Akuntansi Leasing

Oleh Yuliana Fm

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Leasing

MAKALAH
AKUNTANSI UNTUK LEASE

OLEH
KELOMPOK 4
NAMA KELOMPOK : 1. YULIANA
2. CANDRA IRAWAN
3. FANI YOKTAVIA
4. SRI DEVI
5. SYAIDIN

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
YAPIS DOMPU
2019

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................

i

DAFTAR ISI....................................................................................................................

ii

BAB I: PENDAHULUAN...............................................................................................

1

A. LATAR BELAKANG.........................................................................................

1

BAB II: PEMBAHASAN................................................................................................

2

A. PENGERTIAN LEASE ......................................................................................

2

B. KEUNGGULAN LEASING DARI SEGI EKONOMI.......................................

2

C. SIFAT LEASE.....................................................................................................

4

D. KRITERIA PENGGOLONGAN LEASE...........................................................

7

E. AKUNTANSI LEASING ...................................................................................

8

BAB III: PENUTUP........................................................................................................

19

A. KESIMPULAN....................................................................................................

19

DAFTAR PUSTAKA

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur sayapanjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami
selaku penyusun Makalah tentang LEASING (sewa guna usaha) dapat menyelesaikan tugas
yang diberikan pada pembahasan materi kali ini. Makalah ini adalah tugas yang kami
tujukan kepada Dosen mata kuliah Akuntansi Keuangan II. Saya berharap makalah ini dapat
bermanfaat dan memenuhi kewajiban tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan II. Saya juga
menyadari bahwa Makalah ini LEASING (sewa guna usaha) ini masih perlu ditingkatkan lagi
mutunya dan informasinya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Dompu, 22 juni 2019

Penyusun

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Leasing bukan merupakan fenomena baru, namun di Negara-negara berkembang,
ninisiatif menawarkan leasing bagi pengusaha kecil dan mikro sangat jarang. Hal ini sangat
mengejutkan mengingat

leasing memiliki manfaat besar atas kredit. Manfaat yang

paling penting adalah bahwa pengusaha dapat memulai peralatan sebelum mereka benarbenar memilikinya. Artinya, selama periode pembayaran angsuran

leasing, pengusaha

telah dapat merealisasikan pendapatan ekstra melalui penggunaan peralatan tersebut.
Manfaat lain adalah bahwa leasing tidak menetapkan (atau sangat sedikit) persyaratan
agunan. Ini adalah fitur yang akan membuka pintu bagi banyak pengusaha sukses
yang potensial yang melihat aplikasi pinjaman mereka ditolak hanya karena tidak memiliki
agunan. Selain itu manfaat lainnya adalah risiko pengalihan dana – risiko yang paling nyata
bagi lembaga keuangan mikro – dapat dicegah dalam leasing, mengingat pendanaan yang
langsung diberikan untuk membeli peralatan tanpa pernah melalui tangan lessee.
Adalah benar bahwa skema leasing memerlukan sistem baru dan latihan khusus untuk
staf. Usaha ekstra ini yang diperlukan untuk

leasing dapat mengarahkan lembaga

keuangan pada pertanyaan – kadangkala sudah pada tempatnya – apakah mereka dapat
menawarkan leasing pada suatu basis yang sehat. Ketidak-pastian tentang basis legal untuk
leasing, seperti halnya seputar perpajakan, dapat juga mengecilkan hati lembaga
keuangan dari mengembangkan suatu produk leasing. Pedoman ini mencoba untuk
menyajikan kepada pembaca dengan gambaran yang lengkap tentang pro dan contra leasing
untuk usaha kecil dan mikro, mencakup risiko-risiko untuk lembaga keuangan itu.

1

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Leasing adalah segala kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan
barang-barang modal yang penggunaannya diserahkan pada suatu perusahaan, melalui
pembayaran secara berkala dalam jangka waktu tertentu. Lease(Sewa GunaTanah) adalah
Kontrak yang menetapkan syarat-syarat pengalihan hak pengalihan harta atau aktiva kepada
lease oleh pemiliknya, yaitu Lessor.
Dalam kegiatan leasing ada dua pihak yang terkait langsung :
1. Perusahaan yang kegiatannya melakukan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barangbarang modal untuk digunakan perusaahan lain. Jenis perusahaan demikian disebut
Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company). Selanjutnya bertindak sebagai pihak
yang menyewakan atau sebagai Lessor.
2. Perusahaan yang menerima hak untuk menggunakan barang-barang modal, bertindak
sebagai Penyewa Guna Usaha atau disebut Lesse .
B. KEUNGGULAN LEASING DARI SEGI EKONOMI
Ada dua keunggulan utama bagi Lesse untuk melease daripada membeli :
1. Tanpa ada uang muka. Sebagian terbesar pembelian harta yang dibiayai dengan
menuntut agar sebagian dari harga beli dibayar langsung oleh peminjam pada saat
transaksi dilakukan. Hal ini memberi perlindungan tambahan bagi kreditor apabila terjadi
kemancetan pembayaran dan pengembalian aktiva. Sebaliknya, kontrak Lease sering kali
dibuat sedemikian rupa sehingga 100% nilai aktiva dibiayai melalui Lease. Aspek ini
membuat leasing menjadi alternatif yang menarik bagi Perusahaan yang tidak memiliki
Kas yang cukup untuk membayar Uang Muka atau Perusahaan yang ingin menggunakan
modal yang tersedia untuk tujuan operasi serta investasi yang lain.
2

