Akuntansi Biaya

Oleh Dadan Ramdhani

29 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Biaya

Akuntansi Biaya: Ragam
Metode Costing (Keunggulan
dan Kelemahannya)
oleh Mr. JAK
19 Komentar

Ditulis oleh Mr. JAK
Akuntansi biaya (cost accounting) termasuk aspek penting dalam dunia akuntansi.
Salah satu aktivitas yang paling fundamental dalam akuntansi biaya adalah penentuan
biaya (costing)—yang dijadikan sebagai acuandasar dalam menentukan harga jual
produk/jasa. Esensi dari penentuan biaya (costing), tiada lain, merupakan aktivitas
memilih dan menjalankan metode costing yang paling sesuai bagi perusahaan—mulai
dari pengumpulan data, pengolahan data, hingga penyajian laporan cost bagi pihak
management.
Fungsi akuntansi biaya yang terkelola dengan baik, dapat memberikan informasi penting bagi
manajemen sehubungan dengan: pengaruh dari penentuan harga jual suatu produk,
kecenderunga cost, kinerja per departemen dan perusahaan secara keseluruhan, kapasitas
pegawai dan produksi, bahkan berkontribusi besar terhadap penentuan strategi bisnis
perusahaan hingga pada derajat tertentu.

Setengah dari alur akuntansi, di dalam perusahaan, ada di wilayah costing. Sehingga, bagi
akuntan yang bekerja di dalam perusahaan (terutama manufaktur), kurangnya penguasaan
akuntansi biaya adalah masalah serius, lubang kelemahan yang harus segara diatasi jika ingin
menjadi akuntan yang handal di luar urusan jurnal-menjurnal dan penyusunan laporan
keuangan.

Apakah cost accounting hanya urusan para cost accountant—sehingga mereka yang
sudah ada di management/executive level dikecualikan?Justru chief accountant, controller

Page 1 of 11

dan CFO-lah yang paling berkepentingan terhadap pemilihan dan penerapan akuntansi biaya
di dalam perusahaan yang mereka kelola. Merekalah yang harus menilai, menentukan,
mengawasi, mengevaluasi dan mengubah metode costing yang diterapkan—jika dirasa perlu,
agar tujuan perusahaan bisa dicapai dengan lebih efektif.
Bagaimana dengan akuntan publik dan para auditor? Merekapun wajib menguasai
akuntansi biaya—kecuali bisa menghindar setiap kali diberi tugas memeriksa perusahaan
manufaktur. Salah satu proses penting dalam auditing adalah melakukan cross-check
terhadap arus uang, arus dokumen dan arus barang. Tanpa penguasaan akuntansi biaya yang
mumpuni, mungkin mereka masih bisa memberikan pendapat, tetapi saya yakin judgement
yang digunakan untuk mendukung pendapat itu akan sangat lemah.
Cakupan dari akuntansi biaya lumayan luas, tetapi intinya selalu berada di wilayah costing.
Dan, seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan, esensi dari penentuan biaya (costing)
adalah: memilih dan menerapkan metode costing yang paling sesuai bagi karakter opersional
perusahaan.
“Sesuai” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah: bisa menghasilkan data yang paling
akurat dan berdayaguna tinggi bagi proses pengambilan keputusan sehubungan dengan cost.

Ada beragam metode penentuan biaya (costing method) yang bisa diterapkan untuk
mengumpulkan dan mengolah data-data cost: mulai dari job costing, process costing,
standard costing, target costing, direct costing, dan lain sebagainya. Sehingga, seseorang yang
ingin mumpuni dalam akuntansi biaya kudu mahir dalam menggunakan metode-metode
tersebut.

Sebagai perkenalan di wilayah akuntansi biaya (cost accounting), saya akan mulai dengan
membahas beragam metode costing—beserta kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Tetapi sebelum itu, ada hal yang penting untuk saya sampaikan, terutama mengenai
pentingnya memilih metode costing yang paling sesuai untuk perusahaan.

