Akuntansi Keuangan Dan Standar Akuntansi (makalah)

Oleh Nova Linda

29 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keuangan Dan Standar Akuntansi (makalah)

AKUNTANSI KEUANGAN
MENENGAH 1
MAKALAH
”Akuntansi Keuangan dan Standar Keuangan”

Dosen Pengampuh:
 Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.
 Widya Sari Wendry, S.E., M.Si

Disusun Oleh:
Nama: Nova Linda
Nim : C1C019096

UNIVERSITAS JAMBI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PRODI AKUNTANSI
TAHUN 2020

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir seluruh negara di dunia dalam
komunitas tunggal, yang dijembatani perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin
murah, menuntut adanya transparansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan yang berkualitas
merupakan salah satu prasarana penting untuk mewujudkan transparasi tersebut. Standar akuntansi
keuangan dapat diibaratkan sebagai sebuah cermin, di mana cermin yang baik akan mampu
menggambarkan kondisi praktis bisnis yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan standar
akuntansi keuangan yang baik, sangat relevan dan mutlak diperlukan pada masa sekarang ini.
Terkait hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi akuntansi di Indonesia selalu
tanggap terhadap perkembangan yang terjadi, khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia usaha
dan profesi akuntan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar akuntansi sejak
berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya, terdapat tiga tonggak sejarah dalam
pengembangan
standar
akuntansi
keuangan
di
Indonesia.
Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun 1973. Pada masa
itu merupakan pertama kalinya IAI melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di
Indonesia dalam suatu buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia(PAI).”
Kemudian, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI melakukan revisi
secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi
Indonesia 1984” dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia
usaha.
Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan melakukan
kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994.” Sejak tahun 1994, IAI
juga telah memutuskan untuk melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi internasional dalam
pengembangan standarnya. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perubahan dari harmonisasi ke
adaptasi, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi dengan International Financial Reporting
Standards (IFRS). Program adopsi penuh dalam rangka mencapai konvergensi dengan IFRS direncanakan
dapat terlaksana dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi secara berkesinambungan, baik
berupa berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah
dilakukan enam kali, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1
Oktober 2004, dan 1 September 2007. Buku ”Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007” ini di
dalamnya sudah bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK
baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar, sekarang ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7
ISAK.Untuk dapat menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka badan penyusunnya terus
dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Awalnya, cikal bakal badan penyusun
standar akuntansi adalah Panitia Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur dari GAAP dan GAAS yang
dibentuk pada tahun 1973. Pada tahun 1974 dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) yang
bertugas menyusun dan mengembangkan standar akuntansi keuangan. Komite PAI telah bertugas selama

empat periode kepengurusan IAI sejak tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang terus
diperbarui. Selanjutnya, pada periode kepengurusan IAI tahun 1994-1998 nama Komite PAI diubah
menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan (Komite SAK)
Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di Jakarta, Komite SAK diubah
kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dengan diberikan otonomi untuk
menyusun dan mengesahkan PSAK dan ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk Komite Akuntansi Syariah
(KAS) dan Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan (DKSAK). Komite Akuntansi Syariah
(KAS) dibentuk tanggal 18 Oktober 2005 untuk menopang kelancaran kegiatan penyusunan PSAK yang
terkait dengan perlakuan akuntansi transaksi syariah yang dilakukan oleh DSAK. Sedangkan DKSAK
yang anggotanya terdiri atas profesi akuntan dan luar profesi akuntan, yang mewakili para pengguna,
merupakan mitra DSAK dalam merumuskan arah dan pengembangan SAK di Indonesia.

B. TUJUAN MAKALAH
1. Agar pembaca memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia dan Internasional
2. Agar pembaca memahami hamonisasi standar akuntansi keuangan dengan standar laporan keuangan
internasional
C. RUMUSAN MASALAH
1. Jenis-jenis standar akuntansi yang ada di Indonesia?
2. Pro dan Kontra harmonisasi internasional?

