Akuntansi Keperilakuan

Oleh Osea Uti

27 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keperilakuan

AKUNTANSI KEPERILAKUAN
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN
KONSUMEN PADA BISNIS JASA TRANSPORTASI GOJEK

PENGASUH I

PENGASUH II

( Dr : MUHAMAD YAMIINNOCH,SE.,M.SA )

( VICTOR PATTANSIAN,SE.,MSA.,AK.,ACP.,CA)

DISUSUN Oleh :
NAMA : OSEA UTI
NPM : 17 – 121 – 093

PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS YAPIS PAPUA (UNIYAP) JAYAPURA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

KATA PENGATAR

Pertama -Tama Penulis Mengucapkan Syukur Kehadirat AlLah Swt Yang Maha
Pengasih Dan Maha Penyayang Atas Segala Rahama Dan Karuniannya Sehingga Penulisan
Dapat Menyelesaikan Ini.
Terimakasih Yang Tak Terhingga Dan Penghargaan Yang Setinggi Tingginya Penulis
Ucapkaan Kepada Bapak Pengasuh I Dan II Selaku Pembibing Yang Telah Meluangkan
Waktunya Dan Perhatian Penuh Memberikan Bimbingan, Dorong Serta Saran Guna
Penyelesaikan Ini.
Penulisan Proposal Akuntansi Keperilakuan Dengan Judul’’ Pengaruh Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepuasa Konsumen Pada Bisnis Jasa Transportasi
Gojek ’’ Ini Tujuan Unutk Memenuhi Tugas Akhir Semester (UAS).
Dalam Penyusuna Proposal Ini. Penulismenyandari Sepenuhi Bahwa Proposal Masih
Jauh Dari Kesempurnaan Karena Penyalaman Dan Penyetahuan Penulisan Yang Terbatas.
Oleh Karena Itu , Krik Dan Saran Dari Semua Pihak Sangat Kami Harapkan Demi Ciptanya
Proposal Lebih Lagi Untuk Masa Mendatang.

Jayapura,16 mei 2020
Penulis

DAFTAR ISI
PERSETUJUAN... ............................................................................................... i
ABSTRAK ….….................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................................ 7
C. Rumusan Masalah ................................................................................... 7
D. Tujuan Penelitian .................................................................................... 8
E. Manfaat Penelitian .................................................................................. 8
BAB II KAJIAN TEORITIS
A. Jasa ......................................................................................................... 10
1. Pengertian Jasa .................................................................................. 10
2. Karakteristik Jasa .............................................................................. 10
3. Pemasaran Jasa.................................................................................. 11
B. Kualitas pelayanan ................................................................................. 12
1. Pengertian Kualitas ........................................................................... 12
2. Pengertian Kualitas Pelayanan .......................................................... 13
3. Kualitas Pelayanan Dalam Perspektif Islam ..................................... 14
4. Prinsip Kualitas Jasa ......................................................................... 16
5. Menentukan Kualitas Pelayanan Jasa ............................................... 19
C. Kepuasan konsumen .............................................................................. 26
1. Pengertian Kepuasan Konsumen ..................................................... 26
2. Konseptualisasi kepuasan pelanggan ............................................... 27
3. Konsep Kepuasan Pelanggan Dalam Perspektif Islam ................. 28
4. Pengukur kepuasan pelanggan ......................................................... 30
D. Kajian Terdahulu .................................................................................... 32
E. Kerangka Teoritis.................................................................................... 34

F. Hipotesa......................................................................................................................38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian.............................................................................................40
B. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................................40
C. Sumber Data..............................................................................................................40
D. Populasi dan Sampel...............................................................................................41
E. Definisi Operasional................................................................................................42
F. Tekhnik dan Instrumen Pengumpulan Data.....................................................44
G. Analisis Data.............................................................................................................45

BAB IV TEMUAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian............................................................................................................52
1. Gambaran Umum PT GOJEK Indonesia......................................................52
2. Deskripsi Data Penelitian..................................................................................53
B. Pembahasan..................................................................................................................83

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................................88
B. Saran...............................................................................................................................89
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................90

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah

Seiring Dengan Berkembangnya Zaman Yang Semakin Cepat Dan
Kemajuan Dalam Pendidikan Serta Perekonomian Yang Lebih Makmur,
Perubahan Sosial Budaya Masyarakat, Serta Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi Yang Canggih, Sarana Transportasi Dan Komunikasipun Semakin
Mudah Sehingga Membuat Aktivitas Manusia Semakin Cepat Dan Praktis.
Di Era Modern Seperti Saat Ini Alat Transportasi Dan Komunikasi Tidak
Bisa Dipisahkan Dari Kehidupan Manusia. Karena Dua Hal Tersebut Sering
Digunakan Untuk Mempermudah Segala Pekerjaan Manusia. Kecanggihan Alat
Transportasi Di Abad 21 Tidak Dapat Terbendung Lagi. Hal Ini Terbukti Dengan
Adanya Berbagai Bidang Seperti Dari Bidang Komunikasi. Pemanfaatan
Teknologi Bukan Hanya Di Bidang Komunikasi Saja Tetapi Teknologi
Dimanfaatkan Pada Bidang Pendidikan, Ekonomi, Pertanian, Keamanan,
Transportasi Dan Lain-Lain
Perkembangan Zaman Yang Makin Pesat, Semakin Hari Manusia Semakin
Kreatif Dan Inovatif Menciptakan Bisnis Baru, Terutama Bisnis Yang
Menyediakan Jasa Transportasi. Karena Manusia Pada Zaman Sekarang
Membutuhkan Transportasi Yang Cepat, Nyaman, Aman Dan Mudah Ditemukan.
Didaerah Perkotaan Seperti Kota Medan Yang Cukup Luas Dan Penduduknya
Yang Lumayan Padat, Kemacetan Sering Terjadi Dan Masyarakat Banyak Yang
Menggunakan Kendaraan Pribadi Sehingga Memicu Kemacetan Tersebut. Dan
Untuk Masyarakat Yang Menggunakan Transportasi Umum Lebih Jenuh Ketika
Menghadapi Kemacetan Yang Terjadi.
Dengan Bermunculan Berbagai Masalah Transportasi, Semakin Banyak
Pula Bisnis Sektor Jasa Transportasi Yang Berpeluang Untuk Berbisnis, Seperti
Bisnis Dalam Skala Besar Taxi, Bus Sampai Skala Kecil Becak Motor, Angkot
Ataupun Ojek Pangkalan. Untuk Memenuhi Kebutuhan Akan Jasa Transportasi
Tersebut, Perlu

Adanya Penyedia Jasa Yang Memberikan Pelayanan Yang Baik Dan Inovatif.
Inovasi Bukanlah Hanya Sekedar Proses Penciptaan Sesuatu Yang Baru, Tetapi
Dia Juga Merupakan Produk Actual Atau Outcome (Hasil). Bagi Bisnis Penghasil
Jasa, Outcome Bukan Hasil Output, Akan Tetapi Modifikasi Dari Pelayanan Yang
Sudah Ada. Sehingga Perusahaan Jasa Transportasi Membuat Inovasi Yang
Mempermudah Masyarakat Serta Mempersingkat Waktu Perjalanan.
Jasa Transportasi Yang Memiliki Pelayanan Yang Cepat Dari Segi
Komunikasi Untuk Pemesanan, Sehingga Masyarakat Lebih Memilih Jasa
Tersebut Karena Cukup Mudah Dan Cepat. Untuk Mendapatkan Loyalitas Para
Pelanggan Perusahaan Harus Memiliki Strategi Pemasaran Yang Baik Dan Tepat
Agar Mempengaruhi Loyalitas Pelanggannya. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Loyalitas Pelanggan Dalam Menggunakan Jasa Transportasi, Diantaranya Adalah
Kualitas Pelayanan Yang Diberikan, Kepuasan Yang Didapatkan Dan Dirasakan
Oleh Pelanggan, Nilai Yang Difikirkan Pelanggan.
Suatu Perusahaan Yang Mampu Memberikan Pelayanan Yang Baik Kepada
Pelanggan Akan Membuat Citra Positif Bagi Perusahaan. Pelayanan Yang Baik
Mendorong Minat Pelanggan Untuk Menggunakan Kembali Jasa Tersebut
Sehingga Tercipta Loyalitas. Perusahaan Yang Menjualkan Jasa Berarti
Menjualkan Produknya Dalam Bentuk Kepercayaan.
Memberikan Pelayanan Terbaik Untuk Konsumen Menjadi Tolak Ukur
Keberhasilan Sebuah Perusahaan. Perusahaan Yang Berhasil Memasarkan
Produk/Jasanya Kepada Konsumen Dengan Pelayanan Yang Memuaskan
Mendapatkan Brand Yang Baik Dimata Konsumen. Pelayanan Yang Dimaksud
Termasuk Dari Pelayanan Sewaktu Menawarkan Produk/Jasa, Pelayanan Ketika
Memberikan Jasa, Pelayanan Atas Resiko Yang Terjadi Saat Memberikan Jasa
Dan Pelayananlainsebagainya.

Loyalitas Pelanggan Juga Dapat Terbentuk Dari Kepuasan Yang
Dirasakan Adalah Perasaan Senang Ataupun Kecewa Yang Muncul Setelah
Menggunakan Jasa Tersebut. Pelanggan Akan Merasa Senang Dan Kecewa
Setelah Membandingkan Kinerja Atau Hasil Produk Yang Difikirkan Terhadap
Kinerja (Hasil) Yang Diharapkan. Dalam Artian Lain, Seseorang Merasa Puas
Apabila Hasil Yang Didapat Minimal Mampu Memenuhi Harapannya Sedangkan
Seseorang Merasa Tidak Puas Apabila Hasil Yang Didapat Tidak Mampu
Memenuhi Harapannya. Kepuasan Yang Dirasakan Seseorang Akan Memberikan
Dampak Terhadap Perilaku Pengguna Kembali Secara Terus-Menerus Sehingga
Terbentuklah Loyalitas.
Go-Jek Adalah Sebuah Perusahaan Yang Bergerak Dibidang Pelayanan
Transportasi Ojek. Yang Bertujuan Untuk Menghubungkan Ojek Dengan
Penumpang Ojek. Perusahaan Ini Berdiri Pertama Kali Di Kota Jakarta Pada
Tahun 2011. Go-Jek Merupakan Perusahaan Yang Berjiwa Sosial Yang
Memimpin Revolusi Industri Transportasi Ojek. Karena Efektifitas Tujuan
Perusahaan Ini Yang Bermitra Kepada Pengendara Ojek Yang Berpengalaman
Semakin Baik Dan Meningkatnya Peminat Pelanggan Sehingga Go-Jek
Dikembangkan Di Kota-Kota Besar Lainnya Seperti Khususnya Daerah
Jabodetabek, Bandung, Medan, Surabaya, Bali Dan Kota-Kota Lainnya.
Kehadiran Pt Go-Jek Indonesia Di Kota Medan Pada Tanggal 15
November 2015 Lalu, Sejak Kehadiran Go-Jek Di Kota Medan Menjadi Alat
Alternative Masyarakat Untuk Bepergian. Kantor Pusatnya Beralamat Di
Komplek Jati Junction Jalan Perintis Kemerdekaan (Dekat Universitas
Nomensen). Go-Jek Menjadi Solusi Utama Dalam Pengiriman Barang, Pesan
Antar Makanan, Dan Bepergian Ketika Macet. Berkiprah Di Kota Medan Lebih
Kurang 2 Tahun. Konsumen Merasa Lebih Mudah Dan Cepat Memakai Go-Jek
Dengan Harga Yang Terjangkau. Melihat Perkembangan Konsumen Dan Yang
Meningkat Pt. Go-Jek Indonesia Launching Go-Car Di Kota Medan Pada Bulan
April 2016 Lalu.
Aplikasi Go-Jek Juga Dapat Diunduh Pada Smartphone Yang Memiliki
Sistem Operasi Ios Atau Pun Android. Dengan Menggunakan Aplikasinya Di
Smartphone Pelanggan Dapat Diantar Dan Dijemput Sesuai Tujuan. Selain Itu
Go-Jek Juga Menyediakan Layanan Lainnya Seperti Go-Ride Dan Go-Car
Layanan

Transportasi, Go-Food Yang Dapat Menjemput Makanan Dari Cafe Atau Tempat
Makan Yang Tersedia, Go-Mart Yang Digunakan Untuk Membelanjakan
Kebutuhan Sehari-Hari, Go-Box Dan Go-Send Layanan Kurir Instan Dan
Layanan Yang Belum Tersedia Di Kota Medan Go-Glam, Go-Clean Dan GoMassage.
Untuk Saat Ini Go-Jek Tidak Asing Lagi Di Telinga Masyarakat Perkotaan
Khususnya Kota Medan, Sehingga Penyedia Jasa Ini Ingin Membuat
Pelanggannya Merasa Nyaman Dan Puas. Jika Konsumen Puas Dan Nyaman,
Maka Mereka Akan Menggunakan Jasa Ini Berulang Kali Sampai Bisa Menjadi
Pelanggan Setia (Loyal Customer) Sehingga Perusahaan Go-Jek Menjadi Market
Leader Dan Perusahaan Ini Menjadi Perusahaan Yang Maju Serta Dipercaya Oleh
Pelanggan Di Indonesia. Persaingan Go-Jek Menjadi Pro-Kontra Pada Jasa
Transportasi Umum Lainnya Seperti Angkot, Bis Umum, Becak Motor Dan
Transportasi Online Lainnya Seperti Uber-Car Dan Grab.
Persaingan Ini Menuai Kontro Persi Terutama Pada Pihak Betor (Becak
Motor) Yang Melakukan Aksi Swepping Pada Pengemudi Ojek Online Dan Taksi
Online.4 Pihak Betor Merasa Kehilangan Pelanggan Setelah Hadirnya Go-Jek
Dikota Medan Sehingga Mereka Melakukan Aksi Dan Tindakan Anarkis
Tersebut. Adanya Persaingan Ini, Pt Gojek Indonesia Tetap Memberikan
Pelayanan Yang Memuaskan Pelanggan. Agar Pelanggan Dapat Menikmati
Dengan Senang Dan Merasa Puas Serta Muncul Loyalitas Pelanggan Terhadap
Go-Jek.
Seorang Konsumen Bernama Mursyidal Latifah Mahasiswa Febi Semester
Viii Mengaku Sering Menggunakan Go-Jek Dengan Layanan Go-Ride Dan Ia
Merasa Puas, Dia Mengatakan Bahwa Driver Lebih Memprioritaskan
Konsumennya. Ketika Hujan Turun Driver Memberikan Mantel Kepada
Konsumen Terlebih Dahulu, Kemudian Dia Singgah Ke Minimarket Membeli
Mantel Untuknya. Konsumen Lain Yang Bernama Nanda Wijhan Khairi
Mahasiswa Febi Semester Viii Mengaku Pernah Menggunakan Gojek, Salah Satu
Fasilitas Layanan Yang Sering Ia Gunakan Adalah Go-Food. Awalnya Nanda
Hanya Mencoba Aplikasi Go-Food, Karena Lebih Praktis, Simple, Drivernya
Cepat Merespon Pesanan Konsumen Dan Cepat Juga