Page 2 of 11

Untuk Akuntansi Biaya Yang Lebih
Baik, Abaikan Prinsip dan Standard
Akuntansi
Rasanya saya tidak perlu lagi membahas mengenai peranan akuntansi di dalam lingkungan
binis, semua akuntan rata-rata sudah tahu akan hal itu. TETAPI, dari pengalaman saya
mensupervisi bagian accounting dan keuangan di beberapa perusahaan, saya menemukan:


Rata-rata, para akuntan sangat jarang berpikir tentang: bagaimana caranya
memaksimalkan peranan cost accounting untuk menghasilkan informasi cost yang dapat
dijadikan sebagai input dalam proses pengambilan keputusan—yang pada akhirnya
dapat mengarahkan operasional perusahaan menuju pencapian tingkat profitabilitas
maksimal.



Rata-rata, para akuntan hanya berkutat diseputaran masalah mengenai: bagimana
caranya agar cost yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya dapat dimasukan ke dalam
Laporan Keuangan.

Orientasi para akuntan, entah mengapa, sebagian besar masih saja menitikberatkan
fokus pada laporan keuangan. Padahal, laporan keuangan hanya setumpuk kertas yang
tidak ada artinya bila tidak dapat memberikan informasi yang bersifat incremental bagi
pengelolaan suatu binis (entitas).
Saya memperkirakan, hal itu disebabkan oleh kuatnya pengaruh doktrin bawaan sejak di
bangku kuliah—yang sedikit-sedikit prinsip akuntansi berterima umum (GAAP), sedikitsedikit standar akuntansi, seakan-akan dunia ini akan bubar jika prinsip akuntansi dilanggar,
dimanapun dan dalam konteks apapun.

“Saya menghabiskan 5 tahun untuk meraih gelar sarjana akuntansi,
ditambah 1 tahun pendalaman profesi dan belajar kode-etik, belum
lagi ditambah bertahun-tahun menghabiskan waktu di KAP. Tanpa
standard dan kode-etik, mana bisa menjadi akuntan profesional?
Sorry, saya ingin jadi akuntan profesional, bukan pegawai
accounting abal-abal yang cuma lulusan SMEA, seperti anda.”
Page 3 of 11

Oh.. hi, hello Mr. Professional Accountant

kalau demikian halnya, saya ucapkan

goodluck.

Dalam pemahaman saya (mohon dikoreksi jika keliru), PRINSIP dan STANDAR
AKUNTANSI adalah petunjuk mengenai cara mengukur, mengakui dan menyajikan laporan
keuangan perusahaan, agar fair bagi semua pihak yang berkepentingan—terutama bagi
investor/shareholders (mohon ditambahkan jika ada yang kurang).

SEMENTARA, disamping sebagai bahasa bisnis, akuntansi adalah alat (tool) untuk
menghasilkan informasi yang bisa digunakan sebagai input dalam pengambilan keputusan
bisnis, TERMASUK keputusan-keputusan binis yang diambil oleh management internal
perusahaan. Dan, input yang lebih banyak dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan
bisnis oleh management perusahaan, adalah informasi-informasi terkait dengan cost atas
produk/jasa yang dihasilkan.

Okelah, sebagian akuntan (terutama akuntan publik) sudah pasti orientasinya adalah
stakeholders di luar management—terutama shareholdera. Pemeriksaan kepatuhan
pelaporan keuangan (auditing), sebagian besar dimaksudkan untuk menilai seberapa “fair”
laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan bagi para pemegang saham. Dengan
‘mantra’ yang mungkin lebih familiar: “apakah proses pengukuran, pengakuan dan penyajian
informasi keuangan sudah sesuai standard?”
Sampai pada ‘pialang saham’ dan ‘analyst pasar modal’ mungkin masih peduli
terhadap angka-angka lapora keuangan—untuk diolah menjadi rasio-rasio keuangan yang
bisa digunakan untuk menjaring para pemain bursa saham—dan para pengambil keuntungan
jangka-pendek lainnya. Middle-men macam business valuators yang dilibatkan dalam due
diligent proses akuisi dan merger, mungkin juga masih peduli.
TETAPI, shareholders (investor yang sesungguhnya) tidak terlalu ambil pusing hal-hal
lain, selain dividend. Bagi shareholders, laba-rugi dan retained earning tak lebih dari
ASUMSI, PENDAPAT dan INTERPRETASI, yang samasekali USELESS, jika tidak bisa
diconvert menjadi kas masuk ke pundi-pundi mereka (dalam bentuk pembagian dividend).
Sedangkan audit assignment dibutuhkan hanya untuk 3 alasan: (a) formalitas permintaan
Bappepam; (b) shareholders tidak percaya denga assersi management (penyajian laporan
keuangan); dan (c) permintaan perusahaan untuk membangun citra kredibilitas—yang tentu
Page 4 of 11