2. Menghindarkan resiko pemilikan. Ada banyak resiko dalam pemilikan harta. Resiko ini
meliputi kerugian karena bencana, keausan, kondisi perekonomian yang berubah, dan
kerusakan fisik. Lesse boleh menghentikan Lease, meskipun biasanya dikenakan denda
tertentu, dan dengan demikian menghindarkan penanggungan resiko dari kejadian ini.
Keluwesan ini sangat penting bagi perusahaan dimana inovasi dan perubahan Teknologi
membuat kegunaan peralatan atau fasilitas tertentu menjadi sangat tiadak pasti.
Lessor juga meraih manfaat dari Meleasing hartanya ketimbang menjualnya.
Keunggulan-keunggulan Lease bagi si Lessor meliputi yang berikut:
1. Meningkatkan Penjualan. Dengan menawarkan produknya melalui Leasing kepada
pelanggan potensial, pabrik atau penyalur dapat meningkatkan penjualannya dalam jumlah
besar. Seperti diatas para pelanggan mungkin tidak mau atau tidak mampu membeli harta
tersebut.
2. Keringanan Pajak. Banyak ketentuan pajak yang memberikan keringan bagi pemilik harta.
Contoh : Sebelum Tax Reform Act th 1986, Undang-undang pajak memberikan kredit
pajak investasi yang memperbolehkan pemilik harta mengkreditkannya ke hutang pajak
penghasilan entah pada periode berjalan ataupun pada periode mendatang dengan
ketentuan bahwa harta tersebut tetap dimilikinya, Jika seorang Lessor menjual aktiva
tersebut, maka keringanan pajak itu ikut bersama barangnya, tetapi perjanjian Lease
dapat menetapkan siapa yang akan memperoleh manfaat tersebut. Keluwesan ini
membuat kredit pajak menjadi unsur penting dalam negosiasi Lease.
3. Kelangsungan Hubungan Dengan Lease. Apabila harta dijaul, pembeli kerap kali tidak
mengadakan transaksi lagi dengan penjualnya. Akan tetapi dalam situasi Leasing, Lessor
dan Lesse tetap berhubungan selama periode tertentu, dan hubungan bisnis jangka panjang
kerap kali dapat dibina melalui Leasing.
4. Nilai Sisa Dipertahankan. Dalam banyak perjanjian Lease, Lessor beruntung dari kondisi
ekonomi yang membuat nilai residu yang besar pada akhir periode Lease. Lessor dapat MeLease aktiva itu kembali kepada Lease lain atau menjualnya dan memperoleh keuntungan

