Akuntansi

Oleh Uswatun Khasanah

79 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi

PERUSAHAAN DAGANG DAN
PERUSAHAAN JASA
Published Maret 25, 2013 by noviaasrumiati
A. perusahaan dagang
adalah perusahaan yang kegiatan utama /pokok melakukan pembelian suatu barang untuk
dijual kembali tanpa mengubah bentuk maupun fungsi dari barang tersebut. Contoh: toko
buku, toko perlengkapan sekolah, dan alat elektronik.
Kelebihan perusahaan dagang:
1. menjual barang tanpa mengolah terlebih dahulu
2. kualitas barang dapat diketahui secara langsung oleh konsumen
kekurangan perusahaan dagang:
1. di perlukan tempat untuk memajang(display) b arang
2. diperlukan tempat untuk menyimpan barang
3. diperlukan alat angkut untuk mengirim barang kepada konsumen
4. barang yang sudah dibeli konsumen dapat dikembalikan (retur) sehingga perusahaan tidak
jadi memperoleh penghasilan
ciri-ciri perusahaan dagang:
1. penghasilan diperoleh dari hasil penyerahan/penjualan barang dagangan
2. barang dagangan yang diperjual belikan tidak diubah bentuk maupun fungsinya
3. rekening-rekening yang terdapat pada perusahaan dagang antara lain: pembelian atau
persediaan barang dagangan, retur dan pengurangan harga pembelian, potongan pembelian,
beban angkut pembelian, penjualan, retur dan pengurangan harga penjualan, potongan
penjualan, harga pokok penjualan, beban nagkut penjualan.
4. Beban usaha perusahaan dibedakan dalam dua kelompok yaitu: beban pemasaran dan
beban administrasi umum.
B. Perusahaan jasa
adalah perusahaan yang didirikan seseorang atau sekelompok orang yang kegiatan
utama/pokok bergerak dalam bidang pelayanan jasa atau menjual jasa.
Kelebihan perusahaan jasa:
1. Tidak perlu tempat untuk memajang barang
2. Tidak diperlukan tempat untuk menyimpan barang (gudang)
3. Tidak perlu alat angkut untuk mengirim barang pada konsumen
Kekurangan perusahaan jasa:
1. Kualitas jasa dapat diketahui setelah konsumen membeli jasa
2. Jasa yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan (diretur)
c. perbedaan antara perusahaan jasa dengan perusahaan dagang
• Dilihat dari penghasilan
Perusahaan jasa : penghasilan jasa (penyerahan jasa berupa kenikmatan)
Perusahaan dagang: penjualan barang dagang (penyerahan barang tanpa mengolah lebih
dahulu
• Dilihat dari rekening yang ada:
Perusahaan jasa: pendapatan jasa
Perusahaan dagang: penjualan , retur penjualan dan pengurangan harga, potongan penjualan,

harga pokok penjualan, pembelian/persediaan barang dagangan, beban angkut pembelian,
retur pembelian dan pengurangan harga, potongan pembelian
• Dilihat dari laporan laba/rugi:
Perusahaan jasa:
Pendapatan jasa xxx
Beban usaha (xxx)
Laba usaha xxx
Perusahaan dagang:
Penjualan xx
Harga pokok penjualan (xxx)
Laba kotor xxx
Beban usaha (xxx)
Laba usaha xxx
• Contoh perusahaan jasa:
- Jasa bengkel/servis kendaraan
- Transportasi
- Telekomunikasi
- Salon
- Persewaan/rental mobil,computer dll.
- Jasa pengacara
- Notaris
- Konsultan teknik,akuntansi,manajemen dll.
• Contoh perusahaan dagang:
- Toko bahan bangunan
- Toko buku dan perlengkapan sekolah
- Pengecer dan grosir
- Dealer motor dsb.

D. URAIAN MATERI
Konsep-Konsep Dasar Akuntansi
Dalam pokok bahasan ini Anda dapat memperoleh informasi tentang konsep-konsep dasar
akuntansi. Uraian materi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali ingatan Anda tentang
pengetahuan akuntansi secara mendasar. Dengan memahami materi ini Anda akan memperoleh
gambaran umum tentang akuntansi dan arti pentingnya bagi organisasi, baik organisasi usaha/bisnis
maupun bukan.

a. Pengertian

Perlu Anda ingat bahwa akuntansi merupakan suatu proses dari tiga aktivitas. Ketiga
aktivitas

itu

adalah:

pengidentifikasian

(identifying),

pencatatan

(recording),

dan

pengkomunikasian (communicating) peristiwa-peristiwa ekonomi dari suatu organisasi bisnis
dan non bisnis untuk kepentingan pemakai (user) informasi. Peristiwa-peristiwa ekonomi
yang dimaksud adalah transaksi keuangan yaitu setiap kejadian di dalam organisasi yang
menyebabkan bertambah, berkurang, dan/atau berubahnya susunan kekayaan, kewajiban, dan
modal (ekuitas) organisasi yang bersangkutan. Aktivitas pengidentifikasian merupakan upaya
untuk menyeleksi dan mengukur peristiwa-peristiwa yang relevan dengan kegiatan ekonomi
perusahaan. Menyeleksi berarti memilah dan memilih peristiwa yang relevan dengan
kegiatan ekonomi perusahaan, sedangkan mengukur berarti menghitung dan menentukan
nilainya dalam satuan uang, misalnya rupiah. Aktivitas pencatatan merupakan upaya untuk
merekam peristiwa-peristiwa ekonomi tersebut dalam sebuah catatan permanen dari aktivitas
ekonomi organisasi sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam
pencatatan,

aktivitas

ekonomi

juga

diklasifikasikan

dan

diringkas.

Aktivitas

pengkomunikasian merupakan kegiatan untuk menyampaikan informasi melalui penyiapan
dan pendistribusian laporan akuntansi, yang biasanya disebut dengan Laporan Keuangan
(financial statement). Untuk membuat laporan tentang informasi keuangan yang bermanfaat,
akuntan harus menggambarkan dan melaporkan data yang tercatat dalam cara yang
terstandar.

b. Pemakai Data Akuntansi
Coba Anda ingat-ingat dan sebutkan, siapa saja yang memerlukan informasi keuangan dari
suatu perusahaan? Kalau kita rinci satu persatu tentunya banyak pihak yang memerlukan informasi
tersebut bukan? Namun, jika kita pilah dalam garis besar, kita dapat mengelompokkannya dalam
dua kelompok saja, yaitu pihak internal dan pihak eksternal.

1) Pihak Internal yaitu orang dalam perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari
dalam perusahaan itu sendiri. Pihak internal yang berkepentingan terhadap laporan
keuangan perusahaan meliputi manajer perusahaan yang merencanakan, mengorganisasi,
menjalankan bisnis, dan mengawasinya. Di dalamnya termasuk manajer pemasaran,
pengawas produksi, direktur keuangan, dan sebagainya. Mereka berkepentingan terhadap
informasi tersebut sebagai bahan evaluasi diri dan sebagai dasar untuk mengambil

keputusan. Selain itu juga karyawan perusahaan, dengan tujuan untuk mengevaluasi
kemampuan perusahaan menjamin kontinuitas kerja dan peningkatan kesejahteraannya.
2) Pihak Eksternal, yaitu pihak-pihak

di luar perusahaan yang memiliki kepentingan

terhadap perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari luar perusahaan yang
meliputi: (a) investor (pemilik) yang menggunakan informasi akuntansi dalam membuat
keputusan untuk membeli, tetap mempertahankan pemilikan, atau menjual saham; (b)
kreditor, seperti supplier, dan banker menggunakan informasi akuntansi untuk
mengevaluasi risiko kredit atau peminjaman uang; (c) otoritas pajak yang ingin
mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak; (d)
pelanggan yang ingin mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan
kontinuitas usahanya dan kemampuannya dalam memberikan jaminan mutu produk dan
sebagainya; (e) organisasi pekerja yang ingin mengetahui kemampuan pemilik dalam
menjamin pembayaran gaji, kenaikkan gaji, memberi bonus kepada karyawan dan
menjamin peningkatan kesejahteraan karyawan.
g. Bentuk Bisnis ditinjau dari jenis usahanya
Selain membedakan organisasi bisnis dari sisi kepemilikannya, kita juga dapat membedakannya
atas dasar bidang usaha yang dikelola. Secara umum kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga
kelompok organisasi bisnis, yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan perusahaan industri dan
pengolahan.

a) Perusahaan jasa adalah organisasi bisnis yang aktivitasnya memberikan layanan jasa
kepada para pelanggannya. Mereka memberi layanan jasa kepada masyarakat dan sebagai
imbalanannya perusahaan memperoleh penghasilan. Penghasilan tersebut bersumber dari
hasil penjualan jasa. Untuk memberikan layanan itu diperlukan biaya baik berupa
perlengkapan yang diperlukan untuk memberikan layanan jasa itu maupun dalam bentuk
lain. Akuntansi jenis perusahaan ini relatif sederhana, karena tidak banyak jenis transaksi
yang terjadi di perusahaan.
b) Perusahaan dagang adalah suatu organisasi bisnis yang aktivitas utamanya adalah
membeli barang dagangan dan menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa ada upaya
untuk mengolah atau mengubah wujud barang dagangan itu. Sebelum dijual pada
umumnya barang itu dipilih dan dipilah atau disortir terlebih dulu untuk menentukan
kualitas dan harganya. Dibandingkan dengan perusahaan jasa, perusahaan dagang lebih
rumit, karena jenis transaksi ekonominya relatif lebih banyak dan kompleks. Oleh karena

itu, akuntansi jenis perusahaan ini relatif lebih rumit dibandingkan dengan akuntansi
perusahaan jasa.
c)

Perusahaan Industri, biasanya dilengkapi dengan pengolahan, sehingga sebutannya
menjadi perusahaan industri dan pengolahan. Aktivitas perusahaan ini adalah membeli
bahan baku untuk diolah menjadi produk baru (barang setengah jadi atau barang jadi).
Barang yang telah diolah selanjutnya dipilih, dipilah, dikemas, dilabeli,baru dijual. Jenis
bahan yang dibeli oleh perusahaan ini berupa bahan mentah atau bahan baku yang tidak
dijual secara langsung kepada pelanggannya, melainkan diproses terlebih dulu untuk
diolah sehingga menjadi barang setengah jadi atau bahan jadi. Setelah itu baru dijual
kepada para pelanggannya. Hal ini akan berdampak pada penyelenggaraan akuntansinya.

1. Pengertian Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli barang untuk tujuan
menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk atau sifat barang secara berarti. Barang
yang diperdagangkan biasanya barang yang akan digunakan karena manfaat pakai
yang melekat pada barang tersebut. Barang ini dapat berupa barang konsumsi atau
barang produksi dan bahan baku untuk produksi. Kegiatan perusahaan dagang
terutama adalah pembelian dan penjualan barang yang berwujud fisik dengan
spesifikasi (berat, volume atau ukuran unit fisik lainnya) yang jelas.
Pada dasarnya perusahaan dagang adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
distribusi barang. Suatu perusahaan biasanya merupakan salah satu mata rantai dari
saluran distribusi antara produsen dan konsumen baik konsumen industri atau
konsumen akhir. Dengan kata lain, perusahaan dagang sebenarnya adalah perantara
penjualan barang dari produsen ke konsumen atau pemakai.
Perusahaan dagang dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa agen, toko, penyalur
tunggal, distributor, pedagang besar dan sebagainya. Sedangkan bentuk usahanya
dapat berupa perseroan, CV, perusahaan perseorangan, firma atau persekutuan.
Dalam perusahaan dagang, jumlah uang yang diterima dari konsumen atas
penyerahan barang dalam transaksi penjualan disebut sebagai penjualan dengan
nama rekening khususnya, Penjualan. Jadi, penjualan merupakan pendapatan yang
diperoleh perusahaan dagang dan akan mempunyai pengaruh menambah modal
perusahaan.