D.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Standar Akuntansi Keuangan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan
keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan
Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standard
akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.
Sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang cepat dan pertumbuhan
ekonomi yang pesat diabad ini, telah timbul berbagai bidang spesialisasi dalam akuntansi.
Salah
satu
bidang
spesialisasi
akuntansi
tersebut
adalah
akuntansi
keuangan.
Menurut
Kieso
dan
Waygandt
(1995)
akuntansi
keuangan
adalah:
"Proses
yang
berakhir
pada
penyusunan
laporan
keuangan
yang
berhubungan
dengan
perusahaan
secara
keseluruhan
untuk
digunakan,
oleh
pihak-pihak
baik didalam maupun diluar perusahaan tersebut".

B. Tujuan Standar Akuntansi Keuangan
Adapun tujuan standar akuntansi keuangan yang baku adalah:
a. Dapat memberikan informasi tentang posisi keuangan perusahaan, prestasi dan
kegiatan perusahaan, informasi yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang
lazim
diharapkan
mempunyai
sifat
jelas,
konsisten,
terpercaya
dan
dapat
diperbandingkan.
b. Memberikan pedoman dan peraturan kerja bagi akuntan publik agar mereka
dapat melaksanakan tugas dengan hati-hati, independen dan dapat mengabdikan
keahliannya dan kejujurannya melalui penyusunan laporan akuntansi setelah
melalui pemeriksaan akuntan.
c. Memberikan
database
pada
pemerintah
tentang
berbagai
informasi
yang
dianggap
penting
dalam
perhitungan
pajak,
peraturan
tentang
perusahaan,
perencanaan, dan pengaturan ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi serta
tujuan makro lainnya.
d. Dapat menarik perhatian para ahli dan praktisi dibidang teori dan prinsip
akuntansi.

C. Jenis Standar Akuntansi di Indonesia
Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan
penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta Memudahkan pembaca laporan keuangan

untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Di Indonesia
SAK yang diterapkan akan berdasarkan IFRS pada tahun 2012 mendatang.
Pada PSAK-IFRS, SAK ETAP ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia. PSAK Syariah diterbitkan oleh Dewan Akuntansi Syariah sedangkan SAP oleh Komite
Standar Akuntansi Pemerintah.
Berikut ini penjelasan dari jenis-jenis SAK tersebut :
1. PSAK-IFRS
PSAK-IFRS merupakan standar akuntansi keuangan yang diterapkan menyeluruh, khususnya
tahun 2012. Di tahap pelaksanaan PSAK ini, diharuskan untuk mengaplikasikan PSAK guna
entitas yang memiliki akuntabilias publik sebagaimana emiten , perbankan, perusahaan publik,
asuransi serta BUMN. Tujuan yang hendak dicapai PSAK adalah memberikan sejumlah
informasi penting yang cukup relevan.
Adapun IFRS diadopsi Indonesia karena Indonesia merupakan anggota IFAC yang secara
otomatis wajib mengikuti peraturan yang dibuat SMO(Statement Membership Obligation). SMO
telah menetapkan IFRS sebagai standar akuntansi internasional.
IFRS memiliki manfaat sebagai berikut :
 Menaikkan daya banding di dalam sistem laporan keuangan
 Menyuplai informasi penting dan mempunyai kualitas di area pasar modal internasional
 Mengurangi adanya hambatan dalam hal arus modal internasional melalui pembatasan
terhadap adanya pembedaan di pasal-pasal yang ditentukan pelaporan keuangan
 Menekan biaya yang harus dikeluarkan di dalam proses pembuatan laporan keuangan
dari perusahaan multinasional serta menurunkan biaya yang dieluarkan
 Menambah kualitas sistem pelaporan keuangan hingga mencapai hasil terbaik
Meskipun Indonesi awajib melakukan penyesuaian terhadap standar keuangan dengan
menggunakan IFRS, hal tersebut membantu memudahkan pembuat laporan keuangan untuk
menyusun walaupun terhapat perubahan yang ada di dalam laporan yang sifatnya integral.
Adapun karakterk IFRS yang menggunakan prisip dasar sebagai berikut ;




