Akuntansi Keuangan Koperasi

Oleh Rahmat Rinaldi

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keuangan Koperasi

Akuntansi Keuangan
Koperasi

Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah Republik Indonesia
Nomor : 04/Per/M.KUKM/VII/2012
MENIMBANG : (d). Bahwa Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
perlu diganti karena sudah tidak sesuai lagi
dengan kebutuhan hukum dan perkembangan
Perkoperasian.

Untuk mempermudah pembuatan laporan keuangan, Dewan Standart
Akuntansi Keuangan menerbitan SAK ETAP yang dapat digunakan oleh
entitas yang
tidak memiliki Akuntabilitas Publik signifikan seperti UMKM dan
Koperasi.

Menerbitkan
Ikatan Akuntansi Indonesia

Melalui Peraturtan Menteri Negara
Koperasi & UMKM menetapkan SAK
ETAP menjadi pedoman umum akuntansi
koperasi
Melalui Peraturtan Bank Indonesia
menetapkan SAK ETAP menjadi pedoman
umum akuntansi BPR

Peraturan Menteri Negara
Koperasi & UKM

Dasar Hukum , UU No 17 Tahun 2012
1. Pasal 37 ayat 1 c
Laporan keuangan yang sekurang-kurangnya
terdiri dari neraca akhir dan perhitungan hasil
usaha tahun buku yang bersangkutan serta
penjelasan atas dokumen tersebut.

2. Pasal 37 ayat 2
Laporan keuangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c dibuat berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku.

Latar Belakang
1. Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan
Indonesia pada tanggal 8 April 2011 telah
menerbitkan Pernyataan Pencabutan Standar
Akuntansi Keuangan 8 ( PPSAK 8) atas pencabutan
Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan 27 (PSAK
27) mengenai Akuntansi Koperasi.
2. Standar Akuntansi keuangan yang mengacu pada
IFRS dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu Standar
Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP) dan Standar Akuntansi
Keuangan Umum (SAK Umum). Mengingat koperasi
sejauh ini termasuk dalam entitas tanpa akuntabilitas
publik, maka memberlakukan akuntansi koperasi
dengan SAK ETAP.

Maksud dan Tujuan
1. Untuk menyediakan pedoman yang standar tentang
penyajian laporan keuangan koperasi
2. Membantu mempercepat pengurus dalam menyusun
laporan pertanggungjawaban keuangan koperasi pada
rapat anggota tahunan, maupun untuk tujuan–tujuan
lain.

Sasaran Pedoman Umum Akuntansi Koperasi
adalah untuk :
1. Memberikan infomasi keuangan yang membantu para
pemakai laporan dalam pengambilan keputusan dan
menetapkan investasi pada koperasi;
2. Memberikan informasi mengenai perubahan aset,
kewajiban dan ekuitas koperasi secara nyata;
3. Memberikan informasi bahwa pengelolaan usaha
koperasi sesuai dengan tata nilai, jatidiri koperasi;
4. Mengungkapkan informasi yang berhubungan
dengan laporan keuangan yang relevan untuk
kebutuhan pemakai laporan.

Ruang Lingkup
Pedoman umum akuntansi koperasi ini
mengatur informasi keuangan koperasi yang
disajikan dalam :
1.Neraca,
2.Perhitungan Hasil Usaha,
3.Laporan arus kas,
4.Laporan Perubahan ekuitas.
5.Catatan atas laporan keuangan,

Karakteristik yang bersifat spesifik dari laporan
keuangan koperasi
1. Laporan keuangan merupakan bagian dari
laporan pertanggungjawaban pengurus selama
satu periode akuntansi, yang dapat dipakai
sebagai bahan untuk menilai hasil kerja
pengelolaan koperasi;
2. Laporan keuangan koperasi merupakan bagian
dari sistem pelaporan koperasi yang ditujukan
untuk pihak internal maupun eksternal koperasi;
3. Laporan keuangan koperasi harus Berdayaguna ,
sehingga pihak anggota dapat menilai manfaat
ekonomi dan berguna juga untuk mengetahui :