saja hanya untuk keperluan public-relation semata. Tidak ada yang bersifat nyata dan
incremental.
Boleh jadi profitabilitas capital market meningkat—dari hasil pembangunan citra
dan public-relation effort lainnya, tetapi itu hanya akan menjadi angka-angka VIRTUAL
belaka JIKA perusahaan TIDAK menghasilkan keuntungan yang nyata dari product marketnya—sehingga yang terjadi dalam aggregateekonomi (makro) hanya perpindahan angkaangka lembar saham yang samasekali tidak berkontribusi nyata bagi penciptaan nilai tambah
(value added) dalam suatu negara, pada wilayah yang lebih luas.
Sehingga, bagi saya (seorang pegawai accounting abal-abal tamatan SMEA)—yang
pemahaman akuntansinya tentu masih dangkal, usaha-usaha mengoptimalkan fungsi
akuntansi untuk meningkatkan efektifitas dan produktifitas opersional binis, TAK KALAH
PENTINGNYA jika dibandingkan dengan usaha-usaha untuk taat dan tunduk tehadap
prinsip/standar akuntansi yang ada. Lebih bagus lagi, jika keduanya bisa bersinergi.
Target utama saya, dalam costing, adalah menyediakan informasi cost yang bisa menjadi
input bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan. Dan
untuk mencapai target itu, seringkali saya harus melakukan tweak dan kustomisasi, membuat
hybrid-system yang paling sesuai bagi karakter operasional perusahaan.
Misalnya:
Untuk decision-making yang lebih akurat sehubungan dengan harga dari tambahan unit
produk terjual (biasanya harga yang paling mendekati direct cost), saya harus menggunakan
incremental cost yang timbul pada setiap tambahan unit produk yang dihasilkan. Nah, jika
harus mematuhi standard akuntansi, menggunakan metode penentuan biaya yang hanya
mengalokasikan porsi overhead cost ke dalam product cost akan membuat saya kesulitan—
meskipun untuk yang tergolong bukan incremental cost.

Dalam konteks yang lebih sempit, demi untuk meningkatkan dayaguna informasi cost yang
dihasilkan dari proses akuntansi biaya, dalam banyak hal saya memilih untuk DENGAN
SENGAJA mengabaikan prinsip/standar akuntansi yang ada. Khusus di wilayah costing, jika
terpaksa, saya memilih untuk menomorduakan GAAP, tidak kenal PSAK, aturan Bappepam,
dan regulasi sejenisnya.
Begitulah cara pandang saya mengenai pentingnya proses pemilihan dan penerapan metode
costing secara khusus—dan cost accounting dalam cakupan lebih luas, yang lebih banyak
berfokus pada pertimbangan: bagimana caranya mendayagunakan cost accounting untuk bisa
memberi manfaat maksimal bagi pengelolaan bisnis, ketimbang sekedar bisa memasukan
unsur cost ke dalam laporan keuangan.
Page 5 of 11

Selanjutnya, mari kita lihat, satu-per-satu, ragam metode costing—beserta keunggulan dan
kelemahannya masing-masing.

Macam Motode Costing Beserta
Keunggulan dan Kelemahannya
Secara konsep, ada tujuh metode costing yang paling lumrah digunakan, sesuai dengan
karakter perusahaan masing-masing:
1. Job Costing – Job costing melibatkan serangkaian transaksi-transaksi yang
mengakumulasikan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead untuk satu unit
aktivitas yang disebut dengan “Job Order” (JO). Metode ini biasanya diterapkan dalam
ligkungan manufaktur yang memproduksi barang pesanan—dalam pengertian, design, fitur
dan spesifikasi lainya ditentukan oleh pemesan. Untuk masing-masing kategori, cost
diakumulasikan melalui serangkian transaksi-transaksi, sebelum di bebankan (charged) ke
“Job Order” tertentu.


