Akuntansi Keprilakuan

Oleh Risa Tania

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keprilakuan

DAFTAR ISI
COVER
DAFTAR ISI

i

KATA PENGANTAR

1

BAB I
PENDAHULUAN

2

LATAR BELAKANG

2

BATASAN MASALAH

4

TUJUAN

5

BAB II
LANDASAN TEORI

6

PERKEMBANGAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN

6

MEMOTIVASI PIHAK YANG DIAUDIT

7

HUBUNGAN DENGAN GAYA MANAJEMEN

8

PENGELOLAAN KONFLIK

11

MASALAH-MASALAH HUBUNGAN

13

KHARAKTERISITIK UMUM INDIVIDU

13

KESADARAN PADA DIRI SENDIRI

14

KOMUNIKASI SECARA EFEKTIF

15

MENGHADAPI BANYAKNYA OPOSISI

16

PELAKSANAAN AUDIT PARTISIPATIF

17

BAB III

1

JURNAL

18

ABSTRAK

1

PENDAHULUAN

1

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

3

PEMBAHASAN

9

PENUTUP

13

BAB IV
ANALISIS MENURUT PANDANGAN SAYA

19

BAB V
KRITIK DAN SARAN

20

DAFTAR PUSTAKA

25

KATA PENGANTAR

2

Puji syukur saya panjatkan kehadiranTuhan Yang Maha Esa, karena
hanya berkat Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini, dalam Mata Kuliah Akuntansi Keprilakuan, dengan bahasan
Hubungan antara Aspek-aspek Keperilakuan dan Audit, saya juga mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada pembimbing yang telah memberikan
arahan, dukungan serta kesabaran dalam memberikan ilmu kepada saya, rasanya
tiada kata yang pantas diucapkan selain terima kasih yang tak terhingga. Saya
berharap semoga tugas ini dapat membantu dalam proses pembelajaran, dapat
membantu memperbaiki nilai saya agar menjadi lebih baik.
Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan sehingga perlu dibenahi, oleh
karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
kesempurnaan makalah saya ini. Agar makalah ini juga dapat berguna serta
bermanfaat bagi pengembangan wawasan yang senantiasa dinamis. Akhir kata
saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan
bagi saya khususnya

Palembang,
Desember 2014

BAB I

3

PENDAHULUAN
Audit pada saat ini telah menjadi bagian penting dalam dunia akuntansi,
khususnya aspek-aspek yang terkait dengan proses pengambilan keputusan dan
aktivitas-aktivitas auditor dalam mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil
keputusan. Terdapat banyak hal yang dapat dipertimbangkan sebagai data
pendukung dalam pengambilan keputusan yang mengarah pada aspek
keperilakuan auditor.
Salah satu karakteristik yang membedakan akuntan publik dengan auditor internal
berkaitan dengan keterikatan secara pribadi. Akuntan publik terikat dengan
catatan-catatan suatu organisasi dan prinsip-prinsip akuntansi yang dibangun oleh
badan profesi akuntansi. Sebaliknya, auditor internal terkait dengan aktivitasaktivitas manajemen dan orang-orang yang menjalankan operasi organisasi.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa audit internal mengevaluasi
aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang sehingga terdapat hubungan pribadi
antara orang yang dievaluasi dengan orang yang mengevaluasi dengan para
auditor.
LATAR BELAKANG
Akuntansi keprilakuan merupakan bidang yang relatif baru dibandingkan
dengan bidang ilmu Akuntansi lainnya. Penelitian tentang hal-hal yang terkait
dengan Akuntansi keperilakuan merupakan suatu penelitian yang cukup menarik
untuk dilakukan. Penelitian aspek keperilakuan akan memberikan manfaat antara
lain menyediakan informasi yang bermanfaat bagi Accounting regulator dan
meningkatkan efisiensi bagi orang-orang yang mempelajari bidang akuntansi.

