Akuntansi Biaya

Oleh Rosmayanti Suhendar

20 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Biaya

Akuntansi Biaya
Akuntansi Biaya sering dipakai pada perusahaan manufaktur, dimana perusahaan itu membeli
barang mentah, memprosesnya dan menjualnya. Tidak seperti perusahaan dagang yang hanya
membeli barang dan menjualnya lagi.
Tujuan Akuntansi Biaya
1. Penentuan Harga Pokok Produk
2. Perencanaan dan Pengendalian Biaya
3. Pengambilan Keputusan Bisnis
Penentuan Harga Pokok Produk
Harga pokok produk merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang dibebankan pada produk yang
dihasilkan oleh perusahaan. Dalam penentuan harga pokok produk digunakan untuk perhitungan
laba atau rugi perusahaan yang dilaporkan kepada pihak eksternal perusahaan.
Informasi mengenai harga pokok produk menjadi dasar bagi manajemen dalam pengambilan
keputusan harga jual produk yang bersangkutan. Oleh karena itu, akuntansi biaya dalam hal ini
merupakan bagian dari akuntansi manajemen.
Perencanaan dan Pengendalian Biaya
Perencanaan biaya berkaitan dengan pengambilan keputusan manajemen mengenai penggunaan
sumber-sumber ekonomik pada masa yang akan datang. Akuntansi biaya menyajikan informasi
biaya yang mencakup biaya masa lalu dan biaya yang akan datang. Informasi yang dihasilkan
akuntansi biaya menjadi dasar bagi manajemen untuk menyusun perencanaan biaya.
Pengendalian biaya pada dasarnya merupakan serangkaian kegiatan monitoring dan evaluasi
secara terus menerus, serta komparasi antara realisasi dengan anggaran biaya. Akuntansi biaya
menyajikan informasi mengenai rencana dan realisasi biaya dengan penekanan pada selisih
(penyimpangan) realisasi biaya dari rencana yang telah ditentukan.

Pengambilan Keputusan Bisnis
Pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan berbagai alternative tindakan. Dalam hal ini
manajemen memerlukan informasi biaya yang relevan untuk dasar pengambilan keputusan
bisnis.
Dalam Akuntansi Biaya sering dipakai pada perusahaan manufaktur, dimana perusahaan itu
membeli barang mentah, memprosesnya dan menjualnya. Tidak seperti perusahaan dagang yang
hanya membeli barang dan menjualnya lagi. Karena di perusahaan manufaktur kita “memproses”
berarti dapat disimpulkan bahwa kita mengolah barang mentah menjadi barang jadi.
Untuk menentukan Harga Pokok Produksi maka diperlukan biaya- biaya yang terlibat dalam
memproses barang. Yaitu sebagai berikut :


Biaya Bahan Baku
Biaya yang timbul karena adanya pemakaian bahan baku / bahan mentah dalam proses saat
memproduksi barang/ produk.



BTKL ( Biaya Tenaga Kerja Langsung )
Biaya yang timbul karena pemakaian tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah/
memproduksi barang. Jadi, gaji untuk membayar tenaga kerja ini disebut Biaya Tenaga Kerja
Langsung.



BOP (Biaya Overhead Pabrik )
Biaya yang timbul karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa mesin,alat,tempat
kerja dan kemudahan lainnya.
Yang termasuk dalam BOP adalah :
1. Bahan Penolong
2. BTKTL ( Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung )
3. Beban Listrik pabrik
4. Biaya operasional pabrik
selain ketiga komponen diatas, terdapat biaya komersial. Biaya komersial adalah biaya yang
timbul diluar dari kegiatan produksi seperti biaya pemasaran dan biaya admin dan umum.

