Akuntansi

Oleh Uswatun Khasanah

462,3 KB 30 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi

PERUSAHAAN DAGANG DAN PERUSAHAAN JASA Published Maret 25, 2013 by noviaasrumiati A. perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan utama /pokok melakukan pembelian suatu barang untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuk maupun fungsi dari barang tersebut. Contoh: toko buku, toko perlengkapan sekolah, dan alat elektronik. Kelebihan perusahaan dagang: 1. menjual barang tanpa mengolah terlebih dahulu 2. kualitas barang dapat diketahui secara langsung oleh konsumen kekurangan perusahaan dagang: 1. di perlukan tempat untuk memajang(display) b arang 2. diperlukan tempat untuk menyimpan barang 3. diperlukan alat angkut untuk mengirim barang kepada konsumen 4. barang yang sudah dibeli konsumen dapat dikembalikan (retur) sehingga perusahaan tidak jadi memperoleh penghasilan ciri-ciri perusahaan dagang: 1. penghasilan diperoleh dari hasil penyerahan/penjualan barang dagangan 2. barang dagangan yang diperjual belikan tidak diubah bentuk maupun fungsinya 3. rekening-rekening yang terdapat pada perusahaan dagang antara lain: pembelian atau persediaan barang dagangan, retur dan pengurangan harga pembelian, potongan pembelian, beban angkut pembelian, penjualan, retur dan pengurangan harga penjualan, potongan penjualan, harga pokok penjualan, beban nagkut penjualan. 4. Beban usaha perusahaan dibedakan dalam dua kelompok yaitu: beban pemasaran dan beban administrasi umum. B. Perusahaan jasa adalah perusahaan yang didirikan seseorang atau sekelompok orang yang kegiatan utama/pokok bergerak dalam bidang pelayanan jasa atau menjual jasa. Kelebihan perusahaan jasa: 1. Tidak perlu tempat untuk memajang barang 2. Tidak diperlukan tempat untuk menyimpan barang (gudang) 3. Tidak perlu alat angkut untuk mengirim barang pada konsumen Kekurangan perusahaan jasa: 1. Kualitas jasa dapat diketahui setelah konsumen membeli jasa 2. Jasa yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan (diretur) c. perbedaan antara perusahaan jasa dengan perusahaan dagang • Dilihat dari penghasilan Perusahaan jasa : penghasilan jasa (penyerahan jasa berupa kenikmatan) Perusahaan dagang: penjualan barang dagang (penyerahan barang tanpa mengolah lebih dahulu • Dilihat dari rekening yang ada: Perusahaan jasa: pendapatan jasa Perusahaan dagang: penjualan , retur penjualan dan pengurangan harga, potongan penjualan, harga pokok penjualan, pembelian/persediaan barang dagangan, beban angkut pembelian, retur pembelian dan pengurangan harga, potongan pembelian • Dilihat dari laporan laba/rugi: Perusahaan jasa: Pendapatan jasa xxx Beban usaha (xxx) Laba usaha xxx Perusahaan dagang: Penjualan xx Harga pokok penjualan (xxx) Laba kotor xxx Beban usaha (xxx) Laba usaha xxx • Contoh perusahaan jasa: - Jasa bengkel/servis kendaraan - Transportasi - Telekomunikasi - Salon - Persewaan/rental mobil,computer dll. - Jasa pengacara - Notaris - Konsultan teknik,akuntansi,manajemen dll. • Contoh perusahaan dagang: - Toko bahan bangunan - Toko buku dan perlengkapan sekolah - Pengecer dan grosir - Dealer motor dsb. D. URAIAN MATERI Konsep-Konsep Dasar Akuntansi Dalam pokok bahasan ini Anda dapat memperoleh informasi tentang konsep-konsep dasar akuntansi. Uraian materi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali ingatan Anda tentang pengetahuan akuntansi secara mendasar. Dengan memahami materi ini Anda akan memperoleh gambaran umum tentang akuntansi dan arti pentingnya bagi organisasi, baik organisasi usaha/bisnis maupun bukan. a. Pengertian Perlu Anda ingat bahwa akuntansi merupakan suatu proses dari tiga aktivitas. Ketiga aktivitas itu adalah: pengidentifikasian (identifying), pencatatan (recording), dan pengkomunikasian (communicating) peristiwa-peristiwa ekonomi dari suatu organisasi bisnis dan non bisnis untuk kepentingan pemakai (user) informasi. Peristiwa-peristiwa ekonomi yang dimaksud adalah transaksi keuangan yaitu setiap kejadian di dalam organisasi yang menyebabkan bertambah, berkurang, dan/atau berubahnya susunan kekayaan, kewajiban, dan modal (ekuitas) organisasi yang bersangkutan. Aktivitas pengidentifikasian merupakan upaya untuk menyeleksi dan mengukur peristiwa-peristiwa yang relevan dengan kegiatan ekonomi perusahaan. Menyeleksi berarti memilah dan memilih peristiwa yang relevan dengan kegiatan ekonomi perusahaan, sedangkan mengukur berarti menghitung dan menentukan nilainya dalam satuan uang, misalnya rupiah. Aktivitas pencatatan merupakan upaya untuk merekam peristiwa-peristiwa ekonomi tersebut dalam sebuah catatan permanen dari aktivitas ekonomi organisasi sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pencatatan, aktivitas ekonomi juga diklasifikasikan dan diringkas. Aktivitas pengkomunikasian merupakan kegiatan untuk menyampaikan informasi melalui penyiapan dan pendistribusian laporan akuntansi, yang biasanya disebut dengan Laporan Keuangan (financial statement). Untuk membuat laporan tentang informasi keuangan yang bermanfaat, akuntan harus menggambarkan dan melaporkan data yang tercatat dalam cara yang terstandar. b. Pemakai Data Akuntansi Coba Anda ingat-ingat dan sebutkan, siapa saja yang memerlukan informasi keuangan dari suatu perusahaan? Kalau kita rinci satu persatu tentunya banyak pihak yang memerlukan informasi tersebut bukan? Namun, jika kita pilah dalam garis besar, kita dapat mengelompokkannya dalam dua kelompok saja, yaitu pihak internal dan pihak eksternal. 1) Pihak Internal yaitu orang dalam perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari dalam perusahaan itu sendiri. Pihak internal yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan meliputi manajer perusahaan yang merencanakan, mengorganisasi, menjalankan bisnis, dan mengawasinya. Di dalamnya termasuk manajer pemasaran, pengawas produksi, direktur keuangan, dan sebagainya. Mereka berkepentingan terhadap informasi tersebut sebagai bahan evaluasi diri dan sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Selain itu juga karyawan perusahaan, dengan tujuan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menjamin kontinuitas kerja dan peningkatan kesejahteraannya. 2) Pihak Eksternal, yaitu pihak-pihak di luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari luar perusahaan yang meliputi: (a) investor (pemilik) yang menggunakan informasi akuntansi dalam membuat keputusan untuk membeli, tetap mempertahankan pemilikan, atau menjual saham; (b) kreditor, seperti supplier, dan banker menggunakan informasi akuntansi untuk mengevaluasi risiko kredit atau peminjaman uang; (c) otoritas pajak yang ingin mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak; (d) pelanggan yang ingin mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas usahanya dan kemampuannya dalam memberikan jaminan mutu produk dan sebagainya; (e) organisasi pekerja yang ingin mengetahui kemampuan pemilik dalam menjamin pembayaran gaji, kenaikkan gaji, memberi bonus kepada karyawan dan menjamin peningkatan kesejahteraan karyawan. g. Bentuk Bisnis ditinjau dari jenis usahanya Selain membedakan organisasi bisnis dari sisi kepemilikannya, kita juga dapat membedakannya atas dasar bidang usaha yang dikelola. Secara umum kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga kelompok organisasi bisnis, yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan perusahaan industri dan pengolahan. a) Perusahaan jasa adalah organisasi bisnis yang aktivitasnya memberikan layanan jasa kepada para pelanggannya. Mereka memberi layanan jasa kepada masyarakat dan sebagai imbalanannya perusahaan memperoleh penghasilan. Penghasilan tersebut bersumber dari hasil penjualan jasa. Untuk memberikan layanan itu diperlukan biaya baik berupa perlengkapan yang diperlukan untuk memberikan layanan jasa itu maupun dalam bentuk lain. Akuntansi jenis perusahaan ini relatif sederhana, karena tidak banyak jenis transaksi yang terjadi di perusahaan. b) Perusahaan dagang adalah suatu organisasi bisnis yang aktivitas utamanya adalah membeli barang dagangan dan menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa ada upaya untuk mengolah atau mengubah wujud barang dagangan itu. Sebelum dijual pada umumnya barang itu dipilih dan dipilah atau disortir terlebih dulu untuk menentukan kualitas dan harganya. Dibandingkan dengan perusahaan jasa, perusahaan dagang lebih rumit, karena jenis transaksi ekonominya relatif lebih banyak dan kompleks. Oleh karena itu, akuntansi jenis perusahaan ini relatif lebih rumit dibandingkan dengan akuntansi perusahaan jasa. c) Perusahaan Industri, biasanya dilengkapi dengan pengolahan, sehingga sebutannya menjadi perusahaan industri dan pengolahan. Aktivitas perusahaan ini adalah membeli bahan baku untuk diolah menjadi produk baru (barang setengah jadi atau barang jadi). Barang yang telah diolah selanjutnya dipilih, dipilah, dikemas, dilabeli,baru dijual. Jenis bahan yang dibeli oleh perusahaan ini berupa bahan mentah atau bahan baku yang tidak dijual secara langsung kepada pelanggannya, melainkan diproses terlebih dulu untuk diolah sehingga menjadi barang setengah jadi atau bahan jadi. Setelah itu baru dijual kepada para pelanggannya. Hal ini akan berdampak pada penyelenggaraan akuntansinya. 1. Pengertian Perusahaan Dagang Perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli barang untuk tujuan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk atau sifat barang secara berarti. Barang yang diperdagangkan biasanya barang yang akan digunakan karena manfaat pakai yang melekat pada barang tersebut. Barang ini dapat berupa barang konsumsi atau barang produksi dan bahan baku untuk produksi. Kegiatan perusahaan dagang terutama adalah pembelian dan penjualan barang yang berwujud fisik dengan spesifikasi (berat, volume atau ukuran unit fisik lainnya) yang jelas. Pada dasarnya perusahaan dagang adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi barang. Suatu perusahaan biasanya merupakan salah satu mata rantai dari saluran distribusi antara produsen dan konsumen baik konsumen industri atau konsumen akhir. Dengan kata lain, perusahaan dagang sebenarnya adalah perantara penjualan barang dari produsen ke konsumen atau pemakai. Perusahaan dagang dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa agen, toko, penyalur tunggal, distributor, pedagang besar dan sebagainya. Sedangkan bentuk usahanya dapat berupa perseroan, CV, perusahaan perseorangan, firma atau persekutuan. Dalam perusahaan dagang, jumlah uang yang diterima dari konsumen atas penyerahan barang dalam transaksi penjualan disebut sebagai penjualan dengan nama rekening khususnya, Penjualan. Jadi, penjualan merupakan pendapatan yang diperoleh perusahaan dagang dan akan mempunyai pengaruh menambah modal perusahaan. Karena adanya barang fisik yang dibeli dan dijual, biasanya perusahaan dagang mempunyai gudang untuk menyimpan barang dagangan. Perusahaan membeli barang di Leveransir atau pemesok (suppliers) dan menjualnya kepada pelanggan (customers). Semua biaya yang melekat pada kegiatan tersebut (termasuk barang keluar dan diserahkan kepada pelanggan) akhirnya akan menjadi biaya operasi yang merupakan elemen dalam Laporan Laba-Rugi. Susunan dan elemen yang terdapat dalam Laporan Laba-Rugi merupakan hal yang dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dagang dan perusahaan jasa. 2. Karakteristik Perusahaan Dagang Perusahaan perdagangan adalah perusahaan yang beroperasi dengan membeli barang dagangan dan menjual kembali barang tersebut tanpa mengubah bentuk barang. Perbedaan utama dengan perusahaan jasa adalah jenis produk yang dijual. Perusahaan perdagangan menjual produk yang sifatnya riil (tangible goods), sedangkan pada perusahaan jasa menjual jasa (intangible goods). Perbedaan antara kedua jenis perusahaan tersebut menyebabkan perbedaan elemen yang disajikan pada laporan keuangan. Pada perusahaan perdagangan, terdapat satu akun persediaan barang dagangan di neraca, dan hal tersebut tidak terdapat pada perusahaan jasa. Pada laporan rugi-laba perusahaan perdagangan akan menyajikan biaya pokok penjualan, sedangkan hal tersebut tidak terdapat pada laporan rugi-laba perusahaan jasa. Perbedaan tersebut ditunjukkan pada laporan rugi-laba untuk perusahaan jasa dan perusahaan perdagangan seperti tampak pada table dibawah ini. PERUSAHAAN JASA Pendapatan : PERUSAHAAN PERDAGANGAN Penjualan ��������.