Akuntansi Kliring

Oleh Erni Jayani

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Kliring

LAPORAN HASIL MINI RISET
(AKUNTANSI KLIRING PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA
KANTOR CABANG MEDAN)

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I
ALI GUSTI SIREGAR
ERNI JAYANI
MAISYARAH PRILLIANINGRUM
MELY SYAFITRI GEA
NURUL HIDAYAH
SRI RAMADHANI
SURYANI PUTRI DEWI

( 7141220004)
( 7142220006)
( 7142220022)
( 7141220020)
( 7141220026)
( 7141220030)
( 7142220018)

AKUNTANSI B 2014

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kita sehingga kami berhasil menyelesaikan laporan hasil mini riset ini
yang berjudul “AKUNTANSI KLIRING”.
Laporan ini berisikan tentang informasi tentang Akuntansi Kliring. Diharapkan
Laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Akuntansi Kliring.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Akuntansi
Perbankan serta pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan dan dukungan kepada kami
dalam menyelesaikan laporan ini.
Dalam Penulisan laporan kami ini masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik
dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan ini.

Medan, Mei 2017

Tim penulis

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................3
C. Tujuan Mini Riset...........................................................................................................4
D. Manfaat Mini Riset.........................................................................................................4
BAB II KAJIAN TEORI............................................................................................................6
A. Pengertian Kliring Bank..................................................................................................6
B. Jenis-jenis Kliring...........................................................................................................7
C. Proses Kliring..................................................................................................................7
D. Syarat-syarat Kliring.......................................................................................................8
E. Mekanisme kliring..........................................................................................................9
F.

Transaksi kliring............................................................................................................11

G. Peran Bank Indonesia Dalam Kliring...........................................................................13
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................................15
A. Lokasi Penelitian...........................................................................................................15
B. Sumber Data..................................................................................................................15
C. Teknik Pengumpulan Data............................................................................................15
D. Fasilitas Dan Jadwal Kliring.........................................................................................16
E. Dokumen Kliring..........................................................................................................16
F.

Syarat-Syarat Kliring....................................................................................................16

G. Mekanisme Kliring........................................................................................................17
H. Tolakan Kliring.............................................................................................................20
I.

Biaya Kliring.................................................................................................................21

J.

Manfaat Kliring.............................................................................................................22
ii

K. Kendala Kliring.............................................................................................................22
BAB IV PENUTUP.................................................................................................................24
A. Kesimpulan...................................................................................................................24
B. Saran..............................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................28

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bank merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang perekonomian yakni
sebagai penyedia jasa keuangan. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam
bentuk kredit dan bentuk bentuk jasa lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak. Hal ini sesuai dengan UU No. 7 tahun 1992 Bab I pasal 1 yang diperbaharui dalam
UU No. 10 tahun 1998. Dengan demikian bank sangat berpengaruh terhadap kehidupan
stabilitas perekonomian negara. Karena bank menjadi salah satu sumber potensi penggerak
laju perekonomian baik dalam negeri maupun global. Sehingga bank bersifat vital sebagai
penentu kemajuan maupun kemunduran laju keuangan ditingkat perekonomian negara.
Bank sebagai lembaga perantara keuangan antara masyarakat yang kelebihan dana
dengan masyarakat yang kekurangan dana. Bank melaksanakan berbagai aktivitas
operasional yang berupa transaksi – transaksi keuangan dengan menghimpun dana (uang)
dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kembali dana kepada masyarakat.
Hal ini dimaksudkan bahwa bank sebagai tempat menyimpan atau berinvestasi serta
memberikan berbagai layanan dan jasa transaksi keuangan dalam memperlancar lalu lintas
dan aktivitas system pembayaran guna mencapai tujuan utama bank untuk memperoleh
keuntungan finansial yang didapat dari spreed based dan fee based selain tujuan untuk
memberikan kepuasan layanan terhadap nasabah. Spreed based adalah keuntungan komersial
yang diterima dari adanya bunga terhadap produk pinjaman bank. Sedangkan fee based
merupakan keuntungan yang diperoleh dari biaya – biaya yang ditetapkan dalam bentuk
nominal atau prosentase tertentu. Dalam system pembayaran tidak dapat dipisahkan dari
adanya lalu lintas pembayaran baik pembayaran tunai maupun pembayaran elektronis yang
bersifat nontunai. Karena keduanya saling berkaitan dan bersifat saling menunjang. Dengan
adanya system pembayaran yang baik dan tertstruktur akan menunjang kelancaran dan
keberhasilan dalam lalu lintas pembayaran (LLP). Hal ini secara langsung juga akan
memberikan dampak positif pada kemajuan dan perkembangan system keuangan pada
perbankan. Begitu juga sebaliknya, kegagalan system pembayaran akan mengakibatkan
resiko internal dan resiko eksternal yang berupa adanya ketidakstabilan perekonomian negeri.
Oleh karena itu, diperlukan adanya penentuan dan pelaksanaan system pembayaran yang

1

aman dan lancar agar dapat memberikan berbagai kemudahan dalam memperlancar arus lalu
lintas pembayaran ( LLP ).
Lalu lintas pembayaran (LLP) adalah proses penyelesaian pembayaran transaksi
komersial atau financial dari pembayar kepada penerimanya. Sedangkan lalu lintas
pembayaran giral dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan pembayaran dengan warkat
atau nota kliring yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan antar bank, baik atas
beban maupun untuk keuntungan nasabah. Dalam Lalu lintas pembayaran, suatu pembayaran
dapat dilakukan secara langsung ( tradisional ) maupun secara tidak langsung ( modern ).
Pembayaran langsung adalah pembayaran yang dilakukan pada umumnya yakni dengan
menggunakan uang kartal. Sedangkan pembayaran tidak langsung (modern) dilaksanakan
dengan menggunakan alat pembayaran yang berupa uang giral yang berbasis pada warkat
(cek, bilyet giro). Pelaksanaan pembayaran tidak langsung (modern) pada hakekatnya
dilakukan oleh bank melalui jasa – jasa transaksi pembayaran yang disediakan pihak bank.
Dengan memanfaatkan jasa pembayaran yang disediakan oleh bank, maka pembayaran akan
lebih efektif dan efisien karena akan lebih menghemat tenaga dan biaya dengan hasil yang
optimal. Hal ini tentu saja dapat menyelesaikan pembayaran secara lebih mudah, praktis,
ekonomis dan aman. Jasa pembayaran oleh bank tersebut direalisasikan dengan adanya jasa
kliring.
Kliring adalah merupakan jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara
saling menyerahkan warkat – warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Penyelesaian
hutang piutang yang dimaksud adalah penagihan cek atau bilyet giro melalui bank dengan
menggunakan warkat (surat perintah pembayaran/penagihan). Dalam penyelenggaraan
kliring, bank sebagai perantara pelaksana kliring melaksanakan perhitungan dan pembuatan
bilyet saldo kliring yang didasarkan pada data keuangan elektronik disertai dengan
penyampaian warkat dari peserta kepada penyelenggara untuk diteruskan kepada peserta
penerima. Tujuan utama dari pelaksanaankliring ( clearing ) adalah :
1. Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral antar bank.
2. Agar perhitungan penyelesaian hutang pihutang dapat dilaksanakan lebih mudah,
aman dan efisien.
3. Sebagai salah satu pelayanan bank kepada nasabahnya, terutama dalam hal
keamanandan biaya yang dikeluarkan.
Dengan timbulnya aktivitas kliring, akan mempermudah penarikan nasabah dan
penyelesaian inkaso atau transfer bagi bank peserta kliring. Karena dengan kliring waktu
penagihan menjadi lebih cepat terutama untuk warkat dalam jumlah yang banyak. Secara
2