Karakteristik yang bersifat spesifik dari laporan
keuangan koperasi (lanjutan..)
a) Prestasi unit kegiatan koperasi yang secara
khusus bertugas memberikan pelayanan kepada
para anggotanya selama satu periode akuntansi
tertentu;
b) Prestasi unit kegiatan koperasi yang secara
khusus ditujukan untuk tujuan bisnis dengan
non anggota selama satu periode akuntansi
tertentu;
c) Informasi penting lainnya yang mempengaruhi
keadaan keuangan koperasi jangka pendek dan
jangka panjang

DASAR AKRUAL
Entitas harus menyusun laporan keuangan, dengan
menggunakan dasar akrual, kecuali laporan arus
kas. Dalam dasar akrual, pos-pos diakui sebagai
aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban
(unsur-unsur laporan keuangan) ketika memenuhi
definisi dan kriteria pengakuan untuk pos-pos
tersebut.

JENIS TRANSAKSI
a) Transaksi antara koperasi dengan anggotanya :
Setoran dan Pelayanan kepada anggota
koperasi.
b) Transaksi antara koperasi dengan non anggota
c) Transaksi khusus pada koperasi, dapat
berbentuk :
 Penerimaan dan pengembalian modal penyertaan
untuk kegiatan usaha/proyek dari anggota atau
pihak lain.
 Penerimaan modal sumbangan hibah/donasi) dari
anggota atau pihak lain.
 Pengalokasian “beban perkoperasian”.
 Pembentukan cadangan.

Pengakuan dan Pengukuran (Perlakuan)
 Pengakuan :
Merupakan proses pembentukan suatu pos/akun dalam
neraca atau laporan perhitungan hasil usaha (PHU) yang
mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur, dimana
manfaat ekonomi yang berkaitan dengan perkiraan
tersebut, akan mengalir dari atau ke dalam koperasi

 Pengukuran :
Merupakan proses penetapan jumlah uang yang digunakan
oleh koperasi untuk mengukur nilai aset, kewajiban,
pendapatan dan beban dalam laporan keuangan;

Penyajian dan Pengungkapan
 Penyajian :
Merupakan proses penempatan pos/akun
(perkiraan) dalam laporan keuangan secara
tepat dan wajar
 Pengungkapan :
Pemberian informasi tambahan yang dibutuhkan
untuk menjelaskan unsur-unsur pos/akun
(perkiraan) kepada pihak yang berkepentingan
sebagai catatan dalam laporan keuangan
koperasi.

Akuntansi Aset

ASET KOPERASI
 Aset adalah kekayaan yang dimiliki dan dikelola
koperasi untuk menjalankan operasional usaha.
 Aset merupakan sumber daya yang dikuasai
koperasi sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan
diharapkan akan diperoleh koperasi.
 Aset yang diperoleh dari sumbangan, yang tidak
terikat penggunaannya, diakui sebagai aset
tetap.

ASET LANCAR
Aset lancar yaitu aset yang memiliki masa manfaat
kurang dari satu tahun.
Pengklasifikasian aset lancar antara lain :
1. Diperkirakan akan dapat direalisasi atau dimiliki
untuk dijual atau digunakan, dalam jangka
waktu siklus operasi normal entitas.
2. Dimiliki untuk diperdagangkan (diperjual
belikan).
3. Diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu
12 bulan setelah akhir periode pelaporan

KAS
Nilai mata uang kertas dan logam, baik dalam
rupiah maupun mata uang asing sebagai alat
pembayaran sah.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi kas diakui sebagai aset dan dicatat
sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Kas disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal-hal yang harus dijelaskan seperti rincian jumlah
uang kas

BANK
Simpanan koperasi pada bank tertentu yang likuid,
seperti: tabungan, giro dan deposito serta simpanan
lainnya.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi Bank diakui sebagai aset dan dicatat
sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Bank disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal-hal yang harus dijelaskan misalnya rincian
simpanan tabungan/giro/deposito pada bank-bank
yang berbeda.

