Akuntansi

Oleh Veronika Manalu

25 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi

AKUNTANSI STUDY
Cara Orang Awam Belajar Dasar Akuntasi” ini terdiri dari beberapa bagian
yang membahas:
1. Persiapan
2. Jurnal Umum
3. Buku Besar
4. Neraca Saldo
5. Jurnal Penyesuaian
6. Update Buku Besar
7. Laporan Laba Rugi
8. Jurnal Penutup
9. Update Buku Besar (lagi)
10. Laporan Perubahan Modal
11. Neraca
======================
Oke, kita mulai aja belajarnya ya. Kita mulai bagian 1 yaitu “Persiapan”.

1. PERSIAPAN PERTAMA
Menurut gw, cara paling gampang belajar akuntansi itu pake contoh dan
praktek. Karena, gw udah coba baca buku yang tebal minta ampun
sekalipun, gw tetap aja kagak ngerti (bisa juga karena otak gw yg emang
lelet sih hehe). Dan contoh yang paling gampang itu, adalah akuntansi
untuk sebuah usaha kecil aja. Gimana? Setuju kan?
Dan biar kita sehati, dan gelombang otak kita sinkron serta mempermudah
telepati kita, sebaiknya kita tentukan nama contoh usaha kita. Hmm.. Kita
kasih nama aja.. CV. SENYUM! Dan bidang usaha kita adalah Reparasi
Televisi. Deal??? Pokoknya harus setuju..
Persiapan Kedua:
Mau gak mau, kita mesti belajar rumus!
Tenang, rumusnya sederhana banget kok. Gak perlu kalkulus atau statistik.
Rumusnya adalah:
Aset = Hutang + Modal

Nah.. gampang kan?
Apa itu Aset (Asset)?
Aset itu.. Gampangnya kekayaan yang dimiliki oleh usaha kita. Mau berupa
duit dilaci, duit dilemari besi, tabungan, surat berharga, tanah, rumah dan
lain sebagainya, pokoknya kekayaan yang memang dikelola oleh usaha
kita.
Apakah kekayaan itu dari Hutang atau modal, itu gak masalah.
Lucu juga ya.. Gimana kalo ada perusahaan aset-nya 100juta tapi punya
utang 200juta? Hebat banget tuh yang punya usaha. Punya bakat jadi
koruptor.

Apa itu Hutang (Liabilities)?
Ah, gak usah njelimet pake teori2-an. Pokoknya, Hutang itu sesuatu yang
harus kita bayar nantinya. Dah.. Masa hutang gak ngerti. Padahal sering
ngutang diwarteg sebelah.
.
Apa itu Modal (Equity)?
Modal itu setoran dari pemilik. Dah gitu aja. Mau pemiliknya 1 orang, 10
orang, 100 orang gak masalah.
Udah, gak usah dipusingin pengertian-pengertian di atas. Yang perlu
diingat dari rumus dasar akuntansi adalah:
1. Kita anggap aja, “=” ( sama-dengan ) sebagai pembatas sisi kiri dan sisi
kanan. Jadi, sisi kiri adalah Aset dan sisi kanan adalah penjumlahan Hutang
dan Modal. Dan yang perlu diingat: Total sisi kiri dan total sisi kanan, harus
sama! Ya iyalah.. Kan tanda-nya “sama-dengan”. Ya harus sama donk..
2. Kalo transaksi kita membuat sisi kiri bertambah, maka kita harus
memberi label Debet. Sedangkan kalo membuat berkurang, maka kita beri
label Kredit.

3. Kalo transaksi kita membuat sisi kanan bertambah, maka harus
memberi label transaksi kita dengan Kredit. Sedangkan kalo berkurang,
maka kita beri label Debet.
Gimana? Gak susah kan? Udah gak usah dibikin bingung.. Pokoknya, cara
ngingetnya adalah: Kiri = Kanan. Trus: Kiri = debet. Dan: Kanan =
Kredit.
Persiapan ketiga:
Sekarang waktunya kita buat kesepakatan. Tapi sebelum itu, kita ngayal
sebentar.
Bayangin kita punya 3 amplop besar. Masing-masing amplop, kita beri
nama Kantong Makan, Kantong Transport dan Kantong Tabungan.
Dan tiba-tiba kita dapat uang 900 ribu rupiah kontan (terserah mo
dibayangin dapat dari mana). Selanjutnya, uang tersebut kita bagi 3 dan
kita masukkan ke masing-masing kantong sehingga masing-masing berisi
300 ribu.
Suatu ketika, Kantong Makan sudah habis sedangkan kita sangat lapar.
Sedangkan di Kantong Tabungan masih lengkap 300 ribu. Karena kita
harus makan, maka kita meminjam uang dari Kantong Tabungan 100
ribu.
Dan supaya kita tidak lupa, maka kita menulis di Kantong Tabungan:
Diambil 100 ribu.
Disaat yang sama, kita menulis di Kantong Makan: Ditambah 100 ribu.
Dan begitu seterusnya. Setiap kita memindahkan uang dari satu kantong ke
kantong lainnya, maka kita harus mencatat di kedua kantong tersebut.
Nah, begitu juga akuntansi.
Kita harus mencatat keuangan kita, sesuai kelompok peruntukannya. Dan
saat kita hendak memindahkan peruntukan uang dari satu kelompok ke
kelompok yang lain, maka kita harus mencatatnya di kedua kelompok
peruntukan tersebut.

Dan kelompok-kelompok peruntukan itu kita sebut Perkiraan (Account).
Jangan tanya kenapa namanya begitu. Gw juga gak tau siapa yang ngasih
nama..
Selain nama, biar lebih gampang, Account tadi juga kita kasih nomor.
Nah.. Disinilah kesepakatan kita. Pokoknya, semua harus ikut kesepakatan
ini.
Untuk Nama dan Nomor Account CV.SENYUM adalah:
Sisi kiri (Aset), akan memiliki Account:
100 – Kas
110 – Piutang
120 – Persediaan suku cadang
130 – Biaya sewa dibayar dimuka
140 – Peralatan
150 – Akumulasi Penyusutan Peralatan
160 – Tanah
170 – Aset Lain-lain
Sedangkan sisi kanan (Hutang dan Modal), akan memiliki account:
HUTANG
200 – Hutang usaha
210 – Hutang bunga
220 – Hutang bank
MODAL
300 – Modal Sendiri
301 – Prive
PENDAPATAN
400 – Pendapatan jasa
BIAYA
500 – Biaya perbaikan televisi
510 – Biaya sewa
520 – Biaya penyusutan peralatan
530 – Biaya bunga
.

Loh..!!! Kok ada tambahan PENDAPATAN dan BIAYA? Dirumus
sebelumnya kan cuma Aset, Hutang dan Modal???
Tenang.. Memang ada tambahan PENDAPATAN dan BIAYA. Tapi
sebenernya, dua ini cuma Account sementara dan sebenarnya bagian dari
MODAL.
Anggap aja seperti kantong celana lah. Tempatnya duit itu kan di-brangkas
atau laci rumah. Nah, karena kita mau jalan-jalan naik bis, maka untuk
sementara, duit modal jalan-jalan, kita simpan di kantong celana. Nanti,
kalo sudah sampai rumah, duit sisanya (kalo ada sisa ya), kita balikin lagi
ke brangkas/laci.
Nah, brangkas/laci tadi itu anggap aja Account MODAL. Sedangkan
kantong celana itu, PENDAPATAN dan BIAYA.
Oke??? Gimana? Clear kan persiapan ketiga kita.. Mesti di-inget-inget neh..
Jangan lupa..

Ntar dulu. Prive itu apaan?
Oh.. itu account yang nunjukin berapa jumlah modal yang ditarik oleh
pemilik.
Tahap persiapan belajar sudah selesai! Begitu pula artikel bagian 1, juga
selesai.
Berikutnya, CV. SENYUM kita, akan melakukan beberapa transaksi. Nah, di
bagian 2, kita akan belajar memasukkan Transaksi-transaksi CV. SENYUM
ke sebuah buku catatan yang disebut Jurnal.
Oke.. Kalo sudah lulus bagian 1, silahkan meluncur ke Bagian 2.

2. JURNAL UMUM
Sebelum ngelanjutin baca artikel ini, pasti-in udah baca yang Bagian
1 dulu. Kalo enggak, ya tanggung sendiri kalo kepalanya senutsenut..