umum, kliring melibatkan lembaga keuangan yang memiliki permodalan yang kuat yang
dikenal

dengan

sebutan

Mitra

Pengembang

Sentral

(MPS)

atau

disebut

juga

centralcounterparty. MPS menjadi pihak dalam setiap transaksi yang terjadi baik sebagai
penjual maupun sebagai pembeli. Kliring dilaksanakan dan di koordinasi oleh lembaga
kliring yang berupa bank sentral atau yang lebih dikenal dengan Bank Indonesia. Tujuan dari
diadakannya lembaga kliring adalah agar dapat mengatur dan mengawasi pelaksanaan kliring
antar bank.
Dengan melibatkan bank lain sebagai peserta kliring langsung aktif (PLA) maupun
peserta kliring langsung pasif (PLP). Lembaga kliring menjadi tempat berkumpulnya semua
anggota clearingman dan clearinggirl dari bank anggotanya untuk melakukan perhitungan,
pelunasan, dan pertukaran warkat – warkat kliring. Adapun salah satu bank yang menjadi
anggota kliring adalah PT. Bank Tabungan Negara ( Persero ) Kantor Cabang Medan. PT.
BankTabungan Negara ( Persero ) Kantor Cabang Medan sebagai bank umum menjadi
pesertakliring langsung aktif yang setiap hari memberikan layanan kliring kepada nasabah
yangmembutuhkan layanan kliring tersebut untuk melakukan pembayaran maupun penagihan
kepada nasabah bank lain dengan pembayaran yang dinyatakan dalam bentuk rupiah. Selain
itu, Bank Tabungan Negara ( Persero ) Kantor Cabang Medan juga berperan dalam mengikuti
aktivitas dan kegiatan kliring yang meliputi kliring penyerahan dan kliring pengembalian di
bawah lembaga kliring yakni Bank Indonesia. Jasa pembayaran tersebutdilaksanakan sesuai
dengan prosedur dan mekanisme yang ada berdasarkan system dan peraturan yang ditetapkan
oleh lembaga kliring agar pelaksanaannya lebih aman dan tertib. Pelaksanaan kliring yang
aman dan tertib dapat diimplikasikan dengan penyesuaian jadwal kliring di PT. Bank
Tabungan Negara ( Persero ) yang diselenggarakan setiap hari kerja yakni pukul 07.30 –
10.00 wib untuk kliring penyerahan dan pukul 11.30–14.00 untuk kliring pengembalian.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat disimpulkan rumusan masalah dalam
kasus ini, yaitu sebagai berikut :
1. Apa persyaratan nasabah untuk melakukan kliring di Bank BTN?
2. Bagaimana mekanisme kliring di Bank BTN?
3. Apakah ada batasan jumlah maksimal ssetiap harinya nasabah yang melakukan
kliring?

3

4. Apabila dana nasabah tidak mencukupi untuk melakukan kliring, tindakan apa yang
dilakukan pihak BTN?
5. Apabila kliring yang dilakukan oleh pihak BTN mencakup secara keseluruhan seperti
kliring lokal, antar cabang atau regional atau hanya salah satunya saja?
6. Apa ada kendala dalam melakukan proses kliring yang dilakukan oleh pihak BTN?
7. Manfaat kliring bagi Bank BTN itu sendiri?

C. Tujuan Mini Riset
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai pada Tugas Akhir ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana persyaratan nasabah untuk melakukan kliring di Bank
BTN.
2. Untuk mengetahui mekanisme kliring di Bank BTN.
3. Untuk mengetahui batasan jumlah maksimal ssetiap harinya nasabah yang melakukan
kliring.
4. Untuk mengetahui apabila dana nasabah tidak mencukupi untuk melakukan kliring,
tindakan apa yang dilakukan pihak BTN.
5. Untuk mengetahui Apabila kliring yang dilakukan oleh pihak BTN mencakup secara
keseluruhan seperti kliring lokal, antar cabang atau regional atau hanya salah satunya
saja.
6. Untuk mengetahui kendala dalam melakukan proses kliring yang dilakukan oleh
pihak BTN.
7. Untuk mengetahui manfaat kliring bagi Bank BTN itu sendiri?

D. Manfaat Mini Riset
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, terdapat berbagai manfaat bagi banyak pihak
baik yang pihak yang terlibat langsung maupun pihak yang tidak terlibat langsung. Adapun
manfaat yang dimaksud adalah :
1. Manfaat bagi perusahaan :


PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan dapat mengetahui
tentangbagaimana prosedur pelaksanaan layanan kliring yang selama ini telah
dilaksanakan oleh staff kliring di Transaction Processing unit, sehingga dapat

4

dijadikan bahan evaluasi apakah prosedur kliring telah sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai lembaga kliring.


PT. BTN Kantor Cabang Medan dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan
kliringkarena kliring memiliki peranan yang penting terutama bagi Lalu Lintas
Pembayaran ( LLP ) giral antar bank khususnya Lalu Lintas Pembayaran dalam
negeri.

2. Manfaat bagi Universitas :


Dapat meningkatkan intensitas kerjasama antara pihak instansi yakni PT. BTN Kantor
Cabang Medan dengan pihak Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang berupa
pemberian kesempatan bagi para mahasiswa UNIMED untuk melaksanakan Kuliah
Kerja Usaha (KKu) di kantor PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang
Medan.



Sebagai khasanah wacana bagi Universitas Negeri Medan (UNIMED).

3. Manfaat bagi penulis :


Dapat menambah kemampuan dan wawasan penulis baik di bidang ilmu pengetahuan
maupun soft skill yang berupa ketrampilan kerja yang diperoleh selama penulis
melaksanakan Kuliah Kerja Usaha (KKU) di PT. Bank Tabungan Negara (Persero)
Kantor Cabang Medan.



Penulis dapat lebih mengapresiasikan terhadap teori – teori yang ada dengan keadaan
yang nyata dan sebenarnya.

4. Manfaat bagi pembaca :


Pembaca dapat lebih mengetahui tentang aspek – aspek layanan kliring secara teori
yang dilaksanakan oleh transaction processing unit di PT. Bank Tabungan Negara
(Persero) Kantor Cabang Medan.



Dapat memberikan wawasan tambahan bagi para pembaca yang awam dengan adanya
layanan kliring yang disediakan oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor
Cabang Medan.

