Akuntansi Ijarah

Oleh Maxyanus Taruk Lobo'

165,3 KB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Ijarah

NAMA: MAXYANUS TARUK LOBO NIM : A31112296 AKUNTANSI IJARAH A. KONSEP DASAR TRANSAKSAKSI IJARAH Al ijarah berasal dari kata al ajru yang berarti al iwadhu (ganti).Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa, melalui upah pembayaran sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang itu sendiri. Ijarah berarti lease contractdimana suatu bank atau lembaga keuangan menyewakan peralatan (equispment) kepada salah satu nasabahnya berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan secara pasti sebelumnya (fixed charge). B. LANDASAN FIQH DAN FATWA DSN TENTANG TRANSAKSI IJARAH a. Al Qur’an Q.S. Al Baqarah: 233 “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah Maha Melihat apa yang kammu kerjakan.” b. Al Hadist Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa rosulullah SAW bersabda, “Berbekam kamu, kemumdian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu.” (Hr. Bukhari dan Muslim). Dari Umar bahwa Rosulullah bersabda, “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (Hr. Ibu Majah). C. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN TRANSAKSI DALAM AKUNTANSI BANK SYARIAH Dikeluarkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merupakan angin segar bagi praktik akuntansi di Bank Syariah. Sebab pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi (pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan) transaksi khusus yang berkaitan dengan aktivitas bank syariah. Pernyataan ini diterapkan untuk bank umum syariah, bank perkreditan rakyat syariah, dan kantor cabang syariah bank konvensional yang beroperasi di Indonesia. Hal-hal umum yang tidak diatur dalam pernyataan ini mengacu pada pernyataan standar akuntansi yang berlaku umum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Pernyataan ini bukan merupakan pengaturan penyajian laporan keuangan sesuai permintaan khusus pemerintah, lembaga pemerintah independen, dan bank sentral (Bank Indonesia). Usaha bank banyak dipengaruhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berbeda dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan keuangan yang disajikan berdasarkan pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi peraturan perundang-undangan tersebut. 1. Pengakuan dan Pengukuran Ijarah dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik a. Karakteristik Ijarah adalah akad sewa-menyewa antara pemilik ma’jur (objek sewa) dan musta’jir (penyewa) untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakannya. Ijarah muntahiyah bittamlik adalah akad sewa-menyewa antara peemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakannya dengan opsi perpindahan hak milik objek sewa pada saat tertentu sesuai dengan akad sewa. Perpindahan hak milik objek sewa kepada penyewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik dapat dilakukan dengan : 1) Hibah; 2) Penjualan sebelum akad berakhir sebesar harga yang sebanding dengan sisa cicilan sewa; 3) Penjualan pada akhir masa sewa dengan pembayaran tertentu yang disepakati pada awal akad; dan 4) Penjualan secara bertahap sebesar harga tertentu yang disepakati dan tercantum dalam akad. Pemilik objek sewa dapat meminta penyewa menyerahkan jaminan atas ijarah untuk menghindari risiko kerugian. Jumlah, ukuran, dan jenis objek sewa harus jelas diketahui dan tercantum dalam akad. 1) Bank sebagai Pemilik Objek Sewa Objek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan objek sewa dan disusutkan sesuai dengan : a) Kebijakan penyusutan pemilik objek sewa untuk aktiva sejenis jika merupakan ijarah; dan b) Masa sewa jika merupakan transaksi ijarah muntahiyah bittamlik. Pendapatan ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik diakui selama masa akad secara proporsional kecuali pendapatan ijarah muntahiyah bittamlikmemulai penjualan secara bertahap maka besar pendapatan setiap periode akan menurun secara progresif