Pada bagian 2 ini, ternyata CV. SENYUM telah memulai bisnis setahun
yang lalu. Tapi sayangnya, belum membuat Pencatatan akuntansi. CV.
SENYUM memulai bisnisnya pertanggal 1 Maret 2010. Dan, per tanggal 31
Desember 2010, CV. SENYUM harus tutup buku. Sesuai permintaan, CV.
SENYUM ingin periode pembukuannya adalah dari Januari s/d Desember
tiap tahunnya.
Nah, tugas kita adalah, membantu CV. SENYUM untuk menyusun
Pembukuannya.
.
Berikut adalah oret-oretan (catatan) pemilik CV. SENYUM. Oret-oretan ini,
nantinya harus kita susun menjadi sebuah pembukuan dan berikutnya
menjadi laporan keuangan dan seterusnya.
.
Transaksi 1 :
1 Maret 2010, Pemilik mendirikan perusahaan bernama CV. SENYUM yang
bergerak di bidang jasa perbaikan televisi. Pemilik menggunakan uang
pribadi sebesar Rp. 30.000.000 sebagai modal usaha.
Transaksi 2:
1 April 2010, CV. SENYUM menyewa sebuah toko kecil sebagai bengkel.
Biaya sewanya sebesar Rp. 8.000.000 selama 1 tahun dan dibayar Tunai.
Transaksi 3:
1 Mei 2010, untuk menambah keuangan, CV. SENYUM meminjam uang dari
Bank BCA sebesar Rp. 40.000.000 dengan bunga 20% per tahun. Pinjaman
tersebut akan jatuh tempo per tanggal 1 Mei 2011.
Transaksi 4:
2 Mei 2010, CV. SENYUM membeli peralatan untuk reparasi seperti Obeng,
Multi tester, Osciloscop dan lain sebagainya dari Toko Elektronik Jaya. Total
pengeluaran sebesar Rp. 40.000.000 dan dibayar tunai.
Transaksi 5:

4 Mei 2010, CV. SENYUM membeli suku cadang komponen sebagai
Persediaan dari Toko Sinar Elektro. Total pengeluaran sebesar Rp. 5.000.000
dan akan dibayar 15 Mei 2010.
Transaksi 6:
15 Mei 2010, CV. SENYUM membayar hutang ke Toko Sinar Elektro sebesar
Rp. 5.000.000 secara tunai.
Transaksi 7:
18 Mei 2010, CV. SENYUM membeli suku cadang komponen sebagai
Persediaan. Total pengeluaran Rp. 3.000.000 dan dibayar tunai.
Transaksi 8:
28 Mei 2010, CV. SENYUM menggunakan Persediaan suku cadang
komponen untuk memperbaiki TV pelanggan. Total nilai penggunaan
sebesar Rp. 2.000.0000.
Transaksi 9:
10 Juni 2010, CV. SENYUM menerima pembayaran untuk jasa reparasi TV
dari pelanggan. Total penerimaan sebesar Rp. 35.000.000.
Transaksi 10:
9 November 2010, Pemilik manarik dana sebesar Rp. 10.000.000.

Nah, oret-oretan diatas adalah catatan transaksi dari CV. SENYUM.
Selanjutnya, kita harus menyusun oret-oretan diatas menjadi sebuah
catatan Akuntansi yang disebut Jurnal.
Lalu apa itu Jurnal?
Alaah.. gampangnya, itu sebuah catatan harian semua transaksi Usaha.
Bedanya sama oret-oretan diatas, mencatat di Jurnal harus menambahkan
nama dan nomor Account yang sesuai (Buat yang gak tau apa itu Account,
baca artikel Bagian 1. Oke..).

Dan karena kita mencampur semua jenis transaksi menjadi satu tabel
catatan, maka jurnal-nya kita sebut Jurnal Umum.
.
Kapan kita harus membuat Jurnal?
Jurnal semestinya ditulis setiap terjadi transaksi. Atau setidaknya setiap
hari. Tapi, berhubung CV. SENYUM sebelumnya tidak mengenal Akuntanti,
terpaksa deh kita harus me-rapel pembuatan Jurnalnya. Jadi ingat ya,
pencatatan transaksi ke dalam Jurnal Umum dilakukan setiap terjadi
transaksi, OK? Sip!
.
Perlu diingat!
Yang sangat perlu diingat saat menyusun Jurnal adalah, kita harus
menggunakan rumus dasar Akuntansi yang sudah kita obrolin di bagian 1.
Ingat, sisi kiri dan sisi kanan harus sama. Dan, penambahan di sisi kiri =
Debet. Sedangkan penambahan di sisi kanan = kredit.
Oke.. Sudah di-ingat-ingat kan?
Selain itu, ingat-ingat pula daftar Account kita pada Bagian 1. Apa saja
yang termasuk Aset, Hutang, Modal, Pendapatan dan Biaya.
Lupa..?? Wadooh.. Buka lagi artikel Bagian 1..!!
.
Oke, kita anggap semua sudah siap.
Kita akan coba susun transaksi demi transaksi di-oret-oretan tadi.
.
TRANSAKSI 1 :

Dari oret-oretan, hal pertama yang dilakukan oleh Pemilik adalah
memasukkan modal usaha dan kita akan membuat Jurnal Umumnya. Jika
sudah siap, pertama-tama, tulis No Transaksi seperti pada gambar di bawah
(lihat no 1). Selanjutnya, tulis tanggal transaksi seperti no2.

Karena transaksi ini adalah setoran pemilik ke CV. SENYUM, maka Semua
duit yang masuk ke CV. SENYUM, pastinya akan masuk ke KAS perusahaan
kan?
Lalu, adakah Account Kas (cari di article bagian 1)?
Ya.. Ada! Account Kas adalah salah satu account Aset yang bernomor 100
dan berada di bagian sisi kiri rumus dasar Akuntansi. Artinya, kita sedang
menambahkan nilai sebesar 30.000.000 di sisi kiri dari rumus akuntansi.
Ingat aturan pertama! Sisi kiri harus sama dengan sisi kanan.
Berarti, kita juga harus menambahkan sebesar 30.000.000 di sisi kanan.
Tapi kita letakkan di Account apa?
Coba diingat-ingat lagi. Ada account apa saja di sisi kanan dan account apa
yang paling pas.
Ya!! Ada account Modal! Nomornya: 300.
Jadi, selain kita menulis Account Kas seperti pada no 3 pada gambar di atas,
kita juga harus menulis Account Modal seperti pada no 4.
Sekarang, saatnya mengingat aturan rumus dasar akuntansi yang
kedua dan ketiga!

Penambahan pada sisi kiri, harus kita beri label Debet! Makanya, nilai
30.000.000 pada account Kas, kita tulis di kolom Debet (lihat no. 8 pada
gambar).
Sedangkan penambahan pada sisi kanan, harus kita beri label Kredit!
Makanya, nilai 30.000.000 pada account Modal, kita tulis di kolom kredit
(lihat no.9 pada gambar).
Sip… Transaksi 1, sudah kita tulis di jurnal. Dan kalo mau iseng-iseng
ngitung sisi kiri dan kanan, sampai detik ini, masih sama-sama 30.000.000.
Masih seimbang kan..?
.
TRANSAKSI 2:
CV. SENYUM menyewa tempat untuk bengkel.
Ini adalah pengeluaran pertama CV. SENYUM. Pengeluaran disebut juga
pembiayaan. Artinya, sewa tempat merupakan salah satu biaya. Nah
pertanyaannya, adakah account biaya sewa tempat?
Yup.. Ada!
Sewa tampat, dapat kita masukkan ke dalam account Biaya Sewa dengan
nomor: 510. Dan account ini, berada di sisi kanan. Artinya, dengan
menggunakan aturan ketiga, maka menambah nilai pada sisi kanan akan
berlabel Kredit. Tapi ada pengecualian di sini!
Yang jadi masalah adalah, kelompok Account Biaya bersifat mengeluarkan
atau mengurangi. Saat nilai account ini bertambah, maka sesungguhnya,
nilai sisi kanan malah akan berkurang. Jadi, saat catatan Account Biaya
Sewa bertambah sebesar 8.000.000, maka sisi kanan sesungguhnya
berkurang 8.000.000.
Karena itu, label-nya pun harus dibalik. BUKAN berlabel Kredit, tapi kita
beri label Debet.
Dan karena sisi kanan berkurang, maka sesuai aturan pertama, maka sisi
kiri pun harus berkurang dengan nilai yang sama.
Dan dari mana duit pengeluaran biaya sewa kita ambil? Ya, kita ambil dari
Kas!

Karena itu, kita harus mencatat pengurangan Account Kas sebesar
8.000.000. Dan ingat aturan kedua. Saat sisi kiri berkurang, maka
pencatatan tersebut harus berlabel Kredit.
Lihat gambar berikut:

.
TRANSAKSI 3:
Pada transaksi 3, CV. SENYUM menambah modal dengan meminjam dana
dari Bank BCA. Artinya, ada pemasukan uang ke CV. SENYUM.
Seperti sebelumnya, dana segar yang masuk ini, kita masukkan ke KAS. Dan
karena transaksi ini menambah sisi kiri RUMUS, maka harus berlabel Debet.

Dan sesuai aturan rumus pertama, yaitu sisi kiri = sisi kanan, maka di sisi
kanan pun harus kita tambahkan dengan nilai yang sama.
Ada Account Hutang Bank bernomor 220!
Ya, kita catat di account tersebut. Dan ingat aturan ketiga. Penambahan sisi
kanan harus berlabel Kredit.

TRANSAKSI 4:
Untuk bekerja, CV. SENYUM membutuhkan peralatan. Karenanya, pada
transaksi keempat, CV.SENYUM beli peralatan senilai 40.000.000.

Ketika CV.SENYUM membeli peralatan, maka peralatan-peralatan tersebut
akan menjadi HAK MILIK CV.SENYUM. Atau bisa disebut juga sebagai
kekayaan CV.SENYUM. Sedangkan kekayaan merupakan ASET.
Jadi, saat CV.SENYUM membeli peralatan, maka sesungguhnya CV.SENYUM
sedang menambah ASET perusahaan. Maka dari itu, transaksi ini akan kita
catat di salah satu account Aset yang berada pada sisi kiri RUMUS.
Dan ternyata, pada sisi kiri, kita memiliki Account Peralatan yang bernomor
140. Dan ingat, menambah pada sisi kiri harus berlabel Debet. Juga harus
diingat, sisi kiri dan sisi kanan harus tetap sama.
Berarti, apakah kita harus menambahkan nilai pada sisi kanan?
Tidak juga, agar sisi kiri tetap sama dengan sisi kanan, tidak selamanya
harus menambah di kedua sisi. Tapi bisa juga dilakukan dengan
menambah sisi kiri, juga mengurang sisi kiri.
Dengan kita menambah account Peralatan yang merupakan salah satu
account Aset, maka kita cukup mengurangi account Kas, yang juga salah
satu account aset, dengan nilai yang sama. Hasilnya seperti gambar di
bawah. Kedua Account (Kas dan Peralatan) merupakan account Aset
namun, satu berlabel Debet dan yang lain berlabel Kredit.