Karena adanya barang fisik yang dibeli dan dijual, biasanya perusahaan dagang
mempunyai gudang untuk menyimpan barang dagangan. Perusahaan membeli barang
di Leveransir atau pemesok (suppliers) dan menjualnya kepada pelanggan
(customers). Semua biaya yang melekat pada kegiatan tersebut (termasuk barang
keluar dan diserahkan kepada pelanggan) akhirnya akan menjadi biaya operasi yang
merupakan elemen dalam Laporan Laba-Rugi. Susunan dan elemen yang terdapat
dalam Laporan Laba-Rugi merupakan hal yang dapat digunakan untuk membedakan
perusahaan dagang dan perusahaan jasa.
2. Karakteristik Perusahaan Dagang
Perusahaan perdagangan adalah perusahaan yang beroperasi dengan membeli
barang dagangan dan menjual kembali barang tersebut tanpa mengubah bentuk
barang. Perbedaan utama dengan perusahaan jasa adalah jenis produk yang dijual.
Perusahaan perdagangan menjual produk yang sifatnya riil (tangible goods),
sedangkan pada perusahaan jasa menjual jasa (intangible goods).
Perbedaan antara kedua jenis perusahaan tersebut menyebabkan perbedaan elemen
yang disajikan pada laporan keuangan. Pada perusahaan perdagangan, terdapat satu
akun persediaan barang dagangan di neraca, dan hal tersebut tidak terdapat pada
perusahaan jasa. Pada laporan rugi-laba perusahaan perdagangan akan menyajikan
biaya pokok penjualan, sedangkan hal tersebut tidak terdapat pada laporan rugi-laba
perusahaan jasa. Perbedaan tersebut ditunjukkan pada laporan rugi-laba untuk
perusahaan jasa dan perusahaan perdagangan seperti tampak pada table dibawah ini.
PERUSAHAAN JASA
Pendapatan :

PERUSAHAAN PERDAGANGAN
Penjualan ��������.�.��..xxxxx

Pendapatan
Jasa�����.............................xxxxx

Harga Pokok Penjualan ��.��...�xxxxx

Beban Operasi :
Beban Gaji�����.....xxxxx
Beban Iklan�����....xxxxx
Beban Pemeliharaan........xxxxx
Beban Penyusutan..........xxxxx
Beban Asuransi...............xxxxx

Laba Kotor ������.��..���xxxxx
Beban Operasi :
Beban Gaji������...�xxxxx
Beban Iklan�������..xxxxx
Beban Pemeliharaan��.�.xxxxx
Beban Penyusutan���.�xxxxx
Beban Asuransi�����..xxxxx

Beban Supplies Kantor.....xxxxx

Beban

Supplies

Toko

�......xxxxx

Total Beban Operasi ����.....�....xxxxx
Total Beban�.......���.....��xxxxx

Laba Bersih �����������..xxxxx
Laba Bersih ��....���..........�xxxxx

Aktivitas utama perusahaan jasa adalah menyediakan pelayanan kepada konsumen.
Pada laporan rugi-laba perusahaan jasa, penjualan jasa kepada konsumen dilaporkan
sebagai pendapatan jasa. Beban operasi yang terjadi dalam menyediakan jasa
dikurangkan dari pendapatan jasa diperoleh laba bersih. Sebaliknya, aktivitas utama
perusahaan perdagangan adalah menjual barang dagangan tersebut kepada
konsumen tanpa melakukan perubahan. Ketika barang telah terjual, hasil penjualan
barang dagangan tersebut dilaporkan sebagai penjualan, dan biaya pokok barang
dagangan yang terjual tersebut diakui sebagai beban dan dinamakan biaya pokok
penjualan (costs of goods sold). Biaya pokok atas barang yang terjual dikurangkan dari
penjualan akan diperoleh laba kotor penjualan (gross profit). Laba kotor penjualan
dikurangi dengan beban operasi akan diperoleh laba bersih.
Barang dagangan yang belum terjual pada akhir periode akuntansi dinamakan
persediaan barang dagangan (merchandise inventory). Persediaan barang dagangan
ini dilaporkan sebagai aktiva lancar di neraca.
PERUSAHAAN DAGANG

1. Pengertian Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya melakukan transaksi
pembelian barang dagang kemudian untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuknya.
Perusahaan – perusahaan yang digolongkan sebagai perusahaan dagang antara lain adalah
distributor, agen tunggal, pengecer, toko swalayan, toko serba ada, plasa, pusat-pusat
perbelanjaan, atau pusat barang-barang grosir.
Adapun ciri-ciri perusahaan dagang, antara lain sebagai berikut :
1. Kegiatan usahanya melakukan pembelian barang untuk dijual kembali tanpa
melakukan proses produksi (mengolah/mengubah bentuk)
2. Pendapatan pokoknya diperoleh dari penjualan barang dagang

3. Harga pokok barang yang dijual adalah : Nilai persedian awal + Pembelian Bersih –
Persediaan Akhir
4. Laba kotor diperoleh dari : Penjualan bersih – Harga pokok barang yang dijual

Perusahaan dagang memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan jasa dan
perusahaan industry (manufaktur). Oleh karena itu, siklus perusahaan dagang mempunyai
karakter khas, yang hanya dijumpai dalam perusahaan dagang. Akun-akun yang merupakan
ciri khas perusahaan dagang selain seperti yang terdapat di perusahaan jasa adalah sebagai
berikut :
1. Akun pembelian di sisi debit (D)
2. Akun penjualan dicatat di sisi kredit (K)
3. Akun potongan pembelian dicatat di sisi kredit (K)
4. Akun potongan penjualan dicatat di sisi Debit (D)
5. Akun retur pembelian dicatat di sisi kredit (K)
6. Akun retur penjualan dicatat di sisi debit (D)
7. Akun biaya angkut pembelian dicatat di sisi debit (D)
8. Akun biaya pengiriman dicatat di sisi debit (D)
9. Akun persediaan barang dagang dicatat di sisi debit (D)
10. Akun utang usaha dicatat di sisi kredit (K)
11. Akun piutang usaha dicatat di sisi debit (D)
12. Harga pokok penjualan dicatat di sisi debit (D)

Karakteristik dan kegiatan utama perusahaan dagang adalah sebagai berikut :
1. Melakukan transaksi pembelian barang dagang, baik secara tunai maupun kredit
2. Melakukan transaksi penjualan barang dagang, baik secara tunai maupun kredit
3. Melakukan pembayaran utang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi
dalam aktivitas perusahaan.
4. Menerima pembayaran/pelunasan piutang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai
transaksi dalam aktivitas perusahaan
5. Melakukan penyimpanan barang dagang selama belum dijual dan diserahkan kepada
pembeli.

AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
A.

DEFINISI AKUNTANSI

Akuntansi diartikan sebagai seni pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan
cara yang sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidaktidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta penginterpretasian hasil dari pencatatan
tersebut.
B.

PERMASALAHAN

Akuntansi Perusahaan Dagang
C.

PEMBAHASAN

Akuntansi Perusahaan Dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli dan
menjual kembali barang dagangan tanpa merubah bentuk dengan harapan memperoleh
keuntungan.
D.

TUJUAN

Adanya Akuntansi Perusahaan Dagang dikarenakan banyaknya perusahaan dagang yang
membutuhkan jasa accounting yang faham dan mengerti tentang akuntansi dagang. Selain itu
akuntansi dagang juga memiliki laporan-laporan akuntansi dagang tersendiri yang telah
dibuat sesuai prosedur, tujuan pembuatan laporan ini berguna untuk mempermudah
pembuatan laporan perusahaan dagang.
Laporan-laporan yang diperlukan pada akuntansi perusahaan dagang
1. jurnal umum
2. buku besar
3. neraca saldo
4. penyesuaian dan kertas kerja
5. laporan laba rugi
6. neraca
7. laporan perubahan keuangan
8. penutupan buku
5. MENGKLASIFIKASIKAN AKUN-AKUN YANG ADA DALAM
PERUSAHAAN DAGANG.
1. Pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat setiap terjadi transaksi
“pembelian barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun
“pembelian” dicatat di sisi debet, sedangkan “Kas” atau “Utang dagang” di
sisi kredit.
1. Potongan pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan
yang diberikan oleh penjual barang dagangan. Besarnya potongan pembelian
dan syarat untuk mendapatkan potongan pembelian biasanya ditentukan oleh
penjual. Misal syarat pembayaran 2/10, n/30 artinya pembeli akan mendapat
potongan 2% jika membayar dalam 10 hari atau kurang dari tanggal transaksi
dan jangka waktu kredit 30 hari. Akun “potongan pembelian” dicatat di sisi
kredit. Sifatnya mengurangi jumlah kas yang dibayar.
2. Retur pembelian dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk
mencatat pengembalian barang dagangan yang telah dibeli karena sesuatu hal
misal karena rusak. Akun “Retur pembelian dan Pengurangan Harga” dicatat
di sisi kredit sifatnya mengurangi utang dagang.
3. Beban angkut pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat
besarnya beban angkut yang harus ditanggung oleh pembeli. Akun “beban
angkut pembelian” dicatat di sisi debet dan kas di sisi kredit.
4. Penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat transaksi “penjualan
barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun “penjualan” dicatat
di sisi debet dan kas atau piutang dagang di sisi kredit.
5. Potongan penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan
yang diberikan kepada pembeli. Akun “potongan penjualan” dicatat di sisi
debet sifatnya mengurangi kas yang diterima.

F.

METODE PENCATATAN

Metode pencatatan persediaan barang dagangan ada 2 cara yaitu :
1. Sistem periodik (Periode System)
Dalam sistem ini penentuan besarnya persediaan dilakukan dengan mengadakan perhitungan
secara fisik terhadap persediaan barang yang ada pada akhir periode. Sistem ini cocok
digunakan oleh perusahaan kecil yang barang dagangannya relatif murah dan transaksi sering
terjadi.
Pada sistem ini “persediaan barang dagangan” hanya dicatat tiap akhir periode sebesar
persediaan akhir dari hasil perhitungan fisik barang dagangan. Persediaan akhir barang
dagangan dianggap sebagai persediaan awal periode berikutnya. Selama periode akuntansi
berjalan, jika ada pembelian barang dagangan dicatat pada akun “pembelian” dan jika ada
penjualan barang dagangan dicatat pada akun “penjualan”.
1. Sitem Terus Menerus (Perpetual System)
Dalam sistem ini diperlukan adanya pencatatan yang terus menerus mengikuti perubahan atas
persediaan dari awal periode hingga akhir periode akuntansi. Sistem ini cocok digunakan
perusahaan yang menjual barang dagangan dengan nilai tinggi misal TV, mobil.
Pada sistem ini akun “persediaan barang dagangan” dicatat di sisi debet setaip kali ada
pembelian barang dagangan dan akan dicatat di sisi kredit setiap kali ada penjualan barang
dagangan.
1. Retur penjualan dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk mencatat
pengembalian barang yang telah dijual. Akun “retur penjualan dan pengurangan
harga” dicatat di sisi debet sifatnya mengurangi piutang.
2. Beban angkut penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat besarnya beban
angkut yang ditanggung oleh penjual. Akun “beban angkut penjualan” dicatat di sisi
debet, “Kas” di sisi kredit.
3. Persediaan barang dagangan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah
barang dagangan yang ada dalam persediaan perusahaan yang menunggu untuk dijual.
Pencatatannya tergantung pada metode pencatatan persediaan yang digunakan dalam
suatu perusahaan (dibahas pada sub bab berikutnya).
4. Harga pokok penjualan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah harga
pokok barang yang dijual yaitu harga beli ditambah beban-beban yang dikeluarkan
untuk memperoleh barang yang dijual tersebut. Akun “harga pokok penjualan” dicatat
pada akhir periode saat diadakan penyesuaian.
CONTOH LATIHAN SOAL DAN PEMBAHASAN
Proses pencatatan transaksi keuangan ke Jurnal Umum pada perusahaan dagang sama dengan
proses pencatatan transaksi keuangan pada perusahaan jasa yaitu diawalai dengan analisis
transaksi untuk menentukan akun apa saja yang terpengaruh dan harus dicatat di sisi debet
dan kredit. Pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal umum juga harus sistematis dan
kronologis.
Contoh :
Berikut ini transaksi yang dilakukan oleh PD “Amanah” selama bulan april 2006.

