Akuntansi Keprilakuan

Oleh Kemala Hayati

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keprilakuan

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Mulai dari zaman prasejarah telah menunjukan bahwa manusia di
zaman itu telah mengenal hitung-menghitung meskipun dalam bentuk yang
sangat sederhana. Dengan semakin majunya peradaban manusia menyebabkan
pentingnya pencatatan, pengikhtisaran dan pelaporan sebagai bagian dari
proses transaksi. Sehingga akuntansi sebagai hasil dari proses transaksi telah
mengalami metamorfosis yang panjang untuk menjadi bentuk yang modern
seperti saat ini.
Akuntansi merupakan suatu system untuk menghasilkan informasi
keuangan yang digunakan oleh para pemakainya dalam pengambilan
keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam
menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu pula dengan
kemajuan dalam teknologi computer akuntasi yang memungkinkan informasi
dapat tersedia dengan cepat. Tetapi seberapa canggihpun prosedur akuntansi
yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah
merupakan tujuan akhir. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan
petunjuk untuk memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan
sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Namun
pemilihan dan penetapan keputusan tersebut melibatkan berbagai aspek
termasuk perilaku dari para pengambil keputusan. Dengan demikian akuntansi
tidak dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi
akan informasi akuntansi.
Kesempurnaan tehnis tidak pernah mampu mencegah orang untuk
mengetahui bahwa tujuan jasa akuntansi bukan hanya sekedar tehnik yang
didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan
bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang di dalam organisasi.

1

B. TUJUAN PENULISAN
1. Pentingnya mempertimbangkan perilaku pada akuntansi
2. Memahami persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku akuntansi
3. Mengetahui lingkup dan sasaran hasil dari akuntansi perilaku.

2

PEMBAHASAN

A. DEFINISI AKUNTANSI KEPRILAKUAN
Akuntansi

keprilakuan

menjelaskan

bagaimana

perilaku

manusia

mempengaruhi data akuntansi dan keputusan bisnis serta bagaimana
mempengaruhi keputusan bisnis dan perilaku manusia.
B. PERKEMBANGAN SEJARAH AKUNTANSI KEPRILAKUAN
Riset akuntansi keprilakuan merupakan suatu bidang baru yang
secara luan berhubungan dengan perilaku individu, kelompok dan organisasi
bisnis, terutama yang berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan
audit. Riset akuntansi keprilakuan merupakan suatu fenomena baru yang
sebetulnya dapat ditelusuri kembali pada awal tahun 1960-an, walaupun
sebetulnya dalam banyak hal riset tersebut dapat dilakukan lebih awal.
Sejarah akuntansi telah dimulai dari tahun 1749 dimana Luca Pacioli
telah membahas mengenai system pembukuan berpasangan. Kemudian pada
tahun 1951, Controllership Foundation of America memsponsori suatu riset
untuk menyelidiki dampak anggaran terhadap manusia. Pada tahun 1960,
Steadry menggali

pengaruh anggaran motivasional dengan menggunakan

suatu eksperimen analog. Riset-riset ini terus berkembang sampai dengan saat
ini.
C. PENTINGNYA

MEMPERTIMBANGKAN

KEPRILAKUAN

PADA

AKUNTANSI
Akuntasi bukanlah sesuatu yang statis, tetapi akan selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan akuntansi serta
kebutuhan organisasi akan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya
( Khomisah dalam Arfan & Ishak, 2005 ). Berdasarkan pemikiran tersebut,
manusia dan factor sosial secara jelas didesain dalam aspek-aspek operasional
utama dari seluruh system akuntansi. Dan para akuntan secara berkelanjutan

3

membuat beberapa asumsi mengenai bagaimana mereka membuat orang
termotivasi, bagaimana mereka menginterpretasikan dan menggunakan
informasi akuntansi, dan bagaimana system akuntansi merska sesuai dengan
kenyataan manusia dan mempengaruhi organisasi. Penjelasan diatas
menunjukan adanya aspek keprilakuan pada akuntansi, baik dari pihak
pelaksana (penyusun informasi) maupun dari pihak pemakai infomasi
akuntansi.
Pihak pelaksana (penyusun informasi akuntansi) adalah seseorang
atau kumpulan orang yang mengoperasikan system informasi aduntansi dari
awal sampai terwujudnya laporan keuangan. Pengertian ini menjelaskan
bahwa pelaksana memainkan peranan penting dalam menopang kegiatan
organisasi. Dikatakan penting sebab hasil kerjanya dapat memberikan manfaat
bagi kemajuan organisasi dalam bentuk peningkatan kinerja melalui motivasi
kerja dalam wujud penetapan standard-standar kerja. Standar-standar kerja
tersebut dapat dihasilkan dari system akuntansi. Dpat diperkirakan apa yang
akan terjadi ketika pelaksana system informasi akuntansi tidak memahami dan
memiliki kerja yang diharapkan. Bukan saja laporan yang dihasilkan tidak
handal dalam pengambilan keputusa, tetapi juga sangat berpotensi untuk
menjadi bias dalam memberikan evaluasi kinerja unit maupun individu dalam
organisasi. Untuk iti motivasi dan perilaku dari pelaksana menjadi aspek
penting dari suatu system informasi akuntansi.
Di sisi lain, pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu :
1. Pihak intern ( manajemen )
2. Pihak ekstern ( pemerintah, investor,/calon investor, keditur/calon
kreditur,dan lain sebagainya )
Bagi pihak intern, informasi akuntansi akan digunakan untuk motivasi dan
penilaian kinrja. Sedangkan bagi pihak ekstern, akan digunakan untuk
penilaian kinerja sekaligus sebagai dasar dalam pengambilan keputusan
bisnis.Disamping itu pihak ekstern, juga perlu mendiskusikan berbagai hal
terkait dengan informasi yang disediakan sebab mereka mempunyai suatu