selama masa akad karena adanya pelunasan bagian per bagian objek sewa pada setiap periode tersebut. Piutang pendapatan ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik diukur sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan. Jika biaya akad menjadi beban pemilik objek sewa maka biaya tersebut dialokasikan secara konsisten dengan alokasi pendapatan ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik selama masa akad. Pengakuan biaya perbaikan objek sewa adalah sebagai berikut : a) Biaya perbaikan tidak rutin objek sewa diakui pada saat terjadinya; b) Jika penyewa melakukan perbaikan rutin objek sewa dengan persetujuan pemilik objek sewa, maka biaya tersebut dibebankan kepada pemilik objek sewa dan diakui sebagai beban pada periode terjadinya pebaikan tersebut; dan c) Dalam ijarah muntahiyah bittamlik memalui penjualan secara bertahap biaya perbaikan objek sewa yang dimaksud dalam angka 1 dan 2 ditanggung pemilik objek sewa maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing di dalam objek sewa. Perpindahan hak milik objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui hibah diakui pada saat seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan objek sewa yang telah diserahkan kepada penyewa. Objek sewa yang telah dikeluarkan dari aktiva pemilik objek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik objek sewa. Perpindahan hak milik objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui penjualan objek sewa dengan harga sebesar sisa cicilan sewa sebelum berakhirnya masa sewa diakui pada saat penyewa membeli objek sewa. Pemilik objek sewa mengakui keuntungan atau kerugian atas penjualan tersebut sebsar selisih antara harga jual dan nilai buku bersih objek sewa. Pengakuan pelepasan objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui pembayaran sekadarnya adalah sebagai berikut : a) Perpindahan hak milik objek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan penyewa membeli objek sewa; b) Objek sewa dikeluarkan dari aktiva pemilik objek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik objek sewa; c) Jika penyewa berjanji untuk membeli objek sewa tetapi kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya dan nilai wajar objek sewa ternyata lebih rendah dari nilai bukunya, maka selisihnya diakui sebagai piutang pemilik objek sewa kepada penyewa; dan d) Jika penyewa tidak berjanji untuk membeli objek sewa dan memutuskan untuk tidak melakukannya, maka objek sewa dinilai sebesar nilai wajar atau nilai buku, mana yang lebih rendah. Jika nilai wajar objek sewa tersebut lebih rendah dari nilai buku maka selisihnya diakui sebagai kerugian pada periode berjalan. Pengakuan pelepasan objek sewa ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan objek sewa secara bertahap adalah sebagai berikut : a) Perpindahan hak milik sebagian objek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan penyewa menbeli sebagian objek sewa dari pemilik objek sewa; b) Nilai buku bagian objek sewa yang telah dijual dikeluarkan dari aktiva pemilik objek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik bagian objek sewa; c) Pemilik objek sewa mengakui keuntungan atau kerugian sebesar selisih antara harga jual dan nilai buku atas bagian objek sewa yang tersisa maka perlakuan akuntansinya. Dalam ijarah muntahiyah bittamlik, jika objek sewa mengalami penurunan nilai permanen sebelum perpindahan hak milik kepada penyewa dan penurunan nilai timbul bukan akibat tindakan penyewa atau kelalaiannya, serta jumlah cicilan ijarah yang sudah dibayar melebihi nilai sewa yang wajar, maka selisih antara keduanya (jumlah yang sudah dibayar penyewa untuk tujuan pembelian aktiva dan nilai sewa wajarnya) diakui sebagai kewajiban kepada penyewa dan dibebankan sebagai kerugian pada periode terjadinya penurunan nilai. 