5

BAB II
KAJIAN TEORI

Untuk mendukung pembutan laporan ini, maka perlu dikemukakan hal-hal atau teoriteori yang berkaitan dengan permasalahan dan ruang lingkup pembahasan sebagai landasan
dalam pembuatan laporan ini.
A. Pengertian Kliring Bank
Pengertian Kliring Menurut Kasmir (2012:172), kliring merupakan jasa penyelesaian
utang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan
dikliringkan di lembaga kliring. Penyelesaian utang piuatng dimaksud adalah penagihan
cek/bilyet giro melalui bank.
Dalam konteks perbankan, kliring dapat diartikan sebagai jasa penyelesaian hutang
piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di
lembaga kliring yang di koordinir oleh Bank Indonesia. Pengertian lain dari kliring ialah
perhitungan utang-piutang antara peserta secara terpusat di satu tempat dengan cara saling
menyerahkan surat-surat berharga dan surat dagang, yang telah ditetapkan untuk dapat
diperhitungkan dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu
lintas pembayaran giral.
Menurut Irsyad (2011:56), Definisi kliring merupakan penyelesaian hutang piutang
antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di
lembaga kliring yang dikoordinir oleh Bank Indonesia.
Sedangkan menurut Veithzal (2013:352), kliring merupakan sarana perhitungan utang
piutang dalam bentuk surat-surat berharga dan surat dagang antara bank-bank peserta kliring
yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang mengatur memajukan,
memperluas, dan memperlancar arus lalu lintas pembayaran giral serta terselenggara secara
mudah, cepat dan aman.
Arti kliring secara umum menurut The New Grollier International Dictionary of the
English Languange adalah sebagai berikut : The act of exchanging drafts on each other and
setting the differences (kegiatan mempertukarkan warkat-warkat bank dari satu bank dengan
bank-bank lainnya dalam menyelesaikan selisihnya.)
6

Lembaga kliring secara resmi dibentuk Bank Indonesia pada tanggal 7 Maret 1967
sehingga masalah waktu, tempat penyelenggaraan, siapa yang hadir dan sebagainya dapat
ditentukan karena telah terkoodinir secara pasti dan resmi. Dengan adanya lembaga kliring
ini maka hubungan proses penyelesaian lalu lintas pembayaran giral ini bersifat multilateral
karena lembaga kliring dianggap sebagai pihak ketiga. Sebaliknya, hubungan antara satu
bank dengan bank lainnya tanpa melalui pihak ketiga dan setiap bank memiliki rekening di
bank korespondennya disebut hubungan bilateral.
B. Jenis-jenis Kliring
Ada tiga jenis kliring yang dapat dilakukan, antara lain kliring umum, kliring lokal,
dan kliring antar cabang.
 Kliring umum adalah sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang
pelaksananya diatur oleh Bank Indonesia.
 Kliring lokal adalah sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang berada dalam
suatu wilayah kliring (wilayah yang ditentukan).
 Kliring antar cabang, adalah sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu
bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. KLiring ini dilakukan
dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari sauatu kantor cabang untuk
kantor cabang lainnya yang bersangkutan pada kantor induk yang bersangkutan.

C. Proses Kliring
Proses penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) terdiri dari
2 (dua) sub sistem, yaitu :
a. Kliring Debet
Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan untuk
transfer debet antar Bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet (cek, bilyet
giro, nota debet dan lain-lain). Penyelenggaan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap
wilayah kliring oleh Penyelenggara Kliring Lokal (PKL).
PKL akan melakukan perhitungan kliring debet berdasarkan Data Keuangan
Elektronik (DKE) debet yang dikirim oleh peserta. Hasil perhitungan kliring debet secara

7

lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan
secara nasional oleh Penyelenggara Kliring Nasional (PKN).
b. Kliring Kredit
Digunakan untuk transfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fisik warkat
(paperless). Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh Penyelenggara
Kliring Nasional. Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh Penyelenggara Kliring Nasional
atas dasar Data Keuangan Elektronik kredit yang dikirim peserta.
D. Syarat-syarat Kliring
Setiap bank yang telah memperoleh izin usaha bank umum dan berkedudukan di kota
di mana diadakan perhitungan kliring diwajiban ikut serta dalam kliring setempat, yang
diharuskan pula memenuhi beberapa persyaratan. Bagi kantor pusat suatu bank, sekurangkurangnya telah melakukan usaha dengan izin Menteri Keuangan selama 3 bulan.
Berdasarkan penilaian Bank Indonesia, keadaan administrasi pimpinan dan keuangan
bank tersebut memungkinkan memenuhi kewajibannya dalam kliring. Kemudian, simpanan
masyarakat dalam bentuk giro pada bank tersebut telah mencapai jumlah sekurang-kurangnya
20% dari syarat modal yang disetor minimum bagi pendirian bank baru di suatu
daerah.Sedangkan bagi cabang suatu bank yang berada dikota lain dari tempat kedudukan
kantor pusatnya atau cabang lain, memiliki simpanan masyarakat berupa giro pada kantor
pusat dan seluruhcabang-cabang telah mencapai jumlah sekurang-kurangnya sama dengan
20% dari syarat modal disetor minimum bagi pendirian bank baru didareah-daerah di mana
kantor pusat dan kantor cabang-cabangyang bersangkutan berkedudukan.
Bagi cabang bank yang berada di kota yang sama dengan kantor pusat atau cabang
lain, hanya ditetapkan syarat : cabang bank itu telah memperoleh izin usaha dari Menteri
Keuangan.Bank peserta kliring senantiasa wajib mempertahankan usahanya sehingga tetap
memenuhi persyaratan tersebut. Penyertaan suatu bank dalam kliring harus mendapat izin
dari Bank Indonesia dan penyertaan secara efektif akan diumumkan terlebih dulu oleh
pimpinan Lembaga kliring tersebut.Sebelum ikut secara efektif dalam kliring, setiap bank
peserta wajib menandatangani pernyataan bahwadia tunduk kepada peraturan dan akan
memenuhi semua kewajiban yang timbul karena penyertaan tersebut.

8

E. Mekanisme kliring
Pertemuan kliring dilakukan dalam dua tahap yaitu :
1. Kliring Penyerahan
Kliring Penyerahan adalah bagian dari suatu siklus Kliring guna memperhitungkan
warkat dan/atau DKE yang disampaikan oleh Peserta. Dalam kliring penyerahan, peserta
kliring akan menyerahkan warkat-warkat/DKE kliringnya baik warkat/DKE debet maupun
warkat/DKE kredit kepada penyelenggara/peserta lawan transaksinya (lazimnya disebut
dengan warkat/DKE keluar (outward clearing) serta menerima warkat/DKE debet maupun
kredit dari penyelenggara/peserta lawan transaksinya (lazimnya disebut warkat/DKE masuk
(inward clearing).
Atas dasar penyerahan warkat/DKE kliring dimaksud penyelenggara akan melakukan
perhitungan kliring sehingga dapat menghasilkan Bilyet Saldo Kliring dan berbagai bentuk
laporan kliring yang dapat berguna bagi penyelesaian akhir transaksi kliring ke rekening giro
bank di Bank Indonesia dan pembukuan transaksi kliring ke rekening nasabah bank.
Kegiatan yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum kliring penyerahan adalah :


Warkat di cap yang memuat sebutan “kliring” dan dicantumkan nomor kode
kelompok peserta.