Keunggulan: Sangat bagus untuk menelusuri cost per unit produk, bisa menghasilkan
informasi yang lebih akurat, jika dibandingkan dengan metode lain. Job costing disebutsebut sebagai metode penentuan cost yang paling efektif dan valid untuk
mengakumulasikan biaya kesepakatan kontraktual cost-plus.



Kelemahan: It requires a large quantity of detailed data collection and data entry, which
is expensive. It also runs the risk of including some inaccurate data, which requires
expensive control systems to minimize. Furthermore, there may be a significant
allocation of overhead costs to each job, which may be inaccurately applied.

2. Process Costing – Lumrah diterapkan pada lingkungan perusahaaan dimana variasi produk
yang dibuat sedikit atau bahkan bersifat tunggal—dalam pengertian: jenis barang, ukuran,
material, mesin/alat, metode produksi, dan sumberdaya manusia yang digunakan relative
sama. Dalam situasi ini, adalah sangat sulit untuk membedakan biaya produk satu-per-satu.
Misal: perusahaanrefiner (pemurnian), adalah sangat sulit untuk menelusuri biaya yang
keluar untuk masing-masing galon minyak yang digunakan. Metode yang paling lumrah
Page 6 of 11

dipergunakan untuk menghitung cost per-unit dalam proses costing adalah dengan cara
mengakumulasikan semua biaya terkait dengan proses produksi dalam suatu periode,
selanjutnya ‘weighted average’ cost per-unit dihitung berdasarkan total total cost
terakumulasi tersebut.


Keunggulan: Data cost dikumpulkan menjadi satu untuk keseluruhan periode produksi
yang kemudian dialokasikan ke volume produksi yang dijalakan dalam satu periode,
menghasilan cost per-unit rata-rata yang relative akurat, tetapi tidak seakurat job costing.
Metode ini relatif cepat dan memerlukan tenaga yang relative lebih kecil jika
dibandingkan metode lain.



Kelemahan: Cost per-unit yang dihasilkan adalah cost rata-rata yang tentu saja tidak
terlalu akurat. Disamping itu, khususnya saat menentukan volume produksi yang
diproses, perusahaan sering menggunakan estimasi—karena sebagian barang mungkin
belum benar-benar selesai diproduksi.

3. Direct Costing – Direct cost adalah cost yang terasosiasi langsung dengan perubahan
volume produksi. Pengertian direct cost ini, berhubungan erat dengan bahan baku langsung
dan biaya tenaga kerja langsung, tapi tidak dengan mesin. Misal: bahan baku yang digunakan
untuk membuat produk dan upah tenaga kerja untuk proses pembuatan barang adalah direct
cost, tetapi biaya-biaya sehubungan dengan mesin yang digunakan untuk berproduksi bukan
direct cost—karena mesinnya masih tetap di pabrik terlepas dari perubahan volume produksi.
Dengan kata lain, overhead tidak diikutsertakan dalam perhitungan costing.


Keunggulan: Metode ini biasanya disukai oleh management yang ogah terus-menerus
membuat perhitungan cost setiap kali ada penambahan volume produksi—terlebih-lebih
jika ada item produk baru. Bagaimanapun juga proses penentuan cost memang
mengkonsumsi waktu, tenaga dan pikiran. Jika tidak mau repot membuat costing setiap
ada penambahan volume produksi atau produk baru, direct costing memang pilihan yang
paling nyaman. Disamping itu, direct costing juga paling ideal saat dipakai untuk
menentukan harga termurah yang bisa ditawarkan—dengan harapan dapat menjual lebih
banyak, misalnya.



Kelemahan: Dalam jangka pendek, penentuan cost (untuk pada akhirnya menentukan
harga jual) dengan menggunakan metode direct memang masih bisa, tetapi tidak untuk
jangka panjang. Kian lama cost yang dihasilkan akan kian tidak akurat, akibat tidak
diikutsertakannya overheda dalam perhitungan costing.

Page 7 of 11

4. Throughput Costing (Accounting) – Metode yang satu ini berfokus pada maksimalisasi
kapasitas (orang dan produksi), yang sesungguhnya tiada lain merupakan variasi atau
pengembangan dari direct costing. Metode ini mengasumsikan bahwa: selalu ada kemacetan
operasional (lumrah disebut “bottleneck operation”) dalam proses produksi—yang
menghambat kecepatan (speed) penyelesaian barang. Masalah kemacetan inilah yang
kemudian menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan barang mana yang sebaiknya
diproduksi terlebih dahulu dan mana yang belakangan—karena masing-masing akan
menghasilkan tingkat profitabilitas yang berbeda. Pada dasarnya, metode ini hanya
mengikutsertakan bahan baku sebagai komponen utama dalam pertimbangan decisionmaking sehubungan dengan cost, sementara biaya tenaga kerja tidak.