Mengantar Makanan. Kemudian Nanda Sering Memesan Makanan Dari Layanan
Go-Food. Kemudian Konsumen Lain Bernama Syafira Ulfa Mahasiswa Febi
Semester Vi Mengaku Sering Menggunakan Go-Jek Dengan Layanan Go-Ride
Dan Dia Merasa Puas, Karena Ketepatan Waktu Dari Driver Cepat Tanggap,
Merasa Nyaman Karena Terjamin Keamanannya, Drivernya Yang Ramah Dan
Harganya Yang Terjangkau. Dan Konsumen Lain Bernama Suhailah Sirait
Mahasiswa Febi Semester Vi, Dia Mengatakan Puas Dengan Pelayanan Gojek
Karena Layanannya Aman Dan Terpercaya, Walaupun Dia Pernah Mengalami
Masalah Karena Driver Yang Telat Mengantarkan Pesanannya. Tetapi Hal
Tersebut Tidak Mengurangi Rasa Kepuasannya Dengan Transportasi Modern Ini.
Kemudian Mahasiswa Febi Siti Rahmadani Mahasiswa Semester Viii Yang
Pernah Menjadi Konsumen, Dari Pengalaman Beliau Pernah Sekali Driver Go-Jek
Tidak Tepat Menuju Alamat Pelanggan Sehingga Membuat Konsumen Menunggu
Terlalu Lama Dan Konsumen Memutuskan Untuk Membatalkan Pemesanan.
Para Driver Menilai Manajemen Merubah Sistem Sepihak. Perubahan
Tarif Yang Tidak Masuk Akal. Seorang Driver Go-Jek Rianto Siburian Kecewa
Dengan Perubahan Sistem Yang Baru Saja Diaplikasikan Hari Ini. Perubahan
Yang Paling Dikeluhkan Adalah Sistem Layanan Go-Food.5
Keganasan Para Pengendara Becak Bermotor Terhadap Para Angkutan
Berbasis Online Kian Terlihat. Usai Menggelar Aksi Unjuk Rasa Penolakan
Angkutan Berbasis Online, Selasa (21/02/2017) Kemarin, Para Parbetor Terlihat
Langsung Mengusir Para Pengendara Gojek Sejak Rabu (22/02/2017) Pagi. Aksi
Tersebut Terlihat Langsung Dipangkalan Betor Jalan Ayahanda, Medan Petisah,
Tepatnya Didepan Rs. Royal Prima, Rabu (22/02/2017) Pagi Sekitar Pukul 09:00
Wib.
Bentrokan Terjadi Antara Para Pengemudi Ojek Online Di Jalan Stasiun
Kereta Api Medan, Rabu (22/02/2017). Pemicunya Adalah Aksi Sweeping Yang
Diduga Dilakukan Pengemudi Becak Kepada Seorang Pengemudi Go-Jek Saat
Melintas Dilokasi Kejadian. Penarik Becak Meminta Pengemudi Go-Jek
Membuka Helmnya Lalu Memecahkan Pegamanan Kepala Itu. Tak Terima,
Pengemudi Go-Jek Langsung Menghubungi Rekan-Rekannya. Seketika,
Lapangan Parkir Stasiun Kereta Api Dipenuhi Masa Kedua Kubu. Kericuhan Dan
Bentrok Sempat Terjadi Sebelum Polisi Turun Ke Lokasi Untuk Memisahkan.7
Menurut Zeithaml Dan Bitner Kualitas Layanan Adalah Ketidak Sesuaian
Antara Harapan Atau Keinginan Konsumen Dengan Persepsi Konsumen. Dimensi
Kualitas Jasa Menurut Parasuraman, Zeithaml, Dan Berry Terdapat Lima Unsur
Yang Menentukan Kualitas Jasa, Yaitu: “Tangible, Responsiveness, Reability,
Assurance, Dan Empathy”. Assurance Atau Jaminan, Yaitu Dimensi Yang
Berhubungan Dengan Kemempuan Perusahaan Dan Prilaku Front-Line Staf
Dalam Menanamkan Rasa Percaya Dan Keyakinan Kepada Para Pelanggannya.
Berdasarkan Banyak Riset Yang Dilakukan, Ada 4 Aspek Dalam Dimensi Ini,
Yaitu Keramahan, Kompetensi, Kredibilitas Dan Keamanan.
Memberikan Kepuasan Kepada Konsumen Dalam Memenuhi Kebutuhan,
Keinginan Serta Harapan Mereka Merupakan Hal Terpenting Bagi Perusahaan
Untuk Menghadapi Persaingan. Salah Satu Untuk Merebut Pangsa Pasar Adalah
Memperoleh Konsumen Sebanyak-Banyaknya. Kenyamanan Dan Keamanan Juga

Menjadi Faktor Dalam Meraih Konsumen. Perusahaan Akan Berhasil
Memperoleh Pelanggan Dalam Jumlah Yang Banyak Apabila Dinilai Dapat
Memberikan Kepuasan Bagi Konsumen. Konsumen Yang Merasa Puas Dan
Menjadi Konsumen Setia Akan Merekomendasikan Dari Mulut Ke Mulut.
Berdasarkan Uraian Diatas Penulis Tertarik Untuk Membuat Penelitian
Berjudul “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen
Pada Bisnis Jasa Transportasi GO-JEK
B.

Identifikasi Masalah
Setiap konsumen ingin mendapatkan pelayanan terbaik dari perusahaan

yang menawarkan jasa kepadanya, dengan pelayanan yang baik dari penawar jasa
maka konsumen akan merasa puas. Kepuasan yang dirasakan konsumen membuat
konsumen ingin terus menerus memakai produk/jasa tersebut dalam jangka
panjang. Sehingga perusahaan dituntut untuk memberikan kualitas pelayanan
yang baik kepada setiap konsumennya. Identifikasi masalah dari penelitian ini
adalah “persaingan dalam dunia bisnis jasa transportasi semakin ketat, sehingga
perusahaan GO-JEK harus memberikan kualitas pelayanan yang baik kepada
konsumen. Karena kualitas pelayanan dapat berpengaruh dengan kepuasan
pelanggan.”
C.

Rumusan masalah
Dengan melihat hal-hal yang berkaitan tentang latar belakang yang telah

dipaparkan diatas maka penulis ingin mengetahui hal-hal yang berkaitannya
dengan pelayanan yang diberlakukan perusahaan GO-JEK terhadap konsumen
atau pelanggannya oleh karena itu penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.

Apakah bukti fisik (tangible) berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan GO-JEK

2.

Apakah kehandalan (reliability) berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan GO-JEK

3.

Apakah daya tanggap (responsiveness) berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan pelanggan GO-JEK

4.

Apakah jaminan (assurance) berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan GO-JEK

5.

Apakah empati (empathy) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
pelanggan GO-JEK

6.

Apakah kualitas pelayanan secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan pelanggan GO-JEK

D.

Tujuan penelitian

Sesuai dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah
diuraikan sebelumnya, penelitian ini mempunyai tujuan. Tujuan yang ingin
dicapai melalui penelitian ini adalah:
1.

Untuk menganalisis pengaruh bukti fisik (tangible) terhadap kepuasan
pelanggan GO-JEK.

2.

Untuk menganalisis pengaruh kehandalan (reliability) terhadap
kepuasan pelanggan GO-JEK.

3.

Untuk menganalisis pengaruh daya tanggap (responsiveness) terhadap
kepuasan pelanggan GO-JEK.

4.

Untuk menganalisis pengaruh jaminan (assurance) terhadap kepuasan
pelanggan GO-JEK.

5.

Untuk menganalisis pengaruh empati (empathy) terhadap kepuasan
pelanggan GO-JEK.

6.

Untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan secara simultan
terhadap kepuasan pelanggan GO-JEK.

E.

Manfaat penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan akan diperoleh informasi
yang dapat bermanfaat antara lain:
1.

Sebagai bahan masukan atau perbandingan bagi pihak perusahaan
GO-JEK untuk dijadikan masukan atau saran dalam meningkatkan
kualitas pelayanan berdasarkan pada bukti fisik, kehandalan, daya
tanggap, jaminan dan empati yang dapat berorientasi kepada kepuasan
konsumen.

2.

Sebagai hasil karya dalam menambah wawasan pengetahuan yang
dapat lebih memperluas pola pikir pembaca khususnya mengenai
kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen dalam dunia bisnis
jasa dan dapat menjadi bahan pembelajaran dan pengaplikasian ilmu
pengetahuan, khususnya dalam bidang bisnis jasa.

3.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan bagi

BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Jasa
1. Pengertian Jasa
Menurut Kotler, jasa adalah tindakan yang ditawarkan oleh satu pihak
kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak berakibat pada
kepemilikan atas sesuatu. Menurut Stanton pengertian jasa adalah sebagai
kegiatan yang didefinisikan secara tersendiri yang pada hakikatnya bersifat tak
memiliki wujud (intangible), yang merupakan pemenuhan kebutuhan yang tidak
terikat pada penjualan atau jasa lainnya.
Jasa merupakan aktivitas menawarkan produk yang tak berwujud namun
dapat dirasakan hasilnya. Yang melibatkan dengan pelanggan atau pemilik
pelanggan yang tidak berpengaruh kepada pemindahan kepemilikan.
2. Karakteristik Jasa
Jasa adalah sesuatu yang diberikan satu pihak kepada pihak lain yang pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan terjadinya perpindahan
kepemilikan. Stanton mengatakan bahwa “Service are identifiable, intangible
activities that are main object of transaction designed to provide want-satisfaction
to costumer”.
Menurut Kotler, jasa memiliki 4 ciri utama yang sangat mempengaruhi
rancangan
a.

program pemasaran, yaitu:

Tidak Berwujud (Intangibility)
Jasa mempunyai sifat tak berwujud, karena tidak bisa dilihat,

dirasakan, diraba, didengar atau dicium sebelum ada transaksi pembelian.
Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli akan mencari tanda atau bukti
dari mutu jasa tersebut. Pembeli akan mengambil kesimpulan mengenai
mutu jasa dari tempat (place), manusia (people), peralatan (equipment),
alat komunikasi (communication material), simbol-simbol (symbols), dan
harga (price) yang mereka lihat.

b.

Tidak Dapat Dipisahkan (Inseparability)
Jasa-jasa umumnya diproduksi secara khusus dan dikonsumsi pada

waktu yang bersamaan. Jika jasa diberikan oleh seseorang, maka orang
tersebut merupakan bagian dari jasa tersebut. Client juga hadir pada saat
jasa diberikan, interaksi penyedia client merupakan ciri khusus dari
pemasaran jasa tersebut.
c.

Beraneka Ragam (Variability)
Jasa itu sangat beraneka ragam, karena tergantung kepada yang

menyediakannya dan kapan serta dimana disediakan. Sering kali pembeli
jasa menyadari akan keanekaragaman ini dan membicarakannya dengan
yang lain sebelumm memilih seorang penyedia jasa.
d.

Tidak Tahan Lama (Perishability)
Jasa-jasa tidak dapat disimpan. Keadaan tidak tahan dari jasa-jasa

bukanlah masalah jika permintaanya stabil, karena mudah untuk
melakukan persiapan pelayanan sebelumnya. Jika permintaan terhadapnya
berfluktuasi maka perusahaan jasa menghadapi masalah yang sulit.
3. Pemasaran jasa
Penawaran suatu perusahaan kepada pasar biasanya mencakup beberapa
jenis jasa. Komponen jasa merupakan bagian kecil ataupun bagian utama dan
keseluruhan penawaran tersebut. Suatu penawaran dapat bervariasi dari dua kutub
yaitu berupa barang pada satu sisi dan jasa murni lainnya. Berdasarkan kriteria ini
penawaran suatu perusahaan dibedakan menjadi lima kategori, yaitu sebagai
berikut:
a.

Produksi fisik murni

b.

Produksi fisik dengan jasa pendukung.

c.

Hybrid

d.

Jasa utama yang didukung dengan barang dan jasa minor.

e.

Jasa murni

B. Kualitas pelayanan
1. Pengertian kualitas
Definisi kualitas seperti terdapat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) dimaknai sebagai tingkah baik buruknya sesuatu. Maka untuk mengetahui
sesuatu setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam mengartikannya.
Kualitas memiliki arti yang berbeda-beda tergantung penempatan kosakata yang
digunakan atau tergantung istilah apa yang digunakan. Konsep kualitas itu sendiri
sering dianggap sebagai ukuran relative suatu produk atau jasa yang terdiri atas
kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Dalam perspektif TQM (Total Quality
Management), kualitas dipandang secara luas, dimana tidak hanya aspek hasil saja
yang ditekankan, melainkan juga meliputi proses lingkungan dan manusia.
Sebagaimana dikemukakan oleh Gotesh dan Davis bahwa kualitas merupakan
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses
dan lingkungan yang memenuhi dan melebihi harapan.Meskipun kata kualitas
memiliki banyak definisi yang diterima secara universal.Kualitas merupakan suatu
kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna, tetapi dari beberapa
definisi yang dapat kita jumpai ada beberapa yang memiliki persamaan walaupun
hanya cara penyampaiannya saja biasanya terdapat pada elemen sebagai berikut:
a. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihkan harapan
pelanggan.
b.

Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.

c.

Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah.

Intinya adalah perbaikan mutu atau kualitas terus menerus, yang dalam
managemen Jepang dikenal sebagai KAIZEN yang berarti unending improvement,
yaitu perbaikan secara continue, dalam segala kegiatan perusahaan, sehingga

muncul kualitas yang makin lama semakin baik harus dapat dirasakan oleh
pelanggan. Perbaikan kualitas ini harus pula dipahami oleh seluruh personil
perusahaan, agar mereka tampil dengan kinerja yang prima dan gandrung pada
high quality.
2. Pengertian Kualitas Pelayanan
Dalam dunia bisnis, bukan hanya produk/jasa yang di perhatikan. Dalam
hal berbisnis kualitas pelayanan harus bisa diperhatikan juga. Karena kualitas
pelayanan merupakan cara mempertahankan pelanggan. Dengan adanya kualitas,
berarti perusahaan harus memenuhi harapan-harapan pelanggan dan memuaskan
kebutuhan mereka.
Arti service (pelayanan) adalah suatu proses jasa yang dihasilkan dari
empat proses input, yaitu: people processing (consumer), possession processing,
mental stimulus processing, and information processing. Sebagai suatu sistem,
bisnis jasa merupakan kombinasi antara service operating system, service delivery
system dan service marketing system. Yang mana pemasaran jasa lebih
menekankan pada service delivery system yaitu bagaimana suatu perusahaan
menyampaikan jasa kepada konsumen.
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan. Menurut Edvarson kualitas adalah bagaimana cara untuk mencari tahu
apa yang menciptakan nilai bagi konsumen dan perusahaan harus memberikan
nilai tersebut. Oleh karena itu, kualitas pelayanan harus mendapat perhatian yang
serius dari manajemen organisasi jasa. Untuk menetapkan kualitas pelayanan yang
ingin dicapai oleh sebuah organisasi jasa, terlebih dahulu organisasi tersebut harus
mempunyai tujuan yang jelas.
Menurut Goeth dan Davis yang bahwa kualitas merupakan suatu kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan

yang memenuhi atau melebihi harapan. Definisi mengenai kualitas pelayanan
mungkin berbeda, namun secara khusus meliputi hal dalam menentukan apakah
pelayanan yang dirasakan sesuai dengan harapan pelanggan. Pelanggan menilai
kualitas pelayanan berdasarkan persepsi mereka dari hasil teknis yang diberikan
yang merupakan proses dimana hasil disampaikan.
Pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain
secara langsung. Pelayanan yang diperlukan manusia pada dasarnya ada dua jenis,
yaitu layanan fisik yang sifatnya pribadi sebagai manusia dan layanan
administrative yang diberikan oleh orang lain selaku anggota organisasi, baik itu
organisasi massa atau negara.
Menurut Parasuraman dkk, kualitas pelayanan adalah sebagai pedoman
dasar bagi pemasaran jasa, karena ini merupakan produk yang dipasarkan adalah
suatu kinerja (yang berkualitas) dan kinerja juga yang akan dibeli oleh pelanggan.
Oleh karena itu, kualitas kinerja pelayanan merupakan dasar bagi pemasaran jasa.
3. Kualitas Pelayanan Dalam Perspektif Islam
Menurut Thorik G. dan Utus H pentingnya memberikan pelayanan yang
berkualitas disebabkan pelayanan (service) tidak hanya sebatas mengantarkan atau
melayani. Servis berarti mengerti, memahami, dan merasakan sehingga
penyampaiannyapun akan mengenai heartshare konsumen dan pada akhirnya
memperkokoh posisi dalam mind share konsumen. Dengan adanya heartshare
yang tertanam, loyalitas seorang konsumen pada produk atau usaha perusahaan
tidak diragukan.

masalah untuk mengenakkan hati mereka, agar menjadi pendorong bagi mereka
untuk melakukannya. Terutama dalam hal peperangan baik itu perang badar,
uhud, khandak, dll yang mana beliau selalu bermusyawarah ketika hendak mulai
peperangan seperti mengatur strategi perang, dll. Sehingga ketika kamu telah
mendapatkan hasil yang bula, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepadanya.
4. Prinsip Kualitas Jasa
Menurut William J. Stanton bahwa jasa adalah sesuatu yang dapat
didefinisikan secara terpisah tidak berwujud, ditawarkan untuk memenuhi
kebutuhan.Jasa dapat dihasilkan menggunakan benda-benda berwujud atau tidak.
Jasa adalah semua aktivitas atau manfaat yang dapat ditawarkan kepada pihak lain
yang intangible dan tidak mengakibatkan kepemilikan atas sesuatu. Produksinya
dapat dan tidak terikat kepada produk fisik. Jasa juga dapat didefinisikan sebagai
setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada
pihak lain yang dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
menhasilkan kepemilikan sesuatu.
Untuk menciptakan suatu gaya managemen dan lingkungan yang kondusif
bagi perusahaan jasa dalam memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu
memenuhi enam prinsip utama yang berlaku baik bagi perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Keenam prinsip pokok tersebut adalah:
a.