SURAT BERHARGA
Investasi dalam berbagai bentuk surat berharga,
yang dapat dicairkan dan diperjualbelikan dalam
bentuk tunai setiap saat.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar
nilai nominalnya.

 Penyajian
Surat Berharga disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian surat berharga yang dimiliki koperasi.

PIUTANG USAHA
Tagihan koperasi sebagai akibat penyerahan
barang/jasa kepada pihak lain yang tidak dibayar
secara tunai.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar
nilai nominalnya.

 Penyajian
Piutang Usaha disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian piutang usaha koperasi pada pihak lain.

PIUTANG PINJAMAN ANGGOTA
Tagihan koperasi sebagai akibat transaksi
pemberian pinjaman (tunai/kredit berupa
barang/jasa) kepada anggota.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar
nilai nominalnya.

 Penyajian
Piutang pinjaman anggota disajikan dalam pos aset
lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian piutang pinjaman dari masing-masing
anggota.

PIUTANG PINJAMAN NON ANGGOTA
Tagihan koperasi sebagai akibat transaksi
pemberian pinjaman (tunai/kredit berupa
barang/jasa) kepada Non anggota.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar
nilai nominalnya.

 Penyajian
Piutang pinjaman non anggota disajikan dalam pos
aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian piutang pinjaman dari masing-masing non
anggota.

PERSEDIAAN
Nilai kekayaan koperasi yang diinvestasikan dalam
bentuk persediaan, baik persediaan dalam bentuk
bahan baku, bahan setengah jadi, maupun barang
jadi untuk diperdagangkan dalam rangka
memberikan pelayanan kepada anggota dan
penyelenggaraan transaksi dengan non anggota.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar nilai
nominalnya.

 Penyajian
Persediaan disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Rincian per jenis persediaan pada koperasi.

BIAYA DIBAYAR DIMUKA
Sejumlah dana yang telah dibayarkan kepada pihak
lain untuk memperoleh manfaat barang/jasa
tertentu.
Contoh sewa gedung yang dibayar dimuka untuk jangka waktu
tertentu lebih dari satu periode akuntansi.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar nilai
nominalnya.

 Penyajian
Biaya Dibayar Dimuka disajikan dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal-hal penting yang berkaitan dengan perjanjian

PENDAPATAN YANG MASIH HARUS DITERIMA
Berbagai jenis pendapatan koperasi yang sudah
dapat diakui sebagai pendapatan tetapi belum dapat
diterima oleh koperasi.
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset dan dicatat sebesar
nilai nominalnya.

 Penyajian
Pendapatan yang masih harus diterima disajikan
dalam pos aset lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal-hal penting yang berkaitan dengan perjanjian

ASET TIDAK LANCAR
Aset tidak lancar adalah aset yang terdiri dari
beberapa macam aset, masa manfaat lebih dari satu
periode akuntansi, dimiliki serta digunakan dalam
kegiatan operasional dengan kompensasi
penggunaan berupa biaya depresiasi (penyusutan).

INVESTASI JANGKA PANJANG
Aset atau kekayaan yang diinvestasikan pada koperasi
sekunder, koperasi lain atau perusahaan untuk jangka waktu
lebih dari satu tahun tidak dapat dicairkan, berupa simpanan
atau penyertaan modal.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset tidak lancar dan
dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Investasi jangka panjang disajikan dalam pos aset
tidak lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti rincian
dari macam investasinya, perjanjian, evaluasi
prospek.

PROPERTI INVESTASI
Properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan
atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik/koperasi atau
lessee melalui sewa pembiayaan) dan dapat menghasilkan sewa
atau kenaikan nilai atau keduaduanya. Properti investasi tidak
digunakan untuk kegiatan produksi atau penyediaan barang/jasa,
tujuan administratif, atau dijual dalam kegiatan usaha seharihari..

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai aset tidak lancar dan dicatat
sebesar nilai perolehannya.

 Penyajian
Properti Investasi disajikan dalam pos aset tidak lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber
perolehan, rincian atas aset tidak lancar tersebut.