.
TRANSAKSI 5:
Selain peralatan, CV.SENYUM juga membutuhkan suku cadang untuk
memperbaiki Televisi. Dan pada transaksi ini, CV.SENYUM membeli suku
cadang sebagai persediaan dengan cara KREDIT (berhutang).
Seperti halnya peralatan, suku cadang persediaan ini merupakan aset.
Karena itu harus dicatat pada sisi kiri.
Kita memiliki account Persediaan bernomor 120 untuk mencatatnya. Dan
selalu diingat, menambah disisi kiri harus berlabel Debet.

Agar sisi kiri dan kanan tetap seimbang, maka kita harus menambah atau
mengurangkan pada account lain. Hmm.. Dan karena suku cadang dibeli
dengan cara hutang, maka yang lebih pas adalah menambah account
Hutang Usaha yang bernomor 200. Account ini adalah salah satu dari
account HUTANG dan berada di sisi kanan. Ingat, menambah sisi kanan
harus berlabel Kredit. Lihat gambar di bawah:

.
TRANSAKSI 6:
Jika sebelumnya (transaksi 5), CV.SENYUM berhutang, maka pada transaksi
ini, CV.SENYUM akan membayar hutang.
Untuk membayar hutang, maka kita harus mengurangi account Hutang
Usaha. Ingat, mengurangi sisi kanan harus berlabel Debet.
Karena kita mengurangi sisi kanan, maka agar rumus tetap seimbang,
maka kita harus mengurangi juga sisi kiri. Lagian, ini kan bayar hutang,
makanya kita harus mengambilnya dari uang Kas. Artinya, kita harus
mengurangi account Kas. Ingat, mengurangi sisi kiri, harus berlabel Kredit.
Lihat gambar di bawah:

.
TRANSAKSI 7:
Pada transaksi ini, CV.SENYUM belanja lagi suku cadang untuk persediaan.
Tapi kali ini, dengan cara TUNAI.

Seperti pada transaksi 5, maka pembelian ini harus kita catat pada account
Persediaan yang merupakan sisi kiri. Karena pembelian dilakukan secara
Tunai, maka kita cukup menguranginya dari account Kas yang juga berada
di sisi kiri.
Ingat, menambah sisi kiri harus berlabel Debet sedangkan mengurangi sisi
kiri harus berlabel Kredit.
Lihat gambar berikut:

TRANSAKSI 8:
Akhirnya, CV.SENYUM memiliki pelanggan yang memintanya untuk
memperbaiki Televisi. Dan untuk perbaikan televisi tersebut, CV.SENYUM
harus mengambil beberapa persediaan suku cadang dari gudang.
Karena CV. SENYUM menggunakan/mengeluarkan suku cadang persedian
yang merupakan aset usaha, maka transaksi ini harus dicatat sebagai
pengeluaran.
Pengeluaran merupakan pembiayaan, karenanya harus dicatat ke dalam
account BIAYA yang berada disisi kanan. Dan account Biaya yang cocok
adalah: Account Biaya Perbaikan Televisi yang bernomor 500.
Seperti pada transaksi 2, ketika kita menambah nilai account Biaya,
sesungguhnya kita malah mengurangi nilai sisi kanan. Artinya,
penambahan tidak akan berlabel Kredit, tapi malah berlabel Debet.
Dan agar rumus tetap seimbang, maka kita harus mengurangi account
persediaan yang berada disisi kiri. Lagian, suku cadangnya kan kita ambil
dari Persediaan. Jadi, account yang tepat untuk mencatatnya, tentu account
persediaan. Dan ingat, mengurangi sisi kiri harus berlabel Kredit.
Lihat gambar:

. TRANSAKSI 9:
Syukurlah.. Pada Transaksi 9 ini, pelanggan akhirnya membayar tagihan
reparasi CV.SENYUM. Dan CV. SENYUM pun akhirnya memiliki pendapatan
pertamanya.
Pendapatan ini, langsung kita masukkan ke Kas perusahaan. Dan seperti
biasa, kita catat ke account Kas yang merupakan account sisi kiri.

Dan supaya rumus tetap seimbang, kita juga harus mencatatnya disisi
kanan.
Ya, kita catat di account Pendapatan Jasa dengan nomor 400. Dan tetap
diingat, menambah sisi kanan harus berlabel Kredit.
.
TRANSAKSI 10:
Ternyata, pemilik membutuhkan dana segar untuk kebutuhan sehari-hari.
Dia pun menarik dana dari CV. SENYUM sebesar 10.000.000.
Penarikan dana, dicatat dengan menggunakan account Prive yang
bernomor 310. Account Prive adalah salah satu account MODAL yang
berada di sisi kanan.
Seharusnya, sesuai aturan, menambah sisi kanan akan berlabel kredit.
Namun sesungguhnya, saat kita menambahkan nilai pada account Prive,
kenyataanya kita sedang mengurangi nilai dari sisi kanan (Ingat, account
Prive adalah account untuk mencatat penarikan). Jadi, alih-alih kita beri
label Kredit, kita akan memberinya label Debet.
Dan agar seimbang, kita akan mengurangi nilai account KAS. Account KAS
berada di sisi kiri. Dan mengurangi sisi kiri berlabel Kredit.


Wooww…! Panjang banget neh artikelnya. Fuiih..
Tapi akhirnya, artikel bagian 2 ini selesai sampai disini. Semua transaksi
yang ada di oret-oretan sudah kita pindahkan ke Jurnal Umum.
Nah, bagaimana hasil keseluruhan Jurnal Umum, lihat gambar berikut:
Dan… Sampai ketemu lagi di bagian 3 yang akan membahas tentang membuat
laporan keuangan. Ups, maksud gw, ngebahas Buku Besar.. Baru abis itu
ngebahas laporan keuangan..

3. BUKU BESAR
Sebelumnya, coba kita ingat-ingat bagian 1 dan bagian 2.
Di bagian 1, kita belajar tentang rumus akuntansi dan aturan-aturannya
juga tentang account (perkiraan) dan nomor-nomornya.
Di bagian 2, kita belajar memasukkan oret-oretan keuangan CV. SENYUM
ke dalam Jurnal.
.
Nah, di bagian 3 ini, kita akan coba posting isi Jurnal ke dalam Buku
Besar.
.
Apa maksudnya Posting?
Sebenernya, yang dimaksud posting itu adalah memindahkan isi Jurnal ke
dalam Buku Besar.
.
Emangnya, apa sih Buku Besar itu?
Buku Besar itu sebenernya sama-sama catatan seperti Jurnal. Tapi ada
beberapa perbedaan.
1. Jurnal dicatat tiap hari sedangkan Buku Besar secara periodik. Misalkan
setiap sebulan sekali.
2. Saat mencatat pada jurnal, kita tulis semua Account sesuai urutan
tanggal dan waktu transaksi pada satu tempat. Sedangkan pada Buku
Besar, masing-masing Account akan kita pisahkan. Jadi, nanti akan ada
buku besar KAS, buku besar MODAL dan lain sebagainya.
.
Oke, pengantarnya sampai disini aja. Selanjutnya, kita coba praktekkan
cara Posting catatan dari Jurnal kita ke dalam Buku Besar. Oya, Jurnal yang
kita gunakan adalah Jurnal yang kita susun di bagian 2 ya. Siap? Lihat
gambar dibawah:

Cara mem-posting isi Jurnal ke dalam Buku Besar.
1. Buat sebuah tabel dengan Header : No, Tanggal, Penjelasan, Ref, Debet,
Kredit, Saldo Debet dan Saldo Kredit.
2. Beri judul tabel dengan nama masing-masing nama Account yang kita
gunakan. Jangan lupa beri nomor account.
3. Selanjutnya, pindahkan transaksi dari Jurnal ke dalam Buku Besar.
Misalkan, kita mulai dari Account KAS. Pindahkan semua transaksi Account
KAS ke dalam Buku Besar berjudul KAS. Lihat gambar diatas untuk
mengetahui mapping datanya.
4. Hitung besar Saldo dari account tersebut.






Untuk nilai Saldo tanggal pertama, cukup salin nilai yang ada pada
kolom Debet/Kredit. Misal: nilai tanggal pertama adalah Rp.
30.000.000 dan berlabel Debet, maka tuliskan nilai ini pada kolom
Saldo Debet.
Untuk nilai Saldo tanggal kedua dihitung dengan cara; nilai Saldo
tanggal pertama dikurang/ditambah nilai tanggal kedua yang ada
pada kolom Debet/Kredit. Jika Debet bertemu Debet maka
ditambah. Jika Kredit bertemu Kredit maka ditambah. Jika Debet
bertemu Kredit maka dikurang.
Dan seterusnya untuk tanggal-tanggal berikutnya.