Kepemimpinan
Ada

beberapa

istilah

yang

merujuk

pada

pengertian

pemimpin.Pertama, kata ummara yang sering disebut sebagai ulil amri.
Hal ini dikatakan dalam Al-Qur‟an surat an-Nisaa:

Dalam ayat itu dikatakan bahwa ulil amri atau pemimpin adalah orang
yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain dalam
perusahaan, jika ada direktur yang tidak mengurus kepentingan
perusahaannya, maka ia bukanlah seorang direktu
Kedua, pemimpin sering disebut khadimul ummah (pelayan umat).
Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi
sebagai pelayan masyarakat (pelayanan
perusahaan).Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan
komitmen dari manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin
perusahaan untuk meningkatkan kinerja kualitas. Tanpa adanya
kepemimpinan manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas
hanya

berdampak kecil terhadap perusahaa
Seluruh personil dari manajer puncak sampai karyawan operasional harus
memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-aspek yang perlu
mendapatkan penekanan dalam pendidikan meliputi konsep kualitas
sebagai bisnis, alat dan teknik implementasi strategi kualitas, dan peranan
eksekutif dalam implementasi strategi kualitas.
c.

Perencanaan
Proses perencanaan strategi harus mencakup pengukuran dan tujuan

kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan dalam
mencapai visinya.
d.

Review
Proses ini merupakan satu-satunya alat yang penting paling efektif

bagi manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini
merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang
konstan dan continue untuk mencapai tujuan mutu.
e.

Komunikasi
Implementasi strategi kualitas di pengaruhi oleh proses komunikasi

dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan karyawan,
konsumen, dan stakeholder perusahaan lainnya, seperti pemasok,
pemegang

saham,

pemerintah

dan

masyarakat

implementasi strategi dan perbaikan kualitas jasa.
f.

Penghargaan dan pengakuan

umum

mengenai

Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam
implementasi strategi kualitas.Setiap karyawan yang berprestasi baik,
perlu diberi penghargaan prestasi tersebut. Dengan demikian, dapat
meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga dan rasa memiliki dalam
berorganisasi, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi besar
bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang dilayani.
5. Menentukan Kualitas Pelayanan Jasa
Menurut Zeithaml dan Bitner kualitas layanan adalah ketidak sesuaian
antara harapan atau keinginan konsumen dengan persepsi konsumen.
Dimensi kualitas jasa menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry terdapat
lima

unsur

yang

menentukan

kualitas

jasa,

yaitu:

“tangible,

responsiveness, reability, assurance, dan empathy”
a.

Tangible
Karena suatu pelayanan tidak dapat dilihat, diraba dan dicium, akan

tetapi dapat dirasakan sehingga aspek tangible (bukti fisik) menjadi
penting sebagai ukuran pelayanan. Pelanggan akan menggunakan indera
penglihatan untuk menilai suatu kualitas pelayanan.
Tangible yang baik akan mempengaruhi persepsi pelanggan. Pada saat
yang bersamaan aspek tangible merupakan salah satu sumber yang
mempengaruhi harapan pelanggan. Karena tangible yang baik, maka
harapan responden menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, perusahaan harus
mengetahui seberapa jauh aspek tangible yang paling tepat untuk
meningkatkan nilai kualitas pelayanan yang telah diberikan. Sehingga
memberikan impresi yang positif terhadap kualitas pelayanan yang
diberikan tetapi tidak menyebabkan harapan pelanggan yang terlalu tinggi.
Sebagai contoh bukti fisik yang diberikan perusahaan perhotelan.
Pelanggan akan mempunyai persepsi bahwa hotel mempunyai pelayanan
yang baik apabila lobby hotel terlihat mewah dengan keramik dan batu
Kristal. Pelanggan akan lebih percaya servis mobil di dealer resmi
walaupun harga mahal akan tetapi memiliki alat-alat yang canggih untuk
memperbaiki kerusakan yang ada. Peralatan yang canggih, akan memberi
kesan yang kepada pelanggan bahwa bengkel tersebut memberikan
pelayanan dengan kualitas bermutu tinggi.
Dalam penelitian transportasi GO-JEK ini, yang termasuk kedalam
aspek tangible atau bukti fisik dalam bisnis ini seperti kelengkapan atribut

kendaraan yang dimiliki driver GO-JEK, ataupun kondisi kendaraan yang
digunakan para driver.
ruangan, dan petugas. Atribut dari dimensi ini adalah sebagai alat untuk
mempromosikan produk jasa yang dijual oleh perusahaan.
b.

Reliability
Pengertian dari reliability mencakup konsistensi dari penampilan dari
keandalan jasa untuk melakukan pelayanan sesuai dengan yang

dijanjikan secara terpercaya dan akurat. Dimensi ini sebagai alat untuk
mengukur kehandalan dari perusahaan yang memberikan pelayanan
kepada pelanggannya. Ada dua aspek yang dari dimensi ini. Pertama
adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan seperti yang
dijanjikan. Kedua adalah seberapa jauh suatu perusahaan mampu
memberikan pelayanan yang akurat atau tidak ada error.
Sebagai contoh lain, sebuah minimarket dikatakan tidak reliable atau
tidak dapat dihandalkan kalau salah menghitung jumlah yang harus
dibayar oleh pelanggannya. Kantor pos dikatakan tidak reliable apabila
ternyata tidak mampu mengirimkan surat kiriman kealamat yang tidak
tepat. Seorang pasien mengeluh karena rumah sakitnya sangat ceroboh.
Ternyata hasil uji lab yang dikirimkan adalah milik orang lain. Pemilik
mobil akan sangat murah dengan bengkel tempat mobilnya diperbaiki
karena setelah perbaikan, ternyata mobilnya rusak lagi. Setelah kembali ke

bengkel semula, pemilik mobil tambah marah karena perbaikan
membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang dijanjikan. Sekali lagi,
banyak konsumen mengeluh karena perusahaan ingkar janji atau karena
membuat error.
Iklan yang kreatif dan memberikan janji yang berlebihan jelas tidak
akan efektif. Pelanggan tertarik untuk membeli tetapi setelah mencoba
pelayanannya, ternyata tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Pelanggan
yang kecewa karena janji yang berlebihan adalah pelanggan yang paling
sulit untuk diajak kembali.
Oleh karena itu, pada saat menentukan janji yang ditawarkan kepada
pelanggan dalam suatu iklan, perlu memastikan bahwa perusahaan mampu
memberikan sesuai yang dijanjikan. Diperlukan koordinasi dengan
departemen lain sebagai bagian produksi, bagian penjualan, bagian
pengiriman dan bagian lain terkait, sejauh mana janji yang diberikan dapat
ditepati. Walau respon pelanggan sedikit lebih lambat, tapi akan
memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang. Attitude dari
manajemen terutama dari bagian pemasaran yang cenderung overpromise
perlu dihindari.
c.

Responsiveness
Responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling

dinamis harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat
dipastikan akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu.
Sebagai contoh survey yang dilakukan oleh frontier selama 5 tahun
terakhir ini dalam industri perbankan. Lima tahun yang lalu, 90% dari
nasabah di Jakarta akan puas apabila waktu menunggu dicabang suatu
bank sebelum melakukan transaksi adalah antara 10-15 menit. Pada tahun
ini, 90% dari nasabah di Jakarta mengharapkan agar lama menunggu
sekitar 3-5 menit.
Mengapa terjadi demikian ? perkembangan teknologi dalam dunia
perbankan sedemikian cepatnya. Dari tahun ke tahun, semakin banyak

nasabah yang menggunakan ATM. Bahkan sebagian orang tua yang dulu
gagap teknologi, beberapa mulai berani menggunakannya. Sebelum
penetrasi penggunaan ATM ini mencapai titik maksimal, bank-bank sudah
menawarkan telephone banking dengan membangun infrastruktur untuk call
center. Sekali lagi sebelum maksimal tingkat penetrasinya, bank sudah
memasuki tahap selanjutnya, yaitu transaksi dengan bank melalui internet.
Beberapa bank asing dan bank besar seperti BII dan BCA juga sudah selama
1 tahun ini menawarkan fasilitas ini. Perlombaan untuk terus mempercepat
pelayanan tak akan pernah berakhir dimasa mendatang. Salah satu nilai
tambah yang ditawarkan adalah kecepatan pelayanan.
Dalam bahasa ekonomi, waktu adalah “scare resources”. Karena itu
waktu sama dengan uang yang harus digunakan secara bijak. Oleh karena
itu pelanggan tidak puas apabila waktunya terbuang percuma karena telah
melewatkan satu kesempatan lain untuk memperoleh sumber ekonomi.
Pelanggan akan siap untuk mengorbankan atau membayar pelayanan yang
lebih mahal untuk setiap waktu yang dihemat. Harga suatu waktu berbeda
antara setiap pelanggan dengan pelanggan lainnya. Ada kelompok
pelanggan yang lebih menghargai waktu dan ada yang kurang menghargai
waktu.
Kepuasan pada dimensi responsiveness berdasarkan persepsi bukan
aktualnya. Karena persepsi mengandung aspek psikologis lain, maka faktor
komunikasi dan situasi fisik disekeliling pelanggan yang menerima
pelayanan merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi penilaian
pelanggan.
Mengkomunikasikan kepada pelanggan mengenai proses pelayanan
yang diberikan akan membentuk persepsi yang lebih positif. Pelayanan yang
responsive atau tanggap, juga sangat dipengaruhi oleh sikap front-line staf.
Salah satunya adalah kesigapan dan ketulusan dalam menjawab pertanyaan
atau permintaan pelanggan. Kepuasan pelanggan dalam hal responsiveness
ini juga seringkali ditentukan melalui pelayanan lewat telepon. Berdasarkan
banyak studi yang dilakukan, hal yang membuat pelanggan kecewa adalah

ketika pelanggan menelpon, sering sekali di ping-pong. Yaitu dari operator
diover ke staf yang lain, kemudian diover ke staf yang lain lagi. Pelayanan
yang tidak tanggap sehingga membuat pelanggan kecewa.
Secara ringkas responsiveness meliputi kesiapan dan kecepatan
tanggapan petugas untuk menyediakan jasa.
d.

Assurance
Dimensi yang keempat adalah assurance atau jaminan, yaitu dimensi

yang berhubungan dengan kemempuan perusahaan dan prilaku front-line
staf dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para
pelanggannya. Berdasarkan banyak riset yang dilakukan, ada 4 aspek
dalam dimensi ini, yaitu keramahan, kompetensi, kredibilitas dan
keamanan.
Keramahan yang termasuk kedalam aspek dimensi assurance adalah
hal yang paling mudah diukur. Juga banyak manajer yang meyakini
sebagai program kepuasan yang paling murah. Mengkomunikasikan
kepada front-line staf juga relative mudah. Sehingga banyak manajer yang
paling cepat menaruh perhatian terhadap hal ini. Terutama manajer
customer service akan memasukkan sebagai program pertama untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan. Ramah berarti banyak memberikan
senyuman dan bersikap sopan.
Selain bersikap ramah, keamanan juga menjadi tolak ukur penilaian
kepuasan pelanggan. Sebagai contoh Bank sebagai tempat untuk
menghimpun dana masyarakat, pihak bank memberikan pengamanan yang
ketat dari polisi yang ikut berjaga-jaga dan satpam yang menjaga kantor
selama 24 jam. Keamanan tersebut membuat pelanggan atau nasabah
menjadi percaya dan membuat pelanggan puas dan percaya kepada bank
untuk menitipkan uangnya.

Kesimpulan dari assurance atau jaminan adalah meliputi keterampilan
petugas, keramahan petugas, kepercayaan, keamanan dalam penggunaan
jasa.
e.

Empathy
Pelanggan dari kelompok menengah atas mempunyai harapan yang

tinggi agar perusahaan penyedia jasa mengenal mereka secara pribadi.
Perusahaan harus mengetahui nama mereka, kebutuhan mereka secara
spesifik dan bila perlu mengetahui apa yang menjadi hobi dan karakter
personal lainnya. Apabila tidak, perusahaan akan kehilangan kesempatan
untuk dapat memuaskan mereka dari aspek ini.
Sesuai dengan teori “Maslow” tentang teori perkembangan kebutuhan
manusia, pada tingkat yang semakin tinggi, kebutuhan manusia tidak lagi
dengan hal-hal yang primer. Setelah kebutuhan fisik, keamanan, dan sosial
terpenuhi, maka dua kebutuhan lagi akan dikejar oleh manusia yaitu
kebutuhan ego dan aktualisasi. Dua kebutuhan terakhir dari teori Maslow
inilah yang banyak berhubungan dengan dimensi emphati. Pelanggan mau
egonya seperti gengsinya dijaga dan mereka mau status mereka dimata
banyak orang dipertahankan dan apabila perlu ditingkatkan terus-menerus
oleh perusahaan penyedia jasa.

lunch ketika di bandara Kuala Namo dan Soekarno-Hatta dan fasilitas
lainnya.
Di masa mendatang, perusahaan-perusahaan Indonesia harus semakin
mampu melakukan hal ini. Telkom, Indosat, operator seluler dan bankbank penerbit kartu kredit misalnya, adalah perusahaan yang tinggal
selangkah lagi untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih berempathi.
Perusahaan-perusahaan ini mempunyai data ware-bousing yang sangat
besar dan dengan kapasitas yang besar. Hanya saja tingkat pengolahannya
belum maksimal sehingga program-program yang berhubungan dengan
peningkatan empathi pelanggan belum dapat dijalankan secara optimal
pula.
Pelayanan yang empati, sangat memerlukan sentuhan pribadi. Tetapi
perlu dicatat, sentuhan pribadi ini hanya menjadi maksimal, kalau
perusahaan mempunyai sistem database yang efektif. Tanpa hal ini sangat
sulit menerapkan pelayanan yang empathy.

C. Kepuasan Konsumen
1. Pengertian Kepuasan Konsumen
Kepuasan adalah ketika konsumen memenuhi kebutuhannya, hal itu
merupakan konsumen memberikan penilaian terhadap sebuah fitur produk atau
jasa, atau produk atau jasa itu sendiri. Hal itu merupakan suatu kepuasan yang
didapatkan kosumen yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan.
Sedangkan menurut Kottler dan Keller kepuasan konsumen adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan
(ekspektasi). Konsumen membentuk ekspektasi mereka dari pengalaman
sebelumnya, seperti mempertanyakan kepada rekan atau teman yang sudah
membeli atau menggunakan produk yang sudah ditawarkan, serta informasi
penawaran dari perusahaan tersebut. Apabila perusahaan berekspektasi terlalu
tinggi, maka konsumen akan kecewa. Dan sebaliknya apabila ekspektasi yang
ditawarkan oleh perusahaan terlalu rendah, maka konsumen tidak akan tertarik
dengan produk yang ditawarkan.
Pengalaman konsumen yang positif sebagai respon (reaksi efektif) sangat
terkait dengan niat pembelian ulang dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Konsumen yang percaya pada penyedia jasa atau terlibat dalam proses pembelian
cenderung memiliki untuk berpartisipasi dalam rekomendasi dari mulut ke mulut
sebagai bagian dari keinginan untuk meningkatkan komitmen dari mereka sendiri.
Selain itu emotional base dari sebuah kepuasan dikonfirmasi oleh tanggapan
konsumen berkisar 64%-77,3% berdasarkan respon emosional. Oleh karena itu,
strategi bisnis yang sukses dipengaruhi oleh kemampuan menciptakan keterikatan
(yang kuat) antara respon kognitif dan efektif (emosional) dalam ragam layanan
produk.