Akumulasi Penyusutan Properti Investasi
“Pengurang nilai perolehan” suatu properti investasi, sebagai
akibat penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi penyusutan
dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai
dengan umur manfaatnya

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban
untuk periode yang bersangkutan dan nilainya
disesuaikan dengan metode penyusutan properti
investasi koperasi bersangkutan.

 Penyajian
Saldo akumulasi penyusutan properti investasi disajikan
sebagai pos pengurang nilai perolehan dari aset tidak
lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Hal-hal yang perlu diungkapkan meliputi metode
penyusutan dan umur manfaat yang digunakan.

ASET TIDAK BERWUJUD
Adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi
namun tidak mempunyai wujud fisik.
Dimiliki untuk digunakan dalam kegiatan produksi
atau disewakan kepada pihak lain atau untuk tujuan
administratif.
Contoh aset tidak berwujud antara lain: hak paten,
hak cipta, hak pengusaha hutan, kuota
impor/ekspor, waralaba

ASET TIDAK BERWUJUD (lanjutan...)
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Nilai aset tidak berwujud dicatat sesuai dengan nilai
perolehan, dan mempunyai masa manfaat ekonomis serta
dapat diukur secara andal.

 Penyajian
Disajikan pada pos aset tidak lancar.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Hal-hal yang perlu diinformasikan :

a) Umur manfaat atau tarif amortisasi;
b) Metode amortisasi;
c) Akumulasi amortisasi pada awal dan akhir
periode;
d) Unsur pada laporan perhitungan hasil usaha
yang didalamnya terdapat amortisasi aset tidak
berwujud;
e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir
periode yang menunjukkan penambahan,
pelepasan, amortisasi dan perubahan lainnya
secara terpisah

Akumulasi Amortisasi Aset Tidak Berwujud
“Pengurang nilai perolehan” suatu aset tidak berwujud yang
dimiliki koperasi, sebagai akibat dar penggunaan dan berlalunya
waktu. Akumulasi amortisasi aset tidak berwujud dilakukan
secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur
manfaatnya.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Amortisasi aset tidak berwujud untuk setiap periode
diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan
yang nilainya disesuaikan dengan metode amortisasi
aset tidak berwujud koperasi yang bersangkutan.

 Penyajian
Saldo akumulasi amortisasi disajikan sebagai pos
pengurang dari aset tidak berwujud.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Hal-hal yang perlu diungkapkan seperti metode
amortisasi yang digunakan, umur manfaat atau tarif
amortisasi yang digunakan.

Akuntansi Kewajiban

KEWAJIBAN
 Kewajiban merupakan pengorbanan ekonomis yang harus
dilakukan oleh koperasi di masa yang akan datang dalam
bentuk penyerahan aset atau pemberian jasa, yang disebabkan
oleh tindakan atau transaksi pada masa sebelumnya.
 Kewajiban merupakan tanggungjawab koperasi saat ini, yang
timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya
diperkirakan akan membutuhkan sumber daya ekonomi.
 Simpanan anggota diluar simpanan pokok dan simpanan wajib,
yang tidak menentukan kepemilikan, diakui sebagai kewajiban
jangka pendek atau jangka panjang sesuai dengan tanggal jatuh
tempo dan berdasarkan perjanjian.
 Koperasi dapat mengumpulkan atau menerima simpanan berupa
tabungan dan atau simpanan berjangka atau simpanan lain, dari
anggota dan atau anggota koperasi lain, diakui sebagai
kewajiban koperasi. Simpanan tersebut diberi balas jasa berupa
bunga atau bentuk lain sesuai dengan kesepakatan rapat
anggota.

KOMPONEN KEWAJIBAN
 Kewajiban jangka pendek
Kewajiban jangka pendek adalah utang koperasi
yang digunakan untuk kebutuhan modal kerja
dan memelihara likuiditas koperasi, dan harus
dilunasi paling lama dalam satu periode
akuntansi koperasi.
 Kewajiban jangka panjang
Kewajiban jangka panjang adalah utang
koperasi yan digunakan untuk kebutuhan
investasi dan/atau kebutuhan lainnya, dan
dapat dilunasi lebih dari satu tahun.