5. Lakukan untuk tiap-tiap Account.

.
Apa sih gunanya Buku Besar ini. Kan isinya sama aja dengan Jurnal?
Yup.. Sebenernya isinya sama aja. Tapi dengan Buku Besar ini, kita ingin
melihat pencatatan keuangan per Account. Nah, dari sini kita bisa melihat,
berapa sih uang kita di account KAS? Berapa uang kita di Account Modal?
Dan seterusnya.
.
Sesuai data Jurnal, ada 10 account yang kita gunakan yang berarti akan
ada 10 Buku Besar yaitu:
ASET
100 KAS
120 PERSEDIAAN
140 PERALATAN
.
HUTANG
200 HUTANG USAHA
220 HUTANG BANK
.
MODAL
300 MODAL
301 PRIVE
.
PENDAPATAN
400 PENDAPATAN JASA

.
BIAYA
500 BIAYA PERBAIKAN TV
510 BIAYA SEWA
.
Nah, setelah semua Account sudah kita buatkan Buku Besarnya, maka
beginilah penampakan dari Buku Besar CV. SENYUM:

So.. Semua account telah kita buat BUKU BESAR-nya.
Dan cukup sampai disini pembahasan bagian 3-nya. Ketemu lagi dibagian
4 yang akan membahas tentang pembuatan laporan keuangan. Eh, salah
dink.. Kita masih harus membahas neraca saldo, jurnal penyesuaian dan
jurnal penutup.. Ini penting buat bikin laporan keuangan..

4. NERACA SALDO.

Sebelum lanjut, pasti-in semuanya udah baca artikel “Cara Orang Awam
Belajar Dasar Akuntansi Bagian 1, 2 dan 3”.
Kita anggap, udah baca ya..
Nah, yok kita review lagi apa yang udah kita pelajari di Bagian-bagian
sebelumnya:
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
.
Daaan, di Bagian 4 ini, kita mau belajar cara bikin sebuah NERACA SALDO
dari Buku Besar yang udah kita susun sebelumnya.
.
Aih! Apa itu neraca saldo???
Neraca Saldo itu sebenernya rangkuman dari Buku Besar. Kalo masih
bingung apa itu buku besar, berarti belum baca yang Bagian 3. Jadi, gih,
baca dulu!
Oke, lanjut.
Jadi, Neraca Saldo itu, adalah sebuah tabel yang berisi saldo terakhir dari
tiap-tiap account pada Buku Besar. Ingat, di Bagian 3, kita udah buat 10
buah Buku Besar. Masing-masing buku besar, adalah catatan tiap-tiap
account.
Contohnya adalah Buku Besar KAS dibawah:

Buku besar KAS diatas, punya Saldo Akhir adalah Rp. 39.000.000,Nah, Saldo Akhir inilah yang akan kita tulis di NERACA SALDO. Gak cuma
Buku Besar KAS, tapi semua Buku Besar kita masukkan ke NERACA SALDO.
.
Kapan kita buat Neraca Saldo??
Neraca Saldo ini kita buat, kapan saja kita butuh! Hee.. Yang penting, harus
didahului dengan posting Buku Besar. Karena kita posting Buku Besar
sebulan sekali, sekalian aja buat Neraca Saldo juga sebulan sekali. Neraca
Saldo ini dibutuhkan saat kita mau buat laporan keuangan, atau mau cek
kondisi keuangan. Dengan membuat Neraca Saldo, kita bisa melihat,
apakah pencatatan keuangan kita sudah benar. Kok bisa? Yup! Neraca
Saldo harus memiliki hasil Debet dan Kredit yang seimbang! Jika ada
perbedaan antara Debet dan Kredit, berarti ada yang salah pada saat
proses pencatatan Jurnal atau mungkin saat posting Buku Besar.
.
Gak ngerti! Maksudnya apaan sih?
Udah.. Baca aja kelanjutannya, ok. Ntar juga ngerti apa yang gw maksud..
.
Trus gimana cara buatnya??
Oke, kita mulai menyusun Buku Besar yah.
.
Pertama, kita tulis judul dari NERACA SALDO kita dengan menuliskan
kapan kita buat Neraca Saldo ini.

Ini penting. Misalkan kita tulis, NERACA SALDO per Desember 2010.
Artinya, Neraca Saldo ini adalah kondisi saldo account sampai bulan
Desember 2010 untuk (1 tahun keuangannya dari Januari dan berakhir di
Desember). Kalo Neraca Saldo dibuat di bulan Mei, ya berarti di tulis
NERACA SALDO per Mei 2010.
.
Selanjutnya, selalu diingat, jika Saldo Akhir pada Buku Besar memiliki Label
DEBET, maka tulis di NERACA SALDO pada kolom Debit. Begitu juga, jika
berlabel Kredit.
.
Nah, kalo kita rangkum, maka NERACA SALDO CV.SENYUM per Desember
2010 adalah sebagai berikut:

Ayolah.. Gak usah dibuat bingung.. Ini cuma mindahin saldo akhir di tiaptiap Account ke dalam sebuah tabel aja kok..
Dan.. Antara Debet dan Kredit, harus memiliki Saldo sama!
Kalo beda, berarti ada kesalahan..
.

Oke, sampai disini dulu Bagian 4.
.
Woi! Kapan neh laporan keuangannya??!!
Tenang.. Laporan keuangan, gak akan bisa disusun tanpa Neraca Saldo.
Dan abis ini, kita juga harus nyesuain dulu isinya. Nah kan, tambah
bingung..
Tunggu Bagian 5 nya yah..

5. JURNAL PENYESUAIAN

Oke, gw anggap kita semua udah baca artikel-artikel sebelumnya. Nah,
coba kita review lagi yah:
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
.
Daaan.. Untuk berikutnya, kita akan belajar tentang JURNAL
PENYESUAIAN.
.
Wow.. apa itu Jurnal Penyesuaian. Ada hubungan darah apa ama
Jurnal Umum???!
Jurnal Penyesuaian ama Jurnal Umum itu abang adek lah.. hehehe. Tapi
bener kok. Jurnal Penyesuaian itu ya sejenis jurnal atau catatan. Jadi, cara

nulisnya pun sama dengan Jurnal Umum. Hanya, apa yang ditulislah yang
berbeda.
Well, ceritanya begini..
Pada artikel Bagian 4, kita udah buat Neraca Saldo kan? Nah, Neraca Saldo
itu adalah neraca saldo periode Januari 2010 – Desember 2010. Dan
seharusnya, semua transaksi di periode tersebut, peruntukannya
(pemanfaatannya) ya harus untuk periode itu juga.
Maksudnya apa sih??
Maksud gw gini. Kita ambil satu contoh transaksi aja ya.
CV.SENYUM kan pernah sewa tempat buat toko-nya selama 1 tahun (12
bulan). Dan sewa dimulai pada tanggal 1 April 2010 (coba cek Jurnal
Umum-nya). Artinya, sewa berakhir 31 Maret 2011.
Masalahnya, periode akuntansinya itu adalah 1 Januari 2010 dan berakhir
31 Desember 2010.
Jadi, diperiode 2010 ini, sewa-nya cuma selama 9 bulan saja yaitu dari
bulan April 2010 sampai Desember 2010. Sedangkan sisa 3 bulannya
lagi (dari Januari 2011 sampai Maret 2011), seharusnya masuk ke
perhitungan periode akuntansi 2011. Dan yang jadi masalah adalah di
periode 2010, CV.SENYUM udah bayar full 12 bulan. Kalo begini,
perhitungan periode akuntansi 2010-nya jadi rugi dan gak valid karena
terbebani pengeluaran 3 bulan sewa untuk periode berikutnya.
Nah, inilah yang dimaksud, transaksi di periode 2010, tapi sebagian
peruntukannya untuk periode 2011. Dan hal-hal seperti ini yang
mengharuskan kita membuat Jurnal Penyesuaian.
Kita harus memastikan, laporan keuangan kita hanya menghitung transaksi
yang dimanfaatkan/digunakan di periode tersebut saja (misal periode
2010).
.
Kapan kita harus buat Jurnal Penyesuaian?
Jurnal Penyesuaian dibutuhin untuk membuat laporan keuangan. Jadi,
biasanya, Jurnal ini dibuat saat kita ingin tutup buku. Jadi, setelah semua

transaksi selama Januari s/d Desember sudah dicatat dan diposting ke
Buku Besar, selanjutnya kita harus membuat Jurnal Penyesuaian agar
laporan keuangan kita akurat.
.
Hal-hal apa aja yang harus dibuatkan Jurnal Penyesuaian??!
Ada beberapa hal.
1. Beban yang masih harus dibayar
2. Pendapatan yang belum diterima
3. Penyusutan Aktiva Tetap
4. Beban dibayar di muka
5. Pendapatan diterima di muka
6. Pemakaian Perlengkapan
.
Coba kita bahas satu-satu ya..
1. Beban yang masih harus dibayar
Maksudnya adalah, seharusnya ada pengeluaran di periode sekarang, tapi
karena sesuatu (misal perjanjian), maka kita boleh membayarnya sekaligus
nanti di periode berikutnya. Nah, jurnal penyesuaian berfungsi mencatat
berapa sih tanggungan pengeluaran yang seharusnya dibayar di periode
sekarang, tapi belum dibayarkan.
Contoh kasusnya:
Hutang Bunga (Bank). Kita berhutang ke bank dipertengahan periode
akuntansi (misal di bulan Juni 2010), dengan bunga 20% setahun. Artinya,
pada bulan Mei periode berikutnya (Mei 2011), barulah kita harus bayar
bunga sebesar 20% tadi.
Pertanyaanya, berapa bunga yang harus ditanggung oleh periode 2010
(Juni – Desember 2010: 7 bulan) dan berapa yang harus ditanggung oleh
periode 2011?