Konsekuensi kepuasan/ketidakpuasan pelanggan sangat krusial bagi
kalangan bisnis, pemerintah dan juga konsumen. Bagi bisnis, kepuasan dipandang
sebagai salah satu dimensi kinerja pasar. Peningkatan kepuasan pelanggan
berpotensi mengarah pada pertumbuhan penjualan jangka panjang dan jangka
pendek, serta pangsa pasar sebagai hasil pembelian ulang. Bagi pemerintah,
konsep kepuasan/ketidakpuasan pelanggan dapat membantu mereka dalam
mengidentifikasi dan mengisolasi produk dan industri yang membutuhkan
tindakan pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan konsumen. Bagi
konsumen, konsep kepuasan pelanggan bermanfaat dalam memberikan informasi
lebih jelas tentang seberapa puas atau tidak puas konsumen lain terhadap produk
atau jasa tertentu.

31

Dan perusahaan jasa yang bagus tahu bahwa sikap karyawan

yang positif akan mendorong kesetiaan pelanggan yang lebih kuat.
2. Konseptualisasi kepuasan pelanggan
Konsep

kepuasan

pelanggan

bukanlah

barang

baru,

namun

kemunculannya sebagai konsep operasional baru dimulai pada pertengahan 1970an. Tepatnya ditahun 1977 ketika laporan konferensi tentang konseptualisasi dan
pengukuran kepuasan/ketidakpuasan pelanggan dipublikasikan pertama kali. Kata
kepuasan (satisfaction) sendiri berasal dari bahasa latin “satis” (artinya cukup
baik, memadai) dan “facto” (melakukan atau membuat). Kepuasan dapat diartikan
sebagai “upaya pemenuhan sesuatu” atau “membuat sesuatu memadai
Secara konseptual kepuasan/ketidakpuasan dapat dikaji dari pengalaman
efektif atau perasaan dan expectancy discomfirmation theory. Pendekatan
pengalaman efektif atau perasaan berpandangan bahwa tingkat kepuasan
pelanggan dipengaruhi oleh perasaan positif dan negative yang diasosiasikan
pelanggan dengan barang atau jasa tertentu setelah pembeliannya. Dengan kata
lain, selain pemahaman kognitif mengenai diskonfirmasi harapan, perasaan yang

timbul dalam proses purnabeli mempengaruhi perasaan puas atau tidak puas
terhadap produk yang dibeli. Dua dimensi respon efektif yaitu serangkai perasaan
negative (negative feelings). Kedua tipe perasaan ini independen, artinya
konsumen dapat merasa positif sekaligus negative terhadap pembelian tertentu,
lihat saja disaat direktur tertentu membeli sebuah mobil, merasa bangga dan
gembira, tetapi dalam waktu yang bersamaan merasa kesal dan jengkel terhadap
staf penjualannya diperusahaan.
Expectancy disconfirmaton theory, model ini mendefinisikan kepuasan
pelanggan berdasarkan evaluasi pengalaman yang dirasakan (kinerja) sama
baiknya (sesuai) dengan yang diharapkan. Pemakaian merek tertentu atau merek
lainnya dalam kelas produk yang sama, pelanggan membentuk harapan mengenai
kinerja seharusnya dari merek bersangkutan. Harapan atas kinerja dibandingkan
dengan kinerja actual produk yakni persepsi terhadap kualitas produk. Ada 3
kemungkinan yang terjadi, yaitu:
a.

Apabila kualitas lebih rendah dari harapan, yang terjadi adalah
ketidakpuasan emosional konsumen (negative disconfirmation).

b.

Apabila kinerja lebih besar dibandingkan harapan, terjadi
ketidakpuasan emosional (positif disconfirmation).

c.

Apabila kinerja sama dengan harapan, maka yang terjadi adalah
konfirmasi harapan (simple disconfirmation dan non-satisfaction).

Kinerja produk yang yang rendah, kemungkinan hasilnya bukan
ketidakpuasan, pelanggan tidak merasa kecewa dan tidak melakukan complain,
tetapi sangat mungkin pelanggan mencari alternative produk atau penyedia jasa
yang lebih baik bila kebutuhan atau masalah yang sama muncul kembali.
3. Konsep Kepuasan Pelanggan Dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan Islam yang menjadi tolak ukur dalam menilai kepuasan
pelanggan adalah standart syariah. Kepuasan pelanggan dalam pandangan syariah

adalah tingkat perbandingan antara harapan terhadap produk atau jasa yang
seharusnya sesuai syariah dengan kenyataan yang diterima.
Menurut Yusuf Qardawi, sebagai pedoman untuk mengetahui tingkat
kepuasan yang dirasakan konsumen, maka sebuah perusahaan barang maupun jasa
harus melihat kinerja perusahaannya berkaitan dengan:
a.

Sifat Jujur
Sebuah perusahaan harus menanamkan rasa jujur kepada seluruh

personil yang terlibat dalam perusahaan tersebut. Hal ini berdasarkan
b.

Sifat amanah
Amanah adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya,

tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang
lain, baik berupa barang ataupun yang lainnya. Dalam berdagang dikenal
istilah “menjual dengan amanah”, artinya penjual menjelaskan ciri-ciri,
kualitas dan harga barang dagangan kepada pembeli tanpa melebihlebihkannya. Berdasarkan uraian tersebut, maka sebuah perusahaan
memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan, antara lain dengan
cara menjelaskan apa saja yang berkaitan dengan barang dan jasa yang
akan dijualnya kepada pelanggan. Dengan demikian konsumen dapat
mengerti dan tidak ragu dalam memilih barang atau jasa tersebut.

c.

Benar
Artinya: “Penjual dan pembeli bebas memilih selama belum putus

transaksi jika keduanya bersikap benar dan menjelaskan kekurangan
barang yang diperdagangkan, maka keduanya mendapatkan berkah dari
jual belinya. Namun, jika keduanya saling menutupi aib barang dagangan
dan berbohong, maka jika mereka mendapatkan laba, hilanglah berkah jual
beli itu”
4. Pengukur kepuasan pelanggan
Menurut Philip Kotler ada beberapa kriteria untuk mengukur kepuasan
pelanggan , yaitu:
a.

Kesetiaan

Kesetiaan seseorang terhadap suatu layanan adalah repleksi dari hasil
pelayanan yang memuaskan. Ukuran kepuasan dapat diukur kesetiaannya
untuk selalu menggunakan produk/jasa tersebut.
b.

Keluhan (komplain)

Keluhan merupakan suatu keadaan dimana seseorang pelanggan
merasa tidak puas dengan keaadaan yang diterima dari hasil sebuah
produk atau jasa tertentu sehingga dapat menimbulkan larinya pelanggan
ketempat lain apabila keluhan ini tidak ditangani dengan segera.
c.

Partisipasi

Pada dasarnya dapat diukur dari kesadarannya dalam memikul kewajiban
menjalankan haknya sebagai pelanggan yang dimiliki dengan rasa
tanggung jawab. Ada beberapa metode lain yang dapat dipergunakan
perusahaan dalam mengukur atau memantai kepuasan pelanggannya.
Kotler mengemukakan empat metode untuk mengukur kepuasan
pelanggan.

1) Sistem Keluhan Dan Saran
Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan (costumer
oriented)

perlu

memberikan

kesempatan

seluas-luasnya

bagi

pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
mereka. Media yang biasa digunakan meliputi kotak saran yang
diletakkan di tempat strategi – strategy, menyediakan kartu komentar
(yang bisa diisi langsung atau dikirim langsung ke perusahaan),
menyediakan saluran telepon khusus (customer hotline), dan lainlain.Informasi yang diperoleh melalui metode ini dapat memberikan
respon secara cepat dan tanggap terhadap setiap masalah yang
timbul.Meskipun demikian, karena metode ini cenderung bersifat
pasif, maka sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan
atau ketidakpuasan pelanggan.
Melalui survei perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus
memberikan tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh
perhatian

terhadap

para

pelanggannya.

Pengukuran

kepuasan

pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya:
-

Directly Reported Satisfaction, yaitu pengukuran dilakukan secara
langsung melalui pertanyaan yang menghasilkan skala berikut:
sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, sangat puas.

-

Derived

Dissatisfaction,

yaitu

pertanyaan

yang

diajukan

menyangkut dua hal utama, yakni besarnya harapan pelanggan
terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang mereka
rasakan.
-

Problem Analysis, yaitu pelanggan yang dijadikan responden
diminta untuk mengungkapkan dua hal pokok. Pertama, masalah-

masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari
perusahaan. Kedua, saran-saran untuk melakukan perbaikan.
-

Importence-performance Analysis, yaitu dalam teknik ini,
responden diminta untuk merengking seberapa baik kinerja
perusahaan dalam masing-masing elemen/atribut tersebut.

3) Ghost Shopping
Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa
orang (ghost shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai
pelanggan potensial produk perusahaan, selain itu ghost shopper
juga dapat mengamati atauu menilai cara perusahaan menjawab
pertanyaan pelanggan dan menangani setiap keluhan.
4) Lost Customer Analysis
Metode ini sedikit unik. Perusahaan berusaha menghubungi
para pelanggannya yang telah berhenti mengkonsumsi, yang
diharapkan adalah akan diperolehnya informasi penyebab terjadinya
hal tersebut. Informasi ini sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk
mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan
kepuasan dan loyalitas pelanggan.
D. Kajian Terdahulu
Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini dibutuhkan beberapa
hasil penelitian terdahulu, yang pernah saya baca diantaranya :
Tabel 2.1
Kajian Terdahulu
No
.
1.

Nama
Peneliti
Fransisc
a
Andrea
ni
(2010)

Judul
Penelitian
“Analisa
Kualitas
Layanan
Bisnis
Makanan

Variabel

Hasil
Penelitian
X1
= kelima
Tangible dimensi
X2
= kualitas
Empathy pelayanan
X3 =
terbukti

Perbedaan
Dari lima variabel
dalam penelitian
ini hanya satu
variabel yang
Berpengaruh

Dan
Minuman Di
Surabaya
Ditinjau Dari
Derajat
Pemenuhan
Kepuasan
Konsumen”

2.

3.

Marismi
ati, S.E.
dan
Hendra
Hadiwij
aya,
S.E.
(2012)

Wili
Andri
Merdian
(2007)

“Pengaruh
Kualitas
Pelayanan
Terhadap
Kepuasan
Pelanggan
Jasa
Brt
Transmusi
Palembang”

“Analisis
Pengaruh
Kualitas
Pelayanan

Respons
iveness
X4 =
Reabilit
y
X5 =
Assuran
ce

berpengaruh
signifikan dan
positif
terhadap
variabel
kepuasan
pelanggan.

Y=
Kepuasa
n
pelangga
n
X1
= Variabel
Tangible tangible,

signifikan yaitu
variabel reliability
Sedangkan
variabel lainnya
tidak berpengaruh
Signifikan
terhadap kepuasan
konsumen GOJEK.

Dalam penelitian
Terdahulu

X2
= reliability, dan Menggunakan
Empathy empathy tidak teknik random
X3 =
Respons
iveness

berpengaruh
signifikan.
variabel

X4 =
Reabilit
y
X5 =
Assuran
ce

responsivenes Memakai
s
dan Purposive
assurance
sampling.
berpengaruh
signifikan
terhadap
kepuasan
penumpang.

Sampling
Sedangkan
penelitian saya

dan hasil dari
penelitian saya
hanya variable
reliability yang
Y=
Berpengaruh
Kepuasa
Sedangkan
n
tangible,
penump
responsivenss,
ang
assurance dan
empathy tidak
Berpengaruh
signifikan.
X1 =
Variabel bukti Hasil penelitian
bukti
langsung dan saya variable
langsung variabel
reliability yang
X2 =
empati
tidak Berpengaruh

Terhadap
Kepuasan
Pelanggan
(studi
kasus
TIKI cabang
Jogjakarta)”

4.

Astri
Fuji RS,
Desta
Francis
ka,
Meity
Ayu P
dan
Nicky
Juliani
(2016)

“Analisis
Kepuasan
Konsumen
GO-JEK Di
Wilayah
Kota
Bandung”

keandala
N
X3 =
Daya
Tanggap
X4 =
Jaminan
X5 =
Empati
Y=
Kepuasa
N
pelangga
N

memiliki
pengaruh yang
signifikan
terhadap
kepuasan
pelanggan.
variabel
keandalan,
variabel daya
tanggap
dan
variabel
jaminan
memiliki
pengaruh yang
signifikan
terhadap
kepuasan
pelanggan.
X1 =
kualitas
Service
layanan
GOQuality
JEK
sangat
X2 =
berpengaruh
Price
terhadap
kepuasan
Y=
konsumen dan
Kepuasa price memiliki
N
pengaruh yang
konsume signifikan
N
terhadap
kepuasan
konsumen.

Signifikan
Sedangkan
tangible,
responsivenss,
assurance dan
empathy tidak
Berpengaruh
signifikan.
Teknik
pengambilan data
pada penelitian
Terdahulu
Menggunakan
Wawancara

Teknik
Pengambilan
sampel pada
Penelitian
Sebelumnya
dengan random
smpling.
Hasil penelitian
ini variable
reliability yang
Berpengaruh
Sedangkan
tangible,
responsivenss,
assurance dan
empathy tidak
Berpengaruh
signifikan.

E. Kerangka Teoritis
Menurut Zeithaml dan Bitner kualitas layanan adalah ketidak sesuaian
antara harapan atau keinginan konsumen dengan persepsi konsumen. Dimensi
kualitas jasa menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry terdapat lima unsur yang
menentukan kualitas jasa, yaitu: “tangible, responsiveness, reliability, assurance,
dan empathy”. Bukti fisik yang disajikan membuat pelanggan puas, daya tanggap
terhadap kebutuhan konsumen menambah kepuasan pelanggan, kehandalan dalam
melayani konsumen sampai ke tempat tujuan dengan tepat, jaminan keamanan
serta kenyamanan yang diberikan menjadikan konsumen puas , dan empati dengan
kebutuhan konsumen terpenuhi. Kelima dimensi tersebut mempengaruhi kepuasan
yang didapatkan oleh konsumen.
1. Hubungan Tangible dengan Kepuasan Konsumen
Bukti fisik yang baik akan mempengaruhi persepsi konsumen. Karena suatu
bentuk jasa tidak bisa dilihat, dicium ataupun diraba. Maka aspek wujud fisik
menjadi bagian penting sebagai alat ukur dari pelayanan. Pada saat yang
bersamaan, aspek bukti fisik mempengaruhi harapan konsumen, karena bukti fisik
yang baik maka harapan konsumen akan lebih tinggi. Oleh karena itu, pihak GOJEK dan driver harus memberikan bukti nyata seperti melengkapi atribut
kendaraan, menggunakan kendaraan dengan kondisi baik atau mempermudah
tampilan aplikasi GO-JEK.
Hubungan bukti fisik dengan kepuasan konsumen adalah wujud fisik yang
mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi
konsumen dengan bukti fisik maka kepuasannya akan meningkat dan menciptakan
rasa loyal. Dan sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap bukti fisik buruk,
maka kepuasan konsumen juga akan semakin rendah. Dengan demikian, maka
hipotesis pertama adalah sebagai berikut:
H1 = bukti fisik/ tangible berpengaruh positif terhadapkepuasan
konsumen.