Penentuan Harga Pokok Bahan Baku
Berbagai macam metode penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi
(materials costing methods) diantaranya adalah : Peramalan ekonomi (economic forecast)
1. Metode Identifikasi Khusus.
Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada digudang harus di beri tanda harga pokok
per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga
persatuanya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang sudah ada di gudang, dan harus
dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan baku tersebut dibeli.
Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya,
sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui harga pokok per satuanya secara tepat.
2. Metode Biaya Standar
Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standar
(standar prince) yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diperkirakan untuk tahun
anggaran tertentu. Pada saat pakai, bahan baku diebankan kepada produk pada harga standar
tersebut.
Jurnal yang di buat saat pembelian bahan baku :
Persediaan Bahan Baku

XXXX

Selisih Harga

XXXX

Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar :
Selisih Harga

XXXX

Utang Dagang

XXXX

Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli :
Barang Dalam Proses-BBB
Persediaan Bahan Baku

XXXX
XXXX

Jurnal pada saat pemakaian ahan baku :
BDP-BBB
Persediaan Bahan Baku

XXXX
XXXX

3. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku Pada Akhir Bulan
Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan
tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang . Harga pokok rata-rata persatuan ini
kemudian digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi
dalam bulan berikutnya.

4. Metode Rata-Rata Rergerak / Rata-Rata Tertimbang
Dalam meode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata-ratanya,
dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuanya . Setiap kali terjadi pembelian
yang harga pokok persatuanya berbeda dengan harga rata-rata pokok persediaan yang ada di
gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang baru.
Bahan baku yang dipakai dalam proses prouksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan
jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata-rata per satuan bahan baku
yang ada di gudang.

Contoh :
Persediaan Bahan Baku A pada 1 Januari 20X1 terdiri dari :
600 kg @Rp2.400 = Rp1.440.000
400 kg @Rp2.500 = Rp1.000.000
Kuantitas

Harga beli

Kransaksi

Kg

6/1

Pemakaian

700

15/1

Pembelian

1.200

Rp2.750

17/1

Pembelian

500

Rp3.000

21/1

Pemakaian

1.100

Tanggal

Jumlah Pemakaian

Per kg

Jumlah

Rp 3.300.000
1.500.000
Rp 4.800.000

Masalah-masalah Khusus yang Berhubungan Dengan Bahan Baku
1. SISA BAHAN ( SCRAP MATERIALS )
Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi, sehingga tidak dapat
menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan
adalah harga pokok persatuan produk jadi lebih tinggi.
Jika bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan
hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai
pengurang biaya bahan baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai
pengurangan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, atau sebagai penghasil di luar
usaha.

Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Biaya Bahan Baku yang
Dipakai Dalam Pesanan Yang Menghasilkan Sisa Bahan Tersebut.
Jika sisa bahan terjadi karena karakteristik proses pengolahan pesanan tertentu, maka hasil
penjualan sisa bahan dapat diidentifikasikan dengan pesanan tersebut.
Jurnal saat penjualan sisa bahan :
Kas / Piutang dagang

XX

Barang Dlm Proses-Biaya Bahan Baku

XX

Hasil penjualan sisa bahan ini juga dicatat dlm kartu hargapokok pesanan yang bersangkutan
dalam kolom “biaya bahan baku” sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan tersebut
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurangan Terhadap Biaya
Overhead Pabrik yang Sesungguhnya Terjadi.
Jika sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu, dan sisa bahan merupakan
hal yang biasa terjadi dalam roses pengerjaan produk, maka hasil penjualannya dapat
diperlakukan sebagai pengurangan biaya Overhead pabrik sesungguhnnya.
Jurnal pada saat penjualan sisa bahan baku adalah :
Kas/ Piutang Dagang

XX

Biaya Overhead pabrik sesungguhnnya

XX

Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Penghasilan Di Luar Usaha .
Hasil penjualan sisa bahan dapat pula diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha dan tidak
sebagai pengurang biaya produksi .
Jurnal saat penjualan sisa bahan adalah :
Kas / Piutang dagang
Hasil Penjualan Sisa Bahan

XX
XX

Contoh :
Bagian Produksi menyerahkan 2.000 kg sisa bahan baku ke Bagian Gudang. Sisa bahan tersebut
ditaksir laku dijual Rp5000 per kg . Sampai dg akhir periode akuntansi sisa bahan tersebut telah
laku dijual sebanyak 1.250 kg dgn harga jual Rp6000 per kg.
Jurnal penyerahan sisa bahan :
Persediaan Sisa Bahan

(2000xRp5000)

Hasil Penjualan

Rp 10.000.000
Rp 10.000.000

Jurnal penjualan sisa bahan :
Kas / Piutang Dagang

(1.250xRp6000 )