Persetujuan penyelenggara dan peserta lain.
Langkah-langkah selanjutnya adalah :

a. Warkat-warkat dikelompokkan sesuai peserta. Warkat-warkat tersebut dapat
digolongkan menjadi :


Warkat kliring yang diserahkan oleh masing-masing peserta, yaitu :
 Nota Debet Keluar yaitu warkat yang disetorkan oleh nasbah suatu
bank untuk keuntungan rekening nasbah tersebut.
 Nota Kredit Keluar yaitu warkat pembebanan ke rekening nasabah
yang menyetorkan untuk keuntungan rekening nasabah bank lain.



Warkat kliring yang diterima dari peserta lain, yaitu :
 Nota Debet Masuk yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain atas
beban nasabah bank yang menerima warkat.
9

 Nota Debet Keluar yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain
untuk keuntungan nasabah bank yang menerima warkat.
b. Warkat debet dan kredit dirinci nilai nominalnya dalam suatu daftar.
c. Nilai nominal dan banyaknya warkat dalam daftar kliring di jumlahkan.
d. Serah terima warkat kliring yang telah ditandatangani oleh wakil peserta kliring.
e. Apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai dapat tidaknya warkat diperhitungkan
dalam kliring, maka keputusan akhir diserahkan kepada penyelenggara.
f. Penyusunan neraca kliring penyerahan yang ditandatangani dan dibubuhi nama
peserta kliring dengan jelas.
g. Wakil peserta kliring kembali ke bank masing-masing untuk menentukan layak
tidaknya warkat-warkat yang diterima dari bank lain untuk diselesaikan.
2. Kliring Pengembalian (Retur)
Kliring Pengembalian adalah bagian dari suatu siklus kliring guna memperhitungkan
warkat dan atau DKE debet kliring penyerahan yang ditolak berdasarkan alasan yang
ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia atau karena tidak sesuai dengan tujuan dan
persyaratan penerbitannya.
Ilustrasi Kliring :
ILUSTRASI KLIRING
Tuan A nasabah giro Bank Omega Cabang Jakarta membeli barang dagangan dari Tuan B
nasabah giro bank ABC Cabang Jakarta seharga Rp 30.000.000. Tuan A membayar dengan
menerbitkan cek Bank Omega.
1. Pembukuan Transaksi Kliring
 Pembukuan Bank ABC Cabang Jakarta:


Pada saat menerima warkat:
D : Bank Indonesia-Giro Rp 30.000.000
K : Warkat kliring Rp 30.000.000



Pada saat hasil kliring diketahui:
D : Warkat Kliring Rp 30.000.000
K : Giro Rek. Tuan B Rp 30.000.000
10

 Pembukuan Bank Omega – Cabang Jakarta:
D : Giro – Rekening Tuan A Rp 30.000.000
K : Bank Indonesia – Giro Rp 30.000.000
F. Transaksi kliring
Transaksi yang diproses melalui fasilitas Kliring meliputi transfer debet dan transfer
kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat, baik Warkat Debet maupun warkat
kredit. Berikut adalah penjelasannya:
1. Warkat
Warkat adalah alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan atas beban atau
untuk untung rekening nasabah atau bank melalui kliring. Warkat yang dapat diperhtungkan
dalam kliring otomasi adalah:
a. Cek
Cek adalah surat yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
meliputi cek dividen, cek perjalanan, cek cinderamata, dan jenis cek lainnya yang
penggunaannya dalam kliring disetujui oleh Bank Indonesia.
b. Bilyet Giro
Bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk
memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening
pemegang yang disebutkan namanya termasuk Bilyet Giro Bank Indonesia.
c. Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT)
Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT) adalah wesel sebagaimana diatur dalam KUHD
yang diterbitkan oleh bank khusus untuk sarana transfer.
d. Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT)
Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT) adalah surat bukti penerimaan transfer dari
luar kota yang dapat ditagihkan kepada bank peserta penerima dana transfer melalui kliring
lokal.
e. Warkat Debet
11

Warkat Debet adalah warkat yang digunakan untuk menagih dana pada bank lain
untuk untung bank atau nasabah bank yang menyampaikan warkat tersebut. Warkat debet
yang dikliringkan hendaknya telah diperjanjikan dan dikonfirmasikan terlebih dahulu oleh
bank yang menyampaikan warkat debet kepada bank yang akan menerima warkat debet
tersebut.
f. Warkat Kredit
Warkat Kredit adalah warkat yang digunakan untuk menyampaikan dana pada bank
lain untuk untung bank ata nasabah bank yang menerima warkat tersebut.
2. Dokumen Kliring
Merupakan dokumen yang berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan
kliring ditempat penyelenggara.Dokumen kliring terdiri dari:
a. Bukti penyerahan warkat debet kredit penyerahan ( BPWK).
b. Bukti Penyerahan Warkat Kredit Kliring Penyerahan ( BPWK).
c. Kartu Bach Warkat Kridit.
d. Kartu Bach Warkat Debet.
e. Lembar Substitusi.
3. Formulir Kliring
Formulir yang digunakan untuk proses perhitungan kliring lokal dengan manual
meliputi:
a. Neraca kliring penyerahan/pengembalian. gabungan formulir ini disediakan oleh
penyelenggara dan digunakan oleh penyelenggara untuk menyusun rekapitulasi
neraca kliring penyerahn/pengembalian.
b. Neraca kliring penyerahan/pengembalian. Formulir ini disediakan oleh peserta dan
digunakan oleh peserta untuk menyusun neraca kliring penyerahan/pengembalian atas
dasar daftar warkat kliring penyerahan/pengembalian.
c. Bilyet saldo kliring. Formulir ini disediakan oleh peserta dan digunakan digunakan
oleh peserta untuk menyusun bilyet saldo kliring berdasarkan neraca kliring
penyerahan dan neraca kliring pengembalian.