April :
1.
secara tunai.

Dijual barang dagangan kepada CV “Aini” seharga Rp. 5.000.000,00

1. Dibeli barang dagangan dari toko “Sekawan” seharga Rp. 3.000.000,00
2. Dibayar sewa gedung untuk 5 bulan Rp. 1.000.000,00
3. Dibeli barang dagangan dari CV Mutiara seharga Rp. 10.000.000,00 faktur no 010
dengan syarat 2/10, n/30
4. Dikembalikan sebagian barang dagangan kepada CV Mutiara karena rusak Rp.
2.000.000,00
5. Dibayar beban angkut barang kepada PT “Rama” sebesar Rp. 600.000,00
6. Dibayar dengan cek no. 511 kepada CV Mutiara sebagai pelunasan faktur no. 010.
7. Dijual barang dagangan kepada toko “Subur” dengan faktur no. 015 seharga Rp.
3.500.000,00 dengan syarat 2/15, n/30.
17. Diterima nota debet dari toko “Subur” untuk pengembalian barang seharga Rp.
500.000,00.
20. Dibeli perlengkapan kantor dari toko “Syakita” Rp. 550.000,00
1. Diterima kiriman uang dari toko “Subur” untuk pelunasan faktur no. 015.
Dari transaksi di atas akan dibuat pencatatan ke dalam Jurnal Umum sebagai berikut :
Tanggal
2006,Apri 1
l

Akun dan Keterangan

Ref Debet (Rp) Kredit (Rp)

KasPenjualan
(Penjualan tunai kepada CV “Aini)

5.000.000

5.000.000

2

PembelianKas
(pembelian tunai kpd CV
“Sekawan”)

3.000.000

3.000.000

4

Sewa dibayar di mukaKas
(dibayar sewa untuk 5 bulan)

1.000.000

1.000.000

5

PembelianUtang gagang
(pembelian kredit dari CV
“Mutiara”)

7

Utang dagangRetur pembelian dan
PH
(pengembalian sebagain barang
dagangan yang dibeli karena rusak)

8

Beban angkutKas
(pembayaran beban angkut kepada
PT “Rama”)

10 Utang dagangKas
Potongan pembelian

10.000.000 10.000.000

2.000.000

2.000.000

600.000

600.000

8.000.000

7.840.000
160.000

(Pembayaran pembelian kredit
dengan potongan)
15 Piutang dagangPenjualan
(Penjualan kredit kepada Toko

3.500.000

3.500.000

Subur ,faktur no.015,syarat
2/15,n/30)
17 Retur penjualan dan PHPiutang
dagang
(Pengembalian barang dan PH)
Tanggal

Akun dan Keterangan

20 SaldoPerlengkapan kantor
Kas

500.000

500.000

Ref Debet (Rp) Kredit (Rp)
34.150.000 34.150.000
550.000

550.000

2.940.000

3.000.000

(Pembelian perlengkapan tunai)
25 KasPotongan penjualan
Piutang dagang

60.000

(penerimaan pembayaran piutang dari
toko “Subur”)
37.150.000 37.150.000

PENGERTIAN AKUNTANSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR - Pengertian

Kegiatan usaha pokok perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan baku hingga menjadi produk
yang siap untuk dijual, kemudian menjual produk yang dihasilkannya untuk memperoleh
keuntungan. Keuntungan / laba yang diperoleh perusahaan manufaktur, pada dasarnya adalah
selisih antara hasil penjualan dan beban usaha lainnya.

Dalam perusahaan manufaktur, barang yang dijual adalah barang yang dibuat sendiri sehingga harga
pokoknya bergantung kepada biaya – biaya yang dikeluarkan untuk pembuatannya. Biaya – biaya
yang bersangkutan kemudian dikenal dengan biaya produksi.

Pengikhtisaran biaya pembuatan produk merupakan bidang khusus dalam akuntansi yang disebut
dengan akuntansi biaya (cost accounting).

Akuntansi biaya, kegiatannya meliputi pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan transaksi –
transaksi yang menyangkut biaya pembuatan produk. Kegiatannya bertujuan untuk menyediakan
laporan biaya produksi untuk memenuhi kepentingan manajemen, antara lain informasi mengenai
harga pokok produk yang dihasilkan

SIRKULASI AKUNTANSI PERUSAHAAN
MANUFAKTUR
Proses akuntansi dalam jenis perusahaan apapun pada dasarnya bertujuan
menyadiakan laporan keungan untuk memenuhi kepentingan manajemen maupun
kepentingan pihak ekstern.Dalam hubungan dengan menyediakan laporan keungan,
sasaran akuntansi adalah transaksi keungan yang dilakukaan oleh perusahaan. Kegiatan
usaha pokok perusahaan manufaktur adalah mengelola bahan baku hingga menjadi
produk yang siap untuk dijual, kemudian menjual produk yang dihasilkanya untuk
memperoleh keuntungan
Keuntungan(laba) yang diperoleh perusahaan manufaktur, pada dasarnya adalah
selisih antara hasil penjualan( penghasilan) dengan harga pokok penjualan dan beban
usah lainya. Dalam perusahaan manufactur barang yang dijual adalah barang yang dibuat
sendiri sehingga harga pokoknya bergantung pada biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
pembuatanya. Biaya-biaya yang bersangkutan kemudian dikenal dengan Biaya Produksi.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan produk, dikelola dengan suatu system
yang antara lain didukung dengan prosedur pencatatan. Pencatatan dan pengikhtasaran
biaya pembuatan produk merupakan bidang khusus dalam akuntansi yang disebut dengan
Akuntansi Biaya( Cost Accounting).
Seperti

disebut

di

atas,

perusahaan

Manufactur

menjual

dihasilakanya untuk memperoleh keuntungan. Terjadinya penghasilan
pada

perubahan

pengihktasaran

aktiva,
transaksi

kewajiban
terjadinya

dan

ekuitas

penghasilan

perusahaan
dan

.

produk

yang

mengakibatkan
Pencatatan

transaksi

lainnya

dan
yang

mengakibatkan perubahan aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan , merupakan bidang
Akuntasi Keuangan ( financial Accounting)
Kesimpulan dari keterangan di atas, dalam hubungan dengan penyediaan laporan keungan,
akuntansi yang diselenggarakan dalam perusahaan manufaktur terdiri atas sebagai
berikut :
1. Akuntasi biaya, kegiatanya meliputi pencatatan, pengikhtisaran dan laporan transaksitransaksi yang menyangkut biaya pembuatan produk.Kegiatanya bertujuan untuk
menyadiakan laporan biaya produksi untuk memenuhi kepentingan manajemen, antara
mengenai informasi harga pokok produk yang dihasilkan.
2.

Akuntansi keuangan kegiatanya meliputi pencatatan, pengikhtisaran dan laporan
transaksi-transaksi

yang

menyangkut

perubahan

aktiva,

kewajiban

perusahaan. Kegiatanya bertujuan menyediakan laporan keuangan

dan

ekuitas

untuk memenuhi

kepentingan manajemen dan pihak ekstern. Dalam pelaksanaanya, kegiatanya akuntansi

keuangan menggunakan data yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya, antara lain
mengenai harga pokok produk dalam penentuan harga pokok penjualan dan nilai sediaan
produk jadi dalam penyusunan neraca.

KELENGKAPAN YANG DIGUNAKAN

Dalam perushaan Manufaktur yang menyelenggarakan akuntansi secara manual,
kelengkapan yang digunakan bergantung pada karakteristik produksi perusahaan yang
bersangkutan. Secara umum meliputi dokumen transaksi, buku jurnal dan buku pembantu
serta peralatan kantor yang digunakan untuk kegiatan menulis, menghitung, mengarsip
dokumen dan kegiatan crerical lainya.

1. Dokumen Transaksi
Formulir yang digunakan dalam perusahaan Manufaktur terdiri atas dokumen transaksi
yang diperlukan dalam aktivitas pengolahan bahan baku menjadi produk yang siap untuk
dijual, dokumen transaksi non produksi seperti penjualan produk, penerimaan piutang ,
pembayaran hutang dan transaksi lainya. Jenis dokumen-dokumen yang digunakan antara
lain

:

a. Faktur pembelian, sebagai transaksi pembelian bahan baku atau bahan pembantu
b. Bukti penerimaan dan pengeluaran barang gudang, sebagai bukti transaksi pemakaian
bahan baku atau bahan pembantu dalam proses produksi
c. Daftar gaji dan upah yang disusun berdasarkan kartu jam kerja, sebagai bukti pemakaian
tenega kerja dalam proses produksi
d. Laporan produk selesai sebagai bukti pencatatan harga pokok produk jadi untuk
ditransfer ke gudang produk jadi
e. Faktur penjualan sebagai bukti transaksi penjualan produk yang dihasilkan
f. Bukti pengeluaran kas sebagai bukti transaksi pembayaran hutang gaji, dan pembayaran
lainya
g. Bukti penerimaan kas sebagai bukti penerimaan kas dari piutang, dari penjualan tunai,
dan penerimaan kas dari transaksi lainya

2. Buku-buku yang Digunakan
Buku dan kartu yang digunakan untuk pencatatan aktivitas produksi maupun aktivitas non
produksi antara lain:
a. Jurnal pembelian untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku , dan barang-barang
lainya
b. Jurnal pemakaian bahan baku dan bahan pembantu, untuk pencatatan pemakaian bahan
baku dan bahan pembantu dalam proses produksi
c. Kartu hadir, kartu jam kerja, daftar gaji dan upah
d. Jurnal penjualan untuk mencatat transaksi penjualan produk yang dihasilkan
e. Jurnal penerimaan kas dan pengeluaran kas
f. Buku besar sebagai tempat menggolongkan dan mengikhtisarkan transaksi, baik transaksi
yang menyangkut produksi maupun non produksi

3. Akun-akun Buku Besar yang Digunakan
Siklus akuntansi perusahaan Manufaktur pada dasarnya sama dengan siklus akuntansi
jenis perusahaan lainya. Transaksi dicatat dalam jurnal, posting dalam buku besar, data
buku besar diikhtisarkan, kemudian dilaporkan. Pencatatan pada umumnya menggunakan
system perpetual. Sesuai dengan karakteristitik kegiatan usaha Manufaktur, akun-akun
buku besar yang digunakan meliputi akun-akun yang berhubungan dengan pencatatan
biaya produksi dan akun-akun yang secara umum digunakan pada perusahaan lainya,
seperti akun kas, hutang dan sebagainya. Akun- akun yang berhubungan dengan biaya
produksi antara lain :
a. Akun Sediaan Bahan Baku , sebagai tempat mencatat pembelian bahan baku
b. Akun Gaji dan Upah, sebagai tempat mencatat gaji dan upah yang terjadi dalam suatu
periode, baik gaji dan upah bagian produksi maupun bagian penjualan dan administrasi
umum
c. Akun Biaya Overhead Pabrik(BOP), sebagai tempat menampung biaya-biaya produksi
selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung( Biaya produksi tidak langsung
d. Akun Barang Dalam Proses (BDP), sebagai tempat menampung biaya produksi yang
terjadi dalam suatu periode, akun tersebut dapat dirinci menjadi akun BDP-Biaya Bahan
Baku, BDP-Biaya Tenaga Kerja, BDP-Biaya Overhead Pabrik
e. Akun Sediaan Produk Jadi, sebagai tempat mencatat harga pokok produk selesai
diproses
f. Akun Sediaan Barang Dalam Proses, sebagai tempat mencatat harga pokok barang yang
belum selesai diproses pada akhir periode

g. Akun Harga Pokok Penjualan, sebagai tempat mencatat harga pokok produk yang dijual.