3

pada saat itu juga. Banyak Lessor telah menikmati laba yang besar dari kenaikan nilai residu
yang tidak diperkirakan.
C. SIFAT LEASE
Ketentuan kontrak Lease sangat berbeda-beda. Variable-variable nya meliputi
ketentuan dan denda akibat pembatalan, periode Lease, opsi pembaharuan atau pembelian
dengan harga murah, umur ekonomis, aktiva, nilai residu aktiva, pembayaran Lease
minimum, suku bunga yang tersirat dalam perjanjian Lease, seperti pemeliharaan, asuransi,
dan pajak. Fakta ini dan fakta lainnya yang relevan harus dipertimbangkan dalam
menentukan perlakuan akuntansi yang tepat atas Lease.
Masing-masing variable ini didefinisikan sebagai berikut:
1. Ketentuan Pembatalan. Sifat tidak dapat dibatalkan mengacu pada kontrak Lease
yang ketentuan serta sanksi pembatalannya sangat mahal bagi Lesse sehingga dalam
keadaan bagaimanapun tidak dilakukan pembatalan. Hanya Lease yang tidak dapat
dibatalkan yang dapat dikapitalisasi.
2. Periode Lease. Salah satu variable penting dalam perjanjian Lease adalah Periode
Lease-nya: yaitu, periode waktu mulai dari awal hingga ahir Lease, Tanggal
pemrakasaan Lease didefinisikan sebagai tanggal perjanjian Lease, atau tanggal
komitmen tertulis paling awal jika semua ketentuan pokok telah dinegosiasikan.
Permulaan Periode Lease terjadi pada saat perjanjian Lease mulai berlaku, yaitu apabila
harta yang dilease telah diserahkan kepada Lease.
3. Akhir Jangka Lease Adalah akhir periode yang ditetapkan dimana pembatalan tidak
boleh dilakukan ditambah semua periode, jika ada, yang diliput opsi pembaharuan
dengan harga murah ,atau ketentuan lain bahwa, pada tanggal terjadinya lease sudah
ada indikasi kuat bahwa lease itu diperbarui. Jika opsi pembelian dengan harga murah
dimasukkan dalam kontrak lease, sebagaimana didefinisikan dalam subbab berikut, maka
periode lease meliputi semua periode pembaharuan sebelum tanggal opsi pembelian
dengan harga murah tiba. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa periode lease tidak
akan pernah melampui tanggal opsi pembelian dengan harga murah
4

4. Opsi Pembelian Dengan Harga Murah. Lease kerap kali mengandung ketentuan yang
memberi hak kepada lesse untuk membeli harta yang dilease pada suatu hari dimasa
depan. Harga beli yang pasti harga opsi yang ditetapkan, meskipun dalam beberapa kasus
harga tersebut dinyatakan sebagai nilai pasar wajar pada tanggal ,opsi dimanfaatkan. Jika
harga opsi telah ditetapkan ini diperkirakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga
atau nilai pasar wajar pada tanggal pemanfaatan opsi pembelian, maka dalam hal ini
sudah tersirat opsi pembelian dengan harga muarah
5. Nilai Sisa Atau Residu. adalah Nilai pasar harta yang dilease pada ahir periode lease.
Dalam beberapa lease, periode lease melampi umur ekonomi aktiva, atau periode
dimana aktiva tersebut tetap produktif, dan kadang-kadang masih ada nilai sisa . Dalam
lease lainnya, periode lease lebih singkat, dan nilai residu tidak ada. Jika lease dapat
membeli aktiva itu pada ahir periode lease dengan harga murah sudah ada, dan dapat
diandaikan bahwa lesse akan melaksanakan opsi ini dan dapat membeli aktiva tersebut.
Beberapa kontrak lease mewajibkan lesse, atau pihak ketiga yang ditunjuk, untuk
menjamin nilai residu aktiva. Jika nilai pasar wajar pada ahir periode lease turun dibawah
nilai residu yang dijamin, maka lesse atau pihak ketiga harus membayar selisih tersebut.
Ketentuan ini melindungi lessor dari kerugian akibat penurunan yang tidak diperkirakan
dalam nilai pasar aktiva.
6. Pembayaran Lease Minimum. Pembayaran sewa yang diminta selama periode lease
ditambah dengan jumlah yang harus dibayar untuk nilai residu, entah melalui opsi
pembelian dengan harga murah atau penjaminan nilai sisa, disebut sebagai Pembayaran
Lease Minimum. Jika semua pembayaran ini dilakukan dengan lease saja, maka
pembayaran lease minimum akan sama bagi lesse dan lessor. Akan tetapi, jika pihak
ketiga menjamin nilai residu, maka si lesse tidak boleh memasukkan jaminan ini sebagai
bagian dari pembaayaran lease minimum, tetapi lessor akan memasukkannya.
Pembayaran sewa kadang-kadang mencakup beban untuk hal-hal seperti assuransi,
pemeliharaan, dan pajak yang timbu atas harta yang dilease. Perngeluaran ini disebut
Biaya Eksekutori.(Executory Cost). Dan tidak dimasukkan beban untuk penyisihan dari
5