Persd. Sisa bahan

Rp 7.500.000
Rp 7.500.000

Jurnal Penyesuaian pada akhir periode:
Hasil Penjualan

(750xRp5000)

Penghasilan yg blm direalisasikan

Rp 3.750.000
Rp 3.750.000

Jurnal penyesuaian karena adanya selisih harga jual : (Rp6000-Rp5000=Rp1000)
Persd. Bahan baku (1.250xRp1000)
Hasil penjualan

Rp 1.250.000
Rp 1.250.000

2. PRODUK RUSAK (SPOILED GOODS)
Produk rusak merupakan produk yang tidak memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.
Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya produksi dan secara ekonomis tidak
dapat diperbaiki menjadi produk baik.
Perlakuan terhadap produk rusak sangat tergantung dari sifat dan penyebab terjadinya produk
rusak, yaitu:
1. Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersifat luar biasa,
misalnya sulitnya proses produksi, maka harga pokok produk rusak akan dibebankan
sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan.

Apabila produk rusak laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak akan
diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
Contoh :
PT Prakarsa Husada memproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan Januari 20X7 perusahaan
menerima pesanan pembuatan 1.000 satuan produk A .
Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi 1.100 satuan produk A dengan
biaya produksi sbb :
BBB 75.000 , BTKL 175.000 , BOP dibebankan atas dasar tarif sebesar 150% dari BTKL .
Pada saat pesanan selesai dikerjakan 100 satuan produk rusak, yg secara ekonomis tidak dapat
diperbaiki. Produk rusak tersebut diperkirakan laku dijual 350 per satuan.
Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah 1.100 satuan produk A :
Barang Dlm Proses-BBB

Rp 75.000

Barang Dlm Proses-BTKL

Rp 175.000

Barang Dlm Proses-BOP

Rp 262.000

Persediaan Bahan Baku

Rp 75.000

Gaji dan Upah

Rp 175.000

Biaya Overhead yg dibebankan

Rp 262.000

Apabila tidak terdapat produk rusak, maka harga pokok per unit adalah :
Rp512.500/1.100 = Rp 466
Dengan adanya produk rusak 100 unit akan mengakibatkan harga pokok perunitnya menjadi
lebih besar karena harga pokok produk rusak dibebankan pada produk yang baik.
Harga produk A yang baik :
Rp512.500/1000 = Rp 513
Jika produk rusak masih laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak dikurangkan dari biaya
produksi yang seluruhnya telah dibebankan kepada produk yang baik. Pembagian nilai Jual
produk sebagai pengurang terhadap tiap-tiap rekening Barang Daam Proses tersebut, didasarkan
pada perbandingan tiap-tiap elemen biaya tersebut dalam harga pokok rusak disajikan sebagai
berikut :

Pembagian nilai jual produk rusak adalah sbb :
Barang Dlm Proses-BBB

75% x 6.800 = 5.100

Barang Dlm Proses-BTKL

75% x 15.900 = 11.925

Barang Dlm Proses-BOP

75% x 23.900 = 17.925 +
Jumlah

34.950*

*Jumlah sesungguhnya 35.000, selisih 50 karena ada pembulatan dlm perhitungan.
Jurnal untuk mencatat nilai jual produk rusak dan pengurangan biaya produksi pesanan
yang bersangkutan :
Persediaan Produk Rusak (100x350)

Rp 35.000

Barang Dlm Proses-BBB

Rp 5.100

Barang Dlm Proses-BTKL

Rp 11.925

Barang Dlm Proses-BOP

Rp 17.925

Jurnal pencatatan harga pokok produk jadi adalah sbb :
Persediaan Produk jadi

Rp 477.500

BDP-BBB

Rp 69.900

BDP-BTKL

Rp 163.075

BDP-BOP

Rp 244.575

Karena produk rusak masih laku dijual seharga Rp 35.000 maka biaya produksi berkurang
menjadi : Rp 477.500 yaitu (Rp 512.500 - Rp 35.000), sehingga harga pokok persatuan produk A
yang baik adalah Rp 477,5 atau Rp 478 dari (Rp 477.500 - 1000).
Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka
kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produk secara
keseluruhan, dengan cara memperhitugkan kerugian tersebut didalam tarif biaya overhead
pabrik. Oleh karena itu, anggaran biaya overhead pabrik yang akan digunakan
menentukan tarif biaya overhead pabrik terdiri dari elemen-elemen berikut :
Biaya bahan penolong