Lebih mengemukakan adanya interpretasi serta aplikasi yang ada antarstandar yang
berakibat adanya fokus pada penerapan IFRS
Standar memerlukan penilaian terhadap subtansi transaksi serta adanya evaluasi terhadap
cermnan dari sistem presentasi akuntansi
Memerlukan ketentuan profesional terhadap pola penerapan standar akuntansi

2. SAK-ETAP
SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.
ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta menerbitkan
laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.
ETAP menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises. SAK-ETAP diterbitkan pada
tahun 2009 dan berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan pada 1 Januari 2010. SAK ini
diterapkan secara retrospektif namun jika tidak praktis dapat diterapkan secara prospektif yang

berarti mengakui semua asset dan kewajiban sesuai SAK ETAP juga tidak mengakui asset dan
kewajiban jika tidak diizinkan oleh SAK-ETAP, selain itu Mereklasifikasi pos-pos yang
sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai SAK-ETAP juga menerapkan
pengukuran asset dan kewajiban yang diakui SAK ETAP.
3. PSAK-SYARIAH
PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga
syariah maupun lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah ini pengembangan dilakukan dengan
model PSAK umum namun psak ini berbasis syariah dengan acuan fatwa MUI.
PSAK Syariah berada dalam PSAK 100-106 yang terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kerangka Konseptual
Penyajian Laporan Keuangan Syariah
Akuntansi Murabahah
Musyarakah
Mudharabah
Salam
Istishna

4. SAP
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan. SAP ini ditetapkan sebagai PP(Peraturan Pemerintah) yang diterapkan untuk
entetitas pemerintah dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
SAP diterapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan (PP SAP). Penyusunan SAP melalui tahapan-tahapan seperti :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar
Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP
Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja
Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja
Pembahasan Draf oleh Komite Kerja
Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan
Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)
Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar Pendapat Publik (Public Hearings)
Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf Publikasian
Finalisasi Standar

Jadi SAP disusun hanya untuk instalasi kepemerintahan baik pusat maupun daerah untuk
menyusun laporan keuangan dalam pemerintahan. Dan diharapkan dengan adanya SAP maka
akan ada transparansi, parisipaso dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara sehingga dapat
mewujudkan pemerintahan yang baik

D. Harmonisasi Stadarisasi Internasional
Keuntungan harmonisasi akuntansi internasional






Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan
berarti. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di
seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi modal.
Investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik, portfolio akan lebih beragam dan
risiko keuangan berkurang.
Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan strategi dalam bidang
merger dan akuisisi.
Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standar dapat disebarkan dalam
mengembangkan standar global yang berkualitas tertinggi.

Kritik atas standar internasional
Internasionalisasi standar akuntansi juga menuai kritik. Pada awal tahun 1971 (sebelum pembentukan
IASC), beberapa pihak mengatakan bahwa penentuan standar internasional merupakan solusi yang terlalu
sederhana atas masalah yang rumit. Dinyatakan pula bahwa akuntansi, sebagai ilmu sosial, telah memiliki
fleksibilitas yang terbangun dengan sendiri di dalamnya dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
situasi yang sangat berbeda merupakan salah satu nilai terpenting yang dimilikinya.
Lebih jauh lagi, ditakutkan bahwa adopsi standar internasional akan menimbulkan “standar yang
berlebihan”. Perusahaan harus merespons terhadap susunan tekanan nasional, social, politik, dan ekonomi
yang semakin meningkat dan semakin dibuat untuk memenuhi ketentuan internasional tambahan yang
rumit dan berbiaya besar. Argumen terkait adalah perhatian politik nasional sering kali berpengaruh
terhadap standar akuntansi dan bahwa pengaruh politik internasional tidak terhindari lagi akan
menyebabkan kompromi standar akuntansi.
Arti Rekonsiliasi dan Pengakuan Bersama (Timbal Balik) Terhadap Perbedaan Standar Akuntansi
Dua pendekatan lain yang diajukan sebagai solusi yang mungkin digunakan untuk mengatasi
permasalahan yang terkait dengan isi laporan keuangan lintas batas :