Simpanan Anggota
Sejumlah simpanan dari anggota yang tidak menentukan
kepemilikan, misal : simpanan sukarela, Tabungan koperasi
(Tabkop), Simpanan berjangka koperasi (Sijakop) yang harus
dipenuhi kurang dari satu tahun.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka pendek
dan dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Simpanan Anggota disajikan pada pos kewajiban
jangka pendek.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian dari jenis simpanan dan informasi lain yang
diperlukan.

Utang Bank/Lembaga Keuangan Lain
Utang kepada bank/lembaga keuangan lain untuk memenuhi
kebutuhan modal kerja dan transaksi bisnis koperasi, yang
dilakukan dengan proses penarikan kredit/pembiayaan.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka pendek
dan dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Utang Bank/Lembaga Keuangan lain disajikan pada
pos kewajiban jangka pendek.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian dari utang koperasi kepada bank/lembaga
keuangan lain dan informasi lain yang diperlukan
baik berupa utang pokok maupun bunga yang
jatuh tempo satu tahun/periode akuntansi.

Beban Yang Masih Harus Dibayar
Beban yang telah terjadi, tetapi belum dapat dicatat di akun
beban.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka pendek
dan dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Beban Yang Masih Harus Dibayar disajikan pada pos
kewajiban jangka pendek.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian dari jenis beban yang masih harus dibayar
dan informasi lain yang diperlukan.

Utang Bank/Lembaga Keuangan Lain
Utang kepada bank/lembaga keuangan lain untuk memenuhi
kebutuhan investasi dan/atau kebutuhan lain, yang dilakukan
dengan proses penarika kredit/pembiayaan.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka panjang dan
dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Utang Bank/Lembaga Keuangan lain disajikan pada pos
kewajiban jangka panjang.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
a)
b)
c)
d)

Rincian dari utang koperasi kepada bank/lembaga
keuangan lain dan informasi lain yang diperlukan
baik
berupa utang pokok, bunga, agunan, jangka waktu
tata cara pelunasan

Beban Yang Masih Harus Dibayar
Beban yang telah terjadi, tetapi belum dapat dicatat di akun
beban.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka pendek
dan dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Beban Yang Masih Harus Dibayar disajikan pada pos
kewajiban jangka pendek.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian dari jenis beban yang masih harus dibayar
dan informasi lain yang diperlukan.

Kewajiban Imbalan Pasca Kerja
Imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kerja) yang
terutang setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Transaksi diakui sebagai kewajiban jangka panjang
dan dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Kewajiban Imbalan Pasca Kerja disajikan pada pos
kewajiban jangka panjang.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Rincian dari kewajiban imbalan pasca kerja dan
informasi lain yang diperlukan.

Akuntansi Ekuitas

EKUITAS
Ekuitas adalah modal yang mempunyai ciri :
 Berasal dari anggota, dan atau berasal dari sumber dalam
koperasi seperti cadangan, SHU tahun berjalan dan
berasal dari sumber luar koperasi seperti hibah.
 Menanggung resiko dan berpendapatan tidak tetap.
Bilamana koperasi memperoleh SHU maka anggota akan
menerima bagiannya. Apabila koperasi merugi maka
anggota tidak menerima pembagian SHU atau
menanggung kerugiam Koperasi.
 Tidak dapat dipindahtangankan, namun dapat diambil
kembali pada saat anggota keluar dari keanggotaannya,
atau jika koperasi bubar, setelah kewajiban-kewajiban
koperasi diselesaikan

EKUITAS (lanjutan..)
Ekuitas koperasi terdiri dari modal anggota yang
berbentuk :
 Simpanan pokok.
 Simpanan wajib.
 Modal sumbangan/hibah.
 Cadangan dan sisa hasil usaha (SHU) tahun
berjalan

Simpanan Pokok
Sejumlah uang yang sama banyaknya, yang wajib dibayarkan oleh
anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota.
Simpanan pokok tidak dapat diambil selama yang bersangkutan
masih menjadi anggota.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Simpanan pokok diakui sebagai ekuitas dan dicatat
sebesar nilai nominalnya, mencakup nilai simpanan
pokok pendiri dan nilai penyetaraan yang ditetapkan
dalam anggaran rumah tangga koperasi.