4

Ada dua aspek yang perlu digaris bawahi dalam behavioral accounting
research, yaitu behavioral (keprilakuan) dan Akuntansi. Behavioral accounting
research menurut Hofstedt dan Kinard (1970) seperti dikutip oleh Godfrey, et al.
(2010 : 446) adalah “The study of the behavior of accountants or the behavior of
non-accountants as they are influenced bby accounting functions and reports.”
Yaitu penelitian akuntansi keperilakuan berusaha mendalami perilaku dari
akuntan maupun perilaku dari non akuntan yang dipengaruhi oleh fungsi dan
informasi akuntansi. Akuntansi juga bisa dimaksudkan suatu disiplin jasa yang
berfungsi menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu terkait dengan
kegiatan keuangan suatu entitas (Bisnis maupun non bisnis) untuk membantu
pengguna internal maupun eksternal dalam membuat keputusan ekonomis. Hal ini
seperti yang diungkapkan oleh Siegel (1989 : 1) bahwa “Accounting is a service
discipline whose function is to provide relevant and timely information about the
financial affairs of business and profit entities to assist internal and external users
in making economic decisions”.
Akuntansi dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu Akuntansi keuangan
(financial accounting) dan akuntansi manajemen (Managerial accounting).
Akuntansi keuangan lebih bertujuan untuk menyajikan informasi bagi pengguna
eksternal dibandingkan dengan akuntansi manajemen. Oleh karena itu untuk
penyiapan informasi tersebut diperlukan suatu standar yang berlaku umum yang
disebut dengan generally accepted accounting principle atau pada saat ini kita
kenal dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang disiapkan
dewan standar sebagai bagian dari accounting regulator
Siegel (1989 : 3) menyatakan bahwa Behavioral science adalah “Human
side” of social science. Ilmu keperilakuan ini tidak terlepas dari disiplin ilmu
psikologi, sosiologi, teori organisasi, ilmu politik dan antropologi. Ditinjau
dengan sudut pandang teori akuntansi Behavioral Accounting Research (BAR)
merupakan bagian dari positive research yaitu penelitian yang bertujuan untuk

5

menemukan fakta. Namum BAR berbeda dibandingkan dengan penelitian positiv
lainnya seperti penelitian terkait agency theory dan penelitian pasar modal .
Akuntansi Keperilakuan (Behavioral Accounting) juga merupakan bagian
dari disipilin akuntansi yang mempelajari tentang hubungan antara perilaku
manusia dan sistem akuntansi, serta dimensi sosial dari organisasi dimana
manusia dan sistem akuntansi tersebut berada. Jadi, terdapat tiga pilar utama
Akuntansi Keperilakuan yaitu: perilaku manusia, akuntansi, dan organisasi. Untuk
itulah maka sering dikatakan pula bahwa Akuntansi Keperilakuan merupakan
bidang studi yang mempelajari aspek manusia dari akuntansi (human factors of
accounting). Dalam perkembangan selanjutnya bahkan diperluas lagi sampai
bagaimana akuntasi dan masyarakat saling mempengaruhi, sehingga aspek sosial
dari Akuntansi (social aspect of accounting) juga sering dimasukkan sebagai
bagian dari Akuntansi Keperilakuan.
BATASAN MASALAH
Adapun batasan masalah yang lebih lanjut yang akan saya bahas adalah :
 Bagaimana Perkembangan Akuntansi keprilakuan
 Bagaimana hubungan antara aspek keprilakuan dan
Audit
 Memotivasi Pihak Yang Diaudit
 Hubungan dengan gaya manajemen
 Pengelolaan konflik

TUJUAN
Penyusunan makalah ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah Akuntansi
Keperilakuan pada semester lima. Selain merupakan tugas akhir, banyak juga

6

manfaat yang kita dapatkan ketika membaca, menelaah, dan membutuhkan
informasi dari makalah ini. Makalah ini juga merupakan ringkasan dari buah
pikiran saya selama proses pembelajaran saya dalam perkuliahan. Salah satu
tujuan dari makalah ini adalah memberikan informasi seluas-luasnya kepada
mahasiswa, dosen, civitas akademika tentang adanya aspek keperilakuan yang
turut mengambil andil penting dalam Audit. Terlebih lagi dari makalah ini dapat
memberikan informasi ke masyarakat pada umumnya.

BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini berisi landasan teori yang menjadi dasar dan berhubungan dengan
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini

7

Audit pada saat ini telah menjadi bagian penting dalam dunia akuntansi,
khususnya aspek-aspek yang terkait dengan proses pengambilan keputusan dan
aktivitas-aktivitas auditor dalam mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil
keputusan. Terdapat banyak hal yang dapat dipertimbangkan sebagai data
pendukung dalam pengambilan keputusan yang mengarah pada aspek
keperilakuan auditor. Salah satu karakteristik yang membedakan akuntan publik
dengan auditor internal berkaitan dengan keterikatan secara pribadi. Akuntan
publik terikat dengan catatan-catatan suatuorganisasi dan prinsip-prinsip akuntansi
yang dibangun oleh badan profesi akuntansi. Sebaliknya, auditor internal terkait
dengan aktivitas-aktivitas manajemen dan orang-orang yang menjalankan operasi
organisasi. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa audit internal
mengevaluasi aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang sehingga terdapat
hubungan pribadi antara orang yang dievaluasi dengan orang yang mengevaluasi
dengan para auditor
PERKEMBANGAN AKUNTANSI KEPRILAKUAN
Menurut Kusuma (2003 : 149), Penelitian akuntansi keperilakuan lebih
awal dibandingkan dengan penelitian pasar modal yang efisien. Penelitian tentang
Akuntansi keperilakuan diawali pada tahun 1952 ketika Argyris meneliti tentang
“The impact of budgets on people”. Istilah Akuntansi Keprilakuan baru muncul
pada tahun 1967 oleh Becker dan pada tahun 1989 baru muncul jurnal khusus
yang mempublikasikan penelitian akutansi keprilakuan yaitu BRIA (Behavioral
Research in Accounting)
Dalam akutansi keprilakuan dikenal dua teori yang dominan yaitu Human
Judgment Theory (HJT) dan Human Information Processing (HIP). Penelitian
terkait HJT sudah dimulai sejak tahun 1954 dalam pemrosesan informasi , model
terbanyak yang dipergunakan adalah brunswik’s lens model disamping process
tracing dan probabilistic judgment.

8

Kotchetova dan Salterio (2003) melakukan suatu penelitian terkait dengan
Judgment dan Decision making (JDM). Penelitian ini melibatkan kegiatan
menghasilkan, mengaudit dan menggunakan informasi akuntansi.
MEMOTIVASI PIHAK YANG DIAUDIT
Sebagaimana kita ketahui, motivasi merupakan alat bantu keperilakuan
terbesar bagi audit internal. Dua dari kebutuhan pokok Maslow adalah kebutuhan
untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk diterima dan dikenal,
sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.
 Kebutuhan menjadi bagian dari organisasi. Bagian audit merupakan
bagian dari keseluruhan organisasi yang berdedikasi untuk memperbaiki
operasi organisasi tersebut. Pihak yang diaudit dapat dijanjikan bahwa
pendapat mereka akan diterima dan dipertimbangkan untuk dimasukan
dalam pertimbangan keseluruhan manajemen guna memperbaiki kondisi
operasi organisasi.
 Menghormati diri sendiri dan orang lain. Kebutuhan akan rasa dihormati
ini dapat dikaitkan dengan keyakinan pihak yang diaudit untuk bertindak
langsung dalam kerja sama dengan staf audit untuk mengidentifikasi
bidang-bidang yang bermasalah, membantu dalam mengidentifikasi
kinerja, serta mengembangkan tindakan-tindakan korektif.
HUBUNGAN DENGAN GAYA MANAJEMEN
Terdapat empat gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum. Empat gaya
tersebut meliputi :
 Gaya mengarahkan
Gaya mengarahkan berarti pemimpin memberikan intruksi spesifik dan
mengawasi penyelesaian pekerjaan dari dekat.Pada gaya pertama, aturan