2. Bank sebagai Penyewa Beban ijarah muntahiyah bittamlik diakui secara proporsional selama masa akad. Jika biaya akad menjadi beban penyewa maka biaya tersebut dialokasikan secara konsisten dengan alokasi beban ijarah atau ijarah muntahiyah bittamlik selama masa akad. Jika biaya pemeliharaan rutin dan operasi objek sewa berdasarkan akad menjadi beban pada saat terjadinya. Biaya pemeliharaan rutin dan operasi dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan objek sewa secara bertahap akan meningkat secara progresif sejalan dengan peningkatan kepemilikan objek sewa. Perpindahan hak milik objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui hibah diakui pada saat seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan objek sewa telah diterima penyewa. Objek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar nilai wajar pada saat terjadinya. Penerimaan objek sewa tersebut di sisi lain akan menambah : a) Saldo laba, jika sumber pendanaan berasal dari modal bank; b) Dana investasi tidak terikat, jika sumber pendanaan berasal dari simpanan pihak ketiga; atau c) Saldo laba dan dana investasi tidak terikat, jika sumber pendanaan berasal dari modal bank dan simpanan pihak ketiga. Perpindahan hak milik objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui pembelian objek sewa dengan harga sebesar sisa cicilan sewa sebelum berakhirnya masa sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar kas yang dibayarkan. Pengakuan penerimaan objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlikmelalui pembayaran sekadarnya adalah sebagai berikut : a) Perpindahan hak milik objek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan penyewa membeli objek sewa dari pemilik objek sewa; b) Objek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar kas yang dibayarkan Pengakuan penerimaan objek dalam ijarah muntahiyah bittamlikmemalui pembelian objek sewa bertahap adalah sebagai berikut : a) Perpindahan hak milik sebagian objek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan penyewa membeli sebagian objek sewa dari pemilik objek sewa; dan b) Bagian objek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar biaya perolehannya. Objek sewa yang telah dibeli oleh penyewa disusutkan sesuai dengan kebijakan penyusutan penyewa. Jika objek sewa mengalami penurunan nilai permanen sebalum perpindahan hak milik kepada penyewa dan penurunan nilai tersebut timbul bukan akibat tindakan penyewa atau kelalaiannya, serta jumlah cicilan sewa yang sudah dibayar melebihi sewa yang dibayar melebihi nilai sewa yang wajar, maka selisih antara keduanya (jumlah yang sudah dibayar penyewa untuk tujuan pembelian aktiva tersebut dan nilai sewa wajarnya) diakui sebagai piutang jatuh tempo penyewa kepada pemilik sewa dan mengoreksi beban ijarah muntahiyah bittamlik. 3. Penjualan dan Penyewaan Kembali Jika nasabah menjual aktiva kepada bank dan menyewanya kambali, maka perlakuan akuntansi bank sebagai pemilik objek sewa diterapkan. Jika bankmenjual aktiva kepada nasabah dan menyewanya kembali, maka perlakuan akuntansi bank sebagai penyewa diterapkan sebagai berikut : a) Keuntungan atau kerugian penjualan aktiva diakui bank pada saat terjadinya transaksi penjual jika penyewaan kembali dilakukan secara ijarah; dan b) Keuntungan atau kerugian penjualan aktiva dialokasikan sebagai penyesuaian terhadap beban ijarah selama masa akad jika penyewaan kembali dilakukan secara ijarah muntahiyah bittamlik. 4. Sewa dan Penyewaan Kembali Jika bank menyewakan kepada nasabah aktiva yang sebelumnya disewa oleh bank dari pihak ketiga, maka perlakuan akuntansi bank sebagai pemilik objek sewa dan penyewa diterapkan. Penyisihan Kerugian Aktiva Produktif Penyisihan kerugian aktiva produktif dan piutang yang timbul dari transaksi aktiva produktif dibentuk sebesar estimasi kerugian aktiva produktif dan piutang yang tidak dapat ditagih sesuai dengan denominasi mata uang aktiva produktif dan piutang yang diberikan. Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam rupiah maupun valuta asing yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan antara lain dalam bentuk pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, salam paralel, dan istishna paralel. Pendapatan aktiva produktif yang nonperforming diakui pada saat pendapatan tersebut diterima. Pada saat aktiva produktif diklasifikasikan sebagai nonperforming, pendapatan yang telah diakui tetapi belum diterima harus dibatalkan. D. APLIKASI AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH 1. AKUNTANSI PEMILIK BPRS ALBARAKAH mendapatkan pengajuan pembiayaan ijarah dari sebuah perusahaan Rental Mobil PT. RENCARINDO. Perusahaan tersebut bermaksud menambah 1 buah armada kendaraan jenis Toyota All New Camry keluaran tahun 2008 untuk melayani konsumen kelas menengah atas di jakarta. Adapun speesifikasi kendaraan yang dimaksud dan informasi lain berkaitan dengan akad adalah sebagai berikut: Jenis Kendaraan : Sedan Merek : TOYOTA ALL New CAMRY Kapasitas Mesin : 4000 cc Tahun Pembuatan : 2008 Dealer : PT. Toyota Astra Motor (TAM) Umur Ekonomis : 5 tahun (60 bulan) Harga Perolehan : Rp 500.000.000,00 (on the roads) Uang Muka Sewa : Rp 50.000.000,00 Sewa Per Bulan : Rp 15.000.000,00 Jangka Waktu Sewa : 4 tahun (48 Bulan) Waktu Pembelian Barang : Bulan ke-48 Biaya Notaris : Rp 5.000.000,00 Ilustrasi 1. Pada saat perolehan obyek yang akan disewakan Pada tanggal 2 januari 2008, BPRS ALBARAKAH membeli mobil sedan Toyota All New Camry dengan harga dan biaya-biaya lain yang ditanggung (OTR) sebesar Rp 500.000.000,00. Atas pembelian mobil tersebut BPRS ALBARAKAH mencatat dalam jurnal sebagai berikut: Aset Ijarah Rp 500.000.000,00 Kas/Rekening PT. TAM Rp 500.000.000,00 Ilustrasi 2. Pada saat transaksi IjarahPada tanggal10 januari 2008, BPRS ALBARAKAH mnelakukan transaksi ijarah dengan PT. RENCARINDO dan atas transaksi tersebut BPRS mencatat dalam jurnal sebagai berikut: Aset yang Diperoleh untuk Ijarah Rp 500.000.000,00 Aset Ijarah Rp 500.000.000,00 Catatan: pencatan ini dilakukan untuk memberikan informasi dalam neraca bahwa rekening aset ijarah hanya digunakan untuk aset ijarah yang belum disewakan kepadda pihak lain sedangkan rekening aset yang diperoleh untuk ijarah digunakan untuk pencatatan pengakuan aset ijarah yang sudah disewakan oleh pihak lain baik dengan akad ijarah maupun ijarah muntahiyah bittamlik. Ilustrasi 3. Pada saat menerima uang muka dari penyewa Kas/Rekening PT. RENCARINDO Rp 50.000.000,00 Titipan Uang Muka Sewa Ijarah Rp 50.000.000,00 Ilustrasi 4. Biaya Administrasi pengurusan akad ijarah Saat PT. RENCARINDO membayar biaya pengurusan pada BPRS ALBAKARAH Kas/Rekening PT. RENCARINDO Rp 1.500.000,00 Pendapatan Non Operasional Rp 1.500.000,00 Pada saat BPRS ALBAKARAH membayar biaya notaris Biaya Notaris (pengurusan akad) Rp 3.000.000,00 Kas Rp 3.000.000,00 Ilustrasi 5. Penyusutan aktiva ijarah dengan akad ijarah muntahiyah bittamlik PSAK nomor 59 tentang akuntansi Perbankan Syariah khususnya paragraf 108 dijelaskan tentang pengakuan obyek ijarah sebagai berikut: a. Obyek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan obyek sewa dan disusutkan sesuai dengan: 1) Kebijakan penyusutan pemilik obyek sewa untuk aktiva sejenis jika merupakan transaksi ijarah; dan 2) Masa sewa jika merupakan transaksi ijarah muntahiyah bittamlik Sedangkan ED PSAK 107 tentang akuntansi ijarah khususnya paragraf 12 menjelaskan bahwa: Kebijakan penyusutan atau amortisasi yang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang diharapkan dari manfaat ekonomi di masa depan dari obyek ijarah. Umur ekonomis dapat berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai selam 10 tahun diijarahkan dengan akad ijarah muntahiyan bittamlik selama 5 tahun. Dengan demikian umur ekonomisnya adalah 5 tahun. Berkaitan dengan kasus di atas akan diilustrasikan perlakuan akuntansi untuk akuntansi ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik sebagai berkut: Besar biaya penyusutan aktiva ijarah per bulan dihitung berdasarkan informasi harga perolehan dan umur ekonomis obyek, yaitu: Rp 8.333.333 500.000.000 : 60 bulan = 8.333.333 