Akuntansi Forensik

Oleh Nur Caesar Riani Tia Ulfa

640,4 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Forensik

AKUNTANSI FORENSIK AHMAD TORIKUL MUHIDIN NUR CAESAR RIANI TIA ULFA RIZKI FITRIYANI KALIGIS YANTI SIAPA PELAKU KECURANGAN DAN MENGAPA ? Latar Belakang Mengapa kita harus mengetahui siapa pelaku kecurangan ? Sangat penting untuk memahami karakteristik pelaku kecurangan karena mereka tampak sangat mirip dengan kebanyakan orang yang dicari organisasi untuk dipekerjakan sebagai pegawai, diharapkan menjadi klien / pelanggan, dan juga untuk dijadikan sebagai seorang pemasok. Pengetahuan ini membantu kita untuk mengerti bahwa kebanyakan pegawai, konsumen, pemasok dan patner bisnis memiliki kesesuaian atau cocok dengan karakteristik yang dimiliki oleh pelaku fraud dan memiliki kemampuan untuk terlibat dalam fraud. Lanjutan… Pada saat perekrutan karyawan kita harus memberikan kualifikasi yang layak. Misal, jika dalam kualifikasinya terdapat catatan kriminal, kesalahan calon karyawan, temperamental yang tidak terkontrol, alkoholik, ketergantungan obat-obatan terlarang, dan pola-pola yang menyebabkan dia dipecat dari perusahaan sebelumya, maka lebih baik jika perusahaan tidak menerimanya bekerja. Ini dilakukan untuk pencegahan agar tidak salah dalam perekrutan karyawan. em i sas ali Ke s pa tan n sio Ra Tekanan Element Tekanan • Tekanan Keuangan : kecurangan yang menguntungkan pelaku secara langsung, seperti beberapa hal berikut : - Sifat Serakah, Hidup diatas rata-rata gaya hidup orang-orang pada umumnya, Gaya hidup bebas-tanpa kendali biasanya disebut-sebut sebagai pemicu orang- orang jujur dapat terlibat dalam fraud. Contohnya, berjudi, memakai obat-obatan terlarang/narkoba, minum alkohol, atau berbakat mencuri sejak umur yang masih dini. Hal-hal seperti itu dapat memicu tekanan finansial, karena orang-orang akan membutuhkan uang yang lebih banyak dari seharusnya untuk memenuhi kebutuhannya itu. - Tagihan yang tinggi (Hutang pribadi), - Kebutuhan keuangan yang tidak terduga. keinginan istri/suami yang menginginkan peningkatan gaya hidup yang lebih mewah serta keinginan untuk menggerakkan atau memimpin system yang sedang berjalan, seperti perusahaan suami/istri mereka. Kita terkadang sulit untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Biasanya kita hanya dilatari oleh nafsu dan keinginan biasa untuk dapat meningkatkan kehidupan kita menjadi lebih baik. Mengapa? Karena kita selalu berpersepsi bahwa orang yang “sukses” adalah orang yang kaya, memiliki rumah besar, mobil, dan seabrek kemewahan lain. Tetapi kita tidak melihat ke”sukses”an yang sebenarnya ada pada kehormatan, harga diri, kejujuran dan integritas kita. Dan bagi sebagian orang kesuksesan dalam artian kaya lebih penting dibanding kejujuran. Jika tiap-tiap individu memiliki integritas tinggi dan kesempatan yang rendah, mereka membutuhkan tekanan yang tinggi atau sulit untuk dapat menjadi tidak jujur. • Tekanan yang Berhubungan dengan Pekerjaan Faktor-faktor yang memicu timbulnya fraud yang berhubungana dengan tekanan pekerjaan, yaitu seperti tidak adanya penghargaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan, ketidakpuasan terhadap pekerjaan, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, sedang mencari-cari promosi kenaikan jabatan, serta kurangnya upah atau gaji yang diberikan. Beberapa dari pelaku fraud adalah seorang karyawan yang jujur sebelumnya. Salah satu studi menunjukkan bahwa 30% perilaku fraud mulai ditunjukkan pelaku ketika mereka telah berpengalaman bekerja selama 3 tahun pertama sebagai karyawan. 