XXXX

Biaya kerja tak langsung

XXXX

untuk

Biaya reparasi dan pemeliharaan

XXXX

Biaya asuransi

XXXX

Biaya overhead pabrik lain

XXXX

Rugi produk rusak (hasil penjualan-harga pokk produk rusak)

XXXX

Biaya Overhead Pabrik yang dianggarkan

= XXXX

Tarif BOP = BOP yang dianggarkan / Dasar pembebanan
Contoh :
PT Prakarsa Husada memproduksi produk atas dasar pesanan. Karena produk rusak merupakan
hal yang biasa terjadi dalam prses pengolahan produk, maka kerugian adanya produk rusak
sudah diperhitungkan dalam penentuan tarif BOP pada awal tahun. Tarif BOP adalah 160% dari
BTKL.
Pada tahun 20X7, perusahaan menerima pesanan produk B seanyak 2.000 unit . Biaya produksi
yang dikeluarkan untuk mengerjakan pesanan tersebut adalah:
BBB Rp 100.000 , BTKL Rp 250.000 , BOP Rp 400.000 (160% x Rp 250.000).
Setelah pesanan ini selesai doproduksi, ternyata dari 2.300 unit produk selesai yang dihasilkan
terdapat 300 unit produk rusak, yang diperkirakan masih laku dijual Rp 200 per unit .
Jurnal mencatat biaya produksi untuk mengolah pesanan B tersebut adalah :
BDP-BBB

Rp 100.000

BDP-BTKL

Rp 250.000

BDP-BOP

Rp 400.000

Persediaa Bahan Baku

Rp 100.000

Gaji dan Upah

Rp 250.000

BOP yg dibebankan

Rp 400.000

Karena dalam tarif BOP telah diperhitungkan kerugian produk rusak, maka berarti seluruh
produk yang diproduksi akan dibebani dengan kerugian karena adanya produk rusak tersebut.
Oleh karena itu , kerugian yang sesungguhnya timbul dari produk rusak didebitkan dalam
rekening BOP sesungguhnya.
Kerugian karena adanya produk rusak :

Harga pokok produk rusak

300 x Rp 326* = Rp 97.800

Nilai jual produk rusak

300 x Rp 200 = Rp 60.000 _

Jadi kerugian produk rusak

= Rp37.800

Jurnal pencatatan produk rusak dan kerugianya adalah :
Persediaan Produk Rusak

Rp 60.000

BOP Sesungguhnya

Rp 37.800

BDP-BBB

(300x43)

Rp 12.900

BDP-BTKL

(300x109)

Rp 32.700

BDP-BOP

(300x174)

Rp 52.200

Jurnal pencatatan produk jadi yang baik adalah sbb :
Persediaan produk jadi

Rp 652.000

BDP-BBB

Rp 86.000

BDP-BTKL

Rp 218.000

BDP-BOP

Rp 348.000

3. PRODUK CACAT (DEFECTIVE GOODS)
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditentukan, tetapi
dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara
ekonomis dapat disemurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambahan
untuk pengerjaan kembali (rework cost) produk cacat tersebut. Perlakuan terhadap biaya
pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip dengan produk rusak (spoiled goods).
Jika produk cacat bukan merupakan hal yang bisa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena
karakteristik pesanan tetentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan
sebagai tambahan biaya prouksi pesanan yang ersangkutan.
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalamproses pengerjaan produk, maka
biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada seluruh produksi dengan cara
memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut kedalam tarif BOP. Biaya pengerjaan
kembali produk cacat yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam rekening BOP
Sesungguhnya.