Nah, besarnya tanggungan inilah yang masuk ke Jurnal penyesuaian.
.
2. Pendapatan yang belum diterima
Maksudnya adalah, kita seharusnya menerima pembayaran di periode
sekarang. Tapi, karena sesuatu (misal pernjanjian atau dihutang),
pembayarannya mundur dan baru akan dibayar nanti di periode
berikutnya. Padahal kita harus tutup buku.
Contoh kasus:
Karena pelanggan kita terlambat membayar barang kita, maka pelanggan
tersebut harus membayar denda sebesar Rp. 200.000 dan pelanggan
menjanjikannya di bulan Februari 2011 (perode sekarang adalah 2010).
Nah, karena ini sesungguhnya adalah transaksi Periode 2010, maka kita
harus mencatatnya pada jurnal penyesuaian.
.
3. Penyusutan Aset Tetap
Maksudnya adalah, aset (barang kepemilikan usaha kita) seperti mobil,
furnitur, komputer dan sebagainya, lambat laun akan rusak dan harus
diganti. Artinya, nilai barang tersebut lambat laun akan turun. Nah,
penurunan inilah yang harus dicatat oleh jurnal penyesuaian.
Contoh kasus:
Usaha kita punya mobil operasional yang merupakan aset perusahaan.
Awalnya beli dengan harga 100juta. Suatu saat nanti, mobil operasional
kita tersebut akan tua dan rusak. Dan kita harus menggantinya dengan
yang baru.
Misalkan, kita perkirakan umur mobil itu 20 tahun. Artinya, kita perkirakan
dua puluh tahun kemudian, mobil itu rusak sehingga bernilai nol rupiah.
Jadi, setiap tahun, mobil tersebut akan berkurang nilai nya sebesar 5 juta.
Nah, disini, jurnal penyesuaian harus mencatat besarnya penyusutan aset
sebesar 5 juta.

.
4. Beban dibayar di muka
Masih ingat contoh diawal tadi? Tentang biaya sewa?
Nah, itu adalah contoh untuk Beban dibayar di muka.
.
5. Pendapatan diterima di muka
Maksudnya adalah, kita udah dibayar full, tapi pekerjaan atau barang, kita
kirimkan bertahap hingga melampui periode sekarang.
Contoh kasus:
Kita menyewakan alat berat selama 1 tahun (12 bulan) dan telah dibayar
full sejak awal. Kontrak sewa dimulai bulan Juni 2010 dan berakhir Mei
2011. Padahal, kita harus tutup buku 31 desember 2010. Artinya, sampai
desember 2010 kita baru menyewakan selama 7 bulan. Sisanya ada di
periode berikutnya.
Nah, disini kita harus membuat catatan penyesuaian sebesar nilai sewa
yang belum terpenuhi.
.
6. Pemakaian Perlengkapan
Maksudnya adalah penggunaan barang yang habis pakai. Kita harus
menghitung, berapa barang yang sudah terpakai dan berapa sisa-nya. Dan
sisanya itu bernilai berapa rupiah.
Selanjutnya, kita harus catat di jurnal penyesuaian.
.
Oke, oke.. Tapi kalo pake contoh transaksi CV.SENYUM, apa aja yang
perlu dibuat jurnal penyesuaian???
Sip..
Yang pasti, sesuai catatan Jurnal Umum CV.SENYUM, ada:

1. Sewa Tempat selama setahun, tapi baru mulai di bulan April 2010.
2. Pinjam Bank dengan bunga 20% selama setahun. Bunga yang harus
dibayar mulai Mei 2010.
3. Beli peralatan sebagai aset. Nilai peralatan ini akan menyusut.
4. Belanja persediaan. Dan selama setahun, persediaan masih ada sisa.
Nah, transaksi CV.SENYUM diatas lah yang sepertinya membutuhkan
Jurnal Penyesuaian.
.
Trus, gimana bikinnya???
Wadooh.. Manja banget..
Ya udah, kita bahas satu persatu deh. Huh..
.
1. Sewa Tempat selama setahun, tapi baru mulai di bulan April 2010.
Coba dilihat kembali Jurnal Umum CV.SENYUM (ada di artikel Bagian 2).
Pada tanggal 1 April 2010, CV.SENYUM mulai menyewa bengkel untuk
durasi 12 Bulan (setahun). Setelah 31 Desember 2010, lama sewa adalah 9
bulan. Agar menjadi 1 tahun, masih tersisa 3 bulan di periode berikutnya.
Biaya sewa selama setahun adalah Rp. 8.000.000. Jadi, 3 bulan sisanya jika
dirupiahkan adalah: Rp. 8.000.000 x 3 / 12 = Rp. 2.000.000.
Dan Rp. 2.000.000 juta inilah yang akan kita masuk-kan ke dalam account
Biaya Sewa Dibayar di Muka dengan nomor account 130 (account dan
nomornya dapat dilihat pada artikel Bagian 1).
Perlu diingat juga, cara peletakan label Debet dan Kredit. Account Biaya
Sewa Dibayar Dimuka adalah account Aset dan ada di sisi kiri.

.
2. Pinjam Bank dengan bunga 20% selama setahun. Bunga yang harus
dibayar mulai Mei 2010.
Coba dilihat kembali Jurnal Umum CV.SENYUM (ada di artikel Bagian 2).
Pada tanggal 1 Mei 2010, CV.SENYUM mulai meminjam uang di Bank BCA
untuk durasi 12 Bulan (setahun) dengan bunga 20% setahun. Periode ini
(Jan – Des 2010) hanya memanfaatkan 8 bulan saja, sisanya 4 bulan
dimanfaatkan di periode berikutnya. Namun, pembayaran bunga, akan
dilakukan di periode berikutnya (jan – Des 2011), sehingga periode
sekarang (jan -des 2010) memiliki hutang bunga kepada periode
berikutnya sebesar : Rp. 40.000.000 x 20% x 8 / 12 = Rp. 5.333.333.
Dan Rp. 5.333.333 juta inilah yang akan kita masuk-kan ke dalam account
Biaya Bunga dengan nomor account 530 (account dan nomornya dapat
dilihat pada artikel Bagian 1).
Perlu diingat juga, cara peletakan label Debet dan Kredit. Biaya bunga
termasuk account Biaya.

.
3. Beli peralatan sebagai aset. Nilai peralatan ini akan menyusut.
Coba dilihat kembali Jurnal Umum CV.SENYUM (ada di artikel Bagian 2).

Pada tanggal 2 Mei 2010, CV.SENYUM membeli peralatan bengkel senilai
Rp. 40.000.000. Semua peralatan memiliki umur sehingga suatu saat pasti
akan rusak.
Kita perkirakan umur peralatan yang kita beli adalah 10 tahun. Kita
gunakan metode linier untuk menentukan penurunan nilai aset maka
setiap tahun akan ada penurunan nilai peralatan sebesar 10%. Sedangkan
di periode ini, kita belum genap setahun menggunakan peralatan (baru 8
bulan).
Berarti, berapa besar penyusutannya?
Rp. 40.000.000 x 10% x 8 / 12 = Rp. 2.666.666.
Dan Rp. 2.666.666 juta inilah yang akan kita masuk-kan ke dalam account
Biaya Penyusutan Peralatan dengan nomor account 520 (account dan
nomornya dapat dilihat pada artikel Bagian 1). Perlu diingat juga, cara
peletakan label Debet dan Kredit.
Disini, kita juga memiliki sebuah account aset : Akumulasi Penyusutan
Peralatan. Account ini untuk mencatat penyusutan secara keseluruhan.

.
4. Belanja persediaan. Dan selama setahun, persediaan masih ada sisa.
Nah, kalo yang ini, kebetulan kita udah buat. Coba lihat dibuku besar pada
account Persediaan. So, kita udah gak perlu buat.
.
Nah, Jurnal Penyesuaian udah selesai.. Total, kita udah bikin 3 jurnal
penyesuaian. Hasil jurnal ini, akan kita update ke dalam Buku Besar.
.
Kok harus update Buku Besar lagi? Kapan Laporan Keuangannya?

Hmm.. Sayangnya belum.. Abis ini, di Artikel berikutnya, kita akan update
Buku Besar setelah kita buat Jurnal Penyesuaian, setelah itu masih harus
buat Jurnal Penutup.. So.. Tunggu artikel berikutnya yah…

6. UPDATE BUKU BESAR

elalu gw ingetin buat yang baru join di serial ini, sebaiknya teman-teman baca
artikel-artikel sebelumnya. Kenapa? Karena kalo enggak, gw yakin kalian bisa
sakit kepala tujuh turunan (glegeeeeeaaar!).
.
Sip! Sebelum mulai, yuk kita review dulu artikel-artikel sebelumnya:
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai kenal
apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan (catatan)
dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.
.
Okeeee.. Ayo kita mulai pembahasan berikutnya, yaitu Jurnal Penutup! Eh, salah..
Sebelum itu, kita harus update dulu Buku Besar setelah sebelumnya kita membuat
Jurnal Penyesuaian.
.
Kenapa harus update Buku Besar?
Jurnal Penyesuaian, sama-sama jurnal seperti halnya Jurnal Umum. Didalamnya,
kita melakukan transaksi yang mengubah nilai dari Account-account kita. Kalo
nilai account ada yang berubah, berarti Buku Besar harusnya juga berubah dong..
Nah, kebetulan Jurnal Penyesuaian kita, melibatkan 6 Account berikut:

130 Biaya Sewa Dibayar di Muka
150 Akumulasi Penyusutan Peralatan
210 Hutang Bunga
510 Biaya Sewa
530 Biaya Bunga
520 Biaya Penyusutan Peralatan
.
Dari account-account di atas, ada satu account yang sebelumnya sudah kita
buatkan Buku Besarnya yaitu Account Biaya Sewa. Maka account inilah yang
harus kita update. Sedangkan Account-account yang lain belum pernah dibuatkan
sebelumnya, jadi harus dibuatkan yang baru.
Cara Posting-nya masih sama dengan cara Posting dari Jurnal Umum, jadi gw gak
perlulah menjelas lagi. Kalo lupa, ayo buka lagi artikel Bagian 3!
.
Nah, kalo sudah jadi, beginilah penampakan update dan tambahan Posting Buku
Besar kita:

Sedangkan Buku Besar account-account yang lain masih sama seperti berikut:

.
Trus, kapan sih sebenernya kita harus posting Buku Besar?
Pokoknya, setelah kita menambahkan catatan pada Jurnal (jurnal apapun itu), kita
harus posting jurnal tersebut ke Buku Besar.
Sip! Berarti, selesai sudah artikel bagian 6 ini. Selanjutnya, kita akan buat Jurnal
Penut

7. LABA RUGI

Dan sebelum lanjut, kita review dulu apa aja yang udah kita pelajari.
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.
Bagian 6: Kita sudah mem-posting Jurnal Penyesuaian ke dalam Buku
Besar.