Beban penyusutan Rp 8.333.333 Akumulasi Penyusutan aktiva Ijarah Rp 8.333.333 b. Jika menggunakan akad ijarah muntahiyah bittamlik dengan tambahan informasi bahwa nilai residu obyek ijarah adalah Rp 20.000.000,00 dengan masa sewa selama 4 tahun, maka perhitungan penyusutan obyek ijarah dan perlakuan akuntansinya adlah sebagai berikut: (500.000.000 – 20.000.000) : 48 bulan = 10.000.000 Beban penyusutan Rp 10.000.000 Akumulasi Penyusutan Aktiva Ijarah Rp 10.000.000 2. AKUNTANSI PENYEWA Ilustrasi kasus ini memberikan gambaran transaksi ijarah aset berwujud, LKS sebagai penyewa obyek ijarah yang akan disewakan kembali pada pihak lain. Ilustrasi kasus selengkapnya sebagai berikut: BPRS ALBARAKAH mendapatkan pengajuan pembiayaan ijarah dari sebuah perusahaan eksportir kerjinan PT HANDICRAFT di Yogyakarta untuk menyediakan mobil ekslusif bagi manajer perusahaannya. PT HANDICRAFT tidak ingin memiliki mobil tersebut sehingga hanya bermaksud menyewa saja. Oleh karena itu BPRS ABARAKAH tidak memiliki mobil yang dimaksud, maka BPRS menghubungi PT RENCARINDO. Adapun spesifikasi kendaraan yang dimaksud dan informasi lain berkaitan dengan akad adalah sebagai berikut: Jenis kendaraan : sedan Merek : Toyota All New Camry Kapasitas mesin : 4000 cc Tahun pembuatan : 2008 Dealer : PT TOYOTA ASTRA MOTOR (TAM) Umur Ekonomis : 5 tahun (12 bulan) Harga perolehan : Rp. 500.000.000 (OTR) Uang muka sewa : Rp. 50.000.000 Sewa per bulan : Rp. 15.000.000 Jangka waktu sewa : 4 tahun (48 bulan) Waktu pembelian barang : bulan ke-48 Biaya notaris : Rp 3.000.000 Ilustrasi 1. Beban Ijarah 1. Pada saat pembayaran sewa a. Jika dalam satu periode Biaya Sewa Aset Ijarah (D) Rp 15.000.000 Kas/Rekening Pemilik Obyek Ijarah (K) Rp 15.000.000 Catatan: Biaya sewa obyek ijarah selama satu bulan b. Jika lebih dari satu periode Sewa Dibayar Dimuka (D) Rp 720.000.000 Kas/Rekening Pemilik Obyek Ijarah (K) Rp 720.000.000 Catatan: biaya sewa untuk 4 tahun (Rp 15.000.000 x 48 bulan) - Pada saat amortisasi sewa dibayar dimuka (per bulan) Biaya sewa aset ijarah (D) Sewa dibayar dimuka aset ijarah (K) Rp 15.000.000 Rp 15.000.000 Catatan: amortisasi dihitung dari total sewa dibayar dimuka dibagi masa sewa - Pada saat perbaikan aset ijarah atas beban pemilik obyek ijarah Jika BPRS ALBARAKAH melakukan perbaikan atas aset ijarah yang disewa karena kerusakan sehingga mengeluarkan biaya perbaikan sebesar Rp 20.000.000. Pituang kepada pemilik obyek ijarah (D) Kas/Rekening pemilik obyek Ijarah (K) Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Ilustrasi 2. Perpindahan hak milik obyek Aset diperoleh untuk ijarah Rp. 500.000.000 Akumulasi penyusutan aset ijarah ( Rp. 480.000.000) (setelah 4 tahun 48 bulan – perbulan Rp10.000.000) Nilai residu Rp. 20.000.000 - Pada saat penerimaan pengalihan obyek sewa dalam IMBT a. Melalui hibah pada saat seluruh pendapatan sewa telah dibayar dan obyek ijarah tidak memiliki nilai sisa. (i) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari LKS Aset Ijarah (D) Rp 500.000.000 Pendapatan Operasi Lainnya (K) Rp. 500.000.000 Catatan: Seluruh pendapatan merupakan hak dari LKS seluruhnya. (ii) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari investasi tidak terikat Aset Ijarah (D) Rp 500.000.000 Pendapatan Operasi Utama Lainnya (K) Rp 500.000.000 Catatan: seluruh pendapatan harus dibagihasilkan juga kepada pemegang rekening investasi mudharabah sesuai kesepakatan nisbah. (iii) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari investasi tidak terikat dan modal LKS Aset ijarah (D) Rp 500.000.000 Pendapatan operasi lainnya (K) Rp 250.000.000 Pendapatan utaman operasi lainnya (K) Rp 250.000.000 Catatan: pendapatan yang diakui sebagai pendapatan operasi utama lainnya harus dibagihasilkan juga kepada pemegang rekening investasi mudharabah sesuai kesepakatan nisbah sedangkan pendapatan lainnya menjadi hak sepenuhnya LKS. b. Melalui pembelian obyek ijarah sebelum berakhirnya masa sewa dengan harga beli sebesar sisa cicilan