9

aturan manajemen dipatuhi secara sangat ketat. Auditorseharusnya tidak
membuat ikatan
ikatan dengan staf tanpa persetujuan manajemen. Akan tetapi, hal ini membuat
auditor kesulitan untuk memperoleh informasi maupun akses terhadap informasi,
sehingga harus diambil langkah lain.
 Gaya melatih
Gaya melatih berarti pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan dan
mengawasi penyelesaian tugas dari dekat, tetapi juga menjelaskan keputusan, men
awarkan saran, danmendukung kemajuan bawahannya.
 Gaya mendukung
Gaya mendukung berarti pemimpin memudahkan dan mendukung upaya bawahan
untuk penyelesaian tugas serta berbagi tanggung jawab dalam pembuatan keputus
an dengan bawahan.·
 Gaya mendelegasikan
Gaya mendelegasikan berarti pemimpin menyerahkan tanggung jawab pembuatan
keputusandan pemecahan masalah kepada bawahan secara relative utuh.
Masing-masing gaya manajemen tersebut mempunyai perbedaan yang luas
dan semuanya mencerminkan filosofi serta pendekatan manajemen terhadap para
manajer. Menggunakan suatu pendekatan audit yang konflik dengan filosofi
manajemen dari manajemen pihak yang diaudit akan menyebabkan audit menjadi
tidak populer dan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam perolehan bantuan serta
kerja sama secara sukarela.
Dari empat gaya tersebut, gaya pertama dan gaya keempat merupakan
gaya yang terpenting. Pada gaya pertama, aturan-aturan manajemen dipatuhi
secara ketat, disini auditor seharusnya mencoba untuk bekerja sama dengan
seluruh manajemen dalam proses audit sehingga dapat meyakinkan pihak
manajeman dan auditor sebaiknya tidak membuat ikatan-ikatan dengan staf tanpa
persetujuan manajemen. Tetapi hal ini membuat auditor kesulitan untuk
memperoleh informasi maupun Akses terhadap informasi, sehingga harus diambil

1
0

langkah lain. Auditor seharusnya bekerja sama dengan seluruh manajemen dalam
proses audit. Hubungan yang akrab dan berulang dapat meyakinkan pihak
manajemen bahwa auditor berada di pihak mereka. Oleh karena itu, kejujuran
dalam berdiskusi dapat meyakinkan manajemen bahwatujuan audit adalah
untuk mengembangkan desain guna membantu memperbaiki operasi. Selain itu
dibutuhkan suatu pola perilaku audit yang dapat mewujudkan hubungan dengan
manajemen karyawan yang bergaya pelatih.
Sebagaimana

dengan

gaya

mendelegasikan.

Auditor

seharusnya

mengambil pendekatan bahwa mereka merupakan bagian dari tim manajemen
dan bertindak sebagai rekan kerja atau konsultan. Bila audit dilakukan
menggunakan pendekatan audit tradisional, maka auditor akan mempercayai atau
mau

membantu

audit

tersebut

secara

penuh.

Auditor

sebaiknya

memilih pendekatan yang membuatnya dapat berhubungan dengan kelompok
pihak yang diaudit.
Perubahan Manajemen
Salah satu masalah terbesar yang dimilik auditor adalah “menjual” perubahanperubahan yang akan dijalankan melalui implementasi dan temuan audit. Ilmu
sosial telah mengidentifikasikan sejumlah alasan mengapa orang tidak
menginginkan perubahan metode operasi mereka. Namun terdapat tiga hal yang
mungkin merupakan faktor terpenting yang menimbulkan keengganan untuk
melakukaan perubahan :
 Ketakutan terhadap apa yang tidak diketahui, yaitu apa yang akan dibawa
oleh perubahan tersebut
 Aspek birokrasi dari kenyataan perubahan, baik secara horizontal maupun
vertikal
 Aspek ego, bahwa dengan adanya perubahan maka metode sekarang
dianggap tidak efisien atau tidak layak.

1
1

Oleh sebab itu auditor diharapkan mengambil tindakan pasti untuk
menghilangkan ketakutan atau pantangan dari pihak yang diaudit.
Dalam kasus ketakutan dari ketidaktahuan, auditor seharusnya berhati-hati dalam
menelaah kemungkinan dari pihak yang diaudit untuk menghasilkan perubahan,
baik berdampak bagus, maupun tidak begitu bagus. Pihak yang diaudit seharusnya
diberitahu mengenai metodologi atau penyelesaian yang dapat digunakan dan
secara efektif menasehati mencari tahu mengenai metode-metode yang
direkomondasikan , terkait masalah ini beberapa pendekatan yang dapat diambil
adalah :
 Auditor internal seharusnya melihat perubahan audit dengan cara
pandang manajer
 Konsep auditor terhadap pengendalian seharusnya sejauh mungkin,
menyerupai konsep-konsep manajemen
 Auditor seharusnya mengutamakan suatu pendekatan partisipatif
 Auditor seharusnya menjadi suatu audit yang seimbang, tidak sebagai
suatu yang menghakimi
 Auditor seharusnya melengkapi kegagalan dari suatu pendekatan
manajemen
 Auditor internal seharusnya mencoba untuk bertindak sebagai seorang
penasihat dan bukan sebagai seorang pengambil kebijakan

PENGELOLAAN KONFLIK
Konflik adalah suatu karakteristik yang kerap kali terjadi pada proses audit
(Chambers at al., 1987). Konflik sering kali membantu pencapaian tujuan audit,
tetapi jika tidak ditangani lebih awal, maka konflik akan menjadi lebih tajam dan
luas. Konflik dapat terjaadi dalam hal – hal seperti berikut :
1. Lingkup seperti terhadap manajemen.
2. Tujuan sebagaimana terhadap auditor eksternal.