 Penyajian
Disajikan pada pos simpanan pokok pada kelompok
ekuitas.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Simpanan pokok yang belum dilunasi maupun dalam hal
nilai penyetaraan simpanan pokok, diungkapkan dalam
penjelasan laporan keuangan.

Simpanan Wajib
Sejumlah simpanan yang tidak harus sama besarannya, yang
wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi selama yang
bersangkutan menjadi anggota. Simpanan wajib tidak dapat
diambil selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Simpanan wajib diakui sebagai ekuitas dan dicatat
sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Disajikan pada pos simpanan wajib pada kelompok
ekuitas.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Simpanan wajib yang belum dilunasi, diungkapkan
dala penjelasan laporan keuangan.

Hibah/Modal Sumbangan
Sejumlah uang atau barang modal yang mempunyai nilai yang
dapat diukur dalam unit moneter, yang diterima dari pihak
lain berupa hibah yang mengikat dan yang tidak mengikat,
baik berupa aset tetap atau aset lainnya. Hibah/modal
sumbangan tidak dapat dibagikan kepada anggota.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Modal sumbangan diakui sebagai ekuitas dan dicatat
sebesar nilai nominalnya.

 Penyajian
Disajikan pada pos hibah/modal sumbangan pada
kelompok Ekuitas.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal yang perlu diungkapan yaitu hibah/modal
sumbangan, yang terikat dan tidak terikat serta
dicatat dalam penjelasan laporan keuangan.

Sisa Hasil Usaha (SHU) Tahun Berjalan
 Sisa Hasil Usaha adalah penjualan barang/jasa sebagai
pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu periode
akuntansi dikurangi dengan biaya operasional,
penyusutan dan biaya-biaya lain, termasuk pajak dalam
satu periode akuntansi bersangkutan.
 Sisa Hasil Usaha setelah dikurangi dengan cadangan
dibagikan kepada anggota dan sebagian digunakan untuk
keperluan penyelenggaraan pendidikan perkoperasian.
 Selain untuk memenuhi kebutuhan cadangan, anggota
maupun dana pendidikan, koperasi dapat membagi Sisa
Hasil Usaha untuk keperluan lain, menurut keputusan
rapat anggota atau ketentuan anggaran dasar, atau
ketentuan yang berlaku pada koperasi bersangkutan,
misalnya untuk kebutuhan dana sosial, dana pengurus,
dan sebagainya.

Sisa Hasil Usaha (SHU) Tahun Berjalan (lanjutan..)
Apabila jumlah pembagiannya belum diatur secara jelas,
maka Sisa Hasil Usaha tersebut dicatat sebagai SHU tahun
berjalan serta harus dijelaskan dalam catatan atas laporan
keuangan.

 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Sisa Hasil Usaha yang menjadi hak koperasi diakui
sebagai cadangan merupakan ekuitas koperasi serta
dicatat sebesar nilai nominalnya.
Sisa Hasil Usaha yang tidak menjadi hak koperasi
diakui sebagai kewajiban dan dicatat sebesar nilai
nominalnya.

 Penyajian
Disajikan pada pos Sisa Hasil Usaha tahun berjalan
pada kelompok ekuitas.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan Keuangan).
Hal yang perlu diungkapkan adalah pembagian SHU
koperasi tahun berjalan

Cadangan
 Cadangan adalah bagian dari Sisa Hasil Usaha yang
disisihkan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar atau
ketetapan rapat anggota.
 Cadangan yang disisihkan dari Sisa Hasil Usaha
merupakan ekuitas koperasi yang tidak dapat dibagikan
kepada anggota.
 Pembentukan cadangan ditujukan untuk pengembangan
usaha koperasi dan untuk menutup kerugian koperasi.
 Apabila penggunaan cadangan untuk tujuan pemupukan
modal dan tujuan resiko diatur dalam ketentuan
anggaran dasar koperasi dengan mempertimbangkan
kepentingan pengembangan usaha koperasi

