Akuntansi Forensik

Oleh Nur Caesar Riani Tia Ulfa

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Forensik

AKUNTANSI FORENSIK

AHMAD TORIKUL MUHIDIN
NUR CAESAR RIANI TIA ULFA
RIZKI FITRIYANI KALIGIS
YANTI

SIAPA PELAKU
KECURANGAN DAN
MENGAPA ?

Latar Belakang
Mengapa kita harus mengetahui siapa pelaku kecurangan ?
Sangat penting untuk memahami karakteristik pelaku kecurangan
karena mereka tampak sangat mirip dengan kebanyakan orang yang
dicari organisasi untuk dipekerjakan sebagai pegawai, diharapkan
menjadi klien / pelanggan, dan juga untuk dijadikan sebagai seorang
pemasok. Pengetahuan ini membantu kita untuk mengerti bahwa
kebanyakan pegawai, konsumen, pemasok dan patner bisnis memiliki
kesesuaian atau cocok dengan karakteristik yang dimiliki oleh pelaku
fraud dan memiliki kemampuan untuk terlibat dalam fraud.

Lanjutan…
Pada saat perekrutan karyawan kita harus memberikan
kualifikasi yang layak. Misal, jika dalam kualifikasinya terdapat
catatan kriminal, kesalahan calon karyawan, temperamental yang
tidak terkontrol, alkoholik, ketergantungan obat-obatan terlarang,
dan pola-pola yang menyebabkan dia dipecat dari perusahaan
sebelumya, maka lebih baik jika perusahaan tidak menerimanya
bekerja. Ini dilakukan untuk pencegahan agar tidak salah dalam
perekrutan karyawan.

em

i
sas
ali

Ke
s

pa
tan

n
sio
Ra

Tekanan

Element Tekanan


Tekanan Keuangan : kecurangan yang menguntungkan pelaku secara langsung,
seperti beberapa hal berikut :

-

Sifat Serakah,
Hidup diatas rata-rata gaya hidup orang-orang pada umumnya,
Gaya hidup bebas-tanpa kendali biasanya disebut-sebut sebagai pemicu orang-

orang jujur dapat terlibat dalam fraud. Contohnya, berjudi, memakai obat-obatan
terlarang/narkoba, minum alkohol, atau berbakat mencuri sejak umur yang masih dini.
Hal-hal seperti itu dapat memicu tekanan finansial, karena orang-orang akan
membutuhkan uang yang lebih banyak dari seharusnya untuk memenuhi kebutuhannya
itu.
-

Tagihan yang tinggi (Hutang pribadi),

-

Kebutuhan keuangan yang tidak terduga.
keinginan istri/suami yang menginginkan peningkatan gaya hidup yang lebih

mewah serta keinginan untuk menggerakkan atau memimpin system yang sedang
berjalan, seperti perusahaan suami/istri mereka. Kita terkadang sulit untuk
membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Biasanya kita hanya dilatari oleh nafsu
dan keinginan biasa untuk dapat meningkatkan kehidupan kita menjadi lebih baik.
Mengapa? Karena kita selalu berpersepsi bahwa orang yang “sukses” adalah orang
yang kaya, memiliki rumah besar, mobil, dan seabrek kemewahan lain. Tetapi kita
tidak melihat ke”sukses”an yang sebenarnya ada pada kehormatan, harga diri,
kejujuran dan integritas kita. Dan bagi sebagian orang kesuksesan dalam artian kaya
lebih penting dibanding kejujuran. Jika tiap-tiap individu memiliki integritas tinggi dan
kesempatan yang rendah, mereka membutuhkan tekanan yang tinggi atau sulit untuk
dapat menjadi tidak jujur.

• Tekanan yang Berhubungan dengan Pekerjaan
Faktor-faktor yang memicu timbulnya fraud yang berhubungana dengan
tekanan pekerjaan, yaitu seperti tidak adanya penghargaan terhadap pekerjaan
yang telah dilakukan, ketidakpuasan terhadap pekerjaan, ketakutan akan
kehilangan pekerjaan, sedang mencari-cari promosi kenaikan jabatan, serta
kurangnya upah atau gaji yang diberikan.
Beberapa dari pelaku fraud adalah seorang karyawan yang jujur sebelumnya.
Salah satu studi menunjukkan bahwa 30% perilaku fraud mulai ditunjukkan
pelaku ketika mereka telah berpengalaman bekerja selama 3 tahun pertama
sebagai karyawan. 70% pegawai terlibat ketika mereka berpengalaman bekerja
selama 4-35 tahun. Dan kelompok umur pegawai yang menduduki peringkat
tertinggi dalam perilaku fraud adalah mereka yang telah berumur 35 dan 44 tahun.