.
Daaaan.. Gw punya kabar baik buat teman-teman semua. Kali ini, kita
benar-benar akan membahas laporan keuangan!
.
Beneran? Laporan Keuangan yang mana?
Bener donk.. Dan kita akan buat Laporan Laba Rugi.
.
Horeeee!
Hee..
Oke, kita mulai ya..
.
Ntar dulu.. Sebenernya, apa itu Laporan Laba Rugi?
Hmm.. Yaa, sesuai namanya aja. Laporan Laba Rugi berarti laporan yang
beris,i apakah usaha kita itu Laba (untung) atau Rugi.
Pasti masih inget pepatah “Besar pasak dari pada tiang” kan? Nah, itu
contoh usaha yang rugi tuh. Pengeluarannya lebih besar dari pada
pemasukan. Atau biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan.
Jadi, Laporan Laba Rugi itu, Laporan yang membandingkan besarnya nilai
Pendapatan dan besarnya nilai Biaya.
Masih inget rumus dasar Akuntansi kan? Apa? Lupa? Waduh! Buka artikel
bagian satu deh.
Rumusnya gini nih:
ASET = HUTANG + MODAL
Dari rumus dasar ini lah jenis-jenis account dibedakan. Ada Accountaccount ASET. Ada account-account HUTANG. Dan ada account-account
MODAL.

Tapi kalo ingatan kalian bagus, kita juga pernah dikenalin jenis account
yang lain selain ketiga jenis account tersebut. Coba tebak!?
Yup! Account PENDAPATAN dan Account BIAYA. Kedua jenis account ini
adalah account sementara yang sebenarnya adalah bagian dari account
MODAL (Kalau kalian masih butuh penjelasan, berarti kalian harus baca
artikel bagian 1!!).
Nah.. Sebenernya, Laporan Laba Rugi itu, hanya membandingkan besarnya
nilai account-account yang termasuk ke dalam kedua jenis account ini.
Tapi ingat! Laporan Laba Rugi, bisa kita buat kalau kita sudah membuat
Jurnal Penyesuaian dan mem-posting-nya ke Buku Besar.
.
Emangnya kenapa?
Karena, kalo belum dibuatkan Jurnal Penyesuaiannya, seperti yang udah
pernah gw tulis, hasil Laporan Laba Rugi menjadi tidak akurat dan tidak
valid.
.
Maksudnya gimana?
Aduh! Harusnya kalian balik lagi ke artikel bagian 5 nih. Tapi ya udah, aku
jelasin lagi deh.
Kan periode Akuntansi CV. SENYUM itu dari Januari sampai Desember?
Bener kan? Tapi CV. SENYUM pernah sewa tempat untuk 1 tahun (12
bulan) dari bulan April 2010 sampai Maret 2011. Dan sudah dibayar lunas.
Lalu, saat CV. SENYUM harus buat Laporan Laba Rugi di akhir Desember
2010, bagaimana menghitung pengeluaran Biaya untuk sewa tempat?
Apakah dihitung 12 bulan? Jadi gak akurat dong. Gak valid deh.
Nah, di sinilah alasan kenapa Laporan Laba Rugi dibuat setelah Jurnal
Penyesuaian. Karena di Jurnal Penyesuaian lah Biaya sewa tadi dipisahkan.
Yang 9 bulan dihitung di periode 2010. Dan sisa 3 bulannya lagi, akan
dihitung di periode berikutnya (2011).

Dengan begitu, Laporan Laba Rugi di akhir Desember 2010 menjadi benarbenar akurat.
Kalo udah jelas, yok kita mulai buat Laporannya!
1.
2.
3.
4.

Tulis nama perusahaannya.
Tulis judulnya. Laporan Laba Rugi.
Tulis Periode-nya.
Tuliskan semua account yang masuk ke dalam Account Pendapatan
dan besar nilainya. Kebetulan, Jenis Account Pendapatan kita hanya
memiliki 1 account yaitu Pendapatan Jasa. Tapi terkadang, ada
account pendapatan lainnya. Misalkan, pendapatan dari penjualan
aset, dan lain-lain. Dan totalkan.
5. Tuliskan semua account yang masuk dalam account biaya. Dan
totalkan.
6. Tulis Laba Bersih yang berisi total nilai Pendapatan dikurangi total
nilai Biaya.
Lebih jelasnya, lihat gambar dibawah:

a

.
Dari mana gw dapat besarnya nilai account-account di atas?
Tentu saja dari Buku Besar. Ayo buka Buku Besarnya dan lihat nilai Saldo
terakhir masing-masing Account. Dan tuliskan di Laporan.
Gimana? Gampangkan bikin Laporan Laba Rugi?
.
Sip.. Sip..
Oya, sekedar tambahan. Laporan Laba Rugi ini, hanya memperlihatkan,
apakah usaha kita untung atau rugi. Tapi kita tidak akan bisa melihat,
berapa sih besar uang kita di Perusahaan? Atau berapa sih besar kekayaan
perusahaan kita?
Nah, untuk tahu itu semua, kita harus buat Laporan keuangan lainnya..
Dan, tunggu di artikel berikutnya ya. Semoga bermanfaat.

8. LAPORAN PERUBAHAN MODAL

Oya. Sebelum lanjut, pastiin kalian udah baca artikel-artikel
sebelumnya. Kenapa? Karena ini artikel serial! Jika kalian belum baca
artikel sebelumnya, gw jamin kalian akan pusing tujuh puluh keliling!
.
Dan sebelum lanjut, kita review dulu apa aja yang udah kita pelajari.
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.

Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.
Bagian 6: Kita sudah mem-posting Jurnal Penyesuaian ke dalam Buku
Besar.
Bagian 7: Kita sudah belajar membuat laporan laba rugi. Dari sana kita bisa
tahu apakah usaha kita untung atau rugi!.
.
Siip.. Sekarang kita masuk ke topik baru yang disebut Laporan Perubahan
Modal.
Wih! Apaan tuh? Apa hubungannya sama Laporan Laba Rugi?
Weits.. Tenang. Jangan heboh dulu.
Jadi sebenernya, tanpa disadari, kita udah buat 2 laporan loh sebelumnya.
Coba buka lagi Bab 4 (Neraca Saldo) dan Bab 7 (Laporan Laba Rugi).
Nah, sebenernya keduanya itu adalah Laporan Keuangan. Dan sekarang,
kita nambah satu lagi yang disebut Laporan Perubahan Modal.
Trus Laporan Perubahan Modal itu apa?!
Iya, iya.. Sabar.. Ini juga mau dijelasin.
Laporan Perubahan Modal itu berguna untuk nunjukin berapa jumlah
modal kita sekarang, setelah 1 tahun periode keuangan.
Lah, emang modalnya berubah?
Hmm.. Berarti kurang nyimak artikel-artikel sebelumnya nih..
Coba cek Bab 7. Di sana dibahas Laporan Laba Rugi. Dan hasilnya, ternyata
CV. SENYUM lumayan untung gede tuh. Nah, keuntungan itulah yang bisa
menyebabkan jumlah modal berubah.
Oooh..
Entar dulu. Jangan Oooh dulu. Belum selesai ini.
Selain keuntungan, coba cek lagi Bab 3 (Buku Besar). Bisa nemuin Buku
Besar Prive kan? Dan kalian pasti mau nanya, apaan itu Prive?
Chk chk chk.. Berarti bacanya kurang seksama nih.
Prive itu Account untuk mencatat penarikan modal. Jadi ketika pemilik

usaha mengambil uang dari kas usaha, akan dicatat di account ini. Dan
tentu ini juga bisa menyebabkan modal berubah.
Nah, sekarang boleh bilang oooh..
Oooh..
Lanjut ya.. Sekarang kita belajar bikin Laporan Perubahan Modal.
1. Pertama, cari besar Modal Awal. Coba cek di Buku Besar Modal.
2. Trus, cari besar Laba atau Rugi. Tapi kalau dilihat Laporan Laba Rugi di
Bab sebelumnya, CV. SENYUM mendapat keuntungan
(Laba).
3. Cari besar Prive. Cek di Buku Besar Prive
4. Selanjutnya, cari hasil Laba dikurangi Prive.
5. Dan terakhir, jumlahkan Modal Awal dengan Laba tersisa setelah
dikurangi Prive, dapat tuh Modal Akhir.
6. Selesai deh..
Coba lihat contoh di bawah ya..

Contoh di atas kan kalau usahanya untung, gimana kalau buntung
alias rugi?
Gak jauh beda kok. Tinggal ganti aja “Laba Bersih” menjadi Rugi. Dan
nilainya dibuat minus atau dibuat dalam tanda kurung.
Emang tanda kurung itu maksudnya apaan sih?