1
2

3. Tanggung jawab seperti layanan manajemen.
4. Nilai dominasi atau persepsi terhadap peran audit dari kacamata pihak
yang diaudit.

Dalam bidang akuntansi, konflik dapat terjadi antara auditor yang cenderung
mempertahankan profesionalismenya dan pihak yang diaudit yang cenderung
mempertahankan lembaga atau keinginannya. Dapat disimpulkan bahwa ketika
seorang auditor bekerja pada suatu lembaga bisnis professional, yang dikelilingi
oleh suatu birokrasi,konflik dan hilangnya nilai nilai serta norma norma
profesional akan muncul.
Di pihak lain, sikap dan keyakinan yang berkaitan dengan lingkungan anggota
seprofesi seringkali dibentuk oleh kondisi birokrasi.oleh karena itu, sikap yang
dimunculkan oleh satu / beberapa orang professional yang mempertahankan nilainilai profesionalismenya akan cenderung menjadi pemicu konflik.
Aranya dan Ferris (1984) telah melakukan survey terhadap auditor dan dapat
kesimpulan menyatakan bahwa :
 Konflik yang terjadi pada organisasi profesi akuntan lebih tinggi dibandin
gkan dengankonflik yang terjadi pada akuntan yang bekerja dilingkungan
organisasi bisnis bukan profesi.
 Dalam organisasi professional, tingkat konflik yang diterima berbanding te
rbalik dengan posisi individu dalam suatu birokrasi.
 Persepsi konflik berhubungan secara negative dengan kepuasan kerja dan
berhubungansecara positif dengan kecenderungan untuk berpindah kerja.
Konflik akan muncul ketika di dalam organisasi bisnis profesional terdapat
sebagian orangyang memegang teguh nilai- nilai profesionalismenya,
sementara

sebagian

lainnya

tidak bahkan

menghilangkan nilai- nilai tersebut

1
3

cenderung

untuk

Ada empat metode khusus yang secara umum digunakan untuk menyelesaikan
konflik yaitu Arbitrasi, Mediasi, Kompromi dan Langsung. Keempat metode
tersebut mencoba untuk mencapai suatu posisi yang dianggap adalah yang terbaik
bagi organisasi
 Arbitasi, Pada metode ini ketika terjadi suatu konflik muncullah
kelompok ke tiga yang menjadi suatu harapan penyelesaian konflik dalam
organisasi tersebut. Hanya saja banyak pilihan yang tidak menggunakan
metode ini karena masalah biaya yang dianggap mahal.
 Mediasi, Metode terbaik lainnya yaitu mediasi. Mediasi merupakan jenis
metode

kompromi

dengan

pengecualian

bahwa

mediasi

yang

menggunakan sseorang juri cenderung memegang teguh kepentingankepentingan organisasi.
 Kompromi, Metode yang terbaik dan paling sering digunakan dalam
pendekatan keperilakuan adalah metode kompromi, jika perbedaan masih
dapat di kompromikan.
 Langsung

MASALAH-MASALAH HUBUNGAN
Brink dan Witt (1982) mempunyai daftar konsep yang akan membantu untuk
memperlakukan orang dengan lebih baik. Konsep-konsep tersebut adalah:
 Terdapat variasi umum dalam kemampuan dan sifat-sifat dasar individu,
oleh sebab ituauditor seharusnya mempertimbangkannya dalam kaitannya
dengan karyawan pihak yangdiaudit.