�.��..xxxxx Pendapatan Jasa�����.............................xxxxx Harga Pokok Penjualan ��.��...�xxxxx Beban Operasi : Beban Gaji�����.....xxxxx Beban Iklan�����....xxxxx Beban Pemeliharaan........xxxxx Beban Penyusutan..........xxxxx Beban Asuransi...............xxxxx Laba Kotor ������.��..���xxxxx Beban Operasi : Beban Gaji������...�xxxxx Beban Iklan�������..xxxxx Beban Pemeliharaan��.�.xxxxx Beban Penyusutan���.�xxxxx Beban Asuransi�����..xxxxx Beban Supplies Kantor.....xxxxx Beban Supplies Toko �......xxxxx Total Beban Operasi ����.....�....xxxxx Total Beban�.......���.....��xxxxx Laba Bersih �����������..xxxxx Laba Bersih ��....���..........�xxxxx Aktivitas utama perusahaan jasa adalah menyediakan pelayanan kepada konsumen. Pada laporan rugi-laba perusahaan jasa, penjualan jasa kepada konsumen dilaporkan sebagai pendapatan jasa. Beban operasi yang terjadi dalam menyediakan jasa dikurangkan dari pendapatan jasa diperoleh laba bersih. Sebaliknya, aktivitas utama perusahaan perdagangan adalah menjual barang dagangan tersebut kepada konsumen tanpa melakukan perubahan. Ketika barang telah terjual, hasil penjualan barang dagangan tersebut dilaporkan sebagai penjualan, dan biaya pokok barang dagangan yang terjual tersebut diakui sebagai beban dan dinamakan biaya pokok penjualan (costs of goods sold). Biaya pokok atas barang yang terjual dikurangkan dari penjualan akan diperoleh laba kotor penjualan (gross profit). Laba kotor penjualan dikurangi dengan beban operasi akan diperoleh laba bersih. Barang dagangan yang belum terjual pada akhir periode akuntansi dinamakan persediaan barang dagangan (merchandise inventory). Persediaan barang dagangan ini dilaporkan sebagai aktiva lancar di neraca. PERUSAHAAN DAGANG 1. Pengertian Perusahaan Dagang Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya melakukan transaksi pembelian barang dagang kemudian untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuknya. Perusahaan – perusahaan yang digolongkan sebagai perusahaan dagang antara lain adalah distributor, agen tunggal, pengecer, toko swalayan, toko serba ada, plasa, pusat-pusat perbelanjaan, atau pusat barang-barang grosir. Adapun ciri-ciri perusahaan dagang, antara lain sebagai berikut : 1. Kegiatan usahanya melakukan pembelian barang untuk dijual kembali tanpa melakukan proses produksi (mengolah/mengubah bentuk) 2. Pendapatan pokoknya diperoleh dari penjualan barang dagang 3. Harga pokok barang yang dijual adalah : Nilai persedian awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir 4. Laba kotor diperoleh dari : Penjualan bersih – Harga pokok barang yang dijual Perusahaan dagang memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan jasa dan perusahaan industry (manufaktur). Oleh karena itu, siklus perusahaan dagang mempunyai karakter khas, yang hanya dijumpai dalam perusahaan dagang. Akun-akun yang merupakan ciri khas perusahaan dagang selain seperti yang terdapat di perusahaan jasa adalah sebagai berikut : 1. Akun pembelian di sisi debit (D) 2. Akun penjualan dicatat di sisi kredit (K) 3. Akun potongan pembelian dicatat di sisi kredit (K) 4. Akun potongan penjualan dicatat di sisi Debit (D) 5. Akun retur pembelian dicatat di sisi kredit (K) 6. Akun retur penjualan dicatat di sisi debit (D) 7. Akun biaya angkut pembelian dicatat di sisi debit (D) 8. Akun biaya pengiriman dicatat di sisi debit (D) 9. Akun persediaan barang dagang dicatat di sisi debit (D) 10. Akun utang usaha dicatat di sisi kredit (K) 11. Akun piutang usaha dicatat di sisi debit (D) 12. Harga pokok penjualan dicatat di sisi debit (D) Karakteristik dan kegiatan utama perusahaan dagang adalah sebagai berikut : 1. Melakukan transaksi pembelian barang dagang, baik secara tunai maupun kredit 2. Melakukan transaksi penjualan barang dagang, baik secara tunai maupun kredit 3. Melakukan pembayaran utang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan. 4. Menerima pembayaran/pelunasan piutang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan 5. Melakukan penyimpanan barang dagang selama belum dijual dan diserahkan kepada pembeli. AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG A. DEFINISI AKUNTANSI Akuntansi diartikan sebagai seni pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan cara yang sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidaktidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta penginterpretasian hasil dari pencatatan tersebut. B. PERMASALAHAN Akuntansi Perusahaan Dagang C. PEMBAHASAN Akuntansi Perusahaan Dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli dan menjual kembali barang dagangan tanpa merubah bentuk dengan harapan memperoleh keuntungan. D. TUJUAN Adanya Akuntansi Perusahaan Dagang dikarenakan banyaknya perusahaan dagang yang membutuhkan jasa accounting yang faham dan mengerti tentang akuntansi dagang. Selain itu akuntansi dagang juga memiliki laporan-laporan akuntansi dagang tersendiri yang telah dibuat sesuai prosedur, tujuan pembuatan laporan ini berguna untuk mempermudah pembuatan laporan perusahaan dagang. Laporan-laporan yang diperlukan pada akuntansi perusahaan dagang 1. jurnal umum 2. buku besar 3. neraca saldo 4. penyesuaian dan kertas kerja 5. laporan laba rugi 6. neraca 7. laporan perubahan keuangan 8. penutupan buku 5. MENGKLASIFIKASIKAN AKUN-AKUN YANG ADA DALAM PERUSAHAAN DAGANG. 1. Pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat setiap terjadi transaksi “pembelian barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun “pembelian” dicatat di sisi debet, sedangkan “Kas” atau “Utang dagang” di sisi kredit. 1. Potongan pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang diberikan oleh penjual barang dagangan. Besarnya potongan pembelian dan syarat untuk mendapatkan potongan pembelian biasanya ditentukan oleh penjual. Misal syarat pembayaran 2/10, n/30 artinya pembeli akan mendapat potongan 2% jika membayar dalam 10 hari atau kurang dari tanggal transaksi dan jangka waktu kredit 30 hari. Akun “potongan pembelian” dicatat di sisi kredit. Sifatnya mengurangi jumlah kas yang dibayar. 2. Retur pembelian dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk mencatat pengembalian barang dagangan yang telah dibeli karena sesuatu hal misal karena rusak. Akun “Retur pembelian dan Pengurangan Harga” dicatat di sisi kredit sifatnya mengurangi utang dagang. 3. Beban angkut pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat besarnya beban angkut yang harus ditanggung oleh pembeli. Akun “beban angkut pembelian” dicatat di sisi debet dan kas di sisi kredit. 4. Penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat transaksi “penjualan barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun “penjualan” dicatat di sisi debet dan kas atau piutang dagang di sisi kredit. 5. Potongan penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang diberikan kepada pembeli. Akun “potongan penjualan” dicatat di sisi debet sifatnya mengurangi kas yang diterima. F. METODE PENCATATAN Metode pencatatan persediaan barang dagangan ada 2 cara yaitu : 1. Sistem periodik (Periode System) Dalam sistem ini penentuan besarnya persediaan dilakukan dengan mengadakan perhitungan secara fisik terhadap persediaan barang yang ada pada akhir periode. Sistem ini cocok digunakan oleh perusahaan kecil yang barang dagangannya relatif murah dan transaksi sering terjadi. Pada sistem ini “persediaan barang dagangan” hanya dicatat tiap akhir periode sebesar persediaan akhir dari hasil perhitungan fisik barang dagangan. Persediaan akhir barang dagangan dianggap sebagai persediaan awal periode berikutnya. Selama periode akuntansi berjalan, jika ada pembelian barang dagangan dicatat pada akun “pembelian” dan jika ada penjualan barang dagangan dicatat pada akun “penjualan”. 1. Sitem Terus Menerus (Perpetual System) Dalam sistem ini diperlukan adanya pencatatan yang terus menerus mengikuti perubahan atas persediaan dari awal periode hingga akhir periode akuntansi. Sistem ini cocok digunakan perusahaan yang menjual barang dagangan dengan nilai tinggi misal TV, mobil. Pada sistem ini akun “persediaan barang dagangan” dicatat di sisi debet setaip kali ada pembelian barang dagangan dan akan dicatat di sisi kredit setiap kali ada penjualan barang dagangan. 1. Retur penjualan dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk mencatat pengembalian barang yang telah dijual. Akun “retur penjualan dan pengurangan harga” dicatat di sisi debet sifatnya mengurangi piutang. 2. Beban angkut penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat besarnya beban angkut yang ditanggung oleh penjual. Akun “beban angkut penjualan” dicatat di sisi debet, “Kas” di sisi kredit. 3. Persediaan barang dagangan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah barang dagangan yang ada dalam persediaan perusahaan yang menunggu untuk dijual. Pencatatannya tergantung pada metode pencatatan persediaan yang digunakan dalam suatu perusahaan (dibahas pada sub bab berikutnya). 