G. Peran Bank Indonesia Dalam Kliring
12

Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal yakni mencapai dan menjaga
kestabilan nilai rupiah. Hal ini mengandung dua aspek yakni kestabilan nilai mata uang
rupiah terhadap barang dan jasa yang tercermin pada laju inflasi; serta kestabilan nilai mata
uang rupiah terhadap mata uang negara lain yang tercermin pada perkembangan nilai tukar.
Dari segi pelaksanaan tugas dan wewenang, Bank Indonesia menerapkan prinsip
akuntabilitas dan transparansi melalui penyampaian informasi kepada masyarakat luas secara
terbuka melalui media massa setiap awal tahun mengenai evaluasi pelaksanaan kebijakan
moneter, dan serta rencana kebijakan moneter dan penetapan sasaran-sasaran moneter pada
tahun yang akan datang. Informasi tersebut juga disampaikan secara tertulis kepada Presiden
dan DPR sesuai dengan amanat Undang-Undang."
Sesuai Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan
Undang0Undang Nomor 3 tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23
tahun 1999 tentang Bank Indonesia, salah satu tugas bank indonesia adalah mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran. Dibidang sistem pembayaran, Bank Indonesia
merupakan satu satunya lembaga keuangan diindonesia yang mempunyai wewenang untuk
memgeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarika dan memusnaakan
uang dari peredaran. Disisi lain dalam rangka mengatur dan menjaga sistem pembayaran
Bank Indonesia juga berwenang melaksanakan, memberi persetujuan dan perizinan atas
penyelenggaraan jasa sisitem pembayaran, seperti sistem transfer, dana, baik yang bersifat
real time maupun kliring.ataupun sistem pembayaran lain.Yang berkaitan dengan sistem
kliring yaitu:
a. Mengatur Sistem Kliring Antar Bank
Sistem kliring antar bank meliputi sistem kliring domestik dan sistem lintas negara.
Pengaturan kedua sistem ini mencakup antara lain:
 Penetapan persyaratan bagi bank indonesia atau bank dalam keanggotaan pada sistem
kliring yang bersifat regional ataupun internasional.
 Mengatur mengenai kesepakatan antar Bank Indonesia atau lembaga lain sebagai
penyelenggarra

sistempembayaran

dengan

baik

dan

sentral/atau

lembaga

penyelenggaraan sistem pembayaran negara lain yang berkaitan denganpelaksanaan
kliring dan penyelesaian akhir transaksi pembayaran anter bank.
b. Mengatur Pokok- Pokok Ketentuan kliring
13

Pokok-pokok ketentuan dalam kliring yang diatur oleh bank Indonesia adalah:
 Jenis penyelenggaraan kliring yang dapat dilaksanakan pihak lain yang sudah
mendapatkan persetuan oleh Bank Indonesia.
 Persyaratan dan bentuk hukum piyhak lain yang dapat menyelenggarakan kliring.
 Tata cara pemberian persyaratan persetujuan pihak lain yang akan menyelenggarakan
kliring.

BAB III
PEMBAHASAN

14

A. Lokasi Penelitian
Merupakan lokasi atau tempat untuk memperoleh data – data yang valid yang
diperlukan dalam menunjang pembuatan Tugas Akhir (TA) sehubungan dalam penyampaian
laporan terhadap penyelenggaraan penelitian. Adapun lokasi atau tempat dilakukan penelitian
yang dimaksud adalah di Kantor PT. Bank Tabungan Negara (Persero) atau Bank BTN
Kantor Cabang Medan.
B. Sumber Data
HB.

Sutopo

(2006:59)

dalam

bukunya

Metodologi

Penelitian

Kualitatif

mengemukakan bahwa “Pemahaman mengenai berbagai macam sumber data merupakan
bagian yang sangat penting bagi peneliti karena ketepatan memilih dan menentukan jenis
sumber data akan menentukan ketepatan dan kekayaan data atau kedalaman informasi yang
diperoleh”. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Data Primer
Data primer yang merupakan data utama yang bersifat pokok diperoleh dari hasil
wawancara dengan karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan
yakni pegawai di Transaction Processing Unit khususnya staff kliring yang menangani proses
kliring di PT. Bank Tabungan Negara (persero) Kantor Cabang Medan.
C. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. Wawancara (Interview)
Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan
informan untuk memperoleh data penunjang yang relevan. Dalam pengamatan ini,
informantersebut di PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan menjadi
informan bagi penulis untuk memperoleh data-data yang diperlukan dengan cara penulis
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada informan. Pertanyaan yang diajukan terfokus
pada permasalahan yang akan dikaji sehingga informasi yang bisa dikumpulkan semakin
terperinci dan mendalam. Dengan demikian diharapkan informan dapat memberikan
informasi yang akurat dan sebenarnya.

15

D. Fasilitas Dan Jadwal Kliring
Fasilitas jasa pelayanan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan
untuk pengiriman uang dalam bentuk rupiah maupun mata uang asing yang ditujukan kepada
pihak lain di suatu tempat (dalam/luar negeri) salah satunya adalah kliring. Kliring PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan mencakup secara keseluruhan seperti
kliring lokal, antar cabang ataupun secar regional. Di PT. Bank Tabungan Negara (Persero)
Kantor Cabang Medan sendiri tidak ada batasan jumlah maksimal setiap harinya nasabah
yang akan melakukan kliring.
Jadwal kliring PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan adalah
sebagai berikut :
H

a

r

i

W
P

Senin s/d Jum’at

a
e

k
r

i

t
o

u
d

K
e

I

Pkl. 07.30 – 10.00 WI B

l

i

r

i

P e r i o d e

n

g
I I

Pkl. 11.30 – 14.00 WIB

(hari kerja)
(Sumber : PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan).
E. Dokumen Kliring
Dokumen yang digunakan dalam proses kliring Bank BTN Kantor Cabang Medan
adalah :
1. Bukti penyerahan warkat debet kliring penyerahan (BPWD).
2. Bukti penyerahan warkat kredit penyerahan (BPWK).
3. Kartu batch warkat untuk kliring debet dan kliring kredit.
4. Lembar Subsitusi.
5. Bukti penyerahan rekaman warkat kliring pengembalian (BPRWKP).
F. Syarat-Syarat Kliring
Adapun syarat-syarat yang perlu dilakukan oleh nasabah kliring adalah nasabah akan
ditawari untuk membuka Giro atau Cek sebanyak 25 Lembar untuk alat melakukan kliring.
Syarat membuka Giro atau Cek adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan/Lembaga:
 Melampirkan foto copy Akte Pendirian Perusahaan/Anggaran Dasar dan Izin Usaha.
 Memiliki NPWP.
16

 Melampirkan Surat Kuasa khusus untuk bertindak atas nama perusahaan.
 Melampirkan Surat referensi.
 Tidak termasuk dalam daftar hitam BI.
 Penyetoran pertama dan saldo minimal Rp. 1.000.000,b. Perorangan:
 Umur min 18 tahun/sudah dewasa menurut hukum.
 Foto copy KTP atau kartu identitas diri lainnya.
 Tidak termasuk dalam daftar hitam BI.
 Melampirkan Surat referensi.
 Memiliki NPWP.
 Penyetoran pertama dan saldo minimal Rp 500.000,-