2. Hubungan Reliability dengan Kepuasan
Konsumen
Menurut Zeithaml. Et al (2006) Kehandalan adalah pemenuhan janji
pelayanan segera dan memuaskan dari perusahaan. Pelayanan GO-JEK sebagai
bisnis transportasi mengantarkan konsumen ketempat tujuan yang tepat dan cepat.
Dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan yang dijanjikan dan akurat serta
memberikan informasi yang tepat kepada konsumen.
Hubungan kehandalan dengan kepuasan konsumen mempunyai pengaruh positif.
Semakin baik persepsi konsumen terhadap kehandalan perusahaan maka kepuasan
konsumen juga akan semakin tinggi. Dan sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap
kehandalan buruk maka kepuasan konsumen juga akan semakin rendah. Dengan
demikian, maka hipotesis kedua adalah sebagai berikut:

H2 = kehandalan atau reliability berpengaruh positif terhadap Kepuasan
konsumen.
3. Hubungan Responsiveness dengan Kepuasan Konsumen
Responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling dinamis
harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan akan
berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu. Daya tanggap pada
penelitian ini merupakan kesigapan driver atau pihak GO-JEK dalam melayani
konsumen. Ketika mengalami masalah pada kendaraan yang digunakan GO-JEK
seperti ban bocor, dibutuhkan kesigapan dan daya tanggap driver untuk mengatasi
permasalan tersebut. Atau daya tanggap driver GO-JEK untuk menangani respon
permintaan dari para konsumen.
Hubungan daya tanggap dengan kepuasan konsumen mempunyai pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi konsumen terhadap daya
tanggap perusahaan maka kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi. Dan
sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap daya tanggap buruk maka kepuasan
konsumen juga akan semakin rendah. Dengan demikian , maka hipotesis ketiga

adalah sebagai berikut:

H3 = daya tanggap atau responsiveness berpengaruh positif terhadap
kepuasan konsumen.
4. Hubungan Assurance dengan Kepuasan Konsumen

Assurance atau jaminan adalah pengetahuan terhadap produk secara tepat,
kesopan santunan karyawan dalam memberi pelayanan, ketrampilan dalam
memberikan

informasi,

kemampuan

dalam

memberikan

keamanan

dan

kemampuan dalam menanamkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan terhadap
perusahaan
Hubungan jaminan dengan kepuasan konsumen mempunyai pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi konsumen terhadap jaminan
yang diberikan oleh perusahaan maka kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi.
Dan sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap jaminan yang diberikan oleh
perusahaan buruk maka kepuasan konsumen juga akan semakin rendah. Dengan
demikian, maka hipotesis keempat adalah sebagai berikut:

H4 = jaminan atau assurance berpengaruh positif terhadap kepuasan
konsumen.
5. Hubungan Emphaty dengan Kepuasan Konsumen
Emphaty merupakan kepedulian yang mencakup kemudahan komunikasi,

dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen dengan cara mendengarkan
kemudian memberi perhatian kepada tiap-tiap konsumen. Dengan kata lain empati
yaitu perhatian khusus atau individu terhadap segala kebutuhan dan keluhan
pelanggan, serta adanya komunikasi yang baik antara penyedia jasa dengan
konsumen.
Terciptanya komunikasi yang baik dari driver GO-JEK kepada konsumen. Driver
yang perduli dengan keselamatan konsumen berpengaruh dengan rasa puas

dengan layanan yang diberikan. Konsumen akan merasa senang dan nyaman
dengan layanan GO-JEK.
Hubungan empati dengan kepuasan konsumen mempunyai pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik persepsi konsumen terhadap empati yang
diberikan oleh perusahaan maka kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi. Dan
sebaliknya jika persepsi konsumen terhadap empati yang diberikan oleh perusahaan
buruk maka kepuasan konsumen juga akan semakin rendah. Dengan demikian , maka

hipotesis keempat adalah sebagai berikut:
H5 = empati atau emphaty berpengaruh positif terhadap kepuasan
konsumen.
Dengan demikian penelitian akan dilihat dari 5 dimensi kualitas pelayanan
yaitu tangible, reability, responsiveness, assurance, dan empathy yang akan
mempengaruhi kepuasan konsumen.
Tangible (Tb)

Reliability

(Rb)

H1

H2

Responsiveness

(Rp)

Assurance
(As)

H3

Kepuasan Konsumen

H4

(KKG)

H5

Empathy
(Ep)

H6
Gambar 2.1 Kerangka Teoritis
F. Hipotesa
Sesuai dengan permasalahannya, maka dirumuskan hipotesis penelitian ini
sebagai berikut:
1. H1 (Tangible)
-

Ho : tidak ada pengaruh signifikan bukti fisik terhadap kepuasan
konsumen.

-

Ha : terdapat pengaruh signifikan bukti fisik (tangible) terhadap
kepuasan konsumen.

2. H2 (Reliability)
- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan kehandalan (reliability)
terhadap kepuasan konsumen.
- Ha : terdapat pengaruh signifikan kehandalan (reliability) terhadap
kepuasan konsumen.
3. H3 (Responsiveness)
- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan daya tanggap (responsiveness)
terhadap kepuasan konsumen.
- Ha : terdapat pengaruh signifikan daya tanggap (responsiveness)
terhadap kepuasan konsumen.
4. H4 (Assurance)
- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan jaminan (assurance) terhadap
kepuasan konsumen.
- Ha : terdapat pengaruh signifikan jaminan (assurance) terhadap
kepuasan konsumen.
5. H5 (Empathy)
- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan empati (empathy) terhadap
kepuasan konsumen.
- Ha : terdapat pengaruh signifikan empati (empathy) terhadap kepuasan
konsumen.
H6
- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan kualitas pelayanan terhadap
kepuasan konsumen.
- Ha : terdapat pengaruh signifikan kualitas pelayanan terhadap
kepuasan konsumen.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian empiris yang datanya berbentuk angkaangka. Metode Kuantitatif adalah metodologi penelitian yang berlandaskan pada
filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu
dan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa UIN Sumatera Utara yang
menggunakan jasa GO-JEK. Dan penelitian ini dimulai dari bulan Maret 2017
sampai dengan selesai.
C. Sumber Data
Untuk menyusun suatu karya ilmiah diperlukan data, baik berupa data
primer maupun sekunder, berikut penjelasan data primer dan sekunder,
1.

Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden. Data ini

dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi langsung melalui penyebaran
kuisioner, yaitu dengan menyebarkan daftar pertanyaan. Atau menggunakan
google form yang dapat di sebarkan melalui social media. Dalam penelitian ini
data diperoleh langsung dari konsumen yang pernah menggunakan jasa
transportasi GO-JEK yaitu mahasiswa UIN Sumatera Utara.
2.

Data Sekunder
Menurut Sugiama data sekunder adalah data yang dikumpulkan pada pihak

lain yang mana data tersebut mereka jadikan sebagai sarana untuk kepentingan
mereka sendiri. Atau dengan kata lain data sekunder adalah sumber

data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya tetapi
melalui media perantara. Seperti buku-buku

literatur, majalah, Koran, atau

langsung dari webside perusahaan GO-JEK dan informasi yang berhubung
dengan masalah yang sedang diteliti.
D. Populasi dan
Sampel 1. Populasi
Populasi yaitu sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang
mempunyai karakteristik tertentu. Populasi juga mengandung arti kumpulan dari
keseluruhan pengukuran, objek, atau individu yang sedang dikaji. Dalam artian
lain populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri dari atas obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang diterapkan oleh peneliti
untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi

pengertian

populasi

dalam

statistic

tidak

terbatas

pada

sekelompok/kumpulan orang-orang, namun mengacu pada seluruh ukuran,
hitungan, atau kualitas yang menjadi fokus suatu kajian. Dengan kata lain
populasi juga dapat dikatakan sebagai universal atau sekumpulan kelompok pada
individu atau objek yang memiliki karakteristik yang sama.
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah mahasiswa UIN
Sumatera Utara yang menjadi pernah menjadi pengguna jasa transportasi GOJEK. Jumlah keseluruhan Mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara tahun angkatan
2013 dan angkatan 2014 yaitu 613 mahasiswa.
2.

Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi yang digunakan untuk penelitian. Ukuran sampel atau jumlah sampel
yang diambil merupakan hal yang penting jika peneliti melakukan penelitian yang
menggunakan analisis kuantitatif. Anggota populasi yang secara kebetulan

dijumpai oleh peneliti dan sesuai dengan ketentuan peneliti. Sampel adalah bagian
dari populasi yang karakteristiknya akan diteliti.
3.

Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode

purposive sampling. Pada metode ini sampel diharapkan kriteria sampel yang
diperoleh benar-benar sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. Dengan itu
sampel yang digunakan harus sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan
seperti kriteria, sifat ataupun sifat. Adapun kriteria sampel dari penelitian ini:
a. Mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014
b. Mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara yang pernah menggunakan
transportasi GO-JEK lebih dari 2 kali.
Untuk menentukan ukuran sampel dari suatu populasi digunakan rumus
Slovin sebagai berikut:
Keterangan :
n : ukuran Sampel
N : ukuran populasi
E : persentasi kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan sampel
(10%)
Jadi jumlah sampel yang diambil adalah :
Maka berdasarkan hasil diatas sampel yang diambil untuk penelitian ini
adalah sebanyak 86 responden.

E. Defenisi Operasional
Defenisi operasional variabel diperlukan untuk menjelaskan variabel yang
diidentifikasi sebagai upaya pemahaman dalam penelitian. Dalam penelitian ini
terdapat dua variabel utama yang diteliti yaitu:
1. Kualitas pelayanan sebagai variabel bebas yaitu variabel independen (X)
Kualitas pelayanan (X) artinya perbandingan antara persepsi konsumen
atas pelayanan yang mereka dapatkan dengan layanan yang sesungguhnya, yang
mereka harapkan dan inginkan.
Terdapat lima variable yang mencakup masalah kualitas pelayanan sebagai
berikut.
a.

Tangible atau bukti langsung (X1) adalah bentuk pelayanan yang
diberikan oleh driver GO-JEK yang dapat dilihat secara langsung,
misalnya fasilitas fisik, perlengkapan berkendara dan sarana
komunikasi. Indikator dari variabel bukti langsung meliputi:

b.

-

Kendaraan baik

-

Atribut kelengkapan berkendara sesuai aturan

-

Atribut tambahan dalam kendaraan yang dibutuhkan

-

Penampilan driver seperti memakai jaket GO-JEK

Reliability atau keandalan (X2) artinya kemampuan memberikan
pelayanan yang dijanjikan dengan segera, tepat, akurat dan
memuaskan. Indikatornya meliputi:

c.

-

Mengantarkan konsumen sampai ketempat tujuan dengan tepat

-

Waktu tempuh saat mengantarkan konsumen

-

Akses jaringan ketika menghubungi driver

-

Dapat dipercaya oleh konsumen

Responsiveness atau daya tanggap (X3) artinya keinginan para driver
untuk membantu para konsumen dan memberikan pelayanan dengan
tanggap. Indikatornya meliputi:
-

Memberikan Solusi bagi pelanggan yang komplain

-

Ketepatan waktu dalam layanan

-

Kecepatan pada pelayanan

d.

Kejelasan informasi

Assurance atau jaminan (X4) artinya segala sesuatu yang mencakup
pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang
dimiliki setiap driver bebas dari resiko yang berbahaya dan keraguraguan. Indikatornya meliputi:

e.

-

Etika dalam melakukan pelayanan

-

Kepercayaan konsumen terhadap driver

-

Rasa aman ketika mengemudi kendaraan

-

Rasa nyaman

Empathy artinya segala seuatu yang diberikan perusahaan GO-JEK
yang meliputi kemudahan dalam melakukan komunikasi yang baik,
perhatian pribadi dengan kebutuhan para konsumen. Indikator
meliputi:

2.

-

Mengutamakan keselamatan

-

Mendengarkan keluhan atau keinginan konsumen

-

Jam operasional

-

Berkomunikasi dengan baik

Kepuasan konsumen sebagai Variabel Dependen (Y) yang artinya hasil
evaluasi purna pelayanan.
a.

Kesetiaan konsumen dalam memilih suatu produk, indikatornya:
-

Memakai kembali jasa transportasi GO-JEK

-

Mereferensikan GO-JEK kepada orang lain

b. Keluhan (komplain), indikatornya:

c.

-

Tanggapan keluhan

-

Tindakan driver setelah menerima keluhan

Partisipasi, indikatornya:
-

Ikut serta dalam kegiatan

-

Memberikan dukungan keberadaan GO-JEK

-

Memberikan kritik dan saran

F. Tekhnik dan Instrumen Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian
ini adalah metode pengumpulan data. Adapun metode yang digunakan peneliti
untuk penguumpulan data adalah:
1. Kuisioner
Kuisioner merupakan tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. Kuisioner merupakan tekhnik pengumpulan data yang efisien
bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa
diharapkan dari responden.
2. Studi Pustaka
Yaitu mempelajari buku-buku literature dan bacaan lain yang dapat
membantu untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini.
G. Analisis Data
Skala yang dipakai untuk mengetahui kepuasan pelanggan dari segi
kualitas pelayanan jasa yang telah diberikan adalah skala likert yang terdiri dari:
sangat baik, baik, cukup, tidak baik, sangat tidak baik. Kelima penilaian berikut
diberi bobot sebagai berikut:
Tabel 3.1
Pengukuran Skala Likert
Penilaian

Skor

Sangat Setuju (SS)

5

Setuju (S)

4

Kurang Setuju (KS)

3

Tidak Setuju (TS)

2

Sangat Tidak Setuju (STS)

1

1. Uji Deskriptif
Yaitu metode yang dilakukan untuk menafsirkan data-data dan keterangan
yang diperoleh dengan cara mengumpulkan, menyusun, dan mengklasifikasikan
data-data yang diperoleh yang selanjutnya dianalisis sehingga diperoleh gambaran
yang jelas mengenai masalah yang diteliti. Ilmu statistik ini digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana
adanya tanpa maksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Dalam penelitian ini, analisis deskrptif menjelaskan mengenai karakteristik
responden yang digunakan.
2. Uji Kualitas Data
a. Uji Validitas

Uji validitas adalah akurasi alat ukur terhadap yang diukur walaupun dengan
reliabilitas alat ukur itu sendiri. Ini artinya bahwa alat ukur harus lah memiliki
akurasi yang baik terutama apabila alat ukur tersebut yang digunakan sehingga
validitas akan meningkatkan bobot kebenaran data yang diinginkan peneliti, maka
kuesioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukurnya dengan
bantuan SPSS. Untuk mengetahui penelitian valid atau tidak.
Menurut Duwi, uji validitas item digunakan untuk mengukur ketepatan
suatu item dalam kuisioner atau skala, apakah item-item pada kuisioner tersebut
sudah tepat dalam mengukur apa yang ingin diukur, atau bisa dilakukan penilaian
langsung dengan metode korelasi person atau metode corrected item total
coralation.
Metode uji validitas ini dengan cara mengkolerasikan masing-masing skor
item dengan skor total item. Skor total item dengan penjumlahan dari keseluruhan
item. Pengujian validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan SPSS
Statistic dengan kriteria berikut:
Jika r hitung > r tabel, maka pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
Jika r hitung < r tabel, maka pertanyaan tersebut dinyatakan tidak valid.

b.

Uji Reliabilitas

Menurut Duwi, reliabilitas merupakan tingkat kehandalan suatu instrumen
penelitian. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur,
apakah alat ukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika
pengukuran tersebut diulang.
Penguji yang dilakukan dengan menggunakan SPSS Statistics. Butir pertanyaan
sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan
kriteria sebagai berikut:
Jika r alpha > r tabel, maka pertanyaan reliable
Jika r alpha < r tabel, maka pertanyaan tidak reliable
3. Asumsi Klasik.
Sebelum melakukan analisis regresi, agar dapat perkiraan yang efisien dan
tidak bisa, maka dilakukan pengujian asumsi klasik yang harus dipennuhi, yaitu:
a.

Uji Normalitas

Tujuan dari dilakukannya uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah
dalam model regresi variabel dependen dan variabel independen keduanya
mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi
data normal atau paling tidak mendekati normal. Untuk mendeteksi normalitas
dapat menggunakan analisa grafik normal P-P plot of regression standardized
residual. Deteksinya dengan melihatpenyebaran data (titik) pada sumbu diagonal
dari grafik.
Dasar pengambilan keputusan dari analisa grafik tersebut adalah:
-

Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

-

Jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi
normalitas.

b.