Keunggulan: throughput costing bisa meningkatkan profitabilitas dalam jangka pendek
secara maksimal, jika perusahaan benar-benar mengelola bottleneck kapasitas (baik
fasilitas maupun sumberdaya manusia) dengan baik dan disiplin—sesuai dengan apa
yang ditunjukan oleh cost analysis yang dihasilkan oleh metode tersebut—sehingga
contribution margin yang paling maksimal bisa dicapai.



Kelemahan: Adanya peringkat prioritas (fokus pada produk yang kemungkinan
menghasilkan tingkat profitabilitas paling tinggi), dalam jangka panjang akan
menimbulka hubungan yang tidak baik dengan pihak pelanggan, yang cepat atau lambat
akan menimbulkan masalah yang tak kalah seriusnya dengan profitabilitas—kecuali
perusahaan benar-benar bisa hidup hanya dengan memproduksi produk-produk yang
memiliki profitabilitas tinggi.

5. Activity-based Costing (ABC) – Metode penentuan cost dengan ABC system dirancang
untuk mengarahkan agar setiap biaya overhead yang timbul bisa dihubungkan (atau
dikaitkan) aktivitas tertentu untuk suatu produk dan departemen/bagian/seksi tertentu di
dalam perusahaan—yang nantinya bisa menjadi sumber informasi utama bagi manajemen
untuk mengetahui: di wilayah mana overhead banyak digunakan? Untuk aktivitas apa saja?
Dan, untuk produk apa (yang mana)?


Keunggulan: Metode costing dengan ABC system adalah jawaban atas kelemahan yang
terjadi di direct costing maupun throughput costing. Dengan ABC system, management
dapat melakukan kontrol yang lebih baik terhadap overhead, sekaligus dapat mengetahui
aktivitas untuk produk mana yang mengkonsumsi overhead lebih banyak.



Kelemahan: ABC system memerlukan pemahaman system operasi sekalgus costing dari
setiap aktivitas di dalam perusahaan. Disamping itu, penerapan ABC system
Page 8 of 11

membutuhkan tenaga, waktu dan komitmen yang tinggi dari semua personel—mulai dari
tingkat pelaksana hingga management, dan ini bukan sesuatu yang mudah dicapai.
Khusus di system akuntansinya, ABC system memerlukan data base yang luar biasa
detail—setup awalnya saja bisa memakan waktu lebih dari satu tahun untuk perusahaan
bersakal menengah, belum lagi maintenancenya. Bayangkan, setiap item produk baru
pastinya membutuhkan aktivitas yang agak berbeda (meskipun tidak terlalu jauh),
menggunakan tools yang berbeda, setup mesin yang berbeda, dan semua itu harus
dikonstruksi di data base system. Oleh sebab itu, untuk perusahaan yang aktivitas
produksinya tidak terlalu massif (dengan variance produk yang tidak terlalu banyak),
saya tidak pernah merekomendasikan penerapan ABC system.

6. Standard Costing – Standard costing termasuk yang cukup populer digunakan. Langkah
pertama yang dilakukan dalam menerapkan metode ini adalah dengan menentukan “standard
cost”—per satu jenis aktivitas–untuk masing-masing jenis produk yang akan diproduksi.
Saya pribadi banyak menerapakan standard cost (yang saya kombinasikan dengan beberapa
metode lain). Untuk penerapan standard cost saya menugasi engineer di research &
development membuat standard untuk direct labor cost, officer di bagian purchasing—
bersama-sama dengan engineer bag produksi—membuat standard untuk penggunaan bahan
baku dan bahan penolong, sedangkan standard untuk overhead cost saya tugaskan ke cost
accountant. Standard di masing-masing aktivitas tersebut kemudian dijadikan satu oleh cost
accountant (bersama-sama dengan enginner di R&D), maka terbentulah Bill of Material
(BOM) yang tiada lain adalah “standard cost” per satu jenis barang yang diproduksi. Setiap
kali suatu aktivitas dijalankan, akan menimbulkan perbedaan antara standard cost (yang ada
di BOM), selisih tersebut saya kanalkan (secara otomatis) ke akun yang saya sebut dengan
“variance”—yang sewaktu-waktu bisa saya gunaka untuk menilai tingkat efisiensi dan
efektivitas suatu aktivitas, termasuk mengukur profitabilitas produk yang sedang
dikembangkan.