1
4

 Keberagaman perasaan-perasaan dan emosi, sehingga auditor seharusnya
mengidentifikasikeberagaman perasaan dan mencoba menangani hal
tersebut secara efektif.
 Keberagaman persepsi. Staf pihak yang diaudit tidak memandang dengan
cara yang samaseperti yang dilakukan oleh staf audit.
 Ukuran kelompok pihak yang diaudit dapat berpengaruh pada hubungan.
Auditordiharuskan untuk memodifikasi pendekatan secara teknis ketika
menghadapi kelompok yanglebih luas.
 Pengaruh dari berbagi situasi operasi sebagai suatu variasi akhir. Setiap
perubahan situasimempengaruhi perasaan dan tindakan seseorang, auditor
seharusnya memasuki variasi ini kedalam pertimbangannya pada
hubungan interpersona
KARAKTERISTIK UMUM INDIVIDU
Brink dan Witt (1982) juga telah membuat suatu daftar mengenai karakteristik
kelompok individu dari orang-orang yang berada dalam berbagai tingkatan.
Auditor seharusnya mempertimbangkan hal tersebut karena hal itu berpengaruh
terhadap kepribadian, sikap, dan aktivitas. Pengetahuan dan pertimbangan atas
perbedaan ini dapat membantu untuk memastikan hubungan yang lebih harmonis.
Sifat yang muncul pada berbagai tingkatan dalam setiap individu dari pihak yang
diaudit,meliputi:
 Menjadi produktif, sibuk pada pekerjaan-pekerjaan yang bermakna.


Mempunyai dorongan ke arah dedikasi terhadap suatu usaha yang
dianggap penting.

 Mempunyai keinginan untuk melayani dan memberikan bantuan
kepada individu lain.
 Bebas untuk memilih guna mendapatkan independensi dan kebebasan
pilihan.
 Memiliki sifat yang adil dan jujur.

1
5

 Memiliki bias pada diri sendiri, tercermin pada sikap yang lebih suka
dipuji dibandingkan dengan dikritik.
 Mencari kepuasan diri sendiri.
 Memiliki nilai untuk mendapatkan imbalan atas usaha-usahanya.
 Bersikap seperti orang-orang yang patuh dan dapat beradaptasi secara
baik.
 Menjadi bagian dari tim yang sukses.
 Memiliki rasa haru atas bencana yang menimpa orang lain.
 Memiliki keterkaitan pada pemaksimalan kepuasan diri sendiri.
 Lebih cenderung untuk sensitif dibandingkan dengan membantu
orang.
KESADARAN PADA DIRI SENDIRI
Dalam suatu situasi dimana banyak hubungan interpersonal, hal terpenting
adalah untuk menyadari dan memegang teguh keseimbangan serta untuk
memandang diri sendiri sebagaimana orang lain memandangnya (Ratcliff et al.,
1988). Elemen-elemen utama tersebut adalah:
 Adanya pengetahuan terhadap kekuatan dan kelemahan orang lain dalam
hubungan secaramental, fisik, emosional, dan karakteristik pribadi.
 Rasa memiliki terhadap produktivitas dan kepuasan kelompok kerja.
 Kesadaran terhadap perintah dasar dalam lingkungan relatif yang dimiliki
seseorang, dimana orang tersebut harus menyesuaikan diri dengan
kelompok organisasi yang luas.
 Suatu keinginan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan orang lain.
 Suatu perasaan memiliki atas produktivitas yang didasarkan pada ego
seseorang.
 Suatu perasaan keterpaduan yang berasal dari kepercayaan bahwa
seseorang berpartisipasi dalam suatu lingkungan secara etis.

1
6

KOMUNIKASI SECARA EFEKTIF
Komunikasi ini terdiri atas wawancara, musyawarah, laporan lisan,
laporan tertulis. Perintah seorang auditor dengan menggunakan komunikasi yang
efektif merupakan cara yang positif untuk menciptakan lingkungan yang harmonis
dalam menjalankan audit.
Terdapat unsur-unsur yang dipresentasikan baik secara lisan maupun tulisan yang
dipertimbangkan untuk memiliki hubungan perilaku yang baik unsur tersebut
adalah :
 Jangan bicara atau menulis dalam bentuk langsung sebab auditor bukanlah
bagian dari manajemen.
 Jangan menggunakan istilah-istilah yang berimplikasi pada kesalahankesalahan dari pihak yang diaudit.
 Jangan menjadikan pihak yang diaudit sebagai pokok bahasan baik secara
verbal maupun tertulis.
 Ketika memberikan saran pertimbangkan sifat ego pihak yang diaudit
sebab hal ini berimplikasi kepadaanggapan mereka .
 Mengijinkan pihak yang diaudit untuk melakukan perubahan dalam bahasa
laporan sepanjang tidak mengubah subtansinya.
 Jangan berargumen atau berkomentar mengenai moralitas, karena auditor
mencari fakta dan tidak bertindak sebgai seorang penasihat yang
berhungan dengan moral.
 Menjaga laporan dan memberikan keadilan.
 Mengaitkan dengan kondisi lingkungan ketika mencari penyebab dari
temuanya.