Hadeeeh.. Ini sih dasar banget.. Tapi ya sudahlah.
Jadi, tanda kurung itu adalah tanda di perhituangan keuangan untuk
menunjukkan nilai negative. Ok..
Oooh..
Siip..
Jadi sudah ya.. Sampe di sini dulu update kita tentang akuntansi. Ntar kita
lanjut lagi.. Ok..

9. JURNAL PENUTUP

Oya. Sebelum lanjut, pastiin kalian udah baca artikel-artikel
sebelumnya. Kenapa? Karena ini artikel serial! Jika kalian belum baca
artikel sebelumnya, gw jamin kalian akan pusing tujuh puluh keliling!
.
Dan sebelum lanjut, kita review dulu apa aja yang udah kita pelajari.
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.
Bagian 6: Kita sudah mem-posting Jurnal Penyesuaian ke dalam Buku
Besar.
Bagian 7: Kita sudah belajar membuat laporan laba rugi. Dari sana kita bisa
tahu apakah usaha kita untung atau rugi!

Bagian 8: Kita sudah membuat Laporan Perubahan Modal. Di laporan
tersebut kita bisa melihat besar modal setelah ditambah dengan Laba.
.
Lanjut yak..
Kita akan membahas Jurnal Penutup.
Wah, kok udah penutup? Udah mau kelar nih?
Yup.. Kita udah mau kelar hehehe.
Yah..
Tenang, kan ini baru Dasar Akuntansi. Jadi masih sangat banyak yang
harus dipelajari tentang Akuntansi. Ibaratnya, kita baru melihat-lihat
akuntansi lewat jendela. Setelah ini, kalian harus masuk ke rumahnya.
Oke, cukup basa-basinya, gw akan lanjutin.
Kenapa sih kita perlu Jurnal Penutup?
Pertanyaan bagus. Untuk menjawabnya, gw akan balik bertanya, masih
inget dengan account-account Pendapatan dan Biaya?
Sip! Berarti masih nyimak kalo inget. Tapi masih inget gak kenapa ada
account-account Pendapatan dan Biaya?
Hmm.. Hmm..
Kalo jawabnya begitu, keknya udah lupa. Coba buka lagi Bagian 1.
……
Ah, kelamaan, gw ulang deh.
Account Pendapatan dan Account Biaya sebenernya cuma account
sementara. Karena cuma sementara, maka ada waktunya dimana kita harus
menutupnya.
Kalau masih pengen tahu penjelasan lengkapnya, buka Bagian 1 ya.
Oke, oke..
Sip.. Lanjuut..

Kita harus membuat Jurnal Penutup, karena saat kita ingin menutup buku
keuangan hanya account utama yang boleh memiliki nilai. Apa itu account
utama? Nih dia..
1. Account-account Aset
2. Account-account Modal
3. Account-account Hutang
Sedangkan Account Pendapatan dan Account Biaya, semua harus bernilai
NOL.
Kenapa?
Supaya kita bisa balik ke rumus ajaib yang pernah kita pelajari di awal:
Aset = Modal + Hutang
Oke, oke ngerti. Trus account apa yang harus kita tutup?
Wih, mantap kalo udah ngerti. Nah, ini nih account-account yang harus
kita tutup.
PENDAPATAN
400 – Pendapatan jasa
BIAYA
500 – Biaya perbaikan televisi
510 – Biaya sewa
520 – Biaya penyusutan peralatan
530 – Biaya bunga
301 – Prive
Trus gimana cara nutupnya?
Hmm.. Ikuti dengan teliti ya. Berikut tahap-tahap membuat Jurnal Penutup.
1. Kita tutup Account Pendapatan dengan memindahkanya ke Account
Ikhtisar Rugi/Laba
Eit.. Ntar dulu.. Apaan lagi itu account Ikhtisar Rugi/Laba?

Untuk saat ini, pahami aja account Ikhtisar Rugi/Laba adalah account yang
sangat sementara. Kita hanya akan pakai untuk numpang lewat.
Gw lanjut ya..
Oke..
Berikut tahap-tahap membuat Jurnal Penutup.
1. Kita tutup Account Pendapatan dengan memindahkanya ke Account
Ikhtisar Rugi/Laba.
2. Kita tutup Account Biaya dengan memindahkanya ke Account
Ikhtisar Rugi/Laba.
3. Kita tutup Account Ikhtisar Rugi/Laba dengan memindahkan ke
account Modal Sendiri.
4. Kita tutup Account Prive dengan memindahkan ke account Modal
Sendiri.
5. Selesai..
Gimana, udah tau kan langkahnya?
Sip.. Sudah..
Kalo gitu lanjut praktek ya..
Pertama, kita tutup Account Pendapatan dengan memindahkanya ke
Account Ikhtisar Rugi/Laba.
Karena kita memindahkan dari account Pendapatan, berarti kita
mengosongkan/mengurangi isi account Pendapatan. Dan ingat, account
Pendapatan hanyalah account sementara-nya account Modal yang berada
di sisi KANAN. Artinya, mengurangi account ini harus kita beri label DEBET.
Sesuai data yang kita punya, berikut adalah Jurnal Penutup Pendapatan:

Kedua, kita tutup Account Biaya dengan memindahkanya ke Account
Ikhtisar Rugi/Laba.
Perhatikan, ada sedikit perbedaan di sini. Seperti pada account
Pendapatan, karena kita memindahkan dari account Biaya, berarti kita
mengosongkan/mengurangi isi account Biaya. Dan ingat, account Biaya

juga hanyalah account sementara-nya account Modal yang berada di sisi
KANAN. TAPI, account Biaya bernilai negatif/bersifat mengeluarkan dana
(account Pendapatan bersifat positif seperti halnya account Modal Sendiri
yaitu memasukkan dana). Artinya, mengurangi account ini harus kita beri
label KREDIT.
Sesuai data yang kita punya, berikut adalah Jurnal Penutup Biaya:

Ketiga, kita tutup Account Ikhtisar Rugi/Laba dengan memindahkan ke
account Modal Sendiri.
Tapi sebelum itu, kita hitung Total isi account Ikhtisar Rugi/Laba dari
langkah pertama dan kedua.
Total Account Ikhtisar Rugi/Laba = (Kredit) Rp. 35.000.000,00 – (Debet) Rp.
16.000.000,10
Total Account Ikhtisar Rugi/Laba = Rp18,999,999.90
Sesuai hasil hitungan di atas, berikut Jurnal Penutup Ikhtisar Rugi/Laba:

Keempat (terakhir), kita tutup Account Prive dengan memindahkan ke
account Modal Sendiri.
Prive itu mirip biaya. Ini adalah account negatif karena dia bersifat
mengeluarkan dana. Jadi saat kita ingin mengosongkannya, maka kita
memberi label Kredit mes

un dia sejenis account Modal yang berada di sisi KANAN.

kip

Oke.. Selesai sudah..
Wah cuma gitu aja?
Yup.. Gampang kan?
Trus, ngapain lagi?
Sabar.. Kita istirahat dulu. Yang paling penting, sekarang account
Pendapatan dan account Biaya udah jadi kosong atau NOL. Di artikel
mendatang, kita akan cek semua account satu per satu. Dan kita lihat,
bener nggak udah kosong. Oke..

10.

UPDATE BUKU BESAR LAGI

Oya. Sebelum lanjut, pastiin kalian udah baca artikel-artikel
sebelumnya. Kenapa? Karena ini artikel serial! Jika kalian belum baca
artikel sebelumnya, gw jamin kalian akan pusing tujuh puluh keliling!
.
Dan sebelum lanjut, kita review dulu apa aja yang udah kita pelajari.
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.

Bagian 6: Kita sudah mem-posting Jurnal Penyesuaian ke dalam Buku
Besar.
Bagian 7: Kita sudah belajar membuat laporan laba rugi. Dari sana kita bisa
tahu apakah usaha kita untung atau rugi!
Bagian 8: Kita sudah membuat Laporan Perubahan Modal. Di laporan
tersebut kita bisa melihat besar modal setelah ditambah dengan Laba.
Bagian 9: Kita sudah buat Jurnal Penutup. Jurnal ini harus dibuat agar kita
bisa tutup buku di akhir tahun keuangan.
.
Kalau sudah siap, kita akan lanjut ke tahap berikutnya. Kalau sebelumnya
kita sudah buat Jurnal Penutup, maka langkah berikutnya adalah Update
Buku Besar (lagi).
Lagi?
Iya, lagi.. Pokoknya, setiap kita sudah melakukan perubahan pada jurnal,
maka ketika akan membuat laporan maka pastikan selalu update buku
besar dulu.
Dan kali ini, kita harus update buku besar karena kita telah membuat
Jurnal Penutup.
Kenapa sih kita harus update buku besar terus?
Sebab, ketika kita buat jurnal, apapun jenis jurnalnya, pasti kita membuat
transaksi yang menambahkan atau mengurangkan isi dari Account.
Sedangkan Buku Besar adalah kompilasi Transaksi per Account.
Jadi, mau gak mau, setiap kita membuat jurnal, pasti akan ada perubahan
pada Account. Yang artinya, kita harus meng-Update Buku Besar.
Ah, bingung..
Hmm.. Berarti sudah lupa artikel ke-3. Baca lagi sana.. hee..
Pokoknya, gak usah bingung dengan istilah-istilah Akuntansi. Gw
rangkumin lagi ya..