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Perusahaan Manufaktur yang tidak begitu besar dan sederhana proses produksinya, kadangkadang menggunakan system akuntasi yang sederhana yang didasarkan pada system
persediaan periodic, pencatatan persediaan yang digunakan dalam proses produksi, penentuan
barang yang masih dalam proses, dan barang yang telah terjual, didasarkan pada perhitungan
fisik periodik yang biasanya dilakukan pada akhir tahun.
Perusahaan manufaktur yang lebih besar, lebih-lebih bila proses produksinya yang kompleks,
biasanya menggunakan system akuntasi yang didasarkan pada persediaan perpetual. System
akuntansi untuk operasi manufaktur yang didasarkan pada persediaan perpetual disebut
system akuntansi biaya (cost aconting system). System ini dapat menghasilkan informasi
tentang harga pokok produksi per unit dan lebih efektif dalam membantu manajemen dalam
pengawasan biaya.
PERSEDIAN POKOK AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG AKUNTANSI
UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR.
Perbedaan yang terdapat dalam akuntansi untuk perusahaan manufaktur dengan perusahaan
dagang, disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sifat operasi. Ciri-ciri sifat perusahaan
dagang adalah menjual barang dagangannya tanpa mengelolah lebih dahulu barang yang
dibelinya. Operasi perusahaan manufaktur tidak sesederhana perusahaan dagang, karena
perusahaan manufaktur membuat sendiri barang yang akan di jualnya. Perusahaan
manufaktur harus menggabungkan harga bahan yang dipakai, dengan biaya tenaga kerja dan
biaya produksi lain untuk dapat menentukan harga pokok barang yang siap untuk dijual.
ELEMEN-ELEMEN BIAYA PRODUKSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR.
perusahaan manufaktur biasanya meneluarkan berbagai macam biaya dalam proses
produksinya yang telah dikelompokan menjadi beberapa golongan antaranya adalah sebagai
berikut :
1.Bahan Langsung
2.Tenaga Kerja Langsung
3.Overhead Pabrik.
HARGA POKOK PRODUK DAN BIAYA PERIODE.
Dalam perusahaan manufaktur terjadi baik biaya periode maupun pokok produk. Harga poko
produk dikeluarkan untuk tujuan mndapatkan barang dagangan atau menghasilkan produk
jadi. Karena harga pokok produk terjadi dalam usaha mendapatkan aktiva, maka pengeluaran
tersebut membentuk harga perolehan aktiva.
Biaya periode erat hubungannya dengan periode waktu terjadinya pengeluaran biaya.
Pengeluaran ini tidak langsung berhubungan dengan proses menghasilkan produk. Oleh
karena itu biaya periode dibebankan sebagai biaya pada periode pada terjadinya biaya
tersebut. Termasuk dalam biaya periode adalah biaya penjualan dan biaya umum &
administrasi.
REKENING-REKENING KHUSUS DALAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR.

Rekening-rekening dalam buku besar sebuah perusahaan perusahaan manufaktur biasanya
lebih banyak bila dibandingkan dengan rekening buku besar sebuah perusahaan dagang. Hal
ini disebabkan oleh sifat operasi perusahaan manufaktur yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan perusahaan dagang. Berikut adalah beberapa rekening yang biasa
dijumpai dalam perusahaan manufaktur :
1.Rekening pembelian bahan baku
2.Rekening ikhtisar biaya produksi
3.Rekening persediaan bahan baku
4.rekening persediaan barang dalam proses
5.rekening persediaan barang jadi
LAPORAN RUGI LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR.
Laporan rugi laba pada perusahaan manufaktur sama dengan laporan rugi-laba pada
perusahaan dagang. Keduannya melaporkan pendapatan (penjualan), biaya penjualan dan
biaya umum & administrsi. Dala laporan rugi-laba perusahaan manufaktur, “Pembelian”
diganti dengan “Harga Pokok Produksi” dan “Persedian Barang Dagangan” diganti dengan
“Persedian Barang Jadi”.
Untuk memberikan informasi yang lengkap, biasanya laporan rugi-laba fiberi lampiran yang
berupa Laporan Harga Pokok Produksi, dan bila perlu kadang-kadang dilampiran juga denga
Daftar biaya Overhead pabrik. Hubungan antara laporan rugi-laba dengan laporan harga
pokok produksi dan daftar biaya overhead.
NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR.
Neraca lajur dibuat peerusahaan denga tujuan :
1.Untuk melihat pengaruh penyesuaian atas rekening-rekening sebelum membuat
penyesuaian dalam jurnal dan membukukannya ke dalam rekening yang bersangkutan.
2.Memisah-misahkan rekening-rekening (setelah disesuaikan) berdasarkan laoporan yang
akan terjadi tempat pelaporan masing-masing rekening.
3.menghitung dan menguji ketelitian perhitungan laba bersih.
Penyusunan neraca lajur pada perusahaan manufaktur dimulai dengan memasukan saldosaldo rekening yang belum disesuaikan ke dalam kolom “neraca saldo”. Selanjutnya
dimasukan juga penyesuaian yang diperlukan pada kolom “Penyesuaian”.

Pengertian Akuntansi Biaya, konsep Biaya, dan Klasifikasi Biaya
Pengertian Akuntansi Biaya
akuntansi biaya adalah proses pencatatan dan penggolongan, peringkasan dan
penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta
penafsiran terhadapnya.
Konsep Biaya

Seringkali istilah biaya (cost) digunakan sebagai sinonim dari beban(expense), walaupun
Sebenarnya keduanya berbeda.
Biaya (cost) didefinisikan sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh
manfaat.
Beban(expense) adalah aliran keluar terukur dari barang atau jasa yang kemudian
ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba atau semua biaya yang sudah habis
masa berlakunya yang dapat dikurangkan dari pendapatan.

Klasifikasi Biaya
1. Klasifikasi biaya berdasarkan pada Hubungan Biaya dengan Produk
A. Biaya Manufakrtur
Biaya Bahan Baku Langsung
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya Overhead Pabrik.
Bahan baku tidak langsung
Tenaga Kerja tidak langsung
B. Biaya komersial
Meliputi biaya pemasaran (biaya promosi, biaya penjualan, biaya pengiriman)
dan biaya administrasi dan umum.
Beban pemasaran
Beban administartif
2. Klasifikasi biaya berdasarkan pada Hubungan dengan Volume Produksi
Biaya Tetap (fixed cost)

Biaya Variabel (variable cost)
Biaya semi variable
3. Klasifikas biaya berdasarkan Dept Produksi/Segmen Lain
Biaya Langsung Departemen
Biaya tidak langsung departemen
Biaya bersama (common cost)
Biaya gabungan (join cost)
4. Klasifikas biaya Periode Akuntansi
Pengeluaran Modal (capital expenditure)
Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditure)
5. Klasifikas biaya berdasarkan Suatu Keputusan, Tindakan, atau Evaluasi
Biaya Differensial
Biaya oportunitas
Biaya tertanam
Biaya yang tak dapat dihindari

A. Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya merupakan bagian yang integral dengan financial
accounting. Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang
merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi
biaya secara sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam bentuk
laporanbiaya.
Biaya (cost) berbeda dengan beban (expense), cost adalah pengorbanan
ekonomis yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan
beban (expense) adalah expired cost yaitu pengorbanan yang diperlukan
atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban ini dikaitkan dengan revenue
pada periode yang berjalan. Pengorbanan yang tidak ada hubungannya
dengan perolehan aktiva, barang atau jasa dan juga tidak ada

hubungannya dengan realisasi hasil penjualan, maka tidak digolongkan
sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan sebagai loss.
B. Manfaat AkuntansiBiaya
Tujuan atau manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu
informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan,
yaitu untuk :
1. Perencanaan dan Pengendalian Laba. Akuntansi biaya menyediakan
informasi atau data biaya masa lalu yang diperlukan untuk menyusun
perencanaan, dan selanjutnya atas dasar perencanaan tersebut,
biaya dapat dikendalikan dan akhirnya pengendalian dapat dipakai
sebagai umpan balik untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa. Penetapan harga pokok
akan dapat membantu dalam : (a) penilaian persediaan baik
persediaan barang jadi maupun barang dalam proses, (b) penetapan
harga jual terutama harga jual yang didasarkan kontrak, walaupun
tidak selamanya penentuan harga jual berdasarkan harga pokok, (c)
penetapan laba.
3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen.

C.Klasifikasi Biaya
Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan
untuk berbagai tujuan, sehingga penggolongan biaya juga didasarkan atas
disesuaikan dengan tujuan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk menggolongkan biaya diantaranya :

1. BerdasarkanFungsi Pokok Perusahaan
a. Factory Cost (Biaya Produksi)




Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost)
Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
Biaya Tidak Langsung (Factory Overhead)

b. Commercial Expense (Operating Expense)



Marketing and Selling Expense
General & Administration Expense

2. Berdasarkan Periode Akuntansi


Capital Expenditure (Pengeluaran Modal). Pengeluaran ini akan
memberi manfaat pada beberapa periode akuntansi. Jenis
pengeluaran ini dikapitalisir dan dicantumkan sebagai harga



perolehan. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai capital
expenditure jika pengeluaran ini memberi manfaat lebih dari satu
periode akuntansi, jumlahnya relatif besar, dan pengeluaran ini
sifatnya tidak rutin.
Revenue Expenditure (Pengeluaran Penghasilan). Pengeluaran ini
akan memberi manfaat pada periode akuntansi dimana pengeluaran
ini terjadi. Pengeluaran ini menjadi beban pada periode tersebut, dan
dicantumkan dalam income statement. Suatu pengeluaran
dikelompokkan sebagai revenue expenditure jika pengeluaran
tersebut memberi manfaat pada periode terjadinya pengeluaran
tersebut, jumlahnya relatif kecil, dan umumnya pengeluaran ini
sifatnya rutin.

3. BerdasarkanPengaruh Manajemen Terhadap Biaya




Biaya Terkendali (Controllable Cost). Adalah biaya yang secara
langsung dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkatan tertentu
dalam jangka waktu tertentu.
Biaya Tidak Terkendali (Uncontrollable Cost). Adalah biaya yang tidak
dapat dipengaruhi oleh seorang manajer atau pejabat tingkatan
tertentu.