1
7

 Mengizinkan paihak yang diaudit sepanjang proses penyusunan laporan
untuk mengungkapkan pendapat
 Sopan dengan seluruh tingkatan staff pihak yang diaudit dan menyambut
manajemen pihak yang diaudit dengan rasa hormat.
 Melakukan pertemuan dan wawancara dikantor pihak yang diaudit.
 Mempertimbangkan kemungkinaN tekanan yang muncul dalam diri pihak
yang diaudit.

MENGHADAPI BANYAKNYA OPOSISI

Terdapat tiga jenis pokok dari banyaknya oposisi:
 Suatu indikasi yg menunjukkan kurang pentingnya audit.
 Pihak yg diaudit bertindak dalam suatu gaya konfrontasional.
 Pihak yg diaudit menolak untuk mengambil berbagai tindakan selama atau
secara audit.

PELAKSANAAN AUDIT PARTISIPATIF

Audit Partisipatif , yaitu proses yang melibatkan bantuan klien dalam
mengumpulkan data, mengevaluasi operasi, dan mengoreksi masalah. Jadi audit
ini merupakan kemitraan untuk menyelesaikan masalah, sehingga terkadang
disebut audit kemitraan. Selain masalah perilaku pihak yang diaudit, auditor
internal juga perlu memahami budaya organisasi. Porter et al. (1985) mengatakan
bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku auditor. Elemenelemen keperilakuan dalan audit partisipasi antara lain adalah :

1
8

 Pada awal audit, tanyakan pada pihak yang diaudit bidang mana yang akan
diaudit.
 Bangun suatu pendekatan kerja sama dengan staf pihak yang diaudit dalam
menilai pemrograman dan pelaksanaan audit.
 Peroleh persetujuan dan rekomendasi untuk tindakan koreksi.
 Dapatkan persetujuan atas isi laporan.
 Memasukkan informasi nyata pada laporan audit. Partisipasi didalam audit
membantu memecahkan berbagai permasalahan dan mengordinasikan
tindakan korektif.Seluruh keberhasilan diatas tergantung pada kredibilitas
auditor atas kekejujuran

BAB III
JURNAL
Berikut saya sajikan sebuah Jurnal terkait dengan materi pembahasan
makalah saya yaitu “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, EFEKTIVITAS
PENGAMBILAN KEPUTUSAN. DAN PEMBERIAN KOMPENSASI INSETIF
TERHADAP
SWALAYAN

KINERJA
DI

KARYAWAN

TANJUNG

BAGIAN

PINANG”

KEUANGAN

OLEH

Meza

PADA

Rolasmana

(090462201216) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Maritim Raja
Ali Haji Tanjung Pinang 2013

1
9

BAB IV
ANALISIS MENURUT PANDANGAN SAYA
Dari hasil pembahasan materi ini, saya menyimpulkan bahwa keputusan
audit merupakan salah satu bidang kajian Akuntansi. Dalam audit tidak hanya
dibicarakan tentang teknik-teknik audit tetapi juga bagaimana auditor mengambil
kebijakan untuk menentukan suatu fakta. Seringkali pertimbangan-pertimbangan
yang diambil oleh auditor menjadi penentu dalam memutuskan suatu masalah,
terutama dalam hal menentukan pendapat. Untuk itu sikap, persepsi dan perilaku
menjadi acuan dalam pembahsan mengenai pertimbangan seorang auditor, baik
auditor internal, maupun auditor eksternal. Dan juga dalam berbisnis tidak dapat
dilepaskan dengan aspek keperilakuan. Yang nantinya aspek inilah yang akan

2
0

dijadikan sebuah pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Berbicara
mengenai audit berarti masih dalam lingkup ruang lingkup bisnis. Oleh karena itu,
kembali lagi pada aspek yang tadi yaitu perilaku manusia. Pengauditan adalah
suatu kegiatan yang penting. Setiap organisasi atau perusahaan selayaknya secara
suka rela melakukan audit untuk memberikan umpan balik atas kinerja yang telah
dilakukan. Audit dilakukan oleh auditor yang jati dirinya adalah seorang manusia.
Komputer atau malahan robot sekalipun bisa saja membantu proses pengauditan,
tetapi tetap saja manusia yang menentukan dalam memberikan pertimbangan dan
pengambilan keputusan. Manusia dengan segala keterbatasannya akan menentukan
kualitas pertimbangan yang dihasilkan.