pembayaran lease minimum. Jika lessor memasukkan beban untuk penyisihan labanya
didalam biaya ini, maka laba tersebut juga harus dianggap sebagai biaya eksekutori.
Contoh : Olaf Leasing Co melease peralatan pembangunan jalan raya selama tiga tahun
dengan pembayaran $3.000 per bulan. Di dalam pembayaran sewa ini termasuk biaya
eksekutori $500 per bulan untuk menutup asuransi dan pemeliharaan peralatan tersebut.
Pada akhir tahun ketiga, nilai residu bagi Olaf dijamin oleh lesse sebesar $10.000.
PembayaranLease minimum :
Pembayaran sewa tanpa biaya eksekutori ($2.500 X 36) $ 90.000
Nilai Residu yang dijamin $ 10.000
Total pembayaran lease minimum $ 100.000
Karena pembayaran lease minimum baru akan dilakukan pada periode mendatang, maka nilai
sekarang dari pembayaran ini perlu dibukukan sebagai lease yang dikapitalisai. Dua suku
bunga yang berbeda harus dipertimbangkan dalam menghitung nilai sekarang
pembayaran lease minimum ini, yaitu : sukumbunga pinjaman incremental dari lease dan
suku bunga implicit dari lessor.
Suku Bunga Pinjaman Inkremental (Incremental Borrowing Rate) adalah Suku bunga yang
akan ditanggung lease jika ia meminjam sejumlah uang yang diperlukan untuk membeli
aktiva yang dilease, dan didalamnya diperhitungkan keaaddaan keuangan lesse dan
kondisi yang berlaku dipasar.
Suku Bunga Implisit (Implicit Interest Rate) adalah Suku bunga yang akan digunakan untuk
mendiskontokan pembayaran lease minimum ke nilai pasar wajar aktiva pada saat lease
terjadi.
Lessor menggunakan menggunakan suku bunga implisit dalam menentukan nilai sekarang
pembayaran lease minimum. Akan tetapi, lesse menggunakan suku bunga implisit atau

6

suku bunga pinjaman inkremental, mana yang lebih rendah. Jika lesse tidak mengetahui
suku bumga implisit tersebut, dia harus menggunakn suku bunga pinjaman incremental.
Contoh : Olaf Leasing Co. misalkan bahwa pembayaran sewa $3.000 kepada Olaf
Dilakukan pada awal setiap bulan, suku bunga implisit dalam kontrak lease adalah 12%
per tahun, dan suku bunga pinjaman inkremental bagi lesse adalah 14%. Dengan
memisalkan bahwa lesse mengetahui suku bunga implicit tersebut, maka baik lessor
maupun lesse akan mendiskontokan atau menghitung nilai sekarang pembayaran lease
minimum itu dengan menggunakan suku bunga 12%. Nilai sekarang dari pembayaran
lease minimum sebesar $100.000 akan menjadi :
Nilai sekarang dari 36 pembayaran sebesar $2.500
($3.000 dikurangi biaya eksekutori $500) $ 76.022
Nilai sekarang dari nilai residu yang dijamin sebesar $ 10.000
Pada akhir 3 tahun $ 7.118
Nilai sekarang pembayaran lease minimum .$ 83.140
Nilai sekarang sebesar $ 83.140 adalah harga jual atau nilai pasar wajar aktiva pada saat
lease terjadi.
D. KRITERIA PENGGOLONGAN LEASE
Keempat kriteria berikut berlaku baik bagi Lesse maupun Lessor. Jika lease memenuhi
salah satu kriteria, maka lease tersebut digolongkan sebagai lease modal oleh Lesse dan
Lessor, dengan mengasumsikan bahwa kedua kriteri lain bagi lessor terpenuhi.
Kriteria yang berlaku baik bagi lesse maupun lessor
1. Lease tersebut mengalihkan pemilikan harta kepada lesse pada akhir periode lease.
2. Lease tersebut memuat opsi pembelian dengan harga murah.
3. Jangka Lease sama dengan atau lebih dari 75% taksiran umur ekonomis harta yang lease.
4. Nilai sekarang pembayaran Lease mnimum, tidak termasuk bagian yang merupakan
biaya eksekutori, sama dengan atau lebih besar daripada 90% nilai pasar wajar harta.
7