Keunggulan: Metode standard costing sangat ampuh untuk digunakan untuk melakukan
pengendalian cost di semua lini perusahaan. Dengan metode ini, nyaris setiap aktivitas
bisa diukur tingkat efisiensinya. Satu-satunya PR follow up yang penting dalam
penerapan metode standard costing adalah: mencari-tahu alasan yang menyebabkan
timbulnya variance, dan pengalaman saya menunjukan ini bagia yang tersulit.



Kelemahan: Standard costing menghabiskan banyak energi dan waktu, khususnya di
awal-awal—saat standard di buat. Dan pembentukan standard ini akan terus terjadi
Page 9 of 11

setiap ada produk baru yang dikembangkan. Dan Penentuan standard cost seringkali
menjadi sesuatu yang tricky—pada titik tertentu para operator/pelsakana dan manager
sering dihadapkan pada pilihan antara memenuhi standard atau meningkatkan kwalitas
produk yang dihasilkan. Ini membutuhkan resolusi yang benar-benar komprehensive,
sehingga tidak perlu timbul tindakan saling menyalahkan ketika variance yang cukup
besar muncul ke permukaan di kemudian harinya.

7. Target Costing – Keenam metode costing yang saya sebutkan sebelumnya, semuanya
berfokus pada interpretasi data cost setelah terjadi. Target costing menggunakan pendekatan
sebaliknya—data cost ditentukan (dipatok) terlebih dahulu untuk kemudian diikuti oleh
semua aktivitas di dalam perusahaan. Konkretnya, management—melalui serangkaian proses
riset—mempelajari kondisi pasar (baik expektasi customer maupun tingkat kompetisi)
terlebih dahulu, untuk menentukan “target cost.” Selanjutnya, produk dirancang mengikuti
skema target cost yang telah ditentukan. Mulai dari proses perancangan dan proses produksi
yang sesungguhnya, usaha-usaha untuk meningkatkan efisiensi terus dilakukan, sehingga
target cost yang diharapkan bisa dicapai. Bisa dibilang, ini model market-oriented costing.


Keunggulan: Model market-oriented dari metode target costing sangat bagus diterapkan
pada produksi barang yang memiliki tingkat kompetisi yang tinggi di pasaran (consumer
goods, apparels dan electronics misalnya).



Kelemahan: Satu-satunya kelemahan metode target costing ini adalah lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan perancangan produk—yang jika tidak
dilakukan dengan time table yang ketat, bisa keteteran dalam menghadapi laju perubahan
time-value money dan inflasi dalam jangka panjang. Proses yang panjang ini otomatis
memakan waktu dan tenaga yang besar. Saya pribadi meng-hybrid-kan metode ini
dengan standard costing. Target costing saya gunakan khusus untuk produk baru yang
belum memiliki segment pasar pasti (untuk keperluan infiltrasi pasar).

Secara keseluruhan, pemilihin metode costing sangat berpengaruh terhadap informasi
cost yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan oleh mangement
perusahaan (untuk keperluan product pricingdan costing), berkaitan langsung dengan
tingkat profitabilitas perushaan dalam skala yang lebih luas. Oleh sebab itu, saya selalu
menganjurkan agar, pemilihan metode costing benar-benar dilakukan dengan
“management’s interest in mind”, bukan yang lainnya. Dengan costing best
Page 10 of 11

practices yang baik, cost accounting akan bisa berdaya guna secara maksimal. Berusaha
mengkombinasikan beberapa metode costing, selalu baik—dengan catatan: disesuaikan
dengan karakter produk, kapasitas produksi dan organization behavioral lainnya.
Selamat berakhir pekan.

Page 11 of 11

Judul: Akuntansi Biaya

Oleh: Dadan Ramdhani


Ikuti kami