalam Trisnawati, 2014).
3. Sistem akuntansi lingkungan
Sistem akuntansi lingkungan terdiri atas akuntansi konvensional dan ekologis:
a. Akuntansi lingkungan konvensional mengukur dampak-dampak dari lingkungan
alam pada suatu perusahaan dalam istilah-istilah keuangan.
b. Akuntansi ekologis mencoba untuk mengukur dampak suatu perusahaan
berdasarkan lingkungan, tetapi pengukuran dilakukan dalam bentuk unit fisik (sisa
barang produksi dalam kilogram, pemakaian energi dalam kiloujoules), akan tetapi
standar pengukuran yang digunakan bukan dalam bentuk satuan keuangan.
4. Ruang lingkup akuntansi lingkungan
Sedangkan lingkup akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Bagian pertama didasarkan pada kegiatan akuntansi lingkungan suatu perusahaan
baik secara nasional maupun regional.
b. Bagian kedua berkaitan dengan akuntansi lingkungan untuk perusahaanperusahaan
dan organisasi lainnya.
5. Faktor konsep akuntansi lingkungan
Beberapa faktor mengenai konsep akuntansi lingkungan:
a. Biaya konservasi lingkungan (diukur dengan menggunakan nilai satuan uang).
b. Keuntungan konservasi lingkungan (diukur dengan unit fisik).
c. Keuntungan ekonomi dari kegiatan konservasi lingkungan (diukur dengan nilai
satuan uang/rupiah).
6. Dasar akuntansi lingkungan
Dimensi dasar dari akuntansi lingkungan di bagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu :

a. Relevansi
b. Keandalan
c. Netralitas
d. Dapat dimengerti
e. Dapat diperbandingkan
f. Dapat diverifikasi
7. Dasar menggunakan akuntansi lingkungan
Dengan mengidentifikasi dan mengendalikan biaya-biaya lingkungan, sistem
Akuntansi Manajemen Lingkungan dapat membantu manajer lingkungan untuk
menjustifikasi perencanaan produksi pembersih, dan mengidentifikasi caracara baru
dan penghematan uang serta memperbaiki kinerja lingkungan pada waktu yang
bersamaan, mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan yang sering tersembunyi dalam
sistem akuntansi umum.
8. Fungsi dan peran akuntansi lingkungan
a. Fungsi Internal Fungsi internal (pihak penyelenggara usaha) memungkinkan untuk
mengatur biaya konservasi lingkungan dan menganalisis biaya dari kegiatankegiatan konservasi lingkungan yang efektif dan efisien serta sesuai dengan
pengambilan keputusan.
b. Fungsi Eksternal Fungsi ini berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan SFAC
No.1 menjelaskan bahwa pelaporan keuangan memberikan informasi yang
bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainnya dalam mengambil
keputusan investasi, kredit dan yang serupa secara rasional. Faktor penting yang
perlu diperhatikan perusahaan adalah pengungkapan hasil dari kegiatan konservasi
lingkungan dalam bentuk data akuntansi. Informasi yang diungkapkan merupakan
hasil yang diukur secara kuantitatif dari kegiatan konservasi lingkungan.
Diharapkan dengan 22 publikasi hasil akuntansi lingkungan akan berfungsi bagi
perusahaanperusahaan dalam memenuhi pertanggungjawaban serta transparansi
mereka bagi para stakeholder yang secara simultan sangat berarti untuk kepastian
evaluasi dari kegiatan konservasi lingkungan.

9. Manfaat potensial akuntansi manajemen lingkungan
a. Bagi pemerintah
1) Semakin banyak industri yang mampu membenarkan programprogram
lingkungan berdasarkan pada kepentingan keuangan perusahaan sendiri,
penurunan keuangan, politik dan beban perlindungan lingkungan lainnya bagi
pemerintah.
2) Penerapan akuntansi lingkungan oleh industri dapat memperkuat efektifitas
keberadaan kebijakan pemerintah/regulasi dengan lingkungan sebagai hasil
dari kebijakan/aturan-aturan.
3) Pemerintah dapat menggunakan data akuntansi manajemen lingkungan industri
untuk menaksir dan melaporkan ilmu tentang ukuran kinerja lingkungan dan
keuangan untuk pemerintah.
4) Data

akuntansi

manajemen

lingkungan

industri

digunakan

untuk

menginformasikan program kebijakan pemerintah.
5) Pemerintah dapat menggunakan data akuntansi manajemen lingkungan industri
untuk mengembangkan ilmu tentang pengukuran dan pelaporan manfaat
lingkungan serta pengungkapan keuangan suka rela 23 dari industri,
pendekatan inovatif dalam perlindungan lingkungan dan program lain serta
kebijakan-kebijakan pemerintah.
6) Data akuntansi manajemen lingkungan industri dapat digunakan untuk
akuntansi tingkat nasional atau regional.
b. Bagi masyarakat
1) Mampu untuk lebih efisien dan efektif menggunakan sumber-sumber daya
alam, termasuk air dan energi.
2) Mampu untuk mengurangi efektifitas biaya dari emisi.
3) Mengurangi biaya-biaya masyarakat luar yang berhubungan dengan polusi
seperti biaya terhadap monitoring lingkungan, pengendalian dan perbaikan
sebagaimana biaya kesehatan publik yang baik.
4) Menyediakan

peningkatan

pengambilan keputusan publik.

informasi

untuk

meningkatkan

kebijakan

5) Menyediakan informasi kinerja lingkungan industri yang dapat digunakan
dalam luasnya kontek dari evaluasi kinerja lingkungan dan kondisi-kondisi
ekonomi area geografik.
c. Manfaat ekofisensi Ekofisiensi menyatakan bahwa organisasi dapat menghasikan
barang dan jasa yang lebih bermanfaat sambil secara bersamaan mengurangi
dampak lingkungan yang negatif, konsumsi sumber daya, dan biaya. Ekofisiensi
mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi berasal dari perbaikan
kinerja lingkungan. Beberapa penyebab dan insentif untuk ekofisiensi antara lain:
1) Permintaan pelanggan atas produk yang lebih bersih.
2) Pegawai yang lebih baik dan produktifitas yang lebih besar.
3) Biaya modal dan biaya asuransi yang lebih rendah.
4) Keuntungan sosial yang signifikan sehingga citra perusahaan menjadi lebih
baik.
5) Pengurangan biaya dan keunggulan bersaing

DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB%20II.pdf
http://www.academia.edu/28147005/
Makalah_Akuntansi_Biaya_II_Green_Accounting_Akuntansi_Lingkungan_
https://ocw.upj.ac.id/files/GBPP-LSE-204-Modul-Akuntansi-Lingkungan.pdf

Judul: Akuntansi Lingkungan

Oleh: Fitri Ambar


Ikuti kami