70% pegawai terlibat ketika mereka berpengalaman bekerja selama 4-35 tahun. Dan kelompok umur pegawai yang menduduki peringkat tertinggi dalam perilaku fraud adalah mereka yang telah berumur 35 dan 44 tahun. Element Kesempatan Ada enam faktor utama yang dapat meningkatkan kesempatan bagi individu-individu untuk dapat terlibat dalam tindakan fraud, yaitu: - Kurangnya pengendalian yang mengitari untuk dapat mencegah atau mendeteksi adanya perilaku kecurangan/fraud, - Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja, - Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud, - Kurangnya akses informasi, - Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis, - Kurangnya jejak audit. Prosedur atau Aktivitas Pengendalian • Pemisahan tugas/wewenang Meliputi pembagian tugas menjadi dua bagian, jadi tidak ada individu yang memiliki pengendalian secara penuh terhadap 1 tugas. Dual custody mengacu pada dua individu bekerja dalam satu tugas. Biasanya pemisahan wewenang ini adalah yang paling mahal dari aktivitas dan prosedur pengendalian yang lain. • Sistem Otorisasi Sistem otorisasi yang layak dapat dilihat dari berbagai bentuk. Otorisasi password untuk tiap-tiap individu yang ingin membuka komputer dan mengakses database perusahaan, otorisasi tandatangan untuk tiap individu yang ingin memasuki tabungan perusahaan di bank, melakukan pemeriksaan kas, menunjukkan fungsi lain dari institusi keuangan. Otorisasi terbatas bagi individu yang ingin mengambil uang dari perusahaan sesuai dengan hak dari begiannya. • Pemeriksaan Independen Tiap-tiap orang diharapkan untuk tahu dan mengerti bahwa aktivitas dan performa kinerja mereka telah dan sedang dimonitor oleh seseorang yang dipercaya oleh perusahaan. Seperti ketika sementara karyawan mereka pergi, yang lainnya mengecek performa kinerja mereka, rotasi kerja secara berkala, perhitungan dan sertifikasi kas, review supervisor, memberlakukan aturanaturan yang ketat bagi karyawan, dan menggunakan auditor. • Pengamanan Fisik Melindungi aset-asetnya dengan misal, menyimpan uangnya di bank, menguncinya di brankas, peralatan dan perlengkapan disimpan dan dikunci di lemari, dan lain sebagainya. • Dokumen dan Pencatatan Dokumen dan pencatatan dapat digunakan sebagai alat pendekteksi adanya penyimpangan aktivitas. Seperti, di bank disediakan laporan bulanan mengenai aktivitas yang terjadi di tabungan perusahaan, siapa saja yang mengambil dan menyimpan akan dilaporkan di sana, serta dokumen penjualan, pembelian, dan transaksi yang lain. Element Rasionalisasi Rasionalisasi maksudnya adalah pelaku fraud meyakinkan diri mereka sendiri bahwa fraud tersebut diperbolehkan dengan berbagi argumentasi yang mereka berikan. Semisal seperti Robin Hood, dia melakukan tindakan fraud, yaitu mencuri harta orang kaya. Seharusnya hal demikian tidak boleh dilakukan, tetapi dia berargumentasi bahwa dia memberikan harta yang dicurinya tersebut kepada orang miskin. Sehingga menurut dia hal tersebut (fraud) diperbolehkan karena bertujuan baik. Ada beberapa rasionalisasi yang biasanya digunakan oleh para fraudsters/pelaku fraud, yaitu: ‘perusahaan meminjamkannya padaku’; ‘aku hanya meminjam-nanti akan kukemablikan lagi’; ‘tidak ada orang yang terluka’; ‘aku pantas mendapatkan lebih’; ‘ini untuk tujuan baik’; ‘kami akan memperbaiki pencatatan secepatnya setelah kesulitan ekonomi kami selesai’; ‘sesuatu harus dikorbankan, entah tiu integritasku atau reputasiku’. Kesimpulan • Kecurangan dapat di minimalisir dengan pengendalian yang baik seperti penerapan GCG di perusahaan, serta pada saat melakukan perekrutan karyawan, perusahaan harus memberikan kualifikasi yang layak agar tidak merekrut karyawan yang salah. • Segitiga kecurangan terdapat tiga element, yaitu : - Element Tekanan : melakukan kecurangan untuk keuntungan dirinya dan untuk memuaskan apa yang dia inginkan, seperti kebutuhan yang tidak terduga atau mengikuti gaya hidup orang-orang pada umumnya. - Element Kesempatan : terjadi karena adanya pengendalian yang kurang, sehingga membuat pelaku tidak terlalu khawatir saat melakukan kecurangan. - Element Rasionalisasi : meyakinkan dirinya sendiri bahwa melakukan kecurangan merupakan hal yang benar.

Judul: Akuntansi Forensik

Oleh: Nur Caesar Riani Tia Ulfa

Ikuti kami