sewa atau sekedarnya. Misalnya sisa cicilan yangbbelum dibayarkan sebesar Rp. 60.000.000 Aset Ijarah (D) Rp. 60.000.000 Aset/Rekening Pemilik Objek Ijarah Rp.60.000.000 Catatan: jika nilai sisa cicilan dan nilai buku obyek ijarah sama Pembatalan penjualan/perpindahan obyek ijarah oleh pemilik Jika penyewa membatalkan penjualan objek ijarah kepada penyewa dan nilai wajar obyek sewa lebih rendah dari nilai buku dan dibebankan kepada penyewa/lessor, seperti yang diilustrasikan sebelumnya. Beban pembatalan Pembelian Rp. 20.000.000 Kas/hutang Pemilik Objek Ijarah Rp. 20.000.000 Ilustrasi 3. Penurunan Nilai Sebelum Perpindahan Hak Jika penurunan nilai tersebut timbul akibat tindakan penyewa atu kelalaiannya, serta jumlah cicilan sewa yang sudah dibayar melebihi nilai sewa yang wajar, maka selisihnya diakui sebagai piutang jatuh tempo penyewa kepada pemilik sewa dan mengoreksi beban IMBT. Apabila masa sewa diketahui terjadi penurunan kualitas obyek sewa dan bukan disebabkan kelalaian LKS sebagai penyewa yang mengakibatkan jumlah cicilan yang telah dibayar lebih besar dari nilai sewa yang wajar. Misalnya obyek ijarah mengalami penurunan nilai wajar karena kerusakan kendaraan sehingga mengakibatkan adanya selisih nilai sewa wajar dengan nilai sewa yang dibayarkan yaitu terdapat kelebihan sebesar Rp 50.000.000, maka LKS akan mencatatnya dalam jurnal sebagai berikut: Kas/Rekening Piutang kepada Pemilik Obyek Ijarah Rp. 50.000.000 Pendapatan kelebihan Pembayaran Sewa Rp. 50.000.000 Catatan: pendapatan kelebihan pembayaran sewa merupakan offsetting account dari beban sewa Ilustrasi 4. Jual Beli dan Ijarah ( Penyewaan Kembali) Transaksi jual dan ijarah harus merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantungan (ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai wajar. Jika suatu entitas menjual obyek ijarah kepada entitas lain dan kemudian menyewanya, maka entitas tersebut mengakui keuntungan atau kerugian pada periode terjadinya penjualan dalam laporan laba rugi dan menerapkan perlakuan akuntansi penyewa. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari transaksi jual dan ijarah tidak dapat diakui sebagai pengurang atau penambah beban ijarah. Ilustrasi 5. Ijarah- Lanjut (Menyewakan Kembali) Jika suatu entitas menyewakan lebih lanjut kepada pihak lain atas asset yang sebelumnya disewa dari pemilik, maka entitas tersebut menerapkan perlakuan akuntansi pemilik dan akuntansi penyewa dalam PSAK ini. Perlakuan akuntansi penyewa diterapkan untuk transaksi antara entitas (sebagai penyewa) dengan pemilik dan perlakuan akuntansi pemilik diterapkan untuk transaksi antara entitas (sebagai pemilik) dengan pihak penyewa-lanjut. Jurnal pada saat membayar sewa kepada pemilik obyek ijarah. Uang Muka Sewa Rp. 50.000.000 Kas Rp. 50.000.000 Jurnal pada saat menerima pendapatan sewa dari nasabah Kas Rp. 18.000.000 Pendapatan Sewa Rp. 18.000.000 Catatan: LKS menyewakan kembali barang pada nasabah Rp 18.000.000/bln Jurnal pada saat amortisasi dari uang muka sewa obyek ijarah Beban Sewa Rp. 15.000.000 Sewa Dibayar Dimuka Rp. 15.000.000 Catatan: harga sewa sesuai dengan informasi di atas Penyajian dalam laporan laba rugi dalam suatu periode tertentu Pendapatan sewa obyek ijarah Rp 18.000.000 Pengeluaran (berkaitan obyek ijarah) Beban sewa kepada pemilik awal* Rp 15.000.000 Beban pemeliharaan** Rp Beban Lain-lain 500.000 0 Total Pengeluaran (Rp15.500.000) Pendapatan bersih ijarah yang dibagihasilkan Rp 2.500.000 Catatan: * Beban sewa kepada pemilik merupakan amortisasi dari sewa dibayar di muka yang diakui sebagai pengeluaran LKS pada periode tersebut. **Jika biaya pemeliharaan pada periode tersebut ditanggung LKS sesuai kesepakatan dengan pemilik obyek ijarah. Referensi: Umar, Rizky, Utami,. 2014. Akuntansi Ijarah PSAK 107. (Online) (http://mimiakuntansi.blogspot.com/2014/04/akuntansi-ijarah-psak-107_7184.html. diakses pada tanggal 31 Maret 2015)

Judul: Akuntansi Ijarah

Oleh: Maxyanus Taruk Lobo'

Ikuti kami