Pencatatan Biaya Pengerjaan Kembali Produk Cacat Jika Biaya Tersebut Dibeankan
kepada Pesanan Tertentu .
Contoh :
PT Rimendi menerima pesanan 100 satuan produk X. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk
mengolah produk tersebut adalah :
BBB Rp 40.000, BTKL Rp 25.000 , BOP 200% dari BTKL .
Setelah pengolahan 100 satuan produk X tersebut selesai, ternyata terdapat 10 satuan produk
cacat tersebut terdiri dari biaya BTKL Rp 5.000 dan BOP pada tarif yang biasa dipakai .
Jurnal pencatatan produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut
adalah sbb :
Jurnal pencatatan biaya produksi 100 satuan produk X :
BDP-BBB

Rp 40.000

BDP-BTKL

Rp 25.000

BDP-BOP

Rp 50.000

Persediaan Bahan Baku

Rp 40.000

Gaji dan Upah

Rp 25.000

BOP yg diebankan

Rp 50.000

Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat jika biaya tersebut dibebankan
sebagai tamahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan :
BDP-Biaya Tenaga Kerja

Rp 5.000

BDP-Biaya Overhead pabrik

Rp 10.000

Gaji dan Upah

Rp 5.000

BOP yang Dibebankan

Rp 10.000

Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai :
Persediaan Produk Jadi
BDP-BBB

Rp 130.000
Rp 40.000

BDP-BTKL

Rp 30.000

BDP-BOP

Rp 60.000

Pencatatan Biaya Pengerjaan Kembali Produk Cacat Jika Biaya Tersebut Dibeankan
kepada Produksi Secara Keseluruhan.
Contoh :
Di dalam proses produksi PT Prakarsa selalu terjadi produk cacat, yang secara ekonomis masih
dapat diperbaiki dengan cara mengeluarkan biaya pengerjaan kembali. Oleh karena itu, pada
waktu menentukan tarif BOP, di dalam anggaran BOP diperhitungkan ditaksiran biaya
pengerjaan kembali produk cacat yang akan dikeluarkan selama periode anggaran. Tarif BOP
ditentukan sebesar 150% dari BTKL, PT Prakarsa dalam periode anggaran tersebut menerima
pesanan pembuatan 500 satuan produk Y. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah
produk tersebut adalah:
BBB Rp 100.000 , BTKL Rp 124.000 . Setelah pengolahan 500 satuan produk Y tersebut selesai,
ternyata terdapat 50 satuan produk cacat. Biaya pengerjaan kembali 50 satuan produk cacat
tersebut terdiri dari : BTKL Rp 10.000 , dan BOP pada tarif yang dipakai.
Jurnal pencatatan biaya produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat
adalah sbb :
Jurnal pencatatan biaya produksi 500 satuan produk :
BDP-BBB

Rp 100.000

BDP-BTKL

Rp 125.000

BDP-BOP

Rp 187.000

Persediaan Bahan Baku

Rp 100.000

Gaji dan Upah

Rp 125.000

BOP yg diebankan

Rp 187.000

Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat jika biaya tersebut dibebankan
kepada produk secara keseluruhan :
BOP Sesungguhnya
Gaji dan Upah

Rp 25.000
Rp 10.000

BOP yang Dibebankan

Rp 15.000

Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai :
Persediaan Produk Jadi

Rp 412.000

BDP-BBB

Rp 100.000

BDP-BTKL

Rp 125.000

BDP-BOP

Rp 187.000

Soal : Akuntansi biaya dibuat dengan tujuan untuk penentuan harga pokok produk, selain tujuan
tersebut sebutkan tujuan lainnya?
1.

…..
a. Perencanaan dan Pengendalian Biaya
b. Penentuan Biaya Bahan Baku
c. Pengambilan Keputusan Bisnis
d. Perencanaan dan Pengendalian Bisnis
e. Penentuan Harga Produk Jadi
f. Penetapan Strategi Bisnis

2. Dalam menentukan Harga Pokok Produksi maka diperlukan biaya- biaya yang terlibat
dalam memproses membuat produk / barang, sebutkan biaya – biaya yang terlibat
a. Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Tetap
b. Biaya Bahan Baku, Biaya Overhead, Biaya Tenaga Kerja Langsung
c. Biaya Bahan Baku, Biaya Tenga Kerja Langsung, Biaya Pemasaran
d. Biaya Bahan Baku, Biaya Listrik, Biaya Overhead
e. Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead
f. Biaya Tenaga Kerja, Biaya Tenga Kerja Langsung, Biaya Pemasaran
3. Biaya Overhead pabrik adalah
a. Semua biaya yang berasal dari pembuatan barang di pabrik, selain biaya bahan baku
dan biaya TKL
b. Biaya yang timbul karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang di pabrik,
seperti pemakaian mesin, dll.
c. Semua biaya yang timbul untuk memproduksi barang / produk
d. Biaya yang dihasilkan dari pembuatan suatu produk
e. Jawaban a dan c benar
f. Jawaban a dan b salah