Kriteria tambahan yangh berlaku bagi lessor :
1. Ketertagihan(collectibility)pembayaran lease minimum cukup dapat diramalkan.
2. Biaya yang masih akan dikeluarkan oleh lessor telah diketahui. Pengujian ini harus
dilakukan pada tanggal pemrakasaan lease.
E. AKUNTANSI LEASING
Ada dua pihak yang terkait langsung dalam transaksi leasing yaitu, pihak penyewa guna
usaha (lesse) dan perusahaan sewa guna usaha (lessor). Oleh karena itu berikut dibahas
mengenai akuntansi leasing pada pihak penyewa dan pada pihak perusahaan Sewa Guna
Usaha.
1. Pencatatan Transaksi Leasing Pada Penyewa (lesse)
a. Operating Lease
Dalam hal sewa guna usaha diperlakukan sebagai operating lease, trasansi
leasing oleh pihak penyewadicatat sebagai transaksi sewa-menyewa biasa. Dengan
demikian pembayaran sewa berkala dicatat debet akun Beban Sewa, dan kredit akun
Kas. Apabila dalam perjanjian sewa guna usaha ditetapkan pembayaran berkala
dalam jumlah yang berbeda, beban sewa untuk setiap periode dihitung dengan
menggunakan metode Garis Lurus (Straight Line Method).
Contoh : PT. SAMUDRA menyewa peralatan pabrik dari PT. SAKURA untuk masa sewa 5
tahun dengan syarat sebagai berikut :
1. Sewa dibayar dimuka tiap tgl 2 Januari. Untuk tahun pertama jatuh pada tanggal 2
Januari 2001.
2. Jumlah sewa tahun pertama dan kedua masing-masing sebesar Rp. 30.000.000,00.
Sementara untuk tahun ketiga , keempat dan kelima masing-masing Rp.
20.000.000,00.
Dari data contoh diatas, jumlah sewa untuk masa 5 tahun adalah 2 X Rp. 30.000.000,00 +
3 X Rp.20.000.000,00. Dengan menggunakan metode garis lurus, jumlah sewa tiap tahun
adalah Rp.120.000.000,00.: 5 = Rp 24.000.000,00
8

Pembayaran sewa untuk tahun 2001 sebesar Rp. 30.000.000,00. dicatat dengan
jurnal sebagai berikut.
Jan. 2 Beban Sewa Rp. 24.000.000,00 Sewa Dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 Kas - Rp. 30.000.00,00

Pembayaran sewa untuk tahun 2002 sebesar Rp. 30.000.000,00. dicatat dengan jurnal
sebagai berikut.
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 Sewa dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 Kas - Rp. 30.000.000,00
Pembayaran sewa untuk tahun 2003 (tahun ketiga) sebesar Rp. 20.000.000,00.
dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 Sewa dibayar Dimuka - Rp. 4.000.000,00
Kas - Rp. 20.000.000,00
Demikian pula untuk pembayaran sewa tahun keempat dan kelima, dicatat dengan jurnal seperti
ada pembayaran sewa tahun ketiga diatas, sehingga akun Sewa Dibayar Dimuka selama masa
sewa guna usaha(secara keseluruhan) akan tampak seperti dibawah ini

9

Sewa Dibayar Dimuka
Jan. 2, 2001 Rp. 6.000.000,00 Jan. 2, 2003 Rp. 4.000.000,00
Jan. 2, 2002 Rp. 6.000.000,00 Jan. 2, 2004 Rp. 4.000.000,00
Jan. 2, 2005 Rp. 4.000.000,00
Pada akhir masa guna, akun Sewa Dibayar Dimuka tidak mempunyai saldo. Ada kalanya
sewa pada tahun-tahun pertama lebih kecil daripada sewa tahun-tahun terahir. Misalnya : dari
data contoh dimuka, sewa pada tahun pertama, kedua dan ketiga masing-masing sebesar
Rp.20.000.000,00. Sementara sewa untuk tahun keempat dan kalimat masing-masing
Rp.30.000.000,00. Dalam hak demikian, pembayaran sewa untuk pertama, kedua dan ketiga,
masing-masing dicatat dalam jurnal berikut :
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 Hutang Sewa - Rp. 4.000.000,00
Kas - Rp. 20.000.000,00
Pembayaran sewa untuk tahun keempat dan kelima, masing-masing dicatat dengan jurnal sebagai
berikut :
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 Hutang Sewa Rp. 6.000.000,00 Kas - Rp. 30.000.000,00
Dalam hal jatuh tempo pembayaran sewa pada saat periode akuntansi sedang berjalan, misalnya
dari data pada contoh dimuka, pembayaran sewa untuk tahun 2001 jatuh pada tgl 1 April 2001.
Dalam hal demikian pada ahir periode harus dibuat penyesuaian. Jurnal penyesiaian yang dibuat
31 Desember 2001, sebagai berikut :
10