Cadangan (lanjutan..)
 Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
Sisa Hasil Usaha yang menjadi hak koperasi diakui
sebagai cadangan merupakan ekuitas koperasi serta
dicatat sebesar nilai nominalnya.
Sisa Hasil Usaha yang tidak menjadi hak koperasi
diakui sebagai kewajiban dan dicatat sebesar nilai
nominalnya.

 Penyajian
Cadangan koperasi diakui sebagai ekuitas dan
dicatat sebesar nilai nominalnya.

 Pengungkapan (dalam Catatan Laporan
Keuangan).
Hal yang perlu diungkapkan adalah tujuan dan
penggunaan cadangan

Pendapatan dan Beban

Ketentuan Umum
 Perhitungan Hasil Usaha adalah laporan yan
menggambarkan hasil usaha koperasi dalam
satu periode akuntansi.
 Penyajian akhir dari perhitungan hasil usaha
disebut SHU (SisaHasil Usaha). SHU bukan
semata-mata mengukur besaran laba tetapi juga
menggambarkan manfaat lain bagi anggota

Komponen Perhitungan Hasil Usaha
 Pelayanan Anggota
Pendapatan atau penghasilan yang bersumber dari
aktivitas utama usaha koperasi dengan anggota.
Pelayanan ini terdiri dari :
1. Pelayanan bruto anggota yaitu pendapatan koperasi
yang timbul dari transaksi pelayanan ekonomi kepada
anggota.
2. Beban pokok pelayanan yaitu nilai beli yang
dikeluarkan ditambah biaya perolehan hingga
barang/jasa siap dijual.

Komponen Perhitungan Hasil Usaha
 Pendapatan dari Non Anggota
Pendapatan atau penghasilan yang bersumber dari
aktivitas utama usaha koperasi dengan non anggota.
Pendapatan barang/jasa ini terdiri dari :
1. Penjualan barang/jasa kepada non anggota yaitu
pendapatan koperasi yang timbul dari transaksi bisnis
dengan pihak non anggota.
2. Beban pokok penjualan non anggota yaitu nilai beli
yang dikeluarkan ditambah biaya perolehan hingga
barang/jas siap dijual dengan non anggota dalam
satu periode akuntansi.

Komponen Perhitungan Hasil Usaha
 Beban Operasional
Biaya yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas penjualan
barang/jasa oleh koperasi kepada anggota dan non
anggota :
Komponen Beban operasional meliputi :
 Beban Usaha, adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh koperasi yang berkaitan langsung dengan
kegiatan usaha penjualan barang/jasa koperasi,
meliputi biaya administrasi, umum dan penjualan.
 Beban Perkoperasian, adalah Biaya yang dikeluarkan
oleh koperasi yang tidak berkaitan langsung dengan
kegiatan operasional koperasi tersebut, tetapi
ditujukan untuk pengembangan organisasi koperasi
diantaranya: biaya pendidikan dan latihan SDM
koperasi, biaya rapat organisasi, biaya pengembangan
wilayah kerja, honor pengurus/pengawas dan biaya
lain yang berkaitan dengan perkoperasian.

Komponen Perhitungan Hasil Usaha
 Pendapatan dan atau Beban Lainnya
Pendapatan Lain, adalah pendapatan yang diterima
sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan usaha yang
bukan merupakan aktivitas utama usaha koperasi.
Diantaranya:
 pendapatan bunga (koperasi konsumsi/
produksi/pemasaran)
 pendapatan deviden,
 keuntungan penjualan aset.
Beban Lainnya, adalah beban yang dikeluarkan oleh
koperasi sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan usaha
yang bukan merupakan aktivitas utama usaha koperasi.
Diantaranya berupa:
 beban bunga (koperasi konsumen/ produksi/
pemasaran),
 kerugian penjualan aset

Laporan Arus Kas

Ketentuan Umum
 Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar
uang tunai atausetara tunai.
 Laporan arus kas menyediakan informasi
tentang perubahan uang tunai dan setara tunai
dalam satu entitas untuk periode yang
dilaporkan dalam komponen yang terpisah,
terdiri dari : aktivitas dioperasi, aktivitas
investasi dan aktivitas pendanaan.