Uji Multikoliniaritas

Uji ini bertujuan untuk mengidentifikasi suatu model regresi yang dapat
dikatakan baik atau tidak. Serta menguji apakah dalam model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi antara variabel bebas, karena jika hal tersebut terjadi maka
variabel-variabel tersebut tidak orthogonal atau terjadi kesalahan. Untuk
mendeteksi apakah terjadi multikolinearitas dapat diketahui variance inflation
faktor (VIF) dan toleransi pedoman suatu model regresi yang bebas
multikolineritas adalah sebagai berikut:
-

Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1. Jika nilai VIF lebih dari 10,
maka kesimpulannya data tersebut memiliki multikolinieritas. Apabila
nilai VIF dibawah 10, maka kesimpulannya data yang kita uji tidak
memiliki kolinieritas.
2

-

Rumus: VIF = 1/1 – R

-

Mempunyai angka tolerance mendekati angka 1. Apabila nilai
tolerance lebih besar dari 0,01, maka dapat disimpulkan tidak terjadi
multikolinieritas. Sedangkan nilai tolerance data yang di uji lebih kecil
dari 0,10, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut terjadi
multikolinieritas.

c.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varian dari suatu residual pengamatan ke
pengamatan yang lain. Salah satu cara untuk mendekati heteroskedastisitas adalah
dengan melihat scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan
residualnya (SRESID). Jika ada titik-titik membentuk pola tertentu yang teratur
seperti

gelombang,

melebar,

kemudian

menyempit

maka

telah

terjadi

heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada
sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4. Uji Regresi Linier Berganda
Regresi berganda yaitu untuk menganalisis seberapa besar pengaruh antara
beberapa variabel independen. Dalam penelitian ini menggunakan model analisis
regresi linier berganda. Model ini digunakan untuk mengetahui tentang pengaruh
variabel tangible (Tb), reliability (Rb), responsiveness (Rp), assurance (Ar),
empathy (Ep) dan kepuasan konsumen (KKG).
Bentuk umum persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut:
Keterangan:
KKG : Kepuasan Konsumen GO-JEK
Tb

: Tangible

Rb

: Reliability

Rp

: Responsiveness

Ar

: Assurance

Ep

: Empathy

α

: Konstanta

β

: Koefesien perubahan yang menunjukan angka peningkatan atau penurunan
variabel independen terhadap variabel dependen.

e

: Tingkat kesalahan
5. Uji Hipotesis
2

a. Uji Koefisien Determinasi (R )
Koefesien determinasi adalah salah satu nilai statistik yang dapat
digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara dua variabel. Nilai
koefisien dari determinasi menunjukan persentase variasi nilai variabel yang dapat
dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan. Nilai koefisien determinasi
2

2

(R ) adalah antara 0 dan 1. Apabila nilai R kecil maka kemampuan variabel
independen kualitas pelayanan (X) dalam menjelaskan variabel dependen
kepuasan konsumen (Y) sangat terbatas. Uji determinasi dilakukan untuk melihat
besarnya pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada bisnis
jasa transportasi GO-JEK.

b.

Uji Simultan (Uji F)

Untuk melakukan pengujian hipotesis ada beberapa ketentuan yang
diperlukan untuk diperhatikan. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui
apakah kelima variabel tersebut sama-sama mempunyai pengaruh signifikan
dengan kepuasan konsumen.
Langkah-langkah pengujian terhadap koefisien regresi adalah sebagai
berikut:
-

Ho:β = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel kualitas
layanan terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha :β≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel kualitas layanan
terhadap variabel kepuasan konsumen.
Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikansi sebesar 5% dan derajat

kebebasan (d.f) = (k-1, n-k, α), dapat diketahui dari hasil perhitungan computer
program SPSS. Kesimpulan yang diambil adalah
Jika fhitung ˃ ftabel tabel pada α = 5% , maka Ho ditolak dan Ha diterima,
sebaliknya
Jika fhitung ˂ ftabel tabel pada α = 5% , maka Ho diterima dan Ha
ditolak, dengan Ftabel derajat kebebasan = (k-1, n-k, α).
c.

Uji Parsial (t)

Uji t bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing
variabel independen (tangible, reablility, responsiveness, assurance dan empathy)
terhadap variabel dependen yaitu (kepuasan konsumen).
Langkah-langkah pengujian terhadap koefisien regresi adalah sebagai berikut:
-

Ho: β1 = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel
tangible terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha: β1 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel tangible
terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ho: β2 = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel
reability terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha: β2 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel reability
terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ho: β3 = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel
responsiveness terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha: β3 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel
responsiveness terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ho: β4 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel
assurance terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha: β4 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel assurance
terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ho: β5 = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel
empathy terhadap variabel kepuasan konsumen.

-

Ha: β5 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan anatara variabel empathy
terhadap variabel kepuasan konsumen.

Dalam penelitian ini digunakan taraf signifikansi sebesar 5% dan derajat
kebebasan (d.f) = n-k , dapat diketahui dari hasil perhitungan computer program
SPSS. Kesimpulan yang diambil adalah:
-

Jika thitung > ttabel tabel pada alpha = 5%, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya variabel independen secara parsial mempunyai
pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

-

Jika thitung < ttabel tabel pada alpha = 5%, maka Ho diterima dan Ha
ditolak,

artinya

variabel

independen

secara

parsial

mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

tidak

1. Gambaran umum PT. GO-JEK Indonesia
PT. GO-JEK Indonesia bermula ditahun 2010 didirikan oleh Nadiem
Makarim sebagai perusahaan transportasi roda dua melalui panggilan telepon,
GO-JEK kini telah tumbuh menjadi on-demand mobile platform dan aplikasi
terdepan yang menyediakan berbagai layanan lengkap mulai dari transportasi,
logistic, pembayaran, layan-antar makanan, dan berbagai layanan on-demand
lainnya.
GO-JEK adalah sebuah perusahaan teknologi berjiwa sosial yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja diberbagai sektor informal di
Indonesia. GO-JEK bermitra dengan para pengendara ojek yang berpengalaman.
Kegiatan GO-JEK bertumpu pada 3 nilai pokok: kecepatan, inovasi, dan dampak
sosial.
Para driver GO-JEK mengatakan bahwa pendapatan mereka meningkat
semenjak bergabung sebagai mitra dengan mendapatkan akses ke lebih banyak
pelanggan melalui aplikasi kami. Mereka juga mendapatkan santunan kesehatan
dan kecelakaan, akses kepada lembaga keuangan dan asuransi, cicilan otomatis
yang terjangkau, serta berbagai fasilitas yang lain.
GO-JEK telah resmi beroperasi di 25 kota besar di Indonesia, termasuk
Medan, Batam, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Padang, Bandar Lampung,
Jabodetabek,

Bandung,

Banjarmasin,

Manado,

Sukabumi,
Makassar,

Yogyakarta,
Denpasar,

Semarang,

Mataram

Pontianak,

dengan

rencana

pengembangan di kota-kota lainnya pada tahun mendatang. Adapun layanan yang
diberikan oleh PT. GO-JEK Indonesia, yaitu GO-RIDE, GO-CAR, GO-FOOD,
GO-BLUEBIRD, GO-SEND, GO-PULSA, GO-WIN, GO-SHOP, GO-MART
GO-TIX, GO-BOX, GO-MASSAGE, GO-CLEAN, GO-GLAM, GO-MED, GOBUS.

PT. GO-JEK Indonesia membantu memperbaiki struktur transportasi di Indonesia,
memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti
pengiriman dokumen, belanja harian dengan menggunakan jasa kurir, serta turut
mensejahterakan kehidupan tukang ojek di Indonesia.
PT. GO-JEK Indonesia adalah sebagai berikut:
-

Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola struktur transportasi
yang baik dengan menggunakan kemajuan teknologi.

-

Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada
pelanggan.

-

Membuka lapangan kerja selebar-lebarnya bagi masyarakat Indonesia.

-

Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan
sosial.

-

Menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak yang terkait dengan usaha
ojek online.

2. Deskripsi Data Penelitian
Berdasarkan sampel dari penelitian ini, penulis melakukan penelitian
kepada mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara yang menggunakan jasa
transportasi GO-JEK. Dalam penelitian ini, penulis menjadikan pengelolaan data
dalam bentuk kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan Variabel Tb (Tangibel), 10
pertanyaan

Variabel

Rb

(Reliability),

10

pertanyaan

Variabel

Rp

(Responsiveness), 10 pertanyaan Variabel As (Assurance), 10 pertanyaan Variabel
Ep (Emphaty), dan 10 pertanyaan Variabel KKG (Kepuasan pelanggan) yang
disebarkan kepada 86 Responden dengan menggunakan skala likert.
Tabel 4.1
Pengukuran Skala Likert
No

Pertanyaan

Skor

1

SS = Sangat Setuju

5

2

S = Setuju

4

3

KS = Kurang Setuju

3

4

TS = Tidak Setuju

2

5

STS = Sangat Tidak Setuju

1

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

a. Karakteristik Responden
Dibawah ini peneliti akan menguraikan penyajian data dalam berbagai
karakteristik.
Berdasarkan hasil tabel di atas maka dapat dilihat bahwa jumlah
responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 16 orang dengan
presentase 18,6%, sedangkan perempuan berjumlah 70 orang dengan
presentase sebesar 81,4%. Ini dapat diartikan bahwa pelanggan GO-JEK
lebih dominan berjenis kelamin perempuan.

Gambar 4.1
Presentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

2) Penyajian Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4.3
Responden Berdasarkan Usia
usia
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

17-19 tahun

2

2,3

2,3

2,3

20-22 tahun

83

95,4

95,4

97,7

23-25 tahun

2

2,3

2,3

100,0

26-25 tahun

-

-

-

-

87

100,0

100,0

Total

Sumber: Data primer yang diolah, 2017

Berdasarkan hasil tabel di atas maka dapat dilihat bahwa jumlah
responden berdasarkan usia 17-19 tahun berjumlah 2 orang dengan besar
presentase 2,3%, usia 20-22 tahun berjumlah 82 orang dengan besar
presentase 95,4%, usia 23-25 tahun berjumlah 2 orang dengan besar
presentase 2,3%, sedangkan untuk usia 26-28 tahun tidak ada. Dengan
demikian tingkat usia yang paling potensial adalah usia 20-22 tahun.

3)

Penyajian Responden Berdasarkan Semester
Tabel 4.4
Responden Berdasarkan Semester
semester
Frequency

Valid

Missing

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

vi

46

53

53,5

53,5

viii

40

46

46,5

100,0

Total

86

99

100,0

1

1,1

87

100,0

System

Total

Berdasarkan hasil tabel di atas maka dapat dilihat bahwa jumlah
responden yang status di semester VI berjumlah 46 orang dengan
presentase 53%, dan yang berstatus semester VIII berjumlah 40 orang
dengan presentase 46%. Dengan demikian mahasiswa yang paling
potensial menggunakan GO-JEK adalah mahasiswa semester VI.
b. Deskripsi Variabel
1) Tangible (Tb)
Dalam hal ini dikemukakan angket mengenai tangible atau bukti fisik
yang merupakan variabel bebas dari penelitian, sebagaimana terlihat
pada gambar tabel 4.5 hasil presentase jawaban responden berdasarkan
tangible (Tb).

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pertanyaan variabel
tangible (Tb), yaitu:
a) Untuk item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi
sebesar 65% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah sebesar 0%
(sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
61% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
55% (setuju) dan yang paling rendah 0% (tidak setuju dan sangat tidak
setuju).
d) Item pertanyaaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
52% dan yang paling rendah 0% (tidak setuju dan sangat tidak setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
49% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).
f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
65% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
53% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
60% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
64% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
62% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
Berdasarkan hasil jawaban responden atas variabel tangible maka

dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mereka mengatakan setuju
bahwa bukti fisik (tangible) GO-JEK mempengaruhi kepuasan konsumen.
2) Reliability (Rb)
Dalam hal ini dikemukakan angket mengenai reliability (kehandalan)
yang merupakan variabel bebas dari penelitian, sebagaimana terlihat pada
gambar tabel 4.6 hasil presentase jawaban responden berdasarkan
reliability (Rb).
Tabel 4.6
Responden Terhadap Reliability (Rb)
Butir

SS

S

KS

TS

STS
F

Total

Total

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

P1

35

41%

48

56%

3

3%

0

0

0

0

86

100%

P2

23

27%

53

62%

8

9%

1

1%

1

1%

86

100%

P3

17

20%

53

62%

14

16%

2

2%

0

0

86

100%

P4

26

30%

45

52%

13

15%

2

2%

0

0

86

100%

P5

25

29%

48

56%

12

14%

1

1%

0

0

86

100%

P6

23

27%

50

58%

13

15%

0

0

0

0

86

100%

P7

25

29%

53

62%

8

9%

0

0

0

0

86

100%

P8

26

30%

52

60%

8

9%

0

0

0

0

86

100%

P9

20

23%

55

64%

8

9%

3

3%

0

0

86

100%

P10

19

22%

59

69%

6

7%

2

2%

0

0

86

100%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pertanyaan variabel
reliability (Rb), yaitu:

a) Item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
56% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
62% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 1% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
62% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
d) Item pertanyaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
52% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
56% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
58% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
62% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
60% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
64% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
69% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).

Berdasarkan hasil jawaban dari responden atas variabel reliability
dapat disimpulkan, sebagian konsumen setuju bahwa kehandalan GO-JEK
dapat memuaskan konsumen.
3) Responsiveness (Rp)
Dalam hal ini dikemukakan angket mengenai daya tanggap yang
merupakan variabel bebas dari penelitian, sebagaimana terlihat pada
gambar tabel 4.7 hasil presentase jawaban responden berdasarkan daya
tanggap (Rp).
Tabel 4.7
Responden Terhadap Responsiveness (Rp)
Butir

SS

S

KS

TS

STS

Total

Total

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

P1

16

19%

61

71%

7

8%

1

1%

1

1%

86

100%

P2

19

22%

54

63%

12

14%

0

0

1

1%

86

100%

P3

17

20%

51

59%

16

19%

2

2%

0

0

86

100%

P4

14

16%

58

68%

11

13%

3

3%

0

0

86

100%

P5

17

20%

54

63%

15

17%

0

0%

0

0

86

100%

P6

21

24%

46

54%

16

19%

2

2%

1

1%

86

100%

P7

16

19%

57

66%

10

12%

3

3%

0

0

86

100%

P8

19

22%

55

64%

11

13%

1

1%

0

0

86

100%

P9

20

23%

59

69%

5

6%

2

2%

0

0

86

100%

P10

27

32%

50

58%

8

9%

1

1%

0

0

86

100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pertanyaan variabel
responsiveness (Rp), yaitu:
a) Item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
71% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 1% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
63% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju).

c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
59% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
d) Item pertanyaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
68% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
63% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
54% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 1% (sangat tidak
setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
66% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
64% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
69% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
58% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
Berdasarkan

hasil

jawaban

dari

responden

atas

variabel

responsiveness dapat disimpulkan, sebagian konsumen setuju bahwa daya
tanggap GO-JEK dapat memuaskan konsumen.
4) Assurance (Ar)
Dalam hal ini dikemukakan angket mengenai jaminan yang
merupakan variabel bebas dari penelitian, sebagaimana terlihat pada

a) Untuk item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi
sebesar 70% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah sebesar 0%
(tidak setuju dan sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
76% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
64% (setuju) dan yang paling rendah 0% (sangat tidak setuju).
d) Item pertanyaaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
77% dan yang paling rendah 0% (sangat tidak setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
76% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 1% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
70% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
36% (kurang setuju) dan yang paling rendah sebesar 6% (sangat tidak
setuju).
h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
65% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 1% (sangat tidak setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
74% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
74% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).
Berdasarkan hasil jawaban responden atas variabel assurance maka dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar mereka mengatakan setuju bahwa

jaminan pada GO-JEK mempengaruhi kepuasan konsumen

.
5) Emphaty (Ep)
Dalam hal ini dikemukakan angket mengenai empati yang merupakan
variabel bebas dari penelitian, sebagaimana terlihat pada gambar tabel 4.9
yang sama hasil presentase jawaban berdasarkan empati (Ep).
Tabel 4.9
Responden Terhadap Emphaty (Ep)
Butir

SS

S

KS

TS

STS

Total

Total

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

P1

19

22%

64

74%

3

4%

0

0%

0

0%

86

100%

P2

16

19%

48

56%

19

22%

3

3%

0

0%

86

100%

P3

18

21%

59

69%

9

10%

0

0%

0

0%

86

100%

P4

9

10%

35

41%

24

28%

13

15%

5

6%

86

100%

P5

19

22%

54

63%

11

13%

2

2%

0

0%

86

100%

P6

15

17%

54

63%

14

16%

3

4%

0

0%

86

100%

P7

20

23%

42

49%

16

19%

6

7%

2

2%

86

100%

P8

18

21%

41

48%

21

24%

3

4%

3

3%

86

100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pertanyaan variabel emphaty
(Ep), yaitu:
a) Untuk item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi
sebesar 74% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah sebesar 0%
(tidak setuju dan sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
56% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (sangat tidak
setuju).
c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
69% (setuju) dan yang paling rendah 0% (tidak setuju dan sangat tidak
setuju).
d) Item pertanyaaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
41% dan yang paling rendah 6% (sangat tidak setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
63% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
63% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
49% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 2% (sangat tidak setuju).
h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
48% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 3% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
68% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
68% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).
Berdasarkan hasil jawaban responden atas variabel emphaty maka

dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mereka mengatakan setuju bahwa
jaminan pada GO-JEK mempengaruhi kepuasan konsumen.
6) Kepuasan Konsumen (KKG)
Dalam hal ini dikemukakan tujuan dalam penelitian yang diperoleh
dari hasil angket dengan item yang berhubungan dengan kepuasan
konsumen yang merupakan variabel terikat pada tabel 4.10 yang sama hasil
presentase jawaban berdasarkan kepuasan konsumen (Y).
Tabel 4.10