G. Mekanisme Kliring
Pada saat kami melakukan miniriset dan melakukan wawancara kepada pegawai di
Transaction Processing Unit khususnya staff kliring yang menangani proses kliring di PT.
Bank Tabungan Negara (persero) Kantor Cabang Medan mekanisme melakukan kliring di
PT. Bank Tabungan Negara (persero) Kantor Cabang Medan sama seperti PT. Bank
Tabungan Negara (BTN) lainnya. Adapun mekanisme melakukan kliring adalah sebgai
berikut :
Adapun mekanisme kegiatan dalam prosedur pelaksanaan kliring debet di PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Cabang Medan meliputi :
1. Kliring Penyerahan
Kliring penyerahan adalah bagian dari siklus Kliring guna memperhitungkan warkat
dan atau Data Keuangan Elektronik (DKE) yang diserahkan oleh peserta kliring.
a. Menerima warkat kliring penyerahan yang disertai form setoran dari nasabahyang
merupakan surat perintah untuk membayar ataupun menagih kepadanasabah bank lain
yang juga merupakan peserta kliring melalui Teller.Penerimaan warkat kliring
dilakukan sesuai dengan jadwal yang telahditentukan sebelumnya.
b. Melakukan pemeriksaan dan verivikasi terhadap warkat yang telah diterima,apakah
warkat tersebut merupakan warkat yang dapat dikliringkan atau tidak,dan warkat yang
dimaksud telah memenuhi spesifikasi sesuai denganketentuan yang telah ditetapkan
17

Lembaga Kliring yaitu Bank Indonesia.Warkat yang dapat dikliringkan harus
dinyatakan dalam mata uang rupiah,bernilai nominal penuh (100% dari face value)
dan telah memenuhi tanggalefektif jatuh tempo.
c. Warkat yang dapat dikliringkan dikirim ke Transaction Processing Unit untukdiproses
oleh staff clearing (Clearingmen).
d. Membuat dan mencetak laporan data keuangan ( RPT RI509 ) untukmembandingkan
dengan data yang telah di download.
e. Verivikasi data berdasarkan laporan data keuangan oleh section Head (kepalaseksi).
f. Upload hasil verivikasi ke TPK (Terminal Peserta Kliring).
g. Membuat kartu batch dan encode yang merupakan alat bantu untukmempermudah
perhitungan

warkat

yang

akan

diserahkan

peserta

sertamelakukan

proses

penggabungan data (batching) sesuai dengan laporan datakeuangan.
h. Membuat data keuangan elektronik (DKE) kliring penyerahan berdasarkanwarkat
yang diterima dengan rincian nominal warkat serta jumlah lembar danjumlah nominal
warkat.
i. Verivikasi Data Keuangan Elektronik (DKE), apabila telah memenuhiketentuan dan
spesifikasi maka Data Keuangan Elektronik (DKE) selanjutnyadapat dilaksanakan
persetujuan (approval) oleh Section Head.
j. Menyimpan Data Keuangan Elektronik (DKE) dalam media rekam elektronik(disket,
flashdisc, CD) sebagai bahan softcopy untuk diserahkan kePenyelenggara Kliring
Lokal (PKL).
k. Membuat dan mencetak laporan keuangan sebagai pengantar kliring.
l. Membubuhkan tanda tangan dari pejabat yang berwenang dan diberi stempel“kliring”.
Dalam warkat hanya terdapat 1 (satu) buah stempel, apabila warkat terdapat lebih dari
1 (satu) stempel maka stempel yang pertama harusdibatalkan terlebih dahulu.
Pembatalan stempel dapat dilakukan dengan caramembubuhkan stempel “kliring
dibatalkan” dan ditandatangani oleh pejabatyang berwenang serta mencantumkan
nomor kode kelompok peserta padalembar kliring yakni untuk kode kelompok kliring
pada PT. Bank TabunganNegara (Persero) Kantor Cabang Medan adalah2000066.
m. Mengirim warkat debet, Data Keuangan Elektronik (DKE) debet, Disket danlaporan
keuangan ke Bank Indonesia ( PKL ) melalui Clearingmen sebagaipengantar kliring.
Pengiriman dapat dilakukan melalui sistem off-line.
2. Kliring Pengembalian (Retur)

18

Kliring pengembalian adalah bagian dari suatu siklus kliring guna memperhitungkan
warkat dan atau DKE debet kliring penyerahan yang ditolakberdasarkan alasan yang
ditetapkan dalam ketentuan bank Indonesia atau karenatidak sesuai dengan tujuan dan
persyaratan penerbitannya :
a. Menerima warkat debet penyerahan dari Bank lain di Bank Indonesia melaluiproses
pendistribusian warkat.
b. Verivikasi warkat debet yang diterima apakah warkat tersebut dapatdikliringkan atau
tidak.
c. Penolakan warkat debet disertai dengan Surat Keterangan Penolakan (SKP)yang
berisi alasan-alasan penolakan warkat yang dibuat dalamrangkap 3 yakni untuk
warkat asli diserahkan kepada peserta yangmengkliringkan dan lembar kedua (2)
untuk nasabah penyetor serta lembarketiga (3) ditujukan bagi penyelenggara.
d. Memilih warkat tolakan yang disertai dengan surat keterangan penolakan(SKP)
berdasarkan bank penerima.
e. Membuat surat peringatan atau pemberitahuan, yaitu surat yang ditujukankepada
penarik Cek/ Bilyet Giro kosong agar menyadari kemungkinandilakukannya
penutupan atas rekeningnya dan pencantuman nama penarikdalam daftar hitam.
f. Entry atau memasukkan data warkat tolakan ke dalam Terminal PesertaKliring
(TPK).
g. Verivikasi data yang telah di entry dan approval sesuai kewenangan.
h. Membuat

kartu

batch

dan

proses

batching

(menggabungkan

data

yang

telahdiverivikasi).
i. Membuat kartu batch dan encode.
j. Membuat data keuangan elektronik (DKE) untuk diseraahkan kepadapenyelenggara
kliring lokal dengan rincian nominal saldo serta jumlah lembardan jumlah nominal
warkat debet tolakan untuk masing-masing bankpenerima.
k. Membuat rekam data elektronis Data Keuangan Elektronik (DKE) dalamdisket untuk
diserahkan kepada penyelenggara kliring lokal (PKL).
l. Membuat dan mencetak laporan kliring yang berguna sebagai pengantarkliring.
m. Membubuhkan tanda tangan dari pejabat yang berwenang dan memberikanstempel
kliring pada warkat debet.
n. Mengirim Data Keuangan Elektronik (DKE) dalam bentuk rekam dataelektronis
( disket, flashdisk, CD ) dan laporan kliring pengembalian ke kantorBank Indonesia
19

(PKL) untuk diteruskan dan diproses secara nasional di KantorPusat Bank Indonesia
(PKN).