Des.31 Sewa Dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 Beban Sewa - Rp. 6.000.000,00
(mencatat sewa bulan Januari, Februari dan Maret 2002 yang telah dibayar tahun 2001)
Sehubungan dengan Pos jurnal penyesuaian di atas, pada awal periode tahun
2002, dibuat jurnal pembalik sebagai berikut :
Jan. 2 Beban Sewa Rp. 6.000.000,00 Sewa Dibayar Dimuka - Rp. 6.000.000,00
b. Lease Modal (Capital Lease)
Apabila suatu sewa guna usaha memenuhi criteria untuk di perlakukan sebagai capital
lease, transaksi leasing dicatat oleh pihak penyewa sebagai suatu transaksi pembelian
aktiva tetap dengan syarat kredit jangka panjang. Dengan demikian dicatat debet pada akun
Aktiva Sewa Guna Usha dan kredit akun hutang.
Aktiva sewa guna asaha dinilai berdasarkan harga terendah antara harga pasar wajar,
dengan jumlah sewa terendah yang dibayar selama masa sewa guna usaha, ditambah
dengan harga beli atau nilai residu aktiva yang bersangkutan pada ahir masa sewa yang
telah disepakati bersama.
Aktiva sewa guna uasaha olek pihak penyewa harus disusutkan dengan menerapkan
metode penyusutan yang biasa digunakan. Apabila kontrak sewa guna usaha
mencantumkan adanya pengalihan hak milik, atau adanya hak bagi penyewa untuk
membeli aktiva sewa guna usahaa dan ahir masa sewa, maka usia ekonomis aktiva yang
bersangkutan dijadikan dasar untuk menentukan besarnya penyusutan. Sementara jika
dalam kontrak sewa guna usaha tidak menyebutkabn dua kriteria tersebut diatas, untuk
menentukan jumlah penyusutan digunakan masa sewa guna usaha sebagai usia penggunaan
aktiva tetap yang bersangkutan.
Didalam jumlah sewa yang dibayar secara berkala, mengandung unsur harga aktiva
sewa guna usaha dan beban bunga. Oleh karena itu setiap pembayaran sewa, dipisahkan

11

menjadi jumlah pembayaran hutang yang merupakan sewa terendah, dan jumlah
pembayaran beban bunga.
Sebagai ilustrasi pencatatan sewa guna usaha yang diperlakukan sebagai capitral lease
pada pihak penyewa, misalkan PT. GIONI menyewa peralatan dari PT> JAYA SARANA.
Ketentuan sewa guna usaha, sebagai berikut :
1. Masa sewa guna usaha selama 5 tahun, dengan syarat tidak dapat dibatalkan.
2. Sewa tiap tahun Rp. 20.000.000,00. dibayar dimuka tiap tgl 1 Januari. Sewa tahun
pertama jatuh pada tgl 1 januari 2000.
3. Biaya pelaksanaan selam masa sewa (executory Cost) dibayar oleh penyewa.
4. Tidak mada ketentuan yang menyebutkan adanya pengalihan hak milik dan hak bagi
penyewa untuk membeli pada ahir masa sewa.
Data lain sehubungan dengan transaksi leasing di atas adalah sebagai berikut :
1. Harga pasar wajar peralatan yang disewa sebesar Rp. 82.000.000,00
2. Usia ekonomis peralatan yang bersangkutan selama 5 tahun.
3. PT. JAYA SARANA memperhitungkan bunga 122% setahun.
4. PT. GIONI menyusutkan aktiva tetap dengan metode Garis Lurus.
Untuk menentukan nilai sewa guna usaha harus dihitung dulu nilai tunai untuk
tingkat bunga 12%, masa sewa 5 tahun dengan pembayaran dimuka yaitu 4,03733.
Dengan deimkian nilai tunai sewa terendah dari data contoh diatas adalah 4,03733 X Rp.
20.000.000,00 = Rp.80.746.600,00. Jumlah tersebut lebih besar dbanding 90% X Rp.
82.000.000,00 (harga pasar wajar aktiva yang bersangkutan)
Hasil perhitungan diatas dijadikan dasar untuk memberlakukan sewa guna usaha pada
contoh diatas sebagai capital lease. Dengan nilai Rp. 80.746.600,00. Jumlah ini dicatat
debet pada akun Peralatan Sewa dari Lease Modal. Selanjutnya setiap akhir periode
disusutkan (didepresiasi) dengan metode garis lurus.

12

2. Pencatatan Transaksi Leasing Pada Perusahaan Sewa Guna Usaha
a. Operating Lease
Suatu sewa guna usaha tidak memenuhi kriteria untuk diperlakukan sebagai Sewa Guna
Usaha Pembelanjaan ( Finance Lease ), Transaksi leasing oleh perusahaan sewa guna
usaha (Lessor) dicatat sebagai transaksi sewa-menyewa biasa (Operating Lease). Oleh
karena itu dicatat sebagai harta dan di informasikan dalam Neraca Sebagai aktriva yng
disewa guna ushakan
Contoh : 1 Januari 2000 PT. ZODIAC menyewakan sebuah gedung untuk masa 10 Th.
Pembayaran sewa tiap 1 Januari, dengan ketentuan 5 Th pertama masing-masing Rp.
24.000.000,00 dan 5 Th terahir masing-masing Rp. 20.000.000,00. Sewa dibayar di
muka dan dimulai 1 Januari 2000, Biaya komisi, biaya layanan hukum dan biaya
langsung lainnya sebesar Rp. 10.000.000,00, dibayar oleh PT> ZODIAC. Harga
perolehan gedung Rp. 360.000.000,00. usia ekonomis 25 Th tanpa niali residu. Gedung
yang bersangkutan disusutkan dengan metode Garis Lurus. Sementara biaya langsung
pertama amortisasi selama 10 th..
Masa sewa yang dari 75% dari taksiran usia ekonomis aktiva sewa guna usaha,
sewa guna diatas tidak memenuhi kriteria untuk diperlakukan sebagai Finance Leasing
diatas, sebagai berikut :
1. Mencatat biaya langsung pertama untuk gedung yang disewa gunakan :
Jan 1