Responden Terhadap Kepuasan Konsumen (KKG)
Butir

SS

S

KS

TS

STS

Total

Total

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

P1

22

25%

60

70%

4

5%

0

0%

0

0%

86

100%

P2

25

29%

56

65%

5

6%

0

0%

0

0%

86

100%

P3

23

27%

56

65%

7

8%

0

0%

0

0%

86

100%

P4

17

20%

58

67%

10

12%

1

1%

0

0%

86

100%

P5

22

26%

61

71%

3

3%

0

0%

0

0%

86

100%

P6

16

19%

44

51%

21

24%

5

6%

0

0%

86

100%

P7

18

21%

60

70%

6

7%

2

2%

0

0%

86

100%

P8

18

21%

54

63%

12

14%

1

1%

1

1%

86

100%

P9

29

34%

53

62%

3

3%

0

0%

1

1%

86

100%

P10

23

27%

58

67%

5

6%

0

0%

0

0%

86

100%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pertanyaan variabel
kepuasan konsumen (KKG), yaitu:
a) Untuk item pertanyaan ke-1 (P1) menunjukan frekuensi tertinggi
sebesar 70% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah sebesar 0%
(tidak setuju dan sangat tidak setuju).
b) Item pertanyaan ke-2 (P2) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
65% (setuju) dan frekuensi yang paling rendah 0% (tidak settuju dan
sangat tidak setuju).
c) Item pertanyaan ke-3 (P3) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
65% (setuju) dan yang paling rendah 0% (tidak setuju dan sangat tidak
setuju).
d) Item pertanyaaan ke-4 (P4) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
67% dan yang paling rendah 0% (sangat tidak setuju).
e) Item pertanyaan ke-5 (P5) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
71% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
f)

Item pertanyaan ke-6 (P6) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
51% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

g) Item pertanyaan ke-7 (P7) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
70% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (sangat tidak setuju).

h) Item pertanyaan ke-8 (P8) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
63% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 1% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
i)

Item pertanyaan ke-9 (P9) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
62% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju).

j)

Item pertanyaan ke-10 (P10) menunjukan frekuensi tertinggi sebesar
67% (setuju) dan yang paling rendah sebesar 0% (tidak setuju dan
sangat tidak setuju).
Berdasarkan hasil jawaban responden atas variabel kepuasan

konsumen maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mereka
mengatakan setuju atas kepuasan yang dirasaakan konsumen GO-JEK.
c. Teknik Analisis Data
1) Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui ketepatan alat ukur yang
dilakukan dalam mengolerasikan skor jawaban setiap pertanyaan.

a) Pengujian Validitas Variabel Tangible
Tabel 4.11
Uji Validitas Variabel Tangible
variabel

pertanyaan

r- hitung

r – tabel

keterangan

1

0,552

0,212

Valid

2

0,369

0,212

Valid

3

0,694

0,212

Valid

4

0,650

0,212

Valid

5

0,627

0,212

Valid

6

0,554

0,212

Valid

7

0,719

0,212

Valid

8

0,706

0,212

Valid

9

0,684

0,212

Valid

10

0,78

0,212

Valid

Tangible (Tb)

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh
pertanyaan pada variabel tangible telah valid.
b) Pengujian Validitas Reliability
Tabel 4.12
Uji Validitas Variabel Reliability
variabel

pertanyaan

r- hitung

r – tabel

keterangan

1

0,780

0,212

Valid

2

0,740

0,212

Valid

3

0,813

0,212

Valid

Reliability

4

0,689

0,212

Valid

(Rb)

5

0,843

0,212

Valid

6

0,727

0,212

Valid

7

0,724

0,212

Valid

8

0,796

0,212

Valid

9

0,692

0,212

Valid

10

0,764

0,212

Valid

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh pertanyaan
pada variabel reliability telah valid.
c) Pengujian Validitas Variabel Responsiveness
Tabel 4.13
Uji Validitas Responsiveness
variabel

pertanyaan

r- hitung

r – tabel

keterangan

1

0,542

0,212

Valid

2

0,77

0,212

Valid

3

0,658

0,212

Valid

4

0,705

0,212

Valid

Responsiveness

5

0,659

0,212

Valid

(Rp)

6

0,713

0,212

Valid

7

0,533

0,212

Valid

8

0,727

0,212

Valid

9

0,65

0,212

Valid

10

0,788

0,212

Valid

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh item
pertanyaan pada variabel responsiveness telah valid.
d) Pengujian Validitas Variabel Assurance
Tabel 4.14
Uji Validitas Assurance
variabel

pertanyaan

r- hitung

r – tabel

keterangan

1

0,588

0,212

Valid

Assurance

2

0,655

0,212

Valid

(Ar)

3

0,763

0,212

Valid

4

0,742

0,212

Valid

5

0,695

0,212

Valid

6

0,651

0,212

Valid

7

0,446

0,212

Valid

8

0,547

0,212

Valid

9

0,634

0,212

Valid

10

0,709

0,212

Valid

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh item
pertanyaan pada variabel assurance telah valid.
e) Pengujian Validitas Variabel Emphaty
Tabel 4.15
Uji Validitas Emphaty
variabel

Emphaty (Ep)

pertanyaan

r- hitung

r - tabel

keterangan

1

0,598

0,212

Valid

2

0,726

0,212

Valid

3

0,593

0,212

Valid

4

0,541

0,212

Valid

5

0,673

0,212

Valid

6

0,703

0,212

Valid

7

0,731

0,212

Valid

8

0,775

0,212

Valid

9

0,747

0,212

Valid

10

0,678

0,212

Valid

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh item
pertanyaan pada variabel emphaty telah valid.

f)

Pengujian Validitas Variabel Kepuasan Konsumen (KKG)
Tabel 4.16
Uji Validitas Variabel Kepuasan Konsumen

variabel

pertanyaan

r- hitung

r - tabel

keterangan

1

0,738

0,212

Valid

2

0,709

0,212

Valid

3

0,772

0,212

Valid

4

0,755

0,212

Valid

5

0,716

0,212

Valid

6

0,593

0,212

Valid

7

0,688

0,212

Valid

8

0,682

0,212

Valid

9

0,688

0,212

Valid

10

0,681

0,212

Valid

kepuasan
konsumen
(KKG)

Berdasarkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa seluruh pertanyaan
pada variabel kepuasan konsumen telah valid.
2) Uji Reliabilitas
Butir pertanyaan yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan
ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut: Jika r alpha > r
tabel maka pertanyaan reliable
Jika r alpha < r tabel maka pertanyaan tidak reliable
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,825 (dibaca 0,825),
kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai N=86. Dan
diperoleh nilai r tabel sebesar 0.212, ini berarti r alpha > r tabel. Sehingga
dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang diuji sangat
reliable, karena nilai Cronbach‟s Alpha = 0,825

b)

Pengujian Validitas Variabel Reliability (Rb)
Tabel 4.18
Uji Reliabilitas Variabel Reliability
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,915 (dibaca

0,915), kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai
N=86. Dan diperoleh nilai r tabel sebesar 0.212, ini berarti r alpha > r
tabel. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner
yang diuji sangat reliable, karena nilai Cronbach‟s Alpha = 0,915.
c) Pengujian Validitas Variabel Responsiveness
Tabel 4.19
Uji Reliabilitas Variabel Responsiveness
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,866 (dibaca
0,866), kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai
N=86. Dan diperoleh nilai r tabel sebesar 0.212, ini berarti r alpha > r
tabel. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner
yang diuji sangat reliable, karena nilai Cronbach
d)

Pengujian Validitas Variabel Assurance
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,811 (dibaca

0,811), kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai
N=56. Dan diperoleh nilai r tabel sebesar 0,212, ini berarti r alpha > r
tabel. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuisioner
yang diuji sangat reliable, karena nilai Cronbach‟s Alpha = 0,811

e) Pengujian Validitas Variabel Emphaty (Ep)
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,855 (dibaca
0,855), kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai
N=86. Dan diperoleh nilai r tabel sebesar 0,212, ini berarti r alpha > r
tabel. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuisioner
yang diuji sangat reliable, karena nilai Cronbach
f)

Pengujian Validitas Variabel Kepuasan Konsumen (KKG)
Pada item ini tingkat signifikan 5% koefisien Alpha ,877 (dibaca

0,877), kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai r tabel dengan nilai
N=86. Dan diperoleh nilai r tabel sebesar 0.212, ini berarti r alpha > r
tabel. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner
yang diuji sangat reliable, karena nilai Cronbach
Secara komprehensif variabel yang di teliti pada taraf signifikan 95%
adalah valid dan dapat dipercaya (reliabel). Dengan demikian, item-item
dalam penelitian ini dapat diaplikasikan untuk penelitian selanjutnya. Ini
mengindikasikan bahwa seluruh item telah memenuhi strandar kelayakan
untuk selanjutnya diaplikasikan kepada seluruh responden dan tidak ada
perbaikan kuesioner.
d. Uji Asumsi Klasik
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan melalui perhitungan regresi dengan SPSS
versi 20 yang dideteksi melalui dua pendekatan grafik, yaitu analisa grafik
histogram dan analisa grafik normal p-plot yang membendingkan antara
dua observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Berikut
ini penjelasan dari grafik-grafik tersebut

Gambar 4.4
Grafik Histogram

Berdasarkan tampilan gambar di atas, dapat dilihat bahwa dari grafik
histogram yang berbentuk lonceng, grafik tersebut tidak miring kesamping
kiri maupun kanan yang artinya adalah data berdistribusi normal. b) Grafik
Normal P-Plots
Berikut ini dapat dilihat data menyebar disekitar garis diagonal seperti
pada gambar 4.5 berikut:
Gambar 4.5
Grafik Normal P-Plots

Berdasarkan tampilan gambar di atas dapat dilihat data menyebar
disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, sehingga dapat
disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Uji kenormalan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov karena skala
pengukuran yang digunakan adalah skala likert dan data yang digunakan
merupakan data ordinal. Berdasarkan pada output SPSS dengan
menggunakan uji Kolmogorov Smirnov diketahui bahwa nilai Asymp. Sig
(2-tailed) sebesar 0,058 lebih besar dari alpha 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa data yang diuji berdistribusi normal. Hasil Uji
normalitas dapat dilihat pada Lampiran.
2) Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual pada satu pengamatan
ke pengamatan yang lain,
Pada diagram pencar diatas menunjukkan pada model regresi linear
berganda

tidak

terdapat

heteroskedastisitas.

Gambar

diatas

memperlihatkan titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk pola
yang teratur, serta tersebar disegala arah, baik diatas maupun dibawah
angka 0. Dengan demikian maka tidak terjadi masalah heterokedastisitas,
hingga model regresi yang baik dan ideal dapat terpenuhi.
3) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas.

Tabel 4.23
Uji Multikolinearitas
Coefficients
Model

Unstandardized

a

Standardized

t

Sig.

Collinearity Statistics

Coefficients
B
(Constant)

1

Coefficients

Std. Error

7,214

4,378

tangible

,095

,086

reliability

,405

Beta

Tolerance

VIF

1,648

,103

,087

1,104

,273

,889

1,125

,108

,474

3,752

,000

,346

2,887

-,024

,125

-,025

-,188

,851

,307

3,259

assurance

,255

,136

,237

1,873

,065

,344

2,904

empathy

,105

,092

,124

1,144

,256

,470

2,128

responsivenes
s

a. Dependent Variable: kepuasan

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

Dari tabel di atas terlihat bahwa semua variabel mempunyai nilai
toleransi di atas 0,1 dan nilai VIF di bawah 10, sehingga dapat
disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi
multikolinieritas.

a. Dependent Variable: kepuasan

Sumber: Data Primer yang diolah, 2017

KKG = 7,214 + 0,095Tb + 0,405Rb - 0,024Rp+ 0,255Ar + 0,105Ep
Berdasarkan persamaan tersebut, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Koefisien konstanta sebesar 7,214 artinya jika tidak ada variabel tangible,
variabel reliability, variabel responsiveness, variabel assurance, dan
variabel emphaty, maka kepuasan konsumen akan sebesar 7,214 poin.
2) Koefisien regresi variabel tangible adalah 0,095 berarah positif, artinya
setiap peningkatan pada kualitas bukti fisik sebesar 1 poin dan variabel
lainnya tetap, maka kepuasan konsumen akan mengalami kenaikan sebesar
0,095 poin.
3) Koefisien regresi variabel reliability adalah 0,405 berarah positif, artinya
setiap peningkatan pada kualitas kehandalan GO-JEK sebesar 1 poin dan
e. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linear berganda dalam penelitian ini menggunakan
bantuan aplikasi software SPSS Statistics versi 20. Bentuk persamaannya adalah:

Maka berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan program SPSS
dapat disajikan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Tabel 4.24
Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficients
Model

a

Unstandardized Coefficients

Standardized

t

Sig.

Coefficients
B
(Constant)

1

Std. Error
7,214

4,378

tangible

,095

,086

reliability

,405

Beta
1,648

,103

,087

1,104

,273

,108

,474

3,752

,000

-,024

,125

-,025

-,188

,851

assurance

,255

,136

,237

1,873

,065

empathy

,105

,092

,124

1,144

,256

responsiveness

variabel lainnya tetap, maka kepuasan konsumen akan mengalami
kenaikan sebesar 0,405 poin.
4) Koefisien regresi variabel responsiveness adalah -0,024 berarah negative,
artinya setiap peningkatan pada kualitas daya tanggap sebesar 1 poin dan
variabel lainnya tetap maka kepuasan konsumen akan mengalami
penurunan sebesar -0,024 poin.
5) Koefisien regresi variabel assurance adalah 0,225 berarah positif, artinya
setiap peningkatan pada kualitas jaminan sebesar 1 poin maka kepuasan
konsumen akan mengalami kenaikan sebesar 0,225 poin.
6) Koefisien regresi variabel emphaty adalah sebesar 0,105 berarah positif,
artinya setiap peningkatan pada kualitas kepedulian sebesar 1 poin maka
kepuasan konsumen akan mengalami kenaikan sebesar 0,105 poin.
f. Uji Hipotesis
Sebelum melihat hasil pengujian terhadap hipotesis, maka perlu diketahui
bahwa yang menjadi hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:
1) Uji T
Uji parsial ini menggunakan Uji T, yaitu:
Ho diterima jika t hitung < t tabel pada α = 5 %
Ha diterima jika t hitung > t tabel pada α = 5 %
Berikut ini akan dijelaskan pengujian masing-masing secara parsial
Rumus untuk mencari nilai ttabel adalah:
Keterangan:

α = 0,05 (5%)



n = Jumlah responden
k = Jumlah variabel bebas
Jadi, t tabel =

0,05/2 ; 86 – 5 – 1
0,025 ; 80

Kemudian dicari pada distribusi nilai ttabel maka ditemukan nilai t
tabel sebesar 1,99.
Hasil pengujian hipotesis secara parsial melalui uji t diperoleh t hitung
berdasarkan nilai koefisien yang dapat dilihat pada gambar di atas
menunjukkan bahwa :
a) Tangible atau bukti fisik tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK dengan t hitung
< ttabel sebesar 1,104 < 1,99. Besar pengaruh bukti fisik terhadap
kepuasan konsumen adalah 8,7%. Hal ini bukan berarti bahwa bukti

fisik tidak penting, akan tetapi bukti fisik tetap memiliki pengaruh
namun tidak signifikan. Hasil pengujian H1 dalam penelitian ini yang
menyatakan bahwa variabel tangible tidak berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan konsumen. Jadi dengan demikian H1 ditolak.
b) Reliability atau kehandalan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK dengan thitung > ttabel
sebesar 3,752 > 1,99. Besar pengaruh kehandalan terhadap kepuasan
konsumen adalah 47%. Hasil pengujian H1 dalam penelitian ini
menyatakan bahwa variabel reliability berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan konsumen, dengan arah hubungan positif. Jadi
dengan demikian H2 diterima.