4. Harga pokok penjualan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah harga pokok barang yang dijual yaitu harga beli ditambah beban-beban yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual tersebut. Akun “harga pokok penjualan” dicatat pada akhir periode saat diadakan penyesuaian. CONTOH LATIHAN SOAL DAN PEMBAHASAN Proses pencatatan transaksi keuangan ke Jurnal Umum pada perusahaan dagang sama dengan proses pencatatan transaksi keuangan pada perusahaan jasa yaitu diawalai dengan analisis transaksi untuk menentukan akun apa saja yang terpengaruh dan harus dicatat di sisi debet dan kredit. Pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal umum juga harus sistematis dan kronologis. Contoh : Berikut ini transaksi yang dilakukan oleh PD “Amanah” selama bulan april 2006. April : 1. secara tunai. Dijual barang dagangan kepada CV “Aini” seharga Rp. 5.000.000,00 1. Dibeli barang dagangan dari toko “Sekawan” seharga Rp. 3.000.000,00 2. Dibayar sewa gedung untuk 5 bulan Rp. 1.000.000,00 3. Dibeli barang dagangan dari CV Mutiara seharga Rp. 10.000.000,00 faktur no 010 dengan syarat 2/10, n/30 4. Dikembalikan sebagian barang dagangan kepada CV Mutiara karena rusak Rp. 2.000.000,00 5. Dibayar beban angkut barang kepada PT “Rama” sebesar Rp. 600.000,00 6. Dibayar dengan cek no. 511 kepada CV Mutiara sebagai pelunasan faktur no. 010. 7. Dijual barang dagangan kepada toko “Subur” dengan faktur no. 015 seharga Rp. 3.500.000,00 dengan syarat 2/15, n/30. 17. Diterima nota debet dari toko “Subur” untuk pengembalian barang seharga Rp. 500.000,00. 20. Dibeli perlengkapan kantor dari toko “Syakita” Rp. 550.000,00 1. Diterima kiriman uang dari toko “Subur” untuk pelunasan faktur no. 015. Dari transaksi di atas akan dibuat pencatatan ke dalam Jurnal Umum sebagai berikut : Tanggal 2006,Apri 1 l Akun dan Keterangan Ref Debet (Rp) Kredit (Rp) KasPenjualan (Penjualan tunai kepada CV “Aini) 5.000.000 5.000.000 2 PembelianKas (pembelian tunai kpd CV “Sekawan”) 3.000.000 3.000.000 4 Sewa dibayar di mukaKas (dibayar sewa untuk 5 bulan) 1.000.000 1.000.000 5 PembelianUtang gagang (pembelian kredit dari CV “Mutiara”) 7 Utang dagangRetur pembelian dan PH (pengembalian sebagain barang dagangan yang dibeli karena rusak) 8 Beban angkutKas (pembayaran beban angkut kepada PT “Rama”) 10 Utang dagangKas Potongan pembelian 10.000.000 10.000.000 2.000.000 2.000.000 600.000 600.000 8.000.000 7.840.000 160.000 (Pembayaran pembelian kredit dengan potongan) 15 Piutang dagangPenjualan (Penjualan kredit kepada Toko 3.500.000 3.500.000 Subur ,faktur no.015,syarat 2/15,n/30) 17 Retur penjualan dan PHPiutang dagang (Pengembalian barang dan PH) Tanggal Akun dan Keterangan 20 SaldoPerlengkapan kantor Kas 500.000 500.000 Ref Debet (Rp) Kredit (Rp) 34.150.000 34.150.000 550.000 550.000 2.940.000 3.000.000 (Pembelian perlengkapan tunai) 25 KasPotongan penjualan Piutang dagang 60.000 (penerimaan pembayaran piutang dari toko “Subur”) 37.150.000 37.150.000 PENGERTIAN AKUNTANSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR - Pengertian Kegiatan usaha pokok perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan baku hingga menjadi produk yang siap untuk dijual, kemudian menjual produk yang dihasilkannya untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan / laba yang diperoleh perusahaan manufaktur, pada dasarnya adalah selisih antara hasil penjualan dan beban usaha lainnya. Dalam perusahaan manufaktur, barang yang dijual adalah barang yang dibuat sendiri sehingga harga pokoknya bergantung kepada biaya – biaya yang dikeluarkan untuk pembuatannya. Biaya – biaya yang bersangkutan kemudian dikenal dengan biaya produksi. Pengikhtisaran biaya pembuatan produk merupakan bidang khusus dalam akuntansi yang disebut dengan akuntansi biaya (cost accounting). Akuntansi biaya, kegiatannya meliputi pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan transaksi – transaksi yang menyangkut biaya pembuatan produk. Kegiatannya bertujuan untuk menyediakan laporan biaya produksi untuk memenuhi kepentingan manajemen, antara lain informasi mengenai harga pokok produk yang dihasilkan SIRKULASI AKUNTANSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR Proses akuntansi dalam jenis perusahaan apapun pada dasarnya bertujuan menyadiakan laporan keungan untuk memenuhi kepentingan manajemen maupun kepentingan pihak ekstern.Dalam hubungan dengan menyediakan laporan keungan, sasaran akuntansi adalah transaksi keungan yang dilakukaan oleh perusahaan. Kegiatan usaha pokok perusahaan manufaktur adalah mengelola bahan baku hingga menjadi produk yang siap untuk dijual, kemudian menjual produk yang dihasilkanya untuk memperoleh keuntungan Keuntungan(laba) yang diperoleh perusahaan manufaktur, pada dasarnya adalah selisih antara hasil penjualan( penghasilan) dengan harga pokok penjualan dan beban usah lainya. Dalam perusahaan manufactur barang yang dijual adalah barang yang dibuat sendiri sehingga harga pokoknya bergantung pada biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatanya. Biaya-biaya yang bersangkutan kemudian dikenal dengan Biaya Produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan produk, dikelola dengan suatu system yang antara lain didukung dengan prosedur pencatatan. Pencatatan dan pengikhtasaran biaya pembuatan produk merupakan bidang khusus dalam akuntansi yang disebut dengan Akuntansi Biaya( Cost Accounting). Seperti disebut di atas, perusahaan Manufactur menjual dihasilakanya untuk memperoleh keuntungan. Terjadinya penghasilan pada perubahan pengihktasaran aktiva, transaksi kewajiban terjadinya dan ekuitas penghasilan perusahaan dan . produk yang mengakibatkan Pencatatan transaksi lainnya dan yang mengakibatkan perubahan aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan , merupakan bidang Akuntasi Keuangan ( financial Accounting) Kesimpulan dari keterangan di atas, dalam hubungan dengan penyediaan laporan keungan, akuntansi yang diselenggarakan dalam perusahaan manufaktur terdiri atas sebagai berikut : 1. Akuntasi biaya, kegiatanya meliputi pencatatan, pengikhtisaran dan laporan transaksitransaksi yang menyangkut biaya pembuatan produk.Kegiatanya bertujuan untuk menyadiakan laporan biaya produksi untuk memenuhi kepentingan manajemen, antara mengenai informasi harga pokok produk yang dihasilkan. 2. Akuntansi keuangan kegiatanya meliputi pencatatan, pengikhtisaran dan laporan transaksi-transaksi yang menyangkut perubahan aktiva, kewajiban perusahaan. Kegiatanya bertujuan menyediakan laporan keuangan dan ekuitas untuk memenuhi kepentingan manajemen dan pihak ekstern. Dalam pelaksanaanya, kegiatanya akuntansi keuangan menggunakan data yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya, antara lain mengenai harga pokok produk dalam penentuan harga pokok penjualan dan nilai sediaan produk jadi dalam penyusunan neraca. KELENGKAPAN YANG DIGUNAKAN Dalam perushaan Manufaktur yang menyelenggarakan akuntansi secara manual, kelengkapan yang digunakan bergantung pada karakteristik produksi perusahaan yang bersangkutan. Secara umum meliputi dokumen transaksi, buku jurnal dan buku pembantu serta peralatan kantor yang digunakan untuk kegiatan menulis, menghitung, mengarsip dokumen dan kegiatan crerical lainya. 1. Dokumen Transaksi Formulir yang digunakan dalam perusahaan Manufaktur terdiri atas dokumen transaksi yang diperlukan dalam aktivitas pengolahan bahan baku menjadi produk yang siap untuk dijual, dokumen transaksi non produksi seperti penjualan produk, penerimaan piutang , pembayaran hutang dan transaksi lainya. Jenis dokumen-dokumen yang digunakan antara lain : a. Faktur pembelian, sebagai transaksi pembelian bahan baku atau bahan pembantu b. Bukti penerimaan dan pengeluaran barang gudang, sebagai bukti transaksi pemakaian bahan baku atau bahan pembantu dalam proses produksi c. Daftar gaji dan upah yang disusun berdasarkan kartu jam kerja, sebagai bukti pemakaian tenega kerja dalam proses produksi d. Laporan produk selesai sebagai bukti pencatatan harga pokok produk jadi untuk ditransfer ke gudang produk jadi e. Faktur penjualan sebagai bukti transaksi penjualan produk yang dihasilkan f. Bukti pengeluaran kas sebagai bukti transaksi pembayaran hutang gaji, dan pembayaran lainya g. Bukti penerimaan kas sebagai bukti penerimaan kas dari piutang, dari penjualan tunai, dan penerimaan kas dari transaksi lainya 2. Buku-buku yang Digunakan Buku dan kartu yang digunakan untuk pencatatan aktivitas produksi maupun aktivitas non produksi antara lain: a. Jurnal pembelian untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku , dan barang-barang lainya b. Jurnal pemakaian bahan baku dan bahan pembantu, untuk pencatatan pemakaian bahan baku dan bahan pembantu dalam proses produksi c. Kartu hadir, kartu jam kerja, daftar gaji dan upah d. Jurnal penjualan untuk mencatat transaksi penjualan produk yang dihasilkan e. Jurnal penerimaan kas dan pengeluaran kas f. Buku besar sebagai tempat menggolongkan dan mengikhtisarkan transaksi, baik transaksi yang menyangkut produksi maupun non produksi 3. Akun-akun Buku Besar yang Digunakan Siklus akuntansi perusahaan Manufaktur pada dasarnya sama dengan siklus akuntansi jenis perusahaan lainya. Transaksi dicatat dalam jurnal, posting dalam buku besar, data buku besar diikhtisarkan, kemudian dilaporkan. Pencatatan pada umumnya menggunakan system perpetual. Sesuai dengan karakteristitik kegiatan usaha Manufaktur, akun-akun buku besar yang digunakan meliputi akun-akun yang berhubungan dengan pencatatan biaya produksi dan akun-akun yang secara umum digunakan pada perusahaan lainya, seperti akun kas, hutang dan sebagainya. Akun- akun yang berhubungan dengan biaya produksi antara lain : a. Akun Sediaan Bahan Baku , sebagai tempat mencatat pembelian bahan baku b. Akun Gaji dan Upah, sebagai tempat mencatat gaji dan upah yang terjadi dalam suatu periode, baik gaji dan upah bagian produksi maupun bagian penjualan dan administrasi umum c. Akun Biaya Overhead Pabrik(BOP), sebagai tempat menampung biaya-biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung( Biaya produksi tidak langsung d. Akun Barang Dalam Proses (BDP), sebagai tempat menampung biaya produksi yang terjadi dalam suatu periode, akun tersebut dapat dirinci menjadi akun BDP-Biaya Bahan Baku, BDP-Biaya Tenaga Kerja, BDP-Biaya Overhead Pabrik e. Akun Sediaan Produk Jadi, sebagai tempat mencatat harga pokok produk selesai diproses f. Akun Sediaan Barang Dalam Proses, sebagai tempat mencatat harga pokok barang yang belum selesai diproses pada akhir periode g. Akun Harga Pokok Penjualan, sebagai tempat mencatat harga pokok produk yang dijual. AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR Perusahaan Manufaktur yang tidak begitu besar dan sederhana proses produksinya, kadangkadang menggunakan system akuntasi yang sederhana yang didasarkan pada system persediaan periodic, pencatatan persediaan yang digunakan dalam proses produksi, penentuan barang yang masih dalam proses, dan barang yang telah terjual, didasarkan pada perhitungan fisik periodik yang biasanya dilakukan pada akhir tahun. Perusahaan manufaktur yang lebih besar, lebih-lebih bila proses produksinya yang kompleks, biasanya menggunakan system akuntasi yang didasarkan pada persediaan perpetual. System akuntansi untuk operasi manufaktur yang didasarkan pada persediaan perpetual