4

rangkaian perilaku yang dapat mempengaruhi tindakan pengambilan
keputusan bisnisnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa riset akuntansi mulai
mencoba menghubungkan dan menganggap penting untuk memasukkan aspek
keprilakuan dalam akuntansi. Sejak meningkatnya orang yang sudah
memberikan pengakuan terhadap beberapa aspek perilaku dari akuntansi,
terdapat suatu kecenderungan untuk memandang secara lebih luas terhadap
bagian akuntansi yang lebih substansial. Perspektif perilaku menurut
pandangan ini telah dipenuhi dengan baik sehingga membuat system
akuntansi yang lebih dapat dicerna dan lebih bias diterima oleh para
manajer/pimpinan dan karyawannya. Pelayanan akuntansi mungkin juga telah
sampai pada puncak permasalahan yang rumit dan gagasan akuntansi dapat
muncul dari beberapa nilai yang ada. Tetapi pertimbangan perilaku dan sosial
tidak berarti mengubah dari tugas akuntansi secara radikal. Namun mulai
mengembangkan perspektif dalam mendekati beberapa pengertian yang
mendalam mengenai pemahaman atas perilaku manusia pada organisasi.
D. PERSYARATAN PELAPORAN DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU
AKUNTANSI
Perkembangan organisasi bisnis saat ini penuh dengan persyaratan
untuk melaporkan informasi kepada pihak lain tentang siapa atau apa,
bagaimana menjalankan organisasi, dan untuk siapa harus bertanggungjawab.
Hal ini pada umumnya disebut sebagai “ persyaratan “ pelaporan, meskipun
beberapa diantaranya mungkin tidak dapat dipaksakan. Intisari dari proses
akuntansi adalah komunikasi atas informasi yang implikasi keuangan atau
manajemen. Kaena pengumpulan atau pelaporan informasi mengkonsumsi
sumber daya, biasanya hal tersebut tidak dilakukan secara sukarela kecuali
pembuat informasi yakin bahwa hal ini akan mempengaruhi penerima untuk
berperilaku sebagaimana yang diinginkan oleh pelapor/pembuat.
Persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku dalam beberapa
cara, diantaranya adalah :

5

1. Antisipasi penggunaan informasi
Persyaratan pelaporan kemungkinan besar akan mempengaruhi perilaku
pembuat ketika informasi yang dilaporkan merupakan deskripsi mengenai
perilaku pembuat itu sendiri, atau untuk mana pembuat tersebut akan
bertanggung jawab. Semakin informasi yang dilaporkan mencerminkan
sesuatu yang dapat dikendalikan oleh pembuat, maka akan semakin besar
kemungkinan bahwa perilaku pembuat akan dimodivikasi. Pembuat dapat
merasa cukup pasti bahwa perubahan dalam perilaku akan mengarah pada
perubahan yang diinginkan dalam informasi yang dilaporkan.
2. Prediksi pengirim mengenai pengguna informasi
Kadang kala penerima menyatakan secara jelas bagaimana mereka
menginginkan pembuat laporan berperilaku, meskipun sulit untuk dicapai
secara simultan seperti : laba jangka pendek yang tinggi, pertumbuhan
jangka panjang, atau citra public yang baik. Apabila pembuat laporan
bertanggung jawab kepada penerima maka ia akan berperilaku dalam caracara yang menyenangkan mengenai apa yang harus dilaporkan, mengenai
tindakan dan hasil yang manakah yang penting bagi penerima. Namun
ketika orang tidak merasa pasti mengenai bagaimana informasi tersebut
akan digunakan, maka pembuat laporan memiliki pekerjaan sulit untuk
meprediksi kapan dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
Kemungkinan besar akan mendasarkan pada prediksi sesuai dalam situasi
yang serupa dalam pengalamannya atau bagaimana mereka akan
menggunakannya jika berada pada penerima informasi tersebut.
3. Insentif/sanksi
Kekuatan dan sifat dari penerima terhadap pembuat laporan adalah
penentu yang penting dalam mengubah perilakunya. Semakin besar
potensi yang ada untuk menberikan penghargaan atau sanksi semakin hatihati pembuat laporan akan bertindak dan memastikan bahwa informasi
yang dilaporkan dapat diterima. Misalnya saja, mahasiswa kemungkinan
besar akan mengerjakan tugasnya ketika tugas tersebut dikumpulkan dan