H. Tolakan Kliring
Warkat – warkat yang dikliringkan tidak semuanya tertagih, bahkan setiap transaksi
kliring terdapat beberapa warkat yang ditolak pembayarannya. Ada beberapa alasan
penolakan kliring pada saat penerimaan warkat-warkat kliring dalam kliring masuk. Alasan –
alasan tersebut meliputi :
a. Asal cek atau Bilyet Giro (BG) salah.
b. Tanggal cek atau Bilyet Giro (BG) belum jatuh tempo.
c. Materai tidak ada atau tidak cukup sesuai dengan peraturan yang berlaku.
d. Jumlah yang tertulis di angka dan huruf berbeda.
e. Tanda tangan dan atau cap perusahaan tidak sama dengan spicemen (Contohtanda
tangan) atau tidak lengkap.
f. Coretan atau perubahan tidak ditandatangani.
g. Cek atau Bilyet Giro (BG) sudah kadaluwarsa.
h. Resi belum kembali.
i. Endorsment cek tidak benar.
j. Rekening sudah ditutup.
k. Dibatalkan penarik.
l. Rekening diblokir oleh berwajib.
m. Kondisi cek atau Bilyet Giro (BG) tidak sempurna.
Kemudian penolakan kliring akan ditindak lanjutin oleh nasabah yang melakukan
kliring tersebut selambat-salambatnya 7( tujuh) hari kerja dapat diselesaikan melalui proses
kliring antar bank yang dilakukan sebelumnya atau dengan melakukannya antar nasabah yang
memiliki utang piutang . Apabila tidak tindak lanjutin akan dikenakan SP 2 (Surat Peringatan
dua) sampai dengan SP 3 (Surat Peringatan Tiga) selama masing-masing 7 hari kerja.
Penjelasan :
 Surat Peringatan I (SP-I) untuk penolakan Cek/Bilyet Giro kosongpertama,
yang berisi peringatan agar penarik tidak menarik Cek/BilyetGiro kosong
lagi.
 Surat Peringatan II (SP-II) untuk penolakan Cek/Bilyet Giro kosong kedua,
yang mengingatkan bahwa bank akan melakukan penutupan rekening dan
20

mencantumkan nama penarik dalam daftar hitam jika penarik menarik
Cek/Bilyet Giro kosong untuk ketiga kalinya.
 Surat Pemberitahuan Penutupan Rekening (SPPR) yaitu surat yang berisi
informasi terjadinya penarikan Cek/Bilyet Giro kosong yang memenuhi
kriteria untuk masuk dalam daftar hitam (menarik Cek/Bilyet Giro kosong 3
lembar atau lebih dalam kurun waktu 6 bulan atau menarik Cek/Bilyet Giro
kosong 1 lembar dengan nominal diatas Rp. 1 milyar), dan pemberitahuan
telah

dilakukannya

mengembalikan

sisa

penutupan
buku

rekening

Cek/Bilyet

penarik,

Giro

yang

perintah
belum

untuk
terpakai,

pencantuman nama penarik dalam daftar hitam serta dihentikannya hubungan
rekening koran penarik dengan bank.

I. Biaya Kliring
Dalam memberikan layanan kliring terdapat biaya – biaya administrasiyang biasanya
ditetapkan oleh lembaga kliring. Biaya layanan kliring terdiridari:
1. Kliring Penyerahan
 Wilayah SKN
Untuk wilayah SKN, tiap warkat dalam kliring penyerahan dikenakanbiaya sebesar
Rp. 2.000,- per lembar.
 Wilayah Non SKN
Untuk wilayah Non SKN dikenakan biaya sebesar Rp. 1.000, - perlembar warkat
kliring penyerahan.
2. Tolakan Kliring
 Karena Kesalahan Nasabah (Wilayah SKN)
Tolakan kliring juga akan dikenakan biaya administrasi, untuktolakan kliring yang
diakibatkan karena kesalahan nasabah diwilayah SKN maka akan dikenakan biaya
sebesar Rp. 125.000,-.
 Karena Kesalahan Nasabah (Wilayah Non SKN)
Sedangkan tolakan kliring yang diakibatkan karena kesalahan nasabahdi wilayah Non
SKN ditetapkan biaya administrasi sebesar Rp.15.000, Karena kesalahan bank

21

Tolakan kliring juga dapat disebabkan karena kesalahan dari pihakbank, biaya yang
dikenakan adalah sebesar Rp. 100.000
(Sumber : PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan).

J. Manfaat Kliring
Manfaat kliring bagi pihak PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang
Medan adalah lebih ke arah Pendapatan (Incoming). Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan
ini adalah :
 Kliring Debit  pendapatan yang diterima sebesar Rp. 2.000, Kliring Kredit  pendapatan yang diterima sebesar Rp. 5.000,-

K. Kendala Kliring
Ada beberapa masalah atau kendala yang dihadaapi oleh pihak PT. Bank Tabungan
Negara (Persero) Kantor Cabang Medan, salah satunya adalah Ribet yang terletah di Bilyet
Giro. Terkadang nasabah tidak mencatumkan nama lengkap di bagian tanda tangan.
Untuk bisa digunakan, bilyet giro harus memenuhi sejumlah persyaratan formal, di
antaranya:
1. Nama bilyet giro dan nomor bilyet giro yang bersangkutan.
2. Nama tertarik.
3. Perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindah bukukan dana atas beban
rekening penarik.
4. Nama dan nomor rekening pemegang.
5. Nama bank penerima.
6. Jumlah dana yang dipindahkan, baik dalam angka maupun dalam huruf selengkaplengkapnya.
7. Tempat dan tanggal penarikan.
8. Tandatangan, nama jelas, dan/atau dilengkapi dengan cap/stempel dengan persyaratan
pembukaan rekening.
Ada aturan baru yang dibuat oleh Bank Indonesia mulai tanggal 1 April 2017 yang
mengharuskan nasabah melakukan :
22

Perubahan

Sebelumnya

Mulai Berlaku 1 April 2017

Masa Berlaku

70 hari + 6 Bulan

70 hari ( Kalender)

Nominal dikliringkan

Tidak dibatasi

Dibatasi maksimal Rp500 juta

Nama Penarik/pemilik

Tidak wajib diisi

Wajib diisi dibawah tanda tangan

rekening giro

atau diberlakukan pencetakan nama
pemilik rekening pad agro
(personalisasi)