disebut system akuntansi biaya (cost aconting system). System ini dapat menghasilkan informasi tentang harga pokok produksi per unit dan lebih efektif dalam membantu manajemen dalam pengawasan biaya. PERSEDIAN POKOK AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Perbedaan yang terdapat dalam akuntansi untuk perusahaan manufaktur dengan perusahaan dagang, disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sifat operasi. Ciri-ciri sifat perusahaan dagang adalah menjual barang dagangannya tanpa mengelolah lebih dahulu barang yang dibelinya. Operasi perusahaan manufaktur tidak sesederhana perusahaan dagang, karena perusahaan manufaktur membuat sendiri barang yang akan di jualnya. Perusahaan manufaktur harus menggabungkan harga bahan yang dipakai, dengan biaya tenaga kerja dan biaya produksi lain untuk dapat menentukan harga pokok barang yang siap untuk dijual. ELEMEN-ELEMEN BIAYA PRODUKSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR. perusahaan manufaktur biasanya meneluarkan berbagai macam biaya dalam proses produksinya yang telah dikelompokan menjadi beberapa golongan antaranya adalah sebagai berikut : 1.Bahan Langsung 2.Tenaga Kerja Langsung 3.Overhead Pabrik. HARGA POKOK PRODUK DAN BIAYA PERIODE. Dalam perusahaan manufaktur terjadi baik biaya periode maupun pokok produk. Harga poko produk dikeluarkan untuk tujuan mndapatkan barang dagangan atau menghasilkan produk jadi. Karena harga pokok produk terjadi dalam usaha mendapatkan aktiva, maka pengeluaran tersebut membentuk harga perolehan aktiva. Biaya periode erat hubungannya dengan periode waktu terjadinya pengeluaran biaya. Pengeluaran ini tidak langsung berhubungan dengan proses menghasilkan produk. Oleh karena itu biaya periode dibebankan sebagai biaya pada periode pada terjadinya biaya tersebut. Termasuk dalam biaya periode adalah biaya penjualan dan biaya umum & administrasi. REKENING-REKENING KHUSUS DALAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Rekening-rekening dalam buku besar sebuah perusahaan perusahaan manufaktur biasanya lebih banyak bila dibandingkan dengan rekening buku besar sebuah perusahaan dagang. Hal ini disebabkan oleh sifat operasi perusahaan manufaktur yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan perusahaan dagang. Berikut adalah beberapa rekening yang biasa dijumpai dalam perusahaan manufaktur : 1.Rekening pembelian bahan baku 2.Rekening ikhtisar biaya produksi 3.Rekening persediaan bahan baku 4.rekening persediaan barang dalam proses 5.rekening persediaan barang jadi LAPORAN RUGI LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Laporan rugi laba pada perusahaan manufaktur sama dengan laporan rugi-laba pada perusahaan dagang. Keduannya melaporkan pendapatan (penjualan), biaya penjualan dan biaya umum & administrsi. Dala laporan rugi-laba perusahaan manufaktur, “Pembelian” diganti dengan “Harga Pokok Produksi” dan “Persedian Barang Dagangan” diganti dengan “Persedian Barang Jadi”. Untuk memberikan informasi yang lengkap, biasanya laporan rugi-laba fiberi lampiran yang berupa Laporan Harga Pokok Produksi, dan bila perlu kadang-kadang dilampiran juga denga Daftar biaya Overhead pabrik. Hubungan antara laporan rugi-laba dengan laporan harga pokok produksi dan daftar biaya overhead. NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Neraca lajur dibuat peerusahaan denga tujuan : 1.Untuk melihat pengaruh penyesuaian atas rekening-rekening sebelum membuat penyesuaian dalam jurnal dan membukukannya ke dalam rekening yang bersangkutan. 2.Memisah-misahkan rekening-rekening (setelah disesuaikan) berdasarkan laoporan yang akan terjadi tempat pelaporan masing-masing rekening. 3.menghitung dan menguji ketelitian perhitungan laba bersih. Penyusunan neraca lajur pada perusahaan manufaktur dimulai dengan memasukan saldosaldo rekening yang belum disesuaikan ke dalam kolom “neraca saldo”. Selanjutnya dimasukan juga penyesuaian yang diperlukan pada kolom “Penyesuaian”. Pengertian Akuntansi Biaya, konsep Biaya, dan Klasifikasi Biaya Pengertian Akuntansi Biaya akuntansi biaya adalah proses pencatatan dan penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Konsep Biaya Seringkali istilah biaya (cost) digunakan sebagai sinonim dari beban(expense), walaupun Sebenarnya keduanya berbeda. Biaya (cost) didefinisikan sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Beban(expense) adalah aliran keluar terukur dari barang atau jasa yang kemudian ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba atau semua biaya yang sudah habis masa berlakunya yang dapat dikurangkan dari pendapatan. Klasifikasi Biaya 1. Klasifikasi biaya berdasarkan pada Hubungan Biaya dengan Produk A. Biaya Manufakrtur Biaya Bahan Baku Langsung Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik. Bahan baku tidak langsung Tenaga Kerja tidak langsung B. Biaya komersial Meliputi biaya pemasaran (biaya promosi, biaya penjualan, biaya pengiriman) dan biaya administrasi dan umum. Beban pemasaran Beban administartif 2. Klasifikasi biaya berdasarkan pada Hubungan dengan Volume Produksi Biaya Tetap (fixed cost) Biaya Variabel (variable cost) Biaya semi variable 3. Klasifikas biaya berdasarkan Dept Produksi/Segmen Lain Biaya Langsung Departemen Biaya tidak langsung departemen Biaya bersama (common cost) Biaya gabungan (join cost) 4. Klasifikas biaya Periode Akuntansi Pengeluaran Modal (capital expenditure) Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditure) 5. Klasifikas biaya berdasarkan Suatu Keputusan, Tindakan, atau Evaluasi Biaya Differensial Biaya oportunitas Biaya tertanam Biaya yang tak dapat dihindari A. Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan bagian yang integral dengan financial accounting. Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporanbiaya. Biaya (cost) berbeda dengan beban (expense), cost adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan beban (expense) adalah expired cost yaitu pengorbanan yang diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban ini dikaitkan dengan revenue pada periode yang berjalan. Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil penjualan, maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan sebagai loss. B. Manfaat AkuntansiBiaya Tujuan atau manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan, yaitu untuk : 1. Perencanaan dan Pengendalian Laba. Akuntansi biaya menyediakan informasi atau data biaya masa lalu yang diperlukan untuk menyusun perencanaan, dan selanjutnya atas dasar perencanaan tersebut, biaya dapat dikendalikan dan akhirnya pengendalian dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perbaikan dimasa yang akan datang. 2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa. Penetapan harga pokok akan dapat membantu dalam : (a) penilaian persediaan baik persediaan barang jadi maupun barang dalam proses, (b) penetapan harga jual terutama harga jual yang didasarkan kontrak, walaupun tidak selamanya penentuan harga jual berdasarkan harga pokok, (c) penetapan laba. 3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen. C.Klasifikasi Biaya Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan untuk berbagai tujuan, sehingga penggolongan biaya juga didasarkan atas disesuaikan dengan tujuan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menggolongkan biaya diantaranya : 1. BerdasarkanFungsi Pokok Perusahaan a. Factory Cost (Biaya Produksi)    Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost) Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost) Biaya Tidak Langsung (Factory Overhead) b. Commercial Expense (Operating Expense)   Marketing and Selling Expense General & Administration Expense 2. Berdasarkan Periode Akuntansi  Capital Expenditure (Pengeluaran Modal). Pengeluaran ini akan memberi manfaat pada beberapa periode akuntansi. Jenis pengeluaran ini dikapitalisir dan dicantumkan sebagai harga  perolehan. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai capital expenditure jika pengeluaran ini memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi, jumlahnya relatif besar, dan pengeluaran ini sifatnya tidak rutin. Revenue Expenditure (Pengeluaran Penghasilan). Pengeluaran ini akan memberi manfaat pada periode akuntansi dimana pengeluaran ini terjadi. Pengeluaran ini menjadi beban pada periode tersebut, dan dicantumkan dalam income statement. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai revenue expenditure jika pengeluaran tersebut memberi manfaat pada periode terjadinya pengeluaran tersebut, jumlahnya relatif kecil, dan umumnya pengeluaran ini sifatnya rutin. 3. BerdasarkanPengaruh Manajemen Terhadap Biaya   Biaya Terkendali (Controllable Cost). Adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Biaya Tidak Terkendali (Uncontrollable Cost). Adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang manajer atau pejabat tingkatan tertentu. 4. KarakteristikBiaya Dihubungkan Dengan Keluarannya    Biaya Engineered. Adalah elemen biaya yang mempunyai hubungan fisik yang eksplisit dengan output. Biaya Discretionary. Biaya ini disebut juga managed cost atau programmed cost adalah semua biaya yang tidak mempunyai hubungan yang akurat dengan output. Biaya Commited atau biaya kapasitas. Adalah semua biaya yang terjadi dalam rangka untuk mempertahankan kapasitas atau kemampuan organisasi dalam kegiatan produksi, pemasaran dan administrasi. 5. PengaruhPerubahan Volume Kegiatan Terhadap Biaya   Biaya Tetap. Yaitu biaya yang jumlah tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan sampai pada tingkatan tertentu. Biaya tetap perunit berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan. Biaya Variabel. Biaya variabel mengasumsikan hubungan linear antara biaya aktifitas tersebut. Biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan maka semakin besar pula jumlah total biaya variabel.  Biaya Semi Variabel. Yaitu biaya dimana jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding/proporsional. 6. BerdasarkanObjek yang dibiayainya   Biaya Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasi kepada objek atau pusat biaya tertentu. Biaya Tidak Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasi pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya. D. SistemAkuntansi Biaya Sistem akuntansi biaya (cost system) dapat dikelompokkan menjadi dua sistem yaitu : 1. Actual Cost System (Sistem Harga Pokok Sesungguhnya). Yaitu system pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sesuai dengan harga pokok yang sesungguhnya dinikmati. Pada sistem ini, harga pokok produksi baru dapat dihitung pada akhir periode setelah biaya sesungguhnya dikumpulkan. Standard Cost System (Sistem Harga Pokok Standar). Yaitu sistem pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sebesar harga pokok yang telah ditentukan/ditaksir sebelum suatu produk atau pesanan dikerjakan. AKUNTANSI BIAYA DAN PENGERTIAN BIAYA Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Manajemen Secara garis besar akuntansi dapat dibagi menjadi dua tipe pokok, yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan menghasilkan informasi terutama untuk memenuhi kebutuhan pihak luar, sedangkan akuntansi manajemen menghasilkan informasi terutama untuk memenuhi kebutuhan para manajer dari berbagai jenjang organisasi. Oleh karena perbedaan karakteristik pemakai informasinya, akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen mempunyai perbedaan karakteristik. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan mencakup perusahaan secara keseluruhan, berorientasi pada masa yang lalu, mempunyai rentang waktu yang kurang fleksibel, dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim, ringkas, teliti, sama sekali tidak menyangkut aspek perilaku manusia dalam organisasi, serta bersumber pada ilmu ekonomi. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen mencakup bagian dari perusahaan, berorientasi pada masa yang akan datang, mempunyai rentang waktu yang fleksibel tidak dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim, terinci, memiliki unsur taksiran yang besar, berhubungan langsung dengan perilaku manusia dalam organisasi, dan bersumber pada ilmu ekonomi dan psikologi sosial. Pemahaman karakteristik kedua tipe akuntansi tersebut akan membantu Anda memahami karakteristik akuntansi biaya. Akuntansi Biaya Merupakan Bagian DariAkuntansi Keuangan Dan Akuntansi Manajemen Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya untuk memenuhi berbagai macam tujuan. Untuk tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya menyajikan biaya yang telah terjadi di masa yang lalu. Untuk tujuan pengendalian biaya, akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang diperkirakan akan terjadi dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, kemudian menyajikan analisis terhadap penyimpangannya. Untuk tujuan pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya menyajikan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil, dan biaya yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus ini selalu berhubungan dengan biaya masa yang akan datang. Akuntansi biaya dapat berperan sebagai bagian dari akuntansi keuangan. Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi keuangan seperti yang telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1. Akuntansi biaya dapat pula berperan sebagai bagian dari akuntansi manajemen. Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi manajemen, seperti telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1. Biaya Biaya merupakan objek yang diproses oleh akuntansi biaya. Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Tidak semua pengorbanan sumber ekonomi disebut dengan istilah biaya. Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan pengorbanan sumber ekonomi, baik yang sudah terjadi maupun yang secara potensial akan terjadi adalah harga pokok dan rugi. Struktur Organisasi Dan Proses Produksi Suatu Perusahaan Manufaktur Akuntansi biaya dapat diterapkan baik dalam perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Dalam Modul 1 sampai dengan Modul 9, akuntansi biaya yang akan dibahas adalah akuntansi biaya yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang kegiatan pokoknya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan memasarkan hasil produksinya tersebut. Ada tiga fungsi pokok dalam organisasi perusahaan manufaktur: fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan umum. Bagian-bagian yang dibentuk untuk melaksanakan fungsi produksi di bagi menjadi dua kelompok: bagian-bagian yang mengolah secara langsung bahan baku menjadi produk jadi dan bagian-bagian yang membantu menyediakan jasa untuk memperlancar proses pengolahan bahan baku departemen-departemen produksi dan kelompok kedua disebut departemen-departemen pembantu (jasa). Cara Penggolongan Biaya Biaya dapat dikelompokkan menjadi berbagai macam kelompok biaya sesuai dengan kebutuhan pemakai. Pengelompokan biaya yang paling sederhana dan paling mendasar, yang selalu dilakukan oleh setiap perusahaan adalah pengelompokan biaya menurut objek pengeluaran. Biaya dapat dikelompokkan menurut fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan, menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai, menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan dan menurut jangka waktu manfaatnya. Metode Pengumpulan Harga Pokok Produk Secara garis besar proses pengolahan produk dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: proses produksi berdasar pesanan dan proses produksi massa. Perusahaan yang proses produksinya berdasar pesanan mengumpulkan biaya produksinya dengan metode harga pokok pesanan. Perusahaan yang proses produksinya berupa produksi massa mengumpulkan biaya produksinya dengan metode harga pokok proses. Laporan laba-rugi perusahaan manufaktur dan laporan laba-rugi perusahaan dagang berbeda elemen yang tercantum di dalamnya. Sistem Akuntansi Biaya Secara garis besar sistem akuntansi biaya dibagi menjadi tiga, yaitu (1) sistem biaya sesungguhnya, (2) sistem biaya normal, dan (3) sistem biaya standar. Sistem biaya sesungguhnya adalah sistem pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik pada produk berdasar biaya sesungguhnya. Sistem biaya normal adalah sistem pembebanan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung pada produk berdasar biaya sesungguhnya, sedangkan biaya overhead pabrik berdasar tarif yang ditentukan di muka. Sistem biaya standar adalah sistem pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik pada produk berdasar biaya seharusnya. Metode Pembiayaan (Costing) Perusahaan dapat menggunakan dua metode costing yaitu: (1) metode costing penuh, dan (2) metode costing variabel. Metode costing penuh memasukkan semua biaya produksi ke dalam biaya produk, sedangkan metode costing variabel hanya memasukkan biaya produksi variabel ke dalam biaya produk. Metode costing penuh menggunakan pendekatan fungsional untuk menyusun laporan laba-rugi, sedangkan metode costing variabel menggunakan pendekatan variabilitas. Metode costing penuh digunakan oleh pihak eksternal, sedangkan metode costing variabel banyak digunakan oleh pihak internal perusahaan. METODE HARGA POKOK PESANAN Siklus Akuntansi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan usaha perusahaan yang bersangkutan. Siklus kegiatan perusahaan dagang dimulai dengan pembelian barang dagangan dan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut, diakhiri dengan penjualan kembali barang dagangan tersebut. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya juga dimulai dengan pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang yang dijual. Siklus perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan penyerahan jasa kepada pemakainya. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan biaya persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan disajikannya harga pokok jasa yang diserahkan. Siklus perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan bahan baku di bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsikan untuk produksi serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang. Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produksinya sesuai dengan spesifikasi pemesan, dan proses produksinya terputus-putus untuk memenuhi pesanan. Karakteristik kegiatan perusahaan ini menentukan karakteristik metode harga pokok pesanan yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi dalam perusahaan tersebut. Akuntansi biaya banyak sekali menggunakan rekening pembantu yang diawasi dengan membentuk rekening kontrol biaya dalam buku besar. Rekening kontrol yang digunakan untuk menampung biaya produksi adalah rekening-rekening: Barang dalam Proses, Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan. Rekening kontrol untuk menampung biaya nonproduksi adalah rekening-rekening: Biaya Administrasi dan Umum dan Biaya Pemasaran. Untuk merinci biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu digunakan kartu harga pokok produk, yang berfungsi sebagai rekening pembantu rekening Barang dalam Proses yang terdapat dalam buku besar. Metode Harga Pokok Pesanan Dalam metode harga pokok proses, biaya produksi dibagi menjadi dua kelompok: biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung. Biaya produksi langsung dibebankan kepada pesanan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka. Untuk mencatat biaya produksi, baik yang langsung maupun tak langsung, di dalam buku besar disediakan rekening Barang Dalam Proses. Untuk merinci biaya produksi yang dicatat dalam rekening Barang Dalam Proses tersebut, dibentuk rekening pembantu berupa Kartu Harga Pokok. BIAYA OVERHEAD PABRIK Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Perusahaan yang melaksanakan aktivitas suatu produk akan dibebani biaya overhead pabrik di samping biaya-biaya lain yang lebih penting. Hal ini biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik menurut sifatnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu biaya bahan penolong, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya tenaga kerja tak langsung, beban biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap, beban biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu, dan biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai. Apabila ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan maka biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu biaya overhead pabrik tetap, Biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik semivariabel. Adapun unsur biaya overhead pabrik yang bersifat semivariabel dalam keperluan penentuan tarif dan pengendalian biaya, hal ini dapat dipecah menjadi dua yaitu: biaya tetap dan biaya variabel. Perusahaan di samping memiliki departemen produksi, juga mempunyai departemen-departemen pembantu. Dari hubungan antar departemen yang ada dalam pabrik maka biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya overhead pabrik langsung departemen dan biaya overhead pabrik tak langsung departemen. Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka. Alasan penggunaan tarif yang ditentukan di muka untuk memperhitungkan biaya overhead pabrik ke dalam harga pokok produk adalah kebutuhan manajemen akan informasi harga pokok produk yang tidak dipengaruhi oleh adanya: perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara, perubahan tingkat efisiensi produksi, terjadinya biaya overhead yang bersifat sporadik, dan adanya biaya overhead yang terjadinya hanya pada saatsaat tertentu saja. Di samping itu, dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, manajemen memerlukan informasi harga pokok produk per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan, sedangkan beberapa elemen biaya overhead pabrik ada yang baru dapat diketahui jumlahnya dengan pasti pada akhir periode. Dengan demikian, penggunaan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka untuk membebankan jenis biaya tersebut kepada produk, merupakan sesuatu keharusan. Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk menghitung tarif biaya overhead pabrik, yaitu menyusun anggaran biaya overhead pabrik, memilih dasar pembebanan, dan menghitung tarif biaya overhead pabrik. Dasar yang dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk adalah satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung dan jam mesin. Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Dan Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik Setelah tarif biaya overhead pabrik ditentukan, produk yang diproduksi dalam tahun anggaran dibebani biaya overhead pabrik dengan tarif tersebut. Dalam tahun anggaran tersebut dikumpulkan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Pada akhir tahun, biaya overhead yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif dibandingkan dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Selisih yang terjadi antara biaya overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan tarif dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi dianalisis menjadi dua macam selisih: selisih anggaran dan selisih kapasitas. Selisih tersebut pada akhir tahun diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan atau diperlakukan sebagai penyesuaian perhitungan laba-rugi. DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Departemen Untuk pengendalian biaya dan penentuan harga pokok produk secara teliti, perlu diadakan departementalisasi biaya overhead pabrik dan ditentukan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi. Penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen ini sangat diperlukan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi. Pada dasarnya penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen tidak berbeda langkahnya dengan penentuan tarif tunggal untuk seluruh pabrik. Masalah yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen pembantu lainnya dan ke departemen produksi. Secara garis besar alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dikelompokkan menjadi dua macam: metode alokasi langsung dan metode alokasi bertahap. Metode alokasi langsung dibahas dalam Kegiatan Belajar 1 ini, sedangkan metode alokasi bertahap dibahas dalam Kegiatan Belajar 2 dan Kegiatan Belajar 3. Metode Alokasi Bertahap Yang Memperhitungkan Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu Dalam Kegiatan Belajar 2 ini Anda telah mempelajari bagaimana mengalokasikan biaya overhead pabrik dengan memperhitungkan jasa timbal balik yang dikonsumsi oleh departemen pembantu. Metode yang digunakan untuk memperhitungkan transfer jasa timbal balik antardepartemen pembantu tersebut adalah metode alokasi kontinu dan metode aljabar. Dua metode tersebut akan menjamin perhitungan tarif alokasi biaya departemen pembantu yang lebih teliti. bila dibandingkan Dengan metode alokasi langsung yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan Belajar 1. Metode Alokasi Bertahap Yang Tidak Memperhitungkan Transfer Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu Dalam Kegiatan Belajar 3 Anda telah mempelajari secara lengkap mengenai bagaimana mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen pembantu lain dan departemen produksi tanpa memperhitungkan jasa timbal balik antardepartemen pembantu, perhitungan tarif biaya overhead per departemen produksi, perhitungan pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik. Dengan demikian Anda telah mempelajari secara lengkap saluran aspek akuntansi biaya overhead pabrik dan sudah siap untuk mempelajari akuntansi elemen harga pokok produk yang lain, yang akan saya sajikan dalam Modul 5 (Akuntansi Biaya Bahan dan Akuntansi biaya Tenaga kerja). BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA Elemen Biaya yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli Menurut prinsip akuntansi yang lazim, semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli yang tercantum dalam faktur dari penjual ditambah biaya angkutan, biaya-biaya pembelian lain serta biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah. Biaya angkutan dapat diperlakukan dengan dua cara; diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli atau diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik. Biaya angkutan diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli dengan dasar perbandingan kuantitas, perbandingan harga faktur atau dengan tarif yang ditentukan di muka. Dalam memperhitungkan biaya-biaya unit organisasi yang terkait dalam perolehan bahan baku, perusahaan membuat tarif pembebanan biaya pembelian untuk dibebankan kepada bahan baku yang dibeli. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku Yang Dipakai Dalam Produksi Bahan baku yang disimpan di gudang berasal dari berbagai pembelian, yang kemungkinan besar mempunyai harga per satuan yang berbeda dari pembelian yang satu ke pembelian yang lain. Hal ini menimbulkan masalah pemilihan harga pokok per satuan bahan baku yang dipakai dalam produksi, metode penentuan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi adalah: metode identifikasi khusus, metode rata-rata bergerak, MTKP, metode biaya standar, metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan. Pencatatan persediaan bahan baku dapat dilakukan dengan metode mutasi persediaan atau metode persediaan fisik. Masalah-Masalah Khusus Yang Berhubungan Dengan Bahan Baku Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok per satuan produk jadi menjadi lebih tinggi. Jika sisa bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi atau sebagai pendapatan di luar usaha. Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk rusak adalah bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul dari adanya produk rusak tersebut. Kerugian adanya produk rusak dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkannya atau diperhitungkan sebagai elemen biaya overhead pabrik. Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, namun dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut. Biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkan produk cacat tersebut atau diperlukan sebagai elemen biaya overhead pabrik. Pengertian Biaya Tenaga Kerja Dan Cara Penggolongannya Dalam perusahaan biaya tenaga kerja digolongkan dengan berbagai macam cara: menurut fungsinya pokok dalam perusahaan, menurut kegiatan bagian-bagian dalam perusahaan, menurut jenis pekerjaan, dan menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan. Akuntansi biaya tenaga kerja melalui empat tahap: pencatatan distribusi biaya tenaga kerja, pencatatan utang upah, pencatatan pembayaran upah kepada karyawan yang berhak, dan penyetoran pajak penghasilan karyawan ke Kas Negara. METODE HARGA POKOK PROSES PENGANTAR Metode harga pokok proses tanpa memperhitungkan persediaan produk dalam proses awal Metode harga pokok proses diterapkan untuk mengolah informasi biaya produksi dalam perusahaan yang produksinya dilakukan secara massa. Metode harga pokok proses berbeda dengan metode harga pokok pesanan dalam hal pengumpulan biaya produksi, perhitungan harga pokok per satuan, klasifikasi biaya produksi, pengelompokan biaya yang dimasukkan dalam elemen biaya overhead pabrik. Masalah pokok yang terdapat dalam metode harga pokok proses adalah bagaimana menentukan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen produksi berikutnya atau ke gudang dan bagaimana menentukan harga pokok produk yang pada akhir periode masih dalam proses di suatu departemen untuk menentukan harga pokok tersebut, diperlukan perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen untuk menghitung biaya per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen, perlu ditentukan unit ekuivalensi. Unit ekuivalensi ini dipengaruhi oleh jumlah produk selesai yang ditransfer ke departemen pada akhir periode, dan ada tidaknya produk yang hilang dalam proses METODE HARGA POKOK PROSES LANJUTAN Persediaan Produk Dalam Proses Awal Harga pokok produk dalam proses awal menimbulkan masalah penentuan harga pokok produk selesai yang ditransfer dari suatu departemen ke departemen produksi berikutnya atau ke gudang. Untuk mengatasi masalah tersebut ada dua metode penentuan harga pokok: metode harga pokok rata-rata tertimbang dan metode masuk pertama, ke luar pertama. Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, tiap elemen harga pokok yang melekat pada produk dalam proses dijumlahkan dengan elemen biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang untuk menghitung harga pokok rata-rata tertimbang. Kemudian, harga pokok rata-rata tertimbang ini dikaitkan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang untuk menentukan harga pokok produk tersebut. Dalam metode masuk pertama ke luar pertama, harga pokok produk dalam proses awal merupakan harga pokok pertama yang membentuk harga pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang. Tambahan bahan baku di departemen setelah departemen produksi yang pertama mempunyai dua kemungkinan: menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan atau tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan. Jika bahan baku tersebut tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan, tambahan biaya bahan baku tersebut hanya menambah biaya bahan baku per satuan dalam departemen tersebut. Jika bahan baku tersebut menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan, tambahan bahan baku tersebut akan berakibat terhadap penyesuaian harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan tambahan biaya bahan baku per satuan dalam departemen setelah departemen produksi pertama. PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN Biaya Bersama Untuk kepentingan penentuan penghasilan dan perhitungan harga pokok persediaan, biaya bersama perlu dialokasikan kepada produk bersama. Empat, metode alokasi biaya bersama kepada produk bersama adalah: metode nilai jual relatif, metode satuan fisik, metode rata-rata biaya per satuan, dan metode rata-rata tertimbang. Oleh KARENA produk sampingan merupakan produk yang mempunyai nilai jual relatif jauh lebih rendah dibandingkan dengan produk utamanya maka ada dua kelompok metode perlakuan terhadap produk sampingan. Kelompok metode yang pertama tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan karena rendahnya nilai jual produk sampingan tersebut, sedangkan kelompok metode kedua berusaha mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan. SISTEM BIAYA STANDAR DAN PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL Definisi Dan Deskripsi Sistem Biaya Standar Sistem biaya standar merupakan proses untuk menentukan biaya di muka yang mencerminkan biaya yang seharusnya untuk mengolah produk atau jasa, mengumpulkan biaya sesungguhnya, menghitung dan menganalisis selisih, serta perlakuan selisih biaya yang timbul. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan pemakaian sistem biaya standar, antara lain untuk: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. perencanaan kegiatan; koordinasi kegiatan antarbagian; pengambilan keputusan; pengendalian biaya; memungkinkan penerapan prinsip pengecualian; penentuan insentif para personal, serta mengurangi biaya administrasi. Prosedur Akuntansi Biaya Standar, Analisis Selisih Komposisi dan Selisih Hasil Ada dua prosedur akuntansi biaya standar yakni pertama, metode rancangan tunggal (single plan) dan kedua, metode rancangan berat sebelah atau metode rancangan parsial (partial plan). Apabila menggunakan metode single plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut: 1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya; 2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya sehingga selisih biaya harus dihitung dan dianalisis terlebih dahulu; 3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya; 4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya. Apabila digunakan metode partial plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut: 1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya; 2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar biaya sesungguhnya; 3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya; 4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya; serta 5. selisih biaya harus dihitung dan dianalisis pada akhir periode dari perbedaan sebelah debet dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses. Perbedaan Harga Pokok Penuh Dan Harga Pokok Variabel Penentuan harga pokok variabel bermanfaat untuk pengendalian manajemen dalam jangka pendek, khususnya untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan pengendalian. Metode harga pokok penuh memasukkan semua elemen biaya produksi, baik tetap maupun variabel, ke dalam harga pokok produk. Metode harga pokok variabel hanya memasukkan elemen biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produk. Terdapat perbedaan antara metode harga pokok penuh dan harga pokok variabel. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari segi elemen harga pokok, besarnya harga pokok persediaan, susunan laporan laba-rugi, besarnya laba-rugi. Penerapan Metode Penentuan Harga Pokok dan Kelemahan Harga Pokok Variabel Kegiatan Belajar 4 ini lebih menegaskan bahwa perbedaan laba antara metode harga pokok penuh dan metode harga pokok variabel dipengaruhi oleh perbedaan volume produksi dengan volume penjualan atau perbedaan persediaan akhir dengan persediaan awal. Perbedaan tersebut besarnya ditentukan oleh biaya produksi tetap satuan. Harga pokok persediaan pada metode harga pokok penuh selalu lebih tinggi dibandingkan dengan pada metode harga pokok variabel. Metode harga pokok variabel mengandung beberapa kelemahan, yaitu untuk pelaporan pihak luar, pemisahan biaya tetap dan variabel, dan penyimpangan asas pemanfaatan fasilitas. Dalam akuntansi persediaan, ada dua sistim yang lumrah digunakan, yaitu: sistim periodik dan sistim perpetual. Bagi pegawai accounting, sistim persediaan periodik atau perpetual—yang diterapkan di dalam perusahaan—menentukan bagaimana pencatatan transaksi persediaan dilakukan. Sedangkan bagi pengelola keuangan dan pengelola usaha, sistim persediaan yang diterapkan menentukan seberapa efektif persediaan bisa dikelola—terutama aspek pengawasannya. Melalui tulisan ini, saya ingin membahas mengenai sisim persediaan periodik dan perpetual, mulai dari pebedaaan yang paling fundamental, perbadingan jurna-per-jurnal, hingga implikasinya terhadap laporan keuangan dan pengelolaan persediaan. Dengan kehadiran pembahasan ini, saya berharap pembaca memperoleh gambaran yang jelas mengenai sistim persediaan periodik dan perpetual, dalam tataran inplementasi di perusahaan. Namun sebelum itu, mari kita lihat sekilas; apa itu persediaan. Persediaan dan Impilkasinya Terhadap Laporan Keuangan Sebelum berpikir yang rumit-rumit—termasuk implikasi (pengaruh) persediaan terhadap laporan keuangan dan pengelolaan keuangan, APA ITU PERSEDIAAN? Sederhananya, yang disebut persediaan adalah apa yang oleh masyarakat umum kenal dengan istilah “stok”. Di Eropa, sampai sekarang masih menggunakan istilah “stock”. Tetapi secara internasional persediaan disebut dengan istilah “inventory”, yang disebut stock justru saham. Mau disebut inventory, mau disebut stock, silahkan. Yang lebih penting di sini: wujud dari persediaan itu berupa apa? Wujud fisik persediaan suatu perusahaan tergantung pada jenis usahanya. Meskipun pada kenyataannya ada banyak jenis atau model usaha, dalam akuntansi—untuk tujuan penyederhanaan—jenis usaha biasanya hanya dibagi menjadi 3 kelompok saja. Berikut adalah 3 jenis perusahaan beserta persediaannya:    Perusahaan Jasa (misal: konsultan, agen, broker, dll) – Tidak memiliki persediaan Perusahaan Dagang (misal: toko, mini market, dll) – Persediaannya berupa barang jadi Perusahaan Manufaktur (misal: pabrik gula, pabrik pakaian jadi, dll) – Persediaannya berupa: (a) bahan baku; (b) bahan penolong; (c) barang dalam proses; dan (d) barang jadi. Persediaan berimplikasi luas terhadap pelaporan keuangan dan pengelolaan keuangan perusahaan. Apa implikasinya terhadap laporan keuangan? Persediaan berimplikasi langsung terhadap Neraca dan Laporan Laba-Rugi:   Di Neraca, persediaan disajikan dalam kelompok “Aktiva Lancar” (current assets)— setelah akun “Piutang” (silahkan lihat contoh format Neraca), sehingga besarkecilnya nilai saldo persediaan yang disajikan berpengaruh terhadap besar kecilnya nilai aktiva (aset) secara keseluruhan. Di Laporan Laba Rugi, besar kecilnya PENGGUNAAN persediaan (bahan baku, bahan penolong dan barang jadi) menentukan besar kecilnya “Harga Pokok Penjualan” (HPP), yang pada akhirnya juga akan menentukan besar kecilnya “Laba” atau “Rugi” yang disajikan di dalam laporan laba-rugi. Pada akhirnya, besar-kecilnya laba/rugi yang dibukukan pada suatu periode akuntansi berimplikasi terhadap besarkecilnya “Laba Ditahan” (Retained Earning) yang disajikan di Neraca—persisnya di kelompok akun “Ekuitas.” Oke. Implikasi persediaan terhadap laporan keuangan sudah jelas terlihat. Pertanyaannya:Apakah penerapan sistim persediaan periodik/perpetual berpengaruh terhadap laporan keuangan? Maksud saya, apakah dengan menggunakan sistim perpetual membuat laporan keuangan menjadi berbeda jika dibandingkan dengan menggunakan sistim periodik? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat perbandingan antara sistim persediaan periodik dengan perpetual. Yuk pindah ke paragraf berikutnya… Perbedaan Paling Fundamental Antara Sistim Periodik dan Perpetual Perbedaan paling mencolok antara sistim periodik dengan sistim perpetual ada pada 2 hal: 1. Penentuan Nilai Saldo Akhir Persediaan di Neraca: (a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menerapkan sistim periodik, nilai saldo akhir persediaan di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan yang lumrah dikenal dengan istilah “stok opname” —sederhananya; di akhir periode, fisik barang bersediaan (bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) satuan barang. (b) Sistim Perpetual – Jika yang diterapkan adalah sistim perpetual, perusahan tidak perlu melakukan penghitungan fisik untuk menentukan nilai saldo akhir persediaan., karena setiap transaksi terkait dengan persediaan—baik kenaikan maupun penurunan— telah dicatat melalui penjurnalan. Meskipun demikian, penghitungan fisik tetap dilakukan untuk kemudian dibandigkan dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku persediaan. Jika terjadi perbedaan antara saldo akhir hasil penghitungan fisik dengan saldo akhir yang ditunjukan oleh buku persediaan, maka dibuatkan rekonsiliasi persediaan dengan memasukan jurnal penyesuaian persediaan (inventory adjustment entry). 2. Penentuan Persediaan Digunakan (atau Terjual) dalam Harga Pokok Penjualan: (a) Sistim Periodik – Jika perusahaan menggunakan sistim periodik, maka nilai persediaan yang digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok Penjualan”, dihitung dengan cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan total pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang diperoleh melalui penghitungan fisik. Misalnya: Data persediaan JAK Mart (perusahaan dagang) untuk tahun 2012 adalah sbb:    Saldo awal = Rp 20,000,000 Pembelian Bersih Jan s/d Des 2012 = Rp 150,000,000 Saldo akhir 31 Desember 2012 (diketahui setelah penghitungan fisik) = Rp 22,000,000 Harga Pokok Penjualan = 20,000,000 + 150,000,000 – 22,000,000 = 148,000,000. Selanjutnya harga pokok ini dimasukan dengan journal penyesuaian (sebentar lagi kita bahas di perbandingan jurnal.) (b) Sistim Perpetual – Dengan sistim perpetual, perusahaan tidak perlu lagi membuat perhitungan seperti pada sistim periodik karena penggunaan persediaan langsung diakui setiap kali ada penjualan dengan mendebit akun “Harga Pokok Penjualan” dan mengkredit “Persediaan” di sisi lainnya, seperti jurnal di bawah ini: [Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx [Kredit]. Persediaan = xxx “Oke. Dengan sistim perpetual setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan volume persediaan selalu dicatat dengan memasukan jurnal begitu transaksi terjadi. Apakah dengan sistim periodik transaksi-transaksi yang terjadi tidak dicatat samasekali?” Mungkin ada yang berpikir seperti itu. Tentu saja dicatat. Hanya saja, biasanya, menggunakan nama akun berbeda dibandingkan jika menggunakan sistim perpetual. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat transaksi-per-transaksi. Lanjut… Perbandingan Sistim Periodik Vs Perpetual TransaksiPer-Transaksi Ada banyak transaksi yang mengakibatkan volume persediaan menjadi meningkat atau menurun selama satu periode. Di sini kita lihat perbandingan sistim periodik dan perpetual transaksi-per-transaksi, jurnal-per-jurnal. 