Rekonsiliasi
Melalui rekonsiliasi, perusahaan asing dapat menyusun laporan keuangan dengan menggunakan
standar akuntansi negara asal, tetapi harus menyediakanrekonsiliasi antara ukuran-ukuran
akuntansi yang penting (seperti laba bersih dan ekuitaspemegang saham) di negara asal dan di
negara dimana laporan keuangan dilaporkan.Sebagai contoh, Komisi Pasar Modal AS (SEC)
Rekonsiliasi berbiaya rendah bila dibandingkan dengan penyusunan laporan keuangan lengkap
berdasarkan prinsip akuntansi yang berbeda. Namun demikian rekonsiliasi hanya menyajikan
ringkasan dan bukan gambaran perusahaan yang utuh.



Pengakuan bersama / timbal balik / resiprositas
Pengakuan bersama terjadi apabila pihak regulator di luar negeri asal menerima laporan keuangan
perusahaan asing yang didasarkan pada prinsip-prinsip Negara asal. Resiprositas tidak

meningkatkan perbandingan laporan keuangan lintas Negara dan dapat menimbulkan “lahan
bermain yang tidak seimbang” yang mana memungkinkan perusahan-perusahaan asing
menerapkan standar yang tidak terlalu ketat bila dibandingkan dengan yang diterapkan terhadap
perusahaan domestic.
Sebagai contoh, Bursa Efek London menerima laporan keuangan berdasarkan GAAP AS untuk
pelaporan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan asing. Sejalan dengan perdagangan modal
maka hermonisasi menjadi penting terhadap masalah-masalah yang terkait dengan isi dengan isi
laporan keuangan lintas Negara. Pendekatan dilakukan dengan cara rekonsiliasi, dan pengakuan
bersama. Dengan penyeragaman laporan keuangan yang lengkap berdasarkan prinsip yang
berbeda.
Organisasi Internasional Pendorong Harmonisasi Akuntansi
a. International Accounting Standard Board (IASB).
b. Komisi Uni Eropa (EU).
c. Organisasi International Komisi Pasar Modal (IOSCO)
d. International Federation of Accountant (IFAC).
e. Kelompok kerja ahli pemerintah PBB dalam ISAR dan UNTACD
f. Kelompok kerja dalam OECD.
Sebagai tanggapan atas kebutuhan harmonisasi standar akuntansi, berbagai upaya telah dilakukan oleh
negara kapitalis. Salah satunya adalah dengan dengan mendirikan International Accounting Standard
Committee(IASC) pada tahun 1973, yang sekarang berubah nama menjadi International Accounting
Standard Board (IASB). Jumlah keanggotaan IASC sampai sekarang meliputi lebih dari 150 organisasi
profesi akuntansi yang berasal dari negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Tujuan IASC
adalah
1. merumuskan
dan
menerbitkan
standar
akuntansi
sehubungan
dengan
pelaporan keuangan dan mempromosikannya untuk bisa diterima secara luas di
seluruh dunia, serta
2. bekerja
untuk
pengembangan
dan
harmonisasi
standar
dan
prosedur akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan.
Sampai sekarang IASB telah mengeluarkan lebih dari 50 standar akuntansi. Meskipun IASB berhak untuk
menetapkan dan mengeluarkan standar akuntansi, badan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum untuk
memaksakan penerapan standar akuntansi yang dihasilkan. IASC memiliki kelompok konsultatif yang
disebut IASC Consultative Group yang terdiri dari pihak-pihak yang mewakili para pengguna laporan
keuangan, pembuat laporan keuangan, lembaga-lembaga pembuat standar, dan pengamat dari organisasi
antar-pemerintah. Kelompok ini bertemu secara teratur untuk membicarakan kebijakan, prinsip dan halhal yang berkaitan dengan peranan IASC.
Pembentukan
IASC
merupakan
salah
satu
usaha
harmonisasi
standar
akuntansi
yaitu
untuk
membuat
perbedaan-perbedaan
antar
standar
akuntansi
di
berbagai negara menjadi semakin kecil. Harmonisasi ini tidak harus menghilangkan
standar
akuntansi
yang
berlaku
di
setiap
negara
dan
juga
tidak
menutup
kemungkinan
bahwa
standar
akuntansi
internasional
yang
disusun
oleh
IASC
diadopsi menjadi standar akuntansi nasional suatu negara.