4. KarakteristikBiaya Dihubungkan Dengan Keluarannya





Biaya Engineered. Adalah elemen biaya yang mempunyai hubungan
fisik yang eksplisit dengan output.
Biaya Discretionary. Biaya ini disebut juga managed cost atau
programmed cost adalah semua biaya yang tidak mempunyai
hubungan yang akurat dengan output.
Biaya Commited atau biaya kapasitas. Adalah semua biaya yang
terjadi dalam rangka untuk mempertahankan kapasitas atau
kemampuan organisasi dalam kegiatan produksi, pemasaran dan
administrasi.

5. PengaruhPerubahan Volume Kegiatan Terhadap Biaya




Biaya Tetap. Yaitu biaya yang jumlah tidak dipengaruhi oleh
perubahan volume kegiatan sampai pada tingkatan tertentu. Biaya
tetap perunit berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume
kegiatan.
Biaya Variabel. Biaya variabel mengasumsikan hubungan linear antara
biaya aktifitas tersebut. Biaya variabel yaitu biaya yang jumlah
totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume
kegiatan, semakin besar volume kegiatan maka semakin besar pula
jumlah total biaya variabel.



Biaya Semi Variabel. Yaitu biaya dimana jumlah totalnya berubah
sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat
perubahannya tidak sebanding/proporsional.

6. BerdasarkanObjek yang dibiayainya



Biaya Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat
diidentifikasi kepada objek atau pusat biaya tertentu.
Biaya Tidak Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak
dapat diidentifikasi pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya
yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya.

D. SistemAkuntansi Biaya
Sistem akuntansi biaya (cost system) dapat dikelompokkan menjadi dua
sistem yaitu :
1. Actual Cost System (Sistem Harga Pokok Sesungguhnya). Yaitu system
pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang
dihasilkan sesuai dengan harga pokok yang sesungguhnya dinikmati.
Pada sistem ini, harga pokok produksi baru dapat dihitung pada akhir
periode setelah biaya sesungguhnya dikumpulkan.
Standard Cost System (Sistem Harga Pokok Standar). Yaitu sistem
pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan
sebesar harga pokok yang telah ditentukan/ditaksir sebelum suatu produk
atau pesanan dikerjakan.

AKUNTANSI BIAYA DAN PENGERTIAN BIAYA
Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Manajemen
Secara garis besar akuntansi dapat dibagi menjadi dua tipe pokok, yaitu
akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan
menghasilkan informasi terutama untuk memenuhi kebutuhan pihak luar,
sedangkan akuntansi manajemen menghasilkan informasi terutama untuk
memenuhi kebutuhan para manajer dari berbagai jenjang organisasi.
Oleh karena perbedaan karakteristik pemakai informasinya, akuntansi
keuangan dan akuntansi manajemen mempunyai perbedaan karakteristik.
Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan mencakup perusahaan
secara keseluruhan, berorientasi pada masa yang lalu, mempunyai rentang
waktu yang kurang fleksibel, dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim,
ringkas, teliti, sama sekali tidak menyangkut aspek perilaku manusia dalam
organisasi, serta bersumber pada ilmu ekonomi. Informasi yang dihasilkan
oleh akuntansi manajemen mencakup bagian dari perusahaan, berorientasi
pada masa yang akan datang, mempunyai rentang waktu yang fleksibel
tidak dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim, terinci, memiliki unsur taksiran

yang besar, berhubungan langsung dengan perilaku manusia dalam
organisasi, dan bersumber pada ilmu ekonomi dan psikologi sosial.
Pemahaman karakteristik kedua tipe akuntansi tersebut akan membantu
Anda memahami karakteristik akuntansi biaya.

Akuntansi Biaya Merupakan Bagian DariAkuntansi Keuangan Dan
Akuntansi Manajemen
Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan
dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan
cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya.
Akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya untuk memenuhi berbagai
macam tujuan. Untuk tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi
biaya menyajikan biaya yang telah terjadi di masa yang lalu. Untuk tujuan
pengendalian biaya, akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang
diperkirakan akan terjadi dengan biaya yang sesungguhnya terjadi,
kemudian menyajikan analisis terhadap penyimpangannya. Untuk tujuan
pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya menyajikan biaya yang
relevan dengan keputusan yang akan diambil, dan biaya yang relevan
dengan pengambilan keputusan khusus ini selalu berhubungan dengan
biaya masa yang akan datang.
Akuntansi biaya dapat berperan sebagai bagian dari akuntansi keuangan.
Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi
keuangan seperti yang telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1. Akuntansi
biaya dapat pula berperan sebagai bagian dari akuntansi manajemen.
Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi
manajemen, seperti telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1.

Biaya
Biaya merupakan objek yang diproses oleh akuntansi biaya. Dalam arti luas
biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan
tertentu.
Tidak semua pengorbanan sumber ekonomi disebut dengan istilah biaya.
Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan pengorbanan sumber
ekonomi, baik yang sudah terjadi maupun yang secara potensial akan
terjadi adalah harga pokok dan rugi.

Struktur Organisasi Dan Proses Produksi Suatu Perusahaan
Manufaktur
Akuntansi biaya dapat diterapkan baik dalam perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Dalam Modul 1 sampai dengan Modul 9,
akuntansi biaya yang akan dibahas adalah akuntansi biaya yang diterapkan
dalam perusahaan manufaktur.
Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang kegiatan pokoknya
mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan memasarkan hasil

produksinya tersebut. Ada tiga fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
manufaktur: fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan
umum.
Bagian-bagian yang dibentuk untuk melaksanakan fungsi produksi di bagi
menjadi dua kelompok: bagian-bagian yang mengolah secara langsung
bahan baku menjadi produk jadi dan bagian-bagian yang membantu
menyediakan jasa untuk memperlancar proses pengolahan bahan baku
departemen-departemen produksi dan kelompok kedua disebut
departemen-departemen pembantu (jasa).
Cara Penggolongan Biaya
Biaya dapat dikelompokkan menjadi berbagai macam kelompok biaya
sesuai dengan kebutuhan pemakai. Pengelompokan biaya yang paling
sederhana dan paling mendasar, yang selalu dilakukan oleh setiap
perusahaan adalah pengelompokan biaya menurut objek pengeluaran.
Biaya dapat dikelompokkan menurut fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan,
menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai, menurut
perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan dan
menurut jangka waktu manfaatnya.

Metode Pengumpulan Harga Pokok Produk
Secara garis besar proses pengolahan produk dalam perusahaan
manufaktur dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: proses produksi
berdasar pesanan dan proses produksi massa. Perusahaan yang proses
produksinya berdasar pesanan mengumpulkan biaya produksinya dengan
metode harga pokok pesanan. Perusahaan yang proses produksinya berupa
produksi massa mengumpulkan biaya produksinya dengan metode harga
pokok proses.
Laporan laba-rugi perusahaan manufaktur dan laporan laba-rugi
perusahaan dagang berbeda elemen yang tercantum di dalamnya.
Sistem Akuntansi Biaya
Secara garis besar sistem akuntansi biaya dibagi menjadi tiga, yaitu (1) sistem
biaya sesungguhnya, (2) sistem biaya normal, dan (3) sistem biaya standar.
Sistem biaya sesungguhnya adalah sistem pembebanan biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik pada produk
berdasar biaya sesungguhnya. Sistem biaya normal adalah sistem
pembebanan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung pada
produk berdasar biaya sesungguhnya, sedangkan biaya overhead pabrik
berdasar tarif yang ditentukan di muka. Sistem biaya standar adalah sistem
pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik pada produk berdasar biaya seharusnya.

Metode Pembiayaan (Costing)
Perusahaan dapat menggunakan dua metode costing yaitu: (1) metode
costing penuh, dan (2) metode costing variabel. Metode costing penuh

memasukkan semua biaya produksi ke dalam biaya produk, sedangkan
metode costing variabel hanya memasukkan biaya produksi variabel ke
dalam biaya produk. Metode costing penuh menggunakan pendekatan
fungsional untuk menyusun laporan laba-rugi, sedangkan metode costing
variabel menggunakan pendekatan variabilitas. Metode costing penuh
digunakan oleh pihak eksternal, sedangkan metode costing variabel banyak
digunakan oleh pihak internal perusahaan.

METODE HARGA POKOK PESANAN
Siklus Akuntansi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur
Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan
usaha perusahaan yang bersangkutan. Siklus kegiatan perusahaan dagang
dimulai dengan pembelian barang dagangan dan tanpa melalui
pengolahan lebih lanjut, diakhiri dengan penjualan kembali barang
dagangan tersebut. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya juga
dimulai dengan pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli
dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang yang dijual. Siklus
perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan berakhir
dengan penyerahan jasa kepada pemakainya. Dalam perusahaan tersebut,
siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan biaya persiapan
penyerahan jasa dan berakhir dengan disajikannya harga pokok jasa yang
diserahkan. Siklus perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan
bahan baku di bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk
jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya
dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan
dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsikan untuk produksi
serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang
diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.

Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan
Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses
produksinya sesuai dengan spesifikasi pemesan, dan proses produksinya
terputus-putus untuk memenuhi pesanan. Karakteristik kegiatan perusahaan
ini menentukan karakteristik metode harga pokok pesanan yang digunakan
untuk mengumpulkan biaya produksi dalam perusahaan tersebut.
Akuntansi biaya banyak sekali menggunakan rekening pembantu yang
diawasi dengan membentuk rekening kontrol biaya dalam buku besar.
Rekening kontrol yang digunakan untuk menampung biaya produksi adalah
rekening-rekening: Barang dalam Proses, Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya dan Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan. Rekening
kontrol untuk menampung biaya nonproduksi adalah rekening-rekening:

Biaya Administrasi dan Umum dan Biaya Pemasaran. Untuk merinci biaya
yang dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu digunakan kartu
harga pokok produk, yang berfungsi sebagai rekening pembantu rekening
Barang dalam Proses yang terdapat dalam buku besar.

Metode Harga Pokok Pesanan
Dalam metode harga pokok proses, biaya produksi dibagi menjadi dua
kelompok: biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung.
Biaya produksi langsung dibebankan kepada pesanan berdasarkan biaya
yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tak langsung
dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
Untuk mencatat biaya produksi, baik yang langsung maupun tak langsung,
di dalam buku besar disediakan rekening Barang Dalam Proses. Untuk
merinci biaya produksi yang dicatat dalam rekening Barang Dalam Proses
tersebut, dibentuk rekening pembantu berupa Kartu Harga Pokok.

BIAYA OVERHEAD PABRIK
Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
Perusahaan yang melaksanakan aktivitas suatu produk akan dibebani biaya
overhead pabrik di samping biaya-biaya lain yang lebih penting. Hal ini
biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik menurut
sifatnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu biaya
bahan penolong, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya tenaga kerja tak
langsung, beban biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap
aktiva tetap, beban biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu,
dan biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan
pengeluaran uang tunai.
Apabila ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam
hubungannya dengan perubahan volume kegiatan maka biaya overhead
pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu biaya overhead pabrik
tetap, Biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik
semivariabel.
Adapun unsur biaya overhead pabrik yang bersifat semivariabel dalam
keperluan penentuan tarif dan pengendalian biaya, hal ini dapat dipecah
menjadi dua yaitu: biaya tetap dan biaya variabel.
Perusahaan di samping memiliki departemen produksi, juga mempunyai
departemen-departemen pembantu. Dari hubungan antar departemen
yang ada dalam pabrik maka biaya overhead pabrik dikelompokkan
menjadi dua, yaitu biaya overhead pabrik langsung departemen dan biaya
overhead pabrik tak langsung departemen.

Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan, biaya overhead
pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.
Alasan penggunaan tarif yang ditentukan di muka untuk memperhitungkan
biaya overhead pabrik ke dalam harga pokok produk adalah kebutuhan
manajemen akan informasi harga pokok produk yang tidak dipengaruhi oleh
adanya: perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara,
perubahan tingkat efisiensi produksi, terjadinya biaya overhead yang bersifat
sporadik, dan adanya biaya overhead yang terjadinya hanya pada saatsaat tertentu saja. Di samping itu, dalam perusahaan yang produksinya
berdasarkan pesanan, manajemen memerlukan informasi harga pokok
produk per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan, sedangkan
beberapa elemen biaya overhead pabrik ada yang baru dapat diketahui
jumlahnya dengan pasti pada akhir periode. Dengan demikian,
penggunaan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka untuk
membebankan jenis biaya tersebut kepada produk, merupakan sesuatu
keharusan.
Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk menghitung tarif biaya overhead
pabrik, yaitu menyusun anggaran biaya overhead pabrik, memilih dasar
pembebanan, dan menghitung tarif biaya overhead pabrik. Dasar yang
dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada
produk adalah satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung, jam tenaga kerja langsung dan jam mesin.

Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Dan Analisis
Selisih Biaya Overhead Pabrik
Setelah tarif biaya overhead pabrik ditentukan, produk yang diproduksi
dalam tahun anggaran dibebani biaya overhead pabrik dengan tarif
tersebut. Dalam tahun anggaran tersebut dikumpulkan biaya overhead
pabrik yang sesungguhnya terjadi. Pada akhir tahun, biaya overhead yang
dibebankan kepada produk berdasarkan tarif dibandingkan dengan biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Selisih yang terjadi antara biaya
overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan tarif dengan biaya
overhead yang sesungguhnya terjadi dianalisis menjadi dua macam selisih:
selisih anggaran dan selisih kapasitas. Selisih tersebut pada akhir tahun
diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap rekening-rekening persediaan
dan harga pokok penjualan atau diperlakukan sebagai penyesuaian
perhitungan laba-rugi.

DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK
Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Per
Departemen

Untuk pengendalian biaya dan penentuan harga pokok produk secara teliti,
perlu diadakan departementalisasi biaya overhead pabrik dan ditentukan
tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi. Penentuan tarif biaya
overhead pabrik per departemen ini sangat diperlukan dalam perusahaan
yang produksinya berdasarkan pesanan, yang produknya diolah melalui
lebih dari satu departemen produksi. Pada dasarnya penentuan tarif biaya
overhead pabrik per departemen tidak berbeda langkahnya dengan
penentuan tarif tunggal untuk seluruh pabrik. Masalah yang perlu mendapat
perhatian dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen
adalah alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke
departemen pembantu lainnya dan ke departemen produksi. Secara garis
besar alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen
produksi dapat dikelompokkan menjadi dua macam: metode alokasi
langsung dan metode alokasi bertahap. Metode alokasi langsung dibahas
dalam Kegiatan Belajar 1 ini, sedangkan metode alokasi bertahap dibahas
dalam Kegiatan Belajar 2 dan Kegiatan Belajar 3.

Metode Alokasi Bertahap Yang Memperhitungkan Jasa Timbal
Balik Antardepartemen Pembantu
Dalam Kegiatan Belajar 2 ini Anda telah mempelajari bagaimana
mengalokasikan biaya overhead pabrik dengan memperhitungkan jasa
timbal balik yang dikonsumsi oleh departemen pembantu. Metode yang
digunakan untuk memperhitungkan transfer jasa timbal balik
antardepartemen pembantu tersebut adalah metode alokasi kontinu dan
metode aljabar. Dua metode tersebut akan menjamin perhitungan tarif
alokasi biaya departemen pembantu yang lebih teliti. bila dibandingkan
Dengan metode alokasi langsung yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan
Belajar 1.

Metode Alokasi Bertahap Yang Tidak Memperhitungkan Transfer
Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Dalam Kegiatan Belajar 3 Anda telah mempelajari secara lengkap
mengenai bagaimana mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen
pembantu ke departemen pembantu lain dan departemen produksi tanpa
memperhitungkan jasa timbal balik antardepartemen pembantu,
perhitungan tarif biaya overhead per departemen produksi, perhitungan
pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik. Dengan demikian
Anda telah mempelajari secara lengkap saluran aspek akuntansi biaya
overhead pabrik dan sudah siap untuk mempelajari akuntansi elemen harga
pokok produk yang lain, yang akan saya sajikan dalam Modul 5 (Akuntansi
Biaya Bahan dan Akuntansi biaya Tenaga kerja).

BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA

Elemen Biaya yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku yang
Dibeli
Menurut prinsip akuntansi yang lazim, semua biaya yang terjadi untuk
memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan
siap untuk diolah, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli.
Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli yang tercantum dalam faktur
dari penjual ditambah biaya angkutan, biaya-biaya pembelian lain serta
biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam
keadaan siap untuk diolah.
Biaya angkutan dapat diperlakukan dengan dua cara; diperhitungkan
sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli atau diperlakukan
sebagai elemen biaya overhead pabrik. Biaya angkutan diperhitungkan
sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli dengan dasar
perbandingan kuantitas, perbandingan harga faktur atau dengan tarif yang
ditentukan di muka.
Dalam memperhitungkan biaya-biaya unit organisasi yang terkait dalam
perolehan bahan baku, perusahaan membuat tarif pembebanan biaya
pembelian untuk dibebankan kepada bahan baku yang dibeli.

Penentuan Harga Pokok Bahan Baku Yang Dipakai Dalam
Produksi
Bahan baku yang disimpan di gudang berasal dari berbagai pembelian,
yang kemungkinan besar mempunyai harga per satuan yang berbeda dari
pembelian yang satu ke pembelian yang lain. Hal ini menimbulkan masalah
pemilihan harga pokok per satuan bahan baku yang dipakai dalam
produksi, metode penentuan harga pokok bahan yang dipakai dalam
produksi adalah: metode identifikasi khusus, metode rata-rata bergerak,
MTKP, metode biaya standar, metode rata-rata harga pokok bahan baku
pada akhir bulan.
Pencatatan persediaan bahan baku dapat dilakukan dengan metode
mutasi persediaan atau metode persediaan fisik.

Masalah-Masalah Khusus Yang Berhubungan Dengan Bahan Baku
Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi
sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak
mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok per
satuan produk jadi menjadi lebih tinggi. Jika sisa bahan masih mempunyai
nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil
penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat
diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan yang
menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurang biaya overhead
pabrik yang sesungguhnya terjadi atau sebagai pendapatan di luar usaha.

Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah
ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk
yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk rusak adalah
bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul dari adanya produk rusak
tersebut. Kerugian adanya produk rusak dapat dibebankan kepada
pesanan yang menghasilkannya atau diperhitungkan sebagai elemen biaya
overhead pabrik.
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah
ditetapkan, namun dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk
memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan
lagi menjadi produk jadi yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari
adanya produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya
pengerjaan kembali produk cacat tersebut. Biaya pengerjaan kembali
produk cacat dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkan
produk cacat tersebut atau diperlukan sebagai elemen biaya overhead
pabrik.

Pengertian Biaya Tenaga Kerja Dan Cara Penggolongannya
Dalam perusahaan biaya tenaga kerja digolongkan dengan berbagai
macam cara: menurut fungsinya pokok dalam perusahaan, menurut
kegiatan bagian-bagian dalam perusahaan, menurut jenis pekerjaan, dan
menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan.
Akuntansi biaya tenaga kerja melalui empat tahap: pencatatan distribusi
biaya tenaga kerja, pencatatan utang upah, pencatatan pembayaran
upah kepada karyawan yang berhak, dan penyetoran pajak penghasilan
karyawan ke Kas Negara.

METODE HARGA POKOK PROSES PENGANTAR
Metode harga pokok proses tanpa memperhitungkan persediaan
produk dalam proses awal
Metode harga pokok proses diterapkan untuk mengolah informasi biaya
produksi dalam perusahaan yang produksinya dilakukan secara massa.
Metode harga pokok proses berbeda dengan metode harga pokok
pesanan dalam hal pengumpulan biaya produksi, perhitungan harga pokok
per satuan, klasifikasi biaya produksi, pengelompokan biaya yang
dimasukkan dalam elemen biaya overhead pabrik.
Masalah pokok yang terdapat dalam metode harga pokok proses adalah
bagaimana menentukan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke
Departemen produksi berikutnya atau ke gudang dan bagaimana
menentukan harga pokok produk yang pada akhir periode masih dalam
proses di suatu departemen untuk menentukan harga pokok tersebut,
diperlukan perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan
oleh suatu departemen untuk menghitung biaya per satuan produk yang
dihasilkan oleh suatu departemen, perlu ditentukan unit ekuivalensi. Unit

ekuivalensi ini dipengaruhi oleh jumlah produk selesai yang ditransfer ke
departemen pada akhir periode, dan ada tidaknya produk yang hilang
dalam proses

METODE HARGA POKOK PROSES LANJUTAN
Persediaan Produk Dalam Proses Awal
Harga pokok produk dalam proses awal menimbulkan masalah penentuan
harga pokok produk selesai yang ditransfer dari suatu departemen ke
departemen produksi berikutnya atau ke gudang. Untuk mengatasi masalah
tersebut ada dua metode penentuan harga pokok: metode harga pokok
rata-rata tertimbang dan metode masuk pertama, ke luar pertama.
Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, tiap elemen harga pokok
yang melekat pada produk dalam proses dijumlahkan dengan elemen
biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang untuk menghitung
harga pokok rata-rata tertimbang. Kemudian, harga pokok rata-rata
tertimbang ini dikaitkan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer ke
departemen berikutnya atau ke gudang untuk menentukan harga pokok
produk tersebut.
Dalam metode masuk pertama ke luar pertama, harga pokok produk dalam
proses awal merupakan harga pokok pertama yang membentuk harga
pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
Tambahan bahan baku di departemen setelah departemen produksi yang
pertama mempunyai dua kemungkinan: menambah jumlah produk yang
dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan atau tidak menambah
jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan. Jika
bahan baku tersebut tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam
departemen yang bersangkutan, tambahan biaya bahan baku tersebut
hanya menambah biaya bahan baku per satuan dalam departemen
tersebut. Jika bahan baku tersebut menambah jumlah produk yang
dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan, tambahan bahan baku
tersebut akan berakibat terhadap penyesuaian harga pokok per satuan
produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan tambahan biaya
bahan baku per satuan dalam departemen setelah departemen produksi
pertama.

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN
PRODUK SAMPINGAN
Biaya Bersama
Untuk kepentingan penentuan penghasilan dan perhitungan harga pokok
persediaan, biaya bersama perlu dialokasikan kepada produk bersama.
Empat, metode alokasi biaya bersama kepada produk bersama adalah:
metode nilai jual relatif, metode satuan fisik, metode rata-rata biaya per
satuan, dan metode rata-rata tertimbang. Oleh KARENA produk sampingan
merupakan produk yang mempunyai nilai jual relatif jauh lebih rendah
dibandingkan dengan produk utamanya maka ada dua kelompok metode
perlakuan terhadap produk sampingan. Kelompok metode yang pertama

tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk
sampingan karena rendahnya nilai jual produk sampingan tersebut,
sedangkan kelompok metode kedua berusaha mengalokasikan biaya
bersama kepada produk sampingan.