4. Yang termasuk biaya overhead adalah….
a. Biaya listrik kantor, biaya penggunaan mesin, biaya operasional pabrik
b. Biaya operasional pabrik, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung
c. Biaya administrasi, biaya operasional pabrik, biaya bahan penolong
d. Biaya pemasaran, biaya administrasi, biaya operasional pabrik
e. Biaya produksi, biaya pemasaran, biaya operasional pabrik
f. Biaya listrik pabrik, biaya operassional pabrik, biaya tenaga kerja tidak langsung

5. Dalam penentuan harga pokok bahan baku, ada beberapa metode yang digunakan.
Sebutkan metode yang digunakan untuk penentuan harga pokok bahan baku
a. Metode LIFO, Metode FIFO, dan Metode Average
b. Metode Biaya Standar, Metode Identifikasi Khusus
c. Metode rata-rata tertimbang, Metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir
bulan
d. Metode rata-rata harga pokok bahan baku awal bulan, metode biaya khusus
e. Jawaban a dan b benar
f. Jawaban b dan d benar

6. Masalah khusus yang biasanya terjadi dan berhubungan dengan bahan baku adalah
a. Adanya produk tidak laku
b. Adanya sisa bahan
c. Adanya produk rusak dan produk cacat
d. Jawaban a dan b benar
e. Jawaban b dan c salah
f. Jawaban a dan c benar

7. Jika biaya bahan baku adalah Rp. 300.000, biaya tenaga kerja langsung 150% dari biaya
bahan baku, dan biaya overhead pabrik ¾ dari biaya tenaga kerja langsung maka berapa
total biaya yang dibutuhkan :
a. Rp 1.070.000
b. Rp 1.087.500
c. Rp 1.677.500
d. (Rp 300.000 + Rp 450.000 + Rp 337.500)
e. (Rp 300.000 + Rp 450.000 + Rp 320.000)
f. Jawaban a dan e benar

8. Dari soal no. 7 diatas diketahui barang yang di produksi adalah 3000 unit, maka biaya
yang dibebankan untuk 1 unit adalah
a. Rp 362,50
b. Rp 356,67
c. Rp 559,17
d. Jawaban a benar
e. Jawaban b benar
f. Jawaban c salah

9. Jika Bagian Produksi menyerahkan 1.000 kg sisa bahan baku ke Bagian Gudang. Sisa
bahan tersebut ditaksir laku dijual Rp 5000 per kg . maka ayat jurnal untuk mencatat
kegiatan diatas adalah
a. Persediaan Bahan Rp 5.000.000 pada Hasil Penyerahan Rp 5.000.000
b. Persediaan Sisa Bahan Rp. 500.000 pada Hasil Penyerahan Rp 500.000
c. Persediaan Sisa Bahan Rp. 5.000.000 pada Hasil Penjualan Rp 5.000.000
d. Hasil Penjualan Rp 5.000.000 pada Persediaan Bahan Rp 5.000.000
e. Jawaban c benar
f. Jawaban a benar

10. Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk,
maka kerugian yang timbul akan dibebankan pada…
a. Biaya bahan baku saja
b. Biaya overhead saja
c. Biaya bahan baku dan biaya overhead
d. Biaya produk secara keseluruhan
e. Jawaban c benar
f. Jawaban d benar

11. Jika perusahaan X menerima pesanan 10.000 unit produk, dengan biaya satuan Rp 1.000,
dengan rincian biaya yang dibutuhkan adalah Rp 4.000.000 untuk bahan baku, 120%
untuk biaya overhead, maka berapa biaya tenaga kerja langsung yang dibutuhkan ?
a. Rp. 3.000.000
b. Rp. 3.200.000
c. Rp. 3.400.000
d. Jawaban a benar dan b benar
e. Jawaban b benar dan c salah
f. Jawaban a salah dan b salah