E. Konvergensi IFRS
Dunia akuntansi saat ini masih disibukkan dengan adanya standar akuntansi yang baru yaitu Standar
Akuntansi Keuangan Internasional IFRS. Hampir semua negara di dunia beralih ke standar tersebut,
termasuk Indonesia . Isu hangat tentang harmonisasi standar akuntansi international berhubungan dengan
globalisasi dalam dunia bisnis yang terjadi saat ini. Globalisasi bisnis tampak dari kegiatan perdagangan
antar negara yang mengakibatkan munculnya perusahaan multi nasional. Hal ini mengakibatkan pula
timbulnya kebutuhan harmonisasi akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di seluruh dunia.
IASC ( International Accounting Standard Commite) sebagi lembaga yang bertujuan merumuskan dan
menerbitkan standar akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan dan mempromosikan untuk bisa
diterima secara luas di seluruh dunia, serta bekerja untuk pengembangan dan harmonisasi standard dan
prosedur akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan.
International Accounting Standards, yang lebih dikenal sebagai International Financial Reporting
Standards(IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi yang memberikan penekanan pada
penilaian (revaluation) profesional dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi
ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu. Standar ini muncul akibat tuntutan
globalisasi yang mengharuskan para pelaku bisnis di suatu Negara ikut serta dalam bisnis lintas negara.
Untuk itu diperlukan suatu standar internasional yang berlaku sama di semua Negara untuk memudahkan
proses rekonsiliasi bisnis. Perbedaan utama standar internasional ini dengan standar yang berlaku di
Indonesia terletak pada penerapan revaluation model, yaitu kemungkinkan penilaian aktiva menggunakan
nilai wajar, sehingga laporan keuangan disajikan dengan basis ‘true and fair‘.
Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan interim perusahaan
untuk periode-periode yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi
berkualitas tinggi yang:
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan.
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.

BAB III
PENUTUP
Pengadopsian standar akuntansi internasional ke dalam standar akuntansi domestik bertujuan
menghasilkan laporan keuangan yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi, persyaratan akan item item
pengungkapan akan semakin tinggi sehingga nilai perusahaan akan semakin tinggi pula, manajemen akan
memiliki tingkat akuntabilitas tinggi dalam menjalankan perusahaan, laporan keuangan perusahaan
menghasilkan informasi yang lebih relevan dan akurat, dan laporan keuangan akan lebih dapat
diperbandingkan dan menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva, hutang, ekuitas, pendapatan dan
beban perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

https://edhane.wordpress.com/2010/04/01/sejarah-sak/
http://nunung-nur.blogspot.com/2011/05/harmonisasi-akuntansi-internasional.html
https://estuputri.wordpress.com/tag/harmonisasi-akuntansi-internasional/
https://tsetyaernawati.wordpress.com/2012/04/05/rangkuman-isi-sak-etap/
http://syannegracetine.blogspot.com/2013/11/materi-sak-etap_14.html
http://www.wibowopajak.com/2012/06/jenis-jenis-laporan-keuangan.html
http://yangpentingberbagi.blogspot.com/2012/04/empat-pilar-standar-akuntansi.html

Judul: Akuntansi Keuangan Dan Standar Akuntansi (makalah)

Oleh: Nova Linda


Ikuti kami