BAB V
KRITIK DAN SARAN
Alhamdulilah pertama-tama saya panjatkan syukur kepada Allah Swt,
karena akhirnya saya mampu menyelesaikan tugas akhir untuk mata kuliah
Akuntansi Keprilakuan ini
Komunikasi dan periaku yang baik sangat penting dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam berorganisasi karena dengan komunikasi kita mampu
menyampaikan suatu berita dan informasi kepada orang lain dan juga kita bisa
menyampaikan keingian kita terhadap orang lain Dan disini saya sebagai
mahasiswi di Universitas PGRI, awalnya saya tidak percaya diri ketika masuk
kuliah disini, tapi sudah dijalani ternyata kuliah di universitas PGRI Palembang

2
1

dosen-dosennya kompeten, fasilitasnya lumayan

bagus, tetapi sedikit saya

sarankan agar ruang kelas selalu dipantau kebersihannya, agar belajar jadi lebih
nyaman lagi (dalam hal ini saya hanya menilai ruangan fakultas ekonomi di
lantai 4) dan juga satu lagi yang sangat membosankan adalah sistem daftar
online untuk kursus Komputer, bahasa Asing, dan TOEFL, yang menurut saya
sangat tidak efektif pertama karena link nya susah sekali diakses, bisa dibilang
nasib-nasiban terkadang bisa dibuka tetapi lebih sering link nya tidak bisa
dibuka, hal ini menyebabkan mahasiswa kesulitan mendaftar padahal ketiganya
adalah wajib diikuti dan juga waktu pendaftarannya yang selalu berubah-ubah
bisa tengah malam, pagi dll. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan, terutama
bagi saya karena saya adalah mahasiswi sekaligus karyawan
Kepada adik-adik mahasiswa mahasiswi PGRI Palembang hendaknya
tidak perlu minder untuk kuliah di Universitas PGRI yang notabenenya PGRI
adalah perguruan tinggi swasta karena kita kuliah adalah untuk menuntut ilmu
dan jangan pernah berfikir kuliah hanya sekedar untuk mencari ijazah. Kuliah
dengan keinginan benar-benar karena ingin mencari ilmu dipastikan lebih
barokah dan insyaAllah ilmu yang kita dapatkan akan berguna untuk diri kita
sendiri dan orang lain. Apalagi sudah diumumkan bahwa Fakultas Ekonomi
universitas kita Akreditasinya sekarang adalah B, jadi kita jangan malu, karena
kita bisa membuktikan bahwa kita adalah sarjana yang berkualitas dan siap
pakai, ingatlah dimanapun kuliahnya sebenarnya kalau belajar sunguh-sungguh
kita juga bisa kok mengalahkan orang yang kuliah di kampus keren sekalipun.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada dosen-dosen di
Universitas PGRI yang telah membagi ilmunya kepada saya semoga ilmu yang
saya peroleh bisa berguna kelak untuk masa depan saya. Amin Dan juga kepada
teman-teman seperjuangan khususnya kelas A angkatan 2012 Akuntansi terima
kasih untuk kenang-kenangan Pahit dan manisnya yang tak terlupakan di kelas

2
2

semoga pertemanan kita semua selalu mengarah kepada kebaikan dan tetap
saling membantu ketika kita telah menjadi alumni nanti.

DAFTAR PUSTAKA
Ikhsan, Arfan, Muhamad Ishak, 2005. Akuntansi Keperilakuan, Salemba Empat ,
Jakarta.
http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/Meza-Rolasmana090462201216.pdf
Rolasmana, Meza. 2013. “Pengaruh gaya kepemimpinan, efektivitas pengambilan
keputusan, dan pemberian kompensasi insentif terhadap kinerja karyawan bagian
keuangan pada swalayan di tanjung pinang”.

Skripsi Fakultas Ekonomi

Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjung Pinang. Kepulauan Riau

2
3

Judul: Akuntansi Keprilakuan

Oleh: Risa Tania


Ikuti kami