Akuntansi Keperilakuan

Oleh Nengsih P

27 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keperilakuan

NAMA : NENGSIH PENDONG
KELAS : AK.B
STAMBUK : 4516013046
MATERI 2
A. Pengertian Groupthink
Groupthink adalah suatu pola pikir yang cenderung mementingkan
kohesivitas kelompok dan solidaritas daripada mempertimbangkan fakta-fakta
secara realistis.
B. Model teoritis dari groupthink
1. Esensi Teori
Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi
kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara
mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh
Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia
memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori
yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku
kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:
a. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
b. Struktural internal hubungan antar anggota
c. Sifat keanggotaan kelompok.
Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji
beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang
dibuat kelompok.
Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat
suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik.
Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West
(2008: 276) adalah:
a. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mekmpromosikan
kohesivitas tinggi.
b. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang
menyatu

c. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali
bersifat kompleks
Defenisi dari Michael Burgoon memiliki empat elemen dalam sebuah
komunikasi organisasi :
1. Adanya interaksi tatap muka. Setiap komunikasi yang terjadi dalam
kelompok mensyaratkan adanya interaksi secara tatap muka. Hal ini
berarti setiap anggota kelompok dapat melihat dan
anggota

kelompok

secara

langsung.

Proses

mendengar

pengiriman

dan

penerimaan pesan komunikasi berlansung secara tatap muka.
Misalnya: komunikasi antara anggota kelompok saat berlangsung
rapat. Setiap anggota dapat berperan sebagai penerima atau pengirim
pesan kepada anggota lainnya. Ada saatnya anggota akan mengajukan
pertanyaan ( sebagai pengirim pesan ). Adapula saatnya anggota hanya
mendengarkan pesan dari temannya yang lain ( penerima pesan ).
2. Selain tatap muka komunikasi kelompok melibatkan sejumlah
partisipan ( anggota ) kelompok. Jumlah anggota yang terlibat berkisar
antara 3 sampai 20 orang. Semakin banyak jumlah anggota yang
terlibat maka komunikasi yang terbina berjalan kurang efektif. Jumlah
anggota yang tidak banyak, memungkinkan pesan dapat dikirim dan
diterima dengan baik oleh seluruh anggota kelompok. Proses
penyampaian dan penerimaan pesan menjadi semakin efektif.
3. Faktor selanjutnya adalah adanya maksud dan tujuan yang
dikehendaki oleh kelompok. Sebuah kelompok dibentuk seharusnya
memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Hal ini membawa kejelasan
dalam membentuk identitas kelompok. Tujuannya jelas akan
mendorong semua anggota kelompok mencapainya dengan usaha
keras. Kelompok panitia reuni akan mendapat kejelasan mewujudkan
pesta reuni yang berkesan, apabila tertera maksud dan tujuannya.
4. Kemampuan anggota untuk menumbuhkan karakteristik pribadi
anggota lainnya merupakan factor terakhir dari pengertian Burgoon.
Hal ini mengandung pengertian bahwa di dalam komunikasi kelompok
setiap anggota berhubungan satu sama lain. Hubungan semacam ini
membuat sesame anggota dapat saling mengenal dengan baik satu
sama lainnya. Perkenalan yang mendalam diantara anggota akan
menumbuhkan ikatan yang kuat serta komunikasi yang intensif

C. Cara mencegah Groupthink
1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
 meningkatkan open inquiry
 kepemimpinan yang efektif
 multiple group → subgroup
2. Mengoreksi mispersepsi dan error
 a. mengakui keterbatasan
 b. empati
 c. pertemuan ‘kesempatan kedua’
3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif


kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi
yang mungkin terbaik



kelompok harus mencari alternatif solusi dengan membuat
daftar



evaluasi sistematik terhadap alternatif-alternatif pada
tahap-tahap hasil (consensus)



mengubah konsensus menjadi keputusan



mematuhi keputusan yang diambil

D. kurangnya pertimbangan groupthink dalam literatur pendidikan akuntansi
Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di
bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang
menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi
pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang
menjadi penyebabnya yaitu:
a.

efektifitas,

b.

efisiensi dan

c.

