Akuntansi

Oleh Su Yatno

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi

Lima Prinsip Dasar Akuntansi Yang
Perlu Anda Ketahui
Berikut lima prinsip dasar akuntansi yang dapat dijadikan pedoman bagi pengusaha dalam
pembuatan laporan keuangan, agar laporan keuangan disusun berdasarkan prosedur da prinsip
akuntansi.
Prinsip dasar akuntansi mendasari akuntansi dan seluruh laporan keuangan. Prinsip akuntansi
dijabarkan dari tujuan laporan keuangan, postutat akuntansi, dan konsep teoritis akuntansi, serta
sebagai dasar pengembangan teknik atau prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan
keuangan.
Ada lima prinsip dasar akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi. Yakni:
1. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)
GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan
harga akuisi. Hal ini seringkali disebut prinsip biaya historis. Prinsip ini menghendaki digunakannya
harga perolehan dalam mencatat aktiva. utang, modal, dan biaya.
Yang dimaksud dengan-harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetuiui oleh kedua belah
pihak vang tersangkut dalam transaksi. Harga perolehan ini harus terjadi dalam transaksi di antara
kedua belah pihak yang bebas. Harga pertukaran ini dapat terjadi pada seluruh transaksi dengan
pihak ekstern, baik yang menyangkut aktiva, utang, modal atau transaksi lainnya. Biaya memiliki
keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya, yaitu dapat diandalkan.
2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)
Prinsip Pengakuan Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari
penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu.
Dasar yang digunakan untuk mengukur besamya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya
yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.
Istilah pendapatan dalam prinsip ini merupakan istilah yang luas, di mana di dalam pendapatan
termasuk pendapatan sewa, laba penjualan aktiva dan lain-lain. Batasan umum yang biasanya
digunakan adalah semua perubahan dalam jumlah bersih aktiva selain yang berasal dari pernilik
perusahaan.

Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa. Yaitu saat ada
kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima. Tetapi
ketentuan umum ini tidak selalu dapat diterapkan, sehingga timbul beberapa ketentuan lain untuk
mengakui pendapatan. Pengecualian-pengecualian itu adalah pengakuan pendapatan saat produksi
selesai, selama masa produksi dan pada saat kas diterima.
3. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)
Yang dimaksud prinsip mempertemukan biaya adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan
yang timbul karena biaya tersebut Prinsip ini berguna untuk menentukan besamya penghasilan
bersih setiap periode. Karena biaya itu harus dipertemukan dengan pendapatannya, maka
pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan suatu
pendapatan ditunda, maka pembebanan biayanya juga akan ditunda sampai saat diakuinya
pendapatan.
Penerapan prinsip ini. juga menghadapi beberapa kesulitan. Misalnya, dalam hal biaya-biaya yang
tidak mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan, maka sulit untuk mempertemukan biaya
dengan pendapatannya. Contoh, biaya administrasi dan umum tidak dapat dihubungkan dengan
pendapatan perusahaan. Kesulitan seperti ini diatasi dengan membebankan biaya-biaya tersebut ke
periode terjadinya.
Biasanya biaya-biaya seperti itu disebut period costs. Sebabnya, biaya produksi seperti biaya baban
baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung, mempunyai hubungan yang jelas dengan
pendapatan, sehingga dapat dengan mudah dipertemukan.
Kesulitan yang lain seperti dalam hal biaya yang mempunvai manfaat untuk beberapa periode.
Biaya-biaya seperti ini ditunda pembebanannya karena mernpunyai fungsi menimbulkan
pendapatan. Masalahnya adalah alokasi setiap periodenya. Dasar alokasi yang digunakan dalam
metode-metode depresiasi dan amortisasi hampir semuanya berdasarkan taksiran-taksiran yang
tidak jelas hubungannya dengan pendapatan.
Salah satu akibat dari prinsip ini adalah digunakannya dasar waktu (accrual basis) dalam
pembebanan biaya. Dalam prakteknya digunakan jurnal-jurnal penyesuaian setiap akhir periode
untuk mempertemukan biaya dengan pendapatan.
4. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
Agar laporan keuangan dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan
prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari
tahun ke tahun. Sehingga bila terdapat perbedaan antara suatu pos dalam dua periode, dapat segera
diketahui bahwa perbedaan itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.

Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan penggantian metode, jadi masih dimungkinkan
untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai. Tetapi jika ada penggantian metode, maka
akibat (selisih) yang cukup berarti (material) terhadap laba perusahaan harus dijelaskan dalam
laporan keuangan, tergantung dari sifat dan perlakuan terhadap perubahan metode atau prinsip
tersebut.
5. Prisip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle)
Yang dimaksud dengan prinsip pengungkapan lengkap adalah menyajikan informasi yang lengkap
dalam laporan keuangan. Karena infomasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksitransaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu, tidaklah
mungkin untuk memasukkan semua informasi-informasi yang ke dalam laporan keuangan.
Biasanya keterangan tambahan atas informasi dalam laporan keuangan dibuat dalam bentuk:
• Catatan kaki/footnote.
• Dalam laporan keuangan, biasanya dituliskan dalam kurung di bawah elemen yang bersangkutan,
atau dengan memakai rekening-rekening tertentu.
• Berbagai lampiran.
Keterangan tambahan dengan menggunakan catatan kaki biasanya karena tidak diinginkan untuk
mengganggu laporan keuangan yang dibuat. Catatan kaki ini digunakan untuk menunjukkan hal-hal
sebagai berikut :
• Prinsip akuntansi yang digunakan.
• Perubahan-perubahan, seperti perubahan dalam prinsip akuntansi, taksiran-taksiran, kesatuan
usaha, dan juga kalau ada koreksi-koreksi kesalahan. Catatan kaki ini juga menunjukkan perlakuan
terhadap perubahan-perubahan tersebut, apakah dengan cara kumulatif, retroaktif, dan lain-lain.
• Adanya kemungkinan timbulnya rugi atau laba bersyarat.
• Informasi tentang modal perusahaan, seperti jumlah lembar saham dan lain-lain.
• Kontrak-kontrak pembelian, kontrak-kontrak penting lainnya, adanya option atau warrant untuk
saham dan lain-lain. Keterangan tambahan yang dibuat sebagai lampiran laporan keuangan
biasanya digunakan untuk menunjukkan perhitungan-perhitungan detail yang mendukung suatu
jumlah tertentu, atau menunjukkan informasi-informasi keuangan berdasarkan indeks harga (price
level adjustment).

Berdasarkan dari penjelasan tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa prinsip akuntansi dapat
dijadikan pedoman bagi pengusaha dalam pembuatan laporan keuangan. Hal ini untuk menjadikan
laporan keuangan yang dihasilkan atas dasar prosedur akuntansi dan disesuaikan dengan peraturan
dari prinsip akuntansi yang ada.

Asumsi Dasar Akuntansi
Dalam prakteknya akuntansi berjalan berdasarkan asumsi-asumsi, sama seperti kita yang
sering mengasumsikan sesuatu agar dapat lebih mudah diterima atau dilakukan. Asumsiasumsi ini pulalah yang mempermudah pelaksanaan kegiatan akuntansi. Adapun asumsiasumsi dasar yang dipakai dalam dunia akuntansi adalah sebagai berikut:
1. Kesatuan usaha khusus (Separate entity/Economic entity)
Perusahaan dipandang sebagai suatu unit usaha yang berdiri sendiri, terpisah dari
pemiliknya. Maksudnya, walaupun perusahaan itu dimiliki oleh seseorang, tetap saja
perusahaan itu dianggap sebagai sebuah badan yang terpisah dari pemiliknya. Seperti:
terpisah kekayaannya dari kekayaan pemilik, terpisah utangnya dari utang pemilik.
2. Kontinuitas usaha (Going concern/continuity)
Suatu perusahaan itu akan hidup terus, dalam arti diharapkan tidak akan terjadi likuidasi di
masa yang akan datang. Penekanan dari konsep ini adalah terhadap anggapan bahwa akan
tersedia cukup waktu bagi suatu perusahaan untuk menyelesaikan usaha, kontrak-kontrak
dan perjanjian-perjanjian.
3. Penggunaan unit moneter dalam pencatatan
Semua transaksi-transaksi yang terjadi akan dinyatakan di dalam catatan dalam bentuk unit
moneter pada saat terjadinya transaksi itu. Unit moneter yang digunakan adalah mata uang
dari negara di mana perusahaan itu berdiri. Contoh: Indonesia unit moneternya Rupiah,
Australia unit moneternya Dollar Australia, dsb.
4. Periode waktu (Time-period/Periodicity)
Adanya pembatasan waktu untuk dapat menilai dan melaporkan hasil dari usaha yang
dijalankan. Hal ini disebabkan karena perusahaan dianggap akan terus hidup dimasa yang
akan datang, sehingga tidak mungkin apabila untuk mengetahui keuntungan atau kerugian
dari usaha kita harus menunggu perusahaan ditutup terlebih dahulu.

Judul: Akuntansi

Oleh: Su Yatno


Ikuti kami