1. Pembelian dan Penjualan Barang Dalam sistim perpetual, pembelian dan penjualan barang persediaan dicatat langsung ke akun “Persediaan,” dengan kata lain: perubahan nilai nominal dan volume persediaan langsung terlihat dalam buku besar (ledger) persediaan setiap kali ada transaksi pembelian dan penjualan. Sedangkan dalam sistim periodik yang dicatat hanya kenaikan nilai dan volume persediaan melalui akun yang disebut dengan “Pembelian”, sementara tidak mencatat adanya penurunan pada setiap transaksi penjualan yang terjadi (penurunan persediaan diakui sekaligus di akhir periode dengan melakukan pemeriksaan fisik). Untuk lebih jelasnyanya, kita lihat contoh berikut ini: JAK Mart, Perusahaan Grossir, menunjukan data sbb: (a) Saldo Awal Persediaan = 100 units @ Rp 60,000 = Rp 6,000,000 (b) Pembelian = 900 units @ Rp 60,000 = Rp 54,000,000 (c) Penjualan = 600 units @ Rp 120,000 = Rp 72,000,000 (d) Saldo Akhir = 400 units @Rp 60,000 = Rp 24,000,000 (Note: Untuk menghindari penggunaan cost flow—yang bisa membingungkan, kita asumsikan cost per unit persediaan konstan dari awal hingga akhir periode) Jika JAK Mart menggunakan sistim perpetual, maka alur transaksi dan jurnalnya akan nampak sbb: (a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000 (b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal: [Debit]. Persediaan = Rp 54,000,000 [Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000 (c) Penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000 per unit dicatat dengan sepasang jurnal: [Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000 [Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000 (Untuk mengakui penjualan dan piutang) Dan; [Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000 [Kredit]. Persediaan = Rp 36,000,000 (Untuk mengakui harga pokok penjualan sekaligus penurunan nilai inventory, 60,000 x 600 = Rp 36,000,000.) (d) Kecuali ada perbedaan antara hasil penghitungan fisik dengan buku, maka tidak ada jurnal penyesuaian yang perlu dimasukan. Saldo akhir persediaan otomatis menunjukan nilai Rp 24,000,000. Bagaimana jika JAK Mart menggunakan sistim periodik? Jurnalnya akan nampak sebagai berikut: (a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000 (b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal: [Debit]. Pembelian = Rp 54,000,000 (menggunakan akun pembelian) [Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000 (c) Pada sistim periodik, penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000/unit dicatat hanya dengan satu jurnal saja—untuk mengakui penjualan dan piutang dagang (Note: penurunan persediaan dan pengakuan harga pokok penjualan dilakukan sekaligus di akhir periode): [Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000 [Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000 (Untuk mengakui penjualan dan piutang) (d) Di akhir periode, setalah dilakukan penghitungan fisik, JAK memasukan jurnal penyesuaian—untuk mengakui persediaan, harga pokok penjualan, sekaligus ‘menghapus’ saldo akun “Pembelian”—sebagai berikut: [Debit]. Persediaan = Rp 18,000,000 [Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000 [Kredit]. Pembelian = Rp 54,000,000 Note: Dengan jurnal penyesuaian yang dimasukan di akhir periode ini, maka saldo akun “Pembelian” menjadi nol, saldo akhir persediaan di Neraca menjadi Rp 24,000,000 (=saldo awal 6,000,000 + adjustment kenaikan 18,000,000), dan muncul Harga Pokok Penjualan di Laporan Laba-Rugi sebesar Rp 54,000,000 (=6,000,000 + 54,000,000 – 24,000,000). 2. Retur Pembelian, Diskon Pembelian dan Cadangan Apa yang terjadi jika ada retur pembelian atau diskon? Perusahaan yang menerapkan sistim periodik, disamping menggunakan akun “Pembelian”—yang bersaldo debit mereka juga menggunakan 2 kontra-akun pembelian (bersaldo kredit) yang diberi nama “Retur Pembelian” dan “Diskon Pembelian.” Jika ada pembelian yang dikembalikan (retur pembelian) atau memeperoleh potongan, maka kontra akun ini menjadi pengurang nilai “Pembelian”. Hasil silang saldo “Pembelian” dan kedua kontra-akun ini menghasilkan apa yang disebut dengan “Pembelian Bersih”. Bagaimanapun juga, semua slado akun ini (Pembelian, Diskon Pembelian dan Retur Pembelian) bersifat sementara saja, nantinya akan dihapus degan jurnal penyesuaian di akhir periode (seperti terlihat pada contoh jurnal penyesuaian sebelumnya). Untuk lebih konkoretnya, kita buat satu contoh transaksi: Karena adanya kerusakan, JAK Mart mengembalikan pembelian barang sebesar Rp 7,000,000. Jika JAK Mart menerapkan sistim perpetual, maka JAK akan mengakui penurunan nilai utang sekaligus langsung mengakui penurunan nilai persediaan, dengan jurnal: [Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000 [Kredit]. Persediaan = Rp 7,000,000 (Note: Pengembalian barang mengurangi nilai persediaan sebesar Rp 7,000,000) Jika JAK Mart menerapkan sistim periodik, maka jurnalnya adalah sbb: [Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000 [Kredit]. Retur Pembelian = Rp 7,000,000 (Note: pembelian megurangi nilai pembelian) Lanjut dengan diskon… Di lain kesempatan JAK Mart membeli barang sebesar Rp 10,000,000 dengan termin kredit 2/10, n/30. Karena JAK Mart bisa melakukan pelunasan seminggu setelah pembelian, maka JAK Mart memperoleh diskon 2%. Bagimana jurnalnya? Jika menerapkan sistim perpetual, maka saat pembelian JAK Mart memasukan jurnal: [Debit]. Persediaan = Rp 10,000,000 [Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000 Saat pelunasan, diskon Rp 200,000 tersebut sekaligus diakui sebagai pengurang nilai persediaan, dengan jurnal: [Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000 [Credit]. Persediaan = Rp 200,000 [Credit]. Kas = Rp 9,800,000 Jika menggunakan sistim periodik, maka saat pembelian jurnal yang dimasukan adalah: [Debit]. Pembelian = Rp 10,000,000 [Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000 Diskon yang diperoleh tidak diakui sebagai pengurang nilai persediaan (ingat: sistim periodik tidak mencatat persediaan tetapi “pembelian”), melainkan dicatat sebagai “Diskon Pembelian.” Sehingga jurnal yang dimasukan ketika melakukan pelunasan adalah sbb: [Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000 [Credit]. Diskon Pembelian = Rp 200,000 [Kredit]. Kas = Rp 9,800,000 3. Retur Penjualan dan Diskon Penjualan Transkasi lainnya yang terkait dengan persediaan adalah retur penjualan dan diskon penjualan. Pada transaksi ini, baik sistim perpetual maupun sistim periodik sama-sama meggunakan akun yang diberi nama “Retur Penjualan” dan “Diskon Penjualan”—yang kedua-duanya merupakan kontra-akun penjualan (bersaldo debit), bedanya hanya di pengakuan “Harga Pokok Penjualan”. Pada sistim perpetual return penjualan, disamping mengakui penurunan piutang dagang dan penurunan penjualan (dengan akun “retur penjualan”) juga mengakui penurunan harga pokok penjualan dan persediaan. Sedangkan pada sistim periodik, tidak. Misalnya: JAK Mart menerima barang kembali dari pelanggan (karena cacat) senilai Rp 6,000,000. Harga Pokok Penjualan barang yang diretur tersebut adalah Rp 3,000,000. (Kita asumsikan pengakuan penjualan menggunakan metode bruto/gross method) Jika menggunakan perpetual, maka JAK Mart akan mencatat retur tersebut dengan sepasang jurnal: [Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit) [Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000 (Untuk mengakui retur penjualan) Dan; [Debit]. Persediaan = Rp 3,000,000 [Kredit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 3,000,000 (Untuk mengakui barang persediaan yang telah dikembalikan sekaligus menguragi harga pokok penjualan). Sedangkan jika menggunakan sistim periodik, JAK Mart hanya akan memasukan satu jurnal saja, yaitu: [Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000 [Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000 (Untuk mengakui retur penjualan) Catatan: Sistim periodik baru akan menghitung saldo persediaan dan mengakui harga pokok penjualan di akhir periode—setelah penghitungan fisik dilakukan. Selanjutnya, diskon penjualan. Bagaimana pencatatanya? Oke. Anggap JAK Mart memberikan diskon Rp 200,000 atas pelunasan pembelian sebesar Rp 10,000,000 dari pelanggan (masih menggunakan metode pengakuan penjualan bruto/gross method) Sistim perpetual dan sistim periodik memasukan jurnal yang sama persis untuk pelunasan yang mengandung diskon penjualan. Dalam contoh ini: [Debit]. Kas = Rp 9,800,000 [Debit]. Diskon Penjualan = Rp 200,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit). [Kredit]. Piutang Dagang = Rp 10,000,000 Secara keseluruhan, dari pebandingan jurnal—antara sistim periodik dan perpetual, jelas terlihat bahwa: Terhadap laporan keuangan yang disajikan di setiap akhir periode, menggunakan sistim perpetual atau periodik tidak berpengaruh apa-apa, dalam pengertian: nilai saldo akhir persediaan (yang disajikan di neraca) dan harga pokok penjualan (yang disajikan di laporan laba-rugi), akan menunjukan hasil yang sama. Bedanya, hanya terjadi pada teknis pengakuan dan nama akun yang digunakan pada setiap pengakuan transaksi. Sistim perpetual selalu mendebit/mengkredit akun “Persediaan” untuk setiap transaksi yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan persediaan. Sedangkan sistim periodik—untuk sementara—menggunakan akun “Pembelian” untuk setiap penambahan persediaan dan baru memperhitungkan penurunan persediaan di akhir periode—sertelah penghitungan fisik dilakukan. Bagaimana jika perusahaan yang menerapkan sistim periodic—terpaksa harus menyajikan laporan padahal periode belum berakhir—misalnya: untuk pengajuan kredit? Perusahaan bisa (a) menggunakan laporan periode sebelumnya, atau (b) melakukan penghitungan fisik saat itu juga lalu menjalankan prosedur seperti yang dilakukan di akhir periode. Oke. Penerapan sistim periodik atau perpetual tidak ada pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Bagaimana dengan pengelolaan persediaan dan keuangan secara keseluruhan? Mari kita lihat implikasinya… Lanjut… Implikasi Penerapan Sistim Periodik dan Perpetual Terhadap Pengelolaan Persediaan Dari perbenadingan di atas, jelas terlihat bahwa: untuk tujuan pengawasan persediaan, sistim perpetual jauh lebih baik dibandingkan sistim periodik. Dengan sistim perpetual, management dapat mengetahui nilai persediaan sewaktu-waktu—tanpa perlu menunggu hingga akhir periode. Khususnya di perusahaan-perusahaan manufaktur, pengawasan terhadap barang persediaan sangat kompleks—dengan adanya potensi barang scrap dan cacat yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan jenis lain. Dalam kondisi seperti ini, jika sistim persediaan yang diterapkan adalah sistim periodik—dimana penurunan (volume dan nilai persediaan) baru diperhitungkan di akhir periode, maka kesempatan untuk mengetahui adanya pemborosan bahan baku, bahan penolong dan kemungkinan adanya barang cacat saat dalam proses produksi menjadi lebih sulit ditelusuri— kemungkinan baru diketahui setelah di akhir periode, dengan kata lain: sudah terjadi. Efektifitas pengawasan terhadap barang persediaan berimplikasi besar terhadap pengelolaan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Terutama di perusahaan dagang dan manufaktur, sebagian besar kekayaan (asset) perusahaan ada di persediaan—entah itu berupa bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses maupun barang jadi. Diantara banyaknya beban yang ditanggung oleh operasional perusahaan, penggunaan persediaan cenderung mendominasi. Jika scope-nya dipersempit, persediaan bahkan mengkonsumsi modal kerja (working capital) paling besar. Itu sebabnya, bagi managemen perusahaan, pemilihan sistim persediaan yang akan diterapkan (apakah menggunakan sistim perpetual atau periodik) menjadi sangat krusial. “Lalu, apakah sebaiknya saya menerapkan sistim persediaan perpetual atau periodik?” Mungkin ada yang berpikir demikian. Kita pindah ke paragraph selanjutnya…

Judul: Akuntansi

Oleh: Uswatun Khasanah

Ikuti kami