SISTEM BIAYA STANDAR DAN PENENTUAN HARGA POKOK
VARIABEL
Definisi Dan Deskripsi Sistem Biaya Standar
Sistem biaya standar merupakan proses untuk menentukan biaya di muka
yang mencerminkan biaya yang seharusnya untuk mengolah produk atau
jasa, mengumpulkan biaya sesungguhnya, menghitung dan menganalisis
selisih, serta perlakuan selisih biaya yang timbul.
Beberapa manfaat yang diperoleh dengan pemakaian sistem biaya
standar, antara lain untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

perencanaan kegiatan;
koordinasi kegiatan antarbagian;
pengambilan keputusan;
pengendalian biaya;
memungkinkan penerapan prinsip pengecualian;
penentuan insentif para personal, serta
mengurangi biaya administrasi.

Prosedur Akuntansi Biaya Standar, Analisis Selisih Komposisi dan
Selisih Hasil
Ada dua prosedur akuntansi biaya standar yakni pertama, metode
rancangan tunggal (single plan) dan kedua, metode rancangan berat
sebelah atau metode rancangan parsial (partial plan).
Apabila menggunakan metode single plan maka ketentuannya adalah
sebagai berikut:
1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan
kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam
proses sebesar standarnya sehingga selisih biaya harus dihitung dan
dianalisis terlebih dahulu;
3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam
proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya;

4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening
barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses
sebesar standarnya.
Apabila digunakan metode partial plan maka ketentuannya adalah
sebagai berikut:
1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan
kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam
proses sebesar biaya sesungguhnya;
3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam
proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya;
4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening
barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses
sebesar standarnya; serta
5. selisih biaya harus dihitung dan dianalisis pada akhir periode dari
perbedaan sebelah debet dengan sebelah kredit rekening barang
dalam proses.

Perbedaan Harga Pokok Penuh Dan Harga Pokok Variabel
Penentuan harga pokok variabel bermanfaat untuk pengendalian
manajemen dalam jangka pendek, khususnya untuk perencanaan,
pembuatan keputusan, dan pengendalian. Metode harga pokok penuh
memasukkan semua elemen biaya produksi, baik tetap maupun variabel, ke
dalam harga pokok produk. Metode harga pokok variabel hanya
memasukkan elemen biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produk.
Terdapat perbedaan antara metode harga pokok penuh dan harga pokok
variabel. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari segi elemen harga pokok,
besarnya harga pokok persediaan, susunan laporan laba-rugi, besarnya
laba-rugi.

Penerapan Metode Penentuan Harga Pokok dan Kelemahan
Harga Pokok Variabel
Kegiatan Belajar 4 ini lebih menegaskan bahwa perbedaan laba antara
metode harga pokok penuh dan metode harga pokok variabel dipengaruhi
oleh perbedaan volume produksi dengan volume penjualan atau
perbedaan persediaan akhir dengan persediaan awal. Perbedaan tersebut
besarnya ditentukan oleh biaya produksi tetap satuan. Harga pokok
persediaan pada metode harga pokok penuh selalu lebih tinggi
dibandingkan dengan pada metode harga pokok variabel. Metode harga
pokok variabel mengandung beberapa kelemahan, yaitu untuk pelaporan
pihak luar, pemisahan biaya tetap dan variabel, dan penyimpangan asas
pemanfaatan fasilitas.

Dalam akuntansi persediaan, ada dua sistim yang lumrah digunakan, yaitu: sistim
periodik dan sistim perpetual. Bagi pegawai accounting, sistim persediaan
periodik atau perpetual—yang diterapkan di dalam perusahaan—menentukan
bagaimana pencatatan transaksi persediaan dilakukan. Sedangkan bagi pengelola
keuangan dan pengelola usaha, sistim persediaan yang diterapkan menentukan
seberapa efektif persediaan bisa dikelola—terutama aspek pengawasannya.
Melalui tulisan ini, saya ingin membahas mengenai sisim persediaan periodik dan
perpetual, mulai dari pebedaaan yang paling fundamental, perbadingan jurna-per-jurnal,
hingga implikasinya terhadap laporan keuangan dan pengelolaan persediaan.
Dengan kehadiran pembahasan ini, saya berharap pembaca memperoleh gambaran
yang jelas mengenai sistim persediaan periodik dan perpetual, dalam tataran
inplementasi di perusahaan. Namun sebelum itu, mari kita lihat sekilas; apa itu
persediaan.

Persediaan dan Impilkasinya Terhadap Laporan
Keuangan
Sebelum berpikir yang rumit-rumit—termasuk implikasi (pengaruh) persediaan terhadap
laporan keuangan dan pengelolaan keuangan, APA ITU PERSEDIAAN?
Sederhananya, yang disebut persediaan adalah apa yang oleh masyarakat umum kenal
dengan istilah “stok”. Di Eropa, sampai sekarang masih menggunakan istilah “stock”.
Tetapi secara internasional persediaan disebut dengan istilah “inventory”, yang disebut
stock justru saham.
Mau disebut inventory, mau disebut stock, silahkan. Yang lebih penting di sini:
wujud dari persediaan itu berupa apa?
Wujud fisik persediaan suatu perusahaan tergantung pada jenis usahanya. Meskipun
pada kenyataannya ada banyak jenis atau model usaha, dalam akuntansi—untuk tujuan
penyederhanaan—jenis usaha biasanya hanya dibagi menjadi 3 kelompok saja.
Berikut adalah 3 jenis perusahaan beserta persediaannya:




Perusahaan Jasa (misal: konsultan, agen, broker, dll) – Tidak memiliki persediaan
Perusahaan Dagang (misal: toko, mini market, dll) – Persediaannya berupa barang
jadi
Perusahaan Manufaktur (misal: pabrik gula, pabrik pakaian jadi, dll) –
Persediaannya berupa: (a) bahan baku; (b) bahan penolong; (c) barang dalam
proses; dan (d) barang jadi.

Persediaan berimplikasi luas terhadap pelaporan keuangan dan pengelolaan keuangan
perusahaan.
Apa implikasinya terhadap laporan keuangan? Persediaan berimplikasi langsung
terhadap Neraca dan Laporan Laba-Rugi:




Di Neraca, persediaan disajikan dalam kelompok “Aktiva Lancar” (current assets)—
setelah akun “Piutang” (silahkan lihat contoh format Neraca), sehingga besarkecilnya nilai saldo persediaan yang disajikan berpengaruh terhadap besar kecilnya
nilai aktiva (aset) secara keseluruhan.
Di Laporan Laba Rugi, besar kecilnya PENGGUNAAN persediaan (bahan baku,
bahan penolong dan barang jadi) menentukan besar kecilnya “Harga Pokok
Penjualan” (HPP), yang pada akhirnya juga akan menentukan besar kecilnya “Laba”
atau “Rugi” yang disajikan di dalam laporan laba-rugi. Pada akhirnya, besar-kecilnya
laba/rugi yang dibukukan pada suatu periode akuntansi berimplikasi terhadap besarkecilnya “Laba Ditahan” (Retained Earning) yang disajikan di Neraca—persisnya di
kelompok akun “Ekuitas.”

Oke. Implikasi persediaan terhadap laporan keuangan sudah jelas
terlihat. Pertanyaannya:Apakah penerapan sistim persediaan periodik/perpetual
berpengaruh terhadap laporan keuangan? Maksud saya, apakah dengan
menggunakan sistim perpetual membuat laporan keuangan menjadi berbeda jika
dibandingkan dengan menggunakan sistim periodik?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat perbandingan antara sistim persediaan
periodik dengan perpetual. Yuk pindah ke paragraf berikutnya…

Perbedaan Paling Fundamental Antara Sistim Periodik
dan Perpetual
Perbedaan paling mencolok antara sistim periodik dengan sistim perpetual ada pada 2
hal:
1. Penentuan Nilai Saldo Akhir Persediaan di Neraca:
(a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menerapkan sistim periodik, nilai saldo akhir
persediaan di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan
yang lumrah dikenal dengan istilah “stok opname” —sederhananya; di akhir periode,
fisik barang bersediaan (bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang
jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok
Penjualan (HPP) satuan barang.

(b) Sistim Perpetual – Jika yang diterapkan adalah sistim perpetual, perusahan tidak
perlu melakukan penghitungan fisik untuk menentukan nilai saldo akhir persediaan.,
karena setiap transaksi terkait dengan persediaan—baik kenaikan maupun penurunan—
telah dicatat melalui penjurnalan. Meskipun demikian, penghitungan fisik tetap dilakukan
untuk kemudian dibandigkan dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku persediaan.
Jika terjadi perbedaan antara saldo akhir hasil penghitungan fisik dengan saldo akhir
yang ditunjukan oleh buku persediaan, maka dibuatkan rekonsiliasi persediaan dengan
memasukan jurnal penyesuaian persediaan (inventory adjustment entry).
2. Penentuan Persediaan Digunakan (atau Terjual) dalam Harga Pokok Penjualan:
(a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menggunakan sistim periodik, maka nilai
persediaan yang digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok
Penjualan”, dihitung dengan cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan total
pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang
diperoleh melalui penghitungan fisik. Misalnya: Data persediaan JAK Mart (perusahaan
dagang) untuk tahun 2012 adalah sbb:




Saldo awal = Rp 20,000,000
Pembelian Bersih Jan s/d Des 2012 = Rp 150,000,000
Saldo akhir 31 Desember 2012 (diketahui setelah penghitungan fisik) = Rp
22,000,000

Harga Pokok Penjualan = 20,000,000 + 150,000,000 – 22,000,000 = 148,000,000.
Selanjutnya harga pokok ini dimasukan dengan journal penyesuaian (sebentar lagi kita
bahas di perbandingan jurnal.)
(b) Sistim Perpetual – Dengan sistim perpetual, perusahaan tidak perlu lagi membuat
perhitungan seperti pada sistim periodik karena penggunaan persediaan langsung
diakui setiap kali ada penjualan dengan mendebit akun “Harga Pokok Penjualan” dan
mengkredit “Persediaan” di sisi lainnya, seperti jurnal di bawah ini:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Persediaan = xxx
“Oke. Dengan sistim perpetual setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan
atau penurunan volume persediaan selalu dicatat dengan memasukan jurnal
begitu transaksi terjadi. Apakah dengan sistim periodik transaksi-transaksi yang
terjadi tidak dicatat samasekali?” Mungkin ada yang berpikir seperti itu.
Tentu saja dicatat. Hanya saja, biasanya, menggunakan nama akun berbeda
dibandingkan jika menggunakan sistim perpetual. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat
transaksi-per-transaksi. Lanjut…

Perbandingan Sistim Periodik Vs Perpetual TransaksiPer-Transaksi
Ada banyak transaksi yang mengakibatkan volume persediaan menjadi meningkat atau
menurun selama satu periode. Di sini kita lihat perbandingan sistim periodik dan
perpetual transaksi-per-transaksi, jurnal-per-jurnal.
1. Pembelian dan Penjualan Barang
Dalam sistim perpetual, pembelian dan penjualan barang persediaan dicatat langsung
ke akun “Persediaan,” dengan kata lain: perubahan nilai nominal dan volume persediaan
langsung terlihat dalam buku besar (ledger) persediaan setiap kali ada transaksi
pembelian dan penjualan. Sedangkan dalam sistim periodik yang dicatat hanya
kenaikan nilai dan volume persediaan melalui akun yang disebut dengan “Pembelian”,
sementara tidak mencatat adanya penurunan pada setiap transaksi penjualan yang
terjadi (penurunan persediaan diakui sekaligus di akhir periode dengan melakukan
pemeriksaan fisik). Untuk lebih jelasnyanya, kita lihat contoh berikut ini:
JAK Mart, Perusahaan Grossir, menunjukan data sbb:
(a) Saldo Awal Persediaan = 100 units @ Rp 60,000 = Rp 6,000,000
(b) Pembelian = 900 units @ Rp 60,000 = Rp 54,000,000
(c) Penjualan = 600 units @ Rp 120,000 = Rp 72,000,000
(d) Saldo Akhir = 400 units @Rp 60,000 = Rp 24,000,000
(Note: Untuk menghindari penggunaan cost flow—yang bisa membingungkan, kita asumsikan
cost per unit persediaan konstan dari awal hingga akhir periode)