Komponen Arus Kas
 Aktivitas Operasi
Arus kas dari aktivitas operasi, adalah arus kas yang berasal
dari aktivitas utama koperasi. Arus kas tersebut pada
umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa serta kondisi
lain yang mempengaruhi besaran SHU, diantaranya :
1. Penerimaan kas dari penjualan barang/jasa.
2. Penerimaan kas dari royalti, fee, komisi dan pendapatan
lain.
3. Pembayaran kas kepada pemasok barang/jasa.
4. Pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan.
5. Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan kecuali
jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai
bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi.
6. Penerimaan dan pembayaran kas dari investasi,
pinjaman dah kontrak lainnya yang dimiliki untuk
tujuan perdagangan yang sejenis dengan persediaan
yang dimaksudkan untuk dijual kembali

Komponen Arus Kas
 Aktivitas Investasi.
Arus kas penerimaan dan pengeluaran sehubungan dari
sumber daya yang digunakan untuk tujuan menghasilkan
pendapatan masa depan, diantaranya :
1. Penjualan Surat Berharga.
2. Penjualan investasi jangka panjang.
3. Penjualan properti investasi.
4. Penjualan aset tetap.
5. Perolehan surat berharga.
6. Perolehan investasi jangka panjang.
7. Perolehan properti investasi.
8. Perolehan aset tetap.

Komponen Arus Kas
 Aktivitas Pendanaan
Arus kas penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan
dengan sumber pendanaan untuk tujuan menghasilkan
pendapatan masa depan, diantaranya :
1. Penerimaan kas dari simpanan pokok.
2. Penerimaan kas dari simpana wajib.
3. Penerimaan kas dari hibah/modal sumbangan.
4. Penerimaan kas dari surat utang.
5. Penerimaan kas dari pinjaman bank/lembaga keuangan
lain.
6. Pengeluaran kas untuk pengembalian simpanan pokok.
7. Pengeluaran kas untuk pengembalian simpanan wajib.
8. Pengeluaran kas untuk pembayaran surat utang.
9. Pengeluaran kas untuk pengembalian pinjaman
bank/lembaga keuangan lain.

Laporan Perubahan Modal

Ketentuan Umum
 Laporan perubahan ekuitas bertujuan menyajikan
laba/rugi koperasi untuk suatu periode, pos pendapatan
dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas
untuk periode tersebut, pengaruh kebijakan akuntansi
dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode
tersebut.
 Informasi yang disajikan di laporan perubahan ekuitas
meliputi :
a) Laba/rugi untuk periode.
b) Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam
ekuitas.
c) Pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
d) kesalahan yang diakui, sesuai kebijakan akuntansi,
estimasi,dan kesalahan untuk setiap komponen
ekuitas.

Komponen Arus Kas
1.

2.

Komponen Laporan Perubahan Ekuitas menunjukkan
perubahan dari simpanan pokok, simpanan wajib, Hibah,
cadangan, SHU Yang Tidak dibagikan pada periode
akuntansi.
Besarnya cadangan piutang tak tertagih koperasi simpan
pinjam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a
angka 2 butir a) ditetapkan sebagai berikut :
 0,5% (setengah persen) dari piutang dengan kualitas
lancar.
 10% (sepuluh persen) dari piutang dengan kualitas
kurang lancar setelah dikurangi dengan nilai
agunan.
 50% (lima puluh persen) dari piutang dengan
kualitas diragukan setelah dikurangi dengan nilai
agunan.
 100% (seratus persen) dari piutang dengan kualitas
macet setelah dikurangi dengan nilai agunan.

Judul: Akuntansi Keuangan Koperasi

Oleh: Rahmat Rinaldi


Ikuti kami