Biaya Langsung Pertama Yang ditangguhkan Rp. 10.000.000,00 -

2000

Kas - Rp 10.000.000,00

2. Mencatat penerimaan sewa untuk tahun pertama (2000)
Jan 1
2000

Kas Rp 24.000.000,00 Sewa diterima dimuka - Rp 2.000.000,00
13

Pendapatan Sewa - Rp.22.000.000,00
Pendapatan sewa dicatat menurut metode garis lurus, sehingga pendapatan sewa tiap
bulan dihitung sebagai berikut :
(5 X Rp. 24.000.000,00) + (5 X RP. 20.000.000,00) = Rp. 22.000.000,00
Kelebihan yang diterima dari jumlah diatas, yaitu sebesar Rp. 2.000.000,00. Dicatat
kredit pada akun sewa Diterima dimuka.
3. Mencatat beban penyusutan gedung yang disewa guna usahakan dan amotisasi Biaya
Langsung Pertama
Des 31
2000

Beban penyusutan Gedung Disewakan Rp 14.400.000,00 Akum Penyusutan Gedung yang disewakan - Rp 14.400.000,00

(Penyusutan Gedung Rp.360.000.000,00 : 25)
Des 31
2000

Beban Amortisasi Biaya Langsung Pertama Rp 1.000.000,00 Biaya Langsung Pertama yang ditangguhkan - Rp 1.000.000,00

(Amortisasi Biaya Langsung Pertama Rp 10.000.000,00 : 10)
Jurnal yang terahir diatas akan dibuat pada setiap ahir tahun sampai dengan ahir
tahun kesepuluh, sehingga pada ahir masa sewa akun Biaya Langsung Pertama yang
Ditangguhkan tidak mempunyai saldo.
4. Mencatat penerimaan sewa untuk tahun keenam sampai dengan tahun kesepuluh
Penerimaan sewa untuk tahun keenam sampai dengan tahun kesepuluh, masing-masing
dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan. 1 Kas Rp 20.000.000,00 -

14

Sewa Diterima Dimuka Rp. 2.000.000,00 Pendapatan sewa - Rp 22.000.000,00
Dengan pos jurnal diatas, pada ahir masa sewa akun Sewa Diterima Dimuka akan
menunujukan saldo nol (tidak bersaldo)
b. Sewa Guna Usaha Pembiayayan Langsung ( Direct Financing Lease)
Sewa Guna Usaha Pembiayaan Langsung Adalah apabila perusahaan sewa guna
uasaha (Lessor) menyediakan atau membeli lebih dahulu aktiva sewa guna usaha yang
dipesan oleh penyewa (Lesse).
Sewa guna usaha yang diperlukan sebagai Sewa Guna Usaha Pembiayaan
Langsung, dalam neraca pihak lessor diinformasikan sebagai Piutang Pembayaran
Lease, sebesar jumlah pembayaran sewa terendah ditambah nilai residu tidak terjamin.
Nilai residu tidak terjamin adalah nilai sisa aktiva yang disewakan pada ahir masa
sewa, dengan tidak ada persetujuan yang menimbulkan hak bagi penyewa untuk
membeli nilai sisa aktiva yang bersangkutan.
☻Jumlah pembayaraan sewa terendah ditambah nilai residu tidak terjamin yang
dicatat sebagai Piutang Pembayran Lease, Merupakan investasi bruto.
☻Selisih antara investasi bruto dengan niali buku (harga perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan) aktiva yang disewakan, dicatat sebagai Pendapatan Bunga
yang Ditangguhkan yang selanjutnya diamortisasi selama masa sewa menurut
metode bunga efektif.
Contoh : PT. BIMA PERKASA pada 25 Des 2000 membeli peralatan pabrik untuk disewa
guna usahakan kepada PT PANDAWA, Harga perolehan termasuk biaya langsung
pertama berjumlah Rp. 40.373.000,00. Usia ekonomis ditaksir 5 tahun, tanpa nilai
residu. Ketentuan sewa usaha antara lain sebagai berikut :
1.Masa sewa selama 5 tahun, dengan syarat tidak dapat dibatalkan.
15