6

diberi nilai dibandingkan jika tidak, meskipun manfaat pembelajaran
dalam kedua kasus tersebut adalah sama.
4. Penentuan waktu
Waktu adalah factor penting dalam menentukan apakah persyaratan
pelaporan akan menyebabkan perubahan dalam perilaku pembuat laporan
atau tidak. Supaya persyaratan pelaporan dapat menyebabkan perubahan
perilakunya, ia harus mengetahui persyaratan tersebut sebelum ia
bertindak. Sehingga jika persyaratan pelaporan yang sebelumnya
dikenakan setelah perilaku yang dilaporkan, maka akan dapat diketahui
pada pembuatan laporan berikutnya.
5. Pengarah perhatian
Suatu persyaratan pelaporan dapat menyebabkan pembuat mengubah
perilakunya. Hal itu kemungkinan informasi memiliki suatu cara untuk
mengarahkan perhatian pada bidang-bidang yang berkaitan dengannya,
yang dapat mengarah pada perbahan perilaku.
E. LINGKUP DAN SASARAN HASIL DARI AKUNTANSI KEPRILAKUAN
Pada masa lau para akuntan semata-mata focus pada pengukuran
pendapatan dan biaya yang mempelajari pencapaian kinerja perusahaan di
masa lalu guna memprediksi masa depan. Meraka mengabaikan fakta bahwa
kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari perilaku manusia dan kinerja
masa lalu itu sendiri merupakan suatu factor yang akan mempengaruhi
perilaku di masa depan.. Mereka melewatkan fakta bahwa arti pengendalian
secara penuh dari suatu organisasi harus diawali dengan memotivasi dan
mengendalikan perilaku, tujuan, serta cita-cita individu yang saling
berhubungan dalam organisasi.
F. PERSAMAAN

DAN

PERBEDAAN

ILMU

KEPRILAKUAN

DAN

AKUNTANSI KEPRILAKUAN
Ilmu keprilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi
keprilakuan

manusia.

Akuntansi

keprilakuan

7

menghubungkan

antara

keprilakuan manusia denagn akuntasi. Ilmu keprilakuan merupakan bagian
dari ilmu social, sedangkan akuntansi keprilakuan merupakan bagian dari ilmu
akuntansi dan pengetahuan keprilakuan. Namun ilmu keprilakuan dan
akuntansi keprilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi dan
psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi.
Prinsip sosiologi dan psikologi menjadi kontribusi utama dari ilmu
keprilakuan dengan melakukan pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan
perilaku manusia, walaupun secara keseluruhan mereka memiliki perspektif
yang berbeda mengenai kondisi manusia. Psikologi terutama merasa tertarik
dengan bagaimana cara individu bertindak. Keutamaam psikologi didasarkan
pada seseorang sebagai suatu organisasi. Di pihak lain sosiologi dan psikologi
memusatkan perhatian pada perilaku kelompok sosial.Penekanan keduanya
adalah pada interaksi antara orang-orang dan bukan pada rangsangan fisik.

8

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1. Akuntansi

dibangun

dengan

menggunakan

konsep,

prinsip,

dan

pendekatan dari disiplin ilmu lain untuk meningkatkan kegunaannya.
2.

Akuntansi tidak dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta
kebutuhan organisasi akan informasi akuntansi.

3.

Kesempurnaan teknis dari jasa akuntansi bukan hanya sekedar teknik
yang didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi,
melainkan bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang di dalam
organisasi, baik sebagai pelaksana (penyusun informasi) maupun sebagai
pemakai informasi.

4.

Persyaratan pelaporan akuntansi akan mempengaruhi perilaku dari
berbagai factor, baik karena adanya antisipasi pengguna informasi,
prediksi penggunaan informasi, insentif/sanksi, penentuan waktu maupun
pengarahan perhatian dari pihak yang menggunakan informasi tersebut
(penerima).

9

REFERENSI
1.

www.google.com

2.

Artikel

10

Judul: Akuntansi Keprilakuan

Oleh: Kemala Hayati


Ikuti kami