Tanda tangan

Jika salah boleh dikoreksi

Tidak boleh dikoreksi

Tanda tangan penarik

Tidak ada aturannya

Harus tanda tangan basah

Penyerahan giro

Bisa oleh siapa saja

Harus nasabah pemegang atau

penarik/pemilik

nasabah ke teller

orang lain dengan surat kuasa

Proses pencairan giro

Tidak diatur

Tidak boleh dipindah tangankan

Koreksi penulisan

Tidak dibatasi

Maksimal 3 kali koreksi pada setiap
field isian bilyet giro

Tanggal penarikan dan

Bisa ditulis salah satu

Harus ditulis keduanya

Pembatalan biyet giro

Bisa dilakukan

Tidak bisa dibatalkan

Format bilyet giro

Masih boleh menggunakan Mulai tanggal 1 januari 2018 wajib

efektif

format bilyet giro yang

menggunakan format baru bilyet

lama sampai 31 Desember

giro

2017

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

23

Kliring dapat diartikan sebagai jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan
cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring yang di
koordinir oleh Bank Indonesia. Pengertian lain dari kliring ialah perhitungan utang-piutang
antara peserta secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-surat
berharga dan surat dagang, yang telah ditetapkan untuk dapat diperhitungkan dengan mudah
dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral.Fasilitas
jasa pelayanan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan untuk
pengiriman uang dalam bentuk rupiah maupun mata uang asing yang ditujukan kepada pihak
lain di suatu tempat (dalam/luar negeri) salah satunya adalah kliring. Kliring PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Medan mencakup secara keseluruhan seperti
kliring lokal, antar cabang ataupun secar regional. Di PT. Bank Tabungan Negara (Persero)
Kantor Cabang Medan sendiri tidak ada batasan jumlah maksimal setiap harinya nasabah
yang akan melakukan kliring.
Adapun mekanisme kegiatan dalam prosedur pelaksanaan kliring debet di PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Cabang Medan meliputi :
1. Kliring Penyerahan
Kliring penyerahan adalah bagian dari siklus Kliring guna memperhitungkan warkat
dan atau Data Keuangan Elektronik (DKE) yang diserahkan oleh peserta kliring.
a. Menerima warkat kliring penyerahan yang disertai form setoran dari nasabahyang
merupakan surat perintah untuk membayar ataupun menagih kepadanasabah bank
lain yang juga merupakan peserta kliring melalui Teller.Penerimaan warkat kliring
dilakukan sesuai dengan jadwal yang telahditentukan sebelumnya.
b. Melakukan pemeriksaan dan verivikasi terhadap warkat yang telah diterima,
apakah warkat tersebut merupakan warkat yang dapat dikliringkan atau tidak, dan
warkat yang dimaksud telah memenuhi spesifikasi sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan Lembaga Kliring yaitu Bank Indonesia.Warkat yang dapat
dikliringkan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah, bernilai nominal penuh
(100% dari face value) dan telah memenuhi tanggal efektif jatuh tempo.
c. Warkat yang dapat dikliringkan dikirim ke Transaction Processing Unit untuk
diproses oleh staff clearing (Clearingmen).
d. Membuat dan mencetak laporan data keuangan ( RPT RI509 ) untuk
membandingkan dengan data yang telah di download.
24

e. Verivikasi data berdasarkan laporan data keuangan oleh section Head (kepala
seksi).
f. Upload hasil verivikasi ke TPK (Terminal Peserta Kliring).
g. Membuat kartu batch dan encode yang merupakan alat bantu untuk
mempermudah perhitungan warkat yang akan diserahkan peserta serta melakukan
proses penggabungan data (batching) sesuai dengan laporan data keuangan.
h. Membuat data keuangan elektronik (DKE) kliring penyerahan berdasarkan warkat
yang diterima dengan rincian nominal warkat serta jumlah lembar dan jumlah
nominal warkat.
i. Verivikasi Data Keuangan Elektronik (DKE), apabila telah memenuhi ketentuan
dan spesifikasi maka Data Keuangan Elektronik (DKE) selanjutnya dapat
dilaksanakan persetujuan (approval) oleh Section Head.
j. Menyimpan Data Keuangan Elektronik (DKE) dalam media rekam elektronik
(disket, flashdisc, CD) sebagai bahan softcopy untuk diserahkan ke Penyelenggara
Kliring Lokal (PKL).
k. Membuat dan mencetak laporan keuangan sebagai pengantar kliring.
l. Membubuhkan tanda tangan dari pejabat yang berwenang dan diberi stempel
“kliring”. Dalam warkat hanya terdapat 1 (satu) buah stempel, apabila warkat
terdapat lebih dari 1 (satu) stempel maka stempel yang pertama harus dibatalkan
terlebih dahulu. Pembatalan stempel dapat dilakukan dengan cara membubuhkan
stempel “kliring dibatalkan” dan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang
serta mencantumkan nomor kode kelompok peserta pada lembar kliring yakni
untuk kode kelompok kliring pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor
Cabang Medan adalah 2000066.
m. Mengirim warkat debet, Data Keuangan Elektronik (DKE) debet, Disket dan
laporan keuangan ke Bank Indonesia ( PKL ) melalui Clearingmen sebagai
pengantar kliring. Pengiriman dapat dilakukan melalui sistem off-line.
2. Kliring Pengembalian (Retur)
Kliring pengembalian adalah bagian dari suatu siklus kliring guna memperhitungkan
warkat dan atau DKE debet kliring penyerahan yang ditolakberdasarkan alasan yang
ditetapkan dalam ketentuan bank Indonesia atau karenatidak sesuai dengan tujuan dan
persyaratan penerbitannya :

25

a. Menerima warkat debet penyerahan dari Bank lain di Bank Indonesia
melaluiproses pendistribusian warkat.
b. Verivikasi warkat debet yang diterima apakah warkat tersebut dapat dikliringkan
atau tidak.
c. Penolakan warkat debet disertai dengan Surat Keterangan Penolakan (SKP) yang
berisi alasan-alasan penolakan warkat yang dibuat dalam rangkap 3 yakni untuk
warkat asli diserahkan kepada peserta yang mengkliringkan dan lembar kedua (2)
untuk nasabah penyetor serta lembar ketiga (3) ditujukan bagi penyelenggara.
d. Memilih warkat tolakan yang disertai dengan surat keterangan penolakan (SKP)
berdasarkan bank penerima.
e. Membuat surat peringatan atau pemberitahuan, yaitu surat yang ditujukan kepada
penarik Cek/ Bilyet Giro kosong agar menyadari kemungkinan dilakukannya
penutupan atas rekeningnya dan pencantuman nama penarik dalam daftar hitam.
f. Entry atau memasukkan data warkat tolakan ke dalam Terminal Peserta Kliring
(TPK).
g. Verivikasi data yang telah di entry dan approval sesuai kewenangan.
h. Membuat kartu batch dan proses batching (menggabungkan data yang telah
diverivikasi).
i. Membuat kartu batch dan encode.
j. Membuat

data

keuangan

elektronik

(DKE)

untuk

diseraahkan

kepada

penyelenggara kliring lokal dengan rincian nominal saldo serta jumlah lembar dan
jumlah nominal warkat debet tolakan untuk masing-masing bank penerima.
k. Membuat rekam data elektronis Data Keuangan Elektronik (DKE) dalam disket
untuk diserahkan kepada penyelenggara kliring lokal (PKL).
l. Membuat dan mencetak laporan kliring yang berguna sebagai pengantar kliring.
m. Membubuhkan tanda tangan dari pejabat yang berwenang dan memberikan
stempel kliring pada warkat debet.
n. Mengirim Data Keuangan Elektronik (DKE) dalam bentuk rekam data elektronis (
disket, flashdisk, CD ) dan laporan kliring pengembalian ke kantor Bank
Indonesia (PKL) untuk diteruskan dan diproses secara nasional di Kantor Pusat
Bank Indonesia (PKN).

B. Saran
26

Saran yang dapat diberikan dari makalah ini adalah untuk menjaga keseimbangan
bagai suatu masalah yang berkaitan dengan tingkat likuiditas suatu bank, maka setiap bank
sebaiknya mencadangkan dana lebih dari giro wajib minimum yaitu lebih besar dari 8%. Hal
itu dilakukan agar jika bank mengalami kalah kliring, maka bank masih dapat melakukan
kegiatan kliring. Sesuai dengan konsekuensi jika bank mengalami kekalahan kliring terus
menerus, maka bank terancam dilikuidasi oleh bank indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

27

Judul: Akuntansi Kliring

Oleh: Erni Jayani


Ikuti kami