c) Responsiveness atau daya tanggap berarah negative dan tidak
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen pada bisnis jasa
transportasi GO-JEK dengan thitung < ttabel sebesar -0,188 < 1,99. Besar

pengaruh daya tanggap terhadap kepuasan konsumen adalah 2,5%.
Hasil pengujian H3 dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa
variabel responsiveness tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen. Jadi dengan demikian H3 ditolak.
d) Assurance atau jaminan tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK dengan t hitung
< ttabel sebesar 1,873 < 1,99. Besar pengaruh jaminan terhadap kepuasan
konsumen adalah 2,4%. Hasil pengujian H4 dalam penelitian

ini yang menyatakan bahwa variabel assurance tidak berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan konsumen. Jadi dengan demikian H4
ditolak.
e) Emphaty atau empati tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK dengan thitung < ttabel
sebesar 1,144 < 1,99. Besar pengaruh empati terhadap kepuasan
konsumen adalah 1,2%. Hasil pengujian H5 dalam penelitian ini yang
menyatakan bahwa variabel tangible tidak berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan konsumen. Jadi dengan demikian H5 ditolak.
2) Uji F
Pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat
dari uji F, adapun syarat dari uji F adalah:
Ho diterima jika F hitung < F tabel pada α = 5 %
Ha diterima jika F hitung > F tabel pada α = 5 %

Berdasarkan hasil pengujian statsitik (Uji Anova/Uji F) dilihat pada
tabel di bawah sebagai berikut:

Pada tabel di atas diperoleh bahwa nilai F = 20,186 dengan tingkat
probability (0,000 < 0,05). Setelah mengetahui besarnya F hitung, maka
akan dibandingkan dengan F tabel.
Untuk mencari nilai F tabel maka memerlukan rumus:

k;n–k
Keterangan:

k = Jumlah variabel independent (bebas)
n = Jumlah responden

Jadi, F tabel = 5 ; 86 - 5
5 ; 81
Kemudian dicari pada distribusi nilai F tabel dan ditemukan nilai F tabel
sebesar 2,33. Karena nilai F hitung 20,186 lebih besar dari nilai F tabel 2,33
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel bebas X 1, X2, X3, X4, dan X5
(secara simultan) berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
2

3) Uji Koefisien Determinan (R )
Uji koefisien determinan dilakukan untuk melihat besarnya pengaruh
tangible terhadap kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GOJEK. Adapun determinan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
2
Dari tabel di atas dapat dijelaskan R = 0,558 yang berarti
menjelaskan besarnya pengaruh tangible, reliability, responsiveness,
assurance, dan emphaty terhadap kepuasan konsumen adalah sebesar
55,8% dan sisanya sebesar 44,2% dijelaskan variabel lainnya.
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan
seperti tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK. Maka dalam penelitian
ini diperoleh dengan menyebarkan angket kepada responden dan mengumpulkan
kembali. Peneliti melakukan pengujian analisis data dengan menggunakan
program SPSS versi 20.

1. Pengaruh Tangible Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Bisnis Jasa
Transportasi GO-JEK Indonesia.

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh tangible terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK. Hal ini dibuktikan
dengan hasil statistik uji t untuk variabel bukti fisik dengan nilai t hitung sebesar
1,104 dengan nilai signifikansi sebesar 0,273 lebih besar dari 0,05 (0,273 > 0,05),
dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,087. Hal ini menunjukkan
bahwa variabel tangible secara parsial tidak ada pengaruh yang signifikan antara
variabel tangible terhadap variabel kepuasan konsumen atau dengan kata lain Ha
ditolak.
Penilaian mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara selaku konsumen
terhadap bukti fisik dari GO-JEK tidak berpengaruh terhadap kepuasan yang
dirasakan

oleh

pengguna

GO-JEK.

Mungkin

konsumen

tidak

telalu

memperhatikan tipe kendaraan yang digunakan driver, atribut kendaraan yang
diberikan driver, penampilan dan kerapian driver, dan tampilan dari aplikasi GOJEK itu sendiri. Dengan demikian bukan berarti bukti fisik tidak memiliki
pengaruh dengan kepuasan yang dirasakan konsumen.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Wili Andri Merdian (2007) berjudul Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan
Terhadap Kepuasan Pelanggan (studi kasus TIKI cabang Jogjakarta). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tangible atau bukti langsung tidak
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan.
2. Pengaruh Reliability Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Bisnis Jasa
Transportasi GO-JEK Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan statistik uji t untuk variabel reliability dengan thitung sebesar
3,752 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05),
dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,474. Hal ini menunjukkan
ada pengaruh yang signifikan antara variabel reability terhadap variabel kepuasan
konsumen atau dengan kata lain, Ha diterima.
Kehandalan atau reliability yang diberikan oleh driver mempengaruhi
kepuasan yang dirasakan oleh konsumen. Hasil ini memberikan bukti bahwa
kehandalan dari penyedia jasa transportasi yang ditunjukkan dalam bentuk
ketepatan mengantarkan konsumen, kehandalan driver ketika berkendara,
kehandalan aplikasi untuk menghubungkan antara konsumen dan driver dan

kehandalan lainnya dalam meningkatkan pelayanan akan sangat berpengaruh
dengan kepuasan konsumen.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya ole Ratih
Hardiyati (2010) dengan judul “Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap
kepuasan konsumen (Menggunakan jasa penginapan (villa) Agrowisata Kebun
Teh Pagilaran)”. Penelitian ini menunjukkan bahwa reliability berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen.
3. Pengaruh Responsiveness Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Bisnis
Jasa Transportasi GO-JEK Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel responsiveness atau daya
tanggap memiliki pengaruh negative dan tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK. Hal ini dibuktikan
dengan thitung sebesar -0,188 dengan nilai signifikansi sebesar 0,851 lebih besar
dari 0,05 (0,851>0,05), dan koefisien regresi mempunyai nilai sebesar -0,025. Hal
ini menunjukkan bahwa variabel responsiveness secara parsial tidak ada pengaruh
yang signifikan antara variabel responsiveness terhadap variabel kepuasan
konsumen atau dengan kata lain, Ha ditolak.
Daya tanggap kepada konsumen merupakan bentuk layanan kepada
konsumen seperti menanggapi dan memberikan solusi ketika terjadi permasalahan
pada aplikasi. Serta kepedulian driver kepada konsumen ketika terjadi kerusakan
pada kendaraan yang digunakan. Akan tetapi pada penelitian ini daya tanggap
terhadap konsumen tidak begitu berpengaruh dengan kepuasan konsumen.
4. Pengaruh Assurance Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Bisnis Jasa
Transportasi GO-JEK Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel assurance atau jaminan
memiliki pengaruh positif akan tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada bisnis jasa transportasi GO-JEK. Hal ini dibuktikan dengan t hitung

menunjukkan bahwa variabel assurance secara parsial tidak ada pengaruh yang
signifikan antara bahwa variabel assurance terhadap variabel kepuasan konsumen
dengan kata lain, Ha ditolak.
Jaminan yang menjadi variabel untuk mengukur kepuasan konsumen
bisnis jasa transportasi GO-JEK tidak memiliki pengaruh dengan kepuasan

konsumen. Walaupun GO-JEK telah memberikan kenyamanan dalam melayani
konsumen, pelayanan tersebut tidak begitu berpengaruh dengan kepuasannya.
Akan tetapi GO-JEK harus tetap memberikan kenyamanan ketika berkendara.
5. Pengaruh Emphaty Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Bisnis Jasa
Transportasi GO-JEK Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel emphaty memiliki pengaruh
positif akan tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen pada
bisnis jasa transportasi GO-JEK. Hal ini dibuktikan dengan thitung sebesar 1,144
dengan nilai signifikansi sebesar 0,256 lebih besar dari 0,05 (0,256>0,05), dan
koefisien regresi mempunyai nilai sebesar 0,124. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel emphaty secara parsial tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel
emphaty terhadap variabel kepuasan konsumen dengan kata lain, Ha ditolak.
Empati atau kepedulian yang diberikan oleh driver kepada konsumen
sudah baik. Para driver harus lebih peka terhadap keinginan dan kebutuhan
konsumen, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi antara driver
dengan konsumen agar konsumen merasa nyaman. Empati yang diberikan oleh
GO-JEK tetap berpengaruh akan tetapi tidak begitu berpengaruh dengan kepuasan
konsumen.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Wili Andri Merdian (2007) berjudul Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan
Terhadap Kepuasan Pelanggan (studi kasus TIKI cabang Jogjakarta). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel emphaty atau empati tidak berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan pelanggan.

6. Pengaruh Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance
Emphaty

Terhadap

Kepuasan

Konsumen

Pada

Bisnis

dan
Jasa

Transportasi GO-JEK Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh tangible, reliability,
responsiveness, assurance dan, emphaty terhadap kepuasan konsumen pada bisnis
jasa transportasi GO-JEK Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan hasil statistic
Fhitung sebesar 20,186 dengan signifikansi sebesar 0,000. Oleh karena nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05), maka penelitian ini berhasil
membuktikan hipotesis keenam yang menyatakan bahwa “terdapat pengaruh
signifikan kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance dan
,emphaty) terhadap kepuasan konsumen”.
2

Hasil uji determinan R pada penelitian ini diperoleh nilai determinan R

2

sebesar 0,558 yang berarti bahwa besarnya pengaruh variabel tangible, reliability,
responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan konsumen adalah
sebesar 55% dan sisanya dijelaskan variabel lain yang tidak termasuk dalam
penelitian ini.

BAB V
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel Tangible

(Tb), variabel Reliability (Rb), variabel Responsiveness (Rp), variabel Assurance
(As), dan variabel Emphaty (Ep) Terhadap Kepuasan Konsumen (KKG) pada
Bisnis Jasa Transportasi GO-JEK Indonesia untuk mengetahui yang mana paling
dominan diantara variabel bebas tersebut. Dari rumusan masalah, maka analisis
data yang diajukan dalam pembahasan bab sebelumnya, maka dari itu dapat
ditarik beberapa kesimpulan:
1.

Tangible tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen GOJEK. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t pada variabel tangible dengan nilai
thitung sebesar 1,104 lebih kecil dari ttabel dengan nilai 1,99 dan nilai

signifikan sebesar 0,273 lebih besar dari 0,05 (0,273>0,05). Jadi dengan
demikian H1 ditolak.
2.

Reliability ada pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen GOJEK. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t pada variabel reliability dengan
nilai thitung sebesar 3,752 lebih besar dari ttabel 1,99 dan nilai signifikan
sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,00<0,05). Jadi dengan demikian H 2
diterima.

3.

Responsiveness tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen GO-JEK. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t pada variabel
responsiveness dengan nilai thitung sebesar 0,881 lebih kecil dari ttabel
dengan nilai 1,99 dan nilai signifikan sebesar 0,851 lebih besar dari 0,05
(0,851>0,05). Jadi dengan demikian H3 ditolak.

4.

Assurance tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen
GO-JEK. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t pada variabel assurance
dengan nilai thitung sebesar 1,873 lebih kecil dari ttabel dengan nilai 1,99
dan nilai signifikan sebesar 0,065 lebih besar dari 0,05 (0,065>0,05). Jadi
dengan demikian H4 ditolak.

5.

Emphaty tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen
GO-JEK. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t pada variabel emphaty
dengan nilai thitung sebesar 1,144 lebih kecil dari ttabel dengan nilai 1,99
dan nilai signifikan sebesar 0,256 lebih besar dari 0,05 (0,256>0,05). Jadi
dengan demikian (H5) ditolak.

6.

Tangible,

Reliability,

Responsiveness,

Assurance

dan

Emphaty

berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan konsumen pada bisnis
jasa transportasi GO-JEK Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan hasil
statistik Fhitung sebesar 20,186 lebih besar dari nilai Ftabel 2,33
(20,186>2,33) dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Oleh karena nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05).
B.

Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis

mengemukakan beberapa saran berikut ini:
1.

Agar dapat memberikan tingkat kepuasan yang tinggi kepada
konsumennya Pihak GO-JEK harus memperhatikan kehandalan yang
diberikan, mempertahankan kehandalan dan meningkatkan kualitas
layanan dari segi waktu tempuh perjalanan. Karena alasan konsumen
memilih GO-JEK sebagai transportasi adalah waktu tempuh yang
diberikan lebih cepat dari angkutan umum. Dalam hal ini pihak GOJEK harus lebih memperhatikan pelayanan dari segi kehandalan
(reliability) yang mampu meningkatkan mutu pelayanan GO-JEK serta
dapat menciptakan kepercayaan konsumen agar konsumen puas dan
loyal. Adanya pengaruh dari kualitas kehandalan ini menunjukan bahwa
pihak GO-JEK dapat dipercaya menjaga keselamatan konsumen,
mengantarkan konsumen dengan tepat waktu dan konsisten dalam
melayani konsumen.

2.

GO-JEK harus tetap memberikan pelayanan yang baik pada dimensidimensi lainnya. Dari segi kualitas fisik GO-JEK seperti memberikan
atribut pendukung saat berkendara seperti masker dan jas hujan. Dari

segi kualitas daya tanggap pihak GO-JEK memberikan informasi yang
jelas pada konsumen, dan tanggap dengan pemesanan yang dilakukan
konsumen. Dari segi kualitas jaminan, pihak GO-JEK tetap
memperhatikan

etika

driver

saat

melayani

konsumen

seperti

memberikan senyuman juga ramah, dan memberikan rasa aman kepada
konsumen. Dari segi kualitas empati, pihak GO-JEK tetap menerima
masukan

ataupun

keluhan

permasalahan pemesanan.

dari

konsumen

ketika

mengalami

DAFTAR PUSTAKA

Adam, M. Manajemen Pemasaran Jasa, Bandung: Alfabeta, 2015
Alma, Buchari. Manajemen Pemasaran Dan Pemasaran Jasa, Bandung:
Alfabeta, 2011
Assauri, S. Manajemen Pemasaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015
Aswawi, N. dan Masyhuri, Metodologi Riset Manajemen Pemasaran, UINMalang: UIN-Malang Press, 2009
Bachmid, S. Konsep Kualitas Layanan Dan Implikasinya Terhadap Kepuasan
Mahasiswa, https://www.academia.edu. Diunduh pada tanggal 20 Desember
2016
Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana, 2008
Ginting, Nembah F. H. Manajemen Pemasaran, Bandung: Yrama Widya,2011
Hafidhudin, D. Manajemen Syariah Dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press,
2003
Hasan. Ali, Marketing dan Kasus-Kasus Pilihan, Jogjakarta: Cups Publishing,
2013
Irawan, Handi. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan, Jakarta: PT Elex Media
Komputindo Gramedia, 2009
Karim. Adiwarman A. Bank Islam: Analisis Fiqih Dan Keuangan, Jakarta: IIIT
Indonesia, 2003
Kottler, P & Keller, K. L. Manajemen Pemasaran (13 ed.). Jakarta: Erlangga,
2008
Nur,

J. Metodologi Penelitian Skripsi, Thesis, Disertasi dan Karya Ilmiah.
Jakarta: Kencana, 2012

Nur, M. Manajemen Jasa Terpadu. Bogor: Ghalia Indonesia, 2004
Qardawi, Yusuf. Norma Dan Etika Ekonomi Islam, Jakarta: GIP, 1997
Setiyanto, D. A. Sebuah Catatan Sosial Tentang Ilmu, Islam, Dan Indonesia,
Yogjakarta: Deepublish, 2016

Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: ALFABETA, 2015
Sujarweni, V.W. Metodologi Penetian. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru, 2012
Syahrum dan Salim, Metodologi Penelitian Kuantitatif. Citapustaka Media, Bandung:
2012
Tangkilisan, Hessel Nogi S. Manajemen Publik. Jakarta: PT Grasindo, 2005
Tjiptono F, & Chandra G, Service, Quality, & Satisfaction (3 ed.) Yogyakarta:
Andi Publisher, 2011
Tjiptono, F. (ed.) Total Quality Management, Yogyakarta: Andi Ofsee, 1996
“ __________ “. Manajemen Jasa. Yogyakarta: Andi Offset, 1996
“ __________ “. Pemasaran Jasa. Malang: Bayumedia Publishing, 2005
“ __________ “. Pemasaran Stratejik. Yogyakarta: Andi Offset, 2008
Prayatno, Duwi. SPSS Analisis Statistik Data Lebih Cepat Lebih Akurat, Yogyakarta:

Judul: Akuntansi Keperilakuan

Oleh: Osea Uti


Ikuti kami