12. Jika perusahaan XYZ menerima pesana 5.000 unit produk dengan total biaya produksi
Rp 10.000.000, dengan biaya bahan baku Rp 4.000.000, biaya TKL Rp. 4.000.000, dan
biaya Overhead Rp. 2.000.000, sebutkan jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat biaya
overhead ?
a. Biaya overhead Rp 2.000.000 pada biaya overhead Rp 2.000.000
b. Biaya overhead Rp 2.000.000 pada BOP yang dibebankan Rp 2.000.000
c. Biaya overhead Rp 2.000.000 pada total biaya Rp 10.000.000
d. Jawaban a dan b benar
e. Jawaban a salah dan c benar
f. Jawaban b benar dan c salah

13. Jika hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha secara
tunai maka jurnal saat penjualan adalah
a. Piutang pada hasil penjualan sisa bahan
b. Kas pada penjualan sisa bahan
c. Kas pada penjualan produk
d. Kas pada sisa penjualan
e. Jawaban a dan b benar
f. Jawaban b benar dan c salah

14. Jika pada setelah penjualan sisa bahan terdapat selisih harga jual, maka ayat jurnal
penyesuaian yang dibutuhkan adalah
a. Persediaan bahan baku pada penjualan
b. Persediaan barang pada penjualan
c. Kas pada persediaan bahan baku
d. Jawaban a benar dan b benar
e. Jawaban a benar dan c salah
f. Jawaban b benar dan c salah

15. Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersigat luar biasa, maka
harga pokok produksi akan dibebankan sebagai
a. Biaya persediaan bahan baku untuk awal periode selanjutnya
b. Tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan
c. Tambahan biaya untuk biaya satuan yang baru
d. Jawaban a benar dan b salah
e. Jawaban b benar dan c salah
f. Jawaban c benar dan a benar

16. Ayat jurnal yang digunakan untuk mencatat nilai jual produk rusak dan pengurangan
biaya produksi yang bersangkutan adalah
a. Persediaan produk rusak pada (WIP – BBB, WIP – BTKL, WIP – BOP)
b. Persediaan barang pada (WIP – BBB, WIP – BTKL, WIP – BOP)
c. Persediaan produk rusak pada (WIP – BBB, WIP – Biaya pemrosesan, WIP – BOP)
d. Jawaban a dan b benar
e. Jawaban b dan c salah
f. Jawaban a dan b salah

17. PT. ABC menerima pesanan sebanyak 5.000 unit produk, dengan biaya bahan baku
sebesar Rp 10.000.000, biaya tenaga kerja langsung Rp 8.000.000, dan biaya overhead
adalah 50% dari biaya bahan baku dan 40% dari biaya tenaga kerja langsung. Dari data
diatas berapa biaya overhead yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut
a. Rp 5.000.000
b. Rp 3.200.000
c. Rp 16.200.000
d. Rp 8.200.000
e. Jawaban a dan b salah
f. Jawaban c benar dan d salah

18. Dari soal no. 17, diketahui bahwa untuk memenuhi pesanan perusahaan memproduksi
sebanyak 5.125 unit, maka berapa biaya satuan / harga pokok yang dibebankan untuk per
unitnya?
a. Rp 3.356
b. Rp 3.625
c. Rp 3.240
d. Jawaban a salah dan b salah
e. Jawaban b salah dan c salah
f. Jawaban b benar dan c salah

19. Dari soal no. 17 diketahui pada saat pesanan selesai dikerjakan 125 satuan produk rusak,
yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Maka berapa harga pokok perunit yang
dibebankan
a. Rp 3.640
b. Rp 3.600
c. Rp 3.440
d. Harga pokok perunit menjadi lebih besar Rp 84 dibanding bila tidak ada yang rusak
e. Harga pokok perunit bertambah 0.0025% dari biaya pokok perunit sebelumnya
f. Jawaban d dan e salah

20. Lanjutan no.19 jika, produk yang rusak masiih laku dijual seharga Rp. 500.000, maka
menjadi berpakah biaya produksi untuk memproduksi pesanan tersebut
a. Rp. 17.200.000
b. Rp. 16.700.000
c. Rp. 500.000
d. Rp 8.700.000
e. Jawaban c dan d salah
f. Jawaban b benar dan c benar

Judul: Akuntansi Biaya

Oleh: Rosmayanti Suhendar


Ikuti kami