Jika JAK Mart menggunakan sistim perpetual, maka alur transaksi dan jurnalnya
akan nampak sbb:
(a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000
(b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Persediaan = Rp 54,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000
(c) Penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000 per unit dicatat dengan sepasang
jurnal:
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000
(Untuk mengakui penjualan dan piutang)
Dan;

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000
[Kredit]. Persediaan = Rp 36,000,000
(Untuk mengakui harga pokok penjualan sekaligus penurunan nilai inventory, 60,000 x
600 = Rp 36,000,000.)
(d) Kecuali ada perbedaan antara hasil penghitungan fisik dengan buku, maka tidak ada
jurnal penyesuaian yang perlu dimasukan. Saldo akhir persediaan otomatis menunjukan
nilai Rp 24,000,000.
Bagaimana jika JAK Mart menggunakan sistim periodik? Jurnalnya akan nampak
sebagai berikut:
(a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000
(b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Pembelian = Rp 54,000,000 (menggunakan akun pembelian)
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000
(c) Pada sistim periodik, penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000/unit dicatat
hanya dengan satu jurnal saja—untuk mengakui penjualan dan piutang dagang (Note:
penurunan persediaan dan pengakuan harga pokok penjualan dilakukan sekaligus di
akhir periode):
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000
(Untuk mengakui penjualan dan piutang)
(d) Di akhir periode, setalah dilakukan penghitungan fisik, JAK memasukan jurnal
penyesuaian—untuk mengakui persediaan, harga pokok penjualan, sekaligus
‘menghapus’ saldo akun “Pembelian”—sebagai berikut:
[Debit]. Persediaan = Rp 18,000,000
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000
[Kredit]. Pembelian = Rp 54,000,000
Note: Dengan jurnal penyesuaian yang dimasukan di akhir periode ini, maka saldo akun
“Pembelian” menjadi nol, saldo akhir persediaan di Neraca menjadi Rp 24,000,000
(=saldo awal 6,000,000 + adjustment kenaikan 18,000,000), dan muncul Harga Pokok
Penjualan di Laporan Laba-Rugi sebesar Rp 54,000,000 (=6,000,000 + 54,000,000 –
24,000,000).
2. Retur Pembelian, Diskon Pembelian dan Cadangan
Apa yang terjadi jika ada retur pembelian atau diskon? Perusahaan yang menerapkan
sistim periodik, disamping menggunakan akun “Pembelian”—yang bersaldo debit
mereka juga menggunakan 2 kontra-akun pembelian (bersaldo kredit) yang diberi nama
“Retur Pembelian” dan “Diskon Pembelian.” Jika ada pembelian yang dikembalikan

(retur pembelian) atau memeperoleh potongan, maka kontra akun ini menjadi
pengurang nilai “Pembelian”. Hasil silang saldo “Pembelian” dan kedua kontra-akun ini
menghasilkan apa yang disebut dengan “Pembelian Bersih”. Bagaimanapun juga,
semua slado akun ini (Pembelian, Diskon Pembelian dan Retur Pembelian) bersifat
sementara saja, nantinya akan dihapus degan jurnal penyesuaian di akhir periode
(seperti terlihat pada contoh jurnal penyesuaian sebelumnya). Untuk lebih konkoretnya,
kita buat satu contoh transaksi:
Karena adanya kerusakan, JAK Mart mengembalikan pembelian barang sebesar Rp 7,000,000.

Jika JAK Mart menerapkan sistim perpetual, maka JAK akan mengakui penurunan
nilai utang sekaligus langsung mengakui penurunan nilai persediaan, dengan jurnal:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000
[Kredit]. Persediaan = Rp 7,000,000
(Note: Pengembalian barang mengurangi nilai persediaan sebesar Rp 7,000,000)
Jika JAK Mart menerapkan sistim periodik, maka jurnalnya adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000
[Kredit]. Retur Pembelian = Rp 7,000,000
(Note: pembelian megurangi nilai pembelian)
Lanjut dengan diskon…
Di lain kesempatan JAK Mart membeli barang sebesar Rp 10,000,000 dengan termin kredit
2/10, n/30. Karena JAK Mart bisa melakukan pelunasan seminggu setelah pembelian, maka JAK
Mart memperoleh diskon 2%. Bagimana jurnalnya?

Jika menerapkan sistim perpetual, maka saat pembelian JAK Mart memasukan jurnal:
[Debit]. Persediaan = Rp 10,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
Saat pelunasan, diskon Rp 200,000 tersebut sekaligus diakui sebagai pengurang nilai
persediaan, dengan jurnal:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
[Credit]. Persediaan = Rp 200,000
[Credit]. Kas = Rp 9,800,000
Jika menggunakan sistim periodik, maka saat pembelian jurnal yang dimasukan
adalah:
[Debit]. Pembelian = Rp 10,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
Diskon yang diperoleh tidak diakui sebagai pengurang nilai persediaan (ingat: sistim
periodik tidak mencatat persediaan tetapi “pembelian”), melainkan dicatat sebagai

“Diskon Pembelian.” Sehingga jurnal yang dimasukan ketika melakukan pelunasan
adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
[Credit]. Diskon Pembelian = Rp 200,000
[Kredit]. Kas = Rp 9,800,000
3. Retur Penjualan dan Diskon Penjualan
Transkasi lainnya yang terkait dengan persediaan adalah retur penjualan dan diskon
penjualan. Pada transaksi ini, baik sistim perpetual maupun sistim periodik sama-sama
meggunakan akun yang diberi nama “Retur Penjualan” dan “Diskon Penjualan”—yang
kedua-duanya merupakan kontra-akun penjualan (bersaldo debit), bedanya hanya di
pengakuan “Harga Pokok Penjualan”. Pada sistim perpetual return penjualan, disamping
mengakui penurunan piutang dagang dan penurunan penjualan (dengan akun “retur
penjualan”) juga mengakui penurunan harga pokok penjualan dan persediaan.
Sedangkan pada sistim periodik, tidak. Misalnya:
JAK Mart menerima barang kembali dari pelanggan (karena cacat) senilai Rp 6,000,000. Harga
Pokok Penjualan barang yang diretur tersebut adalah Rp 3,000,000. (Kita asumsikan pengakuan
penjualan menggunakan metode bruto/gross method)

Jika menggunakan perpetual, maka JAK Mart akan mencatat retur tersebut dengan
sepasang jurnal:
[Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit)
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000
(Untuk mengakui retur penjualan)
Dan;
[Debit]. Persediaan = Rp 3,000,000
[Kredit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 3,000,000
(Untuk mengakui barang persediaan yang telah dikembalikan sekaligus menguragi
harga pokok penjualan).
Sedangkan jika menggunakan sistim periodik, JAK Mart hanya akan memasukan
satu jurnal saja, yaitu:
[Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000
(Untuk mengakui retur penjualan)
Catatan: Sistim periodik baru akan menghitung saldo persediaan dan mengakui harga
pokok penjualan di akhir periode—setelah penghitungan fisik dilakukan.
Selanjutnya, diskon penjualan. Bagaimana pencatatanya?

Oke. Anggap JAK Mart memberikan diskon Rp 200,000 atas pelunasan pembelian sebesar Rp
10,000,000 dari pelanggan (masih menggunakan metode pengakuan penjualan bruto/gross
method)

Sistim perpetual dan sistim periodik memasukan jurnal yang sama persis untuk
pelunasan yang mengandung diskon penjualan. Dalam contoh ini:
[Debit]. Kas = Rp 9,800,000
[Debit]. Diskon Penjualan = Rp 200,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit).
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 10,000,000
Secara keseluruhan, dari pebandingan jurnal—antara sistim periodik dan
perpetual, jelas terlihat bahwa:
Terhadap laporan keuangan yang disajikan di setiap akhir periode, menggunakan sistim
perpetual atau periodik tidak berpengaruh apa-apa, dalam pengertian: nilai saldo akhir
persediaan (yang disajikan di neraca) dan harga pokok penjualan (yang disajikan di
laporan laba-rugi), akan menunjukan hasil yang sama.
Bedanya, hanya terjadi pada teknis pengakuan dan nama akun yang digunakan pada
setiap pengakuan transaksi. Sistim perpetual selalu mendebit/mengkredit akun
“Persediaan” untuk setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan
persediaan. Sedangkan sistim periodik—untuk sementara—menggunakan akun
“Pembelian” untuk setiap penambahan persediaan dan baru memperhitungkan
penurunan persediaan di akhir periode—sertelah penghitungan fisik dilakukan.
Bagaimana jika perusahaan yang menerapkan sistim periodic—terpaksa harus
menyajikan laporan padahal periode belum berakhir—misalnya: untuk pengajuan
kredit? Perusahaan bisa (a) menggunakan laporan periode sebelumnya, atau (b)
melakukan penghitungan fisik saat itu juga lalu menjalankan prosedur seperti yang
dilakukan di akhir periode.
Oke. Penerapan sistim periodik atau perpetual tidak ada pengaruhnya terhadap
laporan keuangan. Bagaimana dengan pengelolaan persediaan dan keuangan
secara keseluruhan? Mari kita lihat implikasinya… Lanjut…

Implikasi Penerapan Sistim Periodik dan Perpetual
Terhadap Pengelolaan Persediaan
Dari perbenadingan di atas, jelas terlihat bahwa: untuk tujuan pengawasan persediaan,
sistim perpetual jauh lebih baik dibandingkan sistim periodik. Dengan sistim perpetual,
management dapat mengetahui nilai persediaan sewaktu-waktu—tanpa perlu
menunggu hingga akhir periode.

Khususnya di perusahaan-perusahaan manufaktur, pengawasan terhadap barang
persediaan sangat kompleks—dengan adanya potensi barang scrap dan cacat yang
lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan jenis lain. Dalam kondisi seperti ini, jika
sistim persediaan yang diterapkan adalah sistim periodik—dimana penurunan (volume
dan nilai persediaan) baru diperhitungkan di akhir periode, maka kesempatan untuk
mengetahui adanya pemborosan bahan baku, bahan penolong dan kemungkinan
adanya barang cacat saat dalam proses produksi menjadi lebih sulit ditelusuri—
kemungkinan baru diketahui setelah di akhir periode, dengan kata lain: sudah terjadi.
Efektifitas pengawasan terhadap barang persediaan berimplikasi besar terhadap
pengelolaan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Terutama di perusahaan
dagang dan manufaktur, sebagian besar kekayaan (asset) perusahaan ada di
persediaan—entah itu berupa bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses
maupun barang jadi. Diantara banyaknya beban yang ditanggung oleh operasional
perusahaan, penggunaan persediaan cenderung mendominasi. Jika scope-nya
dipersempit, persediaan bahkan mengkonsumsi modal kerja (working capital) paling
besar.
Itu sebabnya, bagi managemen perusahaan, pemilihan sistim persediaan yang akan
diterapkan (apakah menggunakan sistim perpetual atau periodik) menjadi sangat
krusial.
“Lalu, apakah sebaiknya saya menerapkan sistim persediaan perpetual atau
periodik?” Mungkin ada yang berpikir demikian. Kita pindah ke paragraph selanjutnya…

Judul: Akuntansi

Oleh: Uswatun Khasanah


Ikuti kami