– Jurnal : Itu hanya catatan transaksi keuangan. Semua transaksi masuk
sini. Semua account campur jadi satu sesuai jenis transaksi.
– Buku Besar : Itu hanya mengumpulkan transaksi-transaksi pada Jurnal
yang tercampur-campur gak jelas, dan disusun berdasarkan account.
Dengan begitu, kita akan mudah mengetahui nilai saldo terakhir dari tiap
account.
Lanjut ya..
Oke..
Karena sebelumnya kita buat Jurnal Penutup, maka kita harus update Buku
Besar terutama account-account yang terlibat di Jurnal Penutup. Apaan
aja? Nih..
400 Pendapatan
500 Biaya Perbaikan TV
510 Biaya Sewa
520 Biaya Penyusutan Peralatan
530 Biaya Bunga
300 Modal
301 Prive
Oke..
Jangan cuma oke-oke aja.. Coba buka lagi artikel ke-9. Cek lagi. Bener
nggak account-account di atas ada di Jurnal Penutup!
Hehehe.. Loh, kok account Iktisar Laba Rugi gak masuk?
Nah.. Itu baru namanya nyimak.. Pinteer.. heee
Hmm.. Kalau mau dimasukkan juga gak apa apa. Tapi gw males hahaha.
Karena Account Iktisar Laba Rugi dah pasti NOL. Kan dah dikosongin
langsung di Jurnal Penutup. Karena Account itu cuma sementara banget
hahaha..
Lanjut ya..
Sekarang, coba baca lagi artikel ke-3 dan ke-6 bagaimana cara update
Buku Besar karena gw gak akan bahas detailnya di sini. Gw akan langsung
kasih hasilnya seperti berikut:

Bagaimana dengan account yang lain?
Masih sama seperti berikut. Nih..

Selesai sudah update Buku Besar untuk yang terakhir kali nya. Dan artinya,
hutang gw tinggal 1 artikel lagi ha ha ha ha ha ha ha..

11. NERACA

Oya. Sebelum lanjut, pastiin kalian udah baca artikel-artikel
sebelumnya. Kenapa? Karena ini artikel serial! Jika kalian belum baca
artikel sebelumnya, gw jamin kalian akan pusing tujuh puluh keliling!
.
Dan sebelum lanjut, kita review dulu apa aja yang udah kita pelajari.
Bagian 1: Kita belajar pendahuluan. Mulai dari rumus akuntansi sampai
kenal apa itu account (Perkiraan).
Bagian 2: Kita belajar cara bikin Jurnal Umum dari sebuah oret-oretan
(catatan) dagang CV. SENYUM.
Bagian 3: Kita udah belajar cara mindahin Isi Jurnal, ke Buku Besar.
Bagian 4: Kita coba buat Neraca Saldo dari Buku Besar.
Bagian 5: Kita membuat Jurnal Penyesuaian.
Bagian 6: Kita sudah mem-posting Jurnal Penyesuaian ke dalam Buku
Besar.
Bagian 7: Kita sudah belajar membuat laporan laba rugi. Dari sana kita bisa
tahu apakah usaha kita untung atau rugi!

Bagian 8: Kita sudah membuat Laporan Perubahan Modal. Di laporan
tersebut kita bisa melihat besar modal setelah ditambah dengan Laba.
Bagian 9: Kita sudah buat Jurnal Penutup. Jurnal ini harus dibuat agar kita
bisa tutup buku di akhir tahun keuangan.
Bagian 10: Kita sudah meng-update Buku Besar lagi.
.
Karena ini adalah artikel terakhir, gw mau ngajak pembaca buat mengkilas balik poin poin kita sebelumnya.











Di awal-awal, kita punya kesepakatan bahwa contoh usaha kita
adalah CV.SENYUM.
CV. SENYUM ini memulai bisnisnya per tanggal 1 Maret 2010.
Sayangnya, saat itu CV. SENYUM belum memiliki pegawai yang
paham akuntansi. Karenanya, catatan keuangan yang dimiliki oleh
pemilik CV. SENYUM hanya berbentuk oret-oretan sederhana.
Dari oret-oretan sederhana itulah, kita harus membuat catatan
keuangan dalam bentuk akuntansi.
Waktu memulai catatan keuangan akuntansi, saat itu sudah bulan
Desember 2010. Artinya, usaha sudah berjalan 10 bulan.
Selain itu, 1 tahun periode keuangan yang kita sepakati adalah dari
Januari ke Desember. Artinya, CV. SENYUM harus segera membuat
laporan keuangan.
Di artikel-artikel sebelumnya, kita sudah membuat laporan Neraca
Saldo, Laporan Laba Rugi dan Laporan Perubahan Modal. Laporanlaporan ini sebenarnya sudah cukup lengkap.
Hal terakhir yang harus dilakukan adalah, membuat laporan Neraca
Saldo setelah buku ditutup.

Apa sih maksudnya buku ditutup?
Gini..
Masih ingat kan sebenernya account-account itu dikelompokkan dalam 3
jenis? Yaitu Aset, Hutang dan Modal.
Dan tentu masih ingat, tiga jenis inilah yang membentuk rumus dasar
akuntansi yaitu: Aset = Hutang + Modal. Yang artinya, besarnya aset
perusahaan itu tergantung pada besarnya Modal juga besarnya hutang.

Kalaupun ada jenis account lainnya seperti BIAYA dan PENDAPATAN, itu
hanyalah jenis account sementara yang dibutuhkan saat proses kegiatan.
Dan jenis account ini merupakan bagian dari account MODAL.
Saat buku ditutup, artinya sudah tidak boleh lagi ada account sementara.
Ibaratnya, ketika buku ditutup, sudah tidak boleh lagi ada duit berceceran
di kantong baju, kantong celana, di laci mobil, di dalam kaos kaki dan
tempat lainnya. Semua harus dikembalikan ke 3 amplop besar; ASET,
HUTANG dan MODAL.
Kenapa harus dikumpulkan dalam 3 jenis account di atas?
Tentu alasan paling gampang adalah, biar jelas kondisi dan posisi
keuangan.
Nah, begini aja, anggap saja kita adalah orang yang ditugaskan untuk
memeriksa kondisi keuangan perusahaan CV. SENYUM. Maka yang perlu
kita tanyakan adalah:
1. Berapa besar Aset perusahaan ini?
Pegawai bagian akuntansi CV. SENYUM akan menunjukkan besaran ASET
perusahan, misal Rp. 78juta.
2. Aset sebesar Rp. 78juta ini ada dimana dan dalam bentuk apa saja?
Pegawai bagian akuntansi CV. SENYUM akan mem-break down aset ke
dalam Account-account yang masuk ke dalam kelompok Aset seperti; KAS,
PERSEDIAAN, BIAYA SEWA DIBAYAR DI MUKA, PERALATAN dan lain-lain.
Dari break down itu, kita bisa tahu; Oh, ternyata dari Rp.78juta aset CV.
SENYUM, yang berbentuk DUIT cuma Rp. 39juta. Sisanya dalam bentuk
SPARE PART, ada juga dalam bentuk PERALATAN KERJA, ada juga dalam
bentuk SEWA GEDUNG dan lain-lain.
3. Pertanyaan selanjutnya, Aset sebesar Rp. 78juta ini dapat duitnya
dari mana?
Nah, di sini, pegawai bagian akuntansi akan menunjukkan besaran MODAL
dan HUTANG perusahaan. Dari besaran ini, kita bisa tahu; Oh, dari ASET
sebesar Rp. 78juta itu, Modalnya cuma Rp. 39juta dan sisanya dari
HUTANG Bank.

Kalau dananya masih berceceran di account BIAYA dan PENDAPATAN,
tentu akan sulit buat menjelaskan kondisi keuangan perusahaan.
Kalau begitu, kenapa kita butuh account BIAYA dan PENDAPATAN?
Iiih.. Ngeyel banget nih ya..
Ketika kita sedang berada pada proses kegiatan, tentu kita akan
mengeluarkan uang untuk biaya ini itu kan? Selain itu, pada saat proses
kegiatan, tentu ada pembayaran dari pelanggan yang merupakan
pendapatan. Kalau tidak ada account BIAYA dan PENDAPATAN, harus kita
masukkan dimana catatan keuangannya?
Selain itu, untuk mengetahui apakah perusahaan itu UNTUNG atau RUGI,
hanya bisa dilihat dari selisih PENDAPATAN – BIAYA. Kalau nilainya plus,
berati untung. Kalau minus, berarti rugi.
Oke ya?
Oke Oke..
Nah, berarti, kita akan melakukan hal paling akhir dari pencatatan
keuangan akuntansi satu periode ini (Januari – Desember 2010) yaitu
membuat Neraca Saldo.
Cara membuat neraca Saldo itu sangat mudah yaitu:
1. Buka Buku Besar.
2. Lihat berapa besar nilai uang pada tiap-tiap account.
3. Tuliskan tiap-tiap account pada laporan.
4. Urutkan berdasarkan ASET, HUTANG dan MODAL.
5. Pastikan nilai Debet dituliskan pada sisi Debet dan nilai Kredit pada sisi
Kredit.
6. Jangan lupa tuliskan Neraca Saldo Per 31 Desember 2010.
7. Pastikan jumlah sisi Debet sama dengan jumlah sisi Kredit. Jika tidak
sama, berarti ada kesalahan dalam pencatatan.
Dan berikut adalah tampilan Neraca Saldo CV. SENYUM per 31 Desember
2010 (Akhir Tahun)

Nah.. Selesai sudah seri Cara Orang Awam Belajar Dasar Akuntansi.
Semoga seri Artikel ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita.
Terima kasih telah membaca seri artikel ini.

TERIMA KASIH
Hendra Prayed

.

Judul: Akuntansi

Oleh: Veronika Manalu


Ikuti kami