standardisasi pengajaran

Selama ini sekolah hanya memiliki laporan-laporan dan surat-surat
pertanggungjawaban sebagai bentuk transparansi pengelolaan keuangan
sekolah. Saat ini, sekolah diharapkan memiliki laporan pertanggungjawaban,
termasuk laporan keuangan sekolah yang terdiri dari neraca, laporan surplus
defisit, laporan arus kas, serta perhitungan biaya yang dihabiskan oleh tiap
siswa. Jadi, pemerintah maupun masyarakat dapat mengetahui dengan mudah
berapa besar kebutuhan tiap murid dalam setiap bulan, semester, atau

tahunnya. Sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan dan tindakan
terkait dengan pembangunan sektor pendidikan.
E. tantangan groupthink di tempat kerja
1) Peraturan Tempat Kerja Baca kontrak kerja baik-baik, dan dengarkan
‘wejangan’ dari departemen HRD di hari pertama masuk. Jika Anda
harus mengikuti sesi orientasi karyawan baru, perhatikan baik-baik
agar Anda tahu apa yang boleh dan tak boleh dilakukan di perusahaan
ini. Lupakan kebiasan-kebiasan di tempat kerja lama dan mulailah
belajar menyesuaikan diri sesuai peraturan tempat baru.
Penting juga untuk tidak membawa kebiasaan lama ke tempat kerja
baru. Misalnya bila tempat kerja baru mewajibkan Anda datang pukul
8.00 pagi, lebih pagi dari tempat kerja lama, maka jangan pelihara
kebiasaan lama Anda datang ke kantor pukul 9.00. Atau jika kantor
lama Anda cenderung lebih santai, sedangkan kantor baru tergolong
formal dari mulai pakaian hingga cara berinteraksi di kantor, mau tak
mau kini Anda harus menahan diri melakukan kebiasaan santai di
kantor lama.
2) Menghadapi Atasan Baru Anda beruntung jika pindah ke kantor baru
karena memang diajak bos Anda di tempat lama. Namun jika Anda
mendapat atasan yang sama sekali baru, Anda harus “belajar” dari
awal bagaimana karakteristik atasan Anda, hal-hal apa saja yang bisa
membuatnya marah atau senang, dan bagaimana cara yang tepat untuk
berkomunikasi dengannya (formal atau kasual).
Di hari pertama bekerja, baiknya Anda mengambil prinsip see and
learn alias lihat dan pelajari tingkah laku dan kinerja atasan, serta
bagaimana rekan kerja yang lain berinteraksi dengannya. Anda juga
bisa bertanya kepada kolega jika ada tips soal menghadapi bos.
3) Beban Pekerjaan
Bahkan jika Anda pindah ke perusahaan lain namun untuk bidang dan
jabatan yang sama, beban kerja Anda belum tentu sama dengan di
kantor lama. Ini berhubungan dengan industri apa yang dijalani
perusahaan tersebut, dan bagaimana sistem pembagian kerja di sana.
Anda bisa saja tiba-tiba kebagian setumpuk pekerjaan sejak hari
pertama, namun bukan tak mungkin juga Anda merasa makan gaji
buta meski sudah sekian minggu bekerja di sana.

Yang bisa Anda lakukan memastikan sedari awal apa saja job
description Anda, dan urusan apa saja yang di-handle oleh divisi
Anda. Kemudian sesuaikan manajemen waktu Anda agar bisa
menyelesaikan semua tugas tepat pada waktunya. Jika Anda justru
merasa tugas Anda terlalu sedikit, tanya pada kolega atau bahkan
divisi lain jika ada sesuatu yang bisa Anda bantu. Atau, cari ide untuk
suatu proyek yang bisa Anda ajukan pada atasan.
4) Menjalin Hubungan dengan Rekan baru
Banyak yang bilang bahwa menjalin hubungan dengan rekan kerja
baru merupakan tantangan yang paling sulit dihadapi karyawan baru.
Apalagi bagi karyawan introvert yang kurang nyaman berada di
lingkungan baru dengan orang-orang yang tak dikenal. Jika Anda tipe
orang seperti ini, jangan panik. Hapalkan nama teman-teman kerja
baru (setidaknya yang satu divisi dengan Anda) dan selalu terima
ajakan makan siang bersama meski Anda sudah membawa bekal. Sesi
makan siang bersama biasanya bisa jadi kesempatan bagi Anda dan
kolega baru untuk sama-sama saling mengenal.
5) Move On dari Kantor Lama
Tak semua orang meninggalkan kantor lama dengan perasaan negatif.
Banyak juga yang memilih pindah ke perusahaan baru karena tawaran
gaji lebih besar atau perusahaan lebih menjanjikan, meskipun dirinya
sudah merasa betah di kantor lama. Atau bisa juga kantor lama yang
Anda cintai sedang dalam masalah finansial dan harus melakukan
perampingan, bahkan gulung tikar, sehingga mau tak mau Anda harus
pindah ke perusahaan lain.
Bernostalgia memang sah-sah saja, namun jangan sampai ini membuat
Anda terus membandingkan kantor baru dengan kantor lama karena
efeknya negatif bagi semangat kerja Anda. Daripada berpikir, “Di
kantor ini tidak bisa begini-begitu seperti di kantor lama”, lebih baik
fokus kepada hal-hal positif yang Anda bisa dapatkan dari tempat
baru, dan bagaimana Anda bisa memaksimalkan peluang yang akan
hadir berkat pekerjaan baru ini.

Judul: Akuntansi Keperilakuan

Oleh: Nengsih P


Ikuti kami