Element Kesempatan
Ada enam faktor utama yang dapat meningkatkan kesempatan bagi
individu-individu untuk dapat terlibat dalam tindakan fraud, yaitu:
- Kurangnya pengendalian yang mengitari untuk dapat mencegah atau
mendeteksi adanya perilaku kecurangan/fraud,
- Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja,
- Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud,
- Kurangnya akses informasi,
- Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis,
- Kurangnya jejak audit.

Prosedur atau Aktivitas Pengendalian
• Pemisahan tugas/wewenang
Meliputi pembagian tugas menjadi dua bagian, jadi tidak ada individu yang
memiliki pengendalian secara penuh terhadap 1 tugas. Dual custody mengacu pada
dua individu bekerja dalam satu tugas. Biasanya pemisahan wewenang ini adalah
yang paling mahal dari aktivitas dan prosedur pengendalian yang lain.
• Sistem Otorisasi
Sistem otorisasi yang layak dapat dilihat dari berbagai bentuk. Otorisasi
password untuk tiap-tiap individu yang ingin membuka komputer dan mengakses
database perusahaan, otorisasi tandatangan untuk tiap individu yang ingin memasuki
tabungan perusahaan di bank, melakukan pemeriksaan kas, menunjukkan fungsi lain
dari institusi keuangan. Otorisasi terbatas bagi individu yang ingin mengambil uang
dari perusahaan sesuai dengan hak dari begiannya.

• Pemeriksaan Independen
Tiap-tiap orang diharapkan untuk tahu dan mengerti bahwa aktivitas dan
performa kinerja mereka telah dan sedang dimonitor oleh seseorang yang
dipercaya oleh perusahaan. Seperti ketika sementara karyawan mereka pergi,
yang lainnya mengecek performa kinerja mereka, rotasi kerja secara berkala,
perhitungan dan sertifikasi kas, review supervisor, memberlakukan aturanaturan yang ketat bagi karyawan, dan menggunakan auditor.
• Pengamanan Fisik
Melindungi aset-asetnya dengan misal, menyimpan uangnya di bank,
menguncinya di brankas, peralatan dan perlengkapan disimpan dan dikunci di
lemari, dan lain sebagainya.

• Dokumen dan Pencatatan
Dokumen dan pencatatan dapat digunakan sebagai alat
pendekteksi adanya penyimpangan aktivitas. Seperti, di bank
disediakan laporan bulanan mengenai aktivitas yang terjadi di
tabungan

perusahaan,

siapa

saja

yang

mengambil

dan

menyimpan akan dilaporkan di sana, serta dokumen penjualan,
pembelian, dan transaksi yang lain.

Element Rasionalisasi
Rasionalisasi maksudnya adalah pelaku fraud meyakinkan diri mereka sendiri bahwa
fraud tersebut diperbolehkan dengan berbagi argumentasi yang mereka berikan. Semisal
seperti Robin Hood, dia melakukan tindakan fraud, yaitu mencuri harta orang kaya.
Seharusnya hal demikian tidak boleh dilakukan, tetapi dia berargumentasi bahwa dia
memberikan harta yang dicurinya tersebut kepada orang miskin. Sehingga menurut dia
hal tersebut (fraud) diperbolehkan karena bertujuan baik. Ada beberapa rasionalisasi
yang biasanya digunakan oleh para fraudsters/pelaku fraud, yaitu: ‘perusahaan
meminjamkannya padaku’; ‘aku hanya meminjam-nanti akan kukemablikan lagi’; ‘tidak
ada orang yang terluka’; ‘aku pantas mendapatkan lebih’; ‘ini untuk tujuan baik’; ‘kami
akan memperbaiki pencatatan secepatnya setelah kesulitan ekonomi kami selesai’;
‘sesuatu harus dikorbankan, entah tiu integritasku atau reputasiku’.

Kesimpulan
• Kecurangan dapat di minimalisir dengan pengendalian yang baik
seperti penerapan GCG di perusahaan, serta pada saat melakukan
perekrutan karyawan, perusahaan harus memberikan kualifikasi yang
layak agar tidak merekrut karyawan yang salah.
• Segitiga kecurangan terdapat tiga element, yaitu :
- Element Tekanan : melakukan kecurangan untuk keuntungan dirinya
dan untuk memuaskan apa yang dia inginkan, seperti kebutuhan yang
tidak terduga atau mengikuti gaya hidup orang-orang pada umumnya.
- Element Kesempatan : terjadi karena adanya pengendalian yang
kurang, sehingga membuat pelaku tidak terlalu khawatir saat
melakukan kecurangan.
- Element Rasionalisasi : meyakinkan dirinya sendiri bahwa melakukan
kecurangan merupakan hal yang benar.

Judul: Akuntansi Forensik

Oleh: Nur Caesar Riani Tia Ulfa


Ikuti kami