2.Sewa dibayar tiap tgl 31 Des, masing-masing sebesar Rp.10.000.000,00 dimulai tgl 31
Des 2000
3.Biaya pelaksanaan seperti biaya asuransi, pajak dan pemeliharaan ditanggung oleh
pihak penyewa.
Informasi lain sehubungan dengan sewa guna asaha diats sebagai berikut :
a.Tidak ada ketentuan mengenai perpanjangan masa sewa
b.Harga perolehan aktiva sewa guna asaha sama dengan harga pasar wajar.
c.PT BIMA PERKASA memperhitungkan bunga implicit sebesar.
3. Penyajian Lease Pembiayaan Langsung Dalam Neraca
☻Lease pembiayaan langsung dalam buku besar dicatat sebagai Piutang Pembayaran
Lease.
☻Sementara bunga efektif yang terkandung didalam sewa terendah dicatat kredit pada akun
Pendapatan Bunga yang Ditangguhkan
☻Selisih antara saldo akun Piutang Pembayaran Lease (Investasi Bruto) dan saldo akun
Pendapatan Bunga yang Ditangguhkan adalah sebagai investasi saldo
Dengan demikian nilai lease pembiayaan langsung dalam neraca adalah sebesar
investasi neto
Investasi neto dari lease pembiayaan langsung yang jatuh tempo tidak lebih dari satu
tahun sejak tanggal neraca, harus diinformasikan sebagai aktiva lancar,. Sementara
investasi neto yang jatuh tempo lebih dari satu tahun sejak tgl neraca , harus
diinformasikan sebagai investasi jangka panjang.
Contoh : Setelah sewa untuk tahun 2001 diterma pada tgl 31 Des 2000, dalam buku besar
akan menunjukan data sebagai berikut :
16

Saldo akun Piutang Pembayaran Lease Rp 40.000.000,00
Saldo akun Pendapatan Bunga yang Ditangguhkan Rp 9.627.000,00
Dengan demikian Investasi neto pada 31 Des 2000 Rp. 30.373.000,00
Dari jumlah diatas, akan diterima (jatuh tempo) pada tgl 31 Des 2001 sebesar Rp.
6.355.240,00. Jumlah tersebut dalam neraca 31 Des 2000 diinformasikan dalam
kelompok aktiva lancar. Selebihnya sebesar Rp. 24.017.760,00 (lihat table),
diinformasiukan dalam kelompok Investasi Jangka Panjang.
Dari uraian diatas, investasi neto dalam sewa guna usaha disajikan dalam neraca 31
Des 2000 sebagai berikut :
PT. BIMA PERKASA
NERACA
31 DESEMBER 2000
AKTIVA
Aktiva Lancar :
Investasi Neto Dalam
Lease Rp. 6.355.240,00
Investasi Jangka Panjang
Investasi Neto Dalam
Lease Rp.24.017.760,00

17

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam menjalankan operasinya perusahaan membutuhkan aktiva tetap dan untuk
memperolehnya perusahaan dapat menggunakan cara yang berbeda-beda. Salah satu
yang paling mudah adalah dengan cara membelinya. Memperoleh aktiva tetap dengan
cara pembelian menimbulkan berbagai keuntungan dan kerugian bagi pernsahaan dan
memerlukan berbagai pertimbangan. Perusahaan perlu memikirkan apakah dana yang ada
mencukupi atau diperlukan suatu pinjaman, dan resiko lain seperti ketinggalan zaman
sehingga tidak ekonomis lagi bila dipakai ataupun ada resiko kegagalan memakai serta
kemungkinan biaya pemeliharaan yang terlalu tinggi. Cara lain dalam memperoleh aktiva
yang dapat diterapkan adalah dengan cara leasing.

18

DAFTAR PUSTAKA
http://akuntansi86.blogspot.com/2008/06/makalah-akuntansi-leasing.html
Jendriksen, Eldon S, Teori Akuntasni Jilid I, Edisi Keempat, Terjemahan Gunawan
Hutauruk Erlangga, Jakarta, 1987, hal. 301
Kosasih, Ruchyat, Untaian Standar Akuntansi Keuangan, Ananda, Yogyakarta, 1982.
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta, 1994.

Judul: Akuntansi Leasing

Oleh: Yuliana Fm


Ikuti kami